Indikator Kinerja untuk Evaluasi APP FCP dan Komitmen
Tambahan
Dokumen ini merumuskan Indikator Kinerja untuk evaluasi perkembangan dalam rangka memenuhi Komitmen Kebijakan yang dibuat oleh Asia Pulp and Paper (selanjutnya disebut “APP”) dalam Kebijakan Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy/”FCP”) pada bulan Februari 2013 dan komitmen publik tambahan yang dibuat oleh APP terkait FCP tersebut.
Bagian 1 (halaman 1 s.d. 23) menjawab komitmen spesifik yang tertuang dalam FCP tanggal 5 Februari 2013.
Bagian 2 (halaman 24 s.d. 37) mengidentifikasi dan menjawab hal-hal terkait komitmen publik tambahan yang dibuat APP dalam dokumen Peta Jalan Keberlanjutan – Visi 2020 (the Sustainability Roadmap - Vision 2020) bulan Juni 2012 dan dalam dokumen-dokumen atau pernyataan publik antara tanggal 5 Februari 2013 dan 24 Februari 2014. Bagian 2 dibagi menjadi tiga sub bagian.
Dokumen ini memberikan penjelasan penuh mengenai setiap Komitmen Kebijakan dalam kotak berjudul ‘Komitmen Kebijakan’. Penjelasan komitmen ini disalin secara kata per kata (verbatim) dari pernyataan FCP tanggal 5 Februari atau dari dokumen Visi 2020 atau dokumen/pernyataan publik lainnya. Dokumen-dokumen yang berisikan komitmen tambahan telah diidentifikasi.
Unsur-unsur Kunci dari masing-masing komitmen dimasukkan dalam daftar, tepatnya di kolom sebelah kiri dokumen ini. Masing-masing Unsur Kunci disalin secara langsung dari Komitmen Kebijakan, di mana kata kuncinya digarisbawahi.
Indikator-indikator Kinerja membuat indikator spesifik untuk mendukung evaluasi perkembangan dengan cara yang konsisten dan sesuai metode untuk memenuhi masing unsur Komitmen tersebut. Indikator Kinerja ini diidentifikasi pada kolom tengah dokumen ini. Indikator Kinerja menjawab masing-masing unsur kunci yang terkandung dalam Komitmen Kebijakan. Masing-masing-masing indikator akan dievaluasi dan diberi nilai sesuai dengan Ukuran Kinerja (lihat dokumen lain yang terpisah: Ukuran Kinerja untuk Evaluasi Komitmen APP).
Terdapat beberapa indikator yang berlaku untuk APP sesuai aspek-aspek perusahaan dan akan dievaluasi pada tingkat kantor pusat perusahaan APP. Sebagian besar berlaku pada masing-masing kawasan konsesi individual yang memasok bubur serat kayu (pulp) untuk pabrik kayu APP. Hal ini akan dievaluasi di kawasan konsesi hutan individual masing-masing. Ada Tujuh indikator yang akan dievaluasi pada dua pabrik pulp dan kertas APP yang terintegrasi (Indah Kiat Pulp and Paper/IKPP dan Lontar Papyrus Pulp and Paper/LPPP), dan juga evaluasi di pabrik-pabrik APP lainnya jika diperlukan. Lokasi dilakukannya evaluasi untuk masing-masing Indikator diidentifikasi pada kolom bagian kanan. Masing-masing Indikator Kinerja yang diidentifikasi sebagai ‘perusahaan’ hanya akan dievaluasi satu kali, yakni pada tingkat kantor pusat perusahaan APP. Sementara masing-masing indikator yang diidentifikasi sebagai ‘kawasan konsesi’ akan dievaluasi pada masing-masing kawasan konsesi hutan individual yang dikunjungi oleh Tim Evaluasi. Adapun masing-masing Indikator yang diidentifikasi sebagai ‘pabrik’ (mill) akan dievaluasi pada fasilitas pulp mill yang terintegrasi dan mill lainnya.
Selain Indikator Kinerja, Rainforest Alliance juga akan mengembangkan verifier yang akan digunakan untuk membantu mengevaluasi beberapa Indikator.
BAGIAN 1 Komitmen Kebijakan Konservasi Hutan (5 Februari 2013)
Komitmen Kebijakan APP akan melaksanakan Kebijakan Konservasi Hutan 5 Februari 2013 Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja
Lokasi Evaluasi
0.1 APP akan melaksanakan Kebijakan konservasi Hutan
0.1.1 APP memiliki komitmen perusahaan yang jelas untuk
melaksanakan FCP. Perusahaan
0.1.2 APP telah mengomunikasikan komitmen dalam melaksanakan
FCP kepada seluruh pemasok serat.
Perusahaan
0.1.3 APP telah memasukkan persyaratan untuk pelaksanaan FCP
dalam perjanjian dengan para pemasok. Perusahaan
0.1.4 APP telah mengembangkan kebijakan dan prosedur korporat
untuk melaksanakan FCP.
Perusahaan
0.1.5 APP telah menunjuk para personil yang bertanggung jawab atas
pelaksanaan FCP. Konsesi
0.1.6 APP telah mengembangkan kapasitas dan struktur organisasi
untuk melaksanakan FCP.
Perusahaan
0.1.7 APP melaksanakan suatu sistem untuk memonitor kepatuhan
pemasok terhadap FCP.
Konsesi
0.1.8 APP menyelesaikan segala ketidaksesuaian terhadap FCP yang
teridentifikasi. Konsesi
0.1.9 Pemilik dan Manajer Konsesi sadar akan komitmen untuk
melaksanakan FCP.
Konsesi
0.1.10 Pemilik dan Manajer Konsesi telah menunjuk para personil
yang bertanggung jawab atas pelaksanaan FCP. Konsesi
0.1.11 Pemilik dan Manajer Konsesi telah mengembangkan kebijakan
dan prosedur untuk melaksanakan FCP.
Konsesi
0.1.12 Pemilik dan Manajer Konsesi membuktikan komitmen untuk
melaksanakan FCP.
Komitmen Kebijakan 1 Nilai Konservasi Tinggi (“NKT”) dan Hutan dengan Stok Karbon Tinggi (“SKT”)
APP dan para pemasoknya hanya akan mengembangkan wilayah-wilayah yang tidak berhutan, sebagaimana diidentifikasi melalui penilaian independen Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (“HBKT”) dan SKT.
• Sejak tanggal 1 Februari 2013, seluruh kegiatan pembukaan hutan alam telah ditangguhkan hingga selesainya penilaian NKT dan SKT. Selanjutnya tidak akan ada pembukan hutan di area yang telah teridentifikasi sebagai hutan.
• APP telah melaksanakan penilaian awal terhadap rantai pasokannya (supply chain). Pihaknya telah memprioritaskan penilaian NKT dan SKT di kawasan-kawasan konsesi tersebut yang hingga kini telah memasok perusahaan dengan serat kayu dari hutan alam. Wilayah-wilayah yang mengandung NKT dan SKT akan dilindungi.
• Pekerjaan terkait SKT telah dimulai untuk mengidentifikasi wilayah tersebut dan kualitas tutupan hutan. Analisis satelit yang didukung oleh pekerjaan di lapangan akan mengidentifikasi wilayah-wilayah yang akan dilindungi serta wilayah-wilayah rendah karbon yang dapat dikembangkan sebagai hutan tanaman.
• Pendekatan SKT membedakan antara hutan alam dengan lahan terdegradasi yang ditumbuhi pepohonan kecil, belukar ataupun rerumputan yang tersisa. Pendekatan ini membagi-bagi vegetasi menjadi enam kelas berbeda (stratifikasi) melalui perpaduan antara analisa citra satelit dan bidang-bidang lahan yang ada di lapangan. Batasan-batasan ambang yang dikenal di Indonesia adalah: Hutan Kerapatan Tinggi (HK3), Hutan Kerapatan Sedang (HK2), Hutan
Kerapatan Rendah/hutan regenerasi lebih tua (HK1), hutan Belukar Tua/hutan regenerasi (BT), Belukar Muda (BM), dan Lahan Terbuka (LT). Ambang batas APP untuk SKT akan diatur dalam kategori yang disebut sebagai Belukar Tua (BT), dengan mengikuti analisis lapangan.
• Semua kayu bulat dari hutan alam yang ada dalam rantai pasokan APP ditebang sebelum 1 Februari 2013 (contohnya persediaan di Tempat Pengumpulan Kayu “TPn”) akan digunakan oleh pabrik kayu APP. Semua serat yang diperoleh dari pembukaan lahan non hutan (misalnya lahan belukar) juga akan dimanfaatkan oleh pabrik pulp APP.
• APP akan membatalkan semua perjanjian pembelian dan perjanjian lainnya dengan pemasok yang terbukti tidak mematuhi komitmen-komitmen ini. • Komitmen-komitmen ini dipantau oleh The Forest Trust (“TFT”). APP akan membuka akses bagi pihak ketiga pengamat independen untuk memverifikasi
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
1.1 APP dan pemasoknya hanya akan mengembangkan wilayah-wilayah yang tidak berhutan, sebagaimana
diidentifikasi melalui penilaian HBKT dan SKT independen
1.1.1 Sejak tanggal 1 Februari 2013, pengembangan hanya dilakukan
pada wilayah-wilayah yang diidentifikasi sebagai daerah non hutan.
Konsesi
1.1.2 Semua wilayah yang dikembangkan sejak tanggal 1 Februari
2013 yang diidentifikasi sebagai ‘non hutan’ dalam penilaian HBKT atau SKT yang telah diselesaikan sebelum dilakukannya kegiatan pengembangan apapun.
Konsesi
1.2 Mulai tanggal 1 Februari 2013, semua pembukaan hutan alam telah ditangguhkan hingga diselesaikannya penilaian NKT dan SKT.
1.2.1 APP telah merumuskan pengertian ‘hutan alam’. Perusahaan
1.2.2 APP telah merumuskan pengertian ‘pembukaan hutan alam’. Perusahaan
1.2.3 Komitmen untuk menangguhkan semua pembukaan hutan alam
hingga diselesaikannya penilaian NKT dan SKT telah
dikomunikasikan kepada pemilik dan manajer konsesi sebelum tanggal 1 Februari 2013.
Perusahaan/Konsesi
1.2.4 Komitmen untuk menangguhkan semua pembukaan hutan alam
disepakati oleh pemilik dan manajer konsesi.
Konsesi
1.2.5 Dijalankannya penangguhan pembukaan hutan alam. Konsesi
1.3 Tidak ada lagi pembukaan yang dilakukan terhadap wilayah-wilayah yang diidentifikasi sebagai hutan
1.3.1 Semua wilayah yang memenuhi pengertian ‘hutan alam’
diidentifikasi dan dipetakan.
Konsesi
1.3.2 Tidak ada pembalakan atau pembukaan lainnya yang dilakukan
terhadap wilayah-wilayah yang diidentifikasi sebagai ‘hutan alam’ sejak tanggal 1 Februari 2013.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
1.3.3 Tidak ada konstruksi jalan atau pembangunan infrastruktur
lainnya yang dilakukan pada wilayah ‘hutan alam’ sejak tanggal 1 Februari 2013.
Konsesi
1.3.4 Tidak ada pembukaan yang disebabkan oleh APP atau
intervensi manusia di dalam hutan alam (kawasan moratorium) sejak tanggal 1 Februari 2013.
Konsesi
1.3.5 Tindakan dan pengawasan pengelolaan sudah berjalan untuk
memastikan bahwa tidak terjadi pembukaan hutan alam sebelum diselesaikannya penilaian NKT dan SKT.
Konsesi
1.3.6 Hanya wilayah-wilayah yang teridentifikasi sebagai ‘non hutan’
(berdasarkan penilaian NKT dan/atau SKT yang sudah
dilakukan) dan yang sesuai dengan Komitmen Kebijakan FCP #2 yang dikembangkan.
Konsesi
1.4 APP telah melaksanakan penilaian awal terhadap seluruh rantai suplainya.
1.4.1 Diselesaikannya penilaian awal terhadap rantai pasokan APP di
Indonesia. Perusahaan
1.4.2 Penilaian mengidentifikasi semua kawasan konsesi di Indonesia
yang pada saat ini (atau di masa yang akan datang) akan memasok serat ke pabrik kertas (mill) APP.
Perusahaan 1.5 APP telah memprioritaskan
penilaian NKT ... di dalam kawasan-kawasan konsesi tersebut yang hingga kini telah menyuplai perusahaan dengan serat dari hutan alam.
1.5.1 Diidentifikasinya semua kawasan konsesi yang memasok serat
dari hutan alam (kayu keras tropis campuran atau mixed
tropical hardwood/”MTH”) sebelum tanggal 1 Februari 2013.
Perusahaan
1.5.2 Tersedianya suatu daftar yang memprioritaskan dan mengatur
jadwal kawasan konsesi untuk penilaian NKT bagi publik.
Perusahaan
1.5.3 Berjalannya atau selesainya proses penilaian NKT mengalami
kemajuan sesuai dengan prioritasi dan jadwal.
Konsesi
1.5.4 Dalam hal diselesaikannya proses penilaian NKT dalam
suatu kawasan konsesi:
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
1.5.4.1 Penilaian NKT mencakup keseluruhan kawasan konsesi
yang diatur sesuai Surat Keputusan (SK). Konsesi
1.5.4.2 Prosedur penilaian NKT sesuai dengan prosedur penilaian
NKT yang diakui secara internasional maupun lokal.1 Konsesi
1.5.4.3 Penilaian NKT dilakukan oleh penilai independen yang
memiliki kualifikasi.
Konsesi
1.5.4.4 Penilaian NKT mengidentifikasi para pemangku
kepentingan (stakeholder) yang terkait dan terdampak.
Konsesi
1.5.4.5 Penilaian NKT memberikan kesempatan bagi para
pemangku kepentingan yang terkait dan terdampak untuk memberikan masukannya.
Konsesi
1.5.4.6 Penilaian NKT mempertimbangkan seluruh masukan yang
diterima dari pemangku kepentingan.
Konsesi
1.5.4.7 Penilaian NKT memberikan alasan-alasan dalam hal tidak
diterima atau tidak dilaksanakannya. pendapat atau masukan dari pemangku kepentingan.
Konsesi
1.5.4.8 Draf laporan NKT dikonsultasikan pada para pemangku
kepentingan terkait.
Konsesi
1.5.5 Dalam hal diselesaikannya laporan penilaian NKT dalam
suatu kawasan konsesi:
Konsesi
1.5.5.1 Laporan akhir penilaian NKT menyertakan masukan
sesuai yang diterima dari para pemangku kepentingan. Konsesi
1.5.5.2 Laporan akhir penilaian NKT memberikan alasan-alasan
jika tidak diterima atau tidak dilaksanakannya pendapat atau saran dari pemangku kepentingan.
Konsesi
1.5.5.3 Laporan penilaian NKT telah dilakukan telaah sejawat Konsesi
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
(peer review).
1.5.5.4 Proses tinjauan sejawat NKT mengikuti aturan/panduan
yang diakui secara internasional maupun lokal tentang tinjauan sejawat.
Konsesi
1.5.5.5 Jumlah peninjau sejawat konsisten dan sesuai dengan
panduan yang diakui secara internasional dan lokal tentang tinjauan sejawat.
Konsesi
1.5.5.6 Laporan akhir penilaian NKT memasukkan
pendapat-pendapat yang diberikan dalam dalam tinjauan sejawat. Konsesi
1.5.5.7 Laporan akhir penilaian NKT memberikan alasan-alasan
dalam hal tidak diterima atau tidak dilaksanakannya pendapat atau saran dari tinjauan sejawat.
Konsesi
1.5.5.8 Laporan akhir penilaian NKT mengidentifikasi NKT dan
wilayah-wilayah yang mendukung NKT.
Konsesi
1.5.5.9 Laporan penilaian NKT memberikan rekomendasi
pengelolaan terkait konsesi spesifik dan NKT yang ada
Konsesi
1.5.5.10 Dipetakannya Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi
(“KBKT”) yang ada.
Konsesi
1.5.5.11 Tersedianya laporan akhir penilaian dan peta NKT bagi
publik.
Konsesi
1.5.6 Dalam hal tidak diselesaikannya proses penilaian NKT
dalam suatu kawasan konsesi: Konsesi
1.5.6.1 Kawasan konsesi tidak memasok serat hutan alam setelah
tanggal 1 Februari 2013. Konsesi
1.5.6.2 Kawasan konsesi tidak melakukan pembukaan wilayah
baru untuk pembangunan hutan tanaman atau jalan/saluran kanal baru atau infrastruktur lainnya di dalam atau luar wilayah konsesi tersebut setelah tanggal 1 Februari 2013.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
1.5.6.3 Disediakannya jadwal penyelesaian penilaian NKT. Konsesi
1.6 APP telah memprioritaskan penilaian SKT ... dalam kawasan konsesi yang hingga kini telah menyuplai serat dari hutan alam kepada perusahaan.
1.6.1 Diidentifikasinya semua kawasan konsesi yang memasok MTH
sebelum tanggal 1 Februari 2013.
Perusahaan
1.6.2 Berjalan atau selesainya proses penilaian SKT sesuai dengan
prioritasi dan jadwal.
Perusahaan
1.6.3 Dalam hal diselesaikannya Proses Penilaian SKT dalam
suatu konsesi:
Konsesi
1.6.3.1 Penilaian SKT mencakup keseluruhan kawasan konsesi
yang diatur sesuai dengan Surat Keputusan (SK). Konsesi
1.6.3.2 Penilaian SKT mengikuti prosedur yang diakui secara
internasional (dan lokal) tentang penilaian SKT.
Konsesi
1.6.3.3 Penilaian SKT memberikan kesempatan sebagaimana
mestinya bagi para pemangku kepentingan yang terkait dan
terdampak untuk memberikan masukannya.
Konsesi
1.6.3.4 Penilaian SKT mempertimbangkan seluruh masukan yang
diterima dari pemangku kepentingan. Konsesi
1.6.4 Dalam hal diselesaikannya Laporan Penilaian SKT dalam
suatu kawasan konsesi: Konsesi
1.6.4.1 Laporan akhir Penilaian SKT diselesaikan dengan
mengikuti standar pelaporan yang diakui secara
internasional (dan lokal) untuk kajian SKT.
Konsesi
1.6.4.2 Laporan akhir penilaian HKT menjelaskan metodologi
penilaian.
Konsesi
1.6.4.3 Laporan akhir penilaian SKT turut menyertakan masukan
memadai yang diterima dari pemangku kepentingan.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
1.6.4.4 Laporan akhir penilaian SKT memberikan alasan-alasan
dalam hal tidak diterima atau tidak dilaksanakannya pendapat atau saran dari pemangku kepentingan.
Konsesi
1.6.4.5 Laporan penilaian SKT telah dilakukan telaah sejawat
(peer review).
Konsesi
1.6.4.6 Proses tinjauan sejawat HKT mengikuti aturan yang diakui
secara internasional maupun lokal tentang tinjauan independen.
Konsesi
1.6.4.7 Laporan akhir SKT memasukkan pendapat-pendapat yang
diberikan dalam dalam tinjauan sejawat.
Konsesi
1.6.4.8 Laporan akhir penilaian SNKT memberikan alasan-alasan
dalam hal tidak diterima atau tidak dilaksanakannya pendapat atau saran dari tinjauan sejawat.
Konsesi
1.6.4.9 Laporan akhir penilaian SKT mengidentifikasi dan
memetakan hutan alam yang memiliki nilai SKT. Konsesi
1.6.4.10 Tersedianya laporan akhir penilaian SKT dan petanya bagi
publik. Konsesi
1.6.5 Dalam hal tidak diselesaikannya penilaian SKT dalam suatu
kawasan konsesi: Konsesi
1.6.5.1 Kawasan konsesi tidak memasok serat dari hutan alam
setelah tanggal 1 Februari 2013. Konsesi
1.6.5.2 Kawasan konsesi tidak melakukan pembukaan wilayah
baru untuk pembangunan hutan tanaman atau jalan/saluran kanal baru atau infrastruktur lainnya di dalam wilayah konsesi tersebut setelah tanggal 1 Februari 2013.
Konsesi
1.6.5.3 Disediakannya jadwal penyelesaian penilaian SKT. Konsesi
1.7 Kawasan yang mengandung NKT dan SKT akan dilindungi.
1.7.1 Penilaian NKT mengidentifikasi KBKT yang ada untuk
dilindungi.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
1.7.2 Penilaian SKT mengidentifikasi wilayah-wilayah yang
mengandung SKT untuk dilindungi. Konsesi
1.7.3 Rencana kelola mengidentifikasi tindakan-tindakan untuk
melindungi wilayah-wilayah yang diidentifikasi dalam penilaian NKT dan SKT.
Konsesi
1.7.4 Tindakan yang diambil menyelesaikan isu NKT dan KBKT
serta kawasan yang mengandung SKT dan mengidentifikasinya untuk dilindungi.
Konsesi
1.7.5 Dilaksanakannya tindakan-tindakan yang diidentifikasi dalam
rencana.
Konsesi 1.8 Terkait SKT, telah dimulai
kegiatan untuk mengidentifikasi wilayah dan kualitas tutupan hutan.
1.8.1 Tersedianya rencana kerja untuk penilaian SKT. Konsesi
1.8.2 Dijalankannya kegiatan sesuai rencana kerja untuk
mengidentifikasi luasan dan kualitas tutupan hutan yang memenuhi kriteria SKT.
Konsesi 1.9 Analisis satelit, dengan
dukungan kerja lapangan, akan mengidentifikasi wilayah-wilayah yang akan dilindungi...
1.9.1 Analisis satelit, dengan dukungan kerja lapangan,
mengidentifikasi wilayah-wilayah yang akan dilindungi.
Konsesi
1.10 Analisis satelit, dengan dukungan kerja lapangan, akan mengidentifikasi wilayah-wilayah yang ... dapat dikembangkan sebagai hutan tanaman.
1.10.1 Citra satelit sejak tanggal 5 Februari 2013, dengan dukungan
kerja lapangan, dipergunakan untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah yang nantinya akan dibangun sebagai hutan tanaman.
Konsesi
1.10.2 Citra satelit memiliki resolusi sesuai yang dibutuhkan untuk
memandu kegiatan lapangan .
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
1.10.3 Jika analisis satelit untuk mengidentifikasi tata guna dan
tutupan lahan tidak diselesaikan, maka diberikan jadwal penyelesaiannya.
Konsesi
1.10.4 Pengembangan hutan tanaman hanya dilakukan pada
wilayah-wilayah yang telah diidentifikasi untuk pengembangan di masa yang akan datang.
Konsesi 1.11 Pendekatan SKT
membedakan antara hutan alam dengan lahan terdegradasi yang ditumbuhi pepohonan kecil, belukar ataupun rerumputan yang tersisa.
1.11.1 APP membedakan hutan alam dan lahan terdegradasi dengan
menggunakan citra satelit, foto lapangan atau sarana lainnya.
Konsesi
1.11.2 Tersedianya suatu laporan dan peta-peta yang membedakan
hutan alam dari lahan terdegradasi bagi publik.
Konsesi 1.12 Pendekatan SKT
memisahkan vegetasi menjadi 6 kelas berbeda (stratifikasi) melalui perpaduan analisis citra satelit dan bidang lahan. Ambang batas ini di Indonesia dikenal sebagai:
Batasan-batasan ambang yang dikenal di Indonesia adalah: Hutan Kerapatan Tinggi (HK3), Hutan Kerapatan Sedang (HK2), Hutan Kerapatan Rendah/hutan regenerasi lebih tua (HK1), hutan Belukar Tua/hutan regenerasi (BT), Belukar Muda (BM), dan Lahan Terbuka (LT).
1.12.1 Identifikasi hutan alam dan kawasan non hutan didasarkan atas
sistem 6 kelas.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
1.12.2 Semua revisi terhadap sistem 6 kelas ini sepenuhnya
didokumentasikan bersama dengan penjelasan terjadinya perubahan.
Konsesi
1.12.3 Digunakannya citra satelit dan bidang lahan untuk klasifikasi. Konsesi
1.12.4 Diselesaikannya kegiatan penilaian SKT untuk
mengidentifikasi dan membuat klasifikasi hutan alam.
Konsesi
1.12.5 Dibuatnya jadwal jika penilaian SKT tidak selesai. Konsesi
1.13 Ditentukannya ambang batas APP untuk SKT dengan mengikuti analisis lapang, dalam kategori yang disebut Belukar Tua (BT).
1.13.1 Ditentukannya ambang batas SKT dalam kelas hutan Belukar
Tua. Konsesi
1.13.2 Dikemukakannya alasan-alasan (termasuk dasar ilmiah) jika
ambang batas menyimpang dari yang sudah ditentukan sebesar 35 ton karbon/hektar.
Konsesi 1.14 Semua kayu bulat dari
hutan alam yang ada dan berasal dari rantai suplai APP serta ditebang sebelum tanggal 1
Februari 2013, seperti cadangan di Tempat Pengumpulan Kayu (TPn), akan digunakan oleh pabrik kayunya. Serat yang diperoleh dari penebangan di lahan non hutan (seperti lahan belukar), juga akan digunakan oleh pabrik pulp perusahaan.
Catatan: Komitmen-komitmen terkait pemindahan kayu bulat hutan pada jangka waktu 5 Februari – 31 Agustus ditangani dalam ‘Komitmen Tambahan’.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
perjanjian pembelian dan lainnya dengan pihak pemasok yang terbukti tidak mematuhi komitmen-komitmen ini.
1.15.2 Tersedianya nama-nama pemasok beserta peta wilayah konsesi
yang menunjukkan seluruh lokasinya bagi publik. Perusahaan
1.15.3 APP memiliki prosedur untuk pengauditan terhadap pihak
pemasok untuk menentukan kepatuhan terhadap komitmen-komitmen ini.
Perusahaan
1.15.4 APP memiliki prosedur untuk membatalkan perjanjian
pembelian dan lainnya dalam situasi dijumpainya ketidakpatuhan.
Perusahaan
1.15.5 Diidentifikasi dan diselesaikannya isu-isu potensial di bidang
hukum dan perjanjian yang berhubungan dengan pembatalan.
Perusahaan
1.15.6 APP telah membatalkan perjanjian pasokan jika ditemukan
ketidakpatuhan. Perusahaan
1.16 Komitmen-komitmen ini tengah dipantau oleh TFT.
1.16.1 Telah dikembangkannya suatu sistem dan prosedur oleh TFT
untuk memantau komitmen.
Perusahaan
1.16.2 TFT sedang menjalankan sistem dan prosedur pemantauan
tersebut.
Konsesi
1.16.3 Dilaporkannya hasil-hasil pemantauan secara berkala agar
dapat diakses publik. Perusahaan
1.16.4 Dikembangkan dan dilaksanakannya rencana-rencana aksi
untuk menanggapi hasil pemantauan.
Konsesi 1.17 APP akan mengizinkan
pihak ketiga pengamat
independen untuk memverifikasi pelaksanaan
1.17.1 Pengamat pihak ketiga yang berkepentingan diberikan
kesempatan dalam pelaksanaan pemantauan.
Konsesi
1.17.2 Diizinkannya pengamat pihak ketiga yang berkepentingan
untuk berpartisipasi secara bebas dan untuk melaporkan pengamatan kepada publik kecuali bila telah menandatangani persetujuan menjaga kerahasiaan.
Komitmen Kebijakan 2: Pengelolaan Lahan Gambut
APP akan mendukung sasaran pengembangan rendah emisi Pemerintah Indonesia dan targetnya untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (“GRK”). Hal ini akan dicapai dengan cara:
• memastikan bahwa lahan gambut berhutan dilindungi sebagai bagian dari komitmennya dalam memelihara HBKT dan
hutan-hutan yang memiliki SKT; dan
• melaksanakan praktik pengelolaan terbaik untuk mengurangi dan menghindarkan emisi GRK dalam lanskap/bentang lahan
gambut. Salah satu cara untuk mencapai ini adalah, tidak dilakukannya aktivitas lebih lanjut untuk pembangunan saluran atau infrastruktur lainnya di dalam kawasan konsesi pemasok yang belum dikembangkan di lahan gambut berhutan hingga
diselesaikannya penilaian HBKT independen (termasuk di dalamnya masukan dari para ahli gambut).
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi
Evaluasi
2.1 Lahan gambut berhutan dilindungi sebagai bagian dari komitmen APP untuk memelihara HBKT dan hutan-hutan yang mengandung SKT.
2.1.1 Lahan gambut berhutan diatur, dipetakan secara akurat dan
diklasifikasi untuk mengidentifikasi kualitas lingkungan lahan gambut pada skala yang sesuai.
Konsesi
2.1.2 Definisi dan peta lokasi lahan gambut tersedia bagi publik. Perusahaan
2.1.3 Rencana kelola mengidentifikasi tindakan-tindakan pengelolaan
spesifik untuk melindungi seluruh lahan gambut berhutan.
Konsesi
2.1.4 Tindakan-tindakan pengelolaan (management measure)
mengatasi dampak-dampak yang terjadi di luar kawasan lahan gambut berhutan sehubungan dengan pengeringan daerah-daerah yang berlokasi di luar lahan gambut berhutan.
Konsesi
2.1.5 Diidentifikasinya tindakan-tindakan pengelolaan (management
measure) untuk melindungi lahan gambut berhutan pada tingkat kawasan konsesi dan tingkat lanskap (kubah gambut).
Konsesi
2.1.6 Tindakan-tindakan pengelolaan (management measure)
memasukkan rekomendasi dari para ahli gambut.
Konsesi
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
melindungi lahan gambut berhutan.
2.1.8 Tindakan-tindakan pengelolaan (management measures) untuk
mengatasi perlindungan lahan gambut tersedia bagi publik
Konsesi
2.1.9 Pelaksanaan tindakan-tindakan pengelolaan (management
measures) dan dampaknya terhadap lahan gambut dipantau Konsesi
2.1.10 Laporan pemantauan tersedia bagi publik Konsesi
2.2 APP melaksanakan praktik pengelolaan terbaik untuk mengurangi dan menghindari emisi GRK dalam lanskap lahan gambut.
2.2.1 APP telah mengembangkan tingkat patokan untuk GRK dalam
lanskap lahan gambut.
Perusahaan
2.2.2 APP telah menentukan target-target untuk pengurangan emisi
GRK dari lanskap lahan gambut, sesuai dengan target-target
pengurangan dari Pemerintah Indonesia.
Perusahaan
Catatan : APP telah menyarankan bahwa istilah “praktek terbaik dalam manajemen” menjadi “praktek manajemen terbaik”
2.2.3 Dikembangkannya Praktik Pengelolaan Terbaik untuk
mengurangi dan menghindari emisi GRK dalam lanskap lahan gambut untuk memenuhi target pengurangan yang telah ditentukan.
Perusahaan
2.2.4 Praktik Pengelolaan Terbaik memasukkan rekomendasi dari para
ahli gambut.
Perusahaan
2.2.5 Praktik Pengelolaan Terbaik memenuhi standar yang diakui
secara internasional dan lokal untuk pengelolaan terbaik lahan gambut.
Perusahaan
2.2.6 Tersedianya Praktik Pengelolaan Terbaik bagi publik. Perusahaan
2.2.7 Dilaksanakannya Praktik Pengelolaan Terbaik. Konsesi
2.2.8 Dipantau dan dilaporkannya Emisi GRK dari lanskap lahan
gambut bagi publik yang konsisten dengan standard yang diakui secara internasional dan lokal untuk pemantauan lahan gambut.
Konsesi 2.3 Tidak ada lagi kegiatan saluran
atau infrastruktur yang dilakukan di
2.3.1 APP telah mengidentifikasi lokasi saluran sejak tanggal 1 Februari
2013.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
dalam kawasan konsesi pemasok yang belum dikembangkan di lahan gambut berhutan hingga diselesaikannya penilaian HBKT ... independen.
2.3.2 Tidak ada pembangunan saluran atau infrastruktur baru yang
dilakukan pada di lahan gambut tidak berhutan, kecuali setelah diselesaikannya penilaian HBKT.
Konsesi
2.4 … Penilaian HBKT independen mencakup masukan dari dari para ahli gambut.
2.4.1 Penilaian HBKT di dalam lanskap lahan gambut mencakup
masukan dari dari para ahli gambut. Konsesi
2.4.2. Masukan dari ahli gambut dimasukkan dalam laporan HBKT. Konsesi
2.4.3 Tersedianya masukan dari ahli gambut bagi publik setelah
penilaian HBKT selesai dilakukan.
Komitmen Kebijakan #3 Pelibatan Sosial dan Masyarakat
Untuk menghindari dan menyelesaikan konflik sosial di seluruh rantai pasokannya, maka APP akan mencari dan menggabungkan masukan dan umpan balik dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk di dalamnya masyarakat, sebagai implementasi dari serangkaian prinsip sebagai berikut.
• Persetujuan atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa/FPIC) bagi masyarakat adat dan penduduk setempat. • Penanganan pengaduan secara bertanggung jawab.
• Penyelesaian konflik secara bertanggung jawab.
• Dialog terbuka dan konstruktif dengan para pemangku kepentingan lokal, nasional dan internasional. • Penguatan program pengembangan masyarakat.
• Penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (“HAM”).
• Pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak pekerja perusahaan.
• Ketundukan terhadap semua hukum terkait serta prinsip-prinsip dan kriteria sertifikasi yang diterima secara internasional. Jika terdapat usulan baru untuk hutan tanaman, maka APP akan menghormati hak-hak masyarakat adat dan penduduk setempat, termasuk di dalamnya pengakuan terhadap hak-hak tanah adat. APP telah berkomitmen untuk melaksanakan penilaian HBKT independen sebagai bagian dari komitmennya dan akan mengembangkan tindakan-tindakan yang lebih jauh untuk melaksanakan prinsip Padiatapa melalui dialog bersama para pemangku kepentingan.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
3.1 Untuk menghindarkan dan menyelesaikan konflik sosial di seluruh rantai suplainya, APP akan... melaksanakan serangkaian prinsip berikut ini:
3.1.1 APP telah mengembangkan kebijakan, sistem dan/atau prosedur
untuk menghindari dan menyelesaikan konflik sosial di seluruh rantai pasokannya.
Perusahaan
3.1.2 Dikembangkannya kebijakan, sistem dan/atau prosedur untuk
melaksanakan:
3.1.2.1 Prinsip Padiatapa untuk masyarakat adat dan penduduk
setempat. Perusahaan
3.1.2.2 Penanganan pengaduan secara bertanggung jawab. Perusahaan
3.1.2.3 Penyelesaian konflik secara bertanggung jawab. Perusahaan
3.1.2.4 Dialog terbuka dan konstruktif dengan para pemangku
kepentingan lokal, nasional dan internasional. Perusahaan
3.1.2.5 Penguatan program pengembangan masyarakat. Perusahaan
3.1.2.6 Penghormatan terhadap HAM. Perusahaan
3.1.2.7 Pengakuan dan penghormatan terhadap hak-hak para
pekerjanya. Perusahaan
3.1.2.8 Ketundukan terhadap semua hukum terkait serta
prinsip-prinsip dan kriteria sertifikasi yang diterima secara internasional.
Perusahaan
3.1.3 Dilaksanakannya kebijakan, sistem dan/atau prosedur untuk
menghindari dan menyelesaikan konflik.
Perusahaan
3.1.4 Dikomunikasikannya kebijakan-kebijakan,sistem dan/atau
prosedur korporat kepada pemilik dan manajer Konsesi.
Perusahaan
3.1.5 APP telah mengembangkan kapasitas internal dan struktur
organisasi untuk menghindari dan menyelesaikan konflik-konflik sosial.
Perusahaan
3.1.6 Kebijakan-kebijakan, sistem dan/atau prosedur korporat telah
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
3.1.7 Sebagian besar pemangku kepentingan puas dengan upaya untuk
menghindari dan menyelesaikan konflik sosial. Konsesi
3.1.8 Tidak terdapat bukti yang mengindikasikan kegagalan untuk
menghindari dan menyelesaikan konflik sosial. Konsesi
3.2 APP akan secara aktif mencari dan mengadopsi masukan dan umpan balik dari berbagai pemangku
kepentingan, termasuk masyarakat.
3.2.1 Telah diidentifikasinya para pemangku kepentingan yang
memiliki kepentingan dalam pengelolaan APP pada tingkat internasional, nasional, regional dan lokal.
Perusahaan
3.2.2 Para pemangku kepentingan yang telah diidentifikasi mewakili
berbagai kepentingan.
Perusahaan
3.2.3 Dikembangkannya suatu sistem atau proses untuk secara aktif
mencari masukan dari berbagai pemangku kepentingan
Perusahaan
3.2.4 Pemangku kepentingan mencakup perorangan maupun organisasi
yang telah menyampaikan kepentingannya dalam, atau memiliki kekhawatiran akan, kegiatan APP.
Perusahaan
3.2.5 Sistem untuk mencari masukan dan umpan balik meningkatkan
dan mendorong kemauan para pemangku kepentingan untuk berpartisipasi.
Perusahaan
3.2.6 APP telah mengembangkan suatu sistem atau proses untuk secara
aktif melacak dan mengadopsi masukan dan umpan balik dari para pemangku kepentingan.
Perusahaan
3.2.7 Dokumentasi catatan dialog/konsultasi bersama pemangku
kepentingan disimpan. Perusahaan
3.2.8 Sebagian besar pemangku kepentingan puas dengan peluang yang
diberikan kepada mereka untuk menyampaikan masukan dan umpan balik.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
3.2.9 Tidak terdapat bukti yang mengindikasikan kegagalan untuk
mencari dan mengadopsi masukan dan umpan balik. Perusahaan
3.2.10 Telah diidentifikasinya berbagai pemangku kepentingan dalam,
atau terdampak oleh, pengelolaan wilayah konsesi. Konsesi
3.2.11 Masukan dan umpan balik mengenai pengelolaan atau kegiatan
dalam kawasan konsesi telah dicari secara aktif dari berbagai pemangku kepentingan.
Konsesi
3.2.12 Dicarinya masukan dan umpan balik dengan cara yang
meningkatkan kemauan para pemangku kepentingan untuk berpartisipasi.
Konsesi
3.2.13 Dikelolanya suatu catatan konsultasi pemangku kepentingan. Konsesi
3.2.14 Kebanyakan pemangku kepentingan puas terhadap peluang yang
diberikan kepada mereka untuk menyampaikan masukan dan umpan balik.
Konsesi
3.2.15 Tidak ada bukti yang mengindikasikan kegagalan untuk mencari
dan mengadopsi masukan dan umpan balik.
Konsesi 3.3 Padiatapa untuk
masyarakat adat dan penduduk setempat.
3.3.1 APP telah menginformasikan masyarakat adat dan penduduk
setempat perihal komitmen terhadap prinsip Padiatapa.
Konsesi
3.3.2 Diberikannya informasi yang mencukupi kepada masyarakat adat
dan penduduk lokal mengenai kegiatan APP yang saat ini maupun yang sudah direncanakan.
Konsesi
3.3.3 Diberikannya informasi dengan cara yang dipahami oleh
masyarakat adat dan penduduk setempat. Konsesi
3.3.4 Dilakukannya komunikasi dan konsultasi dengan cara yang dapat
diakses oleh sebagian besar masyarakat adat dan penduduk yang
berkepentingan.
Konsesi
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
masyarakat adat dan penduduk setempat.
3.3.6 Dilakukannya usaha untuk terlibat bersama kelompok marjinal
dalam masyarakat, termasuk perempuan dan kaum minoritas.
Konsesi
3.3.7 Prosedur pelibatan masyarakat adat dan penduduk setempat sesuai
dengan prosedur yang diakui secara internasional dan internasional.
Konsesi
3.3.8 APP telah mengembangkan dan melaksanakan suatu sistem atau
prosedur untuk memenuhi prinsip Padiatapa. Konsesi
3.3.9 Tidak ada bukti yang mengindikasikan ketidakmampuan untuk
memenuhi prinsip Padiatapa. Konsesi
3.4 Penanganan pengaduan
secara bertanggung jawab 3.4.1 Adanya prosedur tanggapan pengaduan. Perusahaan
3.4.2 Prosedur tanggapan pengaduan tersebut sesuai dengan prosedur
yang diakui secara internasional dan lokal. Perusahaan
3.4.3 Prosedur tanggapan pengaduan dikembangkan dengan masukan
dari para pemangku kepentingan, termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Perusahaan
3.4.4 Prosedur tanggapan pengaduan mencatat dan memprioritaskan
pengaduan untuk ditanggapi oleh APP.
Perusahaan
3.4.5 Manajer Konsesi sadar akan prosedur tanggapan pengaduan. Konsesi
3.4.6 Dikelolanya catatan pengaduan. Konsesi
3.4.7 Diimplementasikannya prosedur tanggapan pengaduan. Konsesi
3.4.8 Tanggapan pengaduan dikomunikasikan kepada pihak pengadu. Konsesi
3.4.9 Sebagian besar pemangku kepentingan yang pernah mengajukan
pengaduan puas dengan upaya yang dilakukan APP dalam penyelesaian pengaduan secara tepat waktu dan bertanggung jawab.
Konsesi
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
menyelesaikan pengaduan. 3.5 Penyelesaian konflik yang
bertanggung jawab
3.5.1 Dipetakannya wilayah konflik. Perusahaan
3.5.2 Hasil pemetaan konflik dialihbagikan dengan LSM-LSM beserta
para pemangku kepentingan yang terlibat dalam resolusi konflik.
Perusahaan
3.5.3 Konflik diakui keberadaannya untuk diselesaikan. Perusahaan
3.5.4 Adanya prosedur penyelesaian konflik. Perusahaan
3.5.5 Prosedur penyelesaian konflik sesuai dengan prosedur yang
diakui secara internasional dan lokal.
Perusahaan
3.5.6 Prosedur penyelesaian konflik dikembangkan dengan masukan
dari LSM yang berkepentingan beserta pemangku kepentingan lainnya.
Perusahaan
3.5.7 Sebagian besar pemangku kepentingan yang pernah terlibat dalam
resolusi konflik puas dengan upaya APP dalam menyelesaikan konflik secara tepat waktu dan bertanggung jawab.
Perusahaan
3.5.8 Tidak ada bukti yang mengindikasikan ketidakmampuan dalam
menyelesaikan konflik.
Perusahaan
3.5.9 Manajer Konsesi sadar akan komitmen terhadap penyelesaian
konflik.
Konsesi
3.5.10 Manajer Konsesi sadar akan prosedur penyelesaian konflik. Konsesi
3.5.11 Manajer Konsesi mendapatkan pelatihan untuk prosedur
penyelesaian konflik. Konsesi
3.5.12 Dilaksanakannya prosedur penyelesaian konflik oleh Manajer
Konsesi.
Konsesi
3.5.13 Manajer Konsesi memiliki prosedur untuk memprioritaskan
konflik-konflik yang telah diidentifikasi.
Konsesi
3.5.14 Dikelolanya suatu catatan pelatihan. Konsesi
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
Manajer Konsesi.
3.5.16 Diselesaikannya konflik-konflik yang telah diidentifikasi dengan
menggunakan prosedur penyelesaian konflik atau prosedur alternatif yang dapat diterima oleh para pengadu.
Konsesi
3.5.17 Diselesaikannya konflik-konflik yang telah diidentifikasi secara
tepat waktu dan bertanggung jawab.
Konsesi
3.5.18 Sebagian besar pemangku kepentingan yang pernah terlibat
konflik puas dengan upaya yang dilakukan APP untuk menyelesaikan konflik.
Konsesi
3.5.19 Tidak ada bukti yang mengindikasikan kegagalan dalam
menyelesaikan konflik.
Konsesi 3.6 Dialog terbuka dan
konstruktif dengan pemangku kepentingan lokal, nasional dan internasional
3.6.1 Manajer Konsesi sadar akan komitmen untuk menjaga dialog
terbuka dan konstruktif.
Konsesi
3.6.2 Dikelolanya dialog dengan pemangku kepentingan lokal yang
berkepentingan dalam, atau terdampak oleh, pengelolaan konsesi. Konsesi
3.6.3 Dikelolanya dialog dengan pemangku kepentingan nasional dan
internasional.
Perusahaan
3.6.4 Sebagian besar pemangku kepentingan yang pernah terlibat dalam
dialog puas karena dialog berjalan terbuka dan konstruktif.
Perusahaan/ Konsesi
3.6.5 Tidak ada bukti yang mengindikasikan kegagalan dalam
melakukan dialog terbuka dan konstruktif.
Perusahaan/ Konsesi 3.7 Penguatan program
pengembangan masyarakat.
3.7.1 APP telah mengembangkan kebijakan dan prosedur untuk
menguatkan program pengembangan masyarakat.
Perusahaan
3.7.2 APP berkomitmen dengan staf dan sumber dayanya untuk
menguatkan program pengembangan masyarakat.
Perusahaan
3.7.3 Manajer Konsesi sadar akan komitmen penguatan program
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
3.7.4 Ditunjukkannya dukungan untuk program pengembangan
masyarakat, di mana program tersebut tidak mempengaruhi komitmen dalam FCP, dan diminta oleh masyarakat.
Konsesi
3.7.5 Dikelolanya catatan program pengembangan masyarakat. Konsesi
3.7.6 APP memiliki sistem untuk memantau dan mengevaluasi
pelaksanaan program pengembangan masyarakat.
Perusahaan
3.7.7 Tidak ada bukti yang mengindikasikan kegagalan dalam
menguatkan program pengembangan masyarakat yang telah
disepakati dan tepat.
Konsesi 3.8 Penghargaan terhadap
HAM.
3.8.1 Manajer Konsesi sadar akan komitmen untuk menghargai HAM. Konsesi
3.8.2 Ditunjukkannya penghormatan atas HAM. Perusahaan/ Konsesi
3.8.3 Sebagian besar pemangku kepentingan puas dengan
ditunjukkannya penghormatan atas HAM. Perusahaan/ Konsesi
3.8.4 Tidak ada bukti pelanggaran HAM oleh APP atau Manajer
Konsesi yang menyuplai serat ke pabrik kayu APP.
Perusahaan/ Konsesi 3.9 Pengakuan dan
penghormatan hak-hak pekerja perusahaan.
3.9.1 Manajer Konsesi sadar akan komitmen untuk mengakui dan
menghormati hak pekerja.
Konsesi
3.9.2 Ditunjukkannya pengakuan dan penghormatan terhadap hak
pekerja.
Perusahaan/ Konsesi
3.9.3 Sebagian besar pekerja puas dengan ditunjukkannya
penghormatan atas hak pekerja.
Perusahaan/ Konsesi
3.9.4 Tidak ada bukti pelanggaran hak pekerja oleh APP atau pihak
yang memasok serat ke pabrik APP.
Perusahaan/ Konsesi 3.10 Kepatuhan terhadap
semua hukum terkait serta prinsip-prinsip dan kriteria
3.10.1 Manajer Konsesi sadar akan semua hukum lokal, nasional, dan
internasional yang terkait.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
sertifikasi yang diterima secara internasional.
3.10.2 Manajer Konsesi memiliki salinan semua hukum lokal, nasional,
dan internasional yang terkait.
Konsesi
3.10.3 Tidak ada bukti ketidakpatuhan terhadap hukum lokal, nasional,
dan internasional sejak tanggal 1 Februari 2013. Konsesi
3.10.4 APP telah mengidentifikasi prinsip-prinsip dan kriteria yang
diterima secara internasional, yang berlaku terhadap semua
kawasan konsesi pemasok.
Perusahaan
3.10.5 Tidak ada bukti yang mengindikasikan kegagalan dalam
mematuhi prinsip-prinsip dan kriteria sertifikasi apapun yang berlaku untuk kawasan konsesi sejak 1 Februari 2013.
Konsesi 3.11 dalam Hal diusulkannya
hutan tanaman baru, maka APP akan menghormati hak
masyarakat adat dan penduduk setempat, termasuk pengakuan atas tanah adat.
3.11.1 APP mengidentifikasi semua hutan tanaman baru yang diusulkan. Perusahaan
3.11.2 APP menjalankan prosedur pelibatan dan konsultasi dengan cara
yang sesuai prosedur yang diterima secara internasional dan
lokal untuk memenuhi prinsip Padiatapa sebelum pembangunan
hutan tanaman baru.
Konsesi
3.11.3 Diidentifikasinya masyarakat adat dan penduduk setempat yang
terdampak dengan adanya hutan tanaman baru.
Konsesi
3.11.4 Masyarakat adat dan penduduk setempat diinformasikan
mengenai usulan hutan tanaman baru.
Konsesi
3.11.5 Wilayah yang diklaim oleh masyarakat adat atau penduduk
setempat dipetakan bersama, di mana hasilnya disetujui dengan
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
oleh masyarakat.
3.11.6 Dikelolanya catatan pelibatan dan konsultasi. Konsesi
3.11.7 Masyarakat adat, penduduk setempat dan LSM lokal puas dengan
konsultasi dan pengakuan hak berkaitan dengan pengusulan hutan tanaman baru.
Konsesi
3.11.8 Tidak ada bukti dibangunnya hutan tanaman tanpa memenuhi
prinsip Padiatapa bagi masyarakat adat dan lokal.
Konsesi 3.12 Dalam hal diusulkannya
hutan tanaman baru, maka APP berkomitmen terhadap penilaian HBKT sebagai bagian dari komitmen ini.
3.12.1 Diselesaikannya suatu penilaian HBKT yang sesuai dengan
prosedur yang diakui secara internasional dan lokal sebelum
pembangunan hutan tanaman baru.
Konsesi
3.13 dalam hal diusulkannya hutan tanaman baru, maka berdasarkan konsultasi dengan pemangku kepentingan, APP akan mengembangkan upaya lebih lanjut untuk menerapkan prinsip Padiatapa.
3.13.1 APP mengidentifikasi para pemangku kepentingan yang
berkepentingan dengan dilakukannya pembangunan hutan tanaman baru.
Perusahaan
3.13.2 Pemangku kepentingan yang berkepentingan diajak
berdialog/konsultasi mengenai pengembangan tindakan-tindakan untuk melaksanakan prinsip Padiatapa sebelum dilakukannya pembangunan hutan tanaman baru.
Konsesi
3.13.3 Dikelolanya catatan konsultasi. Konsesi
3.13.4 Sebagian besar pemangku kepentingan yang berkepentingan puas
dengan konsultasi mengenai pengembangan tindakan pelaksanaan prinsip Padiatapa.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
3.14 APP akan melakukan berkonsultasi dengan LSM dan pemangku kepentingan lain untuk memastikan bahwa
protokol dan prosedurnya terkait Padiatapa dan penyelesaian konflik sudah sesuai dengan praktik terbaik internasional. CATATAN: Kebijakan tidak mengatur akuisisi kawasan konsesi yang telah dibuka atau menghasilkan MTH sejak tanggal 1 Februari 2013. Lihat ‘komitmen tambahan #3’ di bawah.
3.14.1 LSM diajak konsultasi mengenai protokol dan prosedur untuk
Padiatapa dan penyelesaian konflik. Konsesi
3.14.2 Prosedur Padiatapa dan penyelesaian konflik sesuai dengan
prosedur yang diakui secara internasional dan lokal untuk
Padiatapa dan penyelesaian konflik.
Konsesi
3.14.3 Dikelolanya catatan konsultasi. Konsesi
3.14.4 Sebagian besar pemangku kepentingan yang berkepentingan puas
dengan konsultasi yang dilakukan sebelum pembangunan hutan tanaman baru.
Komitmen kebijakan 4: Pihak Ketiga Pemasok
APP memiliki sumber-sumber dari seluruh dunia yang memasok serat kayu dan pihaknya sedang mengembangkan tindakan untuk memastikan bahwa pengadaan dari sumber-sumber ini mendukung pengelolaan hutan yang bertanggung jawab.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi
Evaluasi
4.1 APP … sedang mengembangkan tindakan-tindakan untuk memastikan ... pengadaan mendukung pengelolaan hutan bertanggung jawab.
4.1.1 Diidentifikasinya pemasok serat dari seluruh dunia untuk pabrik
APP di Indonesia. Perusahaan
4.1.2 APP telah meninjau praktik pengelolaan dalam semua bidang
penyediaan serat saat ini.
Perusahaan
4.1.3 APP telah mengatur kriteria pengelolaan hutan bertanggung
jawab.
Perusahaan
4.1.4 APP memiliki tindakan-tindakan untuk memastikan pengelolaan
bertanggung jawab yang memenuhi semua komitmen FCP, di semua bidang penyediaan yang ada saat ini.
Perusahaan
4.1.5 APP telah menangguhkan atau memutuskan perjanjian pengadaan
dengan pemasok yang diidentifikasi tidak memenuhi ketentuan pengelolaan hutan yang bertanggung jawab.
Perusahaan
4.1.6 APP telah mengidentifikasi calon-calon pemasok yang akan diikat
dalam perjanjian. Perusahaan
4.1.7 APP memiliki tindakan-tindakan untuk memastikan pengelolaan
bertanggung jawab (yang memenuhi komitmen FCP) yang
dilakukan calon-calon pemasok yang akan diikat dalam perjanjian.
Perusahaan
4.1.8 APP memiliki tindakan-tindakan untuk memastikan bahwa,
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
membeli serat kayu dari sumber-sumber yang tidak memenuhi komitmen pengelolaan bertanggung jawab sesuai FCP.
BAGIAN 2 Komitmen Publik Tambahan
Bagian 2 mengidentifikasi komitmen publik yang dibuat APP dan menentukan Indikator Kinerja untuk evaluasi perkembangan dalam memenuhi komitmen tambahan tersebut. Komitmen tambahan dimaksud adalah sebagai berikut.
• Komitmen publik yang tertuang dalam Peta Jalan Keberlanjutan APP – dokumen Visi 2020 (Juni 2012). • Komitmen publik yang dibuat sejak pengumuman FCP bulan Februari 2013.
• Komitmen publik berkaitan dengan kecukupan serat kayu untuk memenuhi proyeksi permintaan oleh pabrik APP.
Bagian 2 A Komitmen Publik dari Peta Jalan Keberlanjutan APP – Visi 2020
Dokumen Peta Jalan Keberlanjutan APP – Visi 2020 (Juni 2012) memuat sepuluh komitmen. Tiga di antaranya dianggap berkaitan dengan FCP dan dengan demikian dianggap diidentifikasi sebagai Komitmen Tambahan. Indikator Unsur dan Kinerja untuk ketiga komitmen tambahan berikut ini akan dijelaskan pada Bagian 2 ini.
• Reboisasi.
• Konservasi dan Keanekaragaman Hayati. • Pengadaan Serat.
Tiga komitmen berikut ini tidak dianggap berkaitan dengan FCP APP (5 Februari 2013), yaitu: • emisi – penurunan emisi GRK dan dampak limbah cair dari pabrik APP;
• limbah padat – pengurangan limbah padat yang dibuang ke tempat penampungan sampah; dan • pengelolaan air – peningkatan pemanfaatan air.
Empat komitmen lainnya dianggap telah digantikan keberlakuannya oleh komitmen FCP (2013). Keempat komitmen tersebut adalah: • kesejahteraan karyawan – lingkungan kerja yang sehat dan aman serta pengelolaan kepuasan karyawan;
• pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat – prosedur untuk pelibatan masyarakat dan penyelesaian konflik di mill APP dan peningkatan jumlah masyarakat yang menerima manfaat dari program sosial APP serta ditingkatkan efektivitasnya;
• masyarakat adat – pengadopsian panduan internasional untuk perlindungan hak masyarakat adat di hutan; dan • HAM – memastikan bahwa APP dan pemasoknya mengikuti standar HAM nasional dan internasional.
Komitmen Tambahan #1 dalam Visi 2020 Reboisasi
a) Mendukung target nasional untuk mereboisasi lahan terdegradasi
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi
Evaluasi
5.1 Mendukung target nasional untuk
mereboisasi lahan terdegradasi 5.1.1 APP telah mengidentifikasi target nasional untuk mereboisasi lahan terdegradasi. Perusahaan
5.1.2 APP telah mengidentifikasi lokasi spesifik yang akan menjadi
lokasi pelaksanaan program reboisasi lahan terdegradasi, sesuai dengan target nasional.
Perusahaan
5.1.3 APP melaksanakan program yang spesifik untuk mereboisasi
lahan terdegradasi guna mendukung target nasional. Konsesi
Komitmen Tambahan #2 dalam Visi 2020 Konservasi dan Keanekaragaman Hayati
a) Mendukung target nasional dalam pelestarian kawasan yang ditetapkan untuk perlindungan dan konservasi. b) Mendukung target nasional untuk meningkatkan populasi spesies hampir punah.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi
Evaluasi
6.1 Mendukung target nasional untuk melestarikan kawasan yang ditetapkan untuk perlindungan dan konservasi.
6.1.1 APP telah mengidentifikasi target nasional untuk pelestarian
kawasan-kawasan yang ditetapkan untuk perlindungan dan konservasi.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
6.1.2 APP telah mengidentifikasi kawasan-kawasan yang spesifik dan
mewakili kepentingan dalam upaya perlindungan dan konservasi.
Perusahaan
6.1.3 APP telah mengidentifikasi program-program yang spesifik untuk
mendukung pencapaian target pelestarian kawasan-kawasan yang ditetapkan untuk perlindungan dan konservasi.
Perusahaan
6.1.4 APP menerapkan program-program yang spesifik untuk
melestarikan kawasan yang ditetapkan sebagai perlindungan dan konservasi guna mendukung target nasional.
Konsesi 6.2 Mendukung target nasional untuk
meningkatkan populasi spesies hampir punah.
6.2.1 APP telah mengidentifikasi target nasional untuk meningkatkan
populasi jenis terancam punah. Perusahaan
6.2.2 APP telah mengidentifikasi spesies hampir punah yang menghuni
kawasan konsesi pemasok APP.
Perusahaan
6.2.3 APP telah mengidentifikasi program-program spesifik untuk
meningkatkan populasi spesies hampir punah.
Perusahaan
6.2.4 APP menjalankan program-program spesifik untuk meningkatkan
populasi spesies hampir punah dalam rangka mendukung target nasional.
Komitmen Tambahan #3 dalam Visi 2020 Pengadaan Serat
a) Verifikasi legalitas kayu pulp oleh pihak ketiga yang sepenuhnya (100%) independen. b) Tidak ada Serat yang berasal dari KBKT.
c) 100% kayu dari hutan tanaman untuk produksi pulp.
d) Kayu pulp memiliki sertifikat Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (Sustainable Forest Management/SFM) 100%.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi
Evaluasi
7.1 Verifikasi legalitas kayu pulp oleh pihak ketiga yang 100% independen.
7.1.1 APP memiliki rencana aksi dan jadwal untuk sertifikasii semua
kawasan konsesi sesuai standar legalitas yang diakui secara
internasional.
Perusahaan
7.1.2 Sertifikasi yang memverifikasi legalitas kayu pulp dilakukan
sesuai dengan rencana dan jadwalnya.
Perusahaan
7.1.3 Audit yang memverifikasi sertifikat yang berlaku untuk legalitas
kayu pulp sudah diperbaharui dan mematuhi standar yang ditetapkan untuk semua kawasan konsesi.
Perusahaan 7.2 Tidak ada Serat yang berasal dari
KBKT.
7.2.1 Tidak ada bukti yang mengindikasikan masuknya serat yang
berasal dari lokasi yang diidentifikasi mengandung NKT ke pabrik pulp terpadu APP sejak tanggal 31 Agustus 2013.
Pabrik kayu
7.2.2 Tidak ada bukti yang mengindikasikan masuknya serat yang
berasal dari lokasi yang diidentifikasi mengandung NKT yang ke pabrik APP lainnya sejak tanggal 31 Agustus 2013.
Pabrik kayu 7.3 100% kayu untuk produksi pulp
berasal dari hutan tanaman 7.3.1 Semua serat yang masuk ke pabrik pulp terintegrasi milik APP adalah kayu yang berasal dari hutan tanaman. Pabrik kayu
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
berasal dari hutan tanaman. 7.4 Kayu pulp memiliki sertifikat
Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (Sustainable Forest
Management/SFM) 100%.
7.4.1 APP memiliki rencana aksi dan jadwal untuk sertifikasi semua
konsesi sesuai standar pengelolaan hutan berkelanjutan yang diakui secara internasional.
Perusahaan
7.4.2 Berjalannya kegiatan sertifikasi yang memverifikasi kesesuaian
dengan standar pengelolaan berkelanjutan yang diakui secara internasional sesuai dengan rencana dan jadwalnya.
Perusahaan
7.4.3 Audit yang memverifikasi pengelolaan hutan berkelanjutan sudah
diperbaharui dan mengikuti standar yang berlaku untuk semua konsesi.
Bagian 2B Komitmen Publik Tambahan yang dibuat APP sejak tanggal 5 Februari 2013
Komitmen Tambahan #4 Penggunaan Kayu Keras Tropis Campuran (MTH)
“Setelah diselenggarakannya konsultasi dengan pemangku kepentingan, APP mengajukan permohonan batas waktu diizinkannya serat kayu pulp dari hutan alam masuk ke pabrik, yaitu tanggal 31 Agustus 2013. Sejak tanggal tersebut, tidak ada lagi serat kayu pulp dari hutan alam yang dapat masuk ke pabrik pulp kami.
Sejak kami memperkenalkan FCP, kami telah mencari cara untuk mencapai tujuan kami agar dapat sepenuhnya menghilangkan serat MTH non NKT/SKT dari rantai suplai kami.
Dokumen EPN meminta kami untuk tidak lagi menggunakan MTH setelah tanggal 1 Januari 2014, walaupun kayu tersebut berasal dari kawasan non NKT/SKT. Hal ini merupakan tantangan bagi kami untuk mengelola logistik dan menggunakan kayu bulat yang diperoleh pasca diidentifikasi dan dilindunginya KBKT dan wilayah yang mengandung SKT. Kami sedang menghitung volume yang diharapkan untuk serat MTH di konsesi pemasok kami. Kami ingin bekerja sama dengan pemangku kepentingan untuk memutuskan bagaimana cara terbaik menggunakan sumber daya ini jika kami tidak akan menggunakannya untuk pulp. Kami telah meminta masukan dan saran dari LSM dan kami menantikan hasilnya pada pertemuan berikutnya.
Prinsip inti kami jelas: kami selama ini selalu mendukung kebijakan hutan tanaman 100% untuk produksi pulp dan kertas. Bersama dengan pemangku kepentingan lainnya, kami berusaha mencari alternatif penggunaan kayu non SKT yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, bernilai komersial, dan praktis secara logistik.”
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
8.1 Sejak tanggal 31 Agustus 2013, tidak ada serat kayu pulp dari hutan alam yang diizinkan masuk ke pabrik pulp kami (APP).
8.1.1 Tidak ada kayu MTH dari hutan alam yang masuk ke pabrik APP
sejak tanggal 31 Agustus 2013.
Pabrik
8.1.2 Sudah diidentifikasinya sumber kayu MTH yang ada di TPn APP
setelah tanggal 31 Agustus 2013 dengan jelas. Pabrik
8.1.3 Tidak ada sumber kayu MTH yang tidak teridentifikasi di TPn
APP.
Pabrik
8.1.4 Telah diidentifikasinya lokasi semua Kayu Tropis Campuran
(Mixed Tropical Hardwood/”MTH”) yang ditebang sebelum tanggal 1 Februari 2013 tetapi tidak diangkut ke pabrik sebelum tanggal 31 Agustus 2013.
Perusahaan/ Konsesi
8.2 … mencari cara untuk mencapai tujuan kami dalam untuk sepenuhnya
menghilangkan serat MTW non NKT/SKT dari rantai suplai kami.
8.2.1 APP telah mencari cara untuk menghilangkan serat MTH non
NKT/SKT dari rantai suplai di Indonesia. Perusahaan
8.2.2 APP telah melaksanakan tindakan-tindakan untuk menghilangkan
serat MTH non NKT/SKT dari rantai suplai di Indonesia. Konsesi
8.2.3 Tidak ditemukannya bukti MTH di rantai suplai. Konsesi
8.3 … menghitung volume serat MTH non NKT/SKT yang diharapkan.
8.3.1 APP telah menentukan volume serat MTH non NKT/SKT di
semua kawasan konsesi dalam rantai suplainya.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
8.4 Kami ingin bekerja sama dengan pemangku kepentingan ... Kami telah meminta
masukan dan saran dari LSM.
8.4.1 APP bekerja sama dengan pemangku kepentingan dalam
mengidentifikasi penggunaan kayu MTH yang ditebang sebelum 1 Februari 2013 akan tetapi tidak masuk pabrik pulp APP sebelum 31 Agustus.
Perusahaan
8.4.2 APP telah meminta masukan dan saran dari LSM. Perusahaan
8.4.3 Dikelolanya catatan kerja sama dan masukan dari LSM. Perusahaan
8.5 … kami berusaha mencari alternatif penggunaan kayu non SKT yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, layak secara komersial, dan praktis secara logistik.
8.5.1 APP telah mengatur ‘kayu non SKT’. Perusahaan
8.5.2 APP telah mencari pemanfaatan alternatif untuk kayu non SKT. Perusahaan
8.5.3 APP telah mengidentifikasi dampak lingkungan dari pemanfaatan
alternatif tersebut.
Perusahaan
8.5.4 APP telah mengidentifikasi kelayakan komersial dari pemanfaatan
alternatif tersebut.
Perusahaan
8.5.5 APP telah mengidentifikasi faktor-faktor logistik. Perusahaan
8.5.6 APP mengembangkan rencana untuk menggunakan kayu non
SKT dengan cara bertanggung jawab terhadap lingkungan, layak secara komersial, dan praktis secara logistik.
Komitmen Tambahan #5 Keterbukaan dalam Kemitraan dengan dan Pelibatan Pemangku Kepentingan
“Salah satu janji kami adalah komitmen untuk transparansi sepenuhnya”. (dari halaman 7 FCP APP – Ringkasan Satu Tahun) “APP tetap berkomitmen mengatasi tantangan-tantangan yang ada dalam kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan. Kami telah membuat berbagai kemajuan signifikan dan bertujuan menjadi setransparan mungkin mengenai keberhasilan dan kegagalan kami.”
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi
Evaluasi
9.1 … Keterbukaan seutuhnya. 9.1.1 APP memiliki kebijakan dan prosedur informasi publik. Perusahaan
9.1.2 Tersedianya informasi mengenai kawasan konsesi pihak pemasok
APP yang memasok serat ke pabrik APP bagi publik.
Perusahaan
9.1.3 Tersedianya kebijakan, prosedur, rencana aksi, dan dokumen
lainnya terkait penerapan FCP untuk publik.
Perusahaan
9.1.4 Tersedianya peta yang menunjukkan lokasi batas-batas konsesi,
hutan alam, NKT dan KBKT, lahan gambut, kanal dan infrastruktur jalan dan kawasan dengan SKT bagi publik.
Perusahaan
9.1.5 Tersedianya laporan yang mengevaluasi kepatuhan terhadap
komitmen dalam FCP bagi publik.
Perusahaan
9.1.6 Tersedianya laporan yang menyelidiki kemungkinan pelanggaran
moratorium bagi publik.
Perusahaan
9.1.7 Laporan kegiatan pemantauan tersedia bagi publik Perusahaan
9.2 APP tetap berkomitmen mengatasi tantangan-tantangan yang masih ada dalam kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan.
9.2.1 APP telah menjalin kemitraan dengan berbagai pemangku
kepentingan. Perusahaan
9.2.2 Sebagian besar pemangku kepentingan puas dengan upaya APP
dalam membangun kemitraan.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
9.3 … bertujuan untuk setransparan mungkin terkait keberhasilan maupun kegagalan kami
9.3.1 APP menyediakan laporan monitoring dan audit bagi pemangku
kepentingan.
Perusahaan
9.3.2 Laporan kemajuan APP mengidentifikasi keberhasilan dan
Komitmen Tambahan #6 Penghentian sepenuhnya Pembukaan Hutan Alam
Pada tanggal 5 Februari kami mengumumkan penghentian sepenuhnya pembukaan hutan alam di seluruh rantai suplai kami” (halaman 7 FCP APP – Ringkasan satu tahun).
10.1 Penghentian sepenuhnya pembukaan hutan alam
10.1.1 Tidak ada bukti yang mengindikasikan dilakukannya pembukaan hutan alam di kawasan konsesi pihak pemasok APP di Indonesia setelah tanggal 5 Februari 2013.
Konsesi
Komitmen Tambahan #7 Pemasok dan Akuisisi di Masa Mendatang
"Kami mengembangkan prosedur terkait untuk mengevaluasi para pemasok atau akuisisi masa mendatang untuk memastikan kepatuhannya terhadap kebijakan kami untuk Pengadaan dan Pengolahan Serat Bertanggung Jawab. Kami berkomitmen untuk berkonsultasi dengan para pihak dalam prosedur ini dan akan menggunakan masukan pihak-pihak dimaksud untuk menyelesaikan prosedur ini." (Tanggapan APP terhadap Laporan Milestone EPN, 19 September 2013, halaman 2).
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi
Evaluasi
11.1 Pengembangan Prosedur Asosiasi untuk menilai pemasok atau akuisisi di masa mendatang.
11.1.1 APP memiliki rencana aksi dan jadwal pengembangan suatu Prosedur Asosiasi untuk menilai pemasok atau akuisisi di masa mendatang.
Perusahaan
11.1.2 Dikembangkannya Prosedur Asosiasi sesuai dengan rencana dan jadwalnya.
Unsur Kunci (digarisbawahi) Indikator Kinerja Lokasi Evaluasi
11.2 Ketundukan terhadap kebijakan APP untuk Pengadaan dan Pengolahan Serat secara Bertanggung Jawab .
11.2.1 Prosedur Asosiasi mengatur bahwa pemasok dan akuisisi di masa mendatang harus mematuhi Kebijakan APP untuk Pengadaan dan Pengolahan Serat secara Bertanggung Jawab sejak tanggal 1 Februari 2013.
Perusahaan
11.2.2 Prosedur Asosiasi memastikan dipatuhinya FCP APP oleh semua
pemasok dan akuisisi masa mendatang sejak 1 Februari 2013. Perusahaan
11.3 Komitmen untuk
berdialog/konsultasi dengan pemangku kepentingan mengenai Prosedur
Asosiasi.
11.3.1 Diajaknya pemangku kepentingan untuk berdialog/konsultasi
mengenai Prosedur Asosiasi. Perusahaan
11.4 Komitmen untuk menggunakan masukan dari pemangku kepentingan untuk membantu Prosedur Asosiasi.
11.4.1 Digunakannya masukan dari pemangku kepentingan untuk mengembangkan Prosedur Asosiasi.
Komitmen Tambahan #8 Konservasi dan Pemulihan/Restorasi
“Proses penilaian NKT dan SKT akan menghasilkan rencana kelola yang akan mencakup rekomendasi konservasi dan restorasi sebagai bagian dari Rencana Kelola Hutan Berkelanjutan terpadu ... Akan tetapi kami akan lakukan lebih daripada hanya sekadar melaksanakan rekomendasi tersebut karena APP ingin mengembangkan model baru konservasi berdampak besar, terukur dan dilakukan pada tingkat lanskap” (Tanggapan APP terhadap Laporan Milestone EPN, 19 September 2013, halaman 2).
“Isu lain yang dikemukakan LSM dalam Diskusi Kelompok Terarah (FGD) adalah mengenai restorasi. APP mengonfirmasi bahwa topik ini telah dan akan tetap dibahas. Prioritas pertama tentunya adalah penilaian dan rencana konservasi komprehensif, akan tetapi restorasi akan dibahas sebagai bagian dari pendekatan jangka panjang terhadap pengelolaan hutan berkelanjutan.” (Halaman 9 FCP APP – Ringkasan Satu Tahun).
“Jadwal proses perencanaan pengelolaan akan diumumkan melalui papan pengumuman APP.” (Tanggapan APP terhadap Laporan Greenpeace, Oktober 2013).
“APP setuju bahwa para ahli konservasi terkemuka harus dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan upaya konservasi.” (APP respons terhadap Laporan Greenpeace, Oktober 2013).
“Data dari NKT/SKT dan penilaian sosial akan digunakan untuk mengembangkan rencana kelola. Ini mencakup rekomendasi konservasi dan restorasi.” (Tanggapan APP terhadap Laporan Greenpeace, Oktober 2013).
“APP setuju bahwa masukan pemangku kepentingan dibutuhkan untuk mengembangkan Rencana Kelola yang baik. Kami sedang mengembangkan mekanisme untuk konsultasi bersama para pemangku kepentingan mengenai hal ini.” (Tanggapan APP terhadap Laporan Greenpeace, Oktober 2013).
APP akan mempertimbangkan pendekatan tingkat lanskap menuju konservasi dan restorasi. (Tanggapan APP terhadap pertanyaan dalam acara Peringatan Ulang Tahun Pertama, 5 Februari 2014).