PERANAN PENDAYAGUNAAN ZAKAT EKONOMI PRODUKTIF TERHADAP PEMBERDAYAAN MUSTAHIK PROGRAM WARUNG
PRODUKTIF BAZNAS KAB. PURWAKARTA (Studi Kasus Mustahik Di Kecamatan Purwakarta)
Triana Apriani, Rahmat Aji Nuryakin
STEI LPPM Padalarang Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pendayagunaan zakat produktif dalam memberdayakan masyarakat kurang mampu yang diidentifikasi sebagai mustahiq dalam berwirausaha. Zakat yang diperuntukkan bagi mustahiq dapat digunakan sebagai modal usaha dimana usaha yang dikembangkan oleh mustahiq pada umumnya masih berskala kecil, yang tidak terakses oleh lembaga keuangan bank hal ini merupakan salah satu program Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Purwakarta dalam mengelola zakat produktif berupa qirodhul hasan yaitu pinjaman kepada mustahiq sebagai modal usaha tanpa bunga dan diawasi penggunaannya. Sehingga diharapkan akan menciptakan sirkulasi ekonomi, meningkatkan produktivitas usaha masyarakat, meningkatkan pendapatan/ hasil hasil secara ekonomi, dan berkelanjutan (sustainable). Metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriftif kualitatif untuk melihat pengaruh dari zakat produktif terhadap pemberdayaan masyarakat miskin di Kabupaten Purwakarta Khususnya Kecamatan Purwakarta. Penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil survey atau hasil penyebaran kuisioner, dan melakukan wawancara mendalam dengan pengelola program zakat produktif di BAZNAS Kabupaten Purwakarta dan Mustahiq sebagai sebagai peserta program pemberdayaan masyarakat melalui zakat produktif. Sedangkan data sekunder diperoleh dari Laporan Program BAZNAS diinternet, beberapa literatur, artikel- artikel baik majalah, jurnal, surat kabar maupun internet. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pihak BAZNAS Kabupaten Purwakarta berupaya melaksanakan program zakat produktif dengan menerapkan fungsi manajemen yang terdiri dari: perencanaan program ini dilakukan terlebih dahulu membuat assesment
untuk melihat kebutuhan para mustahiq dilanjutkan dengan pembuatan program kerja. Pengorganisasian program ini dengan membuat struktur organisasi dan pembagian tugas. Adapun pengawasan kepada mustahiq dilakukan dengan cara pertemuan 1 bulan sekali terhadap kelompok binaan. Zakat produktif yang dikelola BAZNAS Kabupaten Purwakarta mampu meningkatkan ekonomi mustahiq, melatih kemandirian, dan meningkatkan pengetahuan mustahiq terhadap ilmu agama.
Kata Kunci: Manajemen, Zakat Produktif, Ekonomi Mustahiq ABSTRACT
This study aims to determine the extent to which productive zakat is utilized in empowering underprivileged people who are identified as mustahiq in entrepreneurship. Zakat earmarked for mustahiq can be used as business capital where the business developed by mustahiq is generally still on a small scale, which is not accessible by bank financial institutions, this is one of the programs of the Purwakarta Regency National Amil Zakat Agency in managing productive zakat in the form of qirodhul hasan, namely loans. to mustahiq as interest-free business capital and its use is monitored. So that it is expected to create economic circulation, increase the productivity of community businesses, increase income/yields economically, and be sustainable. The methodology used in this study is a qualitative descriptive method to see the effect of productive zakat on the empowerment of the poor in Purwakarta Regency, especially Purwakarta District. This research consists of primary data and secondary data. Primary data were obtained from survey results or the results of distributing questionnaires, and conducting in-depth interviews with managers of the productive zakat program in BAZNAS Purwakarta and Mustahiq as participants in community empowerment programs through productive zakat. Meanwhile, secondary data were obtained from the BAZNAS Program Report on the internet, some literature, articles from both magazines, journals, newspapers and the internet. The results of this study indicate that the BAZNAS Purwakarta Regency strives to implement a productive zakat program by implementing management functions consisting of planning this program is carried out first assessing to see the needs of the mustahiq followed by making a work program. Organizing this program by creating an organizational structure and division of tasks. The supervision of the mustahiq is carried out by meeting once a month with the assisted groups. The productive zakat managed by BAZNAS Purwakarta Regency can improve the mustahiq economy, train independence, and increase mustahiq knowledge of religious knowledge.
Page 3 of 18 Keywords: Management, Productive Zakat, Mustahiq Economy
PENDAHULUAN
Kesenjangan penghasilan rizki dan mata pencaharian diantara umat manusia adalah hal yang tidak bisa ditolak, karena ini merupakan sunatullah agar kehidupan ini berjalan seimbang. Untuk mengurangi kesenjangan tersebut harus ada campur tangan Allah, yaitu diwajibkannya zakat dari si kaya untuk diberikan kepada si miskin bukan hanya sekedar amal tatawwu’ (sunah) yang sifatnya opsional. Dengan zakat, kesenjangan sosial dapat diminimalisasikan dan rasa gotong royong serta tenggang rasa dikalangan umat islam dapat ditumbuh kembangkan.
Zakat memiliki dimensi sosial kemasyarakatan yang lebih besar dan memiliki dampak terhadap kehidupan didunia dan akhirat. Disamping itu, zakat dapat berfungsi sebagai media untuk memberantas kemiskinan hingga ke akar- akarnya. Ada beberapa penyebab terjadinya lingkaran kemiskinan, diantaranya yaitu tidak adanya modal, rendahnya sumber daya manusia, dan minimnya inovasi dalam berkarya. (Hilmi Ridho dan Abdul Wasik, 2018 : 2)
Jika dikelola dengan baik dan amanah, zakat akan mampu meningkatkan kesejahteraan umat, mampu meningkatkan etos kerja umat serta sebagai institusi pemerataan ekonomi. Hal ini terbukti pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Meskipun beliau hanya memerintah selama 22 bulan karena meninggal dunia, negara menjadi sangat makmur, yaitu dengan pemerintahan yang bersih dan jujur serta zakat ditangani dengan baik, hingga kala itu Negara yang cukup luas hampir sepertiga dunia tidak ada yang berhak menerima zakat karena semua penduduk Muslim sudah menjadi muzaki, itulah pertama kali ada istilah zakat ditransfer ke negeri lain karena tidak ada lagi yang patut disantuni.
Pengelolaan zakat di Indonesia diatur berdasarkan undang-undang No 38 tahun 1999 pasal 5 ayat (1), pasal 20 ayat (1), pasal 29, dan pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 tentang pengelolan zakat. Dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa lembaga pengelola zakat yang ada di Indonesia dapat berupa Badan Amil Zakat yang dikelola oleh pemerintah serta dapat pula berupa Lembaga Amil Zakat yang dikelola oleh swasta.
Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi sosial kemanusiaan. Penyaluran zakat dapat dilakukan secara langsung atau melalui institusi amil zakat, baik berupa Badan Amil Zakat (BAZ) yang dikelola oleh pemerintah maupun Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dikelola oleh swasta. Ada beberapa alasan pembayaran zakat sebaiknya melalui intitusi pengelola zakat, yaitu.
1. Dalam rangka menjamin ketaatan pembayaran;
2. Menghilangkan rasa rikuh dan canggung yang mungkin dialami oleh mustahik ketika berhubungan dengan muzakki (orang yang berzakat). 3. Mengefisienkan dan mengefektifkan pengalokasian dana zakat; (Nurul
Huda dan Muhammad Heykal, 2012 : 305)
Zakat adalah ibadah yang mengandung dua dimensi, yaitu dimensi hubungan antara manusia dengan penciptanya yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala (hablum minallah) yang bersifat vertikal dan dimensi hubungan antar sesama manusia (hablum minannaas) yang bersifat horizontal. Keduanya sama-sama memiliki hukum wajib. Dilihat dari dimensi verikal, apabila ibadah zakat ditunaikan dengan baik maka akan meningkatkan kualitas keimanan, menyucikan dan membersihkan jiwa, serta mengembangkan dan memberkahkan harta yang dimiliki.
Dilihat dari dimensi horizontal, zakat merupakan ibadah yang bercorak sosial-ekonomi, sebagai kewajiban seorang muslim untuk mengeluarkan sebagian hak miliknya kepada pihak yang berhak menerimanya agar tercipta pemerataan ekonomi yang berkeadilan.
Terdapat tiga aspek yang terkait dengan pelaksanaan kewajiban Zakat. a. Aspek moral dan psikologis.
Diharapkan zakat dapat mengikis ketamakan dan keserakahan pada diri manusia.
b. Aspek sosial.
Zakat merupakan instrumen ajaran Islam yang berfungsi untuk menghapus kemiskinan, dan sekaligus menyadarkan orang-orang kaya akan tanggungjawab sosial yang dibebankan agama kepada mereka. c. Aspek ekonomi.
Zakat berfungsi untuk mencegah penumpukan harta pada sebagian kecil orang kaya. Penumpukan harta ini akan mengakibatkan terjadinya kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan orang miskin, orang kaya akan semakin kaya dan orang miskin akan semakin miskin. Dengan adanya zakat maka kesenjangan ekonomi dalam masyarakat tersebut dapat dipersempit. Dengan kata lain, zakat sebagai effort to flowing yang difungsikan sebagai pengendalian terhadap sifat manusia yang cenderung senang terhadap akumulasi kekayaan. (Abudin Nata, 1999)
Di Indonesia saat ini dengan penduduknya berjumlah 252 juta dan mayoritas penduduknya muslim hendaknya masyarakatnya merasakan kesejahteraan. Namun hal ini terbalik terhadap apa yang dikeluarkan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat pada Maret 2014 jumlah penduduk
Page 5 of 18
miskin sebesar 28 Juta Jiwa atau 11,25% dari total jumlah penduduk. Maka untuk mengatasi semua itu fungsi zakat dalam mengentaskan kemiskinan sangat diperlukan. Menurut data BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) pada tahun 2014 potensi zakat mencapai Rp. 270 triliun dan realisasinya sebesar 2,5 triliun. (Hafidhuddin, 2014) menyatakan bahwa besarnya potensi zakat tersebut apabila dikelola dengan baik maka dapat mensejahterakan masyarakat miskin,
Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Purwakarta merupakan salah satu Lembaga Pengelola Zakat yang dibentuk untuk mengelola dan mendistribusikan zakat produktif di wilayah Kabupaten Purwakarta. Dalam menjalankan tugasnya BAZNAS Purwakarta memiliki visi dan misi yang sangat mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. BAZNAS Purwakarta memiliki beberapa program yang tentunya telah disesuaikan dengan kondisi yang ada di kabupaten Purwakarta, seperti Purwakarta Sejahtera Istimewa, Purwakarta Cerdas Istimewa, Purwakarta sehat istimewa, Purwakarta Dangiang Iman, Purwakarta Sauyunan, GASIBU (Gerakan Infak Seribu).
Sejatinya BAZNAS Purwakarta selalu memberikan upaya untuk mengembangkan usaha-usaha masyarakat kaum ekonomi kurang mampu, agar zakat usaha produktif mampu mendidik mustahik sehingga benar-benar siap untuk berubah. Diharapkan dengan adanya zakat menjadi pengentas kemiskinan secara keseluruhan, maka idealnya zakat dapat menjadi sumber dana umat. Karena Sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 23 Tahun 2011, BAZNAS Kabupaten Purwakarta memiliki visi dan misi meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan dalam pengelolaan zakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka penanggulangan kemiskinan.
Tujuan zakat tidak hanya sekedar menyantuni orang miskin secara konsumtif, tetapi juga memiliki tujuan permanen yaitu mengentaskan kemiskinan dan dapat mengangkat derajat fakir miskin dengan membantu keluar dari kesulitan hidup. Pada awalnya pendistribusian ZIS hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi saja, tetapi sekarang sudah mulai berkembang yaitu dengan tujuan lebih produktif dengan menjadikan seseorang yang tadinya adalah mustahik nantinya akan dapat menjadi seorang muzakki.(Shinta & Achma, 2014 : 2)
Pengelolaan zakat yang termuat dalam UU No. 23 Tahun 2011 diatur dengan dua model. Pertama, zakat harus dikelola oleh lembaga bentukan pemerintah. Kedua, zakat dikelola lembaga yang dibentuk oleh masyarakat. Pada model pertama, pemerintah memiliki wewenang untuk mengatur berbagai ketentuan dan ketetapan mengenai pengelolaan zakat. Namun
pada pelaksanaannya lebih memposisikan dirinya hanya sebagai fasilitator dan regulator dalam rangka memastikan bahwa pengelolaan zakat dilakukan dengan baik dan diperuntukkan demi semata- mata kemaslahatan umat, sedangkan pada model kedua, masyarakat memiliki wewenang besar dalam mengelola seluruh dana zakat yang terkumpul. Akan tetapi, mereka diharuskan berkoordinasi, melaporkan, dan siap dibina oleh pemerintah. (Hilmi Ridho dan Abdul Wasik, 2018 : 10).
METODOLOGI
Pendekatan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yaitu melalui penelitian langsung ke lapangan dengan cara wawancara langsung di tempat penelitian. Deskriptif kualitatif mengacu pada identifikasi sifat- sifat yang membedakan atau karakteristik sekelompok manusia, benda, dan peristiwa. Pada dasarnya, deskriftif kualitatif melibatkan proses konseptualisasi dan menghasilkan pembentukan- pembentukan skema klasifikasi. Selain menggambarkan karakteristik dari suatu gejala atau masalah yang diteliti, kajian ini juga fokus pada pertanyaan dasar ‘bagaimana’ dengan berusaha mendapatkan dan menyampaikan fakta-fakta dengan jelas, teliti, dan lengkap tanpa banyak detail yang tidak penting. (Ulber Silalahi, 2010 : 27-28). Proses pengambilan kesimpulan dalam kajian ini didasarkan pada satu atau dua fakta dan bukti- bukti. Data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari buku-buku, jurnal, surat kabar, website, serta dokumen kebijakan yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Responden
Pada penelitian ini peneliti melakukan penelitian terhadap Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Purwakarta dan mustahik yang mendapat dana zakat ekonomi produktif. Sehingga peneliti mendapatkan data dari dua sudut pandang yang berbeda mengenai peran pendayagunaan zakat produktif terhadap pemberdayaan mustahik. Untuk itu peneliti meminta data mustahik yang mendapat dana zakat ekonomi produktif kepada BAZNAS Purwakarta untuk dilakukan wawancara.
Tabel 4.1 PROFIL RESPONDEN
NNO NAMA JENIS USAHA
Page 7 of 18
2 Budiman Warung jajanan
3 Unang Sahrial Warung jajanan kopi 4 Mimin Carmini Warung sembako 5 Asep Muhtar Warung jajanan
Sumber: Wawancara staff pendistribusian Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta (2018)
B. Pendayagunaan Zakat Produktif Pada Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta
1. Tahapan Pendayagunaan Zakat Produktif BAZNAS Purwakarta
Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta dalam melakukan pendayagunaan terhadap zakat ekonomi produktif salah satunya dengan program pemberian bantuan barang ataupun sembako yang dibutuhkan oleh warung produktif yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungannya. Sehingga diharapkan masyarakat memiliki kegiatan yang produktif guna memenuhi kebutuhannya sendiri dan terlebih dapat menolong kerabat atau tetangganya yang membutuhkan bantuan.
Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta dalam program operasionalnya memiliki tujuan mengangkat harkat dan martabat seorang mustahik dengan program pemberdayaan yang diberikan dan menjadi fasilitas bagi umat muslim yang ingin menunaikan ibadan zakat, infak, shodaqoh dan wakaf. Dana-dana zakat yang terkumpul dari para muzakki didayagunakan sebaik mungkin untuk membantu para mustahik melalui program Purwakarta sejahtera khususnya bantuan dana zakat ekonomi produktif untuk mendirikan suatu usaha tertentu yang dibutuhkan oleh para mustahik produktif yang bertujuan dapat mengangkat perekonomian masyarakat yang tidak hanya untuk jangka waktu pendek, akan tetapi untuk jangka waktu panjang yang pada awalnya belum bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pendayagunaan dana zakat produktif diusahakan menjadi sesuatu yang produktif utamanya dengan program-program pemberdayaan. Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta mengartikan pendayagunaan yaitu guna membantu mustahik agar dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dengan modal sembako atau barang dagangan lainnya untuk dikembangkan oleh mustahik
dengan harapan ada perubahan setelah diberi bantuan dana zakat produktif yang mana secara maksimal penghasilan tersebut cukup untuk kebutuhan pribadinya sehingga dapat di estafetkan kepada orang lain misalnya membantu tetangga, instansi dan pemerintah. Akan tetapi itu semua dikembalikan kepada masing-masing mustahik apakah bisa menjadikan usahanya berkembang atau tidak (Umar,2018).
Pendayagunaan zakat melalui program-program konsumtif hanya berlaku dalam jangka pendek, sedangkan pemberdayaan dalam program zakat produktif ini harus diutamakan, dengan tujuan pemberdayaan mitra supaya mustahik tidak selamanya bergantung pada amil zakat. Dalam hal ini Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta memberikan program berjangka panjang yang diserahkan kepada mustahik produktif untuk dikelola secara baik supaya dapat berkembang. Selain itu dengan adanya program pendampingan dalam waktu yang ditentukan oleh pihak BAZNAS tujuannya sehingga tidak selamanya dapat didampingi sehingga menimbulkan kemandirian tanpa harus bergantung pada Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta.
Adapun tahapan BAZNAS Purwakarta dalam memberikan program dana zakat produktif yaitu sebagai berikut:
a. Inisiasi dari masyarakat
Pada tahapan ini masyarakat mengirimkan langsung proposal baik usaha yang sudah ada maupun belum kepada BAZNAS Purwakarata, kemudian setelah diperiksa oleh bidang pendistrbusian dan disetujui oleh ketua BAZNAS, maka dilakukan survei lapangan untuk menentukan layak dan tidaknya mustahik tersebut mendapatkan dana zakat ekonomi produktif.
b. Inisiasi dari Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta
Pada tahapan ini BAZNAS Purwakarta bekerjasama dengan aparat daerah tiap Kecamatan dan Desa untuk mencari penerima manfaat penawaran bantuan dana zakat ekonomi produktif yang sanggup mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan oleh BAZNAS Purwakarta. Kriteria penerima yang berhak menerima dana zakat ekonomi produktif diantaranya sebagai berikut:
a. Termasuk dalam penerima dana zakat (asnaf)
Penerima manfaat dari program dana zakat produktif ini adalah 8 asnaf. Akan tetapi BAZNAS Purwakarta melakukan program
Page 9 of 18
tersebut hanya kepada fakir, miskin dan muallaf. Karena ketiga asnaf tersebut selalu memerlukan bantuan secara kesinambungan, maka dengan cara produktif diharapkan mereka dapat memenuhi kebutuhan pokok setiap harinya.
b. Keberlanjutan usaha
Merupakan keseriusan calon penerima manfaat dana zakat produktif. Apakah mustahik tersebut akan menjalankan usaha atas dasar coba-coba atau memang benar-benar akan ditekuni. Karena tentu akan berbeda antara yang coba-coba dengan yang sungguh-sungguh membangun usaha sebagai profesi dan sumber pendapatannya.
c. Dampak kepada masyarakat
Adalah tentang seberapa besar efek yang dirasakan oleh masyarakat dari usaha yang dijalankan. Jadi seberapa luas orang-orang di sekitar yang terlibat dalam usaha itu baik secara langsung maupun tidak langsung.
2. Program Pendayagunaan Zakat Produktif
Program pendayagunaaan zakat produktif yang dilakukan oleh BAZNAS Purwakarta merupakan pendayagunaan yang bersifat tradisonal dan kreatif yang dipadukan dalam program pemberdayaan ekonomi. Dikatakan perpaduan karena dalam program tersebut BAZNAS Purwakarta memberikan bantuan kepada suatu lembaga atau yayasan yatim piatu yang membutuhkan bantuan setiap saat maka diberikan bantuan untuk kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang seperti dana konsumtif setiap bulan dan sepasang kambing yang bisa digembala oleh anak-anak yatim piatu sehingga suatu saat ketika kambing menjadi banyak maka dapat dijual dan hasil penjualannya bisa digunakan untuk keperluan yayasan yatim piatu tersebut. Begitu pula bagi remaja usia produktif yang ingin membuka usaha budidaya jamur secara berkelompok maka diberi bantuan berupa bibit dan peralatan untuk produksi budidaya jamur tersebut, dan adapula masyarakat yang ingin membuka usaha laundry, maka BAZNAS Purwakarta memberikan 1 unit mesin cuci sebagai modal untuk usahanya.
Pemberian pinjaman modal produktif kepada mustahik bervariasi tergantung jenis usaha yang dimiliki oleh mustahik. (Rachmat Hidajat, 2017 : 78). Program ekonomi produktif ini memiliki tujuan untuk memutus lingkaran kemiskinan di Indonesia khususnya di Kabupaten Purwakarta. BAZNAS Purwakarta merangkul
masyarakat di seluruh daerah dengan berbagai program pemberdayaan agar terciptanya enterpreneur dan lapangan kerja baru supaya dapat mengurangi angka pengangguran.
3. Pendampingan Program Zakat Bantuan Ekonomi Produktif
Pendampingan yang dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta dalam program bantuan dana zakat ekonomi produktif, yakni: (Umar, 2018)
a. Fasilitator
Sebagai fasilitator dalam pendampingan program ekonomi produktif bertanggungjawab atas berjalannya program tersebut sesuai harapan Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta. Fasilitator melakukan monitoring setiap enam bulan terhadap perkembangan program yang diberikan.
b. Pembinaan
Badan Amil Zakat melakukan pembinaan terhadap penerima dana zakat ekonomi produktif, ini dilakukan agar para penerima zakat ekonomi tersebut memiliki wawasan yang luas mengenai cara-cara berwirausaha, dengan demikian diharapkan mereka mampu untuk mengembangkan usahanya.
c. Hibah Aset
Penerimaan bantuan zakat produktif juga bisa berupa barang untuk menunjang suatu usahanya, misalnya mesin cuci untuk usaha loundry, dimana aset ini tidak dapat diperjualbelikan karena sifatnya hibah atau dapat pula aset hibah berupa bibit tanaman sebagai sumber bahan pokok di daerah tersebut. d. Hibah Modal
Modal yang diberikan oleh Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta tidak berupa uang tunai, akan tetapi berupa barang dagangan seperti sembako, jajanan anak-anak yang disesuaikan dengan kebutuhan mustahik ingin membuka usaha seperti apa dan dimana tempatnya, maka BAZNAS memberikan barang- barang yang jelas akan dijual oleh mustahik produktif tersebut.
4. Persyaratan Penerimaan Bantuan Program Zakat Ekonomi Produktif
Pemberian pinjaman modal kepada mustahik bervariasi tergantung jenis usaha yang dimiliki oleh mustahik dan kelancaran
Page 11 of 18
pengembalian dana yang telaj dipinjam. Keuantungan yang diperoleh oleh usaha mustahikpun tergantung kemajuan jenis usaha yang dimiliki. (Riyadi, 2014)
Adapun persyaratan penerima dana zakat ekonomi produktif BAZNAS Purwakarta adalah sebaga berikut (Sudjana, 2018): a. Mereka yang berhak menerima dana zakat
Mereka adalah yang termasuk dalam 8 asnaf yang berhak menerima dana zakat sebagai syarat mutlak menurut syariat sehingga harus terpenuhi.
b. Sifatnya berkelompok ataupun individu
Program pemberdayaan yang dilakukan oleh BAZNAS Purwakata dapat berbentuk individu ataupun kelompok asalkan semuanya dapat menjaga kepercayaan dan dapat menjalankan usahanya dengan baik.
c. Produk bersifat marketable
Artinya ada pasar yang dapat menerima produk yang dihasilkan dari usaha yang ada di daerah tersebut.
C. Analisis Kelayakan Bisnis
Analisis kelayakan bisnis merupakan suatu proses yang menentukan apakah ide bisnis entrepreneur dapat dapat menjadi bisnis yang sukses. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah suatu ide bisnis layak direalisasikan. Dan semua mustahik tersebut layak melakukan suatu bisnis karena telah terpenuhi kebutuhan modal investasi dan modal kerja.
1. Aspek Pemasaran
Aspek pemasaran merupakan suatu kegiatan pokok yang perlu dilakukan oleh perusahaan barang atau jasa dalam upaya untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Pemasaran berusaha menciptakan dan mempertukarkan produk baik barang maupun jasa kepada konsumen di pasar. Berikut aspek pemasaran yang dilakukan oleh para mustahik zakat produktif BAZNAS Purwakarta sebagai berikut:
No Nama Produk yang dipasarkan Wilayah Pemasaran Segmen Pasar Harga Produk Sistem Promosi Permintaan Produk
1 Budiman Makanan olahan Pinggir jalan depan gang Warga Rp. 10.000 s/d Rp. 30.000 Menitipkan ke warung yang lain Selalu meningkat 2 Siti Aisyah Makanan jajanan anak-anak Teras rumah Anak- anak sekolah Rp. 500 s/d Rp. 10.000 Mengadakan jajanan kesukaan anak-anak Selalu meningkat 3 Unang Sahrial Kopi, minuman dan camilan Gerobak pinggir jalan Sopir angkot dan pejalan kaki Rp. 1000 s/d Rp. 15.000 Layanan antar kopi atau minuman lainnya, makanan dan rokok kepada sopir angkot Selalu meningkat 4 Asep Muhtar Jajanan dan mainan anak-anak Warung Gerobak pinggir sekolah Anak- anak sekolah Rp. 1000 s/d Rp. 10.000 Menyediakan makanan dan minumann kesukaan anak-anak Selalu meningkat 5 Mimin Carmini Sembako kebutuhan dapur rumah tangga Wilayah perumahan warga Ibu- ibu rumah tangga Rp. 5000 s/d 25.000 Memberikan hadiah berupa barang perkakas rumah tangga kepada ibu- ibu yang lebih sering belanja. Selalu meningkat
Sumber: Data Primer, 2018
Berdasarkan tabel diatas perkembangan usaha mustahiq tiap kelompok berbeda. Pada umumnya pendapatan ekonomi mereka mengalami peningkatan. Dana zakat produktif yang diberikan oleh BAZNAS Kab. Purwakarta diharapkan dapat meningkatkan produktifitas para mustahik, sehingga kedepannya mustahik tersebut bisa mandiri secara ekonomi.
2. Aspek Produksi
Aspek produksi yaitu menentukan produk yang akan dihasilkan atau dipasarkan berdasarkan kebutuhan yang ada, dan
Page 13 of 18
menentukan jumlah produk juga kualitas produk guna memenuhi kebutuhan konsumen. Dan aspek produksi yang dilakukan oleh para mustahik zakat produktif BAZNAS Purwakarta adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3 ASPEK PRODUKSI
No Nama Teknis Produksi Tenaga Kerja Kapasitas Produksi
Bahan baku dan bahan
pembantu
1 Budiman Mengolah dengan tangan sendiri dan alat sederhana Ada 5-30 bungkus Tepung terigu, sayur dan rempah-rempah 2 Siti Aisyah Belanja ke agen
atau pasar
Tidak ada Makanan instan dari pasar 3 Unang sahrial Belanja ke agen
atau pasar
Tidak ada Minuman dan camilan
4 Asep Muhtar Belanja ke agen atau pasar
Tidak ada Jajanan dan camilan anak-anak
5 Mimin Carmini Belanja ke agen atau pasar
Tidak ada Sembako dapur
3. Aspek Keuangan
Keuangan merupakan fungsi bisnis yang sangat penting, Karena keuangan menjadi faktor yang sangat penting untuk menentukan anggaran, investasi dan besarnya usaha yang akan dibuat. Aspek keuangan adalah factor yang menentukan biaya yang dikeluarkan serta dihasilkan untuk membuat usaha yang lebih optimal. Aspek keuangan yang dilakukan oleh para mustahik zakat produktif BAZNAS Purwakarta adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4 ASPEK KEUANGAN
No Nama Tempat Usaha Peralatan Produksi Biaya Bahan Baku Biaya Bahan Pembantu Biaya Tenaga Kerja 1 Budiman Pedagang kaki lima Warung Gerobak Rp. 1.000.000 Rp 1.200.000 Rp. 400.000
2 Siti Aisyah Tempat
sendiri Beras Rumah Rp. 1.100.000 Rp. 500.000 -
Sahrial kaki lima gerobak 4 Asep Muhtar Pedagang kaki lima Warung gerobak Rp. 1.000.000 Rp. 500.000 - 5 Mimin Carmini Tempat sendiri Teras Rumah Rp. 1.000.000 - -
Tabel 4.5 PERHITUNGAN LABA/RUGI
No Nama Hasil Penjualan Biaya Produksi Laba Rugi
1 Budiman 1.700.000 1.000.000 700.000 -
2 Siti Aisyah 1.600.000 1.100.000 500.000 - 3 Unang Sahrial 2.000.000 1.000.000 1.000.000 - 4 Asep Muhtar 1.500.000 1.000.000 500.000 - 5 Mimin Carmini 1.600.000 1.000.000 600.000 -
D. Peran Pendayagunaan Zakat Produktif Terhadap Pemberdayaan Mustahik Pada Warung Produktif Kecamatan Purwakarta
Terdapat peran yang dapat dilihat berdasarkan indikator yang terdiri dari tiga macam yaitu, peningkatan bisnis, pelaksanaan etika bisnis islam, dan kemampuan membayar ZIS. Peran para mustahik yang mendapatkan bantuan dana zakat ekonomi produktif dari tahun 2016-2018 berdasarkan hasil wawancara meliputi:
Tabel 4.6 PERAN PENDAYAGUNAAN ZAKAT PRODUKTIF TERHADAP PEMBERDAYAAN MUSTAHIK PADA WARUNG PRODUKTIF KECAMATAN PURWAKARTA
No Nama Jenis Usaha Dampak
1 Budiman Camilan dan warung gerobak
Mustahik sebelum bantuan zakat ekonomi produktif diberikan,merupakan pembuat camilan dari bahan baku yang mudah didapat seperti singkong lalu dititipkan di warung-warung, dan akhirnya setelah mendapat bantuan gerobak warung dari BAZNAS Purwakarta, maka mustahik dapat menjajakan hasil pembuatan camilannya di warung gerobak yang terletak di pinggir jalan. Dari hasil penjualan camilan dapat keuntungan lebih meningkat dibanding dengan sebelumnya. Pendapatan yang diperolehnya merasa sudah dapat mensejahterakan
Page 15 of 18 ekonomi keluarganya. dan penghasilan yang diperolehpun sudah dapat di infakkan (Budiman, 2018).
2 Siti Aisyah Warung jajanan
Mustahik sebelum mendapatkan bantuan dana zakat produktif merupakan ibu rumah tangga yang belum mempunyai pekerjaan sampingan untuk membantu suaminya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif maka mustahik membuka warung jajanan di depan rumahnya dengan sasaran anak-anak kecil yang suka melewati rumahnya ketika pulang sekolah. Sehingga mustahik mempunyai penghasilan tambahan dan sudah bisa berinfak (Aisyah, 2018). 3 Unang
Sahrial
Warung jajanan
Mustahik sebelum mendapatkan bantuan dana zakat ekonomi produktif merupakan pekerja serabutan yang apabila ada yang mengajak bekerja maka mustahik mempunyai penghasilan berupa upah dari hasil pekerjaannya tersebut, apabila tidak maka mustahik kesulitan mencari nafkah untuk keluarganya. Setelah mendapatkan bantuan dana zakat ekonomi produktif, maka mustahik membuka warung gerobak dipinggir jalan sebagai pekerjaan tetapnya untuk mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan keluarganya (Unang, 2018).
4 Mimin Carmini
Warung sembako
Mustahik sebelum mendapatkan bantuan dana zakat ekonomi produktif merupakan seorang ibu rumah tangga, akan tetapi kebutuhan yang semakin bertambah untuk biaya sekolah anaknya, maka setelah mendapatkan bantuan dana zakat produktif mustahik membuka warung sembako untuk menambah pemenuhan kebutuhan biaya sekolah anaknya (Mimin, 2018).
5 Asep Muhtar
Warung jajanan
Mustahik sebelum mendapat bantuan dana zakat ekonomi produktif merupakan pekerja serabutan atau tidak mempunyai pekerjaan tetap sebagai sumber kehidupannya, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah mendapat bantuan dana zakat produktif maka mustahik membuka warung jajanan yang dijajakan dekat dengan sekolah sehingga sasaran pemasarannya merupakan
anak-anak sekolah (Asep, 2018)
Sumber : Hasil Wawancara dengan mustahik penerima bantuan modal produktif, 2018
Tabel 4.7 PERAN PELAKSANAAN ETIKA BISNIS
No Nama Sebelum Sesudah
1 Budiman Telah melaksanakan etika bisnis dengan menjual barang halal
Telah melaksanakan etika bisnis dengan menjual barang halal
2 Siti Aisyah Belum melaksanakan etika bisnis
Telah melaksanakan etika bisnis dengan menjual barang halal
3 Unang Sahrial Belum melaksanakan etika bisnis
Telah melaksanakan etika bisnis dengan menjual barang halal
4 Mimin Carmini Belum melaksanakan etika bisnis
Telah melaksanakan etika bisnis dengan menjual barang halal
5 Asep Muhtar Belum melaksanakan etika bisnis
Telah melaksanakan etika bisnis dengan menjual barang halal
Tabel 4.8 PERAN PEMBAYARAN ZIS
No Nama Sebelum Sesudah
1 Budiman Infak Zakat
2 Siti Aisyah Infaq Infakdan shodaqoh 3 Unang Sahrial Belum bisa Infakdan shodaqoh 4 Mimin Carmini Infak Infakdan shodaqoh 5 Asep Muhtar Belum bisa Infak
Pemberdayaan ekonomi umat merupakan suatu aktivitas yang memiliki tujuan dalam mengangkat perekonomian masyarakat baik secara langsung memberikan modal usaha maupun secara tidak langsung melalui pelatihan keterampilan, pendampingan dan lainnya.
Berdasarkan indikator pemberdayaan mustahik sebanyak 4 mustahik dari 5 responden mustahik yang berdaya dari peningkatan bisnis yang didapat pada tiap bulannya. Untuk mustahik yang tidak
Page 17 of 18
memiliki peningkatan usaha yaitu Asep Muhtar, namun memiliki peran pengetahuan dan keterampilan mengenai usaha yang mereka jalankan. Jika dilihat dari pelaksanaan etika bisnis dari 5 responden seluruhnya dapat melaksanakan etika bisnis sesuai syariat dengan menjual barang-barang yang halal.
Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta memiliki parameter pemberdayaan yaitu dari tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, mustahik menjadi muzakki. Indikator yang digunakan dalam penlitian ini sudah sesuai dengan yang ditentukan oleh Badan Amil Zakat Nasional Purwakarta. Di mana yang tidak bisa menjadi bisa sehingga dapat menghasilkan pendapatan dari usaha tersebut. Mustahik menjadi muzakki yang yang dibuktikan dengan kemampuan mustahik dalam membayar ZIS yang sekurang-kurangnya dapat membayar infaq. Juga mustahik memahami pentingnya lembaga penghimpunan zakat maka setidaknya mustahik menunaikan zakat fitrah kepada amil zakat yang telah disediakan oleh Badan Amil Zakat Nasional Purrwakarta di berbagai Kecamatan dan Desa yaitu UPZ (Unit Pengelola Zakat).
KESIMPULAN
Metode Pendistribusian Program zakat ekonomi produktif yang dilakukan oleh BAZNAS Purwakarta merupakan pendayagunaan yang bersifat tradisonal dan kreatif yang dipadukan dalam program pemberdayaan ekonomi. Mustahik diberi modal berupa barang untuk modal usaha sesuai yang dibutuhkan juga disesuaikan dengan keadaan lingkungan sekitarnya.
BAZNAS memberdayakan mustahik dengan sunguh-sungguh supaya dapat mengelola usahanya agar berkembang atau tetap berjalan, akan tetapi tergantung pada kesungguhan dan keinginan mustahik untuk merubah kehidupan ekonominya menjadi lebih baik dan mandiri. Dengan demikian apabila perekonomian meningkat, maka mustahik dapat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan mampu membayar ZIS walaupun belum konsisten dari segi nominal dan waktu.
Pendayagunaan zakat ekonomi produktif berperan terhadap pemberdayaan mustahik. Dengan bantuan dana zakat ekonomi
produktif, mustahik dapat berwirausaha, sehingga dengan demikian hal tersebut dapat mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran.
DAFTAR PUSTAKA
Hafidhuddin, Didin (2008). Zakat Dalam Perekonomian Modern. Jakarta : Gema Insani.
Taufiqulloh (2004). Zakat Pemberdayaan Ekonomi Umat. Bandung : Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Jawa Barat.
Thoriquddin, Moh (2015). Pengelolaan Zakat Produktif Perspektif Maqasid Al- Syari’ah Ibnu’ Asyur. Malang : UIN Maliki Press. Ridho, Hilmi & Wasik, Abdul (2018). Zakat Produktif Konstruksi
Zakatnomics Perspektif Teoretis Historis, dan Yuridis. Malang : Literasi Nusantara.
Pratama, Yogi Citra . Peran Zakat Dalam Penanggulangan Kemiskinan (Studi Kasus : Program Zakat Produktif Pada Badan Amil Zakat Nasional). The Journal of Tauhidinomics Vol. I No. 1 (2015) : 93-104.
Hidajat, Rachmat. Penerapan Manajemen Zakat Produktif dalam Meningkatkan Ekonomi Umat di PKPU (Pos Keadilan Peduli Umat) Kota Makassar. Millah : Jurnal Studi Agama Vol. XVII, no. 1 (2017), pp. 63-84.
Syaiful dan Suwarno. Kajian Pendayagunaan Zakat Produktif Sebagai Alat Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Mustahiq) Pada LAZISMU PDM di Kabupaten Gresik. BENEFIT Jurnal Managemen dan Bisnis Vol 19, No 2, Desember 2015: 150- 160.
Riyadi, Agus. Manajemen Pengelolaan Zakat Produktif dalam Persfektif Bank Islam. Iqstishadia Jurnal Kajian Ekonomi dan Bisnis Islam Vol 7, No. 2 (2014).
Dwi Wulansari, Shinta & Hendra Setiawan, Achma. Analisis Peranan Dana Zakat Produktif Terhadap Pengembangan Usaha Mikro Mustahik (Penerima Zakat). Dipenogoro Journal Of Economics Vol 3, No. 1, 2014 : 1-15.