• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Foto berita tak lebih dari foto biasa, yaitu foto yang mendokumentasikan suatu peristiwa atau kejadian. Dapat dikatakan bahwa foto berita atau foto jurnalistik adalah suatu medium sajian untuk menyampaikan beragam bukti visual atas suatu peristiwa pada masyarakat seluas-luasnya.

Secara umum dari 35 edisi surat kabar Republika dengan total 1149 foto berita, rata-rata tampilan foto berita setiap edisi sebanyak 32.34 foto berita. Ini berarti setiap edisi menampilkan kurang lebih 32 atau 33 foto berita, dengan sebagian besar penempatan foto berada di bagian dalam surat kabar Republika. Sedangkan total volume dari 35 edisi sebesar 15439901 mmk (milimeter kolom) dengan rata-rata volume foto berita sebesar 441140 mmk setiap edisi.

Foto berita yang dimuat dalam surat kabar Republika adalah foto kejadian langsung, foto benda dan situasi, gambaran profil kehidupan atau foto yang berkaitan dengan tokoh dan atau suatu peristiwa. Tampilan foto-foto berita ini diupayakan menggambarkan isi atau informasi berita yang disajikan dalam surat kabar Republika, sehingga pembaca lebih cepat tahu akan berita yang disajikan dalam surat kabar Republika.

Menurut keterangan redaktur foto surat kabar Republika, sajian foto-foto berita terutama pada halaman muka menjadi hal yang sangat penting selain judul berita untuk dapat ”mengajak” atau menarik perhatian pembaca mengkonsumsi sajian surat kabar. Bahkan di tiap-tiap halamannya terdapat tampilan foto dalam ukuran mini yang bertujuan ”menginformasikan dan mengiklankan” apa yang ada di halaman berikutnya. Diterangkan lagi bahwa pemilahan foto berita merupakan salah satu bentuk kerja keras redaksi terutama redaktur foto sebagai penanggungjawab tampilan foto yang dimuat. Sedangkan untuk halaman muka Republika, pemilahan foto melalui pemikiran yang lebih sulit dan proses yang lebih rumit karena juga melibatkan keputusan dari beberapa staf redaksi pada tiap-tiap edisinya. Ditekankan juga oleh pihak redaksi bahwa sajian informasi dan foto berita dalam surat kabar Republika ditujukan untuk dapat dikonsumsi oleh keluarga sehingga pihak redaksi tidak akan mengangkat gambar/foto yang bertemakan kekerasan berlebihan, sadisme dan sensualitas. Hal ini juga

(2)

dilatarbelakangi oleh nuansa agama Islam yang melekat pada surat kabar Republika. Kebijakan redaksi lebih mengutamakan sajian foto yang bersifat menghibur, ”jenaka” dalam hal ini dimaksudkan meski serius, penting namun tampak santai serta tetap intelek, mudah dicerna, dan atau bernilai informatif.

Proporsi Frekuensi dan Volume Foto Berita

Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi dan volume masing-masing kategori foto berita surat kabar Republika adalah (1) berita keras, (2) berita lunak, (3) sumber foto, (4) lingkup foto dan (5) penempatan foto. Perolehan masing-masing kategori frekuensi dan volume ada yang lebih dominan dan bahkan sebaliknya, hal ini akan dipaparkan dalam pembahasan berikut ini.

Proporsi Foto Berita Keras dan Foto Berita Lunak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori foto berita lunak menempati frekuensi dan volume tertinggi dibandingkan foto berita keras. Hasil tersebut disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Frekuensi dan Volume Foto Berita Keras dan Berita Lunak Surat Kabar Republika Tahun 2004

No Jenis Berita F Mean % R Volume % R

1. Berita Keras 385 10.51 33.5 2 155460.0857 35.3 2 2. Berita Lunak 764 21.83 66.5 1 285679.942 64.7 1 Jumlah 1149 32.34 100 441140 100 Keterangan: F= Frekuensi R= Rangking

Volume dalam milimeter kolom (mmk)

Tabel 2 menunjukkan bahwa frekuensi kategori berita lunak lebih dominan, yaitu dari 35 edisi sebanyak 764 kali dengan nilai rata-rata sebesar 21.83 (66.5%). Secara umum bahwa setiap edisi terdapat sekitar 21 atau 22 foto berita lunak. Sedangkan untuk foto berita keras rata-rata setiap edisi hanya sejumlah 10 atau 11 buah foto yang disajikan. Data ini menunjukkan bahwa frekuensi foto berita lunak lebih sering muncul dibanding frekuensi foto berita keras. Hal ini didukung

(3)

dengan data perbandingan antara urutan pertama (66.5 %) dengan urutan kedua (33.5 %) yang memiliki selisih 33 persen.

Jika dilihat dari hasil volume maka diketahui kategori foto berita lunak memiliki volume yang terbanyak memenuhi halaman surat kabar. Hal ini menunjukkan bahwa volume foto berita lunak memiliki porsi paling dominan dalam surat kabar Republika sebesar 64.7 persen dengan selisih sebesar 29.4 persen. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa adanya tingkat proporsi yang seimbang dimana semakin banyak frekuensi sajian foto berita maka akan diimbangi dengan jumlah volume dalam surat kabar harian Republika.

Dominasi foto berita lunak pada sajian surat kabar Republika tahun 2004 ini sangat berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya pada tahun 1982 mengenai foto berita yang dilakukan pada surat kabar Kompas, Merdeka, Sinar Harapan, Suara Karya yang menghasilkan data bahwa proporsi foto berita keras mendominasi sajian media tersebut dibandingkan proporsi foto berita lunak. Dengan demikian ada perubahan dalam tatanan kebijakan redaksi surat kabar yang diterapkan saat itu dan saat ini. Sisi idealisme pada sajian pers mulai dikurangi mengingat tingginya persaingan dalam kehidupan pers. Terutama semenjak krisis moneter sekitar tahun 1998, banyak media massa gulung tikar atau ganti manajemen. Dengan demikian berlaku hukum dimana pers harus kreatif dan pintar menggali sumber penghidupannya masing-masing yang hanya dapat dicapai lewat para pemasang iklan. Pers cetak seperti surat kabar tidak bisa hanya mengharapkan pemasukan dari penjualan oplah cetak surat kabar. Tingginya oplah cetak surat kabar belum tentu menjadikan media tersebut memiliki pemasukan yang besar dari penjualan produknya. Namun kuota terhadap banyaknya oplah cetak ini itu tetap harus dicapai mengingat gengsi dan perilaku pengusaha pemasang iklan yang tidak akan melirik media dengan oplah sedikit.

Dengan makin bertambahnya jumlah media ini menimbulkan surat kabar harus lebih banyak mensiasati tampilan dan sajiannya agar tidak ditinggalkan oleh konsumen menurut pihak redaksi Republika. Perubahan proporsi foto berita tersebut termasuk salah satu kiat yang digunakan Republika untuk tetap tampil menarik dengan kesan intelek yang tidak dilupakan. Meskipun demikian, dapat

(4)

disimpulkan bahwa situasi sekarang ini menyebabkan sisi komersial mau tidak mau harus banyak digali dan disikapi secara kreatif oleh pengusaha penerbitan pers dengan mensiasati sajian tersebut agar lebih berkesan informatif dan intelek. Dengan demikian dimaksudkan sajian atau produk mereka secara keseluruhan tidak berkesan terlalu komersial dengan banyaknya advertorial misalnya.

Pihak redaksi Republika menerangkan bahwa tampilan yang terlalu serius dan terlalu didominasi berita keras akan menimbulkan kejenuhan bagi pembaca, antara lain hal ini dikarenakan sajian berita keras begitu mudah ditemui di hampir semua media, terutama surat kabar. Selain itu, kehidupan yang terkesan “keras” dijalani masyarakat umum telah membuat konsumen ingin mencari pelampiasan yang lebih menghibur, berkesan santai namun berisi informasi yang diperlukan mereka. Dengan demikian sajian foto-foto berita lunak menjadi pilihan redaksi untuk mendominasi isi media cetak surat kabar. Selain itu, tampilan kolom atau halaman yang bersifat menghibur ini juga dapat dijadikan oleh pihak media untuk menarik para pengusaha antara lain menjadi salah satu pendorong kreatifitas pengusaha untuk terus bersaing dengan pengusaha lainnya agar produk mereka dapat menjadi unggulan sehingga pada akhirnya diberitakan oleh media atau menjadi sorotan media.

Uraian di atas menyiratkan bahwa Republika di tengah “riuhnya” berbagai media massa mau tidak mau telah mengurangi sisi idealisme pers dengan menyediakan halaman yang cukup banyak untuk sajian yang mengarah pada sisi komersial. Dalam hal ini anggapan Nurudin (2003) bahwa media massa selalu mengarahkan pada kita apa yang harus kita lakukan harus dicermati. Ditambah lagi dikatakan bahwa asumsinya adalah media punya kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. Dengan demikian tampilnya produk atau usaha para pengusaha tersebut di sajian media dapat menjadi salah satu sarana promosi mereka. Meskipun dalam hal ini redaksi juga mengharapkan timbulnya persaingan di kalangan pengusaha untuk menonjolkan dan membuat produk yang lebih baik atau baru bagi masyarakat. Namun demikian, sisi komersial disini tampak cukup menonjol dengan porsi sajian yang cukup banyak. Hal ini didukung harapan agar pengusaha menjadi lebih tertarik pada Republika karena sajiannya yang variatif

(5)

dengan adanya kolom atau halaman khusus yang memungkinkan bagi produk atau usahanya diberitakan secara cepat dan tersebar luas.

Lebih besarnya frekuensi dan volume berita lunak di halaman surat kabar Republika tahun 2004 ini antara lain disebabkan saat itu banyak peristiwa hangat yang memiliki sisi human interest menonjol yang menarik untuk disajikan. Republika bukanlah surat kabar yang hanya menjual sensasi saja dengan sajian foto-foto berita yang dapat menimbulkan keresahan atau polemik di masyarakat. Sajian foto Republika lebih bersifat umum ditujukan dapat dikonsumsi keluarga sehingga bukan merupakan foto “panas” dan sensasi. Foto-foto yang informatif dan menghibur yang menjadi bagian dari kategori foto berita lunak banyak ditampilkan karena dari keterangan pihak redaksi jenis foto tersebut dapat menjadi pilihan yang positif untuk mengurangi kejenuhan masyarakat. Selain itu Republika juga banyak memiliki kolom-kolom informasi/artikel yang sifatnya hiburan keluarga sehingga foto-foto yang mendukungnya pun diarahkan bernuansa hiburan atau foto feature pula.

Sajian foto peristiwa umum juga banyak ditampilkan karena saat itu pun hasil perkembangan dunia usaha cukup banyak dengan ditampilkannya gambar hasil pameran, alat modern dan berbagai hasil kerajinan kecil. Dengan begitu foto yang disajikan lebih untuk konsumsi umum karena menggambarkan kegiatan juga hasil perkembangan teknologi, masyarakat dan pembangunan. Foto-foto berita tersebut berupa gambar yang sedikit banyak memiliki nilai informasi bagi individu secara umum, usaha-usaha kecil atau masyarakat daerah.

Beragam sajian Republika di atas meski mengandung sisi komersial namun pada dasarnya melalui isi produknya pihak redaksi juga bertujuan untuk menjalankan misi pers. Namun dalam penerapannya sekarang ini, untuk mempertahankan sisi ideal pers pada sajiannya agar ditampilkan dalam porsi besar sangatlah sulit. Banyak kendala dialami media pers seperti Republika dalam merangkul kepentingan masyarakat dan dalam bertindak sesuai gagasan mengenai jurnalisme pembangunan. Sebagai contoh, untuk mengemas sajian pembangunan masyarakat pedesaan atau nelayan secara berkesinambungan jika tidak disiasati secara kreatif tentu dapat menjadi sajian yang membosankan. Umumnya tema pertanian dan perikanan hanya ditampilkan jika terjadi bencana atau masalah

(6)

pangan saja. Dengan demikian informasi tersebut baru disajikan jika mengancam atau bersinggungan dengan kepentingan masyarakat umum berkaitan dengan kebutuhan pangan mereka saja. Idealnya sebuah surat kabar juga mengulas atau menginformasikan hal-hal yang dibutuhkan untuk pengembangan serta pembangunan masyarakat pertanian dan perikanan mengingat mereka masih menjadi tulang punggung negara dalam pemenuhan pangan.

Kondisi di atas sulit terpenuhi secara ideal mengingat segmen pembaca Republika banyak tinggal di perkotaan. Dengan demikian informasi yang disajikan selama ini sebagian besar hanya terasa bermanfaat bagi konsumen pengguna pangan, bukan bermanfaat bagi produsennya yang dalam hal ini para petani dan nelayan. Selain itu minimnya sajian pembangunan pertanian atau perikanan juga disebabkan adanya berbagai peristiwa lain yang cukup menjadi sorotan utama, yaitu seperti proses Pemilu tahun 2004. Dengan demikian nuansa atau tema politik terasa cukup kental mewarnai sajian Republika saat itu.

Menurut Atmadi (1986) pers Indonesia merupakan pers pembangunan, maka sudah logis kalau masyarakat mengharapkan bentuk dan isi pers Indonesia mencerminkan pembangunan. Sejalan dengan hal itu ditulis Kusumaningrat (2005), bahwa gagasan utama tentang jurnalisme pembangunan secara ringkas adalah bahwa “pemberitaan mengenai peristiwa-peristiwa nasional maupun

internasional haruslah memberikan kontribusi yang positif kepada negeri yang bersangkutan”. Kedua anggapan tersebut banyak diterapkan di dalam

negara-negara berkembang untuk membendung model jurnalisme Barat yang dianggap berperspektif individualistik. Namun demikian kedua anggapan di atas juga merupakan salah satu sisi ideal pers yang sulit untuk diterapkan mengingat persaingan yang keras dalam dunia pers membuat pers itu sendiri, terutama surat kabar menghadapi dilema yang cukup berat. Sisi ideal ini sesungguhnya ingin dicapai redaksi melalui sajian Republika. Namun pada prakteknya penerapan sisi tersebut cukup sulit mengingat pembaca dapat menjadi jenuh dengan isi media yang dianggap menambah beban pikiran mereka. Pada umumnya pembaca tidak hanya sekedar menginginkan informasi tetapi juga pelampiasan rasa lelah mereka terhadap kehidupan yang dijalani.

(7)

Berkaitan dengan uraian di atas hal lain yang dihadapi adalah kondisi masyarakat yang memiliki budaya baca rendah. Hal ini menjadi kendala lain dari sisi pemasukan untuk modal dan perputaran media sehari-harinya di masyarakat, agar bisa terus hidup. Keinginan atau budaya membaca yang rendah di kalangan masyarakat ini bahkan terjadi di lingkungan intelektual atau pendidikan seperti kampus dan sekolah. Hal ini berkaitan dengan anggapan Rachmadi (1990), bahwa pertumbuhan pers berhubungan erat dengan berbagai faktor, seperti: tingkat melek huruf, tingkat pendidikan, urbanisasi, dan pendapatan per kapita yang di negara-negara berkembang merupakan tantangan yang harus dihadapi. Kendala ini cukup mengganggu di lingkungan negara-negara berkembang seperti Indonesia yang masih banyak memiliki penduduk buta huruf. Selain itu rendahnya atau kurangnya budaya baca pada masyarakat menyebabkan pihak redaksi harus berpikir lebih keras untuk membuat sajiannya tampil menarik. Dengan demikian untuk tetap hidup atau survive maka surat kabar harus memiliki siasat kreatif terutama dalam hal komersial. Surat kabar senantiasa berusaha menjaring produsen yang ingin memasang iklan dan juga konsumen pembaca media untuk memenuhi perputaran modal perusahaan pers mereka. Selain itu hal ini masih harus diimbangi oleh sentuhan estetika dalam tampilan desain dan lay

out yang baik serta menarik pula.

Proporsi Foto Berita Keras

Terdapat empat kategori foto berita keras dalam sajian surat kabar Republika tahun 2004, yaitu: (1) pertahanan bersenjata dan diplomasi, (2) aktivitas dan masalah sosial politik, (3) bencana dan musibah, serta (4) lain-lain. Kemunculan kategori yang beragam pada jenis foto berita keras menunjukkan bahwa foto berita yang disajikan tidak hanya ditekankan dalam satu topik akan tetapi lebih bervariasi. Hal ini sesuai dengan sifat surat kabar Republika sebagai surat kabar harian yang ditujukan untuk memberikan informasi secara luas untuk konsumsi umum. Perolehan frekuensi dan volume setiap kategori foto berita keras dalam surat kabar Republika tahun 2004 disajikan dalam Tabel 3.

(8)

Tabel 3. Frekuensi dan Volume Foto Berita Keras Surat Kabar Republika

Tahun 2004

No Berita Keras F Mean % R Volume % R

1. Pertahanan Bersenjata & Diplomasi 17 0.4857 4.42 4 6395.0857 4.1 4 2. Aktivitas & Masalah Sospol 134 3.8286 34.81 2 62131.1714 39.9 2 3. Bencana & Musibah 43 1.2286 11.17 3 18473.0857 12 3 4. Lain-Lain 191 5.4571 49.6 1 68460.7429 44 1 Jumlah 385 11 100 155460.0857 100 Keterangan: F= Frekuensi R= Rangking

Volume dalam milimeter kolom (mmk)

Hasil penelitian pada tabel 3 menunjukkan dua jenis foto berita keras yang memiliki frekuensi dan volume tinggi, yaitu jenis foto berita lain-lain serta jenis foto aktivitas dan masalah sosial politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang memiliki frekuensi dan volume tertinggi adalah kategori foto berita keras lain-lain. Pemunculan foto berita keras lain-lain seperti tentang politik pemerintah, pertahanan tak bersenjata, ekonomi dan perbankan, pendidikan, agama, kesehatan dan kesejahteraan rakyat, gambar profil tokoh politik, negarawan, pemuka agama menempati peringkat pertama, yaitu dengan frekuensi sebanyak 191 kali dengan nilai rataan sebesar 5.4571 (sebanyak 49.6%). Dengan demikian dalam setiap edisi terdapat 5 atau 6 foto berita keras lain-lain yang disajikan.

Data di atas juga menunjukkan adanya selisih sebesar 14.79 persen antara foto berita keras lain-lain dengan foto berita keras aktivitas dan masalah sosial politik. Data tersebut juga berarti bahwa dalam setiap edisi terdapat sekitar lima foto berita keras dengan jenis foto berita lain-lain seperti foto berita berupa profil tokoh politik, negarawan, tokoh agama banyak muncul mengingat pada tahun 2004 lalu digelar Pemilu untuk memilih Presiden secara langsung. Dengan demikian profil tokoh-tokoh tersebut menjadi sorotan Republika selama hampir setahun. Tampilan foto-foto profil tersebut menurut redaksi Republika merupakan

(9)

salah satu pembelajaran bagi masyarakat yang mungkin belum mengenal tokoh politik atau agama yang sedang dibahas dalam berita tertulis yang disajikan.

Uraian di atas sesuai dengan anggapan Nasution (2000) bahwa media massa diketahui memiliki kekuatan mengendalikan pengetahuan khalayaknya melalui apa-apa yang disiarkan dan tidak disiarkannya. Karena itu dengan mengorganisir sedemikian rupa isi pesan yang disampaikan, media massa pada dasarnya dapat membantu masyarakat memusatkan perhatian pada masalah-masalah pembangunan. Termasuk ke dalamnya mengenai sikap-sikap baru yang diperlukan, dan keterampilan yang harus dimiliki untuk mengubah keadaan suatu bangsa yang sedang membangun. Hal ini tentu berkaitan dengan pembangunan bidang politik negara yang pada saat itu sedang melaksanakan pola baru dalam pemilihan kepala negara. Dengan dimuatnya berbagai peristiwa atau kebijakan yang dibuat Republika sebagai media massa sedikit banyak ikut berperan dalam hal sosialisasi pola baru tersebut dengan menjalankan misi pers, yaitu mencerdaskan masyarakat. Hal ini didukung anggapan Effendy (2000) bahwa komunikasi massa memiliki fungsi mendidik yang berarti berkaitan dengan proses penyampaian pesan informatif.

Selain itu nafas kegiatan agama Islam banyak terlihat pula pada sajian foto berita Republika yang memang sejak berdiri sedikit banyak memiliki latar belakang agama tersebut. Kegiatan bertemakan keagamaan seperti ibadah haji, umroh, pengajian agama atau kegiatan agama lain banyak diangkat melengkapi berita yang ditulis atau melengkapi artikel tersendiri. Bentuk sajian tersebut sesuai dengan landasan kelima pers nasional yaitu landasan sosiologis kultural, yang menurut Sumadiria (2005) berpijak pada pada tata nilai dan norma sosial budaya agama yang berlaku pada dan sekaligus dijunjung tinggi oleh masyarakat bangsa Indonesia. Ditegaskan bahwa pers kita adalah pers nasional yang sarat dimuati nilai serta tanggung jawab sosial. Dengan demikian selain dilatarbelakangi nafas agama yang ada dalam institusi persnya sejak pertama kali berdiri, Republika pada dasarnya telah menerapkan landasan kelima dari pers nasional.

Kategori foto berita keras dengan jenis aktivitas dan masalah sosial politik menempati peringkat kedua, yaitu sebanyak 134 kali dengan nilai rataan sebesar

(10)

3.8286 (34.81%). Berarti setiap edisi terdapat sekitar tiga sampai empat foto berita keras dengan jenis aktivitas dan masalah sosial politik. Foto yang menonjol disini antara lain foto berita tentang aktivitas kampanye yang dilakukan oleh partai politik menjelang pemilihan umum pada tanggal 5 Juli 2004. Selain itu dengan banyaknya pergolakan di masyarakat yang timbul sebagai salah satu akibat yang timbul di dalam proses kegiatan Pemilu, maka foto kegiatan demonstrasi yang terjadi pun cukup banyak mewarnai sajian Republika.

Sedangkan dilihat dari aspek volume foto berita, kategori foto berita keras yang paling banyak adalah jenis foto berita lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa volume jenis foto berita lain-lain memiliki proporsi yang lebih dominan dalam foto berita surat kabar Republika. Volume jenis berita lain-lain menempati peringkat pertama, yaitu 68460.7429 (44%) dan kategori foto berita keras dengan jenis foto berita aktivitas dan masalah sosial politik pada peringkat kedua, yaitu 62131.1714 (39.9%). Data ini menunjukkan bahwa, volume foto berita jenis lain-lain menempati halaman paling luas dibanding foto berita jenis aktivitas dan masalah sosial politik dalam penempatan foto berita keras di surat kabar Republika dengan selisih sebesar 4.1 persen.

Uraian diatas menunjukkan adanya kesesuaian proporsi antara frekuensi dan volume kategori foto berita keras surat kabar Republika. Ternyata pada frekuensi kategori foto berita keras yang tinggi senantiasa diikuti oleh volume kategori yang tinggi juga pada foto berita keras.

Proporsi Foto Berita Lunak

Terdapat tiga kategori foto berita lunak yang disajikan surat kabar Republika, yaitu (1) olah raga, (2) peristiwa umum, dan (3) human interest. Setiap kategori yang diamati memiliki frekuensi dan volume yang berbeda. Melihat pada hasil penelitian maka dapat diketahui jenis kategori foto berita lunak yang memiliki frekuensi dan volume tinggi yaitu kategori foto berita lunak peristiwa umum dan human interest. Perolehan frekuensi dan volume setiap kategori foto berita lunak pada surat kabar Republika tahun 2004 disajikan dalam Tabel 4.

(11)

Tabel 4. Frekuensi dan Volume Foto Berita Lunak Surat Kabar Republika

Tahun 2004

No Berita Lunak F Mean % R Volume % R

1. Olah Raga 143 4.086 18.72 3 48400.514 17 3 2. Peristiwa Umum 447 12.771 58.51 1 150455.257 52.7 1 3. Human Interest 174 4.971 22.77 2 86824.171 30.4 2 Jumlah 764 21.728 100 285679.942 100 Keterangan: F= Frekuensi R= Rangking

Volume dalam milimeter kolom (mmk)

Tabel 4 menunjukkan foto berita jenis peristiwa umum tertinggi dalam hal frekuensi dan volume dengan jenis foto berita yang terdiri dari gambar tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh yang tidak terlibat dalam kegiatan profesional politik, sosok artis, kegiatan dan barang-barang pameran juga gambar benda/barang diam/mati atau gambar arsitektural, serta mode pakaian atau fashion

show, gambar hadirin pada berbagai acara sosial dan kemasyarakatan yang rutin,

seperti acara pengumpulan dana, pesta amal, panggung gembira atau acara hiburan. Pada jenis foto human interest berupa kekhasan berita kecil tentang orang-perorangan, seperti profil penjual salak, tuna wisma, sosok anak-anak dan orang tua, biasanya dimaksudkan sebagai kepentingan yang tahan lebih lama daripada berita-beritanya sendiri, akan tetapi tidak harus diterbitkan pada tanggal-tanggal tertentu. Dalam hal ini termasuk juga gambar-gambar alam dan atau satwa, lokasi wisata, seni, tari-tarian, adat-istiadat yang ditampilkan, budaya yang dijalankan dan dilestarikan.

Pemunculan foto berita lunak tentang foto berita peristiwa umum, yaitu dengan frekuensi sebanyak 447 kali dengan nilai rataan sebesar 12.771 (sebanyak 58.51%). Hasil ini menunjukkan bahwa tampilan kategori foto berita lunak dengan jenis foto berita tentang peristiwa umum dalam setiap edisinya terdapat sekitar 12 atau 13 foto berita. Sajian foto peristiwa umum banyak ditampilkan karena saat itu perkembangan dunia usaha cukup banyak dengan ditampilkannya gambar hasil pameran, alat modern dan berbagai hasil kerajinan kecil. Sajian foto

(12)

Republika lebih bersifat umum antara lain karena bukan semata merupakan foto “panas” dan sensasi.

Banyaknya jumlah foto tersebut juga karena Republika memiliki kolom atau halaman tersendiri yang menyajikan berbagai produk-barang di pasaran seperti barang peralatan rumah tangga, produk teknologi baru, kerajinan, mobil dan otomotif, atau barang pameran lainnya. Telah diuraikan sebelumnya bahwa sajian ini digunakan Republika antara lain untuk memotivasi dunia usaha dan menarik minat mereka terhadap isi surat kabar berkaitan dengan sisi komersial untuk penghidupan surat kabar. Dalam kolom atau halaman tersebut disajikan beberapa gambar berupa foto benda-produk yang diinformasikan saat itu. Hal ini mengingat gambar berupa foto sangat menjadi perhatian pembaca dan dapat menjadi salah satu pendorong minat baca terhadap informasi yang ditulis. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa hal ini juga mengandung sisi komersial karena pemasukan dari pembelian produk pers juga membantu dalam menyokong kehidupan surat kabar. Dengan demikian sisi ideal pers menjadi berkurang karena cukup banyak dipenuhi sajian yang dalam hal ini foto berita yang mengandung unsur komersial.

Jenis foto berita lunak tentang peristiwa umum yang sering muncul lainnya adalah gambar tokoh masyarakat dan artis. Hal ini juga karena Republika memiliki kolom khusus yang sifatnya ringan menghibur yang disertai sajian gambar para entertainer atau tokoh masyarakat yang diwawancarai saat itu. Sajian tersebut dimaksudkan sebagai selingan dan penyeimbang dari penggambaran profil tokoh politik atau agama yang cukup banyak diangkat pada tiap-tiap edisinya. Didukung situasi negara yang sedang mengalami proses Pemilu dengan sistem baru pemuatan profil tersebut diangkat berkaitan dengan pembelajaran kepada masyarakat tentang tokoh-tokoh yang ada. Dengan demikian adanya foto berita berupa gambar para entertainer tersebut menjadi selingan yang sifatnya menghibur.

Kategori Foto berita lunak dengan jenis foto berita tentang human interest menempati peringkat kedua, yaitu sebanyak 174 kali dengan nilai rataan sebesar 4.971 (22.77%). Data ini juga menunjukkan selisih sebesar 35.74 persen. Pada saat itu banyak peristiwa hangat yang memiliki sisi human interest menonjol yang

(13)

lebih menarik disajikan dalam bentuk gambar berbicara mewakili kondisi yang ada. Jenis foto human interest ini juga menampilkan gambar kegiatan pembangunan disertai profil pelakunya dalam bentuk ringan namun menyentuh emosi pembaca. Disini diperkuat dengan etika Republika sebagai surat kabar yang tidak semata-mata menjual sensasi dengan sajian foto-foto berita yang dapat menimbulkan gejolak di masyarakat.

Namun demikian masih terdapat kelemahan dalam sajian foto berita Republika, terutama pada jenis foto berita lunak, seringkali memiliki kekurangan dalam hal keakuratan informasi dimana unsur jurnalistik dalam keterangan foto kurang mendukung kelengkapan berita. Bahkan pada foto berita keras yang seharusnya memiliki kelengkapan, keakuratan informasi, hal tersebut juga tidak dicantumkan. Berkaitan dengan hal tersebut Sugiarto (2004), menandaskan bahwa foto jurnalistik yang baik seharusnya mengandung unsur 5W+1H. Nilai sebuah foto jurnalistik—foto sebuah berita yang mengungkapkan dan melaporkan semua aspek dari suatu kenyataan dengan menyiratkan rumus 5W+1H, yaitu:

what, who, why, where, when, dan how—dapat mewakili ribuan kata atau kalimat.

Melihat berbagai unsur tersebut setidaknya unsur kapan (when) dan dimana (where) sering tidak dicantumkan atau digambarkan dengan jelas pada sajian foto beritanya. Dengan demikian, dari segi kelengkapan informasi foto berita tersebut menjadi memiliki kelemahan yang dapat menimbulkan ketidakakuratan pesan di mata pembaca.

Sedangkan dilihat dari aspek volume foto berita, kategori foto berita lunak yang paling banyak adalah foto berita lunak tentang peristiwa umum. Hal ini menunjukkan bahwa volume kategori foto berita lunak tentang peristiwa umum memiliki proporsi yang lebih dominan dalam kategori foto berita lunak surat kabar Republika. Volume foto berita tentang peristiwa umum menempati peringkat pertama, yaitu 150455.257 (52.7%) dan foto berita lunak tentang human interest pada peringkat kedua, yaitu 62131.1714 (39.9%) dengan selisih sebesar 12.8 persen. Data ini menunjukkan bahwa, volume foto berita lunak tentang peristiwa umum menempati halaman paling luas dibanding foto berita lunak tentang human interest dalam foto berita lunak surat kabar Republika.

(14)

Uraian diatas menunjukkan adanya kesesuaian proporsi antara frekuensi dan volume kategori foto berita lunak surat kabar Republika. Ternyata pada frekuensi kategori berita lunak yang tinggi senantiasa diikuti oleh volume kategori yang tinggi juga pada berita lunak.

Proporsi Sumber Foto

Terdapat tiga kategori sumber foto dalam sajian foto berita surat kabar Republika pada tahun 2004, yaitu: (1) staf redaksi, (2) kantor berita dan (3) lain-lain. Pada setiap kategori sumber foto yang diamati dalam sajian foto berita surat kabar Republika diperoleh frekuensi dan volume yang berbeda, hal ini dapat dilihat dalam Tabel 5.

Tabel 5. Frekuensi dan Volume Sumber Foto Surat Kabar Republika Tahun 2004

No Sumber Foto F Mean % R Volume % R

1. Staf Redaksi 514 14.686 44.7 1 219248.257 49.7 1 2. Kantor Berita 301 8.6 26.2 3 117740.314 26.7 2 3. Lain-lain 334 9.543 29.1 2 104151.457 23.6 3 Jumlah 32.829 100 441140.028 100 Keterangan: F= Frekuensi R= Rangking

Volume dalam milimeter kolom (mmk)

Kategori yang beragam pada tabel 5 di atas menunjukkan bahwa sumber foto dalam surat kabar Republika tidak hanya berasal dari satu sumber foto saja. Hal ini menunjukkan bahwa pihak redaksi surat kabar Republika cukup akomodatif dalam menata sumber-sumber foto berita yang ada. Tabel 5 menunjukkan bahwa kategori sumber foto yang berasal dari staf redaksi memiliki frekuensi yang lebih banyak, yaitu 514 kali dengan nilai rataan 14,686 (44.7%). Peringkat kedua sumber berita yang berasal dari lain-lain seperti lembaga humas, wartawan freelance, perpustakaan, atau bahkan anonim yaitu dengan kemunculan sebanyak 334 kali dengan nilai rataan sebesar 9.543 (29.1%) dengan selisih sebesar 15.6 persen. Hal ini menunjukkan bahwa dalam setiap edisi terdapat sekitar 14 sumber foto berita yang berasal dari staf redaksi. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Manangka (1982)

(15)

dimana surat kabar Kompas, Suara Karya dan Sinar Harapan memiliki sumber foto staf redaksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sumber foto lainnya.

Sedangkan volume kategori sumber foto berita yang dominan adalah yang berasal dari staf redaksi, yaitu nilai rataan volume sebesar 219248.257 (49.4%). Sedangkan sumber foto yang berasal dari kantor berita seperti Kantor Berita Antara, AP, AFP dan juga lainnya menduduki peringkat kedua yaitu sebesar 11740.314 (26.7%). Uraian tersebut menunjukkan bahwa frekuensi dan volume sumber foto surat kabar Republika pada peringkat pertama berasal dari staf redaksi. Dimana setiap frekuensi kategori sumber foto berita yang tinggi tidak selalu diimbangi dengan volume yang besar pula.

Besarnya sajian foto berita yang berasal dari staf redaksi ini sesuai kebijakan redaksional Republika dimana dalam setiap sajian berita dan foto berita selalu lebih mengutamakan sumber yang berasal dari staf redaksi surat kabar Republika, terutama dari wartawan atau pewarta foto (fotografer) mereka. Meski demikian menurut Redaktur Foto Republika, kriteria foto yang baik secara keseluruhan tentu mempengaruhi pemilahan foto untuk dimuat. Jika jurnalis luar redaksi hasil karyanya jauh lebih baik, tentu redaktur foto akan memuat hasil karya orang luar tersebut. Hal ini akan memacu staf redaksi, terutama jurnalis foto untuk berkarya lebih baik selain juga dapat meningkatkan kredibilitas Republika sebagai surat kabar nasional yang besar. Ditegaskan Redaktur Foto bahwa bagaimanapun, kualitas foto yang sesuai kriteria pihak redaksi akan terus dijaga agar tetap menarik bagi konsumen surat kabar. Besarnya persentase sajian sumber foto dari staf redaksi secara tidak langsung membuktikan kemampuan Republika untuk mandiri. Selain itu, hal ini juga memberikan nilai tambahan bagi

image positif Republika di mata umum antara lain karena memiliki wartawan

foto yang handal dengan karya-karyanya di bidang foto jurnalistik.

Uraian di atas selaras dengan posisi wartawan atau pewarta foto yang juga adalah seorang komunikator dalam hal ini. Dalam ilmu komunikasi, sumber komunikasi disebut dengan komunikator. Kedudukan dan fungsi komunikator dalam upaya menciptakan efektivitas komunikasi adalah penting sekali, karena efektif tidaknya pesan-pesan yang disampaikan berada di tangannya. Oleh karena itu, komunikator yang berbeda, dengan membawa pesan yang sama pada khalayak

(16)

yang sama dalam suasana yang sama pula, dapat menimbulkan efek yang berbeda. Artinya, tidak semua komunikator mempunyai daya tarik yang sama meski pesan yang disampaikannya sebenarnya sama. Seorang pewarta foto yang handal akan menghasilkan karya yang baik secara fotografis, informatif dan atau menyentuh perasaan serta mudah dicerna. Dalam hal ini foto yang dihasilkan harus selaras dengan anggapan Rothstein (1974) yang mengatakan bahwa gambar berbicara langsung dengan jiwa kita dan mengungguli rintangan-rintangan bahasa dan nasionalitas. Dengan demikian, jika sebuah karya foto yang dihasilkan mudah di mengerti masyarakat yang majemuk atau yang berbeda bahasa dan nasionalitas maka karya tersebut dapat dikatakan berhasil dan efektif penyampaian pesannya. Jika sampai pada taraf tersebut biasanya nama seorang pewarta foto telah banyak dikenal orang dan kalangannya sesama wartawan atau jurnalis. Memiliki pewarta yang handal sebagai salah satu sumber foto media, baik secara langsung maupun tidak tentu akan meningkatkan kredibilitas dan nama baik surat kabar tersebut.

Umumnya khalayak mempunyai komunikator kesayangan dan kepercayaan. Dalam hal ini hasil karya seorang pewarta foto umumnya pula memiliki kekhasan tersendiri yang membuat karyanya disukai sesama wartawan atau jurnalis, lembaga pers yang terkait dan atau konsumen. Berbagai kalangan tersebut sangat menghargai komunikator yang kompeten, yang dikenal, dikagumi, dan disegani masyarakat. Untuk menjadi pewarta foto yang baik dan terkenal harus mempunyai syarat-syarat tertentu, terutama adalah kredibilitas yang umumnya diperoleh seorang pewarta foto lewat pengalaman yang cukup panjang.

Ruben (dalam Munthe, 1993), komunikator jelas tidak akan sama bobotnya bagi setiap orang, karena dipengaruhi jarak kedekatan, daya tarik, baik fisik ataupun sosial, kesamaan latar belakang pendidikan, agama, budaya, kredibilitas, dan otoritas, motif, dan minat, cara penyampaian, status, kekuatan otoritas seseorang berbeda. Dikaitkan dengan masalah sumber foto surat kabar maka unsur kredibilitas, otoritas, motif, status sumber foto dalam hal ini juga mempengaruhi kredibilitas media dalam menampilkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Untuk itulah Republika juga banyak menggunakan foto berita yang berasal dari Kantor Berita yang telah memiliki ”nama” di tengah masyarakat jika ia tidak memiliki bahan (stok) foto berita yang sesuai dengan materi yang

(17)

akan diangkat. Setidaknya keaslian, ketepatan dan keakuratan gambar dalam hal ini tidak akan dipertanyakan kembali oleh masyarakat pembaca jika melihat sajian foto berita.

Lebih banyaknya sumber foto lain-lain pada sajian Republika dibandingkan sumber foto yang berasal dari Kantor Berita ditimbulkan banyaknya halaman yang menampilkan sajian foto mengenai produk hasil usaha dan teknologi modern. Tampak pula artikel yang mengetengahkan informasi kegiatan pameran berbagai produk dari alat rumah tangga hingga kendaraan mewah dan liputan ini umumnya memerlukan banyak gambar yang terkadang tidak dapat dijumpai di pameran saja. Foto-foto yang disajikan sebagian besar merupakan gambar-gambar yang diambil dari berbagai situs internet atau merupakan dokumen milik perusahaan terkait yang produknya diinformasikan dan secara langsung maupun tidak langsung dipromosikan oleh Republika.

Dari berbagai uraian di atas, meski sumber foto lain-lain dan sumber foto Kantor Berita cukup banyak namun tetap memiliki frekuensi dan volume lebih rendah dibanding sumber foto yang berasal dari staf redaksi. Dengan demikian, bagaimana pun Republika masih memiliki image positif sebagai media besar yang memiliki lebih banyak sajian foto yang berasal dari hasil karya ”sendiri”.

Proporsi Lingkup Foto

Kategori lingkup foto dalam foto berita surat kabar Republika dibagi menjadi tiga, yaitu (1) lokal, (2) nasional dan (3) internasional. Perolehan frekuensi dan volume lingkup foto disajikan dalam Tabel 6.

Tabel 6. Frekuensi dan Volume Lingkup Foto Berita Surat Kabar Republika Tahun 2004

No Lingkup Foto F Mean % R Volume % R

1. Lokal 424 12.114 37 1 163667 37.1 1 2. Nasional 305 8.714 26.5 3 137022.086 31.1 3 3. Internasional 420 12 36.5 2 140450.943 31.8 2 Jumlah 32.828 100 441140.029 100 Keterangan: F= Frekuensi R= Rangking

(18)

Tabel 6 di atas menunjukkan dua jenis lingkup foto berita yang memiliki frekuensi dan volume diatas rata-rata, yaitu kategori lingkup foto berita dengan jenis foto berita yang berasal dari lokal yaitu berbagai foto berita yang berlokasi di wilayah DKI Jakarta dan jenis lingkup foto berita internasional yaitu foto berita tentang kejadian-kejadian yang berasal dari negara-negara lain (luar negeri). Dengan demikian, hasil penelitian kategori lingkup foto menunjukkan lingkup foto lokal memiliki frekuensi tertinggi dan volume yang dominan. Pemunculan kategori lingkup foto berita yang dengan jenis foto berita lokal, yaitu sebanyak 424 kali dengan nilai rataan sebesar 12.114 (sebanyak 37%). Lingkup foto berita yang berasal dari internasional menempati peringkat kedua, yaitu sebanyak 420 kali dengan nilai rataan sebesar 12 (36.5%).

Hasil di atas disebabkan Republika sebagai surat kabar yang kantor pusatnya di wilayah DKI Jakarta banyak mengangkat masalah aktual di seputar ibukota negara ini. Dengan demikian lingkup foto lokal menjadi dominan adanya. Terlebih saat itu Jakarta menjadi sentral kegiatan politik dan sentral dari proses pergantian pemerintahan karena adanya Pemilu Presiden secara langsung untuk yang pertama kalinya. Dengan begitu, baik profil tokoh maupun peristiwa yang disajikan dalam gambar pun banyak terdapat dan terjadi di wilayah DKI ini sehingga pemotretannya terjadi di lingkup lokal.

Uraian di atas diperkuat Mc.Quail (1996) yang mengemukakan bahwa faktor utama yang mempengaruhi suatu pilihan, antara lain adalah aspek manusia, lokasi, dan waktu; mengenai lokasi terutama ditentukan oleh jarak fisik. Informasi mengenai suatu peristiwa, menurut Galtung dalam Mc.Quail (1996) haruslah antara lain secara budaya dekat (akrab) dengan publik sasaran. Dengan demikian dalam menyeleksi pesan berupa foto dalam surat kabar akan mempertimbangkan pula mengenai kedekatan fisik peristiwa tersebut terjadi dengan khalayak pembacanya.

Berkaitan dengan lingkup tersebut, meski jumlah terbesar adalah lingkup lokal dan terdapat pula berbagai foto lingkup nasional, namun tema yang diusung dalam masing-masing foto tersebut tidak banyak yang mengangkat masalah atau kondisi pertanian dan pedesaan. Telah diuraikan sebelumnya bahwa materi yang diangkat umumnya masih terkait dengan kondisi Pemilu yang berlangsung pada

(19)

tahun tersebut. Surat kabar sebagai media yang akurat dalam menyampaikan pesan-pesan pembangunan secara aktual mampu membawa dirinya sebagai media penyebar informasi kepada massa (Muhsin, 1998). Berbagai sajian Republika saat itu memang ditujukan untuk menunjang pembangunan politik pemerintah dan negara namun demikian akan terasa lebih baik dari segi ideal pers untuk tetap mengetengahkan kondisi pertanian pedesaan yang selama ini menjadi pilar kebutuhan pokok masyarakat.

Berkaitan dengan hal di atas, ditinjau dari sudut jurnalistik, pembangunan adalah suatu proses, yang dalam kelangsungannya untuk mencapai sasaran yang dituju, yakni tingkat hidup kemasyarakatan yang lebih tinggi dan merata dibanding dengan sebelumnya, menjumpai faktor-faktor yang memperlancar dan menghambatnya. Fungsi jurnalistik pembangunan adalah untuk menunjang berlangsungnya pembangunan, dalam arti untuk membantu memperlancar dan menghilangkan hambatan-hambatan. Pembangunan tidak akan mencapai tujuan dengan segera, apabila faktor-faktor yang menghambat tidak segera dihilangkan (Effendi, 2000). Dari uraian tersebut tampak jelas bahwa berita atau informasi yang berkaitan dengan lingkup pertanian dan pedesaan perlu banyak diketengahkan tiap tahunnya. Hal ini mengingat masih banyak kendala dan hambatan yang terjadi dalam pembangunan pertanian pedesaan yang diharapkan dapat dikurangi dengan disajikannya berbagai masalah terkait dalam bidang tersebut. Penerapan kondisi ini akan meningkatkan sajian foto berita lingkup nasional mengingat wilayah kerja pertanian dan pedesaan bisa dikatakan hampir mutlak termasuk dalam lingkup nasional.

Persentase kedua terbesar yaitu foto lingkup internasional banyak menghiasi lembar surat kabar Republika karena Republika dalam sajian kolom olah raga dan kolom gerai (produk) sebagian besar berasal dari kantor-kantor berita dan juga dari internet atau literatur lain. Kondisi ini tampaknya berkaitan juga dengan banyaknya sajian berita olah raga seperti sepakbola, basket dan tenis yang berasal dari pertandingan di kancah internasional. Ini berarti surat kabar Republika membeli liputannya dan atau gambarnya dari kantor-kantor berita seperti AFP, AP, atau dari Antara, mengingat Republika tidak selalu memiliki koresponden di luar negeri.

(20)

Meskipun foto lingkup internasional jumlahnya menempati urutan kedua, namun secara keseluruhan, total foto di lingkup wilayah dalam negeri, yaitu dari jumlah foto lokal dan nasional mencapai 729 foto (63.5 %). Dengan demikian hampir 2/3 foto berita yang ada berasal dari dalam negeri. Hal ini tentu selaras dengan kriteria atau ciri penanda kejadian yang dapat dinilai sebagai berita yang antara lain adalah dalam lingkungan sendiri; artinya kejadian tersebut lebih dianggap penting bila berada/terjadi di lingkungan sendiri. Selain itu hal tersebut juga diperkuat anggapan Galtung (dalam Mc.Quail, 1996) bahwa informasi mengenai suatu peristiwa haruslah antara lain secara budaya dekat (akrab) dengan publik sasaran. Dengan demikian dalam menyeleksi pesan berupa foto dalam surat kabar akan mempertimbangkan pula mengenai kedekatan fisik peristiwa tersebut terjadi dengan khalayak pembacanya.

Besarnya sajian Republika berkaitan dengan lingkup foto ini sesuai anggapan Douglas Wood Miller (dalam Suhandang, 2004) yang dalam tulisannya ”The News Slant and the Reporter” mengemukakan tiga unsur dari berita yang bisa membangkitkan minat pembaca untuk menikmatinya, yaitu: waktu, tempat, dan isinya. Terhadap tempat kejadian suatu peristiwa, orang umumnya lebih tertarik pada tempat-tempat yang paling dekat dengan tempat tinggalnya. Artinya kejadian tersebut lebih dianggap penting bila berada/terjadi di lingkungan sendiri. Hal ini juga sesuai dengan apa yang ditulis Soehoet (2003) bahwa ada empat faktor yang menentukan nilai berita bagi seseorang, yakni: 1)kegunaan berita; 2)aktualitas; 3)hubungan pembaca dengan peristiwa; 4)kelengkapan berita. Berkaitan dengan unsur hubungan pembaca dengan peristiwa, ditulis bahwa antara lain yang menentukan nilai berita bagi pembaca adalah jarak tempat tinggal pembaca dengan tempat peristiwa terjadi. Faktor ini disebut juga dengan

proximity. Dengan demikian, proximity atau proksimitas sebagai jarak fisik

pembaca dengan tempat kejadian memang ikut menentukan dalam menariknya sebuah berita yang dalam hal ini berupa sajian foto berita.

Sedangkan dilihat dari aspek volume kategori lingkup foto berita, kategori lingkup foto berita yang paling banyak adalah jenis foto berita lokal. Hal ini menunjukkan bahwa volume kategori foto berita lokal memiliki proporsi yang lebih dominan dalam foto berita surat kabar Republika. Volume jenis foto berita

(21)

lokal menempati peringkat pertama, yaitu 163667 (37.1%) dan lingkup foto berita internasional pada peringkat kedua, yaitu 140450.943 (31.8%). Data ini menunjukkan bahwa, volume kategori lokal menempati halaman paling luas dibanding kategori internasional dalam lingkup foto berita surat kabar Republika.

Uraian diatas menunjukkan adanya kesesuaian proporsi antara frekuensi dan volume kategori lingkup foto berita surat kabar Republika. Ternyata pada frekuensi kategori lingkup foto berita yang tinggi senantiasa diikuti oleh volume kategori yang tinggi juga, meskipun frekuensi dan volume yang dimiliki masing-masing kategori memiliki perbedaan yang kecil.

Proporsi Penempatan Foto

Terdapat dua jenis penempatan foto berita dalam surat kabar Republika, yaitu (1) penempatan foto di halaman muka dan (2) penempatan foto di halaman dalam. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Frekuensi dan Volume Penempatan Foto Berita Surat Kabar Republika Tahun 2004 No Penempatan Foto F Mean % R Volume % R 1. Halaman Muka 87 2.486 7.6 1 26897.114 6.1 1 2. Halaman Dalam 1062 30.343 92.4 2 414242.914 93.9 2 Jumlah 1149 32.829 100 441140.028 100 Keterangan: F= Frekuensi R= Rangking

Volume dalam milimeter kolom (mmk)

Tabel 7 menunjukkan penempatan foto berita di halaman dalam memiliki frekuensi dan volume sangat tinggi, yaitu 1062 kali dengan nilai rataan sebesar 30.343 (92.4%). Sedangkan penempatan foto berita pada halaman muka menempati peringkat kedua, yaitu sebanyak 87 kali dengan nilai rataan sebesar 2.486 (7.6%). Dengan demikian penempatan foto di halaman dalam memiliki frekuensi yang sangat tinggi dibandingkan halaman muka. Sedangkan dilihat dari aspek volume kategori penempatan foto berita maka foto berita pada halaman

(22)

dalam juga memiliki volume tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa volume kategori letak foto berita halaman dalam memiliki proporsi yang lebih dominan dalam penempatan foto berita surat kabar Republika. Volume kategori ini menempati peringkat pertama, yaitu sebesar 414242.914 mmk (93.9%) dan penempatan foto berita halaman muka pada peringkat kedua, yaitu sebesar 26897.114 (6.1%). Data ini menunjukkan volume kategori halaman dalam menempati area halaman surat kabar paling luas dibanding kategori penempatan foto berita halaman muka pada setiap sajian surat kabar Republika.

Uraian diatas menunjukkan adanya kesesuaian proporsi antara frekuensi dan volume kategori lingkup foto berita surat kabar Republika. Ternyata pada frekuensi kategori penempatan foto berita yang tinggi senantiasa diikuti oleh volume kategori yang tinggi juga, meskipun frekuensi dan volume yang dimiliki masing-masing kategori memiliki perbedaan yang jauh sebesar 87,8 persen.

Hasil di atas berarti bahwa pada setiap edisi terdapat dua foto berita yang penempatannya terdapat di halaman muka. Meskipun dari segi persentase frekuensi dan jumlah volume sangat sedikit namun nilai foto berita yang disajikan pada halaman muka dianggap lebih atau paling penting, aktual dan atau menarik dibandingkan halaman lainnya, menurut penjelasan redaktur foto Republika. Hal ini sesuai anggapan Pasaribu dan Siregar (2000), sampul depan yang menarik dan komunikatif dapat menggerakkan mata pembaca untuk membuka halaman berikutnya, untuk menyimak isi. Selain itu berkaitan dengan pentingnya foto berita, ditulis Yurnaldi (1992a), sebuah foto jurnalistik juga berfungsi sebagai

headline (judul berita). Dengan demikian sebuah foto berita jika diletakkan di

halaman muka tentu memiliki nilai berita tinggi dan atau nilai estetika yang tinggi. Uraian tersebut berkaitan dengan keterangan redaktur foto Republika bahwa pemilahan foto halaman depan (cover) membutuhkan proses berpikir rumit dan penuh berbagai pertimbangan untuk bisa ditampilkan di halaman muka.

Keterangan pihak redaksi di atas sejalan dengan anggapan Kusmiati et al. (1999) bahwa memilih foto mana yang dapat menangkap suasana atau mood yang tepat untuk suatu tulisan sangatlah sulit. Apalagi foto tersebut dimaksudkan untuk halaman muka, maka ada proses pentapisan informasi yang dilakukan dalam kondisi seperti ini untuk memilah foto berita. Redaktur foto Republika

(23)

mengatakan bahwa sangatlah sulit dan menjadi beban tersendiri saat menentukan foto cover karena diharapkan foto ini dapat memikat perhatian konsumen umumnya dan khususnya pembaca Republika. Memikat perhatian ini menurut redaktur foto tidak hanya pada saat pertama melihat surat kabar, akan tetapi diharapkan juga dapat mengajak pembaca untuk terus membaca halaman berikutnya.

Melengkapi uraian di atas, berkaitan dengan pemilahan foto, pihak redaksi Republika mengatakan bahwa pengambil keputusan untuk tampilan foto halaman muka terdiri dari pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, redaktur foto dan terakhir bagian desain. Hal ini tidak terjadi untuk foto berita halaman dalam yang pemilahan fotonya hanya diputuskan oleh redaktur foto sendiri. Jenis foto berita yang disajikan disini banyak mengetengahkan peristiwa terhangat di lingkup internasional maupun dari dalam negeri sendiri. Foto-foto aktivitas sosial politik seperti demonstrasi, kegiatan pengadilan, serta gambar bencana musibah banyak menghiasi halaman ini selain gambar human interest.

Ditampilkannya berbagai foto berita membantu khalayak mengetahui informasi tercetak dengan cepat dan akurat. Begitu pentingnya sebuah foto pada media cetak seperti surat kabar, terutama pada halaman muka, ditunjang anggapan Yurnaldi (1992a) yang menyatakan bahwa sebuah berita foto memiliki kelebihan dari berita tulis. Yurnaldi (1992a) secara lebih rinci mengungkapkan:

“Dibanding berita tulis, berita foto dapat dibuat dengan mudah dan cepat; daya rekam yang akurat (asal tidak dimanipulasi); unggul dalam menyajikan kejadian-kejadian yang bersifat fisik; dapat mengejar jangka waktu; tidak memerlukan penerjemahan di dalam pemberitaan lintas negara; lebih kompak dibanding berita tulis untuk menjelaskan esensi suatu berita; efek dari suatu berita foto lebih besar daripada berita tulis karena respons perasaan manusia lewat indera penglihatan lebih cepat dan langsung mengenai pikiran-perasaan pembaca.”

Dengan demikian foto yang disajikan pada halaman muka jika diolah dengan benar menjadi lebih terasa penting dan bermanfaat bagi pembaca. Dari keseluruhan gambar di halaman muka sejumlah 87 buah foto berita, terdapat foto berita keras sebanyak 75 foto (86,2%) dan foto berita lunak sejumlah 12 foto (13,8%). Dengan demikian tampilan halaman muka tetap didominasi oleh foto yang hangat, aktual serta penting. Namun demikian nuansa menghibur, menimbulkan rasa relax tanpa meninggalkan kesan serius, penting dan intelek

(24)

dengan muatan yang bersifat informatif pada sajian fotonya tetap dijaga oleh pihak redaksi agar konsumen tidak jenuh pada sajian berita.

Pada halaman muka surat kabar juga disajikan format gambar yang cukup besar dengan tampilan horizontal atau pun vertikal untuk menarik perhatian khalayak dan menghasilkan desain yang enak dilihat. Selain hal itu, terdapat acuan desain yang sesuai dengan anggapan Kusmiati et al. (1999), yaitu saat meneliti foto antara lain perlu menentukan arah pandang subjek dalam menatap pembaca, karena mata pembaca biasanya bergerak pada arah yang sama. Kemudian tempatkan wajah foto di sebelah kanan, bila ingin mengajak pembaca membaca dari suatu sampul ke lembaran isi. Hindari menempatkan foto wajah seseorang dengan arah pandang ke kiri pada margin sebelah kiri, karena peletakkan foto seperti ini akan membawa pembaca keluar dari lembar tulisan.

Meski jumlahnya sedikit, foto pada halaman muka menjadi sangat penting menurut kebijakan redaksi harian umum Republika karena berdasarkan penelitian intern mereka kepada pembaca, bahwa foto berita, terutama di halaman muka merupakan unsur berita pertama yang ditangkap mata pembaca terlebih dulu sebelum mereka mengkonsumsi informasi berupa tulisan. Kesan ini dapat mempengaruhi penilaian mereka terhadap tampilan surat kabar secara keseluruhan. Berarti jika foto yang ditampilkan baik dan menarik, maka surat kabar tersebut akan dinilai baik, dan ini akan berlaku sebaliknya jika tampilannya buruk dan tidak menarik.

Redaksi Republika menerangkan bahwa salah satu cara untuk memperbaiki mutu surat kabar dan meningkatkan readership ialah dengan menggunakan foto-foto berita yang serasi dengan selera dan kepentingan masyarakat. Uraian tersebut sesuai dengan anggapan Woodburn dalam Flournoy (1989) yang menandaskan bahwa “foto-foto dalam surat kabar menyetop pembaca dan bahwa tingkat readership foto adalah tinggi dibandingkan unsur-unsur surat kabar lainnya”. Tampilan foto yang menarik ikut membantu meningkatkan minat baca konsumen pada berbagai berita yang disajikan surat kabar, baik itu di halaman muka maupun di halaman dalam. Menurut redaktur foto Republika kesalahan dalam pemuatan foto akan berakibat sangat fatal bagi surat kabar karena foto merupakan bahasa yang universal, apalagi jika kesalahan tersebut terjadi pada

(25)

halaman muka. Sebuah foto dapat digunakan sebagai sarana berkomunikasi yang dapat menembus batas pembaca yang berlatar belakang sangat majemuk.

Berbagai uraian di atas menjelaskan bahwa meski jumlah persentase frekuensi dan volume halaman muka sangat rendah namun tidak membuat halaman tersebut menjadi tidak penting. Sajian foto halaman muka bagi pihak redaksi merupakan salah satu ”kunci utama” keberhasilan surat kabar dalam mempertahankan image yang dibangun dan dikehendaki surat kabar.

Analisis Terhadap Perbedaan Frekuensi Foto Berita

Perbedaan Frekuensi Foto Berita Keras dan Foto Berita Lunak

Hasil analisis terhadap frekuensi foto berita keras dan berita lunak dengan menggunakan uji Anova disajikan dalam Tabel 8 dibawah ini.

Tabel 8. Analisis Sidik Ragam (Anova) terhadap Perbedaan Frekuensi Foto Berita Keras dan Foto Berita Lunak Surat Kabar Republika Tahun 2004

F Tabel Sumber

Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Hitung 0.01 0.05F Model 1 2240.22857143 2240.22857143 54.03 7.08 4.00 Galat 68 2819.71428571 41.46638655

Total 69 5059.94285714

Keterangan:

Signifikan pada taraf nyata α = 0.01

Signifikan pada taraf nyata α = 0.05

Dari hasil analisis Anova pada kategori foto berita keras dan berita lunak diperoleh (F Hitung) sebesar 54.03. Hasil analisis tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil F tabel (taraf nyata (α) 0.01, db=1) sebesar 7.08. Dari analisis Anova tersebut hipotesis 1 yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara frekuensi foto berita keras dengan foto berita lunak dapat diterima. Dengan demikian diketahui bahwa Republika dalam tiap-tiap terbitan konsisten memiliki perbedaan jelas berkaitan dengan sajian foto berita keras dan sajian foto berita lunaknya.

(26)

Hasil di atas berkaitan dengan kebijakan redaksi surat kabar Republika dimana Republika jauh lebih banyak menyajikan variasi foto berita yang menyiratkan foto berita lunak. Hasil tersebut berkaitan dengan anggapan Nurudin (2003) bahwa setiap kejadian atau isu diberi bobot tertentu dengan panjang penyajian (ruang dalam surat kabar, waktu pada televisi dan radio) dan cara penonjolan (ukuran judul, letak pada surat kabar, frekuensi pemuatan, posisi dalam surat kabar). Sesuai kebijakan redaksinya maka dari segi panjang penyajian dan terutama dari cara penonjolan yang menyangkut frekuensi pemuatan, foto berita lunak diberi penekanan tertentu oleh Republika. Dengan penekanan bobot isu tersebut dapat diketahui bahwa dari segi frekuensi terdapat perbedaan antara foto berita keras dengan foto berita lunak.

Kebijakan redaksi sebagai landasan strategis operasional meski dibuat oleh masing-masing media namun tidak boleh lepas dari kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Landasan strategis operasional ini merupakan landasan keempat pers nasional yang menurut Sumadiria (2005) mengacu kepada kebijakan redaksional media pers masing-masing secara internal yang berdampak kepada kepentingan sosial dan nasional. Garis haluan manajerial berkaitan erat dengan filosofi, visi, misi, orientasi, kebijakan, dan kepentingan komersial. Garis haluan redaksional mengatur tentang kebijakan pemberitaan atau sesuatu yang menyangkut materi isi serta kemasan penerbitan media pers. Kebijakan redaksi yang diterapkan pada umumnya berbeda di tiap-tiap institusi pers juga pada media surat kabar. Penerapan kebijakan redaksi inilah yang antara lain menjadi sumber terjadinya perbedaan antara foto berita keras dan foto berita lunak dengan banyaknya sajian yang bersifat komersial meski dalam hal lain Sumadiria (2005) juga mengatakan bahwa untuk menyangga kehidupan pers yang ideal hanyalah ilusi jika tanpa sisi komersial. Namun pada dasarnya keseimbangan dalam penyajian surat kabar memang harus dicapai untuk nama besar surat kabar itu sendiri.

Banyaknya sajian foto berita lunak yang menyebabkan perbedaan frekuensi di atas semata-mata ditujukan untuk menarik pembaca atau konsumen dimana Republika ingin merangkul konsumen yang terkategori dalam segmen pembaca keluarga. Sajian berita kekerasan dan polemik berusaha tidak terlalu banyak

(27)

ditonjolkan secara ”keras” atau berkesan serius oleh Republika. Sentuhan ”lunak” atau menenangkan pikiran coba dicapai pihak redaksi dalam berbagai sajiannya. Hal ini berkaitan dengan keterangan redaksi Republika bahwa tampilan yang terlalu serius dan terlalu didominasi berita keras akan menimbulkan kejenuhan bagi pembaca, antara lain hal ini dikarenakan sajian berita keras begitu mudah ditemui di hampir semua media, terutama surat kabar. Republika juga berasumsi bahwa masyarakat perkotaan yang juga dibidik sebagai konsumen, umumnya ingin mencari pelampiasan yang lebih menghibur, berkesan santai namun berisi informasi yang diperlukan mereka. Hal ini karena keseharian mereka sudah melelahkan dan terasa ”keras” pula dijalani. Dengan demikian sajian foto-foto berita lunak menjadi pilihan redaksi untuk mendominasi isi media cetak surat kabar.

Perbedaan frekuensi di atas juga berkaitan dengan kebijakan Republika yang lain dimana untuk menarik para pengusaha Republika membuat kolom-kolom atau halaman-halaman khusus yang berkaitan dengan perkembangan teknologi, hasil usaha atau produk. Tampilan kolom atau halaman ini cukup besar porsinya dan dimaksudkan pula memiliki sifat menghibur dan membuat santai pembaca. Namun demikian hal ini menyiratkan bahwa Republika banyak mengangkat sisi komersial dalam sajiannya meski dalam hal ini pihak media juga bermaksud agar sajian khusus tersebut menjadi salah satu pendorong kreatifitas pengusaha untuk terus bersaing dengan pengusaha lainnya. Para pengusaha diarahkan untuk berpikir bahwa jika produk mereka menjadi unggulan pada akhirnya akan diberitakan oleh media atau menjadi sorotan media. Baik secara langsung maupun tidak, sajian ini tentu akan menjadi ajang promosi pula bagi para pengusaha tersebut dan tampaklah segi komersial yang tengah diolah redaksi.

Telah dijelaskan redaksi bahwa kondisi ini berkaitan dengan maraknya institusi pers saat ini yang menyebabkan tingginya persaingan di antara mereka, terutama dalam mendapat pemasukan dari para pengiklan. Secara jelas dan tegas, sesuai makna pasal 6 UU Pokok Pers No. 40/1999 maka pers harus memiliki dan mengemban idealisme. Idealisme adalah cita-cita, obsesi, sesuatu yang terus dikejar untuk bisa dijangkau dengan segala daya dan cara yang dibenarkan menurut etika dan norma profesi yang berlaku serta diakui oleh masyarakat dan

(28)

negara (Sumadiria, 2005). Dengan demikian maka porsi sisi ideal terutama pada surat kabar harus besar mengingat surat kabar merupakan kekuatan keempat dalam negara dan ia memiliki pengaruh besar dalam kemajuan suatu bangsa.

Meski sisi idealisme penting, namun pers tidak hanya harus punya cita-cita ideal. Pers sendiri harus memiliki kekuatan dan keseimbangan. Hal ini diperoleh pers melalui segi komersial sesuai pasal 3 ayat (2) UU Pokok Pers No. 40/1999 yang menegaskan bahwa pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Namun demikian keseimbangan dalam sajian pers perlu diperhatikan dengan tidak melupakan sisi idealisme yang menjadi pilar utama pers seperti telah diterangkan sebelumnya. Keseimbangan ini dapat diperoleh dengan mengurangi frekuensi penyajian foto berita lunak yang banyak mengangkat segi komersial dan menggantinya dengan sajian yang bermanfaat serta memiliki kontribusi positif bagi negara, seperti sajian pembangunan pertanian pedesaan.

Berkaitan dengan uraian di atas, Suhandang (2004) mengutip The American

Weekly yang mencatat 12 hal yang digunakan khalayak sebagai potensi untuk

meminati suatu informasi. Keduabelas hal tersebut adalah: 1)hasil suatu usaha; 2)kebudayaan; 3)kepercayaan; 4)tragedi; 5)kesehatan; 6)kepahlawanan; 7)misteri; 8)perbaikan diri; 9)rekreasi; 10)roman; 11)ilmu pengetahuan, dan 12)keamanan. Pada catatabn tersebut dapat dilihat bahwa keduabelas hal di atas sebagian besar merupakan sajian yang sifatnya lunak, menghibur. Bahkan hal pertama yang menjadi potensi meminati informasi adalah hasil suatu usaha. Tampaklah bahwa catatan tersebut sejalan dengan kebijakan Republika yang memberi penekanan pada foto berita lunak yang pada akhirnya menghasilkan perbedaan frekuensi dengan foto berita keras setelah dianalisis menggunakan Anova. Dengan demikian frekuensi sajian foto berita lunak pun menjadi semakin dominan dan berbeda dengan foto berita keras karena adanya kolom-kolom khusus atau halaman-halaman khusus berkaitan dengan foto mengenai produk atau hasil usaha.

Perbedaan Frekuensi Foto Berita Keras

Hasil analisis terhadap frekuensi foto berita keras dengan menggunakan uji Anova disajikan dalam Tabel 9.

(29)

Tabel 9. Analisis Sidik Ragam (Anova) terhadap Perbedaan Frekuensi Foto

Berita Keras Surat kabar Republika Tahun 2004

F Tabel Sumber

Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Hitung 0.01 0.05F Model 3 557.678571430 185.892857143 52.17 3.95 2.68 Galat 136 484.571428570 3.563025210

Total 139 1042.250000000

Keterangan:

Signifikan pada taraf nyata 0.01 Signifikan pada taraf nyata 0.05

Dari hasil analisis tersebut pada foto berita keras dengan jenis kategori pertahanan bersenjata dan diplomasi, aktivitas dan masalah sosial politik, bencana dan musibah serta kategori lain-lain diperoleh (F Hitung) sebesar 52.17. Hasil analisis tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil F tabel (taraf nyata 0.01 dengan db=3) sebesar 3.95. Dari analisis Anova tersebut menghasilkan hipotesis 2 yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara frekuensi dalam kategori foto berita keras, dapat diterima. Analisis tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara frekuensi jenis kategori pertahanan bersenjata dan diplomasi dengan kategori bencana dan musibah, dengan kategori aktivitas dan masalah sosial politik dan dengan kategori lain-lain. Sedangkan untuk mengetahui kategori perbedaannya dapat dilihat dari pengelompokkan nilai rataannya.

Hasil di atas berkaitan dengan kondisi atau berbagai peristiwa yang terjadi saat itu dan kebijakan redaksi surat kabar Republika dalam melakukan proses pentapisan informasi berupa berita dan foto berita. Secara selektif “gatekeepers” seperti penyunting, redaksi, bahkan wartawan sendiri menentukan mana yang pantas diberitakan dan mana yang harus disembunyikan (Nurudin, 2003). Republika berusaha melakukan banyak variasi dalam menyajikan foto berita keras agar tidak terlalu monoton bagi mata pembaca. Telah diuraikan sebelumnya bahwa Republika ingin menjangkau segmen keluarga dalam usahanya mencerdaskan masyarakat. Dengan demikian tampilan foto berita keras yang variatif dengan disertai penekanan terhadap foto profil masyarakat politik diharapkan dapat memberikan informasi atau pengenalan berbagai tokoh yang ada di tanah air khususnya dan luar negeri umumnya.

(30)

Uraian di atas berkaitan dengan kemampuan surat kabar sebagai media massa yang dapat mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Berkaitan dengan peristiwa politik yang terjadi, media pun seakan mengatur apa yang harus kita lihat atau tokoh siapa yang harus kita dukung. Menggarisbawahi uraian di atas, perbedaan frekuensi pada foto berita keras ini juga disebabkan isu politik yang menonjol saat itu dimana Pemilu tahun 2004 membuat media melakukan penekanan tersendiri pada isu tersebut. Hal ini tentu berkaitan dengan asumsi bahwa agenda media akan menjadi agenda masyarakatnya. Anggapan Zucker dalam Severin dan Tankard (2005) yang menyatakan bahwa menonjolnya isu mungkin menjadi faktor yang penting dalam apakah terjadi penentuan agenda atau tidak, bersinggungan dengan kondisi di atas. Zucker juga menyatakan bahwa semakin kurang pengalaman langsung yang dimiliki publik berkenaan dengan bidang isu tertentu, semakin besar publik harus bergantung pada media berita untuk informasi tentang bidang itu. Dengan demikian manfaat surat kabar yang memiliki kelebihan dapat diulang-ulang dalam mengaksesnya terasa sangat besar di tahun 2004 terutama dalam peran untuk mendidik masyarakat berkaitan dengan pembangunan politik.

Proses Pemilu tahun 2004 telah menjadi agenda bagi media dan bagi masyarakat dengan demikian pemberitaan dan foto-foto berita yang berkaitan dengan peristiwa tersebut disajikan dengan frekuensi yang tinggi. Penekanan tersebut mengakibatkan perbedaan frekuensi dalam foto berita keras karena frekuensi sajian foto berita yang termasuk dalam jenis foto berita lain-lain dan aktivitas masalah sosial politik menjadi tinggi. Selain hal itu, kondisi ini juga bersinggungan dengan fungsi penentuan agenda media yang menurut Severin dan Tankard (2005) mengacu pada kemampuan media, dengan liputan berita yang diulang-ulang, untuk mengangkat pentingnya sebuah isu dalam benak publik. Pada sajian Republika tahun 2004, pengulangan demi pengulangan jenis informasi politik selama hampir setahun menambah tingginya frekuensi sajian kedua jenis foto berita di atas. Pengulangan tersebut pada dasarnya merupakan kelanjutan informasi dari proses Pemilu yang berlangsung. Dengan demikian terjadi perbedaan frekuensi dalam kategori foto berita keras surat kabar Republika edisi tahun 2004.

(31)

Perbedaan Frekuensi Foto Berita Lunak

Hasil analisis terhadap frekuensi foto berita lunak dengan menggunakan uji Anova disajikan dalam Tabel 10.

Tabel 10. Analisis Sidik Ragam (Anova) terhadap Perbedaan Frekuensi Foto Berita Lunak Surat kabar Republika Tahun 2004

F Tabel Sumber

Keragaman Derajat Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Hitung F 0.01 0.05 Model 2 1599.104761900 799.552380950 37.00 4.79 3.07 Galat 102 2203.885714290 21.606722690

Total 104 3802.990476190

Keterangan:

Signifikan pada taraf nyata 0.01 Signifikan pada taraf nyata 0.05

Dari hasil analisis Anova pada foto berita lunak dengan jenis kategori olah raga, peristiwa umum dan human interest diperoleh (F Hitung) sebesar 37.00. Hasil analisis tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil F tabel (taraf nyata 0.01 dengan db=2) sebesar 4.79. Dari analisis tersebut maka diketahui hipotesis 3 diterima, yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan frekuensi dalam kategori foto berita lunak, dimana nilai F hitung lebih besar dari F tabel. Hasil analisis tersebut menunjukkan terdapat perbedaan antara frekuensi jenis kategori foto berita olah raga dengan kategori foto berita peristiwa umum dan dengan kategori foto berita human interest. Sedangkan untuk mengetahui kategori perbedaannya dapat dilihat dari pengelompokkan nilai rataannya. Selain itu dari hasil tersebut diketahui bahwa sajian foto berita lunak Republika pada tiap-tiap edisinya konsisten memiliki perbedaan dalam hal jenis foto yang ditampilkannya.

Seperti halnya foto berita keras, hasil di atas juga berkaitan dengan kondisi atau berbagai peristiwa yang terjadi saat itu dan kebijakan redaksi surat kabar Republika dalam melakukan proses pentapisan informasi berupa berita dan foto berita. Republika berusaha melakukan banyak variasi dalam menyajikan foto berita lunak agar tidak terlalu monoton bagi mata pembaca terutama pada segmen keluarga yang ingin dirangkulnya. Sajian foto berita lunak yang menjadi unggulan dalam sajian surat kabar Republika selain untuk menarik perhatian

(32)

pembaca juga untuk tujuan komersial ini memiliki perbedaan frekuensi seiring pula dengan porsi tema yang diangkat tiap-tiap edisinya.

Berkaca dari uraian tersebut maka banyaknya sajian yang bersifat komersial ini selain berpengaruh terhadap perbedaan yang terjadi antara sajian foto berita keras dengan foto berita lunak juga berpengaruh pada perbedaan yang terjadi pada sajian foto berita lunak sendiri. Dengan demikian anggapan Sumadiria (2005) yang mengatakan bahwa untuk menyangga kehidupan pers yang ideal hanyalah ilusi jika tanpa sisi komersial, sangat diterapkan oleh Republika. Namun pada dasarnya seperti telah diuraikan sebelumnya, bagaimanapun keseimbangan dalam penyajian surat kabar memang harus dicapai untuk nama besar surat kabar itu sendiri.

Berkaitan dengan perbedaan sajian foto berita lunak di atas, telah diuraikan juga sebelumnya bahwa Republika memiliki halaman Olah Raga tersendiri namun dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Sedangkan untuk peristiwa umum yang jenis fotonya menempati beberapa tema halaman Republika seperti Gerai dan Otomotif mengakibatkan sajian foto berita tersebut mendominasi lembar Republika di tiap-tiap edisinya. Jenis foto berita lunak tentang peristiwa umum yang sering muncul lainnya adalah gambar tokoh masyarakat dan artis. Hal ini juga karena Republika memiliki kolom khusus yang sifatnya ringan menghibur yang disertai sajian gambar para entertainer atau tokoh masyarakat yang diwawancarai saat itu.

Untuk foto berita human interest hampir sama dengan peristiwa umum dalam hal tidak memiliki halaman khusus tersendiri seperti tema olah raga. Dalam hal ini terdapat tampilan foto-foto lepas yang tidak memiliki artikel khusus serta beberapa foto liputan budaya atau wisata. Namun demikian, tema tersebut cukup sering muncul sebagai salah satu cara pihak redaksi untuk menarik perhatian pembaca sekaligus terkadang mengisi halaman agar menghentikan kejenuhan akan tampilan berita tertulis.

Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa tampilan foto berita lunak yang disajikan Republika memang variatif dengan disertai sering munculnya tema hiburan, informasi produk usaha atau pun foto profil masyarakat yang tidak terlibat dalam tema politik. Pemilahan yang dilakukan ini dengan frekuensi

(33)

berbeda ini diharapkan pihak redaksi dapat memberikan informasi yang sifatnya menghibur dan ringan diterima segmen Republika.

Perbedaan Frekuensi Lingkup Foto

Hasil analisis terhadap frekuensi lingkup foto lokal, frekuensi lingkup foto nasional dan frekuensi lingkup foto internasional disajikan dalam Tabel 11.

Tabel 11. Analisis Sidik Ragam (Anova) terhadap Perbedaan Frekuensi Lingkup Foto Lokal, Nasional dan Internasional Surat kabar Republika Tahun 2004

F Tabel Sumber

Keragaman

Derajat

Bebas Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah F Hitung 0.01 0.05 Model 2 260.971428570 130.485714285 5.18 4.79 3.07 Galat 102 2570.685714290 25.202801120 Total 104 2831.657142860 Keterangan:

Signifikan pada taraf nyata 0.01 Signifikan pada taraf nyata 0.05

Dari hasil analisis tersebut pada lingkup foto lokal, nasional dan internasional diperoleh (F Hitung) sebesar 5.18. Hasil analisis tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil F tabel (taraf nyata 0.01 dengan db=2) sebesar 4.79. Dari analisis Anova tersebut maka hipotesis 4 yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan frekuensi lingkup foto lokal, dengan lingkup foto nasional dan dengan lingkup foto internasional, diterima, dimana nilai F hitung lebih besar dari F tabel. Sedangkan untuk mengetahui kategori perbedaannya dapat dilihat dari pengelompokkan nilai rataannya.

Hasil di atas antara lain berkaitan dengan berbagai peristiwa yang berkaitan dengan pemilihan langsung kepala negara yang kegiatan politiknya berpusat di wilayah DKI Jakarta. Selain itu tokoh-tokoh yang terlibat dalam bidang politik, agama, ekonomi, dunia hiburan, banyak yang berdomisili atau melangsungkan kegiatannya di Jakarta pada saat itu. Dengan demikian pengambilan gambar berkaitan dengan informasi yang diangkat Republika dilakukan pada lingkup lokal. Titik fokus berita pada peristiwa yang terjadi di lingkup lokal ini tentu mengakibatkan frekuensi yang tinggi dan mengakibatkan perbedaan dalam sajian lingkup foto pada surat kabar Republika tahun 2004.

Gambar

Tabel 6. Frekuensi dan Volume Lingkup Foto Berita Surat Kabar Republika  Tahun 2004

Referensi

Dokumen terkait

Pengertian yang dikemukakan oleh Bimo Walgito bahwa bimbingan karier itu usaha untuk mengetahui dan memahami tentang diri, memahami diri sendiri dengan baik, dan

The International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Volume XLII-4/W4, 2017 Tehran's Joint ISPRS Conferences of GI Research, SMPR and

Waktu pelaksanaan siklus kedua berlangsung dalam satu minggu setelah selesainya siklus pertama. Proses pembelajaran diawali dengan menceritakan mengenai peran serta

Hasil kegiatan pembelajaran pada siklus pertama dapat dilihat dari ketuntasan atau penguasaan siswa terhadap materi untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia sebanyak

mendasarkan tindakan pada wewenang. Tindakan pemerintahan yang didasarkan pada asas legalitas mengandung arti mendasarkan tindakan itu pada kewenangan terikat,

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 51 Tahun 2016 tentang Rincian Tugas Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan

Akhlak ialah ilmu yang mengajarkan tentang prilaku manusia tentang baik buruknya yang mencegah berbagai macam perbuatan jelek dalam pergaulan baik dengan tuhan,

Penelitian ini menunjukkan Support Vector Machine dapat menggambarkan keputusan wanita usia subur untuk menggunakan alat kontrasepsi atau tidak.. Kernel terbaik