• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 4 HASIL PENELITIAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

44 BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Penyajian Data Penelitian

Pada bab ini, pembahasan akan memasuki tahap analisa yang melibatkan penggunaan data primer dan sekunder sebagai dasar dalam merumuskan pemecahan masalah.

4.1.1 Data Primer

Pada data primer yang disajikan, penulis menghadirkan dalam bentuk deskriptif dengan urutan penyajian data dimulai dari hasil wawancara dengan Direktur Penyusunan Program dan Laporan Setditjen PPI, Kepala Sub-Direktorat Media Online Sub-Direktorat Pengelolaan Media Publik IKP, dan Kepala Seksi Program Sub-Direktorat Kemitraan Ormas dan Profesi Direktorat Komunikasi IKP. Selain itu penulis juga melakukan observasi di dalam IKP Kemkominfo.

4.1.1.1Wawancara dengan Direktur PPL Setditjen PPI (Bapak S. Zamrudi, S. Sos.) Wawancara dengan Direktur Penyusunan Program dan Laporan Setditjen PPI diharapkan dapat memperoleh jawaban-jawaban sebagai proses dari pemahaman awal mengenai program Desa Informasi dan hubungan masyarakat

(2)

oleh IKP terkait program tersebut, karena PPL PPI memiliki tugas menyusun program dan laporan terkait program tersebut.

Pertama penulis menanyakan berapa lama Informan, Bapak Zamrudi telah menjabat sebagai Direktur PPL PPI. Informan menjawab dua tahun. Lebih lanjut penulis menanyakan mengenai apa saja tugas dan fungsi yang dilaksanakan oleh bagian PPL PPI berkaitan dengan program Desa Informasi. Informan menjelaskan bahwa PPL PPI berada dibawah Sekretariat Direktorat Jenderal PPI. Sekjen memiliki tugas pokok yaitu memberikan dukungan manajemen dan teknis kepada satuan kerja di lingkungan Direktorat Jendral PPI yaitu semua direktorat dan sifatnya directed dari pimpinan. Program Desa Informasi adalah kegiatan yang diminta oleh Menteri pada tahun 2009 yang menginstruksikan untuk mengadakan program Desa Informasi di daerah perbatasan. Ditjen PPI sebagai koordinator satuan-satuan kerja terkait program tersebut. Karena itu Sekretariat Direktorat Jenderal PPI secara otomatis mengkoordinator kegiatan Desa Informasi. Oleh karena program tersebut merupakan prioritas nasional, maka PPL PPI memperoleh pelimpahan kerja untuk melakukan persiapan, berperan sebagai pelaksana, dan melakukan koordinasi dalam kaitan program Desa Informasi.

Kemudian Informan menjelaskan tahapan-tahapan penentuan target Desa Informasi. Penentuan lokasi program Desa Informasi berkoordinasi dengan Direktorat Jendral IKP dan BP3Ti, dan Sekretariat Direktorat Jenderal PPI. Setelah menentukan lokasi, PPL PPI melaporkan hasilnya ke pihak-pihak terkait untuk selanjutnya PPL PPI mengkoordinasi langkah-langkah persiapan. Persiapan tersebut di mulai dari survei lokasi untuk menentukan valid atau

(3)

tidaknya daerah yang sudah ditentukan sebelumnya. Jika valid maka PPL PPI masuk ke langkah selanjutnya yakni pelaksanaan sekaligus mempersiapkan/ mengkoordinasi peresmian Desa Informasi.

Informan memberikan jawaban bahwa pihak yang membuat/menetapkan tugas dan fungsi tersebut adalah berdasarkan Instruksi Menteri. Instruksi Menteri menunjuk Direktorat Jenderal, lalu Ditjen menunjuk Sekretariat Direktorat Jenderal PPI, kemudian Sekditjen menunjuk PPL.

Pertanyaan selanjutnya adalah apa saja hambatan yang PPL PPI hadapi sehubungan dengan program Desa Informasi. Informan mengatakan bahwa masalah utama yang ada yaitu dalam hal koordinasi dalam menentukan lokasi. Hal itu terjadi karena PPL PPI memiliki keterbatasan dalam memperoleh data yang aktual dan up-to-date. Keterbatasan tersebut membuat PPL PPI kesulitan dalam menentukan daerah mana yang perlu dibentuk menjadi Desa Informasi. PPL PPI tidak memiliki data yang komprehensif dan aktual. Namun PPL PPI mencoba mengatasi hambatan tersebut dengan menjalin kerja sama dengan BP3Ti, Biro Perencanaan, dan Ditjen IKP karena ketiganya memiliki informasi yang mendukung mengenai masalah perbatasan dan desa tertinggal.

Menurut Informan, terkait Program Desa Informasi, kerjasama yang terjalin diantara seluruh Satuan Kerja yang berada di lingkungan Kemkominfo pada umumnya sudah saling mendukung. Hal ini terwujud karena seluruh satuan kerja sudah saling terlibat dan tidak berpangku tangan. Contoh nyatanya terlihat pada setiap peresmian Desa Informasi seluruh Satuan Kerja ikut bekerja. Namun secara teknis, kerja sama tersebut belum optimal, karena kurang optimalnya pengimplementasian dan pemanfaatan Internet Sehat

(4)

pada Desa Informasi pada masyarakat program tersebut. Selain itu masih ada kekurangan di segi evaluasi. Informan menjelaskan bahwa evaluasi seharusnya diawasi oleh Sekjen Kemkominfo, namun karena keterbatasan waktu,anggaran dan Sumber Daya Manusia, hal tersebut belum optimal dilaksanakan. Evaluasi harusnya dapat dilakukan di semua titik Desa Informasi yang sudah diresmikan, yaitu 80 desa. Namun sayangnya, evaluasi tersebut baru mencapai angka 10% dari yang seharusnya. Informan menambahkan bahwa diharapkan di tahun mendatang evaluasi bisa lebih ditingkatkan.

Masuk kepertanyaan selanjutnya mengenai hambatan-hambatan apa saja yang secara umum Kemkominfo hadapi berkaitan dengan program Desa Informasi. Informan menjelaskan mengenai dua poin, yaitu regulasi dan Pemerintah Daerah. Hambatan yang pertama yakni masih adanya beberapa hal yang perlu di regulasi, contohnya pelaksanaan Radio Komunitas. Hingga saat ini perundang-undangan dari Kemkominfo mengenai ijin penyiaran Radio Komunitas masih dalam tahap persiapan. Jika ijin tersebut sudah ada, maka pengoperasian SDM dan operasionalnya akan menjadi legal dan tidak masalah lagi. Hambatan yang kedua yaitu berasal dari Pemerintah Daerah, yakni masih banyaknya daerah-daerah yang infrastrukturnya belum siap baik itu dari infrastuktur jalan dan juga listrik. Hal itu membuat Kemkominfo kesulitan membangun infrastruktur Desa Informasi di daerah-daerah tersebut. Hambatan ini dapat diatasi asalkan anggaran yang ada cukup untuk menyiasatinya.

Mengenai pencapaian Kemkominfo selama tahun 2009-2012 ini berkaitan dengan program Desa Informasi, Informan menjawab bahwa pembentukan Desa Informasi sudah sesuai target yang ditentukan. Terkait target akhir

(5)

Kemkominfo sehubungan program tersebut, Informan menjawab dengan diplomatis yaitu tercapainya tahun 2014 Indonesia Tersambung (Indonesian Connected). Artinya seluruh masyarakat Indonesia terutama perbatasan dan daerah tertinggal bisa mengakses informasi secara mudah.

Informan juga menjelaskan pendapatnya mengenai tugas dan fungsi IKP sebagai hubungan masyarakat pemerintah dalam mendukung program Desa Informasi. Informan mengatakan bahwa IKP sangat berperan dalam pembentukan Desa Informasi. Nantinya IKP lah yang akan mengelola pemanfaatan program tersebut, karena program IKP salah satunya adalah memberdayakan masyarakat di Desa Informasi melalui Kelompok Informasi Masyarakat. KIM di bina oleh IKP untuk kemudian memanfaatkan fasilitas-fasilitas dari program tersebut.

Berlanjut kepertanyaan yang lebih mendalam, Informan berpendapat bahwa tugas dan fungsi IKP sebagai hubungan masyarakat pemerintah sudah cukup optimal dalam mewujudkan program Desa Informasi. Pendapat ini muncul melihat dari cara kerja IKP yang melibatkan Pemda. Keduanya mensosialisasikan kegiatan program dan menyertakan masyarakat melalui KIM dalam membangun rakyat yang maju informasi.

Informan sependapat dengan asumsi penulis bahwa IKP harus dapat menjalankan kegiatan yang terkait kebijakan program dan turut serta memberikan pelayanan kepada masyarakat terkait program tersebut. Namun Informan menambahkan bahwa dalam hal ini, IKP tidak memberikan pelayanan secara langsung. IKP melayani masyarakat dengan memberikan informasi atau konten-konten informasi pembangunan. Hal itu disampaikan kepada

(6)

tokoh-tokoh masyarakat dan berbagai golongan masyarakat KIM agar mereka mampu memberdayakan desanya masing-masing. IKP membuat akses informasi kemudian mendistribusikan informasi tersebut kepada Pemda untuk disampaikan kepada masyarakat Desa Informasi.

Informan juga setuju dengan pendapat penulis jika dikatakan sebagai fungsi hubungan masyarakat pemerintah: IKP harus selalu mengabdi kepada kepentingan umum (masyarakat), selalu memelihara komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat (komunikasi dua arah), dan tetap menitikberatkan pada moral dalam mendukung pemerintah memperoleh pengertian, kepercayaan, dan dukungan penuh dari masyarakat. Informan mengatakan dari nama saja, yaitu Informasi dan Komunikasi Publik, IKP jelas berpihak kepada publik, sehingga informasi yang berguna dan bermanfaat untuk kepentingan publik harus disampaikan oleh IKP.

Berkaitan dengan komunikasi yang baik, Informan membenarkan bahwa IKP harus selalu memelihara komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan masyarakat telah memiliki berbagai saluran komunikasi yang memacu mereka menjadi lebih kritis. Karenanya pemerintahpun harus lebih mampu lagi menyampaikan informasi yang lengkap kepada mereka. Mengenai bekerja berdasarkan moral, Informan menambahkan bahwa masyarakat Indonesia harus diberi dukungan yang positif dalam mewujudkan cita-cita nasional. Sehingga moral adalah unsur utama yang harus pemerintah jiwai. Dengan moral yang dititikberatkan maka pengertian, kepercayaan, dan dukungan dari masyarakat akan menyusul kemudian.

(7)

4.1.1.2Wawancara dengan Kepala Sub-Direktorat Media Online, Pengelolaan Media Publik IKP (Drs. Hypolitus Layanan, MAP)

Wawancara ini diharapkan dapat memperoleh jawaban-jawaban sebagai proses pemahaman fungsi dan tugas hubungan masyarakat IKP. Hal tersebut karena Direktorat Pengelolaan Media Publik merupakan salah satu direktorat IKP yang menangani program Desa Informasi.

Pertama, penulis menanyakan mengenai berapa lama Informan, Bapak Hypolitus telah menjabat sebagai Kepala Sub-Direktorat Media Online. Informan menjawab Informan telah dilantik sejak tahun 2010. Informan menjabarkan kewajiban-kewajibannya sebagai Kepala Sub yakni membawahi portal berita dalam media online IKP terkait dengan informasi untuk publik (masyarakat). Selain itu Informan juga membawahi Bimbingan Teknis untuk peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia program Desa Informasi di seluruh Indonesia. Bimbingan tersebut dilakukan melalui media center pada 130 Desa Informasi di seluruh Indonesia. Informan juga membawahi penulisan berita pada media di Direktorat Media Publik dan mengawasi berjalannya Kode Etik Jurnalistik yang benar di dalam kegiatan Media Publik. Informan juga menyebutkan bahwa Informan berperan sebagai pejabat teknis yang memfasilitasi unit-unit kerja di bawah IKP.

Selanjutnya penulis menanyakan mengenai apa saja tugas dan fungsi yang dilakukan oleh IKP terkait program Desa Informasi. Informan menjawab bahwa IKP bertugas dan berfungsi sbg government PR program Desa Informasi yang mendirikan simpul-simpul untuk menghubungkan masyarakat dan pemerintah. Sebelum era reformasi, pemerintahan Indonesia sempat

(8)

memiliki “Juru Penerang” untuk menyebarkan informasi ke pelosok-pelosok hingga nasional. Namun kemudian “Juru Penerang” ditiadakan sehingga tidak ada lagi badan pemerintah yang bisa menjadi jembatan penyambung lidah antara pemerintah dan masyarakat. Karena itulah di bentuk Desa Informasi dan Kelompok Informasi Masyarakat pada IKP untuk mendukung penyebaran informasi dan kebijakan pemerintah ke masyarakat.

Dari lima Direktorat IKP hanya Direktorat Pengelolaan Media Publik dan Direktorat Kemitraan Komunikasi yang terkait dengan program Desa Informasi. Informan kemudian menjelaskan mengenai apa saja tugas dan fungsi yang dilakukan oleh Direktorat Pengelolaan Media Publik terkait program tersebut. Informan menyebutkan bahwa program Desa Informasi mengaitkan satuan kerja satu sama lain. IKP sebagai front desk-nya di dukung oleh masing-masing satuan kerja Kemkominfo yang bekerja sama untuk kesuksesan program tersebut. Informan menjelaskan bahwa Direktorat Media Publik dan Direktorat Kemitraan IKP berada di garda depan untuk program Desa Informasi meskipun direktorat-direktorat IKP lain tetap membantu program tersebut. Lebih lanjut Informan menjelaskan bahwa secara spesifik, program Desa Informasi disosialisasikan oleh Direktorat Media Publik melalui berbagai media. Didalam Media Publik terdapat sub-Direktorat Media Cetak yang mengelola majalah Komunika untuk disebarkan ke seluruh Indonesia melalui Dinas Kemkominfo mulai dari kabupaten hingga provinsi. Lalu Media Publik juga membuat jurnal yang sifatnya lebih ilmiah untuk dunia pendidikan. Media Publik juga memiliki Media Audio Visual yaitu melalui audio dan televisi di pusat dan daerah. Program Desa Informasi disosialisasikan ke masyarakat

(9)

melalui iklan televisi, baliho di public area, serta public service untuk melayani pertanyaan masyarakat secara langsung di lapangan. Informan juga menambahkan bahwa program Desa Informasi hanya merupakan bagian kecil dari tugas Media Publik, intinya Direktorat tersebut berdiri untuk melayani masyarakat Indonesia.

Informan menyebutkan bahwa pihak yang membuat/menetapkan tugas dan fungsi tersebut adalah tim Eselon Satu dalam Kemkominfo, yaitu Direktorat Jenderal IKP dan Direktur Direktorat Media Publik. Sebelumnya tim Eselon Tiga, dalam hal ini Pak Hypo dan tim – mengkaji dahulu permasalahan yang ada dan melakukan evaluasi. Setelah evaluasi tersebut tercapai, maka hasilnya diajukan kepada Direktorat Jenderal IKP dan Direktur Media Publik untuk kemudian disetujui, direvisi, atau ditolak.

Masuk ke dalam pertanyaan yang lebih spesifik, Informan berpendapat bahwa tugas dan fungsi IKP sebagai hubungan masyarakat pemerintah belum bisa mewujudkan program Desa Informasi secara optimal. Alasannya karena IKP memiliki anggaran negara yang terbatas, sehingga seluruh anggaran publik tidak tersebar merata ke target-target Desa Informasi.

Lebih lanjut Informan menjelaskan mengenai hambatan yang dialami IKP sehubungan dengan program Desa Informasi. Hambatan tersebut yakni sulitnya IKP melakukan tugas dan fungsi humas di daerah karena IKP tidak memiliki struktur yang baku dalam kehumasan IKP, melainkan sekedar fungsional saja. Akibatnya IKP tidak memiliki cabang di daerah pelosok-pelosok Indonesia, melainkan hanya memiliki mitra kerja saja. Hal ini amat bertolak belakang dibanding pada masa Departemen Penerangan masih ada di daerah, sehingga

(10)

segala informasi dari pemerintah pusat langsung bisa sampai ke telinga masyarakat.

Ketika ditanyai pendapat mengenai apa solusi atas hambatan-hambatan tersebut, Informan menjawab bahwa anggaran harus ditingkatkan agar bisa memadai kegiatan kehumasan IKP. Tujuannya supaya fungsi diseminasi informasi bisa maksimal. Namun jika anggaran harus tidak bertambah, maka solusi yang Media Publik lakukan sejauh ini adalah berkomunikasi dengan masyarakat daerah melalui media seperti Majalah Komunika dan Iklan Layanan Masyarakat.

Informan juga menyebutkan bahwa target akhir yang ingin IKP capai atas program Desa Informasi yakni sesuai dengan semboyan Kominfo, yaitu “Menuju Masyarakat Informasi Indonesia.”

Berkaitan dengan tugas hubungan masyarakat pemerintah, Informan membenarkan bahwa IKP harus dapat menjalankan kegiatan yang terkait kebijakan program Desa Informasi dan turut serta memberikan pelayanan kepada masyarakat terkait program tersebut. Alasannya karena kedua hal tersebut merupakan kewajiban dan tugas pokok IKP untuk mendukung program Desa Informasi dan memberikan pelayanan ke masyarakat Indonesia.

Sehubungan dengan fungsi hubungan masyarakat pemerintah yaitu IKP harus selalu mengabdi kepada kepentingan umum (masyarakat), Informan menjelaskan bahwa IKP adalah pelayan masyarakat. Artinya seluruh kegiatan IKP harus diarahkan kepada kebaikan masyarakat dalam hal ini terkait informasi. Informan menambahkan bahwa fungsi IKP sebagai government PR

(11)

amat sulit diukur, karena sifatnya abstrak dan tidak ada parameternya, melainkan bertujuan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia.

Informan juga menyetujui asumsi penulis bahwa IKP harus selalu memelihara komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat (komunikasi dua arah). Informan mengatakan bahwa IKP adalah humas pemerintah yang berperan sebagai koordinator bagi humas-humas pemerintah di kementerian lembaga pusat dan di daerah. Tujuannya agar seluruh humas tersebut bisa bekerja sama baik antar pemerintah maupun melalui komunitas-komunitas masyarakat. Informan juga menyetujui jika dikatakan IKP harus tetap menitikberatkan pada moral dalam mendukung pemerintah memperoleh pengertian, kepercayaan, dan dukungan penuh dari masyarakat. Informan menambahkan bahwa selain moral, IKP juga harus bisa membentuk karakter masyarakat agar masyarakat tidak apatis dalam kontribusinya untuk pembangunan Indonesia.

4.1.1.3Wawancara dengan Kepala Seksi Program, Subdirektorat Kemitraan Ormas dan Profesi, Kemitraan Komunikasi, IKP (Bapak Dikdik Sadaka, MM.)

Wawancara ini penulis lakukan karena Direktorat Kemitraan Komunikasi adalah salah satu dari dua direktorat IKP yang melaksanakan tugas dan fungsi hubungan masyarakat pemerintah terkait program Desa Informasi.

Pertanyaan pertama dijawab oleh Informan, Bapak Dikdik bahwa Informan telah menjabat sebagai Kepala Seksi Program, Subdirektorat Kemitraan Ormas dan Profesi, Direktorat Kemitraan Komunikasi selama satu

(12)

tahun. Informan menjelaskan kewajibannya sebagai Kasie yaitu membuat proyek kerja khususnya di Subdirektorat Kemitraan Komunikasi, Ormas, dan Profesi. Proyek kerja tersebut diwujudkan dengan melakukan kegiatan-kegiatan yg berhubungan dengan kemitraan. Contohnya kerja sama dgn komunitas guru-guru (PGRI).

Berikutnya, penulis menanyakan mengenai apa saja tugas dan fungsi yang dilakukan oleh Direktorat Kemitraan Komunikasi terkait program Desa Informasi. Informan menjelaskan bahwa Direktoratnya mempersiapkan kelembagaan atau kelompok masyarakat yang akan mengelola perangkat-perangkat infrastruktur yg diberikan oleh PPI. Kemitraan menyiapkan unsur-unsur masyarakat yang akan mengelola infrastruktur tersebut. Persiapan kelompok masyarakat dilakukan dengan memberikan Bimbingan Teknis kepada kelompok masyarakat khususnya Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). KIM terdiri dari unsur-unsur masyarakat seperti pelajar, Ibu-ibu Rumah Tangga, kelompok-kelompok desa, kelompok-kelompok di kecamatan, ibu-ibu arisan, dan lain sebagainya. Informan menambahkan bahwa tujuan KIM adalah agar masyarakat desa bisa mengakses, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk peningkatan kesejahteraannya. Misalkan KIM nelayan, diharapkan dengan adanya Bimtek mengenai internet, maka nelayan bisa mencari informasi melalui internet untuk memperoleh informasi mengenai cara mengelola ikan agar pendapatannya bisa bertambah.

Selanjutnya, penulis menanyakan mengenai siapa saja pihak yang membuat/menetapkan tugas dan fungsi tersebut. Informan menjawab bahwa

(13)

tugas dan fungsi tersebut merupakan hasil koordinasi dari Eselon 1 yaitu seluruh Direktorat Jenderal agar program Desa Indonesia bisa berjalan.

Informan kemudian memberikan pendapatnya mengenai apakah tugas dan fungsi IKP sebagai hubungan masyarakat pemerintah sudah bisa mewujudkan program Desa Informasi secara optimal. Menurut Informan hal tersebut telah optimal, karena persiapan yang dilakukan oleh IKP tidak hanya mengenai penyampaian informasi melalui humas-humas pemerintah yang ada di daerah. Terutama terkait dengan Desa Informasi IKP memberikan informasi-informasi yang maksimal ke masyarakat diikuti dengan melakukan evaluasi dan monitoring (dengan cara sampel-sampel, karena tidak semua lokasi di evaluasi dan monitoring). Informan menambahkan bahwa hasil evaluasi dan monitoring tersebut menunjukkan bahwa program tersebut sudah optimal.

Pertanyaan selanjutnya yakni apa saja hambatan yang dihadapi oleh Direktorat Kemitraan Komunikasi sehubungan dengan program Desa Informasi. Informan menjawab bahwa terdapat banyak hambatan terutama dalam hal kesiapan masyarakat. Orientasi pikiran masyarakat desa masih bersifat lokal. Sebagian masyarakat lebih mengutamakan pendekatan pada kedaerahannnya. Artinya, masyarakat masih mengutamakan mempertahankan kehidupan mereka yang apa adanya. Mereka tidak menyukai adanya suatu perubahan dalam kehidupan mereka. Namun terdapat pula beberapa masyarakat yang kebablasan teknologi. Contohnya tergila-gila akan Facebook. Padahal program Desa Informasi bertujuan agar masyarakat bisa memanfaatkan sarana informasi yang diberikan untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan hidup mreka. Sayangnya mereka justru terjebak dalam teknologi modern.

(14)

Hambatan yang lain yaitu terkait dengan persoalan koordinasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah, hingga Pemerintah tingkat Kecamatan. Fasilitas-fasilitas yang telah diberikan oleh IKP belum memperoleh antusiasme yang positif. Pemerintah dari Provinsi hingga Kecamatan belum terlibat secara aktif dan belum mengawasi secara optimal untuk menyukseskan program Desa Informasi. Solusi atas hambatan-hambatan tersebut yakni, untuk permasalahan pertama maka di mulai pada tahun 2012, berdasarkan dari hasil Monev (Monitoring Evaluasi) 2012, Kemitraan melakukan perubahan dalam segi Bimtek. Sebelumnya, Bimtek yang dilakukan bersifat amat teoritis dan sedikit praktik. Sekarang ini, Bimtek lebih didominasi dengan praktik langsung dan dialog langsung dengan kelompok-kelompok masyarakat. Tujuannya agar terjalin kedekatan secara individual sehingga mereka mau membuka diri terhadap perubahan-perubahan yang sifatnya progresif.

Untuk solusi hambatan yang kedua yaitu terkait keterlibatan pemerintah setempat, maka Kemitraan menyiasatinya dengan melakukan kegiatan yang sifatnya koordinatif. Kemitraan sering mengadakan rapat bersama dengan pemerintah setempat agar mereka bisa ikut merasakan tanggung jawab yang sama dalam rangka memajukan masyarakat. Informan menambahkan dengan menegaskan bahwa memajukan masyarakat bukan hanya tanggung jawab IKP, melainkan harus ada kesadaran dari seluruh pemerintah dan masyarakatnya sendiri.

Pertanyaan berikutnya yakni siapa saja pihak-pihak yang IKP ajak bekerja sama untuk kesuksesan program Desa Informasi. Informan mengatakan

(15)

bahwa IKP bekerja sama dengan seluruh satuan kerja di Kemkominfo. Sebagai contoh, untuk Radio Komunitas maka IKP bekerja sama dengan Direktorat Penyiaran, untuk internet maka IKP bekerja sama dengan Direktorat Teknologi, dan lain sebagainya.

Berikutnya Informan mengungkapkan harapan IKP terkait program. Informan mengatakan bahwa selama ini komunikasi pemerintah dengan masyarakat - terutama masyarakat di pelosok – terputus. Kebijakan yang di buat oleh pemerintah tidak sampai ke telinga masyarakat. Maka diharapkan KIM dapat menjembatani penyampaian informasi dari pemerintah ke rakyat dan sebaliknya, KIM dapat menjadi sarana penyerapan aspirasi rakyat kepemerintah. Hal tersebut tentu di dukung oleh infrastruktur yang memadai. IKP mengharapkan lewat program Desa Informasi, dua hal itu bisa terwujud dengan semakin mudah, cepat dan murah.

Masuk kepertanyaan selanjutnya, Informan menyetujui asumsi penulis yaitu IKP harus dapat menjalankan kegiatan yang terkait kebijakan program Desa Informasi dan turut serta memberikan pelayanan kepada masyarakat terkait program tersebut. Informan menambahkan bahwa IKP harus bisa menjalankan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan kebijakan program tersebut contohnya pada KIM. KIM merupakan aspek atau bagian dari jaringan untuk diseminasi informasi nasional, maka otomatis kebijakan harus dilakukan dengan mengembangkan informasi dari kebijakan tersebut agar KIM bisa memberdayakan masyarakat. Terkait IKP harus melayani masyarakat, Informan mengatakan bahwa IKP adalah mengenai informasi, komunikasi dan publik secara face to face sesuai porsinya, maka jelas IKP harus melayani masyarakat.

(16)

Informan pun sependapat dengan penulis jika dikatakan “Sebagai fungsi hubungan masyarakat pemerintah: IKP harus selalu mengabdi kepada kepentingan umum (masyarakat), selalu memelihara komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat (komunikasi dua arah), dan tetap menitikberatkan pada moral dalam mendukung pemerintah memperoleh pengertian, kepercayaan, dan dukungan penuh dari masyarakat.”. Informan mengatakan bahwa IKP adalah bagian dari pemerintah yang tentu saja harus melaksanakan tugas-tugas pemerintah sekaligus menyerap aspirasi masyarakat. Hal ini menegaskan bahwa IKP harus mengabdi kepada kepentingan umum.

Terkait komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat, Informan menambahkan bahwa dulu sebelum Era Reformasi, pemerintah hanya membuka kemungkinan komunikasi satu arah saja untuk menyampaikan kebijakan pemerintah. Namun saat ini, pemerintah menyampaikan kebijakan disertai dengan penyerapan aspirasi rakyat dengan bekerja sama dengan LSM-LSM, ormas-ormas, dosen-dosen, guru-guru, dan lain sebagainya. IKP menjadikan mereka mitra dalam diseminasi informasi. Asumsi mengenai moral, Informan mengatakan bahwa bukan hanya moral yang harus dititikberatkan, namun IKP juga harus mampu membangun kesejahteraan masyarakat dan stabilitas nasional. Apalagi terkait masyarakat Indonesia yang tinggal di lokasi-lokasi yang berada di perbatasan negara, IKP bekerja di lokasi-lokasi tersebut dengan mengutamakan aspek kebangsaan agar masyarakat tersebut kuat rasa nasionalnya.

(17)

4.1.1.4Hasil Observasi

Setelah penulis melakukan pengamatan, observasi dan memperhatikan proses kerja dan pelaksanaan tugas dan fungsi hubungan masyarakat pemerintah di dalam IKP, penulis berkesimpulan bahwa pada dasarnya pelaksanaan tugas dan fungsi humas pemerintah telah berjalan dengan baik. IKP juga mampu mempraktikkan keseluruhan tugas dan fungsinya yang diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 17/Per/M.Kominfo/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Komunikasi dan Informatika yaitu merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang informasi, komunikasi publik, bimbingan teknis dan evaluasi, serta hubungan masyarakat pemerintah.

Sejauh observasi yang penulis lakukan di dua direktorat IKP yang menangani kehumasan pada program Desa Informasi, Direktorat Media Publik IKP tidak mengalami banyak hambatan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai humas pemerintah. Media Publik mampu memenuhi kewajibannya didalam memberikan informasi terkait program tersebut kepada masyarakat.

Secara rutin, Media Publik menerbitkan majalah Komunika untuk disebarkan ke seluruh Indonesia melalui Dinas Kemkominfo mulai dari kabupaten hingga provinsi. Majalah tersebut berisikan kebijakan-kebijakan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat khususnya terkait program Desa Informasi. Media Publik juga menerbitkan jurnal untuk menghubungkan pemerintah dengan kelompok masyarakat di bidang pendidikan.

(18)

Selain itu, penulis melihat Media Publik juga serius dalam memberikan informasi ke masyarakat melalui media audio visual yaitu melalui audio dan televisi di pusat dan daerah. Program Desa Informasi disosialisasikan ke masyarakat melalui iklan televisi, baliho di public area, serta public service untuk melayani pertanyaan masyarakat secara langsung di lapangan. Media online pun Direktorat Media Publik jamah untuk informasi yang lebih cepat bagi masyarakat yaitu melalui website Media Publik, www.infopublik.org. Bahkan, Media Publik pun mensosialisasikan program tersebut melalui salah satu maskapai penerbangan Indonesia, yaitu Garuda Indonesia. Hal ini penulis lihat secara tidak sengaja saat melakukan perjalanan dari Bandar Lampung ke Jakarta. Pada televisi pesawat Garuda, penulis melihat iklan infrastruktur Mobile Pusat Layanan Internet Kecamatan (M-PLIK). Hal itu semakin membuktikan keseriusan IKP didalam mensosialisasikan program Desa Informasi kepada masyarakat Indonesia.

Namun lain dari Media Publik IKP, Kemitraan IKP menghadapi beberapa hambatan. Dari hasil observasi Penulis di Direktorat Kemitraan IKP, hambatan yang terjadi adalah tidak adanya cabang humas IKP di pelosok-pelosok Indonesia, sehingga komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat menjadi sulit. Karenanya Kemitraan IKP berusaha menyiasatinya dengan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Tujuannya agar tugas dan fungsi kehumasan IKP memiliki perpanjangan tangan melalui komunitas-komunitas yang berada di desa-desa tersebut.

Jauhnya jarak antara IKP dengan masyarakat Indonesia menjadi faktor paling berpengaruh dalam menyulitkan IKP menyampaikan kebijakan

(19)

pemerintah, memberikan informasi lengkap kepada masyarakat dan berkomunikasi dengan mereka. Oleh sebab itu, Kemitraan IKP berusaha merangkul dan melakukan pendekatan terhadap organisasi-organisasi dan komunitas-komunitas di daerah-daerah Indonesia. Tujuannya, agar IKP bisa menyampaikan kepada mereka mengenai program Desa Informasi untuk kemudian mereka berbagi informasi dengan masyarakat setempat.

Organisasi dan komunitas masyarakat yang menjadi sasaran Kemitraan IKP terdiri dari berbagai macam elemen masyarakat. Mulai dari komunitas petani, komunitas nelayan, komunitas guru, komunitas ibu-ibu rumah tangga, dan lain sebagainya. Berawal dari situlah maka komunitas tersebut di sebut sebagai Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). KIM adalah kelompok yang dibentuk oleh, dari dan untuk masyarakat secara mandiri dan kreatif yang aktifitasnya melakukan kegiatan pengelolaan informasi dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan nilai tambah. (Peraturan Menteri Kominfo RI No.08/PER/M.KOMINFO/6/2010)

Lewat KIM – lah Kemitraan IKP membendung dan menyaring informasi dari masyarakat dan menyebarluaskan informasi dari pemerintah. Lewat KIM pula informasi dan bimbingan teknis program Desa Informasi bisa IKP sampaikan kepada masyarakat. Kemitraan IKP membekali KIM-KIM dengan infromasi terkait infrastruktur-infrastruktur Desa Informasi. Kemitraan IKP melakukan sosialisasi kepada mereka dan memberikan bimbingan teknis agar fasilitas informasi dan komunikasi yang sudah pemerintah sediakan bagi masyarakat desa bisa KIM pahami untuk kemudian KIM berbagi informasi dan pengajaran kepada masyarakat disekitarnya.

(20)

Terkait monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Kemitraan IKP, Penulis melihat bahwa Kemitraan telah sungguh-sungguh memberikan perhatian. Hal ini terlihat dari tingginya frekuensi kegiatan Kemitraan dalam melakukan perjalanan ke Desa-desa Informasi Indonesia untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Tujuannya tidak lain untuk mengevaluasi dan memantau infrastruktur-infrastruktur program tersebut agar terus bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

4.1.2 Data Sekunder

Berikut ini adalah program kegiatan Direktorat Kemitraan IKP 2010-2014 terkait program Desa Informasi:

4.1.2.1Program Kegiatan Direktorat Media Publik IKP

Program Kegiatan Melalui

1. Diseminasi informasi kepada lembaga pemerintah dan lembaga negara, serta organisasi kemasyarakatan dan profesi

- Dialog-dialog interaktif melalui radio dan televisi

- Kunjungan lapangan

wartawan 2. Program penyediaan bahan informasi/

referensi

- Penerbitan majalah - Pengelolaan website dan

media sosial

Tabel 4.1 Program Kegiatan Direktorat Media Publik 2010-2014 Sumber: Media Publik IKP

(21)

4.1.2.2Program Kegiatan Direktorat Kemitraan IKP

Program Kegiatan Melalui

1. Diseminasi informasi kepada lembaga pemerintah dan lembaga negara, serta organisasi kemasyarakatan dan profesi

- Forum

- Sosialisasi langsung

2. Pemberdayaan dan pengembangan

lembaga komunikasi

- Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas)

- Bimtek KIM

3. Kemitraan dengan organisasi-organisasi dan komunitas-komunitas masyarakat

- Pertemuan-pertemuan

4. Program penyediaan bahan informasi/ referensi

- Penyusunan buku pedoman KIM

5. Program monitoring dan evaluasi - Langsung ke Desa-desa

Informasi

Tabel 4.2 Program Kegiatan Direktorat Kemitraan 2010-2014 Sumber: Kemitraan IKP

4.1.2.3Kegiatan IKP dalam Mendorong Terjalinnya Hubungan Baik antara Pemerintah dengan Masyarakat

Untuk semakin menumbuhkan komunikasi dan hubungan baik antara pemerintah khususnya Kemkominfo dan masyarakat, maka IKP melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong tingkat keakraban keduanya dan

(22)

meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Kegiatan-kegiatan ini juga sebagai wujud nyata pelaksanaan hubungan kemasyarakatan oleh IKP.

Beberapa kegiatan IKP tersebut adalah:

1. Lomba Aktivitas Kelompok Informasi Masyarakat (KIM)

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Direktorat Kemitraan IKP sebagai upaya peningkatan peran kelompok-kelompok masyarakat dalam mewujudkan masyarakat informasi yang sejahtera serta memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat.

2. Dialog Interaktif di Televisi Republik Indonesia

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada segenap lembaga pemerintahan eksekutif, legislatif dan yudikatif dalam rangka menyebarluaskan kebijakan dan capaian kerja lembaganya kepada masyarakat. Dialog interaktif juga membuka kesempatan kepada masyarakat luas untuk berinteraksi dengan pemerintah melalui saluran telepon untuk menanyakan perihal kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah.

4.2 Pengolahan Data

Dari data primer yang diperoleh dari kegiatan wawancara, hasil observasi dan data sekunder yang diperoleh dari data base yang dimiliki oleh IKP, penulis mencoba untuk melakukan pengolahan data untuk menganalisis tugas dan fungsi hubungan masyarakat IKP di lingkungan internal dalam membangun kepercayaan terhadap masyarakat terhadap nama baik Kemkominfo.

(23)

4.2.1 Tugas dan Fungsi Hubungan Masyarakat IKP

Tugas dan fungsi hubungan masyarakat pada sebuah lembaga pemerintah, khususnya Kemkominfo sangatlah penting untuk membangun relasi yang baik dengan masyarakat luas baik itu di perkotaan dan dipedalaman. Penyebabnya tidak lain karena hingga saat ini, pemerintah masih kesulitan dalam memperoleh kepercayaan dari masyarakat Indonesia. Hubungan masyarakat IKP merupakan corong Kemkominfo sebagai bentuk pertanggungjawaban Kemkominfo terhadap masyarakat atas program Desa Informasi. Jika kepercayaan telah timbul dari masyarakat, maka otomatis Kemkominfo bisa memperoleh dukungan dari masyarakat untuk turut serta berusaha menyukseskan program Desa Informasi tersebut.

Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan analisis data, berikut ini merupakan tugas dan fungsi hubungan masyarakat IKP yang berkaitan dengan program Desa Informasi:

1. IKP mensosialisasikan program tersebut melalui berbagai media di public area dan public service, baik itu lewat iklan-iklan, dialog-dialog interaktif, dan website. Sosialisasi juga dilakukan oleh IKP dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah Desa Informasi dan menyertakan masyarakat untuk membangun masyarakat yang maju informasi.

2. IKP memberikan pelayanan kepada masyarakat secara tidak langsung melalui tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok masyarakat. Tujuannya, agar kemudian mereka bisa memberdayakan desanya masing-masing.

(24)

3. Pemberdayaan masyarakat tersebut dilakukan oleh IKP melalui Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). KIM di bina oleh IKP agar masyarakat bisa mengelola dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas program.

4. IKP memberikan informasi yang berguna dan bermanfaat untuk kepentingan publik. Salah satunya adalah melalui Bimbingan Teknis kepada kelompok-kelompok masyarakat, agar masyarakat siap dalam mengakses, mengelola dan memanfaatkan sarana-sarana yang diperoleh dari program Desa Informasi.

5. IKP mendirikan simpul-simpul untuk menghubungkan masyarakat dan pemerintah. IKP bertindak sebagai penyambung lidah antara pemerintah dan masyarakat untuk mendukung penyebaran informasi dan kebijakan pemerintah ke masyarakat serta penyerapan aspirasi rakyat.

6. IKP bertindak sebagai koordinator bagi humas-humas pemerintah di kementerian lembaga pusat dan di daerah agar seluruh humas tersebut bisa bekerja sama baik antar pemerintah maupun melalui komunitas-komunitas masyarakat.

7. IKP bekerja dengan moral dan juga berusaha membentuk karakter masyarakat agar masyarakat bisa mencapai kesejahteraan dan aktif dalam membangun Indonesia.

8. IKP melakukan evaluasi dan memonitor Desa-desa Informasi melalui sampel (karena terbatasnya waktu dan banyaknya desa-desa di Indonesia)

(25)

untuk mengetahui perkembangan masyarakat Desa-desa Informasi tersebut terkait pengelolaan dan pemanfaatan saran-sarana yang ada.

4.2.2 Hambatan-hambatan dalam Pelaksanaan Hubungan Masyarakat IKP Setelah melakukan penelitian dan mewawancarai para informan serta mempelajari data sekunder, terdapat hambatan-hambatan pelaksanaan program Desa Informasi yang berkaitan dengan tugas dan fungsi humas pemerintah oleh IKP, yang dapat diuraikan dibawah ini:

1. Tidak terdapatnya cabang humas IKP di daerah pelosok-pelosok Indonesia. Akibatnya, IKP kesulitan melakukan tugas dan fungsinya sebagai humas di daerah-daerah Indonesia.

2. Belum siapnya masyarakat desa program Desa Informasi dalam menerima perubahan dalam kehidupan mereka. Masyarakat desa cenderung mengutamakan pendekatan pada kedaerahannya dan menolak perubahan yang masuk dari luar kedalam kehidupannya.

3. Pemerintah Daerah program Desa Informasi belum terlibat secara aktif dan belum mengawasi secara optimal untuk menyukseskan program Desa Informasi.

4. Sosialisasi dan bimbingan teknis penggunaan infrastruktur program Desa Informasi yang masih kurang merata dan kurang berkelanjutan.

5. Sumber Daya Manusia di Desa-desa Informasi kurang pengetahuan yang luas sehingga sarana yang ada tidak bisa digunakan oleh masyarakat secara maksimal.

(26)

6. Tidak adanya SOP yang baku dalam pelaksanaan hubungan masyarakat pemerintah yang dilakukan oleh IKP dalam program Desa Indonesia. 7. Masih kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap Kemkominfo terkait

kebijakan yang Kemkominfo buat.

4.2.3 Solusi-solusi atas Hambatan-hambatan dalam Pelaksanaan Hubungan Masyarakat IKP

Berdasarkan hasil wawancara dan juga hasil pengamatan atas permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan program Desa Informasi yang berkaitan dengan tugas dan fungsi hubungan masyarakat pemerintah, penulis memperoleh sejumlah solusi untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut: 1. Solusi untuk ketiadaan cabang humas IKP di pelosok-pelosok Indonesia

bisa diatasi dengan meningkatkan komunikasi dengan masyarakat daerah melalui media massa agar bisa memadai kegiatan kehumasan IKP.

2. Solusi untuk sifat kedaerahan masyarakat pelosok, disiasati oleh IKP dengan memperbanyak praktik langsung bimbingan teknis penggunaan infrastruktur-infrastuktur Desa Informasi dan melakukan dialog langsung dengan kelompok-kelompok masyarakat.

3. Solusi untuk kurang aktifnya Pemda, disiasati oleh IKP dengan melakukan kegiatan yang sifatnya koordinatif. Misalkan rapat bersama dengan Pemda.

4. Solusi untuk kurangnya sosialisasi dan bimtek dapat diperbaiki oleh IKP dengan memperbanyak dua kegiatan tersebut kepada masyarakat pelosok.

(27)

5. Solusi untuk SDM yang kurang berpengetahuan luas dapat diatasi oleh IKP dengan meningkatkan kualitas pelatihan terhadap SDM-SDM tersebut hingga mereka menguasai pemanfaatan sarana dengan maksimal. 6. Solusi untuk ketiadaan SOP hanya bisa diatasi dengan membuat SOP

yang baku agar setiap operasi yang dilakukan oleh IKP terselenggara dengan teratur dan lebih terarah.

7. Solusi untuk kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap Kemkominfo, bisa diatasi oleh IKP dengan memperbanyak jalinan komunikasi dan informasi kepada masyarakat.

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam pembahasan yang akan diuraikan di bawah ini dan berdasarkan bentuk sumber primer dan sekunder, maka akan diuraikan satu persatu apakah tindakan dan strategi hubungan masyarakat yang telah dilaksanakan oleh IKP telah optimal dan sesuai dengan tugas dan fungsi hubungan masyarakat pemerintah yang telah ditentukan dalam Kerangka Teoritis.

4.3.1 Tugas Hubungan Masyarakat IKP dalam Program Desa Informasi

Dalam kerangka teori, telah ditetapkan bahwa pembahasan mengenai tugas humas pemerintah dalam suatu lembaga pemerintah akan dilandaskan pada teori Ardianto E. Teori tersebut menyatakan bahwa di dunia pemerintahan, hubungan masyarakat menjalankan kegiatan kebijakan publik

(28)

dan pelayanan publik. Kedua kegiatan tersebut merupakan kewajiban dan tugas pokok IKP dalam mendukung program Desa Informasi. Sesuai dengan informasi yang diberikan oleh informan, IKP sebagai government PR telah menjalankan kebijakan dan kegiatan publik yang terkait dengan program Desa Informasi. Hal itu dilakukan oleh IKP dengan mendirikan simpul-simpul komunikasi untuk menghubungkan masyarakat dan pemerintah. Contohnya, mengembangkan informasi melalui KIM untuk pemberdayaan masyarakat agar masyarakat bisa mengakses, mengelola dan memanfaatkan informasi melalui program tersebut untuk komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat serta peningkatan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Sesuai teori Ardianto E., kegiatan IKP sebagai humas pemerintah dalam bidang kebijakan publik telah cukup dapat memberikan berbagai informasi melalui komunikasi yang tepat mengenai kebijakan pemerintahan yang mengikat rakyat atau masyarakat.

Sementara dalam hal pelayanan terhadap publik, IKP tidak memberikan pelayanan secara langsung. IKP melayani masyarakat dengan cara memberikan informasi seputar program Desa Informasi kepada tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok masyarakat. Tujuannya, agar mereka kemudian melanjutkan memberikan pelayanan kepada masyarakat didesanya. Hal ini bertentangan dengan pendapat Ardianto E. yang mengatakan bahwa pelayanan publik adalah mengenai humas pemerintah memberikan pelayanan terbaik, dengan birokrasi yang tidak berbelit-belit untuk memberikan kepuasan kepada rakyat atau masyarakat sehingga dunia pemerintahan memperoleh citra positif dari rakyat atau publik.

(29)

Lebih lanjut, berdasarkan uraian yang telah disampaikan diatas, dapat disimpulkan bahwa IKP dalam melaksanakan tugas hubungan masyarakat, belumlah optimal dan masih terdapat kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, tugas humas pemerintah IKP belum dapat dijalankan secara baik dan maksimal, hal ini dapat dijawab berdasarkan hasil penelitian penulis setelah melakukan wawancara, observasi dan analisa data seperti telah diuraikan diatas, yang mana informan pun mengakui bahwa terdapat hambatan-hambatan yang menyebabkan tidak terlaksananya tugas humas pemerintah yang optimal oleh IKP Kemkominfo.

4.3.2 Fungsi Hubungan Masyarakat IKP dalam Program Desa Informasi

Berdasarkan teori Canfield dalam Ardianto E. (2011:241), humas pemerintah mengemban tiga fungsi. Fungsi yang pertama adalah mengabdi kepada kepentingan umum. Sesuai dengan hasil penelitian yang penulis lakukan, sebagai humas pemerintah, IKP telah berusaha untuk dapat mengabdi kepada kepentingan masyarakat Desa Informasi karena seluruh kegiatan yang selama ini IKP lakukan mengarah kepada kebaikan masyarakat dalam hal yang terkait informasi. IKP berfungsi untuk menyerap aspirasi masyarakat agar pemerintah bisa sensitif terhadap pendapat, keinginan, kebutuhan, dan kepentingan masyarakat agar masyarakat bisa memperoleh kualitas hidup yang lebih baik. Meskipun, penyerapan aspirasi tersebut masih kurang maksimal karena hambatan birokrasi pemerintah yang panjang dan keterbatasan anggaran, waktu serta perbedaan jarak antara IKP dengan masyarakat Desa Informasi.

(30)

Fungsi yang kedua adalah memelihara komunikasi yang baik. Sesuai dengan hasil wawancara, IKP mengusahakan terpeliharanya komunikasi yang baik antara pemerintah dengan masyarakat melalui informasi publik melalui media dan bertindak sebagai koordinator bagi humas-humas pemerintah di kementerian lembaga pusat dan daerah agar bisa terjalin kerja sama yang baik antara pemerintah dengan komunitas masyarakat. IKP berusaha mengakali ketiadaan cabang IKP di pelosok-pelosok Indonesia dengan menjalin kemitraan dengan berbagai LSM dan komunitas dalam diseminasi informasi.

Dari hasil observasi penulis, disinilah letak kelemahan IKP, IKP memelihara komunikasi hanya terbatas kepada pemerintah daerah dan wakil rakyat serta komunitas masyarakat di Desa Informasi. Dengan kata lain, masyarakat pedesaan yang belum ataupun tidak masuk dalam suatu komunitas tidak memiliki akses untuk memperoleh suatu komunikasi yang baik dengan pemerintah. Terbatasnya kemampuan berkomunikasi tersebut memang disebabkan oleh terbatasnya anggaran pemerintah dan jauhnya jarak antara pemerintah pusat dan Desa-desa Informasi, sehingga IKP mengakalinya dengan berhubungan melalui wakil dan komunitas-komunitas masyarakat desa.

Fungsi yang ketiga yaitu menitikberatkan pada moral dan tingkah laku yang baik. Melihat dari hasil wawancara, diperoleh jawaban dari informan khususnya pihak IKP bahwa IKP tidak hanya menitikberatkan pada moral dan tingkah laku yang baik, namun juga fokus pada pembentukan karakter masyarakat agar masyarakat tidak apatis dalam memberikan kontribusinya untuk pembangunan Indonesia. IKP juga fokus pada pembangunan kesejahteraan masyarakat dan rasa nasionalisme masyarakat Indonesia yang

(31)

tinggal di daerah perbatasan negara. Semua itu agar stabilitas nasional bisa terwujud nyata.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa IKP dalam melaksanakan fungsi hubungan masyarakat juga belum optimal. IKP masih memiliki kekurangan-kekurangan yang karenanya fungsi kehumasan tersebut belum dapat IKP jalankan dengan baik dan maksimal. Selain melalui observasi dan analisa data, kesimpulan ini juga didukung oleh jawaban informan seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa masih ada hal-hal yang menjadi hambatan bagi IKP Kemkominfo dalam melaksanakan fungsi kehumasannya.

Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian yang penulis lakukan, maka penulis dengan ini membuat suatu pernyataan bahwa asumsi penulis salah. Dengan kata lain, IKP tidak optimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai hubungan masyarakat Kemkominfo terkait dengan program Desa Informasi.

Gambar

Tabel 4.1 Program Kegiatan Direktorat Media Publik 2010-2014  Sumber: Media Publik IKP
Tabel 4.2 Program Kegiatan Direktorat Kemitraan 2010-2014  Sumber: Kemitraan IKP

Referensi

Dokumen terkait

Fermentasi yang dilakukan dengan proses enzimatis pada suhu 50°C menghasilkan produk yang lebih baik (kadar protein kasar lebih tinggi dan protein terlarutlebih rendah)

Prinsip-prinsip negara demokrasi yang telah disebutkan di atas kemudian dituangkan ke dalam konsep yang lebih praktis sehingga dapat diukur dan dicirikan... Ciri-ciri ini

Pada masa nifas terjadi perubahan-perubahan fisiologis yaitu perubahan fisik, involusi uterus dan pengeluaran lokhia, laktasi/pengeluaran air susu ibu, perubahan sistem

6 Berdasarkan keterangan diatas maka penelitian yang dilakukan peneliti mengenai “Perbandingan Efektivitas Penggunaan Filgrastim Pada Pasien Keganasan Limfoma

Toksin Bt pada isolat yang diuji ini tidak hanya menyebabkan kematian larva, tetapi juga menurunkan berat tubuh dan panjang tubuh larva yang berhasil tetap hidup.. Hal ini

Dinamisasi kehidupan sosial dan peradaban berlandaskan penemuan kembali substansi agama yang diwujudkan dengan pembangunan sikap hidup yang dinamis, kreatif, progresif, dan

Surat Keterangan Bebas ini dikeluarkan 5 hari setelah surat permohonan diterima lengkap sesuai dengan PER- 32/PJ/2013 tentang Tata Cara Pembebasan Dari Pemotongan Dan

Sejalan dengan perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini yaitu untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran biologi dengan penerapan strategi