PENGARUH RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP IKLIM MIKRO (Studi Kasus Kebun Raya Cibodas, Cianjur)
PIRKA SETIAWATI
DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini, saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :
PENGARUH RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP IKLIM MIKRO (Studi Kasus Kebun Raya Cibodas, Cianjur)
adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain, telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan pada Daftar Pustaka skripsi ini.
Bogor, Februari 2012
Pirka Setiawati NRP A44070010
RINGKASAN
PIRKA SETIAWATI. Pengaruh Ruang Terbuka Hijau Terhadap Iklim Mikro (Studi Kasus Kebun Raya Cibodas, Cianjur). (Di bawah bimbingan Alinda F. M. Zain).
Pesatnya pertumbuhan populasi dari tahun ke tahun semakin bertambah, Seiring pertambahan tersebut aktivitas manusia di bumi pun ikut meningkat. Aktivitas-aktivitas ini membutuhkan ruang tidak sedikit, yang mengakibatkan banyak pengalihfungsian lahan dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) menjadi lahan terbangun, sehingga proporsi RTH semakin berkurang. Salah satu bentuk RTH di wilayah perkotaan adalah kebun raya. Kebun raya ialah tempat yang memiliki berbagai macam varietas tumbuhan yang ditanami untuk tujuan kegiatan penelitian, pendidikan, dan tujuan ornamental (Mamiri, 2008). Kebun Raya Cibodas (KRC) merupakan salah satu kebun raya yang berada di Indonesia, bagian dari RTH kota Cianjur. Tujuan utama penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh struktur RTH terhadap iklim mikro di KRC.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif yang digunakan terdiri dari dua yaitu deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk melihat dan membandingkan pengaruh antar struktur RTH yang telah diukur suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin berdasarkan hasil pengukuran dan karakteristik struktural. Metode kuantitatif digunakan dalam menganalisis kenyamanan berdasarkan perhitungan suhu udara dan kelembaban udara untuk memperoleh nilai Temperature Humidity Index (THI) serta Skala Beaufort untuk menganalisis kenyamanan berdasarkan kecepatan angin. Penelitian dilakukan dengan empat tahapan, yaitu : (1) persiapan dan survei lokasi penelitian, (2) pengumpulan data, (3) pengolahan data dan analisis, dan (4) perumusan rekomendasi.
Penelitian ini mengukur unsur-unsur iklim dan menganalisis karakteristik struktural pada struktur RTH yaitu pohon, semak, dan lawn/rumput. Alat yang digunakan yaitu seperangkat Mini Microclimate Station HeavyWeather sebagai alat ukur iklim. Unsur iklim yang dilakukan pengukuran yaitu suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin. Dengan membagi KRC menjadi tiga lokasi berdasarkan radius yakni Lokasi 1 (pusat KRC), Lokasi 2 (tengah KRC), dan Lokasi 3 (tepi KRC). Berdasarkan hasil pengukuran suhu udara pada tiga struktur RTH di tiga lokasi didapatkan urutan perbandingan yang berbeda-beda.
Pada Lokasi 1 memiliki perbandingan nilai suhu udara antar struktur RTH sebagai berikut: pohon (25,2 C) < semak (25,3 C) < lawn/rumput (25,8 C). Pada Lokasi 2, pohon (24,2 C) < semak (26,5 C) < lawn/rumput (29,6 C). Begitu juga pada Lokasi 3, pohon (24,4 C) < semak (28,3 C) < lawn/rumput (32,1 C). Jika dilihat berdasarkan hasil pengukuran suhu udara secara keseluruhan menunjukkan bahwa pohon memiliki suhu udara paling rendah dibandingkan semak dan
lawn/rumput, hal tersebut dapat diperkirakan karena pohon memiliki naungan yang dapat mereduksi suhu udara lebih besar dibandingkan struktur RTH lainnya. Pada hasil pengukuran kelembaban udara, hasil yang didapatkan berbanding terbalik dengan suhu udara seperti teori yang menyatakan bahwa suhu udara berbanding terbalik dengan kelembaban udara (Handoko, 1994). Dari pengukuran suhu udara dan kelembaban udara dilakukan analisis kenyamanan dengan perhitungan THI. Berdasarkan perhitungan tersebut, seluruh lokasi masih pada kategori nyaman untuk manusia karena nilai THI dibawah 27 (Laurie, 1986). Namun terdapat dua titik yang masuk pada kategori tidak nyaman yaitu pada lawn/rumput di Lokasi 2 & 3.
Selain itu, unsur iklim yang diukur yaitu kecepatan angin. Hasil pengukuran pada tiga lokasi yaitu dengan perbandingan antar struktur RTH sebagai berikut pada Lokasi 1, semak (0,3 m/s) < pohon (0,4 m/s) < lawn/rumput (0,6 m/s), Lokasi 2 dengan lawn/rumput (0,1 m/s) < semak (0,5 m/s) < pohon (0,7 m/s), sedangkan Lokasi 3 : pohon dan semak (0,2 m/s) < lawn/rumput (0,3 m/s). Setelah itu kecepatan angin tersebut dianalisis menggunakan Skala Beaufort dan sebagian besar masuk pada kategori tenang di KRC masih pada batas nyaman dan aman manusia.
Berdasarkan analisis pengaruh struktur RTH terhadap iklim mikro, analisis tersebut dilakukan dengan melihat pengaruhnya berdasarkan karakteristik struktural yaitu bentuk tajuk, tinggi, penanaman, dan kepadatan tajuk dari setiap strukturnya. Berdasarkan analisis tersebut, dihasilkan bahwa pada pohon di tiga lokasi dengan dominasi bentuk tajuk piramidal, penanaman tunggal, dan kepadatan tajuk sedang, maka pohon-pohon tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam menciptakan kondisi iklim mikro yang nyaman pada RTH. Pada struktur semak, analisis karakteristik struktural tersebut dilakukan sama seperti pohon. Dominasi bentuk tajuk piramidal, bulat, dan horisontal, penanaman tunggal, dan kepadatan tajuk yang cukup padat, maka dihasilkan semak-semak sama seperti pohon memiliki pengaruh yang cukup baik dalam menciptakan kenyamanan. Sementara itu, lawn/rumput tidak memiliki kemampuan yang baik dalam iklim mikro kecuali dengan pengaruh lingkungan sekitar lokasi.
Tahap akhir setelah dilakukan analisis yaitu rekomendasi. Rekomendasi yang dibuat yaitu berdasarkan hasil analisis yang disesuaikan untuk menciptakan iklim mikro yang nyaman pada RTH. Setelah dilakukan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa setiap struktur RTH memiliki pengaruh yang berbeda-beda dalam menciptakan iklim mikro yang nyaman.
Kata Kunci: Ruang Terbuka Hijau, Iklim Mikro, Kebun Raya, Struktur Ruang Terbuka Hijau.
® Hak Cipta Milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.
PENGARUH RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP IKLIM MIKRO (Studi Kasus Kebun Raya Cibodas, Cianjur)
PIRKA SETIAWATI
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada
Departemen Arsitektur Lanskap
DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul : Pengaruh Ruang Terbuka Hijau Terhadap Iklim Mikro (Studi Kasus Kebun Raya Cibodas, Cianjur)
Nama : Pirka Setiawati
NRP : A44070010
Departemen : Arsitektur Lanskap
Disetujui, Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Alinda F. M. Zain, MSi NIP. 19660126 199103 2 002
Diketahui,
Ketua Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Siti Nurisjah, MSLA NIP. 19480912 197412 2 001
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “Pengaruh Ruang Terbuka Hijau Terhadap Iklim Mikro (Studi Kasus di Kebun Raya Cibodas, Cianjur)”. Skripsi ini dibuat berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis di Kebun Raya Cibodas dan merupakan salah satu syarat memperoleh gelar sarjana dari Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada pihak-pihak yang telah memberikan motivasi, saran, dan nasehat yang membantu penulis kepada :
1. keluarga besar penulis khususnya kedua orang tua;
2. Dr. Ir. Alinda F. M. Zain, MSi selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, masukan, dan arahannya selama perkuliahan hingga penyusunan skripsi ini;
3. Ir. Qodarian Pramukanto, MSi selaku dosen pembimbing akademik; 4. peneliti dan staf Kebun Raya Cibodas khususnya Bapak Agus
Darmawan selaku pembimbing lapang selama penelitian;
5. teman satu bimbingan skripsi yaitu Prita Permatasari dan Dimas Musa Wiguna
6. Dewi Kurniati dan Prinsa Paruna yang telah banyak membantu dalam penyusunan dan seluruh ARL 44;
7. special thanks for Yusuf Iskandarsyah;
8. Dan seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis, Kebun Raya Cibodas maupun pihak-pihak lainnya yang memerlukan.
Bogor, Februari 2012
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 5 Juni 1990. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari Ayahanda Suhendar dan Ibunda Siti Aisyah.
Penulis memulai pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) di TK Insan Kamil Bogor pada tahun 1995 dan menyelesaikannya pada tahun 1996. Pada tahun 2002 penulis lulus dari SD Insan Kamil Bogor. Kemudian pada tahun 2005 penulis menyelesaikan studi di SMP Insan Kamil Bogor. Selanjutnya pada tahun 2007 penulis lulus SMA Insan Kamil Bogor.
Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2007 melalui jalur USMI sebagai mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Selanjutnya tahun 2008, penulis mulai pendidikan sebagai mahasiswa Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian.
Selama menjadi mahasiswa penulis juga mengikuti beberapa kegiatan dengan menjadi panitia di beberapa acara antara lain dalam acara Masa Perkenalan Departemen (MPD) tahun 2009, The International Symposium of Green City tahun 2009, Workshop Nasional Mahasiswa Arsitektur Lanskap tahun 2010, dan Workshop Green City tahun 2011. Penulis juga menjadi asisten mahasiswa Mata Kuliah Analisis Tapak tahun 2011.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL...xiii
DAFTAR GAMBAR... ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN... ... xvi
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... .. 1 1.2 Perumusan Masalah ... . 2 1.3 Tujuan... ... 2 1.4 Hipotesis ... 2 1.5 Manfaat... . 3 1.6 Kerangka pikir... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ruang Terbuka Hijau (RTH)... 5
2.2 Kebun Raya ... 7
2.3 Iklim dan Iklim Mikro ... 7
2.4 Unsur-Unsur Iklim Mikro ... 8
2.5 Kenyamanan ... 12
2.6 Pengaruh RTH Terhadap Iklim Mikro... 13
III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian... . 15
3.2 Batasan Penelitian... .. 16
3.3 Alat dan Bahan ... 16
3.4 Metode dan Tahapan Penelitian... 17
IV. KONDISI UMUM 4.1 Sejarah Kebun Raya ... 31
4.2 Keadaan Fisik Kebun Raya ... 31
4.3 Fungsi Kebun Raya ... 32
4.4 Penggunaan Area Kebun Raya... 33
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisis Pengaruh RTH Terhadap Iklim Mikro ... 43
5.1.1 Analisis Pengaruh Struktur RTH Pohon Terhadap Iklim Mikro ... 43
5.1.2 Analisis Pengaruh Struktur RTH Semak Terhadap Iklim Mikro ... 51
5.1.3 Analisis Pengaruh Struktur RTH Rumput Terhadap Iklim Mikro... 59
5.1.4 Analisis Pengaruh Berbagai Struktur RTH Terhadap Suhu Udara ... 65
5.1.5 Analisis Pengaruh Berbagai Struktur RTH Terhadap Kelembaban Udara ... 71
5.1.6 Analisis Pengaruh Berbagai Struktur RTH Terhadap Kecepatan Angin ... 75
5.2 Analisis Kenyamanan... ... 78
5.2.1 Analisis Kenyamanan Berdasarkan Nilai Temperature Humidity Index (THI)...78
5.2.2 Analisis Kenyamanan Berdasarkan Skala Beaufort ... 81
VI. SIMPULAN DAN SARAN... ... 83
6.1 Simpulan ... ... 83
6.2 Saran... .. 84
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Jenis dan Fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH)... 6
Tabel 2 Alat dan Bahan Penelitian...16
Tabel 3 Data yang Dibutuhkan untuk Penelitian...18
Tabel 4 Teknik Pengambilan Data... ... 23
Tabel 5 Parameter Analisis Pengaruh Struktur RTH Terhadap Suhu Udara.... ... 26
Tabel 6 Parameter Analisis Pengaruh Struktur RTH Terhadap Kelembaban Udara... ... 27
Tabel 7 Parameter Analisis Pengaruh Struktur RTH Terhadap Kecepatan Angin... ... 27
Tabel 8 Skala Beaufort... ... 29
Tabel 9 Analisis Karakteristik Struktural Pohon ... ... 47
Tabel 10 Analisis Karakteristik Struktural Semak... ... 55
Tabel 11 Analisis Karakteristik Struktural Lawn/Rumput... ... 63
Tabel 12 Hasil Pengukuran Lapang Unsur Iklim Suhu Udara... ... 66
Tabel 13 Hasil Perhitungan Selisih Suhu Udara... ... 70
Tabel 14 Hasil Pengukuran Lapang Unsur Iklim Kelembaban Udara... ... 71
Tabel 15 Hasil Pengukuran Lapang Unsur Iklim Kecepatan Angin... . 75
Tabel 16 Nilai THI Berdasarkan Data Pengukuran Lapang ... .. 79
Tabel 17 Nilai THI Berdasarkan Data Pengelola KRC ... 80
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 Kerangka Pikir Penelitian... 4
Gambar 2 Peta Lokasi Penelitian... 15
Gambar 3 Seperangkat Alat Mini Microclimate Station HeavyWeather ... 17
Gambar 4 Bagan lokasi pengambilan data iklim mikro... . 20
Gambar 5 Teknik Menentukan Titik-Titik Pengukuran... 23
Gambar 6 Tampilan Softwear yang Digunakan... 25
Gambar 7 Bagan Alur Tahapan Penelitian... 30
Gambar 8 Titik-Titik Lokasi Pengambilan Data ... 37
Gambar 9 Titik-Titik Pengambilan Data Lokasi 1 ... 39
Gambar 10 Titik-Titik Pengambilan Data Lokasi 2 ... 41
Gambar 11 Titik-Titik Pengambilan Data Lokasi 3 ... 42
Gambar 12 Grafik Suhu Pada Pohon Antar Lokasi...44
Gambar 13 Grafik Kelembaban Pada Pohon Antar Lokasi ... 45
Gambar 14 Grafik Kecepatan Angin Pada Pohon Antar Lokasi ...46
Gambar 15 Grafik Suhu Pada Semak Antar Lokasi...52
Gambar 16 Grafik Kelembaban Pada Semak Antar Lokasi...53
Gambar 17 Grafik Kecepatan Angin Pada Semak Antar Lokasi...54
Gambar 18 Grafik Perbandingan Suhu Pada Lawn Antar Lokasi ... 60
Gambar 19 Grafik Kelembaban Pada Lawn Antar Lokasi ...61
Gambar 20 Grafik Kecepatan Angin Pada Lawn Antar Lokasi...62
Gambar 21 Grafik Suhu Pada Lokasi 1... ... 66
Gambar 22 Grafik Suhu Pada Lokasi 2... ... 67
Gambar 23 Grafik Suhu Pada Lokasi 3... 68
Gambar 24 Grafik Kelembaban Pada Lokasi 1... 72
Gambar 25 Grafik Kelembaban Pada Lokasi 2... 73
Gambar 26 Grafik Kelembaban Pada Lokasi 3... 74
Gambar 27 Grafik Kecepatan Angin Pada Lokasi 1 ... 76
Gambar 28 Grafik Kecepatan Angin Pada Lokasi 2 ... 77
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pesatnya pertumbuhan populasi dari tahun ke tahun semakin bertambah, Seiring pertambahan tersebut aktivitas manusia di bumi pun ikut meningkat. Aktivitas-aktivitas ini membutuhkan ruang tidak sedikit, yang mengakibatkan banyak pengalihfungsian lahan dari ruang terbuka hijau menjadi lahan terbangun, sehingga proporsi ruang terbuka hijau semakin berkurang. Padahal proporsi pembagian ruang di Indonesia sudah diatur oleh undang-undang. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang, pada pasal 29 menyatakan bahwa Ruang Terbuka Hijau (RTH) terdiri dari ruang terbuka publik dan ruang terbuka privat dengan proporsi RTH pada wilayah kota minimal 30% (tiga puluh persen) dari luas wilayah kota, yang terdiri dari 20% RTH publik dan 10% RTH privat dan sisanya merupakan ruang terbangun.
RTH memiliki fungsi ekologis dan estetis. Fungsi ekologis RTH yaitu menciptakan iklim mikro yang nyaman, menyerap air hujan, dan memelihara ekosistem. RTH memiliki elemen utama berupa tanaman. Tanaman memiliki kemampuan untuk melakukan evapotranspirasi yang menyebabkan penurunan suhu. Semakin banyak jumlah dan jenis tanaman yang terdapat di suatu RTH, maka semakin meningkatkan kemampuan RTH dalam menanggulangi permasalahan lingkungan yang terkait dengan unsur-unsur iklim mikro seperti suhu udara, kelembaban udara, curah hujan, radiasi, dan angin. RTH pada perkotaan perlu dipertahankan keberadaannya agar dapat memberikan kenyamanan bagi manusia. Fungsi estetis RTH antara lain dapat menghasilkan keindahan dan melembutkan arsitektur bangunan (Mamiri, 2008).
Menurut Purnomohadi (2002) RTH yang ditumbuhi tanaman dapat berfungsi memberikan kesejukan dan kenyamanan. Fungsi dari tanaman bergantung pada karakteristik tanaman tersebut, misal pohon dengan tajuk berbeda maka menghasilkan suhu udara, kelembaban udara, menyerap sinar matahari yang berbeda pula. Struktur tanaman sangat menentukan kondisi iklim mikro sekitarnya. Salah satu bentuk RTH di wilayah perkotaan adalah kebun raya.
Kebun raya merupakan tempat yang memiliki berbagai macam varietas tumbuhan yang ditanam untuk tujuan kegiatan penelitian, pendidikan, dan tujuan ornamental (Mamiri, 2008). Kebun Raya Cibodas yang merupakan salah satu kebun raya yang berada di Indonesia, bagian dari RTH kota Cianjur yang terletak di Kompleks Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Kecamatan Pacet, Cianjur.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh RTH terhadap iklim mikro pada Kebun Raya Cibodas, selain itu, penelitian ini merupakan bagian riset mengenai iklim mikro pada beberapa RTH dengan ketinggian di atas permukaan laut yang berbeda.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Apakah terdapat perbedaan suhu udara pada struktur RTH yang berbeda; 2) Apakah terdapat perbedaan kelembaban udara pada struktur RTH yang
berbeda;
3) Apakah terdapat perbedaan kecepatan angin pada struktur RTH yang berbeda;
1.3 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk
1) Melakukan pengukuran iklim mikro pada struktur RTH yang berbeda di Kebun Raya Cibodas.
2) Mengetahui pengaruh struktur RTH terhadap iklim mikro.
1.4 Hipotesis
Berdasarkan uraian tersebut di atas, terdapat pengaruh nyata setiap struktur RTH (pohon, semak, dan rumput) terhadap suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin, maka hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.
1) Suhu udara struktur pohon < struktur semak < struktur rumput.
2) Kelembaban udara struktur pohon > struktur semak > struktur rumput. 3) Kecepatan angin struktur pohon < struktur semak < struktur rumput.
1.5 Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk kita mengenai pentingnya menentukan struktur RTH yang sesuai untuk memperbaiki kualitas iklim mikro dengan memperbaiki kualitas RTHnya. Selain itu, memberikan rekomendasi untuk pengelola Kebun Raya Cibodas.
1.6 Kerangka Pikir
Iklim di suatu kota dipengaruhi oleh suhu udara, angin, kelembaban udara, curah hujan, dan radiasi matahari. Ruang Terbuka Hijau kota merupakan elemen kota yang dapat mengameliorasi iklim dan memberikan kenyamanan. Secara kuantitatif, hubungan antara struktur RTH yang berbeda terhadap iklim mikro belum banyak diketahui sehingga diperlukan pengukuran iklim mikro pada berbagai struktur RTH. Data hasil pengukuran iklim mikro selanjutnya dianalisis untuk diketahui tingkat kenyamanannya serta hubungannya dengan berbagai struktur RTH (Gambar 1).
Gambar 1 Kerangka Pikir Penelitian
Diketahui Pengaruh Struktur RTH berbeda Analisis
Data Iklim Mikro
Pengukuran Iklim Mikro : Suhu Udara, Kelembaban Udara, dan Kecepatan Angin Pada Pohon, Semak, dan Lawn/Rumput Menggunakan Alat Ukur Digital
(Mini Microclimate Station HeavyWeather)
Rekomendasi
Kebun Raya Cibodas Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Memperbaiki Iklim Mikro
Memiliki Berbagai Struktur
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka hijau adalah area memanjang baik berupa jalur maupun mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, sebagai tempat tumbuhnya vegetasi-vegetasi, baik yang sudah tumbuh secara alami maupun yang sengaja ditanam. Ruang terbuka hijau kota merupakan bagian dari penataan ruang perkotaan yang berfungsi sebagai kawasan lindung atau konservasi. Ruang terbuka hijau diklasifikasikan berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan bentuk dan struktur vegetasinya (Fandeli, 2009).
` Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dinyatakan bahwa RTH memiliki proporsi 30% dari luas wilayah kota. Tujuan pembentukan RTH di wilayah perkotaan menurut Permendagri No.1 Tahun 2007 Pasal 2 dijelaskan, yaitu :
1) menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan. 2) mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan
buatan di perkotaan.
3) meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih dan nyaman.
RTH memiliki fungsi utama yaitu fungsi bio-ekologis dan fungsi tambahan yakni fungsi arsitektural, sosial, dan ekonomi. Berlangsungnya fungsi ekologis alami dalam lingkungan perkotaan secara seimbang dan lestari akan membentuk kota yang sehat dan manusiawi (Purnomuhadi, 2006). Sedangkan menurut Simond (1983) fungsi dari RTH antara lain : (1) sebagai penjaga kualitas lingkungan, (2) sebagai penyumbang ruang nafas yang segar dan keindahan visual, (3) sebagai paru-paru kota, (4) sebagai penyangga sumber air tanah, (5) mencegah erosi, dan (6) unsur dan sarana pendidikan.
Berdasarkan bobot kealamiannya, bentuk RTH dapat diklasifikasikan menjadi (a) bentuk RTH alami (habitat liar/alami, kawasan lindung) dan (b) bentuk RTH non alami atau RTH binaan (pertanian kota, pertamanan kota, lapangan olahraga, dan pemakaman), sedangkan berdasarkan sifat dan karakter
ekologisnya RTH diklasifikasikan menjadi (a) bentuk RTH kawasan (areal, non linier), dan (b) bentuk RTH jalur (koridor, linier). Kemudian berdasarkan penggunaan lahan atau kawasan fungsionalnya, RTH diklasifikasikan menjadi (a) RTH kawasan perdagangan, (b) RTH kawasan perindustrian, (c) RTH kawasan permukiman, (d) RTH kawasan pertanian, dan (e) RTH kawasan-kawasan khusus, seperti pemakaman, pertahanan dan keamanan, olahraga, dan alamiah (Laboratorium Perencanaan Lanskap Departemen Arsitektur Lanskap, 2005 dalam Listyanti,2009). Setiap jenis RTH memiliki fungsi masing-masing secara lebih spesifik pada lahan dan ruang yang berperan penting bagi kehidupan sekitar (Tabel 1).
Tabel 1 Jenis dan Fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Jenis RTH
Fungsi Lahan Ruang
Ekologis Habitat, resapan air, keseimbangan ekosistem
Mengurangi pencemaran, meredam kebisingan, memperbaiki iklim mikro, penyangga kehidupan Estetika Tajuk, tegakan, pengarah,
pengaman, pengisi dan pengalas
Keindahan, keserasian, nuansa
Pelayanan umum Pelindung, penyangga, pemakaman
Kenikmatan, pendidikan, kesenangan, kesehatan, interaksi. Ekonomi, kenyamanan
Konservasi Pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan plasma nutfah, keanekaragaman hayati, penelitian
Pelayanan masyarakat dan penyangga lingkungan kota
Produksi Peningkatan produktivitas
budidaya pertanian dan kehutanan
Kenyamanan spasial, visual, audial dan thermal
Seiring dengan adanya peraturan-peraturan tentang pemenuhan RTH kota, kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kesegaran udara, kenyamanan serta keindahan maka RTH berupa taman banyak dibangun. Beberapa lokasi dalam kota diantaranya hotel, tempat wisata, pusat-pusat perbelanjaan, kawasan industri, jalur hijau jalan dan ditengah persimpangan jalan (traffic island), serta daerah penyangga dalam bentuk taman kota (city park), hutan kota (urban forest), maupun hanya sekedar sabuk hijau (green belt) (Nazarudin, 1996).
2.2 Kebun Raya
Kebun raya didefinisikan sebagai suatu kawasan yang mengkoleksi berbagai jenis tumbuhan dengan dasar ilmiah, informasi ilmiah yang terdokumentasi dengan baik mengenai koleksi tumbuhan-tumbuhan tersebut. Selain itu kebun raya juga didefinisikan sebagai lembaga independen, badan pemerintahan, atau suatu badan yang berkerja sama dengan institusi pendidikan dan universitas (LIPI, 2010). Menurut Pushpangadan dalam Mamiri (2008) botanic garden memegang peranan dalam konservasi spesies tumbuhan yang langka dan terancam punah. Fungsi kebun raya menurut PPRI No. 39 tahun 2002 ialah sebagai tempat konservasi ex-situ, tempat penelitian, tempat pendidikan lingkungan, dan tempat wisata.
2.3 Iklim dan Iklim Mikro
Cuaca adalah gambaran kondisi fisik atmosfir (kelembaban udara, suhu udara, tekanan dan angin) yang mempunyai peran penting membentuk ekosistem. Iklim merupakan gambaran pola cuaca jangka panjang pada kawasan tertentu. Cuaca dan iklim sangat penting tidak hanya karena mempengaruhi aktivitas manusia, tetapi juga menentukan distribusi biomas dan ekosistem. Iklim merupakan kerja sama dari seluruh elemen fisik sebagai suatu sistem ekologi (Simonds, 2006).
Berdasarkan luas wilayah, iklim dapat dipilah menjadi iklim makro, iklim meso, dan iklim mikro. Iklim makro memiliki jangkauan wilayah yang sangat luas, meliputi luasan satu zona iklim, kontinen, sampai pada bumi secara keseluruhan (global). Iklim meso mengkaji tentang variasi dan dinamika iklim dalam satu satuan zona iklim (intra-zona iklim). Sementara variasi dalam skala terkecil termasuk dalam cakupan iklim mikro, misalnya keadaan udara sekitar atau di bawah kanopi pohon, atau keadaan udara di dalam rumah kaca (Lakitan, 1994).
Iklim mikro menurut Tromp (1980) dalam Margaretha (2007) berhubungan dengan tanaman di atas wilayah yang khas. Iklim mikro menggambarkan kondisi iklim lingkungan sekitar yang berhubungan langsung
dengan organisme hidup dekat permukaan bumi maupun pada lingkungan terbatas. Dalam Kartasapoetra (2006), menjelaskan bahwa kondisi iklim mikro di lingkungan bervegetasi lebih baik dibandingkan dengan lapangan terbuka.
Dalam Brown dan Gillespie (1995), dinyatakan bahwa iklim mikro merupakan kondisi iklim pada suatu ruang yang sangat terbatas (kecil), yang dipengaruhi oleh radiasi matahari, suhu udara, kelembaban udara dan curah hujan. Unsur-unsur iklim mikro memiliki peranan yang penting dalam menentukan kenyamanan suatu wilayah/kawasan karena unsur-unsur iklim tersebut secara langsung mempengaruhi kegiatan/aktivitas manusia yang berada di dalamnya. Menurut Laurie (1986) iklim ideal bagi manusia adalah udara yang bersih dengan suhu udara kurang lebih 27 C sampai dengan 28 C, dan kelembaban udara antara 40% sampai dengan 75%, udara yang tidak terperangkap dan tidak berupa angin kencang, serta keterlindungan terhadap hujan.
Menurut Miller (1970) dalam Margaretha (2007) menyatakan bahwa iklim mikro banyak dipengaruhi oleh faktor lokal diantaranya karakteristik vegetasi, badan air yang kecil seperti danau, juga aktivitas manusia dapat mengubah kemurnian pada iklim mikro pada udara dan permukaan. Beberapa faktor pengendali iklim mikro diantaranya intensitas energi radiasi matahari, albedo permukaan yang bervariasi dengan warna komposit dan karakteristiknya ada permukaan bumi, distribusi daratan atau lautan dan pengaruh pegunungan atau bentuk topografi dan angin.
Unsur-unsur iklim mikro terdiri dari penerimaan radiasi matahari, suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan dan arah angin. Unsur-unsur iklim tersebut mudah terpengaruh oleh perubahan pemanasan dan pendinginan permukaan tanah dan tumbuhan sekitar (Handoko, 1995).
2.4 Unsur-Unsur Iklim Mikro
Iklim merupakan kebiasaan alam yang digerakkan oleh gabungan beberapa unsur, yaitu radiasi matahari, suhu udara, kelembaban udara, awan, presifikasi, evaporasi, tekanan udara, dan angin. Unsur-unsur iklim ini berbeda pada tempat yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu disebabkan karen adanya faktor iklim atau disebut juga dengan pengendali iklim, yaitu: (1)
ketinggian tempat, (2) latitude/ garis lintang, (3) daerah tekanan, (4) arus laut, dan (5) permukaan tanah (Kartasapoetra, 2006). Dalam Brown dan Gillespie (1995), dinyatakan bahwa unsur-unsur iklim memiliki peranan yang penting, dalam menentukan kenyamanan suatu wilayah/kawasan. Unsur-unsur iklim mikro yang mempengaruhi kenyamanan manusia sebagai berikut.
2.4.1 Suhu Udara
Suhu udara merupakan gambaran umum keadaan energi suatu benda. Namun, tidak semua bentuk energi yang dikandung suatu benda dapat diwakili oleh suhu udara, seperti energi kinetik. Suhu udara dikatakan sebagai derajat panas atau dingin yang diukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan termometer dan merupakan unsur iklim yang sangat penting. Suhu udara ini berubah sesuai dengan tempat dan waktu (Wikipedia, 2011). Suhu udara akan berfluktuasi dengan nyata selama setiap periode 24 jam (variasi diurnal). Fluktuasi suhu udara berkaitan erat dengan proses pertukaran energi yang berlangsung di atmosfer. Serapan energi radiasi matahari oleh bumi akan menyebabkan suhu udara meningkat. Pada variasi diurnal, suhu maksimum tercapai beberapa saat setelah radiasi maksimum.
Suhu dipermukaan dipengaruhi oleh beberapa faktor: (1) jumlah radiasi yang diterima per tahun, per hari, dan per musim; (2) pengaruh daratan atau lautan; (3) pengaruh ketinggian tempat, Braak memberikan rumusan sebagai berikut: makin tinggi suatu tempat dari permukaan laut maka suhu akan semakin rendah; (4) pengaruh angin secara tidak langsung; (5) tipe tutupan lahan, tanah yang ditutupi vegetasi yang memiliki suhu udara lebih rendah daripada tanah tanpa vegetasi; (6) pengaruh panas laten, yaitu panas yang disimpan dalam atmosfer; (7) tipe tanah, tanah yang gelap indeks suhunya lebih tinggi; (8) pengaruh sudut datang sinar matahari, sinar yang tegak lurus akan membuat suhu udara lebih panas daripada yang datangnya miring (Prawirowardoyo, 1996 dan Kartosapoetra, 2006).
Suhu udara menggambarkan panas dinginnya suatu benda. Menurut Handoko (1995), suhu udara sangat erat berhubungan dengan radiasi matahari. Pada siang hari radiasi terlebih dahulu akan memanaskan tajuk bagian atas
kemudian makin ke bawah dan akhirnya lantai hutan. Pada malam hari pendinginan dimulai dari tajuk bagian atas dan akhirnya lantai hutan sehingga suhu udara terendah terdapat pada tajuk bagian atas dimana panas yang hilang relatif lebih besar daripada bagian hutan lainnya. Oleh sebab itu, tajuk hutan bagian atas merupakan suatu permukaan radiasi yang aktif. Pada umumnya, daerah bervegetasi yang tumbuh baik mampu menekan suhu udara rata-rata tahunan sebesar 1 C sampai 2 C. Fluktuasi suhu udara harian di daerah yang bervegetasi sangat rapat akan jauh lebih kecil dibandingkan daerah terbuka.
T rata-rata harian = (2T07.30+T13.30+T17.30)/4
T : suhu
Di daerah tropis, manusia akan merasa relatif nyaman jika berada pada suhu udara sekitar 27-28 C. Suhu udara yang cukup panas pada suatu area selain karena radiasi matahari yang tinggi yaitu rata-rata 50%, juga karena pantulan dari perkerasan jalan, bangunan maupun pantulan perkerasan lainnya yang ada pada tapak (Laurie, 1986).
2.4.2 Kelembaban Udara
Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara. Menurut Handoko (1995), kelembaban udara dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi, maupun defisit tekanan uap air. Tekanan uap jenuh tergantung suhu udara, dimana semakin tinggi suhu udara maka kapasitas untuk menampung uap air dan kelembaban udara rendah. Kelembaban udara juga berhubungan dengan keseimbangan energi, karena merupakan ukuran banyaknya energi radiasi berupa bahang laten yang dipakai untuk menguapkan air terdapat di permukaan yang menerima radiasi. Makin banyak air yang diuapkan makin lembab udaranya (Lakitan,1994).
Kelembaban udara yaitu banyaknya kadar uap air yang ada di udara. Angka kelembaban relatif berkisar antara 0-100%, dimana 0% artinya udara kering, sedangkan 100% artinya udara jenuh dengan uap air, dimana akan terjadi titik-titik air. Keadaan kelembaban yang tertinggi ada di khatulistiwa, sedangkan yang terendah pada lintang 40 C, yang curah hujannya relatif kecil (Prawirowardoyo, 1996).
Keterkaitan suhu udara dan kelembaban udara berhubungan dengan pengembangan dan pengerutan udara. Semakin tinggi suhu udara, kapasitas udara menampung uap air persatuan volume udara juga semakin besar. Oleh sebab itu, pada tekanan uap aktual yang tetap, kelembaban udara (RH) akan lebih kecil bila suhu udara meningkat dan akan menurun jika suhu udara turun. RH mencapai maksimum pada pagi hari sebelum matahari terbit, yang dapat menyebabkan proses pengembunan bila udara bersentuhan dengan bidang atau permukaan yang suhu udaranya lebih rendah dari suhu udara titik embun (Handoko, 1995).
Perubahan kelembaban udara tidak terlalu jelas karena suhu harian yang juga sangat kecil. Besarnya kelembaban udara relatif suatu area merupakan faktor yang dapat menstimulasi curah hujan. Di Indonesia, kelembaban udara relatif rata-rata harian atau bulanan relatif tetap sepanjang tahun, dengan kelembaban udara relatif tertinggi pada musim hujan dan terendah pada musim kemarau. Kelembaban udara relatif yang tinggi merupakan suatu kondisi lingkungan yang tidak nyaman bagi manusia. Kelembaban udara relatif yang ideal dimana manusia dapat beraktivitas dengan nyaman adalah sekitar 40-75% (Laurie, 1989). Pada dasarnya manusia lebih toleran terhadap kelembaban udara relatif yang lebih tinggi daripada terhadap suhu udara yang tinggi.
Walaupun peningkatan kelembaban udara di daerah tropis menyebabkan kenyamanan manusia berkurang, namun gerakan air akan menimbulkan kesejukan dari segi psikologis. Posisi suatu area terhadap elemen air mempengaruhi efek penyejukan air terhadap iklim mikro area tersebut, dimana area yang terletak pada sisi arah datangnya angin dari danau tidak akan mendapatkan keuntungan dari efek penyejukan oleh angin yang bertiup melintasi danau (Brooks, 1988). Elemen penutup permukaan lahan yang berbeda sifatnya akan memberikan tingkat kelembaban udara yang berbeda pula. Pepohonan dapat meningkatkan kelembaban udara relatif lingkungan yang dinaunginya dan diperlukan untuk memberikan keteduhan yang dapat menurunkan suhu udara lingkungan (Lakitan, 1994).
2.4.3 Angin
Angin merupakan gerakan atau perpindahan massa udara dari satu tempat ke tempat yang lain secara horizontal. Massa udara adalah udara dalam ukuran yang sangat besar yang mempunyai sifat fisik (suhu udara dan kelembaban udara) yang seragam dalam arah yang horizontal (Kartasapoetra, 2006). Namun menurut Lakitan (1994) angin dapat bergerak secara horizontal maupun vertikal dengan kecepatan yang bervariasi dan berfluktuasi secara dinamis. Faktor pendorong bergeraknya massa udara adalah perbedaan tekanan udara antara satu tempat dengan tempat lainnya. Angin selalu bertiup dari tempat dengan tekanan udara tinggi ke tempat dengan tekanan udara yang lebih rendah.
2.5 Kenyamanan
Kenyamanan merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan pengaruh keadaan lingkungan fisik atmosfer atau iklim terhadap manusia. Kondisi yang nyaman adalah kondisi dimana sebagian besar energi manusia dibebaskan untuk kerja produktif, yang berhubungan dengan usaha pengaturan suhu tubuh yang minimum. Kondisi nyaman menunjukan keadaan yang bervariasi untuk setiap individu, sehingga kenyamanan bersifat subyektif dan berhubungan dengan keadaan tingkat aktivitas, pakaian, suhu udara, kecepatan angin, rata-rata suhu pancaran radiasi dan kelembaban udara (Gates, 1972).
Menurut Lakitan (1994), kenyamanan suatu daerah juga sangat dipengaruhi oleh iklim mikro setempat, karena secara langsung unsur-unsur iklim akan terlibat dalam aktivitas dan metabolisme manusia yang ada di dalamnya. Namun untuk menentukan tingkat kenyamanan suatu daerah, kita tidak dapat menggunakan semua parameter iklim secara langsung. Suhu udara dan kelembaban udara merupakan parameter iklim yang biasa digunakan dalam mempelajari masalah kenyamanan udara (Gates, 1972 dan Brooks, 1988) yang dinyatakan dalam bentuk “Indeks Suhu Kelembaban” atau Temperature Humidity Index (THI).
Menurut Laurie (1986) dinyatakan bahwa Indeks Kenyamanan dalam kondisi nyaman ideal berada pada kisaran THI 21-27. Nilai THI ini dipengaruhi oleh besarnya suhu udara ( C) dan kelembaban udara (%). Semakin tinggi suhu
udara maka kelembaban udara harus diturunkan untuk mendapatkan nilai THI yang sama, dan begitu pula sebaliknya.
Elemen lanskap yang banyak mempengaruhi kenyamanan di suatu tapak yaitu tanaman. Tanaman memberikan manfaat yang sangat besar bagi bumi. Tanaman dapat mengurangi sinar dan pantulannya, baik dari cahaya matahari maupun sinar lampu kendaraan, dan menutupi pemandangan yang tidak diinginkan, membentuk ruang yang pribadi, dan dapat menegaskan pandangan ke arah pemandangan yang diinginkan. Carpanter et al (1975) mengatakan tanaman dapat mengontrol radiasi matahari dan suhu tanaman mampu merubah dan memodifikasi suhu udara melalui pengontrolan radiasi matahari dengan proses evapotranspirasi. Tanaman memberikan keteduhan dengan adanya efek bayangan yang dapat melindungi pengguna suatu tapak dari panas matahari dan menyaring radiasi matahari 60% - 90%, serta dapat mempercepat hilangnya radiasi yang diserap. Dengan fungsinya ini, tanaman dapat menciptakan rasa nyaman pada suatu tapak.
Menurut Vitasari (2004), pohon yang baik dalam memberikan naungan adalah pohon yang memiliki kriteria tinggi sedang yaitu < 15 meter, bentuk tajuk spreading, globular, dome, irigular, dan piramida. Daun memiliki kerapatan yang tinggi dengan massa daun padat, percabangan 5 meter di atas tanah, serta ditanam secara kontinyu agar mendapatkan hasil yang maksimal. Menurut Simonds (1983), pohon yang memiliki batas kanopi yang tinggi berguna untuk menangkap radiasi matahari. Kriteria tanaman yang dapat digunakan untuk menghalangi sinar matahari dan menurunkan suhu yaitu :
a) memiliki tajuk yang lebar
b) bentuk daun lebar dengan kerapatan tinggi c) ketinggian kanopi lebih dari 2 meter .
2.6 Pengaruh RTH Terhadap Iklim Mikro
RTH di kota memiliki tiga manfaat sekaligus yakni ekologis, estetika, dan sosial. RTH sangat penting, mengingat tumbuh-tumbuhan mempunyai peranan sangat penting dalam alam, yaitu dapat dikategorikan menjadi fungsi lanskap (sosial dan fisik), fungsi lingkungan (ekologi) dan fungsi estetika (keindahan).
Akan tetapi keberadaan RTH di kota yang memenuhi persyaratan jumlah dan kualitas akan menurunkan kenyamanan kota karena terjadi penuruanan kapasitas dan daya dukung wilayah. Selain memperluas RTH, apabila Pemerintah kota dapat mengembangkan dan membangun RTH yang berstruktur dengan keanekaragam tumbuhan dan jumlah yang banyak serta ditata dengan baik. Dengan demikian, RTH tersebut dapat memenuhi tingkat kenyamanan yang dikehendaki, karena RTH dapat memodifikasi iklim mikro.
Kualitas RTH berkaitan dengan jumlah pepohonan yang rindang. Semakin banyak jumlah pohon yang rindang di perkotaan, maka radiasi matahari tidak langsung sampai ke bumi tetapi tertahan oleh tajuk pohon sehingga suhu udara disekitarnya menjadi menurun atau rendah yang memberikan kenyaman kepada masyarakat di sekitarnya. Perubahan iklim terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang cukup panjang antara 50-100 tahun. Walaupun terjadi terjadi secara perlahan, menurut Astani (2007) perubahan iklim memberikan dampak yang sangat besar pada kehidupan manusia. Sebagian besar wilayah menjadi panas, sementara bagian lainya akan berubah menjadi dingin. Kenyamanan menjadi faktor penting bagi penduduk dalam memilih tempat tinggal, sedangkan unsur-unsur iklim sangat menentukan kenyamanan. Faktor iklim yang berpengaruh pada kenyamanan diantaranya suhu udara, radiasi matahari, curah hujan, kelembaban udara, dan angin. Setiap kawasan memiliki nilai dari unsur-unsur iklim tersendiri tergantung pada kawasannya.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan penelitian ini yaitu dimulai pada bulan Maret 2011 sampai dengan bulan September 2011. Lokasi yang dipilih untuk melakukan penelitian adalah Kebun Raya Cibodas (KRC) yang berada di Desa Cimacan, Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat (Gambar 2).
Gambar 2 Lokasi Penelitian
Gambar 2 Peta Lokasi Penelitian
Sumber: www.google.com/jawabarat dan LIPI (Kebun Raya Cibodas)
Tanpa Skala U
3.2 Batasan Penelitian
Penelitian yang dilakukan di KRC hanya sebatas menganalisis pengaruh RTH terhadap iklim mikro dengan membandingkan data hasil pengukuran lapang secara berkala pada struktur RTH yang terdapat di KRC. Unsur iklim mikro yang yang diukur pun hanya tiga unsur seperti yang telah disebutkan pada kerangka pikir sebelumnya yaitu suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin. Selain itu, dilakukan analisis karakteristik struktural hanya pada setiap struktur RTH yang diukur iklim mikronya. Hasil dari penelitian ini yaitu dapat terlihatnya perbedaan iklim mikro pada area KRC yang dibedakan menjadi tiga lokasi sebagai perbandingan.
3.3 Alat dan Bahan
Pada penelitian ini alat dan bahan yang digunakan untuk pengambilan data, pengolahan dan analisis data serta untuk keperluan penyajian hasil, alat dan bahan tersebut yaitu (Tabel 2).
Tabel 2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat/Bahan Kegunaan
Tiga perangkat alat pengukur iklim mikro digital Mini Microclimate Station
HeavyWeather Tipe WS2355
Mengukur iklim mikro
Tiga Tripod kamera Meletakkan alat pengukur iklim mikro Kamera Digital Merekam kondisi lokasi pengambilan data Peta Kawasan KRC Data map awal dalam menuntun turun lapang AutoCad 2009 Menentukan titik pengambilan data
Software HeavyWeather Menampilkan data iklim mikro dari alat
Salah satu alat penting yang digunakan selama penelitian adalah alat pengukur iklim mikro digital Mini Microclimate Station HeavyWeather. Alat pengukur iklim mikro tersebut terdiri dari beberapa bagian seperti yang terlihat pada Gambar 3 yaitu alat pengukur kecepatan angin, alat pengukur suhu udara dan kelembaban udara, dan monitor sebagai perekam data.
Gambar 3 Seperangkat Alat Mini Microclimate Station HeavyWeather Tipe WS2355
3.4 Metode dan Tahapan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif yang digunakan terdiri dari dua yaitu deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk melihat dan membandingkan pengaruh antar struktur RTH yang telah diukur suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin berdasarkan hasil pengukuran dan karakteristik struktural. Dan metode kuantitatif digunakan dalam menganalisis kenyamanan berdasarkan
Layar Penampil Dan Penyimpan Data Pengukur Suhu dan
Kelembaban Pengukur Kecepatan dan
perhitungan suhu udara dan kelembaban udara untuk memperoleh nilai Temperature Humidity Index (THI) serta Skala Beaufort untuk menganalisis kenyamanan berdasarkan kecepatan angin.
Penelitian ini dilakukan dengan empat tahapan, yaitu : (1) persiapan dan survei lokasi penelitian, (2) pengumpulan data, (3) pengolahan data dan analisis, dan (4) perumusan rekomendasi.
3.4.1 Tahap Persiapan dan Survei Lokasi Penelitian
Tahap awal yang dilakukan untuk memulai penelitian yaitu melakukan perijinan kepada pengelola Kebun Raya Cibodas dengan menyerahkan surat ijin dari Departemen Arsitektur Lanskap IPB. Setelah menerima surat balasan bahwa diijinkan untuk melakukan penelitian, tahap selanjutnya yaitu survei untuk menentukan beberapa lokasi yang akan digunakan sebagai lokasi penelitian yang diawali dengan melihat peta lalu dilanjutkan dengan survei lapang sebagai tahap pengecekan lokasi (ground check), serta mempersiapkan alat yang akan digunakan. Persiapan alat berupa seperangkat alat Heavyweather dan alat pengolah data (perangkat keras dan perangkat lunak).
3.4.2 Tahap Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan tahapan pengambilan atau pengumpulan data yang telah ditentukan sebelumnya yaitu data unsur-unsur iklim dari setiap struktur RTH. Data-data yang diibutuhkan untuk penelitian didapatkan dari beberapa sumber seperti yang terlihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Data yang Dibutuhkan Saat Penelitian
Jenis Data Parameter Sumber
Lokasi Letak Kebun Raya Cibodas (KRC)
Luas KRC
Iklim -temperatur KRC, Lapang
-Kelembaban KRC, Lapang
-Kecepatan Angin KRC, Lapang
Vegetasi Nama Spesies dan
Presentase Penutupan
Langkah awal, sebelum dilakukan pengambilan data primer, pembagian tempat pengambilan data iklim mikro ditentukan terlebih dahulu. Tempat pengambilan data iklim mikro dapat dilihat pada Gambar 4.
Pada Gambar 4, terlihat bahwa pengambilan data iklim mikro akan dilakukan pada struktur RTH pohon, semak, dan lawn/rumput yang tersebar pada sembilan titik dan tiga lokasi. Untuk menentukan lokasi tersebut pada KRC, dilakukan beberapa tahap penentuan lokasi pengambilan data iklim mikro (Gambar 5). Pada Gambar 5, terlihat bahwa lokasi penelitian terbagi menjadi tiga buah lokasi. Pembagian lokasi tersebut dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh lokasi terhadap iklim mikro. Pada setiap lokasi, dilakukan pengukuran di tiga buah titik pengambilan data. Ketiga buah titik berfungsi sebagai ulangan pada pengukuran di setiap lokasi. Pada masing-masing titik dilakukan pengukuran iklim mikro pada struktur RTH pohon, semak, dan lawn/rumput.
Gambar 4 Bagan Lokasi Pengambilan Data Iklim Mikro KRC Pusat KRC Tengah KRC Tepi KRC
Penentuan lokasi pengambilan data iklim mikro sesuai Gambar 4 dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu:
1) membagi lokasi penelitian menjadi tiga lokasi yaitu Lokasi 1(pusat), Lokasi 2 (tengah), dan Lokasi 3 (tepi) pada peta. Pembagian area dilakukan dengan cara membagi area KRC menjadi tiga lingkaran dari pusat hingga ke tepi;
2) menentukan lokasi pengukuran iklim mikro dengan metode sampling vegetasi garis. Metode ini dilakukan dengan cara membuat garis-garis imajiner pada peta. Setelah itu, dilakukan survai untuk mengetahui sebaran struktur RTH; 3) memilih tiga buah garis yang melewati RTH yang memiliki keragaman
struktur. Garis yang dipilih adalah garis yang melewati RTH dengan keanekaragaman struktur seperti pohon, semak, dan lawn/rumput; dan
4) memilih tiga buah titik pada setiap garis yang mewakili setiap area. Titik yang dipilih harus memiliki struktur RTH pohon, semak, dan lawn/rumput di dalamnya. Titik pengambilan data yang terletak di Lokasi 1 (pusat) adalah titik 1, 2, dan 3. Titik pengambilan data yang terletak di Lokasi 2 (tengah) adalah titik 4, 5, dan 6. Titik pengambilan data yang terletak di Lokasi 3 (tepi) adalah titik 7, 8, dan 9. Setelah titik ditentukan, pada setiap titik, ditentukan struktur RTH pohon, semak, dan lawn/rumput yang digunakan untuk pengukuran. Struktur RTH pohon, semak, dan lawn/ rumput yang dipilih pada setiap titik untuk pengambilan data adalah struktur RTH yang dilewati oleh garis imajiner. Jarak antar struktur RTH yang berbeda pada satu titik yaitu sekitar 5 meter.
Tahap penentuan lokasi pengambilan data iklim mikro dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Tahap Penentuan Lokasi Pengambilan Data Iklim Mikro
Setelah struktur RTH yang digunakan pengambilan data ditentukan, dilakukan identifikasi struktur RTH dan pengukuran iklim mikro. Pengukuran iklim mikro dilaksanakan dengan jadwal sesuai pada Tabel 4. Pengukuran pun dilakukan pada hari-hari kerja yaitu senin hingga jumat. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi pengaruh suhu tubuh yang dihasilkan dari pengunjung yang datang.
1. Membagi KRC ke dalam 3 lokasi
2. Membuat garis-garis imajiner pada peta
3. Menentukan 3 buah garis
4. Menentukan titik pengambilan data
Tanpa Skala U
Tabel 4 Teknik Pengambilan Data Lokasi Hari Titik Pengambilan Phn 1 Smk 1 Lawn 1 Phn 2 Smk 2 Lawn 2 Phn 3 Smk 3 Lawn 3 Lokasi 1 1 2 3 Lokasi 2 4 5 6 Lokasi 3 7 8 9 Keterangan :
: Seperangkat Alat Ukur I : Seperangkat Alat Ukur II : Seperangkat Alat Ukur III
Alat Ukur : Seperangkat Mini Microclimate Station HeavyWeather
Data yang diperoleh dari lokasi penelitian diantaranya, suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin. Ketiga data tersebut diperoleh menggunakan seperangkat alat Mini Microclimate Station HeavyWeather. Cara kerja alat tersebut yaitu:
1) meng-install Software HeavyWeather pada komputer sebagai langkah awal untuk penggunaan seperangkat alat tersebut;
2) mengatur alat yang bekerja sebagai alat yang menampilkan data-data dari setiap alat pengukur iklim Mini Microclimate Station HeavyWeather, pengumpul data dan sekaligus sebagai penyimpan data. Alat diatur berdasarkan teknik pengambilan data yang telah ditentukan. Pada penelitian ini alat diatur untuk menampilkan data per menit selama satu jam setiap harinya. Setelah pengaturan, alat siap digunakan di lapang; 3) memasangkan alat untuk mengukur kecepatan angin pada tiang/tripod
kamera dengan keteinggian 1 meter dari permukaan tanah;
4) meletakkan alat pengukur suhu udara dan kelembaban udara berdekatan dengan alat pengukur kecepatan angin dengan ketinggian 20 cm dari permukaan tanah;
5) selanjutnya alat tersebut diletakkan pada titik pengambilan data, lalu kemudian kabel yang terdapat pada alat pengukur angin disambungkan pada alat pengukur suhu udara dan kelembaban udara yang berperan sebagai stasiun penerima data selanjutnya data tersebut akan di transfer pada alat penampil data kemudian akan disimpannya; dan
6) langkah terakhir setelah waktu pengambilan data selesai, kemudian alat penyimpan data tersebut disambungkan dengan komputer yang telah di-install sebelumnya untuk mentransfer data yang didapatkan, lalu data tersebut di munculkan dalam bentuk tabel pada program Microsoft Excel. Data diambil setiap menit dari alat Mini Microclimate Station HeavyWeather yang dilakukan pengukuran selama satu jam sehingga dihasilkan 60 data dengan menggunakan 3 alat yang berbeda tersebut secara bersama-sama. Data diambil pada pukul 12.00 – 13.00 WIB, waktu tersebut merupakan waktu dimana radiasi matahri secara maksimal sehingga akan didapatkan kondisi terburuk dari setiap unsur iklim yang diukur. Alat ini diletakkan pada jari-jari tajuk pohon (di bawah tajuk pohon), jari-jari tajuk semak (di bawah tajuk semak), dan pada titik lawn/rumput yang tidak ternaungi. Kemudian data tersebut ditampilkan pada Software HeavyWeather selanjutnya ditransfer pada Software Miscrosoft Excel sehingga data dapat diolah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Pada Gambar 6 merupakan tampilan dari Software HeavyWeather.
a) Software HeavyWeather
b) Data yang Terekam
Gambar 6 Data-data yang Terekam Dari Alat Mini Microclimate Station HeavyWeather Kecepatan dan Arah Angin Kelembaban Udara Curah Hujan Suhu udara Tombol untuk melihat data yang telah terkumpul
3.4.3 Tahap Pengolahan Data dan Analisis
Pengolahan data suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Miscrosoft Exel 2007. Setelah pengumpulan data selesai, didapatkan data karakteristik struktural dan iklim mikro pada berbagai struktur RTH yang tersebar di berbagai titik pengambilan data. Titik-titik pada setiap lokasi yang sama berfungsi sebagai ulangan sehingga data iklim mikro pada struktur RTH yang sama maupun berbeda dalam satu lokasi dirata-ratakan. Data iklim mikro pada struktur RTH yang sama dikelompokkan sesuai lokasinya. Untuk mencari hubungan antara struktur RTH dan iklim mikro yang telah dihasilkan, dilakukan analisis deskriptif dengan cara membandingkan hasil pengukuran iklim mikro dengan karakteristik struktur RTH.
Untuk mengetahui pengaruh struktur RTH terhadap unsur iklim mikro dilakukan analisis dengan parameter penilaian. Parameter-parameter tersebut dapat dilihat pada Tabel 5 untuk analisis pengaruh struktur RTH terhadap suhu udara, Tabel 6 untuk analisis pengaruh struktur RTH terhadap kelembaban udara, dan Tabel 7 untuk analisis pengaruh struktur RTH yang dapat mengarahkan angin.
Tabel 5 Parameter Analisis Pengaruh Struktur RTH Terhadap Suhu Udara
Karakteristik Struktural Meningkatkan Suhu Udara
Menurunkan Suhu Udara
Bentuk Tajuk Kolumnar ●
Piramidal ● Horisontal ● Bulat ● Penanaman Berjejer ● Tunggal ● Berkelompok ● Tinggi Tinggi (>15 m) ● Sedang (6-15 m) ● ● Rendah (1-6 m) Sangat rendah (<1 m)
Kepadatan tajuk Padat ●
Sedang ●
Rendah ●
Tabel 6 Parameter Analisis Pengaruh Struktur RTH Terhadap Kelembaban Udara
Karakteristik Struktural Meningkatkan RH
Menurunkan RH
Bentuk Tajuk Kolumnar ●
Piramidal ● Horisontal ● Bulat ● Penanaman Berjejer ● Tunggal ● Berkelompok ● Tinggi Tinggi (>15 m) ● Sedang (6-15 m) ● ● Rendah (1-6 m) Sangat rendah (<1 m)
Kepadatan tajuk Padat ●
Sedang ●
Rendah ●
Sumber : Scudo (2002)
Tabel 7 Parameter Analisis Pengaruh Struktur RTH Terhadap Kecepatan Angin
Sumber : Scudo (2002)
Karakteristik Struktural Menghalangi Angin Menyimpangkan Angin Menyaring Angin Mengarahkan Angin
Bentuk Tajuk Kolumnar ● ● ● ● Piramidal ● ● ● ● Horisontal ● Bulat ● ● ● ● Penanaman Berjejer ● ● ● ● Tunggal ● Berkelompok ● ● ● ● Tinggi Tinggi ● ● ● ● Sedang ● ● ● ● Rendah ● ● ● ● Sangat Rendah ● Kepadatan Tajuk Padat ● Sedang ● ● ● Rendah ● ● ●
Pada struktur RTH rumput berasal dari spesies yang sama oleh sebab itu, analisis pengaruh struktur RTH rumput terhadap iklim mikro tidak dilihat dari karakteristik strukturalnya, melainkan dari kondisi lingkungannya. Parameter analisis kondisi lingkungan terhadap suhu udara dan kelembaban udara yang diamati yaitu ada/tidaknya naungan di sekitar lokasi pengamatan. Sementara itu, untuk parameter kecepatan angin, diamati dengan melihat ada/tidaknya struktur pengarah dan penghalang angin di sekitar lokasi pengamatan. Selain dilakukan analisis pengaruh struktur RTH terhadap iklim mikro pada setiap struktur RTH, dilakukan pula analisis kenyamanan diantaranya sebagai berikut.
Analisis kenyamanan berdasarkan data suhu udara dan kelembaban udara maka dapat dihitung Temperature Humadity Indeks (THI). Menurut Lutgens dan Rarbuck (1982) dalam dahlan (2004), untuk mengkaji indeks kenyamanan di suatu lokasi digunakan rumus:
THI = 0,8T + RH x T 500
THI : Temperature Humadity Index T : suhu udara ( C)
RH : kelembaban nisbi udara (%)
indeks kenyamanan di suatu lokasi dikategorikan sebagai berikut : THI = 21-27 ( nyaman)
THI > 27 (tidak nyaman) (Laurie, 1986).
Kecepatan angin pun dianalisis untuk mengetahui kenyamanan angin pada lokasi pengukuran dengan menggunakan Tabel Skala Beaufort (Tabel 8) sebagai acuan analisis kecepatan angin berdasarkan data hasil pengukuran lapang dengan menggunakan alat mini Microclimate Station HeavyWeather. Analisis kecepatan angin dengan menggunakan tabel Skala Beaufort tersebut sebagai parameter kecepatan angin agar dapat diketahui kecepatan angin di area KRC untuk kenyamanan pengunjung.
Tabel 8 Skala Beaufort
Skala Beaufort Tingkatan Kecepatan (m/s)
0 Tenang <0,3 1 Teduh 0,3-2 2 Sepoi lemah 2-3 3 Sepoi lembut 3-5 4 Sepoi sedang 6-8 5 Sepoi segar 8,1-10,6 6 Sepoi kuat 10,8-13,6
7 Angin ribut lemah 13,9-16,9
8 Angin ribut sedang 17,2-20,6
9 Angin ribut kuat 20,8-24,4
10 Badai 24,7-28,3
11 Badai Amuk 28,6-32,5
12 Topan >32,8
Tingkatan sepoi lemah dengan kecepatan angin 2 – 3 m/s merupakan batas nyaman untuk manusia karena pada tingkatan tersebut angin sudah berasa pada kulit.
3.4.4 Perumusan rekomendasi
Tahap ini merupakan tahap akhir yang akan menghasilkan rekomendasi. Rekomendasi untuk RTH ini selanjutnya bertujuan untuk perbaikan aspek fungsi ekologis RTH pada setiap kota dengan karakteristik yang berbeda-beda. Rekomendasi ini dilakukan jika telah diketahui kebutuhan RTH dengan karakteristik tertentu khususnya yang terlihat berdasarkan struktur RTH. Rekomendasi diperoleh dari hasil analisis yang sudah dilakukan dan dapat berguna sebagai masukan bagi pengelola kebun raya atau bentuk RTH lainnya pada masa yang akan datang. Agar lebih jelas dapat melihat tahapan penelitian pada Gambar 7 berikut ini.
Gambar 7 Bagan Alur Tahapan Penelitian
Persiapan
Pengumpulan Data
Pengolahan Data dan Analisis
Penyajian Hasil
Persiapan
Survai Lapang Pengumpulan Data Sekunder
Pengukuran Iklim Mikro
Analisis Deskriptif kualitatif Analisis Deskriftif Kuantitatif
BAB IV
KONDISI UMUM
4.1 Sejarah Kebun Raya
Kebun raya Cibodas didirikan pada tanggal 11 April 1852 oleh Johannes Ellias Teijsmann, seorang kurator Kebun Raya Bogor, dengan nama Bergtuin te Tjibodas (Kebun Pegunungan Cibodas). Pada awalnya dimaksudkan sebagai tempat aklimatisasi jenis-jenis tumbuhan asal luar negeri yang mempunyai nilai penting dan ekonomi yang tinggi, salah satunya adalah Pohon Kina (Cinchona calisaya). Kemudian berkembang menjadi bagian dari Kebun Raya Bogor dengan nama Cabang Balai Kebun Raya Cibodas. Mulai tahun 2003 status Kebun Raya Cibodas menjadi lebih mandiri sebagai Unit Pelaksana Teknis Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas di bawah Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor dalam kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
4.2 Keadaan Fisik Kebun Raya
Kebun Raya Cibodas (KRC) merupakan salah satu kebun raya yang terdapat di Indonesia. KRC terletak di Desa Cimacan, Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Pintu Gerbang utama KRC terletak di kaki Gunung Gede Pangrango, sekitar 40 km sebelah tenggara Bogor, 25 km sebelah tenggara Cianjur dan terletak 4 km dari Desa Cimacan yang terletak di tepi jalan raya utama yang menghubungkan Jakarta dan Bogor dengan Bandung melalui jalur puncak. Kebun Raya Cibodas berada di lereng utama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) dengan ketinggian 1300-1425 m diatas permukaan laut. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Cianjur, sebelah tenggara berbatasan dengan Kabupaten Bogor, sebelah selatan dan barat berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Dengan luas KRC 84,99 hektar.
Kebun Raya Cibodas memiliki kelembaban udara rata-rata : 89,28%, temperatur maksimal 26,44 C, temperatur minimal 17,04 C, temperatur rata-rata 21,74 C, jumlah hari hujan : 68 hari dan jumlah hari cerah 170 hari (Januari-Desember 2010). KRC termasuk daerah basah dengan curah hujan per tahun
sebesar 3380 mm. Letak KRC yang berada di lereng gunung TNGP membuat KRC berhawa sejuk. Topografi sangat bervariasi mulai dari datar, bergelombang, berbukit hingga curam.
4.3 Fungsi Kebun Raya
Pada awalnya KRC berfungsi sebagai area penanaman tanaman yang sudah tidak bisa ditampung oleh Kebun Raya Bogor. Pada saat itu KRC bernama Bergtuin te Tjibodas (Kebun Pegunungan Cibodas). Akan tetapi kebun raya cibodas berfungsi untuk inventarisasi, eksplorasi, dan konservasi tumbuhan dari dataran tinggi basah, menyediakan jasa pelayanan landscape floriculture, fasilitas penelitian, dan pendidikan serta area wisata dan rekreasi masyarakat. Kebun Raya Cibodas memiliki status sebagai unit pelaksanaan teknis konservasi tumbuhan Kebun Raya Cibodas dibawah Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor dalam Kadeputian Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Kebun Raya Cibodas secara keseluruhan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. KRC-LIPI memiliki 10.792 koleksi tanaman berupa 700 jenis koleksi biji dan 4852 koleksi herbarium. Koleksi tanaman KRC terbagi kedalam koleksi di kebun dan koleksi di rumah kaca. Koleksi di kebun berupa tanaman-tanaman khas seperti pohon kina (Cinchona pubescens), pohon bunya-bunya (Araucararia bidwill), rhododendron (Rhododendron javanicum), cemara (Cupressus Spp) dan koleksi lainnya. Koleksi di rumah kaca berupa koleksi anggrek, kaktus, dan sekulen serta koleksi lainnya. Selain flora, terdapat pula fauna berupa burung-burung endemik khas pegunungan seperti burung-burung puyuh dan perenjak jawa serta terdapat satwa primata (lutung).
Fungsi Kebun Raya Cibodas menurut Laporan Tahunan 2009 UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas :
1) pelayanan, inventarisasi, eksplorasi, konservasi, dan reintroduksi jenis tumbuhan dataran tinggi basah khususnya kawasan barat Indonesia yang memiliki nilai ilmu pengetahuan dan potensi ekonomi, pengembangan dan pendokumentasian biodata jenis tumbuhan koleksi yang berkaitan dengan konservasi ex-situ;
2) memberikan pelayanan jasa ilmiah di bidang arsitektur lanskap, permasyarakatan ilmu pengetahuan dalam bidang konservasi tumbuhan dan introduksi tumbuhan; dan
3) pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
Tujuan dari KRC menurut Rencana Strategis Kebun Raya 2005-2010 : 1) mengkonservasi tumbuhan Indonesia dan tumbuhan tropika; 2) melakukan reintroduksi atau pemulihan tumbuhan langka;
3) memfasilitasi pembangunan kawasan konservasi ex-situ tumbuhan;
4) meningkatkan jumlah dan mutu penelitian terhadap konservasi dan pendayagunaan;
5) meningkatkan pendidikan lingkungan; dan
6) meningkatkan pelayanan jasa dan informasi mengenai kebun raya.
Tugas dari Kebun Raya Cibodas sebagai tempat konservasi yaitu penambahan koleksi, pengelolaan pangkalan data, perluasan lahan konservasi, reintroduksi dan introduksi, penelitian, pendidikan lingkungan, serta pariwisata dan pelayanan umum.
4.4 Penggunaan Area Kebun Raya
KRC dibagi kedalam tiga area yaitu (1) area pelayanan, (2) area koleksi, dan (3) area rekreasi. Area pelayanan meliputi area penerimaan (welcome area) dan wisma tamu (guest house). Area koleksi meliputi Taman Rhododendron, Taman Sakura, Taman Lumut, Jalan Araucaria, kebun koleksi paku-pakuan, koleksi kayu putih, koleksi magnolia, koleksi tanaman obat, dan rumah kaca. Area rekreasi meliputi Air Terjun Cibogo, lawn area, kolam, dan Air Terjun Ciismun.
Kebun raya ini juga menawarkan objek-objek rekreasi yang menarik dan memiliki nilai estetika (vantage point). Objek-objek ini berada pada area pelayanan yaitu area penerimaan (welcome area) dan wisma tamu (guest house), area koleksi yaitu Taman Rhododendron, Taman Sakura, koleksi paku-pakuan, Jalan Araucaria, serta area rekreasi yaitu Jalan Air, lawn area, kolam, Air Terjun Cibogo dan Air Terjun Ciismun. Selain area rekreasi, KRC juga didukung oleh fasilitas gazebo, bangku taman, dan fasilitas lainnya. Area-area rekreasi ini dapat
diakses baik dengan menggunakan kendaraan maupun berjalan kaki. Akses objek rekreasi KRC :
1) Area Penerimaan (Welcome Area)
Area penerimaan berfungsi sebagai area pelayanan KRC, pembelian tiket, serta area rekreasi. Di area ini terdapat papan nama KRC, papan peta KRC, loket tiket, perpustakaan, rumah anggrek, shelter, dan lawn area.
2) Wisma Tamu (Guest House)
Wisma tamu berfungsi sebagai tempat istirahat bagi pengunjung. Wisma tamu ini yaitu Guest House Sakura dan Guest House Medinila. Bangunan wisma tamu memiliki kondisi fisik yang baik dan terawat. Wisma tamu KRC berbahan material kayu. Selain itu terdapat pekarangan yang ditanami rumput dan bunga-bungaan di depan wisma tamu ini.
3) Taman Rhododendron
Taman Rhododendron berfungsi sebagai area koleksi rhododendron sekaligus rekreasi bagi pengunjung KRC. Tanaman Rhododendron yang terdapat di taman ini yaitu vegetasi asli Indonesia yaitu Rhododendron aegregoride dan jenis introduksi yaitu Rhododendron mucronutum dan Rhododendron sinense. Selain itu terdapat juga tanaman kaktus dan tanaman lainnya. Taman ini memiliki akses jalan berupa jalan berpaving yang terjal.
4) Taman Sakura
Taman Sakura merupakan taman koleksi yang mengkoleksi sakura (Prunus cerasoides) yang berasal dari Himalaya. Taman ini memiliki luas 5000 m2 dan ditanami 200 pohon sakura. Tanaman ini berbunga dua kali dalam setahun sehingga jika tidak sedang berbunga tanaman ini terlihat kering tanpa daun (meranggas) sehingga taman terkesan panas. Selain itu taman ini juga memiliki beberapa jenis tanaman sakura yaitu Prunus costata yang berasal dari Papua dan Prunus arborea yang berasal dari Jawa. Taman Sakura dilewati oleh jalan air yang mengalir membelah taman ini sehingga selain dapat berekreasi pasif di area lawn. Pengunjung juga dapat rekreasi aktif (bermain air) pada area ini. Di Taman Sakura terdapat beberapa gazebo sebagai tempat istirahat dan lawn sebagai tempat rekreasi.