• Tidak ada hasil yang ditemukan

DNA, Kebudayaan, Persebaran pada Suku Nias

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DNA, Kebudayaan, Persebaran pada Suku Nias"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

DNA, Kebudayaan, Persebaran pada Suku Nias

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Wawasan Budaya Nusantara (MKK00102)

Disusun oleh:

1. Anna Alphilia C. P. (14148106) 2. Hari Setiawan (14148121)

FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN

INSTITUT SENI INDONESIA

SURAKARTA

2015

(2)

Suku Nias

Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah). Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Dalam masyarakat nias di kenal pula adanya sistem kasta (12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari. Berikut ini adalah beberapa unsur-unsur budaya dari suku nias :

A. Perkampungan

Pada masyarakat nias, masih mengacu pada sebuah kelompok masa lalu yang berkelompok-kelompok. Oleh karena hal tersebut, masyarakat nias masih berkelompok-kelompok. Seperti halnya kelompok perkampungan, masyarakat nias memiliki aspek yang menjadi aturan adat, adaptasi masyarakat dalam menyikapi kehidupan dan lainnya,semakin lama semakin bervariasi. Persyaratan fisik maupun konsep religius juga mengalami perkembangan dan lain sebagainya. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendirian sebuah desa harus memperhatikan hunian makro, antara lain harus ada unsur lahan pertanian, perkebunan, perternakan, dan lain-lain. Sedangkan masyarakat di Nias Selatan dan Utara yang merupakan syarat-syarat utama yang erat kaitannya dengan sumber daya abiotik, biotik harus memperhatikan antara lain:

a. Harus ada gunung.

b. Harus ada air, berupa sumber air, sungai, telaga, danau, rawa dan lain-lain. c. Harus ada lahan (tanah) untuk tempat pengembangan tanaman pangan,

berternak, dan lahan perburuan. d. Harus ada tukang besi.

e. Harus dapat melihat sekelilingnya.

Selain memperhatikan sumber daya biotik, masyarakat nias juga memperhatikan sumber daya abiotik seperti gunung, sungai, batuan dan lain sebagainya. Sumber daya abiotik yang terpenting dalam pembuatan desa adalah sumber air dan bahan batuan yang biasanya di temukan di sungai dan perbukitan. Mereka juga harus mampu beradaptasi, adapun proses adaptasi dengan lingkungan abiotik:

(3)

a. Pemanfaatan SDA, seperti bahan-bahan batuan yang dapat di manfaatkan dalam kehidupan di masyarakat untuk keperluan pemukiman, rumah tangga, sampai keperluan yang bersifat religius.

b. Pemanfaatan gunung atau bukit-bukit tinggi yang dipergunakan sebagai tempat tinggal, sehingga mendukung keamanan dan kesejahteraan mereka.

c. Pemanfaatan air sebagai sumber daya yang sangat diperhatikan dalam proses pembudidayaan tanaman pangan, kemudahan dalam mencari makanan dan area untuk bergerak (transportasi).

B. Bentuk Rumah Adat

Bentuk rumah adat di Nias terbagi menjadi dua, yaitu rumah adat berbentuk oval dan rumah adat berbentuk persegi. Rumah adat yang berbentuk oval hanya dapat pada wilayah Nias bagian utara sedangkan rumah adat berbentuk persegi terdapat pada wilayah Nias bagian tengah dan selatan.

(Rumah Adat bentuk oval)

(Rumah adat bentuk persegi)

Rumah adat yang difungsikan sebagai tempat tinggal di Nias selatan dapat dibedakan menjadi 2 yaitu rumah adat di daerah pertengahan sekitar gomo dan rumah adat di sekitar teluk dalam.

(4)

C. Religi

Istilah Lowalangi dalam suku nias adalah cara penyebutan masyarakat nias sebagai nama Allah. Selain itu ada pula yang disebut Lature Dano yaitu pembela, penjaga, dan pemerintah Dunia bawah. Di antara dewa atas dan dewa bawah, ada lagi dewi yang disebut Nazariya Mbanua, istilah orang Nias Selatan untuk menyebut dewi Silewe Nazarata. Silewe Nazarata (istilah Nias Utara yang dipakai sekarang adalah dewi penghubung di antara Lowalani (dewa dunia atas) dan Lature Danö (dewa dunia bawah) dan juga sebagai dewi penghubung di antara kaum dewa dan ummat manusia. Maka boleh dikatakan bahwa agama kuno Nias termasuk agama Polythesis.

Bermacam ciptaan makhluk disembah oleh orang Nias. Benda ciptaan dan makhluk ini meliputi matahari, bulan, pohon-pohon besar, buaya, cecak dan lain-lain. Oleh sebab itu, agama orang Nias itu bukan hanya polytesis tetapi juga animistis. Pelbegu, adalah nama agama asli yang diberikan oleh pendatang yang berarti "penyembah ruh". Nama yang dipergunakan oleh penganutnya sendiri adalah molohe adu (penyembah patung). Sifat agama ini adalah berkisar pada penyembahan roh leluhur. Untuk keperluan itu mereka membuatn patung-patung dari kayu yang mereka sebut "adu". Patung yang ditempati oleh ruh leluhur disebut adu zatua dan harus dirawat dengan baik.

Pada umumnya, setiap keluarga memahat patung nenek moyang mereka masing-masing (adu Nuwu dan adu Zatua). Setiap desa juga memahat patung kesatria mereka (adu Zato). Orang harus menyembah kedua jenis patung ini demi hubungannya dengan keluarga dan masyarakat desanya. Adu Zato itu adalah patung para pendiri desa, patriot, berbakat, pemburu yang hebat dan sebagainya. Pasangan adu Zato dan adu Nuwu atau adu Zatua tak boleh disembah secara terpisah. Oleh karena setiap keluarga memahat patung nenek moyangnya masing-masing dan mereka menganggap patung-patung itu sebagai illah mereka, maka upacara dan sikap keagamaan para keluarga di desa selalu bervariasi satu sama lain. Setiap orang berkata "Tuhanku adalah nenek moyangku" yang berarti dia dan Tuhannya lain dari pada orang dan illah keluarga lain.

Menurut kepercayaan penganut pelbegu ini, tiap orang mempunyai dua macam tubuh, yaitu yang kasar dan yang halus. Yang kasar disebut boto (jasad) dan yang halus terdiri dari dua macam yaitu noso (nafas) dan lumo-lumo (bayang-bayang). Jika mati atau meninggal, botonya kembali menjadi debu, sedangkan nosonya kembali kepada lowalangi (Tuhan). Sedangkan lumo-lumonya berubah menjadi bekhu (makhluk halus). Selama belum dilakukan upacara kematian, bekhu akan tetap berada di sekitar tempat pemakamannya. Karena menurut kepercayaan, untuk pergi ke teteholi ana'a (dunia ruh atau gaib), Ia harus lebih dahulu menyeberangi suatu jembatan yang di sana dijaga ketat oleh seorang dewa penjaga bersama mao-nya didorong masuk ke dalam neraka yang berada di bawah jembatan.

(5)

Menurut kepercayaan pelbegu, kehidupan sesudah mati adalah kelanjutan dari kehidupan seseorang di dunia. Orang yang kaya atau berkedudukan tinggi maka akan begitu pula keadaannya di "teteholi ana'a. Sebaliknya demikian juga bagi mereka yang miskin. Perbedaan dunia sana dengan dunia sini yaitu terletak pada keadaan "terbalik" yaitu jika di sini siang maka di sana malam, demikian juga kalimat dalam bahasa di sana serba terbalik.

Menurut keterangan Bamböwö Laia, orang Nias mempercayai bahwa manusia itu hanyalah sebagai ciptaan biasa dari dewa-dewa, sebagian dari ciptaan lainnya, Manusia itu adalah "babi dewa-dewa (illah)". Bila dewa berselera memakan daging "babi" (dalam hal ini, "babi" adalah manusia) maka secara bebas dewa mengambil dan membunuh satu atau lebih "babi"nya. Itulah maka "babi" merupa kan unsur penting dalam kebudayaan Nias. Budaya megelitik dengan kepercayaan inilah maka babi tidak bisa dipisahkan dalam acara adat masyatakat Nias.

D. Upacara

Berbagai upacara yang ada pada masyarakat sejak manusia lahir hingga meninggal merupakan bentuk upacara inisiasi bagi pengusung budaya itu. Selain itu upacara merupakan sisitem simbol dimana individu atau kelompok masyarakat memakai simbol-simbol yang dimaksud dalam upaya mengidentifikasikan dunia mereka. adapun upacara yang umum ditemukan yaitu :

a. Upacara Kelahiran

Adapun urutan upacara kelahiran yang dilakukan masyarakat nias pada umumnya sebagai berikut :

1. Upacara yang idenya adalah jika anak pertama lahir, maka si ayah akan pergi ke mertua untuk menyampaikan bahwa cucunya telah lahir. Si ayah akan di beri anak babi, beras, dan lainnya oleh mertua. Pada upacara ini mertua diwajibkan membuat pesta dengan memotong babi.

2. Setelah anak berumur 1-2 bulan maka anak itu akan di beri nama. Pada kegiatan ini juga dipotong seekor babi bagi sanak keluarga dan masyarakat sekitar.

3. Penyampaian kepada pendeta atau ere agar si anak seha-sehat saja dengan persembahan yang tidak terlalu besar.

4. Pada waktu-waktu yang ditentukan ere datang ke rumah untuk memberikan do’a kepada si anak dan orang tuanya menjamu ere serta ketika pulang diberikan emas atau perak.

5. Setelah berumur 3 bulan orangtua membayar jujuran kepada mertua yang dihadiri oleh ayah, ibu, dan anak yang baru lahir.

b. Upacara Perkawinan

Kedudukan seseorang dalam masyarakat di dapatkan dengan cara :

1. Tahap meminang yang terdiri dari upacara mengantar emas pertunangan atau mamebola dan upacara pengambilan kantong tikar atau famuli mbola.

(6)

2. Tahapan penentuan hari pernikahan atau fangoto-bongi yang di dalamnya juga membicarakan emas perkawinan.

3. Pernikahan atau fangualu

4. Upacara menjenguk orangtua atau fanguli-nucha c. Upacara Kematian

Dalam upacara kematian untuk orang tua dengan jenis kelamin laki-laki maka pada waktu sakit dilakukan pesta memotong babi serta mendatangkan ere. Upacara ini di tekankan pada pemberian makan terakhir bagi yang sakit.

5. Bahasa

Bahasa Nias atau Li Niha dalam bahasa aslinya adalah bahasa yang dipergunakan oleh penduduk di Pulau Nias. Bahasa ini merupakan salah satu bahasa di dunia yang masih belum diketahui persis darimana asal bahasa ini. Bahasa Nias merupakan salah satu bahasa dunia yang masih bertahan hingga sekarang dengan jumlah pemakai aktif sekitar 1 juta orang. Bahasa ini dapat dikategorikan sebagai bahasa yang unik karena merupakan satu-satunya bahasa didunia yang setiap akhiran katanya berakhiran huruf vokal. Suku Nias mengenal enam huruf vokal, bukan lima seperti di daerah di Indonesia lainnya. Suku Nias mengenal huruf vokal a,e,i,u,o dan ditambah dengan ö (dibaca dengan “e” seperti dalam penyebutan “enam” ). Tak kenal konsonan double, setiap kata selalu diselingi dengan huruf vokal (misal, bilang pastor jadi pasitoro). Dalam penulisan kata yang terdapat huruf double harus menggunakan tanda pemisah (') contoh kata Ga'a dan semua kata dalam bahasa Nias asli selalu ditutup oleh huruf vokal. 6. Kesenian

a. Lompat Batu

Lompat batu merupakan salah satu contoh budaya yang paling terkenal dan unik. Pada acara itu, seorang pria melompat diatas sebuah tumpukan batu dengan ketinggian lebih dari 2 meter. Tradisi lompat batu adalah ritual budaya Nias untuk menentukan apakah seorang pemuda itu akan di akui sebagai pemuda yang telah dewasa atau belum. Para pemuda itu akan diakui sebagai lelaki pemberani dan memenuhi syarat untuk menikah apabila dapat melompati batu setinggi 2 meter atau lebih.

b. Tari Perang

Tari Perang atau tari Fatele merupakan lambang ksatria para pemuda desa-desa di Nias, untuk melindungi desa-desa dari ancaman musuh, yang diawali dengan Fana’a atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Ronda. Pada saat ronda itu jika ada aba-aba bahwa desa telah diserang oleh musuh maka seluruh prajurit berhimpun untuk menyerang musuh. Setelah musuh diserang, maka kepala musuh itu dipenggal untuk dipersembahkan kepada raja. Persembahan

(7)

ini disebut juga dengan Binu. Sambil menyerahkan kepala musuh yang telah dipenggal tadi kepada raja, para prajurit itu juga mengutuk musuh dengan berkata “Aehohoi” yang berarti tanda kemenangan setelah didesa dengan seruan “Hemitae” untuk mengajak dan menyemangati diri. Dengan membentuk tarian memutar lalu menyerahkan binu kepada raja. Setelah itu, raja menyambut para pasukan perang itu dengan penuh sukacita dengan mengadakan pesta besar-besaran.

c. Tari Maena

Tari Maena sering kali menjadi pertunjukan hiburan ketika suku Nias mengadakan pesta pernikahan adat. Dalam upacara pernikahan adat, pertunjukan tari Maena diselenggarakan ketika mempelai lelaki tiba dirumah mempelai wanita. Tarian ini ditarikan oleh keluarga dari pihak mempelai lelaki untuk memuji kecantikan mempelai wanita dan kebaikan keluarga pihak wanita. Tarian ini menjadi simbol untuk memuji mempelai lelaki beserta keluarganya. Sesekali, tari Maena menjadi tari penyambutan tamu kehormatan yang berkunjung ke Pulau Nias. Dalam sebuah pertunjukan, tari Maena ditarikan oleh beberapa pasang penari lelaki dan wanita. Dari awal hingga pertunjukan usai, gerakan tari Maena didominasi dengan perpaduan gerak tangan dan kaki. Gerakannya terlihat sederhana namun tetap penuh semangat dan dinamis.

d. Tari Moyo

Tari moyo menandakan betapa indahnya sebuah persatuan dalam sebuah perdamaian seperti gerakan yang lemah gemulai, menunjukkan bahwa dalam keteduhan bisa mencapai cita-cita kami bagaikan elang mengarungi angkasa raya.

DNA

Semua manusia yang ada di dunia ini pastilah memiliki DNA. DNA merupakan singkatan dari Deoxyribonucleic Acid atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Asam Deoksiribosa Nukleat. Dalam DNA terdapat kromosom Y dan mitokondrial DNA (mtDNA). Kromosom Y adalah salah satu kromosom penentu jenis kelamin dan hanya laki-laki yang memiliki kromosom Y. Kromosom Y diturunkan oleh ayah kepada anak laki-laki. Sementara mtDNA, meski dimiliki laki-laki dan perempuan, tetapi hanya ibu yang dapat menurunkannya kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, mtDNA dapat digunakan untuk mengkaji garis keturunan ibu. DNA juga berfungsi untuk mengetahui keturunan seseorang. Oleh karena hal tersebut ada penelitian tentang DNA pada suku Nias.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa orang nias berasal dari China, Thailand, Vietnam, Mongolia, atau Jepang jika dilihat dari segi fisik. Sementara jika ditelusuri secara tradisi lisan pendapat yang lain mengatakan suku Nias berasal dari langit, nidada. Memang

(8)

sangat sulit dalam memutuskan antara kebenaran akan misteri ini. Oleh sebab itulah untuk mendekati guna mendapatkan kebenaran maka cara ilmiah pun akhirnya ditempuh untuk mengetahui asal-usul suku Nias, yakni melalui tes DNA.

Kegiatan Penelitian ini dilakukan oleh dua peneliti asal Belanda, yakni ahli genetika Professor Ingo Kennerknecht dari University of Münster, Jerman, dan Mannis van Oven, mahasiswa S-3 bidang Biologi Molekuler Forensik, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, Belanda.

Bersama dengan Direktur Museum Pusaka Nias yang juga pemerhati sejarah Nias, Pastor Yohannes Hämmerle, Professor Ingo Kennerknecht mengumpulkan 407 sampel darah atau air liur orang Nias dari berbagai klan marga yang tersebar di beberapa wilayah di Nias. Pengumpulan sampel dilakukan pada 2002 dan 2003. Dalam hal ini, mereka dibantu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Nias.

Di Nias Selatan, sampel diambil dari kelompok bangsawan si’ulu, Fau dan Sarumaha. Sementara di Nias bagian Utara (saat itu masih belum pemekaran wilayah) sampel diambil di antaranya dari marga Hia, Ho, Daeli, Zebua, Hulu, Baeha, dan Zalukhu, serta sekelompok orang Nias lainnya yang tersebar di beberapa daerah lainnya di Nias. Dari sampel itu, DNA diekstraksi di laboratorium di Jerman. Ekstraksi itu yang kemudian dianalisis oleh Professor Ingo dan Mannis Van Oven.

Analisis dilakukan dari dua perspektif yang berbeda, yakni kromosom Y dan mtDNA. Dari kromosom Y terdapat dua variasi gen spesifik yang diteliti yakni Single-Nucleotide Polymorphisms (SNPs) dan Short Tandem Repeats (SRTs). Adapun mtDNA dirangkai dalam satu bagian yang disebut Hypervariable Segment I (HVS-I). Dari analisis ini, mereka menemukan haplogrup yakni evolusioner golongan bertipe sama, hampir sama seperti golongan darah. Di belahan dunia yang berbeda, perbedaan haplogrup juga terjadi. Haplogrup diindikasikan dengan huruf yang diikuti oleh nomor subgrup. Contoh, Haplogrup A, dapat dibagi menjadi A1, A2, A3, dan seterusnya.

Berdasarkan kajian ilmu pengetahuan, haplogrup kromosom Y di wilayah Asia Timur dan Tenggara didominasi oleh haplogrup O. Oleh karena itu, pertama-tama mereka mengidentifikasi haplogroup O dari sampel yang ada dan hasilnya semua positif. Kemudian dianalisis lagi untuk mengetahui subhaplogrup. Hal yang sama juga dilakukan pada mtDNA.

Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa sampel kromosom Y tersebut 100 persen masuk kategori haplogroup O. Hal ini mengindikasikan rendahnya perbedaan genetik di Nias (khususnya dari garis keturunan ayah), tidak seperti daerah lainnya di Sumatera yang biasanya memiliki rentang haplogrup yang luas. Pada subhaplogrup, semua sampel (kecuali satu) masuk dalam haplogrup O1a (ditandai dengan M119). Kemudian dalam haplogrup O1a, 30 persen di antaranya masuk kategori O1a2 (ditandai dengan M110). Baik M119 dan M110 ditemukan pada suku bangsa asli Taiwan dan keduanya berkaitan dengan penyebaran ras Austronesia.

Bila dilihat secara geografis, haplogrup O-M119 86 persen berada di Nias bagian tengah hingga ke utara dan jarang ditemukan di Nias bagian selatan. Dari semua populasi yang diteliti, haplogrup O-M119 mendominasi di semua tempat. Sementara,keberadaan haplogrup O-M110 di Nias Selatan mengundang tanda tanya besar karena jarang ditemukan pada populasi di daerah sekitarnya. Perbedaan yang mencolok antara Nias Selatan dengan

(9)

daerah lainnya di Pulau Nias juga terlihat dalam analisis STR kromosom Y. Belum jelas apakah perbedaan ini terjadi karena diferensiasi dini kelompok ini yang diikuti oleh pengasingan atau perbedaan populasi nenek moyangnya.

Sementara dari analisis mtDNA, ada 18 haplogrup yang ditemukan. Secara geografis, satu haplogrup ditemukan tersebar di seluruh daerah sebesar 40 persen. Haplogrup ini juga berkaitan dengan penyebaran orang Taiwan. Hampir semua haplogrup mtDNA yang terdeteksi di Nias serupa dengan suku asli Asia bagian timur (dan mungkin ras Austronesia). Hanya dua haplogrup yang mungkin berasal dari Asia Tenggara (2 persen). Meskipun demikian, ruang distribusinya tidak seekstrem pada hasil kromosom Y. Ketika perbedaan tingkat genetika ini dibandingkan dengan populasi lainnya di luar Nias, jelas terlihat bahwa perbedaan genetika orang Nias sangat kecil dibanding populasi di Asia Timur, Tenggara dan Oceania, terutama kromosom Y-nya. Pengamatan ini mengindikasikan asal usul nenek moyang cukup kuat atau terjadinya hambatan dalam sejarah populasi orang Nias terutama kaum prianya.

Semua tipe kromosom Y dan hampir semua tipe mtDNA di Nias bisa dihubungkan dengan nenek moyang ras Austronesia yang sebagian besar berasal dari Taiwan, yang kemudian melewati Filipina dan menyebar ke Pulau-pulau di Asia Tenggara sekitar 4.000-5.000 tahun lalu. Data ini didukung juga dengan bahasa Nias yang masuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

Penemuan yang masih belum mencapai hasil akhir ini diteliti lebih dalam lagi. Sebab, bila dihitung secara angka, kesamaan DNA orang Nias dengan Taiwan hanya 40 persen dan sebagian kecil di Filipina. Hal ini mengindikasikan bahwa sisanya berasal dari daerah lain. Selama 10 tahun dilakukan penelitian terhadap kecocokan DNA orang Nias dengan DNA orang-orang dari beberapa daerah lainnya. Dari hasil penelitian, DNA inilah disimpulkan kalau suku Nias berasal dari Taiwan.

PERSEBARAN

Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

Sementara itu penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau, kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.

(10)

A. Bangsa Melayu Tua / ProtoMelayu

Bangsa Proto Melayu memasuki wilayah Indonesia sekitar tahun 1500-500 SM. Bangsa Proto Melayu adalah suatu ras Mongoloid yang berasal dari daerah Yunani, dekat lembah Sungai Yang Tze, Cina Selatan. Alasan-alasan yang menyebabkan bangsa Melayu Tua meninggalkan daerah asalnya sebagai berikut :

1. Adanya desakan suku-suku liar yang datangnya dari Asia Tengah 2. Adanya peperangan antar suku

3. Adanya bencana alam berupa banjir akibat sering meluapnya Sungai She Kiang dan sungai-sungai lainnya didaerah tersebut.

Ciri-ciri Bangsa Melayu Tua : 1. Kulit sawo matang 2. Rambut lurus

3. Badan tinggi ramping

4. Bentuk mulut dan hidung sedang Kebudayaan Bangsa Proto Melayu :

1. Termasuk kebudayaan Batu Muda (neolitikum)

2. Hasil kebudayaannya masih terbuat dari batu dan telah dikerjakan dengan sangat baik

3. Kapak Lonjong 4. Kapak persegi

Keturunan Bangsa Proto Melayu :

1. Suku Toraja (Sulawesi Selatan) 2. Suku Sasak (Pulau Lombok) 3. Suku Dayak (Kalimantan Tengah) 4. Suku Nias (Pantai barat Sumatera)

5. Suku Batak (Sumatera Utara) Suku Kubu (Sumatera Selatan) B. Bangsa Melayu Muda / Deutro Melayu

Bangsa Deutro Melayu memasuki wilayah Indonesia sekitar 500 SM secara bergelombang. Mereka masuk melalui jalur barat, yaitu melalui Semenanjung Melayu terus ke Sumatera dan tersebar ke wilayah Indonesia yang lain. Kebudayaan Bangsa Melayu Muda (Dikenal dengan kebudayaan Dongson) meliputi:

1. Kapak corong atau kapak sepatu 2. Nekara 3. Bejana perunggu KeturunanBangsa DeutroMelayu: 1. Suku Aceh 2. Suku Minangkabau 3. Suku Jawa 4. Suku Bali 5. Suku Bugis 6. Suku Makassar

Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia • Proto Melayu

1) Jalur Selatan melalui Thailand–Selat Malaka–masuk ke Indonesia.

(11)

• Deutro Melayu Semenanjung Melayu –Sumatera-tersebar ke wilayah Indonesia yang lain.

(12)

DAFTAR REFERENSI

wiradnyana, Ketut. Legitimasi Kekuasaan pada Budaya Nias. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Jakarta:2010. http://www.himnijatim.com/2013/04/berdasarkan-hasil-penelitian-orang-nias-memiliki-dna-sama-dgn-orang-taiwan/ http://suarman-warasi.blogspot.co.id/2013/03/asal-usul-budaya-khas-marga-suku-nias.html http://suku-dunia.blogspot.co.id/2014/12/sejarah-suku-nias.html https://ruangidegarran.wordpress.com/2011/02/17/suku-nias-pulau-nias-provinsi-sumatera-utara/ http://watipuspitasari.blogspot.com/2011/04/kebudayaan-suku-nias.html https://efriritonga.wordpress.com/2013/06/18/nenek-moyang-suku-nias-dari-taiwan-ke-ono-niha/ http://blogsisiunik.blogspot.com/2013/05/makalah-suku-nias.html http://oktazega.blogspot.com/2014/09/sejarah-suku-nias-adalah-masyarakat.html

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karenaperusahaan adalah pekerjaan tetap, sedangkan tidak setiap pekerjaan tetapadalah perusahaan dalam arti mengejar keuntungan pribadi,

Dari hasil perhitungan speedup tersebut kemudian dihitung besarnya efisiensi komputasi pada sistem distributed rendering ini dengan cara membagi nilai speedup yang

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori menurut Mottaghipur dan Bickerton (2005, dalam Nazara,2006), psikoedukasi merupakan suatu tindakan yang dilakukan pada

JUDUL : PENGENALAN RUMAH ADAT INDONESIA BERBASIS AUGMENTED REALITY DENGAN MEMANFAATKAN KTP SEBAGAI MARKER.. NAMA :

bagi para pedagang dari adanya pengembangan pariwisata di destinasi wisata. taman Diponegoro ini adalah Pengembangan dan pembukaan lapangan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasamya proses penerjemahan terdiri dari dua tahap: (1) analisis teks asli dan pemahaman makna dan/atau pesan teks asli dan

Namun pada ukuran ikan kecil juga dapat terjadi jumlah kebutuhan oksigen yang tinggi karena aktivitas ikan yang mempengaruhi banyaknya oksigen yang dikonsumsi,

respon perilaku yang bertahan lama terhadap individu atau objek tertentu.  Memiliki