Universitas Kristen Petra
31
3. METODE PENELITIAN
3.1 Definisi Konseptual
3.1.1 Proses Consciousness-Raising
Dalam sebuah kelompok penting sekali meningkatkan proses kesadaran untuk membanggakan kelompok. Saat seseorang dalam kelompok memahami pentingnya proses kesadaran untuk dapat membangun identitas. Untuk memahami tingkat kesadaran (CR) dalam kelompok, terdapat 4 tahap, yaitu: kepercayaan, polarisasi, identitas baru dan mengeluarkan semua kesadaran baru.
Pada tahap pertama adalah kepercayaan. Kepercayaan seorang anggota dapat tumbuh melalui cerita. Tingkat kesadaran ini dapat dimulai secara spontan oleh seorang anggota dan biasanya diisi dengan tawa dan humor. Kemudian adalah tahap kedua adalah Polarisasi, pada tahap ini anggota mulai meluapkan emosi mereka karena anggota kelompok mulai mengungkapkan pendapat-pendapat mereka baik tentang atasan mereka, sesama anggota atau kelompok lain. Tahap ketiga adalah identitas baru, tahap ini akan membuat setiap individu dalam kelompok memiliki produktivitas, dengan cara membuat nama atau slogan baru untuk kelompok. Pada tahap ini juga melatih anggota dalam kelompok untuk memiliki produktivitas yang tinggi melalui tim kerja yang baik, masing-masing anggota juga berfokus pada keahlian masing-masing. Tahap yang terakhir adalah tahap mengeluarkan semua kesadaran baru. Tahap ini diisi dengan saran-saran pada bagaimana kelompok dapat meningkatkan dan mengembangkan identitasnya. Kelompok juga mulai membuat perencanaan yang formal sehingga menjadikannya sebagai tugas kelompok. Apabila tingkat kesadaran kelompok mencapai tahap minimal, maka anggota kelompok kurang mengerjakan tugas kelompok sehingga produktivitas berkurang. Sebaliknya, jika kesadaran mencapai maksimal, maka anggota kelompok mengerjakan yang terbaik, sehingga produktivitas tinggi.
Universitas Kristen Petra
32
3.2 Paradigma Penelitian
Menurut Mertens dalam Merrigan & Huston (2004): ”Phenomenologists
believed that interpretation of experience was only possible by understanding the perspective of the participants engaged in interacting” (p.12), para ahli fenomenologi percaya bahwa interpretasi dari pengalaman hanya dapat diakses dengan mengerti sudut pandang dari partisipan yang berinteraksi.
Berikut ini adalah perbandingan metode komunikasi yang berhubungan dengan paradigma:
Tabel 3.1 Metode-Metode Komunikasi Yang Berhubungan Dengan Paradigma
Discovery Interpretive Critical
Survei penelitian dan analisis jaringan
Analisis wacana Etnografi kritis
Penelitian eksperimental Etnografi Kritik Marxis
Analisis isi Kritik retoris, narasi
dan mitis
Kritik Feminis
Analisis interaksi Kritik metafor retoris Studi budaya
Neo-aristotelian kritik retoris Dramatisme dalam
kritik retoris
Kritik post modern
Studi kasus sejarah Analisis dengan tema
fantasi dalam kritik retoris
Kritik post struktural
Studi biografis pada kritik retoris
Fenomenologi (Kuswarno,2009,p.125)
Kritik post kolonial
Klasik genre kritik retoris Kritik reformasi genre
Analisis percakapan
Universitas Kristen Petra
33
Watt & Berg dalam Kuswarno (2009,p.125), menjelaskan bahwa: “Fenomenologi yang mengembangkan metode kualitatif untuk penelitian komunikasi dapat mengungkapkan konstruksi realitas (reality construction). Dalam paradigma interpretif dijelaskan bahwa realitas sosial yang ditunjukkan oleh interaksi sosial yang secara esensial adalah dasar dari komunikasi, akan menampakkan komunikasi interpersonal di antara anggota sosial tersebut”.
Terdapat tiga macam fenomenologi, yaitu Classical/Realistic/Transendental
phenomenology, existential phenomenology, dan hermeneutic phenomenology. Dalam
penelitian ini memakai pendekatan fenomenologi eksistensial. Pendekatan ini (Jean-Paul Sartre, Martin Heidegger, Maurice Merleau-Ponty, Clark Moustakas) melihat kesadaran bukan sebuah entitas terpisah namun sebagai sesuatu yang terkait dengan keberadaan manusia, khususnya dalam hubungannya dengan peranan aktif tubuh dan kebebasan bertindak dan memilih. Dalam hal ini, esensi-esensi menjadi bagian dari pengalaman manusia. Di dalam konteks ini (kehidupan, kejadian sehari-hari yang menjemukan; tempat, waktu, dan rumah, sebuah lokasi dan pola pikir dalam suatu situasi tertentu), manusia memiliki kapasitas untuk merespon dan bereaksi terhadap situasi-situasi dan hubungan-hubungan dengan orang-orang lain yang mereka hadapi, temui, atau terkait dalam dunia mereka (Grbich, 2007).
Penelitian ini sesuai dengan pendekatan existensial phenomenology, karena ingin melihat bagaimana peningkatan kesadaran individu di dalam kelompok akan tujuan di dalam kelompok melalui pengalaman mereka, terkait dengan keberadaannya di dalam connect group, yaitu pada sebuah tempat dan waktu yang sama bagaimana individu merepson dan bereaksi terhadap orang lain di dalam kelompok CG.
3.3 Jenis Penelitian
“Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yang mana dalam penelitian ini berisi mengenai gambaran tentang pengamatan, orang, tindakan, dan pembicaraan. Penelitian ini berisi semua peristiwa dan pengalaman relevan yang didengar dan dilihat serta dicatat selengkap dan seobjektif mungkin” (Moleong,2008, p.211).
Universitas Kristen Petra
34
“Dalam penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian itu. Kemudian menarik kepermukaan sebagai suatu ciri atau gambaran tentang kondisi, situasi ataupun variabel tertentu” (Bungin, 2001, p.48)
“Penelitian kualitatif pada hakekatnya ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya” (Nasution, 2003, p. 5). Dalam penelitian ini peneliti memilih pendekatan kualitatif karena melalui pendekatan ini peneliti dapat meneliti secara mendalam dan dapat mengumpulkan data tentang proses
Consciousness-Raising dalam komunikasi kelompok pada studi fenomenologi
terhadap Connect Group Larangan di Gereja Mawar Sharon Satelit Sidoarjo.
3.4 Metode Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian fenomenologi. Sifat-sifat penelitian kualitatif tersebut, akan sejalan dengan ciri-ciri penelitian fenomenologis berikut ini (Kuswarno, 2009, P.37-38):
1. Fokus penelitian pada sesuatu yang nampak, kembali pada yang sebenarnya (esensi), keluar dari rutinitas, dan keluar dari apa yang diyakini sebagai kebenaran dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Fenomenologi tertarik dengan keseluruhan, dengan mengamati entitas dari berbagai sudut pandang dan perspektif, sampai didapat pandangan esensi dari pengalaman atau fenomena yang diamati.
3. Fenomenologi mencari makna dan hakikat dari penampakan, dengan intuisi dan refleksi dalam tindakan sadar melalui pengalaman. Makna ini akhirnya membawa kepada ide, konsep, penilaian dan pemahaman yang hakiki.
4. Fenomenologi mendeskripsikan pengalaman, bukan menjelaskan atau
menganalisisnya. Sebuah deskripsi fenomenologi akan sangat dekat dengan kealamiahan (tekstur, kualitas, dan sifat-sifat penunjang) dari sesuatu.
Universitas Kristen Petra
35
5. Fenomenologi berakar pada pertanyaan-pertanyaan yang langsung
berhubungan dengan makna dari fenomena yang diamati. Peneliti sangat dekat dengan fenomena yang diamati.
6. Integrasi dari subjek dan objek. Persepsi peneliti akan sebanding/sama dengan apa yang dilihatnya/didengarnya. Pengalaman akan suatu tindakan akan membuat objek menjadi subjek, dan subjek menjadi objek.
7. Investigasi yang dilakukan dalam kerangka intersubjektif, realitas adalah salah satu bagian dari proses secara keseluruhan.
8. Data yang diperoleh (melalui berpikir, intuisi, refleksi, dan penilaian) menjadi bukti-bukti utama dalam pengetahuan ilmiah.
9. Pertanyaan-pertanyaan penelitian harus dirumuskan dengan sangat hati-hati. Setiap kata harus dipilih, di mana kata yang terpilih adalah kata yang paling utama, sehingga dapat menunjukkan makna yang utama pula.
Terdapat tiga macam fenomenologi, yaitu fenomenologi transendental (klasik), fenomenologi eksistensial, dan fenomenologi hermenetik (Grbich, 2007). Dalam fenomenologi transendental, tokohnya adalah Hussserl. ”Fenomenologi transendental melihat esensi kesadaran yang disebutnya intensionalitas. Kesadaran tidak lain adalah sebuah tindakan. Sebagai tindakan, kesadaran senantiasa mengarah kepada sesuatu yang disadari. Artinya kesadaran selalu melibatkan dua bagian yaitu aktivitas intensional (noesis) dan objek intensional (noema) yang selalu berada dalam keadaan berkorelasi” (Adian, 2010, p. 30). Fenomenologi transendental menjelaskan bagaimana objek-objek dibentuk dalam kesadaran murni dan bagaimana konstitusi (sistem) dapat diidentifikasikan melalui proses-proses reduksi fenomenologikal (Grbich, 2007). Fenomenologi eksitensial melihat kesadaran sebagai sebuah entitas terpisah namun sebagai sesuatu yang terkait dengan keberadaan manusia, khususnya dalam hubungannya dengan peranan aktif tubuh dan kebebasan bertindak dan memilih. Dalam hal ini, esensi-esensi menjadi bagian dari pengalaman manusia. Sedangkan, fenomenologi hermenetik adalah fenomenologi yang menyelidiki struktur interpretasi dari pengalaman dari teks, baik publik, pribadi, dalam bentuk seni atau bentuk lain seperti bangunan (Heidegger). Penyatuan dari bagian dan keseluruhan
Universitas Kristen Petra
36
dalam artian interpretasi keseluruhan adalah penting (Grbich, 2007). Dalam penelitian ini memakai fenomenologi eksistensial.
Penelitian ini memakai fenomenologi karena peneliti ingin mengetahui dari sudut pandang orang yang mengalaminya secara langsung (Kuswarno, 2009). Pada penelitian ini, bertujuan untuk menggambarkan bagaimana fenomena yang terjadi di dalam Connect Group, yaitu bagaimana Proses Consiousness raising (peningkatan kesadaran) dalam kelompok terbentuk, sehingga tradisi yang digunakan adalah tradisi studi fenomenologi. Tradisi studi fenomenologi menurut Creswell adalah : “Whereas
a biography reports the life of a single individual, a phenomenological study describes the meaning of the live experiences for several individuals about concept or
the phenomenon” (Kuswarno, 2009, p.127). Dengan demikian, studi dengan
pendekatan fenomenologi berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang suatu konsep atau gejala.
Peneliti memilih penelitian dengan pendekatan fenomenologi, karena penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran, tindakan seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai dan diterima secara estetis, sehingga dalam penelitian ini akan didapatkan pemahaman bagaimana proses Consciousness Raising terbentuk di dalam Connect Group Larangan mengkontruksi makna dan konsep-konsep penting dalam kerangka intersubjektifitas. ”Intersubjektif karena pemahaman kita mengenal dunia dibentuk oleh hubungan kita dengan orang lain” (Kuswarno, 2009, p. 2).
Adapun tahapan penelitian fenomenologi dimulai dengan tahapan perencanaan penelitian (membuat daftar pertanyaan, menjelaskan latar belakang penelitian, pemilihan informan dan telaah dokumen), tahap pengumpulan data, tahap analisis data dan tahap membuat simpulan, dampak dan manfaat penelitian (Kuswarno, 2009). Berikut ini adalah tahapan-tahapan penelitian fenomenologi transedental dari Husserl: (Kuswarno, 2009, p.48-53)
a. Epoche
Epoche adalah pemutusan hubungan dengan pengalaman dan pengetahuan, yang kita miliki sebelumnya. Dalam melakukan penelitian fenomenologi,
Universitas Kristen Petra
37
epoche ini mutlak harus ada. Terutama ketika menempatkan fenomena dalam tanda kurung (bracketing method). Epoche dapat menciptakan ide, perasaan, kesadaran dan pemahaman yang baru. Epoche membiarkan objek yang ada di depan kesadaran memasuki area kesadaran kita, dan membuka dirinya sehingga kita dapat melihat kemurnian yang ada padanya. Tanpa dipengaruhi segala hal yang ada dalam diri kita dan diri orang lain di sekitar kita.
b. Reduksi Fenomenologi
Reduksi fenomenologi adalah menjelaskan dalam susunan bahasa bagaimana objek itu terlihat. Fokusnya terletak pada kualitas dari pengalaman, sedangkan tantangannya ada pada pemenuhan sifat-sifat alamiah dan makna dari pengalaman. Reduksi akan membawa kita kembali pada bagaimana kita mengalami sesuatu. Dengan demikian tahap-tahap reduksi fenomenologi adalah sebagai berikut:
1) Bracketing, yaitu proses menempatkan fenomena dalam ”keranjang”,
dan memisahkan hal-hal yang dapat mengganggu untuk memunculkan kemurniannya.
2) Horizonalizing, yaitu membandingkan dengan persepsi orang lain
mengenai fenomena yang diamati, sekaligus mengoreksi atau melengkapi proses bracketing.
3) Horizon, yakni proses menemukan esensi dari fenomena yang murni,
atau sudah terlepas dari persepsi orang lain.
4) Mengelompokkan horizon-horizon ke dalam tema-tema tertentu, dan mengorganisasikannya ke dalam deskripsi tekstural dari fenomena yang relevan
c. Variasi Imajinasi
Tugas dari variasi imajinasi adalah mencari makna-makna yang mungkin dengan memanfaatkan imajinasi, kerangka rujukan, pemisahan dan pembalikan, dan pendekatan terhadap fenomena dari perspektif, posisi, peranan, dan fungsi yang berbeda. Dalam berpikir imajinatif, kita dapat
Universitas Kristen Petra
38
menemukan makna-makna potensial yang dapat membuat sesuatu yang asalnya tidak terlihat menjadi terlihat jelas. Pada tahap ini, struktur dari pengalaman diungkapkan, di mana kondisi hakiki yang ada dimunculkan. d. Sintesis Makna dan Esensi
Tahap terakhir dalam penelitian fenomenologi transendental adalah integrasi intuitif dasar-dasar deskripsi tekstural dan struktural ke dalam satu pernyataan yang menggambarkan hakikat fenomena secara keseluruhan. Pada tahap ini adalah tahap penegakkan pengetahuan secara keseluruhan. Menurut Husserl, esensi adalah sesuatu yang umum dan berlaku universal, kondisi atau kualitas yang menjadikan sesuatu.
3.5 Sasaran Penelitian
Peneliti memilih informan yang sesuai dengan judul penelitian. ”Informan dipilih untuk mendapatkan informasi guna untuk mendukung data-data yang diperoleh oleh peneliti. Informan adalah sumber data yang dibutuhkan oleh peneliti dalam sebuah penelitian. Informan yang dipilih sesuai dengan permasalahan penelitian, di mana terlebih dahulu peneliti menetapkan siapa saja informannya” (Moleong, 2001, p.90). Informan dalam penelitian ini adalah anggota tetap connect
group Larangan yang terikat dan memiliki komitmen untuk terus datang dalam pertemuan di connect group. Selain itu, informan dalam penelitian ini telah mengikuti
connect group selama kurang lebih satu sampai dua tahun.
Berikut ini adalah cara peneliti dalam memilih informan pada penelitian fenomenologis: (Kuswarno, 2009, p.61)
1. Informan harus mengalami langsung situasi atau kejadian yang berkaitan dengan topik penelitian. Tujuannya untuk mendapatkan deskripsi dari sudut pandang orang pertama. Dalam penelitian ini setiap informan terlibat langsung dalam Connect Group Larangan. Informan mengikuti Connect
Group setiap hari Selasa Pk 19:00 WIB.
2. Informan mampu menggambarkan kembali fenomena yang telah dialaminya,
Universitas Kristen Petra
39
yang alami dan reflektif menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Setiap informan merupakan anggota Connect Group sehingga mereka mampu menggambarkan fenomena yang telah terjadi sehingga peneliti dapat memperoleh data yang relevan sesuai dengan judul penelitian,
3. Bersedia untuk terlibat dalam kegiatan penelitian yang mungkin
membutuhkan waktu yang lama. Informan terlibat dalam penelitian secara langsung.
4. Bersedia untuk diwawancara dan direkam aktivitasnya selama wawancara
atau selama penelitian berlangsung.
5. Memberikan persetujuan untuk mempublikasikan hasil penelitian. Setiap
informan setuju bahwa penelitian ini akan dipublikasikan.
Biasanya jumlah informan dalam penelitian fenomenologi, menurut Cresswell (1998, p.117) sebagian yang dikutip oleh Kuswarno (2009, p.62) adalah sampai dengan sepuluh orang.
Objek dari penelitian ini adalah Proses Consciousness-Raising, di mana proses tersebut dibatasi dengan empat macam proses, yaitu: kepercayaan, polarisasi, identitas baru dan mengeluarkan semua kesadaran baru.
Universitas Kristen Petra
40
3.6 Unit Analisis
Dalam penelitian ini unit analisisnya adalah sepuluh orang anggota Connect
Group Larangan. Berikut ini adalah data dari sepuluh orang informan anggota
Connect Group Larangan, sebagai berikut:
Tabel 3.2 Tabel Informan
Nama Umur Jabatan Latar Belakang
1. Denny 27 tahun Penilik Merokok
2. Jessica 20 tahun Fasilitator Broken home
3. Shella 21 tahun Sponsor Tidak percaya diri
4. Yulia 23 tahun Sponsor Nakal di sekolah
5. David 22 tahun Sponsi Broken home, pendendam
6. Ekwan 25 tahun Sponsi Merokok
7. Elizabeth 24 tahun Sponsi Broken home
8. Gayus 22 tahun Sponsi Tidak peduli dengan orang lain
9. Andre 20 tahun Sponsi Pendiam, minder
10. Irvan 21 tahun Sponsi Merokok, balapan
Sumber: Hasil wawancara dengan Fasilitator
Pada tabel 3.2 merupakan data informan, jabatan merupakan kedudukan informan dalam Connect Group. Peneliti melakukan analisis terhadap sepuluh orang informan yang memiliki latar belakang yang berbeda. Jessica, Elizabeth dan David merupakan anak yang memiliki latar belakang dari keluarga broken home artinya hubungan kedua orang tua mereka sudah tidak harmonis lagi walaupun orang tua mereka belum bercerai. Latar belakang Yulia adalah anak nakal, di mana waktu saat duduk di SMA, Yulia menjadi preman di sekolahnya. Anak nakal yang dimaksud peneliti adalah anak yang dulunya terlibat pergaulan bebas, seperti merokok, minum-minuman keras, balapan, dan sebagainya. “Pengumpulan data selanjutnya dipusatkan
Universitas Kristen Petra
41
di sekitarnya mulai apa yang terjadi dalam kegiatannya, apa yang mempengaruhinya, bagaimana sikapnya dan bagaimana” (Bungin, 2001, p.69).
3.7 Jenis Sumber Data
Menurut Cooper (Kuswarno,2009,p.63-64), jenis sumber data dalam penelitian fenomenologi dibedakan menjadi data teknik dan data non teknik, sebagai berikut:
1. Data teknik, yakni data yang mencangkup:
a. Kepekaan Teoritis (theoretical sensivity) untuk menangkap konsep dan hubungan antardata. Tujuannya untuk mempelajari bagaimana mendekati dan menginterpretasikan data.
b. Data sekunder, menyediakan informasi yang berguna. Contohnya catatan
lapangan yang berisi bahan-bahan penunjang yang relevan dengan kejadian, tindakan, dan cara pandang informan.
c. Pertanyaan-pertanyaan penelitian.
d. Teori orang lain yang relevan dengan permasalahan penelitian e. Validitas pelengkap untuk keakuratan data.
2. Data non teknik (disebut juga data utama)
Contohnya buku harian, rekaman video, biografi, dan sebagainya.
Dalam penelitian ini, data teknik yang peneliti gunakan adalah penggunaan teori proses consciousness-raising sebagai konsep utama, di mana teori tersebut sebagai guide line peneliti untuk menghubungkan konsep dengan data di lapangan. Selain itu, peneliti juga menggunakan data sekunder yaitu catatan di lapangan (observasi), yang digunakan sebagai informasi lain yang menunjang data. Pada data teknik, peneliti juga menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian.
Data non teknik (data utama) yang peneliti gunakan adalah rekaman wawancara informan yang kemudian di realisasikan dalam transkrip wawancara, buku harian peneliti yang digunakan untuk catatan wawancara, dan biografi tentang latar belakang informan.
Universitas Kristen Petra
42
3.8 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data pada penelitian fenomenologi adalah sebagai berikut:
1. Wawancara mendalam (in-depth interview)
“Metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara” (Bungin, 2001, p.133). Menurut Mike Fancher dalam Narendra (2008), “Wawancara adalah narasumber mengatakan apa yang sebenarnya dipikirkan, bukan memikirkan apa yang dikatakan” (p.197).
“Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara mendalam, agar data yang diperoleh lebih dalam lagi. Jenis wawancara ini dimaksudkan untuk kepentingan wawancara yang lebih mendalam dengan lebih memfokuskan pada persoalan yang menjadi pokok dari minat penelitian. Pedoman wawancara mengancar-ancarkan peneliti mengenai data mana yang akan lebih dipentingkan. Pedoman wawancara biasanya tidak berisi pertanyaan-pertanyaan yang mendetail, tetapi sekadar garis besar tentang data atau informasi apa yang ingin didapatkan dari informan yang nanti akan dikembangkan dengan memperhatikan perkembangan, konteks dan situasi wawancara” (Pawito, 2007, p.133).
“Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara tidak bertruktur terlebih dahulu kemudian peneliti menggunakan wawancara berstruktur. Tujuannya ialah memperoleh keterangan yang terinci dan mendalam mengenai pandangan orang lain. Dalam wawancara tak-berstruktur responden mendapat kebebasan dan kesempatan untuk mengeluarkan buah pikiran, pandangan, dan perasaannya tanpa diatur ketat oleh peneliti. Akan tetapi, setelah peneliti memperoleh sejumlah keterangan, ia dapat mengadakan wawancara yang lebih berstruktur yang disusun berdasarkan apa yang telah disampaikan oleh responden” (Nasution, 2003, p.72).
Universitas Kristen Petra
43
”Protokol wawancara (interview protocol) adalah suatu bentuk yang didesain oleh para peneliti yang berisikan instruksi-instruksi untuk proses wawancara, pertanyaan yang ditanyakan, dan waktu untuk mencatat respon dari orang yang diwawancara” (Cresswell, 2008, p.233-235)
Agar hasil wawancara dapat terekam oleh peneliti dengan baik, maka ketika melakukan wawancara peneliti membutuhkan perlengkapan wawancara sebagai berikut: (Narendra, 2008, p. 204-205)
1. Buku Catatan dan Alat tulis
Peneliti selalu membawa buku catatan dan alat tulis (pulpen) agar segera menuliskan hal-hal yang dilihat atau didengarnya selama wawancara. Ini perlu dilakukan karena daya ingat manusia sangat terbatas. Untuk menghindati peneliti lupa pada hal-hal yang ditemui selama berada di lapangan. Oleh karena itu, peneliti perlu membawa buku catatan dan alat tulis kemana saja.
2. Alat perekam
Dalam wawancara, peneliti seringkali tidak mampu mengikuti kecepatan informan dalam memberikan keterangan karena ia tidak dapat menulis steno. Hal ini digunakan untuk mengatasi kemungkinan terlewatkannya informasi yang diberikan sehingga mempermudah dan memperlancar.
2. Observasi Partisipan
“Metode Observasi dibedakan menjadi dua jenis metode pengamatan, yaitu observasi dengan ikut terlibat dalam kegiatan komunitas yang diteliti (participant observation) dan observasi tidak terlibat (nonparticipan
observation)” (Pawito, 2007, p.114). Dalam penelitian ini, peneliti mengamati secara langsung bagaimana proses Consciousness Raising di dalam Connect
Group, sehingga observasi yang digunakan peneliti adalah Participant
Observation. Peneliti melakukan observasi secara langsung, dengan cara peneliti datang pada kegiatan Connect Group Larangan yang diadakan setiap hari selasa. Selain itu, peneliti juga mengikuti fellowship yang diadakan
Universitas Kristen Petra
44
Connect Group Larangan. Kuswarno mengatakan bahwa: (2009), “Observasi
dalam penelitian fenomenologi untuk mengungkapkan gaya atau perilaku komunikasi (atau komunikasi nonverbal) seorang informan, peneliti cukup mengamati perilaku, cara bicara, cara berpakaian dan sebagainya” (p.66).
3.9 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini termasuk ke dalam fenomenologi eksistensial, dan salah satu tokohnya adalah Clark Moustakas. Oleh karena itu, peneliti memilih analisis data menurut Moustakas agar terjadi keselarasan. Proses Analisis data menurut Moustakas, antara lain sebagai berikut: (Moustakas, 1994)
1. Epoche
Mengesampingkan pengalaman atau pengetahuan yang dialami sebelumnya. Bersikap netral dalam penelitian (Moustakas, 1994). ”Epoche adalah pemutusan hubungan dengan pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki sebelumnya” (Kuswarno, 2009, p.48). Peneliti mencegah pengetahuan yang ia miliki sebelumnya agar tidak mempengaruhi hasil analisis. Poin dari isu ini adalah seseorang harus benar-benar meresapi deskripsi atau fenomena.
Contohnya adalah seorang psikolog (peneliti) yang sedang meneliti suatu topik tentang belajar, kemudian peneliti melakukan wawancara terhadap manajer restaurant. Dalam hal ini, psikolog tersebut (peneliti) menyortir semua pengalaman pribadinya tentang belajar, restaurant, pegawai atau apa saja yang dapat membiaskan pengertiannya terhadap pengalaman kesadaran dari sang subjek sendiri (Littlejohn, 1999).
2. Phenomenologigal reduction (Reduksi Fenomenologi)
Reduksi fenomenologi yaitu pengeleminasian secara seksama dan sistematis terhadap faktor-faktor subjektif yang memasuki pengalaman murni seseorang terhadap sesuatu. Dengan reduksi, peneliti membracket faktor-faktor subjektif-meliputi sejarah, bias, dan ketertarikan-ketertarikan - untuk mengeliminasi faktor-faktor yang mendistorsi ini dan berkonsentrasi pada objek yang diteliti (Littlejohn, 1999).
Universitas Kristen Petra
45 • Bracketing:
”Bracketing The topic or Question” (Moustakas, 1994, p.180). “Proses menempatkan fenomena dalam ”keranjang” atau tanda kurung, dan memisahkan hal-hal yang dapat mengganggu untuk memunculkan kemurniannya” (Kuswarno, 2009, p. 51). Contohnya adalah ekspresi kemarahan manajer restaurant kepada karyawannya adalah deskripsi natural, tahap pertama dari analisis fenomenologi. Peneliti membracket setiap pengalamannya yang dapat mengalihkannya dari esensi kejadian. Peneliti akan berhasil mengerti dari nature yang sesungguhnya dari hal-hal dengan membracket pengalaman dan ide pribadi (Littlejohn, 1999).
• Horizonalitation:
”Every statement has equal value”, yakni setiap pernyataan memiliki nilai yang setara.
3. Imaginative variation (Variasi Imajinasi)
Memvariasi makna-makna yang mungkin, memvariasi dari sudut pandang fenomena, mendata kualitas-kualitas struktural dari pengalaman.
4. Synthesis of Composite Textural and Composite Structural Description
Dengan intuitif dan reflektif menyatukan deskripsi composite tekstural dan struktural untuk mengembangkan sebuah sintesa dari makna dan esensi dari fenomena atau pengalaman (Moustakas, 1994). Menurut Sartre dalam Kuswarno (2009), “esensi adalah rangkaian yang sangat penting, rangkaian yang saling jalin menjalin dari penampakan” (p.53). Reduksi pada dasarnya mereduksi deskripsi natural menjadi esensi dari pengalaman yang mendasarinya (Liitlejohn, 1999).
Universitas Kristen Petra
46
3.10 Uji Keabsahan Data
“Humphrey, dalam Phenomenological Research Methods. Mencontohkan teknik validasi data dengan mengirimkan hasil penelitian kepada masing-masing informan dan meminta mereka untuk mengoreksi atau memberikan masukan” (Kuswarno, 2009, p.74).
Dalam penelitian fenomenologi, menurut Creswell terdapat beberapa poin-poin yang diajukan sebagai teknik pemeriksaan keabsahan data, diantara adalah (Kuswarno, 2009, p.74-75):
1. Konfirmasi kepada beberapa peneliti, terutama mereka yang meneliti pola yang mirip.
2. Verifikasi data oleh pembaca naskah hasil penelitian, terutama dalam
hal penjelasan logis, dan cocok tidaknya dengan peristiwa yang dialami oleh pembaca naskah.
3. Analisis rasional dari pengalaman spontan, yaitu dengan menjawab pertanyaan berikut ini:
● Apakah pola penjelasan sama dan logis?
● Apakah bisa digunakan untuk pola penjelasan yang lain?
4. Peneliti dapat menggolongkan data di bawah data yang sama/cocok.
Peneliti menggunakan teknik Triangulasi untuk menguji keabsahan data.
Tujuan ”Triangulasi ialah mengechek kebenaran data tertentu dengan
membandingkannya dengan data yang diperoleh dari sumber lain. Triangulasi dilakukan untuk melihat dengan lebih tajam hubungan antara berbagai data agar mencegah kesalahan dalam analisis data” (Nasution, 2003, p. 115-116).
Peneliti juga perlu mengadakan member-chek. ”Pada akhir wawancara peneliti mengulangi dalam garis besarnya, berdasarkan catatan tentang apa yang dikatakan oleh responden dengan maksud agar ia memperbaiki bila ada kekeliruan, atau menambahkan apa yang masih kurang. Tujuan dari member-chek ialah agar informasi yang diperoleh dan digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan apa yang dimaksud oleh informan” (Nasution, 2003, p.117-118).
Universitas Kristen Petra
47
”Pada prinsipnya, membangun kebenaran dari fenomena dalam penelitian fenomenologi itu dimulai dari persepsi peneliti sendiri, sebagai orang yang membuat sintesis hasil penelitian” (Kuswarno, 2009, p.75). ”Menurut Creswell, sebuah penelitian fenomenologi dinilai dari steps (langkah-langkah penelitian) dan core
facets (bagian-bagian inti)” (Kuswarno, 2009, p.75). ”Polkinghorne, mengajukan ide yang didukung dan didasari dengan baik sebagai kriteria penilaian. Hal ini dapat diketahui dengan menjawab pertanyaan, ”Apakah deskripsi struktur secara umum menyediakan potret yang akurat dan menampilkan ciri khas, ataukah hubungan struktural yang berhasil dibangun itu termanifestasikan dalam pengumpulan contoh-contoh?”” (Kuswarno, 2009, p.75)