PENERAPAN METODE KONSEP NILAI HASIL (EARNED VALUE
CONCEPT) DALAM PENGENDALIAN PROYEK
(Studi Kasus : Proyek Pembangunan Gedung Dinas Prasarana Jalan Tata
Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Barat Tahap II)
Rioni Rizki Aldiansyah, Wardi, Indra Khaidir
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Bung Hatta Padang
E-mail : [email protected],[email protected], [email protected]
Abstrak
Diperlukan suatu manajemen yang baik untuk mengendalikan sebuah proyek konstruksi, demi mencapai efisiensi dan efektifitas pengelolaan proyek, sehingga dicapai hasil proses pengendalian biaya, mutu, dan waktu yang menepati perencanaan. Metode yang dapat digunakan dalam pengendalian biaya dan waktu serta dapat menujukan prestasi kegiatan adalah Metode Konsep Nilai Hasil (EVC).Metode Konsep Nilai Hasil adalah metode menghitung besarnya biaya menurut anggaran sesuai dengan pekerjaan yang telah diselesaikan atau dilaksanakan. Metode Konsep Nilai Hasil dapat digunakan untuk menganalisis kinerja dan membuat perkiraan pencapaian sasaran dengan menggunakan tiga indikator, yaitu ACWP (Actual Cost Work Performed), BCWP (Budgeted Cost of Work Performed), dan BCWS (Budgeted Cost of Work Schedule).Pada proyek Pembangunan Gedung Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Barat Tahap II didapatkan nilai CV=0 dan CPI=1 menunjukan biaya sesuai dengan angaran rencana. Serta nilai SPI<1menunjukan keterlambatanhanya pada bulan januari 2013 s/d april 2013 dan SPI>1 menunjukan proyek berjalan lebih cepat dari rencana. Dilihat pada gambar perhitungan analisis varians terpadu dengan grafik “S” proyek terlaksana sesuai dengan anggaran dan selesai lebih cepat dari pada jadwal.
APPLICATION EARNED VALUE CONCEPT IN CONTROL PROJECT
(Case Study: Building Project Department of Road Infrastructure of Spatial
Planning and Settlement of West Sumatra Province Phase II)
Rizki Aldiansyah, Wardi, Indra Khaidir
Department of Civil Engineering, Faculty of Civil Engineering and Planning, University of Bung Hatta Padang
E-mail : [email protected],[email protected], [email protected]
Abstract
Needed a good management for controlling a construction project, to achieve efficiency and effectiveness of project management, Thus achieve the result of a process cost control, quality, and the right time according to plan. The method can be used in cost control and time, and can show achievement of activities is a Earned Value Concept method (EVC). The Earned Value Conceptmethod is a method calculating of the cost according to the budget according with the work has been completed or implemented. TheEarned Value Conceptmethod can be used to analyze the performance and make estimates of the achievement of performance targets by using three indicators, that is ACWP (Actual Cost Work Performed), BCWP (Budgeted Cost of Work Performed), and BCWS (Budgeted Cost of Work Schedule). Onthe project Department building of Road Infrastructure of Spatial Planning and Settlement of West Sumatra Province Phase II got value CV = 0 and CPI = 1 shows the cost according to plan budgets, and value of the SPI <1 indicates a retardment only in January 2013 to april 2013, and SPI> 1 indicates the project faster than planned. Seen in the picture analysis of variance calculation with integrated charts "S" project implemented in accordance with the budget and was completed faster than schedule.
PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan dunia jasa
konstruksi, begitu juga dengan
perkembangan pembangunan infrastruktur yang begitu pesat dan begitu kompleks, maka tingkat kesulitan untuk mengelola dan
menjalankan sebuah proyek konstruksi
semakin tinggi.Semakin tinggi tingkat
kesulitanya, berarti semakin panjang durasi waktu yang dibutuhkan untuk menyelasikan proyek tersebut. Oleh karena itu disini sangat diperlukan suatu manajemen yang baik untuk mengendalikan sebuah proyek konstruksi, demi mencapai efisiensi dan efektifitas pengelolaan proyek, sehingga dicapai hasil proses pengendalian biaya (cost), mutu (quality), dan waktu (time) yang menepati perencanaan.
Menurut Ervianto (2004),
pengendalian adalah proses yang terus menerus berulang dilakukan dan merupakan hal yang tidak terpisahkan sampai proyek
diselesaikan. Berbagai metode dapat
diterapkan dalam melakukan pengendalian proyek, pemilihan suatu metode tergantung dari kemampuan dan kebijaksanaan pihak-pihak yang terkait. dalam proyek tersebut. Dengan adanya metode dalam pengendalian proyek maka dapat mengatasimasalah-masalah serta penyimpangan yang timbul dalam pelaksanaan proyek konstruksi.
Suatu sistem pengawasan dan
pengendalian proyek, disamping memerlukan
perencanaan yang realistis, juga harus dilengkapi dengan metode pemantauan yang segera dapat memberikan petunjuk atau
mengungkapkan adanya penyimpangan.
Metode dan teknik yang lazim dipakai adalah:
1. Mengidentifikasi adanya varian. 2. Grafik “S”
3. Menggunakan konsep nilai hasil (earned value)
4. Menganalisis kecendrungan dengan membuat prakiraan.
5. Tonggak kemajuan (milestone) 6. Rekayasa nilai (value engineering)
Metode yang dapat digunakan dalam pengendalian biaya dan waktu serta dapat menujukan prestasi kegiatan (Performance) adalah Metode Konsep Nilai Hasil (Earned Value Concept). Metode ini adalah metode
menghitung besarnya biaya menurut
anggaran sesuai dengan pekerjaan yang telah diselesaikan atau dilaksanakan (Budget Cost of Works Performed). Bila ditinjau dari jumlah pekerjaan yang diselesaikan maka,
metode ini merupakan metode yang
membandingkan unit pekerjaan yang telah
diselesaikan dengan anggaran yang
disediakan untuk pekerjaan tersebut.
Dari uraian di atas, penulis mencoba mengangkat masalah ini sebagai bahan untuk
pembuatan tugas akhir dengan judul
“PENERAPAN METODE KONSEP
CONCEPT) DALAM PENGENDALIAN
PROYEK“ (Studi Kasus : Proyek
Pembangunan Gedung Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Barat Tahap II).
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari bahasan tugas akhir ini adalah membuat pengendalian biaya dengan menggunakan metode Konsep Nilai Hasil (Earned Value Concept).
Pembatasan Masalah
Dalam penulisan tugas akhir ini, penulis membatasi permasalahan hanya
untuk mengetahui bagaimana Metode
Konsep Nilai Hasil (Earned Value Concept)
dalam pengendalian proyek ini
dipakai/diterapkan padaproyek Pembangunan Gedung Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Barat Tahap II.
Metodologi Penulisan a. Studi Literatur
Dalam studi literatur ini akan didapat
teori-teori yang akan mendukung
penulisan tentang manajemen konstruksi. b. Pengumpulan Data
Pada perencanaan ini data yang
dibutuhkan adalah data-data seperti time schedulle dan data-data lainnya yang dapat mendukung seperti:
a. Jadwal pelaksanaan pekerjaan b. Daftar kuantitas dan harga
(optimasi)
c. Laporan pelaksanaan pekerjaan
mingguan
d. Laporan pelaksanaan pekerjaan
bulanan e. Kurva “S
c. Analisa dan Perhitungan
Dari data-data yang diperoleh nantinya bisa dilakukan perhitungan pengendalian biaya dengan menggunakan metode yang diinginkan.
TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Umum
Proyek dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu dengan alokasi sumber daya terbatas dan dimasukan untuk melaksanakan suatu tugas yang telah digariskan. Tugas tersebut dapat berupa membangun suatu fasilitas baru, perbaikan fasilitas yang sudah ada, ataupun tugas pelaksanaan penelitian dan pengembangan.
Pengendalian
Menurut Soeharto (1995), ada tiga kendala (Triple Constraint)yang menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan sebuah proyek, yaitu anggaran,jadwal, dan mutu. Ini merupakan parameter penting bagi
penyelenggaraan proyek yang sering
diasosiasikan sebagai sasaran proyek. Tiga kendala tersebut dijelaskan sebagai berikut : a. Anggaran
Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran Untuk proyek-proyek yang melibatkan dana dalam jumlah besar dan jadwal
bertahun-tahun, anggaranya bukan hanya
ditentukan untuk total proyek tetapi
dipecah bagi komponen-komponenya,
atau per periode tertentu ( misalnya per kwartal) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian, penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode.
b. Jadwal
Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, maka penyerahanya tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan. c. Mutu
Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa instalasi pabrik, maka kriteria yang harus dipenuhi adalah pabrik harus mampu beroperasi secara memuaskan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jadi, memenuhi
persyaratan mutu berarti mampu
memenuhi tugas yang dimaksudkan atau sering disebut sebagai fit for the intended use.
Ketiga batasan tersebut bersifat tarik-menarik. Artinya, jika ingin meningkatkan
kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan menaikan mutu, yang selanjutnya berakibat pada naiknya biaya, maka biasanya harus berkompromi dengan mutu atau jadwal.
Dari segi teknis, ukuran keberhasilan proyek dikaitkan dengan sejauh mana ketiga sasaran tersebut dapat dipenuhi. Di dalam proses mencapai tujuan tersebut telah
ditentukan batasan yaitu besar biaya
(anggaran) yang dialokasikan, dan jadwal serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga batasan di atas disebut tiga kendala (triple constrain). Seperti diperlihatkan oleh gambar 2.1 dibawah ini :
Gambar 2.1 : Sasaran proyek yang juga merupakan tiga kendala (triple constrain)
Soeharto, I(1995)
Metode Pengendalian Biaya
Suatu sistem pengawasan dan
pengendalian proyek, di samping
memerlukan perencanaan yang realistis, juga harus dilengkapi dengan teknik dan metode
yang terjadinya penyimpangan. Untuk
macam teknik dan metode yang luas pemakaianya, yaitu identifikasi varians dan konsep nilai hasil. Identifikasi dilakukan dengan membandingkan jumlah uang yang sesungguhnya dikeluarkan dengan anggaran. Sedangkan untuk jadwal, dianalisis kurun waktu yang telah dipakai dibandingkan dengan perencanaan. Melalui identifikasi ini,
akan terlihat apakah telah terjadi
penyimpangan antara rencana dan kenyataan, serta mendorong untuk mencari sebab-sebabnya.
Bagi tujuan yang lebih jauh
jangkauannya, identifikasi di atas
dikembangkan menjadi cost/schedule control system criteria yang dapat digunakan untuk mengkaji kinerja suatu kegiatan.
Menurut Soeharto (1995), dibawah ini metode yang dipakai untuk menganalisis aspek biaya dan jadwal kegiatan proyek adalah sebagai berikut,:
a. Metode Analisis Varians
Pada setiap pembicaraan aspek
pengendalian biaya dan jadwal, akan selalu ditanyakan bagaimana kemajuan pelaksanaan pekerjaan terakhir, apakah pengeluaran
melebihi anggaran, atau kemajuan
pelaksanaan pekerjaan sesuai jadwal. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, menjelang saat pelaporan dikumpulkan informasi mengenai status akhir kemajuan proyek dengan menghitung jumlah unit pekerjaan yang diselesaikan, kemudian membandingkanya dengan perencanaan, atau
melihat catatan penggunaan sumber daya dan membandingkanya dengan anggaran. Teknik yang demikian itu dikenal dengan identifikasi varians atau analisa varians.
Teknik analisa varians ini dapat memperlihatkan perbedaan mengenai hal-hal sebagai berikut :
a. Biaya pelaksanaan anggaran.
b. Waktu pelaksanaan pekerjaan dengan jadwal.
c. Tanggal mulai pelaksanaan pekerjaan dengan rencana.
d. Tanggal akhir pekerjaan dengan
rencana.
e. Angka kenyataan pemakaian tenaga kerja dengan anggaran.
f. Jumlah penyelesaian pekerjaan dengan rencana
2. Varians dengan Grafik “S”
Cara lain untuk melihat adanya varians adalah dengan menggunakan grafik “S”. Grafik yang dibuat dengan sumbu Y sebagai nilai komulatif biaya atau jam orang yang
telah digunakan untuk presentase
penyelelesaian pekerjaan, sedangkan sumbu X menunjukan parameter waktu. Hal ini akan menggambarkan kamajuan volume pekerjaan yang diselesaikan sepanjang siklus proyek.
Bila grafik yang dibuat dibandingkan dengan dengan grafik serupa yang disusun berdasarkan perencanaan dasar proyek, maka
akan segera terlihat jika terjadi
Metode penyajian dengan grafik ”S” dijumpai secara luas dalam penyelenggaraan proyek. Grafik dibuat dengan sumbu vertikal sebagai nilai kumulatif biaya satu jam-orang atau presentase penyelesaian pekerjaan dan sumbu horizontal sebagai kurun waktu. Umumnya grafik ini berbentuk huruf “S”. Hal ini disebabkan karena kegiatan proyek berlangsung sebagai berikut :
a. Kemajuan proyek pada awal bergerak lambat.
b. Diikuti oleh kegiatan yang bergerak cepat dalam kurung waktu yang lebih lama.
c. Akhirnya kecepatan tersebut menurun dan berhenti pada titik akhir.
Penggunaan grafik “S” dijumpai dalam hal-hal berikut :
1. Pada analisis kemajuan proyek secara keseluruhan.
2. Penggunaan seperti di atas, tetapi untuk satuan unit pekerjaan atau elemen-elemenya.
3. Pada kegiatan engineering dan
pembelian untuk menganalisis
presentase (%) penyelesaian
pekerjaan, misalanya jam-orang untuk
menyiapkan rancangan, produksi
gambar, menyusun pengajuan
pembelian, terhadap waktu.
4. Pada kegiatan konstruksi, yaitu untuk menganalisis pemakaian tenaga kerja
atau jam-orang dan untuk
menganalisis presentase (%)
penyelesaian serta
pekerjaan-pekerjaan lain yang diukur
(dinyatakan) dalam unit versus waktu.
Contoh gambar pelaksanaan
konstruksi dengan angka anggaran dan penggeluaran dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :
Gambar 2.4 : Menganalisa Varians dengan Grafik “S” Sumber : Ervianto,W, I (2004)
Konsep Nilai Hasil (Earned Value Concept) Di dalam ilmu manajemen proyek terdapat istilah Konsep Nilai Hasil (Earned Value Concept) ataudisingkat dengan EVC. Bahkan di dalam ilmu manajemen secara umum yang diperuntukkan perusahaan, ada yang disebut EVA atau Earned Value Analysis. Pengertian atau definisi Earned Value dalam manajemen proyek diantaranya adalah:
a. Project Management Course.com
mendefinisikan Earned Value sebagai berikut, "A method which measures
project performance by comparing work completed against work planned (at a given date in the project schedule)."
b. Jurnal Civil Engineering Vol 5 No. 2
Tahun 2003 Universitas Kristen Petra
Surabaya mendefinisikan Konsep
hasil Nilai adalah suatu metode yang mengintegrasikan hubungan antara biaya dan waktu serta memberikan
gambaran tentng kondisi
kelangsungan proyek.
c. Suketu Nagrecha mendefinisikan
Earned Value pada artikelnya An
Introduction to Earned Value
Analysis yaitu "Earned Value is a program management technique that uses "work in progress" to indicate what will happen to work in the future.
d. Soeharto (1995) mendefinisikan
Konsep nilai hasil adalah konsep menghitung besarnya anggaran sesuai
dengan pekerjaan yang telah
dilaksanakan atau diselesaikan
(budgeted cost of work performance). Jadi, dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa metode konsep nilai hasil adalah suatu metode yang
menghitung besarnya anggaran yang
sesungguhnya dikeluarkan untuk
penyelesaian suatu paket pekerjaan sesuai dengan anggaran dan schedule yang telah direncanakan dimana metode ini dapat
melihat masa depan proyek atau
keberlangsungan proyek setelah dianalisa dengan menggunakan konsep nilai hasil.
Di dalam setiap proyek dipastikan mempunyai anggaran dan waktu dan biasanya anggaran dan waktu itu terbatas. Ketika terdapat varian pada penggunaan anggaran dan waktu, maka akan menjadi pertanyaan bagi semua pihak apakah dana yang terbatas dan waktu yang tersisa akan mencukupi dan dapat membuat pelaksanaan proyek tepat dan sesuai rencana.
Metode Identifikasi Varian merupakan teknik pengendalian proyek berdasarkan varian biaya, sedangkan Kurva S berdasarkan varian jadwal proyek. Sehingga 2 (dua) metode ini tidak dapat menjawab pertanyaan di atas, karena dasar varian biaya dan waktu dipisahkan.
Metode Earned Value
mengkombinasikan biaya, jadwal dan
prestasi pekerjaan. Earned Value mengukur besarnya pekerjaan yang telah diselesaikan pada suatu waktu dan menilai berdasarkan jumlah anggaran yang disediakan untuk
pekerjaan tersebut. Metode ini dapat
mengungkapkan apakah kemajuan
pelaksanaan pekerjaan proyek senilai dengan pemakaian bagian anggarannya. Dengan analisis konsep Earned Value dapat diketahui hubungan antara apa yang sesungguhnya telah dicapai secara fisik terhadap jumlah anggaran yang telah dikeluarkan.
Formula Earned Value adalah sebagai berikut:
Nilai Hasil = % Penyelesaian X Anggaran Metode Earned Value ini dapat digunakan untuk membuat perkiraan keadaan proyek di masa mendatang dan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
a. Dapatkah proyek diselesaikan dengan anggaran yang tersisa?
b. Berapa besar biaya untuk menyelesaikan proyek ?
c. Berapa besar perkiraan keterlambatan pada akhir proyek ?
Analisa dalam metode ini menggunakan 3 (tiga) indikator, yaitu:
1. ACWP (Actual Cost of Work
Performance), yaitu jumlah anggaran yang sesungguhnya terpakai untuk kegiatan yang telah dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu
2. BCWP (Budgeted Cost of Work Performance), yaitu jumlah anggaran yang senilai untuk kegiatan yang telah terlaksana
3. BCWS (Budgeted Cost of Work
Scheduled), yaitu anggaran yang
direncanakan untuk kegiatan yang dilaksanakan
Analisis Varians Biaya dan Jadwal
Berdasarkan indikator-indikator di
atas diperoleh besaran varians atau
penyimpangan biaya dan jadwal yang dapat
memberikan informasi kinerja pengelolaan biaya dan jadwal. Variansi biaya dan jadwal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Varians Jadwal (Schedule Varians = SV)
Varians jadwal adalah pengurangan biaya yang dianggarkan untuk pekerjaan
yang sudah dilaksanakan (BCWP)
terhadap biaya yang dianggarkan untuk pekerjaan yang dijadwalkan (Budgeted Cost of Work Scheduled).
SV = BCWP – BCWS Dimana bila :
SV = 0 : proyek tepat waktu SV > 0 : proyek lebih cepat SV < 0 : proyek terlambat
b. Varians Biaya (Cost Varians = CV) Varians biaya adalah selisih antara biaya yang dianggarkan untuk pekerjaan yang sudah dikerjakan (Budgeted Cost of Work Performed) dengan biaya aktual dari pekerjaan yang sudah dikerjakan (Actual Cost of Work Performed).
CV = BCWP – ACWP
CV = 0 : biaya sesuai dengan anggaran CV > 0 : biaya lebih kecil/hemat
CV < 0 : biaya lebih besar/boros
c. Indeks Kinerja/Prestasi Jadwal dan Biaya Varians jadwal dan biaya di atas belum menggambarkan kondisi penyimpangan relatif terhadap satuan unit anggaran atau biayanya. Oleh karena itu terdapat suatu index yang dapat mengukur prestasi baik jadwal dan biaya atau untuk mengetahui
seberapa besar efisiensi penggunaan sumberdaya oleh proyek, digunakan besaran berupa indeks produktivitas atau indeks kinerja sebagai berikut:
Indeks Kinerja Jadual: SPI = BCWP/BCWS SPI = 1 : proyek tepat waktu SPI > 1 : proyek lebih cepat SPI < 1 : proyek terlambat Indeks Kinerja Biaya: CPI = BCWP/ACWP
CPI = 1 : biaya sesuai dengan anggaran CPI > 1 : biaya lebih kecil/hemat
CPI < 1 : biaya lebih besar/boros
SPI dan CPI dihitung di setiap item pekerjaan dan tingkat di atasnya. Pada tingkat yang lebih tinggi, perhitungnan SPI dan CPI dilakukan dengan penjumlahan parameter-parameter yang ada di bawahnya.
Proyeksi Jadwal dan Biaya untuk
Penyelesaian Proyek
Berdasarkan hasil analisis atas
indikator-indikator tersebut di atas pada saat pelaporan maka akan dapat diperkirakan besar biaya pada akhir proyek, yaitu dengan menghitung sebagai berikut:
1. Anggaran yang tersisa = Biaya total yang dianggarkan – Biaya yang sudah terpakai Anggaran tersisa = BAC – BCWP BAC = Budgeted At Cost biaya yang dianggarkan pada saat proyek selesai BCWP = biaya yang dianggarkan pada saat proyek ditargetkan selesai
2.Perkiraan biaya untuk pekerjaan tersisa( Estimate Total Cost = ETC)
ETC = Anggaran tersisa /CPI
3. Perkiraan total biaya proyek ( Estimate Cost at Completion) = EAC = biaya yang sudah dipakai + perkiraan biaya untuk pekerjaan tersisa
EAC = ACWP + ETC
ACWP = Biaya yang sesungguhnya dikelurkan/yang sudah dipakai
ETC = Perkiraan biaya untuk pekerjaan tersisa
Prakiraan Biaya Penyelesaian Proyek Pembuatan pra-perkiraan (forecast) biaya penyelesaian proyek yang didasarkan atas hasil analisis indikator-indikator yang
diperoleh pada saat pelaporan akan
memberikan petunjuk berapa besar kira-kira biaya pada akhir proyek. Atau dapat diartikan membuat proyeksi atas dasar angka yang diperoleh pada saat pelaporan ke masa akhir proyek. Prakiraan tidak memberikan jawaban dengan angka yang tepat karena didasarkan atas berbagai asumsi yang tergantung dari bermacam-macam faktor. Jadi dengan kata lain ketepatanya akan tergantung dari akurasi asumsi yang dipakai. Meskipun demikian pembuatan prakiraan biaya, jadwal atau kemajuan proyek selalu diperlukan karena dapat memberikan peringatan dini mengenai hal-hal yang akan terjadi pada masa depan proyek bila kecendrungan yang ada pada saat ini tidak mengalami perubahan. Dengan
demikian masih tersedia kesemptan untuk
mengadakan tindakan pembetulan bila
dipandang perlu.
Hubungan Biaya dan Waktu
Ada ketergantungan antara biaya
yang dikeluarkan terhadap waktu
pelaksanaan proyek, dimana diperlukan
penjadwalan kegiatan secara optimum
sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi minimum.
Gambar 2.6 : Biaya Proyek Vs Waktu Pelaksanan Sumber : Soeharto,I (1995)
Untuk mencari hubungan waktu dan biaya yang optimal dari suatu proyek konstruksi pada prakteknya tidaklah mudah. Akan tetapi secara teoritis pemecahan dari keadaan di atas berada diantara dua keadaan berikut :
a. Perkiraan dengan biaya termurah (The cost solution)
b. Perkiraan dengan waktu tersingkat (The last time solution)
Perkiraan dengan biaya termurah biasanya disebut juga pemecahan normal (all normal solution). Hal ini menandakan bahwa
waktu yang diperlukan untuk
menyelenggarakan kegiatan proyek dimana biaya langsung yang dikeluarkan serendah mungkin.
Perkiraan dengan waktu tersingkat berarti kegiatan proyek diselesaikan dalam waktu yang sesingkat mungkin dengan biaya minimum untuk waktu penyelesaian tesebut. Untuk mendapatkan waktu pelaksanaan yang sesingkat mungkin, sebagian besar aktivitas yang terlibat dalam pelaksanaan proyek harus dipercepat pengerjaannya. Tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa seluruh aktifitas yang ada pada proyek harus dipercepat untuk mendapatkan pemecahan dengan waktu yang tersingkat tersebut.
METEDOLOGI PEMBAHASAN Teknik Pengendalian Biaya
Dalam menganalisis perhitungan
biaya pada proyek Pembangunan Gedung Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Barat ini, penulis terlebih dahulu membahas mengenai item-item pekerjaan yang dilaksanakan.
Dilanjutkan dengan menganalisa
pengendalian biaya dengan menggunakan konsep nilai hasil
Cash Flow
Cash flow atau Anggaran Kas Proyek adalah suatu metode perhitungan penggunaan anggaran pada suatu proyek yang bertujuan agar biaya akhir proyek tidak melebihi anggaran yang tersedia. Cash flow ini
Bi ay
biasanya dibuat sebagai salah satu bahan
acuan untuk mengajukan permohonan
turunnya dana proyek.
Sistematika Pemantauan Dan
Pengendalian Biaya
Analisis sistematika pengendalian biaya dapat dilihat pada gambar 3.5 berikut ini :
Gambar 3.5 Ringkasan Sistematika Pemantauan Dan pengendalian proyek
Sumber : Soeharto, I.(1995)
ANALISA PENGENDALIAN BIAYA
DAN PEMBAHASAN
Tabel 4.1 :Harga Total Proyek
No Uraian Pekerjaan Total Harga
1 Persiapan Dan Penjunjang Rp 191,855,332.63 2 Rekapitulasi Bagunan Kantor
Utama Rp 23,252,874,064.56 3 Rekapitulasi Bangunan Kantor
Laboratorium Rp 7,466,777,040.86 4 Rekapitulasi Bangunan Pln Dan
Trafo Rp 366,966,540.98 5 Rekapitulasi Bangunan Musolla Rp 1,078,861,364.54 6 Rekapitulasi Bangunan Pos Jaga
Besar Rp 136,540,711.02 7 Rekapitulasi Bangunan Pos Jaga Rp 42,768,398.15
Kecil
8 Rekapitulasi Toilet Umum Rp 351,536,408.03 9 Rekapitulasi Site Development Rp 4,520,254,306.98 10 Rekapitulasi Bongkaran Rp 575,027,315.40 Total 1 Rp 37,983,461,483.15 Biaya-Biaya Perizinan
11 A. Bp ( Biaya Penyambungan ) 555 Kva
B. Penambahan Daya (Bp Dari
145 Kva Ke 555 Kva) Rp 225,500,000.00 C. Jasa Penyambungan Daya
Termasuk Slo. Sji Survey Lokasi Rp 186,415,710.00 Dan Administrasi Surat-Surat
D. Ujl (Uang Jaminan Langganan)
555 Kva Rp 99,139,010.00 Penyambungan Pdam
12 Biaya Penyambungan Telepon 10
Line Rp 8,001,530.00 13 Biaya Pemadam Kebakaran
14 Total 2 Rp 519,056,250.00 Total (1+2) ( Belum Termasuk
PPN) Rp 38,502,517,733.15 Pembulatan Rp 38,502,518,000.00 Sumber : Data Proyek (2014)
Perhitungan Bobot Pekerjaan (Persentase Bobot Pekerjaan)
Persentase bobot pekerjaan (PBP) Rumus : PBP = 100% arg arg bangunan a H satuan a H Volume
Perhitungan persentase bobot
pekerjaan disetiap item pekerjaan pada
Proyek Pembangunan Gedung Dinas
Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Barat Tahap II ini adalah : Harga bangunan = Rp 38,502,517,733.15 1. Pekerjaan Persiapan Kuantitas pekerjaan = 1 ls Harga satuan = Rp 191,855,332.63 PBP = 100% 15 , 733 , 517 , 502 , 38 63 . 332 , 855 , 191 1 Rp = 0,4983 %
2. Gedung Utama Kuantitas pekerjaan = 1 ls Harga satuan = Rp 23,252,874,064.56 PBP = 100% 15 , 733 , 517 , 502 , 38 56 , 064 , 874 , 252 , 23 1 Rp = 60,393 %
Hasil perhitungan Presentase Bobot
Pekerjaan selanjutnya ditabelkan.
a. Perhitungan Budgeted Cost of Work Schedulle ( BCWS )
Menunjukan jumlah anggaran yang
direncanakan untuk kegiatan yang
dilaksanakan, dipadukan dengan jadawal pelaksanaan.
Bulan November 2012
BCWS = % Rencana ×BAC
= 0.02 % ×Rp38,502,517,733.15
= Rp 8,201,036.28
b. Perhitungan Budgeted Cost of Work Performance ( BCWP )
Menunjukan nilai hasil pekerjaan yang telah diselesaikan terhadap anggaran yang disediakan.
Bulan November 2012 BCWP = % Aktual × BAC
= 0.73 % ×Rp38,502,517,733.15 = Rp 282,762,490.23
c. Perhitungan Actual Cost of Work Performance (ACWP )
Menunjukan jumlah anggaran yang
sesungguhnya terpakai untuk kegiatan yang telah dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu.
Bulan November 2012
ACWP = Rp 282,762,490.23 d. Perhitungan Schedule Varians (SV)
Varians jadwal terpadu (SV) dipakai untuk menentukan apakah proyek yang sedang dijalankan masih sesuai jadwal rencana atau tidak. Selisih jadwal adalah selisih antara BCWP dan BCWS.
Bulan November 2012 SV = BCWP – BCWS
=Rp 282,762,490.23 –Rp 8,201,036.28
= Rp 274,561,453.96(Pekerjaan
terlaksana lebih cepat daripada
jadwal/mengalami kemajuan)
e. Perhitungan Cost Variance ( CV )
Varians biaya (CV) dipakai untuk menentukan apakah proyek yang sedang dijalankan masih dalam batas anggaran atau melebihi anggaran rencananya. Selisih biaya adalah selisih antara BCWP dan ACWP. Bulan November 2012
CV = BCWP – ACWP
=Rp282,762,490.23–Rp282,762,490.23= 0
(Pekerjaan terlaksana sesuai dengan biaya)
f. Perhitungan Schedule Performance Index ( SPI )
Schedule Performance Index (SPI) digunakan untuk membandingkan bobot
pekerjaan di lapangan dan dalam
perencanaan. Jika nilai SPI=0 maka proyek tepat waktu, jika SPI < 1, maka progres proyek tertinggal dibanding rencana dan sebaliknya.
SPI = BCWP : BCWS
= Rp 282,762,490.23: Rp 8,201,036.2 = 34.48 (Progress proyek lebih cepat) g. Perhitungan Cost Performance Index (
CPI )
Cost Performance Index (CPI)
digunakan untuk menentukan statusi dari proyek. Dimana jika nilai CPI = 1 berarti biaya sesuai dengan anggaran rencanaCPI < 1, berarti proyek akan mengalami kerugian jika tidak diambil tindakan – tindakan perbaikan dan sebaliknya.
Bulan November 2012 CPI = BCWP : ACWP
=Rp 282,762,490.23: Rp 282,762,490.23 =1(Biaya sesuai dengan anggaran)
h. Perhitungan ETC (Perkiraan Biaya Untuk Pekerjaan Tersisa)
Bulan November 2012 ETC = (BAC – BCWP) / CPI
=Rp38,502,517,733.15–Rp282,762,490.23/ 1 = Rp 38,219,755,242.92
i. Perkiraan Total Biaya Proyek
Estimate At Completion (EAC) Bulan November 2012
EAC = ACWP + ETC
=Rp282,762,490.23+ Rp38,219,755,242.92 =Rp38,502,517,733.15
Pada proyek Pembangunan Gedung Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Barat tahap II ini dapat terlihat perhitungan BCWP dan BCWS pada tabel : 4.4 berikut ini :
Tabel : 4.4 Nilai BCWS dengan BCWP
NO BULAN NILAI BCWP NILAI BCWS
1 November 2012 Rp 282,762,490.23 Rp 8,201,036.28 2 Desember 2012 Rp 1,440,995,228.68 Rp 1,294,531,651.22 3 Januari 2013 Rp 1,538,868,628.76 Rp 2,746,076,569.76 4 Februari 2013 Rp 2,556,182,152.30 Rp 4,367,148,073.88 5 Maret 2013 Rp 5,389,235,909.63 Rp 6,403,969,764.48 6 April 2013 Rp 8,064,891,374.46 Rp 8,372,564,993.66 7 Mei 2013 Rp 11,413,647,854.30 Rp 10,386,901,213.91 8 Juni 2013 Rp 15,186,702,079.56 Rp 11,881,992,480.00 9 Juli 2013 Rp 16,094,129,417.49 Rp 12,798,005,879.39 10 Agustus 2013 Rp 22,239,862,795.54 Rp 13,807,503,391.84 11 September 2013 Rp 25,523,049,487.68 Rp 15,949,205,940.74 12 Oktober 2013 Rp 27,360,620,649.01 Rp 17,854,118,005.59
BCWS dihitung berdasarkan target rencana sedangkan BCWP dihitung dari
prestasi pekerjaan yang sebenarnya.
Penghematan dapat diketahui dari
perhitungan CV (Cost Variance) dan CPI
(Cost Performance Index) dimana
perhitunganya pada tabel : 4.5 berikut ini :
Tabel : 4.5 Nilai CV dan CPI
NO BULAN NILAI CV CPI
1 November 2012 0 1 2 Desember 2012 0 1 3 Januari 2013 0 1 4 Februari 2013 0 1 5 Maret 2013 0 1 6 April 2013 0 1 7 Mei 2013 0 1 8 Juni 2013 0 1 9 Juli 2013 0 1 10 Agustus 2013 0 1 11 September 2013 0 1 12 Oktober 2013 0 1
Mengenai hubungan dengan waktu akan diketahui dari hasil perhitungan SV (Schedule Variance) dan SPI (Schedule Performance Index). Dimana perhitungannya pada tabel : 4.6 Nilai SV dan SPI berikut ini :
Nilai SV dan SPI
NO BULAN NILAI SV SPI Keterangan
1 November 2012 Rp 274,561,453.96 34.48 Melebihi Dari Rencana 2 Desember 2012 Rp 146,463,577.46 1.11 Melebihi Dari Rencana 3 Januari 2013 - Rp 1,207,207,941.01 0.56 Mengalami Kemunduran 4 Februari 2013 - Rp 1,810,965,921.58 0.59 Mengalami Kemunduran 5 Maret 2013 - Rp 1,014,733,854.86 0.84 Mengalami Kemunduran 6 April 2013 - Rp 307,673,619.21 0.96 Mengalami Kemunduran 7 Mei 2013 Rp 1,026,746,640.39 1.10 Melebihi Dari Rencana 8 Juni 2013 Rp 3,304,709,599.55 1.28 Melebihi Dari Rencana 9 Juli 2013 Rp 3,296,123,538.10 1.26 Melebihi Dari Rencana 10 Agustus 2013 Rp 8,432,359,403.70 1.61 Melebihi Dari Rencana 11 September 2013 Rp 9,573,843,546.94 1.60 Melebihi Dari Rencana 12 Oktober 2013 Rp 9,506,502,643.42 1.53 Melebihi Dari Rencana
Pada tabel 4.7 berikut ini dijelaskan hubungan antara SV (Schedule Variance) dan CV (Cost Variance) terhadap kinerja dari
pekerjaan dimana penjelasanya adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.7 : Analisis Varians Terpadu
NO Varians Jadwal SV=BCWP-BCWS Varians Biaya CV= BCWP-ACWP Keterangan 1 Positif Positif
Pekerjaan terlaksana lebih cepat daripada jadwal dengan biaya lebih kecil daripada anggaran
2 Nol Positif
Pekerjaan terlaksana tepat sesuai jadwal dengan biaya lebih rendah daripada anggaran
3 Positif Nol
Pekerjaan terlaksana sesuai
anggaran dan selesai lebih cepat, dari pada jadwal
4 Nol Nol Pekerjaan terlaksana sesuai jadwal
dan anggaran
5 Negatif Negetif
Pekerjaan selesai terhambat dan
menelan biaya lebih tinggi
daripada anggaran
6 Nol Negatif
Pekerjaan terlaksana sesuai jadwal
dengan menelan biaya diatas
anggaran
7 Negetif Nol Pekerjaan selesai terlambat dan
menelan biaya
8 Positif Negatif
Pekerjaan selesai lebih cepat
daripada rencana dengan menelan biaya diatas anggaran
Sumber : Soeharto, I (1995)
Tabel : 4.8
Perbedaan Antara Rencana Presentase Prestasi Pekerjaan yang Akan Dicapai Per Bulan (Kurva S Rencana) Dengan Presentase Pelaksanaanya
(Kurva S Aktual) NO BULAN RENCANA (%) PELAKSANAAN (%) DEVIASI 1 November 2012 0.02 0.73 0.71 2 Desember 2012 3.36 3.74 0.38 3 Januari 2013 7.13 4.00 -3.14 4 Februari 2013 11.34 6.64 -4.70 5 Maret 2013 16.63 14.00 -2.64 6 April 2013 21.75 20.95 -0.80 7 Mei 2013 26.98 29.64 2.67 8 Juni 2013 30.86 39.44 8.58 9 Juli 2013 33.24 41.80 8.56 10 Agustus 2013 35.86 57.76 21.90 11 September 2013 41.42 66.29 24.87 12 Oktober 2013 46.37 71.06 24.69
Sumber : Data Proyek
Gambar 4.1 Schedule Variance (SV)
Gambar 4.2 Schedule Performance Indeks (SPI)
Kesimpulan
Dari hasil pembuatan pengendalian biaya dengan menggunakan metode Konsep Nilai Hasil (Earned Value Cocept), pada Proyek Pembangunan Gedung Dinas Prasarana Jalan
-10,00 -5,00 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 P E R E S E N T A S E ( % ) Schedule variance (SV) 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 P E R E S E N T A S E ( % )
Schedule performance indeks (SPI)
Rp-Rp5.000.000.000,00 Rp10.000.000.000,00 Rp15.000.000.000,00 Rp20.000.000.000,00 Rp25.000.000.000,00 Rp30.000.000.000,00 Rp35.000.000.000,00 Rp40.000.000.000,00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1314 1516 17 1819 2021 22 B I A Y A BCWP BCWS ACWP
Tata Ruang dan Permukiman Provinsi
Sumatera Barat Tahap IIini, dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Analisa SV (Schedule Variance)
menghasilkan angka positif dan angka negatif.Serta Indeks kinerja jadwal SPI
(Schedule Performance Indek)
menghasilkan angka SPI < 1 dan SPI > 1, hal ini menunjukan pada proyek Pembangunan Gedung Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Barat Tahap II ini ada
yang mengalami kemunduran dan
keterlambatan serta ada yang melebihi rencana/schedule. Dimana kemunduran atau keterlambatan hanya pada bulan januari 2013 s/d april 2013 selebihnya mengalami kemajuan dari Schedule yang direncanakan
2. Analisa CV (Cost Variance) = 0 dan CPI (Cost Performance Indeks) = 1 artinya biaya sesuai dengan angaran rencana.
3. Faktor-faktor yang mungkin
menyebabkan keterlambatan pada proyek Pembangunan Gedung Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Barat Tahap II :
a. Peleksanaan pekerjaan yang jelek oleh kontraktor.
b. Kesalahan pengelolaan material oleh kontraktor.
c. Kekurangan tenaga kerja oleh kontraktor
d. Faktor Alam (Cuaca)
e. Kesalahan dalam perencanaan dan spesifikasi
f. Produktifitas yang kurang dari kontraktor
g. Mobilisasi Sumber daya yang terlambat dll.
4. Dilihat pada gambar perhitungan analisis varians terpadu dengan grafik “S” proyek Pembangunan Gedung Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Permukiman Provinsi Sumatera Barat Tahap II ini,
pekerjaan terlaksana sesuai dengan
anggaran dan selesai lebih cepat dari pada jadwal.
Saran
Adapun beberapa saran yang ingin disampaikan adalah agar perbaikan pada proyek yang akan datang adalah :
1. Nilai Varians Jadwal SV (Schedule Variance) negatif menunjukan adanya keterlambatan pekerjaan yang sudah
dilaksanakan, hendaknya sistim
manajemen pengawasan dan pengendalian selama pelaksanaan dilapangan harus ditingkatkan lagi agar pekerjaan dapat dikerjakan lebih maksimal.
Pengendalian proyek dengan Metode Konsep Nilai Hasil membutuhkan informasi dan data yang akurat dan sesuai dengan
kondisi yang terjadi di lapangan agar data yang dihasilkan lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Ervianto, W.I, 2004. Teori-Aplikasi
Manajemen Proyek Konstruksi, Yogyakarta : Andi
Soeharto, Imam. 1998. Manajemen Proyek dari Konseptual Sampai Operasional Jilid I. Jakarta : Erlangga
Soeharto, Imam. 1998. Manajemen Proyek dari Konseptual Sampai Operasional Jilid II. Jakarta : Erlangga
Soeharto, Imam. 1997. Manajemen Proyek dari Konseptual Sampai Operasional.Jakarta : Erlangga
Ibrahim, Bachtiar. 2009. Rencana dan Estimate Real of Cost, Jakarta : Bumi Aksara Dipohusodo, Istimawan, 1995. Manajemen Konstruksi Jilid I, Jakarta : Kanesius
Dipohusodo, Istimawan, 1995. Manajemen Konstruksi Jilid II, Jakarta : Kanesius
Sudarsana, Ketut.D. 2008. Pengendalian Biaya dan Jadwal Terpadu Pada Proyek Konstruksi, Jurnal Ilmiah
Hamzah, M.dkk. 2010. Penerapan Matriks Untuk Monitoring Proyek dengan Konsep Nilai Hasil Pada Pembangunan Gedung
Dekanat Fakultas Teknik Universitas
Brawijaya, Malang : Jurnal Ilmiah
Messah, Afliana. Y.dkk. 2013. Kajian
Penyebab Keterlambatan Pelaksanaan
Proyek Konstruksi Gedung di Kota Kupang , Kupang : Jurnal Ilmiah
Praboyo, Budiman, 1999. Keterlambatan Waktu Pelaksanaan Proyek :Klasifikasi dan
Peringkat dari Penyebab-Penyebabnya.
Jurnal Ilmiah
Junaidi, 2012. Pengendalian Waktu Dan Biaya Pada Tahap Pelaksanaan Proyek Dengan Menggunakan Konsep Nilai Hasil
(Studi Kasusu : Proyek Lanjutan
Pembangunan Gedung PIP2B Kota
Manado), Manado : Jurnal Ilmiah
Pamungkas, Agung. 2013. Analisis Nilai Hasil Terhadap Waktu Dan Biaya Pada Proyek Konstruksi( Studi Kasus Pada Proyek ICB Civil Work Construction Off Spilway Of Countermeasures For Sedimen In Wonogiri), Wonogiri : Jurnal Ilmiah