• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Akuntansi Perpajakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Makalah Akuntansi Perpajakan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

KAITAN PAKET KEBIJAKAN EKONOMI JILID V

TERHADAP PENERIMAAN PAJAK APBN 2016

Disusun oleh : Afif Yulifan Wicaksono

NPM: 133060018531

Kelas/Prodi: 5-S/D-III Akuntansi

Dosen: Bapak Sigit Rohmadi

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang

Perekonomian Indonesia menghadapi berbagai tantangan sejak awal tahun 2015. Bahkan, sejak awal pemerintahan Joko Widodo berdaulat pada akhir tahun 2014 (Oktober 2014), perekonomian Indonesia sudah menghadapi banyak ‘tekanan’. Pelemahan rupiah semenjak akhir 2014 yang saat itu berkisar Rp13,000/ USD,dan parahnya lagi pada tahun 2015 rupiah pernah hampir menyentuh Rp15.000/USD. Pertumbuhan ekonomi yang tak sesuai harapan ,inflasi yang bergejolak pasca kebijakan

dicabutnya subsidi BBM, hingga devisa negara yang terus terkuras untuk menyelamatkan beberapa polemik yang telah disebutkan yang

menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi lesu dan tidak bergairah lagi untuk menarik minat investor menanamkan modalnya di Indonesia. Namun pada bulan Agustus 2015, Presiden Joko Widodo mengambil

sebuah langkah besar dengan me-reshuffle kabinetnya. Darmin Nasution, mantan gubernur Bank Indonesia, dipanggil untuk memimpin Kabinet Kerja ‘divisi ekonomi’. Tak lama setelah hadirnya kapten baru dalam tim, Pak Presiden mulai mengambil langkah kongkret penyelamatan

perekonomian Indonesia.

Langkah kongkret tersebut tidak lain adalah dengan dirancang dan diterbitkannya berbagai macam paket-paket kebijakan ekonomi untuk mulai memancing gairah investasi dan memperbaiki iklim perekonomian di Indonesia agar dapat bersaing dengan negara-negara tetangga

terutama dalam lingkup ASEAN. Dari berbagai macam paket kebijakan ekonomi yang telah diterbitkan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo, mulai dari Paket Kebijakan Ekonomi Jilid I hingga yang terbaru yaitu Paket Ekonomi Jilid X yang rencananya baru akan diterbitkan pada bulan

Februari saya merasa lebih tertarik untuk mengulas mengenai Paket

Kebijakan Ekonomi Jilid V. Kenapa? Hal ini dikarenakan bahwa isi dari paket kebijakan ekonomi jilid V ini akan dapat mengaitkan 2 Tema sekaligus dari

(3)

tema-tema yang telah diusulkan oleh Bapak Sigit Rohmadi selaku dosen mata kuliah Akuntansi Perpajakan dalam memberikan tugas mengenai paper Akuntansi perpajakan yakni mengenai Revaluasi Aset Tetap dan Target Penerimaan Pajak dalam APBN 2016. Dalam paket ekonomi

kebijakan jilid V ini salah satu point nya adalah menyangkut revaluasi aset tetap BUMN dan BUMS yang selanjutnya akan ditekankan dalam

penerimaan pajak dalam APBN 2016. Dan fokus penulis disini adalah mengupas seberapa besar persan Revaluasi Aset setelah ada paket kebijakan ekonomi jilid V tersebut terhadap penerimaan pajak dalam APBN 2016.

Dengan 2 tema dalam paper yang akan saya usut itulah yang menjadi pendorong saya untuk semakin banyak membaca berbagai macam artikel dan lebih memahami lagi terkait dunia perpajakan terutama mengenai perihal Revaluasi Aset Tetap dan APBN 2016 yang relevan sesuai kondisi terkini.

1.2

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan tema yang saya ambil untuk paper ini, maka rumusan masalah yang akan saya bahas diantaranya adalah

1. Dimensi paket kebijakan ekonomi jilid I sampai IV 2. Paket kebijakan ekonomi jilid V

3. Pendalaman materi mengenai revaluasi asset dalam paket kebijakan ekonomi jilid V terutama terkait keuntungan revaluasi aktiva bagi perusahaan dan perbedaan dengan PMK

79/PMK.03/2008

4. Target penerimaan pajak dalam APBN 2016 setelah adanya paket kebijakan ekonomi jilid V

1.3

TUJUAN

Penyusunan Paper ini berutujuan untuk :

1. Memahami dimensi paket kebijakan ekonomi jilid I-V

2. Memahami maksud dari revaluasi aktiva dalam paket kebijakan ekonomi jilid V

3. Memahami keuntungan revaluasi aktiva dalam perusahaan 4. Memahami perbedaan revaluasi aktiva menurut

(4)

5. Memahami peranan revaluasi aktiva dalam penerimaan pajak pada tahun 2016

BAB II

PEMBAHASAN

1. DIMENSI PAKET KEBIJAKAN EKONOMI JILID I sampai IV

Dalam rangka mengatasi krisis ekonomi global dan perlambatan perekonomian domestik akibat berbagai macam polemik yang telah saya sebutkan dalam bab sebelumnya, maka salah satu caranya pemerintah adalah memulai untuk merancang dan menerbitkan paket kebijakan ekonomi untuk mengatasinya. Paket kebijakan ekonomi yang pertama dikeluarkan pada 9 September 2015. Pada paket jilid pertama ini

pemerintah menitikberatkan kebijakan deregulasi untuk menggerakkan sektor riil dalam mengantisipasi dampak krisis global dan melindungi masyarakat yang berpendapatan rendah.Kebijakan deregulasi mencakup 98 peraturan untuk menghilangkan duplikasi, memperkuat koherensi dan konsistensi, serta memangkas peraturan yang tidak relevan atau

menghambat daya saing industri. Untuk itu akan disiapkan 17 rancangan peraturan pemerintah, 11 rancangan peraturan presiden, 2 rancangan instruksi presiden, 63 rancangan peraturan menteri, dan 5 aturan lainnya yang akan selesai hingga Oktober 2015.Untuk mengatasi dampak

perlambatan ekonomi terhadap kemampuan daya beli masyarakat,

(5)

Indonesia mengeluarkan paket kebijakan moneter. Paket tersebut intinya berupaya mengendalikan inflasi. Juga menstabilkan nilai tukar rupiah serta mengelola pasokan dan permintaan valuta asing.Pemerintah juga memperkuat daya beli masyarakat dengan mengarahkan dana desa untuk infrastruktur di pedesaan. Langkah ini diharapkan berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat desa. Selain itu, pemerintah juga menggulirkan program pengadaan konverter elpiji untuk nelayan. Pemerintah

bermaksud membantu nelayan menghemat penggunaan bahan bakar dan dapat meningkatkan produksi ikan tangkap.Kebijakan deregulasi berlanjut ke paket jilid dua yang dikeluarkan pada 29 September 2015.

Pada paket kedua ini kebijakan deregulasi difokuskan untuk memperbaiki iklim investasi dan tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.Iklim investasi diperbaiki dengan meringkas waktu proses

perizinan. Proses perizinan yang memakan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan, akan dipangkas menjadi tiga jam. Izin investasi tersebut

mencakup tiga dokumen, yaitu izin prinsip, akta pendirian perusahaan, serta penerbitan nomor pokok wajib pajak. Fasilitas perizinan tersebut ditujukan bagi investor yang menanamkan modal di kawasan industri minimal Rp 100 miliar atau mempekerjakan 1.000 pekerja.Ada beberapa kebijakan deregulasi lain seperti penyederhanaan prosedur terkait

pengajuan permohonan pembebasan pajak dan pengurangan pajak. Juga insentif bagi eksportir yang menyimpan devisa hasil ekspor di perbankan yang beroperasi di dalam negeri. Tujuannya agar devisa hasil ekspor tetap berada di Tanah Air.

Pada paket kebijakan ekonomi jilid tiga yang dikeluarkan pada 7 Oktober pemerintah secara rinci mengeluarkan arahan yang lebih konkret untuk menjaga iklim investasi, menekan biaya izin usaha, dan menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan-kebijakan menyasar sektor riil, energi, pertanahan, dan keuangan.Kelompok pelaku usaha atau kalangan industri tetap menjadi perhatian pemerintah supaya tetap berdaya di masa krisis. Selain kebijakan penyederhanaan izin, mereka pun dihadiahi pengurangan tarif listrik dan harga gas, serta dimudahkan aksesnya ke kredit

(6)

perbankan dengan menurunkan tingkat bunga kredit usaha.Kelompok masyarakat berpendapatan rendah tak terkecuali. Meski harga bahan bakar premium tidak diturunkan, harga solar bersubsidi turun Rp 200 per liter menjadi Rp 6.700 per liter. Harga berlaku setelah tiga hari

pengumuman. Selain itu, diluncurkan pula skema asuransi pertanian untuk menjaga petani tetap memiliki pemasukan di saat mengalami kesulitan yang disebabkan faktor cuaca.

Kalangan buruh menjadi titik berat pemerintah pada paket kebijakan ekonomi jilid empat yang dikeluarkan pemerintah pada 15 Oktober.

Pemerintah merumuskan formula sistem pengupahan dengan

memasukkan variabel persentase inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Upah buruh akan naik setiap tahun dengan besaran yang terukur.Formula

penghitungan upah minimum adalah UMP tahun berjalan ditambah dengan perkalian UMP tahun berjalan dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi tahun berjalan. Tetapi, formula baru ini tidak akan diberlakukan pada 8 provinsi yang upah minimumnya belum memenuhi 100 persen kebutuhan hidup layak. Terkait formula upah ini, pada 26 Oktober 2015 pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.Tambahan dalam paket keempat ini adalah

mengoptimalkan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dengan memberikan kredit bagi usaha mikro, kecil, dan menengah yang

berorientasi ekspor, tetapi kesulitan modal. Kredit akan diberikan maksimal Rp 50 miliar per perusahaan yang merupakan UMKM yang mempekerjakan minimal 50 orang buruh.

2. PAKET KEBIJAKAN EKONOMI JILID V

1. Revaluasi Aset

Kebijakan ini dikeluarkan karena masih banyak perusahaan yang belum melakukan revaluasi aktiva dengan adanya perubahan nilai aktiva, baik akibat inflasi maupun depresiasi rupiah. Juga dipandang perlu adanya dukungan pemerintah untuk meningkatkan performa finansial perusahaan melalui revaluasi aktiva.

(7)

Kebijakan ini diharapkan bisa membantu perusahaan meningkatkan performa finansialnya melalui perbaikan nilai asset yang terkena dampak depresiasi rupiah dan inflasi.Dengan perbaikan performa finansial, ada ruang bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi usaha. Manfaat

lainnya adalah beban cashflow pajak saat revaluasi menjadi lebih ringan, karena tarif PPh revaluasi yang rendah. Beban PPh pada tahun-tahun setelah revaluasi juga lebih rendah.Kebijakan ini memberikan insentif keringanan pajak. Revaluasi aset akan meningkatkan kapasitas dan performa finansialnya akan meningkat secara signifikan. Pada tahun-tahun berikutnya akan membuat profit lebih besar.

Wajib Pajak yang dapat mengajukan permohonan adalah WP badan dan orang pribadi yang melakukan pembukuan, termasuk WP yang

melakukan pembukuan dalam mata uang dolar. Pada saat pengajuan permohonan pada 2015, permohonan revaluasi dapat dilakukan

berdasarkan perkiraan (estimasi), yang penyelesaian penilaiannya dapat dilakukan sampai dengan 31 Desember 2016. Untuk permohonan tahun 2016 berlaku hal yang sama, dengan penyelesaian penilaian paling lambat tahun 2017.

Direktorat Jendral Pajak akan memberikan persetujuan dalam waktu 30 hari sejak berkas diterima lengkap.

Tanggal Pengajuan Permohonan Besaran Tarif Khusus pph Final Turun dari 10% Menjadi

Sejak Berlaku PMK Ini s.d 31/12/15 3% 1 Januari 2016 - 30 Juni 2016 4% 1 Juli 2016 - 31 Desember 2016 6%

2. Menghilangkan pajak berganda dana investasi Real Estate, Properti dan Infrastruktur.

(8)

Kebijakan di sektor ini diberikan karena produk pasar modal Indonesia masih relatif terbatas, sehingga kapitalisasi Bursa Efek Indonesia relatif kecil dibanding negara-negara tetangga. Untuk itu perlu dikembangkan produk seperti Kontrak Investasi Kolektif (KIK) untuk Infrastruktur, KIK – Dana Investasi Real Estate (KIK-DIRE) dan sejenisnya, yang sejalan dengan upaya pendalaman pasar keuangan. Menurut perhitungan OJK, aset di Indonesia yang dijual dalam bentuk DIRE di Singapura mencapai Rp 30 Triliun. Untuk mendorong produk-produk pengembangan ini, maka pemerintah memberikan pengurangan pajaknya, yaitu dengan

menghilangkan adanya double tax pada transaksi KIK, seperti KIK DIRE, KIK Efek Beragun Aset (EBA) dan sejenisnya. Kebijakan ini diharapkan bisa menarik dana yang selama ini diinvestasikan di luar negeri (tax-heaven country) ke pasar sektor keuangan dalam negeri, di samping mendorong pertumbuhan investasi di bidang infrastruktur dan real estate. Dampak positif dari fasilitas perpajakan ini adalah meningkatnya akumulasi dana KIK, mendorong tumbuhnya pembangunan infrastruktur dan real estate, serta tumbuhnya jasa konstruksi. Tak kalah penting adalah meningkatnya PPh dari kegiatan usaha tersebut

3. Deregulasi di bidang perbankan syariah.

Dari empat Paket Kebijakan Ekonomi yang sudah dikeluarkan

sebelumnya, pemerintah belum menyinggung peran dan potensi industri keuangan syariah. Oleh sebab itu melalui Otoritas Jasa Keuangan,

pemerintah ingin mendorong pertumbuhan industri keuangan syariah. Sebab, industri ini dari tahun ke tahun tumbuh sangat pesat.

Deregulasi yang dilakukan adalah menyederhanakan peraturan dan perizinan bagi produk-produk perbankan syariah. Perizinan tidak perlu lagi mengirim surat, tapi akan ada kodefikasi produk-produk syariah. Jadi, apabila sudah masuk dalam kode tertentu maka tidak perlu meminta izin lagi. Demikian juga produk-produk lain yang terkait dengan pegadaian oleh perbankan syariah. Pemerintah tetap memperhatikan kehati-hatian dan juga tetap memperhatikan gadai emas yang banyak disimpan

(9)

Selain itu, juga dimungkinkan kemudahan untuk memperluas

jangkauan perbankan syariah dalam hal membuka kantor-kantor cabang. Hal ini akan mendorong efisiensi sehingga harga dan suku bunga akan lebih affordable bagi masyarakat.

3. KEUNTUNGAN REVALUASI ASSET BAGI PERUSAHAAN

Dalam rangka menambah setoran tunai pajak penghasilan,

pemerintah telah mengeluarkan fasilitas perpajakan terkait revaluasi aset. Fasilitas ini memberikan tiga keuntungan bagi pelaku usaha jika pelaku usaha melakukan revaluasi aset tahun 2015 dan tahun 2016. Jika tahun 2017 atau setelahnya, maka pemajakannya tidak mendapat diskon. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan

nomor 191/PMK.010/2015 pemerintah telah mengeluarkan kebijakan perpajakan terkait revaluasi, khususnya revaluasi yang dilakukan tahun 2015 dan 2016. Peraturan menteri keuangan ini diberi nama "Penilaian Kembali Aktiva Tetap Untuk Tujuan Perpajakan Bagi Permohonan Yang Diajukan Pada Tahun 2015 Dan Tahun 2016".

Secara formal, tujuan kebijakan khusus ini adalah:

 menjaga stabilitas ekonomi makro, dan

 mendorong pertumbuhan ekonomi

Karena bersifat khusus, maka Peraturan Menteri Keuangan

nomor 191/PMK.010/2015 tidak mencabut atau mengubah Peraturan Menteri Keuangan nomor 79/PMK.03/2008. Jadi, setelah 2016 ketentuan tentang PPh atas revaluasi kembali lagi ke Peraturan Menteri Keuangan nomor 79/PMK.03/2008 dan tarif yang dikenakan 10%.

Tarif khusus tahun 2015 dan 2016 itu sebagai berikut:

 3% (tiga persen), bagi Wajib Pajak yang telah memperoleh penetapan penilaian kembali aktiva tetap oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai, dan melunasi Pajak Penghasilan sampai dengan tanggal 31 Desember 2015;

(10)

 4% (empat persen), bagi Wajib Pajak yang telah memperoleh penetapan penilaian kembali aktiva tetap oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai, dan melunasi Pajak Penghasilan dimaksud dalam jangka waktu sejak tanggal1 Januari 2016 sampai dengan tanggal 30 Juni 2016;

 6% (enam persen), bagi Wajib Pajak yang telah memperoleh penetapan penilaian kembali aktiva tetap oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai, dan melunasi Pajak Penghasilan dimaksud dalam jangka waktu sejak tanggal1 Juli 2016 sampai dengan tanggal 31 Desember 2016

Maka dari itu hal yang harus diperhatikan adalah mengenai jangka waktu setor PPh atas revaluasi :

o tiga persen untuk tahun 2015

o empat persen untuk semester I tahun 2016, dan o enam persen untuk semester II tahun 2016

Jangka waktu penyetoran PPh ini adalah indikasi bahwa pemerintah dalam keadaan mengejar target penerimaan pajak untuk 2015 dan

sebagai persiapan untuk target penerimaan pajak pada tahun 2016 (dapat dilihat dalam Pasal 5 ayat (3) Peraturan Menteri Keuangan

nomor 191/PMK.010/2015). Karena secara idealnya PPh atas revaluasi ini dikenakan selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di atas nilai sisa buku fiskal semula. Selisih lebih ini diketahui setelah ada laporan perusahaan jasa penilai atau ahli penilai. Inilah yang diatur di Peraturan Menteri Keuangan nomor 79/PMK.03/2008.

Selanjutnya terkait dengan keuntungan bagi Wajib Pajak yang melakukan revaluasi berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan nomor 191/PMK.010/2015 ini adalah:

1. Diskon tarif PPh menjadi lebih kecil yaitu, 3%, 4% atau 6% saja; 2. Sisi aktiva Neraca perusahaan akan naik sebesar nilai lebih dan

(11)

Wajib Pajak Tanggal .... ". Akun ini disusutkan sesuai masa manfaat aktiva Tetap. Artinya, tahun-tahun setelah revaluasi penghasilan neto fiskal akan tergerus oleh penyusutan selish lebih revaluasi. 3. Sisi ekuitas Neraca akan muncul "saham baru" baik berupa saham

bonus atau saham baru tanpa penyetoran. Saham baru ini bukan objek PPh sesuai Pasal 2 hurup b Peraturan Pemerintah nomor 94 tahun 2010. Secara umum, penambahan saham tanpa setoran, apapun namanya, dianggap dividen. Bisa dicek bagian penjelasan Pasal 4 (1) huruf g UU PPh.

Maka dari itu keuntungan bagi pebisnis dengan revaluasi ini adalah selain mendapat diskon pajak penghasilan, pemegang saham juga dapat tambahan saham yang bukan objek PPh, dan secara fiskal penghasilan neto akan lebih kecil dibanding tahun lalu.

Satu lagi keuntungan revaluasi adalah bahwa dengan "tambahan nilai aktiva" maka perusahaan bisa menambah jumlah utang ke bank untuk modal kerja atau menaikkan nilai sahamsebelum initial publik

(12)
(13)
(14)
(15)

Target Pendapatan Negara naik Rp60,9 T dari APBNP 2015 atau tumbuh sebesar 3,5%. Kenaikan tersebut terutama bersumber dari meningkatnya penerimaan perpajakan sebesar Rp57,4 T

Masih lemahnya ICP dan harga komoditas menyebabkan pendapatan yang bersumber dari SDA mengalami penurunan dari target APBNP 2015

Target penerimaan perpajakan direncanakan secara realistis dengan mendasarkan pada kondisi perekonomian terkini dan dukungan

(16)

pelaksanaan kebijakan dan administrasi perpajakan yang komprehensif. Selain itu, Pemerintah juga mempertimbangkan upaya untuk

mengoptimalkan potensi pajak yang ada dalam perekonomian dengan tetap memerhatikan iklim investasi.

Target Penerimaan Perpajakan naik Rp57,4 T dari APBNP 2015 atau tumbuh sebesar 3,9%, yang terdiri dari:

• Penerimaan Pajak naik Rp 65,9 T atau tumbuh sebesar 5,1% dari

APBNP 2015, terutama dipengaruhi oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi dan extra effort di bidang perpajakan tahun 2016

• Kepabeanan dan Cukai turun Rp8,5 T atau sebesar 4,3% dari APBNP 2015, terutama disebabkan turunnya tarif bea keluar CPO beserta turunannya sebagai dampak dari kebijakan pembentukan Badan Penghimpun Dana Perkebunan Kelapa Sawit

(17)

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

APBN 2016 yang dalam skema penerimaan pajaknya mengalami

peningkatan yang cukup tinggi dari tahun 2015 yaitu Rp 57,4 T tentunya akan membutuhkan usaha yang besar pula untuk mencapainya. Paket kebijakan ekonomi yang hampir setiap bulan diterbitkan pemerintah menjadi salah satu solusinya agar target yang tinggi tersebut dapat tercapai.

Paket kebijakan ekonomi jilid V yang telah diterbitkan pada Oktober 2015 terutama terkait perihal revaluasi aktiva BUMN dan BUMS diharapkan dapat berperan besar dalam penerimaan pajak APBN 2016. Hal itu dapat dilihat dari target penerimaan PPh Non Migas tahun 2016 yang memiliki presentase 53% dari total penerimaan pajak. Hal lain yang dapat dijadikan acuan adalah bahwa pada akhir tahun 2015 setelah diterbitkannya paket ekonomi jilid V DIREKTORAT Jenderal Pajak memperkirakan fasilitas diskon pajak penghasilan (PPh) final atas penilaian kembali aktiva tetap atau revaluasi aset tahun 2015 akan melebihi target. Penerimaan pajak dari kebijakan revaluasi aset per 31 Desember 2015 telah mencapai Rp 14,3 triliun dan angka ini masih bersifat sementara. Pencapaian itu telah

melebihi target, sebab pemerintah hanya menargetkan dapat meraup Rp 10 triliun dari revaluasi aset dengan tarif 3%. Wajib pajak yang

memanfaatkan fasilitas ini sebanyak 1.438 wajib pajak, wajib pajak badan swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Antara lain PT

Angkasa Pura I dan II, PT Perkebunan Nasional III, PT Bank Central Asia (BCA) Tbk, dan PT Bank Artha Graha International Tbk. PT Perusahaan

(18)

Listrik Negara (PLN) juga turut memanfaatkan fasilitas ini. Besaran setoran PPh final dari revaluasi aset PLN mencapai Rp 6 triliun,

setengahnya dibayarkan tunai ke kas negara dan sisanya diperhitungkan dalam besaran subsidi pemerintah.Akan tetapi untuk tahun 2016

Direktorat Jenderal Pajak belum dapat memberikan target penerimaan pajak dari kebijakan ini. Yang jelas pada tahun 2016 tarif PPh final atas revaluasi aktiva akan naik menjadi 4% pada semester I dan 6% pada semester II.

Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam paper ini. Semoga paper ini dapat memberi manfaat khususnya bagi para pembaca. Atas segala kekurangan dalam makalah ini, penulis mohon maaf.

Referensi

Dokumen terkait

Kecamatan ke pusat pemerintahan Kabupaten Bantul adalah 23 km. Bentangan wilayah di Kecamatan Dlingo 100% perbukitan. Potensi yang ada di.. Kecamatan Dlingo yaitu

Berdasarkan dari penelitian di Panti Asuhan Budi Utomo Kota Metro dan analisis yang telah peneliti lakukan, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi

5) Melakukan magang sesuai ketentuan yang telah ditetapkan oleh pihak Fakultas. 6) Melakukan konsultasi kepada Dosen Pembimbing KKL (Magang). 7) Apabila mahasiswa

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan nasabah yang terdiri dari dimensi tangible, reliability,

Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah karang tipe bercabang ( branching ), karena tipe karang ini selain banyak didapati di Kepulauan Krakatau juga pertumbuhannya

Untuk bangunan tidak bertingkat, alternatif bangunan dengan modifikasi bentuk dan susunan bresing yang diusulkan dalam tugas akhir ini memiliki kekakuan lebih tinggi -13,64%

sebuah aturan daya transmisi minimal yang optimal dengan batasan delay dan packet loss.. yang disesuaikan untuk setiap state

Keuntungan yang diperoleh dengan penggunaan alat reaktor untuk proses mekanisasi pengolahan produk pangan dari biji durian adalah sebagai berikut:.  Prosesnya lebih