• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resume Postpartum

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Resume Postpartum"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

 Ny.

 Ny. A, A, 20 20 tahun tahun P1Ao P1Ao hari hari ke ke 1 1 postpartum, postpartum, klien klien mengeluh mengeluh nyeri nyeri pada pada perineum, perineum, klien klien merasa merasa takuttakut  jahitannya akan terbuka (lepas) jika mau berkemih. Sampai saat ini setelah 4 jam

 jahitannya akan terbuka (lepas) jika mau berkemih. Sampai saat ini setelah 4 jam melahirkan belum berani berkemmelahirkan belum berani berkemih.ih. Merasa senang dengan kelahiran anak pertama ini, namun merasa bingung juga karena belum tahu cara merawat bayi Merasa senang dengan kelahiran anak pertama ini, namun merasa bingung juga karena belum tahu cara merawat bayi dan cara menurunkan berat badan namun tetap ingin bisa menyusui. Hasil pemeriksaan fisik : keadaan umum baik, dan cara menurunkan berat badan namun tetap ingin bisa menyusui. Hasil pemeriksaan fisik : keadaan umum baik, tingkat kesadaran compos mentis, tanda-tanda vital : tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 84 kali/menit, RR 20 tingkat kesadaran compos mentis, tanda-tanda vital : tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 84 kali/menit, RR 20 kali/menit, berat badan 65 kg, tinggi badan 156 cm. Payudara : payudara simetris kanan dan kiri, putting inverted, kali/menit, berat badan 65 kg, tinggi badan 156 cm. Payudara : payudara simetris kanan dan kiri, putting inverted, hiperpi

hiperpigmentasi pada aerola gmentasi pada aerola mammae, pengeluaran kolostrum (+). mammae, pengeluaran kolostrum (+). TFU 1 TFU 1 jari di bawah jari di bawah pusat, kontraksi (-), diastasispusat, kontraksi (-), diastasis rektus abdominalis 2 jari, lochea rubra, 1 pembalut penuh setelah 4 j

rektus abdominalis 2 jari, lochea rubra, 1 pembalut penuh setelah 4 j am, jahitan, ruptur perineum grade 2, ektremitas :am, jahitan, ruptur perineum grade 2, ektremitas : edema -/-, varises -/-, refleks patela +/+, homan sign -/-.

edema -/-, varises -/-, refleks patela +/+, homan sign -/-.

Pengkajian terhadap bayi : laki-laki BB 3200 gr, panjang badan 50 cm, APGAR 9, reflek (+) Pengkajian terhadap bayi : laki-laki BB 3200 gr, panjang badan 50 cm, APGAR 9, reflek (+) (rooting,sucking,moro), dari hasil pemeriksaan maturitas bayi usia kehamilan 38 minggu. Nenek bayi mengoleskan (rooting,sucking,moro), dari hasil pemeriksaan maturitas bayi usia kehamilan 38 minggu. Nenek bayi mengoleskan madu dibibir bayi dengan keyakinan bayi kelak akan pandai berbicara dan disukai bila di

madu dibibir bayi dengan keyakinan bayi kelak akan pandai berbicara dan disukai bila di olesi madu.olesi madu.

KONSEP KONSEP

A.

A. DefinisiDefinisi

Periode pascapartum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke Periode pascapartum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil.

keadaan normal sebelum hamil.

B.

B. Adaptasi anatomi dan fisiologi pada periode postnatalAdaptasi anatomi dan fisiologi pada periode postnatal 1.

1. Sistem reproduksi dan struktur terkaitSistem reproduksi dan struktur terkait a.

a. UterusUterus a)

a) Proses involusiProses involusi

Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi. Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan disebut involusi. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam.

kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam.  b)

 b) KontraksiKontraksi

Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respons terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat besar. Karena penting sebagai respons terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat besar. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus, biasanya diberi suntikan oksitosin secara IV / sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus, biasanya diberi suntikan oksitosin secara IV / IM diberikan segera setelah plasenta lahir.

IM diberikan segera setelah plasenta lahir. c)

c) Tempat plasentaTempat plasenta

Segera setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, konstriksi vaskular dan trombosis Segera setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, konstriksi vaskular dan trombosis menurunkan tempat plasenta ke suatu area yang meninggi dan bernodul tidak teratur. menurunkan tempat plasenta ke suatu area yang meninggi dan bernodul tidak teratur. Regenerasi endomentrium selesai pada akhir minggu ketiga masa pascapartum, kecuali pada Regenerasi endomentrium selesai pada akhir minggu ketiga masa pascapartum, kecuali pada  bekas temp

 bekas tempat plasenta.at plasenta. b.

b. ServiksServiks

Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. Delapan belas jam pascapartum , serviks Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. Delapan belas jam pascapartum , serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali ke bentuk semula.

(2)

c.

c. Vagina dan Vagina dan PerineumPerineum

Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat berperan teregang akan kembali secara berahap ke ukuran sebelum Vagina yang semula sangat berperan teregang akan kembali secara berahap ke ukuran sebelum hamil, enam sampai 8 minggu setelah bayi lahir.

hamil, enam sampai 8 minggu setelah bayi lahir. d.

d.  Abdomen Abdomen

Hari pertama setelah melahirkan, abdomennya akan menjadi menonjol dan membuat wanita tersebut Hari pertama setelah melahirkan, abdomennya akan menjadi menonjol dan membuat wanita tersebut tampak seperti masih hamil. Dalam dua minggu setelah melahirkan, dinding abdomen wanita akan tampak seperti masih hamil. Dalam dua minggu setelah melahirkan, dinding abdomen wanita akan rileks. Diperlukan sekitar enam minggu untuk

rileks. Diperlukan sekitar enam minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan sdinding abdomen kembali ke keadaan s ebelum hamil.ebelum hamil. Kulit memperoleh kembali elastisitasnya, tetapi sejumlah kecil striae menetap. Pada keadaan Kulit memperoleh kembali elastisitasnya, tetapi sejumlah kecil striae menetap. Pada keadaan tertentu, dengan atau tanpa ketegangan yang berlebihan, seperti bayi besar atau hamil kembar, tertentu, dengan atau tanpa ketegangan yang berlebihan, seperti bayi besar atau hamil kembar, otot-otot dinding

otot dinding abdomen memisah, suatu keadaan yang dinamai diastasis rekti abdominalis.abdomen memisah, suatu keadaan yang dinamai diastasis rekti abdominalis. 2.

2. Sistem endokrinSistem endokrin a.

a.  Hormon plasen Hormon plasentata

Selama periode pascapartum, terjadi perubahan hormon yang besar. Pengeluaran plasenta Selama periode pascapartum, terjadi perubahan hormon yang besar. Pengeluaran plasenta menyebab

menyebabkan penurunan signifikan kan penurunan signifikan hormon-hormhormon-hormon yang on yang diproduksi oleh diproduksi oleh organ tersebut. Penurunanorgan tersebut. Penurunan hormon (human placental lactogen (hPL)), estrogen, dan kortisol, serta plasental enzyme insulinase hormon (human placental lactogen (hPL)), estrogen, dan kortisol, serta plasental enzyme insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun secara yang bermakna membalik efek diabetogenik kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun secara yang bermakna  pada

 pada masa masa puerperiumpuerperium. . Kadar Kadar estrogen estrogen dan dan progesteron progesteron menurun menurun secara secara mencolok mencolok setelah setelah plasentaplasenta keluar, kadar terendahnya dicapai kira-kira satu minggu pascapartum. Penurunan estrogen berkaitan keluar, kadar terendahnya dicapai kira-kira satu minggu pascapartum. Penurunan estrogen berkaitan dengan pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstraselular berlebih yang terakumulasi selama dengan pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstraselular berlebih yang terakumulasi selama masa hamil.

masa hamil. b.

b.  Hormon hipofisis dan  Hormon hipofisis dan fungsi ovariumfungsi ovarium

Waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak menyusui berbeda. Waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak menyusui berbeda. Ovarium tidak berespons terhadap stimulasi FSH ketika kadar prolaktin meningkat (Bowes, 1991). Ovarium tidak berespons terhadap stimulasi FSH ketika kadar prolaktin meningkat (Bowes, 1991). Kadar prolaktin meningkat secara progresif sepanjang masa hamil. Pada wanita menyusui, kadar  Kadar prolaktin meningkat secara progresif sepanjang masa hamil. Pada wanita menyusui, kadar   prolaktin tetap m

 prolaktin tetap meningkat sameningkat sampai minggu keenam pai minggu keenam setelah mesetelah melahirkan lahirkan (Bowes, 1991). Kad(Bowes, 1991). Kadar prolaktinar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama setiap kali menyusui, dan banyak makanan serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama setiap kali menyusui, dan banyak makanan tambahan yang diberikan. Cairan menstruasi pertama setelah melahirkan biasanya lebih banyak  tambahan yang diberikan. Cairan menstruasi pertama setelah melahirkan biasanya lebih banyak  daripada normal. Dalam tiga sampai empat siklus, jumlah cairan menstruasi wanita kembali seperti daripada normal. Dalam tiga sampai empat siklus, jumlah cairan menstruasi wanita kembali seperti sebelum hamil.

sebelum hamil. 3.

3. Sistem kardiovaskularSistem kardiovaskular a.

a. Volume darahVolume darah

Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilangan darah selama Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilangan darah selama melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstravaskuler (edema fisiologis). Kehilangan melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstravaskuler (edema fisiologis). Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat,

darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat, tetapi terbatas.tetapi terbatas. b.

b. Curah jantung Curah jantung 

Denyut jantung, volume sukuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Segera Denyut jantung, volume sukuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah wanita melahirkan, keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 sampai 60 setelah wanita melahirkan, keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 sampai 60

(3)

menit karena darah yang biasanya melintasi sirkuit uteroplassenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum. Nilai ini meningkat pada semua jenis kelahiran atau semua pemakaian konduksi anestesia (bowes, 1991).

c. Tanda-tanda vital 

Peningkatan kecil sementara, baik peningkatan tekanan darah sistol maupun diastol dapat timbul dan  berlangsung selama sekitar empat hari setelah wanita melahirkan dan kembali ke fungsi saat wanita

tidak hamil pada bulan keenam setelah wanita melahirkan. d.  Komponen darah

a) Hematrokit dan hemoglobin

Selama 72 jam pertama setelah bayi lahir, volume plasma yang hilang lebih besar daripada sel darah yang hilang. Penurunan volume plasma dan peningkatan sel darah merah dikaitkan dengan  peningkatan hematokrit pada hari ketiga sampai hari ketujuh pascapartum. (bowes, 1991).

 b) Hitung sel darah putih

Leukositosis normal pada kehamilan rata-rata sekitar 12.000/mm3. Selama 10 sampai 12 hari  pertama setelah bayi lahir, nilai leukosit antara 20.000 dan 25.000/mm3 merupakan hal yang

umum. Neutrofil merupakan sel darah putih yang paling banyak. c) Faktor koagulasi

Faktor-faktor pembekuan dan fibrinogen biasanya meningkat selama masa hamil dan tetap meningkat pada awal puerperium.

4. Sistem neurologi

Perubahan neurologi selama puerperium merupakan kebalikan adaptasi neurologis yang terjadi saat wanita hamil dan disebabkan trauma yang dialami wanita saat bersalin dan melahirkan. Rasa baal dan kesemutan periodik pada jari yang dialami 5% wanita hamil biasanya hilang setelah anak lahir, kecuali  jika mengangkat dan memindahkan bayi memperburuk keadaan. Nyeri kepala pascapartum bisa

disebabkan berbagai keadaan, termasuk hipertensi akibat kehamilan, stress. Lama nyeri kepala bervariasi dari satu sampai tiga hari sampai beberapa minggu, tergantung pada penyebab dan efektivitas pengobatan. 5. Sistem integument

Kloasma yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi di aerola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Kelainan pembuluh darah seperti spider angioma (nevi), eritema palmar, dan epulis biasanya berkurang sebagai respons terhadap penurunan kadar estrogen setelah kehamilan berakhir. Pada beberapa wanita spider nevi menetap. Rambut halus yang tumbuh dengan lebat pada waktu hamil biasanya akan meghilang setelah wanita melahirkan, tetapi rambut kasar yang timbul biasanya akan menetap. Diaforesis ialah perubahan yang paling jelas terlihat pada sistem integumen.

6. Sistem imun/kekebalan

(4)

C. Dinamika keluarga setelah anak lahir 1. Adaptasi psikologis

a.  Penyesuaian maternal  a) Fase dependen

Selama satu sampai dua hari pertama setelah melahirkan, ketergantungan ibu menonjol. Rubin (1961) menetapkan periode beberapa hari ini sebagai fase menerima (taking-in phase), suatu waktu di mana ibu baru memerlukan perlindungan dan perawatan. Fase dependen adalah suatu waktu yang penuh kegembiraan dan kebanyakan orangtua sangat suka mengkomunikasikannya.  b) Fase dependen-mandiri

Dalam fase dependen-mandiri ibu, secara bergantian muncul kebutuhan untuk mendapatkan  perawatan dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri. Rubin (1961) menjelaskan keadaan ini sebagai taking-hold phase, yang  berlangsung kira-kira 10 hari. Dalam 6-8 minggu setelah melahirkan, kemampuan ibu untuk 

menguasai tugas-tugas sebagai orangtua merupakan hal yang penting. c) Fase interdependen

Pada fase ini perilaku interdependen muncul, ibu dan keluarganya bergerak maju sebagai suatu sistem dengan para anggota saling berinteraksi. Tuntutan utama ialah menciptakan suatu gaya hidup yang melibatkan anak, tetapi dalam beberapa hal, tidak melibatkan anak. Pasangan ini harus  berbagi kesenangan yang bersifat dewasa. Fase interdependen (letting go phase) merupakan fase yang penuh stres bagi orang tua. Kesenangan dan kebutuhan sering terbagi dalam masa ini. Pria dan wanita harus menyelesaikan efek dari perannya masing-masing dalam hal mengasuh anak, mengatur rumah, dan membina karier.

b.  Penyesuaian paternal 

Keluarga berada dalam konteks sistem keluarga. Ayah menunjukan keterlibatan yang dalam dengan  bayi mereka. (greenberg dan morris, 1976) menyebut absorpsi, keasyikan, dan kesenangan ayah dengan bayinya sebagai engrossment. Keinginan ayah untuk menemukan hal-hal yang unik maupun yang sama dengan dirinya merupakan karakteristik lain yang berkaitan dengan kebutuhan ayah untuk  merasakan bahwa bayi ini adalah miliknya. Respons yang jelas ialah, adanya daya tarik yang kuat dari  bayi yang baru lahir. Henderson dan brouse (1991) tahap pertama meliputi pengalaman prakonsepsi, yakni akan seperti apa rasanya jika mereka membawa bayi pulang ke rumah. Tahap kedua yakni realitas yang tidak menyenangkan tentang menjadi ayah baru. Intervensi yang meningkatkan rasa kompeten dan rasa percaya diri akan membantu para ayah dalam masa transisi yang sulit (henderson,  brouse, 1991).

c.  Penyesuaian bayi-orangtua

Bayi yang baru lahir berpartisipasi aktif dalam membentuk reaksi orangtuanya terhadap mereka Interaksi orangtua-bayi ditandai oleh ―suatu rangkaian irama, repertoar prilaku, dan pola tanggung  jawab (field,1978).

(5)

a) Ritme

Untuk mengatur ritme, baik orangtua maupun bayi harus mampu untuk saling berinteraksi. Karena itu bayi harus berada dalam keadaan sadar penuh, suatu keadaan tidur-bangun yang paling sulit dipertahankan. Ibu multipara menunjukan rasa sensitif dan mampu memberi respons dengan sangat baik terhadap ritme makan bayinya. Ibu yang sensitif terhadap ritme makan memberi kesempatan kepada bayinya untuk berhenti mengisap.

 b) Repertoar 

Repertoar bayi meliputi prilaku memandang, bersuara, dan ekspresi wajah. Bayi mampu fokus dan mengikuti wajah manusia sejak lahir. Bayi juga mampu mengubah arah pandangnya. Kemampuan ini dinkontrol secara volunter.

c) Respons

Kesatuan respons adalah respons yang terjadi pada waktu tertentu dan bentuknya sama dengan  perilaki stimulus. Orang dewasa melihat perilaku bayi seperti tersenyum, bersuara dan melakukan

kontak mata, biasanya dalam posisi bertatapan (en face). d.  Penyesuaian kakek dan nenek 

Jumlah keterlibatan kakak dan nenek dalam merawat bayi baru lahir tergantung pada banyak factor  misalnya keinginan kakek-nenek untuk terlibat, kedekatan hubungan kakek-dan nenek dan peran kakek dan nenek dalam konteks budaya dan etnik yang bersangkutan (grosso,dkk:1981). Nenek dari ibu ialah model yang penting dalam praktik perawatan bayi (rubin,1975). Ia bertindak sebagai sumber   pengetahuan dan sebagai individu pendukung.

e.  Faktor yang mempengaruhi respons orangtua a) Usia maternal lebih dari 35 tahun

 b) Jaringan sosial c) Budaya

d) Kondisi sosioekonomi e) Aspirasi personal 2. Proses menjadi orang tua

Menjadi orangtua bisa merupakan faktor pematangan dalam diri seorang wanita atau pria tanpa memperhatikan apakah anak yang diasuh memilki hubungan biologis atau tidak. Tugas, tanggung jawab, dan sikap yang membentuk peran menjadi orangtua dirumuskan oleh Steele dan Pollack (1968) sebagai fungsi menjadi ibu. Ini merupakan proses orang dewasa (pribadi yang matang, penyayang, mampu dan mandiri) mulai mengasuh seorang bayi (pribadi yang tidak matang, tidak berdaya, dependen). Proses ini dibagi jadi 2 komponen :

a. Keterampilan kognitif-motorik 

Komponen pertama dalam proses menjadi orangtua melibatkan aktivitas perawatan anak, seperti memberi makan, menggendong, mengenakan pakaian, dan membersihkan/memandikan bayi, menjaganya dari bahaya, dan memungkinkannya untuk bisa bergerak (steele and pollack, 1968). Keterampilan kognitif-motorik tidak terlihat secara otomatis pada saat bayi lahir.

(6)

 b. Keterampilan kognitif-afektif 

Komponen psikologis dalam menjadi orangtua, sifat keibuan atau kebapakan tampaknya berakar dari  pengalaman orangtua di masa kecil saat mengalami dan menerima kasih sayang dari ibunya. Keterampilan kognitif-afektif menjadi orangtua ini meliputi sikap yang lembut, waspada, dan memberi perhatian terhadap kebutuhan dan keinginan anak.

3. Perkenalan, ikatan dan kasih sayang dalam menjadi orang tua

Proses kasih sayang dimulai saat ibu hamil, semakin menguat pada awal periode pascapartum, dan begitu terbentuk akan menjadi konstan dan konsisten. Komunikasi orangtua-anak dapat berupa: sentuhan, kontak  mata, suara, aroma.

D. Rawat gabung

Rawat gabung adalah ibu dan bayi dirawat bersama, tinggal bersama selama 24 jam, segera setelah lahir  sampai mereka pulang dari rumah sakit.

MANFAAT RAWAT GABUNG.

Rawat-gabung mempunyai beberapa keuntungan: 1.  bayi tidur lebih nyenyak dan sedikit menangis;

2. sebelum proses persalinan, ibu dan bayinya telah terbiasa dengan pola tidur-bangun yang sama yang akan terganggu bila mereka dipisahkan;

3.  pemberian ASI dapat dilakukan sesegera dan selama mungkin sehingga berat badan bayi cepat bertambah; 4. memberi makan saat bayi lapar akan lebih mudah dan kualitas ASI tetap terjaga;

5. ibu menjadi lebih trampil dalam merawat bayinya;

6. ibu dapat melihat bayinya setiap saat dan tak perlu khawatir mendengar suara tangis bayi di ruang lain (ruang perawatan bayinya);

7.  bayi lebih sedikit terekspos pada kemungkinan infeksi bila dekat dengan ibunya dibandingkan bila dirawat di ruang perawatan;

8. memulai ikatan batin antara ibu dan bayinya, walaupun pada ibu yang tidak memberikan ASI.

E. Manajemen laktasi

Manajemen laktasi adalah tata laksana yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam  pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya. (Direktorat Gizi Masyarakat, 2005). Laktasi

adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai proses bayi mengisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia. (Direktorat Gizi Masyarakat, 2005)

(7)

Fisiologi Laktasi

Pada kehamilan lima bulan lebih, kadang-kadang dari ujung putting mulai keluar cairan yang disebut kolostrum. Sekresi cairan tersebut karena pengaruh hormone laktogen dari plasenta dan hormone prolaktin dari kelenjar hipofise. Produksi cairan tidak berlebihan karena meski selama hamil kadar prolaktin cukup tinggi pengaruhnya di hambat oleh estrogen.

Setelah partus, pengaruh penekanan dari estrogen dan progesterone terhadap hipofisis hilang. Timbul  pengaruh hormon - hormon hipofisis kembali, antara lain lactogenic hormone. (prolaktin) yang akan

dihasilkan pula. Mamma yang telah dipersiapkan pada masa hamil terpengaruhi, dengan akibat kelenjar-kelenjar susu berkontraksi,sehingga pengeluaran air susu dilaksanakan. (Wiknjosastro, 2007).

Siklus laktasi

a. Laktogenesis Stadium 1 (kehamilan) : penambahan & pembesaran lobulus-alveolus  b. Laktogenesis Stadium 2 (akhir kehamilan sampai 2-3 hari postpartum ) : produksi ASI

c. Laktogenesis Stadium 3 (galaktopoeisis) : sekresi ASI

d. Involusi (berkurangnya kelenjar mamae): mulai 40 hari setelah berhenti menyusui

1. Fisiologi Laktasi

Laktasi berarti suatu proses produksi dan pengeluaran ASI membutuhkan : a. Calon ibu : siap secara psikologis dan fisik 

 b. Bayi : cukup sehat untuk menyusu

c. Produksi ASI : disesuaikan dengan kebutuhan bayi volume ASI 500 – 800 ml/hari ( bayangkan 3000 ml/hr !)

2. Refleks pada proses laktasi

Proses laktasi membutuhkan beberapa refleks untuk menunjang keluarnya ASI itu sendiri a. Refleks Prolaktin : yaitu suatu stimuli atau perangsangan produksi ASI

membutuhkan Impuls saraf dari puting susu, hipotalamus, hipofisis anterior, prolaktin, alveolus, dan tentunya ASI itu sendiri

 b. Refleks aliran ( let down reflex ) yaitu sekresi atau pengeluaran AS, Impuls saraf puting susu,hipofisisposterior, oksitosin, kontraksi otot polos supaya ASI keluar 

3. Penghambat produksi ASI

a. Feedback inhibitor :Suatu faktor lokal, bila saluran ASI penuh mengirim impuls untuk mengurangi  produksi.

Cara mengatasi : saluran dikosongkan secara teratur (ASI eksklusif dan tanpa jadwal).

 b. Stress / rasa sakit : akan menghambat atau inhibisi pengeluaran oksitosin. Misalnya pada saat Sinus laktiferus penuh/payudara sudah bengkak 

4. Mekanisme mengisap pada bayi

a. Refleks menangkap ( rooting ) : Sentuhan pada bibir, bayi membuka mulut dan menangkap puting susu.

(8)

b. Refleks mengisap : Puting dalam mulut bayi : langit-langit /palatum molle tersentuh, bayi mengisap.

Areola masuk, lidah menekan sinus laktiferus, ASI terperas keluar.

c. Refleks menelan

5. Menyusu:

a. lidah bayi ―memerah‖ sinus laktiferus.

 b. otot pipi, lidah, langit-langit, rahang bawah semua aktif.Jika bayi menyusui menggunakan Dot c. otot yang bekerja terutama otot bibir dan pipi dan keluarnya susu tergantung kemiringan botol dan

 besarnya lubang dot

d. tidak perlu hisapan kuat, sehingga hati-hati bisa tersedak. 6. Mekanisme mengisap dot dan areola:

Sangat berbeda : hal ini menyebabkan bayi mengalami kondisi yang disebut bingung puting. 7. Perbedaan komposisi air susu

Air susu setiap mamalia berbeda dan adalah ―species specific‖ Variasi komposisi disebabkan oleh:

a. Variasi ukuran dan bentuk fisik  b. Lama masa kehamilan

c. Kecepatan pertumbuhan d. Frekuensi pemberian minum

e. Perbedaan tempat hidup (air, darat, kutub) 8. Manfaat Asi Bagi Bayi

Komposisi sesuai kebutuhan a. Kolostrum

 b. ASI peralihan c. ASI matur  d. ASI prematur 

a) Mudah dicerna dan diserap

 b) Mengandung enzim pencernaan (maka sering merasa lapar) c) Mengandung zat penangkal penyakit

e. Makrofag f. Limfosit

g. Imunoglobulin h. Laktoferin

i. faktor bifidus : Lactobacilus bifidus a) selalu berada dalam suhu yang tepat

 b) tidak menyebabkan alergi mencegah maloklusi/ kerusakan gigi c) mengoptimalkan perkembangan

d) meningkatkan hubungan ibu dan bayi e) menjadi orang yang percaya diri

(9)

 j. mengurangi kemungkinan berbagai penyakit kronik dikemudian hari : diabetes mellitus, penyakit  jantung, penyakit keganasan

9. MANFAAT ASI BAGI IBU

a. Mencegah perdarahan pasca persalinan  b. Mempercepat involusi uterus

c. Mengurangi risiko kanker ovarium & payudara serta anemia d. Memberikan rasa dibutuhkan

e. Mempercepat kembali ke berat semula

f. Sebagai metoda KB sementara / metode amenore laktasi (MAL), Syarat: - Bayi berusia belum 6 bulan dan diberi ASI eksklusif 

- Ibu belum haid kembali

Produksi hormon prolaktin akan menekan fungsi ovulasi dari folikel di ovarium, sehingga selama  pemberian ASI eksklusif yang benar, akan tidak terjadi proses ovulasi sehingga saat itu ibu tidak 

mengalami masa subur, tidak mengalami haid. 10. ANJURAN PEMBERIAN ASI

a. 0-6 bulan :ASI eksklusif memenuhi 100% kebutuhan

 b. 6-12 bulan : ASI memenuhi 60-70% kebutuhan, perlu makanan pendamping ASI yang adekwat c. >12 bulan : ASI hanya memenuhi 30% kebutuhan, ASI tetap diberikan untuk keuntungan lainnya

F. Penatalaksanaan pada periode postnatal 1. Mencegah perdarahan berlebih

Dua intevensi yang paling penting untuk mencegah perdarahan berlebih ialah mempertahankan tonus rahim dan mencegah distensi kandung kemih.

2. Mencegah infeksi

Salah satu cara mencegah infeksi adalah mempertahankan lingkungan yang bersih. Penutup tempat tidur  harus diganti setiap hari, pasien diusahakan untuk tidak berjalan di dalam rumah sakit tanpa menggunakan alas kaki, mereka harus mengetahui cara mencuci tangan untuk mencegah infeksi silang, perawatan tempat episiotomi dan setiap laserasi perineum yang dilakukan dengan baik mencegah infeksi pada daerah genitourinaria dan mempercepat proses penyembuhan. Ajari ibu membersihkan perineum dari arah depan ke belakang (uretra ke anus) setelah berkemih atau defekasi. Pasien perlu diajari mengganti pelapis  perineumnya dari arah depan ke belakang setiap kali berkemih atau defekasi dan untuk memcuci

tangannya sampai bersih sebelum dan sesudah melakukan hal tersebut. 3. Pemenuhan kebutuhan rasa nyaman

Penyebab umum nyeri meliputi nyeri pasca melahirkan (afterbirth), episiotomi atau laserasi perineum, hemoroid, dan pembesaran payudara. Kompresi hangat, distraksi, membayangkan sesuatu, sentuhan terapeutik, relaksasi dan interaksi dengan bayi bisa mengurangi nyeri yang ditimbulkan kontraksi rahim. Untuk mengurangi nyeri akibat episiotomi atau laserasi pada perineum adalah mendorong ibu berbaring  pada salah satu sisinya dan menggunakan bantal saat duduk, kompres es yang dikemas, obat salep,

(10)

aplikasi panas kering, membersihkan dengan botol percik. Rasa tidak nyaman yang timbul akibat  pembesaran payudara bisa dikurangi dengan kompres es atau panas pada payudara dan menggunakan bra

yang menopang payudara dengan baik. Farmakologi, obat analgesik, untuk menghilangkan nyeri. 4. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan

Diet untuk ibu masa nifas harus mencakup 3000ml cairan yang 1000ml cairan berupa susu. Kalori yang harus ditingkatkan perhari mencapai 2700 kalori

5. Pemenuhan kebutuhan istirahat-tidur 

Istirahat, kegembiraan yang dialami setelah melahirkan seorang bayi bisa membuat ibu sulit beristirahat. Untuk memenuhi kebutuhan ibu akan istirahat-tidur dengan menggosok-gosok punggung, pemberian obat tidur mungkin diperlukan selama beberapa malam pertama.

6. Pemenuhan kebutuhan eliminasi

Intervensi keperawatan untuk mempercepat proses defekasi normal ialah memberi ibu penjelasan tentang upaya menghindari konstipasi, mencakup upaya menjamin cukup serat dalam makanan dan cukup minum serta melakukan latihan. Intervensi lain dapat dilakukan adalah memberikan cairan intravena dan obat-obat oksitoksik untuk merangsang kontraksi otot polos rahim.

7. Pemenuhan kebutuhan seksual

Secara fisik aman melakukan hubungan suami istri saat darah merah berhenti keluar dan ibu dapat memasukan satu atau dua jari ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Banyak budaya dan di agama islam menyarankan hubungan suami istri baru dilakukan sampai 40hari atau 6mggu setelah persalinan.

G. Nilai dan keyakinan (budaya) pada periode postnatal

Pengaruh sosial budaya pada ibu hamil dan keluarga di sejumlah daerah di Indonesia yang menyambut masa-masa kehamilan sangat sering dilakukan. Upacara-upacara yang diselenggarakan mulai dari kehamilan 3 bulan, 7 bulan, masa melahirkan dan masa nifas sangat beragam menurut adat istiadat daerah masing-masing (Syafrudin, 2009).

ASPEK BUDAYA PADA MASA NIFAS

a. Dikepulauan Sangihe (Sulawesi) misalnya, perawatan pasca persalinan dilakukan dengan mandi uap air rebusan ramuan (setiap hari) untuk mengembalikan panas tubuh, memberikan minuman air   perasan daun turi, mengompres kepala sang ibu dengan ampas daun turi, makan rebusan kulit pohon ketapang gunanya memulihkan kesehatan, perawatan berlangsung 2 minggu sampai dengan satu  bulan atau 40 hari (Syafruddin, 2009).

b. Pada masa nifas dilarang makan telur, daging, udang, ikan laut dan lele, keong, daun lembayung, buah  pare, nenas, gula merah, dan makanan yang berminyak.

c. Setelah melahirkan atau setelah operasi, ibu hanya boleh makan tahu dan tempe tanpa garam atau  biasa disebut dengan ngayep, dilarang banyak makan dan minum, dan makanan harus disangan /

dibakar sebelum dikonsumsi.

(11)

e. Pada masa nifas dan saat menyusui, ibu harus puasa, tidak makan makanan yang padat setelah waktu maghrib.

f. Masa nifas tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari.

g. Ibu setelah melahirkan dan bayinya harus dipijat/ diurut, diberi pilis / lerongan dan tapel.

h. Masa nifas harus minum abu dari dapur dicampur air, disaring, dicampur garam dan asam diminumkan supaya ASI banyak.

i. Masa nifas tidak diperbolehkan berhubungan intim

H. Karakteristik Lochea

Hari pertama sampai hari ketiga melahirkan lokea berwarna merah tua (lochea rubra), merupakan kumpulan dari sisa darah, partikel desidua dan mucus. Pada hari keempat lokea berubah warna dari merah tua menjadi merah jambu (pink) atau kuning kecoklatan yang dinamakna lochea serosa, berlangsung selama 7-10 hari. Lokea serosa terdiri atas eksudat, leukosit, eritrosit dan mucus serviks, tetapi kandungan eritrosit mulai  berkurang. Selanjutnyalochea alba berwarna krem keputihan, yang berlangsung setelah hari ke 11 hingga 21 hari postpartum. Lokea alba mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, lemak dan mucus serviks. Adanya  perdarahan berwarna merah segar setelah lokea alba atau serosa mengindikasikan adanya infeksi atau  perdarahan yang lama.

Bau lokea seperti menstruasi normal, jika terdapat bau yang abnormal disertai dengan demam, merupakan indikasi infeksi atau adanya bagian plasenta yang tertinggal.

Jumlah lokea. Estimasi jumlah lokea pada pembalut biasanya sulit dilakukan, untuk itu perawat atau  bidan dapat mengestimasi jumlah lokea dengan kategori scant ( kurang) bila banyaknya darah pada pembalut < 2,5 cm. Light (terang) bila bercak darah sepanjang 4-10 cm pada pembalut, moderate (sedang) bila bangya darah 10-15 cm dari pembalut. Large and Heavy (banyak) bila pembalut penuh dalam satu jam dan excessive  bila pembalut penuh dalam 15 menit. (Scoggin, 2000 dalam Pilliteri, 2001).

KONSEP BBL (Bayi Baru Lahir) A. Definisi

Bayi baru lahir harus memenuhi sejumlah tugas perkembangan untuk memperoleh dan mempertahankan eksistensi fisik secara terpisah dari ibunya. Janin yang lahir melalui proses persalinan dan telah mampu hidup di luar kandungan.

B. Adaptasi terhadap kehidupan di luar rahim 1. Suhu tubuh

Pada tahap awal temperatur seringkali menurun sampai 36°C. Pada jam 12, temperatur bayi baru lahir  harus stabil dan berada dalam rentang normal (termoregulasi).

2. Menghangatkan bayi yang mengalami hipotermia

Menghangatkan bayi hipotermi dilakukan dengan hati-hati. Menghangatkan atau mendinginkan bayi dengan cepat dapat menyebabkan bayi mengalami apnea dan asidosis. Oleh karena itu, proses  penghangatan dipantau supaya berlangsung secara perlahan selama dua sampai empat jam.

(12)

3. Suplai oksigen yang adekuat

Empat kondisi di bawah ini penting untuk mempertahankan suplai oksigen yang adekuat. a. Jalan napas bersih

 b. Usaha bernapas

c. Sistem kardiopulmoner berfungsi

d. Dukungan panas (pemaparan pada stres dingin meningkatkan kebutuhan oksigen) 4. Mempertahankan bersihan jalan napas

Bayi normal yang cukup bulan dan lahir per vaginam tidak mengalami kesulitan untuk membersihkan  jalan napasnya. Bayi dipertahankan dalam posisi berbaring miring dengan selimut digulung dan

diletakkan pada punggung bayi untuk memfasilitasi drainase. 5. Mengisap pada jalan napas atas

Apabila terdapat lendir berlebih di jalan napas bayi, jalan napas dapat diisap melalui mulut dan hidung dengan sebuah bulb syringe. Bayi tidak boleh dipegang hanya pada kakinya. Metode pengisapan DeLee (Busse Bac/Shield) membuat pengisapan dapat dilakukan dengan mulut atau secara mekanik aman sambil mencegah tranmisi bakteri, virus, dan materi infeksius lain dari bayi baru lahir ke pemakai.

6. Membebaskan obstruksi jalan napas

Bayi yang tercekik perlu perhatian segera. Bayi diletakkan tengkurap di lengan penolong dengan kepala lebih rendah dari tubuh dan ditopang. Sementara penolong tetap mempertahankan kepala bayi lebih rendah dari tubuh, bayi diputar dan diletakkan telentang pada paha penolong, dada bayi kemudian ditekan dengan cepat dan berurutan di tempat yang sama, seperti akan melakukan resusitasi kardiopulmoner.

C. Adaptasi bayi diluar kandungan 1. Sistem kardiovaskular 

a. Bunyi dan denyut jantung

Frekuensi denyut jantung bayi rata-rata 140 kali/menit saat lahir, dengan variasi berkisar antara 120 dan 160 kali/menit. Bunyi jantung bayi setelah lahir mencerminkan suatu rangkaian kerja pompa  jantung.

 b. Volume dan tekanan darah

Volume darah bayi baru lahir bervariasi dari 80 sampai 110 ml/kg selama beberapa hari pertama dan meningkat dua kali lipat pada akhir tahun pertama. Secara proposional, bayi baru lahir memiliki volume darah sekitar 10% lebih besar dan memiliki jumlah sel darah merah hampir 20% lebih banyak  daripada orang dewasa.

2. Sistem hematopoeisis

Karakteristik hematopoeisis BBL mencakup sistem hematopoeisis orang dewasa dengan variasi tertentu. Saat bayi lahir, rata-rata hemoglobin, hematookrit, dan SDM lebih tinggi dari nilai normal orang dewasa. Hb BBL berkisar antara 14,5 sampai 22,5 g/dl. Ht bervariasi dari 44% sampai 72% dan hitung SDM  berkisar antara 5 sampai 7,5 juta/mm3. Secara berturut-turut, hb dan hitung SDM menurun sampai

mencapai kadar rata-rata 11 sampai 17 g/dl dan 4,2 sampai 5,2 /mm3pada akhir bulan pertama. 3. Sistem hepatika

(13)

Hati dan kandung empedu dibentuk pada minggu keempat kehamilan. Pada BBL, hati dapat dipalpasi sekitar 1 cm di bawah batas kanan iga karena hati besar dan menempati sekitar 40% rongga abdomen. a. Penyimpanan besi

Hati janin (yang berfungsi sebagai produksi hemoglobin setelah lahir) mulai menyimpan besi sejak  masih dalam kandungan. Apabila ibu mendapat cukup asupan besi selama hamil, bayi akan memiliki simpanan besi yang dapat bertahan sampai bulan kelima kehidupannya di luar rahim.

 b. Konyugasi bilirubin

Hati mengatur jumlah bilirubin-tidak terikat dalam peredaran darah. Hemoglobin di fagositosis oleh sel retikuloendotelial, diubah menjadi bilirubin, dan dilepas dalam bentuk tidak terkonyugasi. Tempat ikata-albumin serum yang adekuat tersedia, kecuali jika bayi mengalami asfiksia neonatorum, cold stres, atau hipoglikemia. Ibu yang menggunakan obat-obatan sebelum melahirkan, misalnya sulfa dan aspirin, dapat mengalami penurunan jumlah tempat ikatan albumin pada BBL. Walupun BBL memilki kapasitas fungsional untuk mengubah bilirubin, kebanyakan bayi mengalami hiperbilirubinemia fisiologis.

c. Hiperbilirubinemia fisiologis

Kondisi yang normal pada 50% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi prematur.

Sel darah merah → hemoglobin → hem dan globin, hem → besi dan bilirubin + plasma protein → hati glikoronil transferase → bilirubin tidak terkonyugasi + asam glukoronat → glukoronat bilirubin terkonyugasi → diekskresi melalui feses atau urine.

d. Ikterik yang dikaitkan dengan menyusui a) Breastfeeding jaundice

Biasanya menjadi semakin nyata pada sekitar hari ketiga kehidupan bayi. Dehidrasi, kekurangan cairan dan penurunan berat bukanlah penyebab (Lascari, 1986 : Lawrence , 1994). Semakin  banyak jumlah pemberian ASI ; semakin rendah kadar bilirubin bayi (Lascari, 1986).

 b) Breast milk jaundice

Sebagai suatu peningkatan hiperbilirunemia inderek setelah minggu pertama kehidupan bayi. Ikterik akibat menelan ASI terjadi pada 0,5%sampai 2 % BBL cukup bulan (Wilkerson, 1988). 4. Sistem reproduksi

a. Wanita

Saat lahir ovarium bayi berisi beribu-ribu sel germinal primitif. Jumlah ovum berkurang sekitar 90% sejak bayi lahir sampai dewasa. Peningkatan kadar estrogen selama masa hamil, yang diikuti dengan  penurunan setelah bayi lahir, mengakibatkan pengeluaran suatu cairan mukoid atau kadang-kadang  pengeluaran bercak darah melalui vagina. Genitalia eksterna biasanya edematosa disertai pigmentasi

yang lebih banyak.  b. Pria

Testis turun ke dalam skrotum pada 90% bayi barulahir laki-laki. Walaupun presentasi ini menurun  pada kelahiran prematur, pada usia satu tahun insiden testis tidak turun pada semua anak laki-laki  berjumlah kurang dari 1 %. Spermatogenesis tidak terjadi sampai pubertas. Sebagai respons terhadap

(14)

estrogen ibu, ukuran genitalia eksterna BBL cukup bulan dapat meningkat, bagitu juga dengan  pigmentasinya.

c. Pembengkakan jaringan payudara

Pembengkakan jaringan payudara pada kedua jenis kelamin BBL disebabkan oleh peningkatan estrogen selama hamil. Pada beberapa bayi baru lahir, dapat terlihat rabas encer. Temuan ini tidak  memilki makna klinis, tidak perlu diobati, dan akan menghilang seiring penurunan hormon ibu dalam tubuh BBL tersebut. Jaringan payudara dan ukuran areola membesar selama ibu hamil.

5. Sistem perkemihan

Pada bayi baru lahir, hampir semua massa yang teraba di abdomen berasal dari ginjal. Fungsi ginjal, yang mirip dengan fungsi yang dimiliki orang dewasa, belum terbentuk pada tahun kedua kehidupan. BBL memiliki rentang keseimbangan kimia dan rentang keamanan yang kecil. Infeksi, diare, atau pola makan yang tidak teratur secara cepat dapat menimbulkan asidosis dan ketidakseimbangan cairan, seperti dehidrasi atau edema. Ketidakmaturan ginjal juga membatasi kemampuan bayi baru lahir untuk  mengekskresi obat.

6. Sistem integumen

a. Kaput suksedaneum

Edema pada kulit kepala, yang ditemukan dini.  b. Sefalhematoma

Kumpulan darah diantara tulang tengkorak dan periosteumnya. Sehingga, sefalhematoma tidak pernah melewati garis sutura kepala.

c. Deskuamasi

Pengelupasan kulit pada kulit bayi tidak terjadi sampai beberapa hari setelah lahir. Deskuamasi saat  bayi lahir merupakan indikasi pascamaturitas.

d. Kelenjar lemak dan kelenjar keringat

Kelenjar keringat sudah ada saat bayi lahir, tetapi kelenjar ini tidak berespons terhadap peningkatan suhu tubuh.

e. Bintik mongolia

Dapat terlihat pada semua permukaan tubuh, termasuk pada ekstremitas. Lebih sering terlihat di  punggung dan bokong.

f.  Nevi

Sebagai ―gigitan burung bangau‖ nevi telangiektasis berwarna merah muda dan mudah memutih.  Nevi ini terlihat pada kelopak mata bagian atas, hidung, bagian atas bibir, tulang oksipital bawah, dan

tengkuk.

g. Eritema toksikum

Suatu ruam sementara, eritema toksikum juga disebut eritema neonatorum atau dermatitis gigitan kutu. Ruam diduga merupakan respons inflamasi.

(15)

Kepala bayi cukup bulan berukuran seperempat panjang tubuh. Lengan sedikit lebih panjang daripada tungkai. Wajah relatif kecil terhadap ukuran tengkorak. Pada BBL, lutut saling berjauhan saat kaki diluruskan dan tumit disatukan, sehingga tungkai bawah terlihat agak melengkung. Saat baru lahir, tidak  terlihat lengkungan pada telapak kaki. Ekstremitas harus simetris. Harus terdapat kuku jari tangan dan jari kaki. Garis-garis telapak tangan sudah terlihat. Dan terlihat juga garis pada telapak kaki bayi cukup bulan. 8. Sistem neurologi

Saat ini, BBL cukup bulan dikenal dengan makhluk yang reaktif, responsif, dan hidup. Perkembangan sensoris BBL dan kapasitas untuk melakukan interaksi sosial dan organisasi diri sangat jelas terlihat (Fanaroff, Martin, 1992). Pertumbuhan otak setelah lahir mengikuti pola pertumbuhan cepat, yang dapat diprediksi selama periode bayi sampai awal masa kanank-kanak. Pertumbuhan ini menjadi lebih bertahap selama sisa dekade pertama dan minimal selama masa remaja.

9. Sistem pencernaan

Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Reflek gumoh dan reflek batuk  yang matang sudah terbentuk baik pada saat lair.

Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan ―gumoh‖ pada bayi baru lahir dan neonatus, kapasitas lambung masih terbatas kurang dari 30 cc untuk   bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah secara lambat bersamaan dengan

tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makanan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on demand.

10. Sistem termogenik  a. Produksi panas

Mekanisme produksi panas dengan cara menggigil jarang terjadi pada bayi baru lahir. Termogenesis tanpa menggigil dapat dicapai, terutama akibat adanya lemak coklat yang unik pada bayi baru lahir  (blackburn, loper, 1992 ; fanaroff, martin, 1992).

 b. Pengaturan suhu

Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan mengalami stress dengan adanya  perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu ke lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu

dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, pada lingkungan yang dingin ,  pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk 

mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil  penggunaan lemak coklat untuk produksi panas. Timbunan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh dan

mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100%. Untuk membakar lemak coklat, sering bayi harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak  coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh seorang BBL. Cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia kehamilan semakin banyak persediaan lemak coklat bayi. Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia

(16)

dan asidosis.Sehingga upaya pncegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan  berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada BBL.

c. Stres dingin

Menimbulkan msalah fisiologis dan metabolisme pada semua BBL, tanpa memandang usia kehamilan dan kondisi lain. Kecepatan pernapasan meningkat sebagai respons terhadap kebutuhan oksigen ketika konsumsi oksigen meningkat secara bermakna pada stres dingin. Konsumsi oksigen dan energi  pada BBL yang mengalami stres dingin dialihkan dari fungsi untuk mempertahankan pertumbuhan,

fungsi sel otak, dan fungsi jantung normal menjadi fungsi termogenesis agar bayi dapat tetap hidup. 11. Sistem imun / kekebalan

Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan terhadap  berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang di dapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahana tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami:

a. perlindungan oleh kulit membran mukosa  b. fungsi saringan saluran napas

c. pembentukan koloni mikroba oleh klit dan usus d. perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung

Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah yang membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL se-sel darah ini masih belum matang, artinya BBL tersebut  belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien.

Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. BBL dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibodi keseluruhan terhadap antigen asing masih belum dapat dilakukan sampai awal kehidupa anak. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh.

Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali terjadi infeksi dan reaksi bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu, pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting.

D. Penatalaksanaan bayi baru lahir 1. Suhu

Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan mengalami stress dengan adanya  perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu ke lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini

menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, pada lingkungan yang dingin , pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis.Sehingga upaya pncegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk  meminimalkan kehilangan panas pada BBL.

(17)

2. Suplai oksigen

Dukungan panas (pemaparan pada stres dingin meningkatkan kebutuhan oksigen)

Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir, apabila bayi tidak langsung menangis penolong segera membersihkan jalan nafas dengan cara sebagai berikut :

a. Letakkan bayi pada posisi terlentang di tempat yang keras dan hangat.

 b. Gulung sepotong kain dan letakkan di bawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak  menekuk.

c. Bersihkan hidung, rongga mulut dan tenggorokan dengan tangan yang dibungkus kasa steril. d. Tepuk kedua telapak kaki bayi sebanyak 2 – 2 kali atau gosok kaki bayi dengan kain.

Menilai APGAR 

Bersamaan dengan proses pengisapan, dilakukan juga tes Apgar. Penilaian dilakukan  berdasar keadaan frekuensi denyut jantung, pernapasan, warna kulit, refleks, dan tonus otot. "Nilai Apgar diambil pada menit pertama dan menit kelima setelah tali  pusat dipotong." Pada menit pertama, nilai Apgar berfungsi untuk menentukan  perlu-tidaknya tindakan resusitasi yang lebih aktif, sedangkan pada menit kelima

untuk menilai bagaimana prediksi masalah yang akan ada selanjutnya.

Bila interpretasi nilainya antara 7-10, masuk kategori normal, 4-6 dianggap medium atau sedang, dan di bawah 4, masuk kategori berat. Jika keadaannya baik, bayi dibersihkan wajahnya lalu ditunjukkan sebentar pada sang ibu dan kemudian dibawa lagi untuk perawatan selanjutnya. Penilaian secara APGAR :

 No Tanda Angka penilaian

0 1 2

1. Bunyi jantung Tidak ada Lambat <100x/ menit >100x/menit 2. Usaha bernafas Tidak ada Tidak teratur Menangis kuat 3. Tonus otot Lemas Fleksi ekstermitas Gerakan aktif  4. Reflek Tidak ada Menangis lemah menyeringai Menangis kuat 5. Warna Biru/pucat Badan kemerahan, ekstremitas

 biru

Seluruh badan kemerahan APGAR dilakukan setelah 1-5 menit

Angka 0 menandakan anak dalam keadaan bahaya

Angka kurang dari 5 memerlukan pertolongan berupa tindakan-tindakan tertentu Angka 7-10 berarti keadaan bayi baik 

3. Profilaksis mata

Salep mata eritromisin atau tetrakain diteteskan ke dalam konjungtiva bawah pada setiap mata dalam dua  jam setelah lahir untuk mencegah optalmia neonatorum, suatu infeksi yang disebabkan oleh Neisseria

(18)

gonnorhoeae, dan konjungtivitis inklusi, suatu infeksi disebabkan oleh Chlamydia trachomatis. Bayi dapat terpapar pada bakteri ini ketika melewati saluran vagina.

Salep mata berisi antibiotik cukup penting diberikan untuk menghindari terinfeksi dari jalan lahir. 4. Imunisasi

Setelah lahir, tubuh bayi belum punya daya tahan yang cukup untuk menangkal berbagai penyakit, selain antibodi bawaan yang diberikan ibu sejak dalam kandungan. Dengan imunisasi, tubuh bayi disiapkan mengenali beberapa penyakit tertentu yang mungkin mengancamnya. Ada 5 macam imunisasi yang wajib untuk bayi kita, yaitu BCG, Polio, DPT, Hepatitis B dan Campak.

REFLEKS MENIMBULKAN REFLEKS RESPON YANG KHAS KETERANGAN Mengisap dan membuka mulut (rooting)

Sentuh bibir, pipi, atau sudut mulut dengan puting

Bayi menoleh ke arah stimulus, membuka mulutnya, memasukkan  puting dan mengisap

- Sulit atau tidak mungkin menghasilkan reflex ini jika  bayi telah diberi minum ; jika

lemah atau tidak ada ,  pertimbangkan adanya  prematuritas atau kelainan

neurologis

- Bimbingan orang tua

- Hindari mengarahkan kepala ke  payudara atau putting, biarkan  bayi membuka mulutnya - Hilang setelah 3 atau 4, tetapi

dapat menetap sampai usia 1 tahun

Menelan Beri bayi minum; menelan biasanya menyertai

mengisap dan mendapat cairan

Menelan biasanya diatur  oleh mengisap dan

 biasanya terjadi tanpa tersedak, batuk, atau muntah

- Jika lemah atau tidak ada, dapat menunjukkan prematuritas atau defek neurologis

- Mengisap dan menelan sering tidak terkoordinasi pada bayi  premature Menggenggam - Telapak  tangan - Telapak  kaki Tempatkan jari  pada telapak tangan

Tempatkan jari  pada pangkal jari

kaki

- Jari-jari bayi

menggenggam jari- jari pemeriksa;

-  jari-jari kaki menekuk  ke bawah

- Respon telapak tangan menurun  pada usia 3-4 bulan

- Respon telapak kaki berkurang  pada usia 8 bulan

(19)

lidah ujung lidah lidah keluar  Glabellar 

(Myerson’s)

Ketuk dahi, batang hidung, atau

maksila BBL yang matanya sedang terbuka

BBL akan mengejapkan mata pada 4-5 ketukan  pertama

Kedipan yang terus menerus pada ketukan berulang menunjukkan adanya gangguan ekstrapiramidal

Leher tonik atau fencing

Pada bayi jatuh tertidur, atau bayi  pada keadaan tidur 

dengan cepat kepala berputar ke arak satu sisi

Jika bayi menghadap ke sisi kiri, lenan dan kaki  pada sisi itu akan lurus;

sedangkan lengan dan tungkainya akan berada  pada posisi fleksi (putar 

kepala ke arah kanan dan ekstremitas akan mengambil pada postur  yang berlawanan.

Respon pada tungkai lebih konisten. Respon lengkap akan menghilang pada usia tiga sampai empat bulan; respon sebagian mungkin masih terlihat sampai usia tiga atau empat tahun.

Moro - Gendong bayi

dalam posisi setengah duduk;  biarkan kepala

dan badan jatuh ke belakang dengan sudut sedikitnya 30 derajat. - Tempatkan bayi  pada permukaan yang rata; hentakan  permukaan untuk  mengejutkan  bayi

- Abduksi dan ekstensi simetris lengan; jari- jari mengembang

seperti kipas dan membentuk huruf C dengan ibu jari dan  jari telunjuk; mungkin terlihat sedikit tremor; lengan terabduksi dalam gerakan memeluk dan

kembali dalam posisi flexi dan gerakan yang rileks

- Tungai dapat

mengikuti pola yang sama

- Bayi premature tidak  ―memeluk‖

sempurna tetapi sebaliknya lengan

- Ada sejak lahir; respon lengkap mungkin mashing terlihat sampai usia 8 minggu; pada usia 8 – 18 minggu hanya  berupa gerakan mendadak 

tubuh; hilang pada usia enam  bulan, jika tidak ada hambatan  perkembangan neurologis;

mungkin tidak lengkap jika  bayi sangat terlelap; berikan  bimbingan kepada orang tua tentang respon yang normal - Respon asimetris; kemungkinan

cedera pada flekus brachialis, klavuikula, atau humerus - Respon yang menetap setelah

enam bulan; kemungkinan kerusakan otak 

(20)

 jatuh ke belakang karena lemah Melangkah atau  berjalan - Pegang  bayi secara vertical,  biarkan kaki menyentuh  permukaan meja

- Bayi akan melakukan

gerakan seperti  berjalan, kaki akan  bergantian fleksi dan

ekstensi; bayi aterm akan berjalan dengan telapak kakinya, dan  bayi premature akan  berjalan dengan

ujung jari-jarinya

- Dalam keadaan normal akan

teta ada sampai usia tiga sampai empat minggu.

Merangkak  - Baringkan

 bayi baru lahir di atas  perutnya

- Bayi baru lahir akan

melakukan gerakan merangkak dengan menggunakan lengan dan tungkainya

- Harus hilang pada usia sekitar 

enam minggu

Tendon dalam Pergunakan jari

sebagai pengganti  palu perkusi untuk 

menimbulkan reflex lutut, bayi  baru lahir harus

dalam keadaan rileks

- Reflex lutu akan

timbul; meskipun  bayiberu lahir dalam

keadaan rileks, reaksi menyeluruk yang tidak selektif dapat terjadi

Ekstensi, menyilang

Bayi harus dalam  posisi supine,

luruskan tungkai , luruskan satu

tungkai, tekan lutut ke dalam, rangsang  bagian bawah kaki;  perhatikan tungkai

yang lain

- Tungkai yang lain

akan fleksi, aduksi, kemudian ekstensi

Terkejut Suara keras dari

tepukan tangan yang nyaring akan menimbulkan

Lengan melakukan gerakan abduksi disertai fleksi pada siku; tangan tetap menggenggam

Harus hilang pada usia empat  bulan. Timbul lebih awal pada  bayi baru lahir premature (beritahu

(21)

respons; paling  baik ditimbulkan  jika bayi baru lahir   berusia 24 jam

sampai 36 jam atau lebih.

Tanda babinski (telapak kaki)

Pada telapak kaki, dimulai dengan tumit, gores sisi lateral telapak kaki ke arah atas

kemudian gerakan  jari sepanjang

telapak kaki

Semua jari kaki

hiperektensi dengan ibu  jari dorsofleksi — dicata

sebagai tanda positif 

Jika reflex ini tidak ada, perlu dilakukan pemeriksaam

neurologis, harus hilang setelah satu tahun

Tarik-ke-duduk  (traksi)

Tarik bayi pada  pergelangan tangannya dari  posisi terlentang dengan kepala  berada di garis tengah

Kepala akan tertinggal samapi bayi berada dalam posisi tegal; kemudian kepala akan  beerada pada bidang

yang sama dengan dada dan bahu untuk 

sementara waktu

sebelum jatuh ke depan;  bayi akan coba

menegakan kepalanya

Tergantung pada tonus otot secara keseluruhan serta maturasi dan kondisi bayi

Inkurvasi tubuh Bayi harus ditengkurapkan  pada permukaan

datar; goreskan jari ke bawah sekitar 4 sampai 5 cm lateral terhadap tulang  belakang,

ula-mulanya satu sisi kemudian pada sisi yang lain

Tubuh fleksi pada pelvis diayunkan kea rah sisi yang terstimulasi

Respon akan menghilang pada minggu keempat

Magnet Bayi harus dalam  posisi terlentang;

Kedua tungkai akan ekstensi melawan

(22)

agak fleksikan kedua tungkai  bawah dan beri

kedua telapak kaki tekanan

tekanan pemeriksa

Respon

tambahan pada  bayi baru lahir 

(menguap,mereg ang, sendawa, cekukan, bersin- bersin)

Perilaku spontan Dapat sedikit berkurang akibat analgesic atau anestesi pada ibu, hipoksia janin, atau infeksi

- Beri orang tua bimbinan - Kebanyakan perilaku ini menyenangkan orang tua - Orang tua perlu diyakinkan

 bakwa perilaku ini normal - Bersin biasanya merupakan

respon terhadap serabut kain, dsb pada hidung dan bukan merupakan indicator flu - Tidak diperlukan pengobatan

untuk cekukan; penghisapan dapat membantu

(23)

ASUHAN KEPERAWATAN POSTNATAL A. PENGKAJIAN 1. Biodata  Nama : Ny A Umur : 20 tahun Pendidikan :

-2. Keluhan utama : klien mengeluh nyeri pada perineum, klien merasa takut jahitannya akan terbuka (lepas)  jika mau berkemih.

3. Riwayat kesehatan sekarang : sampai saat ini setelah 4 jam melahirkan belum berani berkemih. Merasa senang dengan kelahiran anak pertama ini, namun bingung karena belum tahu cara merawat bayi dan cara menurunkan berat badan namun tetap ingin bisa menyusui.

4. Riwayat haid :

5. Riwayat perkawinan : 6. Riwayat kehamilan :

7. Riwayat persalinan masa lalu :

-8. Riwayat persalinan saat ini : P1A0 hari 1 postpartum 9. Riwayat penyakit dahulu :

-10. Pemeriksaan fisik 

a. Keadaan umum : baik 

 b. Tingkat kesadaran : compos mentis c. Tanda-tanda vital a) Tekanan darah : 110/70 mmHg  b)  Nadi : 84x/menit c) RR : 20x/menit d) BB : 65 kg e) Tinggi badan : 156 cm d. Payudara : simetris kanan kiri

e. Hiperpigmentasi : pada areola mammae f. Pengeluaran kolostrum : (+)

g. Puting : inverted

h. TFU : 1 jari dibawah pusat i. Uterus : tidak teraba

 j. Kontraksi : (-)

k. Diastasis rektus abdominalis : 2 jari l. Lochea rubra : ada

m. Jahitan

n. Ruptur perineum : grade 2 o. Ektremitas :

(24)

a) Edema  b) Varises

-/-c) Reflek patela +/+ d) Homan sign -/-11. Pengkajian terhadap bayi :

a. APGAR :9

 b. Reflek : (+) (rooting, sucking, moro) 12. Pemeriksaan laboratorium

a. Darah : Hemoglobin dan Hematokrit 12-24 jam post partum (jika Hb < 10 g% dibutuhkan suplemen FE), eritrosit, leukosit, Trombosit

13. Pemeriksaan penunjang :

-B. ANALISA DATA

DATA ETIOLOGI MASALAH

DO :

DS : klien mengeluh nyeri  pada perineum

Proses persalinan → terjadi  proses invulotio → kontraksi

uterus → nyeri

Robekan jalan lahir → terputusnya kontinuitas  jaringan → jaringan melepaskan zat-zat bradikinin dan histamin → merangsang syaraf perifer → dihantarkan melalui spinal cord menuju hipothalamus → korteks cerebri → nyeri di perspsikan → nyeri

 Nyeri

DO :

DS : merasa bingung juga karena belum tahu cara merawat bayi dan cara menurunkan berat badan

Proses persalinan → bingung  belum tahu cara merawat bayi

→ kurang pengetahuan

kurang pengetahuan

DO :

DS : nyeri pada perineum

Proses persalinan → jahitan  pada perineum → kesulitan BAK → Perubahan pola eleminasi BAK (disuria)

Perubahan pola eleminasi BAK 

DO : lochea rubra

DS : nyeri pada perineum

Proses persalinan →  perlukaan jalan lahir →

(25)

merupakan media  berkembangbiaknya kuman

 pathogen → resiko infeksi

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.  Nyeri berhubungan dengan perlukaan jalan lahir ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada perineum 2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan adaptasi postpartum ditandai dengan klien merasa bingung

karena belum tahu cara merawat bayi dan cara menurunkan berat badan

3. Perubahan pola eleminasi BAK (disuria) b/d t rauma perineum dan saluran kemih dan ansietas.

4. Risiko infeksi berhubungan dengan perlukaan jalan lahir ditandai dengan lochea rubra dan nyeri pada  perineum

D. INTERVENSI Diagnosa keperawatan

Tujuan Intervensi Rasional

 Nyeri  berhubungan dengan  perlukaan jalan lahir ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada  perineum  Nyeri berkurang atau hilang dengan kriteria hasil : 1.Klien tidak  mengeluh nyeri 2.Ekspresi wajah cerah 3.TTV dalam batas normal 1.Observasi tingkat lokasi dan sifat nyeri

2.Observasi keadaan luka  perineum

3.Observasi TTV

4.Anjurkan klien teknik  relaksasi napas dalam

5.Anjurkan untuk duduk  dengan otot gluteal terkontraksi

6.Beri kompres  panas/hangat (rendam duduk antara 38°C sampai dengan 42°C

1. Agar dapat mengidentifikasi kebutuhan perawatan dan  pemberian askep yang tepat 2. Dapat menunjukan adanya

trauma berlebihan/komplikasi yang memerlukan intervensi lebih lanjut

3. Perubahan tanda vital menunjukan terjadinya rangsangan nyeri

4.  Napas dalam dapat melancarkan suplai O2 ke  jaringan sehingga terjadi relaksasi di jaringan obat yang dapat menyebabkan nyeri  berkurang

5. Dapat mengurangi tekanan langsung pada perineum

6. Meningkatkan sirkulasi pada  perineum, meningkatkan oksigenasi dan nutrisi pada  jaringan menurunkan edema

(26)

selama 20 menit ,

setelah 24 jam

 pertama)

7.Berikan posisi yang

nyaman sesuai keinginan klien 8.Jelaskan penyebab terjadi nyeri 9.Berikan analgesik  sesuai indikasi dan meningkatkan  penyembuhan

7. Posisi nyaman sesuai

keinginan klien dapat memperringan nyeri

8. Dengan mengetahui penyebab nyeri klien dapat beradaptasi 9. Untuk mengurangi rasa nyeri

dengan memblok impuls nyeri Kurang  pengetahuan  berhubungan dengan adaptasi  postpartum ditandai dengan klien merasa  bingung karena  belum tahu cara merawat  bayi dan cara

menurunkan  berat badan

Klien dapat

mengerti tentang cara merawat bayi dan menurunkan  berat badan

1.Kaji tingkat

 pengetahuan klien tentang merawat bayi

2.Beritahu klien tentang cara-cara merawat bayi

3.Anjurkan klien

 berbaring tengkurap dengan bantal dibawah abdomen dan klien melakukan teknik  visualisasi atau aktivitas pengalihan. 4.Kaji kesiapan klien dan

motivasi untuk belajar 

5.Berikan penyuluhan mengenai perawatan

tali pusat dan

memandikan bayi.

1. Dapat mengetahui dan

memudahkan dalam

 pemberian intervensi

selanjutnya.

2. Agar klien dapat mengerti cara-cara merawat bayi yang  benar dan nyaman

3. Periode postpartum dapat

merupakan pengalaman

 positif bila penyuluhan yang tepat diberikan

4. Membantu menstandarisasi informasi yang diterima orang tua dari perawat dan menurunkan kebinggungan klien

5. Ibu yang baru pertama kali melahirkan akan kurang sekali  pengetahuannya mengenai cara perawatan bayi dan akan takut dalam merawat bayinya sendiri. Perubahan pola eleminasi BAK  (disuria) b/d trauma Pola eleminasi (BAK) pasien teratur. Kriteria hasil: 1. Instruksikan klien untuk jangan merasa takutdan tetap

 berkemih bila terasa

(27)

 perineum dan saluran kemih dan ansietas.

eleminasi BAK  lancar, disuria tidak ada, bladder  kosong, keluhan kencing tidak ada.

rangsangan berkemih 2. Berikan penjelsan

mengenai haluaran urine normal dan gejala postpartum 3. Anjurkan pasien melakukan ambulasi dini. 4. Anjurkan pasien untuk membasahi  perineum dengan air 

hangat sebelum  berkemih. 5. Anjurkan pasien untuk berkemih secara teratur. 6. Anjurkan pasien untuk minum 2500-3000 ml/24 jam. 7. Kolaborasi untuk  melakukan kateterisasi bila  pasien kesulitan  berkemih.

2. Mengurangi ansietas klien

3. Ambulasi dini memberikan rangsangan untuk pengeluaran urine dan pengosongan  bladder.

4. Membasahi bladder dengan air  hangat dapat mengurangi ketegangan akibat adanya luka  pada bladder.

5. Menerapkan pola berkemih secara teratur akan melatih  pengosongan bladder secara

teratur.

6. Minum banyak mempercepat filtrasi pada glomerolus dan mempercepat pengeluaran urine.

7. Kateterisasi memabnatu  pengeluaran urine untuk 

mencegah stasis urine.

Risiko infeksi  berhubungan dengan  perlukaan jalan lahir ditandai dengan lochea rubra dan nyeri  pada perineum

Infeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil : 1. Luka tampak  kering 2. Tanda vital dalam  batas normal 3. Tidak ada 1. Observasi tanda-tanda infeksi

2. Ukur dan observasi TTV

3. Lakukan vulva hygiene

4. Bekerja dengan teknik  septik dan antiseptik 

1. Untuk mengetahui tanda gejala awal terjadinya infeksi

2. Perubahan tanda vital dijadikan indikator adanya proses  peradangan

3. Vulva yang kotor dan lembab dapat dijadikan tempat  berkembangbiaknya kuman 4. Bethadine membunuh kuman

dan mempercepat proses  penyembuhan

(28)

tanda-tanda infeksi (rubor, dolor, color, fungsilesia , vital sign)

5. Kompres luka hecting dengan bethadine

6. Beritahu klien untuk  menjaga personal hygiene

7. Pemberian antibiotik 

5. Untuk mencegah

terkontaminasinya kuman pada klien

6. Untuk mempercepat proses

 penyembuhan luka atau

mencegah infeksi

7. Dapat menghambat

 pembentukan dinding sel  bakteri dan membunuh kuman  patogen

Daftar Pustaka

Bobak, Lowdermilk, Jensen.2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. EGC:Jakarta Carpenito, Lynda. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta : EGC.

Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat.Manajemen Laktasi.Depkes RI Jakarta :2005

Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi : Pedoman untuk Perencanaan dan Dokumentasi  Perawatan Klien, Edisi 2.Jakarta : EGC.

Referensi

Dokumen terkait