• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan dasar sebagai jenjang awal dari pendidikan di sekolah antara lain difokuskan pada pengembangan potensi dan keterampilan dasar sebagai bekal untuk kehidupan dan pendidikan selanjutnya. Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional BAB II pasal 3 dijelaskan tentang pendidikan dan tujuannya adalah sebagai berikut:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Salah satu komponen penting pembelajaran bagi siswa dalam sistem pendidikan nasional adalah mata pelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik lisan maupun tulisan.

Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peseta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan bahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peseta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional dan global.

Dengan demikian kemampuan berbahasa sangat penting dan dibutuhkan dalam segala bidang. Merupakan hal yang tidak mungkin, seseorang mempelajari sains, ilmu sosial atau seni tanpa kemampuan berbahasa, kemudian menyimak, berbicara, membaca, dan menulis merupakan dasar untuk belajar tentang segala hal.

(2)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

Tarigan (Diknas, 2004: 8) mengemukakan,

Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Sedangkan sebagai bentuk atau wujudnya berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.

Depdikbud (Resmini dan Djuanda, 2007: 51) menyatakan, “Berbicara secara umum dapat diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud terrsebut dapat dipahami oleh orang lain”. Berbicara merupakan tuntunan kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial sehingga dapat berkomunikasi dengan sesamanya. Kemampuan berbicara sangat dibutuhkan dalam berbagai kehidupan keseharian. Oleh karena itu kemampuan dan keterampilan berbicara harus diberikan sedini mungkin ketika anak memasuki lembaga pendidikan formal serta dikembangkan melalui berbagai pendekatan dan metodologi sehingga mereka terampil berbicara. “Berbicara merupakan bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik dan linguistic” (Resmini dan Djuanda (2007: 52). Lebih lanjut Resmini dan Djuanda (2007: 53) mengungkapkan,

Dalam rangka pembinaan keterampilan berbicara, selain faktor tersebut ada dua aspek perlu mendapat perhatian guru dalam membina keefektifan berbicara, yakni: aspek kebahasaan mencakup: 1) lafal, 2) intonasi, tekanan dan ritme, 3) penggunaan kata dan kalimat, dan aspek non kebahasaan yang mencakup: 1) kenyaringan suara, 2) kelancaran, 3) sikap berrbicara, 4) gerak dan mimik, 5) penalaran, 6) santun bebicara.

Proses pembentukan kemampuan berbicara ini dipengaruhi oleh panjanan aktivitas berbicara yang tepat. Bentuk aktivitas yang dapat dilakukan di dalam kelas untuk meningkatkan kemampuan berbahasa lisan siswa antara lain: memberikan pendapat atau tanggapan pribadi, bercerita, menggambarkan orang/barang, menggambarkan barang, menggambarkan posisi, menggambarkan proses, memberikan penjelasan, menyampaikan atau mendukung argumentasi.

Lemahnya tingkat kemampuan berbicara siswa sekolah dasar merupakan tantangan bagi proses pelaksanaan pembelajaran oleh guru sehingga siswa tidak mengalami kesulitan belajar dan memperoleh hasil belajar yang baik. Pengelolaan

(3)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

pembelajaran yang dilakukan dengan baik oleh guru, tentu saja akan memberikan kesempatan kepada perkembangan belajar siswa. Komunikasi belajar harus dilakukan dua arah atau lebih, dan tidak bersifat teacher’s centered.

Berdasarkan hasil observasi dan data empirik di lapangan yang dilakukan pada tanggal 5 Nopember 2012, didapatkan masalah dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang diduga mengakibatkan rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa. Keragaman masalah yang peniliti temukan adalah sebagai berikut.

1. Siswa mengalami kesulitan untuk menuangkan kata-katanya kedalam bentuk tulisan untuk memberi tanggapan dari masalah yang ada pada ganbar.

2. Siswa mengalami kesulitan untuk membuat kalimat yang runtut. 3. Pembendaharaan kata siswa masih kurang.

4. Media pembelajaran kurang menarik minat siswa. 5. Pembelajaran cenderung membosankan.

6. Metode pembelajaran kurang efektif.

Dari data tes akhir yang diperoleh, ternyata dari 26 siswa kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan hanya 12 siswa atau sekitar 46,15% yang sudah mencapai KKM, sedangkan sisanya 14 siswa atau 53,85% belum mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 65. Hal ini menunjukkan bahwa siswa belum memahami apa yang sudah dijelaskan guru.

Adapun data nilai hasil tes akhir kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan dapat dilihat pada Tabel 1.1 halaman 4.

Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, baik faktor yang datang dari pribadi siswa sendiri maupun yang datang dari guru selaku pengajar, faktor yang datang dari siswa misalnya dalam mengikuti pembelajaran siswa masih belum aktif, siswa masih tampak kesulitan berbicara di depan kelas, banyak siswa yang masih malu-malu atau tersendat-sendat berbicara di depan kelas, sedangkan faktor dari guru selaku pengajar di antaranya guru dalam menyampaikan materi tanpa melibatkan keaktifan siswa, kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk berbicara, kurang membantu siswa secara individu, yang mengalami kesulitan dalam berbicara.

(4)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

Tabel 1.1 Data Awal

No Nama Siswa L

/P

Aspek yang dinilai

∑ Skor Nilai Keterangan Kalimat yang Runtut Pilihan Kata 1 2 3 1 2 3 Tuntas Belum

1 Ade Popi Irmayanti P √ √ 2 33 √

2 Agung Maulana L √ √ 2 33 √ 3 Amelia. Kartika P √ √ 3 50 √ 4 Annisa Zahra P √ √ 4 67 √ 5 Aulia Barkah P √ √ 5 83 √ 6 Aura Khairunnisa P √ √ 3 50 √ 7 Cindy Maulida P √ √ 4 67 √ 8 Febi Febriani L √ √ 2 33 √ 9 Ibnu Hajar L √ √ 5 83 √ 10 Iik Muhammad L √ √ 3 50 √ 11 Ima Nurmlasari P √ √ 3 50 √ 12 M. Herdiansah L √ √ 3 50 √ 13 M. Rifki Farhan L √ √ 3 50 √ 14 M. Andreana L √ √ 4 67 √ 15 M. Rizki L √ √ 3 50 √ 16 M. Rofi Zhra L √ √ 4 67 √ 17 M. Vansa Yusri L √ √ 3 50 √ 18 M. Ropiuddin L √ √ 2 33 √ 19 Muti Mutiqatul P √ √ 5 83 √ 20 Nabila Anggi P √ √ 4 67 √ 21 Nova Puspita P √ √ 5 83 √ 22 Rima Ma‟rifah P √ √ 3 50 √ 23 Ripan Dwigunawan L √ √ 4 67 √ 24 Safira Azzahra P √ √ 5 83 √ 25 Syifa Ananda P √ √ 4 67 √ 26 Maulid Rahman L √ √ 2 33 √ Jumlah 1499 12 14 Rata-rata 57,65 Persentase Ketuntasan 46,15 53,85

Selain itu, kekurangtepatan guru dalam memilih metode mengajar, guru selalu menggunakan metode yang sama pada setiap pertemuan, cara pembelajaran masih bersifat tradisional atau konvensional yaitu hanya ceramah, penugasan, ditambah daya dukung berupa sarana dan prasarana yang tidak memadai yang mengakibatkan kualitas pembelajaran yang belum maksimal. Sagala (Kurniasih,

(5)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

2011:4) menyatakan, “Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran klasik, guru memberi ceramah, sedangkan siswa mendengar, mencatat setelah itu menghapal”. Dengan cara seperti ini, siswa akan merasa bosan, dan jenuh, merupakan penyebab kurang baiknya hasil belajar siswa, sebab metode mengajar ini selain menemukan kegiatan belajar mengajar juga mempengaruhi terhadap prestasi belajar yang dicapai siswa.

Berdasarkan permasalahan di atas maka perlu dipikirkan agar pembelajaran tidak hanya berjalan satu tetapi banyak arah, bisa guru kepada siswa atau sebaliknya siswa kepada guru dan siswa kepada siswa. Dengan demikian interaksi yang terjadi di dalam kelas lebih hidup. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe student team

achievement division (STAD).

Cooper dan Heinich (Sutardi dan Sudirjo, 2007: 58) menjelaskan,

Pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang melibatkan kelompok-kelompok kecil yang heterogen dan siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan dan tugas-tugas akademik bersama sambil bekerja sama belajar keterampilan kolaboratif dan sosial. Anggota-anggota kelompok memiliki tanggung jawab dan saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam pembelajaran kooperatif dapat dilakukan melalui macam-macam pendekatan, guru dapat memilih pendekatan yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Pendekatan-pendekatan pada model kooperatif diantaranya: tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions), tipe jigsaw, tipe investigasi kelompok, dan tipe pendekatan struktural.

Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu alternatif untuk memberikan wawasan pemahaman siswa untuk meningkatkan penguasaan konsep secara lebih terperinci dan sistematis. Mengingat pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan bagian dari metode cara belajar siswa aktif (CBSA) sebagaimana dikemukakan Raka Joni (Suherman dkk., 2001: 9), “Guru dan siswa merupakan subjek, karena masing-masing memiliki kesadaran dan kebebasan secara aktif. Dengan menyadari pola interaksi tersebut akan memungkinkan keterlibatan mental siswa secara optimal dalam merealisasikan pengalaman

(6)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

belajar”. Dengan demikian interaksi yang terjadi di dalam kelas lebih hidup, karena masing-masing pihak terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

Dengan menggunakan pendekatan kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya dalam materi tanggapan dan saran, diharapkan siswa kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan prestasi dan aktivitas belajarnya akan jauh lebih baik. Sehubungan dengan itu, maka penulis mencoba untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan mengambil judul “Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams

Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara

Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan”.

B. Rumusan dan Pemecahan Masalah 1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut.

a. Bagaimana perencanaan pembelajaran penerapan model kooperatif teknik

student teams achievement devision (STAD) dalam pembelajaran berbicara di

kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan?

b. Bagaimana kinerja guru dalam pembelajaran berbicara dengan menerapkan model kooperatif teknik student teams achievement devision (STAD) di kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan?

c. Bagaimana aktivitas siswa dalam pembelajaran berbicara dengan menerapkan model kooperatif teknik student teams achievement devision (STAD) di kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan?

d. Bagaimana peningkatan berbicara siswa kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan melalui penerapan model kooperatif teknik

student teams achievement devision (STAD)?

1) Bagaimana peningkatan memberikan tanggapan dengan menggunakan kalimat yang runtut?

2) Bagaimana peningkatan memberikan tanggapan dengan menggunakan pilihan kata yang tepat?

(7)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

3) Bagaimana peningkatan memberikan saran dengan menggunakan kalimat yang runtut?

4) Bagaimana peningkatan memberikan saran dengan menggunakan pilihan kata yang tepat?

2. Pemecahan Masalah

Dengan memperhatikan hasil observasi yang dilaksanakan pada tanggal 5 Nopember 2012 di kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan, didapatkan beberapa permasalahan dalam pembelajaran berbicara yang diduga merupakan faktor yang mengakibatkan rendahnya hasil belajar berbicara yang dicapai siswa. Permasalahan yang ditemukan bersumber pada kinerja guru dan aktivitas siswa, antara lain: dalam mengajar kebanyakan dalam menyampaikan materi tanpa melibatkan keaktifan siswa, kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk berbicara, kurang membantu siswa secara individu, yang mengalami kesulitan dalam berbicara. Sementara permasalahan dari siswa di antaranya siswa mengalami kesulitan untuk menuangkan kata-katanya kedalam bentuk tulisan untuk memberi tanggapan dari masalah yang ada pada ganbar, siswa mengalami kesulitan untuk membuat kalimat yang runtut, dan embendaharaan kata siswa masih kurang. Akibat dari permasalahan tersebut hasil tes menunjukkan 46,15% yang sudah mencapai nilai KKM, sedangkan selebihnya 53,85% belum mencapai nilai KKM serta perolehan nilai rata-rata kelas 57,65.

Untuk menyelesaikan masalah kesulitan siswa kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan dalam memahami konsep berbicara, digunakanlah salah satu alternatif dari sekian banyak pendekatan yang dilakukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu menerapkan model kooperatif teknik

student teams achievement devision (STAD).

Alasan teknik student teams achievement devision (STAD). digunakan dalam pemecahan masalah, diantaranya bahwa melalui model pembelajaran kooperatif dapat mengupayakan seorang siswa mampu mengajarkan kepada siswa lain, mengajar teman sebaya memberi kesempatan kepada siswa untuk mempelajari sesuatu dengan baik pada waktu yang bersamaan, ia menjadi nara

(8)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

sumber bagi teman yang lain, siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong untuk bekerja sama pada suatu tugas bersma, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugasnya.

Slavin (Sutardi dan Sudirjo, 2007: 58) menyatakan, „Pembelajaran kooperatif dilakukan melalui saling bertukar pikiran, di mana siswa belajar bersama dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok‟. Hal ini bertujuan untuk menjaga agar proses pembelajaran tidak bergantung pada satu orang, melainkan setiap anggota kelompok memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang sama dalam menyelesaikan masalah kelompok. Dengan demikian perlu diperhatikan beberapa hal berikut: 1) siswa yang berada dalam satu kelompok harus bisa merasakan bahwa dirinya merupakan bagian dari tim yang bersama-sama ingin mewujudkan suatu tujuan yang sama; dan 2) setiap anggota kelompok harus menyadari bahwa masalah yang mereka hadapi adalah masalah kelompok dan berhasil tidaknya suatu kelompok merupakan tanggung jawab semua anggota kelompok. Sehingga setiap anggota kelompok harus berbicara satu sama lain dan mendiskusikan masalah yang dihadapi.

Dalam pembelajaran kooperatif teknik STAD, materi dirancang untuk pembelajaran kelompok, siswa secara kolaboratif mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam bentuk LKS. Menurut Sutardi dan Sudirjo (2007: 58), ”Siswa bekerjasama dalam belajar kelompok dan sekaligus masing-masing sebagai anggota kelompok bertanggung jawab pada kegiatan belajar, sehingga anggota kelompok mampu menguasai materi pelajaran secara optimal”.

Dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD setiap anggota kelompok harus menyadari betul bahwa tujuan yang ingin dicapai akan lebih baik hasilnya jika dilakukan upaya secara bersama-sama. Melalui suasana seperti inilah diharapkan timbul rasa interdependensi positif diantara sesama anggota kelompoknya, rasa kebersamaan dan kesatuan tekad untuk berhasil dalam belajar. Tanggungjawab terhadap diri dan anggota kelompok memacu usaha untuk menjadikan diri dan kelompoknya yang terbaik, dengan begitu motivasi belajar siswa menjadi

(9)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

meningkat. Secara rinci tahapan-tahapan model pembelajaran ini adalah sebagai berikut.

a. Pembentukan kelompok.

Pengaturan siswa yang bersifat kelompok, Sudjana (Nuryaroh, 2011:29) menyatakan bahwa,

Kelompok adalah kumpulan orang-orang dalam jumlah terbatas, yang memiliki kesamaan. kepentingan dan saling ketergantungan, serta memiliki aturan-aturan untuk melakukan hubungan yang saling mempengaruhi dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama, diarahkan untuk belajar kelompok.

Dalam pengaturan kelompok ini, siswa dibagi menjadi 6 (enam) kelompok, tiap kelompok terdiri dari 4-5 orang, di mana mereka mengerjakan tugas yang diberikan. Jika ada kesulitan siswa yang merasa mampu membantu yang kesulitan.

b. Pemberian bahan ajar atau materi

Pemberian bahan ajar bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswa, yaitu kreativitas dalam bertanya, mengungkap ide dan menjawab pertanyaan. Bahan ajar terdiri dari:

1) tinjauan konsep-konsep materi; 2) soal-soal latihan; dan

3) ulangan harian.

c. Belajar dalam kelompok.

Guru mengajarkan pelajaran pertama, kemudian siswa diberi latihan yang ada dalam LKS. Para siswa mengerjakan LKS dalam kelompok masing-masing dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1) Siswa berada dalam kelompok masing-masing. 2) Siswa membaca materi bahan ajar secara individual.

3) Masing-masing siswa mengerjakan permasalahan yang terdapat pada LKS dengan keterampilan masing-masing. Siswa yang mengalami kesulitan pada tingkat ini disarankan untuk meminta bantuan dalam kelompok mereka sebelum kepada guru.

(10)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

4) Setelah beberapa menit diadakan cek dalam kelompok masing-masing dengan saling memeriksa tanggapan dan sarannya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauhmana siswa telah menyelesaikan permasalahan pada LKS dan dimana letak kesulitan siswa dalam menyelesaikan permasalahan tersebut pada bahan ajar, pada tahap ini siswa yang tertinggal diberikan bantuan oleh temannya.

5) Siswa menyelesaikan test yang merupakan test harian untuk menentukan kriteria kelompok.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka diharapkan kesulitan siswa dalam memahami materi berbicara mengenai tanggapan dan saran diharapkan dapat dikuasai dengan cara belajar, pola pikir, serta pengalaman mereka dengan baik. Hal ini akan menjadi langkah positif bagi guru guna berkreasi dalam menyajikan suatu materi pelajaran dengan menerapkan model kooperatif teknik student teams

achievement devision (STAD).

Adapun target yang diharapkan yaitu apabila seluruh siswa atau 100% dinyatakan tuntas, dan perolehan nilai rata-rata kelas ≥ 65.

C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan

Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas pembelajaran bahasa Indonesia dengan penerapan penerapan model kooperatif teknik student teams achievement devision (STAD). Secara khusus, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui perencanaan pembelajaran penerapan model kooperatif teknik student teams achievement devision (STAD) dalam pembelajaran berbicara di kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan. b. Untuk mengetahui kinerja guru dalam pembelajaran berbicara dengan

menerapkan model kooperatif teknik student teams achievement devision

(11)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

c. Untuk mengetahui aktivitas siswa dalam pembelajaran berbicara dengan menerapkan model kooperatif teknik student teams achievement devision

(STAD) di kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan. d. Untuk mengetahui peningkatan berbicara siswa kelas 3 SDN Cipasung

Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan melalui penerapan model kooperatif teknik student teams achievement devision (STAD).

1) Untuk mengetahui peningkatan memberikan tanggapan dengan menggunakan kalimat yang runtut.

2) Untuk mengetahui peningkatan memberikan tanggapan dengan menggunakan pilihan kata yang tepat.

3) Untuk mengetahui peningkatan memberikan saran dengan menggunakan kalimat yang runtut.

4) Untuk mengetahui peningkatan memberikan saran dengan menggunakan pilihan kata yang tepat.

2. Manfaat

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut.

a. Manfaat bagi siswa

1) Meningkatkan pemahaman berbicara tentang memberikan tanggapan dan saran khususnya siswa kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan.

2) Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar aktif dan kreatif. b. Manfaat bagi guru

Mengembangkan kreatifitas guru agar siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran berbicara, dan memotivasi guru lain untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode atau pendekatan-pendekatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih baik.

c. Bagi sekolah dasar

Dapat memberikan gambaran yang jelas tentang pembelajaran berbicara dengan penerapan model kooperatif teknik student teams achievement

(12)

Ros Rose, 2013

Penerapan Model Kooperatif Teknik Student Teams Achievement Devision (STAD) Dalam Meningkatkan Pembelajaran Berbicara Pada Siswa Kelas 3 SDN Cipasung Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan

UPI Kampus Sumedang | repository.upi.edu

devision (STAD) dapat meningkatkan kreatifitas dan keaktifan dalam

mempelajari suatu konsep berbicara, sehingga belajar akan lebih efektif dan bermakna.

D. Batasan Istilah

Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan atau mengartikan istilah yang terdapat pada judul penelitian, peneliti membatasi istilah tersebut sebagai berikut.

1. Model Kooperatif

Model kooperatif didefinisikan sebagai kerja sama dalam sebuah kelompok kecil dimana setiap orang berpartisipasi pada tugas-tugas secara kolektif dengan petunjuk yang jelas lebih lanjut diharapkan para siswa mampu menyelesaikan tugas-tugas tanpa pengarahan dan pembinaan dari guru secara langsung (Cohen dalam Sutardi dan Sudirjo, 2007:58).

2. Teknik student teams achievement devision (STAD)

Tim siswa kelompok prestasi atau Student Team Achievement Division

(STAD) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dimana siswa belajar secara kelompok, berdiskusi guna menemukan konsep-konsep dan semua anggota kelompok berbagi tanggungjawab (Sutardi dan Sudirjo, 2007:81). Aktivitas dari teknik STAD yaitu penyajian materi, kegiatan kelompok, test individu, perhitungan nilai, perkembangan individu, penghargaan kelompok. 3. Berbicara

Berbicara di dalam penelitian ini didefinisikan sebagai memberikan tanggapan dan saran terhadap suatu masalah. Definisi ini sesuai dengan KD di kelas III/I yaitu memberikan tenggapan dan saran sederhana terhadap suatu masalah dengan menggunakan kalimat yang runtut dan pilihan kata yang tepat. Oleh karena itu evaluasi yang dilakukan di dalam penelitian ini berkaitan dengan penggunaan kalimat runtut dan pilihan kata yang tepat.

Gambar

Tabel 1.1  Data Awal

Referensi

Dokumen terkait

yang disampaikan secara online melalui Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) untuk paket kegiatan: Pada hari ini Senin Tanggal Dua Bulan Juli Tahun Dua Ribu Dua Belas, kami

AND Y AGDJIAN K., L p − L q estimates for the solutions of hyperbolic equa- tions of second order with time dependent coefficients - oscillations via growth, Preprint Fakult¨at

[r]

Sintesis Dan Karakterisasi Cis-Oleil-Imidazolinium Tetrakloromanganat (II) Sebagai Material Pemancar Cahaya. Universitas Pendidikan Indonesia |

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi OEM di RSUP Haji Adam Malik medan periode 2011 hingga 2013.. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode potong

Kompetensi Dasar 3.4 dan 4.4, Menjelaskan ajaran Yantra, Tantra dan Mantra, serta mempraktikkan ajaran Yantra, Tantra dan Mantra dalam kehidupan dapat menggunakan strategi

Pada penelitian ini kami melakukan penelitian tentang efek penggunaan katalisator (MPG-caps) pada mesin Honda CS-1 125 cc terhadap perubahan performa mesin bensin

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi OEM di RSUP Haji Adam Malik medan periode 2011 hingga 2013.. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode potong