• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu kabupaten yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur. Wilayah Kabupaten Trenggalek berupa daerah pegunungan dan perbukitan karst serta pantai dan laut lepas yang berbatasan dengan Samudera Hindia. Hal ini menyebabkan Kabupaten Trenggalek kaya akan pesona tempat wisata, khususnya wisata alam berupa pantai. Salah satu obyek wisata pantai yang paling banyak dikunjungi adalah Kawasan Wisata Pantai Prigi yang terletak di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo. Kecamatan Watulimo, Munjungan, dan Panggul merupakan tiga kecamatan yang secara geografis terletak di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa.

Kawasan Wisata Pantai Prigi berjarak kurang lebih 69 km ke arah selatan dari pusat Kota Trenggalek dengan kondisi jalan yang mudah dijangkau oleh transportasi umum maupun transportasi pribadi. Kawasan Wisata Pantai Prigi terdiri dari tiga pantai utama yang terletak di sepanjang Teluk Prigi, antara lain Pantai Prigi, Pantai Pasir Putih, dan Pantai Karanggongso. Dari ketiga pantai tersebut, Pantai Prigi adalah yang sejak lama menjadi primadona atau ikon tujuan obyek wisata alam di Kabupaten Trenggalek.

Pantai Prigi memiliki garis pantai memanjang sekitar 2 km, berpasir putih kecoklatan, berair jernih, keindahan panorama laut lepas dan pulau-pulau kecil, serta memiliki ombak yang tidak terlalu besar. Pantai Prigi juga memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) sebagai tempat penangkapan ikan terbesar di pantai selatan Pulau Jawa. Selain itu, Pantai Prigi menawarkan wisata budaya yang biasanya digelar oleh pemerintah daerah dan nelayan setempat setiap setahun sekali pada bulan Selo (kalender Jawa). Wisata budaya ini disebut Upacara Larung Sembonyo yang memiliki keunikan tersendiri dan menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Keindahan Pantai Prigi dan daya tarik wisata budayanya mampu mendatangkan kunjungan wisatawan dari berbagai daerah di Jawa Timur.

(2)

Kunjungan wisatawan di Pantai Prigi mengalami fluktuasi dalam kurun waktu tahun 2011-2016. Menurut data dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, kunjungan wisatawan di Pantai Prigi pada tahun 2015 mencapai 90.251 orang dan menurun tajam menjadi 77.258 orang pada tahun 2016. Fluktuasi jumlah wisatawan ini dapat terjadi karena perubahan kondisi lingkungan obyek dan daya tarik wisata (ODTW) Pantai Prigi serta minimnya pemeliharaan fasilitas wisata yang ada.

Perubahan kondisi lingkungan yang disebabkan oleh penyelenggaraan pariwisata di suatu kawasan pantai atau pesisir dipandang sebagai penurunan kualitas lingkungan di kawasan tersebut. Penurunan kualitas lingkungan apabila tidak segera ditangani akan menimbulkan degradasi atau kerusakan lingkungan. Ancaman penurunan kualitas lingkungan ini dapat dicegah dengan cara memahami karakteristik, potensi, dan kemampuan kawasan dalam melayani permintaan wisata. Kemampuan kawasan dalam melayani permintaan wisata tanpa terjadinya penurunan kualitas lingkungan pada kawasan wisata dipahami sebagai konsep daya dukung lingkungan untuk pariwisata.

Kajian daya dukung lingkungan untuk pariwisata di Pantai Prigi penting dilakukan meskipun jumlah kunjungan di Pantai Prigi masih fluktuatif. Kunjungan dan aktivitas wisata ini menimbulkan beberapa dampak negatif pada lingkungan, diantaranya adanya sampah yang ditinggalkan di sepanjang pantai dan fasilitas wisata seperti toilet, musholla, dan gazebo yang nampak kotor. Kondisi ini memerlukan penanganan melalui pengukuran terhadap daya dukung lingkungan pariwisata Pantai Prigi yang ditandai dengan jumlah maksimal kunjungan wisatawan per hari.

Kunjungan wisatawan di Pantai Prigi dimungkinkan dapat mengalami peningkatan di masa mendatang jika rencana penataan kawasan sudah direalisasikan. Saat ini, adanya sarana wisata baru berupa panggung terbuka yang lebih dikenal dengan sebutan Panggung Prigi 360 cukup banyak menarik wisatawan untuk berkunjung. Apabila penataan dan pembangunan sarana wisata lainnya diimplementasikan, dapat diprediksikan jumlah kunjungan wisatawan meningkat lebih banyak dari tahun 2015 mencapai lebih dari 90.251 pengunjung.

(3)

Permintaan wisata yang tinggi juga akan diiringi oleh tuntutan ketersediaan fasilitas pariwisata yang memadai. Untuk kepentingan penataan fasilitas dan kawasan wisata jangka panjang sekaligus untuk memberikan batasan terhadap jumlah kunjungan, pembuatan zonasi kawasan wisata di Pantai Prigi penting dan dibutuhkan. Zonasi kawasan wisata juga harus dipahami sebagai salah satu cara untuk menanggulangi ancaman perubahan kualitas lingkungan di kawasan wisata Pantai Prigi. Dengan demikian, daya dukung lingkungan untuk pariwisata di Pantai Prigi akan tetap terjaga dalam jangka panjang.

Pengukuran daya dukung lingkungan untuk pariwisata di Pantai Prigi dan pembuatan zonasi kawasan wisatanya berimplikasi pada wisatawan yang berkunjung di Pantai Prigi. Implikasi pada wisatawan dapat berupa pembatasan jumlah kunjungan berdasarkan daya dukung lingkungan untuk pariwisata. Selain itu, implikasi wisatawan juga dapat disebabkan oleh kesesuaian dan ketersediaan sarana dan prasarana pendukung pariwisata berdasarkan zonasi kawasan wisata. Setiap wisatawan memiliki karakteristik sosial dan persepsi yang berbeda-beda mengenai ODTW yang dikunjunginya sehingga diperlukan upaya untuk mempertahankan kunjungan wisatawan di Pantai Prigi agar tidak kalah dengan obyek wisata pantai lain di sekitarnya.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan latar belakang di atas, diketahui bahwa Pantai Prigi memiliki potensi wisata alam yang sejak dahulu menjadi tujuan wisata unggulan di Kabupaten Trenggalek. Pantai Prigi juga telah mendapat perhatian pemerintah daerah melalui dokumen Rencana Induk Pengembangan Obyek Wisata (RIPOW). Pengembangan pariwisata ini setidaknya memperhatikan tiga unsur yang membentuk produk wisata, diantaranya daya tarik daerah tujuan wisata atau atraksi wisata, aksesibilitas atau kemudahan mencapai lokasi obyek wisata, dan amenitas yaitu ketersediaan fasilitas pendukung di obyek wisata, meliputi akomodasi, usaha pengolahan makanan, parkir, transportasi, rekreasi, dan lain-lain (Yoeti, 2002). Pengembangan kawasan wisata Pantai Prigi mulai dilakukan dengan memperhatikan unsur-unsur produk wisata, antara lain

(4)

menambah daya tarik wisata alam dengan menanam pohon cemara udang di sepanjang pantai, perbaikan dan pemeliharaan jalan menuju lokasi obyek wisata Pantai Prigi, dan mengatur serta membangun fasilitas pariwisata seperti tempat makan, tempat ibadah, toilet, tempat parkir, dan sarana wisata lainnya.

Pengembangan pariwisata di Pantai Prigi tidak hanya menyangkut bagaimana membangun dan mengelola suatu kawasan menjadi obyek wisata, namun juga harus mempertimbangkan prinsip-prinsip keberlanjutan dan proteksi baik terhadap aspek ekonomi, sosial, budaya, maupun lingkungan fisik. Keseimbangan antara pembangunan dan konservasi menjadi faktor yang esensial bagi keberlanjutan pariwisata. Keberlanjutan pariwisata di Pantai Prigi dipengaruhi oleh kondisi fisik lingkungan obyek wisata yang saat ini mulai mengalami penurunan kualitas lingkungan. Hal ini terlihat dari terganggunya keindahan obyek wisata Pantai Prigi akibat pengadaan fasilitas pendukung dan sarana wisata yang kurang terencana dengan baik.

Selain dari kurang terencananya pengadaan fasilitas wisata di Pantai Prigi, pemeliharaan terhadap fasilitas wisata yang baru maupun yang sudah ada sebelumnya belum dilakukan secara maksimal. Kebutuhan terhadap fasilitas wisata menjadi bagian dari kajian daya dukung suatu kawasan wisata. Kawasan wisata Pantai Prigi ditinjau dari sudut pandang wisatawan memiliki daya tarik keindahan pantai, perahu ikan di pelabuhan, dan pemandangan laut lepas. Akan tetapi, keindahan pantai tidak didukung dengan lingkungan obyek wisata yang sejuk, bersih, dan nyaman. Pantai Prigi terlihat cukup gersang, minim pepohonan atau tetumbuhan di sekitar pantai sehingga udara terasa panas ketika hari semakin siang. Kebersihan pantai terganggu dengan adanya warga yang menggembalakan ternaknya di lingkungan obyek wisata. Tentunya kondisi ini akan mengganggu kenyamanan wisatawan dalam menikmati obyek wisata Pantai Prigi.

Kondisi lingkungan obyek wisata Pantai Prigi yang sedemikian rupa membutuhkan adanya zonasi kawasan wisata yang sesuai untuk aktivitas wisatawan. Zonasi kawasan wisata terkait dengan kondisi suhu dan kelembaban udara pada kawasan. Pengukuran daya dukung dan pembuatan zonasi kawasan

(5)

wisata ini dimaksudkan untuk memberikan implikasi yang positif bagi wisatawan yang berkunjung di Pantai Prigi.

Adanya penelitian mengenai daya dukung wisata dan zonasi kawasan wisata di kawasan wisata Pantai Prigi diharapkan dapat menjadi salah satu bahan rekomendasi untuk perencanaan dan implementasi beragam fasilitas, sarana, dan prasarana untuk kepariwisataan. Sebagai obyek wisata unggulan kabupaten, prospek pengembangan wisata Pantai Prigi yang potensial dengan didukung oleh kerjasama pemerintah dan masyarakat setempat menjadi suatu kekuatan pendukung guna keberlanjutan potensi wisata pantai dan pesisir tersebut. Sebab sumberdaya pesisir tidak hanya dipandang untuk kebutuhan saat ini, namun juga untuk mempertahankan keuntungan ekonomi dan ekologi jangka panjang. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut :

1. Seberapa besar besaran daya dukung kawasan wisata di Pantai Prigi?

2. Apakah zonasi kawasan wisata di Pantai Prigi sudah sesuai atau optimum berdasarkan matriks kenyamanan fisiologis?

3. Bagaimanakah implikasinya terhadap wisatawan di kawasan wisata Pantai Prigi?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Mengidentifikasi besaran daya dukung kawasan wisata Pantai Prigi di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.

2. Menemukenali zonasi kawasan wisata Pantai Prigi berdasarkan kenyamanan fisiologis.

3. Menganalisis adanya implikasi daya dukung dan zonasi kenyamanan fisiologis terhadap wisatawan di kawasan wisata Pantai Prigi.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

(6)

1. Untuk memenuhi salah satu persyaratan akademik dalam menyelesaikan program studi S1 Pembangunan Wilayah di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

2. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu bahan masukan bagi pengembangan pariwisata di Kecamatan Watulimo, khususnya di obyek wisata Pantai Prigi.

3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan geografi, khususnya bidang kajian geografi pariwisata.

4. Sebagai sumber informasi bagi pengembangan penelitian sejenis di kemudian hari.

1.5 Keaslian Penelitian

Penelitian ini menggunakan referensi dari karya tulis terdahulu lainnya seperti skripsi, tesis, jurnal nasional maupun internasional, buku, dan beberapa artikel online serta literatur pendukung penelitian lainnya. Penelitian terkait daya dukung kawasan wisata alam telah banyak dilakukan pada penelitian-penelitian sebelumnya. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan penulis jauh berbeda dengan penelitian-penelitian tersebut.

Penelitian untuk penyusunan tesis yang dilakukan oleh Gusti Ayu Tika Vindriani (2014) bertujuan untuk mengetahui potensi ODTW alam yang ada di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kelam Kabupaten Sintang Kalimantan Barat, mengetahui karakteristik dan motivasi wisatawan, serta mengukur besarnya daya dukung kawasan TWA Bukit Kelam. Metode yang digunakan adalah Indeks Keragaman Jenis Flora, Fauna, Penutup Lahan, dan Daya Dukung Ekologis Kawasan Wisata. Hasil penelitian yang diperoleh adalah penilaian potensi flora, fauna, lanskap, dan indeks penutup lahan tergolong memuaskan, serta perhitungan daya dukung ekologis untuk kawasan wisata berkisar antara 44-201 orang/Ha. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan penulis adalah daerah penelitian yang berupa Taman Wisata Alam, sedangkan kajian penelitian penulis adalah wisata pantai. Metode dan hasil

(7)

penelitian yang dicapai untuk TWA Bukit Kelam lebih khusus pada kawasan konservasi flora, fauna, penutup lahan, dan ekologis taman wisata alam.

Penelitian serupa juga dilakukan oleh Khair (2006) untuk mengetahui kapasitas daya dukung fisik kawasan ekowisata di TWA Sibolangit Kabupaten Deli Serdang. Metodologi yang digunakan berdasarkan penentuan kapasitas daya dukung wisata kawasan lindung yang dikembangkan oleh Cifuentes (1992). Kapasitas daya dukung fisik kawasan TWA Sibolangit tidak melewati standar batas daya dukung yang dibuat. Adapun perbedaan penelitian terletak pada daerah penelitian yang berupa Taman Wisata Alam dan penggunaan metode perhitungan daya dukung. Khair (2006) menggunakan metode perhitungan daya dukung sebatas pada daya dukung fisik dan daya dukung riil, sedangkan penulis nantinya selain daya dukung fisik dan riil, juga akan memasukkan daya dukung efektif.

Tesis daya dukung pada kawasan pariwisata pantai dilakukan oleh Angga Budi Kusuma (2013) di kawasan pariwisata Pantai Glagah Kabupaten Kulon Progo. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi potensi sumberdaya wisata di Pantai Glagah, mengidentifikasi daya dukung lingkungan untuk kegiatan pariwisata dengan kebutuhan kegiatan pariwisata, serta menyusun strategi pengembangan pariwisata Pantai Glagah yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya. Metode yang dilakukan adalah analisis data primer dan sekunder, pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling dan random sampling. Perbedaan dengan penelitian penulis terletak pada identifikasi potensi wisata, metode penentuan daya dukung, dan strategi pengembangan pariwisata. Metode penentuan daya dukung dibedakan menjadi komponen abiotik, biotik, dan kultural.

Cokrowati (2006) juga melakukan penelitian daya dukung lingkungan di Pulau Gili Ketapang Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur untuk mengetahui sumberdaya yang berpotensi sebagai ODTW di daerah kepesisiran Pulau Gili Ketapang, mengetahui daya dukung lingkungan untuk pengembangan pariwisata, dan mengarahkan bentuk pengembangan pariwisata yang tepat di daerah pesisir tersebut. Penelitian ini belum terfokus pada satu obyek wisata alam, lebih menekankan kepada pola pengembangan pariwisata secara keseluruhan pada

(8)

obyek wisata khas daerah pesisir Pulau Giliketapang berdasarkan daya dukung lingkungannya. Konsep daya dukung lingkungan yang digunakan tidak secara kuantitiatif melainkan kualitatif yaitu pola pengembangan Small Island Ecotourism.

Jurnal internasional berjudul Recreation Carrying Capacity Estimations to Support Beach Management at Praia de Faro, Portugal yang dipublikasikan pada tahun 2011 oleh tim peneliti Daniel A. Zacaricas, Alla T.Williams, dan Allice Newton bertujuan untuk mengetahui jumlah maksimum pengunjung yang dapat ditampung di Pantai Praia de Faro, optimal tidaknya daya dukung fisik di Pantai Praia de Faro, tingkat interaksi antara wisatawan dan komunitas lokal, serta untuk mengetahui jumlah optimal wisatawan dan komunitas lokal yang dapat ditampung. Metode yang digunakan adalah analisis data primer kualitatif dan data sekunder kuantitatif menggunakan rumus perhitungan daya dukung Cifuentes (1992). Hasil penelitian yang dicapai adalah jumlah maksimum pengunjung di Pantai Praia de Faro, daya dukung fisik di pantai optimal karena tidak melebihi range, tingkat interaksi antara wisatawan dengan komunitas lokal sebagai daya dukung sosial budaya di obyek wisata dengan jumlah optimal wisatawan sebesar 3.558 pengunjung/hari untuk lokasi 1 dan 1.779 pengunjung /hari untuk lokasi 2.

Penelitian yang dilakukan oleh penulis bertujuan untuk mengetahui besaran daya dukung kawasan wisata Pantai Prigi, menemukenali keterkaitan besaran daya dukung dengan zonasi kawasan wisata berdasarkan matriks kenyamanan fisiologis, dan implikasinya terhadap wisatawan. Terdapat persamaan dan beberapa perbedaan dengan penelitian-penelitian terdahulu, salah satu persamaannya adalah penggunaan konsep daya dukung oleh Cifuentes (1992). Sedangkan perbedaannya terletak pada daerah penelitian yang berupa pantai di daerah karst, penggunaan konsep dan variabel daya dukung secara keseluruhan yang meliputi daya dukung fisik, daya dukung riil, dan daya dukung efektif. Perbedaan lainnya yakni pengukuran variabel suhu dan kelembaban udara kawasan wisata untuk menyusun zonasi kawasan wisata berdasarkan matriks kenyamanan fisiologis oleh Terjung (1966 dalam Burton, 1995).

(9)

9 Tabel 1.1 Tabel Keaslian Penelitian

No Judul Penelitian Nama (Tahun)

Tujuan Penelitian Metode Hasil

1 Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam serta Daya Dukung Kawasan di Taman Wisata Alam Bukit Kelam Kabupaten Sintang Kalimantan Barat Gusti Ayu Tika Vindriani (2014) Tesis 1. Mengetahui potensi ODTW alam yang ada di kawasan TWA Bukit Kelam baik flora, fauna maupun lanskapnya. 2. Mengetahui karakteristik

dan motivasi wisatawan di kawasan TWA Bukit Kelam.

3. Mengukur besarnya daya dukung kawasan TWA Bukit Kelam untuk tujuan pariwisata alam.

1. Indeks Keragaman Jenis Flora dari Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keragaman Jenis Fauna menggunakan nilai indeks diversitas Simpson, penilaian lanskap dari segmentasi kawasan wisata Bureau of Land Management

Indeks Penutup Lahan (IPL).

2. Daya Dukung Ekologis Kawasan Wisata.

1. Penilaian potensi flora fauna potensial dengan meggunakan tujuh variabel, potensi lanskap terbagi menjadi tiga yakni lanskap kualitas tinggi, sedang, dan rendah. 2. IPL untuk kawasan taman bermain sebesar

70,98 %; IPL untuk kawasan air terjun 80,40 %, dan IPL untuk kawasan hutan wisata 84, 34 %. Umumnya IPL masih dalam keadaan baik dan memuaskan karena nilai IPL di atas 75 %.

3. Daya dukung untuk aktivitas wisata piknik, berkemah, dan berenang pada kawasan taman bermain, air terjun, dan hutan wisata berkisar antara 44-201 orang/Ha.

2 Daya Dukung Lingkungan dan Strategi Pengelolaan Kawasan Pariwisata Pantai Glagah Kabupaten Kulon Progo Angga Budi Kusuma (2013) Tesis 1. Mengidentifikasi potensi sumberdaya wisata di Pantai Glagah. 2. Mengidentifikasi daya dukung lingkungan untuk kegiatan pariwisata dengan kebutuhan kegiatan pariwisata Pantai Glagah. 3. Menyusun strategi pengembangan pariwisata kawasan wisata Pantai Glagah

Analisis data primer dan sekunder, pengambilan sampel menggunakan

purposive sampling dan

random sampling.

1. Potensi sumberdaya wisata di Pantai Glagah meliputi lingkungan alam (lahan, air, udara), fasilitas atau sarana, dan obyek wisata.

2. Daya dukung lahan, air, udara, dan fasilitas wisata (penginapan dan tempat parkir) masih mencukupi.

3. Strategi pengembangan pariwisata melalui prioritas penyediaan transportasi umum, penyediaan air bersih, penginapan, kemudahan informasi, tempat berteduh, dan petugas wisata.

(10)

No Judul Penelitian Nama (Tahun)

Tujuan Penelitian Metode Hasil

agar sesuai dengan daya dukung lingkungannya. 3 Kapasitas Daya

Dukung Fisik Ekowisata di Taman Wisata Alam (TWA) Kabupaten Deli Serdang

Khair (2006) 1. Mengetahui kapasitas daya dukung fisik kawasan TWA Sibolangit.

Analisa data primer kuantitatif

- Kapasitas daya dukung fisik kawasan TWA Sibolangit terhadap pengunjung tidak melewati batas daya dukung dari standar yang dibuat.

- Daya dukung fisik (PCC) kawasan TWA untuk lokasi 1 sebesar 9.000 pengunjung per hari, sedangkan lokasi 2 sebesar 7.650 pengunjung per hari.

- Daya dukung riil (RCC) kawasan TWA untuk lokasi 1 sebesar 2.502 pengunjung per hari, sedangkan lokasi 2 sebesar 1.215 pengunjung per hari.

- Daya dukung efektif (ECC) untuk lokasi 1 sebesar 30 % dari RCC, sedangkan untuk lokasi 2 mencapai 0,72 % dari nilai RCC. 4 Pengelolaan Daerah Kepesisiran untuk Pengembangan Pariwisata Berdasarkan Daya Dukung Lingkungan di Pulau Gili Ketapang Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur

Cokrowati (2006)

1. Mengetahui sumberdaya yang berpotensi sebagai obyek dan daya tarik wisata di daerah kepesisiran Pulau Giliketapang.

2. Mengetahui daya dukung lingkungan Pulau Giliketapang untuk pengembangan pariwisata.

3. Mengarahkan bentuk pariwisata yang tepat untuk dikembangkan di

Analisa data primer kualitatif dan kuantitatif

1. Sumberdaya yang berpotensi sebagai obyek dan daya tarik wisata di daerah kepesisiran Pulau Giliketapang adalah pantai berpasir putih, terumbu karang, dan Goa Kucing yang merupakan obyek dan daya tarik khas Pulau Giliketapang.

2. Jumlah rata-rata wisatawan harian Pulau Giliketapang sampai saat ini belum

melampaui angka daya dukung lingkungan. 3. Pola pengembangan pariwisata di yang

tepat di Pulau Giliketapang adalah Small

Island Ecotourism dengan atraksi wisata

yang tidak menyebabkan terjadinya gangguan pada lingkungan.

(11)

No Judul Penelitian Nama (Tahun)

Tujuan Penelitian Metode Hasil

daerah kepesisiran Pulau Giliketapang. 5 Recreation Carrying Capacity Estimations to Support Beach Management at Praia de Faro, Portugal Daniel A. Zacaricas, Alla T. Williams, Allice Newton (2011) 1. Mengetahui jumlah maksimum pengunjung yang dapat ditampung di Pantai Praia de Faro. 2. Mengetahui apakah daya

dukung fisik di pantai tersebut optimal 3. Mengetahui tingkat interaksi antara wisatawan dan komunitas lokal di obyek wisata. 4. Mengetahui jumlah

optimal wisatawan dan komunitas lokal yang dapat ditampung.

Analisis data primer kualitatif dan data sekunder kuantitatif

1. Jumlah maksimum pengujung untuk lokasi 1 sebesar 72.000 pengunjung per hari dan lokasi 2 sebesar 36.000 pengunjung per hari.

2. Daya dukung fisik optimal karena tidak melebihi range.

3. Tingkat interaksi antara wisatawan dengan komunitas lokal sebagai daya dukung sosial budaya.

4. Berdasarkan faktor koreksi, jumlah optimal wisatawan diperkirakan sebesar 3.558 pengunjung/hari untuk lokasi 1 dan 1.779 pengunjung/hari untuk lokasi 2.

(12)

12 1.6 Tinjauan Pustaka

1.6.1 Pariwisata di Wilayah Pesisir

Pariwisata didefinisikan sebagai perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang bersifat sementara, dilakukan oleh perorangan atau kelompok, bertujuan mencari keseimbangan dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam berbagai dimensi kehidupan, yaitu dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu (Kodhyat, 1983). Pariwisata dilaksanakan untuk mencari kebahagiaan melalui perjalanan menikmati waktu selama bertamasya dan berekreasi ke daerah tujuan wisata. Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan Pemerintah Daerah.

Kepariwisataan meliputi seluruh kegiatan yang terkait dengan pariwisata, bersifat multidimensi dan multidisiplin, mencakup interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, antar sesama wisatawan, maupun antara pemerintah dan pengusaha, serta antar stakeholder tersebut. Pariwisata timbul karena adanya suatu daya tarik wisata di daerah tujuan wisata. Daya tarik wisata ini dapat berupa daya tarik alam, budaya, maupun buatan manusia. Menurut Fennel (1999), sumberdaya alam yang dapat dikembangkan menjadi sumberdaya pariwisata antara lain :

1. Lokasi geografis

2. Iklim dan cuaca sebagai penentu utama dari lingkungan fisik 3. Topografi dan landforms (bentanglahan)

4. Sifat dan ragam material penyusun permukaan bumi 5. Air (wisata pantai/bahari, danau, sungai, dan sebagainya)

6. Vegetasi, formasi tumbuhan seperti ekowisata pada kawasan konservasi alam 7. Fauna, baik sebagai atraksi wisata maupun konsumsi (berburu, mancing)

Pantai Prigi merupakan salah satu contoh daya tarik wisata yang bersumber dari wisata pesisir atau bahari. Pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut. Wilayah pesisir ke arah darat meliputi bagian daratan yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut, seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan

(13)

air asin sehingga ada bagian daratan yang kering maupun yang terendam air. Wilayah pesisir ke arah laut adalah bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat, misalnya sedimentasi dan aliran air tawar (Supriharyono, 2000). Keadaan bentuklahan di wilayah pesisir tersebut dapat diidentifikasi seperti yang diungkapkan oleh Sunarto (2011), yakni adanya beting gisik (beach ridge), gumuk pasir (sand dune), laguna (lagoon), dan dataran aluvial kepesisiran.

Wilayah pesisir merupakan wilayah yang rentan mengalami tekanan, baik dari proses fisik maupun aktivitas manusia karena hubungan interaksi antara manusia dan alam terjadi intens di wilayah pesisir. Hubungan interaksi ini melahirkan berbagai bentuk kearifan lokal dan modal sosial yang tumbuh dengan kuat. Yunus (2002) menjelaskan bahwa interaksi antara proses fisik dan sosial di daerah pesisir menentukan karakteristik lingkungan pesisir. Faktor fisik daerah pesisir berkaitan dengan keadaan topografi, struktur geologi, geomorfologi, perairan dan tanah, sedangkan faktor sosial meliputi kegiatan penduduk dalam berbagai aspek, yakni ekonomi, politik, dan sosial budaya. Karena itu, pengelolaan lingkungan pesisir dibuat sistem secara terpadu dengan melibatkan komponen lingkungan, masyarakat, pemerintah, dan organisasi atau kelembagaan. Sumberdaya pariwisata dalam kajian daya dukung kawasan wisata Pantai Prigi mengedepankan wisata pantai atau bahari. Fandeli (2002) mengungkapkan di areal wisata pantai dapat dibagi tiga macam kegiatan wisata yaitu :

1. Surface activities (Kegiatan Wisata di Permukaan)

Beberapa contohnya adalah kegiatan berperahu, ski air, dan berselancar. 2. Contact activities (Kegiatan Wisata di Air)

Kegiatan wisata alam yang dilakukan bersinggungan dengan air, misalnya berenang, scuba diving, mandi dan snorkling.

3. Littoral activities (Kegiatan Wisata di Zona Litoral)

Kegiatan berwisata di zona darat, misalnya berjemur di pinggir pantai, piknik, dan berjalan-jalan santai menyusuri pantai. Ketiga tipe kegiatan ini tidak dapat berdiri sendiri, artinya kegiatan berlangsung secara bersamaan.

(14)

Kegiatan wisata di wisata alam, khususnya pantai tidak dapat terlepas dari upaya pengembangan kepariwisataan alam itu sendiri. Upaya pengembangan kepariwisataan alam mengalami beberapa permasalahan yang timbul dari dalam (internal) obyek wisata alam maupun dari luar (eksternal) pengelolaan pariwisata alam. Permasalahan internal menurut Fandeli (2002) meliputi kendala kerentanan alam dan pola pengembangan yang sama, sedangkan permasalahan eksternal terkait dengan keamanan dan persaingan dalam pelayanan ODTW alam.

Pariwisata alam bertumpu pada kondisi dan kualitas alam yang bersifat rentan. Kualitas alam berpengaruh terhadap kepuasan wisatawan karena kualitas alam menjadi daya tarik utama wisata alam. Terjaganya kondisi alam sebagai atraksi wisata menjadi hal yang harus diperhatikan. Selain itu, adanya kemiripan ODTW alam di beberapa daerah menjadikan pola pengembangan ODTW alam cenderung sama sehingga ODTW alam lambat laun mengalami penurunan keunggulan daya saing. Hambatan eksternal stakeholder di bidang pariwisata terkait krisis ekonomi yang menimbulkan krisis di bidang lain, misalnya krisis sosial dan keamanan, sedangkan persaingan dalam pelayanan merupakan kendala yang terkait dengan pengelola industri pariwisata nasional yang belum memiliki kualitas dan profesionalitas.

Proses pengambilan keputusan untuk berwisata menuju suatu destinasi wisata bersifat kompleks karena banyak hal yang harus dipertimbangkan, antara lain faktor kepribadian, daya tarik ODTW, ketersediaan sumberdaya, jarak, dan kondisi lingkungan wisata. Beberapa pertimbangan penting yang dilakukan wisatawan sebelum mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan atau berwisata, antara lain biaya, pilihan destinasi wisata, bentuk perjalanan, waktu dan lama berwisata, moda transportasi yang akan digunakan, penginapan, dan jasa-jasa pariwisata lainnya (Freyer, 1993 dalam Damanik dan Weber, 2006). Kawasan wisata Pantai Prigi sebagai suatu destinasi wisata banyak dipilih wisatawan karena terjangkau dari segi biaya, akses jalan yang mudah, dan tersedia fasilitas pariwisata yang mendukung.

(15)

1.6.2 Daya Dukung Pariwisata di Wilayah Pesisir

Kualitas lingkungan akan menentukan kepuasan wisatawan. Douglas (1978), mengemukakan daya dukung tempat wisata adalah jumlah wisatawan yang menggunakan suatu areal untuk berwisata yang masih dapat didukung oleh areal tersebut dengan ditandai tanpa adanya perubahan pada kualitas wisata. Definisi yang sama juga diungkapkan oleh Soemarwoto (1997), bahwa daya dukung lingkungan obyek wisata alam adalah kemampuan areal wisata alam untuk dapat menampung jumlah wisatawan pada luas dan satuan waktu tertentu. Daya dukung kawasan wisata Pantai Prigi dapat disimpulkan sebagai daya tampung kawasan dalam melayani permintaan wisata tanpa adanya perubahan pada kualitas wisata.

Daya dukung lingkungan pariwisata alam dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu tujuan wisatawan dan faktor lingkungan biofisik pariwisata alam. Dengan demikian, aspek kualitas lingkungan menjadi ukuran daya dukung kawasan wisata. Douglas (1978) membagi kawasan wisata alam atau destinasi wisata alam berdasarkan enam kategori sebagaimana tertera dalam tabel berikut. Tabel 1.2. Klasifikasi Wisata Alam Berdasarkan Kemampuan Daya Tampung Pengunjung

No Area Wisata Alam Kemampuan Untuk Wisatawan Hari Orang Kunjungan / Acre/ Tahun 1 2 3 4 5 6

Area yang dikelola secara intensif dipergunakan untuk pengunjung rombongan.

Area yang dikelola secara ekstensif untuk wisata alam.

Area pada lingkungan alam, belum dikembangkan atau tidak dikembangkan.

Lingkungan alam sudah dikenal. Lingkungan alam masyarakat primitif.

Lingkungan peninggalan sejarah (candi, keraton, dan lain-lain).

2000 75 2 7 2 2000

Klasifikasi kriteria di atas memiliki kesimpulan dimana ekosistem yang kuat mempunyai daya dukung yang tinggi, artinya dapat menerima wisatawan dalam jumlah yang besar karena tidak mudah rusak dan cepat pulih apabila mengalami kerusakan. Sebaliknya, area wisata alam mempunyai kemampuan

(16)

untuk menampung wisatawan yang tidak terlalu besar apabila ekosistemnya rawan atau mudah rusak.

Besaran daya dukung kawasan wisata dapat dihitung dengan menggunakan persamaan daya dukung ekologis oleh Douglas (1978). Daya dukung ekologis merupakan perhitungan daya dukung dengan mempertimbangkan faktor pemulihan atau natural recovery (natural purification), sebagai Turnover Factor (TF). Douglas (1978), menemukan beberapa aktivitas wisata yang menimbulkan tekanan terhadap lingkungan dengan area kebutuhan untuk berwisata dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 1.3. Kebutuhan Area untuk Berwisata Alam

No Aktivitas Kebutuhan Area Berwisata (Termasuk Area Parkir)

Turnover Factor (TF) 1 2 3 4 Berenang Berperahu Berpiknik Berkemah 302 feet² 544 feet² 272-726 feet² 364-907 feet² 1,5 2,0 1,5 1,0

Berdasarkan angka-angka tersebut dapat dihasilkan suatu rumus kebutuhan area suatu kawasan wisata dengan memperhitungkan daya dukung ekologis sebagai berikut :

Dimana :

AR = luas areal yang dibutuhkan untuk kegiatan wisata alam (daya dukung ekologis)

D = Jumlah kunjungan wisatawan per tahun

a = Luas areal yang dibutuhkan setiap wisatawan untuk berwisata alam dalam feet²

Cd = Jumlah hari dalam satu tahun yang dipergunakan untuk berwisata alam TF = Faktor pemulihan

43.560 = Konstanta (konversi acre ke feet)

Luas area yang dibutuhkan setiap wisatawan untuk berwisata beragam karena wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata akan menimbulkan pola kegiatan yang beragam. Pola kegiatan wisata alam digolongkan menjadi dua kelompok oleh Fandeli (2001), antara lain :

(17)

1. Kegiatan wisata alam yang pasif

Kegiatan wisata santai dan beresiko kecil karena tidak diperlukan tenaga yang banyak dan biasanya dilakukan oleh wisatawan golongan orang tua.

2. Kegiatan wisata alam yang aktif

Kegiatan wisata membutuhkan banyak tenaga fisik, penuh tantangan, dan bahaya sehingga memiliki resiko yang sangat tinggi. Kegiatan wisata ini banyak dilakukan oleh pecinta alam, terdiri dari pemuda (umur 22-45 tahun) dan remaja yang umurnya berkisar antara 12 sampai dengan 21 tahun. Pola kegiatan wisatawan alam tersebut dapat menimbulkan dampak terhadap obyek wisata alam.

Berbeda dengan konsep daya dukung yang dikemukakan oleh Cifuentes (1992) dalam Zacaricas et al (2011) dimana daya dukung mengacu pada kemampuan sebuah sistem untuk mendukung suatu aktivitas pada derajat atau level tertentu. Cifuentes mengembangkan perhitungan kapasitas daya dukung dari suatu kawasan konservasi. Penerapan kapasitas daya dukung ini dapat digunakan untuk mengetahui jumlah wisatawan yang dapat diterima secara optimal atau efektif tanpa mengakibatkan kerusakan pada kawasan konservasi tersebut. Konsep daya dukung menurut Cifuentes ini dikategorikan atas daya dukung fisik (Physical Carrying Capacitiy), daya dukung riil (Real Carrying Capacity), dan daya dukung efektif (Effective Carrying Capacity).

Daya dukung fisik adalah jumlah maksimum wisatawan yang secara fisik tercukupi oleh ruang yang disediakan pada waktu tertentu, didasarkan pada batas spasial sebuah area dengan memperhatikan berapa materi (unit) yang dapat ditampung dalam area tersebut. Perhitungan daya dukung fisik (Physical Carrying Capacitiy) menggunakan data luas areal wisata, data luas areal wisata untuk aktivitas wisatawan, data lama kunjungan wisatawan dalam sehari, dan data lama waktu obyek wisata dibuka dalam sehari.

Daya dukung riil (Real Carrying Capacity) merupakan ukuran faktor koreksi menurut karakter biofisik di suatu tempat atau obyek wisata tersebut. Karakter biofisik meliputi komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik adalah ketersediaan tumbuhan hidup, hewan, dan makhluk hidup lainnya yang dapat

(18)

menambah atraksi daya tarik suatu obyek wisata, sedangkan komponen abiotik merupakan pendukung ekosistem obyek wisata seperti air, jenis tanah, dan lain sebagainya. Perhitungan daya dukung kawasan wisata pantai dalam hal ini menggunakan faktor koreksi curah hujan, kecepatan angin, durasi penyinaran matahari, dan kelembaban udara.

Daya dukung efektif (Effective Carrying Capacity) mengacu pada hasil kombinasi antara daya dukung fisik dan daya dukung riil, serta unsur kapasitas manajemen atau pengelolaan pariwisata. Kapasitas manajemen merupakan kepuasan pengunjung terhadap pengelola wisata dan infrastruktur wisata yang diperoleh dari parameter reliability (reliabilitas pengelola wisata), responsiveness (penerimaan wisatawan), assurance (jaminan selama berwisata), empathy (kepedulian pengelola wisata), dan tangible (ketersediaan infrastruktur wisata yang dapat diukur).

Berdasarkan beberapa pembatasan konsep daya dukung, daya dukung menekankan kepada konsep kebermanfaatan pengaturan lingkungan, khususnya interaksi antara aktivitas manusia dengan lingkungannya (Papageorgiu dan Brotherton, 1999 dalam Zacaricas et al, 2011). Daya dukung kawasan wisata pada wilayah pesisir Pantai Prigi melibatkan komponen fisik wilayah dan komponen sosial. Komponen sosial meliputi permintaan wisata dari wisatawan dan masyarakat lokal sebagai pengelola obyek wisata.

Komponen fisik dan sosial berjalan beriringan membentuk suatu hubungan relasional. Hubungan relasional antara makhluk hidup dengan lingkungannya adalah masalah ekologi (environment management). Ritohardoyo (2013) mengungkapkan dalam environment management menekankan sudut pandang antroposentris, yakni memandang permasalahan lingkungan dari sudut kepentingan manusia dengan tetap menekankan pada karakteristik wilayah dan aspek dominasi antara lingkungan dan manusia.

1.6.3 Zonasi Kenyamanan Wisata di Wilayah Pesisir

Wisatawan sebagai pelaku wisata membutuhkan ruang dan kenyamanan fisiologis pada kondisi iklim tertentu di daerah wisata yang dikunjunginya. Kenyamanan fisiologis berpengaruh terhadap aktivitas wisatawan, baik yang

(19)

bersifat aktif maupun pasif. Suhu tubuh manusia normal adalah 36,5°C. Suhu ini akan meningkat sejalan dengan tingkat penyerapan atau pelepasan suhu tubuh dengan kondisi suhu sekitar (intensitas matahari tinggi). Suhu tubuh diatur melalui penguapan atau disebut juga keringat. Suhu tubuh manusia akan meningkat 2°C tiap jam jika tidak berkeringat. Kemampuan udara untuk menyerap kelembaban tergantung pada kelembaban relatif (RH). Jika RH terlalu tinggi, lebih dari 70% udara tidak akan menyerap cukup kelembaban dari kulit sehingga tubuh akan mulai terasa lebih panas (kepanasan) dan orang jadi merasa tidak nyaman.

Burton (1995) menerangkan bahwa ketidaksesuaian antara suhu dan kelembaban udara menyebabkan ketidaksesuaian iklim untuk perkembangan wisata, dimana kegiatan wisata menjadi terbatas oleh cuaca, kondisi bangunan, dan mobilitas kendaraan. Wisatawan akan merasa nyaman pada kondisi cuaca cerah dan matahari bersinar terang seperti matriks kenyamanan fisiologis yang mengilustrasikan hubungan antara suhu, kelembaban udara, dan aktivitas wisatawan berikut ini (Terjung, 1966 dalam Burton, 1995).

Gambar 1.1 Matriks Kenyamanan Fisiologis

(Sumber : disalin kembali dari Terjung, 1966 dalam Burton, 1995)

Matriks kenyamanan fisiologis oleh Terjung (1966) disusun berdasarkan dinamika iklim di belahan bumi yang mengalami iklim nontropis, khususnya di

(20)

iklim sedang dimana penelitian dilakukan dalam kurun waktu tertentu oleh Terjung. Menurut Lippsmeier (1994), daerah beriklim sedang umumnya memiliki suhu optimum atau nyaman untuk beraktivitas pada rentang 15-26°C dan pada kelembaban 30-65%. Berbeda dengan daerah beriklim tropis dimana kondisi kenyamanan atau optimum berada pada rentang suhu 20-32°C dan pada kelembaban di atas 55%.

Daya dukung lingkungan untuk suatu kawasan wisata melibatkan komponen fisik atau lingkungan dan komponen nonfisik dari kawasan wisata tersebut. Komponen fisik atau lingkungan meliputi sumberdaya alam pantai sebagai daya tarik wisata dan kondisi iklim di atasnya. Komponen nonfisik meliputi daya tarik kehidupan sosial masyarakat pesisir, fasilitas wisata sebagai penyedia pariwisata (tourism supply), wisatawan sebagai pelaku kegiatan wisata (tourism demand), dan komponen pendukung, seperti kebijakan pemerintah untuk perencanaan pengembangan pariwisata.

Konsep daya dukung pariwisata memegang peranan dan kedudukan yang vital dalam mengontrol arah pengembangan perencanaan suatu obyek wisata. Pengembangan obyek wisata kemudian sesuai dengan analisis daya dukung yang tersedia untuk memenuhi permintaan, baik itu wisatawan (tourism demand) ataupun sumberdaya manusia dan alam (tourism supply). Perhitungan terhadap daya dukung pariwisata dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis daya dukung wisata untuk memudahkan penyusunan rekomendasi pengembangan obyek wisata secara umum.

1.7 Kerangka Pemikiran

Kawasan wisata Pantai Prigi yang secara administratif terletak di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek menjadi salah satu sasaran pengembangan obyek wisata oleh pemerintah daerah. Pengembangan kawasan wisata Pantai Prigi disusun berdasarkan konsep daya dukung guna optimalisasi dan keberlanjutan sumberdaya pesisir sebagai daya tarik wisata. Kawasan pesisir pantai Prigi rentan terhadap terjadinya penurunan kualitas lingkungan, baik akibat proses alam maupun proses sosial dari kegiatan pariwisata

(21)

yang dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu, kajian daya dukung dalam upaya pengelolaan dan pengembangan pariwisata pantai penting untuk diperhatikan.

Proses alam terkait dengan aspek fisik lingkungan yang membentuk daya dukung fisik dan daya dukung riil di kawasan wisata. Daya Dukung Fisik menggunakan indikator luas areal wisata, luas area wisata untuk wisatawan, lama waktu obyek wisata dibuka, dan lama kunjungan wisatawan. Daya Dukung Riil menggunakan faktor koreksi curah hujan, kecepatan angin, kelembaban udara, dan durasi penyinaran matahari.

Proses sosial menempatkan wisatawan sebagai tourism demand (pelaku wisata). Keberadaan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata ini untuk mengetahui daya dukung efektif kawasan wisata yang merupakan gabungan dari daya dukung fisik dan daya dukung riil. Daya dukung efektif juga meliputi komponen kapasitas manajemen pengelola wisata. Kapasitas manajemen diukur melalui komponen ketersediaan infrastruktur pendukung pariwisata dan kepuasan wisatawan terhadap pengelola wisata (dimensi reliability atau reliabilitas pengelola wisata, responsiveness atau penerimaan wisatawan, assurance atau jaminan selama berwisata, empathy atau kepedulian pengelola wisata kepada wisatawan, dan tangible).

Selain aspek fisik atau lingkungan dan aspek sosial dari pariwisata, kawasan wisata Pantai Prigi juga dapat dibagi menjadi zonasi kawasan berdasarkan matriks kenyamanan fisiologis. Matriks ini menghubungkan suhu dan kelembaban udara dengan tingkat kenyamanan berwisata oleh wisatawan di kawasan wisata. Besaran daya dukung dan zonasi kawasan wisata secara langsung dan tidak langsung akan berimplikasi kepada wisatawan di Pantai Prigi. Perhitungan dan analisis terhadap daya dukung kawasan wisata Pantai Prigi dapat digunakan sebagai landasan dalam menyusun perencanaan pengembangan wisata. Pengembangan wisata alam yang berbasis pada lingkungan kawasan wisata dapat menghasilkan suatu produk ODTW yang optimal dan berkelanjutan. Secara lebih rinci, dapat dilihat pada gambar 1.2 yaitu diagram alir kerangka pemikiran peneliti.

(22)

22 Zonasi Kawasan

Kepuasan wisatawan terhadap kapasitas manajemen wisata

Kawasan Wisata Pantai Prigi di Kecamatan Watulimo

Aspek Fisik/Lingkungan

Physical Carrying

Capacity (PCC)

- Luas areal wisata - Luas area wisata

untuk suatu aktivitas wisatawan - Lama waktu obyek

wisata dibuka dan lama kunjungan wisatawan

Kenyamanan Fisiologis

Kondisi dan potensi kawasan wisata

Wisatawan Real Carrying Capacity (RCC) - Curah hujan - Kecepatan angin - Lama penyinaran matahari - Kelembaban udara

Effective Carrying Capacity (ECC)

ECC = RCC x MC

MC (Management Capacity

/Kapasitas Manajemen pengelola wisata) reliability,responsiveness, assurance, empathy, dan tangible

atau ketersediaan infrastruktur pendukung pariwisata

Implikasi pada wisatawan :

- Karakteristik sosial (asal wisatawan, jenis kelamin, usia, tingkat

pendidikan, jenis pekerjaan) - Frekuensi Kunjungan Wisatawan - Aktivitas Wisata

- Persepsi Wisatawan Mengenai ODTW

- Harapan Wisatawan - Implikasi Kebijakan

Gambar 1.2. Diagram Alir Kerangka Pemikiran Besaran Daya Dukung Pariwisata Kawasan Wisata Pantai Prigi

Keterkaitan Daya Dukung dengan Zonasi Kawasan Wisata dan Implikasinya terhadap Wisatawan

(23)

1.8 Pertanyaan Penelitian

Adapun pertanyaan dalam penelitian ini dibedakan menjadi tiga berdasarkan tujuannya, yaitu sebagai berikut :

1. Akan ditelaah lebih lanjut mengenai daya dukung lingkungan untuk pariwisata di kawasan wisata Pantai Prigi. Maka pertanyaan penelitian yang akan digunakan antara lain seberapa besar besaran daya dukung kawasan wisata Pantai Prigi? Ada berapa pendekatan daya dukung yang digunakan? Pendekatan daya dukung apa saja yang digunakan tersebut? Apakah besaran daya dukung tersebut sudah melampaui atau belum berdasarkan jumlah kunjungan wisatawan aktual di Pantai Prigi? Adakah hubungan antar pendekatan daya dukung tersebut? Dan bagaimana perbandingan besaran daya dukung tahun 2016 dengan proyeksi jumlah wisatawan Pantai Prigi lima hingga dua puluh tahun mendatang?

2. Akan ditelaah lebih lanjut mengenai zonasi kawasan wisata berdasarkan matriks kenyamanan fisiologis. Maka pertanyaan penelitian yang akan digunakan adalah apakah zonasi kawasan wisata di kawasan wisata Pantai Prigi sudah sesuai atau optimum untuk aktivitas wisatawan? Berada pada zona apakah zonasi kawasan wisata Pantai Prigi? Faktor apa sajakah yang mempengaruhi perbedaan zonasi kawasan wisata ini? Dan bagaimana keterkaitannya dengan besaran daya dukung pariwisata di Pantai Prigi?

3. Akan ditelaah lebih lanjut mengenai implikasi daya dukung pariwisata dan zonasi kawasan wisata terhadap wisatawan di Pantai Prigi. Maka pertanyaan penelitian yang akan digunakan adalah bagaimana implikasi daya dukung pariwisata dan zonasi kawasan wisata terhadap wisatawan Pantai Prigi? Bagaimana karakteristik sosial dan persepsi wisatawan mengenai ODTW Pantai Prigi? Bagaimana harapan wisatawan terhadap perkembangan wisata Pantai Prigi ke depannya? Adakah hubungan relasional antara daya dukung, zonasi kenyamanan fisiologis, dan implikasinya terhadap wisatawan? Dan bagaimana rekomendasi kebijakan terkait besaran daya dukung dan zonasi kawasan wisata ini?

Gambar

Tabel  1.2.  Klasifikasi  Wisata  Alam  Berdasarkan  Kemampuan  Daya  Tampung  Pengunjung
Tabel 1.3. Kebutuhan Area untuk Berwisata Alam
Gambar 1.1 Matriks Kenyamanan Fisiologis
Gambar 1.2. Diagram Alir Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Kajian Daya Dukung Lahan Kawasan Pemerintahan di Gedebage metode analisis yang digunakan adalah sebagai berikut :Analisis superimpose (overlay) merupakan

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui daya serap logam berat Timbal (Pb) pada tumbuhan yang ada di kawasan lalu

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik ingin melakukan penelitian terkait bagaimana potensi Pantai Prigi untuk menjadi salah satu daerah kunjungan wisata saat

Garut juga memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata pantai dengan beragam objek wisata, pantai-pantai wisata yang terdapat di

Obyek wisata tersebut adalah Pantai Karangbata dan Pantai Manganti, Pantai Puring, Pantai Ambal dan Pantai Rowo Mirit; (2) Kabupaten Kebumen yang memiliki banyak sekali obyek

Setelah melakukan identifikasi kawasan dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, selanjutnya adalah menganalisis tingkat daya tarik wisata Kawasan

Dengan adanya berbagai daya tarik objek wisata dan keunikan serta upaya yang dilakukan oleh kawasan wisata Kampung Ladang maka kawasan ini menjadi salah satu

Dalam hal ini area yang di lakukan STRATEGI PENGELOLAAN WISATA KONSERVASI SDA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT EKOWISATA MANGROVE PESISIR TAPAK TUGUREJO ANALISIS DAYA DUKUNG EFEKTIF, DAYA