• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Peternakan Indonesia, Oktober 2012 Vol. 14 (3) ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Peternakan Indonesia, Oktober 2012 Vol. 14 (3) ISSN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Kualitas Karkas (Berat Karkas, Persentase Karkas Dan Lemak Abdomen) Ayam Broiler yang Diberi Kombinasi CPO (Crude Palm Oil) dan Vitamin C (Ascorbic Acid)

dalam Ransum sebagai Anti Stress

Carcass Quality of Broiler that Supplemented by Combination CPO and Ascorbic Acid in Feed as Anti Stress

K. Subekti, H. Abbas dan K. A. Zura Fakultas Peternakan Universitas Andalas Kampus Unand Limau Manis Padang, 25163

e-mail: [email protected]

(Diterima: 15 Juni 2012; Disetujui: 4 Oktober 2012) ABSTRACT

The research was conducted to determine the effect of CPO (Crude Palm Oil) and Vitamin C (ascorbic acid) combination in the diet as an anti stress on broilers carcass and abdominal fat of broilers. The research was carried out in the poultry housing at UPT of Animal Science Faculty, Andalas University Padang for 42 days and 100 unsex broiler were used. The method of this research was an experiment with completely randomized design with 5 treatments and 4 replications. Replicates each consisting of 5 broilers were placed in a cage with a group size of 75 x 60 x 60cm. Results of analysis of variance showed that the combination treatment CPO and Vitamin C significantly (P<0.05) on carcass weight, but the percentage of carcass, and percentage of abdominal fat treatment have different effects and not significant (P>0.05). In this research the best trends CPO 3% and Vitamin C 500 ppm in the ration.

Keywords: CPO, vitamin C, anti stress, carcass weight, carcass percentage PENDAHULUAN

Persoalan penting bagi peternak ayam ras di Indonesia ialah bagaimana caranya melindungi ternaknya dari penderitaan akibat panas/stres panas (heat stress) yang disebab-kan oleh iklim tropis. Stres panas merupadisebab-kan penyebab utama dari penurunan pertumbuhan, konsumsi pakan dan efisiensi penggunaan pa-kan yang bermuara kepada penurunan ke-mampuan produksi pada ternak ayam ras khususnya broiler.

Ternak unggas (ayam) merupakan hewan homeothermic yang prinsip dasarnya selalu sulit menyesuaikan suhu tubuhnya de-ngan suhu lingkude-ngan dibandingkan dede-ngan hewan poikilotherm. Pada kondisi suhu ling-kungan tinggi maka ayam akan berusaha untuk menyeimbangkan suhu tubuhnya (ther-moregulator proses) dengan melepaskan panas ke lingkungan dengan cara konveksi, radiasi, konduksi dan Evaporasi. Evaporasi merupa-kan indikator awal telah terjadinya stres panas,

dilakukan oleh ayam dengan cara panting (terengah-engah) hal ini disebabkan karena ayam tidak memiliki kelenjar keringat (sudorific gland) sehingga menimbulkan efek samping yang sangat merugikan secara behaviour (tingkah laku), fisiologis dan biokimiawi.

Banyak cara yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini, diantaranya de-ngan menciptakan kondisi kandang yang nyaman bagi ternak dari sudut iklim mikro (suhu, kelembaban dan kecepatan udara) yang saat ini dikenal dengan kandang Close House, cara lain yakni dengan memanipulasi susunan ransum, cara pemberian ransum serta pem-berian anti stres.

Penggunaan kandang close house pada peternak masih sangat sulit untuk diprak-tekkan, karena kandang ini membutuhkan biaya investasi yang besar serta maintenance yang harus baik sehingga akan sangat merepotkan bagi peternak yang ada di Indo-nesia.

(2)

Vol. 14 (3)

Cara yang dikira paling tepat untuk mengatasi permasalahan stres panas adalah dengan cara pemberian ransum serta menggu-nakan bahan anti stres untuk memperbaiki fungsi biofisiologis tubuh ayam. Cara pemberian ransum yaitu dengan pemberian CPO (crude Palm oil) dalam ransum, dimana kandungan betakaroten dan vitamin E didalam CPO berfungsi sebagai antioksidan untuk mengatasi stress oksidatif dengan menangkal terbentuknya radikal bebas yang dapat me-nyebabkan cytotoxic pada saat ayam menga-lami stres panas, selain itu juga betakaroten mampu menurunkan kadar kolesterol darah dan daging ayam yang mengalami stres panas. Penggunaan Vitamin C tidak membu-tuhkan biaya yang besar dan pengetahuan yang mendalam, karena bahan ini mudah dida-pat dan mudah menggunakannya. Serta dike-tahui memiliki efek yang efektif untuk menga-tasi stres khususnya stres karena panas ling-kungan, hal ini didasari pada kenyataan dimana pemberian vitamin C (anti stres) sering dilakukan unntuk mengatasi keadaan lingkungan. Vitamin C berperan dalam meta-bolisme glukoneogenesis yaitu suatu proses penyedian energi selama stres. Mekanismenya melalui pengkonversian protein dan lemak menjadi energi untuk produktivitas dan ber-tahan dalam sintesis sel darah putih khususnya sel makrofag dan netrofil yang berperan dalam sintesis pertahanan tubuh.

Penggunaan CPO dan Vitamin C secara terpisah yang dicampurkan kedalam ransum unggas telah banyak diteliti sebagai zat anti stres dalam mengatasi permasalahan stres panas yang disebabkan oleh suhu lingkungan, namun belum ada laporan tentang kemampuan kedua bahan ini apabila dikombinasikan sebagai zat anti stres.

METODE

Sebanyak 100 ekor ayam broiler unsex strain Cobb merek dagang CP 707 ditem-patkan menurut Rancangan Acak Lengkap. terdapat 5 perlakuan, setiap perlakuan terdiri atas 4 ulangan dan setiap ulangan terdiri atas 5 ekor ayam.

Perlakuan R0 : Kontrol (Ransum tanpa CPO dan Tanpa Vit C)

Perlakuan R1 : CPOC1 (Kombinasi CPO 2% dan Vit C 300 ppm)

Perlakuan R2 : CPOC2 (Kombinasi CPO 2% dan Vit C 500 ppm)

Perlakuan R3 : CPOC3 (Kombinasi CPO 3% dan Vit C 300 ppm)

Perlakuan R4 : CPOC4 (Kombinasi CPO 3% dan Vit C 500 ppm)

Penempatan ayam pada setiap unit kandang dilakukan secara acak (random). Terdapat 5 unit kandang yang saling berhu-bungan, untuk mengatasi pengaruh tiap unit kandang maka pada setiap unit kandang ditempati oleh satu ulangan dari setiap per-lakuan, berarti pada setiap unit kandang terda-pat 4 unit ulangan dan setiap ulangan ditem-pati 5 ekor ayam. Untuk menentukan unit kan-dang yang akan ditempati oleh masing-masing ulangan maka sebelumnya dilakukan penga-cakan.

Ransum disusun berdasarkan kandu-ngan energi dan protein ransum dekandu-ngan kan-dungan protein 20 % dan kankan-dungan energi 3.000 Kkal, bahan penyusun ransum diaduk dengan cara manual. Komposisi bahan penyu-sun ransum untuk penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.

Persentase bahan penyusun ransum penelitian tersebut dihitung berdasarkan anali-sis proksimat atas bahan-bahan penyusun ransum tersaji pada Tabel 2. Dari komposisi bahan ransum yang disusun untuk ransum penelitian ini maka diperoleh kandungan gizi ransum seperti tercantum dalam Tabel 3. CPO yang digunakan didapatkan dari pabrik pengolahan kelapa sawit. Vitamin C yang digunakan adalah vitamin C bubuk dengan merek dagang Takeda (C6H8O6). Penggunaan

kedua bahan diatas dengan cara dicampur dan diaduk secara merata kedalam ransum.

Perlengkapan kandang yang digunakan selama penelitian adalah kandang postal dengan ukuran P X L, 8 x 10 m didalamnya ditempatkan petak-petak kecil kandang dengan ukuran P x L x T, 0,8 x 0,8 x 0,65 m sebanyak 20 buah, setiap petak diisi 5 ekor ayam.

(3)

Masing-masing petak kandang dileng-kapi dengan tempat makan bundar (tube feeder) volume 2 kg dan tempat minum bun-dar (round drinker) volume satu galon.

Peubah yang diukur pada penelitian ini adalah: bobot karkas, persentase karkas, dan persentase lemak abdominal. Perhitungan untuk masing-masing peubah adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Bahan dan Komposisi Bahan Penyusun Ransum Penelitian

Bahan Ransum R0 R1 R2 R3 R4 Jagung 60 59 58 59 58 Dedak 4,8 4,8 4,8 4,8 4,8 Bungkil kedelai 15 15 15 15 15 Tepung ikan 16 17 17 17 17 Bkl kelapa 0 1 1 1 1 Myk kelapa 2 0 0 0 0 d-l metionin 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 Premiks 1 0,7 0,5 0,5 0,7 CPO 0 2 3 2 3 Vitamin C 0 0,3 0,5 0,5 0,3 Total 100 100 100 100 100

Tabel 2. Hasil Analisis Proksimat Bahan-bahan Penyusun Ransum Penelitian

Bhn Ransum PK LK SK *Ca *P **MET **LYS

** TRI P **CYS * ME Jagung 9,31 0,74 0,61 0,02 0,10 0,15 0,31 0,10 0,18 3.370 Dedak 11,17 10,85 15,10 0,12 0,21 0,29 0,77 0,10 0,67 1.630 Bungkil kedelai 46,55 0,30 2,19 0,32 0,29 0,65 2,43 0,60 0,67 2.240 Tepung ikan 41,43 2,40 3,14 5,50 2,80 1,22 3,89 0,28 0,94 2.630 Bungkil kelapa 18,15 8,51 21,32 0,21 - 0,31 0,39 0,20 0,30 2.212 Minyak kelapa - 100 - - - 8.600 DL metionin - - - 100 - - - -Premiks - - - -CPO*** - 100 - - - 9.076 Vit C - - -

-Keterangan : Hasil analisis Laboratorium Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Unand (2007) * Berdasarkan Wahyu (1997)

** Berdasarkan Heryandi (2004) *** Berdasarkan Mathius et al. (1997)

(4)

Vol. 14 (3)

Tabel 3.Kandungan Nutrisi Ransum Penelitian

Nutrisi ransum R0 R1 R2 R3 R4 Protein 20,14 20,23 20,14 20,23 20,14 Lemak 3,41 3,49 4,48 3,49 4,48 Serat Kasar 1,95 2,16 2,15 2,16 2,15 Kalsium 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 Posfor 0,58 0,58 0,58 0,58 0,58 Metionin 0,65 0,65 0,65 0,65 0,65 Lisin 1,24 1,24 1,24 1,24 1,24 Triptofan 0,20 0,20 0,20 0,20 0,20 Sistein 0,40 0,40 0,39 0,40 0,39

Energi Metabolisme (Kkal) 3.038,34 3.036,28 3.093,34 3.036,28 3.093,34

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan Terhadap Bobot

karkas

Rataan bobot karkas ayam broiler dari penelitian pada minggu ke 6 dengan pembe-rian kombinasi CPO dan Vitamin C meng-hasilkan bobot karkas yang bervariasi, hasil ini bisa dilihat pada Tabel 4.

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan pemberian kombinasi CPO dan Vitamin C dalam ransum memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot karkas ayam broiler. Berdasarkan uji lanjut diketahui bahwa R.0, R.1 dan R.2 berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan R.3, tetapi berbeda nyata (P<0,05) dengan R.4. Hasil ini menunjukkan R.3 berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan R.4.

Perlakuan R.0 menghasilkan bobot karkas yang paling rendah karena tidak dberi perlakuan kombinasi CPO dan Vitamin C, dan dari hasil statistic berat karkas tertinggi terdapat pada R.4. Berpengaruhnya perlakuan ini disebabkan karena kombinasi CPO dan Vitamin C, karena Vitamin C mampu mempengaruhi pertumbuhan bobot hidup ayam broiler sehingga bobot karkasnya pun berpengaruh.

Pemberian Vitamin C pada anak ayam broiler telah dicobakan oleh McKee, Harri-sson dan Riskowski (1997), hasilnya

menun-jukkan bahwa pemberian Vitamin C sebanyak 150 ppm nyata meningkatkan pertambahan bobot badan ayam broiler umur 9-17 hari (pada suhu 27,70C) yakni dari 305 menjadi 332,8 gram. Menurut Pardue dan Thaxton (1986) Vitamin C dikenal sebagai anti stress yang baik dan banyak dimanfaatkan pada unggas karena dibutuhkan dalam reaksi hidroksilasi pada sistem syaraf dan medulla adrenal. Vitamin C sebagai kosubstrat dalam hidroksilasi tirosin pada pelepasan nor-epineprin dan dalam medulla adrenal untuk pelepasan kotekolamin lain yaitu epinefrin. Kenyatan ini menunjukkan bahwa vitamin C mempunyai fungsi penting dalam sistem metabolisme dan pertumbuhan, dimana dalam pertumbuhan erat kaitannya dengan pembentukan kolagen. Robertson dan Ed-wards (1996) menyatakan bahwa pemberian vitamin C yang tepat sangat penting karena vitamin C terlibat dalam sintesis jaringan kolagen yang berarti sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan. Selain itu juga ke-mungkinan lain bahwa konsentrat yang digunakan telah mengandung Vitamin C namun tidak dapat terukur karena tidak ada dalam brosur kandungan gizi konsentrat. Sehingga kemungkinan besar broiler yang menggunakan kosentrat ini telah ada atau cukup untuk menghadapi stress yang di sebabkan oleh panas lingkungan dan dapat meningkatkan bobot karkas.

(5)

Tabel 4. Rataan Bobot Karkas (g/ekor) Ayam Broiler Pada Minggu ke-6.

Superskrip = Huruf besar yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)

Bobot karkas dipengaruhi dengan bobot hidup, sehingga bobot hidup yang besar akan diikuti pula oleh bobot karkas yang besar pula, dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Wahju (1992) bahwa ting-ginya bobot karkas ditunjang oleh bobot hidup akhir sebagai akibat pertambahan bobot hidup ternak bersangkutan. Menurut Hayse dan Marion (1973) dalam Resnawati (2004) menyatakan bahwa bobot karkas yang di hasilkan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, jenis kelamin, bobot potong, besar dan konformasi tubuh, perlemakan, kualitas dan kuantitas ransum serta strain yang dipelihara.

Pada penelitian ini diperoleh rata rata bobot karkas ayam broiler selama 6 minggu adalah 1.295,25 –1.404,25 g/ekor. Rataan ini sesuai dengan pendapat Leeson dan Summers (1980) bahwa bobot karkas ayam broiler umur 6 minggu sekitar 1.128,4 - 1.523,2 gram.

Pengaruh Perlakuan Terhadap Persentase karkas

Rataan persentase karkas ayam broiler dari penelitian pada minggu ke 6 dengan pemberian kombinasi CPO dan Vitamin C menghasilkan bobot karkas yang bervariasi, hasil ini bisa dilihat pada Gambar 1. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan pemberian kombinasi CPO dan Vitamin C dalam ransum memberikan penga-ruh yang berbeda tidak nyata (P>0,05) ter-hadap persentase karkas ayam broiler.

Perlakuan R.0 menunjukkan hasil yang paling rendah, disebabkan perlakuan ini tanpa

menggunakan CPO dan Vitamin C, dan per-lakuan R.4 menunjukkan Persentase karkas tertinggi atau hasil yang terbaik, meskipun secara statistika menunjukkan tidak berbeda nyata. Dari hasil penelitian ini rataan per-sentase karkas berkisar 72,98–76,26%. Nilai ini mendekati hasil penelitian Leeson dan Summers (1980) yaitu sebesar 64,7-71,2%. Siregar (1980), menyatakan persentase karkas ayam broiler umur 6 minggu berada antara 65–75%.

Persentase karkas tertinggi diperoleh dari perlakuan R.4 (CPO 3% dan Vitamin C 500 ppm) mampu meningkatkan pertumbuhan berat badan sehingga persentase karkasnya meningkat meskipun dipelihara di suhu 32°C yang tidak termasuk ke dalam kategori suhu optimal untuk pertumbuhan.

Persentase karkas diperoleh dari berat karkas dibagi bobot hidup dikali 100%. Menurut Mountney (1976), lemak dan jeroan merupakan hasil ikutan yang tidak dihitung dalam persentase karkas, jika lemak tinggi maka persentase karkas akan rendah. Selanjutnya Williamson dan Payne (1993), menyatakan faktor yang mempengaruhi persentase karkas yaitu bangsa, jenis kelamin, umur, makanan, kondisi fisiknya dan lemak abdomen.

Pengaruh Perlakuan Terhadap Persentase Lemak Abdomen

Rataan persentase lemak abdomen ayam broiler dari penelitian pada minggu ke 6 dengan pemberian kombinasi CPO dan Vitamin C menghasilkan bobot karkas yang Perlakuan Bobot Hidup (g/ekor) Bobot karkas (g/ekor)

R.0 1775,00 1295,25A R.1 1793,75 1304,00A R.2 1813,25 1333,00A R.3 1816,75 1355,25AB R.4 1842,25 1404,25B Rataan 1808,20 1338,35 SE 20,88

(6)

Vol. 14 (3)

Gambar 1. Persentase Karkas Ayam Broiler Pada Minggu Ke-6.

Gambar 2. Persentase Lemak Abdomen Ayam Broiler Pada Minggu Ke-6. = berat mutlak lemak abdomen (g/ekor), = % lemak abdomen

bervariasi, hasil ini bisa dilihat pada Gambar 2.

Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan pemberian kombinasi CPO dan Vitamin C dalam ransum memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05)terhadap persentase lemak abdomen ayam broiler. Persentase lemak abdomen tertinggi diperoleh dari perlakuan R.4 yang menunjukkan hasil persentase lemak abdomen yang paling rendah dan persentase lemak tinggi dapat dilihat pada perlakuan R.0 hal ini disebabkan R.0 tidak diberikan CPO dan Vitamin C. Faktor lain yang

mem-pengaruhi kandungan lemak tubuh adalah komposisi ransum.

Pembentukan lemak tubuh pada ayam terjadi karena adanya kelebihan energi yang dikonsumsi. Energi yang digunakan tubuh umumnya berasal dari karbohidrat dan ca-dangan lemak. Sumber karbohidrat dalam tu-buh mampu memproduksi lemak tutu-buh yang disimpan di sekeliling jeroan dan di bawah kulit (Kubena et al., 1974; Anggorodi, 1995).

Persentase lemak abdomen diperoleh dengan membandingkan berat lemak abdo-men dengan bobot hidup dikalikan 100%.

(7)

Sesuai dengan pendapat Cherry et al. (1978) bahwa persentase lemak abdomen dipeng-aruhi bobot badan.

Hal ini menunjukan penggunaan CPO sampai 3% dan Vitamin C sampai 500 ppm dalam ransum belum menurunkan persentase lemak abdomen. Namun persentase lemak abdomen terendah dapat terlihat pada per-lakuan R.4. Hal ini diduga karena pemberian CPO dan Vitamin C yang kurang pekat.

Hasil penelitian ini ditemukan rataan persentase lemak abdomen berkisaran antara 1,13–1,75%. Hasil yang dapat masih berada pada kisaran yang diperoleh Backer et al.(1979) bahwa persentase lemak abdomen berkisaran 0,73- 3,86 % dari bobot hidup.

KESIMPULAN

Pemberian kombinasi CPO sampai 3% dan Vitamin C sampai 500 ppm memberikan pengaruh terhadap bobot karkas, tetapi tidak memberikan pengaruh terhadap persentase karkas dan persentase lemak abdomen ayam broiler umur 6 minggu. Kombinasi CPO dan Vitamin C yang terbaik adalah 300% dengan 500 ppm (R.3) dan 3% dengan 500 ppm (R4).

DAFTAR PUSTAKA

Hayse, P. L., dan W.W. Merion. 1973. Eviscerated yield components part and broiler. Poultry Science 52;718– 721.

Heryandi, Y. 2004. Efisiensi penggunaan ransum pada ayam ras petelur melalui perubahan waktu pemberian dan kandungan metionina. Disertasi. Se-kolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Kubena, L.F., J.W. Deaton, T.C. Chen and F.N. Reece. 1974. Factors influencing the quantity of abdominal fat in broilers 1. Rearing temperature, sex age or weight, and dietary choline chloride

and inositol supplementation. Poultry Sci. 53: 211-241.

Leeson S, Summers JD. 1997. Commercial Poultry Nutrition 2nd Edition, University Books. Canada.

McKee, J.S., P.C. Harrison., and G.L. Riskowski. 1997. Effect of sup-plemental ascorbic acid on the energy convertion of broiler chick during heat stress and feed withdrawal. Poultry Sci. 76: 1278-1286.

Mountney, G.J. 1976. Poultry Product Technology. 2nd Ed. The Avi Publishing Company Inc. Westport, Connecticut.

Pardue, S.L., and J.P. Thaxton. 1986. Ascorbic acid in poultry. : A review. Poultry Sci. 42 : 107-123.

Resnawati, H. 2004. Bobot potongan karkas dan lemak abdomen ayam ras pedaging yang diberi ransum mengandung tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus). Balai Penelitian Ternak. Bogor.

Robertson, K.D., and H.M. Edwards. 1996. Effect of ascorbic acid and 1,25-dehydroxycholecalciferol on alkaline phosphatase and tibial dyschon-droplasia in broiler chickens. Poultry Sci. 35 : 763- 773.

Siregar, A., P.M. Sabrani., dan P. Suprawiro. 1980. Teknik Beternak Ayam Pedaging Di Indonesia. Penerbit Margie Group, Jakarta.

Wahju, J. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. Ce-takan ketiga. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Williamson, G dan E. M. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Press,Yogyakarta.

Gambar

Tabel 1. Bahan dan Komposisi Bahan Penyusun Ransum Penelitian
Tabel 3. Kandungan Nutrisi Ransum Penelitian
Tabel 4. Rataan Bobot Karkas (g/ekor) Ayam Broiler Pada Minggu ke-6.
Gambar  2.  Persentase  Lemak  Abdomen  Ayam  Broiler  Pada  Minggu  Ke-6.              =  berat  mutlak  lemak  abdomen (g/ekor),        = % lemak abdomen

Referensi

Dokumen terkait

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2003, Edisi III.. Qomar, Mujamil, Pesantren Dari Transformasi Metodologi

Uraian singkat di atas memperlihatkan bahwa manajemen disamping sebagai ilmu sebagai bahan kajian yang akan terus berkembang seiring dengan dinamika kehidupan

Hakikat agama adalah keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang maha tinggi dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, maka sangat perlu dipahami secara seksama oleh

Giat Wasrik Tahap I dan II dalam Kota Kabupaten a.. AMHAR

Pensyarah yang mempunyai pengalaman mengajar 1 – 2 tahun, 6 – 10 tahun dan 16 tahun ke atas menunjukkan tahap sederhana dalam semua komponen persepsi persekitaran pengajaran,

Penggalian, Pengayaan dan Perumusan Gagasan Sosialisasi Gagasan kepada Mitra Kegiatan Pembentukan Kelompok Kerja Pelaksana bersama Warga dan Mitra Kegiatan Penjabaran

Menurunnya produksi VFA total pada proses fermentasi in vitro tepung daging keong mas diproteksi tanin sampai level 3%w/w merupakan petunjuk bahwa tanin yang

merupakan sunah nabi dan adanya anggapan masyarakat bahwa (perkawinan) tetap di pandang sah walaupun tidak dicatatkan. Padahal hal itu menimbulkan banyak