• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI DENG XIAOPING PENGEMBANGAN MARXISME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TEORI DENG XIAOPING PENGEMBANGAN MARXISME"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1 Suar Suroso:

TEORI DENG XIAOPING

PENGEMBANGAN MARXISME

Menyambut ulasan-ulasan Tatiana, Lusi dan Tan Sit Tiek

Yang bersemangat membela Marxisme.

I.

MENGUBAH dunia!

Itulah tujuan manusia berpikir ilmiah. Dunia yang dimaksud adalah segala-galanya: alam raya sampai masyarakat. Masyarakat menjadi sasaran utama, karena langsung menyangkut kehidupan manusia.

Demi mengubah dunia, “Ada hantu berkeliaran di Eropa—hantu komunisme.” Dimulai dengan kalimat ini, Manifesto Partai Komunis diterbitkan oleh Marx dan Engels pada tahun 1848. Manifesto ditutup dengan rangkaian kalimat: “Kaum komunis tidak sudi menyembunyikan pandangan-pandangan dan maksud-maksud mereka. Mereka menyatakan dengan terang-terangan, bahwa tujuannya akan dapat tercapai hanya melalui penggulingan dengan kekerasan semua sistem masyarakat yang ada sampai sekarang ini. Biarlah kelas-kelas yang berkuasa gemetar di hadapan revolusi komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan apa pun kecuali belenggu mereka. Mereka punya satu dunia untuk dimenangkan. Kaum Proletar Semua Negeri, Bersatulah!” 1 Manifesto itulah yang menjadi program dasar Marxisme.

Semenjak itu, Marxisme menjadi senjata ilmiah bagi klas pekerja berjuang demi perubahan. Perubahan yang digagas adalah melenyapkan penghisapan manusia atas manusia. Membangun masyarakat baru berkeadilan sosial. Ini berarti menggulingkan kekuasaan borjuasi. Jelas-jemelas, klas borjuis tak rela digulingkan.

Karena itu, semenjak pertengahan abad ke-19, borjuasi mengerahkan pembasmian atas kaum komunis dengan segala kekejaman dan kekejian. “Dinding Komunar” di makam

Père Lachaise, Paris, menjadi saksi kebiadaban borjuasi membasmi kaum komunar Paris di

tahun 1871. Dalam usaha membasmi kaum komunis, sejarah mencatat kekejaman fasis Jerman dan Jepang dalam Perang Dunia II. Korban-korban berguguran selama Perang

Dingin di paro kedua abad ke-20.

Melebihi jumlah korban malapetaka sebelumnya, melebihi korban bom atom menimpa Hiroshima, tak terhitung jumlah anggota dan kader Partai Komunis Indonesia serta manusia tak berdosa dibantai oleh rezim orba Soeharto. Nusantara dipenuhi makam tanpa nisan. Penjara-penjara penuh sesak di semua pulau. Pulau Buru pun menjadi saksi abadi. Inilah bukti sejarah tentang kebiadaban borjuasi dalam usaha membasmi kaum komunis. Sempat sepertiga abad berkuasa, rezim orba Soeharto menepuk dada “sudah berjasa”

(2)

2 menggulingkan Bung Karno dan membasmi komunisme di Indonesia.

Dasawarsa demi dasawarsa, perjuangan dan revolusi-revolusi terjadi di banyak negeri. Borjuasi tak rela digulingkan. Segala usaha ditempuh untuk melenyapkan komunisme. Puncaknya adalah Perang Dingin seusai Perang Dunia II. Inilah realisasi doktrin Truman,

the policyof containment. Bukan hanya negeri-negeri sosialis yang menjadi sasaran, semua

partai komunis di lima benua disasar.

Akhir 1991 URSS hancur berantakan. “Perang Dingin sudah usai. Komunisme sudah

mampus. Dan kita menang!” demikian dideklarasikan dalam pidato kenegaraan Presiden

Amerika G.H.W. Bush pada awal tahun 1992. Para sarjana tokoh-tokoh terkemuka pembela kapitalisme bergendang paha. Francis Fukuyama tampil dengan karya The End of History

and The Last Man, dan Samuel P. Huntington dengan karya The Clash of Civilizations and

The Remaking of World Order. Keduanya bersenandung, bersorak-sorai atas robohnya

Tembok Berlin yang disusul dengan rontoknya Uni Sovyet dan berantakannya negara-negara sosialis Eropa Tengah dan Timur. Dinyatakannya, liberalisme sudah

mengungguli Marxisme. Fukuyama menulis, “sosialisme Marxis–Leninis adalah rintangan

yang serius bagi penciptaan kemakmuran dan peradaban teknologi modern, tampak bagai

pengetahuan umum pada dasawarsa terakhir abad ke-21”.2 Huntington menulis, “

Ideologi komunis menarik bagi rakyat seluruh dunia pada tahun 1950 dan 1960-an ketika ia dikaitkan pada sukses-sukses ekonomi dan kejayaan militer Uni Sovyet. Daya tariknya itu telah menguap ketika ekonomi Sovyet macet dan tak mampu mempertahankan kekuatan militer

Sovyet.” 3

Tidak sedikit yang menulis buku menyatakan Marxisme sudah bangkrut, sudah punah.

Dari awal sampai akhir abad ke-20, kejayaan Marxisme telah didemonstrasikan oleh menangnya Revolusi Oktober di bawah pimpinan Lenin dan jayanya Uni Republik-republik

Sovyet Sosialis (URSS) sebagai negara diktatur proletariat selama tujuh dasawarsa. Dari

menggulingkan kekuasaan Tsar, membangun ekonomi berdasarkan Marxisme–Leninisme, mengalahkan serangan militer fasis Jerman dalam Perang Dunia II, melaksanakan pembangunan ekonomi dengan rencana-rencana lima tahun, sampai menjadi negara adidaya hingga penghujung abad ke-20. Kehancuran URSS terjadi karena dicampakkannya ajaran fundamental Marxisme, yaitu kepemimpinan partai atas negara, dicampakkannya

diktatur proletariat dan prinsip organisasi partai sentralisme demokratis.

Kongres XXVIII PKUS 1990 di bawah pimpinan M.S. Gorbacyov mencampakkan ajaran diktatur proletariat, melepaskan kepemimpinan partai atas negara.4 URSS lenyap dari peta politik dunia. Proses pelenyapan ini dimulai dengan N.S. Khrusycyov mengutuk

kultus individu Stalin dengan laporan rahasianya dalam Kongres XX PKUS tahun 1956.

KaumTrotskis yang anti-Stalin dan kaum sosial demokrat yang anti diktatur proletariat

bergandengan tangan satu sama lain mendukung Perang Dingin yang digalakkan Amerika

2

Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, Avon Book, Inc., New York, Oktober 1998, h.98.

3

Samuel P. Huntington, The Clash of Civilisations and the Remaking of World Order, Toughstone Books, London, New York, Sydney, Tokyo, Toronto, Singapore, 1998, h.92.

4 KPSS (PKUS), Matyerialhi XXVIII Siyezda Kommunisticyekoi Partii Sovyetskovo Soyuza (Materi Kongres

(3)

3 Serikat, memusuhi URSS. Perang Dingin digalakkan AS dalam realisasi the policy of

containment, demi membasmi komunisme sejagat. Mulai dari menggerakkan Plan Marshall,

pembentukan pakta-pakta militer NATO, SEATO, CENTO, ANZUS, dan lain-lain. Dikobarkan tiga tahun PerangKorea, tiga belas tahun Perang Vietnam dengan pengerahan seperempat juta pasukan. Dikerahkan pusat-pusat radio propaganda anti-komunisme:

Radio Free Europe, Radio Swoboda, Radio Free Asia. Digalakkan operasi-operasi rahasia

CIA.

Dikobarkan kampanyeperlombaan persenjataan. Digelorakannya gerakan mewujudkan

perubahan damai di semua negara sosialis. Gerakan ini bermuara pada robohnya Tembok

Berlin, hancur berantakannya Uni Sovyet dan negara-negara sosialis Eropa Timur.

Gerakan ini menjalar sampai ke Asia dengan berpuncak pada terjadinya Peristiwa Tian An Men yang bertujuan merobohkan Republik Rakyat Tiongkok. Namun apa yang dikatakan

“gerakan demokratis” 5

itu, yang menjadi berlumuran darah, tak berhasil menggoyahkan

Republik Rakyat Tiongkok. Apalagi melenyapkan Marxisme dari bumi Tiongkok.

Pengalaman praktek revolusioner Rakyat Tiongkok di bawah pimpinan PKT dengan Ketua Mao Zedong telah mengembangkan Marxisme dengan Pikiran Mao Zedong. Dalam Kongres VII PKT, tahun 1945, Liu Shaoqi menampilkan Pikiran Mao Zedong sebagai ideologi pembimbing partai di samping Marxisme–Leninisme. Dinyatakan,“Program Umum

Konstitusi Partai menyatakan bahwa Teori Mao Zedong (Pikiran Mao Zedong) mengenai Revolusi Tiongkok akan membimbing semua pekerjaan partai kita. Konstitusi itu sendiri menyatakan bahwa adalah tugas bagi setiap anggota partai untuk berusaha memahami

dasar-dasar Marxisme–Leninisme dan Teori Mao Zedong mengenai Revolusi Tiongkok”. 6

Berkat bimbingan ideologi Pikiran Mao Zedong, revolusi Tiongkok mencapai kemenangan dengan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok.

Perjuangan revolusioner rakyat Tiongkok dalam menerapkan Marxisme penuh lika-liku, kemenangan demi kemenangan di sela kesulitan dan kegagalan. Revolusi Besar

Kebudayaan Proletar (RBKP) selama tahun 1966 sampai 1976 adalah salah satu puncak

kesalahan yang bersejarah. Sidang Pleno VI CC PKT XI pada 27 Juni 1981 mengesahkan

Resolusi tentang Beberapa Masalah dalam Sejarah Partai SejakBerdirinya Republik Rakyat

Tiongkok. Resolusi secara analitis merumuskan penilaian tentang Revolusi Besar

5

Atas nama Gerakan Demokrasi dan Revolusi Warna di mana biasanya operasi-operasi kerja mereka melalui agen-agen intelijen seperti via CIA dan peran LSM skala internasional yakni National Endowment for Democracy (NED), Freedom House, Albert Einstein Institute, International Republic Institute, dan LSM “seribu proyek” lainnya milik Pentagon yang dibiayai Kongres AS hingga jutaan dolar per tahun serta dari Uni Eropa misalkan saja Balkan Trust for Democracy, Yayasan Anak dan Remaja Balkan, dan Friedrich Nauman-Stiftung Jerman, bekerja sama dengan LSM-LSM lokal yang pendanaannya amat tergantung dari yayasan swasta seperti Ford, Rockefeller, McArthur, Tides, dsb. Operasi kerja mereka di Jerman Barat 17 Juni 1953, Hongaria tahun 1953, Musim Semi Praha di Cekoslowakia tahun 1968, Lapangan Tiananmen Tiongkok tahun 1989, Cekoslowakia tahun 1989, Singing Revolution tahun 1987—1992 di Baltik. Operasi ini bukan hanya dilaksanakan di negara-negara sosialis tetapi juga di beberapa yang tidak mau tunduk atau komprador mereka yang sudah tidak dianggap efektif lagi.

6 Report on the revision of the Party Constitution delivered by Liu Shao-chi in May 1945 to the Seventh

(4)

4

Kebudayaan Proletar. Sepuluh tahun RBKP telah menggelorakan Tiongkok,

menggoncangkan dunia. Demikian pentingnya RBKP ini, hingga ada yang menilai, bahwa

RBKP adalah puncak tertinggi dari pengembangan Marxisme. Sejak semula, pimpinan PKI pun menyambut dan mendukung serta menilai tinggi arti RBKP. Dalam Pesan Politbiro CC PKI pada 23 Mei 1967 dirumuskan “sukses-sukses besar RBKP Tiongkok adalah peristiwa terbesar internasional yang mempunyai arti bersejarah yang besar.” 7

Mengenai RBKP, Resolusi tentang Beberapa Masalah dalam Sejarah Partai Sejak

Berdirinya Republik Rakyat Tiongkok menyatakan bahwa “Sejarah ‘Revolusi Besar

Kebudayaan’ telah membuktikan bahwa tesis pokok ‘Revolusi Besar Kebudayaan’ yang

dibangkitkan oleh Mao Zedong, tidak sesuai dengan Marxisme–Leninisme dan juga tidak sesuai dengankeadaan konkret Tiongkok. Tesis ini sama sekali salah menilai situasiklas di negeri kita pada waktu itu dan keadaan politik partai dan negara.”

Dalam resolusi tersebut juga dikatakan bahwa, “RBKP dikatakan perjuangan melawan garis revisionis atau jalan kapitalis. Argumen demikian itu tidak mempunyai dasar kenyataan sama sekali. Lagi pula dalam serentetan masalah penting teori dan politik telah mencampuradukkan yang benar dan yang salah. Banyak hal yang dikritik sebagai revisionis atau kapitalis dalam RBKP, sebenarnya justru prinsip-prinsip Marxis dan sosialis, di antaranya banyak yang dikemukakan dan disokong sendiri oleh Kawan Mao Zedong.

RBKP telah menegasi sejumlah besar pedoman dan politik-politik tepat serta hasil-hasil selama 17 tahun sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, dalam kenyataannya pada derajat tertentu juga telah menegasi pekerjaan Comite Central Partai dan Pemerintah Rakyat termasuk pekerjaan Kawan Mao Zedong sendiri, dan telah menegasi perjuangan luar biasa berat dan sulit dari Rakyat berbagai bangsa di seluruh negeri dalam pembangunan sosialis.” 8

Sesudah melewati pahit getir dengan pengorbanan yang besar sepuluh tahun RBKP,

mulai tahun 1978 di bawah pimpinan Deng Xiaoping dilangsungkan reformasi dan politik

pintu terbuka. Berlangsunglah pembenahan partai dan negara, meninggalkan semboyan

RBKP, perjuangan klas sebagai poros digantikan dengan, pembangunan ekonomi sebagai

tugas utama, melaksanakan pembangunan empat modernisasi, membangun sosialisme

berciri Tiongkok.

Dalam pidato peringatan ulang tahun ke-80 PKT, Jiang Zemin mengemukakan, “Di bawah pimpinan kolektif CC Partai generasi pertama dan kedua, Kawan Mao Zedong dan Deng Xiaoping sebagai intinya, partai kita dengan teguh memadukan prinsip-prinsip dasar Marxisme–Leninisme dengan kenyataan Tiongkok. Hasilnya, terbentuklah Pikiran Mao

Zedong dan Teori Deng Xiaoping. Kedua teori ini adalah Marxisme Tiongkok yang

mencakup prinsip-prinsip dasar Marxisme–Leninisme dan filsafat bangsa Tiongkok serta pengalaman praktek kaum komunis Tiongkok. Teori Deng Xiaoping adalah kelanjutan terbaik dan perkembangan yang kreatif dari Pikiran Mao Zedong dalam syarat-syarat sejarah baru.” 9

7 Delegasi CC PKI, Lima Dokumen Penting Politbiro CC PKI, h.230—231. 8

CC PKT, Resolusi tentang Beberapa Maaslah dalam Sejarah Partai Sejak Berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, keputusan sidang pleno ke-66 CC XI PKT, 27 Juni 1981.

9 Jiang Zemin, Jiang Zemin on “The Three Represents”, Foreign Languages Press, Beijing, second printing,

(5)

5 *****

II. Unsur-unsur

Teori Deng Xiaoping

, adalah:

1. teori garis ideologi pembangunan sosialisme;

2. teori tentang hakikat dan garis perkembangan sosialisme; 3. tentang tingkat-tingkat perkembangan sosialisme;

4. tentang Empat Prinsip Dasar;

5. teori strategi perkembangan pembangunan sosialisme; 6. teori tenaga penggerak perkembangan sosialisme;

7. teori politik terbuka dari negara sosialis terhadap dunia luar;

8. tentang reformasi sistem ekonomi, tentang perencanaan dan pasar, tak ada kontradiksi dasar antara sosialisme dan ekonomi pasar;

9. teori reformasi sistem politik sosialisme; 10. teori tentang peradaban sosialis;

11. teori tentang jaminan bagi politik pembangunan sosialisme; yaitu menekankan pentingnya Empat Prinsip Dasar;

12. teori strategi diplomasi negara melawan hegemonisme;

13. teori tentang penyatuan negara, pedoman Satu Negara DuaSistem;

14. teori tentang kekuatan sandaran bagi usaha sosialisme; 15. teori tentang pembangunan tentara negara sosialis; dan 16. teori tentang inti pimpinan usaha sosialisme. 10

Dari negeri miskin dan terbelakang pada pertengahan abad ke-20, Tiongkok dengan penduduk 1,3 miliar jiwa, seperlima penduduk dunia, berubah menjadi negara terbesar kedua di bidang ekonomi, mengungguli Jepang. 600 juta rakyat dibebaskan dari kemiskinan. Berhasil mengorbitkan pesawat ruang angkasa permanen Istana Langit, mengorbitkan pesawat angkasa luar berawak satu sampai tiga orang, termasuk awak pesawat wanita, berhasil mengorbitkan pesawat Yu Du (Kelinci Giok) penjelajah rembulan, menghasilkan kereta api tercepat dengan kecepatan lebih dari 300 km per jam, menghasilkan komputer termodern Bima Sakti dengan kecepatan operasi tertinggi di dunia, memiliki cadangan valuta asing lebih dari tiga triliun dolar AS, memainkan peranan lebih penting dalam masalah moneter internasional, termasuk berinisiatif mendirikan Bank Investasi untuk

Infrastruktur Asia Pasifik, mata uang RMB berkembang ke arah jadi convertible. Tiongkok

memainkan peranan kian besar di bidang internasional, termasuk negara pengirim pasukan keamanan PBB yang terbesar. 2) jumlahnya, dengan sukses menggalang organisasi kerja sama Shanghai, organisasi kerja sama BRICS meliputi Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, memainkan peranan penting dalam organisasi kerjasama ekonomi APEC. Dunia kagum akan kemajuan pesat Tiongkok selama tiga dasawarsa terakhir.

Deng Xiaoping memperhitungkan bahwa pada akhir abad ke-20, GNP per kapita

10 Zhong Gong Zhong Yang Dang Xiao, Kua Yue She Ji De Wei Da Qi Zhi—Panji Jaya Yang Melangkaui

Zaman, Xuexi Jiang Zemin Tongzhi Zai Zhong Yang Dang Xiao De Jiang Hua, Zhong Gong Zhong Yang Dang Xiao Chu Ban She, Beijing, 1997, h.14—17.

(6)

6 Tiongkok akan mencapai $1.000. Dan 50 tahunkemudian akan mencapai $4.000 dengan penduduk 1,5 miliar, berarti GNP Tiongkok akan mencapai 6 triliun dolar AS. Informasi yang bersumber dari IMF menyatakan bahwa akhir tahun 2014, GNP Tiongkok mencapai 17,6 triliun dolar AS, sedang Amerika mencapai 17,4 triliun dollar AS, yang berarti Tiongkok telah mengungguli Amerika dalam GNP. Dasawarsa pertama abad ke-21 menunjukkan bahwa kenyataan sudah jauh melampaui ramalan ini.

Kemajuan ini mendemonstrasikan sukses-sukses dari pelaksanaan politik reformasi

dan pintu terbuka, pelaksanaan pembangunan sosialisme berciri Tiongkok gagasan Deng

Xiaoping. Inilah demonstrasi sukses-sukses pelaksanaan Pikiran Mao Zedong dan Teori

Deng Xiaoping, pelaksanaan Marxisme–Leninisme sesuai dengan kondisi konkret

Tiongkok.

Sesungguhnya, pembangunan sosialisme berciri Tiongkok dengan menempuh

reformasi dan politik pintu terbuka adalah sehaluan dengan strategi Lenin memenangkan

sosialisme lewat koeksistensi dan perlombaan damai dengan kapitalisme. Sejak semula, sesudah kemenangan Revolusi Oktober, Lenin yakin akan keunggulan sosialisme,

berkoeksistensi dan berlomba damai dengan kapitalisme. Lenin dengan berani membuka

pintu, bekerja sama dengan negara kapitalis dan dengan perusahaan perusahaan raksasa kapitalis. Bahkan Lenin membenarkan dijalankannya kapitalisme negara di bawah syarat diktatur proletariat. 11

Tiongkok menempuh politik pintu terbuka, dengan inisiatif sendiri melepaskan diri dari isolasi, memasuki semua organisasi dan badan internasional yang ada. Sampai-sampai Tiongkok berunding selama lima belas tahun untuk bisa masuk Organisasi Perdagangan

Dunia (WTO). Deng Xiaoping berkali-kali mengemukakan bahwa Tiongkok menjadi

terbelakang karena mengisolasi diri, karena tidak terbuka pada dunia luar. Karena itu dianjurkannya supaya melakukan Kaifang, menempuh politik pintu terbuka.

Situasi sehabis Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP) melahirkan banyak hal baru yang rumit. Marxisme–Leninisme–Pikiran Mao Zedong saja sudah tidak memadai untuk memecahkan soal-soalyang dihadapi Tiongkok untuk merealisasi empat modernisasi.

Dengan berpegang pada Marxisme–Leninisme dan Pikiran Mao Zedong, Deng Xiaoping tampil dengan pikiran dan gagasan-gagasan baru. Marxisme bukanlah punah. Namun dijunjung tinggi oleh Deng Xiaoping dengan mengembangkannya sesuai dengan kondisi Tiongkok. Marxisme di- Tiongkokkan. Deng Xiaoping menampilkan gagasan pembangunan

sosialisme berciri Tiongkok.

Bermunculan suara menentang atau menyangsikan kebenaran pikiran-pikiran Deng Xiaoping. Pikiran-pikiran Deng Xiaoping divulgarkan. Berkumandang ungkapan-ungkapan sinis seperti: “Teori Deng Xiaoping adalah teori kucing hitam kucing putih”, “Menjadi kaya itu

adalah mulia.” Bukan hanya ungkapan yang benar dipelesetkan menjadi salah. Tetapi

gagasan besar Deng Xiaoping, Kaige Kaifang, reform dan politik pintu terbuka ditafsirkan dan dinilai secara menyesatkan oleh Prof. Bao Yuching, seorang peneliti masalah-masalah Tiongkok dari Amerika. Yaitu dikemukakan bahwa politik pintu terbuka akan membikin Tiongkok tergantung pada luar negeri di bidang moneter dan di bidang ilmu dan teknologi.

11 Lihat Lenin, O Gosudarstvyennom Kapitalizme—Gosudarstvyenni Kapitalizm V Period Pyeryekhoda K

Sotsializmu, (Tentang Kapitalisme Negara—Kapitalisme Negara dalam Periode Peralihan Menuju Sosialisme), Gosudarsvyennoye Izdatyelstvo Politicyeskoi Lityeraturhi, Moskwa, 1957, h.215

(7)

7 Kenyataan membantah pandangan-pandangan keliru ini. Yang terjadi justru sebaliknya.

Teori Deng Xiaoping menampilkan serentetan gagasan yang meliputi ideologi, politik,

dan teori yang belum ada selama ini dalam literatur Marxis. Teori Deng Xiaoping dapat

dicatat dari berbagai pidato, uraian atau pembicaraannya dalam berbagai kesempatan. Yang diungkap oleh Teori Deng Xiaoping antara lain adalah masalah-masalah berikut:

1. Masalah “dua apa saja” tak sesuai dengan Marxisme.

Berakhirnya Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP) merupakan titik balik dalam sejarah modern Tiongkok, sesudah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Dalam RBKP, pujaan terhadap Mao Zedong sebagai pemimpin mencapai puncaknya. Sampai-sampai muncul ungkapan “dua apa saja”. Yaitu “apa saja yang diucapkan Mao Zedong harus

dilaksanakan”. Dengan demikian, ucapan Mao Zedong telah dijadikan ukuran kebenaran. Ini

menimbulkan banyak kesalahan dalam menyimpulkan sesuatu, termasuk dalam menyimpulkan masalah sejarah. Deng Xiaoping menyatakan, “’dua apa saja’ tidak sesuai

dengan Marxisme.... Ini adalah satu masalah teori yang penting, satu masalah apakah kita

berpegang pada materialisme historis ... generasi demi generasi, kita harus menggunakan

Pikiran Mao Zedong sebagai keseluruhan dalam membimbing partai kita, tentara dan rakyat

kita maju demi usaha sosialisme di Tiongkok dan demi usaha gerakan komunis

internasional.” 12

2. Bebaskan pikiran, cari kebenaran dari kenyataan.

Menjelang Sidang Pleno III CC PKT XI yang bersejarah, yaitu menghadapi pelaksanaan gagasan baru memindahkan titik berat pekerjaan partai dari Revolusi Besar

Kebudayaan Proletar (RBKP) menjadi empat modernisasi. Desember 1978, Deng Xiaoping

berpidato dengan judul: “Bebaskan pikiran, cari kebenaran dari kenyataan dan bersatu padu

memandang masa depan”. 13 Sidang Pleno III CC PKT XI inilah yang merumuskan

program melaksanakan pembangunan ekonomi sebagai tugas utama untuk empat

modernisasi, mengganti semboyan “perjuangan klassebagai poros” yang dikobarkan dalam

RBKP.

Deng Xiaoping dengan tangguh membela materialisme dialektis, mengajarkan bahwa “membangun sosialisme haruslah bersenjatakan materialisme dialektis dan materialisme

historis Marxis, harus belajar filsafat Marxisme dan karya-karya filsafat Mao Zedong; harus

mempelajarisituasi baru dengan menggunakan Pikiran Mao Zedong, harusmendukung dan mengembangkan Marxisme–Leninisme; harus membebaskan pikiran, mencari kebenaran

dari kenyataan. Mencari kebenarandari kenyataan adalah dasar dari pandangan dunia klas

proletar, adalahdasar ideologi Marxisme.” 14

12 Deng Xiaoping, Selected Works of Deng Xiaoping (1975—1982), People’s Publishing House, Beijing, 1983,

h.51—52.

13 Deng Xiaoping, Deng Xiaoping Wen Xuan (1975—1982), Ren Min Chubanshe (Penerbit Rakyat), 1983,

h.130—170.

14

Zhong Gong Zhongyang Dangxiao, Deng Xiaoping Zhexue Sixiang (Pikiran Filsafat Deng Xiaoping), Zhong Gong Zhongyang Dangxiao Zhexue Jiao Yan Bu Pian, Zhong Gong Zhong Yang Dang Xiao Chu Ban She, Beijing, 1995, h.29.

(8)

8 Deng Xiaoping mengajarkan, segala-galanya harus bertolak dari kenyataan, universalitas Marxisme harus dipadukan dengan kenyataankonkret, teori harus dipadukan dengan praktek, pembangunan modernisasi Tiongkok harus menempuh jalan sendiri bertolak darikenyataan Tiongkok; tingkat permulaan dari sosialisme adalah titik tolakpolitik praktis kita. Ungkapan tingkat permulaan dari sosialisme belum ada dalam literatur Marxis selama ini.

3. Empat prinsip dasar.

Di akhir tahun tujuh puluhan, di kala Perang Dingin kian bergelora, di Eropa Tengah dan Timur, terutama di Polandia, bergemuruh gerakan anti-sosialisme, anti-komunisme. Mulai muncul organisasi-organisasi intelektual dan buruh yang menampilkan semboyan tuntutan “demokrasi” dan “kebebasan”. Sangat menonjol lahirnya gerakan buruh Solidaritas

di Polandia dengan dukungan kalangan Katolik dan Amerika, yang pada puncak gerakannya menjadi menentang sistem sosialis, menggulingkan diktatur proletariat. Dalam pada itu berkembanglah gerakan “perubahan secara damai” di banyak negeri sosialis. Akhirnya menjalar sampai ke Tiongkok, hingga berpuncak dengan Peristiwa Tian An Men

pada tahun 1989.

Menghadapi gagasan raksasa membangun Tiongkok, tahun 1979, berpidato dalam Forum mengenai Prinsip-prinsip Pekerjaan Teori Partai, Deng Xiaoping tampil dengan

Empat Prinsip Dasar. Dikemukakannya, “Dalam membangun empat modernisasi

diTiongkok, di bidang ideologi dan politik haruslah: mendukung EmpatPrinsip Dasar, yaitu: 1. harus menempuh jalan sosialis;

2. harus mempertahankan diktatur proletariat; 3. harus mendukung pimpinan Partai Komunis; dan

4. harus menjunjung Marxisme–Leninisme, Pikiran Mao Zedong.

Semuanya tahu, Empat Prinsip Dasar ini bukanlah hal yang baru, tapi adalah sudah lama didukung oleh Partai kita.” 15

Deng Xiaoping dalam semua pidato penting atau pembicaraan semenjak tahun 1978, berkali-kali mengemukakan arti penting menjunjung Empat Prinsip Dasar. Seperti dalam keterangan mengenai komentar-komentar tentang reformasi, mengenai reformasi untuk pengembangan tenaga produktif, pidatonya dalam Konferensi Nasional

PKT September 1985, keterangan mengenai kegunaan pasar bagi sosialisme, dalam pidato di sidang Dewan Harian Politbiro CC PKT Januari 1986, tentang melawan liberalisasi borjuis, dalam pembicaraan mengenai perencanaan dan pasar adalah untuk pengembangan tenaga produktif, mengenai pendidikan sejarah bagi pemuda, tentang hanyajalan sosialis bagi Tiongkok, tentang pembangunan sosialis di bawahpimpinan partai, tentang hukum dasar bagi Hongkong, dalam pembicaraan mengenai tidak boleh menolerir kekacauan, mengenaipimpinan kolektif pelaksana reformasi, tentang pelaksanaan keadaan darurat di Beijing menghadapi Peristiwa Tian An Men 9-6-1989, pidato di depan perwira-perwira para panglima pasukan menghadapi keadaan darurat Beijing, pidato mengenai tugas utama generasi ketiga pimpinan CC PKT, dan lain-lain. 16

15 Deng Xiaoping, op.cit., h.150—151. 16

(9)

9 Dikemukakannya, “Generasi ketiga pimpinan CC Partai harus memenangkan kepercayaan rakyat, dengan demikian mereka akan bersatu di sekitar kita. Kita harus tanpa ragu-ragu melawan liberalisasi borjuis dan setia pada Empat Prinsip Dasar. Mengenai hal ini, saya tidak pernah memberikan sedikit pun konsesi. Bisakah Tiongkok mencampakkan

Empat Prinsip Dasar? Bisakah kita tidak menjalankan diktatur demokrasi rakyat? Ini adalah

masalah penting yang prinsipil, yaitu apakah kita menjunjung diktatur demokrasi rakyat, Marxisme, sosialisme dan pimpinan Partai Komunis.” 17

Deng Xiaoping juga memaparkan dalam pembicaraan-pembicaraan dengan berbagai pemimpin dunia, seperti pembicaraan dengan PM Robert Mugabe dari Zimbabwe; dengan Julius Kambare Nyerere, mantan Presiden Tanzania; dengan Presiden El Hadi Omar Bongo dari Republik Gabon; dengan Presiden Ali Hassan Mwinyi Republik Persatuan Tanzania; dengan Janos Kadar Sekjen Partai Buruh Sosialis Hongaria; dengan M.S. Gorbacyov, Sekjen PKUS, pada 16 Mei 1989.

Demikian pula dalam pembicaraan 16 September 1989 dengan Prof. Tsung-Dao Lee (Li Cheng-dao), pemenang hadiah Nobel untuk fisika dari Universitas Columbia. Antara lain Deng Xiaoping mengemukakan, ”Belum lama berselang, kami mempunyai dua Sekretaris Jenderal (yang dimaksud adalah Hu Yaobang dan Zhao Ziyang) yang tidak lama menduduki jabatannya. Itu bukanlah karena ia tidak memenuhi syarat ketika dipilih. Adalah tepat memilihnya waktu itu, tetapi kemudian ia berbuat salah yang bersangkutan dengan masalah fundamental, yaitu masalah sikap terhadap Empat Prinsip Dasar yang menyebabkannya tersandung dan jatuh. Dari empat prinsip itu, dua yang paling penting adalah harus menjunjung kepemimpinan partai dan harus menjunjung sosialisme. Berlawanan dengan empat prinsip itu adalah liberalisasi borjuis. Dalam beberapa tahun akhir-akhir ini, saya dalam banyak kesempatan telah menekankan pentingnya menjunjung Empat Prinsip Dasar

ini dan menentang liberalisasi borjuis. Namun mereka tidak melakukannya. Pada saat-saat timbulnya kekacauan barubaru ini, Zhao Ziyang ternyata terang-terangan berpihak pada mereka yang menimbulkan kekacauan. Ia sesungguhnya mencoba memecahbelah partai.”

18

Selanjutnya dikemukakan, “Kenyataan bahwa masalah korupsi sudah menjadi soal yang begitu serius adalah berhubungan erat dengan kegagalan mengatasi liberalisasi borjuis secara tegas. Kekacauan sudah melanda kita semua. Jika kita tidak menjunjung tinggi Empat PrinsipDasar, kekacauan itu tidak dapat diakhiri.” 19

Pada 24 Desember 1990, dalam pembicaraan dengan anggotaanggota pimpinan CC PKT, Deng Xiaoping menyatakan, “Sudah berkali-kali saya kemukakan, bahwa stabilitas adalah hal yang sangat penting, dan bahwa kita tidak bisa membuang diktatur demokrasi rakyat. Jika sejumlah orang mempraktekkan liberalisasi borjuis, dan menciptakan kekacauan dengan menuntut hak-hak asasi manusia dan demokrasi, kita akan mencegahnya. Marx pernah mengatakan bahwa teori perjuangan klas bukanlah hasil penemuannya. Inti dari teorinya adalah diktatur proletariat. Untuk waktu yang sangat lama, proletariat sebagai satu klas yang baru muncul, adalah lebih lemah dari borjuasi. Jika ia

Xiaoping Jilid III, 1982—1992. 316 Ibid., h.291.

17

Ibid . h. 291

18 Deng Xiaoping, Selected Works of Deng Xiaoping, Volume III (1982—1992), Foreign Languages Press,

Beijing, 1994, h.314.

19

(10)

10 akan merebut kekuasaan politik dan membangun sosialisme, ia harus menjalankan kediktaturan untuk berlawan terhadap serangan borjuasi. Untuk mempertahankan jalan sosialis, kita harus menjunjung diktatur proletariat, yang kita sebut diktatur demokrasi rakyat..ini adalah sama pentingnya dengan tiga prinsip lainnya. Jadi, adalah penting untuk menjelaskan secara teori akan pentingnya menjunjung diktatur demokrasi rakyat.” 20

Empat Prinsip Dasar ini merupakan salah satu unsur penting Teori Deng Xiaoping.

Belum ada buku khusus memaparkan Teori Deng Xiaoping secara lengkap. Sesudah tiga dasawarsa Teori Deng Xiaoping dilaksanakan dalam wujud melaksanakan reformasi dan politik pintuterbuka, Tiongkok menjadi unggul di bidang moneter, memiliki cadangan valuta asing lebih dari tiga triliun dolar AS, dan mata uang Tiongkok RMB mengarah jadi

convertible, maju tampil akan menjadi mata uang internasional. Tiongkok maju pesat di

bidang ilmu dan teknologi, sampai mampu mengorbitkan pesawat ruang angkasa berawak serta pesawat ruang angkasa Istana Langit yang permanen.

4. Hakikat sosialisme, tugas utama sosialisme: mengembangkan tenaga produktif.

Dengan berakhirnya RBKP, di Tiongkok berlangsung diskusi di kalangan kader PKT mengenai hakikat dan tugas utama sosialisme. Pemahaman yang tidak sama mengenai

hakikat dan tugas utama sosialisme sangat jelas dari kenyataan-kenyataan pemahaman di

Uni Sovyet.

Kongres XXII PKUS tahun 1961 di bawah pimpinan Khrusycyov menyatakan bahwa di

Uni Sovyet sudah dibangun sosialisme, dan mulai membangun dasar-dasar materiil dan

teknik komunisme. Kongres ditutup dengan pidato Khrusycyov mengumandangkan

semboyan: “Partai dengan khidmat menyatakan: generasi rakyat Sovyet sekarang ini akan

hidup dibawah komunisme!” 21

Kongres XXIII dan XXIV PKUS di bawah pimpinan Brezhnyev melanjutkan pelaksanaan program PKUS yang dirumuskan di bawah pimpinan Khrusycyov, yaitu

membangun dasar-dasar materiil dan teknikkomunisme.

Di bawah pimpinan Sekjen Chernyenko, di samping melanjutkan pelaksanaan program Khrusycyov, dinyatakan bahwa Uni Sovyet sedang membangun sosialisme yang sudah berkembang.

Semua partai negara-negara sosialis Eropa Tengah dan Timur, yaitu Partai Buruh Albania, Partai Pekerja Sosialis Hongaria, Partai Persatuan Sosialis Jerman Timur, Partai Komunis Rumania, Partai Komunis Bulgaria, Partai Komunis Cekoslowakia, dan Partai Pekerja Polandia, menyatakan melangsungkan pembangunan sosialisme di negara mereka masing-masing. Partai Rakyat Revolusioner Mongolia, juga menyatakan membangun

sosialisme. Demikian pula Vietnam bahkan menamakan negaranya Republik Sosialis

Vietnam. Partai Pekerja Korea juga menyatakan membangun sosialisme di Korea dengan

negara bernama Republik Rakyat Demokrasi Korea.

Tahun 1987, M.S. Gorbacyov tampil dengan pemikiran barunya yang dipaparkan

20

Ibid. h. 351-352

21 N.S. Chrusjtjov, Pidato Penyimpulan, Resolusi Kongres ke-22 PKUS, 27 Oktober 1961, Bagian Penerangan

(11)

11 dalam karya Pyeryestroika I Novoye Mishlyeniye— Reformasi dan Pemikiran Baru, yaitu harus membangun sosialisme yang berkemanusiaan dan demokratis. Kongres XXVIII PKUS tahun 1990, yang melaksanakan Pemikiran Baru Gorbacyov demi “sosialisme yang

berkemanusiaan dan demokratis” memutuskan mencampakkan ajaran diktatur proletariat,

membuang prinsip organisasi partai sentralismedemokratis.

Dengan demikian menjungkirbalikkan PKUS, dari partai yang memimpin negara

diktatur proletariat, menjadi tak berdaya karena dicampakkannya ajaran diktatur proletariat

dan dibuangnya prinsip organisasi partai sentralisme demokratis, hingga kepeloporan dan kepemimpinan partai menjadi lenyap. URSS berantakan, lenyap dari peta politik dunia. Negara sosialis pertama di dunia yang sudah berjaya selama tujuh dasawarsa menjadi lenyap. Sosialisme lenyap di Uni Sovyet.

Berantakannya negara diktatur proletariat yang dibangun Lenin dengan kemenangan Revolusi Oktober 1917, mengetuk hati manusia untuk berpikir, di mana keunggulan dan keperkasaan sistem sosialis itu?

Pada musim rontok tahun 1965, dalam rangka melawan revisionisme modern, yaitu mengkritik komunisme Khrusycyov, Mao Zedong dengan sajaknya “Tanya Jawab Sepasang

Burung” secara halus dan tajam mengkritik “komunisme gulasy” yang dibangun Khrusycyov

di Uni Sovyet.

Tanya Jawab Sepasang Burung 22

menurut irama Nian Nu Qiao Luas merentang sayap burung raksasa, Melayang terbang sembilan puluh ribu li, Mendengung gaung puting beliung. Langit biru dibelakangi, menatapi bumi,

Mencermat jagat manusia penuh kota dan desa, Asap mesiu menjilat langit,

Dentam meriam menghunjam alam, Pipit mencicit kekar gemetar di belukar, “Betapa celaka kacau balau!

Ah, sudahlah, aku mau terbang melayang” “Boleh tanya, mau ke mana?”

Pipit menjawab,

“Ke istana bertata permata di bukit dewata, Kau tak tahu ada Persetujuan Tiga Negara, 23 Ditandatangani di bawah sinar purnama

musim rontok dua tahun lalu?

Di sana hidangan lezat melimpah ruah,

22

Diambil dari Mao Zedong Shi Ci Quan Ji, Kumpulan Lengkap Sajak-Sajak Mao Zedong, Cheng Du Chu Ban She, Desember 1995, h.305—306.

23 Persetujuan 5 Agustus 1963 antara Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Sovyet mengenai larangan percobaan

(12)

12 Ada sup gulasy 24 panas”

“Kau omong kosong!

Lihatlah, dunia raya tengah berubah wajah!” 25

Sebelum adanya sajak ini, redaksi Renmin Ribao dan majalah Hongqi mengeluarkan artikel berjudul “Tentang Komunisme Palsu Khrusycyov dan Pelajaran-Pelajaran

Sejarahnya bagi Dunia”. Artikel ini secara mendalam mengkritik kesalahan pemahaman

tentang komunisme yang dianut PKUS di bawah pimpinan Khrusycyov. Kenyataan-kenyataan di Uni Sovyet menunjukkan bahwa hakikat sosialisme dan

komunisme sungguh tidak dipahami.

Deng Xiaoping mempertanyakan dan memberi jawaban mengenai masalah

pemahaman tentang sosialisme. “Apakah sosialisme dan apakah Marxisme itu? Mengenai

hal ini tidak begitu jelas bagi kita di masa lampau. Yang paling penting bagi Marxisme adalah mengembangkan tenaga produktif. Kita mengatakan bahwa sosialisme adalah tingkat pertama dari komunisme dan pada tingkat yang sudah maju akan diberlakukan prinsip bekerja menurut kemampuan, menerima menurut kebutuhan. Ini menuntut tenaga produktif yang maju sekali dan kemakmuran materiil yang melimpah-ruah. Oleh karena itu,

tugas utama pada tingkat sosialisme adalah mengembangkan tenaga-tenaga produktif.

Pada akhirnya, keunggulan sistem sosialis ditunjukkan oleh lebih cepat dan lebih besarnya perkembangan tenaga produktif dibanding dengan di bawah sistem kapitalis. Karena ia berkembang, penghidupan material dan kultural rakyat akan meningkat terus. Salah satu kekurangan kita di masa lampau sesudah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok adalah kita tidak memberikan perhatian yang penuh pada masalah pengembangan tenaga produktif. Sosialisme berarti melenyapkan kemiskinan.

Pemiskinan itu bukanlah sosialisme, lebih-lebih lagi bukanlah komunisme.” 26

Berkali-kali Deng Xiaoping mengungkapkan hakikat sosialisme dan tugas utama

sosialisme, yaitu membebaskan dan mengembangkan tenaga produktif. Untuk mencapai

tujuan ini dilangsungkan reform dan politik pintu terbuka, kaige kaifang. 5. Reformasi adalah membebaskan dan mengembangkan tenaga produktif. Reformasi adalah revolusi kedua Tiongkok.

Deng Xiaoping menyatakan, “Prinsip dasar kita adalah, kita harus menempuh jalan sosialis, harus menjunjung diktatur demokrasi rakyat, menjunjung pimpinan Partai Komunis

dan menjunjung Marxisme–Leninisme dan Pikiran Mao Zedong. Prinsip-prinsip ini sudah

dicantumkan dalamKonstitusi Tiongkok. Masalahnya adalah bagaimana melaksanakannya. Apakah kita akan menempuh politik yang tidak akan membantu kita untuk menghapuskan kemiskinan dan keterbelakangan, atau haruskah kita atas dasar empat prinsip dasar tadi

24

Makanan tradisional Rusia sup kentang pakai daging sapi, melambangkan komunisme yang dibangun Khrusycyov.

25

Oktober 1964, N.S. Khrusycyov turun panggung digantikan L.I. Brezhnyev, Partai Konservatif dikalahkan Partai Buruh dalam pemilu Inggris, Tiongkok

meledakkan bom nuklir yang pertama

26

(13)

13 memilih politik yang lebih baik yang memungkinkan kita dengan cepat mengembangkan tenaga-tenaga produktif? Putusan Sidang Pleno III CC XI adalah melancarkan reformasi yang berarti kita memilih politik yang lebih baik.Sebagaimana revolusi-revolusi di masa lalu, reformasi adalah dimaksudkan untuk melenyapkan rintangan bagi perkembangan tenaga-tenaga produktif dan mengangkat Tiongkok keluar dari kemiskinan dan keterbelakangan. Dalam arti yang demikianlah, reformasi bisa juga disebut perubahan revolusioner.” 27

“Reformasi kami adalah satu eksperimen bukan hanya buat Tiongkok, tetapi juga bagi bagian lain dari dunia. Kami percaya eksperimen ini akan berhasil. Jika demikian, pengalaman kami akan berguna bagi usaha sosialisme dunia dan bagi negeri-negeri yang sedang berkembang. Tentu saja, kami tidak bermaksud bahwa negerinegeri lain harus menjiplak contoh kami. Prinsip kami ialah bahwa kami harus mengintegrasikan Marxisme dengan kenyataan Tiongkok dan kami menempuh jalan sendiri. Inilah apa yang kami sebut membangun sosialisme dengan ciri-ciri Tiongkok.” 28

6. Sosialisme berciri Tiongkok.

Dengan Deng Xiaoping sebagai inti pimpinan Comite Central Partai, secara tepat menilai Kawan Mao Zedong, membela kedudukan historis Pikiran Mao Zedong. Ini terjadi pada saat yang mempunyai arti sangat penting menyangkut nasib partai dan negara menentukan jalan Tiongkok mewujudkan modernisasi sosialis. Semenjak tahun 50-an, PKT sudah memulai usaha raksasa, menghadapi kesulitan sejarah, mengalami sukses-sukses dan kegagalan-kegagalan berulang kali sangat rumit. Dalam tahap sejarah yang sangat penting ini, Deng Xiaoping menggunakan prinsip-prinsip dasar Marxisme sesuai dengan kondisi konkret Tiongkok dan keharusan zaman, mewarisi dan mengembangkan Pikiran Mao Zedong, mulai dengan berani membuka politik raksasa jalan baru pembangunan sosialisme dengan berani yang luar biasa menembus batas-batas baru Marxisme di bidang teori, yaitu menampilkan teori pembangunan sosialisme berciri Tiongkok.

Teori ini secara ilmiah telah menjawab masalah apakah sosialisme itu, dan bagaimana membangunnya, telah menjawab masalah pokok yang utama, yaitu tugas utama sosialisme

adalah membebaskan dan mengembangkan tenaga produksi, melenyapkan penghisapan, mencegah polarisasi, untuk mencapai tujuan terakhir makmur bersama. Ini adalah teori pertama untuk membangun dan mengonsolidasi sosialisme. Dalam teori ini ditunjukkan bahwa pembangunan ekonomi adalah usaha utama, harus mendukung empat prinsip dasar,

harus menjalankan reformasi dan politik pintu terbuka. Ini adalah garis umum partai pada

tahap awal sosialisme. Inilah jalan yang tepat untuk mewujudkan modernisasi sosialis

Tiongkok. 2929)

7. Pasar dan sosialisme.

27

Ibid., h134-135

28

Ibid. h.135

29 Jiang Zemin, Pidato pada Peringatan Seratus Tahun Mao Zedong, Jiang Zemin Wen Xuan, (Pilihan Karya

(14)

14 Sementara orang yang mengaku telah belajar Marxisme menganut pikiran bahwa

pasar adalah tempat lahir borjuasi.” Oleh karena itu, pasar dianggap asing bagi sosialisme.

Karena Tiongkok menggunakan pasar di samping melakukan perekonomian berencana, maka disimpulkan,Tiongkok telah menjadi negeri kapitalis.

Dalam karya klasik studi mengenai Perkembangan Kapitalisme di Rusia, Lenin menulis, “kapitalisme menghasilkan komoditi yang kian banyak dan berkembang. Tenaga kerja pun menjadi komoditi. Perkembangan kapitalisme memaksanya melahirkan pasar untuk peredaran komoditi yang kian melimpah. Bukan hanya pasar dalam negeri, bahkan sampai membutuhkan pasar luar negeri. Pasar adalah sesuatu yang objektif diperlukan dalam perkembangan ekonomi di bawah kapitalisme.” 30

Di masa akhir hidupnya, Stalin ambil bagian dalam penyusunan buku pelajaran

Ekonomi Politik Marxis. Untuk itu, ia menulis dalam buku Masalah-Masalah Ekonomi

Sosialisme di Uni Sovyet, bahwa dalam sosialisme yang dihasilkan adalah barang

dagangan. Namun Stalin tidak mengembangkan tulisannya, bahwa barang dagangan harus

diperedarkan, dan untuk peredaran barang dagangan mau tak mau dibutuhkan pasar. Adalah tidak mungkin adanya barang dagangan tanpa adanya pasar. Jadi, menurut Stalin,

pasar adalah diperlukan dalam ekonomi barang dagangan.31

Deng Xiaoping mempertanyakan masalah pasar sebagai berikut: “Kenapa sementara orang selalu mengatakan bahwa pasar adalah kapitalis dan hanya ekonomi berencana adalah sosialis? Sesungguhnya, kedua-duanya adalah alat untuk pengembangan tenaga-tenaga produktif. Selama ia mengabdi pada kepentingan ini, kita harus mempergunakannya. Jika ia mengabdi sosialisme, ia adalah sosialis; jika mereka mengabdi kapitalisme mereka adalah kapitalis. Adalah tidak tepat jika mengatakan bahwa hanyalah ekonomi berencana adalah sosialis, karena ada departemen perencanaan di Jepang, dan juga ada departemen perencanaan di Amerika.... Dalam Kongres Nasional XIII Partai akan disampaikan laporan memaparkan teori sosialisme dan akan dijelaskanbahwa reformasi kita adalah bersifat sosialis. Di samping itu akan dikemukakan dengan jelas dari segi pandangan teori tentang pentingnya berpegang pada Empat Prinsip Dasar, untuk melawan liberalisasi borjuis, untuk melaksanakan reform dan politik pintu terbuka.” 32

Kongres XIII secara sistematis memaparkan teori tentang tahap pertama sosialisme

dan garis pokok partai pada tahap ini. Dinyatakanbahwa pemahaman yang tepat mengenai tingkat sejarah sekarang dari masyarakat Tiongkok mempunyai arti sangat penting untuk pembangunan sosialisme berciri Tiongkok, ia adalah dasar yang pokok atas dasar mana dirumuskan dan dilaksanakannya secara tepat garis dan politik-politik partai. Kongres menetapkan “tiga langkah” strategi perkembangan ekonomi. Pertama, melipatduakan GNP tahun 1980 untuk memecahkan masalah kekurangan makanan dan pakaian; kedua, melipat-empatkan GNP tahun 1980 pada akhir abad ini untuk mencapai tingkat hidup yang cukup baik bagi rakyat; dan ketiga, pada pokoknya menyelesaikan modernisasi bangsa, meningkatkan GNP per kapita agar mencapai taraf negeri-negeri menengah maju dan memperbaiki tingkat hidup rakyat. Tugas utama yang dipaparkan dalam kongres adalah

30

Baca V.I.Lenin The Development of Capitalism In Russia, Foreign Languages Publishing House, Moscow, 1956, h. 656-658.

31

Lihat J.Stalin, Economic Problems of Socialism in the USSR (Masalah-Masalah Ekonomi Sosialisme di Uni Sovyet), Foreign Languages Press, Peking, 1972, h.9–18

32

(15)

15

mempercepat dan memperdalam reformasi. Restrukturisasi ekonomi dituntut untuk

dipusatkan pada mengubah mekanisme operasi perusahaan-perusahaan.

8. Tentang kesalahan Ketua Mao.

Mengenai kesalahan Ketua Mao, Deng Xiaoping berpendapat, “Kawan Mao Zedong adalah seorang pemimpin besar, di bawah pimpinannyalah Revolusi Tiongkok mencapai kemenangan. Akan tetapi, malangnya, ia membuat kesalahan yang besar sekali, mengabaikan perkembangan tenaga produktif. Maksud saya, bukannya ia tidak mau mengembangkannya. Masalahnya ialah, tidak semua metode yang dipergunakan adalah tepat. Misalnya Maju Melompat Besar dan mendirikan KomuneRakyat tidak sesuai dengan hukum yang memimpin perkembangan ekonomi sosial.

Prinsip pokok Marxisme adalah harus mengembangkan tenaga produktif. Tujuan terakhir kaum Marxis adalah mewujudkan komunisme, yang harus dibangun atas dasar tenaga produktif yang sudah berkembang tinggi. Sosialisme merupakan tahap pertama dari komunisme dan akan berlangsung dalam periode sejarah yang panjang. Tugas utama dalam periode sosialis adalah mengembangkan tenaga produktif dan secara berangsur-angsur memperbaiki kehidupan material dan kultural rakyat. Pengalaman kami selama 20 tahun dari 1958 sampai 1978 mengajar kami, bahwa kemiskinan itu bukanlah sosialisme, bahwa sosialisme berarti melenyapkan kemiskinan. Jika tidak mengembangkan tenaga produktif dan meningkatkan taraf hidup Rakyat, tidaklah dapat dikatakan membangun sosialisme.” 33

9. Ilmu dan teknologi adalah tenaga produktif yang utama.

“Dunia sedang berubah, dan kita harus mengubah pikiran kita dan tindakan-tindakan kita sesuai dengan itu. Di masa lampau kita menempuh politik pintu tertutup dan mengisolasi diri sendiri.

Bagaimana itu bisa berguna bagi sosialisme? Roda sejarah berputar terus, tapi kita berhenti dan jadi terbelakang dibanding dengan orang lain. Marx mengatakan bahwa ilmu dan teknologi adalah bagian dari tenaga-tenaga produktif. Kenyataan menunjukkan bahwa ia adalah benar. Menurut pendapat saya, ilmu dan teknologi adalah tenaga produktif yang

utama. Bagi kita, tugas dasar adalah mempertahankan keyakinan dan prinsip-prinsip

sosialis, mengembangkan tenaga-tenaga produktif dan meningkat taraf hidup rakyat. Untuk memenuhi tugas ini, kita harus membuka negeri kita pada dunia luar. Jika tidak, kita tak akan mampu mempertahankan sosialisme.” 34

10. Tanpa demokrasi, tak ada sosialisme.

“Untuk melakukan empat modernisasi, kita harus mengembangkan demokrasi. Kita sudah mempropagandakan besar-besaran, menjelaskan bahwa diktatur proletariat berarti demokrasi sosialis bagi rakyat, adalah demokrasi bagi kaum buruh, kaum tani, dan kaum

33

Ibid., h.122.

34

(16)

16 intelektual serta pekerja lainnya, adalah demokrasi yang paling luas terdapat dalam sejarah. Di masa lampau, Tiongkok tidak cukup melaksanakan demokrasi, dan membuat kesalahan-kesalahan.

Lin Biao dan ‘Gerombolan Empat Orang’, sambil berkoar-koar mengenai ‘kediktaturan yang menyeluruh’, mereka menjalankan kediktatoran fasis feodal atas rakyat. Kita sudah melenyapkan kediktatoran ini, kediktatoran yang tak mirip-miripnya dengan diktatur proletariat, tapi justru adalah kebalikannya.

Sekarang kita sudah mengoreksi kesalahan di masa lampau dan mengambil berbagai langkah untuk terus-menerus mengembangkan demokrasi dalam partai dan dalam kalangan rakyat. Tanpa demokrasi tak mungkin ada sosialisme dan tak ada modernisasi sosialis. Tentu saja demokratisasi sebagaimana juga modernisasi, haruslah maju selangkah demi selangkah. Lebih maju berkembang sosialisme, lebih maju pula berkembang demokrasi. Ini tak usah disangsikan lagi.

Akan tetapi perkembangan demokrasi sosialis tidaklah berarti bahwa kita mencampakkan diktatur proletariat menghadapi kekuatan-kekuatan yang memusuhi sosialisme.” 35

11. Pedoman satu negara dua sistem, membebaskan Hongkong dan Makau, serta menyelesaikan masalah Taiwan.

Semenjak tahun 1950, Pemerintah Tiongkok sudah mengajukan usul untuk penyatuan kembali Taiwan. Bulan Mei 1955, Perdana Menteri Zhou Enlai menyatakan bahwa “Rakyat Tiongkok ingin membebaskan Taiwan dengan jalan damai, jika syarat-syaratnya sudah mengizinkan.”

Pada bulan Mei 1960, mengenai pengembalian Taiwan ke tanah air, Ketua Mao menyatakan bahwa terkecuali masalah luar negeri yang masih diurus oleh pemerintah pusat, semua kekuasaan militer dan politik dan kekuasaan mengangkat para pejabat dapat diserahkan kepada penguasa Taiwan. Inilah asal-usul gagasan “satu negeri duasistem”.

Januari 1979, Deng Xiaoping mengedepankan gagasan “satu negeri dua sistem” dan menyatakan “begitu Taiwan kembali ke pangkuan tanah air, kita akan menghormati kenyataan-kenyataan dan sistem yangada di sana.”

Pada 30 September 1981, Ye Jianying, Ketua Badan Pekerja Kongres Rakyat Nasional Tiongkok secara resmi mengajukan sembilan pasal usul untuk mewujudkan penyatuan tanah air secara damai. Dikemukakannya bahwa “sesudah Tiongkok disatukan, Taiwan bisa menjadi daerah administratif khusus, yang memiliki otonomi tingkat tinggi dan dapat mempertahankan angkatan bersenjatanya. Pemerintah pusat tak akan mencampuri masalah-masalah setempat Taiwan. Sistem sosial dan ekonomi Taiwan sekarang ini akan tetap tidak berubah, cara hidup mereka tak akan berubah, dan hubungan-hubungan ekonomi dan kebudayaannya dengan luar negeri tak akan berubah.” Ke dalam Konstitusi RRT ditambahkan satu pasal mengenai didirikannya sebuah daerah administratif khusus. Sidang V KRN tahun 1982 menetapkan basis legal untuk pelaksanaan “satu negeri dua

sistem”.

Pada 30 Januari 1995, Presiden Jiang Zemin menyampaikan pidato berjudul

(17)

17

Meneruskan Perjuangan Menyelesaikan Usaha Besar Penyatuan Tiongkok”. Dalam pidato

ini dipaparkan gagasan “satu negeri dua sistem” dan diajukan delapan pasal usul untuk memperbaiki hubungan-hubungan antar seberang selat dalam tingkat sekarang dan mendorong maju proses penyatuan Tiongkok secara damai.

Gagasan ilmiah Deng Xiaoping “satu negeri dua sistem” ditampilkan sesuai dengan kenyataan Taiwan. Kedua-duanya menjunjung kedaulatan negara Tiongkok dan sepenuhnya mempertimbangkan kondisi khusus Taiwan. Menurut gagasan satu negeri dua

sistem, dua sistem akan dipraktekkan dalam satu negara berdaulat Republik Rakyat

Tiongkok.

Dalam perundingan dengan Perdana Menteri Margaret Thatcher,24 September 1982, Deng Xiaoping mengemukakan, “Pendirian kamimengenai Hongkong adalah jelas. Ini meliputi tiga masalah besar. Satuadalah masalah kedaulatan. Yang lainnya adalah cara bagaimanaTiongkok akan memerintah Hongkong agar mempertahankan kemakmuran Hongkong sesudah tahun 1997. Yang lainnya lagi adalah kebutuhan bagi pemerintah Tiongkok dan Inggris melakukan perundingan yang tepat mengenai cara-cara mencegah kekacauan-kekacauan besar di Hongkong dalam 15 tahun selama masa sekarang sampai tahun 1997.

Mengenai masalah kedaulatan, Tiongkok tidak mempunyai rongga untuk bermanuver. Terus terang saja, masalah ini tidak terbuka lagi untuk diskusi. Waktunya sudah tiba untuk menyatakan bahwa tanpa ditawar-tawar lagi adalah jelas Tiongkok akan mengambil kembali Hongkong dalam tahun 1997. Yang dimaksud adalah, Tiongkok akan mengambil tidak saja New Territories tapi juga Pulau Hongkong dan Kowloon.” 36

Dalam pembicaraan dengan para tokoh industrialis dan perdagangan Hongkong, Juni 1984, Deng Xiaoping menyatakan, Pemerintah Tiongkok adalah teguh dalam pendirian, prinsip-prinsip dan politik mengenai Hongkong. Kami sudah menyatakan dalam berbagai kesempatan, bahwa sesudah mengambil kembali kedaulatan atas Hongkong di tahun 1997, sistem sosial dan perekonomian Hongkong yang berlaku sekarang pada dasarnya tidak akan berubah, cara hidupnya dan statusnya sebagai pelabuhan bebas dan pusat perdagangan serta moneter internasional tidak akan berubah, dan hubungannya dengan negeri-negeri serta daerah lainnya dapat diteruskan atau mendirikan hubungan ekonomi dengan negeri-negeri dan daerah lainnya. Berulang kali sudah kami nyatakan, bahwa selain dari menempatkan pasukan di sana, Beijing tidak akan mengangkat pejabat buat pemerintah Daerah Administrasi Khusus Hongkong. Politik ini pun tidak akan berubah. Kami akan menempatkan pasukan di sana untuk membela keamanannasional, bukan untuk mengintervensi masalah-masalah internal Hongkong. Politik kami untuk Hongkong tidak akan berubah selama 50 tahun, ini kami tegaskan” 37

12. Tentang pengembangan Marxisme, pusat gerakan komunis internasional dan hubungan antar partai-partai.

Dalam pembicaraan dengan Perdana Menteri Jepang Yasuhiro Nakasone, 9 November 1986, Deng Xiaoping mengemukakan: “Marxisme harus dikembangkan. Kami

36

Deng Xiaoping, op.cit., h.23.

37

(18)

18 tidak memandang Marxisme sebagai dogma: melainkan kami merumuskan prinsip-prinsip kami sendiri. dengan memadukan Marxisme dengan kenyataan konkret di Tiongkok. Itulah sebabnya kami telah mencapai sukses-sukses. Revolusi kami sudah mencapai kemenangan, karena kami mengepung kota dari desa. Strategi ini tidak terdapat dalam buku-buku Marxis–Leninis. Sekarang kami tetap menjunjung tinggi Marxisme–Leninisme dan Pikiran Mao Zedong, yang sebagiannya adalah warisan yang kami terima dan bagian lainnya adalah kami kembangkan sendiri. Kami sedang membangun sosialisme, atau lebih tepat lagi kami sedang membangun sosialisme yang sesuai dengan syarat-syarat di Tiongkok. Dengan cara beginilah kami sungguh-sungguh setia pada Marxisme. Kami selalu percaya, bahwa Partai-Partai Komunis di mana saja akan membawa maju dan mengembangkan Marxisme sesuai dengan syarat-syarat negeri mereka sendiri. Jika kami mengabaikan kenyataan, adalah omong kosong berbicara tentang Marxisme. Itulah sebabnya kami percaya bahwa tidak ada, dan tak bisa ada pusat Gerakan Komunis Internasional. Demikian juga kami tak bisa menyetujui mendirikan apa yang disebut masyarakat bangsa-bangsa, sebab hanya kemerdekaan tiap negeri adalah sungguh-sungguh perwujudan ajaran Marxisme.” 38

“Harus menghormati cara setiap partai dan rakyat berbagai negeri memecahkan masalah-masalah mereka sendiri. Biarkan mereka menemukan jalan mereka sendiri serta cara-cara mereka menyelesaikan masalah-masalahnya. Tidak boleh ada partai bertindak sebagai partai bapak dan mengeluarkan perintah-perintah terhadap partai lain. Kita menentang diperintah mengenai masalah kita, dan di pihak kita, kita tak akan mengeluarkan perintah terhadap yang lain. Haruslah ini dianggap sebagai satu prinsip yang penting.” 39

Oleh karena itu, PKT menetapkan Empat Prinsip Hubungan Antar Partai, yaitu: bebas mandiri, sama derajat, saling menghormati, dan tidak mencampuri masalah internal masing-masing.

13. Tahap awal sosialisme.

Dalam pembicaraan dengan Takako Doi, Ketua Komite Eksekutif Partai Sosialis Jepang, 16 November 1987, Deng Xiaoping mengemukakan, “Salah satu ciri dari Kongres Nasional XIII PKT adalah ia telah memaparkan teori bahwa Tiongkok berada dalam tahap

awal sosialisme. Adalah dalam rangka teori ini, kami akan melaksanakan garis,

prinsipprinsipdan politik yang dirumuskan semenjak Sidang Pleno III CC XI. Ciri lain adalah kongres sudah memilih pimpinan baru yang akan menjamin melanjutkan dan mempercepat pelaksanaan politik-politik kami mengenai reformasi dan politik pintu terbuka ke dunia luar. Sebelum kongres, ada orang di dalam dan luar negeri khawatir, bahwapolitik-politik ini tidak akan berlanjut. Tapi kongres sudah menjawab masalah ini, menjamin rakyat Tiongkok dan sahabat-sahabat internasional.”

“Betapapun juga, usaha kami ini adalah sama sekali baru, adalah sesuatu yang tak pernah dikemukakan oleh Marx, tidak pernah ditempuh oleh para pendahulu kami dan tak pernah dicoba oleh negeri sosialis lainnya. Oleh karena itu, tidak ada sesuatunya yang bisa memberi pelajaran pada kami. Kami hanya bisa belajar dari praktek, meraba jalan sambil

38 Ibid., h.191

(19)

19 bergerak maju. Kami berusaha mengubah Tiongkok menjadi satu negeri sosialis yang modern. Secara ekonomi, kami ingin mencapai taraf negeri-negeri agak maju. Bagi kami akan diperlukan waktu 50 sampai 60 tahun, atau kira-kira 100 tahun dari waktu kami mendirikan Republik Rakyat Tiongkok.” 40

14. Tanpa Peradaban Spiritual, Tak Bisa Membangun Sosialisme.

Pada saat Kongres IV Sastrawan dan Seniman Tiongkok, 30 Oktober 1979, Deng Xiaoping berkata: “Negeri kita sudah memasuki satu masa baru, masa modernisasi sosialis. Seiring dengan perluasan dan perkembangan tenaga-tenaga produktif, kita juga harus melakukan reformasi dan menyempurnakan struktur ekonomi dan politik, membangun demokrasi sosialis yang berkembang tinggi dan sistem perundang-undangan sosialis yang sempurna. Seiring dengan pekerjaan pembangunan peradaban sosialis yang sudah maju secara materiil, kitajuga harus membangun peradaban yang maju di bidang kultural dan ideologi dengan meningkatkan taraf ilmu dan budaya seluruh bangsa dan mendorong maju tingkat kehidupan kultural yang bermacam ragam diilhami cita-cita yang agung.” 41

“Kita harus setia berpegang pada prinsip yang diajarkan Kawan Mao Zedong, yaitu sastra dan seni harus mengabdi pada massa yang luas, dan terutama kaum buruh, tani, dan prajurit. Kita harus selalu menjunjung tinggi prinsip-prinsip ‘berbagai bunga mekar bersama’,

‘menyiangi yang lama menampilkan yang baru’, dan ‘membuat yang masa lampau

mengabdi yang sekarang dan yang luar negeri mengabdi Tiongkok’. Kita harus mendorong

perkembangan yang tak dirintangi bagi berbagai bentuk dan gaya sastra dan seni, demikian pula diskusi bebas mengenai teori-teori sastra dan seni di antara para tokoh berbagai pandangan dan aliran pikiran. Lenin pernah mengatakan bahwa dalam literatur, bagi inisiatif perseorangan harus diberi kebebasan cakrawala yang luas, tentu saja harus diperbolehkan bagi inisiatif perseorangan, kecenderungan perseorangan, pikiran dan fantasi, bentuk dan isi.” 42

“Dengan Empat Modernisasi sebagai tujuan kita, jalan di hadapan sastra dan seni haruslah terus-menerus bertambah lapang. Di bawah pimpinan prinsip-prinsip yang tepat untuk karya-karya kreatif, para sastrawan dan seniman akan berhadapan dengan tema-tema yang lebih luas dan lapang, meningkatkan ragam cara-cara ekspresi mereka dan berani untuk menerobos ke jalan baru. Kita harus berhati-hati terhadap dan mengatasi kecenderungan-kecenderungan formalistik dan abstrak, yang menghasilkan karya-karya monoton, kaku, mekanis, dan stereotipis.” 43

Demikianlah, dengan menjunjung tinggi Marxisme–Leninisme dan Pikiran Mao Zedong, Deng Xiaoping telah menampilkan serentetan gagasan mengenai ideologi, politik, ekonomi, ketatanegaraan, seni, dan sastra. Realisasi gagasan-gagasan Deng Xiaoping inilah yang menghasilkan perkembangan Tiongkok mengagumkan dunia.

Kebenaran teori Deng Xiaoping sudah diuji dalam praktek. Berkat realisasi teori Deng Xiaoping, dari negeri miskin dan terbelakang di pertengahan abad ke-20, Tiongkok telah

40 Deng Xiaoping, op.cit., h.235—245. 41

Deng Xiaoping, op.cit., h.210.

42

Lihat: V.I. Lenin, Organisasi Partai dan Literatur Partai, Collected Works, Eng. ed. FLPH, Moscow, 1962, Vol.10, h.46.

43

(20)

20 berubah menjadi negeri adidaya di bidang ekonomi pada awal abad ke-21. Kemajuan-kemajuan Tiongkok telah meningkatkan martabat sosialisme dan Marxisme. Ia memberi harapan bagi kemenangan perjuangan rakyat sedunia mewujudkan sosialisme. Gagasan-gagasan Deng Xiaoping itu tidak terdapat dalam literatur Marxis sebelum ini. Karena itu ia telah memperkaya Marxisme. Ia adalah pengembangan Marxisme.

Maka jelas-jemelas, Marxisme tidaklah punah, tapi berkembang maju dengan Teori Deng Xiaoping!

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut merupakan pelaksanaan dari undang-undang no.4/1990 tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam, hasil terbitan dari pelaksanaan undang-undang no.4/1990

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan responden yang merupakan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta menyatakan ketidaksetujuannya terhadap

- Disi berdasarkan perubahan asumsi makro ekonomi yang disepakati terhadap implikasi perubahan kemampuan fiskal daerah, kebijakan yang ditempuh dalam upaya peningkatan

Dengan ungkapan lain bahwa dakwah dapat berorientasi untuk merubah suatu masyarakat dari keadaan yang tidak atau kurang baik ke arah yang lebih baik, dari

Berdasarkan studi eksisting yang menggunakan binatang sebagai tokoh atau karakter dalam buku cerita untuk anak usia dini, rata-rata memiliki ciri-ciri yang hampir sama

Perubahan sosial budaya adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya.. Definisi tersebut adalah

Perencanaan, pengadaan, dan pengendalian obat yang termasuk dalam Obat Wajib Apotek sebaiknya dilakukan dengan efektif sesuai analisis ABC (Pareto) yang telah dilakukan,

Di Indonesia pada saat ini banyak perusahaan besar maupun kecil menggunakan Toko On-line ini untuk menjual produknya secara luas keseluruh pelosok Indonesia