BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil pembahasan dari penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan

15 

Teks penuh

(1)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan dari penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan

bahwa perubahan sistem pengadaan barang/jasa dari konvensional ke

e-Procurement di Pemerintah Kota Yogyakarta telah dilakukan dengan melewati sejumlah proses dan tahapan. Ditinjau dari pengalaman praktis, Pemerintah Kota

Yogyakarta telah banyak menerapkan elemen-elemen yang terkandung dalam

teori manajemen perubahan.

Tahap pertama adalah persiapan melakukan perubahan yang diawali

dengan melakukan assessment untuk menilai pentingnya dilakukan perubahan

serta untuk mengetahui sejauhmana kesiapan dari Pemerintah Kota Yogyakarta

menghadapi perubahan. Secara teknokratis, Pemerintah Kota Yogyakarta telah

menyiapkan rencana perubahan tersebut, yaitu dengan memasukkan program

pemberantasan korupsi ke dalam dokumen RAD. Dokumen RAD tersebut

kemudian diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan.

Assessment tersebut menghasilkan rekomendasi bawa kesiapan

Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menerapkan e-Procurement adalah tahun

2010. Wali Kota Yogyakarta pada waktu itu Bapak Heri Zudianto mensikapi hasil

assessment lebih progresif, dimana menargetkan pada tahun 2008 Pemerintah Kota Yogyakarta harus sudah bisa menerapkan e-Procurement.

(2)

Kebijakan dari Wali Kota Yogyakarta tersebut didukung oleh jajaran di

bawahnya dan ditindaklanjuti dengan membentuk kelompok kerja yang

melibatkan sejumlah perwakilan SKPD di lingkungan Pemerintah Kota

Yogyakarta untuk difungsikan sebagai agen perubahan. Kegiatan berikutnya

adalah melakukan studi banding ke Kota Surabaya dan Kota Bogor yang sudah

lebih awal menerapkan e-Procurement. Hasil studi banding memutuskan bahwa,

Pemerintah Kota Yogyakarta memilih untuk menggunakan aplikasi

Procurement yang disusun oleh LKPP. Persyaratan untuk mengadopsi aplikasi e-Procurement LKPP pada saat itu cukup berat, namun karena komitmen yang kuat dari Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menerapkan e-Procurement tahun 2008

maka semua persyaratan bisa dipenuhinya.

Salah satu faktor penting yang menjadi kunci keberhasilan dari penerapan

e-Procurement di Kota Yogyakarta adalah adanya komitmen yang kuat dari pucuk pimpinan dan jajaran di bawahnya. Pihak legislatif yang diwakili oleh komisi III

juga dilibatkan dalam proses perubahan. Dengan komitmen yang kuat, Pemerintah

Kota Yogyakarta berhasil memenuhi persyaratan yang ditentukan LKPP

antaralain: tersedianya alokasi anggaran, terbentuknya kelembagaan, adanya

payung hukum dan kesiapan SDM serta dukungan sarana prasarana. Persyaratan

tersebut disiapkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dalam waktu sekitar satu

tahun, yaitu mulai pertengahan tahun 2007 sampai dengan pertengahan 2008.

Tahap berikutnya adalah implementasi e-Procurement yang ditandai

dengan peluncuran e-Procuremnet tgl 25 Juli 2008. Perubahan yang disebabkan

(3)

menunjukkan hasil dan manfaat yang positif. Melalui e-Procurement mendorong

terwujudnya sistem pengadaan barang/jasa yang transparan, akuntabel, adil serta

terhindar dari praktik KKN. Perubahan yang menarik juga terjadi pada ranah

mindset & cultureset dari para stakeholders.

Aspek keadilan diukur dari adanya peluang yang sama kepada publik

untuk ikut berpartisipasi sebagai peserta tender maupun sebagai pemantau

jalannya proses tender karena perkembangan tahapan lelang bisa diakses dari

mana saja, kapan saja tanpa terhalang oleh dimensi waktu dan jarak. Keadaan

tersebut berbanding lurus dengan pertambahan jumlah penyedia jasa (provider)

yang ikut serta dalam proses tender di Pemerintah Kota Yogyakarta, dimana

setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Pada awal implementasi

e-Procurement hanya diikuti sekitar 185 penyedia jasa. Jumlah penyedia jasa yang ikut lelang terus meningkat pada tahun 2013 terdapat 3000 calon penyedia jasa,

yang mana sekitar 2000 provider adalah merupakan penyedia jasa lokal.

Aspek transparansi dapat ditunjukkan dengan keterbukaan informasi data

lelang yang di-upload di website LPSE Kota Yogyakarta. Berapa jumlah kegiatan

yang dilelangkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, berapa nilai pagu kontrak

masing-masing kegiatan, siapa saja peserta yang mengikuti lelang, semua itu bisa

diakses melalui internet. Jadual pelaksanaan lelang dan progress-nya dalam setiap

tahapan bisa diketahui bersama karena diumumkan terbuka di website LPSE Kota

Yogyakarta. Hasil penilaian dari panitia pengadaan dan penentuan pemenang

(4)

Melalui e-Procurement dapat mengurangi potensi terjadinya praktik

KKN, karena pertemuan antara panitia lelang dan provider sangat dibatasi. Pada

saat lelang secara konvensional masih banyak dilakukan pertemuan langsung

antara peserta tender dan panitia sehingga membuka kesempatan terjadinya

“transaksi negatif”. Pemasukan dokumen penawaran pada lelang secara

konvensional ada kecenderungan saling menunggu, dan memasukkan dokumen

pada saat akhir menjelang penutupan. Kesempatan tersebut bisa digunakan untuk

“mengintip” mencari informasi berapa harga penawaran terendah, sehingga yang

bersangkutan atau calon yang sudah dikondisikan bisa mengajukan harga

penawaran yang lebih rendah. Dengan sistem e-Procurement tidak bisa lagi saling

“mengintip” karena dokumen penawaran disampaikan dalam bentuk soft file dan

sudah diprogram tidak bisa dibuka sebelum waktu yang dijadualkan.

Penerapan e-Procurement di Kota Yogyakarta diperoleh adanya efektifitas

waktu. Proses pengadaan dengan sistem e-Procurement terbukti lebih cepat

sehingga jumlah hari yang dibutuhkan lebih sedikit, karena hanya memerlukan

waktu 14-18 hari kerja. Sedangkan sistem konvensional prosesnya lebih lama

karena memerlukan waktu lebih dari 30 hari kerja. Pada saat tender masih secara

konvensional kepanitiaan tender tersebar di SKPD dan memerlukan ratusan orang

sebagai panitia. Setelah menerapkan e-Procurement, kepanitiaan terpusat di ULP

dan hanya membutuhkan puluhan orang. Hal itu dinilai mendatangkan efisiensi

SDM dan anggaran untuk honor panitia tender. Efisiensi anggaran juga diperoleh

dari belanja modal, antaralain dari pengadaan ATK, konsumsi, honor panitia

(5)

Yogyakarta sudah bisa meraih Break Event Point (BEP) atas biaya-biaya yang

dikeluarkan untuk investasi penerapan e-Procurement.

Perubahan mindset & cultureset dari para stakeholders dirasakan mulai

kelihatan. Perubahan tersebut dikenali melalui beberapa indikasi antaralain, pada

saat ini hampir tidak ada resistensi dari para stakeholders. Pada saat awal

penerapan e-Procurement sebagian besar stakeholders masih gagap dalam

mengoperasikan komputer, internet dan menjalankan aplikasi website LPSE Kota

Yogyakarta. Keadaan sudah berubah dimana saat ini stakeholders sudah terbiasa

dan menguasai perkembangan teknologi yang ada di e-Procurement. Masyarakat

menilai positif dan baik terhadap sistem e-Procurement Kota Yogyakarta, yang

diukur melalui Survai Indek Kepuasan Masyarakat terhadap LPSE Kota

Yogyakarta tahun 2013 dimana memperoleh penilaian rata-rata baik. Seluruh

SKPD di lingkungan pemerintah Kota Yogyakarta sudah menyerahkan proses

lelang atas kegiatan yang diampunya kepada ULP dan LPSE. Perkembangan

jumlah paket kegiatan yang dilelangkan di LPSE Kota Yogyakarta dan jumlah

penyedia jasa menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun. Pada awal

diterapkannya e-Procurement, LPSE Kota Yogyakarta hanya melelangkan

sembilan paket kegiatan. Pada tahun 2013 mencapai 366 paket kegiatan dan pada

tahun 2014 melelangkan 217 paket. Pada tahun 2008 hanya diikuti 185 penyedia

jasa, jumlah peserta tender bertambah signifikan pada tahun 2013 yaitu 3000

(6)

Tahap penguatan dilakukan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dengan

melakukan survai kepuasan pelanggan pada setiap tahun untuk dipakai sebagai

bahan masukan perbaikan dan penguatan sistem e-Procurement. Sebagai upaya

untuk memperkuat sistem e-Procurement di Kota Yogyakarta dilakukan dengan

berbagai pengembangan dan perbaikan terhadap standard pelayanan, penyediaan

dukungan teknologi informasi yang memadai, serta peningkatan kapasitas SDM

pengelola LPSE serta para stakeholder.

Dalam rangka untuk menyiapkan LPSE menjadi sebuah lembaga layanan

pengadaan yang profesional, visioner, pada saat ini LPSE tengah berbenah dan

menata diri untuk mendapatkan sertifikasi ISO 9001. Meskipun persyaratan yang

harus dipenuhi oleh LPSE sangat banyak, sampai dengan penelitian ini disusun,

LPSE telah menyelesaikan sekitar 70% dari jumlah keseluruhan persyaratan yang

harus dipenuhi.

Bagian Organisasi juga telah melakukan kajian kelembagaan terhadap

organisasi LPSE sekarang. Salah satu hasil kajiannya adalah merekomendasikan

untuk penguatan organisasi LPSE yang sekarang berbentuk sekretariat,

ditingkatkan statusnya menjadi Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa untuk

digabung dengan ULP. Payung hukum berupa draft perda tentang perubahan

Sekretariat LPSE menjadi Kantor Layanan Pengadaan Barang/Jasa telah

disampaikan kepada DPRD Kota Yogyakarta pada tahun 2013. Pada saat ini pihak

(7)

Kerjakeras dan komitmen yang kuat dari Pemerintah Kota Yogyakarta

untuk menjadikan LPSE sebagai salah satu terobosan dalam memberantas

paraktik-praktik KKN menunjukkan adanya keberhasilan. Atas prestasinya itu,

LPSE Kota Yogyakarta pernah memperoleh sejumlah penghargaan diantaranya

adalah Penilaian Indek Anti Korupsi (PIAK) diberikan oleh KPK, sebagai LPSE

Pelopor dalam pembentukan LPSE dan implementasi e–Procurement yang

diberikan oleh LKPP.

Pemerintah Kota Yogyakarta menyadari bahwa beban kerja LPSE

termasuk berat, oleh karena itu kepada pengelola LPSE diberikan reward berupa

tambahan pendapatan di luar gaji pokok. Namun demikian, pihak pengelola LPSE

merasa bahwa besaran tambahan pendapatan tersebut masih belum sebanding

dengan beban kerja yang diampunya. Tambahan pendapatan yang resmi diterima

oleh pegawai LPSE dinilai masih cukup jauh jika dibanding dengan pegawai yang

berada di unit lain, yang sama-sama bertugas mengawal proses pengadaan

barang/jasa.

Sejalan dengan waktu dan proses yang terus bergulir, Pemerintah Kota

Yogyakarta memandang bahwa organisasi LPSE pada saat ini sudah semakin

mapan. Penting untuk dikemukaan sebagai hasil temuan dalam penelitian, pada

saat ini perhatian serta dukungan dari pimpinan terhadap LPSE sudah mulai

berkurang tidak seperti pada saat awal berdiri. Bila hal ini benar adanya maka

menjadi kontradiktif dengan tahapan perubahan yang sekarang sedang berada

(8)

6.2 Hambatan-hambatan yang dihadapi pada saat melakukan perubahan Proses perubahan sistem pengadaan barang/jasa dari konvensional ke

sistem e-Procurement yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, tidaklah

semudah dengan apa yang direncanakan. Di dalamnya penuh dengan tantangan,

hambatan serta masalah yang juga turut menyertainya. Secara umum dapat

diinformasikan bahwa hambatan serta masalah yang paling banyak adalah muncul

pada tahap persiapan dan tahap awal implementasi e-Procurement. Pada tahap

tersebut LPSE menghadapi masalah keterbatasan alokasi anggaran karena pada

tahun 2007 belum tersedia anggaran khusus untuk pelaksanaan e-Procurement.

Penetapan Perda APBD baru dilakukan pada bulan Februari 2008. Akibat adanya

hambatan terkait penyediaan anggaran maka berpengaruh kepada terbatasnya

dukungan sarana prasarana untuk Sekretariat LPSE. Dengan terbatasnya sarana

prasarana khusunya penyediaan server, kurangnya jumlah komputer laboratorium,

terbatasnya alokasi bandwidth serta jaringan internet yang belum lancar maka

berdampak pada kecepatan dalam melaksanakan tugas rutin LPSE.

Kendala lain yang juga ditemuinya adalah dalam menentukan pilihan

bentuk kelembagaan yang tepat untuk organisasi yang nanti bertugas mengawal

pelaksanaan e-Procurement. Dalam hal penyiapan SDM juga menghadapi

hambatan, dimana Sekretariat LPSE adalah berada di Bagian Pengendalian

Pembangunan, sementara jumlah pegawai di Bagian Pengendalian Pembangunan

juga terbatas. Untuk mengisi kebutuhan SDM tidak cukup hanya mengambil

(9)

mengambil pegawai dari instansi di luar Bagian Pengendalia Pembangunan

diperlukan proses dan ditempuh sesuai prosedur yang berlaku.

Hambatan yang juga dirasakan adalah terkait dengan adaptasi terhadap

e-Procurement. Mengingat bahwa sistem ini adalah baru maka tidak mudah untuk merubah mindset & cultureset dari para stakeholder terkait, yang notabene selama

ini sudah nyaman dengan sistem konvensional. Melatih ketrampilan mereka untuk

bisa mengoperasionalkan sistem ini saja mengalami kesulitan apalagi merubah

pola pikir serta budaya yang selama ini telah mengakar pada sistem konvensional.

Seiring dengan berjalannya waktu, masalah-masalah yang berkaitan

dengan penyediaan anggaran, dukungan sarana-prasarana, serta mindset &

cultureset secara berangsur sudah teratasi. Pada saat ini diakui bahwa LPSE Kota Yogyakarta lebih mapan dibandingkan empat tahun yang lalu. Meskipun

demikian, bukan berarti LPSE Kota Yogyakarta tidak memiliki masalah.

Berdasarkan hasil penelitain, LPSE Kota Yogyakarta menghadapi permasalahan

internal.

Masalah yang pertama adalah terkait dengan kapasitas kelembagaan yang

sampai dengan saat ini masih berbentuk sekretariat. Sebagai unit kerja yang tidak

independent menjadikan LPSE tidak bisa bergerak cepat karena segala sesuatunya harus dikomunikasikan lebih dahulu dengan koordinator LPSE. Dalam hal

penyusunan rencana kegiatan dan rencana anggaran LPSE juga hanya menerima

hasil jadinya. Semua tergantung dengan koordinator LPSE. Keadaan ini dirasakan

menjadi hambatan bagi LPSE untuk berkembang lebih cepat mengikuti tuntutan

(10)

Masalah yang kedua adalah berpindahnya sebagian besar dari pegawai

LPSE ke unit lain yang juga bertugas mengawal pelaksanaan pengadaan

barang/jasa di Kota Yogyakarta. Diperkirakan perpindahannya disebabkan

ketertarikan mereka dengan tambahan pendapatan yang lebih menjanjikan

dibandingkan dengan di LPSE. Akibatnya, pada saat ini jumlah pegawai yang

berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang standby di LPSE hanya dua orang,

padahal sebelumnya berjumlah tujuh orang.

Masalah yang ketiga adalah munculnya rasa ketidakpuasan dari pegawai

LPSE dikarenakan tidak sebandingnya beban kerja yang diemban oleh mereka

dengan jumlah tambahan pendapatan yang diperolehnya. Terlebih bila

dibandingkan dengan pegawai di unit lain yang sama-sama bertugas mengawal

proses pengadaan barang/jasa di Kota Yogyakarta.

Seperti yang disampaikan oleh narasumber, masalah seperti ini tidak hanya

terjadi di LPSE Kota Yogyakarta, namun hampir dirasakan oleh kebanyakan

pegelola LPSE di daerah yang lain. Menurut pengamatan peneliti, masalah seperti

ini adalah merupakan bom waktu yang bisa meledak suatu saat dan berpotensi

menjadi masalah serius yang berdampak negatif terhadap kemajuan LPSE Kota

Yogyakarta khususnya dan LPSE di daerah lain pada umumnya.

Ketidakpuasan yang disebabkan karena reward yang diterima pegawai

LPSE dinilai belum sebanding dengan beban kerja yang diemban. Keadaan ini

dapat berpotensi menyurutkan komitmen mereka sehingga bisa memancing

terbukanya celah-celah yang tidak tidak sehat dalam mengawal proses pengadaan

(11)

Masalah keempat adalah terkait dengan adanya penyedia jasa yang

melakukan upload penawaran di atas jam kerja Pemkot Yogyakarta yakni pukul

15.00 – 21.00 WIB. Dalam hal ini LPSE tetap harus menyiapkan pegawai untuk

bisa melayani penyedia jasa yang sedang upload penawaran.

Persoalan yang juga perlu diperhatikan adalah adanya pergantian atau

mutasi pegawai yang memang tidak bisa dihindarkan dalam birokrasi publik.

Mutasi atau pergantian pegawai sering menjadi masalah di instansi terkait karena

pimpinan tidak menempatkan orang yang ahli dibidangnya (right man on the right

job) untuk mengisi posisi yang kosong menggantikan pegawai yang dimutasi. Ketidaktepatan dalam melakukan mutasi pegawai bisa berdampak pada tidak

connect keberlanjutan program/kegiatan yang menjadi tujuan sebuah organisasi.

6.3 Solusi yang dilakukan

Hambatan yang berupa keterbatasan anggaran pada tahap awal

implementasi bisa dipecahkan dengan melakukan sharing anggaran oleh sejumlah

instansi yang memiliki anggaran rutin sesuai kebutuhan LPSE. Untuk kebutuhan

sarana teknolgi informasi seperti adanya kekurangan server disiasati dengan

menggunakan server yang dimiliki oleh Bagian Teknologi Informasi. Demikian

juga dengan kebutuhan pemasangan instalasi jaringan LAN dibebankan kepada

Bagian Teknologi Informasi. Kebutuhan yang menyangkut pelatihan

menggunakan anggaran rutin dari Badan Diklat Daerah. Sedangkan untuk

operasional kegiatan LPSE menggunakan anggaran dari Bagian Pengendalaian

(12)

Dalam kaitannya dengan terbatasnya jumlah pegawai di LPSE,

Pemerintah Kota Yogyakarta telah merekrut sejumlah orang sebagai tenaga

kontrak untuk ditempatkan di LPSE. Dalam rangka untuk melayani penyedia jasa

yang mengupload penawaran setelah di atas jam 15.00 WIB, maka ditugaskan

tenaga untuk piket bergantian sampai dengan pukul 21.00 WIB.

6.4 Saran/Rekomendasi

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang telah disusun oleh

peneliti, rekomendasi dalam peneltian ini dibagi menjadi dua:

a. Rekomendasi yang ditujukan kepada pemerintah Kota Yogyakarta:

§ Birokrasi pemerintah selalu berubah menyesuaikan dengan tuntutan

kebutuhan publik dan kemajuan zaman. Salah satu prasyarat untuk

melakukan perubahan yang baik perlu adanya desain dan strategi

manajemen perubahan. Prasayarat lainnya untuk melakukan perubahan

adalah adanya agen perubahan. Dalam kaitannya dengan penerapan

e-Procurement di Pemerintah Kota Yogyakarta, agen perubahan yang dibentuk bekerja efektif hanya sampai pada tahap persiapan. Adapun

pada tahap pelaksanaan dan penguatan sudah tidak ada lagi agen

perubahan. Perubahan dapat berjalan dengan baik apabila seluruh

tahapan perubahan dikawal oleh agen perubahan. Sebagai perbaikan

dimasa mendatang, sebelum melakukan perubahan ditubuh birokrasi

(13)

perubahan yang baku berdasarkan sejumlah teori yang telah dibangun

oleh para pakar.

§ Pemerintah Kota Yogyakarta perlu melakukan kajian mendalam

terhadap hal-hal yang menjadi masalah dalam tubuh Sekretariat LPSE.

Penting kiranya menentukan skala prioritas terhadap masalah mana

yang penting diselesikan lebih dahulu. Menurut hemat peneliti,

Pemerintah Kota Yogyakarta perlu memfokuskan kepada dua masalah,

yang pertama adalah bagaimana memperkuat kapasitas kelembagaan

LPSE, dan yang kedua adalah memberikan perhatian kepada pegawai

pengelola LPSE atas ketidakpuasan mereka dengan reward yang

selama ini mereka terima. Ketidakpuasan dari para pengelola LPSE

dikhawatirkan dapat melemahkan komitmen mereka sehingga

berdampak negatif terhadap sistem e-Procurement yang selama ini telah

dibangun dengan baik oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.

b. Rekomendasi yang ditujukan kepada publik apabila hendak melakukan

penelitian dengan tema e-Procurement di Kota Yogyakarta, sebaiknya

obyek utama penelitiannya tidak hanya di Sekretariat LPSE saja, namun

melakukan penelitian juga di Unit Layanan Pengadaan (ULP). Sebab

antara LPSE dan ULP adalah bagaikan dua sisi mata uang yang saling

melengkapi dan masing-masing memiliki peran strategis dalam mengawal

(14)

6.5 Kontribusi Teoritik

Berdasarkan uraian hasil penelitian sebagaimana yang telah dipaparkan

pada bagian sebelumnya, secara umum dapat dikemukakan bahwa indikator

manajemen perubahan yang dipakai sebagai teori dalam penelitian ini sudah

diterapkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mengelola perubahan sistem

pengadaan barang/jasa dari konvensional ke sistem e-Procurement.

Kontribusi dari penelitian ini adalah memperoleh masukan adanya

indikator lainnya yang tidak kalah penting untuk mengelola perubahan penerapan

e-Procurement di Kota Yogyakarta. Indikator tersebut adalah komitmen yang kuat dari pimpinan dan jajaran di bawahnya untuk senantiasa konsisten terhadap tujuan

dilakukannya perubahan. Indikator berupa komitmen yang kuat ini tidak

tercantum dalam indikator teori manajemen perubahan yang diajukan peneliti.

Pemerintah Kota Yogyakarta telah membuktikan bahwa dengan komitmen

yang kuat dari pucuk pimpinan sebagai pengambil kebijakan serta staff yang

menjalankan langsung proses perubahan, dalam waktu yang relatif singkat yaitu

hanya satu tahun dapat mengantarkan berdirinya LPSE, dan sampai dengan saat

ini sudah berjalan sekitar enam tahun.

Komitmen yang kuat tersebut harus dimiliki oleh setiap individu pelaku

perubahan dan harus tetap terjaga disepanjang proses perubahan. Bila komitmen

tersebut pudar maka hakikat dan tujuan perubahan tidak akan tercapai. Dalam

konteks ini, tujuan utama menerapkan e-Procurement adalah untuk mewujudkan

pengadaan barang/jasa yang transparan, akuntabel, adil dan menghindari praktik

(15)

menerapkan nilai-nilai transparansi, akuntabel, keadilan, serta menutup

rapat-rapat celah terjadinya praktik KKN dalam proses pengadaan barang/jasa.

Komitmen yang kuat adalah merupakan energi yang luar biasa untuk

menggerakkan individu bekerja tanpa mengenal lelah dan pamrih. Keberlanjutan

dan eksistensi LPSE Kota Yogyakarta masa kini dan masa depan sangat

tergantung dengan komitmen kuat dari setiap individu yang terlibat. Bila

komitmen tersebut lemah atau hilang maka bukan tidak mustahil bila arah tujuan

penerapan e-Procurement berbelok, dan akhirnya sulit untuk mewujudkan hakikat

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :