Journal of Politics and Policy Volume 3, Number 1, December 2020
Jokowi Effect Or Krisdayanti Effect? An Analysis Of The
Phenomenon Of Reverse Coattail Effect By Celebrity Politics In The
2019 Concurrent Election
Efek Jokowi Atau Efek Krisdayanti? Analisis Fenomena Efek Ekor
Jas Terbalik Oleh Pesohor Politik Dalam Pemilihan Umum
Serentak 2019
Talitha Zerlina Surya Dewaa, Wawan Sobarib, Ibnu Asqori Pohanc abc
Universitas Brawijaya Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia
a
[email protected] , [email protected] , [email protected] Abstract
Previous studies on the relationship between the electability of presidential and legislative candidates in Indonesia followed the coattail effect theory. The decision to vote for presidential candidate contributes to the decision to vote for a party or legislative candidate. Nonetheless, this theory is not entirely appropriate in explaining the electability of celebrity legislator candidate in the 2019 Concurrent Election. The case study of elected celebrity politics Krisdayanti in the constituency of East Java V (Malang Regency, Malang City, Batu City) in the 2019 Concurrent Election shows an opposite logic. The decision to vote for Krisdayanti actually led to the decision to vote for the Candidate Pair Joko Widodo-Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf) or it shows the working of the reverse coattail effect theory. Krisdayanti operationally performed dual role as a celebrity politician and celebrity endorser for Jokowi-Ma'ruf. Krisdayanti's electoral influence endorse constituents to vote for Jokowi-Ma'ruf. If it is not used as the main consideration, the voters admit that Krisdayanti's endorsement is able to strengthen their decision to vote for Jokowi-Ma'ruf. In other words, the operation of the reverse coattail effect theory shows the Krisdayanti effect encourage and strengthen the decision to vote for Jokowi-Mar'ruf.
Keywords: the 2019 concurrent elections, krisdayanti, celebrity politics, reverse coattail effect.
Abstrak
Studi-studi sebelumnya tentang keterkaitan antara keterpilihan kandidat calon presiden dan calon legislator di Indonesia mengikuti teori efek ekor jas (coattail effect). Intinya, keputusan memilih calon presiden berkontribusi mendorong keputusan dalam memilih partai atau calon anggota legislatif. Namun teori tersebut tidak sepenuhnya sesuai dalam menjelaskan keterpilihan pesohor kandidat legislator dalam Pemilihan Umum (pemilu) Serentak 2019. Studi kasus keterpilihan pesohor politik Krisdayanti di Daerah Pemilihan Jawa Timur V (Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu) dalam Pemilu Serentak 2019 menunjukkan logika sebaliknya. Keputusan memilih Krisdayanti justru mendorong keputusan memilih Pasangan Kandidat Joko Widodo-Ma‟ruf Amin (Jokowi-Ma‟ruf) atau menunjukkan bekerjanya teori reverse coattail effect (efek ekor jas terbalik). Dalam praktiknya, Krisdayanti berperan ganda sebagai celebrity politician dan celebrity endorser Pasangan Kandidat Jokowi-Ma‟ruf dalam pemilu serentak 2019. Kontribusi pengaruh elektoral Krisdayanti terhadap perolehan suara Pasangan Jokowi-Ma‟ruf didapat melalui praktik endorsment terhadap pasangan Jokowi-Ma‟ruf. Para pemilih di Daerah Pemilihan Jawa Timur V mempertimbangkan endorsement Krisdayanti terhadap Pasangan Jokowi-Amin untuk memutuskan memilih pasangan kandidat tersebut. Bila tidak dijadikan sebagai pertimbangan utama, endorsment Krisdayanti diakui oleh pemilih mampu menguatkan pilihan mereka terhadap pasangan Jokowi- Ma‟ruf. Dengan kata lain, bekerjanya teori
reverse coattail effect menunjukan efek Krisdayanti mendorong dan menguatkan keputusan
memilih pasangan Jokowi-Mar‟ruf.
Kata Kunci: pemilu serentak 2019, krisdayanti, pesohor politik, efek ekor jas terbalik PENDAHULUAN
Indonesianis asal Australia, Gregory Fealy (2014), mengemukakan bahwa “Indonesian politics is increasingly driven by personalities than by party machines”. Personal kandidat lebih berkontribusi daripada peran mesin partai politik. Salah satu manifestasi menguatnya personalitas individu dalam politik Indonesia terlihat melalui keterpilihan pesohor (selebritas) dalam pemilihan umum (pemilu). Sejak Pemilu 2004, puluhan pesohor telah telah menduduki jabatan sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).
Merujuk hasil Pemilu 2004, terdapat 13 dari 48 partai politik (parpol) yang menggandeng pesohor sebagai calon anggota DPR RI. Pada Pemilu 2009, 11 dari 38 partai peserta Pemilu melibatkan pesohor dalam kontestasi legislatif. Kemudian, pada Pemilu 2014, terdapat 10 dari total 12 Partai yang mengajukan pesohor sebagai calon legislator (Nurrochman 2018). Terakhir, pada pemilu serentak 2019, 10 parpol mencalonkan pesohor sebagai anggota DPR RI dari total 16 partai nasional peserta pemilu (Pasha 2019).
Tabel 1 Akumulasi Pencalonan Pesohor oleh Partai Politik Tahun Pemilu
Jumlah Partai Nasional Peserta
Pemilu
Jumlah Partai yang Menggandeng Pesohor Sebagai Calon Anggota DPR RI Persentase 2004 48 13 27 % 2009 38 11 29% 2014 12 10 83% 2019 16 10 62%
Sumber: diolah oleh Penulis, (2019)
Meskipun mengalami pasang surut, jumlah pesohor yang menjadi calon legislator dalam empat pemilu terakhir menunjukkan tren meningkat. Demikian pula dengan angka keterpilihan mereka. Tabel 2 menunjukkan tren yang sama. Angka keterpilihan pesohor meningkat dari 1,2 persen pada Pemilu 2004 menjadi 2,43 persen pada 2019. Perbedaannya dengan pemilu sebelumnya, Pemilu 2019 kali pertama bagi para pesohor berkompetisi dalam pemilu serentak. Pemilu legislatif yang diikuti para pesohor itu dilaksanakan bersamaan dengan pemilu presiden.
Tabel 2. Akumulasi Keterpilihan Pesohor Dalam Pemilu Tahun Jumlah Pesohor yang Mencalonkan diri Jumlah Pesohor yang terpilih Persentase* Jumlah seluruh Anggota DPR Persentase** 2004 38 7 18% 550 1,20% 2009 61 19 31% 560 3,30% 2014 77 22 29% 560 3,92% 2019 91 14 15% 575 2,43%
Sumber: diolah oleh penulis, (2019)
Keterangan:
Persentase*: Persentase pesohor yang terpilih sebagai Anggota DPR RI dari total keseluruhaan pesohor yang terdaftar dalam DCT KPU
Persentase**: Persentase Pesohor yang terpilih sebagai anggota DPR RI dari total kursi di DPR
Dari 14 pesohor yang terpilih dalam Pemilu Serentak 2019, Rano Karno, Rieke Diah Pitaloka, Rachel Maryam, Dede Yusuf dan Krisdayanti merupakan pesohor yang memperoleh suara tertinggi nasional. Di antara lima pesohor tersebut, Krisdayanti merupakan pesohor yang baru kali pertama terlibat dalam kontestasi pemilu. Diva terkenal ini berhasil mendulang perolehan suara tertinggi di Dapil Jatim V yaitu sejumlah 132.131 suara.
Gambar 1.
Perolehan suara Krisdayanti di Dapil Jatim V
Sumber:kpujatim.go.id (2019)
Walaupun besaran kuantitas pesohor di DPR RI tidak signifikan, John Street memandang fenomena bergabungnya pesohor dalam institusi politik sebagai ekspresi politik yang berimplikasi terhadap peningkatan prilaku demokratis (Wheeler 2012).
Celebrity politics adalah pesohor yang memiliki pengaruh dalam politik. Lebih spesifik mengarah pada tindakan menggunakan popularitas sebagai platform untuk mempengaruhi orang lain dalam ranah politik (Ribke 2015). Eric Louw berpandangan bahwa “celebrity politics as the latest manifestation of the fame game” (dalam Ribke 2015). Logika yang digunakan Louw merujuk pada gagasan „makna poputaritas telah mendistorsi debat rasional untuk menjual ide-ide maupun perspektif kepada publik‟.
Dalam menganalisis hubungan pesohor dan politik, John Street mereduksi Tipology celebrity politics Darrell West dan John Orman menjadi 2 kategori, yaitu celebrity politician dan celebrity endorser (Wheeler 2013). Celebrity politician (pesohor politisi) ialah mereka yang terpilih atau dicalonkan dalam pemilu dan berlatar belakang dari kalangan entertainment, industri pertunjukan, olahraga, dan menggunakan popularitasnya untuk terpilih (Street 2004).
Sementara celebrity endorser (pesohor pendorong atau pendukung) adalah pesohor yang berusaha mempengaruhi pelaksanaan kekuasaan politik melalui popularitas dan status mereka (Marsh 2010). Melalui endorsment-nya pesohor membentuk seorang kandidat yang ikut dalam pemilu direkognisi oleh publik (Zudenkova 2011). Endorsment dari pesohor diyakini dapat memengaruhi sikap memilih calon, persepsi terhadap kredibilitas calon, dan intensitas perilaku memilih
(Zudenkova 2011).
Dalam pelaksanaan Pemilu Serentak 2019, Krisdayanti menjalankan peran ganda sebagai pesohor politisi sekaligus pesohor penyokong yang membantu mengkampanyekan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-Perjuangan) dalam pemilu legislatif dan Pasangan Joko Widodo-Ma‟ruf Amin (Jokowi-Ma‟ruf) dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pemilu Eksekutif). Peran Krisdayanti sebagai pesohor penyokong inilah yang kemudian memberikan efek terhadap perolehan suara parpol dan suara calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang diasosiasikan oleh Krisdayanti (reverse coattail effect).
Hingga saat ini traditional coattail effect (efek ekor jas tradisional) masih mendominasi literatur coattail effect. Sementara reverse coattail effect (efek ekor jas terbalik) belum banyak di eksplorasi oleh para sarjana politik di seluruh dunia (Golder 2006), termasuk di Indonesia. Barry Ames ialah sarjana yang mempopulerkan istilah reverse coattail effect. Ia menjelaskan bahwa efek ekor jas terbalik terjadi ketika kandidat populer di tingkat bawah menopang kandidat partai mereka untuk level pemerintahan yang lebih tinggi (Ames, 1994).
Ames (1994) menambahkan, calon presiden memiliki kesulitan untuk menjangkau semua pemilihnya. Dengan ini, reverse coattails merupakan teknik pemasaran modern untuk menjangkau pemilih secara langsung, melalui endorsment yang dilakukan oleh kandidat legislatif dan partai pengusung di tingkat lokal (Broockman 2009). Kandidat legislatif dan partai pengusung tingkat lokal memiliki kekuatan untuk memobilisasi dan memengaruhi suara pemilih.
Sebagian besar literatur yang membahas pesohor politik masih menaruh perhatian pada strategi kemenangan, perubahan habitus sebelum dan sesudah bergabungnya pesohor ke dalam institusi politik, dan representasi kapabilitas. Kajian seputar pesohor politik yang melihat peranan pesohor sebagai politician maupun endorser, yang dijalankan secara terpisah maupun bersamaan jarang dieksplorasi. Hal ini tidak jauh berbeda dengan kajian coattail effect yang juga masih didominasi coattail effect traditional yang melihat efek kontaminasi kandidat presiden terhadap konfigurasi suara partai di parlemen. Kajian yang membahas seputar praktik reverse coattail effect masih sulit ditemukan, apalagi dalam konteks Pemilu Serentak. Inilah yang kemudian menjadi celah akademik yang berusaha diisi oleh studi ini.
Lebih spesifik melalui paradigma penelitian konstruktivis, studi ini bertujuan untuk memperluas kajian celebrity politics dengan mengkaji peran ganda Krisdayanti
sebagai celebrity politician dan celebrity endorser. Lebih lanjut studi ini mengeksplorasi konsep dan praktik reverse coattail effect yang terjadi pada Pemilu Serentak 2019. Penelitian ini secara operasional lebih spesifik menelaah bagaimana hubungan kekuatan elektoral Krisdayanti terhadap konfigurasi suara PDI-Perjuangan dan pasangan Jokowi-Ma‟ruf.
METODE
Studi ini menggunakan paradigm post-positivist dengan data kualitatif sebagai cara berfikir, analisis dan eksplorasi peran celebrity politics serta praktik reverse coattail effect yang berlangsung dalam Pemilu Serentak 2019. Argumentasi utama pilihan paradigma ini berdasarkan pada alasan ontologis, justifikasi epistimologis, argumen aksiologis, dan argumen retoris, serta pertimbangan metodologis yang tepat (Creswell 2007).
Guna mencapai tujuan tersebut, secara oprasional riset ini menggunakan studi kasus sebagai metode penelitian. Alasan esensial mengaplikasikan metode studi kasus karena penelitian ini melakukan “eksplorasi suatu kajian, aktivitas dan proses satu atau lebih individu” (Stake dalam Creswell 2007). Eksplorasi penting untuk mengetahui bagaimana peran Krisdayanti sebagai pesohor politisi dan pesohor penyokong, serta praktik ekor jas terbalik yang muncul sebagai efek kontaminasi dalam Pemilu Serentak 2019.
Relevan dengan metode penelitian yang dipilih, studi ini menggunakan wawancara dan observasi untuk menganalisis bagaimana peran ganda Krisdayanti serta praktik reverse coattail effect pada Pemilu Serentak 2019, khususnya di Daerah Pemilihan (Dapil) Krisdayanti atau Dapil Jawa Timur V (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu).
Lebih spesifik lokasi penelitian yang dipilih adalah wilayah di Dapil Jatim V yang menjadi lumbung suara Krisdayanti. Pertama, lumbung suara Krisdayanti di Kota Malang, terletak di Kecamatan Sukun, Kelurahan Bandungrejosari, tepatnya di TPS 16 (RW 2). Kedua, perolehan suara Krisdayanti terbesar di Kabupaten Malang, terletak di Kecamatan Dampit, Desa Pamotan, tepatnya di TPS 50 (Dusun Dawuhan). Ketiga, persentase perolehan suara tertinggi Krisdayanti di Kota Batu, terletak di Kecamatan Batu, Kelurahan Sisir tepatnya di TPS 9 (Jalan Kapten Ibnu).
Selanjutnya, data digali dari nasumber yang memiliki pengetahuan dan/atau pengalaman langsung yaitu, Krisdayanti sebagai aktor utama yang menjalankan peran
sebagai pesohor politisi dan pesohor penyokong dalam Pemilu Serentak 2019. Selain itu, studi ini mewawancarai Ketua Tim Krisdayanti, Anggota Tim Pemenangan Krisdayanti, dan pemilih Dapil Jatim V (Kota Malang, Kabupeten Malang, dan Kota Batu).
Pemilih ditentukan berdasarkan kriteria „informan‟ sebagai sumber bukti yang didapat dari wawancara (Yin 2003). Informan yang diwawancarai adalah pemilih Dapil Jatim V yang memilih Krisdayanti sekaligus pasangan Jokowi-Ma‟ruf dalam Pemilu Serentak 2019. Informan juga merupakan pemilih Dapil Jatim V yang kediamannya dikunjungi langsung oleh Krisdayanti saat proses Kampanye dan bisa membantu mengakses informan lainnya (snow ball). Terdapat 26 pemilih Dapil Jatim V di KabupatenMalang, Kota Malang, dan Kota Batu yang menjadi informan. Akumulasi keseluruhan informan dalam penelitian ini berjumlah 32 orang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Krisdayanti Sebagai Pesohor Politik (celebrity politics)
Boorstin (1983) berpandangan bahwa „pesohor adalah orang yang dikenal luas karena keterkenalannya‟. Argumen Boorstin ini relevan dengan temuan studi ini. Dalam pencalonannya sebagai anggota DPR RI tidak sukar bagi masyarakat Dapil Jatim V untuk mengetahui atau mengenal figur Krisdayanti. Hal ini berkenaan dengan label Diva Pop Indonesia yang melekat padanya.
Laporan Hasil Survey Perilaku Memilih Masyarakat Dapil V Jawa Timur pada Pemilu Legislatif 2019 yang dilakukan PuSDeHAM Surabaya (28 September- 8 Oktober 2018) (setelah pengumuman Daftar Calon Tetap) menunjukkan popularitas Krisdayanti menempati posisi tertinggi di antara Calon Anggota DPR RI lainnya. Gambar 2 menunjukkan popularitas Krisdayanti. Sebanyak 89 persen pemilih Dapil Jatim V yang menjadi responden dalam survei tersebut mengetahui/mengenal Krisdayanti. Rekognisi terhadap Krisdayanti bahkan mengungguli para caleg petahana, seperti Ahmad Basarah (PDIP), Latifah Shohib (PKB), Ridwan Hisyam (Golkar), dan Kresna Dewanata P (Nasdem).
Gambar 2.
Popularitas Caleg DPR RI Dapil Jawa Timur V
Sehubungan dengan popularitas, Mills (dalam Ribke 2015) menyebutkan bahwa pesohor tidak memiliki otonomi dan kekuatan yang efektif, mereka menempati posisi istimewa karena popularitasnya. Hal ini diakui oleh Ketua Tim Pemenangan Krisdayanti,
“Ada 3 (tiga) poin yang menentukan kemenangan Ibu Krisdayanti (KD). Satu, soal popularitas dia. Dari 100 orang yang disurvei, hanya 8 orang yang menyatakan tidak kenal KD. Yang kedua, adalah Tim, dan tiga adalah dukungan dari suaminya. Tiga poin ini yang menentukan” (Wawancara, 12 Desember 2019).
Apa yang disampaikan oleh Ketua Tim Pemenangan Krisdayanti tersebut dibenarkan langsung oleh Krisdayanti melalui pernyataannya ketika ditanya prihal faktor yang mendeterminasi keterpilihannya sebagai Anggota DPR RI;
“Ya mungkin selain dikenal, saya turun langsung ke rakyat, saya mendatangi hampir lebih 500 titik. Ini dasar pemikiran suami saya, secara strategi dan juga dukungan moril materil semuanya saya dapatkan dari beliau, baik arahan maupun bimbingan. Sempat juga drop karena memang kita tahu di atas-atas kita banyak incumbent. Tapi Alhamdulillah, berkat ketekunan dan juga kerja keras seluruh tim dan relawan saya terpilih” (Wawancara, 13 Januari 2020).
Sumber: Laporan Survei Perilaku Memilih Masyarakat Dapil V Jawa Timur pada Pemilu Legislatif 2019, oleh Pusat Studi Demokrasi dan HAM (PuSDeHAM) Surabaya (2018)
Pernyataan Krisdayanti dan Ketua Tim Pemenangannya tersebut secara tidak langsung memperluas pandangan Mills (dalam Ribke 2015). Popularitas bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan Krisdayanti dalam menempati posisi sebagai legislator saat ini. Terdapat dua faktor lain yang berkontribusi atas keterpilihan Krisdayanti, yaitu kontribusi langsung dari suaminya dan peran tim pemenangan/relawan.
Salah satu anggota tim pemenangan Krisdayanti mengungkapkan bahwa Suami Krisdayanti, Raul Lemos memiliki peranan besar dalam penyusunan gagasan hingga strategi pemenangan Krisdayanti. Salah satu contohnya jargon “Perempuan Kuat, Indonesia Hebat” yang diusung Krisdayanti digagas langsung oleh Raul Lemos. Tidak hanya itu Raul juga senantiasa setia menemani Krisdayanti dalam setiap kunjungan kampanye (Wawancara, 11 Januari 2020). Kemudian, keterpilihan Krisdayanti juga ditopang oleh kerja keras tim serta relawan yang membantu proses pemenangannya.
Mengacu pada pemaknaan celebrity politics menurut Eric Louw, „celebrity politics mendistorsi debat rasional untuk menjual ide-ide dan perspektif kepada pemilih‟ kontekstual dengan jawaban yang diberikan pemilih Dapil Jatim V; “Diluar dia membawa misi apa, yang saya tau dia terkenal, menarik, cantik, ya gitu aja” (Wawancara, 25 November 2019).
Pemilih tidak menjadikan gagasan/ide yang diusung Krisdayanti sebagai pertimbangan dalam menentukan pilihannya. Kapasitas Krisdayanti pun menjadi salah satu aspek yang luput dari pertimbangan pemilih.
Berikut jawaban pemilih Dapil Jatim V ketika ditanya terkait alasan memilih Krisdayanti;
“Ngefans mbak sama Krisdayanti, sebagai orang yang suka ngeliat di Tv yoo jadi alasan mabak” (Wawancara, 25 November 2019).
“Iya mbak, saya milih dia karena dia seorang penyanyi, orangnya ramah, ngerti rakyat kecil” (Wawancara, 26 November 2019).
“Ya dari dulu saya seneng Krisdayanti mbak, mulai dia jadi penyanyi di Jakarta” (Wawancara, 27 November 2019).
“Karena memang dee‟ (dia) artis semua orang sudah tau. „wes artis langsung coblos ae‟ (karena artis langsung coblos saja)” (Wawancara, 26 November 2019).
B. Krisdayanti Sebagai Pesohor Politisi (Celebrity Politician)
Street (2004) mengemukakan bahwa untuk memperoleh kekuasaan, celebrity politician cenderung mengkapitalisasi posisi mereka sebagai publik figur yang populer. Melalui pandangannya ini, Street secara implisit menyampaikan popularitas saja tidak cukup untuk menunjang keterpilihan pesohor. Namun lebih jauh popularitas harus diimbangi dengan kemampuan mengkapitalisasikannya. Ini mengungkap bahwa tidak semua pesohor yang mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI pada Pemilu Serentak 2019 memiliki kemampuan untuk mengkapitalisasi modal popularitas yang dimilikinya (91 pesohor). Hanya terdapat 15 persen atau setara dengan 14 orang pesohor yang mampu terpilih untuk menduduki kursi DPR RI.
Kemampuan Krisdayanti dalam mengkapitalisasikan popularitas yang dimilikinya ini dimanifestasikan dalam starategi kampanye. Studi ini mengklasifikasikan strategi kampanye Krisdayanti menjadi empat yaitu; segmentasi masa, lokasi kunjungan, pendekatan/metode kampanye, dan kemampuan menempatkan diri.
Pertama, segmentasi masa. Secara spesifik Krisdayanti menetapkan perempuan (ibu- ibu) sebagai segmentasi utama dalam kampanyenya. Ketua Tim Pemenangan Krisdayanti menyebutkan; “Segmentasi utama kita ibu-ibu, karena tagline-nya „Perempuan Kuat, Indonesia Hebat‟” (Wawancara, 12 Desember 2019). Melalui Jargon “Perempuan Kuat, Indonesia Hebat” yang digagas oleh suaminya, Krisdayanti berhasil membangkitkan semangat perempuan (ibu-ibu) untuk menjadi pelopor pemenangannya. Ketua Tim Pemenangan menyampaikan:
“KD terpilih karena mayoritas hampir 100 persen timnya (relawan) itu ibu- ibu. Ternyata perempuan, ibu- ibu dalam politik itu sesuatu yang hebat sekali. Dan kita sudah buktikan di Krisdayanti. Jadi Perempuan Kuat Indonesia Hebat, ini fakta di Ibu Krisdayanti” (Wawancara, 12 Desember 2019).
Kedua, lokasi kunjungan. Selama proses kampanye, terdapat 500 titik kunjungan yang didatangi langsung oleh Krisdayanti. Adapun lokasi yang menjadi tempat kunjungan kampanye adalah rumah pemilih Dapil Jatim V yang dirasa tidak diperhitungkan di wilayah tempat tinggalnya. Anggota tim pemenangan Krisdayanti menyampaikan “Kita sadar bahwa KD itu populer, caranya gimana, ya sudah jemput bola aja, dateng ke rumah-rumah yang mungkin sekiranya nggak dianggep sama desa itu (Wawancara, 07 November 2019). Tim pemenangan tidak menjadikan kepala desa
sebagai perantara untuk bertemu warga, karena dinilai lebih efektif bertatap muka langsung dengan warga.
Ketiga, pendekatan/metode kampanye. Popularitas yang melekat pada Krisdayanti menginspirasi tim pemenangan untuk mengadopsi pendekatan yang menonjolkan sisi keartisan Krisdayanti, namun tetap menyesuaikannya dengan konteks pencalonan Krisdayanti sebagai Anggota DPR RI. Tim pemenangan menyampaikan:
“Karena dia pesohor yang jadi politisi ada memang konsepan yang kita susupi misalnya, contoh gimana sih biar keliatan politisinya, oke kita ngomong nasionalisme. Gimana kalo di setiap titik nggak cuman nyanyi, gimana kalo kita ngomong menghafal pancasila, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya atau lagu nasional lain” (Wawancara, 07 November 2019).
Pernyataan tim pemenangan Krisdayanti ini dikonfirmasi oleh Krisdayanti: “Jadi dengan hadiah selfie, kemudian kita bacakan Pancasila untuk menanamkan cinta tanah air dan bangsa, trus kita nyanyi bareng. Jadi saya bawa toa kemana- mana. Sambil bawa speaker kemana-mana, saya nyanyi gratis dan itu cara yang paling sederhana dan alhamdulillah punya impact yang luar biasa untuk semua konstituen” (dikutip dari Mata Najwa, 2019).
Keempat, kemampuan menempatkan diri. “Ada identitas Ibu Krisdayanti yang tidak ditahu orang. Kultur Jawa-nya sangat agung sekali menurut saya” (Wawancara Tim Pemenangan, 12 Desember 2019). Selain berkunjung ke Desa dan Dusun yang terdapat di Malang Raya, diketahui bahwa Krisdayanti juga memiliki kecerdasan sosial yang baik. Hal ini terlihat melalui kemampuannya dalam menempatkan diri. Contoh sederhanya, ketika melakukan kunjungan kampanye, Krisdayanti bersikap ramah dan santun dan tak jarang ia juga menggunakan bahasa Jawa untuk mencairkan sekat dalam proses interaksinya dengan masyarakat Dapil Jatim V.
Kemudian, dalam menganalisis peran Krisdayanti sebagai pesohor politisi, studi ini menggunakan Karakteristik Peran Celebrity politician Marsh, Hart dan Tindall (2010), yang diturunkan dalam empat unsur yaitu fondasi, nature dari kepemimpinan, hubungan dengan lembaga politik, dan modal kepemimpinan.
Tabel 3. Krisdayanti Sebagai Celebrity Politician
Unsur Krisdayanti Sebagai Celebrity Politician
Fondasi Krisdayanti yang sudah memulai karirnya sebagai seorang penyanyi sejak usia 12 tahun, berusaha mencari jabatan di institusi politik, dengan mencalonkan diri sebagai Anggota DPR RI dalam Pemilu Serentak 2019
Nature dari
kepemimpinan
Dengan keterpilihannya, Krisdayanti menempati posisi sebagai Anggota Komisi IX DPR RI.
Hubungan dengan lembaga politik
Dengan sifat formal, melekat dan mendukung sistem, Krisdayanti menerima tawaran PDI- Perjuangan untuk bergabung menjadi bagian partai. Kemudian ia mengikuti kompetisi elektoral dan bersaing dengan 7.968 Caleg DPR RI untuk mengisi satu diantara 575 kursi. Atau lebih spesifik, Krisdayanti berkompetisi dengan 115 Caleg di Dapil Jatim V untuk mengisi 8 kursi yang tersedia.
Modal
Kepemimpinan
Sebagai figur terkenal dari luar politik ini kali pertama bagi Krisdayanti untuk mengikuti kontestasi elektoral dan kemudian berhasil terpilih dengan perolehan suara terbesar di Dapilnya.
Berdasarkan keempat unsur tersebut Krisdayanti dapat diidentifikasi sebagai pesohor politisi (celebrity politician), yang mencari jabatan politik untuk menempati posisi kepemimpinan formal di DPR RI melalui kompetisi elektoral pada Pemilu Serentak 2019.
C. Krisdayanti Sebagai Pesohor Penyokong (Celebrity Endorser)
Selain berperan sebagai celebrity politician, Krisdayanti juga memiliki peran ganda sebagai celebrity endorser yang berusaha memengaruhi pemilih dengan popularitas dan status yang melekat padanya. Dalam Pemilu Serentak 2019 Krisdayanti turut serta dalam mengkampanyekan PDI-Perjuangan (PDI-P) dan Pasangan Jokowi-Ma‟ruf. “Iya betul KD memang tugasnya double, dia juga bantu menangin (memenangkan) suara PDI dan Jokowi juga (Wawancara Tim Pemenangan, 07 November 2019).
Bahkan melalui keterlibatannya sebagai bagian dari Tim Pemenangan Nasional (TKN), Krisdayanti tidak hanya mengkampanyekan PDI-Perjuangan serta Pasangan Jokowi-Ma‟ruf di Daerah Pemilihannya saja (Dapil Jatim V), namun juga di berbagai daerah lain di Indonesia.
Sama halnya dengan celebrity politician, dalam menganalisis peran Krisdayanti sebagai endorser, studi ini juga menggunakan Karakteristik peran celebrity endorser yang diadopsi dari Marsh, „t Hart dan Tindall (2010).
Tabel 4. Krisdayanti Sebagai Celebrity Endorser
Unsur Krisdayanti Sebagai Celebrity Endorser
Fondasi Sebagai seorang pesohor yang digandrungi Krisdayanti memberikan bantuan berupa dukungan publik untuk PDI- Perjuangan dan Pasangan Jokowi- Ma‟ruf Amin.
Nature dari
kepemimpinan
Momentum Pimilu Serentak 2019, dimanfaatkan Krisdayanti sebagai sarana untuk mempengaruhi prilaku penggemar di arena politik. Hubungan dengan
lembaga politik
Krisdayanti berusaha memobilisasi dukungan pemilih untuk PDI- Perjuangan dan Pasangan Jokowi- Ma‟ruf Amin melalui endorsment yang dilakukannya.
Modal Kepemimpinan Dikenal luas dengan sebutan Diva Indonesia, Krisdayanti memiliki akses terhadap publik khususnya Pemilih Dapil Jatim V.
Sumber: diolah (2020)
Melalui keempat unsur tersebut Krisdayanti dapat diidentifikasi sebagai celebrity endorser. Kemudian, dalam upaya menggambarkan secara spesifik bagaimana peran Krisdayanti sebagai celebrity endorser, studi ini mengelaborasi bagaimana endorsement Krisdayanti terhadap PDI-Perjuangan dan Pasangan Jokowi-Ma‟ruf.
D. Krisdayanti sebagai endorser PDI-Perjuangan
Ketua umum PDI-Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan perjuangan kepada seluruh kader partainya; “Seorang kader seharusnya selalu mengabdi dan berjuang buat kebesaran partainya! Bukan sebaliknya! Bergantung dan mencari makan pada partainya! CAMKAN!”. Melalui seruan perjuangan ini kader PDI-Perjuangan dituntut berjuangan dan mengabdi untuk kebesaran partainya. Salah satu manifestasi dari perjuangan dan pengabdian yang telah dilakukan Krisdayanti ialah dengan konsistensinya dalam mempromosikan partai berlogo banteng ini disetiap kunjungan kampanyenya.
Berbeda dengan kader lainnya, PDI- Perjuangan kerap kali melibatkan Krisdayanti dalam setiap kegiatan partai sebagai pengisi acara (menyanyi). Selain itu, Krisdayanti menjadi brand Ambassador atribut PDI-P pada Pemilu Serentak 2019. Inilah yang kemudian menjadikan endorsment Krisdayanti istimewa. Sementara itu, sebagai salah satu ikon partai, Krisdayanti lebih dominan dalam mempromosikan PDI-P dibandingkan dengan 11 (sebelas) pesohor lain yang diusung oleh PDI-P.
E. Krisdayanti Sebagai Endorser Pasangan Jokowi-Ma’ruf
Dalam wawancara langsung, Krisdayanti menjawab lugas ketika ditanya perihal endorsment yang dilakukannya terhadap pasangan Joko Widodo-Ma‟ruf Amin, “Iya, saya juga mendorong kemenangan pak Jokowi, Partai dan juga saya sendiri (Wawancara, 13 Januari 2020). Dengan pernyataan senada Ketua Tim Pemenangan Krisdayanti menguatkan:
“Karena Krisdayanti juga bertugas untuk itu. Di 500 titik Kunjungannya KD juga mengkampanyekan Jokowi. KD berkontribusi besar terhadap kemenangan Jokowi. Bahkan ibu Krisdayanti bukan hanya di Dapilnya, dia juga dipanggil di Provinsi lain untuk kampanye Jokowi. Karena dia juga bagian dari Tim Kampanye Nasional Jokowi. Dia sampaikan ke bawah, „ibu- ibu, ini Jokowi ayo kita pilih dua kali dia orang baik, kalo ada yang lebih baik nggak papa pilih yang lain, tapi kan dia baik. Jokowi dengan pengalamannya sangat lengkap ibu- ibu” (Wawancara, 12 Desember 2019).
Pernyataan Ketua Tim Pemenangan Krisdayanti memberikan gambaran bagaimana Krisdayanti mempersuasi pemilih Dapil Jatim V untuk memberikan suaranya kepada pasangan Jokowi-Ma‟ruf. Dengan mengkampanyekan Pasangan Jokowi-Ma‟ruf, Krisdayanti berperan membentuk bagaiman pasangan Capres dan Cawapres ini dilihat oleh publik.
Endorsment Krisdayanti terhadap Jokowi-Ma‟ruf dijadikan pemilih sebagai pertimbangan untuk memilih Pasangan Jokowi-Ma‟ruf. Studi ini juga menunjukan ketika tidak dijadikan pertimbangan utama, endorsment tersebut diakui oleh pemilih mampu menguatkan pilihan mereka terhadap pasangan Jokowi-Ma‟ruf.
Berikut jawaban Pemilih Dapil V Jatim di Kota Malang, ketika ditanya „apakah endorsment yang dilakukan Krisdayanti menjadi pertimbangan dalam memilih pasangan Jokowi-Ma‟ruf Amin?‟;
“Kalo pertimbangan utama sih ndak, tapi menguatkan pilihan yoo iya” (Wawancara, 25 November 2019).
“Karena kita basisnya Banteng jadi milih Jokowi, cuman karena Krisdayanti ngajak milih Jokowi, yoo makin yakin” (Wawancara 25 November 2019).
“Yo podo- podo merah yo mendukung satu sama lain mbak, milih Krisdayanti, yoo milih Jokowi” (Wawancara 25 November 2019).
Berbeda dengan Kota Malang, berikut jawaban Pemilih Dapil Jatim V di Kabupaten Malang ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama;
mutlak sekali suara pak Jokowi. Mutlak sekali, dikuatkan Krisdayanti wajah sudah populer” (Wawancara 26 November 2019).
“Bu Kris yo bilang „Presiden nomor satu DPR nomor dua‟. Bu Kris menang, Pak Jokowi menang, jagoku menang. Alhamdulillah wes” (Wawancara 226 November 2019).
“Kan Krisdayanti aja memberikan dukungan ke bapak Jokowi ya saya juga. Juga kan pak Jokowi sudah 5 tahun kemaren ya mending diselesaikan daripada mulai lagi dari nol” (Wawancara 26 November 2019).
“Itu memang sudah satu paket” (Wawancara 26 November 2019).
“Pertimbangan kesatu karena Krisdayanti, kedua pak Jokowi memilikirkan rakyat yang tidak mampu seperti saya. Kalo saya itu di dalam doa mendoakan Krisdayanti mendoakan bapak Jokowi” (Wawancara 26 November 2019).
Jawaban variatif pemilih Dapil Jatim V di Kabupaten Malang tersebut, juga diperoleh di Kota Batu
“Itu jadi pertimbangan, karena warga yang milih Krisdayanti di sini bisa dipastikan juga milih Jokowi” (Wawancara 27 November 2019).
“Krisdayanti dukung Jokowi yo awak‟e dewe melu. (Krisdayanti dukung Jokowi ya kita ikut)” (Wawancara 27 November 2019).
“Salah satunya itu iya, tapi kan sebelum tau Krisdayanti mencalonkan saya sudah punya simpati dengan Jokowi apalagi ditambah Krisdayanti milih Jokowi. Jadi ya pilihan saya itu” (Wawancara 27 November 2019).
Dari pernyataan pemilih Dapil Jatim V di Malang Raya tersebut tergambarkan bagaimana praktik reverse coattail effect bekerja. Pertama, keputusan memilih calon presiden karena didorong oleh keputusan memilih Krisdayanti. Kedua, sosok Krisdayanti menguatkan pilihan terhadap calon presiden. Ketiga, sosok Krisdayanti menguatkan identifikasi partai terhadap PDI-P dan calon presiden. Keempat, keputusan memilih Krisdayanti diikuti keputusan memilih Jokowi.
F. Kontribusi Kekuatan Elektoral Krisdayanti Terhadap Perolehan Suara PDI-Perjuangan
Berdasarkan hasil perhitungan resmi Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia, PDI-Perjuangan memperoleh suara tertinggi sebanyak 27,5 juta suara atau setara 128 Kursi di DPR RI periode 2019-2024. Capaian ini Konsisten hingga ke tingkat Provinsi, salah satunya Jawa Timur. Hasil rekapitulasi suara partai dan Caleg di seluruh Dapil di Jawa Timur, menempatkan PDI- Perjuangan di urutan pertama dengan perolehan suara 4.319.666 (Andayani 2019). Melalui metode konversi suara Sainte Lague, terdapat 20 kader PDI-P di Jawa Timur yang berhasil melenggang ke Senayan.
Di Jawa Timur, dari total keseluruhan 11 Dapil suara tertinggi Caleg PDI-Perjuangan tersebar di empat daerah pemilihan yaitu Dapil Jatim 1 (Puti Guntur
Soekarno), Dapil Jatim V (Krisdayanti), Dapil Jatim VI (Guruh Soekarno Putra), dan Dapil Jatim VII (Ine Ammania). Inilah yang kemudian menjadi prestasi bagi Krisdayanti. Raihan suaranya hampir mengimbangi suara Calon Wagub Puti Guntur Soekarno dan mengungguli suara Caleg PDI-P dengan nama besar lain, seperti Bambang DH (Ketua DPP PDI-P Bidang Pemenangan Pemilu (Bappilu), Wakil MPR RI sekaligus Wasekjen DPP PDI- Perjuangan Ahmad Basarah, Arteria Dahlan (Caleg Petahana), hingga Johan Budi Sapto (Jubir Istana Kepresidenan) (Koloway 2019).
Gambar 3. Rekapitulasi Suara Partai PDI-Perjuangan di Dapil Jatim V
Akumulasi 132.131 perolehan suara Krisdayanti setara dengan 23,58 persen raihan suara PDI-P di Dapil Jatim V. Fakta inilah yang mengafirmasi teori Ames (1994) tentang reverse coattail effect (efek ekor jas terbalik). Sebagai kandidat populer, secara tidak langsung Krisdayanti memberikan efek kontaminasi terhadap Perolehan suara PDI-P dan Pasangan Jokowi-Ma‟ruf. Efek kontaminasi tersebut merupakan output dari endorsment yang dilakukan oleh Krisdayanti dalam setiap kampanyenya, utamanya di Dapil Jatim V.
G. Kontribusi Kekuatan Elektoral Krisdayanti Terhadap Perolehan Suara Pasangan Jokowi-Ma’ruf
Dalam konteks Indonesia, Pyne dkk (2002), Triono (2017), dan Solihah (2018) meyakini skema pemilu serentak memungkinkan terjadinya coattail effect. Preferensi calon Presiden memengaruhi keterpilihan anggota legislatif partai koalisi. Akan tetapi dalam praktiknya, teori ini tidak bekerja. Sebaliknya, studi ini menunjukan secara spesifik bagaimana reverse coattail effect dari pesohor calon anggota legislatif mendorong keputusan memilih calon presiden dalam Pemilu Serentak 2019.
Pada Pemilu Serentak 2019 Krisdayanti turut serta berjuang untuk kemenangan pasangan Jokowi-Ma‟ruf melalui endorsment yang dilakukannya, baik di dapilnya maupun di dapil lain di Indonesia. Krisdayanti juga secara intensif mempromosikan Capres Petahana tersebut melalui akun media sosialnya. Dengan kata lain Krisdayanti turut berkontribusi terhadap kemenangan Jokowi sebagai kandidat Presiden yang diusung oleh partai yang sama atau mencalonkan Krisdayanti. Krisdayanti memiliki kekuatan untuk mempersuasi pemilih untuk secara bersamaan memilih dirinya dan Capres Jokowi.
Strategi operation reverse coattail yang digencarkan dapat diidentifikasi sebagai salah satu faktor pendorong kemenangan Jokowi-Ma‟ruf dalam Pemilu Serentak 2019. Selain jawaban langsung dari informan, data perolehan suara Jokowi-Ma‟ruf di tingkat wilayah (Dapil Jatim V) memperlihatkan adanya kesesuian dengan perolehan suara Krisdayanti.
Di Kota Malang perolehan suara terbesar Krisdayanti dan pasangan Jokowi-Ma‟ruf terdapat di Kecamatan Sukun. Perolehan suara Krisdayanti sebesar 8.514 suara berkontribusi terhadap perolehan suara pasangan Jokowi-Ma‟ruf sebanyak 86.150 suara. Hal serupa juga terjadi Kota Batu. Perolehan suara terbesar keduanya terletak di Kecamatan Batu. Perolehan suara Krisdayanti sebesar 7.017 suara berkontribusi atas perolehan suara Pasangan Jokowi-Ma‟ruf sejumlah 44.949 suara.
Berbeda dengan dua wilayah di Malang Raya lainnya, di Kabupaten Malang perolehan suara Krisdayanti dan pasangan nomor urut 1 Jokowi-Ma‟ruf terletak di wilayah yang berbeda. Suara Krisdayanti terbesar diperoleh di Kecamatan Dampit (6.284 suara), sedangkan raihan suara terbesar Pasangan Jokowi-Ma‟ruf di Kecamatan Singosari. Walaupun demikian perolehan suara Pasangan Jokowi-Ma‟ruf di Dampit (61.334 suara) tetap terbilang besar karena menempati posisi ketiga setelah perolehan suara di Kecamatan Singosari dan Pakis.
KESIMPULAN
Studi ini menyimpulkan empat poin kesimpulan. Sebagai celebrity politics, popularitas Krisdayanti tidak menjadi satu-satunya faktor penentu keberhasilannya terpilih menjadi anggota DPR RI. Terdapat dua faktor lain yang turut berkontribusi, yaitu kontribusi langsung dari suaminya dan kerja keras tim pemenangan dan/relawan relawan yang membantu proses pemenangannya.
Kedua, Krisdayanti miliki peran ganda sebagai celebrity politician sekaligus celebrity endorser dalam pelaksanaan pemilu serentak 2019. Sebagai celebrity politician, Krisdayanti tidak hanya terkenal, namun lebih dari itu Krisdayanti juga memiliki kemampuan untuk mengkapitalisasi modal popularitas yang dimilikinya. Hal ini termanifestasi dalam stategi kampanye yang digunakan olehnya. Sebagai celebrity endorser PDI-P dan pasangan Jokowi-Ma‟ruf dalam Pemilu Serentak 2019, Krisdayanti turut serta dalam mengkampanyekan PDI-Perjuangan dan Pasangan Jokowi-Ma‟ruf. Bahkan melalui keterlibatannya sebagai bagian dari Tim Pemenangan Nasional (TKN), Krisdayanti tidak hanya mengkampanyekan PDI-P dan pasangan Jokowi-Ma‟ruf di dapilnya saja (Dapil Jatim V), namun juga berkampanye di berbagai daerah lain di Indonesia.
Ketiga, kontribusi kekuatan elektoral Krisdayanti terhadap perolehan suara pasangan Ma‟ruf dilakukan melalui endorsment terhadap pasangan Jokowi-Ma‟ruf. Para pemilih di Dapil Jatim V mempertimbangkan endorsement Krisdayanti terhadap Pasangan Jokowi-Ma‟ruf untuk memutuskan memilih pasangan kandidat tersebut. Bila tidak dijadikan sebagai pertimbangan utama, endorsment Krisdayanti diakui oleh pemilih mampu menguatkan pilihan mereka terhadap pasangan Jokowi- Ma‟ruf.
Berdasarkan uraian tersebut, implikasi akademis dari studi ini, yaitu menunjukan dampak perubahan skema pemilu (pemilu serentak) memungkinkan adanya peran ganda celebrity politics yakni sebagai politician sekaligus endorser. Dalam praktiknya, pemilu serentak juga mendorong terjadinya reverse coattail effect atau efek kandidat legislatif pesohor terhadap keterpilihan calon presiden. Dengan demikian, studi ini menyanggah studi sebelumnya dari Pyne dkk (2002), Triono (2017), dan Solihah (2018) tentang efek ekor jas dalam pemilu (pilihan terhadap calon presiden berkontribusi mendorong keputusan dalam memilih partai atau calon anggota legislatif). Sebaliknya, pemilu serentak justru memungkinkan bekerjanya efek ekor jas terbalik. Keputusan menjatuhkan pilihan terhadap kandidat calon presiden didorong oleh keputusan pilihan
terhadap pesohor calon legislator dan pilihan terhadap pesohor calon legislator menguatkan keputusan memilih calon presiden.
DAFTAR PUSTAKA
Ames, B. (1994) „The in Reverse Coattails Effect : Local Party Brazilian Presidential Election‟, American Political Science Review, 88.1. pp. 95–111.
Bobby Koloway. (2019). „Rebut 20 Kursi DPR RI PDIP Juara Pemilu Di Jatim Kalahkan PKB, Bikin Demokrat PAN PKS Gigit Jari‟, TribunMadura.Com.
Boorstin, D. (1983). From hero to celebrity. Celebrity Culture Reader, 72-90.
Creswell, J.W. (2007). Qualitative inquiry and research method: Choosing among five approaches. Thousand Oaks, CA: Sage.
Broockman, D. E. (2009). Do congressional candidates have reverse coattails? Evidence from a regression discontinuity design. Political Analysis, 418-434.
Marsh, D., Hart, P. T., & Tindall, K. (2010). Celebrity politics: The politics of the late modernity? Political studies review, 8(3), 322-340.
Dwi Andayani. (2019). „Rekapitulasi Nasional KPU: PDIP Tertinggi Di Jatim, PKB Kedua‟, Detiknews, <https://news.detik.com/berita/d-4549596/rekapitulasi-nasional-kpu-pdip-tertinggi-di-jatim-pkb-kedua> [accessed 5 February 2020].
Fealy, G. (2014). Indonesia's Legislative Elections: The Importance of Money and Personalities.
Street, J. (2004). Celebrity politicians: Popular culture and political representation. The
British journal of politics and international relations, 6(4), 435-452.
Golder, M. (2006). Presidential coattails and legislative fragmentation. American
Journal of Political Science, 50(1), 34-48.
Ribke, N. (2015). Celebrity Politics: a Theoretical and Historical Perspective. In A
Genre Approach to Celebrity Politics (pp. 1-15). Palgrave Macmillan, London. Nurrochman. (2018). „Caleg Pesohor Dan Pragmatisme Partai‟, detik.com,
<https://news. detik.com/kolom/d-4136595/caleg-pesohor-dan-pragmatisme-parpol> [accessed 25 September 2019].
Pusat Studi Demokrasi dan HAM (PuSDemHAM). (2019). „Laporan Survey Perilaku Memilih Masyarakat Dapil V Jawa Timur Pada Pemilu Legislatif 2019‟. Surabaya: PuSDeHAM. pp. 1–65.
Solihah, R. (2018). Peluang dan tantangan pemilu serentak 2019 dalam perspektif politik. JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, 3(1), 73-88.
Ulfi Ramadhania Pasha.(2019). „Ini Daftar Artis Yang Lolos Ke DPR Di Pemilu 2019‟, Cermati.Com, <https://www.cermati.com/artikel/ini-daftar-caleg-artis-yang-lolos-ke-dpr-di-pemilu-2019> [accessed 25 September 2019].
Wheeler, M. (2012). The democratic worth of celebrity politics in an era of late modernity. The British Journal of Politics and International Relations, 14(3), 407-422.
Wheeler, Mark. (2013). Celebrity Politics. Malden, USA: Polity Press.
Yin, R.K. (2003). Case Study Research: Design and Methods 3rd Edition. Thousand Oaks, California: Sage Publications.
Zudenkova, Galina. (2011) „A Political Agency Model of Coattail Voting A Political Agency Model of Coattail Voting‟, Munich Personal RePEc Archive, pp. 1–28.