• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Upaya-Upaya Pihak Terkait Dalam Penerbitan Sukuk Korporasi

Ijarah Agar Sukuk Tidak Bertentangan Dengan Prinsip Syariah

a. Akad Syariah Dalam Penerbitan Sukuk Ijarah

Dalam penerbitan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014, sukuk yang diterbitkan berdasarkan akad Ijarah. Secara

teknis penerapan akad Ijarah dalam penerbitan Sukuk Ijarah

Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 adalah Emiten

mengadakan akad Ijarah untuk memenuhi transaksi pembiayaan Ijarah

atas obyek Ijarah yang memenuhi kaidah syariah antara Emiten selaku

dengan Wali Amanat selaku .

Akad Ijarah sehubungan dengan Penawaran Umum SukukIjarah

Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 tersebut telah dibuat dibawah tangan dengan Nomor 078/E00-E00A/FIN/14 tertanggal 24 September 2014 antara P.T Indosat Tbk sebagai pihak pertama dengan

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai pihak kedua.80 Akad

Ijarah tersebut kemudian dilegalisir oleh notaris.81 Isi dari akad Ijarah

tersebut ialah :82

1) Pihak pertama dengan ini setuju untuk mengalihkan hak

manfaat serta membeikan hak untuk menggunakan dan/atau

menyewakan kembali kepada pihak lain atas obyek Ijarah

kepada pihak kedua dan pihak kedua dengan ini setuju untuk

80

Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, http://www.idx.co.id>from_erep>201411, diunduh tanggal 15 Mei 2015

81

Wawancara Ahmad Fawzi, Divisi Invesment Service, P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, tanggal 5 agustus 2015

82

Isi Akad Ijarah sehubungan dengan penawaran umum sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014

(2)

menerima pengalihan hak manfaat dan pemberian hak atas

obyek Ijarah tersebut dari pihak pertama

2) Obyek Ijarah adalah berupa hak manfaat atas jaringan

multimedia, data communication, internet (MIDI).

3) Para pihak setuju dan sepakat bahwa nilai pengalihan obyek

Ijarah dari pihak pertama kepada pihak kedua adalah

sebanyak-banyaknya sebesar Rp 190.000.000.000 (seratus sembilan puluh miliar Rupiah)

4) Akad Ijarah ini dibuat untuk sejak tanggal perjanjian

perwaliamanatan sukuk Ijarah dan karenanya akan berakhir

selambat-lambatnya pada tanggal pembayaran kembali sisa imbalan Ijarah setelah cicilan imbalan Ijarah dan kompensasi kerugian akibat keterlambatan (apabila ada) telah dibayar lunas oleh pihak pertama susuai dengan ketentuan dalam perjanjian

perwaliamanatan sukukIjarah

5) Pada saat berakhirnya masa pengalihan obyek Ijarah, pihak

kedua dengan ini setuju untuk seketika mengalihkan kembali obyek Ijarah yang telah diterimanya berdasarkan akad Ijarah

ini kepada pihak pertama tanpa adanya kondisi atau syarat apapun.

6) Dalam hal terdapat rencana perubahan obyek Ijarah karena

alasan apapun, maka pihak pertama wajib melaporkan kepada

pihak kedua sebelum mengajukan obyek Ijarah pengganti dan

meminta pihak kedua untuk menyelenggarakan RUPSI sesuai dengan ketentuan perjanjian perwaliamanatan

7) Para pihak sepakat untuk menyelesaikan setiap perselisihan

yang timbul dari atau sehubungan dengan akad Ijarah ini,

secara musyawarah mufakat.

Selain akad ijarah, Emiten mengadakan Akad Wakalah

(3)

Indosat Tahap I Tahun 2014 No.077/E00-E00A/FIN/14 tertanggal 24

September 2014 yang dibuat di bawah tangan antara Emiten dan PT

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk selaku Wali Amanat,83

yang kemudian dilegalisir oleh notaris.84

Dalam akad Wakalah tersebut, P.T Bank Rakyat Indonesia

(persero) Tbk selaku Wali Amanat bertindak sebagai Muwakkil dan

P.T Indosat Tbk selaku Emiten bertindak selaku Wakil. Berdasarkan

akad Wakalah tersebut, Muwakkil dan Wakil dengan ini setuju dan

sepakat serta mengikatkan diri untuk membuat akad Wakalah dengan

syarat-syarat dan ketentuan sebagai berikut :

Berdasarkan akad Ijarah tanggal 24 september 2014 dan

perjanjian perwaliamanatan sukuk Ijarah, Wali Amanat selaku wakil

dari pemegang sukuk sebagai penerima hak manfaat obyek Ijarah

(Muwakkil) memberikan kuasa khusus tanpa syarat yang tidak dapat

ditarik kembali kepada P.T Indosat Tbk sebagai Wakil untuk

melakukan hal-hal sebagai berikut :85

1) Membuat dan melangsungkan serta memperpanjang

perjanjian/kontrak dengan pihak ketiga sebagai pengguna

obyek Ijarah untuk kepentingan Pemegang Sukuk sebagai

penerima obyek Ijarah berdasarkan akad Ijarah dan Perjanjian

Perwaliamanatan Sukuk Ijarah dan apabila diperlukan,

membuat perubahan atas perjanjian/kontrak yang sudah

ditandatangani oleh Wakil dan pihak ketiga tersebut sepanjang

perubahan tersebut seusai dengan praktek industri yang belaku umum dan wajar.

2) Mewakili segala kepentingan Muwakkil dalam rangka

pelaksanaan perjanjian dengan pihak ketiga sebagai pengguna

83

Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, Op.Cit

84

Wawancara Ahmad Fawzi, Op.Cit

85

Isi Akad Wakalah sehubungan dengan penawaran umum sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014

(4)

obyek Ijarah, termasuk akan tetapi tidak terbatas untuk melakukan penagihan dan, tanpa mengesampingkan ketentuan

dibawah ini, menerima seluruh hasil pemanfaatan obyek Ijarah

dari pihak ketiga

3) Mewakili kepentingan Muwakkil dalam mencari pengganti

pihak ketiga untuk memanfaatkan obyek Ijarah.

Selain itu, didalam akad Wakalah tersebut Wakil berjanji untuk

membayar imbalan Ijarah yang terdiri dari cicilan imbalan Ijarah dan

sisa imbalan Ijarah kepada pemegang sukukIjarah yang diterima dari

pihak ketiga sesuai dengan nilai dan tata cara pembayaran yang diatur

dalam perjanjian perwaliamanatan sukuk Ijarah. Akad Wakalah

tersebut mulai berlaku sejak tanggal emisi sukuk Ijarah sebagaimana

diatur dalam perjanjian perwaliamanatan sukuk Ijarah dan akan

berakhir dengan berakhirnya akad Ijarah.

b. Kewajiban Emiten Terkait Kegiatan Usaha

Untuk melakukan penerbitan sukuk Ijarah ini, Perseroan telah

menyatakan bahwa kegiatan usaha yang mendasari penerbitan sukuk

Ijarah tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah serta

menjamin bahwa selama periode sukuk Ijarah kegiatan usaha yang

mendasari penerbitan sukuk Ijarah tidak akan bertentangan dengan

prinsip-prinsip syariah sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf b peraturan Bapepam dan LK No.IX.A.13 tentang Penerbitan Efek

Syariah,86 sebagaimana yang telah dinyatakan di dalam prospektus

umum berkelanjutan penerbitan sukuk Ijarah berkelanjutan I Indosat

Tahap I Tahun 2014.87

86

Angka 1 huruf b Peraturan Bapepam-LK No.IX.A.13 menyebutkan, Efek Syariah adalah Efek sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya yang akad maupun cara penerbitannya memenuhi Prinsip-prinsip Syariah di pasar modal.

87

Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, Op.Cit

(5)

Kegiatan usaha Perseroan saat ini adalah penyelenggara jaringan dan jasa telekomunikasi terpadu di Indonesia dan Perseroan menawarkan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional yang lengkap di Indonesia. Perseroan adalah satu dari tiga operator selular di Indonesia, berdasarkan jumlah pelanggan selular, dan penyelenggara terkemuka di sektor jasa sambungan langsung internasional di Indonesia. Perseroan juga menyediakan jasa MIDI untuk pelanggan korporat domestik dan regional dan pelanggan berskala besar dan juga

untuk pelanggan domestik retail.88

Produk dan jasa utama Emiten

Perseroan meliputi :89

1) Jasa selular, Perseroan menyediakan jasa selular GSM 900 dan

1800 dan 3G kepada sekitar 54,9 juta pelanggan selular di seluruh Indonesia, per tanggal 30 Juni 2014. Perseroan juga

menyediakan layanan mobile internet menggunakan platform

DCHSPA+ pada tahun 2014 dan pada tanggal 30 Juni 2014,

pengguna mobile internet mencapai angka 26,7 juta.

2) Jasa Multimedia, Interaktif, Data & Internet (MIDI), Perseroan

menyediakan layanan MIDI yang terdiri dari layanan Internet dan layanan data komunikasi, seperti Penyewaan Sirkit Internasional dan Domestik dan layanan berbasis MPLS. Perseroan juga menyediakan layanan berbasis satelit, seperti penyewaan transponder, layanan VSAT dan Layanan Nilai

Tambah/IT, seperti layanan Disaster Recovery Center, layanan

Data Center dan layanan Cloud Computing.

3) Jasa telekomunikasi tetap(layanan suara), Jasa telekomunikasi

tetap Perseroan meliputi Layanan jaringan tetap lokal (FWL dan FWA), layanan sambungan langsung jarak jauh domestik (SLJJ) dan internasional (SLI).

88

Ibid

89

(6)

c. Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum

Di dalam perjanjian perwaliamanatan disebutkan bahwa penggunaan dana hasil penawaran sukuk ijarah direncanakan untuk

melaksanakan opsi beli (call options) atas Obligasi dollar yang

memiliki tingkat suku bunga tetap yang akan jatuh tempo. Begitu pula

disebutkan di dalam Press Release atau paparan publik yang dilakukan

Emiten tertanggal 6 November 2014 di Jakarta, berkenaan dengan penawaran umum obligasi berkelanjutan I Indosat tahap I Tahun 2014 dan Sukuk Ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014, yang menyebutkan bahwa penerbitan instrumen hutang tersebut merupakan bagian dari rencana pendanaan perusahaan dalam rangka pelunasan

sebagian atau seluruhnya (refinancing) salah satu atau beberapa

pinjaman Rupiah atau Dollar yang dimiliki oleh Perusahaan dan untuk

pengembangan bisnis Perusahaan lebih lanjut.90

Berdasarkan prospektus awal, penawaran umum obligasi

berkelanjutan I Indosat tahap I Tahun 2014 dan Sukuk Ijarah

berkelanjutan I Indosat tahap I tahun 2014, hanya disebutkan bahwa

penggunaan dana yang diperoleh dari penawaran umum Sukuk Ijarah

setelah dikurangi dengan biaya emisi seluruhnya akan dipergunakan oleh Perseroan untuk pembayaran lisensi jaringan kepada Pemerintah yaitu biaya hak penggunaan izin pita spektrum frekuensi radio (IPSFR), Penyelenggara jaringan bergerak selular di pita frekuensi radio 800 MHz, 900 MHz dan 1800 MHz untuk periode 15 Desember 2014-14 Desember 2015.

Dalam realisasinya, berdasarkan informasi yang penulis dapatkan, tertuang dalam surat No. 008/E00-E0O/FIN/15 perihal laporan realisasi penggunaan dana terakhir hasil penawaran umum

obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 dan SukukIjarah

90

Press Release Indosat Terbitkan obligasi berkelanjutan I Indosat tahap I Tahun 2014 dan Sukuk Ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014, http://www.assets.indosat.com>assets>upload>pdf, diunduh tanggal 1 Juni 2015

(7)

Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 periode triwulan IV 2014, dengan rincian jumlah hasil penawaran umum sebesar Rp 190.000.000.000 (seratus sembilan puluh miliar Rupiah) telah dibayarkan untuk pembayaran lisensi jaringan kepada Pemerintah sebesar Rp 189.405.300.000 (seratus delapan puluh sembilan miliar empat ratus lima juta tiga ratus ribu Rupiah) setelah sebelumnya dikurangi oleh biaya penawaran umum sebesar Rp 594.700.000 (lima ratus sembilan puluh empat juta tujuh ratus ribu Rupiah).

Menurut Kanny Hidayah selaku salah satu anggota tim ahli

syariah dalam penerbitan Sukuk Ijarah berkelanjutan I Indosat tahap I

tahun 2014 mengemukakan :

ebelumnya memang terjadi perdebatan, karena dana sukuk sebenarnya dibatasi peruntukkannya sesuai dengan prinsip syariah. Tetapi dalam kasus untuk membayar hutang dalam hal ini melaksanakan opsi beli obligasi, Tim ahli bersepakat

membolehkan karena Emiten mengikis perbuatan

pembiayaan-pembiayaan yang bersifat ribawi. Hal tersebut berdampak positif

untuk meningkatkan syariah. Hutang ribawi dari bunga obligasi tersebut berkurang. Asal pembelian tersebut tidak melalui pasar derivatif.91

Sedangkan menurut tim Wali Amanat Tresna Oktaviani, berpendapat :

penggunaan dana, apabila menyimpang dari prinsip-prinsip syariah dan tidak sesuai dengan sebagaimana yang tercantum

92

d. Pernyataan Kesesuaian Syariah

Pada tanggal 24 Oktober 2014, tim ahli syariah yang ditunjuk oleh Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)

91

Wawancara Kanny Hidaya, Tim Ahli Syariah Sukuk Ijarah berkelanjutan I Indosat tahap I tahun 2014, Tanggal 31 Juli 2015

92

Wawancara Tresna Oktaviani, Divisi Invesment Service, P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, tanggal 5 agustus 2015

(8)

menerbitkan pendapat atau opini syariah dengan terlebih dahulu

membacadan mempelajari beberapa perjanjian yang terkait penerbitan

sukuk tersebut antara lain :93

1) Perjanjian Perwaliamanatan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I

Indosat Tahap I Tahun 2014

2) Akad Ijarah antara P.T Indosat Tbk dengan P.T Bank Rakyat

Indonesia (Persero) Tbk selaku wakil dari para Investor Sukuk

Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014

3) Akad Wakalah antara P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero)

Tbk selaku wakil dari para Investor SukukIjarah Berkelanjutan

I Indosat Tahap I Tahun 2014 dengan P.T Indosat, Tbk dan

4) Lampiran yang berisi daftar obyek Ijarah.

Terkait dengan beberapa perjanjian diatas tersebut, kemudian disinkronkan dengan beberapa fatwa DSN-MUI diantaranya yaitu :

1) Fatwa Dewan Syariah Nasional No.10/DSN-MUI/IV/2000

tentang Wakalah

2) Fatwa Dewan Syariah Nasional No.32/DSN-MUI/IX/2002

tentang Obligasi Syariah

3) Fatwa Dewan Syariah Nasional No.41/DSN-MUI/III/2004

tentang Obligasi Syariah Ijarah

4) Fatwa Dewan Syariah Nasional No40/DSN-MUI/IX/2003

tentang Pasar Modal Syariah

5) Fatwa Dewan Syariah Nasional No.43/DSN-MUI/VIII/2004

Tim Ahli Syariah Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 menyatakan bahwa Perjanjian dan akad-akad yang dibuat

dalam rangka Penerbitan SukukIjarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I

93

(9)

Tahun 2014 tidak bertentangan dengan fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia dan hukum syariah secara umum.

Mengenai opini syariah tersebut Kanny Hidaya memaparkan :

-MUI tidak secara tiba-tiba memberikan opini syariah terhadap korporasi yang ingin menerbitkan sukuk. Tetapi DSN-MUI diminta terlebih dahulu oleh perusahaan yang bersangkutan tersebut untuk mengeluarkan opini syariah. Yang masih menjadi pertanyaan adalah tidak semua korporasi memnita adanya opini syariah ini, namun pada umumnya banyak dari mereka yang meminta. Mengenai tidak dicantumkannya opini syariah didalam perjanjian perwaliamanatan dan prospektus hal tersebut memang

tidak diwajibkan, padahal keberadaannya penting agar

masyarakat tahu apakah sukuk tersebut telah sesuai dengan

prinsip- 94

e. Pengawasan Aspek Syariah

P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. selaku Wali Amanat

Sukuk Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014, memiliki

penanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan perwaliamanatan yang mengerti kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal, hal tersebut dinyatakan dalam surat pernyataan Nomor. B.187-DIM/IPM/09/2014 yang dinyatakan dan dicantumkan dalam prospektus.

Sebagaimana yang disampaikan Tresna Oktaviani :

Penanggungjawab pelaksanaan kegiatan perwaliamanatan, beliau atasan kami langsung namun tidak hanya mencakup Wali Amanat saja tetapi secara keseluruhan divisi yaitu, Vice President Divisi Invesment Service P.T Bank

Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.95

Sedangkan Emiten meminta kepada DSN-MUI untuk menunjuk

tim ahli syariah guna mengawasi penerbitan sukuk. Tim Ahli Syariah tersebut terdiri dari Dr. H. Hasanudin, M.Ag dan H. Kanny Hidaya,

94

Wawancara Kanny Hidaya, Op.Cit

95

(10)

S.E., M.A. ditunjuk oleh DSN-MUI sesuai dengan surat Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia No

U-268/DSN-yang bertugas sebagai pendamping dan mengawasi proses penerbitan

sukukIjarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014.

Kanny Hidaya memaparkan :

enerbitan sukuk secara market practice selalu didampingi oleh

Tim Ahli syariah, Orang yang ditunjuk DSN-MUI untuk

mengawal dan mengasistensi penerbitan sukuk. Awalnya

membuat struktur, kemudian review dokumen. Kemudian membuat opini syariah yang ditantandatangi oleh tim ahli syariah. Akan tetapi, keterlibatan tim ahli syariah hanya diawal

penerbitan sukuk, tidak menjadi pengawas, karena yang menjadi

pengawas kesyariahannya adalah Wali Amanat dengan

sebelumnya tim ahli syariah memberitahu apa saja yang harus

diawasi. Untuk itulah Wali Amanat harus mempunyai orang yang

paham ahli syariah. 96

2. Bentuk-Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Kepatuhan

Penerapan Prinsip-Prinsip Syariah Bagi Investor Pada Penerbitan

Sukuk Korporasi Ijarah

a. Peran Wali Amanat Sebagai Pelindung Investor

Berbeda dengan penerbitan obligasi konvensional, Wali Amanat

penerbitan sukuk sebelumnya harus mempunyai penanggungjawab atas

pelaksanaan kegiatan perwaliamanatan yang mengerti kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, P.T Bank Rakyat

Indonesia (Persero) Tbk. selaku Wali Amanat Sukuk Ijarah telah

memiliki penanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan

perwaliamanatan yang mengerti kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal.

96

(11)

Menurut Tresna Oktaviani :

Penanggung jawab tersebut dibutuhkan karena semakin kompleks dan beragamnya prinsip-prinsip syariah seperti akad-akad syariah, serta mengawasi kinerja Emiten agar tetap sesuai

hukum Islam sehingga Wali Amanat akan lebih banyak berusaha

untuk mengerti setiap syarat-syarat syariah tersebut.97

Mengenai pihak terkait dalam penerbitan sukuk yang memiliki penanggung jawab yang mengerti prinsip-prinsip syariah, Kanny Hidayah memaparkan :

engan adanya pihak atau pejabat dari suatu perusahaan yang paham mengenai Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal ditambah dengan adanya Tim Ahli Syariah yang ditunjuk oleh

DSN-MUI dalam penerbitan sukuk, aspek kesyariahan suatu

sukuk akan menjadi lebih terjamin dan hal tersebut dapat

melindungi Investor dari kepatuhan prinsip syariah. Akan tetapi, DSN-MUI yang membawahi tim ahli syariah tidak memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi apabila ada kepatuhan prinsip syariah yang dilanggar. Otoritas Jasa Keuangan yang dapat memberikan sanksi sebagai otoritas pengawas kegiatan Pasar Modal di indonesia, sedangkan DSN-MUI tidak

mempunyai kekuasaan untuk mengeksekusi. 98

Keberadaan Wali Amanat untuk mewakili para Investor dimulai

ketika Emiten menunjuk Wali Amanat. Ahmad Fawzi menjelaskan

mengenai proses penunjukan Wali Amanat, yaitu :

Proses penunjukan Wali Amanat menjadi kebijakan dari Emiten

seluruhnya, penunjukkan bisa melalui proses penunjukkan langsung atau melalui proses lelang. Khusus mengenai

penunjukan langsung, masing-masing Emiten mempunyai kriteria

dan pertimbangan. Pertimbangan yang dimaksud adalah

mengenai imbalan jasa Wali Amanat, ada juga pengalaman,

semakin banyak bank tersebut mempunyai pengalaman akan menjadi pertimbangan. Selain itu, ada pertimbangan berupa kenyamanan dari kerjasama-kerjasama dalam kegiatan pasar modal terlebih dahulu. Dilain itu, penjamin emisi (underwriter)

juga mempunyai andil dalam merekomendasikan. 99

97

Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit

98

Ibid

99

(12)

Dalam penerbitan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I

Tahun 2014, Emiten menunjuk langsung P.T Bank Rakyat Indonesia

(Persero) Tbk untuk menjalankan tugas selaku Wali Amanat

berdasarkan Surat Penunjukan No.055/E00-E00A/FIN/14 tanggal 18 Agustus 2014.

Tresna Oktaviani menjelaskan :

ebelum proses emisi sukuk, Wali Amanat diwajibkan untuk

melakukan due diligence (uji tuntas), untuk menganalisa

data-data historis Emiten termasuk penerbitan-penerbitan sukuk

sebelumnya apakah pernah terjadi masalah atau tidak yang

menyebabkan sukuk mengalami gagal bayar atau sukuk menjadi

batal demi hukum karena dilanggarnya kepatuhan prinsip-prinsip syariah.100

P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, selaku Wali Amanat

dalam penerbitan SukukIjarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun

2014, sebagaimana dicantumkan dalam perjanjian perwaliamanatan memiliki tugas pokok dan tanggung jawab antara lain :

1) Mewakili kepentingan para pemegang sukuk Ijarah, baik di

dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan Perjanjian Perwaliamanatan dan peraturan perundang-undangan

2) Melaksanakan tugas sebagai Wali Amanat berdasarkan

Perjanjian Perwaliamanatan dengan Emiten, tetapi perwakilan

tersebut mulai berlaku efektif pada saat Sukuk Ijarah telah

dilaksanakan kepada Pmegang SukukIjarah

3) Melaksanakan tugas sebagai Wali Amanat berdasarkan

Perjanjian Perwaliamanatan dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan Perjanjian Perwaliamanatan

4) Memberikan semua keterangan atau informasi sehubungan

dengan pelaksanaan tugas-tugas perwaliamanatan kepada Otoritas Jasa Keuangan.

100

(13)

Selain itu, Wali Amanat juga wajib melaksanakan tugas, fungsi dan kewajiban Wali Amanat antara lain : 101

1) Memantau perkembangan pengelolaan kegiatan usaha Emiten,

berdasarkan data dan/atau informasi yang diperoleh baik langsung maupun tidak langsung termasuk melakukan peninjauan lapangan

2) Mengawasi dan memantau pelaksanaan kewajiban Emiten

berdasarkan Perjanjian Perwaliamanatan dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan Perjanjian Perwaliamanatan.

3) Melaksanakan hasil keputusan RUPSI seuai dengan tanggung

jawabnya.

4) Mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan sesuai dengan

ketentuan-ketentuan dalam Perjanjian Perwaliamanatan.

5) Memanggil dan menyelenggarakan RUPSI sebagaimana diatur

dalam Perjanjian Perwaliamanatan. Sebelum mengambil

tindakan atas nama pemegang Sukuk Ijarah berdasarkan

Perjanjian Perwaliamanatan atau cara-cara lain yang

dimaksudkan dalam Perjanjian Perwaliamanatan.

Mengenai apakah Wali Amanat menjelaskan prinsip-prinsip

syariah kepada Investor terkait sukuk yang diterbitkan, Ahmad Fawzi memaparkan :

Wali Amanat selaku wakil dari Investor, tidak menjelaskan atau

memberi penyuluhan tentang prinsip-prinsip syariah terkait sukuk

Ijarah yang diterbitkan tersebut yang dituangkan kedalam

perjanjian perwaliamanatan. Wali Amanat merasa hal tersebut

bukan kewajiban sehingga Wali Amanat tidak perlu melakukan

itu.102

101

Isi Perjanjian Perwaliamanatan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014

102

(14)

Mengenai begitu tingginya kedudukan Emiten dalam perumusan

perjanjian perwaliamanatan dibandingkan dengan Wali Amanat,

Tresna Oktaviani menuturkan strategi Wali Amanat, yaitu:

Wali Amanat juga sebisa mungkin untuk membatasi Emiten agar

tidak sampai merugikan Investor dengan menuangkan di dalam Perjanjian Perwaliamanatan mengenai batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban Emiten.103

Sehubungan dengan perbuatan hukum tersebut ada beberapa

peran dan tugas yang harus dilakukan Wali Amanat khususnya dalam

menjaga kepatuhan prinsip syariah, seperti memasukkan ke dalam

Perjanjian Perwaliamanatan kewajiban-kewajiban Emiten dan Wali

Amanat terkait kepatuhan prinsip syariah, antara lain :104

1) Emiten wajib mentaati prinsip-prinsip syariah di pasar modal,

proses penerbitan efek syariah dan akad syariah yang digunakan dalam penerbitan efek syariah.

2) Wali Amanat setiap saat dapat mengambil segala tindakan yang

diperlukan dalam rangka memastikan kepatuhan Emiten

terhadap prinsip-prinsip syariah di Pasar Modal.

3) Emiten wajib menggunakan dana hasil penawaran umum sukuk

untuk membiayai kegiatan atau investasi yang tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal

4) Wali Amanat dapat mengambil tindakan lain yang tidak

dikuasakan atau tidak termuat dalam Perjanjian

Perwaliamanatan atau berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.

5) Tindakan yang harus dilakukan dalam hal Emiten akan

mengubah jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan

usaha dan atau aset tertentu yang mendasari penerbitan Sukuk.

103

Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit

104

(15)

6) Dalam hal terjadi perubahan jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha dan atau aset tertentu yang mendasari

penerbitan Sukuk sehingga bertentangan dengan Prinsip-prinsip

Syariah di Pasar Modal, maka Sukuk tersebut menjadi batal

demi hukum (fasakh) dan Emiten wajib menyelesaikan seluruh

kewajibannya kepada pemegang Sukuk

7) Wali Amanat mengikatkan diri untuk melaksanakan tugas-tugas

dan/atau kewajibannya sebagai Wali Amanat dengan penuh

tanggung jawab, penuh integritas, serta bertindak secara

bijaksana semata-mata untuk kepentingan pemegang sukuk

Ijarah.

8) Wali Amanat bertanggung jawab kepada pemegang sukuk

Ijarah untuk setiap kerugian yang diderita akibat dari kelalaian,

kecerobohan Wali Amanat atau tindakan-tindakan yang

disebabkan adanya pertentangan kepentingan dalam

hubungannya dengan tugas-tugas Wali Amanat sebagaimana

tercantum dalam Perjanjian Perwaliamanatan.

Apabila terjadi pelanggaran kepatuhan prinsip syariah dalam pemenuhan kewajiban maupun isi perjanjian yang ada dalam Perjanjian Perwaliamanatan, Ahmad Fazi menjelaskan :

Wali Amanat akan melakukan tindakan-tindakan yang

diperlukan, seperti meminta Emiten melakukan langkah-langkah

untuk memperbaiki hal yang dilanggar tersebut, ataupun

mengadakan Rapat Umum Pemegang Sukuk Ijarah (RUPSI)

untuk menentukan langkah yang akan diambil. Apabila ada hal yang kurang jelas ataupun ada indikasi pelanggaran kepatuhan prinsip syariah yang terlebih dahulu diketahui oleh salah satu Investor maka Investor tersebut akan meminta penjelasan kepada

Wali Amanat, kemudian Wali Amanat akan bersurat kepada

Emiten untuk mengkonfirmasi apabila ada Investor yang

meminta penjelasan. Selanjutnya Emiten akan menyurat kepada

Wali Amanat untuk mengkonfirmasi, hasil konfirmasi tersebut

akan dijelaskan terlebih dahulu kepada Investor melalui surat

resmi, telepon atau melalui forum informal meeting. Jika

(16)

mengundang Investor dan Emiten untuk mengadakan Rapat

Umum Pemegang SukukIjarah (RUPSI).105

Kemudian Trena Oktaviani menambahkan :

Selain apa yang tercantum di dalam Perjanjian

Perwaliamanatan, dalam mengawasi kepatuhan prinsip syariah

setelah emisi sukuk, Wali Amanat melakukan evaluasi secara

rutin setiap 3 (tiga) bulan sekali. Evaluasi rutin ini dihadiri oleh

seluruh tim Wali Amanat dan tidak menutup kemungkinan

mengundang tim ahli syariah untuk sekedar berkonsultasi. Evaluasi rutin tersebut akan melaporkan dari setiap tugas dan

fungsi Wali Amanat seperti memantau perkembangan

pengelolaan kegiatan usaha Emiten atau hasil pengawasan

pelaksanaan kewajiban-kewajiban Emiten dalam Sukuk Ijarah

tersebut kepada para Investor.106

b. Perjanjian Perwaliamanatan Sebagai Dasar Perlindungan

Investor

Perjanjian perwaliamanatan merupakan dasar dari hubungan

hukum antara Investor pemegang sukuk dengan Emiten. Perjanjian

inilah yang menjadi patokan mengenai sejauh mana perlindungan

kepada investor diberikan. Apabila kualitas perjanjian

perwaliamanatannya buruk maka Investor tidak akan mendapatkan perlindungan yang optimal.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ahmad Fawzi :

Wali Amanat dalam menjaga kepatuhan prinsip-prinsip syariah

pada saat sukuk telah dipegang oleh para Investor adalah

mengacu pada covenant-covenant yang dituangkan kedalam

Perjanjian Perwaliamanatan. Proses terbentuknya perjanjian Perwaliamanatan tersebut berawal dari draft perjanjian yang

dibuat oleh Notaris. Selanjutnya, Wali Amanat akan diundang

bersama underwriter, Emiten, dan Tim ahli syariah dalam

perumusan perjanjian perwaliamanatan tersebut. Dalam

perumusan tersebut Wali Amanat akan memperjuangkan

kepentingan dari para Investor selain dari sisi penerapan prinsip

107

105

Ibid

106

Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit

107

(17)

Dengan tidak adanya Investor dalam merumuskan perjanjian perwaliamanatan yang memang pada saat itu belum terdapat Investornya, para Investor tersebut juga tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari dengan baik isi dari perjanjian perwaliamanatan

sebelum membeli sukuk.

Tresna Oktaviani menjelaskan :

SukukIjarah ini, Investor tidak mempelajari

perjanjian perwaliamanatan sukuk, cukup dengan mempelajari

prospektus, karena dalam prospektus sudah cukup jelas. Dan bagian-bagian inti dari Perjanjian Perwaliamanatan juga terdapat di dalam prospektus. Investor melihat prospektus sebelum

melakukan pembelian sukuk, sehingga apabila Investor tidak

setuju dengan isi perjanjian perwaliamanatan yang dicantumkan dalam prospektus, Investor tidak akan membeli sukuk tersebut.

Sebaliknya dengan Investor membeli sukuk, berarti Investor

setuju dengan isi prospektus. 108

Perjanjian Perwaliamanatan mengatur mengenai kewajiban-kewajiban Emiten dan Wali Amanat terkait kepatuhan prinsip syariah agar tidak sampai merugikan Investor, sebagaimana diatur dalam perjanjian perwaliamanatan sukuk Ijarah tersebut, antara lain :109

1) Emiten wajib mentaati prinsip-prinsip syariah di pasar

modal, proses penerbitan efek syariah dan akad syariah yang digunakan dalam penerbitan efek syariah

2) Wali Amanat setiap saat dapat mengambil segala tindakan

yang diperlukan dalam rangka memastikan kepatuhan

Emiten terhadap prinsip-prinsip syariah di Pasar Modal

3) Emiten wajib menggunakan dana hasil penawaran umum

sukuk untuk membiayai kegiatan atau investasi yang tidak

bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal

108

Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit

109

(18)

4) Wali Amanat dapat mengambil tindakan lain yang tidak

dikuasakan atau tidak termuat dalam Perjanjian

Perwaliamanatan atau berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.

5) Tindakan yang harus dilakukan dalam hal Emiten akan

mengubah jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha dan atau aset tertentu yang mendasari penerbitan

Sukuk.

6) Dalam hal terjadi perubahan jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha dan atau aset tertentu yang

mendasari penerbitan Sukuk sehingga bertentangan dengan

Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal, maka Sukuk

tersebut menjadi batal demi hukum (fasakh) dan Emiten

wajib menyelesaikan seluruh kewajibannya kepada

pemegang Sukuk

7) Wali Amanat mengikatkan diri untuk melaksanakan

tugas-tugas dan/atau kewajibannya sebagai Wali Amanat dengan

penuh tanggung jawab, penuh integritas, serta bertindak secara bijaksana semata-mata untuk kepentingan pemegang

sukukIjarah.

Adapun hak-hak pemegang Sukuk Ijarah yang tertuang dalam

perjanjian perwaliamanatan sukuk tersebut, antara lain yaitu :110

1) Menerima pembayaran kembali Sisa Imbalan Ijarah,

pembayaran Cicilan Imbalan Ijarah dan hak-hak lain yang

berhubungan dengan Sukuk Ijarah dengan memperhatikan

ketentuan Pasal 5 ayat 10 Perjanjian Perwaliamanatan

SukukIjarah.

110

Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, Op.Cit

(19)

2) Pemegang Sukuk Ijarah yang berhak mendapatkan

pembayaran Cicilan Imbalan Ijarah adalah Pemegang

Sukuk Ijarah yang namanya tercatat dalam Daftar

Pemegang Rekening, pada 4 (empat) Hari Bursa sebelum

Tanggal Pembayaran Cicilan Imbalan Ijarah, kecuali

ditentukan lain oleh KSEI atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian jika terjadi

transaksi Sukuk Ijarah setelah tanggal penentuan pihak

yang berhak memperoleh Cicilan Imbalan Ijarah tersebut

maka pihak yang menerima pengalihan Sukuk Ijarah

tersebut tidak berhak atas Cicilan Imbalan Ijarah pada

periode Cicilan Imbalan Ijarah yang bersangkutan.

3) Apabila Perseroan ternyata tidak menyediakan dana

secukupnya untuk pembayaran Cicilan Imbalan Ijarah dan

pembayaran kembali Sisa Imbalan Ijarah setelah lewat

Tanggal Pembayaran Cicilan Imbalan Ijarah atau Tanggal

Pembayaran Kembali Sisa Imbalan Ijarah, maka Perseroan

harus membayar Kompensasi Kerugian Akibat

Keterlambatan atas kelalaian membayar jumlah Sisa

Imbalan Ijarah dan/atau Cicilan Imbalan Ijarah atas

Imbalan Ijarah. Kompensasi Kerugian Akibat

Keterlambatan yang dibayar oleh Perseroan yang

merupakan hak Pemegang Sukuk Ijarah, oleh Agen

Pembayaran akan diberikan kepada Pemegang SukukIjarah

secara proporsional berdasarkan besarnya Sukuk Ijarah

yang dimilikinya.

4) Seorang atau lebih Pemegang SukukIjarah yang mewakili

sedikitnya 20 % (dua puluh persen) dari jumlah Sisa

Imbalan Ijarah yang masih belum dibayar (di luar dari

jumlah Sisa Imbalan Ijarah yang dimiliki oleh Perseroan dan/atau Perseroan Terafiliasi) mengajukan permintaan

(20)

tertulis kepada Wali Amanat Sukuk Ijarahagar diselenggarakan RUPSI dengan memuat acara yang diminta dengan melampirkan asli KTUR dari KSEI yang diperoleh melalui Pemegang Rekening, kecuali ditentukan lain oleh

Wali Amanat Sukuk Ijarah, dengan ketentuan terhitung

sejak diterbitkannya KTUR.

5) Melalui Keputusan RUPSI, Pemegang Sukuk antara lain

berhak melakukan tindakan sebagai berikut:

a). mengambil keputusan sehubungan dengan usulan

Pemegang Sukuk Ijarah bersifat utang mengenai

perubahan jangka waktu Sukuk Ijarah, Sisa Imbalan

Ijarah, suku Imbalan Ijarah, perubahan tata cara atau

periode pembayaran Imbalan Ijarah, dan ketentuan

lain dalam Perjanjian Perwaliamanatan SukukIjarah.

b). menyampaikan pemberitahuan kepada Wali Amanat

Sukuk Ijarah, memberikan pengarahan kepada Wali

Amanat SukukIjarah, dan/atau menyetujui suatu

kelonggaran waktu atas suatu kelalaian berdasarkan

Perjanjian Perwaliamanatan SukukIjarah serta

akibat-akibatnya, atau untuk mengambil tindakan lain sehubungan dengan kelalaian;

c). memberhentikan Wali Amanat Sukuk Ijarah dan

menunjuk pengganti Wali Amanat Sukuk Ijarah

menurut ketentuan-ketentuan Perjanjian

Perwaliamanatan SukukIjarah;

d). mengambil tindakan yang dikuasakan oleh atau atas

nama Pemegang Sukuk Ijarah termasuk dalam

penentuan potensi kelalaian yang dapat menyebabkan terjadinya kelalaian sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 9 Perjanjian Perwaliamanatan SukukIjarah dan

(21)

e). Wali Amanat bermaksud mengambil tindakan lain yang tidak dikuasakan atau tidak termuat dalam

Perjanjian Perwaliamanatan Sukuk Ijarah atau

berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.

Pada masa setelah emisi juga dimungkinkan adanya perubahan Perjanjian Perwaliamanatan apabila dirasa perlu diadakannya perubahan. Perubahan Perjanjian Perwaliamanatan tersebut dapat

dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Sukuk (RUPSukuk).

Tresna Oktaviani menjelaskan :

sukuk Ijarah tersebut,

tertuang Wali Amanat dapat melakukan tindakan lain-lain,

termasuk ingin merubah isi perjanjian Perwaliamanatan demi

melindungi pemegang sukuk dengan sebelumnya Wali Amanat

melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan penanggung jawab

Wali Amanat y 111

Didalam perjanjian perwaliamanatan dijelaskan perubahan Perjanjian Perwaliamanatan dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :112

1) Apabila perubahan perjanjian perwaliamanatan dilakukan

sebelum tanggal emisi, maka perubahan dan/atau penambahan perjanjian perwaliamanatan tersebut harus dibuat dalam suatu perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh Wali Amanat dan

Emiten dan setelah perubahan tersebut dilakukan,

memberitahukan kepada otoritas jasa keuangan dengan tidak mengurangi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia

2) Apabila perubahan Perjanjian Perwaliamanatan dilakukan

pada dan/atau setelah tanggal emisi, maka perubahan

111

Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit

112

(22)

perjanjian perwaliamanatan hanya dapat dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari RUPSI dan perubahan dan/atau penambahan tersebut dibuat dalam suatu perjanjian tertulis

yang ditandatangani oleh Wali Amanat dan Emiten

c. Rapat Umum Pemegang Sukuk Sebagai Sarana Perlindungan

Hukum Investor

Salah satu pengawasan bagi Emiten adalah Wali Amanat dapat

mengadakan Rapat Umum Pemegang Sukuk untuk membahas

perubahan perjanjian perwaliamanatan atau mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh Emiten. 113

Sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Perwaliamanatan Sukuk

Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014, Rapat Umum

Pemegang SukukIjarah (RUPSI) diadakan untuk tujuan antara lain :

1) Mengambil keputusan sehubungan dengan usulan Emiten atau

Pemegang Sukuk Ijarah mengenai perubahan jangka waktu

Sukuk Ijarah. Sisa Imbalan Ijarah, Cicilan imbalan Ijarah,

perubahan tata cara atau periode pembayaran cicilan imbalan

Ijarah.

2) Menyampaikan pemberitahuan kepada Emiten dan/atau Wali

Amanat, memberikan pengarahan kepada Wali Amanat,

dan/atau menyetujui suatu kelonggaran waktu atas suatu kelalaian berdasarkan Perjanjian Perwaliamanatan serta akibat-akibatnya, atau untuk mengambil tindakan lain sehubungan dengan kelalaian.

113 RUPSI juga dapat diselengggarakan atas permintaan : Pemegang Sukuk Ijarah baik sendiri

maupun bersama-sama yang mewakili paling sedikit lebih dari 20% (duapuluh persen) dari jumlah Sukuk Ijarah yang belum dilunasi, namun tidak termasuk Sukuk Ijarah yang dimiliki oleh Emiten dan/atau afilisasi Emiten, mengajukan permintaan tertulis kepada Wali Amanat untuk diselenggarakan RUPSI, lihat Pasal 10 ayat 2 huruf (a) Perjanjian Perwaliamanatan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014

(23)

3) Mengambil tindakan yang dikuasakan oleh atau atas nama

Pemegang Sukuk Ijarah termasuk dalam penentuan potensi

kelalaian yang dapat menyebabkan terjadinya kelalaian sebagaimana dimaksud dalam Perjanjian Perwaliamanatna

4) Wali Amanat bermaksud mengambil tindakan lain yang tidak

dikuasakan atau tidak termuat dalam Perjanjian

Perwaliamanantan atau berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.

Mengenai Rapat Umum Pemegang Sukuk, Ahmad Fawzi

menjelaskan :

Rapat Umum Pemegang Sukuk dipimpin oleh Wali Amanat dan

Wali Amanat wajib mempersiapkan acara RUPSI termasuk

materi RUPSI dan menunjuk notaris untuk membuat berita acara

RUPSI. Sebelumnya Wali Amanat akan mengecek terlebih

dahulu kepada Emiten atau Investor terkait hal yang ingin

dibahas dalam RUPSI dengan bersurat kepada Emiten atau

Investor terlebih dahulu. Ketika terdapat potensi pelanggaran

kepatuhan syariah, dan tidak cukup hanya melalui informal

meeting, maka pemegang sukuk dapat meminta diadakannya

Rapat Umum Pemegang Sukuk dengan terlebih dahulu

menghubungi Wali Amanat. 114

Tresna Oktaviani juga menambahkan :

Wali Amanat juga dapat menolak permohonan pemegang sukuk

Ijarah atau Emiten untuk mengadakan RUPSI dengan wajib

memberitahukan secara tertulis alasan penolak tersebut kepada pemohon dengan tembusan kepada Otoritas Jasa Keuangan.

Akan tetapi, pada praktiknya selama ini, Wali Amanat belum

pernah menolak permohonan RUPSI karena Investor pasti mempunyai dasar untuk mengadakan RUPSI. Bahkan untuk hal

yang kurang terlalu pentingpun Wali Amanat akan memfasilitasi

untuk mengadakan RUPSI.115

114

Wawancara Ahmad Fawzi, Op.Cit

115

(24)

d. Tanggung Jawab Emiten Apabila Sukuk Batal Demi Hukum

Berdasarkan peraturan IX.A.13 disebutkan bahwa dalam hal terjadi perubahan jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha

dan atau aset tertentu yang mendasari penerbitan Sukuk sehingga

bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal maka

Sukuk tersebut menjadi batal demi hukum (fasakh) dan Emiten wajib

menyelesaikan seluruh kewajibannya kepada pemegang Sukuk.

Lebih lanjut dalam peraturan tersebut juga mewajibkan

Perjanjian perwaliamanatan penerbitan Sukuk memuat tindakan yang

harus dilakukan dalam hal Emiten akan mengubah jenis Akad Syariah,

isi Akad Syariah, kegiatan usaha dan atau aset tertentu yang mendasari penerbitan Sukuk.

Sedangkan mekanisme perubahan jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha dan atau aset tertentu yang mendasari

penerbitan Sukuk wajib terlebih dahulu disetujui oleh Rapat Umum

Pemegang Sukuk (RUPSukuk).

Perubahan-perubahan tersebut hanya dapat dilakukan setelah

terlebih dahulu disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Sukuk (RUP

Sukuk) dan diperlukan bagaimana mekanisme pemenuhan hak

pemegang Sukuk yang tidak setuju terhadap perubahan tersebut.

Ditambah lagi, perubahan-perubahan tersebut harus memiliki pernyataan kesesuaian syariah dari Tim Ahli Syariah terlebih dahulu.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, sukuk tidak lagi menjadi

Efek Syariah jika terjadi perubahan jenis Akad Syariah, isi Akad

Syariah, dan/atau aset yang menjadi dasar sukuk, yang menyebabkan

bertentangan dengan Prinsip Syariah di Pasar Modal. Berdasarkan keterangan tersebut, tidak menjadi masalah apabila perubahan-perubahan tersebut tetap sesuai dengan prinsip-prinsip syariah di pasar

modal, yang akan menjadi masalah adalah apabila sukuk tersebut

(25)

prinsip-prinsip syariah atau dilakukan perubahan tanpa sepengetahuan investor.

Lebih lanjut, dalam hal terjadi kondisi sukuk batal demi hukum

maka sukuk berubah menjadi utang piutang dan Emiten wajib

menyelesaikan kewajiban atas utang piutang dimaksud kepada

pemegang Sukuk.

Menurut pendapat Tresna Oktaviani,

erubahan jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha

dan atau aset tertentu yang mendasari penerbitan sukuk

sebelumnya harus terlebih dahulu disampaikan kepada Wali

Amanat, kemudian Wali Amanat akan menginformasikannya

kembali kepada para Investor. Hal tersebut untuk memberikan prinsip keterbukaan kepada Investor karena apabila perubahan-perubahan tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan Investor maka

Emiten dianggap telah melakukan pelanggaran kesyariahan. 116

Tresna Oktaviani melanjutkan :

pabila Emiten melakukan pelanggaran syariah baik berupa

perubahan akad tanpa sepengetahuan investor atau pelanggaran prinsip-prinsip syariah, maka ada ruang untuk investor melakukan gugatan karena investor akan dirugikan dengann hilangnya pendapatan tetap berupa cicilan imbalan ijarah yang telah ditetapkan. 117

Hal tersebut juga disetujui oleh Kanny Hidaya yang mengemukakan :

isa saja Emiten digugat oleh Investor apabila terbukti Emiten

melakukan pelanggaran kesyariahan dan Otoritas Jasa Keuangan akan memberikan sanksi sesuai perundang-undangan yang

118

e. Peran Otoritas Jasa Keuangan Sebagai Pengawas

Otoritas Jasa Keuangan (disingkat OJK) adalah lembaga negara yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi

116

Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit

117

Ibid

118

(26)

menyelengggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegaris terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan, salah satu tugas OJK adalah pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal.

Dalam penerbitan sukukIjarah ini, peran Otoritas Jasa Keuangan

adalah antara lain :119

1) Emiten menyerahkan dokumen-dokumen terkait penawaran

umum kepada Otoritas Jasa Keuangan

2) Emiten yang akan menerbitkan sukuk wajib menyampaikan

kepada OJK pernyataan bahwa kegiatan usaha yang

mendasari penerbitan Sukuk tidak bertentangan dengan

prinsip syariah, dan menjamin bahwa selama periode Sukuk

kegiatan usaha yang mendasari penerbitan Sukuk tidak akan

bertentangan dengan ketentuan syariah.

3) Otoritas Jasa Keuangan menerima laporan apabila

penggunaan dana hasil Emisi Sukuk Ijarah akan diubah,

dengan mengemukakan alasan beserta pertimbangannya

dan perubahan pengggunaan dana tersebut harus

mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Wali Amanat

setelah terlebih dahulu disetujui oleh RUPSI, sesuai dengan

Peraturan Bapepam Nomor X.K.4. Sampai seluruh dana

hasil Emisi Sukuk Ijarah digunakan seluruhnya, Emiten

akan melaporkan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum ini secara berkala setiap 3 (tiga) bulan

kepada Otoritas Jasa Keuangan serta Wali Amanat sesuai

dengan Peraturan Bapepam Nomor X.K.4

4) Seluruh kewajiban laporan yang terkait dalam perjanjian

perwaliamanatan wajib disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan.

119

(27)

5) Emiten wajib menyerahkan pemeringkatan tahunan atas

sukukIjarah kepada Otoritas Jasa Keuangan

6) Otoritas Jasa Keuangan dapat meminta diselenggarakan

RUPSI dengan ketentuan dihadiri oleh pemegang sukuk

Ijarah atau diwakili paling sedikit ½ (satu per dua) bagian

dari jumlah sukukIjarah yang masih belum dilunasi.

7) Wali Amanat wajib melaporkan kepada Otoritas Jasa

Keuangan apabila ditemukan adanya indikasi kelalaian

Emiten, dengan adanya bukti yang cukup menurut analisa

Wali Amanat.

8) Otoritas Jasa Keuangan memberikan sanksi kepada Emiten

yang terbukti sengaja lalai

Mengenai peran Otoritas Jasa Keuangan, Ahmad Fawzi memaparkan :

Otoritas Jasa Keuangan juga mengecek perjanjian

perwaliamanatan dan prospektus penawaran umum terkait penerbitan sukuk, apakah sudah sesuai dengan peraturan OJK dan Bapepam-LK sehingga perjanjian perwaliamanatan tersebut mampu memberikan perlindungan yang maksimal kepada para

Investor pemegang sukuk. Peranan Otoritas Jasa Keuangan

sebagai pengawas dalam penerbitan sukuk sangat efektif untuk

mencegah terjadinya sukuk menjadi batal demi hukum (fasakh)

karena peranan OJK yang mampu memberikan sanksi bagi

Emiten yang melanggar.120

Hal senada juga dikemukakan oleh Kanny Hidaya, yaitu :

sukuk karena

mereka terus mengawasi kinerja Emiten dan berdasarkan

pengalaman OJK sangat profesional dalam melindungi kepentingan-kepentingan para Investor, namun memang regulasi-regulasi yang ada masih dirasa kurang untuk memberikan

kenyamana investasi khususnya 121

120

Wawancara Ahmad Fawzi, Op.Cit

121

(28)

B. Pembahasan

1. Upaya-Upaya Pihak Terkait Dalam Penerbitan Sukuk Korporasi

Ijarah Agar Sukuk Tidak Bertentangan Dengan Prinsip Syariah

a. Akad Syariah Dalam Penerbitan Sukuk Ijarah

Dalam syariah Islam, asas-asas kesepakatan dalam kegiatan ekonomi diatur dalam berbagai bentuk perjanjian (akad). Akad syariah menjadi dasar kegiatan ekonomi di Pasar Modal Indonesia. Penerbitan

efek syariah wajib dilakukan berdasarkan akad syariah.122 Akad syariah

adalah perjanjian/kontrak yang sesuai dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Bapepam dan Lembaga Keuangan Nomor IX.A.14 tentang akad-akad yang

digunakan dalam penerbitan efek syariah di pasar modal.123

Dalam penerbitan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I

Tahun 2014, sukuk yang diterbitkan tersebut berdasarkan akad Ijarah.

Akad yang digunakan dalam Obligasi Syariah Ijarah adalah Ijarah

dengan memperhatikan substansi Fatwa DSN-MUI

No.09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah, terutama mengenai rukun

dan syarat akad.124

Fatwa Dewan Syariah Nasional No.09/DSN-MUI/IV/2000

menyebutkan, Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas

suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu

sendiri. Dengan demikian dalam akad Ijarah tidak ada perubahan

kepemilikan, tetapi hanya pemindahan hak guna/manfaat saja dari yang menyewakan kepada penyewa.

122

Peraturan No.IX.A.13, lampiran keputusan ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor Kep-130/BL/2006 tentang Penerbitan Efek Syariah

123

Peraturan No.IX.A.14, lampiran keputusan ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor Kep-131/BL/2006 tentang akad-akad yang digunakan dalam penerbitan efek syariah di pasar modal

124

Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 41/DSN-MUI/III/2004 Tentang Obligasi Syariah Ijarah, http://www.ojk.go.id/fatwa-nomor-41-dsn-mui-iii-2004, diunduh tanggal 9 januari 2015

(29)

Dalam Fatwa No.09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan

Ijarah, rukun dan syarat Ijarah ialah :

1) Pihak-Pihak Yang Berakad

Pengertian pihak adalah orang perseorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi.125 Para pihak yang terlibat pada akad Ijarah sehubungan dengan

penawaran umum berkelanjutan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I

Indosat Tahap I Tahun 2014 P.T Indosat Tbk dan P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pihak yang bertindak selaku adalah P.T Indosat,Tbk yang berkeinginan untuk

mengalihkan hak manfaat atas obyek Ijarah dengan P.T Bank

Rakyat Indonesia,Tbk selaku yang merupakan Wali

Amanatsukuk yang berdasarkan Undang-Undang Pasar Modal

mewakili kepentingan pemegang sukukIjarah.

Disyaratkan jir dan adalah orang yang

sudah baligh (dewasa), berakal, cakap melakukan tasbarruf

(mengendalikan harta), saling meridhoi dan mengetahui manfaat barang yang diakadkan dengan sempurna. Dalam hal ini akad telah diwakilkan oleh pihak yang atas kuasa sah mewakili Direksi dari P.T Indosat Tbk dan P.T Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk yang masing-masing telah memenuhi

syarat kecakapan menurut hukum Islam.126

2) Ijab dan Qabul (sighat)

Ijab dan qabul akad Ijarah adalah pernyataan niat dari para pihak yang berkontrak, baik secara verbal atau tulisan. Pernyataan tersebut persetujuan dari pemilik aset dan penerimaan yang dinyatakan oleh penerima manfaat obyek.

Pernyataan ijab dan qabul dalam akad Ijarah sehubungan

125

Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, Op.Cit

126

(30)

dengan penawaran umum berkelanjutan Sukuk Ijarah

Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 dibuat dengan tulisan yang dapat dibuktikan dengan adanya suatu akad yang dibuat berdasarkan kesepakatan oleh para pihak. yaitu P.T

Indosat Tbk sebagai ajir dan pemegang sukuk yang

diwakili oleh P.T Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk, selaku

Wali Amanat sebagai . Dalam akad Ijarah tersebut,

tertuang keinginan yaitu :127

manfaat atas jaringan Multimedia, Data Communication,

Internet (MIDI) kepada Pihak Kedua serta memberikan

hak untuk menggunakan dan/atau menyewakan kembali

hak manfaat atas Jaringan Multimedia, Data

Communication, Internet (MIDI) tersebut kepada pihak

lain, dan Pihak Kedua juga berkeinginan untuk menerima pengalihan hak manfaat serta pemberian hak untuk menggunakan dan/atau menyewakan kembali kepada

pihak lain hak manfaat atas Jaringan Multimedia, Data

Communication, Internet

Yang kemudian diikuti oleh persetujuan dari keinginan tersebut, yaitu :

dengan ini setuju untuk mengalihkan hak manfaat serta memberikan hak untuk menggunakan dan/atau menyewakan kembali kepada pihak lain atas

obyek Ijarah kepada dan dengan ini

setuju untuk menerima pengalihan hak manfaat dan

pemberian hak atas Obyek Ijarah tersebut dari

Disyaratkan, ijab dan qabul oleh pihak yang berakad harus berada dalam satu akad. Jika hanya satu pihak saja yang menyatakan maka ijab dan qabul tersebut tidak dinamakan sebagai akad. Dengan telah tertuangnya persetujuan tersebut

maka telah terpenuhi ijab dan qabul dalam akad Ijarah ini.

127 Isi Akad Ijarah sehubungan dengan penawaran umum berkelanjutan Sukuk Ijarah

(31)

3) Obyek Ijarah (manfaat)

Salah satu unsur terbentuknya akad adalah sesuatu yang dijadikan obyek akad dan dikenakan akibat hukum yang ditimbulkannya. Obyek akad dalam Islam harus diketahui secara jelas dan detail, dapat berupa benda, manfaat benda, jasa atau pekerjaan atau suatu hal lainnya yang tidak bertentangan dengan syariat.128

Dalam akad Ijarah sehubungan dengan penawaran umum

berkelanjutan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I

Tahun 2014, obyek Ijarah adalah berupa hak manfaat atas

jaringan Multimedia, Data Communication, Internet (MIDI)

dengan nilai pengalihan obyek Ijarah dari kepada

sebanyak-banyaknya sebesar Rp 190.000.000.000 (seratus sembilan puluh miliar Rupiah).

Jasa Multimedia, Interaktif, Data & Internet (MIDI) dari

Emiten ialah jasa penyedia layanan yang terdiri dari layanan

Internet dan layanan data komunikasi, seperti Penyewaan Sirkit Internasional dan Domestik dan layanan berbasis MPLS. Kemudian juga penyediaan layanan berbasis satelit, seperti penyewaan transponder, layanan VSAT dan Layanan Nilai

Tambah/IT, seperti layanan Disaster Recovery Center, layanan

Data Center dan layanan Cloud Computing.129

Emiten merupakan operator selular yang termasuk dalam

salah satu operator besar di Indonesia, dan penyelenggara terkemuka di sektor jasa sambungan langsung internasional di

Indonesia. Emiten menyediakan jasa MIDI untuk pelanggan

korporasi domestik dan regional dan pelanggan berskala besar dan juga untuk pelanggan domestik retail.

128

Dimyaudin Djuwaini, Pengantar fiqh muamalah, Pustaka Pelajar, Jakarta, 2008, hal 57

129

Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, Op.Cit

(32)

Dari paparan tersebut diatas obyek Ijarah dalam akad

Ijarah sehubungan dengan penawaran umum berkelanjutan

Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014

mempunyai manfaat yang dibolehkan (tidak diharamkan) karena obyeknya bukan sesuatu yang dilarang oleh Islam dan memiliki nilai ekonomis (dapat dinilai).

Menurut Imam al-Syairazi, melakukan akad Ijarah (sewa

menyewa) atas manfaat yang dibolehkan karena keperluan terhadap manfaat sama dengan keperluan terhadap benda. Oleh karena akad jual beli atas benda dibolehkan maka sudah seharusnya boleh pula akad

Ijarah atas manfaat.130 Definisi Ijarah juga dikemukakan oleh beberapa

ulama fiqh, yaitu Ulama Hanafi yang mendefinisikan Ijarah adalah

mendefinisikan Ijarah adalah transaksi terhadap suatu manfaat yang

dituju, tertentu, bersifat mubah dan bisa dimanfaatkan dengan imbalan tertentu.131

Definisi lain menyebutkan bahwa Ijarah adalah pemilikan

manfaat dari suatu yang halal dalam jangka waktu tertentu dengan

imbalan ganti rugi yang pada dasarnya Ijarah adalah penjualan

manfaat.132

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut maka obyek Ijarah

berupa hak manfaat telah sesuai dengan prinsip syariah, selain berupa

manfaat yang dibolehkan, pengalihan hak manfaat Ijarah tersebut juga

disertai dengan imbalan. Dalam penerbitan sukuk Ijarah ini, imbalan

dari akad Ijarah disepakati sebesar sebanyak-banyaknya Rp

19.000.000.000 (sembilan belas miliar Rupiah).

130

Imam al-Syairazi, al-Muhadzdzab, juz I, Kitab al-Ijarah, hal. 394

131

Abdul A , Cet 3, P.T Icthiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001, hal 660

132

Habib Nazir dan Muhammad Hasanu , Kafa

(33)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu batalnya

Ijarah adalah apabila obyek Ijarah cacat atau terjadi kerusakan

sehingga tidak dapat dipergunakan lagi sesuai dengan apa yang

disepakatkan. Dalam penerbitan sukuk ini, apabila obyek Ijarah rusak,

maka hal tersebut bukan merupakan suatu risiko dan tidak

menyebabkan batalnya Ijarah sebagaimana tertuang dalam akad Ijarah

yang menyepakati bahwa :

Pihak Pertama ( ) menyatakan dan menjamin Pihak Kedua

( ) bahwa segala resiko kerusakan atau kehilangan atas

obyek Ijarah atau kejadian yang menyebabkan turunnya nilai

Obyek Ijarah

Dengan tidak adanya risiko ini, penulis berpendapat bahwa

Ijarah tidak dapat dibatalkan atau dimintakan pembatalan disebabkan

obyeknya rusak. Ijarah menjadi batal apabila ada sesuatu yang

merusak pemenuhannya seperti hilangnya manfaat. Mengingat Ijarah

adalah sewa manfaat, bukan bendanya yang disewanya. Maka manfaat

pengganti atas hak manfaat atas obyek Ijarah tersebut dibolehkan dan

hal ini berarti sukukIjarah tersebut tanpa risiko batalnya Ijarah akibat kerusakan barang.

Akad Ijarah juga harus diketahui secara jelas kapan berakhirnya

akad tersebut. Akad Ijarah sehubungan dengan penawaran umum

berkelanjutan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun

2014 ini akan berakhir dengan sendirinya, bilamana jumlah sisa

imbalan Ijarah dilunasi selurunya oleh Pihak Pertama dan akan

berakhir demi hukum apabila penerbitan Sukuk Ijarah dibatalkan,

selain itu akad Ijarah tersebut juga dapat diakhiri apabila atas

kesepakatan bersama oleh para pihak. Dapat juga apabila telah dilakukannya pelunasan lebih awal atas seluruh jumlah Sisa Imbalan

Ijarah sesuai dengan ketentuan dalam Perjanjian Perwaliamanatan

(34)

Berdasarkan pemaparan tersebut diatas, maka dari sisi akad

Ijarah dalam penerbitan SukukIjarahBerkelanjutan I Indosat Tahap I

Tahun 2014 tersebut, telah memenuhi rukun-rukun dan syarat serta

ketentuan-ketentuan menurut hukum Islam sehingga tidak

bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.

Selanjutnya mengenai akad Wakalah, dalam syariah Islam,

seseorang boleh mendelegasikan suatu tindakan tertentu kepada orang lain dimana orang lain itu bertindak atas nama pemberi kuasa atau yang mewakilkan sepanjang hal-hal yang dikuasakan itu boleh didelegasikan oleh hukum Islam dan tidak setiap orang mempunyai kemampuan atau kesempatan untuk menyelesaikan segala urusannya sendiri. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Kahfi ayat 19, yang berbunyi :

"Dan demikianlah Kami bangkitkan mereka agar saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkata salah seorang diantara mereka:

lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah ia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu,dan hendaklah ia berlaku lemah lembut, dan janganlah sekali-kali menceritakan

133

Pengertian Wakalah menurut fatwa DSN-MUI

No.10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah adalah pelimpahan kekuasaan oleh satu

pihak kepada pihak lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan.134

133

Kitab SuciAl-Quran dan terjemahannya, C.V Al Hanan, Surakarta, 2009

134

Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 10/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Wakalah, http://www.ojk.go.id/fatwa-nomor-10-dsn-mui-iv-2000, diunduh tanggal 15 Mei 2015

(35)

Seperti pada akad lainnya, akad Wakalah akan sah dan mempunyai akibat hukum jika memenuhi rukun dan syaratnya, rukun dan syarat Wakalah adalah adanya Ijab dan Qabul, Muwakkil, Wakil

dan hal yang diwakilkan.

Wakalah pada dasarnya bersifat mubah atau dibolehkan, tetapi

dapat menjadi haram apabila urusan yang diwakilkan adalah hal-hal yang bertentangan dengan hukum Islam. Dalam hal ini, obyek

Wakalah sehubungan penerbitan sukuk ijarah tersebut tidak

bertentangan dengan hukum Islam karena bukan sesuatu yang diharamkan.

Dari penjelasan tersebut diatas, akad Wakalah sehubungan

dengan penawaran umum sukukIjarah berkelanjutan I Indosat Tahap I

Tahun 2014 tersebut, rukun-rukun dan syarat yang ditentukan hukum Islam yang dikuatkan dalam fatwa-fatwa DSN-MUI telah sesuai dengan kaidah-kaidah hukum Islam.

Para pihak yaitu Emiten dan Wali Amanat telah dengan benar

menjalankan prinsip syariah pada penerbitan efek syariah tersebut terkait kewajiban akad-akad syariah sehubungan dengan penawaran

umum sukuk ijarah tersebut.

b. Kewajiban Emiten Terkait Kegiatan Usaha

Pengelolaan sukuk wajib menerapkan prinsip-prinsip syariah

yang secara umum dapat dikatakan bahwa syariah menghendaki kegiatan ekonomi yang halal, baik dari produk yang menjadi obyek, dari cara perolehannya, serta dari cara penggunaannya. Untuk itu

Emiten wajib menjamin selama periode Sukuk Ijarah kegiatan usaha

yang mendasari penerbitan Sukuk Ijarah tidak akan bertentangan

dengan prinsip-prinsip syariah.

Tidak semua perusahaan baik itu milik negara atau perusahaan

swasta dapat menerbitkan (menjadi Emiten) sukuk.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk memasukkan lebih lanjut nilai yang ada pada tiap ciri-ciri anjing maka dapat menekan nama ciri-ciri yang telah diinputkan pada listbox yang ada yang akan menampilkan form

(2) Dalam hal NPOP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan

Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui pelayanan hak konsumen pada peserta BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Islam Metro.Artikel ini merupakan penelitian

Pedoman ini bertujuan untuk memberikan acuan dalam penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan Mahasiswa di Universitas, Fakultas, Sekolah

Sesuai dengan manfaatnya, strategi balance scorecard dengan keempat perspektifnya sangat menolong institusi perbankan dalam memperbaiki kinerja untuk mencapai

Skripsi dengan judul Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat Dalam Konstruksi Media (Analisis Framing Berita Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat Dalam

Jika melihat data pada tabel 4.12 dapat dikatakan bahwa variabel kualitas produk, kualitas layanan, dan lingkungan fisik mempengaruhi variabel kepuasan pelanggan

Penggumpalan protein pada pembuatan tahu kacang koro pedang dapat terjadi dengan menggunakan koagulan whey tahu pada pH 6,2 atau sioko pada pH 6,7 menggunakan suhu