BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Upaya-Upaya Pihak Terkait Dalam Penerbitan Sukuk Korporasi
Ijarah Agar Sukuk Tidak Bertentangan Dengan Prinsip Syariah
a. Akad Syariah Dalam Penerbitan Sukuk Ijarah
Dalam penerbitan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014, sukuk yang diterbitkan berdasarkan akad Ijarah. Secara
teknis penerapan akad Ijarah dalam penerbitan Sukuk Ijarah
Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 adalah Emiten
mengadakan akad Ijarah untuk memenuhi transaksi pembiayaan Ijarah
atas obyek Ijarah yang memenuhi kaidah syariah antara Emiten selaku
dengan Wali Amanat selaku .
Akad Ijarah sehubungan dengan Penawaran Umum SukukIjarah
Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 tersebut telah dibuat dibawah tangan dengan Nomor 078/E00-E00A/FIN/14 tertanggal 24 September 2014 antara P.T Indosat Tbk sebagai pihak pertama dengan
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai pihak kedua.80 Akad
Ijarah tersebut kemudian dilegalisir oleh notaris.81 Isi dari akad Ijarah
tersebut ialah :82
1) Pihak pertama dengan ini setuju untuk mengalihkan hak
manfaat serta membeikan hak untuk menggunakan dan/atau
menyewakan kembali kepada pihak lain atas obyek Ijarah
kepada pihak kedua dan pihak kedua dengan ini setuju untuk
80
Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, http://www.idx.co.id>from_erep>201411, diunduh tanggal 15 Mei 2015
81
Wawancara Ahmad Fawzi, Divisi Invesment Service, P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, tanggal 5 agustus 2015
82
Isi Akad Ijarah sehubungan dengan penawaran umum sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014
menerima pengalihan hak manfaat dan pemberian hak atas
obyek Ijarah tersebut dari pihak pertama
2) Obyek Ijarah adalah berupa hak manfaat atas jaringan
multimedia, data communication, internet (MIDI).
3) Para pihak setuju dan sepakat bahwa nilai pengalihan obyek
Ijarah dari pihak pertama kepada pihak kedua adalah
sebanyak-banyaknya sebesar Rp 190.000.000.000 (seratus sembilan puluh miliar Rupiah)
4) Akad Ijarah ini dibuat untuk sejak tanggal perjanjian
perwaliamanatan sukuk Ijarah dan karenanya akan berakhir
selambat-lambatnya pada tanggal pembayaran kembali sisa imbalan Ijarah setelah cicilan imbalan Ijarah dan kompensasi kerugian akibat keterlambatan (apabila ada) telah dibayar lunas oleh pihak pertama susuai dengan ketentuan dalam perjanjian
perwaliamanatan sukukIjarah
5) Pada saat berakhirnya masa pengalihan obyek Ijarah, pihak
kedua dengan ini setuju untuk seketika mengalihkan kembali obyek Ijarah yang telah diterimanya berdasarkan akad Ijarah
ini kepada pihak pertama tanpa adanya kondisi atau syarat apapun.
6) Dalam hal terdapat rencana perubahan obyek Ijarah karena
alasan apapun, maka pihak pertama wajib melaporkan kepada
pihak kedua sebelum mengajukan obyek Ijarah pengganti dan
meminta pihak kedua untuk menyelenggarakan RUPSI sesuai dengan ketentuan perjanjian perwaliamanatan
7) Para pihak sepakat untuk menyelesaikan setiap perselisihan
yang timbul dari atau sehubungan dengan akad Ijarah ini,
secara musyawarah mufakat.
Selain akad ijarah, Emiten mengadakan Akad Wakalah
Indosat Tahap I Tahun 2014 No.077/E00-E00A/FIN/14 tertanggal 24
September 2014 yang dibuat di bawah tangan antara Emiten dan PT
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk selaku Wali Amanat,83
yang kemudian dilegalisir oleh notaris.84
Dalam akad Wakalah tersebut, P.T Bank Rakyat Indonesia
(persero) Tbk selaku Wali Amanat bertindak sebagai Muwakkil dan
P.T Indosat Tbk selaku Emiten bertindak selaku Wakil. Berdasarkan
akad Wakalah tersebut, Muwakkil dan Wakil dengan ini setuju dan
sepakat serta mengikatkan diri untuk membuat akad Wakalah dengan
syarat-syarat dan ketentuan sebagai berikut :
Berdasarkan akad Ijarah tanggal 24 september 2014 dan
perjanjian perwaliamanatan sukuk Ijarah, Wali Amanat selaku wakil
dari pemegang sukuk sebagai penerima hak manfaat obyek Ijarah
(Muwakkil) memberikan kuasa khusus tanpa syarat yang tidak dapat
ditarik kembali kepada P.T Indosat Tbk sebagai Wakil untuk
melakukan hal-hal sebagai berikut :85
1) Membuat dan melangsungkan serta memperpanjang
perjanjian/kontrak dengan pihak ketiga sebagai pengguna
obyek Ijarah untuk kepentingan Pemegang Sukuk sebagai
penerima obyek Ijarah berdasarkan akad Ijarah dan Perjanjian
Perwaliamanatan Sukuk Ijarah dan apabila diperlukan,
membuat perubahan atas perjanjian/kontrak yang sudah
ditandatangani oleh Wakil dan pihak ketiga tersebut sepanjang
perubahan tersebut seusai dengan praktek industri yang belaku umum dan wajar.
2) Mewakili segala kepentingan Muwakkil dalam rangka
pelaksanaan perjanjian dengan pihak ketiga sebagai pengguna
83
Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, Op.Cit
84
Wawancara Ahmad Fawzi, Op.Cit
85
Isi Akad Wakalah sehubungan dengan penawaran umum sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014
obyek Ijarah, termasuk akan tetapi tidak terbatas untuk melakukan penagihan dan, tanpa mengesampingkan ketentuan
dibawah ini, menerima seluruh hasil pemanfaatan obyek Ijarah
dari pihak ketiga
3) Mewakili kepentingan Muwakkil dalam mencari pengganti
pihak ketiga untuk memanfaatkan obyek Ijarah.
Selain itu, didalam akad Wakalah tersebut Wakil berjanji untuk
membayar imbalan Ijarah yang terdiri dari cicilan imbalan Ijarah dan
sisa imbalan Ijarah kepada pemegang sukukIjarah yang diterima dari
pihak ketiga sesuai dengan nilai dan tata cara pembayaran yang diatur
dalam perjanjian perwaliamanatan sukuk Ijarah. Akad Wakalah
tersebut mulai berlaku sejak tanggal emisi sukuk Ijarah sebagaimana
diatur dalam perjanjian perwaliamanatan sukuk Ijarah dan akan
berakhir dengan berakhirnya akad Ijarah.
b. Kewajiban Emiten Terkait Kegiatan Usaha
Untuk melakukan penerbitan sukuk Ijarah ini, Perseroan telah
menyatakan bahwa kegiatan usaha yang mendasari penerbitan sukuk
Ijarah tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah serta
menjamin bahwa selama periode sukuk Ijarah kegiatan usaha yang
mendasari penerbitan sukuk Ijarah tidak akan bertentangan dengan
prinsip-prinsip syariah sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf b peraturan Bapepam dan LK No.IX.A.13 tentang Penerbitan Efek
Syariah,86 sebagaimana yang telah dinyatakan di dalam prospektus
umum berkelanjutan penerbitan sukuk Ijarah berkelanjutan I Indosat
Tahap I Tahun 2014.87
86
Angka 1 huruf b Peraturan Bapepam-LK No.IX.A.13 menyebutkan, Efek Syariah adalah Efek sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya yang akad maupun cara penerbitannya memenuhi Prinsip-prinsip Syariah di pasar modal.
87
Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, Op.Cit
Kegiatan usaha Perseroan saat ini adalah penyelenggara jaringan dan jasa telekomunikasi terpadu di Indonesia dan Perseroan menawarkan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional yang lengkap di Indonesia. Perseroan adalah satu dari tiga operator selular di Indonesia, berdasarkan jumlah pelanggan selular, dan penyelenggara terkemuka di sektor jasa sambungan langsung internasional di Indonesia. Perseroan juga menyediakan jasa MIDI untuk pelanggan korporat domestik dan regional dan pelanggan berskala besar dan juga
untuk pelanggan domestik retail.88
Produk dan jasa utama Emiten
Perseroan meliputi :89
1) Jasa selular, Perseroan menyediakan jasa selular GSM 900 dan
1800 dan 3G kepada sekitar 54,9 juta pelanggan selular di seluruh Indonesia, per tanggal 30 Juni 2014. Perseroan juga
menyediakan layanan mobile internet menggunakan platform
DCHSPA+ pada tahun 2014 dan pada tanggal 30 Juni 2014,
pengguna mobile internet mencapai angka 26,7 juta.
2) Jasa Multimedia, Interaktif, Data & Internet (MIDI), Perseroan
menyediakan layanan MIDI yang terdiri dari layanan Internet dan layanan data komunikasi, seperti Penyewaan Sirkit Internasional dan Domestik dan layanan berbasis MPLS. Perseroan juga menyediakan layanan berbasis satelit, seperti penyewaan transponder, layanan VSAT dan Layanan Nilai
Tambah/IT, seperti layanan Disaster Recovery Center, layanan
Data Center dan layanan Cloud Computing.
3) Jasa telekomunikasi tetap(layanan suara), Jasa telekomunikasi
tetap Perseroan meliputi Layanan jaringan tetap lokal (FWL dan FWA), layanan sambungan langsung jarak jauh domestik (SLJJ) dan internasional (SLI).
88
Ibid
89
c. Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum
Di dalam perjanjian perwaliamanatan disebutkan bahwa penggunaan dana hasil penawaran sukuk ijarah direncanakan untuk
melaksanakan opsi beli (call options) atas Obligasi dollar yang
memiliki tingkat suku bunga tetap yang akan jatuh tempo. Begitu pula
disebutkan di dalam Press Release atau paparan publik yang dilakukan
Emiten tertanggal 6 November 2014 di Jakarta, berkenaan dengan penawaran umum obligasi berkelanjutan I Indosat tahap I Tahun 2014 dan Sukuk Ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014, yang menyebutkan bahwa penerbitan instrumen hutang tersebut merupakan bagian dari rencana pendanaan perusahaan dalam rangka pelunasan
sebagian atau seluruhnya (refinancing) salah satu atau beberapa
pinjaman Rupiah atau Dollar yang dimiliki oleh Perusahaan dan untuk
pengembangan bisnis Perusahaan lebih lanjut.90
Berdasarkan prospektus awal, penawaran umum obligasi
berkelanjutan I Indosat tahap I Tahun 2014 dan Sukuk Ijarah
berkelanjutan I Indosat tahap I tahun 2014, hanya disebutkan bahwa
penggunaan dana yang diperoleh dari penawaran umum Sukuk Ijarah
setelah dikurangi dengan biaya emisi seluruhnya akan dipergunakan oleh Perseroan untuk pembayaran lisensi jaringan kepada Pemerintah yaitu biaya hak penggunaan izin pita spektrum frekuensi radio (IPSFR), Penyelenggara jaringan bergerak selular di pita frekuensi radio 800 MHz, 900 MHz dan 1800 MHz untuk periode 15 Desember 2014-14 Desember 2015.
Dalam realisasinya, berdasarkan informasi yang penulis dapatkan, tertuang dalam surat No. 008/E00-E0O/FIN/15 perihal laporan realisasi penggunaan dana terakhir hasil penawaran umum
obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 dan SukukIjarah
90
Press Release Indosat Terbitkan obligasi berkelanjutan I Indosat tahap I Tahun 2014 dan Sukuk Ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014, http://www.assets.indosat.com>assets>upload>pdf, diunduh tanggal 1 Juni 2015
Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 periode triwulan IV 2014, dengan rincian jumlah hasil penawaran umum sebesar Rp 190.000.000.000 (seratus sembilan puluh miliar Rupiah) telah dibayarkan untuk pembayaran lisensi jaringan kepada Pemerintah sebesar Rp 189.405.300.000 (seratus delapan puluh sembilan miliar empat ratus lima juta tiga ratus ribu Rupiah) setelah sebelumnya dikurangi oleh biaya penawaran umum sebesar Rp 594.700.000 (lima ratus sembilan puluh empat juta tujuh ratus ribu Rupiah).
Menurut Kanny Hidayah selaku salah satu anggota tim ahli
syariah dalam penerbitan Sukuk Ijarah berkelanjutan I Indosat tahap I
tahun 2014 mengemukakan :
ebelumnya memang terjadi perdebatan, karena dana sukuk sebenarnya dibatasi peruntukkannya sesuai dengan prinsip syariah. Tetapi dalam kasus untuk membayar hutang dalam hal ini melaksanakan opsi beli obligasi, Tim ahli bersepakat
membolehkan karena Emiten mengikis perbuatan
pembiayaan-pembiayaan yang bersifat ribawi. Hal tersebut berdampak positif
untuk meningkatkan syariah. Hutang ribawi dari bunga obligasi tersebut berkurang. Asal pembelian tersebut tidak melalui pasar derivatif.91
Sedangkan menurut tim Wali Amanat Tresna Oktaviani, berpendapat :
penggunaan dana, apabila menyimpang dari prinsip-prinsip syariah dan tidak sesuai dengan sebagaimana yang tercantum
92
d. Pernyataan Kesesuaian Syariah
Pada tanggal 24 Oktober 2014, tim ahli syariah yang ditunjuk oleh Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)
91
Wawancara Kanny Hidaya, Tim Ahli Syariah Sukuk Ijarah berkelanjutan I Indosat tahap I tahun 2014, Tanggal 31 Juli 2015
92
Wawancara Tresna Oktaviani, Divisi Invesment Service, P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, tanggal 5 agustus 2015
menerbitkan pendapat atau opini syariah dengan terlebih dahulu
membacadan mempelajari beberapa perjanjian yang terkait penerbitan
sukuk tersebut antara lain :93
1) Perjanjian Perwaliamanatan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I
Indosat Tahap I Tahun 2014
2) Akad Ijarah antara P.T Indosat Tbk dengan P.T Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tbk selaku wakil dari para Investor Sukuk
Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014
3) Akad Wakalah antara P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero)
Tbk selaku wakil dari para Investor SukukIjarah Berkelanjutan
I Indosat Tahap I Tahun 2014 dengan P.T Indosat, Tbk dan
4) Lampiran yang berisi daftar obyek Ijarah.
Terkait dengan beberapa perjanjian diatas tersebut, kemudian disinkronkan dengan beberapa fatwa DSN-MUI diantaranya yaitu :
1) Fatwa Dewan Syariah Nasional No.10/DSN-MUI/IV/2000
tentang Wakalah
2) Fatwa Dewan Syariah Nasional No.32/DSN-MUI/IX/2002
tentang Obligasi Syariah
3) Fatwa Dewan Syariah Nasional No.41/DSN-MUI/III/2004
tentang Obligasi Syariah Ijarah
4) Fatwa Dewan Syariah Nasional No40/DSN-MUI/IX/2003
tentang Pasar Modal Syariah
5) Fatwa Dewan Syariah Nasional No.43/DSN-MUI/VIII/2004
Tim Ahli Syariah Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 menyatakan bahwa Perjanjian dan akad-akad yang dibuat
dalam rangka Penerbitan SukukIjarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I
93
Tahun 2014 tidak bertentangan dengan fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia dan hukum syariah secara umum.
Mengenai opini syariah tersebut Kanny Hidaya memaparkan :
-MUI tidak secara tiba-tiba memberikan opini syariah terhadap korporasi yang ingin menerbitkan sukuk. Tetapi DSN-MUI diminta terlebih dahulu oleh perusahaan yang bersangkutan tersebut untuk mengeluarkan opini syariah. Yang masih menjadi pertanyaan adalah tidak semua korporasi memnita adanya opini syariah ini, namun pada umumnya banyak dari mereka yang meminta. Mengenai tidak dicantumkannya opini syariah didalam perjanjian perwaliamanatan dan prospektus hal tersebut memang
tidak diwajibkan, padahal keberadaannya penting agar
masyarakat tahu apakah sukuk tersebut telah sesuai dengan
prinsip- 94
e. Pengawasan Aspek Syariah
P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. selaku Wali Amanat
Sukuk Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014, memiliki
penanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan perwaliamanatan yang mengerti kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal, hal tersebut dinyatakan dalam surat pernyataan Nomor. B.187-DIM/IPM/09/2014 yang dinyatakan dan dicantumkan dalam prospektus.
Sebagaimana yang disampaikan Tresna Oktaviani :
Penanggungjawab pelaksanaan kegiatan perwaliamanatan, beliau atasan kami langsung namun tidak hanya mencakup Wali Amanat saja tetapi secara keseluruhan divisi yaitu, Vice President Divisi Invesment Service P.T Bank
Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.95
Sedangkan Emiten meminta kepada DSN-MUI untuk menunjuk
tim ahli syariah guna mengawasi penerbitan sukuk. Tim Ahli Syariah tersebut terdiri dari Dr. H. Hasanudin, M.Ag dan H. Kanny Hidaya,
94
Wawancara Kanny Hidaya, Op.Cit
95
S.E., M.A. ditunjuk oleh DSN-MUI sesuai dengan surat Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia No
U-268/DSN-yang bertugas sebagai pendamping dan mengawasi proses penerbitan
sukukIjarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014.
Kanny Hidaya memaparkan :
enerbitan sukuk secara market practice selalu didampingi oleh
Tim Ahli syariah, Orang yang ditunjuk DSN-MUI untuk
mengawal dan mengasistensi penerbitan sukuk. Awalnya
membuat struktur, kemudian review dokumen. Kemudian membuat opini syariah yang ditantandatangi oleh tim ahli syariah. Akan tetapi, keterlibatan tim ahli syariah hanya diawal
penerbitan sukuk, tidak menjadi pengawas, karena yang menjadi
pengawas kesyariahannya adalah Wali Amanat dengan
sebelumnya tim ahli syariah memberitahu apa saja yang harus
diawasi. Untuk itulah Wali Amanat harus mempunyai orang yang
paham ahli syariah. 96
2. Bentuk-Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Kepatuhan
Penerapan Prinsip-Prinsip Syariah Bagi Investor Pada Penerbitan
Sukuk Korporasi Ijarah
a. Peran Wali Amanat Sebagai Pelindung Investor
Berbeda dengan penerbitan obligasi konvensional, Wali Amanat
penerbitan sukuk sebelumnya harus mempunyai penanggungjawab atas
pelaksanaan kegiatan perwaliamanatan yang mengerti kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, P.T Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tbk. selaku Wali Amanat Sukuk Ijarah telah
memiliki penanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan
perwaliamanatan yang mengerti kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal.
96
Menurut Tresna Oktaviani :
Penanggung jawab tersebut dibutuhkan karena semakin kompleks dan beragamnya prinsip-prinsip syariah seperti akad-akad syariah, serta mengawasi kinerja Emiten agar tetap sesuai
hukum Islam sehingga Wali Amanat akan lebih banyak berusaha
untuk mengerti setiap syarat-syarat syariah tersebut.97
Mengenai pihak terkait dalam penerbitan sukuk yang memiliki penanggung jawab yang mengerti prinsip-prinsip syariah, Kanny Hidayah memaparkan :
engan adanya pihak atau pejabat dari suatu perusahaan yang paham mengenai Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal ditambah dengan adanya Tim Ahli Syariah yang ditunjuk oleh
DSN-MUI dalam penerbitan sukuk, aspek kesyariahan suatu
sukuk akan menjadi lebih terjamin dan hal tersebut dapat
melindungi Investor dari kepatuhan prinsip syariah. Akan tetapi, DSN-MUI yang membawahi tim ahli syariah tidak memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi apabila ada kepatuhan prinsip syariah yang dilanggar. Otoritas Jasa Keuangan yang dapat memberikan sanksi sebagai otoritas pengawas kegiatan Pasar Modal di indonesia, sedangkan DSN-MUI tidak
mempunyai kekuasaan untuk mengeksekusi. 98
Keberadaan Wali Amanat untuk mewakili para Investor dimulai
ketika Emiten menunjuk Wali Amanat. Ahmad Fawzi menjelaskan
mengenai proses penunjukan Wali Amanat, yaitu :
Proses penunjukan Wali Amanat menjadi kebijakan dari Emiten
seluruhnya, penunjukkan bisa melalui proses penunjukkan langsung atau melalui proses lelang. Khusus mengenai
penunjukan langsung, masing-masing Emiten mempunyai kriteria
dan pertimbangan. Pertimbangan yang dimaksud adalah
mengenai imbalan jasa Wali Amanat, ada juga pengalaman,
semakin banyak bank tersebut mempunyai pengalaman akan menjadi pertimbangan. Selain itu, ada pertimbangan berupa kenyamanan dari kerjasama-kerjasama dalam kegiatan pasar modal terlebih dahulu. Dilain itu, penjamin emisi (underwriter)
juga mempunyai andil dalam merekomendasikan. 99
97
Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit
98
Ibid
99
Dalam penerbitan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I
Tahun 2014, Emiten menunjuk langsung P.T Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk untuk menjalankan tugas selaku Wali Amanat
berdasarkan Surat Penunjukan No.055/E00-E00A/FIN/14 tanggal 18 Agustus 2014.
Tresna Oktaviani menjelaskan :
ebelum proses emisi sukuk, Wali Amanat diwajibkan untuk
melakukan due diligence (uji tuntas), untuk menganalisa
data-data historis Emiten termasuk penerbitan-penerbitan sukuk
sebelumnya apakah pernah terjadi masalah atau tidak yang
menyebabkan sukuk mengalami gagal bayar atau sukuk menjadi
batal demi hukum karena dilanggarnya kepatuhan prinsip-prinsip syariah.100
P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, selaku Wali Amanat
dalam penerbitan SukukIjarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun
2014, sebagaimana dicantumkan dalam perjanjian perwaliamanatan memiliki tugas pokok dan tanggung jawab antara lain :
1) Mewakili kepentingan para pemegang sukuk Ijarah, baik di
dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan Perjanjian Perwaliamanatan dan peraturan perundang-undangan
2) Melaksanakan tugas sebagai Wali Amanat berdasarkan
Perjanjian Perwaliamanatan dengan Emiten, tetapi perwakilan
tersebut mulai berlaku efektif pada saat Sukuk Ijarah telah
dilaksanakan kepada Pmegang SukukIjarah
3) Melaksanakan tugas sebagai Wali Amanat berdasarkan
Perjanjian Perwaliamanatan dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan Perjanjian Perwaliamanatan
4) Memberikan semua keterangan atau informasi sehubungan
dengan pelaksanaan tugas-tugas perwaliamanatan kepada Otoritas Jasa Keuangan.
100
Selain itu, Wali Amanat juga wajib melaksanakan tugas, fungsi dan kewajiban Wali Amanat antara lain : 101
1) Memantau perkembangan pengelolaan kegiatan usaha Emiten,
berdasarkan data dan/atau informasi yang diperoleh baik langsung maupun tidak langsung termasuk melakukan peninjauan lapangan
2) Mengawasi dan memantau pelaksanaan kewajiban Emiten
berdasarkan Perjanjian Perwaliamanatan dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan Perjanjian Perwaliamanatan.
3) Melaksanakan hasil keputusan RUPSI seuai dengan tanggung
jawabnya.
4) Mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan sesuai dengan
ketentuan-ketentuan dalam Perjanjian Perwaliamanatan.
5) Memanggil dan menyelenggarakan RUPSI sebagaimana diatur
dalam Perjanjian Perwaliamanatan. Sebelum mengambil
tindakan atas nama pemegang Sukuk Ijarah berdasarkan
Perjanjian Perwaliamanatan atau cara-cara lain yang
dimaksudkan dalam Perjanjian Perwaliamanatan.
Mengenai apakah Wali Amanat menjelaskan prinsip-prinsip
syariah kepada Investor terkait sukuk yang diterbitkan, Ahmad Fawzi memaparkan :
Wali Amanat selaku wakil dari Investor, tidak menjelaskan atau
memberi penyuluhan tentang prinsip-prinsip syariah terkait sukuk
Ijarah yang diterbitkan tersebut yang dituangkan kedalam
perjanjian perwaliamanatan. Wali Amanat merasa hal tersebut
bukan kewajiban sehingga Wali Amanat tidak perlu melakukan
itu.102
101
Isi Perjanjian Perwaliamanatan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014
102
Mengenai begitu tingginya kedudukan Emiten dalam perumusan
perjanjian perwaliamanatan dibandingkan dengan Wali Amanat,
Tresna Oktaviani menuturkan strategi Wali Amanat, yaitu:
Wali Amanat juga sebisa mungkin untuk membatasi Emiten agar
tidak sampai merugikan Investor dengan menuangkan di dalam Perjanjian Perwaliamanatan mengenai batasan-batasan dan kewajiban-kewajiban Emiten.103
Sehubungan dengan perbuatan hukum tersebut ada beberapa
peran dan tugas yang harus dilakukan Wali Amanat khususnya dalam
menjaga kepatuhan prinsip syariah, seperti memasukkan ke dalam
Perjanjian Perwaliamanatan kewajiban-kewajiban Emiten dan Wali
Amanat terkait kepatuhan prinsip syariah, antara lain :104
1) Emiten wajib mentaati prinsip-prinsip syariah di pasar modal,
proses penerbitan efek syariah dan akad syariah yang digunakan dalam penerbitan efek syariah.
2) Wali Amanat setiap saat dapat mengambil segala tindakan yang
diperlukan dalam rangka memastikan kepatuhan Emiten
terhadap prinsip-prinsip syariah di Pasar Modal.
3) Emiten wajib menggunakan dana hasil penawaran umum sukuk
untuk membiayai kegiatan atau investasi yang tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal
4) Wali Amanat dapat mengambil tindakan lain yang tidak
dikuasakan atau tidak termuat dalam Perjanjian
Perwaliamanatan atau berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.
5) Tindakan yang harus dilakukan dalam hal Emiten akan
mengubah jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan
usaha dan atau aset tertentu yang mendasari penerbitan Sukuk.
103
Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit
104
6) Dalam hal terjadi perubahan jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha dan atau aset tertentu yang mendasari
penerbitan Sukuk sehingga bertentangan dengan Prinsip-prinsip
Syariah di Pasar Modal, maka Sukuk tersebut menjadi batal
demi hukum (fasakh) dan Emiten wajib menyelesaikan seluruh
kewajibannya kepada pemegang Sukuk
7) Wali Amanat mengikatkan diri untuk melaksanakan tugas-tugas
dan/atau kewajibannya sebagai Wali Amanat dengan penuh
tanggung jawab, penuh integritas, serta bertindak secara
bijaksana semata-mata untuk kepentingan pemegang sukuk
Ijarah.
8) Wali Amanat bertanggung jawab kepada pemegang sukuk
Ijarah untuk setiap kerugian yang diderita akibat dari kelalaian,
kecerobohan Wali Amanat atau tindakan-tindakan yang
disebabkan adanya pertentangan kepentingan dalam
hubungannya dengan tugas-tugas Wali Amanat sebagaimana
tercantum dalam Perjanjian Perwaliamanatan.
Apabila terjadi pelanggaran kepatuhan prinsip syariah dalam pemenuhan kewajiban maupun isi perjanjian yang ada dalam Perjanjian Perwaliamanatan, Ahmad Fazi menjelaskan :
Wali Amanat akan melakukan tindakan-tindakan yang
diperlukan, seperti meminta Emiten melakukan langkah-langkah
untuk memperbaiki hal yang dilanggar tersebut, ataupun
mengadakan Rapat Umum Pemegang Sukuk Ijarah (RUPSI)
untuk menentukan langkah yang akan diambil. Apabila ada hal yang kurang jelas ataupun ada indikasi pelanggaran kepatuhan prinsip syariah yang terlebih dahulu diketahui oleh salah satu Investor maka Investor tersebut akan meminta penjelasan kepada
Wali Amanat, kemudian Wali Amanat akan bersurat kepada
Emiten untuk mengkonfirmasi apabila ada Investor yang
meminta penjelasan. Selanjutnya Emiten akan menyurat kepada
Wali Amanat untuk mengkonfirmasi, hasil konfirmasi tersebut
akan dijelaskan terlebih dahulu kepada Investor melalui surat
resmi, telepon atau melalui forum informal meeting. Jika
mengundang Investor dan Emiten untuk mengadakan Rapat
Umum Pemegang SukukIjarah (RUPSI).105
Kemudian Trena Oktaviani menambahkan :
Selain apa yang tercantum di dalam Perjanjian
Perwaliamanatan, dalam mengawasi kepatuhan prinsip syariah
setelah emisi sukuk, Wali Amanat melakukan evaluasi secara
rutin setiap 3 (tiga) bulan sekali. Evaluasi rutin ini dihadiri oleh
seluruh tim Wali Amanat dan tidak menutup kemungkinan
mengundang tim ahli syariah untuk sekedar berkonsultasi. Evaluasi rutin tersebut akan melaporkan dari setiap tugas dan
fungsi Wali Amanat seperti memantau perkembangan
pengelolaan kegiatan usaha Emiten atau hasil pengawasan
pelaksanaan kewajiban-kewajiban Emiten dalam Sukuk Ijarah
tersebut kepada para Investor.106
b. Perjanjian Perwaliamanatan Sebagai Dasar Perlindungan
Investor
Perjanjian perwaliamanatan merupakan dasar dari hubungan
hukum antara Investor pemegang sukuk dengan Emiten. Perjanjian
inilah yang menjadi patokan mengenai sejauh mana perlindungan
kepada investor diberikan. Apabila kualitas perjanjian
perwaliamanatannya buruk maka Investor tidak akan mendapatkan perlindungan yang optimal.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ahmad Fawzi :
Wali Amanat dalam menjaga kepatuhan prinsip-prinsip syariah
pada saat sukuk telah dipegang oleh para Investor adalah
mengacu pada covenant-covenant yang dituangkan kedalam
Perjanjian Perwaliamanatan. Proses terbentuknya perjanjian Perwaliamanatan tersebut berawal dari draft perjanjian yang
dibuat oleh Notaris. Selanjutnya, Wali Amanat akan diundang
bersama underwriter, Emiten, dan Tim ahli syariah dalam
perumusan perjanjian perwaliamanatan tersebut. Dalam
perumusan tersebut Wali Amanat akan memperjuangkan
kepentingan dari para Investor selain dari sisi penerapan prinsip
107
105
Ibid
106
Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit
107
Dengan tidak adanya Investor dalam merumuskan perjanjian perwaliamanatan yang memang pada saat itu belum terdapat Investornya, para Investor tersebut juga tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari dengan baik isi dari perjanjian perwaliamanatan
sebelum membeli sukuk.
Tresna Oktaviani menjelaskan :
SukukIjarah ini, Investor tidak mempelajari
perjanjian perwaliamanatan sukuk, cukup dengan mempelajari
prospektus, karena dalam prospektus sudah cukup jelas. Dan bagian-bagian inti dari Perjanjian Perwaliamanatan juga terdapat di dalam prospektus. Investor melihat prospektus sebelum
melakukan pembelian sukuk, sehingga apabila Investor tidak
setuju dengan isi perjanjian perwaliamanatan yang dicantumkan dalam prospektus, Investor tidak akan membeli sukuk tersebut.
Sebaliknya dengan Investor membeli sukuk, berarti Investor
setuju dengan isi prospektus. 108
Perjanjian Perwaliamanatan mengatur mengenai kewajiban-kewajiban Emiten dan Wali Amanat terkait kepatuhan prinsip syariah agar tidak sampai merugikan Investor, sebagaimana diatur dalam perjanjian perwaliamanatan sukuk Ijarah tersebut, antara lain :109
1) Emiten wajib mentaati prinsip-prinsip syariah di pasar
modal, proses penerbitan efek syariah dan akad syariah yang digunakan dalam penerbitan efek syariah
2) Wali Amanat setiap saat dapat mengambil segala tindakan
yang diperlukan dalam rangka memastikan kepatuhan
Emiten terhadap prinsip-prinsip syariah di Pasar Modal
3) Emiten wajib menggunakan dana hasil penawaran umum
sukuk untuk membiayai kegiatan atau investasi yang tidak
bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal
108
Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit
109
4) Wali Amanat dapat mengambil tindakan lain yang tidak
dikuasakan atau tidak termuat dalam Perjanjian
Perwaliamanatan atau berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.
5) Tindakan yang harus dilakukan dalam hal Emiten akan
mengubah jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha dan atau aset tertentu yang mendasari penerbitan
Sukuk.
6) Dalam hal terjadi perubahan jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha dan atau aset tertentu yang
mendasari penerbitan Sukuk sehingga bertentangan dengan
Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal, maka Sukuk
tersebut menjadi batal demi hukum (fasakh) dan Emiten
wajib menyelesaikan seluruh kewajibannya kepada
pemegang Sukuk
7) Wali Amanat mengikatkan diri untuk melaksanakan
tugas-tugas dan/atau kewajibannya sebagai Wali Amanat dengan
penuh tanggung jawab, penuh integritas, serta bertindak secara bijaksana semata-mata untuk kepentingan pemegang
sukukIjarah.
Adapun hak-hak pemegang Sukuk Ijarah yang tertuang dalam
perjanjian perwaliamanatan sukuk tersebut, antara lain yaitu :110
1) Menerima pembayaran kembali Sisa Imbalan Ijarah,
pembayaran Cicilan Imbalan Ijarah dan hak-hak lain yang
berhubungan dengan Sukuk Ijarah dengan memperhatikan
ketentuan Pasal 5 ayat 10 Perjanjian Perwaliamanatan
SukukIjarah.
110
Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, Op.Cit
2) Pemegang Sukuk Ijarah yang berhak mendapatkan
pembayaran Cicilan Imbalan Ijarah adalah Pemegang
Sukuk Ijarah yang namanya tercatat dalam Daftar
Pemegang Rekening, pada 4 (empat) Hari Bursa sebelum
Tanggal Pembayaran Cicilan Imbalan Ijarah, kecuali
ditentukan lain oleh KSEI atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian jika terjadi
transaksi Sukuk Ijarah setelah tanggal penentuan pihak
yang berhak memperoleh Cicilan Imbalan Ijarah tersebut
maka pihak yang menerima pengalihan Sukuk Ijarah
tersebut tidak berhak atas Cicilan Imbalan Ijarah pada
periode Cicilan Imbalan Ijarah yang bersangkutan.
3) Apabila Perseroan ternyata tidak menyediakan dana
secukupnya untuk pembayaran Cicilan Imbalan Ijarah dan
pembayaran kembali Sisa Imbalan Ijarah setelah lewat
Tanggal Pembayaran Cicilan Imbalan Ijarah atau Tanggal
Pembayaran Kembali Sisa Imbalan Ijarah, maka Perseroan
harus membayar Kompensasi Kerugian Akibat
Keterlambatan atas kelalaian membayar jumlah Sisa
Imbalan Ijarah dan/atau Cicilan Imbalan Ijarah atas
Imbalan Ijarah. Kompensasi Kerugian Akibat
Keterlambatan yang dibayar oleh Perseroan yang
merupakan hak Pemegang Sukuk Ijarah, oleh Agen
Pembayaran akan diberikan kepada Pemegang SukukIjarah
secara proporsional berdasarkan besarnya Sukuk Ijarah
yang dimilikinya.
4) Seorang atau lebih Pemegang SukukIjarah yang mewakili
sedikitnya 20 % (dua puluh persen) dari jumlah Sisa
Imbalan Ijarah yang masih belum dibayar (di luar dari
jumlah Sisa Imbalan Ijarah yang dimiliki oleh Perseroan dan/atau Perseroan Terafiliasi) mengajukan permintaan
tertulis kepada Wali Amanat Sukuk Ijarahagar diselenggarakan RUPSI dengan memuat acara yang diminta dengan melampirkan asli KTUR dari KSEI yang diperoleh melalui Pemegang Rekening, kecuali ditentukan lain oleh
Wali Amanat Sukuk Ijarah, dengan ketentuan terhitung
sejak diterbitkannya KTUR.
5) Melalui Keputusan RUPSI, Pemegang Sukuk antara lain
berhak melakukan tindakan sebagai berikut:
a). mengambil keputusan sehubungan dengan usulan
Pemegang Sukuk Ijarah bersifat utang mengenai
perubahan jangka waktu Sukuk Ijarah, Sisa Imbalan
Ijarah, suku Imbalan Ijarah, perubahan tata cara atau
periode pembayaran Imbalan Ijarah, dan ketentuan
lain dalam Perjanjian Perwaliamanatan SukukIjarah.
b). menyampaikan pemberitahuan kepada Wali Amanat
Sukuk Ijarah, memberikan pengarahan kepada Wali
Amanat SukukIjarah, dan/atau menyetujui suatu
kelonggaran waktu atas suatu kelalaian berdasarkan
Perjanjian Perwaliamanatan SukukIjarah serta
akibat-akibatnya, atau untuk mengambil tindakan lain sehubungan dengan kelalaian;
c). memberhentikan Wali Amanat Sukuk Ijarah dan
menunjuk pengganti Wali Amanat Sukuk Ijarah
menurut ketentuan-ketentuan Perjanjian
Perwaliamanatan SukukIjarah;
d). mengambil tindakan yang dikuasakan oleh atau atas
nama Pemegang Sukuk Ijarah termasuk dalam
penentuan potensi kelalaian yang dapat menyebabkan terjadinya kelalaian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9 Perjanjian Perwaliamanatan SukukIjarah dan
e). Wali Amanat bermaksud mengambil tindakan lain yang tidak dikuasakan atau tidak termuat dalam
Perjanjian Perwaliamanatan Sukuk Ijarah atau
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.
Pada masa setelah emisi juga dimungkinkan adanya perubahan Perjanjian Perwaliamanatan apabila dirasa perlu diadakannya perubahan. Perubahan Perjanjian Perwaliamanatan tersebut dapat
dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Sukuk (RUPSukuk).
Tresna Oktaviani menjelaskan :
sukuk Ijarah tersebut,
tertuang Wali Amanat dapat melakukan tindakan lain-lain,
termasuk ingin merubah isi perjanjian Perwaliamanatan demi
melindungi pemegang sukuk dengan sebelumnya Wali Amanat
melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan penanggung jawab
Wali Amanat y 111
Didalam perjanjian perwaliamanatan dijelaskan perubahan Perjanjian Perwaliamanatan dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :112
1) Apabila perubahan perjanjian perwaliamanatan dilakukan
sebelum tanggal emisi, maka perubahan dan/atau penambahan perjanjian perwaliamanatan tersebut harus dibuat dalam suatu perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh Wali Amanat dan
Emiten dan setelah perubahan tersebut dilakukan,
memberitahukan kepada otoritas jasa keuangan dengan tidak mengurangi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia
2) Apabila perubahan Perjanjian Perwaliamanatan dilakukan
pada dan/atau setelah tanggal emisi, maka perubahan
111
Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit
112
perjanjian perwaliamanatan hanya dapat dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari RUPSI dan perubahan dan/atau penambahan tersebut dibuat dalam suatu perjanjian tertulis
yang ditandatangani oleh Wali Amanat dan Emiten
c. Rapat Umum Pemegang Sukuk Sebagai Sarana Perlindungan
Hukum Investor
Salah satu pengawasan bagi Emiten adalah Wali Amanat dapat
mengadakan Rapat Umum Pemegang Sukuk untuk membahas
perubahan perjanjian perwaliamanatan atau mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh Emiten. 113
Sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Perwaliamanatan Sukuk
Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014, Rapat Umum
Pemegang SukukIjarah (RUPSI) diadakan untuk tujuan antara lain :
1) Mengambil keputusan sehubungan dengan usulan Emiten atau
Pemegang Sukuk Ijarah mengenai perubahan jangka waktu
Sukuk Ijarah. Sisa Imbalan Ijarah, Cicilan imbalan Ijarah,
perubahan tata cara atau periode pembayaran cicilan imbalan
Ijarah.
2) Menyampaikan pemberitahuan kepada Emiten dan/atau Wali
Amanat, memberikan pengarahan kepada Wali Amanat,
dan/atau menyetujui suatu kelonggaran waktu atas suatu kelalaian berdasarkan Perjanjian Perwaliamanatan serta akibat-akibatnya, atau untuk mengambil tindakan lain sehubungan dengan kelalaian.
113 RUPSI juga dapat diselengggarakan atas permintaan : Pemegang Sukuk Ijarah baik sendiri
maupun bersama-sama yang mewakili paling sedikit lebih dari 20% (duapuluh persen) dari jumlah Sukuk Ijarah yang belum dilunasi, namun tidak termasuk Sukuk Ijarah yang dimiliki oleh Emiten dan/atau afilisasi Emiten, mengajukan permintaan tertulis kepada Wali Amanat untuk diselenggarakan RUPSI, lihat Pasal 10 ayat 2 huruf (a) Perjanjian Perwaliamanatan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014
3) Mengambil tindakan yang dikuasakan oleh atau atas nama
Pemegang Sukuk Ijarah termasuk dalam penentuan potensi
kelalaian yang dapat menyebabkan terjadinya kelalaian sebagaimana dimaksud dalam Perjanjian Perwaliamanatna
4) Wali Amanat bermaksud mengambil tindakan lain yang tidak
dikuasakan atau tidak termuat dalam Perjanjian
Perwaliamanantan atau berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.
Mengenai Rapat Umum Pemegang Sukuk, Ahmad Fawzi
menjelaskan :
Rapat Umum Pemegang Sukuk dipimpin oleh Wali Amanat dan
Wali Amanat wajib mempersiapkan acara RUPSI termasuk
materi RUPSI dan menunjuk notaris untuk membuat berita acara
RUPSI. Sebelumnya Wali Amanat akan mengecek terlebih
dahulu kepada Emiten atau Investor terkait hal yang ingin
dibahas dalam RUPSI dengan bersurat kepada Emiten atau
Investor terlebih dahulu. Ketika terdapat potensi pelanggaran
kepatuhan syariah, dan tidak cukup hanya melalui informal
meeting, maka pemegang sukuk dapat meminta diadakannya
Rapat Umum Pemegang Sukuk dengan terlebih dahulu
menghubungi Wali Amanat. 114
Tresna Oktaviani juga menambahkan :
Wali Amanat juga dapat menolak permohonan pemegang sukuk
Ijarah atau Emiten untuk mengadakan RUPSI dengan wajib
memberitahukan secara tertulis alasan penolak tersebut kepada pemohon dengan tembusan kepada Otoritas Jasa Keuangan.
Akan tetapi, pada praktiknya selama ini, Wali Amanat belum
pernah menolak permohonan RUPSI karena Investor pasti mempunyai dasar untuk mengadakan RUPSI. Bahkan untuk hal
yang kurang terlalu pentingpun Wali Amanat akan memfasilitasi
untuk mengadakan RUPSI.115
114
Wawancara Ahmad Fawzi, Op.Cit
115
d. Tanggung Jawab Emiten Apabila Sukuk Batal Demi Hukum
Berdasarkan peraturan IX.A.13 disebutkan bahwa dalam hal terjadi perubahan jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha
dan atau aset tertentu yang mendasari penerbitan Sukuk sehingga
bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal maka
Sukuk tersebut menjadi batal demi hukum (fasakh) dan Emiten wajib
menyelesaikan seluruh kewajibannya kepada pemegang Sukuk.
Lebih lanjut dalam peraturan tersebut juga mewajibkan
Perjanjian perwaliamanatan penerbitan Sukuk memuat tindakan yang
harus dilakukan dalam hal Emiten akan mengubah jenis Akad Syariah,
isi Akad Syariah, kegiatan usaha dan atau aset tertentu yang mendasari penerbitan Sukuk.
Sedangkan mekanisme perubahan jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha dan atau aset tertentu yang mendasari
penerbitan Sukuk wajib terlebih dahulu disetujui oleh Rapat Umum
Pemegang Sukuk (RUPSukuk).
Perubahan-perubahan tersebut hanya dapat dilakukan setelah
terlebih dahulu disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Sukuk (RUP
Sukuk) dan diperlukan bagaimana mekanisme pemenuhan hak
pemegang Sukuk yang tidak setuju terhadap perubahan tersebut.
Ditambah lagi, perubahan-perubahan tersebut harus memiliki pernyataan kesesuaian syariah dari Tim Ahli Syariah terlebih dahulu.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, sukuk tidak lagi menjadi
Efek Syariah jika terjadi perubahan jenis Akad Syariah, isi Akad
Syariah, dan/atau aset yang menjadi dasar sukuk, yang menyebabkan
bertentangan dengan Prinsip Syariah di Pasar Modal. Berdasarkan keterangan tersebut, tidak menjadi masalah apabila perubahan-perubahan tersebut tetap sesuai dengan prinsip-prinsip syariah di pasar
modal, yang akan menjadi masalah adalah apabila sukuk tersebut
prinsip-prinsip syariah atau dilakukan perubahan tanpa sepengetahuan investor.
Lebih lanjut, dalam hal terjadi kondisi sukuk batal demi hukum
maka sukuk berubah menjadi utang piutang dan Emiten wajib
menyelesaikan kewajiban atas utang piutang dimaksud kepada
pemegang Sukuk.
Menurut pendapat Tresna Oktaviani,
erubahan jenis Akad Syariah, isi Akad Syariah, kegiatan usaha
dan atau aset tertentu yang mendasari penerbitan sukuk
sebelumnya harus terlebih dahulu disampaikan kepada Wali
Amanat, kemudian Wali Amanat akan menginformasikannya
kembali kepada para Investor. Hal tersebut untuk memberikan prinsip keterbukaan kepada Investor karena apabila perubahan-perubahan tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan Investor maka
Emiten dianggap telah melakukan pelanggaran kesyariahan. 116
Tresna Oktaviani melanjutkan :
pabila Emiten melakukan pelanggaran syariah baik berupa
perubahan akad tanpa sepengetahuan investor atau pelanggaran prinsip-prinsip syariah, maka ada ruang untuk investor melakukan gugatan karena investor akan dirugikan dengann hilangnya pendapatan tetap berupa cicilan imbalan ijarah yang telah ditetapkan. 117
Hal tersebut juga disetujui oleh Kanny Hidaya yang mengemukakan :
isa saja Emiten digugat oleh Investor apabila terbukti Emiten
melakukan pelanggaran kesyariahan dan Otoritas Jasa Keuangan akan memberikan sanksi sesuai perundang-undangan yang
118
e. Peran Otoritas Jasa Keuangan Sebagai Pengawas
Otoritas Jasa Keuangan (disingkat OJK) adalah lembaga negara yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 yang berfungsi
116
Wawancara Tresna Oktaviani, Op.Cit
117
Ibid
118
menyelengggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegaris terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan, salah satu tugas OJK adalah pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal.
Dalam penerbitan sukukIjarah ini, peran Otoritas Jasa Keuangan
adalah antara lain :119
1) Emiten menyerahkan dokumen-dokumen terkait penawaran
umum kepada Otoritas Jasa Keuangan
2) Emiten yang akan menerbitkan sukuk wajib menyampaikan
kepada OJK pernyataan bahwa kegiatan usaha yang
mendasari penerbitan Sukuk tidak bertentangan dengan
prinsip syariah, dan menjamin bahwa selama periode Sukuk
kegiatan usaha yang mendasari penerbitan Sukuk tidak akan
bertentangan dengan ketentuan syariah.
3) Otoritas Jasa Keuangan menerima laporan apabila
penggunaan dana hasil Emisi Sukuk Ijarah akan diubah,
dengan mengemukakan alasan beserta pertimbangannya
dan perubahan pengggunaan dana tersebut harus
mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Wali Amanat
setelah terlebih dahulu disetujui oleh RUPSI, sesuai dengan
Peraturan Bapepam Nomor X.K.4. Sampai seluruh dana
hasil Emisi Sukuk Ijarah digunakan seluruhnya, Emiten
akan melaporkan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum ini secara berkala setiap 3 (tiga) bulan
kepada Otoritas Jasa Keuangan serta Wali Amanat sesuai
dengan Peraturan Bapepam Nomor X.K.4
4) Seluruh kewajiban laporan yang terkait dalam perjanjian
perwaliamanatan wajib disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan.
119
5) Emiten wajib menyerahkan pemeringkatan tahunan atas
sukukIjarah kepada Otoritas Jasa Keuangan
6) Otoritas Jasa Keuangan dapat meminta diselenggarakan
RUPSI dengan ketentuan dihadiri oleh pemegang sukuk
Ijarah atau diwakili paling sedikit ½ (satu per dua) bagian
dari jumlah sukukIjarah yang masih belum dilunasi.
7) Wali Amanat wajib melaporkan kepada Otoritas Jasa
Keuangan apabila ditemukan adanya indikasi kelalaian
Emiten, dengan adanya bukti yang cukup menurut analisa
Wali Amanat.
8) Otoritas Jasa Keuangan memberikan sanksi kepada Emiten
yang terbukti sengaja lalai
Mengenai peran Otoritas Jasa Keuangan, Ahmad Fawzi memaparkan :
Otoritas Jasa Keuangan juga mengecek perjanjian
perwaliamanatan dan prospektus penawaran umum terkait penerbitan sukuk, apakah sudah sesuai dengan peraturan OJK dan Bapepam-LK sehingga perjanjian perwaliamanatan tersebut mampu memberikan perlindungan yang maksimal kepada para
Investor pemegang sukuk. Peranan Otoritas Jasa Keuangan
sebagai pengawas dalam penerbitan sukuk sangat efektif untuk
mencegah terjadinya sukuk menjadi batal demi hukum (fasakh)
karena peranan OJK yang mampu memberikan sanksi bagi
Emiten yang melanggar.120
Hal senada juga dikemukakan oleh Kanny Hidaya, yaitu :
sukuk karena
mereka terus mengawasi kinerja Emiten dan berdasarkan
pengalaman OJK sangat profesional dalam melindungi kepentingan-kepentingan para Investor, namun memang regulasi-regulasi yang ada masih dirasa kurang untuk memberikan
kenyamana investasi khususnya 121
120
Wawancara Ahmad Fawzi, Op.Cit
121
B. Pembahasan
1. Upaya-Upaya Pihak Terkait Dalam Penerbitan Sukuk Korporasi
Ijarah Agar Sukuk Tidak Bertentangan Dengan Prinsip Syariah
a. Akad Syariah Dalam Penerbitan Sukuk Ijarah
Dalam syariah Islam, asas-asas kesepakatan dalam kegiatan ekonomi diatur dalam berbagai bentuk perjanjian (akad). Akad syariah menjadi dasar kegiatan ekonomi di Pasar Modal Indonesia. Penerbitan
efek syariah wajib dilakukan berdasarkan akad syariah.122 Akad syariah
adalah perjanjian/kontrak yang sesuai dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Bapepam dan Lembaga Keuangan Nomor IX.A.14 tentang akad-akad yang
digunakan dalam penerbitan efek syariah di pasar modal.123
Dalam penerbitan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I
Tahun 2014, sukuk yang diterbitkan tersebut berdasarkan akad Ijarah.
Akad yang digunakan dalam Obligasi Syariah Ijarah adalah Ijarah
dengan memperhatikan substansi Fatwa DSN-MUI
No.09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah, terutama mengenai rukun
dan syarat akad.124
Fatwa Dewan Syariah Nasional No.09/DSN-MUI/IV/2000
menyebutkan, Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas
suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu
sendiri. Dengan demikian dalam akad Ijarah tidak ada perubahan
kepemilikan, tetapi hanya pemindahan hak guna/manfaat saja dari yang menyewakan kepada penyewa.
122
Peraturan No.IX.A.13, lampiran keputusan ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor Kep-130/BL/2006 tentang Penerbitan Efek Syariah
123
Peraturan No.IX.A.14, lampiran keputusan ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor Kep-131/BL/2006 tentang akad-akad yang digunakan dalam penerbitan efek syariah di pasar modal
124
Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 41/DSN-MUI/III/2004 Tentang Obligasi Syariah Ijarah, http://www.ojk.go.id/fatwa-nomor-41-dsn-mui-iii-2004, diunduh tanggal 9 januari 2015
Dalam Fatwa No.09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan
Ijarah, rukun dan syarat Ijarah ialah :
1) Pihak-Pihak Yang Berakad
Pengertian pihak adalah orang perseorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi.125 Para pihak yang terlibat pada akad Ijarah sehubungan dengan
penawaran umum berkelanjutan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I
Indosat Tahap I Tahun 2014 P.T Indosat Tbk dan P.T Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Pihak yang bertindak selaku adalah P.T Indosat,Tbk yang berkeinginan untuk
mengalihkan hak manfaat atas obyek Ijarah dengan P.T Bank
Rakyat Indonesia,Tbk selaku yang merupakan Wali
Amanatsukuk yang berdasarkan Undang-Undang Pasar Modal
mewakili kepentingan pemegang sukukIjarah.
Disyaratkan jir dan adalah orang yang
sudah baligh (dewasa), berakal, cakap melakukan tasbarruf
(mengendalikan harta), saling meridhoi dan mengetahui manfaat barang yang diakadkan dengan sempurna. Dalam hal ini akad telah diwakilkan oleh pihak yang atas kuasa sah mewakili Direksi dari P.T Indosat Tbk dan P.T Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk yang masing-masing telah memenuhi
syarat kecakapan menurut hukum Islam.126
2) Ijab dan Qabul (sighat)
Ijab dan qabul akad Ijarah adalah pernyataan niat dari para pihak yang berkontrak, baik secara verbal atau tulisan. Pernyataan tersebut persetujuan dari pemilik aset dan penerimaan yang dinyatakan oleh penerima manfaat obyek.
Pernyataan ijab dan qabul dalam akad Ijarah sehubungan
125
Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, Op.Cit
126
dengan penawaran umum berkelanjutan Sukuk Ijarah
Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014 dibuat dengan tulisan yang dapat dibuktikan dengan adanya suatu akad yang dibuat berdasarkan kesepakatan oleh para pihak. yaitu P.T
Indosat Tbk sebagai ajir dan pemegang sukuk yang
diwakili oleh P.T Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk, selaku
Wali Amanat sebagai . Dalam akad Ijarah tersebut,
tertuang keinginan yaitu :127
manfaat atas jaringan Multimedia, Data Communication,
Internet (MIDI) kepada Pihak Kedua serta memberikan
hak untuk menggunakan dan/atau menyewakan kembali
hak manfaat atas Jaringan Multimedia, Data
Communication, Internet (MIDI) tersebut kepada pihak
lain, dan Pihak Kedua juga berkeinginan untuk menerima pengalihan hak manfaat serta pemberian hak untuk menggunakan dan/atau menyewakan kembali kepada
pihak lain hak manfaat atas Jaringan Multimedia, Data
Communication, Internet
Yang kemudian diikuti oleh persetujuan dari keinginan tersebut, yaitu :
dengan ini setuju untuk mengalihkan hak manfaat serta memberikan hak untuk menggunakan dan/atau menyewakan kembali kepada pihak lain atas
obyek Ijarah kepada dan dengan ini
setuju untuk menerima pengalihan hak manfaat dan
pemberian hak atas Obyek Ijarah tersebut dari
Disyaratkan, ijab dan qabul oleh pihak yang berakad harus berada dalam satu akad. Jika hanya satu pihak saja yang menyatakan maka ijab dan qabul tersebut tidak dinamakan sebagai akad. Dengan telah tertuangnya persetujuan tersebut
maka telah terpenuhi ijab dan qabul dalam akad Ijarah ini.
127 Isi Akad Ijarah sehubungan dengan penawaran umum berkelanjutan Sukuk Ijarah
3) Obyek Ijarah (manfaat)
Salah satu unsur terbentuknya akad adalah sesuatu yang dijadikan obyek akad dan dikenakan akibat hukum yang ditimbulkannya. Obyek akad dalam Islam harus diketahui secara jelas dan detail, dapat berupa benda, manfaat benda, jasa atau pekerjaan atau suatu hal lainnya yang tidak bertentangan dengan syariat.128
Dalam akad Ijarah sehubungan dengan penawaran umum
berkelanjutan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I
Tahun 2014, obyek Ijarah adalah berupa hak manfaat atas
jaringan Multimedia, Data Communication, Internet (MIDI)
dengan nilai pengalihan obyek Ijarah dari kepada
sebanyak-banyaknya sebesar Rp 190.000.000.000 (seratus sembilan puluh miliar Rupiah).
Jasa Multimedia, Interaktif, Data & Internet (MIDI) dari
Emiten ialah jasa penyedia layanan yang terdiri dari layanan
Internet dan layanan data komunikasi, seperti Penyewaan Sirkit Internasional dan Domestik dan layanan berbasis MPLS. Kemudian juga penyediaan layanan berbasis satelit, seperti penyewaan transponder, layanan VSAT dan Layanan Nilai
Tambah/IT, seperti layanan Disaster Recovery Center, layanan
Data Center dan layanan Cloud Computing.129
Emiten merupakan operator selular yang termasuk dalam
salah satu operator besar di Indonesia, dan penyelenggara terkemuka di sektor jasa sambungan langsung internasional di
Indonesia. Emiten menyediakan jasa MIDI untuk pelanggan
korporasi domestik dan regional dan pelanggan berskala besar dan juga untuk pelanggan domestik retail.
128
Dimyaudin Djuwaini, Pengantar fiqh muamalah, Pustaka Pelajar, Jakarta, 2008, hal 57
129
Prospektus penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014 dan sukuk ijarah berkelanjutan I Indosat Tahap I tahun 2014, Op.Cit
Dari paparan tersebut diatas obyek Ijarah dalam akad
Ijarah sehubungan dengan penawaran umum berkelanjutan
Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun 2014
mempunyai manfaat yang dibolehkan (tidak diharamkan) karena obyeknya bukan sesuatu yang dilarang oleh Islam dan memiliki nilai ekonomis (dapat dinilai).
Menurut Imam al-Syairazi, melakukan akad Ijarah (sewa
menyewa) atas manfaat yang dibolehkan karena keperluan terhadap manfaat sama dengan keperluan terhadap benda. Oleh karena akad jual beli atas benda dibolehkan maka sudah seharusnya boleh pula akad
Ijarah atas manfaat.130 Definisi Ijarah juga dikemukakan oleh beberapa
ulama fiqh, yaitu Ulama Hanafi yang mendefinisikan Ijarah adalah
mendefinisikan Ijarah adalah transaksi terhadap suatu manfaat yang
dituju, tertentu, bersifat mubah dan bisa dimanfaatkan dengan imbalan tertentu.131
Definisi lain menyebutkan bahwa Ijarah adalah pemilikan
manfaat dari suatu yang halal dalam jangka waktu tertentu dengan
imbalan ganti rugi yang pada dasarnya Ijarah adalah penjualan
manfaat.132
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut maka obyek Ijarah
berupa hak manfaat telah sesuai dengan prinsip syariah, selain berupa
manfaat yang dibolehkan, pengalihan hak manfaat Ijarah tersebut juga
disertai dengan imbalan. Dalam penerbitan sukuk Ijarah ini, imbalan
dari akad Ijarah disepakati sebesar sebanyak-banyaknya Rp
19.000.000.000 (sembilan belas miliar Rupiah).
130
Imam al-Syairazi, al-Muhadzdzab, juz I, Kitab al-Ijarah, hal. 394
131
Abdul A , Cet 3, P.T Icthiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001, hal 660
132
Habib Nazir dan Muhammad Hasanu , Kafa
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu batalnya
Ijarah adalah apabila obyek Ijarah cacat atau terjadi kerusakan
sehingga tidak dapat dipergunakan lagi sesuai dengan apa yang
disepakatkan. Dalam penerbitan sukuk ini, apabila obyek Ijarah rusak,
maka hal tersebut bukan merupakan suatu risiko dan tidak
menyebabkan batalnya Ijarah sebagaimana tertuang dalam akad Ijarah
yang menyepakati bahwa :
Pihak Pertama ( ) menyatakan dan menjamin Pihak Kedua
( ) bahwa segala resiko kerusakan atau kehilangan atas
obyek Ijarah atau kejadian yang menyebabkan turunnya nilai
Obyek Ijarah
Dengan tidak adanya risiko ini, penulis berpendapat bahwa
Ijarah tidak dapat dibatalkan atau dimintakan pembatalan disebabkan
obyeknya rusak. Ijarah menjadi batal apabila ada sesuatu yang
merusak pemenuhannya seperti hilangnya manfaat. Mengingat Ijarah
adalah sewa manfaat, bukan bendanya yang disewanya. Maka manfaat
pengganti atas hak manfaat atas obyek Ijarah tersebut dibolehkan dan
hal ini berarti sukukIjarah tersebut tanpa risiko batalnya Ijarah akibat kerusakan barang.
Akad Ijarah juga harus diketahui secara jelas kapan berakhirnya
akad tersebut. Akad Ijarah sehubungan dengan penawaran umum
berkelanjutan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Indosat Tahap I Tahun
2014 ini akan berakhir dengan sendirinya, bilamana jumlah sisa
imbalan Ijarah dilunasi selurunya oleh Pihak Pertama dan akan
berakhir demi hukum apabila penerbitan Sukuk Ijarah dibatalkan,
selain itu akad Ijarah tersebut juga dapat diakhiri apabila atas
kesepakatan bersama oleh para pihak. Dapat juga apabila telah dilakukannya pelunasan lebih awal atas seluruh jumlah Sisa Imbalan
Ijarah sesuai dengan ketentuan dalam Perjanjian Perwaliamanatan
Berdasarkan pemaparan tersebut diatas, maka dari sisi akad
Ijarah dalam penerbitan SukukIjarahBerkelanjutan I Indosat Tahap I
Tahun 2014 tersebut, telah memenuhi rukun-rukun dan syarat serta
ketentuan-ketentuan menurut hukum Islam sehingga tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
Selanjutnya mengenai akad Wakalah, dalam syariah Islam,
seseorang boleh mendelegasikan suatu tindakan tertentu kepada orang lain dimana orang lain itu bertindak atas nama pemberi kuasa atau yang mewakilkan sepanjang hal-hal yang dikuasakan itu boleh didelegasikan oleh hukum Islam dan tidak setiap orang mempunyai kemampuan atau kesempatan untuk menyelesaikan segala urusannya sendiri. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Kahfi ayat 19, yang berbunyi :
"Dan demikianlah Kami bangkitkan mereka agar saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkata salah seorang diantara mereka:
lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah ia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu,dan hendaklah ia berlaku lemah lembut, dan janganlah sekali-kali menceritakan
133
Pengertian Wakalah menurut fatwa DSN-MUI
No.10/DSN-MUI/IV/2000 tentang Wakalah adalah pelimpahan kekuasaan oleh satu
pihak kepada pihak lain dalam hal-hal yang boleh diwakilkan.134
133
Kitab SuciAl-Quran dan terjemahannya, C.V Al Hanan, Surakarta, 2009
134
Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 10/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Wakalah, http://www.ojk.go.id/fatwa-nomor-10-dsn-mui-iv-2000, diunduh tanggal 15 Mei 2015
Seperti pada akad lainnya, akad Wakalah akan sah dan mempunyai akibat hukum jika memenuhi rukun dan syaratnya, rukun dan syarat Wakalah adalah adanya Ijab dan Qabul, Muwakkil, Wakil
dan hal yang diwakilkan.
Wakalah pada dasarnya bersifat mubah atau dibolehkan, tetapi
dapat menjadi haram apabila urusan yang diwakilkan adalah hal-hal yang bertentangan dengan hukum Islam. Dalam hal ini, obyek
Wakalah sehubungan penerbitan sukuk ijarah tersebut tidak
bertentangan dengan hukum Islam karena bukan sesuatu yang diharamkan.
Dari penjelasan tersebut diatas, akad Wakalah sehubungan
dengan penawaran umum sukukIjarah berkelanjutan I Indosat Tahap I
Tahun 2014 tersebut, rukun-rukun dan syarat yang ditentukan hukum Islam yang dikuatkan dalam fatwa-fatwa DSN-MUI telah sesuai dengan kaidah-kaidah hukum Islam.
Para pihak yaitu Emiten dan Wali Amanat telah dengan benar
menjalankan prinsip syariah pada penerbitan efek syariah tersebut terkait kewajiban akad-akad syariah sehubungan dengan penawaran
umum sukuk ijarah tersebut.
b. Kewajiban Emiten Terkait Kegiatan Usaha
Pengelolaan sukuk wajib menerapkan prinsip-prinsip syariah
yang secara umum dapat dikatakan bahwa syariah menghendaki kegiatan ekonomi yang halal, baik dari produk yang menjadi obyek, dari cara perolehannya, serta dari cara penggunaannya. Untuk itu
Emiten wajib menjamin selama periode Sukuk Ijarah kegiatan usaha
yang mendasari penerbitan Sukuk Ijarah tidak akan bertentangan
dengan prinsip-prinsip syariah.
Tidak semua perusahaan baik itu milik negara atau perusahaan
swasta dapat menerbitkan (menjadi Emiten) sukuk.