• Tidak ada hasil yang ditemukan

Privatisasi Agama: Fenomena Keberagamaan di Era Budaya Konsumer Oleh: Ahmad Patiroy *

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Privatisasi Agama: Fenomena Keberagamaan di Era Budaya Konsumer Oleh: Ahmad Patiroy *"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Privatisasi Agama:

Fenomena Keberagamaan di Era Budaya Konsumer Oleh: Ahmad Patiroy*

Abstrak

Tulisan ini merupakan upaya untuk mencermati bagaimana gambaran kecenderungan kehidupan beragama di era kapitalisme global dewasa ini yang diwarnai oleh munculnya fenomena budaya konsumer di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat kelas menengah perkotaan. Melalui proses komoditisasi dan estetisasi kehidupan yang diciptakan oleh mekanisme pasar global, cara pandang terhadap dunia –termasuk agama- mengalami pergeseran. Agama, dalam hal ini, bukan lagi merupakan sumber nilai dalam pembentukan perilaku tetapi lebih sebagai instrumen atau barang-barang seni yang dikonsumsi untuk membangun suatu citra dalam rangka mempertegas identitas sosial. Proses komoditisasi dan estetitasi ini, selanjutnya membawa agama pada cita rasa individu yang terlepas dari kontek publik; dan pada akhirnya menciptakan kondisi privatisasi agama yang menantang watak universal agama-agama formal.

Kata kunci : kehidupan beragama, budaya konsumer, masyarakat kelas menengah perkotaan

A. Pendahuluan

Mitos globalisasi yang ditopang oleh daya magis kapitalisme, secara drastis telah memoles gairah konsumsi warga masyarakat kelas menengah perkotaan di Indonesia sebagai bagian dari gaya hidup masa kini. Masyarakat kelas menengah perkotaan tersebut telah mendapatkan diri mereka sebagai bagian dari warga global. Keseluruhan produk yang mereka konsumsi, mulai dari parfum, perhiasan, pakaian, tas dan sepatu hingga handphone, mobil, rumah mewah dan bahkan peralatan ibadah, termasuk meluangkan waktu senggang, sama dengan yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat di beberapa belahan dunia, seperti Amerika,

Eropa, Jepang dan Singapura.1

* Dosen Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga

Yogyakarta.

1 Fenomena tentang gairah konsumsi masyarakat kelas menengah perkotaan itu

dapat dicermati dari informasi beberapa media yang melakukan pengamatan di sejumlah mall atau pusat-pusat belanja dalam kawasan kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung dan Semarang. Menurut survei yang pernah dilakukan oleh SWA-Pacific Rekan Prima Consulting (2001), menerangkan bahwa para pasangan keluarga muda dengan penampilan trendi berseliweran di mall-mall menenteng tas-tas

(2)

Gambaran tentang gairah konsumsi ini merupakan fenomena umum yang mengindikasikan munculnya budaya konsumer di kalangan masyarakat, khususnya kelas menengah perkotaan. Budaya konsumer ini merupakan refleksi dari imaginasi kemewahan yang dapat terjadi dimana dan kapan saja pada setiap individu atau kelompok masyarakat, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kalangan atas atau kalangan bawah, karena ideologi kapitalisme global tidak mengenal perbedaan jenis kelamin, usia dan latar belakang sosial, melainkan kesamaan dalam konsumsi.

Budaya konsumer yang merupakan produk kapitalisme global ini telah membawa konsekuensi sosial-budaya yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap benda-benda material (material goods) dalam hubungan sosial mereka dengan orang lain atau lingkungan sekeliling. Budaya konsumer, menurut Ewen, telah menjadikan konsumsi sebagai sebuah definisi baru bagi pengalaman hidup manusia; di mana individu menjalani hampir semua kehidupannya sebagai konsumen yang selanjutnya memunculkan kelompok sosial baru, stereotipe, nilai sosial baru, ideologi dan gaya hidup yang ditandai oleh suksesi obyek material. Budaya konsumer yang berpusat pada konsumsi ini, pada kenyataannya, menjadikan citra (image) sebagai suatu kebutuhan utama.2 Dalam hal ini,

yang penuh dengan barang-barang belanjaan. Kehadiran mereka di mall disadari sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan. Salah seorang ibu muda bernama Widi menuturkan bahwa ia bersama suami kerapkali menyambangi Mall, terlebih jika ada sale. Di pusat belanja, ia menghabiskan waktu sekitar lima jam dari pukul 12.00 sampai pukul 17.00, saat hari-hari libur. Pasangan suami isteri ini mengaku mengalokasikan dana sekitar satu sampai dua juta perbulan untuk keperluan hobi jalan-jalan itu, meskipun hanya sekedar window shopping; sementara untuk keperluan anggaran pribadi seperti kosmetik, parfum, pakaian dalam, baju, tas, dan sepatu, mencapai tiga sampai emapat juta perbulan. Sebagaimana halnya Widi, Tanti yang sehari-hari bekerja sebagai karyawati salah satu bank juga mengakui hampir setiap hari libur berjalan-jalan ke Mall. Belanja sepatu merupakan kegiatan yang paling digemari. Merk Favoritnya adalah Prada dan Etienne Aigner. Koleksi sepatunya mencapai 48 pasang yang rata-rata harganya mencapai di atas satu juta; sementara untuk tas ia menyukai desain merk furla, kosmetik dengan merk clarins dan Mac, serta busana dengan merk Donna Karan dan Giorgio Armani. Selain anggaran belanja, baik Widi maupun tanti, juga mengalokasikan dana untuk perawatan tubuh, kulit dan rambut yang dibelanjakan di pusat-pusat kebugaran, salon dan terapi spa. Di samping belanja dan perawatan tubuh, kedua ibu ini juga gemar membelanjakan uangnya di tempat-tempat hiburan semacam cafe dan restoran atau tempat-tempat rekreasi bersama keluarga. Lihat SWA, 15/XVII/2001.

2 Stuart Ewen, “Marketing Dreams: The Political Element of Style”, dalam Alan

Tomlison (ed.,), Consumption Identity and Style: Marketing Meanings and the Packaging of Pleasure (London NewYork: Routledge, 1990), p. 5.

(3)

masyarakat kemudian sangat peduli terhadap style, design, dan fashion.3 Salah

satu karakteristik dari kehidupan modern, lanjut Ewen, adalah stylization. Detail dalam kehidupan sehari-hari, seperti pakaian, rumah obyek tertentu dan aktivitas ditransformasikan melalui daya sihir style.4 Kebutuhan

terhadap citra di era kapitalisme global ini merupakan perubahan kebutuhan subsistensi ke dalam bentuk estetik dan gaya sebagai imbas dari terjadinya proses komoditisasi dan etetisasi kehidupan.

Dalam proses komoditisasi dan estetisasi kehidupan itu, menurut Abdullah, cara pandang terhadap dunia mengalami pergeseran; termasuk cara pandang terhadap agama. Agama, dalam hal ini, bukan lagi merupakan sumber nilai dalam pembentukan gaya hidup tetapi lebih sebagai instrumen bagi gaya hidup itu sendiri.5 Mengikuti pengajian yang

diadakan di hotel-hotel berbintang, misalnya, tidak lagi merupakan sekedar memenuhi kebutuhan spiritual terhadap agama, tetapi agama melalui momentum pengajian itu telah menjadi “produk” yang dikonsumsi dalam rangka identifikasi diri yang disebut oleh Friedman sebagai bentuk cultural strategy of self definition.6 Sebagai produk komoditi, agama -dalam kontek ini-

tidak lebih telah menjadi semacam barang-barang seni (the work of art) yang diambil alih oleh pasar untuk dikelola sedemikian rupa dalam rangka tujuan komersial. Pada saat komoditisasi dan estetisasi ini terjadi, esensi agama menjadi tidak jelas; karena sebagai komoditi dan barang-barang seni, agama itu memiliki makna keindahan di mana unsur dominan yang dihayati adalah citra atau image.7 Dengan demikian yang dikonsumsi,

dalam hal ini, bukan esensi agama tetapi citra agama sebagai suatu simbol yang berkaitan dengan identitas dan status. Di sini, kemudian yang terlihat adalah terjadinya pergeseran cara pandang terhadap agama dengan apa yang diistilahkan oleh Abdullah sebagai pergeseran dari etis ke estetis.8

Dalam kontek ini, agama pun lalu menjadi private business.9

3 Martyn J. Lee, Consumer Cukture Reborn: The Cultural Politics of

Consumption. (London, New York: Routledge, 1993), p. 6.

4 Ewen, “Marketing Dreams.., p. 6.

5 Irwan Abdullah, “Privatisasi Agama: Globalisasi atau Melemahnya Referens

Budaya Lokal ?”. Makalah Seminar, Balai Kajian sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, 9 November 1995, p. 1.

6 Jonathan Friedman, “Being in The World: Globalization dan Localization”

dalam Mike Featherstone (ed.), Global Culture: Nationalism, Globalization and Modernity. (London: Sage Publication, 1991), p. 312.

7 George Simmel, “Money in Modern Culture” dalam Theory, Culture and Society 8

(3) 1991, p. 18.

8 Irwan Abdullah, Privatisasi Agama…, p. 2. 9 George Simmel, “Money in Modern..”, p. 18.

(4)

Pergeseran cara pandang terhadap agama yang menekankan pada citra di atas menghadirkan pola perilaku yang didasarkan pada cerminan

gaya hidup beragama.10 Gaya hidup beragama ini merupakan refleksi dari

gaya hidup modern yang ditimbulkan oleh gairah konsumsi sebagai sarana utama dalam pembentukan identitas diri dan penegasan perbedaan-perbedaan interpersonal. Benda-benda material yang dikonsumsi mengalami pergeseran makna yang tidak hanya sekedar barang konsumsi tetapi lebih dari itu mengandung motivasi pencitraan diri atau simbol status. Cara pandang terhadap benda material semacam ini terekspresikan dalam berbagai macam pola perilaku yang membentuk gaya hidup (life-style) seseorang.

Tulisan ini merupakan upaya untuk mencermati bagaimana gambaran kecenderungan kehidupan beragama di era kapitalisme global dewasa ini yang diwarnai oleh munculnya fenomena budaya konsumer di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat kelas menengah di perkotaan, sebagai bentuk tipikal gaya hidup beragama.

Kajian tentang agama dalam kaitannya dengan perilaku konsumsi masyarakat dapat dipandang sebagai bagian dari kajian budaya materi (material culture). Dalam editorialnya pada Jurnal Material Culture, Miller dan Tilley (1996) menyebutkan bahwa fokus kajian material culture adalah “… on the ways in which artifacts are implicated in the construction, maintenance and transformtion of social identities”. Sementara Lury menyebutnya sebagai kajian mengenai hubungan antara manusia dengan benda, atau kajian mengenai manfaat benda-benda. Pengertian ini menunjuk pada dua hal. Pertama,

10 Gaya hidup di sini dikonotasikan sebagai individualitas, ekspresi diri dan

kesadaran diri yang stilistis. Tubuh, busana, cara bicara, hiburan, mengisi waktu senggang, pilihan makanan dan minuman, rumah, kendaran dan sebagainya merupakan indikator dari individualitas, selera atau gaya dari pemilik, pemakai atau konsumennya. Sehubungan dengan gambaran ini, aktivitas mengkonsumsi berbagai produk komoditi merupakan proses berjalannya suatu sistem tanda/kode. Menurutnya, sebenarnya yang dikonsumsi oleh seorang konsumen bukan barang atau komoditi tetapi tanda atau image yang direpresentasikan. Representasi tanda itu mengkomunikasikan makna-makna tertentu yang menandai prestise, status dan gengsi sosial pemakainya. Dengan demikian obyek-obyek material yang dikonsumsi tidak lebih dari semacam ekspresi diri atau identifikasi diri yang menegaskan gaya hidup seseorang dalam hubungan sosialnya dengan orang lain. Lihat Mike Featherstone (1991), Global Culture: Nationalism, Globalization and Modernity; dan Consumer Culture and Postmodernism (2001); Celia Lury (1996), Consumer Culture; Alan Tomlinson (ed.) (1990), Consumtion, Identity and Style: Marketing Meanings and the Packing of Pleasure (1990). Sementara Koentjaraningat menyebut gaya hidup sebagai pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia dalam masyarakat yang dapat diamati dan memberi arti khusus kepada golongan itu. Jika gaya hidup itu terkait dengan perilaku agama maka dapat disebut dengan gaya hidup beragama (religious life-style). Baca juga Koentjaraningrat, Kamus Istilah Antropologi, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1998).

(5)

menunjukkan betapa penting manfaat obyek-obyek fisik dalam praktek dan keyakinan sehari-hari; dan kedua, mengindikasikan bahwa perhatian terhadap barang-barang materi dalam kehidupan sehari-hari tidak berarti mengabaikan kepedulian terhadap makna, simbol atau moral.

B. Sketsa Pemunculan Budaya Konsumer

Istilah budaya konsumer (consumer culture) dapat dijumpai dalam dua karya Mike Featherstone: Global Culture: Nationalism, Globalization and Modernity (1991) dan Consumer Culture and Postmodernism (2001). Demikian pula karya Celia Lury, Consumer Culture (1996). Dalam beberapa bagian, ketiga buku ini mengungkap istilah budaya konsumer yang dilihat sebagai representasi budaya postmodern dalam sistem ekonomi kapitalisme global. Meskipun tidak secara tegas memberi batasan arti budaya konsumer, namun secara implisit dapat dipahami dari asumsi yang dibangun bahwa budaya konsumer merupakan gerakan menuju konsumsi massa disertai dengan reorganisasi produksi simbolik, praktek dan pengalaman sehari-hari secara umum. Atas dasar asumsi ini, budaya konsumer dapat dipandang sebagai suatu fenomena budaya yang menggambarkan perilaku konsumsi masyarakat yang cenderung lebih mengutamakan nilai tukar, tanda dan citraan ketimbang nilai guna ketimbang nilai utilitasnya. Logika yang mendasari, bukan lagi logika kebutuhan (need),11fenomena ini muncul sejalan dengan model produksi kapitalisme modern yang tidak hanya mendesain penawaran tapi juga permintaan.

Munculnya budaya konsumer tidak terlepas dari pesatnya perkembangan kapitalisme global itu sendiri yang didukung oleh tiga pilar kekuasaan yang saling bertaut, yaitu kekuasaan modal, kekuasaan produsen, dan kekuasaan media massa. Ketiga bentuk kekuasaan ini beserta pengetahuan yang mendukung dan mengartikulasikannya pada berbagai praktek sosial menentukan bentuk dan gaya hidup masyarakat

dalam melakukan aktifitas konsumsi.12 Era kapitalisme global yang

berlangsung saat ini, salah satu indikatornya adalah terjadinya aktifitas produksi barang konsumsi secara massal. Barang konsumsi tersebut tidak terbilang banyaknya digelar di pasaran dalam eskalasi waktu yang demikian cepat. Dalam sistem kapitalisme yang menekankan prinsip akumulasi kapital, produksi barang secara massal itu konsekuensinya juga harus diimbangi dengan konsumsi secara massal agar tidak terjadi penumpukan barang yang menyebabkan stagnasi ekonomi. Untuk mencapai tingkat

11 Yasraf Amir Piliang, Hiper-Realitas Kebudayaan, (Yogyakarta: LkiS, 1999), p. 103 12 Ibid.

(6)

konsumsi secara massal, salah satu caranya adalah stimulasi melalui publikasi massif. Dalam rangka publikasi massif itu, pasar kapitalisme global menjadikan media iklan sebagai sarana penyebaran produk yang paling strategis. Melalui media iklan, produksi kapitalisme tidak hanya menghasilkan barang tapi juga menciptakan konsumen.

Media iklan digunakan untuk menciptakan kekurangan-kekurangan dalam diri konsumen untuk menempatkan kelebihan barang-barang baru sebagai solusi mengatasi kekurangan itu. Hasrat konsumen diciptakan untuk mengakui bahwa ada sesuatu yang kurang dalam hubungan mereka dengan orang lain, di mana pemecahannya hanya bisa diselesaikan dengan mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Kondisi psikologis yang dicipatakannya adalah suasana di mana individu menjadi tidak berdaya secara emosional. Setiap saat kekurangan-kekurangan dalam diri individu diperbaharui dan hasrat-hasrat baru dimunculkan. Tak ada lagi produk yang kurang, tapi individulah yang selalu merasa kurang dan hanya akan menemukan pemenuhannya melalui bantuan produk yang tersedia di pasar.13 Melalui rangkaian rasionalisasi, iklan membujuk konsumennya agar segera meninggalkan norma-norma tradisional yang mengajarkan sikap hemat, sederhana dan bersahaja menuju pola hidup baru yang tidak sayang mengeluarkan uang untuk berbelanja. Belanja tidak lagi semestinya dibatasi tetapi harus diekspresikan semaksimal mungkin. Iklan, dengan demikian, telah membangun paradigma baru bagi konsumen bahwa pemuasan keinginan melalui belanja merupakan suatu moral baru yang dapat diterima dalam kehidupan manusia di era modern. Saya berbelanja karena saya ada, bukan lagi saya berpikir karena saya ada. Eksistensi manusia adalah konsumsi.

Dilandasi moral barunya ini dalam rangka memenuhi kekurangan-kekurangan itu, individu tidak lagi dapat mengenal nilai guna sebuah komoditi akibat diselubungi oleh nilai tukar sebagai sesuatu yang dianggap

lebih utama. Nilai tukar lebih mendominasi nilai guna.14 Konsumsi

obyek-obyek material, menurut Sturrock, sebagai bentuk ekspresi diri bukan sekedar menghabiskan nilai guna tetapi juga mengkomunikasikan makna-makna tertentu. “Kita menggunakan perhiasan mahal, misalnya, untuk menandai kekayaan dan status sosial kita”, katanya.15 Pemikir Prancis kontemporer, Baudrillard menyebutkan bahwa proses konsumsi berbagai

13 Peter Corrigan, The Sociology of Consumption, (London: sage Publication, 1998), p.

67.

14 Mike. Featherstone, Global Culture: Nationalism, Globalization and Modernity.

(London: sage Publication, 1991), p. 172. Juga, Posmodernisme dan Budaya konsumerisme, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2001), p. 33.

(7)

produk adalah sebagai proses berjalannya suatu sistem tanda/kode. Menurutnya, sebenarnya yang dikonsumsi oleh seseorang itu bukanlah barang atau komoditas tetapi tanda (signs) atau image. Komoditi yang dikonsumsi bukan lagi karena kegunaannya tetapi tanda yang direpresentasikan oleh yang mengkonsumsinya. Lebih lanjut, kata Baudrillard, mengkonsumsi bukanlah semata-mata hal tentang membeli suatu barang dalam jumlah tertentu, bukan juga sekedar kesenangan pribadi tetapi suatu manipulasi obyek sebagai tanda, sistem komunikasi, sistem pertukaran, di mana di dalamnya terdapat nilai ideologis.16 Konsumsi adalah sebuah struktur yang ada di luar diri individu di mana individu dipaksa untuk menggunakan sistem tersebut. Sebagai suatu sistem tanda, konsumsi merupakan simbol paling penting bagi munculnya budaya konsumer yang berfungsi mempertegas perbedaan-perbedaan interpersoanal.

Konsumsi dapat dipandang sebagai proses obyektifikasi melalui proses eksternalisasi dan internalisasi diri lewat obyek-obyek sebagai medianya.17 Di sini, terjadi proses menciptakan nilai-nilai melalui obyek-obyek dan kemudian memberikan pengakuan serta menerima nilai-nilai tersebut. Dari sudut pandangan linguistik, konsumsi dapat dipandang sebagai proses menggunakan atau mendekonstruksi tanda-tanda yang terkandung dalam obyek-obyek oleh para konsumer, dalam rangka menandai relasi-relasi sosial. Dalam hal ini, obyek dapat menentukan

16 Jean Baudrillard, “The Consumer Society” dalam Mark Foster, ed., Jean

Baudrilard Selected Writings, (Oxford: Polity Press, 1981), p. 70. Baca juga, In the Shadow of the Silent Majorities, (New York: Semiotext[e], 1983) dan Simulation, (New York: Semiotext[e], 1983).

17 Konsep obyektifikasi digunakan oleh Miller untuk menjelaskan pandangan

Hegel tentang hubungan dialektis antara “subyek” dan “obyek”. Oleh Miller, konsep ini dijelaskan sebagai “proses ganda yang melaluinya subyek mengeksternalisasi dirinya melalui suatu tindakan kreatif diferensiasi, dan selanjutnya mengembalikan untuk diri eksternalisasi ini melalui tindakan yang disebut Hegel ‘sublasi’, semacam pemeberian pengakuan. Menurutnya, proses obyektifikasi ini melibatkan hubungan di antara subyek -yang dalam hal ini adalah manusia, kebudayaan sebagai bentuk eksternal dan artefak sebagai obyek ciptaan manusia. Dalam hubungan ini, subyek mengeksternalisasikan dirinya lewat penciptaan obyek-obyek dengan maksud untuk menciptakan ‘difrensiasi’, yaitu penciptaan perbedaan dengan obyek sebelumnya; dan kemudian menginternalisasikan atau mengembalikan pada diri nilai-nilai ciptaan tersebut melalui proses ‘sublasi’ atau pemberian pengakuan. Namun dalm proses sublasi ini, subyek selalu merasa tidak puas dengan asil ciptaannya sendiri, oleh karena ia selalu membandingkan hasil ciptaan tersebut dengan pengetahuan dan nilai absolut yang justeru tidak pernah dapat diacu. Sehingga yang terjadi kemudian adalah munculnya rasa ketidakpuasan tanpa akhir yang selanjutnya menimbulkan upaya penciptaan terus menerus untuk memenuhi kepuasan abadi terhadap hasil ciptaan. Lihat Daniel Miller, Material Culture and Mass Consumption. Basil Blackwell, 1987), p. 28.

(8)

status, prestise dan simbol-simbol sosial tertentu bagi para pemakainya. Obyek membentuk perbedaan-perbedaan sosial dan menaturalisasikannya melalui perbedaan-perbedaan pada tingkat semiotik atau pertandaan.18

Dari sudut pandang psikoanalisis, konsumsi juga dapat dipandang sebagai suatu fenomena “bawah sadar” (unconscious). Dalam hal ini, konsumsi dianggap sebagai suatu proses “reproduksi hasrat” (desire) dan reproduksi pengalaman bawah sadar yang bersifat primordial. Dalam pengertian ini, konsumsi mengingatkan seseorang kembali pada rangsangan-rangsangan bawah sadar yang dialami pertama kali dalam berhubungan dengan obyek seksual (menyusui). Konsumsi, pada tataran ini, merupakan substitusi atau pengganti dari kesenangan primordial yang tersimpan dalam bawah sadar.19

Karakter budaya konsumer, menurut Feathersthone, mengandung tiga perspektif. Pertama, pandangan bahwa konsumsi dipremiskan dengan ekspansi produksi komoditas yang memunculkan akumulasi budaya dalam bentuk barang-barang konsumsi secara besar-besaran berikut tempat-tempat belanjanya mengakibatkan tumbuhnya kepentingan aktivitas dan kesenangan mengkonsumsi dalam diri masyarakat. Kedua, pandangan bahwa kepuasan yang berasal dari benda-benda berhubungan dengan akses benda-benda itu terhadap kondisi strukturnya dalam kehidupan sosial pada suatu peristiwa yang telah ditentukan di mana kepuasan dan status tergantung pada penunjukan dan pemeliharaan perbedaan. Titik perhatiannya terletak pada cara-cara yang berbeda di mana orang menggunakan benda-benda dalam rangka menciptakan ikatan-ikatan atau perbedaan status sosial; Ketiga, pandangan bahwa kegairahan emosional dan mimpi-mimpi mengkomsumsi ditampakkan dalam ragam pemunculan kenikmatan jasmaniah secara langsung dan bersifat estetis.20

C. Trend Keberagamaan di Era Budaya Konsumer

Agama, di sini, dimaksudkan sebagai agama yang bersifat fenomenal, mengejawantah dan menampak dalam kebudayaan. Jika agama itu, misalnya, Islam maka yang dimaksud adalah Islam sebagaimana dipraktekkan dan diekspresikan oleh penganutnya dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman agama, semacam ini, dapat dirujuk pada beberapa karya Clifford Geertz. Di antaranya, “Religion as a Cultural System”

18 Jean Baudrillard, Simulation, (New York: Semiotext[e], 1983), p. 71.

19 Deleuse, Giles & Guattari Felix, Anti Oudipus: Capitalism and Schizophrenia, (New

York: The Viking Press, 1977), p. 5-8.

20 Mike Featherstone, Posmodernisme dan Budaya konsumerisme, (Yogyakarta : Pustaka

(9)

dalam M. Banton, ed., Anthropological Approaches to Study of Religion. (1966), dan The Religion of Java (1960). Dalam kedua karyanya ini, Geertz mengungkapkan pandangannya tentang agama sebagai sebuah sistem budaya. Sebagai sebuah sistem budaya, agama memuat seperangkat sistem simbol “which acts to establish powerful, pervasive and long-lasting moods and motivations of a general order of existence and clothing these conceptions with such and aura of factuality that the moods and motivations seem uniquely realistic”. Dalam hal ini, agama adalah budaya yang mengarahkan dan membentuk tingkah laku seseorang baik perilaku politik dan ekonomi maupun perilaku sosial lainnya. Pandangan Geertz ini digunakan oleh Bassam Tibi untuk menjelaskan perlunya memahami agama dalam kaitan realitas budaya pemeluknya sebagaimana diungkapkan dalam bukunya Islam and the Cultural Accomodation of Social Change (1991). Pada kenyataannya, menurut Tibi, agama selalu berakomodasi dan berinteraksi dengan sistem budaya masyarakat setempat dan kemudian saling mempengaruhi.

Upaya menjelaskan bagaimana gambaran kecenderungan

keberagamaan di era kapitalisme global, dapat didasarkan pada kerangka pembahasan Mike Featherstone dan Irwan Abdullah. Menurut Featherstone, ada tiga tanda dari pergeseran masyarakat kontemporer, yakni (1) dominannya nilai simbolis kehidupan, (2) proses estetisasi yang meluas, dan (3) melemahnya sistem referensi tradisioanl.21 Sementara Abdullah menandai pergeseran tersebut dengan tiga proses penting, yaitu (1) proses materialisasi kehidupan yang mentransformasikan berbagai hal menjadi komoditi sehingga menyebabkan terjadinya komodifikasi secara meluas, (2) proses terjadinya tekanan sosial yang diakibatkan oleh etos kerja kapitalistik sehingga menyebabkan hidup menjadi proses pencarian nilai tambah secara material, dan (3) proses mobilitas yang mempengaruhi berbagai bentuk reorganisasi sosial, ekonomi dan politik.22

Tanpa mengurangi arti penting dari sinyalemen pergeseran atau perubahan masyarakat sebagaimana diungkapkan oleh Featherstone dan Abdullah di atas, tulisan ini hanya akan memfokuskan pada dua tanda dari pergeseran itu, yaitu proses komoditisasi dan proses estetisasi. Kedua proses itu merupakan dua tanda yang paling penting mendasari pembentukan gaya hidup individu dalam setiap perilaku sosial-budaya dalam rangka menegaskan perbedaan-perbedaan, baik dalam hubungan antar personal maupun antar kelompok.

21 Mike Featherstone, “Cultural Production, Consumption, and the Development

of the Cultural Sphere” dalam Richard Munch & Neill J. Smelser (ed.), Theory of Culture, (Berkeley: University of California, 1992).

(10)

Dalam sistem ekonomi kapitalisme global, pasar telah menjadi kekuatan penting dalam membentuk gairah konsumsi masyarakat melalui proses integrasi dan ekspansi pasar. Integrasi pasar telah menghasilkan suatu penyatuan sistem kerja dan ketergantungan pada struktur pasar yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi. Ekspansi pasar tidak hanya memperkenalkan barang-barang baru tetapi juga memperluas jaringan distribusi barang dan mensosialisasikan nilai-nilai ekonomi di dalam kehidupan yang mempengaruhi tata nilai dan hubungan–hubungan sosial, demikian pula merubah kehidupan menjadi suatu proses transaksi di mana setiap orang menghitung cost dan benefit dari setiap hubungan sosial di mana ia terlibat.23 Dalam kondisi masyarakat yang berorientasi

pada pasar ini, berbagai hal dari aspek kehidupan manusia, termasuk agama, mengalami proses komoditisasi demi kepentingan pasar. Agama, dalam hal ini, diperlakukan sebagaimana layaknya barang komoditi (comoditized religion) yang diperjualbelikan di pasar komersial ide-ide dengan kemasan yang menghipnotis ambisi-ambisi konsumen seperti saat berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan.24

Menjamurnya tawaran komoditi religius di berbagai media yang dijajakan oleh para pedagang spiritual (religious entepreneurs), seperti latihan meditasi mistikal, pengobatan spiritual, pariwisata religius, paket umrah, kunjungan ke kyai selebritis dan sebagainya, merupakan indikasi terjadinya kecenderungan komoditisasi agama. Komoditisasi agama, lebih jelas, tampak pada terjadinya produksi barang-barang konsumsi yang bernuansa religius, seperti busana muslim, peralatan shalat, makanan halal berlabel tulisan kearab-araban, parcel lebaran, hiasan kaligrafi dan berbagai pernik-pernik atau asesoris lainnya yang menggunakan ayat-ayat al-Qur’an, gambar ka’bah atau mesjid sebagai obyek estetis; termasuk penamaan label Islam pada rumah makan, tempat-tempat perbelanjaan semacam mini-market.

Proses komoditisasi agama ini melibatkan kekuatan kecanggihan teknologi mutakhir yang secara fantastis memanipulasi tanda dari “yang tidak nyata” menjadi seakan “nyata” dan dari yang “tidak indah” menjadi seolah-olah “indah” untuk mempengaruhi imaginasi konsumen terhadap “realitas” barang-barang konsumsi. Bagi Baudrillard, penciptaan kebudayaan semacam itu mengikuti suatu model produksi yang disebutnya simulasi, yakni “… penciptaan model-model nyata yang tanpa asal-usul atau realitas”. Melalui model simulasi ini, manusia dijebak dalam suatu

23 Ibid, p. 7; Lihat Juga Mike Featherstone, Posmodernisme.., p. 205.

24 Ted Peters, “The Future of Religion in a Post-Industrial Society” dalam Frank

Feather (ed), Through the ‘80s: Thinking Globally, Acting Locally. (Washington DC.: World Future Society, 1980), p. 285.

(11)

ruang yang disadarinya sebagai “nyata” meskipun sesungguhnya “semu” atau khayalan belaka. Ruang realitas semu ini merupakan suatu ruang antitesis dari representasi, dekontruksi dari representasi itu sendiri.25 Lewat

manipulasi tanda tadi, barang konsumsi yang ditawarkan oleh pasar global adalah komoditi keindahan, eksotika dan keindahan, yang membuat berbagai aspek dari kehidupan manusia –termasuk aspek yang paling substansi dari agama- mengalami proses pengindahan atau estetisasi. Televisi, iklan, koran dan majalah adalah agen-agen yang memoles kehidupan di sekitar kita menjadi “indah” belaka. Hal ini, menurut Baudrillard, berarti kehidupan telah menjadi realitas halusinasi estetik. Implikasi lebih jauh dari proses pengindahan itu adalah menguatnya kecenderungan hidup sebagai proses seni. Pada kontek kecenderungan itu, esensi kehidupan menjadi tidak jelas; karena sebagai sebuah seni,

kehidupan itu memiliki makna keindahan sehingga hidup itu adalah citra.26

Belanja tidak lagi sekedar menjadi pemenuhan kebutuhan riil tetapi lebih merupakan kebutuhan terhadap rasa estetis. Mengenakan busana muslim misalnya, terlebih sampai harganya mahal atau modelnya eksklusif, tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan spritual tetapi lebih merupakan pemenuhan terhadap kebutuhan rasa estetis atau simbolis yang merefleksikan fantasi citra diri. Pada saat ini, agama pun lalu mengalam proses estetisasi.

Dalam proses komoditisasi dan estetisasi kehidupan semacam ini, perilaku agama --yang dalam hal ini dipahami sebagi perilaku budaya-- tidak lebih merupakan suatu gaya hidup yang diciptakan oleh suatu tuntutan pasar. Tampilan gaya hidup bisa berbeda-beda sejalan dengan banyaknya ragam penampakan barang-barang konsumsi yang digelar di bursa komoditi. Para konsumen diberi kebebasan memilih dari sekian banyak produk yang sesuai dengan gaya hidup yang dipilih asalkan tidak

menghianati “aturan main” yang telah ditentukan oleh pasar.27

Pilihan terhadap gaya hidup tertentu merupakan hak setiap individu dalam mempertegas perbedaan dengan individu lain. Berbagai praktek kehidupan, termasuk praktek kehidupan beragama, yang mencerminkan perbedaan gaya hidup seseorang lalu mengalami proses individualisasi dan privatisasi yang terlepas dari konteks acuan perilaku umum atau referensi tradisional sebelumnya. Proses individualisasi itu menciptakan suatu

25 Yasraf Amir Piliang, Hiper-Realitas.., p. 106-107.

26 George Simmel, “Money in Modern Culture” dalam Theory, Culture and Society 8

(3), 1991, p. 18.

(12)

kecenderungan beragama yang disebut oleh Beyer sebagai “privatisasi agama”.28

Sejalan dengan proses komoditisasi dan estetisasi kehidupan itu pula, agama kemudian menjadi faktor dalam pembentukan identitas diri yang menegaskan pluralitas agama bagi penganutnya. Hal ini dimungkinkan karena seseorang bukan saja seseorang dapat memilih cara-cara beribadah (naik haji atau mengikuti model pengajian tertentu) dalam rangka proses identifikasi diri; tapi komoditisasi dan estetisasi itu juga telah melanggengkan stratifikasi sosial dalam masyarakat untuk mempertegas hubungan-hubungan simbolis. Pada tataran pemahaman ini menjelaskan bahwa agama tidak lagi menjadi sistem ideologi yang memberikan basis pengetahuan bagi acuan evaluasi dan praktek kehidupan seseorang karena agama tidak lebih merupakan pelengkap kehidupan.29 Pasar memang telah membuat kehidupan beragama begitu mudah dengan tawaran-tawaran fasilitasnya yang memukau. Lebih dari itu, pasar tidak hanya mentransformasikan kehidupan keagamaan tetapi agama justeru digunakan untuk menjustifikasi kepentingan pasar.

Privatisasi agama, sebagai trend keberagamaan di era budaya konsumer, menciptakan suatu keadaan di mana individu dalam mempraktekkan agama memiliki otonomi yang terlepas dari acuan institusi tradisionalnya. Privatisasi agama, sejalan dengan kecenderungan pasar untuk melihat perilaku agama sebagai, merupakan tanda bagi era kapitalisme global yang tidak hanya menjauhkan agama dari kepentingan publik, tapi lebih pada citra rasa individu, dan bahkan juga merupakan

sinyalemen adanya kecenderungan masyarakat mempertanyakan

kredibilitas agama menyangkut kontribusi apa yang dapat diberikan oleh

agama untuk kepentingan umatnya.30

D. Penutup

Privatisasi agama sebagai fenomena kecenderungan keberagamaan masyarakat konsumer dewasa ini, disadari atau tidak, merupakan tantangan yang harus dijawab oleh agama-agama formal, semacam Islam, dalam rangka merevitalisasi peran dan fungsinya di tengah masyarakat yang tengah dilingkupi budaya konsumer. Privatisasi agama yang cenderung lebih menyentuh persoalan keagamaan dalam wilayah privat/individu dibanding wilayah publik akan mereduksi sifat universal agama. Selama ini, sejalan dengan perubahan sosial di tingkat global,

28 Peter Beyer, “ Privatization and.., p. 22. 29 Irwan Abdullah, Privatisasi .., p. 9-10.

(13)

agama --oleh banyak kalangan penganutnya-- dipandang lebih banyak diorientasikan pada ranah teologis dibanding ranah sosiologis; sehingga agama kehilangan relevansi dengan dunia realitas. Padahal agama, menurut kitab sucinya, menentang pandangan dualis yang memisahkan antara aspek teologis dengan aspek sosiologis. Dalam pengertian bahwa iman dan amal merupakan dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Antara satu dengan lainnya tidak dapat dilihat pada sisi yang bersebelahan.

Akibat pandangan yang timpang di atas dengan hanya menekankan pada aspek teologis agama, menyebabkan wilayah sosisologis agama diambil alih oleh pasar yang saat ini menjadi kiblat penting masyarakat konsumer. Sejatinya, menurut Beyer, agama tidak hanya melayani sebatas pada peneguhan dan peningkatan keyakinan pemeluknya, tapi juga harus mampu memperluas implikasinya di luar bidang agama itu sendiri. Dengan demikian, agama tidak hanya menegaskan aspek function bagi umat tetapi juga aspek performance dalam memberikan solusi di luar agama.31 Aspek

function merujuk pada aspek komunikasi menyangkut wilayah sakral agama sementara aspek performance merupakan unsur profan yang mencakup aplikasi agama dalam bidang kehidupan sehari-hari yang lebih luas.

(14)

Daftar Pustaka

Abdullah, Irwan, Privatisasi Agama: Globalisasi atau Melemahnya Referens Budaya Lokal ?, makalah seminar, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, 9 November 1995.

Baudrillard, Jean, “The Consumer Society” dalam Mark Foster, ed., Jean Baudrilard Selected Writings, Oxford: Polity Press, 1981.

______, In the Shadow of the Silent Majorities, New York: Semiotext[e], 1983. ______, Simulation, New York: Semiotext[e], 1983.

Beyer, Peter, “Privatization dan Public Influence of Religion in Global Society” dalam Mike Featherstone (ed.), Global Culture: Nationalism, Globalization and Modernity, London: Sage Publication, 1991.

Corrigan, Peter, The Sociology of Consumption, London: Sage Publication, 1998.

Deleuse, Giles & Guattari Felix, Anti Oudipus: Capitalism and Schizophrenia. New York: The Viking Press, 1977.

Featherstone, Mike, Global Culture: Nationalism, Globalization and Modernity, London: Sage Publication, 1991.

______, “Cultural Production, Consumption, and the Development of the Cultural Sphere” dalam Richard Munch & Neill J. smelser (ed.), Theory of Culture, Berkeley: University of California, 1991.

______, The Body, London: Sage Publication, 1991.

______, Posmodernisme dan Budaya Konsumerisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

Friedman, Jonathan, “Being in The World: Globalization dan Localization” dalam Mike Featherstone (ed.), Global Culture: Nationalism, Globalization and Modernity, London: Sage Publication, 1991.

Geertz, Clifford, “Religious as a Cultual System” dalam M. Banton, ed., Anthropolgical Approaches to Sudy of Religion, ASA Monographs 3, London: Tavistock Publication, 1966.

______, The Religion of Java, New York: The Free Press, 1960.

(15)

Johnson, Allen, “Ethnoecology and Planting Practices in Swidden Agricultural System” dalam Am Ethnol, 1 (1), 1974.

Koentjaraningrat, Kamus Istilah Antropologi, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bangsa Depdikbud, 1984.

Lury, Celia, Budaya Konsumen, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1998. Miller, Daniel,, Material Culture and Mass Consumption. Basil: Blackwell,

1987.

Peters, Ted, “The Future of Religion in a Post-Industrial Society” dalam Frank Feather (ed), Through the ‘80s: Thinking Globally, Acting Locally, Washington DC: World Future Society, 1980.

Piliang, Yasraf Amir, Hiper-Realitas Kebudayaan, Yogyakarta: LkiS, 1999. Simmel, George., “Money in Modern Culture” dalam Theory, Culture and

Society 8 (3), 1991.

Spradley, James P., Participant Observation, USA: Holt, Reinehart and Winston, 1980.

Sturrock, John, Structuralism and Since, Oxford: Oxford University Press, 1979.

Tibi, Bassam, Islam and Cultural Accomodation of Social Change, Oxford: Westview Press, 1991.

Tominson, Alan, Consumtion, Identity dan Style: Marketing Meanings and the Packing of Pleasure, London: Routlege, 1990.

Veblen, T., The Theory of The Leisure Class: An Economic Study of Institution. London: Allen and Unwin, 1996.

SWA, 15/XVII/2001

Referensi

Dokumen terkait

Dengan memperhatikan tabel di atas menunjukkan bahwa nilai = 0.864 terletak pada 0.710 – 0.900 maka terdapat korelasi yang kuat antara Minat Membaca Dengan Ketekunan Belajar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai postes keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa di kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol dan rata-rata

Dalam Penelitian dibahas tentang Tinjauan Yuridis Terhadap Pelaku Kejahatan yang Mempunyai Gangguan Kejiwaan. Berdasarkan Pasal 44 KUHP, tidak dipidana pelaku

Konsentrasi ekstrak daun binahong 40% sudah efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan jumlah rata-rata zona bening yang berbeda nyata dengan

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah:

Rasio lancar ( Current Ratio ) merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva

berdiri menyamping terhadap papan ukur vertical jump. 3) Jangkauan tangan subjek diukur dengan menaikkan ujung jari setinggi-tingginya dan menandai dengan kapur tulis

4.2 Jika Pelanggan telah membuat Transaksi Salah dan permintaan untuk pemulihan dana diterima oleh HLB / HLISB antara sebelas (11) Hari Perniagaan dan tujuh (7) bulan dari