• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengantar Ilmu Hukum Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengantar Ilmu Hukum Indonesia"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

PENGANTAR I LMU HUKUM I NDONESI A

DI KTAT – USU

OLEH

Hasim Purba, Sh., Mhum

NIP : 132086733

UNI VERSI TAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS HUKUM

2007

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufiq

dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga dapat merampungkan penulisan diktat/ bahan

kuliah mata pelajaran Pengantar Ilmu Hukum Indonesia (PIHI).

Diktat/ bahan kuliah ini merupakan gabungan dari bahan kuliah PIHI yang telah

diajarkan penulis di Fakultas Hukum USU Medan sejak Tahun 1993 yang dihimpun dari

materi-meteri buku-buku karangan para penulis bidang hukum yang dijadikan sebagai

rujukan dalam penyusunannya. Oleh karena itu penulis sangat berteriamkasih sekali dan

sangat berhutang budi kepada para penulis yang bukunya telah dijadikan sebagai bahan

rujukan terutama buku karangan J.B Daliyo dkk tentang Pengantar Hukum Indonesia, semoga karya ilmiah dan ilmu para penulis buku tersebut menjadi amal ibadah bagi

mereka sepanjang masa.

Selanjutnya kepada semua pihak yang telah membantu baik moril maupun materil

dalam mendukung penyusunan diktat/ bahan kuliah ini penulis ucapkan ribuan

terimakasih, semoga amal ibadah saudara/ i mendapat balasan pahala yang setimpal dari

Allah AWT.

Akhirnya, penulis menyadari sepenuhnya bahwa muatan diktat/ bahan kuliah ini

masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis selalu membuka diri atas kritik dan saran

yang konstruktif dari para pembaca budiman yang sangat berguna untuk penyempurnaan

lebih lanjut.

Sekian dan terimakasih

Me d a n, Okto b e r 2007

Pe nulis/ Pe nyusun

Hasim Purba, SH., M.Hum

(3)

2

DAFTAR ISI

Hal

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I : HUKUM DALAM ARTI TATA HUKUM ... 1

BAB II : SEJARAH TATA HUKUM INDONESIA DAN POLITIK HUKUM DI INDONESIA ... 5

BAB : III SISTEM HUKUM ... 24

BAB : IV HUKUM TATA NEGARA ... 34

BAB : V HUKUM ADMINISTRASI NEGARA... 53

BAB : VI HUKUM PIDANA ... 66

BAB : VII HUKUM PERDATA ... 77

BAB : VIII HUKUM DAGANG ... 95

BAB : IX HUKUM AGRARIA ... 103

BAB : X HUKUM PERBURUHAN... 116

(4)

BAB I

HUKUM DALAM ARTI TATA HUKUM

I .1 Pe n ge r t ia n Ta t a H u k u m da n Ta t a H u k u m I n don e sia

Tat a hukum adalah susunan hukum yang bar asal m ula dar i ist ilah

recht orde (bahasa Belanda) . Susunan hukum t erdiri at as at uran- at uran

hukum yang t ert at a sedem ikian rupa sehingga orang m udah m enem ukannya

bila suat u ket ika ia m em but uhkannya unt uk m enyelesaikan perist iw a hukum

yang t erj adi dalam m asyarakat . At uran- at uran yang dit at a sedem ikian rupa

yang m enj adi ” t at a hukum ” t ersebut ant ara sat u dan lainnya saling

berhubungan dan saling m enent ukan. Tat a hukum berlaku dalam suat u

m asyarakat karena disahkan oleh Pem erint ah m asyarakat it u. Tat a hukum

yang sah dan berlaku pada w akt u t ert ent u dan di negara t ert ent u dinam akan

hukum posit if (ius const it ut um ) . Tat a hukum yang diharapkan berlaku pada

w akt u yang akan dat ang dinam akan ius const it uendum . I us const it uendum

dapat m enj adi ius const it ut um baru yang disesuaikan dengan kebut uhan

m asyarakat yang senant iasa berkem bang.

I .1 .2 Pe n ge r t ia n t a t a H u k u m I n don e sia

Tat a hukum suat u negara adalah t at a hukum yang dit et apkan at au

disahkan oleh negara it u. Jadi t at a hukum I ndonesia adalah t at a hukum yang

dit et apkan oleh Pem erint ah Negara I ndonesia. Tat a hukum I ndonesia j uga

t erdiri at as at uran- at uran hukum yang dit at a at au disusun sedem ikian rupa,

dan at uran- at uran it u ant ara sat u dan lainnya saling berhubungan dan saling

(5)

4 secara dinam is sesuai dengan perkem banm gan zam an dan perkem bangan

kebut uhan m asyarakat . Oleh karenanya suat u at uran yang sudah t idak

m em enuhi kebut uhan m asyarakat perlu digant i dengan yang baru.

Perkem bangan m asyarakat t ent u diikut i perkem bangan at uran- at uran yang

m engat ur pergaulan hidup sehingga t at a hukum pun selalu berubah- ubah,

begit u pula t at a hukum I ndonesia. Suat u t at a hukum yang selalu

berubah-ubah m engikut i perkem bangan m asyarakat dit em pat m ana t at a hukum it u

berlaku unt uk m em enuhi perasaan keadilan berdasarkan kesadaran hukum

m asyarakat , disebut t at a hukum yang m em punyai st rukt ur t erbuka. Dem ikian

pua halnya t at a hukum I ndonesia saling berhubungan dan saling m enent ukan,

sebagaim ana disinggung di m uka, dapat dibukt ikan dengan cont oh sebagai

berikut :

• Hukum Pidana saling berhubungan dengan hukum acara pidana dan

saling m enent ukan sat u sam a lain, karena hukum pidana t idak akan

dapat dit erapkan t anpa adanya hukum acara pidana. Sebaliknya j ika

t idak ada hukum pidana, hukum acara pidana t idak akan berfungsi.

• Hukum kaluaga berhubungan dan saling m enent ukan dengan hukum

w aris. Agar hart a kekayaan yang dit inggalkan oleh seorang yang

m eninggal dunia dapat dibagikan kepada para ahli w arisnya perlu

dibuat perat urannya. Siapa ahli w arisnya, berapa bagiannya, dan apa

kew aj ibannya dit ent ukan oleh hukum w aris.

I .1 .3 Pe n ge r t ia n Se j a r a h Ta t a H u k u m

Pada uraian Subpokok Bahasan I .1.2 dikat akan bahw a t at a hukum

(6)

m asyarakat di t em pat m ana t at a hukum it u berlaku. Oleh karena it u, at

uran-at uran yang t erkandung di dalam nya berubah pula m enurut i kebut uhan

m asyarakat it u. At uran dem i at uran akan digant i dengan yang baru apabila

at uran yang lam a dianggap sudah t idak sesuai lagi dengan keinginan

m asyarakat unt uk m encapai keadilan dan kepast ian hukum . Penggant ian

at uran- at uran lam a dengan at uran- at uran baru di dalam m asyarakat at au

negara m erupakan kej adian pent ing dalam t at a hukum m asyarakat at au

negara it u. Oleh karenanya perlu dicat at / dit ulis at au diingat . Pencat at an at au

penulisan kej adian- kej adian pent ing m engenai perubahan t at a hukum dalam

suat u negara agar diingat dan dipaham i oleh bangsa di negara yang

bersangkut an it u pada m asa kini dinam akan ” sej arah t at a hukum ” . Dengan

dem ikian, sej arah t at a hukum I ndonesia m em uat kej adian- kej adian pent ing

m engenai t at a hukum I ndonesia pada m asa lalu yang dicat at dan diingat sert a

harus dipaham i oleh bangsa I ndonesia.

I .1 .4 Pe n ge r t ia n Polit ik H u k u m

Polit ik hukum adalah pernyat aan kehendak dari Pem erint ah negara

m engenai hukum yang berlaku di w ilayahnya dan kearah m ana hukum it u

akan dikem bangkan. Dari rum usan pengert ian di at as dapat lah dikem ukakan

bahw a polit ik hukum I ndonesia adalah pernyat aan kehendak dari Pem erint ah

negara I ndonesia dan kearah m ana hukum it u akan dikem bangkan. Mengenai

kearah m ana hukum di I ndonesia akan dikem bangkan m enurut GBHN (

Garis-garis Besar Haluan Negara) kit a, secara t egas dikat akan bahw a pem bangunan

(7)

6 unifikasi hukum dibidang- bidang hukum t ert ent u dengan m em perhat ikan

kesadaran hukum m asyarakat dan perkem bangannya.

I .2 Tu j u a n M e m pe la j a r i Ta t a H u k u m I n don e sia

Seorang yang m em pelaj ari t at a hukum negara t ert ent u berar t i

m em pelaj ari keseluruhan peat uran yang berlaku di negara it u at au

m em pelaj ari hukum posit if negara it u. Dem ikian pula seseorang yang

m em pelaj ari hukum posit if I ndonesia. Tuj uannya adalah baw a orang t ersebut

ingin m enget ahui seluruh perat uran yang m engat ur t at a kehidupan negara

dan m asyarakat I ndonesia. Lebih j auh orang t ersebut ingin m enget ahui dasar

rangka hukum posit if indonesia, t ent ang perbuat an- perbuat an m ana yang

m elanggar hukum dan m ana yang m enurut i hukum , sert a ingin m enget ahui

kedudukan, hak, dan kew aj ibannya dalam m asyarakat . Seseorang yang

m em pelaj ari t at a hukum I ndonesia berart i m em pelaj ari hukum posit if

indonesia. Dengan dem ikian, hukum posit if indonesia m enj adi obj ek ilm u

(8)

BAB II

SEJARAH TATA HUKUM INDONESIA DAN

POLITIK HUKUM DI INDONESIA

I I .1 Pr a k e m e r de k a a n

I I .1 .1 M a sa V e r e e n igde Oost I n disch e Com pa gn ie ( 1 6 0 2 - 1 7 9 9 )

Pada m asa berdagang di I ndonesia, VOC diberi hak- hak ist im ew a oleh

Pem erint ah Belanda. Hak ist im ewa yang diberikan Pem erint ah Belanda kepada

VOC adalah hak oct r ooi yang m eliput i m onopoli pelayaran dan perdagangan,

m engum um kan perang, m engadakan perdam aian dan m encet ak uang.

Pem berian hak yang dem ikian it u m em baw a konsekw ensi bahw a VOC

m em perluas daerah j aj ahannya dikepulauan Nusant ara . Dalam usahanya

unt uk m em perbesar keunt ungan, VOC m em aksakan at uran- at uran yang

dibaw a dari negeri asalnya unt uk dit aat i oleh orang- orang pribum i. At

uran-at uran yang dipaksakan berlakunya it u adalah peruran-at uran- peruran-at uran dalam

bidang perdagangan dan bisa dit erapkan di kapal- kapal dagang. Ket ent uan

hukum t ersebut sam a dengan hukum Belanda kuno yang sebagian besar

m erupakan ” hukum disiplin” . Dalam perkem bangannya kem udian Gubernur

Jenderal Piet er Bot h diberi w ew enang unt uk m em buat perat uran guna

m enyelesaikan m asalah dalam lingkungan pegaw ai- pegaw ai VOC

didaerah-daerah yang dikuasai VOC. Kecuali it u Gubernur Jenderal Piet er Bot h j uga

(9)

8 Set iap perat uran yang dibuat dium um kan t et api pengum um an it u t idak

disim pan dalam arsip dan sesudah dium um kan kem udian dilepas sert a t idak

disim pan dengan baik, sehingga akhirnya t idak diket ahui lagi perat uran m ana

yang m asih berlaku dan m ana yang t idak berlaku. Keadaan dem ikian

m enim bulkan niat VOC unt uk m engum pulan pengum um an- pengum um an yang

pernah dit em pel kem udian disusun secara sist em at ik dan akhirnya dium um kan

di Bat avia dengan nam a st at ut a Bat avia (1642) . Usaha serupa dilakukan lagi

pada t ahun 1766 dan m enghasilkan st at ut a Bat avia Baru. St at ut a- st at ut a it u

berlaku sebagai hukum posit if baik bagi orang- orang pribum i m aupun orang

pendat ang dan sam a kekuat an berlakunya dengan perat uran- perat uran lain

yang t elah ada. St at ut a- st at ut a t ersebut w alaupun m erupakan kum pulan

perat uran, bukanlah suat u kodifikasi karena perat uran- perat uran yang ada

dalam st at ut a t ersebut t idak disusun secara sist em at ik. Kem udian penelit ian

yang dilakukan oleh Freij er m enghasilkan kit ab hukum yang dinam akan

Kom pendium Freij er yang didalam nya t erm uat at uran- at uran hukum

perkaw ainan dan hukum w aris I slam . Selain perat uran- perat uran hukum yang

dibuat oleh VOC, pada m asa ini pun kaidah- kaidah hukum adat I ndonesia

t et ap dibiarkan berlaku bagi orang- orang bum i put ra.

Dari uraian di at as, dapat diket ahui bahw a ket ika VOC berakhir pada

31 Desem ber 1799 ( karena VOC dibubarkan oleh Pem erint ah Balanda) t at a

hukum yang berlaku pada w akt u it u t erdiri at as at uran- at uran yang dicipt akan

oleh Gubernur Jenderal yang berkuasa didaerah kekuasaan VOC sert a at

uran-at uran t idak t ert ulis m aupun t ert ulis yang berlaku bagi orang- orang pribum i,

(10)

I I .1 .2 M a sa Be slu it e n Re ge r in gs ( 1 8 1 4 - 1 8 5 5 )

Pada m asa Besluit en Regerings ( BR) raj a m em punyai kekuasaan

m ut lak dan t ert inggi at as daerah- daerah j aj ahan t erm asuk kekuasaan

m ut lak t erhadap hart a benda m ilik negara bagian lain.( m enurut Pasal 36

UUD Negeri Belanda 1814) . Kekuasaan m ut lak raj a it u dit erapkan pula

dalam m em buat dan m engeluarkan perat uran yang berlaku um um dengan

nam a Algem ene Verordening at au Perat ur an Pusat. Perat uran pusat berupa

keput usan raj a, m aka dinam akan Keninklij k besluit . Pengundangannya

lew at selebaran yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal. Ada 2 ( dua)

m acam keput usan raj a sesuai dengan kebut uhannya :

1. Ket et apan raj a yait u besluit sebagai t indakan eksekut if raj a,

m isalnya ket et apan pengangkat an gubernur j enderal.

2. Ket et apan raj a sebagai t indakan legislat if, m isalnya berbent uk

Algem ene Verordening at au Algem ene Maat regel van Best uur

(AMVB) di negeri Belanda.

Raj a m angangkat para Kom isaris Jenderal yang dit ugaskan unt uk

m elaksanakan Pem erint ahan di ” Nederlands I ndie” ( Hindia Belanda) .

Mereka yang diangkat adalah Elout , Buyskes dan Van de Capellen. Para

kom isaris j enderal it u t idak m em buat perat uran baru unt uk m engat ur

Pem erint ahannya. Mereka t et ap m em berlakukan Undang- undang dan

perat uran- perat uran yang berlaku pada m asa I nggris berkuasa di

I ndonesia, yait u m engenai Landrent e dan susunan pengadilan buat an

Raffles. Sej ak para kom isaris j enderal m em egang Pem erint ahan di

daerah-daerah j aj ahan ( w ilayah Hindia Belanda) , baik raj a m aupun gubernur

(11)

10 karena m ereka m enunggu t erw uj udnya kodifikasi hukum yang

direncanakan oleh Pem erint ah Belanda. Lem baga peradilan yang

diperunt uk an bagi orang- orang pribum i t et ap sam a digunakan peradilan

I nggris begit u pula pelaksanaannya. Dalam usaha unt uk m em enuhi

kekosongan kas negara Belanda Gubernur Jenderal Du Bus dengan

Gisignes m enerapkan polit ik agraria dengan cara m em pekerj akan

orang-orang pribum i yang sedang m enj alankan hukum an, yang dikenal dengan

kerj a paksa (dw angs arbeid) .

Suat u hal yang perlu diperhat ikan ialah bahw a pada t ahun 1830

Pem erint ah Belanda berhasil m engkodifikasikan hukum perdat a.

Pengundangan hukum yang sudah berhasil dikodifikasi it u baru dapat

t erlaksana pada t anggal 1 Okt ober 1838. Set elah it u t im bul pem ikiran

t ent ang pengkodifikasian hukum perdat a bagi orang- orang Belanda yang

berada di Hindia Belanda. Pem ikiran it u akan diw uj udkan sehingga pada

t anggal 15 Agust us 1839 m ent er i j aj ahan Belanda m engangkat Kom isi

Undang- undang bagi Hindia Belanda yang t erdiri dari Mr. Scholt en van Out

Haarlem ( ket ua) dan Mr. Mr. J. Schneit her sert a Mr. J.F.H van Nes sebagai

anggot a. Beberapa perat uran yang berhasil dit angani oleh Kom isi it u dan

disem purnakan oleh Mr. H.L. Wicher adalah :

1. Reglem ent op de Recht erlij ke Organisat ie (RO) at au Perat uran

Oranisasi Pengadilan ( POP) .

2. Algem ene Bepalingen van Wet geving ( AB) at au Ket nt uan- ket ent uan

um um t ent ang perundang- undangan.

3. Burger lij k Wet boek ( BW) at au Kit ab Undang- Undang Hukum Perdat a

(12)

4. Wet boek van Koophandel ( WvK) at au KUHD

5. Reglem ent of de Burgerlij ke Recht svor dering (RV) at au perat uran

t ent ang acara perdat a ( AP) .

Sem ua perat uran t ersebut set elah disem purnakan oleh Mr. H.L. Wicher

diundangk an berlakunya di Hindia Belanda sej ak t anggal 1 Mei 1848 m alalui

S.1847: 57.

Dari kenyat aan sej arah t ersebut di at as dapat dit arik kesim pulan bahw a

t at a hukum pada m asa Besluit en Regerings ( BR) t erdiri dari perat

uran-perat uran t ert ulis yang dikodofikasikan, uran-perat uran- uran-perat ur an t idak t ert ulis

( hukum adat ) yang khusus berlaku bagi orang bukan golongan Eropa.

I I .1 .3 M a sa Re ge r in gs Re gle m e n t ( 1 8 5 5 - 1 9 2 6 )

Pada t ahun 1848 t erj adi perubahan Grand ( UUD) di Negeri Belanda.

Perubahan UUD negeri Belanda ini m engakibat kan t erj adinya pengurangan

t erhadap kekuasaan raj a, karena St at en General ( Parlem en) cam pur t angan

dalam Pem erint ahan dan perundang- undangan j aj ahan Belanda di I ndonesia.

Perubahan pent ing yang berkait an dengan Pem erint ahan dan

perundang-undangan, aialah dengan dicant um kannya Pasal 59 ayat ( I ) ,( I I ) , dan ( I V)

Grand Wet yang isinya :

Ayat ( I ) : Raj a m em punyai kekuasaan t ert inggi at as daerah j aj ahan

dan hart a keraj aan di bagian dari dunia.

Ayat ( I I ) dan ( I V) : At uran t ent ang kebij aksanaan Pem erint ah dit et apkan

m elalui undang- undang. Hal- hal lain yang m enyangkut

m engenai daerah- daerah j aj ahan dan hart a, kalau

(13)

12 Dari ket ent uan Pasal 59 ay at ( I ) ,( I I ) , dan ( I V) t ersebut t am pak j elas

berkurangnya kekuasaan raj a t erhadap dareah j aj ahan Belanda di I ndonesia.

Perat uran- perat uran yang m enat a daerah j aj ahan t idak sem at a- m at a

dit et apkan oleh raj a dengan Koninklij k Belsuit -nya, t et api perat uran it u

dit et apkan bersam a oleh raj a dan parlem en. Dengan dem ikian, sist em

Pem erint ahannya berubah dari m onar ki konst it usional m enj adi m onarki

konst it usional parlem ent er. Perat uran dasar yang dibuat bersam a oleh raj a

dan parlem an unt uk m engat ur Pem erint ahan daerah j aj ahan di I ndonesia

adalah Regerings Reglem ent . Regerings Reglem ent ini berbent uk

undang-undang dan diundang-undangkan m elalui S.1855: 2 RR yang selanj ut nya dianggap

sebagai UUD Pem erint ah Jaj ahan Belanda. Polit ik hukum Pem erint ah j aj ahan

Belanda yang m engat ur t ent ang t at a hukum dicant um kan dalam Pasal 75 RR

dalam asasnya sam a sepert i yang dim uat dalam Pasal 11 AB, yait u bahwa

dalam m enyelesaiakan perkara perdat a hakim diperint ahkan unt uk

m enggunakan hukum perdat a Eropa bagi golongan Eropa dan hukum adat

bagi orang bukan Eropa.

Pada t ahun 1920 RR m engalam i perubahan pada Pasal –pasal t ert ent u,

m aka kem udian RR dinam akan RR baru yang berlaku sej ak t anggal 1 Januari

1926. Golongan penduduk dalam Pasal 75 RR it u diubah dari dua golongan

m enj adi t iga golongan, yait u golonan Eropa, Tim ur Asing, dan I ndonesia

( pribum i) . Pada m asa berlakunya RR t elah berhasil diundangkan kit ab- kit ab

hukum , yait u :

1. Hukum yang berlaku pada penduduk golongan Eropa sebagaim ana

dit ent ukan dalam Pasal 131 I S adalah Hukum Perdat a, Hukum Pidana

(14)

a. Hukum Perdat a yang berlaku bagi golongan Eropa adalah Burger lij k

Wet boek dan Wet boek van Koophandel ( BW dan WvK) yang

diundangkan berlakunya t anggal 1 Mei 1848, dengan asas konkordasi.

b. Hukum Pidana Mat erial yang berlaku bagi golongan Eropa ialah Wet boek

van St rafr echt ( WvS) yang diundangkan berlakunya t anggal 1 Januari

1948 m elauli S.1915: 732.

c. Hukum Acara yang digunakan dalam proses peradilan bagi golongan

Eropa ialah Reglem ent op de Burgerij k Recht svordering unt uk proses

perkara perdat a dan Reglem ent op de St rafvordering yang diundangkan

m elalui S. 1847: 53. keduanay berlaku unt uk daerah Jaw a dan Madura.

Susunan peradilan yang digunakan bagi golongan Eropa di Jaw a dan

Madura adalah :

Resident iegerecht

Road van Just it ie

Hooggerecht shof

Peradilan diluar Jaw a dan Madura diat ur dalam Recht s Reglem ent

Buit engew est en ber dasarkan S.1927: 227 unt uk daer ah m asing- m asing.

2. Hukum yang berlaku bagi golongan pribum i ( bum i put era) adalah hukum

adat dalam bent uk t idak t ert ulis. Nam un j ika Pem erint ah Hindia Belanda

m enghendaki lain, hukum adat dapat digant i dengan ordonansi yang

dikeluarkan olehnya ( Pasal 131 ayat ( 6) I S) . Dengan dem ikian berlakunya

hukum adat t idak m ut lak. Keadaan dem ikian t elah dibukt ikan dengan

dikeluarkannya berbagai ordonansi yang diberlakukan lagi bagi sem ua

(15)

14 a. 1933: 48 j o S.1938: 2 t ent ang Perat uran Pem bukuan Kapal.

b. S.1933: 108 t ent ang Perat uran Um um Perhim punan Koperasi.

c. S.1938: 523 ordonansi t ent ang Orang Yang Mem inj am kan Uang.

d. S.1938: 524 Ordonansi t ent ang Riba.

Hukum yang berlaku bagi golongan pribum i :

a. S. 1927: 91 t ent ang Koperasi Pribum i.

b. S. 1931: 33 Perat uran t ent ang Pengangkat an Wali di Jaw a dan

Madur a.

c. S.1933: 74 t ent ang Perkaw inan Orang Krist en di Jaw a, Minahasa,

dan Am bon.

d. S.1933: 75 Per at uran t ent ang Pencat at an Jiw a Bagi Orang I ndonesia

di Jaw a, Madura, Minahasa, Am bon, Saparua, dan Banda.

e. S.1939: 569 Ordonansi t ent ang Maskapai Andil.

f. S.1939: 570 Ordonansi t ent ang Perhim punan Pr ibum i.

3. Hukum yang berlaku pada Golongan Tim ur Asing:

a. Hukum Perdat a dan Hukum Pidana Adat m ereka m enurut ket ent uan

Pasal 11 AB, ber dasarkan S.1855: 79 ( unt uk sem ua golongan Tim ur

Asing) .

b. Hukum perdat a golongan Eropa ( BW) hanya bagi golongan Tim ur

Asing Cina unt uk w ilayah Hindia Belanda m elalui S.1924: 557, dan

unt uk daerah Kalim ant an Barat berlakunya BW t anggal 1

Sept em ber 1925 m elalui S.1925: 92.

c. WvS yang berlaku sej ak 1 Januari 1918, unt uk hukum pidana

(16)

d. Hukum acara yang berlaku bagi golongan Eropa dan hukum acara

yang berlaku bagi golongan pribum i karena dalam prakt ek kedua

hukum acara t ersebut digunakan unt uk peradilan bagi golongan

Tim ur Asing.

Dalam proses penyelenggaraan peradilan di sam ping susunan peradilan

yang t elah disebut di at as m asih ada lem baga- lem baga pengadilan lain

yang m elaksanakan peradilan sendiri. Lem baga pengadilan it u adalah :

• Pengadilan Sw apraj a

• Pengadilan Agam a

• Pengadilan Milit er

I I . 1 .5 M a sa Je pa n g ( Osa m u Se ir e i)

Pada m asa penj aj ahan Jepang daerah Hindia Belanda dibagi m enj adi

dua, yait u :

1. I ndonesia Tim ur di baw ah kekuasaan Angkat an Laut Jepang

berkedudukan di Makasar.

2. I ndonesia Barat di baw ah kekuasaan Angkat an Darat Jepang

(17)

Sk e m a k a w u la I n don e sia m e n u r u t Pa sa l 1 6 3 j o 1 3 1 I S

Hasim Purba : Pengantar Ilmu Hukum Indonesia – Diktat USU, 2007

(18)

Perat uran- perat uran yang digunakan unt uk m engat ur Pem erint ah di

w ilayah Hindia Belanda dibuat dengan dasar Gun Seirei m elalui Osam u Seirei.

Dalam keadaan darurat Pem erint ah bala t ent ara Jepang di Hindia Belanda

m enent ukan hukum yang berlaku unt uk m engat ur Pem erint ahan dengan

m engeluar kan Osam u Seirei No.1/ 1942. Pasal 3 Osam u Seirie No. 1/ 1942

m enent ukan bahw a ” sem ua badan Pem erint ahan dan kekuasaannya, hukum

dan undang- undang dari Pem erint ah yang dulu t et ap diakui sah unt uk

sem ent ara w akt u, asal t idak bert ent angan dengan perat uran Pem erint ahan

m ilit er” . Dari ket ent uan dengan perat uran Pasal 3 Osam u Seirie No. 1/ 1942

t ersebut dapat diket ahui bahw a hukum yang m engat ur Pem erint ahan dan

lain-lain t et ap m enggunakan I ndische St aat regeling ( I S) . Hukum perdat a, pidana,

dan hukum acara yang berlaku bagi sem ua golongan sam a dengan yang

dit ent ukan dalam Pasal 131 I S, dan golongan- golongan penduduk yang ada

adalah sam a dengan yang dit ent ukan dalam Pasal 163 I S.

Kem udian Pem erint ah bala t ent ara Jepang m engeluarkan Gun

Seirei nom or ist im ew a 1942, Osam u Seirei No. 25 t ahun 1944 dan Gun Seirie

No. 14 t ahun 1942, Gun Seirei nom or ist im ew a t ahun 1942 dan Osam u Seirei

No. 25 t ahun 1944 m em uat at at uran pidana yang um um dan at

uran-at uran pidana yang khusus. Gun Seirei No. 14 t ahun 1942 m enguran-at ur t ent ang

(19)

18 I I .2 Pa sca k e m e r de k a a n

Masa pascakem erdekaan adalah m asa sesudah I ndonesia m erdeka.

Pada m asa ini t at a hukum I ndonesia dan polit ik hukum I ndonesia akan

dibicarakan berdasarkan kurun w akt u berlakunya berbagai Undang- Undang

Dasar I ndonesia.

I I .2 .1 M a sa 1 9 4 5 - 1 9 4 9 ( 1 8 - 8 - 1 9 4 5 - 2 6 - 1 2 - 1 9 4 9 )

Sej ak m erdeka 17 Agust us 1945, bangsa I ndonesia m enj adi bangsa

yang bebas dan t idak t ergant ung pada bangsa m ana pun j uga. Dengan

dem ikian, bangsa I ndonesia bebas dalam m enent ukan nasibnya, m engat ur

negaranya dan m enet apkan t at a hukum nya. Undang- undang Dasar yang

m enj adi dasar dalam penyelenggaraan Pem erint ah dit et apkan pada t anggal 18

Agust us 1945. Undang- undang Dasar yang dit et apkan unt uk it u adalah UUD

1945. Bent uk t at a hukum dan polit ik hukum yang akan berlaku pada m asa it u

dapat dilihat pada Pasal I I At ur an Peralihan UUD 1945.

Pasal I I at uran peralihan UUD m enet ukan bahw a “ segala badan negara

dan perat uran yang ada m aih langsung berlaku, selam a belum diadakan yang

baru m enurut Undang- Undang Dasar ini” . Dari ket ent uan t ersebut dapat

diket ahui bahw a hukum yang dikehendaki unt uk m engat ur penyelenggaraan

negara adalah perat uran- perat uran yang t elah ada dan berlaku sej ak m asa

(20)

dan berlaku pada zam an penj aj ahan Belanda dan m asa Pem erint ah bala

t ent ara Jepang, t et ap diberlakukan. Pernyat aan it u adalah unt uk m engat asi

kekosaongan hukum , sam bil m enunggu produk perat uran baru yang dibent uk

oleh Pem erint ah negara Republik I ndonesia. Dengan dem ikian, j elaslah bahw a

t at a hukum yang berlaku pada m asa 1945- 1949 adalah segala perat uran yang

t elah ada dan pernah berlaku pada m asa penj aj ahan Belanda, m asa Jepang

berkuasa dan produk- produk perat uran baru yang dihasilkan oleh Pem erint ah

negar a Republik I ndonesia dar i 1945- 1949.

I I .2 .2 M a sa 1 9 4 9 - 1 9 5 0 ( 2 7 - 1 2 - 1 9 4 9 - 1 6 - 8 - 1 9 5 0 )

Masa ini adalah m asa berlakunya Konst it usi RI S. Pada m asa t ersebut

t at a hukum yang berlaku adalah t at a hukum yang t erdiri dari perat

uran-perat uran yang dinyat akan berlaku pada m asa 1945- 1949 dan produk

perat uran baru yang dihasilkan oleh Pem erint ah negara yang berw enang

unt uk it u selam a kurun wakt u 27- 12- 1949 sam pai dengan 16- 8- 1950. hal ini

dit ent ukan oleh Pem erint ah negara m elalui Pasal 192 K.RI S yang isinya

sebagai berikut : ” perat uran- perat uran, undang- undang dan ket ent uan t at a

usaha yang sudah ada pada saat konst it usi ini m ulai berlaku t et ap berlaku

t idak berubah sebagai perat uran- perat uran dan ket ent uan- ket ent uan RI S

sendiri, selam a dan sekadar perat uran- per at uran dan ket ent uan- ket ent uan it u

t idak di cabut , dit am bah at au diubah oleh undang- undang dan ket ent uan t at a

usaha at as kuasa konst it usi ini.”

I I .2 .3 M a sa 1 9 5 0 - 1 9 5 9 ( 1 7 - 8 - 1 9 5 0 - 4 - 7 - 1 9 5 9 )

Konst it usi RI S hanya berlaku 7 bulan 16 hari kem udian digant i dengan

(21)

20 pada m asa ini adalah t at a hukum yang t erdiri dari sem ua perat uran yang

dinyat akan beralaku berdasarkan Pasal 142 UUDS 1950, kem udian dit am bah

dengan perat uran baru yang dibent uk oleh Pem erint ah negara selam a kurun

wakt u dari 17- 8- 1950 sam pai 4- 7- 1959.

I I .2 .4 M a sa 1 9 5 9 - Se k a r a n g ( 5 - 7 - 1 9 5 9 - Se k a r a n g)

UUDS 1950 hanya berlaku sam pai t anggal 4 Juli 1959, kar ena dengan

Dekrit Presiden 5 Juli 1959 UUDS 1950 dinyat akan t idak berlaku lagi dan

sebagai gant inya adalah UUD 1945. j adi UUD yang berlaku di I ndonesia sej ak

5 Juli 1959 hingga sekarang adalah UUD 1945. Tat a hukum yang berlaku pada

m asa ini adalah t at a hukum yang t erdiri dari segala perat uran yang berlaku

pada m asa 1950- 1959 dan yang dinyat akan m asih berlaku berdasarkan

ket ent uan Pasal I I At uran Peralihan UUD 1945 dit am bah dengan berbagai

perat uran yang dibent uk set elah Dekrit Pr esiden 5 Juli 1959 it u.

Tat a at uran perundang- undangan yang berlaku sekarang ini diat ur

berdasarkan Ket et apan MPRS No.XX/ MPRS/ 1966 j o Ket et apan MPR

No.V/ MPR/ 1973. t at a urut an undangan ( Hierarki

perundang-undangan) t ersebut adalah sbagai berikut :

1. UUD 1945

2. TAP MPR

3. UU ( Undang- undang )

4. Perpu ( Perat uran Pem erint ah Penggant i Undang- undang)

5. Perat uran Pem erint ah

6. KepPresiden

(22)

• I nst ruksi Ment eri

• dan lain- lainnya

Tat a urut an t ersebut di at as m engandung konsekw ensi bahw a perat uran

yang urut annya lebih rendah t idak boleh bert ent angan dengan perat uran

perundang- undangan yang lebih t inggi. Tat a urut an t ersebut di at as belum

pernah diat ur sam pai lahirnya Ket et apan MPRS No.XX/ MPRS/ 1966.

Polit ik hukum Pem er int ah sekarang ini secara t egas diat ur dalam Ket et apan

MPRS No.I / MPRS/ 1988. dalam TAP MPR No.I / MPR/ 1988 it u dirum uskan

t ent ang polit ik hukum Pem erint ah I ndonesia saebagai berikut :

a. Pem bangunan hukum sebagai upaya unt uk m enegakkan keadilan,

kebenaran dan ket ert iban dan negara hukum I ndonesia yang

berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945, diarahkan

unt uk m eningkat kan kesadaran hukum , m enj am in penegakan,

pelayanan dan kepast ian hukum , sert a m ew uj udkan t at a hukum

nasional yang m engabdi pada kepent ingan nasional.

b. Pem bangunan hukum dit uj ukan unt uk m em ant apkan dan

m engam ankan pelaksanaan pem bangunan dan hasil- hasilnya,

m encipt akan kondisi yang lebih m ant ab sehingga set iap anggot a

m asyarakat dapat m enikm at i iklim kepast ian dan ket ert iban hukum ,

lebih m em beri dukungan dan pengarahan kepada upaya

pem bangunan unt uk m encapai kem akm uran yang adil dan m erat a,

sert a m enum buhkan dan m engem bangkan disiplin nasional dan rasa

t anggungj aw ab sosial pada set iap anggot a m asyarakat . Di sam ping

it u, hukum benar- benar harus m enj adi pengayom m asyarakat ,

(23)

22 yang m endorong kreat ivit as ser t a m endukung st abilit as nasional yang

sehat dan dinam is.

c. Dalam rangka pem bangunan hukum perlu lebih dit ingkat kan upaya

pem bauran hukum secara t erarah dan t erpadu ant ara lain kodifikasi

dan unifikasi bidang- bidang hukum t ert ent u sert a penyusunan

perundang- undangan baru yang sangat dibut uhkan unt uk dapat

m endukung pem bangunan di berbagai bidang sesuai dengan t unt ut an

pem bangunan yang berkem bang dalam m asyarakat .

d. Dalam rangka m eningkat kan penegakan hukum perlu t erus

dim ant apkan kedudukan dan peranan badan- badan penegak hukum

sesuai dengan t ugas dan w ew enangnya m asing- m asing, sert a t erus

dit ingkat kan kem am puan dan kew ibaw aannya dan dibina sikap,

perilaku dan ket eladanan para penegak hukum sebagai pengayom

m asyarakat yang j uj ur, bersih, t egas dan adil.

e. Penyuluhan hukum perlu dim ant apkan unt uk m encapai kadar

kesadaran hukum yang t inggi dalam m asyarakat , sehingga set iap

anggot a m asyarakat m enyadari dan m enghayat i hak dan

kew aj bannya sebagai w arga negara, dalam rangka t egaknya hukum ,

keadilan dan perlindungan t erhadap harkat dan m art abat m anusia,

ket er t iban, ket ent ram an, dan kepast ian hukum sert a t erbent uknya

perilaku set iap w arga negara I ndonesia yang t aat pada hukum .

f. Dalam rangka m ew uj udkan pem erat aan m em peroleh keadilan dan

perlindungan hukum perlu t erus diusahakan agar proses peradilan

m enj adi lebih sederhana, cepat dan t epat dengan biaya yang

(24)

lebih dim ant apkan penyelenggaraan pem berian bant uan dan

konsult asi hukum bagi lapisan m asyarakat yang kurang m am pu.

g. Unt uk m enunj ang upaya pem bangunan hukum , perlu t erus

dit ingkat kan penyediaan sarana dan prasaran yang diperlukan sert a

dit ingkat kan pendayagunaannya.

h. Dalam usaha pem bangunan hukum perlu dit ingkat kan

langkah-langkah unt uk m engem bangkan dan m enegakkan hak dan

kew aj iaban asasi w arga negara dalam rangka m engam alkan Pancasila

dan Undang- Undang Dasar 1945.

Jika berbagai uraian t ersebut di at as diam at i dan diperhat ikan dapat

disim pulkan bahw a dalam polit ik hukum di I ndonesia dari m asa ke m asa ( dari

VOC hingga sekarang) ada persam aan dan perbedaan ant ara m asa yang sat u

dan m asa yang lain. Polit ik hukum yang dapat dikat akan m em punyai

persam aan adalah polit ik hukum yang dinyat akan oleh Pem erint ah bala

t ent ara Jepang ( OS) , m asa berlakunya UUD sem ent ara 1945 periode pert am a,

m asa berlakunya Konst it usi RI S dan m asa berlakunya UUD 1950. pada m

asa-m asa t ersebut Peasa-m erint ah negara unt uk seasa-m ent ara w akt u asa-m easa-m ber lakukan

perat uran- perat uran yang t elah ada sebelum undang- undang dasar at au

konst it usi it u berlaku. Polit ik hukum pada m asa- m asa t ersebut m asih bersifat

sem ent ara karena penguasa pada w akt u it u berm aksud unt uk sekedar

m em enuhi kebut uhan hukum agar t idak t erj adi kekosongan (vacuum ) .

Sedangkan polit ik hukum pada m asa- m asa Regerings Reglem ent ( RR)

dan m asa I ndische Regeling sudah lebih t egas lagi hukum apa at au yang

bagaim ana yang dikehendaki penguasa pada m asa- m asa it u. Pada m asa

(25)

24 dua m acam hukum yang berlaku bagi dua golongan penduduk yang ada pada

w akt u it u. Berdasarkan Pasal 6- 10 AB, penduduk Hindia Belanda pada w akt u

it u dibagi m enj adi dua bagian, yait u golongan Eropa dan bukan Eropa. Hukum

yang berlaku bagi golongan Eropa adalah hukum perdat a Eropa, sedangkan

bagi golongan bukan Eropa adalah hukum adat nya. Pem berlakuan hukum

sepert i it u dinyat akan dalam Pasal 11 AB. Polit ik hukum Pem erint ah Hindia

Belanda pada m asa RR dicant um kan dalam Pasal 5 RR dan pada asasnya

sam a dengan yang dit ent ukan dalam Pasal 11 AB. Perbedaan ant ara kedua

polit ik hukum t ersebut hanya t erlet ak pada cara penggolongan penduduk saj a.

Perbedaan golongan penduduk berdasarkan Pasal 6- 10 AB adalah

berdasarkan agam a, sedangkan pada Pasal 109 RR ber dasarkan kedudukan

” penj aj ah” dan ” yang dij aj ah” . Polit ik hukum pada m asa I ndiche

St aat sregeling ( I S) dicant um kan pada Pasal 131 I S yang pada dasarnya

m engandung asas hukum t ert ulis dan t idak harus dikodifikasikan t et api

diharapkan set iap perat uran dibuat t ert ulis dan dit et apkan dalam or donansi.

Pem erint ah Hindia Belanda m em bagi penduduknya m enj adi t iga golongan

sebagaim ana yang dit et apkan pada Pasal 163 I S ( golongan Eropa, Tim ur

Asing, dan Pribum i/ Bum i Put era) . Hukum perdat a yang berlaklu pada w akt u

it u bersifat dualist is, karena yang berlaku pada golongan Eropa adalah hukum

perdat a Eropa/ Barat dengan asas konkordansi, sedangkan bagi golongan

Tim ur Asing dan pribum i berlaku hukum perdat a adat m asing- m asing. Nam un,

j ika dilihat dari sist em hukum adat , ia bahkan bukan dualist is dalam hukum

perdat a t et api bahkan pluralist is.

Polit ik hukum yang ada m ulai m asa Orba ( 1967 sam pai sekarang) , at au

(26)

lebih t egas lagi karena Pem erint ah RI dalam pem binaan hukum nya sudah

m engarah kepada hukum kodifikasi dan unifikasi yang didasarkan pada

kebut uhan hukum m asyarakat I ndonesia, dan dalam j angka panj ang

Pem erint ah m enghendaki t at a hukum baru yang benar- benar produk

Pem erint ah RI dan sesuai dengan kebut uhan. Jadi, j ika disim pulkan perbedaan

polit ik hukum dari m asa ke m asa yang pernah dit erapkan ialah bahw a ada

polit ik hukum yang t et ap dalam t egas dalam art i hukum yang bagaim ana yang

dikehendaki, dan ada polit ik hukum yang sem ent ara sekedar unt uk m enj aga

(27)

26

BAB III

SISTEM HUKUM

I I I .3 Pe n da h u lu a n

Sist em hukum adalah kesat uan ut uh dari t at anan- t at anan yang t erdiri

dari bagian- bagian at au unsur- unsur yang sat u sam a lain saling berhubungan

dan berkait an secara erat . Unt uk m encapai suat u t uj uan kesat uan t ersebut

perlu kerj a sam a ant ara bagian- bagian at au unsur- unsur t ersebut m enurut

rencana dan pola t ert ent u. Dalam sist em hukum yang baik t idak boleh t erj adi

pert ent angan- pert ent angan at au t um pang t indih di ant ara bagian- bagian yang

ada. Jika pert ent angan at au kont radiksi t ersebut t erj adi, sist em it u sendiri

yang m enyelesaikan hingga t idak berlarut . Hukum yang m erupakan sist em

t ersusun at as sej um lah bagian yang m asing- m asing j uga m erupakan sist em

yang dinam akan subsist em . Kesem uanya it u bersam a- sam a m erupakan sat u

kesat uan yang ut uh. Marilah kit a m engam bil cont oh sist em hukum posit if

I ndonesia. Dalam sist em hukum posit if I ndonesia t ersebut t erdapat subsist em

hukum perdat a, subsist em hukum pidana, subsist em hukum t at a negara, dan

lain- lain yang sat u sam a lain saling berbeda. Sist em hukum di dunia ini ada

berm acam - m acam , yang sat u dengan lainnya saling berbeda.

(28)

Sist em hukum Eropa Kont inent al berkem bnag di negara- negara Eropa

dan sebagian disebut dengan ist ilah Civil Law . Sem ula sist em hukum it u

berasal dari kodifikasi hukum yang berlaku di kekaisaran Rom awi pada m asa

Pem erint ahan Kaisar Yust inianus. Kodifikasi hukum it u m erupakan kum pulan

dari berbagai kaidah hukum yang ada sebelum m asa Yust inianus yang disebut

Corpus Juris Civilis. Corpus Juris Civilis dij adikan prinsip dasar dalam

perum usan dan kodifikasi hukum dinegara- negara Eropa darat an sepert i

Jerm an, Belanda, Prancis, I t alia, Am erika Lat in, Asia ( t erm asuk I ndonesia

pada m asa penj aj ahan Belanda) .

Prinsip ut am a at au prinsip dasar sist em hukum Er opa Kont inent al ialah

bahw a hukum it u m em peroleh kekuasaan m engikat karena berupa perat uran

yang berbent uk undang- undang yang t ersusun secara sist em at is dalam

kodifikasi. Kepast ian hukum lah yang m enj adi t uj uan hukum . Kepast ian hukum

dapat t erw uj ud apabila segala t ingkah laku m anusia dalam pergaulan hidup

diat ur dengan perat uran t ert ulis. Dalam sist em hukum ini, t erkenal suat u

adagium yang berbunyi ” t idak ada hukum selain undang- undang”. Dengan

kat a lain hukum selalu diident ifikasikan dengan undang- undang. Hakim dalam

hal ini t idak bebas dalam m encipt akan hukum baru, karena hukum hanya

m enerapkan dan m enafsirkan perat uran yang ada berdasarkan w ew enang

yang ada padanya. Put usan hakim t idak m engikat um um t et api hanya

m engikat para pihak yang berperkara saj a.

I I I . Sist e m h u k u m An glo- Sa x on ( An glo- Am e r ik a )

Sist em hukum Anglo- Saxon ( Anglo- Am erika)

m ula- m ula berkem bang

di

(29)

28 t idak t ert ulis) . Sist em hukum ini dianut di negara- negara anggot a

persem akm uran I nggris,Am erika Ut ara,Kanada, Am erika Serikat . Sist em

hukum Anglo- Saxon bersum ber pada put usan–put usan hakim / put usan

pengadilan at au yurisprudensi. Put usan- put usan hakim m ew uj udkan kepast ian

hukum , m aka m elalui put usan- put usan hakim it u prinsip- prinsip dan

kaidah-kaidah hukum dibent uk dan m engikat um um .

Kebiasaan- kebiasaan dan perat uran hukum t ert ulis yang berupa

undang- undang dan perat uran adm inist rasi negara diakui j uga, kerena pada

dasarnya t erbent uknya kebiasaan dan perat uran t ert ulis t ersebut bersum ber

dari put usan pengadilan. Put usan pengadilan, kebiasaan dan perat uran hukum

t ert ulis t ersebut t idak t ersusun secara sist em at is dalam kodifikasi

sebagaim ana pada sist em hukum Eropa Kont inent al. Hakim berperan besar

dalam m encipt akan kaidah- kaidah hukum yang m engat ur t at a kehidupan

m asyarakat . Hakim m em punyai w ew enang yang luas unt uk m enafsirkan

perat uran- perat uran hukum dan m encipt akan prinsip- prinsip hukum baru yang

berguna sebagai pegangan bagi hakim –hakim lain dalam m em ut uskan

perkara sej enis. Oleh karena it u, hakim t erikat pada prinsip hukum dalam

put usan pengadilan yang sudah ada dari perkara- perkara sej enis (asas

doct rine of precedent ) . Nem un, bila dalam put usan pengadilan t erdahulu t idak

dit em ukan prinsip hukum yang dicari, hakim berdasarkan prinsip kebenaran

dan akal sehat dapat m em ut uskan perkara dengan m enggunakan m et ode

penafsiran hukum . Sist em hukum Anglo- Am erika sering disebut j uga dengan

ist ilah Case Law .

Dalam pem bagian hukum nya, sist em hukum ini j uga m em bagi hukum

(30)

m enurut sist em hukum ini lebih dit uj ukan kepada kaidah hukum t ent ang hak

m ilik, hukum t ent ang orang, hukum perj anj ian dan hukum t ent ang perbuat an

m elaw an hukum .

I I I . Sist e m H u k u m Ada t

Sist em hukum adat t erdapat dan berkem bang dilingkungan kehidupan

sosial di I ndonesia, Cina, I ndia, Jepang, dan negara lain. Di I ndonesia asal

m ula ist ilah hukum adat adalah dari ist ilah ”Adat recht” yang dikem ukakan oleh

Snoucg Hugrony. Sist em hukum adat um um nya bersum ber dari perat

uran-perat uran hukum t idak t ert ulis yang t um buh dan berkem bang sert a

dipert ahankan berdasarkan kesadaran hukum m asyarakat ny a. Sifat hukum

adat adalah t radisional dengan berpangkal pada kehendak nenek m oyangnya.

Hukum adat berubah- ubah karena pengaruh kej adian dan keadaan sosial yang

silih bergant i. Karena sifat nya yang m udah berubah dan m udah m enyesuaikan

dengan perkem bangan sit uasi sosial, hukum adat elast is sifat nya. Karena

sum bernya t idak t ert ulis, hukum adat t idak kaku dan m udah m enyesuaikan

diri.

Sist em hukum adat di I ndonesia dibagi dalam t iga kelom pok, yait u :

a. hukum adat m engenai t at a negara, yait u t at anan yang m engat ur

susunan dan ket ert iban dalam persekut uan- persekut uan hukum , sert a

susunan dan lingkungan kerj a alat - alat perlengkapan, j abat an- j abat an,

dan penj abat nya.

b. Hukum adat m engenai w arga ( hukum w arga) t erdiri dari :

1. hukum pert alian sanak ( kekerabat an)

(31)

30 3. hukum perut angan

c. Hukum adat m engenai delik ( hukum pidana)

Yang berperan dalam m enj alankan sist em hukum adat adalah pem uka

adat ( penget ua- penget ua adat ) , karena ia adalah pim pinan yang disegani oleh

m asyarakat .

I I I .5 Sist e m H u k u m I sla m

Sist em hukum I slam berasal dari Arab, kem udian berkem bang ke

negara-negara lain sepert i negara-negara- negara-negara Asia, Afrika, Eropa, Am erika secara

individual m aupun secara kelom pok. Sist em hukum I slam bersum ber pada :

a. Qur’an, yait u kit ab suci kaum m uslim in yang diw ahyukan dari

Allah kepada Nabi Muham m ad SAW m elalui Malaikat Jibril.

b. Sunnah Nabi, yait u cara hidup dari nabi Muham m ad SAW at au

cerit a t ent ang Nabi Muham m ad SAW.

c. I j m a, yait u kesepakat an para ulam a besar t ent ang suat u hak

dalam cara hidup.

d. Qiyas, yait u analogi dalam m encari sebanyak m ungkin

persam aan ant ara dua kej adian.

Sist em hukum I slam dalam ”Hukum Fikh” t erdiri dari dua bidang

hukum , yait u :

1. hukum rohaniah ( ibadat ), ialah cara- cara m enj alankan upacara t ent ang

kebakt ian t erhadap Allah ( sholat , puasa, zakat , m enunaikan ibadah

haj i) , yang t idak dipelaj ari di fakult as hukum .

(32)

a. Muam alat, yait u t at a t ert ib hukum dan perat uran m engenai hubungan

ant ara m anusia dalam bidang j ual- bei, sew a m enyew a, perburuhan,

hukum t anah, perikat an, hak m ilik, hak kebendaan dan hubungan

ekonom i pada um um nya.

b. Nikah, yait u perkaw inan dalam art i m em bet uk sebuah keluar ga yang

t ediri dari syarat - syarat dan rukun- rukunnya, hak dan kew aj iban,

dasar- dasar perkaw inan m onogam i dan akibat - akibat hukum

perkaw inan.

c. Jinayat, yait u pidana yang m eliput i ancam an hukum an t erhadap hukum

Allah dan t indak pidana kej ahat an.

Sist em hukum I slam m enganut suat u keyakinan dan aj aran islam

dengan keim anan lahir bat in secara individual.

Negara- negara yang m enganut sist em hukum I slam dalam

bernegara m elaksanakan perat uran- perat uran hukum nya sesuai dengan

rasa keadilan berdasarkan perat uran perundangan yang bersum ber dari

Qur’an. Dari penj elasan ini t am pak j elas bahw a di negara- negara

penganut asas hukum I slam , agam a I slam berpengaruh sangat besar

t erhadap cara pem bent ukan negara m aupun cara bernegara dan

berm asyarakat bagi w arga negara dan penguasanya.

I I I . 6 Sist e m H u k u m Ka n on ik

Kit ab Hukum Kononik ( KHK) t erdiri at as t uj uh buku :

Buku I : m em uat t ent ang norm a- norm a um um

Buku I I : m em uat t ent ang Um at Allah

(33)

32 Buku I V : m em uat t ent ang t ugas gerej a m enguduskan

Buku V : m em uat t ent ang hart a benda duniaw i gerej a

Buku VI : m em uat t ent ang hukum an- hukum an dalam gerej a dan sanksi-

sanksi dalam gerej a.

Buku VI I : m em uat t ent ang proses at au hukum acara

Set iap buku dibagi dalam bagian, seksi, j udul, bab dab art ikel. Nom

or-nom or ket ent uan hukum disebut kanon. Kit ab Hukum Kanonik m enggunakan

prinsip pem bagian dari yang t erbesar ke yang t erkecil. Seluruh Kit ab Hukum

Kanonik 1983 m em uat 1.752 kanon.

Buku I t erdiri dari sebelas j udul :

Buku I m em uat at ur an- at uran um um yang dit erapkan dan m engat ur seluruh

hukum dalam gerej a lat in. Buku I bersifat t eknis yuridis sehingga t idak m udah

dipaham i oleh orang- orang yang m em ang t idak t erbiasa berkecim pung dalam

bidang t eknik hukum . Jum lah kanon dalam buku I adalah 203.

Judul I : t erdiri dari 16 kanon, m em uat t ent ang bagaim ana lahirnya

undang- undang gerej ani, siapa yang t erikat , kapan m ulai

m engikat , bagaim ana m enafsirkannya.

Judul I I : m em uat t ent ang hukum kebiasaan dan hubungannya dengan

undang- undang, t erdiri dari 6 kanon.

Judul I I I : t erdiri dari 6 kanon, m em bahas t ent ang dekrit um um ,

inst ruksi, fungsinya, pem buat annya, m acam nya, dan

perbedaannya.

Judul I V : t erdiri dari 59 kanon, dibagi dalam 5 bab. Dalam j udul I V ini

(34)

nor m a- norm a um um t indakan t er sebut , dekrit , perint ah

khusus, reskrip, privilegi, dan dispensasi.

Judul V : t er diri dari 2 kanon, yait u t ent ang st at ut a dan t ert ib acara.

Judul VI : t erdiri dari 28 kanon, dibagi dalam 2 bab. Bab I m em bahas

t ent ang kedudukan kanonik dari orang perorangan, m isalnya

kapan seor ang dianggap dew asa, dom isili, kuasi dom isili dan

bagaim ana m em perolehnya, j uga bagi biar aw at i dan biaraw an

m engenai hubungan persaudaraan dan cara penghit ungannya.

Bab I I m em bicarakan t ent ang badan hukum , m isalnya

bagaim ana m endirikannya, siapa yang dapat m endirikan, apa

m acam nya.

Judul VI I : t erdiri dari 5 kanon,m em bahas t ent ang t indakan yuridis, syarat

- syarat sahnya t indakan yuridis, gant i rugi bagi orang yang

dirugikan karena t indakan orang lain.

Judul VI I I : m engenai kuasa kepem im pinan, t erdiri dari 16 kanon,

didalam nya dibahas t ent ang kuasa yurisdiksi, kuasa legislat ive,

yudikat if, kuasa j abat an, kuasa yang didelegasikan, dan

bagaim ana m endelegasikan.

Judul I X : m em bahas t ent ang j abat an- j abat an gerej ani, t erdiri dari 51

kanon dalam 2 bab. Dalam j udul ini dibahas t ent ang pem berian

j abat an, penindakan, pem berhent ian, dan j abat an gerej ani dan

pelet akan j abat an.

Judul X : m em bahas t ent ang kadaluarsa, t erdiri dari 3 kanon. Dalam

j udul ini dij elaskan t ent ang pengert ian kadaluarsa, dan apa saj a

(35)

34 Judul XI : m em bahas t ent ang perhit ungan w akt u, t erdiri dari 4 kanon,

ant ara lain m engenai w akt u yang t erus m enerus, w akt u guna,

hari dan m inggu.

Buku I I t erdiri dari lim a j udul :

Judul I : m engat ur t ent ang kew aj iban dan hak sem ua orang krist iani.

Judul I I : m engat ur t ent ang kew aj iban dan hak kaum krist iani aw am .

Judul I I I : m engat ur t ent ang para pelayan rohani ( klerus)

Judul I V : m engat ur plerat ur personal.

Judul V : m engat ur serikat - serikat kaum ber im an krist iani.

Buku I I I t erdiri dari lim a j udul :

Judul I : Mengat ur t ent ang kegiat an m isi gerej a

Judul I I : Mengat ur t ent ang kegiat an m isi gerej a

Judul I I I : Mengat ur t ent ang pendidikan Kat olik.

Judul I V : Mengat ur t ent ang alat - alat kom unikasi

Judul V : Mengat ur t ent ang pengakuan im an.

Buku I V t erdiri dari t uj uh j udul :

Judul I : Mengat ur t ent ang perm andian.

Judul I I : Mengat ur t ent ang sakram en penguat an.

Judul I I I : Mengat ur t ent ang Ekarist i Mahasuci.

Judul I V : Mengat ur t ent ang Sakram en t obat

Judul V : Mengat ur t ent ang Sakram en Pengurapan orang sakit

Judul VI : Mengat ur t ent ang I m am at

Judul VI I : Mengat ur t ent ang perkaw inan

(36)

Judul I : Mengat ur t ent ang bagaim ana m em peroleh hart a benda.

Judul I I : Mengat ur t ent ang pengelolaan hart a benda.

Judul I I I : Mengat ur t ent ang kont rak, t erut am a t ent ang peralihan m ilik.

Judul I V : Mengenai kehendak saleh dan fondasi saleh.

Buku VI m em euat t ent ang sanksi- sanksi dalam gerej a dan t erdiri dari enam

j udul yait u :

Judul I : Mengat ur t ent ang penghukum an t indak pidana pada um um nya.

Judul I I : Mem uat undang- undang pidana dan perint ah pidana.

Judul I I I : Mem uat t ent ang subj ek yang t erkena sanksi pidana.

Judul I V : m em uat t ent ang hukum an dan penghukum an lainnya.

Judul V : Mengat ur t ent ang m enj at uhkan hukum an

(37)

36

BAB IV

Hukum Tata Negara

I V . 1 Pe n ge r t ia n H u k u m Ta t a N e ga r a

Beberapa orang sarj ana m engem ukakan pendapat nya yang sat u dengan yang

lain t idak sam a t ent ang pengert ian hukum t at a negara. Para sarj ana it u,

ant ara lain :

a. Van der Pot yang berpendapat , bahw a hukum t at a negara adalah

perat uran- perat uran yang m enent ukan badan- badan yang

diperlukan, w ew enang m asing- m asing badan, hubungan ant ara

badan- badan it u dengan individu- individu di dalam suat u negara.

b. Van Vollenhoven berpendapat , bahw a hukum t at a negara adalah

hukum yang m engat ur sem ua m asyarakat hukum at asan dan

m asyarakat hukum baw ahan m enurut t ingkat annya, dan m

asing-m asing asing-m asyarakat hukuasing-m it u asing-m enent ukan w ilayah lingkungan

rakyat nya dan m enent ukan badan- badan sert a fungsinya m

asing-m asing yang berkuasa dalaasing-m asing-m asyarakat dari badan- badan

t ersebut .

c. L.J Van Apeldroorn berpendapat , bahw a hukum t at a negara adalah

(38)

d. Kusum adi Pudj osew oj o yang berpendapat , bahw a hukum t at a negara

adalah hukum yang m engat ur bent uk negara, bent uk Pem erint ahan,

m enunj ukkan m asyarakat hukum at asan dan m asyarakat baw ahan

m enurut t ingkat annya, selanj ut nya m enegaskan w ilayah lingkungan

rakyat nya m asing m asing m asyarakat hukum , m enunj ukkan alat

-alat perlengkapan negara yang berkuasa dalam m asing- m asing

m asyarakat hukum it u dan susunan, w ew enang sert a im bangan dari

alat perlengkapan t ersebut .

e. Ogem ann berpendapat , bahw a hukum t at a negara adalah hukum

yang m engat ur organisasi negara.

I V .2 Se j a r a h Ke t a t a n e ga r a a n Re pu blik I n don e sia

Negara republik I ndonesia lahir pada t anggal 17 Agust us 1945, m elalui

pernyat aan proklam asi kem erdekaan I ndonesia oleh Bung Karno dan Bung

Hat t a at as nam a bangsa I ndonesia. Naskah proklam asi dit andat angani oleh

Bung Karno dan Bung Hat t a, dibacakan oleh Bung Karno didepan rum ah yang

t erlet ak di j alan Pegangsaan Tim ur No. 56 Jakart a j am 10 pagi. Pem bacaan

naskah proklam asi oleh Bung Karno dilanj ut kan dengan pidat o proklam asi.

Dengan pr oklam asi kem erdekaan I ndonesia berart i bahw a sej ak saat

it u negara I ndonesia t elah ada, dan bangsa I ndonesia sudah bert ekad unt uk

m enent ukan nasib sendiri, t idak bersandar kepada bangsa lain m ana pun j uga

dan t idak m enggant ungkan nasibnya kepada bangsa lain. Dengan dem ikian,

sej ak saat it u ( 17- 8- 1945) t elah lahir negara baru, yait u negara Republik

I ndonesia dan bersam aan dengan it u berdiri pula t at a hukum dan t at a negara

(39)

38 Dari uaraian di at as dapat disim pulan, bahw a proklam asi

kem erdekaan I ndonesia m ngandung art i :

a. lahirnya negara kesat uan Republik I ndonesia.

b. Sebagai puncak perj uangan pergerakan kem erdekaan bangsa I ndonesia

yang dihayat i sej ak 20- 5- 1908.

c. Tit ik t olak pelaksanaan am anat penderit aan rakyat .

I V .2 .2 La h ir n y a Pe m e r in t a h I n don e sia

Pada t anggal 29 Mei 1945 bala t ent ara Jepang di Jakat a m em bent uk

suat u badan yang diberi nam a Dokurit zu Zyum bi Tyoosakai at au Badan

Penyelidik Usaha- usaha persiapan Kem erdekaan I ndonesia ( BPUPKI ) . Badan

it u t erdiri dari 62 orang anggot a yang diket uai oleh I r. Radj im an

Widyodiningrat . Badan ini m engadakan dua kali sidang, yait u : pert am a

t anggal 29 Mei 1945 sam pai dengan 1 Juni 1945, dan kedua t anggal 10 Juli

1945 sam pai dengan 16 Juli 1945.

BPUPKI m em bent uk panit ia kecil unt uk m erum uskan hasil sidang yang

beranggot akan 9 orang, yait u : I r. Soekar no, Drs.Moham m ad Hat t a, Mr.A.A

Maram is, Abi Kusno Tj okrosuj oso, Abdulhakar Muzakir, Haj i Agus Salim , Mr.

Achm ad Subardj o, KHA. Wahid Hasj im , dan Mr. Moham m ad Yam in. Tanggal 22

Juni 1945 BPUPKI berhasil m enyusun naskah rancangan Pem bukaan UUD

1945 dan t anggal 16 Juli 1945 selesai m enyusun naskah rancangan UUD

1945. set elah it u BPUPKI dibubarkan. Tanggal 9 Agut sus 1945 dibent uk badan

baru dengan nam a Dokurit zu Zyum bi I inkai at au Panit ia Persiapan

(40)

PPKI diket uai oleh I r. Soekarno dengan w akil Drs. Moham m ad Hat t a,

anggot any a 21 orang yang kem udian dit am bah 6 orang m enj adi 27 orang.

Para anggot a PPKI berasal dar i rakyat I ndonesia yang m ewakili m

asing-m asing daerah asalnya yang boleh dikat akan sebagai ” badan perw akilan” .

PPKI kem udian dij adikan ” Kom it e Nasional” . PPKI m enyaksikan pula

pem bacaan naskah proklam asi oleh Bung Karno pada t anggal 17 Agust us

1945. Kem udian pada t anggal 18 Agust us 1945 PPKI bersidang dan hasilnya

m ent apkan :

a. Pem bukaan UUD 1945.

b. Undang- Undang Dasar 1945 sebagai UUD negara Republik I ndonesia

c. I r. Soekarno dan Drs. Moham m ad Hat t a m asing- m asing sebagai

Presiden dan Wakil Presiden Republik I ndonesia.

d. Pekerj aan presiden unt uk sem ent ara dibant u oleh sebuah Kom it e

Nasional.

Pada t anggal 19 Agust us 1945 PPKI bersidang lagi dan hasilnya m ent apkan

:

a. m em bent uk 12 depart em en Pem erint ah.

b. Mem bagi wilayah Republik I ndonesia m enj adi 8 provinsi dan t iap

provinsi dibagi m enj adi keresidenan- keresidenan.

Dengan selesainya sidang PPKI t anggal 18 dan 19 Agust us 1945 dengan

hasil sepert i t ersebut di at as, secara form al negara Republik I ndonesia

t elah m em enuhi sem ua unsur yang diperlukan unt uk t erbent uknya

suat u organisasi negara yait u dengan adanya rakyat , wilayah,

kedaulat an, dan pem erint ahan sert a m em punyai t uj uan negara. Dengan

(41)

40 Pem erint ahan Republik I ndonesia adalah pada t anggal 18 Agust us 1945

yait u sej ak dit et apkannya UUD 1945 sebagai UUD negara Republik

I ndonesia dan dit et apkannya I r. Suekarno sert a Drs. Moham m ad Hat t a

m asing- m asing sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik I ndonesia

. m ulai t anggal t ersebut negara Republik I ndonesia t elah m em iliki UUD

sebagai pelaksanaan pem erint ah, presiden sebagai pucuk pim pinan

pem erint ah.

I V .2 .2 Sist e m Pe m e r in t a h a n I n don e sia

Pengert ian t ent ang bent uk pem erint ahan adalah suat u sist em yang

berlaku, yang m enet ukan bagaim ana hubungan ant aralat perlengkapan

negara yang diat ur oleh konst it usinya. Oleh karena it u, bent uk Pem erint ahan

sering disebut at au lebih populer dengan ist ilah sist em Pem erint ahan. Sist em

Pem erint ahan adalah keseluruhan dari susunan at au t at anan yang diat ur dari

lem baga- lem baga negara yang ber kait an sat u sam a lain baik langsung

m aupun t idak langsung m enurut suat u pola unt uk m encapai t uj uan negara.

Ada t iga m ,acam sist em Pem erint ahan :

1. Sist em Pem erint ahan Par lem ent er adalah suat u sist em Pem erint ahan

dim ana hubungan ant ara pem egang kekuasaan eksekut if dan

parlem en sangat erat . Eksekut if dipim pin oleh seorang perdana

m ent eri yang dibent uk oleh parlem en yang m ayorit asnya dari part ai

at au organisasi t ert ent u. Perdana m ent eri j at uh apabila t idak

m endapat dukungan dari parlem en, sebaliknya kepala negara dapat

(42)

kem udian digant i dengan parlem en baru yang dibent uk m elalui suat u

pem ilu.

2. Sist em Pem erint ahan Presidensil adalah sist em Pem erint ah yang

m em isahkan secara t egas badan legeslat if, badan eksekut if dan

badan yudikat if. Presiden bert indak sebagai kepala negara sekaligus

kepala eksekut if. Presiden t idak dipilih oleh parlem en, m aka ia t idak

bert anggungj aw ab kepadanya. Presiden dan kabinet nya t idak dapat

dij at uhkan oleh parlem en, sebaliknya presiden t idak dapat

m em bubar kan parlem en. Kedua lem baga ini m elaksanakan t ugasnya

sesuai dengan ket ent uan konst it usi dan m asa j abat annya berakhir

sesuai dengan ket ent uan dalam konst it usi it u pula.

3. Sist em Pem erint ahan dengan pengaw asan langsung oleh rakyat

t erhadap badan legislat if. Dalam sist em Pem erint ahan ini parlem en

t unduk kepada kont rol langsung dar i rakyat . Kont r ol t er sebut

dilaksanakan dengan cara :

a. Referendum , yait u kegiat an polit ik dilakukan oleh rakyat unt uk

m em ber ikan keput usan set uj u at au t idak set uj u t erhadap

kebij aksanaan yang dit em puh Pem erint ah. Ada t iga m acam

referendum , yait u :

- Referendum Obligat or ( referendum yang w aj ib) yait u

referendum dalam hal parlem en akan m em berlakukan

undang- undang yang m enyangkut hak- hak rakyat .

- Referendum Fakult at if, yait u referendum yang dilakukan

oleh beberapa kelom pok m asyarakat t ert ent u t erhadap

(43)

42 - Referendum konsult at if, adalah referendun unt uk soal- soal

t ert ent u dim ana rakyat t idak t ahu t eknisnya.

b. Usul inisiat if rakyat , yait u hak rakyat unt uk m engaj ukan suat u

rancangan undang- undang kepada parlem en dan Pem erint ah.

Sist em Pem erint ahan m enurut UUD yang pernah berlaku di Republik

I ndonesia :

a. Menurut Konst it usi RI S, adalah sist em Pem erint ah parlem ent er yang

t idak m urni, karena Pasal 118 m enyebut kan bahw a presiden t idak dapat

diganggu gugat dan para m ent eri bert anggungj aw ab at as seluruh

kebij akan Pem erint ah baik bersam a- sam a unt uk seluruhnya m aupun

m asing- m asing unt uk bagiannya sendiri. Tet api dalam Pasal 122

dit ent ukan bahw a DPR t idak dapat m em aksa kabinet at au m ent

eri-m ent eri unt uk eri-m elet akkan j abat annya secara bersaeri-m a- saeri-m a eri-m aupun

sndiri- sendiri.

b. Menurut UUDS 1950, adalah sist em Pem erint ahan berparlem ent er yang

m urni. Dapat dilihat dari Pasal 83 ayat ( 1) , ( 2) dan Pasal 84 UUD

t ersebut . Pasal 83 ( 1) m enent ukan bahw a presiden dan w akil pr esiden

t idak dapat diganggu gugat . Pasal 83 ( 2) m enent ukan bahw a m ent

eri-m ent eri bert anggungj aw ab at as seluruh kebij aksanaan Peeri-m erint ah baik

bersam a- sam a unt uk seluruhnya m aupun m asing- m asing unt uk

bagiannya sendir i. Dalam Pasal 114 dit ent ukan bahw a presiden dapat

dan berhak m em bubarkan DPR. Set elah DPR dibubarkan m aka 30 hari

kem udian harus sudah t erbent uk DPR baru hasil pem ilu.

c. Menurut UUD 1945, adalah bukan sist em Pem erint ahan yang

(44)

yait u bahw a DPR t idak dapat dibubarkan oleh Presiden, suat u hal yang

berlainan dengan sist em parlem ent er. Dalam penj elasan UUD 1945

lebih lanj ut dikat akan bahw a sist em Pem erint ahan m enurut UUD 1945

didasarkan pada t uj uh kunci pokok, yang secara rinci m enguraikan

hubungan ant ara MPR, DPR, dan Presiden dalam negara hukum

berdasarkan sist em konst it usional. Tuj uh kunci pokok t ersebut adalah :

1. I ndonesia adalah negara yang berdasarkan hukum .

2. Sist em konst it usional.

3. Kekuasaan negara t ert inggi di t angan MPR.

4. Presiden adalah penyelenggara Pem erint ahan negara t ert inggi di baw ah

MPR.

5. Presiden t idak bert anggungj aw ab kepada DPR.

6. Ment eri Negara adalah pem bant u Presiden, dan t idak bert anggungj aw ab

kepada DPR.

7. Kekuasaan kepala negara t idak t ak t erbat as.

I V . 3 Le m ba ga - La m ba ga Te r t in ggi D a n Tin ggi N e ga r a

Yang dim aksud dengan lem baga- lem baga t ert inggi dan t inggi negara

Republik I ndonesia adalah lem baga- lem baga t ert inggi dan t inggi negara

m enurut UUD 1945. Lem abaga Tert inggi dan Tinggi Negara yang disebut dalam

UUD 1945 adalah :

a. Maj elis Per m usyaw ar at an Rakyat ( MPR)

b. Presiden

c. Dew an Pert im bangan Agung ( DPA)

(45)

44 e. Badan Pem eriksa Keuangan ( BPK)

f. Mahkam ah Agung ( MA)

Dari enam lem baga yang disebut dalam UUD 1945, MPR m erupakan yang

t ert inggi, sedangkan lim a yang lain adalah Lem baga t inggi.

a. Maj elis Per m usyaw ar at an Rakyat ( MPR) . Susunan anggot a MPR t erdiri

dari anggot a –anggot a DPR dit am bah ut usan daerah, golongan polit ik

dan golongan karya ( Pasal 1 ayat ( 1) Undang- Undang No.16/ 1969) .

Jum lah anggot a DPR ( Pasal 1 ayat ( 2) Undang- Undang No. 16/ 1969) .

Anggot a t am bahan MPR t erdiri :

• Ut usan daerah, m inim al 4 orang dan m aksim al 7 orang ( Pasal 8

UU No. 16/ 1969) . Daerah t ingkat I yang berpenduduk kurang

dari sat u j ut a j iw a m endapat 4 orang ut usan. Daerah t ingkat I

yang berpenduduk 1- 5 j ut a j iw a m endapat 5 orang ut usan.

Daerah t ingkat I yang berpenduduk 5- 10 j ut a j iw a m endapat 7

orang ut usan.

• Ut usan golongan polit ik dan golongan karya dit et apkan

berdasarkan im bangan hasil pem ilu, dij am in sekurang- kurangnya

m endapat 5 orang ut usan.

• Ut usan golongan karya ABRI dan golongan bukan ABRI

dit et apkan berdasarkan pengangkat an yang j im lahnya 100 orang.

MPR sebagai lem baga t ert inggi negara m em punyai t ugas sebagai

pem egang kedaulat an negara dan pelaksana kedaulat an t ersebut ( Pasal 1

ayat ( 2) UUD 1945) . Dalam UUD 1945 dit ent ukan bahw a MPR m em iliki

(46)

Kew enangan unt uk m enet apkan dan m engubah UUD ( Pasal 3 dan

37 UUD 1945) , ser t a m enet apkan Garis- Garis Besar Haluan

Negara.

Kew enangan unt uk m em ilih presiden dan w akil presiden ( Pasal 6

ayat ( 2) UUD 1945)

b. Presiden, adalah lem baga t inggi negara yang berkedudukan sebagai

kepala eksekut if dan kepala negara, berdasarkan ket ent uan Pasal 4 ayat

( 1) UUD 1945 dan penj elasannya Pasal 10, 11, 12,13, 14 dan 15 UUD

1945 m eliput i :

• Kew enangan eksekut if yang diat ur dalam Pasal 4 ayat ( 1) , Pasal 5

ayat ( 2) , dan Pasal 22 ayat ( 1) .

• Kew enangan legislat if yang diat ur dalam Pasal 5 ayat ( 1) UUD

1945.

Kekuasaan presiden yang diat ur dalam Pasal 4 ayat ( 1) , Pasal 5 ayat ( 1) ,

Pasal 5 ayat ( 20, Pasal 10, 11, 12, 13, 14, 15, dan Pasal 22 UUD 1945

m eliput i :

• Kekuasaan eksekut if.

• Kekuasaan legislat if.

• Kekuasaan adm inist rat if.

• Kekuasaan m ilit er.

• Kekuasaan yudikat if.

• Kekuasaan diplom at ik.

Dalam m enj alankan t ugasnya, presiden dibant u oleh seorang w akil

presiden dan para m ent eri negara. Hal ini dit ent ukan dalam Pasal 4 ayat

(47)

46 c. Dew an Pert im bangan Agung ( DPA) , dibent uk at as dasar ket ent uan Pasal

16 ayat ( 1) UUD 1945. pasal t ersebut m enet ukan bahwa susunan DPA

dit et apkan dengan UU. DPA pert am a dibent uk dengan ket ent uan

sem ent ara ( DPAS) berdasarkan Penpres No. 3 t ahun 1959. DPA definit if

dibent uk berdasarkan UU No.3/ 1967. anggot a DPAS t erdiri dari :

• Wakil golongan polit ik 12 orang.

• Wakil golongan karya 24 orang.

• Wakil dar i t okoh- t okoh m asyarakat 9 orang.

Jadi j um lah DPAS adalah 45 orang t idak t erm asuk ket ent uannya ( m enurut

Kepres No.168/ 1959) . Anggot a DPA t erdiri dari :

• Tokoh- t okoh polit ik

• Tokoh- t okoh karya

• Tokoh- t okoh daerah

• Tokoh- t okoh nasional ( t erm asuk kaum cendikiaw an dan rohaniaw an)

yang j um lah seluruhnya 27 orang.

Tugas DPA adalah m enj aw ab pert anyaan presiden yang berkait an dengan

m asalah Pem erint ahan ( Pasal 16 ayat ( 2) UUD 1945) dan ber hak pula

m engaj ukan usul kepada Pem erint ah. Dengan kat a lain DPA berfungsi

sebagai badan penasehat presiden.

d. Dew an Perw akilan Rakyat ( DPR) , keanggot aan DPR sebagai lem baga

t inggi negara Republik I ndonesia t erdiri dari golongan polit ik dan

golongan karya. ( Pasal 10 ayat ( 1) UU No. 16/ 1969) . Jum lah anggot a

DPR 460 or ang, 360 anggot a ber asal dar i hasil pem ilu, 100 or ang

(48)

pada pem ilu 1987 j um lah anggot a DPR bert am bah m enj adi 500 orasng.

Wew enang DPR m enurut UUD 1945 adalah :

• Bersam a presiden m em bent uk UU ( Pasal 5 ayat ( 1) j o Pasal 20

ayat ( 1) ) .

• Bersam a presiden m enet apkan APBN dan m em bent uk UU ( Pasal 23

ayat ( 1) ) .

Disam ping t ugas m em beri perset uj uan t erhadap set iap rancangan UU dan

rancangan APBN yang diaj ukan oleh Pem erint ah, DPR j uga bert ugas

m engaw asi kebij aksanaan Pem erint ah, yait u dalam hal presiden

m enj alankan Pem erint ahan negara. DPR j uga berhak unt uk m engaj ukan

usul rancangan UU ( Pasal 21 UUD 1945) . Unt uk dapat m enj alankan

t ugasnya DPR m em punyai bebrapa hak t ert ent u yait u :

• Hak m engaj ukan pert anyaan bagi m asing- m asing anggot a.

• Hak m em int a ket erangan ( int erpelasi) .

• Hak m engadakan perubahan UU.( am andem en)

• Hak m engaj ukan pernyat aan pendapat .

• Hak m engaj ukan seseorang j ika dit ent ukan oleh perat uran

perundangan.

• Hak angket .

• Hak inisiat if.

e. Badan Pem eriksa Keuangan ( BPK) , adalah lem baga t inggi negara yang

bert ugas m em eriksa t anggungj aw ab keuangan negara ( Pasal 23 ayat

( 5) UUD 1945) . Hasil pem eriksaan yang dilaksanakan oleh BPK

Referensi

Dokumen terkait

Lebih jauh membahas tentang Hukum Adat, suatu adat dikatakan sebagai hukum adat atau seingkatnya yang merupakan karakteristik hukum adat adalah hukum yang umumnya

Undang-undang berlaku bagi orang yang ada, baik di dalam suatu wilayah negara maupun di luar negaranya (asas personalitas, misalnya dalam Pasal 5 KUHP apabila di negara

Nom or 25 t ahun 2004 Tent ang Sist em Perencanaan Pem bangunan Nasional t elah dit et apk an m engenai m ekanism e per encanaan t erm asuk k ew aj iban set iap depart em en at

Memiliki pengetahuan tentang sejarah, sumber – sumber, kedudukan hukum adat, dan menguasai teori – teori pemberlakuan hukum adat, dan masyarakat adat.. Menguasai

Retroaktif: tidak berlaku surut, perbuatan orang di masa lampau (yang belum diatur dalam peraturan) tidak dapat dihukum dengan peraturan yang baru dibuat sekarang/masa kini,

Undang-undang berlaku bagi orang yang ada, baik di dalam suatu wilayah negara maupun di luar negaranya (asas personalitas, misalnya dalam Pasal 5 KUHP apabila di negara

Dengan adanya pasal 11 AB, maka dalam hukum perdata yang berlaku di Hindia Belanda sejak waktu itu berdasarkan dua asas, yaitu “asas konkordansi” untuk golongan hukum Eropa,

D itindjau setjara dem ikian pen untutan pem bajaran-pem bajaran delikt m e­ ru pakan suatu bagian dari p ad a usaha untuk m endapatkan kembali kese- im bangan kosmis, jang m em ang