• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM PERBURUHAN

Dalam dokumen Pengantar Ilmu Hukum Indonesia (Halaman 120-135)

X .1 Pe n ge r t ia n H u k u m Pe r bu r u h a n

Tent ang pengert ian hukum perburuhan, beberapa orang sarj ana m engem ukakan pendapat nya sebagai berikut :

1. Mr. Molenaar berpendapat : ” hukum perburuhan adalah bagian dari hukum yang berlaku yang pada pokoknya m engat ur hubungan ant ara buruh dan naj ukan, ant ara buruh dan buruh, sert a ant ara buruh dan penguasa.

2. Mr. M.G. Levenbach berpendapat : hukum perburuhan ialah hukum yang berkenaan dengan hubungan kerj a dim ana pekerj aan it u dilakukan di baw ah pim pinan dan dengan keadaan penghidupan yang langsung bersangkut paut dengan hubungan kerj a it u.

3. Mr. N.E.H. Van Esveld berpendapat : ” hukum perburuhan ialah hukum yang m eliput i pekerj aan yang dilakukan oleh swapekerj a yang m elakukan pekerj aan dan t anggungj aw ab sendiri.”

4. Mr. Mok berpendapat : ” hukum perburuhan ialah : hukum yang berkenaan dengan pekerj aan yang dilakukan di baw ah pim pinan orang lain dan dengan keadaan penghidupan yang langsung bergandengan dengan pekerj aan it u.

5. Prof. I m am Soepom o, SH, berpendapat : ” hukum perburuhan adalah suat u him punan perat uran, baik t ert ulis m aupun t idak, yang berkenaan dengan suat u kej adian dim ana seseorang bekerj a pada

6. Mr. Soet ikno berpendapat : ” hukum perburuhan adalah keseluruhan perat uran- perat uran hukum m engenai hubungan kerj a yang m engakibat kan seseorang secara pribadi dit em pat kan dibaw ah perint a/ pim pinan orang lain dan m engenai keadaan keadaan penghidupan yang langsung bersangkut paut dengan hubungan kerj a t ersebut .”

Dari berbagai rum usan pengert ian t ent ang hukum perburuhan t ersebut dapat disim pulkan bahw a hukum perburuhan m engandung beberapa unsur, sepert i :

a. serangkaian perat uran t ert ulis dan t idak t ert ulis.

b. Perat uran it u m engenai suat u kej adian yang berhubungan dengan pekerj aan.

c. Ada orang yang bekerj a pada orang lain. d. Ada balas j asa berupa upah.

Banyak perat uran t ent ang perburuhan berasal dari kebiasaan- kebiasaan, baik yang dit et apkan oleh Pem erint ah m aupun t idak dit et apkan oleh Pem erint ah. Sering pula perat uran perburuhan it u t im bul dari adanya ket et apan dari buruh it u sendiri, m aj ikan at au dari ket et apan m ereka ( buruh dan m aj ikan) secara bersam a- sam a m elalui sat u perj anj ian.

Pada hakikat nya m enurut hukum , buruh it u bebas, karena secara prinsip t idak ada perbudakan di I ndonesia. Akan t et api, j ika dilihat dari hubungan kerj a ant ara buruh dan m aj ikan secara psikologis buruh t idak bebas, sebab seseorang yang hanya m engandalkan t enaga kerj anya sebagai sum ber penghidupannya akan selalu t erikat pada m aj ikannya dan harus m enurut i apa yang diinginkan m aj ikan it u sej auh m asih ada kait annya dengan hubungan kerj a m er eka.

Karena sit uasi sepert i t ersebut sering t im bul ket idak adilan karena st at us buruh di baw ah pim pinan m aj ikan, sehingga m aj ikan yang berkedudukan lebih kuat daripada buruh m enunt ut prest asi kerj a yang m aksim al t et api kurang m em perhat ikan kesej aht eraan sosial si buruh.

Keadaan dem ikian it u m enim bulkan rasa sim pat i dari Pem erint ah unt uk m em ikirkan bagaim ana cara m elindungi buruh sebagai pihak yang lem ah. Oleh karenannya, Pem erint ah m engeluarkan perat uran- perat uran guna m elindungi buruh, sert a m engat ur hubungan kerj a ant ara buruh dan m aj ikan secara adil sehingga salah sat u pihak t idak ada yang m erasa dir ugikan.

Perat uran ini pada um um nya m erupakan perint ah ( biasanya dengan kat a- kat a ” harus” at au ” w aj ib” ) , dan larangan ( biasanya dengan kat a- kat a ” t idak boleh” at au ” dilarang” ) . Perat uran- perat uran Pem erint ah yang dikeluarkan unt uk m aksud t ersebut ,isalnya :

1. perat uran t ent ang pem berhent ian buruh bukan Eropa, yang m ew aj ibkan m aj ikan dalam pem ut usan hubungan kerj a at as perm int aan buruh m em ber i surat ket er angan.

2. perat uran perburuhan di perusahaan perkebunan yang m enent ukan bahw a perj anj ian kerj a ant ara buruh dan m aj ikan ( perusahaan) harus dibuat t ert ulis.

3. perat uran di perusahaan indust ri yang m enent ukan bahw a j um lah sem ua pot ongan upah t idak boleh m elebihi 25% upah t erakhir ( berupa uang) .

X .2 Pe n ge r t ia n Bu r u h da n M a j ik a n

Buruh adalah sekelom pok orang yang bekerj a pada orang lain at au pada suat u perusahaan dengan m endapat balas j asa berupa upah. Orang lain yang dim aksud adalah orang yang secara pribadi dapat m enam pung buruh unt uk m elakukan pekerj aan orang t ersebut . Cont oh : seseorang yang m em bangun rum ah t anpa diborongkan kepada seorang pem borong. Unt uk m enyelesaikan bangunan rum ah it u ia dibant u oleh beberapa orang yang diberi upah sebagai balas j asa m ereka.

Perusahaan yang dim aksud adalah suat u badan usaha baik yang berbent uk badan hukum m aupun bukan badan hukum yang m enj alankan usaha t ert ent u ( perkebunan, perindust rian, dan lain- lain) . Dalam m enj alankan usahanya, badan it u dibant u oleh sekelom pok orang yang diberi upah sebagai kont ra- prest asiny a. Cont oh : perusahaan susu SGM.

Maj ikan adalah orang at au pim pinan suat u badan usaha yang dapat m enam pung seseor ang at au sekelom pok orang unt uk m elakukan pekerj aan dengan kew aj iban m em beri upah kepada orang- orang yang m elakukan pekerj aan t ersebut .

X .3 Pe n ge r t ia n H u bu n ga n Ke r j a

Hubungan kerj a m enurut Prof. I m an Soepom o ialah suat u hubungan ant ara seorang buruh dan seorang m aj ikan. Dengan dem ikian dapat dikat akan fakt or buruh dan m aj ikan m ut lak harus ada dalam hubungan kerj a. Hubungan kerj a bert uj uan unt uk m enunj ukkan kedudukan ant ara buruh dan m aj ikan, dan pada prinsipnya akan m enunj ukkan apa yang m erupakan hak dan kew aj iban buruh t erhadap m aj ikan sert a apa yang m enj adi hak dan kew aj iban m aj ikan t erhadap buruh.

Hubungan kerj a t erj adi apabila buruh dan m aj ikan saling m engikat kan diri m elalui suat u perj anj ian kerj a. Perj anj ian t ersebut m em uat t ent ang kesanggupan pihak buruh unt uk m elakukan pekerj aan t ert ent u dan kesanggupan pihak m aj ikan unt uk m em bayar upah kepada buruh sebagai im balan at as pelaksanaan pekerj aan yang dibebankan kepadanya.

Nam un t idak berart i bahw a pekerj aan yang dilakukan at as dasar suat u perj anj ian past i ada hubungan kerj a ant ara pelaksana pekerj aan dan pem beri pekerj aan, cont oh pekerj aan m em bangun rum ah yang dilakukan oleh pem borong, m eskipun didasarkan at as suat u perj anj ian anat ara pem borong dan orang yang m em borongkan (bouw heer) , hubungan ant ara kedua pihak t ersebut bukanlah hubungan kerj a, karena pem borong dalam m elaksanakan pekerj aan m em bangun rum ah t ersebut t anpa pet unj uk at au t idak di baw ah pim pinan bouw heer. Dengan kat a lain, unsur pet unj uk at au m em im pin dari pem beri pekerj aan m ut lak harus ada dalam suat u hubungan kerj a. Cont oh lain

a. hubungan ant ara pengacara dan kliennya.

b. hubungan ant ara seorang dokt er dan pasiennya.

Cont oh- cont oh t ersebut adalah cont oh yang pengat urannya t erdapat diluar KUH Per dat a, m isalnya :

a. hubungan ant ara penggarap saw ah dan pem ilik saw ah. b. hubungan ant ara pengem udi becak dan pem ilik becak.

c. hubungan ant ara nelayan yang m enggunakan m ot or boat dan pem ilik m ot or boat .

X .4 Un da n g- u n da n g ya n g M e n ga t u r H u bu n ga n Ke r j a

Perat uran yang berlaku unt uk m engat ur hubungan sem ula m asih dibeda- bedakan ant ara yang berlaku bagi penduduk golongan Eropa, Tim ur Asing m aupun penduduk pribum i ( I ndonesia asli) . Pem bedaan t ersebut dibuat karena adanya perbedaan j enis perusahaan yang biasanya perat uran- perat uran it u hanya m enyangkut buruh rendahan saj a. Perat uran yang berlaku bagi pribum i dan penduduk golongan Tim ur Asing adalah hukum adat . Hukum adat berlaku j uga bagi m aj ikan golongan Eropa yang m em pekerj akan orang- orang pribum i.

Maj ikan khaw at ir apabila para pekerj a m eninggalkan pekerj aan t anpa izin, sehingga pada t ahun 1872 dalam Algem ene Polit ie St raafreglem ent

dit am bahkan at uran yang m em beri sanksi denda at au kerj a paksa bagi buruh yang m eninggalkan pekerj aan t anpa alasan m asuk akal ( m engadakan pem ut usan hubungan kerj a) . Ket ent uan t ersebut t ercant um dalam Pasal 2 No. 27 APS (Algem ene Polit ie St raafreglem ent ) dit am bah at uran yang m em beri sanksi pidana berupa denda at au kerj a paksa bagi buruh yang m eninggalkan pekerj aan t anpa alasan yang m asuk akal. Ket ent uan t ersebut t ercant um dalam St aat sblad 1872 No. 111. karena ket ent uan t ersebut dianggap t idak adil, pada t ahun 1879 sanksi kerj a paksa (poenale sant ie) dihapus dan digant i dengan sanksi m enggant i kerugian, dengan prosedur m aj ikan harus m engaj ukan gugat an perdat a. Sehubungan dengan hal t ersebut m aka Pasal 1601,1602,1603 lam a KUH Perdat a diberlakukan begi penduduk pribum i. Sebaliknya bila t erj adi pem ut usan hubungan kerj a at as kehendak m aj ikan t anpa alasan yang m asuk akal, m aj ikan w aj ib m em bayar upah dit am bah gant i rugi sebesar gaj i selam a 6 ( enam ) m inggu.

Pada t ahun 1927 diadakan perat uran baru bagi golongan Eropa dan bukan Eropa yait u buku I I I t it el ( Bab) 7A KUH Perdat a. Selanj ut ny a Bab 7A KUH Perdat a berst at us sebagai perat uran um um yang m erupakan bagian dari perat uran- perat uran yang bersifat khusus. Perat uran- perat uran khusus yang m elengkapai Bab 7A KUH Per dat a dalam m engat ur hubungan kerj a yang berlaku bagi sem ua golongan w arga negara I ndonesia adalah :

1. Perat uran Perburuhan Bebas, yang m engat ur hubungan kerj a ant ara buruh dewasa yang bukan penduduk asli dari residensi yang bersangkut an dan perusahaan perkebunan at au perindust rian, perusahaan perdagangan at au yang m engusahakan keret a api, t rem , dan pekerj aan um um di luar Jaw a dan m adura.

2. Perat uran Perburuhan di Per usahaan Peindust r ian, yang m engat ur hubungan kerj a di perindust rian lainnya di luar perusahaan perindust rian di luar Jaw a dan Madura yang buruh- buruhnya t elah diat ur dalam perat uran t ersebut pada sub 1 di at as dan bukan m erupakan perusahaan negara.

3. perat uran t ent ang m em pekerj akan pelaut I ndonesia di kapal asing dengan t uj uan keluar negeri.

4. perat uran panglong di Sum at era Tim ur yang m engat ur hubungan kerj a di perusahaan Penglong di Sum at era Tim ur.

5. perat uran t ent ang panglong di Riau yang m engat ur hubungan kerj a di perusahaan panglong Riau.

6. perat uran t ent ang syarat - syarat bagi dana sebagai t erm asuk dalam Pasal 1601 S KUH Per dat a.

7. Pasal 21 dan 22 KUH Perdat a m engenai t em pat t inggal buruh w anit a yang bersuam i dan buruh yang bert em pat t inggal bersam a- sam a m aj ikannya.

8. Pasal 109 KUH Per dat a m engenai t indakan dan perj anj ian seor ang st ri. 9. Pasal 1139 No. 5 dan 8 Pasal 1149 No. 4 KUH Perdat a m engenai

kedudukan upah unt uk dilakukan.

X .5 Pe n ge r t ia n Pe r j a n j ia n Ke r j a da n Pe r j a n j ia n Pe r bu r u h a n

Perj anj ian kerj a m enurut Pasal 1601 a KUH Perdat a adalah perj anj ian yang diadakan ant ara buruh dan m aj ikan yang isinya bahw a m asing- m asing pihak ( buruh dan m aj ikan) saling m engikat kan diri. Dar i rum usan t ersebut di at as dapat dilihat bahw a kedudukan buruh lebih rendah daripada kedudukan m aj ikan karena dalam m elaksanakan pekerj aannya, siburuh berada di baw ah pim pinan m aj ikan, j adi ia harus t unduk dan m enurut perint ah m aj ikan dan m engikat kan diri unt uk m em beri sej um lah uang sebagai upah kepada buruh. Dari rum usan t ersebut di at as dapat dilihat bahw a keduduj an buruh lebih rendah dari pada kedudukan m aj ikan, karena dalam m elaksanakan pekerj aannya, siburuh berada dibaw ah pim pinan m aj ikan, j adi ia harus t unduk dan m enurut perint ah m aj ikannya. Disisi lain, pihak buruh dalam hal t ersebut berada pada pihak yang lem ah, m aka perlu m endapat perhat ian dem i keselam at annya dari ancam an penindasan m aj ikan. Perj anj ian perburuhan m enurut ket ent uan Pasal 1 ayat ( 1) UU No. 21 t ahun 1954 ( t ent ang Perj anj ian Perburuhan) adalah perj anj ian yang diselenggarakan oleh serikat at au serikat - serikat buruh yang t elah t erdaft ar ( pada kem ent erian perburuhan) dengan m aj ikan, m aj ikan- m aj ikan, perkum pulan at au perkum pulan- perkum pulan

m aj ikan yang berbadan hukum , yang pada um um nya dan sem at a- m at a m em uat syarat - syarat yang harus diperhat ikan dalam perj anj ian kerj a.

Jika dit inj au dari isinya, perbedaan ant ara perj anj ian kerj a dan perj anj ian perburuhan adalah bahw a perj anj ian kerj a m em uat hak- hak dan kew aj iban- kew aj iban buruh dan m aj ikan, sedangkan perj anj ian perburuhan m em uat hal- hal yang perlu diperhat ikan dalam pem buat an perj anj ian kerj a, m isalnya j am inan sosial bagi buruh, pensiun bagi buruh, dan lain- lain. Dengan dem ikian, t am paklah bahw a perj anj ian perburuhan lebih m em perhat ikan buruh yang kedudukannya lebih lem ah bila dibanding dengan kedudukan m aj ikan. Oleh sebab it u, perj anj ian perburuhan berfungsi sebagai pem bent uk hukum perburuhan, yang pada dasarnya bert uj uan m elindungi buruh. Masa berlaku perj anj ian perburuhan adalah 2 t ahun dengan ket ent uan dapat diperpanj ang paling lam a 1 t ahun.

X .6 Pe m u t u sa n H u bu n ga n Ke r j a

Pem ut usan hubungan kerj a adalah pengakhiran hubungan kerj a ant ara buruh dan m aj ikan. Pem ut usan hubungan kerj a pada dasarnya m erupakan perm ulaan dari m asa penggangguran bagi buruh yang bersangkut an, dan m ulai saat it u pula buruh kehilangan sat u- sat unya sum ber kehidupan bagi dia dan keluarganya.

Pem ut usan hubungan kerj a t erj adi karena beberapa sebab t ert ent u baik yang berasal dari m aj ikan m aupun berasal dari buruh, yait u :

1. buruh m enderit a sakit sedem ikian rupa sehingga t idak m ungkin lagi dapat bekerj a.

3. at as kehendaknya sendiri buruh m eninggalkan pekerj aan yang m enj adi t ugasnya dan t idak kem bali lagi bekerj a pada perusahaan sem ula di t em pat m ana buruh it u bekerj a.

4. buruh dij at uhi hukum an, baik karena perbuat annya di dalam at aupun di luar perusahaan.

Keem pat sebab t ersebut di at as berasal dari buruh. Sebab- sebab yang berasal dari pihak m aj ikan, ant ara lain :

1. keadaan perusahaan yang selalu m erugi sehingga diperlukan penguranan buruh.

2. perusahaan bangkrut sehingga t erj adi pem berhent ian buruh secara m assal.

Usaha Pem erint ah dalam rangka m elindungi buruh adalah dengan m engeluar kan UU No. 12 Tahun 1964 t ent ang pem ut usan hubungan kerj a di perusahaan swast a. Aspek perlindungan t erhadap buruh dalam UU No.12 t ahun 1964 it u t erlihat dari berbagai ket ent uannya, m isalnya :

a. pem ut usan hubungan kerj a dilarang, apabila buruh dalam keadaan sakit yang m enurut ket erangan dokt er buruh perlu ist irahat , lam anya t idak lebih dari 12 bulan.

b. Pem ut usan hubungan kerj a t idak boleh t erj adi t erhadap buruh yang sedang m enj alankan pekerj aan unt uk m em enuhi kew aj iabn t erhadap negara m enurut ket et apan UU at au Pem erint ah.

c. Pem ut usan hubungan kerj a dapat dilakukan set elah lebih dulu ada izin dari P4D at au P4P.

d. Pem ut usan hubungan kerj a t erhadap buruh yang t elah m enj adi anggot a serikat buruh, harus dirundingkan lebih dahulu dengan serikat buruh yang bersangkut an.

e. Pada dasarnya pem ut usan hubungan kerj a sedapat m ungkin dicegah.

Macam - m acam pem ut usan hubungan kerj a adalah sebagai berikut :

1. pem ut usan hubungan kerj a karena hukum , yait u pem ut usan hubungan kerj a kar ena w akt u kerj a yang dit et apkan dalam perj anj ian kerj a sudah habis.

2. pem ut usan hubungan kerj a karena keput usan pengadilan, yait u pem ut usan hubungan kerj a yang t erj adi karena at as perm int aan pihak yang berkepent ingan.

3. pem ut usan hubungan kerj a karena perset uj uan buruh, yait u pem ut usan hubungan kerj a t erj adi set elah ada kat a sepakat dari buruh yang bersangkut an m elalui perundingan ant ara pihak buruh at au serikat buruh dengan m aj ikan.

4. pem ut usan hubungan kerj a karena kehendak m aj ikan, yait u pem ut usan hubungan kerj a yang t erj adi bila ada perset uj uan dari P4D at au P4P.

X .7 Pe r se lisih a n Pe r bu r u h a n

Perselisihan perburuhan m enurut ket ent uan Pasal 1 ayat ( 1) sub 2 UU No. 22 t ahun 1957 adalah pert ent angan ant ara m aj ikan dan serikat buruh at au golongan serikat buruh yang disebabkan t idak adanya persesuaian paham m engenai hubungan kerj a.

Rum usan pengert ian t ersebut di at as m engandung art i bahw a yang dapat berselisih dalam perselisihan perburuhan hanyalah serikat buruh dengan m aj ikan, oleh karena it u, buruh yang belum m enj adi anggot a serikat buruh yang secara perseorangan berselisih dengan m aj ikan t idak at au belum t erlindungi oleh UU No. 22/ 1957.

Perselisihan perburuhan ada dua m acam , yait u :

a. perselisiahan hak, yait u perselisihan yang t erj adi karena isi perj anj ian kerj a t idak dipenuhi, padahal perj anj iankerj a t elah disepakat i bersam a. b. Perselisihan kepnt ingan, yait u perselisiahan yang t erj adi karena

adanya usaha dari pihak serikat buruh unt uk m engubah syarat - syarat perburuhan dem i t erpeliharanya kepent ingan buruh, dan t uj uan it u diarahkan kepada pihak pengusaha at au m aj ikan.

Penyelesaian perselisihan perburuhan dapat diupayakan m elalui : 1. Badan Pem isah ( Arbit rase)

2. Panit ia Penyelesaian Per selisishan Perburuhan Daerah ( P4D) 3. Panit ia Penyelesaian Per selisihan Per buruhan Pusat ( P4P)

4. Ment eri Tenaga Kerj a at au Pej abat di lingkungan Depnaker yang dit unj uk.

5. Pengadilan Negeri.

Upaya penyelesaian perselisihan perburuhan dilakukan secara bert ahap, yait u t ahap pert am a, kedua, ket iga, keem pat dan kelim a.

1. Penyelesaian Tahap Pert am a

Pada t ahap ini diharapkan m ereka dapat saling m em aham i perm aslahannya, saling m enghargai sehingga perselisihan dapat diselesaikan dengan cepat . Dasar hukum dalam penyelesaian usaha

penyelesaian t ahap ini adalah Pasal 2 UUNo. 22 t ahun 1957, yang m enyat akan bahw a :

a. bila t erj adi perselisihan perburuhan, serikat buruh dan m aj ikan m encari penyelesaian perselisihan it u dengan j alan dam ai m elalui perundingan.

b. Hasil perundingan yang dicapai set elah disusun dij adikan perj anj ian perburuhan m enurut ket ent uan yang ada dalam perj anj ian perburuhan.

Dalam t ahap ini t er dapat beberapa proses yang harus dilalui karena sering dalam perundingan belum t ercapai kat a sepakat . Apabila dem ikian sit uasinya, proses pert am a adalah buruh dim int a m em berit ahukan secara resm i dan langsung kepada m aj ikan baik t ert ulis m aupun lisan m elalui wakil- w akilnya. Dalam w akt u 7 hari dit unggu reaksi dari m aj ikan at as ket erangan t ersebut . Bila dalam w akt u t ersebut belum ada reaksi, proses berikut nya adalah buruh m alalui w akil- w akilnya m enyam paikan keluhan kepada w akil pengusaha set em pat yang t ert inggi kedudukannya. Terhadap proses kedua ini, reaksi dari pihak m aj ikan/ w akil pengusaha dit unggu dalam w akt u 2 x 7 hari. Bila dalam wakt u t ersebut r eaksi belum j uga ada, buruh m elalui wakil- w akilnya m em beri t ahu kepada pegaw ai pengaw as ( m enurut Pasal 3 ayat ( 1)

Dalam dokumen Pengantar Ilmu Hukum Indonesia (Halaman 120-135)

Dokumen terkait