UNIVERSITAS INDONESIA
Makalah Tugas Persiapan Kegawatdaruratan dalam Bencana
Pelayanan Kesehatan Dasar
Mata Kuliah
Kesehatan Lingkungan Bencana dan Tanggap Darurat
Dosen Pembimbing :
Prof. Dr. dr. Rachmadhi Purwana S.K.M.
Disusun oleh:
Audia Jasmin Armanda/1206211562 Dewi Fadlilah Firdausi/1206245374 Mohamad Egi Satria/1206277104
Nisrien Mufidah/1206276556
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2014 BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Akses pada pelayanan kesehatan adalah penentu kritis keberlangsungan hidup pada tahap awal tanggap darurat. Bencana hampir selalu membawa dampak besar pada kesehatan masyarakat dan kesejahteraan penduduk yang terkena bencana. Dampak terhadap kesehatan masyarakat dapat bersifat langsung (misalnya kematian akibat kekerasan atau cedera) atau tidak langsung (misalnya meningkatnya penyakit infeksi dan/atau kurang gizi). Dampak kesehatan tidak langsung ini biasanya berkaitan dengan faktor-faktor misalnya ketidakcukupan jumlah dan kualitas air, rusaknya jamban, gangguan atau berkurangnya akses pada layanan kesehatan dan memburuknya ketahanan pangan. Ketiadaan keamanan, hambatan perpindahan, pengungsian penduduk, dan memburuknya kondisi kehidupan (hunian yang penuh sesak dan tidak memadai) juga dapat memunculkan ancaman kesehatan masyarakat. Perubahan iklim berpotensi meningkatkan kerentanan dan risiko (The Sphere Project, 2012).
Sasaran utama aksi kemanusiaan terhadap krisis kemanusiaan adalah untuk mencegah dan mengurangi kematian dan kesakitan yang berlebihan. Perbedaan jenis bencana berkaitan dengan perbedaan skala dan pola kematian dan kesakitan (lihat tabel mengenai dampak kesehatan masyarakat pada bencana tertentu), dan kebutuhan kesehatan penduduk terkena bencana akan beragam sesuai jenis dan besarnya bencana (The Sphere Project, 2012). Pelayanan kesehatan dasar diulas dari segi criteria tempat untuk pelayanan kesehatan dasar, tenaga kesehatan yang diperlukan oleh pelayanan kesehatan, sarana dan obat yang dibutuhkan di pelayanan kesehatan serta program yang akan dijalankan saat keadaan bencana.
B. TUJUAN PENULISAN
Tujuan Utama dari penulisan makalah persiapan kegawatdaruratan bencana dalam aspek pelayanan kesehatan dasar ini adalah :
1. Untuk mengetahui kriteria tempat untuk pelayanan kesehatan dasar
2. Untuk mengetahui tenaga kesehatan yang diperlukan oleh pelayanan kesehatan 3. Untuk mengetahui sarana dan obat yang dibutuhkan di pelayanan kesehatan 4. Untuk megetahui program yang akan dijalankan saat keadaan bencana
BAB II ISI
A. Kriteria Tempat Pelayanan Kesehatan Dasar 1. Kriteria Lokasi Pelayanan Kesehatan
Keamanan Letak pembangunan pelayanan kesehatan harus aman agar preventif terhadap bencana yang berkelanjutan tanpa diketahui dan pemberitahuan.
Akses Letak pelayanan kesehatan dasar harus memperhatikan akses agar mudah dalam pemberian bantuan para realwan dan juga mempermudah pertolongan terhadap pasien yang akan dialkukan tim medis
Infrakstruktur yaitu jika ada fasilitas umum yang bisa terpakai untuk menampung para korban dan mendirikan pelayan kesehatan jika ada sumber air bersih dan listrik yang memadai berfungsi untuk operasional pelayan kesehatan, jika terdapat persedian yang lain seperti bahan bakar. Sebab bahan bakar digunakan untuk menghidupkan genset dan juga sebagai bahan bakar alat transportasi seperti ambulance
Sistem Komunikasi berfungsi untuk pelaporan adanya korban, pemberian mandate kepada tenaga kesehatan, kerja sama. Sebab itu Sistem Komunikasi sangat vital
2. Adapun tempat pelayanan kesehatan dan juga prasyarat pada saat bencana: Tenda gudang
Kriteria :
1. Lokasi harus terbebas dari genangan air dan jangan lupa pembuatan drainase pada semua sisi.
2. Tenda dapat memuat semua benda yang digunakan apabila ukuran tidak kecil, maka diperbolehkan untuk pembagian gudang dan dijadikan 3 gudang.
Gudang gizi, Gudang Farmasi, Gudang dan gudang umum 3. Apabila dibangun upayakan hanya satu tempat masuk dan keluar
4. Apabila bukan tenaga kesehatan harus minta perizinan Karena gudang tersebut khusus para tenaga kesehatan
5. Pemisahan benda yang mudah terbakar dan meledak supaya mencegah terjadi bencana lagi.
6. Pencahayaan sangat baik
Tujuan: Berfungsi Sebagai menjaga semua barang pelayanan kesehatan untuk digunakan saat bencana.
Tenda Unit Gawat Darurat
1. Kebersihan tempat UGD harus sangat terjaga dan rapi 2. Diupayakan ada pendingin udara
3. Dibangun supaya memudahkan evakuasi
Tujuan: Sebagai tempat untuk memberikan pelayanan gawat darurat dan melakukan triase
Tenda perawat
1. Lantai tenda mudah dibersihkan dan harus selalu dalam keadaan kering 2. Jumlah tempat tidur disesuaikan dengan luas tenda dan cukup nyaman untuk
• Tujuan: Sebagai tempat untuk perawatan pasien Tenda Farmasi
1. Bebas dari genangan air dan mudah ditempuh dari tenda pelayanan kesehatan 2. Ruangan khusus untuk tenaga kesehatan dan memiliki lemari khusus untuk
menyimpan narkotika
Tujuan: Berfungsi mengadakan obat-obatan untuk para korban Tenda Intensive Care Unit (ICU)
1. Tenda perawatan intesif didirikan di dekat tenda bedah/perawatan. 2. Lantai tenda mudah dibersihkan dan harus selalu dalam keadaan kering. Tujuan: Sebagai tempat untuk perawatan intensif pasien yang kritis
Tenda Personel
1. Didirikan di luar area rumah sakit lapangan
2. Diupayakan dekat dengan gudang untuk memonitor keadaan gudang supaya terhindar dari yang tidak dinginkan
• Tujuan: Berguna sebagai tempat istirahat personel Tenda Adminstrasi
1. Akses mudah dari unit-unit pelayanan serta pihak lain yang berkentingan. 2. Ruangan/tenda cukup memadai untuk kegiatan ke administrasian
3. Sumber listrik dan pencahayaan cukup Tujuan: Sebagai tempat pelayanan administrasi
B. Tenaga Kesehatan yang Diperlukan oleh Pelayanan Kesehatan
Dalam Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan yang disusun oleh Kementerian Kesehatan dan WHO (2011), pada saat terjadi bencana perlu adanya mobilisasi SDM kesehatan yang tergabung dalam suatu Tim Penanggulangan Krisis. Tim Penanggulangan Krisis terdiri atas Tim Reaksi Cepat/TRC, Tim Penilaian Cepat/TPC (RHA team), dan Tim Bantuan Kesehatan. Adapun sebagai koordinator tim adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota (sesuai Surat Kepmenkes Nomor 66 tahun 2006).
1. Tim Reaksi Cepat (TRC)
Tim Reaksi Cepat merupakan tim yang diharapkan dapat segera bergerak dalam waktu 0–24 jam setelah ada informasi kejadian bencana. Kompetensi TRC disesuaikan dengan jenis bencana spesifik di daerah dan dampak kesehatan yang mungkin timbul. Sebagai contoh, untuk bencana gempa bumi dengan karakteristik korban luka dan fraktur, kompetensi TRC yang dibutuhkan di pelayanan kesehatan terdiri atas:
Dokter umum
Dokter spesialis bedah/orthopedi Dokter spesialis anestesi
Perawat mahir (perawat bedah, gadar) Tenaga disaster victims identification (dvi) Apoteker/tenaga teknis kefarmasian Sopir ambulans
2. Tim Penilaian Cepat (Rapid Health Assesment team/ RHA)
Tim Penilaian Cepat merupakan tim yang bisa diberangkatkan dalam waktu 0‐24 jam atau bersamaan dengan TRC dan bertugas melakukan penilaian dampak bencana dan mengidentifikasi kebutuhan bidang kesehatan, minimal terdiri atas dokter umum, epidemiolog, dan sanitarian.
3. Tim Bantuan Kesehatan
Tim Bantuan Kesehatan merupakan tim yang diberangkatkan berdasarkan rekomendasi tim RHA untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan peralatan yang lebih memadai. Tim ini minimal terdiri atas:
a. Dokter umum dan spesialis
b. Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian c. Perawat d. Perawat mahir e. Bidan f. Sanitarian g. Ahli gizi h. Tenaga surveilans i. Entomolog
Estimasi kebutuhan tenaga kesehatan di lokasi bencana untuk jumlah penduduk/ pengungsi antara 10.000 – 20.000 orang sebagai berikut (Kemenkes dan WHO, 2011):
Dokter umum : 4 orang
Perawat : 10 – 20 orang
Bidan : 8 – 16 orang
Apoteker : 2 orang
Asisten apoteker : 4 orang Pranata laboratorium : 2 orang Epidemiologi : 2 orang
Entomolog : 2 orang
Sanitarian : 4 – 8 orang Ahli gizi : 2 – 4 orang
C. Sarana dan Obat yang Dibutuhkan Pelayanan Kesehatan
Beberapa jenis obat sesuai dengan jenis penyakit dan jenis bencana yang terjadi di antaranya adalah :
N o
Jenis Bencana Jenis Penyakit Jenis Obat
1 Banjir Diare
Dermatitis (penyakit kulit);Dermatitis kontak jamur, bakteri, scabies
Mineral (Zinc;20 mg), Oralit 9200 ml, infuse R/L.
NaCl 0,9%, Antibiotik, infuse set, abocath, wing needle
ISPA (pneumonia dan non pneumonia ASMA Leptospirosis Konjunctivus (Bakteri/Virus) Gastritis Trauma/Memar
kortikosteroid, anti fungi, anti parasit
Antibiotik, antitudiv, antipiretik, antihistamine, kortikosterodi, dekongestan Antibiotik Antibiotik Antasida, Antiulcerant, antispasmodic
Analgetik, NSAID, Kapas
Absorben, Kassa steril 40/40 Pov Iodine
2 Longsor Patah tulang, luka memar, luka sayatan dan hipoksia
Kantong mayat, Stretcher/tandu, spalk, kasa, elastic perban, kasa elastic, alcohol 70%, Pov iodine 10%, H2O2 Sol, Ethyl Chlorida Spray, Jarum jahit, Tabung Oksigen, resusisati kit, emergency kit, collar neck, sepatu boot, minor surgary seat
3 Gempa/Tsunami Luka memar, luka sayatan, patah tulang
Kantong mayat, Stretcher/tandu, spalk, kasa, elastic perban, kasa elastic, alcohol 70%, Pov iodine 10%, H2O2 Sol, Ethyl Chlorida Spray, Jarum jahit, Tabung Oksigen, resusisati kit, emergency kit, collar neck, sepatu boot, minor surgary seat
4 Konflik Luka memar, luka sayat, luka bacok, patah tulang Gastritis
Hipertensi Gangguan Jiwa
Sama dengan diatas SAma
Anti Hipertensi Sedatif
5 Gunung Meletus ISPA Diare
Konjunctivitas Luka Bakar
Sama dengan diatas Sama dengan diatas Sama dengan diatas
Antibiotik, Vitamin, Aquades steril, kasa steril 40/40. Betadine,
Salep, alcohol 70%, Silver Sulfadiazin
6 Bom Luka Bakar
Trauma
Gangguan Jiwa Mialgia
Sama dengan diatas Sama dengan diatas Sama dengan diatas Analgetik Neurotropik
Saat keadaan bencana, banyak sekali bantuan obat dari donatur baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Mekanismenya diatur dalam pedoman teknis pennguulan krisi kesehatan kesehatan akibat bencana oleh Dinas kesehatan. Beberapa persyaratan teknis penemrimaan bantuan obat, di antaranya :
a. Masa kadaluarsa obat dan perbekalan kesehatan sumbangan minimal 2 (dua) tahun pada saat diterima oleh penerima bantuan.
b. Berasal dari sumber resmi dan terdaftar/mempunyai izin edar di negeri pemberi atau mendapat pengakuan dari WHO atau lembaga independen lain. c. Sesuai dengan DOEN (Daftar Obat Esensial Nasional)
d. Kekuatan/potensi/dosis dari obat sebaiknya sama dengan obat yang biasa digunakan oleh petugas kesehatan.
e. Semua obat dan perbekalan kesehatan menggunakan label berbahasa Indonesia atau bahasa Inggris.
f. Pengeriman donasi obat
disertai dengan detail isi karton yang menyebutkan secara spesifik bentuk sediaan, jumlah, nomor batch, tanggal kadaluarsa (expire date), volume, berat dan kondisi penyimpanan yang khusus.
g. Donasi obat yang datang bisa mendapatkan fasilitas pembebasan tarif pajak sesuai ketentuan perundang‐undangan yang
berlaku.
h. obat dan perbekalan kesehatan donasi yang rusak/kadaluwarsa dilakukan pemusnahan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.
Mengenai Koordinasi serta pembagian wewenang dan tanggung jawab dalam pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan pada penanggulangan bencana diatur pada tabel di bawah ini :
D. Program yang Dijalankan Saat Keadaan Bencana
Layanan kesehatan dasar adalah layanan kesehatan pencegahan dan kuratif yang tepat memenuhi kebutuhan kesehatan penduduk yang terkena bencana
Kelompok kerja dibentuk dalam mekanisme koordinasi kesehatan bilamana suatu situasi khusus membutuhkannya (misalnya kesiapsiagaan kejadian luar biasa dan tanggap darurat, kesehatan reproduksi).
Klarifikasi dan rekam tanggung jawab dan kemampuan khusus setiap lembaga kesehatan untuk memastikan cakupan penduduk yang memadai.
Pertemuan koordinasi kesehatan diadakan secara teratur untuk mitra setempat dan luar di tingkat nasional, provinsi, dan lapangan dalam sektor kesehatan, dan antara sektor kesehatan dan sektor lainnya serta kelompok dengan lintas isu yang tepat. Bila kementerian kesehatan tidak mempunyai kemampuan yang dipercaya atau
keinginan untuk memimpin tanggap darurat, suatu lembaga alternatif dengan kemampuan tertentu harus diidentifikasi untuk memimpin koordinasi sektor kesehatan.
Melakukan pencegahan memadai untuk melindungi data untuk menjamin hak dan keamanan perorangan dan atau penduduk.
Standar Sistem Kesehatan
Kepemimpinan dan Koordinasi Orang mempunyai akses layanan kesehatan yang terkoordinasi antar lembaga dan sektor untuk mencapai dampak tindakan umum. Bila memungkinkan, harus dipastikan wakil kementerian kesehatan memimpin atau setidaknya terlibat langsung dalam koordinasi sektor kesehatan.
Menggunakan data tambahan secara konsisten dari sumber lain, misalnya survei, interpretasi data pengawasan dan memandu pengambil keputusan.
Sarana kesehatan dan lembaga menyerahkan data pengawasan dan sistem informasi kesehatan kepada lembaga yang pemimpin sektor kesehatan secara teratur. Frekuensi laporan ini beragam sesuai konteks dan jenis data, misalnya harian, mingguan, bulanan.
Semua lembaga tanggap darurat menyepakati penggunaan suatu data umum, misalnya penduduk.
Mengidentifikasi dan melaporkan penyakit dan kondisi kesehatan prioritas melalui sistem informasi kesehatan.
membangun berdasarkan sistem informasi kesehatan yang ada apabila memungkinkan.
Membuat prioritas dan melaksanakan pelayanan kesehatan yang tepat, dapat dilaksanakan dan tepat untuk mengurangi kesakitan dan kematian, berkoordinasi dengan pihak berwenang sektor kesehatan setempat.
Melakukan identifikasi orang yang rentan (misalnya perempuan, anak, lanjut usia, orang berkebutuhan khusus, dan lain-lain) yang mungkin berisiko.
Mengumpulkan dan melakukan analisis data masalah dan risiko kesehatan dengan tujuan menyasar penyebab utama kematian dan kesakitan berlebihan berkoordinasi dengan pihak berwenang dalam kesehatan setempat.
Melaksanakan layanan kesehatan dasar dengan berkoordinasi dengan sektor lain dan/atau kluster dan tema lintas sektor.
Standar Layanan Kesehatan Dasar 1. Memprioritaskan Layanan Kesehatan
Orang mempunyai akses pada layanan kesehatan yang diprioritaskan untuk menangani penyebab utama kematian dan kesakitan yang berlebihan.
Mengidentifikasi hambatan akses ke layanan kesehatan prioritas dan memberi pemecahan penanganan praktis.
Membuat prioritas dan melaksanakan pelayanan kesehatan yang tepat, dapat dilaksanakan dan tepat untuk mengurangi kesakitan dan kematian, berkoordinasi dengan pihak berwenang sektor kesehatan.
Melakukan identifikasi orang yang rentan (misalnya perempuan, anak, lanjut usia, orang berkebutuhan khusus, dan lain-lain) yang mungkin berisiko.
Mengumpulkan dan melakukan analisis data masalah dan risiko kesehatan dengan tujuan menyasar penyebab utama kematian dan kesakitan berlebihan berkoordinasi dengan pihak berwenang dalam kesehatan setempat.
Ini termasuk intervensi yang sangat tepat mencegah dan mengurangi kesakitan dan kematian yang berlebihan akibat penyakit menular dan tidak menular, konsekuensi peristiwa konflik dan korban massal.
Selama bencana, tingkat kematian dapat menjadi sangat tinggi dan identifikasi penyebab utama kesakitan dan kematian penting untuk merancang layanan kesehatan dasar yang tepat (The Sphere Project, 2012).
Bagian bab kesehatan ini membuat kategori standar layanan kesehatan utama dalam enam bagian: pengendalian penyakit menular; kesehatan anak; kesehatan seksual dan reproduksi; cedera; kesehatan jiwa; dan penyakit tidak menular (The Sphere Project, 2012). Melaksanakan layanan kesehatan dasar dengan berkoordinasi dengan sektor lain dan/atau kluster dan tema lintas sektor.
Standar Layanan Kesehatan Dasar – Pengendalian Penyakit Menular
1. Pencegahan Penyakit Menular Orang mempunyai akses terhadap informasi dan layanan yang dirancang untuk mencegah penyakit menular yang berkontribusi terhadap kesakitan dan kematian berlebihan.
2. Diagnosis dan Pengelolaan Kasus Penyakit Menular Orang mempunyai akses diagnosis dan pengobatan yang tepat terhadap penyakit-penyakit infeksi yang mencegah kesakitan dan kematian yang berlebihan
3. Deteksi dan Respons Kejadian Luar Biasa yang ada, dideteksi, diinvestigasi, dan dikendalikan dengan cara dan waktu yang tepat.
– Kesehatan Anak
1. Pencegahan melalui imunisasi penyakit-penyakit yang dapat dicegah Anak berusia 6 bulan sampai 15 tahun mendapat kekebalan terhadap campak dan mempunyai akses layanan program imunisasi dalam situasi yang distabilkan. Tata Laksana Bayi Baru Lahir dan Penyakit Anak-Anak mempunyai akses pada layanan kesehatan prioritas yang dirancang untuk menangani penyebab utama kesakitan dan kematian anak baru lahir.
1. Kesehatan Reproduksi
Mengidentifikasi hambatan akses ke layanan kesehatan prioritas dan memberi pemecahan penanganan praktis.
Setiap orang mempunyai akses layanan kesehatan reproduksi prioritas – Paket Layanan Awal Minimum (Minimum Initial Service Package/MISP) pada saat kejadian kedaruratan dan layanan kesehatan reproduksi menyeluruh pada saat situasi stabil.
2. HIV dan AIDS Orang mempunyai akses terhadap perangkat minimum pencegahan, pengobatan, perawatan, dan layanan pendukung HIV selama masa darurat.
– Cedera
Perawatan Cedera Setiap orang mempunyai akses perawatan cedera yang tepat selama bencana untuk mencegah kesakitan, kematian, dan kecacatan.
– Kesehatan Jiwa
Kesehatan Jiwa Setiap orang mempunyai akses pada layanan kesehatan yang mencegah dan mengurangi masalah kesehatan jiwa dan gangguan fungsi terkait.
– Penyakit Tidak Menular
Penyakit Tidak Menular Setiap orang mempunyai akses penanganan dasar untuk mengurangi kesakitan dan kematian berkaitan dengan komplikasi akut atau memburuknya kondisi penyakit kronis.
Pelayanan Kesehatan Pengungsi pada saat Bencana Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Pengendalian penyakit dilaksanakan dengan pengamatan penyakit (suveilans), promotif, preventif, dan pelayanan kesehatan (penanganan kasus) yang dilakukan di lokasi bencana termasuk di pengungsian. Baik yang dilaksanakan di sarana pelayanan kesehatan yang masih ada maupun di pos kesehatan yang didirikan dalam rangka penanggulangan bencana.
Tujuan pengendalian penyakit pada saat bencana adalah mencegah kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular potensi wabah, seperti penyakit diare, ISPA, malaria, DBD, penyakit-penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi (P3DI), Keracunan dan mencegah penyakit-penyakit yang spesifik lokal.
Permasalahan penyakit, terutama disebabkan oleh: Kerusakan lingkungan dan pencemaran
Jumlah pengungsi yang banyak, menempati suatu ruangan yang sempit, sehingga harus berdesakan
Ketersediaan air bersih yang seringkali tidak mencukupi jumlah maupun kualitasnya
Diantara para pengungsi banyak ditemui orang-orang yang memiliki risiko tinggi, seperti balita, ibu hamil, berusia lanjut
Pengungsian berada pada daerah endemis penyakit menular, dekat sumber pencemaran, dan lain-lain
Kurangnya PHBS (Perilaku Hidhp Bersih dan Sehat)
Kerusakan pada sarana kesehatan yang seringkali diikuti dengan padamnya listrik yang beresiko terhadap kualitas vaksin
Potensi munculnya penyakit menular sangat erat kaitannya dengan faktor risiko, khususnya di lokasi pengungsian dan masyarakat sekitar penampungan pengungsi, seperti campak, diare, pnemonia, malaria dan penyakit menular lain spesifik lokal.
a. Surveilans Penyakit dan Faktor Risiko
Surveilans penyakit dan faktor risiko pada umumnya merupakan suatu upaya untuk menyediakan informasi kebutuhan pelayanan kesehatan di lokasi bencana dan pengungsian sebagai bahan tindakan kesehatan segera. Secara khusus, upaya tersebut ditunjukkan untuk menyediakan informasi kematian dan kesakitan penyakit potensial wabah yang terjadi di daerah bencana; mengidentifikasi se-dini mungkin kemungkinan terjadinya peningkatan jumlah penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB/Wabah; mengidentifikasi kelompok risiko tinggi terhadap suatu penyakit tertentu; mengidentifikasi daerah risiko tinggi terhadap penyakit tertentu; dan mengidentifikasi status gizi buruk dan sanitasi lingkungan.
Langkah-langkah surveilans penyakit didaerah bencana meliputi: 1. Pengumpulan data;
a) Data kesakitan dan kematian b) Sumber data
c) Jenis form
2. Pengolahan dan penyajian data; 3. Analisis dan interpretasi; 4. Penyebarluasan informasi Kegiatan suveilans di Pos Kesehatan
1. Pengumpulan data kesakitan penyakit dan kematian 2. Validasi data agar data menjadi sahih dan akurat 3. Pembuatan dan pengiriman laporan
Jenis penyakit yang diamati antara lain diare berdarah, campak, diare, DBD, pneumonia, lumpuh layuh (AFP), ISPA nn-pneumonia, difteri, hepatitis, malaria klinis, gizi buruk, tetanus, dsb
1. Pengumpulan data kesakitan dan kematian 2. Validasi data agar data menjadi sahih dan akurat
3. Pengolahan data kesakitan menuut jenis penyakit, golongan usia dan tempat tinggal per minggu
4. Pembuatan dan pengiriman laporan Kegiatan di Rumah Sakit
1. Pengumpulan data kesakitan dan kematian 2. Validasi data agar data menjadi sahih dan akurat
3. Pengolahan data kesakitan menuut jenis penyakit, golongan usia dan tempat tinggal per minggu
4. Pembuatan dan pengiriman laporan
Kegiatan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Provinsi
1. Pengumpulan data berupa jenis bencana, lokasi bencana, kerusakan sarana kesehatan, angka kesakitan penyakit dan kematian yang berasal dari puskesmas, rumah sakit, Dinkes
2. Surveilans aktif untuk penyakit tertentu
3. Validasi data agar data menjadi sahih dan akurat
4. Pengolahan data kesakitan menuut jenis penyakit, golongan usia dan tempat tinggal per minggu
5. Pertemuan tim epidemiologi Kabupaten/Kota untuk melakukan analisis data dan merumuskan rekomendasi rencana tindak lanjut penyeba-luasan informasi
Hasil : Adanya rekomendasi dari hasil kajian analisis data oleh tim epidemiologi b. Imunisasi
Dalam situasi bencana/di lokasi pengungsian, upaya imunisasi harus dipersiapkan dalam antisipasi terjadinya KLB PD3I terutama campak. Hal yang dilakukan penilaian cepat terhadap dampak bencana dan data cakupan imunisasi. Sasaran imunisasi untuk mencegah KLB PD3I di daerah bencana adalah:
1. Semua anak usia 9-59 bulan diberi imunisasi campak tambahan. Pemberian imunisasi campak tambahan diberikan sebanyak 1 dosis atau satu kali pemberian. Pemberian imunisasi ini terintegrasi dengan pemberian vitamin A untuk memberikan peningkatan perlindungan pada anak.
2. Kelompok populasi yang berisiko tinggi terhadap penyakit tertentu. Contoh imunisasi TT terhadap petugas kesehatan, sukarelawan, petugas penyelamat, pengungsi dll.
c. Pengendalian Vektor
Pelaksanaan pengendalian vektor yang perlu mendapatkan perhatian di lokasi pengungsi adalah pengelolaan lingkungan, pengendalian dengan insektisida, serta pengawasan makanan dan minuman.
Pengendalian vektor penyakit menjadi prioritas dalam upaya pengendalian penyakit karena potensi untuk menularkan penyakit sangat besar seperti lalat, nyamuk, tikus, dan serangga lainnya. Kegiatan pengendalian vektor dapat berupa penyempotan, biological contol, pemberantasan sarang nyamuk, dan perbaikan lingkungan.
d. Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Upaya tersebut meliputi;
I. Mengidentifikasi penyakit menular potensial KLB berdasarkan jenis bencana; II. Mengidentifikasi faktor risiko;
III. Upaya pencegahan dan pengendalian/meminimalisir faktor resiko; IV. Kalkulasi kebutuhan logistik untuk penatalaksanaan kasus
V. Kalkulasi kebutuhan tenaga medis/perawat untuk penatalaksanaan kasus 1) Pencegahan dan pengendalian penyakit diare
a. Gunakan air bersih yang memenuhi syarat;
b. Menggunakan alat-alat untuk memasak dan peralatan makan yang bersih;
c. Berilah air susu ibu (asi) saja sampai bayi berusia 6 bulan;
d. Berilah makanan pendamping asi dengan benar setelah bayi berusia 6 bulan dan pemberian asi diteruskan sampai bayi berusia 24 bulan; e. Bila terpaksa menggunakan susu formula maka perhatikan tanggal
kadaluarsa produk, petunjuk pembuatan susu formula, kelayakan air yang digunakan
f. Cucilah tangan dengan dan air yang mengalir sebelum menjamah/memasak, sesudah BAB dan sebelum makan
g. Semua anggota keluarga BAB di Jamban h. Buang tinja bayi dan anak kecil di jamban 2) Pencegahan dan pengendalian penyakit ISPA i. Pemberian makanan secukupnya
ii. Pemberian cairan terutama asi
iii. Pemberian obat pelega tenggorokan dan pereda batuk dengan ramuan yang aman dan sederhana
iv. Amati tanda-tanda pneumonia
3) Pencegahan dan pengendalian penyakit malaria a. Tidur dalam kelambu
b. Memasang kawat kasa c. Menggunakan repelen d. Membakar obat nyamuk
e. Pencegahan dengan obat anti malaria 4) Pencegahan dan pengendalian penyakit campak
I. Memburuknya status kesehatan, terutama status gizi anak-anak II. Konsentrasi penduduk pada suatu tempat/ruang (pengungsi)
III. Mobilitas penduduk antar wilayah meningkat (kunjungan keluarga)
IV. Cakupan imunisasi rendah yang akan meningkatkan kerawanan yang berat Pencegahan penyakit menular setelah terjadinya bencana alam
Langkah-langkah prioritas berikut sangat penting untuk mengurangi dampak penyakit menular setelah bencana alam:
1. air, sanitasi, perencanaan lokasi Aman
Memastikan penyediaan air minum yang aman adalah tindakan pencegahan paling penting untuk dilaksanakan setelah bencana alam. Klorin tersedia secara luas, murah, mudah digunakan dan efektif terhadap hampir semua patogen yang ditularkan melalui air.
Perencanaan permukiman harus menyediakan akses yang memadai untuk kebutuhan air dan sanitasi serta memenuhi kebutuhan ruang minimum per orang, sesuai dengan peraturan internasional (33).
2. pelayanan kesehatan primer
Akses ke perawatan primer sangat penting untuk pencegahan, diagnosis dini dan pengobatan berbagai macam penyakit, serta menyediakan titik masuk untuk perawatan sekunder dan tersier. Dampak langsung dari penyakit menular dapat dikurangi dengan intervensi berikut:
o Pastikan diagnosis dini dan pengobatan penyakit diare dan ISPA, terutama pada mereka yang berusia <5 tahun.
o Pastikan diagnosis dini dan pengobatan malaria di daerah endemis (dalam waktu 24 jam dari onset demam, dengan menggunakan kombinasi berbasis artemisinin terapi ACT untuk malaria falciparum).
o Pastikan ketersediaan dan penerapan protokol pengobatan untuk ancaman penyakit menular utama.
o Pastikan pembersihan luka yang tepat dan perawatan. Tetanus toksoid dengan atau tanpa tetanus immunoglobulin yang sesuai, harus menemani perawatan luka pasca bencana.
o Memastikan ketersediaan obat yang termasuk dalam kit kesehatan antar darurat, misalnya oralit untuk pengelolaan penyakit diare, antibiotik untuk ISPA.
o Mendistribusikan pesan pendidikan kesehatan, termasuk: Mendorong praktek-praktek higienis yang baik;
Mempromosikan teknik persiapan makanan yang aman; Memastikan mendidih atau klorinasi air;
Mendorong pengobatan dini perilaku pencarian dalam kasus demam;
Mendorong penggunaan kelambu insektisida sebagai ukuran perlindungan pribadi di daerah endemis malaria.
3. Surveillance / sistem peringatan dini
Deteksi cepat kasus wabah penyakit rawan adalah penting untuk memastikan kontrol yang cepat. Sebuah sistem surveilans / peringatan dini harus segera dibentuk untuk mendeteksi wabah dan penyakit endemik memantau prioritas.
• Penyakit Prioritas untuk dimasukkan dalam sistem surveilans harus didasarkan pada penilaian risiko penyakit menular yang sistematis. Dalam beberapa situasi, ancaman mungkin termasuk penyakit langka seperti virus demam berdarah, wabah atau tularaemia. Sebuah penilaian risiko penyakit menular komprehensif oleh WHO dapat mengidentifikasi dan memprioritaskan ancaman ini.
• Pastikan pekerja kesehatan dilatih untuk mendeteksi penyakit prioritas dan pelaporan yang cepat untuk memimpin lembaga kesehatan terjadi.
• Pastikan sampling dan transportasi bahan untuk penyelidikan, dan stok yang tepat sudah tersedia untuk respon cepat terhadap wabah, misalnya kolera kit, di daerah di mana kolera dianggap risiko.
4. Imunisasi
a. Imunisasi campak bersama-sama dengan vitamin A adalah prioritas kesehatan segera setelah terjadinya bencana alam di daerah dengan tingkat cakupan yang tidak memadai. Dimana tingkat cakupan dasar antara mereka yang berusia <15 tahun berada di bawah 90%, imunisasi campak massal harus dilaksanakan sesegera mungkin. Kelompok umur prioritas adalah 6 bulan sampai 5 tahun, dan sampai 15 tahun jika sumber daya memungkinkan.
b. vaksin tifoid saat ini tidak dianjurkan untuk kampanye imunisasi massal untuk mencegah penyakit tifus. Vaksinasi tipus dalam hubungannya dengan tindakan pencegahan lainnya mungkin berguna untuk mengendalikan wabah tipus, tergantung pada keadaan setempat.
c. Vaksin Hepatitis A umumnya tidak dianjurkan untuk mencegah wabah di daerah bencana.
d. Biaya vaksin kolera, dan kesulitan logistik yang terlibat dengan administrasi, telah dilarang digunakan secara luas. Meskipun membantu dalam keadaan tertentu, tidak harus dilihat sebagai pengganti penyediaan air bersih dan sanitasi yang memadai. Kegunaan vaksin kolera, relatif terhadap prioritas kesehatan masyarakat lainnya, belum dievaluasi di daerah yang terkena bencana.
5. Pencegahan malaria dan demam berdarah
Penyakit menular setelah terjadinya bencana alam: intervensi penilaian risiko dan prioritas
• intervensi pencegahan khusus untuk malaria harus didasarkan pada penilaian mengenai situasi lokal, termasuk pada spesies parasit lazim dan vektor utama. • Peningkatan jumlah nyamuk mungkin tertunda menyusul banjir, sehingga
waktu untuk pelaksanaan langkah-langkah pencegahan seperti penyemprotan insektisida dalam ruangan, atau pengobatan ulang / distribusi kelambu
berinsektisida lebih tahan lama jaring insektisida di daerah di mana penggunaannya dikenal dan diterima.
• Deteksi dini wabah malaria mungkin dapat ditingkatkan dengan memantau jumlah kasus mingguan harus menjadi bagian dari pengawasan / sistem peringatan dini. Konfirmasi laboratorium berkala cepat uji kasus positif demam dianjurkan untuk melacak tingkat positif slide / uji.
• Pengobatan dengan terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT) harus disediakan secara gratis kepada pengguna di daerah yang terkena bencana dengan malaria falciparum. Pencarian aktif untuk kasus demam mungkin diperlukan untuk mengurangi angka kematian.
• Untuk dengue, upaya pencegahan utama harus diarahkan pengendalian vektor. Mobilisasi sosial dan pendidikan kesehatan masyarakat harus menekankan penghapusan tempat perkembangbiakan vektor sebanyak mungkin, khususnya oleh:
- Covering terus menerus dari semua wadah air yang disimpan; - Penghapusan atau perusakan puing padat di mana air dapat
mengumpulkan (botol, ban, kaleng, dll).
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Atik Ambarwati dkk, 2012, Proyek Sphere: Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum
dalam Respons Kemanusiaan. The Sphere Project : Jakarta.
CDC, Communicable Disease Control in Emergencies Field Manual. Tersedia dari : http://whqlibdoc.who.int/publications/2005/9241546166_eng.pdf [8 Maret 2015]
Departemen Kesehatan Republic Indonesia, Pedoman Pengelolaan Rumah Sakit lapangan
untuk bencana.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan WHO, 2011, Pedoman Teknis
Penanggulangan Krisis Kesehatan (Mengacu Pada Standar Internasional) Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI). Tersedia dari :
http://www.slideshare.net/dhenokcitrapanyuluh/pelayanan-kesehatan-pada-kondisi-bencana-39745167 [8 Maret 2015]
WHO, Programme on Disease control in humanitarian emergencies. Tersedia dari : http://www.who.int/diseasecontrol_emergencies/en/ [8 Maret 2015]
WHO. Emergency and Humanitarian Action Technical Qude for Health Crisis Response in
Disaster . Tersedia dari :
http://www.ino.searo.who.int/LinkFiles/Emergency_and_humanitarian_action_Technical _qude_forHealth_Crisis_Response_in_Disaster.pdf [8 Maret 2015]
https://www.google.co.id/url? sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=&ved=0BwQFjAA&url=htt ps%3A%2F%2Ffkunisba2010.files.wordpress.com %2F212%2F12%2Frimryhealthcare.pptx&ei=c1z8VK_eJYe8uATxtoLoAw&usg=AFQjC NFjbksNPDMYBt72gVC2tvACImDkg&sig2=VjPobjazOfqIGnPzVrkFCQ&bvm=bv.876 11401,d.c2E