I , I , ; ._Q, J . %! •. , ~ .
.
"".
·~' ·-"..
.
•..
,'"'
' i • , !'. -~-~ : . ·' ·- . - 4 _,_ M::U .>;. .. «~ -4LAPORAN PEN6LI·TIA.N
· PERREMBANGAN TATA GUNA .TANAH
KOTA YOGYAKARTA .
DARI WAKTU KE . WAKTU .
: I
\. j
DENGAN BlAVA DPP-UGM TAHUN 1986 / 1987 POS PENELmAN
NOMOR KONTRAK : UGM/2235(M/09/01 TANGGAL : t'JANUARI1987
•
DIAJUKAN OLEH:
'
.
'BAMBANG HARI WIBISONO JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UG~KEPADA.
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GAD.JAH MADA
YOGYAKARTA
1987
...
..,.I
\.I
I
·i
' _.· ··.· .... ·· .. ·.· .. ,.·.·1 ·---"'!\! .•' j
' •!~1
'
1
ll
l
.l
' 1 • ·'PRAKATA
khirnya dapat t.,. . . l . . . tkan Juoa l•paran ~•1it1an ~~t~nQ.nai P~r~-banoan Tata &una Tanah kata Yaoyakarta dari Waktu k• Wak·tu,
"'
yang pada dasarnya ~rtuJuan mengetahui perk-.bangan kata
Vagya-~
karta ditinJau dari •agi •pa•ial atau . . ruano penggunaan tanahnya dari waktu ke waktu11 ••rta faktar-faktar yang mempengaruhi
per-kambangannya.
Pada pelak•anaan penelitian ini banyak diJ4mpai rintangan maupun keeulitan-keeulitan dalam·berbaoai hal, ••hinooa t•rpaksa diadakan perubahan dari renc:ana etitDUla11 t•tapi pada prin·•ipnya
tetap sama. Karena kitterbata•an data yang berupa peta-peta, maka hanya didapatkan ha•il dari dua periade waktu.
1. Pimpinan Univer•~tas BadJah Mada ata• dana yang t•lah dibe-rikan untuk melak•anakan pen•litian ini,.
2. Pimpinan Fak~lta• Taknik Univ•rsita• Badjah "ada dan Pim-pinan Jurusan Teknik Arsit•ktur, Fakultas Teknik U9M atas fasilita• yang t•lah dibarikan,
3. Pimpinan . . rta eegenap petuoa• Labaratorium P•r•ncanaan Kata Dan Da•rah, Jurusan Teknik Ar•it•ktur, ·Fakult.as T•knik UBf111
atas bi•binoan . . rta bantuan tenaoa yang t•lah dibarikan unt.uk . . . bantu penyelenggaraan· pen•litian ini,
4. Bagenap pihak, baik dari kalangan in•t.ansi P-.rintah
atau-1
'
j ·i
'
pun sMasta, dan Juaa r"ekan-r"ekan yana telah ber"sedia
•-b•-r"ikan bimbin;an _,.ta ber"ba;ai keter"an;an, . . lalui MaMancar"a
ataupun dalam btlntuk data-data sekunder.
Men;etahui• P•mbimbino
Ir. Bandan Her"M&ni•la . . t HSc.
NIP. 130 177 221
ii
Ya;yakarta, A;ustus 1987
.,./
PRAKATA DAFTAR ISI INTI SARI BABI BAB II BAB III
BAB IV
DAFTAR I 8 I i i i i iv PENBANTAR 1 1.1. Latar Balakang 1 1.1.1. Parmasalahan 1 1.1.2. Kaaslian 2 1.1.3. Faadah Panalitian 2 1.2. Tujuan Panalitian 31.3. Tinjauan Pustaka dan Landaaan Taori 4
1.4. Hipotasis 13
1.5. Rancana Panalitian 14
CARA PENELITIAN 16
2.1. Bahan atau Matari Panalitian 16
2.2. Alat 16
2.3. Jalannya Penalitian 16
2.4. Analisis Hasil 17
2.5. Kasulitan-kasulitan dan Pamacahannya 18
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.1. Sacara Umum3.1.1. Cikal bakal pusat kehidupan lama
3.1.2. Banih-benih perkembanQan
baru11 dalam pusaran-pusaran
magnatis baserta akibat sistim linQkungan
3.1.3. Pamakaran sasialogis ka daarah tapian kata
3.2. Sacara IChusus
3.2.1. Pangvunaan Tanah ICata
Vagya-karta pada tahun 1'J12
3.2.2. PanvQunaan .Tanah ICata
YaQya-karta pada tahun 1941
ICEBIMPULAN DAN SMAN
20 20 23 26 27 27 30 DAFTAR PUSTAICA LAMPI RAN iii
INTIBMI
kota Vogyakarta, . . Jak berdirinya pada tahun 1755 serta pada
perkembangannya mempunyai ciri-ciri yang unik yang tidak dimiliki
oleh kota-kota lain, karena latar belakang keraJaan CKraton
Ka-sultanan) yang merupakan inti pertumbuhan kota. Namun dalam
waktu-waktu selanJutnya perkembangan tersebut t~mtu Juga
dipengaruhi oleh f•kt~r-faktor lain. Untuk melakukan perencanaan
suatu kota, salah satu hal yang perlu digunakan sebagai
pertim-bangan adalah pro••• perkembangan kota tersebut secara 1isik,
yang terungkap dalam .,.,..tuk perkembangan tata guna tanah •
..
~ Berbagai data dan informasi yang sebagian besar berupa
dokumen serta hasil wawancara dengan beberapa pihak yang dianggap c>
mengetahui dan menguasai masalah ini dirangkumkan, sehingga dapat memberikan oambaran perkembangan tate guna tanah kota yang
dimak-sud secara umum, dan secara khusus dapat dikemukakan gambaran
perkembangan tate guna tanah selama dua periode waktu, yaitu pada tahun 1912 dan tahun 1941, berdasarkan peta-peta yang didapatkan.
(karena kesulitan untuk mendapatkan peta-peta, maka hanya
terba-tas pada dua periode tersebut).
Selama dua period• waktu tersebut ternyata tidak terdapat
perkembangan secara struktural, dan secara fungsional
perkembang-an tata guna tperkembang-anah pun dapat dikatakperkembang-an sperkembang-angat terbatas. Sehingga
untuk mengungkap apa yang di-but dttngan pro••• secara lengkap,
masih diperlukan penelitian-penelitian lanJutan yang diharapkan
bisa didapatkan data-data baik b•r-upa p•t• maupun dokum•n
t•r-tu-l i s yan; dapat . . m~rikan ;ambaran t•ntano tata ;una tanah ••lama
b•ber-apa p•r-iod• waktu. Ol•h karena itu pen•litian ini l•bih
. t•pat dikatakan ••bagai studi pendahuluan atau penelitian awal ba;i pen•litian yano ••lanjutnya.
M8 I
P E N 8 A N T A R
1.1. Latar Bllakanq 1.1.1. Pwrmaaalaban
Salah aatu wuJud-penampakan dari parkambangan kata adalah dala• bantuk land-usa· atau tata guna tanah, alah karana tata gu-n• tanah ••banarnya marupakan rekaman dan pancerminan fiaikal-meruang dari keJadian kaJadian yang terjadi pada suatu kata.
Perke~abangan itu aandiri marupakan pro••• perubahan keadaan
••-auatu hal dari aatu waktu ke waktu yang lain. Olah karen• ba-nyaknya dimanai yang dapat dikaji untuk . . lihat pro••• perkem-bangan auatu kata, ••k• . . auai bidang keilmuan yang dipelaJari, panalitian ini . . mbataai pada di~aanai pro••• perkembangan kata
G..
••~ra meruang (spatial growth of urban acape) dalam arti
mamba-taai lingkup pen•Utian pada pro••• perkembangan kata dalam arti-an fiaik darti-an fungaiarti-anil (meningkatnya kegiatarti-an-kegiatarti-an maayara-kat kata) yang terungkap dalam bentuk perke~abangan tata guna tanah kata. Kata Yogyakarta aendiri ••J•k berdirinya pada tahun
17~~, perkembangannya •••P•i kini mempunyai ciri~ciri yang unik dan tidak dipunyai aleh kata lain, dikarenakan latar belakang kerajaan yang me . . oang peranan penting dalam membent~k pala tata ruangnya, dimana Kratan ••rupakan inti pertumbuhan kata. Akan tetapi perkembangan kota Yagyakarta aelanjutnya-ditentukan pula
I
aleh perkembangan fungai-fungai atau kegiatan-kegiatan yang tumbuh ••Jalan dengan makin maningkatnya kebutuhan dan tuntutan
~aaayarakat.
1.1.2. Keaslian
Penelitian yang lengkap belum pernah dilakukan, oleh karen• data-data yAnQ autentik aabagai bahan analisa masih tarsebar (dalam bentuk peta-peta serta naskah-naskah historis yanQ menJe-lask•n momen-momen pariatiwa/keJadian pada suatu kurun WAktu tertentu) dan belum semuanya terunQkap, yang· apabila dirangk•ik•n akan memberikan kumpulan 1akta m•nganai pro,., perkembangan tata gun• tanah kota Yogyakarta !~lama beberapa kurun waktu beserta penJelasan terhadap kamungkinan-kemunQkinan 1aktor panyebabnya.
1.1.::s. Faedah
Sebagaimana diterangkan di muka, perkembangan kota Yogyakarta tidak dapat ditinJau dari satu atau dua dimensi saJa, akan tetapi untuk meneliti secara bersamaan seluruh dimensi tentunya
memer-lukan waktu, biaya dan tenaQa yang sanQat besar. Oleh karena itu penelitian ini membatasi pada satu dimensi kerlaan·gan kota yang tercermin dalam bantuk tata guna tanah dimana dari hAsil pena-litian ini, diharapkan akan berman1aat bagil
(1) Diri pribadi paneliti, karena dengan mengetahui perkembang-an tata guna tanah. ada beberapa period• yang telah lampau diharapkan akan menumbuhkan kamampuan untuk malakukan pre-dikai-predikai dalam melakukan kegiatan perencanaan kota. (2) Berdaaar litaratur-literatur yang ada, hal yang •kan
dite-liti ini balum aemuanya terungkap Ckhuausnya untuk kota-kota di Indonesia), aehingga hal ini diharapkan Akan menambah khasanah bidang studi yang beraangkutan, yang mana peneliti-an ini merupakpeneliti-an ppeneliti-anelitipeneliti-an ka•u• kota Yogyakarta ypeneliti-ang bar-si1at historis, eksplorati1 dan non eksper~men dengan data~
data yang didapatkan dalam bentuk dakumen dan hasil wawanca-ra.
(3) Usaha penelitian perkembanQan kota Yac;yakarta yang lebih·
kamprehttnsi'f,serta lebih Jauh lagi akan berman'faat bagi
nyusunan Rencana Induk Kata Vagyakarta pada waktu-waktu yang
bahan perbandingan.
1.2. TyJuan Penalititn
Penelitian ini bltrbttda dari penelitian-penelitian sebelumnya
terutama pada bidang lingkup kaJiannya yang bersi'fat
'fisikal-meruang artinya hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik
khususnya menyangkut tata ruang kata. Sedangkan
penelitian-pene-~
.
lilian /tulisan-tulisan yang pa·rnah dibuat lebih bersifat
hista-ris-sasial, admin1stratif-pemerintahan ataupun barsifat
statis-fi).
Sedangkan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan adalaha
(1) Manghasilkan suatu rekaman berupa peta-peta serta
diskripsi-/uraian tentang tahapan-tahapan perkambangan tata gun& tanah kata Vagyakarta ••Jak bardirinya hingga saat ini,·yang dapat memberikan gambaran umum mangenai periadisasi secara fisikal
dari pertumbuhan kata Vagyakarta, melalui
pengukuran-pengu-kuran fisikal yang dapat dilakukan, baik pengukuran luas,
Jarak, maupun kampasisi penggunaan.
(2) Suatu rekaman berupa uraian yang bersifat histaris yang
mencaba menJelaskan \ dan menghubungkan
antara fakta pertumbuhan tata guna tanah pada setiap period• dengan faktar-faktar penyebab dan pengaruhnya.
·•
(3) MeninJau apakah tata guna t•n•h ••rta pole perkembangannya pada bebttrapa periade mempunyai PC)la-pala tertentu. seperti apa yang telah dikemukakan dalam beb•rapa teari, atau pola
~ yang •••• sekali berbttda dengan yang dikemukakan dalam t'eo-ri.
TuJuan (1) dan (2) ••rupakan tuJuan yang bersifat deskriptif,
1.3. TinJayan Puat&k•
dan
Landasan IepriSampai saat ini usaha penulisan mengenai ••Jar&~ atau proses perkembangan kata Yagyakarta ••Jak awal pertumbuhannya hingga saat ini dapat dikatakan masih bersifat umum, namun pada beberapa tulisan sudah cukup dalam, yang terbatas dalam konteks bidang-bidang sasial ataupun pemerintahan. Sebagai cantah tulisan yang mencaba menJelaskan ••cara umum p•rk•mbangan kata Yogyakarta ol•h Panitia Peringatan 200 Tahun Kata Yagyakarta (1956), yang sebe-narnya cukup lengkap memberikan gambaran mengenai . perkembangan I
kota Yagyakarta, akan tetapi •••uai dengan maksud disusunnya, yaitu untuk meninJau p•rkeMbangan-perkembangan yang t•rJadi di Yagyakarta ••care umu11 ••lama kurun waktu 200 tahun, belum membe-rikan kaJ ian yang cukup dalam dari hal p•rkembangan fisi·k, khu-susnya segi tata ruang kota Yagyakar~a.
---~·\
ulanQ tahun kota Vogyakarta (1962,19S7) yano tersimpan di
Perpus-takaan Wilayah Daerah IstimeMa Vooyakarta dan Museum Sonobudoyo
pada umumnya hanya -berikan ura.tan·umum mengena.t sejarah kota
Yogyakarta. Mtt•k.tpun demikian beberapa penul i•an, d . ..tata• merupakan
sumber yano akan dipaka.t untuk menulu•uri data-data lebih lanJut. SelosumardJan (1986) dalam kaJiannya tentano perubahan
scsi-al di Vogyakarta, .-nyinoouno pula tentano struktur kota dan
latar blllakano atau faktor pttnyebab perubatwan ouna tanah kot.a
Vogyakarta~ Penul.t• t•r•ebut menge.ukakan antara lain•
(1) Perubahan Dalam Pemer.tntahan Yogyakarta
Dalam konsep keraJaan JaM& ada satu lingkaran pewilayahan
konsent.ris yano meno~lilinoi kedudukan Sultan s•baoai
pusat.-nya. Linokunoan yang· terdekat dengan Sultan adalah Krat.on
yang mencakup istana kediaman Sultan bersama keluaroanya,
termasuk Juga kantor-kantor para pangeran dan kaum
bano••-Man. Area yang meno.ttar.t Kraton a~alah ibu kota atau nao-ra
dimana tinooal kaum bangsawan . . rta pr.tyayi tingkat tinooi.
~~ Lingkaran ketio• di•ebut nagaraouno atau nagar• aouno yano
secara harafiah berarti ibu kota yang be••r dimana terdapat_
"
kepentinoan-kepentinoan kebendaan para panoeran. Lingkaran
'•
terakhir disebut mancaneoara atau neoara asing.
(2) Perubahan Sosial dan Pembanounan Ekonomi
Denoan dihapuskannya sis tim tanam paksa, si'stim pemi 1 ikan
tanah berubah dar.t hak penoolahan tanah menJad.t hak milik
.. ·
peroranoan. Akan tetapi penduduk masih dibebani kewaJiban
' .
untuk menyerahkan·••baoian hasil dari penoerjaan tanahnya.
Dan akhirnya diganti pula denoan sistim hak milik ••cara
penuh meskipun k..udian diter-apkan sistim pajak. Sehinc;ac;aa selanjutnya ter-jadi pro••• fr-agmentasi tanah (ti•r-bac;ainya ta-nah-tanah tarsabut ..njadi bac;aian-bagian k•cil).
Dalam hal Penana•an Modal, seper-ti halnya denc;aan
didir-ikan-di Yoc;ayakarta ••belum p•r-ang, didir-ikan-diikuti oleh tumbuhnya sarana-sarana lain di kota (misalnya bengkal taknik) untuk melayani
pabr-ik gula dan pabr-ik-pabr-ik yang lain. Tentu saja hal ini
menc;aakibatkan p•r-ubahan guna tanah kota.
So•dar-ismar't Po•r-wokoeso•mo (1985), memb•rikan penjalasan
yang lengkap berkaitan d•ngan ••Jar-ah p•m•r-intahan khususnya
mang•nai kontr-ak-kontr-ak politik, yaitu kontr-ak antar-a Kasultanan
danc;aan P•m•r-intah Hindia B•landa, m•skipun tidak sacara lanc;asung
m•nJ•laskan p•r-tumbuhan kota ••c:ar-a fisik, namun dapat dipakai
untuk m•lacak p•r-k•mbangan yang t•r-Jadi di kota Yooyakar-ta
sec:a-r-a umum.
Sep•r-ti yang dik•mukakan dalam Kontr-ak Yogya Tahun 1921, pasal 9
Sultan ber-Janji untuk ••nantiasa m•mper-hatikan p•ndidikan untuk
bum.put•r-a
..
(baik untuk r-akyat J•lata maupun bangsawan, pajabatdan pec;aawai), p•r-tanian, p•t•r-nakan, industr-i dan p•rdac;aanc;aan
6
sedangkan m•no•nai per-tambangan dan per-tanian per-ke~unan dalam
wilayahnya Sultan selalu harus tunduk pada k•inginan Pamarintah
Hindia Belanda. JanJi Sultan tersebut tentu .saja diserta,i dengan
tumbuhnya berbac;aai sarana dan prasarana p•nunJanc;anya.
Sebagai contoh lain yaitu dalam pasal 9 Kontr-ak Politik Yogya
· • yang terakhir, dik•mukakan bahwa titik berat anggota dan pega~
beban yang terlalu berat bagi penghasilan Sultan.
Sumar-sumber histaris lain yanQ cukup autentik yaitu dalam
bentuk peta-peta (antara lain tahun 1912-1913,1941) dan
naskah-naskah yang tersimpan di Musaum Sanabudaya Vagyakarta yang
man;-informasikan secara terperinci peristiwa-paristiwa yang
.menyang-kut kota Vagyakarta dan ICratan NQayagyakarta Hadiningrat
(misal-nya lampiran yang berJuctul
fJnWYttn
~ JpqJakarta, tahun 182~).Adapun data-data pwnwlitian dari disiplin lain, antara lain
tulisan dari BawnJata (1971) dari Fakultas Sasial' Dan Palitik,
Universitas SadJah Mada yang tersaJi dalam buku Laparan
Peneliti-An ~ ~ JoqJakarta , buku k• 1. Tulisan ini secara historis
mengungkapkan tahap-tahap perkembangan kota Yolifyakarta, akan
tetapi masih b•rbabat pada masalah sasialnya.
ICemudian tulisan-tulisan yang teran;kum dalam rangka Studi
Pe-ngembangan Bent•ng Vredeburg, antara lain tulisan Suhardjo
Hatmo-suproba (1979) yang barJudul leota Vagyakarta dan 8ent•ng
Vrade-burg, yang m•ngungkapkan tentang lahirnya Kesul-tanan dan Kota
Vogyakarta, bagian-bagian dari ICraton dan Jeron Beteng, kemudian
berdirinya Benteng Kumpeni serta bangunan-bangunan lainnya.
Tulisan lain yang tidak hanya m•rupakan penulisan historis'terda-pat dalam bentuk penelitian yang dilakukan di Fakultas S•a;rafi UGH, salah satunya aleh Hadi Sabari Vunus dkk. (1980). Penelitian
ini merupakan penitlitian yang mengamati perubahan keruan;an kota
Vogyakarta, tetapi bukan merupakan penelitian histaris, melainkan penelitian yang bersifat kandisianal pada saat 1 tahun pltnelitian tarsebut diadakan.
G,
Sabagai kasimpulan, sumbar-sumbar data untuk panalitian ini
sabanarnya cukup langkap hanya· lftamang ~nasih tarsabar dan tidak
satiap sumber dapat sacara langsung menJadi masukan bagi
peneli-tian ini akan tetapi sangat bermanfaat untuk maranokaikan aspek
satu dangan aspek lainnya.
DisampinQ itu panalitian ini Juga dikaitkan dangan babarapa
taari basar manoanai hakakat kata, tata ouna tanah' kata ••rta
parkambangannya •. Hal ini akan digunakan sabagai bahan
parbandino-an parbandino-antara kaadaparbandino-an sakarparbandino-ang d•noparbandino-an-taari-taari yparbandino-ang parnah dikamu-kakan.
Mangenai. dafinisi kate, tardapat barbaQai pandapat•),antara
lain 1
(1) Wirth (1938), mengatakan bahwa kata adalah sabuah paMUkiman
yang ralatif besar, padat dan p•r•anan, yanQ dihuni aleh
individu-individu yanQ hetaragen dalam arti •asial.
(2) Childa (1950), manyusun daftar kritaria suatu kata, yaitua
suatu kansentrasi panduduk dalam Jumlah yanQ be•ar,
spasi-alisasi pekerjaan, suatu pala akanami yano marata,
banoun-an-bangunan umum yang monumental, stratifikasi sasial yano
sudah barkembano, panoounaan tulisan sarta ilmu pangatahuan
parkiraan dan aksakta, sani alamiah, pardaoanoan luar naoa-ri, dan keanggataan kalampak atas dasar, lakasi tampat tinQ-gal.
---~-~---*>
Rapaport, A., 1979, dalam Panqantar Par!!!lcanaan(3) Hardey (1973) menoounakan 10 kritaria untuk mendefinisik&n suatu kat&, yaitua
(a) Berukuran dan berpanduduk ~ .... ,.
(b) Barsifat parmanen
·(c) Mampunyai ke.padatan minimum untuk Jaman dan daarahnya
(d) Mampunyai struktur dan pola dasar yang dapat dikanali
sebagi jalan-Jalan dan ruang kata •
•
(e) Marupakan suatu tempat dimana orang tinggal dan bakerja
(f) Mampunyai saJumlah minimal fungsi-fungsi kata yang
dapat maliputi sebuah pasar, suatu pusat pamarintahan
atau palitik, suatu pusat militer, suatu pusat
kaagama-an, atau suatu pusat kagiatan intalektual langkap
de-ngan lambaga-lembaga yang bersangkutan.
(g) Suatu masyarakat yang hataragen, dan
bartingkat-ting-kat, sarta adanya parbadaan-perbadaan dalam masyarakat
tarsabut.
(h) Suatu pusat ekonomi perkotaan untuk Jaman dan·daarahnya
yang manghubungkan suatu hinterland partanian·dan IUII\g-alah bahan mantah untuk pasaran yang lebih luas.
(i) Merupakan sebuah pusat pelayanan bagi wilayah sekitar~
nya.
(j) Merupakan suatu pusat difusi dan mampunyai suatu cara
hidup perkataan sasuai dengan Jaman dan daarahnya.
Karena banyaknya pamukiman-pamukiman besar yang tidak sasuai
dengan beberapa kritaria tersebut, maka Wheatly (1971) mangatakan
bahwa suatu pamukiman dapat didafinisikan sabagi kota, tidak
dalam pengertian bantuk dan strukturnya, namun dalam pangartian
...
mencipiakan ruang yang efektif.
Sedangkan menurut SoedJana (1978) di dalam RUU Bina Kota nampak arientasi kepada pem•nuhan kebutuhan manusia untuk
,
menda-patkan keseJahteraan, maka &ina kata didasarkan kepada rencana tata ruano, dalam usaha untuk .-ncukupi keperluan kota akan
(1) Wisma (tempat tinggal) (2) karya (te•pat kerJa)
< 3) Marga ( penoanokutan dan perhubunoan) (4) Suka (rekreasi dan keaoamaan)
(5) Penyempurna (untuk menampung segala keperluan yang tidak termasuk dal.a keampat lingkunoan di atas).
Mengenai beberapa bentuk ekalagi kata atau guna tanah <: . kota Hoyt (1971) mengungkapkan tentano mulai tidak sesuainya lagi beberapa Madel Kla•ik menoenai Struktur Kata (Pola Tata Guna Tanah) yang pernah dikemukakan, Jika diterapkan pada keadaan kota sekarang.
Teori-teari tersebut antara laina
(1) Concentric Zone Theory, aleh E.W.Burg••• (1923) (2) Sector Theory, aleh Hamer Hoyt (1939)
(3) Multiple Nuclei T~ary, aleh Cha.unchy Harris dan Edward Ull
man (194:5).
keadaan kata yang diteliti sehingga menghasilkan teori-teori ter-sebut telah berbeda denoan keadaan pada saat ini khusu•nya pada kota-kota di Indonesia, sehinooa perlu ditinjau apakah teori-teori tersebut berkembang oleh adanya faktor-faktor pertumbuhan ' kota.
Farmer dkk.(1984) menoemukakan· bahwa denoan dikembangkannya ketiga teori tersebut akan menambah pengetahuan kita mengenai kota-kota. Namun d-ikian, lama k•lamaan zone-zone konsentrik menjadi sektor-s•ktor pada saat Jarinoan transportasi dan Jalan-Jalan raya memperpanJan1 pala-pola penggunaan tanah. Pada akhir-nya transportasi dan ekonami yang menambah dimensi-dimensi baru terhadap penggunaan-panoounaan tanah. karana itu bila mangavalua-si pola-pola penggunaan tanah di sebuah kota basar tua, yang
talah mangalami perubahan-p•rubahan semac:am itu, maka kita masih dapat menamukan semua ketiga pola itu. Jarano sakali kota-kota masa kini yang memperlihatkan ••cara murni salah satu taori pang-gunaan tanah.
Sadangkan bebarapa teori mengenai parkembangan kota atau terjadinya parubahan struktur kota, antara lain Nalson (1971)
mengemukakan bahwa dalam p•rtumbuhan kota t•rdapat kakuatan-keku-atan yang m•ndorong t•rJadinya p•rubahan struktur.
Sac:ara garis besar kekuatan tersebut digolongkan menjadi 21
(1) Centripetal Fore••• merupakan fungsi-fungsi di daerah pusat yang manarik fungsi-fungsi lain ka dalamnya.
(2) Centrifugal Forcas, yang mamaksa fungsi-fungsi untuk ber-pindah dari d_aerah pusat ~· daarah pinggiran.
Akan t•tapi di dalam p•rk•mban~annya akan terdapat k•kuatan-kakuatan lain yang m . . pengaruhi partumbuhan kota, .untuk kasus-kasus yang spasifik.
a ..
Taori barikutnya yang mandukung adalah Cantral Plac:a Theory 'atau T•ori AJano Mttmusat, aleh Walth•r Christallar, dalam tulisan
<'
Carter (1981), yang mancaba menghubungkan antara Central Place dengan daarah balakanQ (hinterland) nya. Konsap dasar dari taori ini berkaitan dengana
(1) Treshold Population (Papulasi Ambang)• yaitu populasi mini-mum yang layak bisa manopanv kegiatan pelayanan.
(2) Range of a Bood or Service (Kisaran Pasar)• yaitu Jarak dimana orang mau barJalan mancapai pelayanan tersebut.
Karana adanya kompatisi ruang antara panyadia palayanan, dangan suatu asumsi rasional yaitu memini~alkan biaya transport sehingga palanggan akan memilih pusat pelayanan terdekat, akan manghasil-kan suatu area pasar haksagonal, dan akhirnya amanghasil-kan timbul adanya hirarkhi di dalamnya. dimana terdapat pusat yang asli dan pusat yang labih kecil. Pusat yang asli tertentu dapat manarik kegiatan pelayanan order labih tinggi yang mamarlukan populasi ambanQ yang labih luas.
Chapin (196S) pada bagian awal dari bukunya mangungkapkan bebarapa determinan atau faktor-faktor penantu guna tanah, yaitu antara laina
(1) Faktor Ekanomi
Tanah perkotaan dipertimbangkan dalam penggunaannya ,karena mempunyai nilai yang disebabkan olah potansinya untuk mang-hasilkan sesuatu untuk kapantingan tartantu di masa yang akan datang.
(2) Faktor Sasial
Nilai-nilai sosial dalam kaitannya dengan panggunaan tanah dapat berupa kebiasaan (behaviour), sikap moral, pantangan,
pan;aturan pemarintah, panin;;alan kabudayaan, pola tradisi-anal dan ••bagainya.
(3) Faktor Kapentin;an Umum
Faktar ini mempunyai lingkup yan; san;at luas, yang antara lain maliputi 'faktor k•••hatan, k•amanan, kasaJahtaraan umum dan saba;ainya.
Antara kati;a 'faktar utama t•r••but salin; barkait dalam panen-tuan pan;;unaan tanah.
Kartodirdja (1977) mangatakan bahwa parkembangan kota-kota yang san;at capat di dunia Barat terutama ••Jak abad XIX ditaran;kan olah ••buah taori t•ruatama saba;ai hasil dari kakuatan akonomis yang manjadi san;at panting artinya dengan timbulnya ravolusi industri. P•rtumbuhan kata jugadisorong kuat olah ravolusi dalam pangangkutan, kauangan, produksi dan perda-;angan. Disampin; ••bab-s•bab akonomis . ada . pula sebab-sabab
politik dan sosial dari p•rtumbuhan kota. Diantara sabab-sebab palitik dapat disa~ut antara lain parundan;-undangan yang mamaju-kan kababasan b•rda;an;, barpindah dan memiliki tanah. Yang merupakan ••bab-sebab sosial ialah kemudahan yang terdapat di kota, . . parti pandidikan, hiburan, t•mpat hidup yang labih ,tinggi dan .,••ba;ainya.
ttl
1.4. Hipgtesis
Dari tinjauan pustaka yan; telah dikamukakan, timbul suatu . gambaran awal bahwa proses/tahapan parkambangan tata guna tanah kata Yo;yakarta sangat dipan;aruhi oleh penetapan (berdasar
kebi-13
jakan p•n;uaaa waktu itu) inti-inti k•giatan, baik dimulai dari penatapan lokaai Kratan itu aendiri, kamudian kampun;-kampun; yang mengelilinginya, kemudian penetapan faaili.taa-faailitaa p•-marintahan kolonial B•landa waktu itu. CBantano Vradaburo, Gedung Agung, Seni Sono/Kamar Bola, Kantor Poa, Kota Baru, Stasiun KA
..
da~ lain ••bagainya), h1ngga penetapan kagiatan-kegiatan baru di luar kota lama yaitu kampua UGH, Kantor P•mda· Tin;kat II di
Timo-"
ho, Parumahan Colaaba, lapangan tarbang Ad1sucipto dan inti-inti kota lain.
Untuk meninjau apakah park•mbangan tata ;una tanah mempunyai pola-pola tert•ntu, maka p.rlu dikemukakan Null Hypothesis yaitu bahwa parkambangan tata ;una tanah kota Yogyakarta tidak mem-punyai pola-pola t•rt•ntu ••p•rti yang talah dikemukakan dalam teori-t•ori t•rdahulu.
1.5. R•ncana P•n•litian
Pengertian kata perkembangan dapat lfteliputi p•nambahan
fum~-si baru, hilangnya 1ungai t•rtentu dan atau pergantian fungsi, Juga p•nambahan atau berkurangnya kwantitas ruang, baik untuk tiap Janis pengounaan maupun ••cara k•••luruhan. S•hingga dalam panelitian ini pengamatan ••Jauh mungkin akan meliputi penoarti-an-p•n;ertian tera•bUt.
Adapun secara ;aria b•aar, langkah-langkah yang dilakukan adalah1
(1) Menguraikan (diakripai) tentano penggunaan tanah kota Yo;-yakarta, baik ••cara umum (berdasarkan b•rbagai tulisan dan
yang didapatkan dari beberapa periode).
(2) Melakukan analisa atau pembahasan dengan mangkaitkan antara diskripsi tersebut diatas den;an landasan teori yang ~ike
mukakan, sehing;a akan dapat disimpulkan kebenaran hipotesis serta 1aktor-1aktor yang mempengaruhi parkembanoan.
(3) Membuat kesimpulan akhir dan rekomendasi/saran-saran baoi penelitian lanJut, perencana kota atau kepada pemerintah.
BA8 I I CARA PENELITIAN
2.1. Bahan ~ Mattri Peoalitian
Bardasar tuJuan panaU.tian di .atas M&ka materi utama peneli-tian akan meliputil
(1) Pata dasar kota Vogyakarta ••car-a skalatis serta fakta-fak-ta/kaadaan ;una tanah pada satiap parioda (seJauh dapat dirakam).
(2) Catatan-catatan paristiwa/kajadian yang dipandan; dominan mempen;aruhi parkamban;an kota Voc;,yakarta.
(3) Data-data man;anai tahun didirikannya inti-inti kegiatan baru yang mananJal dan diduc;,a mampunyai pan;aruh yang besar tarhadap perkambanvan ;una tanah kota Vogyakarta.
2.2.
61A1
(1)~ Peta dasar skalatis yang digunakan untuk m•mindahkan
dtiku-men-dokumen parka•bangan ;una tanah pada satiap periode •
.,
(2) Check list yang dic;,unakan untuk merekam data-data historis, setiap inti-inti ka;iatan yang dipandan; menonjol, serta
peta-pata.
(3) Kelangkapan alat analisa yang dapat manc;ukur proses perk•m-banc;an c;una lahan baik dari ••vi luasan (planimatri), jarak
(alat ukur biasa) dan parhitungan-perhitungan komposisi panggunaan lahan.
2.3. Jalannya Pwoalitian
(1) Invantarisasi pata-pata dasar
paris-~
tiwa-peristiwa yang menyangkut perkembangan kota Yogyakarta. (3) Inventarisasi inti-inti keoiatan yano dianoo•P mempunyai
faktor dominan dalaa pertumbuhan kata Yaoyakarta.
(4) Memetakan setiap parkembanoan spatial yano terJadi di kata Vo;yakarta ••lama beberapa kurun waktu.
(5) Analisis semua aspek yang diinventarisir melalui dua pende-katan, pertama pendekatan histaris-kultural yang mencoba menJelaskan kaitan antara peristiwa-peristiwa yang terjadi den;an produk fisikalnya. Kedya, pendekatan spatial yang mengkaJi fakta-fakta fisikal-spatial yang tarJadi, baik dari ••vi luasan, prasentasa/kecapatan partumbuhan, Jarak dan kamposi,si-kompasisi pen;;unaannya.
(6) Analisa komparasi antara pala-pala yang terbantuk dengan pola-pola yang telah ~ikemukakan dalam t~ori tardahulu.
Untuk invantarisasi data historis dan inti-inti ka;iatan sarta pemetaan kambali, digunakan bahan dakuman baik yang dida-patkan dari Museum Sonabudoyo, Ditjan. Agraria, Dinas Tata Kota ataupun instansi-instansi yang lain dan wawancara dan;an pihak yang dipandang memahaminya.
2.4. Analisi• Hasil
Analisis pertama akan mencoba man;amati gajala-;aJala per-kamban;an ;una tanah dan mempariadisasikan dari kriteria-krite-ria keruangan sarta man;kaitkan dan;an periodisasi perkembangan historis-kultural kota Yagyakarta sacara umum.
Analisis kedua, akan man;kaJi ••Jauh mana dominasi i'nti-inti ke;iatan yang ada mempen;aruhi perkamban;an ;una tanah kota Yog-yakarta.
Pada dasarnya t•knis k•dua analisis di atas adalah analisis t•rhadap data-data yanQ berupa seranokaian p•ta-peta dan didukung olah data-data d•skriptif/berupa naskah atau hasil wawancara, untuk selanjutnya dapat dip•ral•h kesimpwlan-kesimpulan, sesuai dangan p•ndekatan penelitian.
Sedangkan analisa s~lanjutnya adalah menggambarkan pola-pola
yang terJadi pada perk•mbangan tata guna tanah kota Vogyakarta, untuk selanjutnya m•ninJau apakah pola-pala ter•ebut sesuai
de-2.5. Kesulitao-kesulittn
dAn
P . . ecabannvaKesulitan yang paling pakok disini adalah dalam mendapatkan data yang berupa p•ta-peta kata Yac;yakarta'
.Y•no·
cukup valid untuk mengunc;kapkan oambaran yano lebih kankrit manganai tata guna tanah yano dimaksud. Dan pada akhirnya hanya didapatkan peta-peta kota Yogyakarta dari dua period• waktu, yaitu tahun 1912 dan tahun 1941, sedanokan b•b•rapa peta lain yang didapatk•n (1825-1830) adalah p•ta-peta Jaw& Tengah, sehinoo• tidak dapat terlihat sedara detail k•adaan kata Yogyakarta. S•b•narnya t•rdapat pulalilt
b•berapa p•ta yang dibUat pada tahun-tahun sasudah 1945, namun perlu dibatasi hinoo• Jama kolonial saJa, untuk mamp~rmudah
analisa. Jelas dari dua pet& ini tidak dapat banyak diharapkan bisa mengungkapkan proses secara lengkap. Namun dengan keterba-tasan ini tetap dicaba untuk m•noungkapkan perkembangan tata guna tanah kata Yogyakarta, dalam dua tinJauan. S•cara umum, mengurai-kan perkembangan tata guna tanah kota Yagyakarta berdasarkan • data-data yang berupa hasil wawancar& dan berbagai tulisan (bukan
merupakan hasil analisa dari peta). Sedan~kan secara khusu•, menouraikan perkemban~an tata ;una tanah kata Va~yakarta dari
tahun 1912 hingga tahun 1941 (berdasarkan analisa dari peta yang didapatkan).
•
0
BAB Ill HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.1. Secara
UmYR*)
3.1.1. Cikal blktl puwat kthiduaan
!Am&
(1) Pesanggrahan Bamping
SeJarah mencatat bahwa ibukata Kerajaan Ngayagyakarta Hadi-ningrat dimulai dengan mandirikan pesanggrahan di Gamping, samentara bangunan Kratan yang sekarang ini sedang disiapkan pada tahun 17SS. Baru pada tanggal 7 Oktabar 1756 dimulailah kahidupan di dalam Kratan.
(2) Inti Kratan dan Jaran Bateng
Kasyarakat Jeran Batang terbagi-bagi atas bebarapa kampung yang namanya aesuai dengan dengan nama jabatan yang
menem-pati masing-maalng, misalnyaa Siliran, tampat Abdi Dalem Silir yang mempunyai tugas mamelihara lampu1 Gamelan, tempat Abdi Dalem Gamel yang bartugas memelihara kuda-kuda keraja-an, Langenaatran, tampat Abdi Dalem Langanastra selaku pe-ngawal raJ•• Patehan, tempat Abdi Dalam yang mengurusi mi-numan teh untuk kratan, dan lain aabagainya.
Oleh karena maayarakat Jeran Betang dibatasi oleh tembok rakaasa dalam keaatuan dangan Keaton, maka masyarakat ini berkadudukan sabavai inti kahidupan kekratonan ••bagai kehi-dupan lama.
(3) Parumahan Abdi Dalam di luar Betang
Di luar Beteng, dalam farmasi tapal kuda adalah parkampungan
---~---~---•>·
disarikan dari tulisan Drs. SaenJata dalam JakJakarta,Pena-litian ~!At& ~,1971,Vagyakarta,Jilid 1,hal.B5, dan hasil wawancara dengan KPH. Sudarisman Poarwakaesoemo.
dari Angkatan Perang kerajaan yang t•rdiri' atas delapan kompi (satu batalyon) tentararaJa, satu kompi tantara
Kapa-tihan dan satu kompi milik Komandan Batalyon. Masing-ma•ing manampati suatu kampung dengan nama-nama khusussabagai bari-kut:
(a) Wirobrajan ditampati praJurit Wirobrojo sabagai kompi 1 (b) Daengan ditampati prajurit.Daang aabagai kompi 2
(c) Patangpuluhan ditempati praJurit Pat•ngpuluh sebag•i kompi 3.
(d) Jagakaryan ditempati prajurit Jao•karya sabagai kompi 4 (a) Prawirotaman ·ditampati praJurit Prawirotama sabagai
kompi 5.
(1) Nyutran ditampati praJurit Nyutra sabagai kompi
o.
(g) katangoungan ditainpati praJurit Katangguno sebagai kompi 7.
(h) Mantrijeron ditampati praJurit Mantrijaro sabagai kompi
a.
Sadangkan kompi Kapatihan barkadudukan di Bugisan, kompi Adipati Anom bertempat tinggal di Surokarsan dAn kompi
ko-'I
mandan Batalyon berked.udukan di Jageran,.
(4) Rumah kadudukan para Nayaka
Diduga karana kadudukan yang tinggi, para Nayaka (mantari) memperoleh tampat tinggal yang mandiri tampat tinggal mareka
berada di luar Batang. Tempat tinggal maraka berada dalam posisi malingkari karaJaan, overlap dangan tampat tinggal para prajurit. Maraka berjumlah delapan dangan kampung-kam-pungnya yang mamiliki nama•nama khusus, sab.agai barikuta
(a) Keparakan Kiwa dan Keparakan Tangen sebagai t:emp•t tinggal Nayaka ur-usan kepamangprajaan.
(b) Gedong Kiwa dan Gedong Tangen wabagai tempat tinggal Nayaka urusan keuangan.
(c) Bumijo dan Siti Sawu sebagai tampat tinggal Nayaka urusan agraria.
(d) Numbakanyar dan Penumping aabagai tempat tinggal Nayaka urusan kaprajuritan.
Disamping itu masih ada Pardana Manteri (Nayaka Wreda) · yano bertempat tinggal di Kepatihan.
Perkampungan atau kompleks ini menyokong kadudukan Jeron Beteng aebagai· inti kehidupan lama, terlebih karena a·iatim perkampungan itu dapat ditembus oleh tempat tinggal-tempat tinggal para pedagang Cina (Pacinan) dan tempat tinggal para panguasa militar Hindia Belanda, misalnya Pacinan Malioboro, gedung-9edung yang sekarang bernama Gedung Negara, Markaa Kowilhan II, Kantor KaJaksaan dan lain-lain.
Beteng Vredeb~rg, dulu memano digunakan untuk tampat tinggal perwira-perwira Belanda. Sadangkan orang-orang Arab manem-pati daerah Kauman.
(5) Pura Pakualaman
Ibu Kota Pakualaman, meakipun terletak di dalam Ibu Kota Ngayogyokarto Hadiningrat, tetapi karena hanya menempati sebagian kecil daarah sabelah timur sungai Coda, maka tidak mengaburkan Jaron 8eteng sebagai pusat kehidupan lama. Hal ini membari gambaran bahwa Pakualaman Justru mengisi kahi-dupan di luar puaat yang terbuka dan dapat ditambus dangan
mudah oleh pangaruh-pangaruh baru.
3.1.2. Benih-beoib perkRmbangao bary1 dalam ousArtn-oysarao
magoatis b•••rtt akibtt
tittim
linqkunqan.(1) Susuoan lingkungan pelayaoan jasa uotuk inti Kraton
Blok-blok ini timbul sabagai tumbuhnya unit/pusat
pamarin-tahan/kehidupan baru tadi karana unit tiga pusat pamarintah-an tersebut tidak mungkin bardiri spamarintah-andiri.
Unit-unit kahidupao baru yang diisi olah lapisan tartantu
dari kalangan rakyat itu pasti timbul agar kahidupao
masya-rakat selangkapnya dapat disalaoggarakan.
Kebutuhan Kraton sarta Abdi Dalam akan saodang yang khas
"disiapkan" olah kalompok rakyat yang tinggal di sabalah
salatan Jaron Batang yang kita kanal dangan KarangkaJan.
Kebutuhan akan pangan disiapkan olah sekalangan rakyat yang
kemudian meramaikan timbulnya pasar Beringharjo di sabalah
utara.
Kebutuhan akan barang-barang lain disiapkan olah sakalangan rakyat lainnya, khususnya orang Tianghaa yang mambantuk Blak Malioboro.
Di luar pusat pamarintahan dangao Jarak Jauh, kalangan pata-ni .menyiapkan bahan m•ntah.
Demikianlah, maka Kratan talah mambari carak tertantu pada
Jamannya dangan manampatkan lapisan bangsawan pacta •tratum
atas, lapisan lurah, tukang dan padagang pada stratum
ta-ngah, dan lapisan tani pada stratum yang labih randah,
hingga ada koralasi antara status derig.an te•npat tinggal.
Bil.a orang berstatus tinggi, maka tempat tingg·.alnya
berde-katan dangan Kraton, semakin jauh hubungan statusnya dangan raja, semakin jauh pula tempat tinggal mereka.
(2) Perubahan drastis akibat A;rarische wet 1870.
Perubahan-perubahan yang secara drastis terjadi pada tahun
1870, tatkala Agrarischa wet mulai barlaku.
(a) Bartolak dari paraturan' ini, inaka para pamegang modal
swasta Beland• malalui operasi hak-hak erpachtnya
sam-pat menyelenggarakan pabrik-pabrik gula dan pabrik
Purosani.
~b) Disamping itu paraturan ini merarigsang
inisiatif-ini-siatif lain pihak swasta, sahingga parkamb•n;an daarah
diatas landasan saktor pardagangan, kemungkinan basar
terjadi sesudah itu.
(c) Hal tersebut diperkuat lagi oleh perkembangan
trans-portasi yang meningkat dengan terselenggr•mya transpar-tasi kereta api partama dan stranspar-tasiun-stranspar-tasiun Lempuyangan dan Tugu yang didirikan disakitar saat itu Juga.
(d) Tanda-tanda lain menyatakan, bahwa karena pangaruh itu,
maka parkampungan Balanda sipil mulai dibangun.
Mula-mula di Bintaran, kemudian karena kurang luas pindah ka
Jatis dan akhirnya pada tahun .1918 dipindahk.an ka Kota
Baru yang sebelumnva marupakan perkampungan jorok d.ari
(3) Pergesaran pusat pangaruh dari Jeron Bateng keluar Batang. (a) Didalam parkembanoan nyata selanjutnya, unit Jar-on
Beteng ternyata manJadi unit yang statis, bahkan mam-perlihatkan kemunduran, sajalan dengan status dan mun-durnya peranan keraJaan didalam menantukan jalannya
pemerintahan dan kemasyarakatan.
Taman Sari misalnya, tidak lagi terawat dan semakin lama ••makin terancam kehancurannya. Par-it sekaliling Beteng telah lenyap fungsinya, demikian juga dengan
jembatan Gantung dan Plenokungnya.
(b) Sebaliknya blok-blak·baru yang timbul. sebagai konse-kwensi dari lahirnya pusat pemerintahan lama telah berkembang dengan cepat. Selain disebabkan oleh akrena · masyarakat luar labih dinamis, lebih terbuka dan lebih
longgar norma-norma yang mangikatnya. Kecapatan ini didukung pula alah lahirnya pusaran-pusaran magnetis
baru, saperti stasiun-stas~un, pabrik-pabrik besar, ' ·
standplats (terminal), lapangan kapal terbang, simpang-an-simpangan Jalan dan pasar-pasar yang lain.
(c) Stasiun Tugu merupakan pintu gar-bang kota Vogyakarta bagi kaluar masuknya unsur-unsur kebudayaan lama maupun baru, baik yang positip maupun yang negatip, yang
semu-atau anya membarikan an~il dalam mendorong perubahan
perkembangan kota. Demikian juga dangan stasiun Lempu-Ngabaan yang an yang berumur lebih tua, serta
yang ukuran dan peranannya lebih kecil.
(d)
becak, andong dan taksi sebagai plot-plot satelit.
(e) Daerah-daerah parsimpangan memiliki tenaga magneti•
untuk menarik pedagang-pedagang sedang dan kecil yang
I
pada perkambangannya akan menJelma manJadi blok-blok
toke atau pasar.Dapat diduga misalnya bahwa pembeaaran
pasar-pasar WirobraJan, Damangan dan Kranggan tumbuhny• dimulai dari parkembangan seperti ini.
(f) Pasar sendiri ~elanJutnya berkambang aebagili puaaran
magnetis. Dari ••bab itu maka akan manarik
padagang-pedagang setampat dan padagang luar kot• untuk
menya-lurkan kapentingannya. Seperti puaaran magnetis yang
lain maka pasar ini manumbuhkan pula pangkalan-pangkal-an trpangkalan-pangkal-ansportasi lokal.
(g) Karen a pusaran maQnetia seperti i tu mambawa k_onsekwensi
tampilnya pangkalan-pangkalan transportaai, maka
tum-buhlah jarinQan-JarinQan transportasi kota.
3.1.3. Pemakarao Aasiolgqi! ~ daerah tepian kota
(1) Masyarakat Jeron Betang dalam partumbuhannya labih lanjut
ternyata relatif statis. Menurut kompilasi data survey
Kota-madya Vogyakarta, batas-batas kota relatif tidak barkambang
berdasarkan peta Vogyakarta tahun 1765, 1770 dan 1824.
*>
---~---~---*>
---,
'1971,JgqJakarta. Peoelitiao BBl. IaY.(2) Meskipun demikian harus dapat dipahami bahwa yang dimaksud adalah statika dalam aspak administratif. Secara sasialagis, sebenarnya kata Yagyakarta berkambang juga, sabagai cantah adalah daerah Sekip, Bulaksumur di sebelah utara,
Karangma-lang, Demangan (khususnya kompleks Colombo) dan Hrican di sebelah timur laut, kemudian sabaoian.daerah Gadong Kuning, Babadan, Tegalreja,.Plumban dan Maouwa di sabalah timur. (3) Sekip, Bulaksumur, Damangan dan Mrican, secara administratif
berada dalam lingkungan Kabupatan Slaman, akan tetapi sepin-tas lalu mampunyai kesan bahwa daerah ~ni merupakan tepi
dari kata Yogyakarta. Hal ini disababkan karena lataknya yang berimpit dengan ·batas kata.
(4) Sebagian Gadang Kuning, T•galreja dan Plu~ban sacara
admi-nistratif terlatak dalam lingkungan Kabupaten Bantul, namun sekarang berangsur-angsur mangalami infiltrasi unsur-unsur
kota Yogyakarta.
3.2. Secara Khusus
3.2.1. Penggunaan tanah .15.2ta Yogyakarte .QAQa tahyn
l!.U
Pata Penogunaan Tanah sebaoai hasil panalitian ini barsumbar dari Pata Yogyakarta an Omstrakan Stbl. 1912 No.600. Pada tahun
1912 ini penggunaan tanah dibedakan manjadi bab•rapa macam1
(a) Parumahan
(b) Kantor Pemerintah I Militar
(c) Perdagangan I Jasa
(d) Kraton I Pakualaman
(e) Dalem
(f) Industri
(g) Sawah
(h) Pendidikan
(i) Tanah Kosong I Kuburan I Lapangan
Sec~ra garis besar komposisi panggunaan tanah pada tahun
1912 adalah seperti terlihat dalam Gambar 1, yang sabagian beaar
~=terupa tanah perumahari yang terdiri atas kampung-kampung tarma.suk dalam pengertian ini ada.lah Dalem-dalam, Kraton serta Pakualaman,
namun dalam analisa ketiga janis tarsebut dibedakan juga untuk
menunjukk~n tempat-tempat kadudukannya terhadap kota. Adanya
dalem-dalem diantara kampung-kampung tarsebut menunjukkan adanya
heterogenitas penduduk kota, yaitu danc;;aan berbeda-bedanya atatu&
sosial mereka.
Tanah pardac;;aanc;;aan I Jasa v•nc;;a marupakan pusat ekonomi kota
terdapat disapanJanc;;a · Jalan MalioboroiPecinan tarmasuk disini
adalah Pasar Barinc;;aharJo, sebagai pasar utama dangan linc;;akup
pelayanan kota, serta di baberapa tampat lain yang barupa
pasar-pasar yaitu Pasar Kranc;;agan, Demangan dan Ngasam. Dan yanc;;a merupa-kan tanah untuk jasa meliputi merupa-kantor-merupa-kantorlpelayanan umum, yaitu
Bank, Kantor Pas, Rumah Sakit Petronella (sekarang RS. Bethesda)
dan Rumah Sakit Militar di Kota Baru.
Tanah unt~k kantor pamerintah I militer meliputi Kepatihan,
Benteng Vredeburg dan Gedung Negara. Penggunaan tanah-tanah ini
.I ,. ~ l.. • I
I
PlTA'...
•
---
..
~ 1111 1!!1 Cl r:::J 0 PENGGUNJ\1\N TI\NI\H KOTI\ 'IOG\'1\KI\llTI\ TI\HUN 1!J12 PEIU4/IIii\NKI\Hia1 PDERMI+I I All.llln P£RQ/\IWCWl I Jl\5.1\ KRI\ION I PI\KU'\1.1\MI\N OJ\I.EM INDUSIRI SIWI\H
..
PENOIIlfJ<I\N11\NI\H IC050Nii I KUiiURI\N I ~1\N
•It• GAIA• JOGJAKAIITA 1ft OMS1REKEN
... OAIA stbt.IIQ ND.f00 .
...
• -:aL =
..
~Gambar 1 1 Peta PenQQunaan Tanah Kata YaQyakarta Tahun 1912
.
I ,. I '....
PITA' ldNGG~.f,.X'NI\H 1\ YOG'I'I\ Tl\ TI\HUN 1941....
, ....
•
P£IIUMIIIWI-
IWIIOR PEMIIIINWIIMI.II'" I!El P£RQ/\jiJ\NGI\N I .11\511-
KRI\ION I PI\KUI\li\MI\N Ill Dill EM-
INOIJSml .-
SI\WIIH t!:1 PENDIDII<IIH...
Cl TIIHI\H KCISONi I KUJ\Jli\N 11.1\A'\Niio'IN
r:::J 0
.... E3
...
• -=:Jj...
_...,
·-
---:-A
..
~. Gambar 2 : Peta PengQunaan Tanah Kata Yogyakarta Tahun 1941
29
Tanah untuk industri meliputi tempat-temp.at di sekitar setasiun Lempuyangan (bengkel Kereta Api), dan beberapa tempat
lain, yaitu pabrik cerutu Tarum•rtAni dan Purosani.
Tanah yang masih b•rupa sawah atau tanah pertanian maliputi beberapa bagian tepi ko.ta, yaitu daerah TegalreJo, sebelah barat Pingi t, sebelah u,tara Kric:ak, · sebelah timur Gendeng, sebagian daerah di tepi Jalan menuju Bantul, sebelah bar.at Menuk&n, dan beberapa bagian di tepi Bungai Code mulai sebel.ah selatan jemb.atan Sayidan.
Tanah untuk pendidikan yang pada umumnya digun.akan untuk sekalah-sekalah tersebar di beberapa tempat, antara lain di Kata Baru, Jetis, Juminahan (sekarang jalan Hayam Wuruk) dan daerah di sebelah timur Kantor Pas (s~karang Jalan P. Senapati).
Tanah-tanah kosonQ meliputi sebagian daerah Kuncen, sebat;tian daerah Pingit, sebagian daerah yang sekarang bernama SawoJaj&r (Blunyah), daerah Terban, sebagian daerah di sebel&h selatan Demangan dan sebagian daerah di ••belah barat Gendeng.
Tanah-tanah tersebut belum mempunyai guna tanah yang Jelas. Sedangkan tanah terbuka yang sudah Jelas guna tanahnya adalah kuburan (Belanda) di Gondomanan, lapangan alah raga Kridosono di Kota Baru dan lapangan pac:uan kuda di Balapan.
3.2.2. Pengqunaan tanah ~ Yagyakarta pada tahun 1941
Peta penggunaan tanah kota Yagyakart.a pada tahun ini bersumber dari Kaart ward samengesteld uit gegevens van de staatskaarten 1934,1935 en 1936, en ward herzien en bijgewerkt
tot Fabr. 1941. Dari pata panQ;unaan tanah kota Yogyakarta pada tahun 1941.ini (Gambar 2). sarta dan;an mambandingkannya dengan peta penggunaan tanah pada tahun 1912 (6ambar 1), maka dapat dikemukakan bahwa sec:ara struktural maupun dari segi luas total tanah kota, sttlama dua parioda waktu (dua puluh sembilan tahun) tersabut tidak terJadi parkambangan ..
Sedangkan perkamban;an atau parubahan ;una tanah terbata& juga pada:
(1) perubahan dari tanah parsawa~an atau tanah kosong menjadi
tanah perumahan, yaitu di daarah Gendang, Sapen, Bu;isan, Terban dan Bac:iro (khusus unt.uk Bac:iro adalah perumahan untuk Balanda, saparti halnya Kota Baru). Hal ini Juga
ba-nyak dipen;aruhi olah faktor sosial, karana perumahan yan; sudah ada mereka rasak,~an sudah tidak cukup lagi, sejalan
dengan bertambahnya penduduk. Sebagai gambaran tentang me-ningkatnya Jumlah panduduk pada sakitar waktu-waktu tarsabut adalah dari 2909 Jiwa pada tahun 1920 menjadi 8839 Jiwa pada
tahun 1930. *).
(2) Perkemban;an dari tanah parumahan menJadi t.anah unt.uk pandi-dikan, yait.u ·dengan didirikannya Perguruan Taman Siswa. Tumbuhnya inti .ini dapat dikat.akan dipengaruhi oleh adanya faktor kabudayaan, atas keinginan untuk mengembangkan pandi-dikan di kota Yogyakarta.
(3) Perkembangan dari tanah perumahan menjadi tanah untuk jasa ditunjukkan dangan dib&ngunnya Rumah Sakit. Onder de Bogen
----·---*>
---,
1940,Javasc:ha Canc:us,yang sekaranQ bernama RS. Panti Rapih, yang Juga tumbuh karena adanya faktor sosial.
(4) Perkembangan dari tanah persawahan menJadi tanah pardagang-an, yang dilatarbelakanQi oleh adanya faktor ekonomi, yaitu
tumbuhnya pasar khusus ketela di KarangkaJen.
Dari peta-peta pengQunaan tanah tarsebut (1912 dan 1941) dimana tidak terjadi perkambangan struktural sehingga pola tata guna tanah yang terbentuk adalaha
·-tN'l1V~
Gambar 3 : Pola Tata Guna Tanah Kota Yogyakarta (1912 dan 1941) Sumber : Gambar 1 dan 2
Kraton di tengah kota sabagai pusat yang dikalilingi oleh perumahan (untuk orang-orang yang masih mempunyai hubur:-;an kake-rabatan atau hubungan kerJa dengan kraton, yang terlingkup dalam Beteng sehingga dikatakan Jeron Beteng), kemudian dibagian luar-nya terdiri dari perumahan, tanah untuk pemarintahan/militer,
perdagangan dan jasa. Sedangkan tanah-tanah untuk pandidikan tersebar di antara parumahan. Kamudian tanah parindustrian
domi-nan tidak berada di pusat kata. Tanah partanian (sawah) berada di daerah-daerah tepi kata.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pola tata guna tanah
kota Vogyakarta pada waktu-waktu tersebut tidak sepanyhnya sesuai
dengan pola yang pernah dikemukakan dalam beberapa teori
(Bur-gess, Homer Hoyt dan Harris Ullman). Dari ketiga bentuk model
ekologi kota yang menggambarkan pola tata guna · tanah tersebut
yang paling mendekati adalah Multiple Nuclei Theory dari Harris
dan Ullman yang dikemb•ngkan tahun 1945 <•••udah terbentuknya
pola tata guna tanah kota ·vaQyakarta pada Gambar 1 dan 2), dimana
tata guna tanah kota berkembang mulai dari nukleus tungoal.
Ada-pun perkembangan selanJutnya didarang aleh kadatangan para migran
dengan kekhususan tata guna tanah kota. Menurut Harris dan
Ull-man, ada empat faktar yang secara bersama-sama bertanggung Jawab
atas munculnya suatu nukleus serta diferensiasi yang ada dalam
wilayah kota berdasarkan tata guna tanah, yaitu;
(1) Kegiatan · tertentu .m•m•rlukan fasilitas khusus, misalnye
membutuhkan suatu tltmpat yang memungkinkan lain dangan
per-:-dagangan besar. Perindustrian pasti memerlukan lokasi dekan
jalan raya atau rel kereta api.
(2) Berkelompoknya kegiatan dalam central bussines zone tarsebut
bertujuan mengeJar keuntungan barsama.
(3) Tidak sukanya manusia yang berlainan pendapatan untuk
ting-gal berdekatan.
(4) Pertokaan kecil yang tidak mampu membayar sewa tempat di
lokasi-lokasi yano baik terpaksa puas dengan daerah yang
lebih murah pajak/sewanya namun kurang str~tegis.
Namun dalam teori Harris dan Ullman tersebut tidak
BAB IV 'kEBIHPUL.AN DAN BARAN
4.1. Kesimpulan
Dari ha&il analisa sarta pambahasan pada Bab III terdahulu, mak& dapat dikemukak&n baber&pa kesimpu.l&nl
(1)' Dari dua periode waktu (1912 dan 1941) yang didapatkan sum-bar pata y&ng valid tersebut, tarnyata balum dapat mengung-kap proses perkembangan tata guna tanah sec:ara · jelas dan lengkap. Dengan demikian keinginan untuk , melihat adanya suatu periodisasi perkembangan guna tanah juga belum dap&t dilaksan&kan.
(2) Dari dua periode waktu tersebut dapat dikat&kan tidak terja-di perkembangan sec:ara struktural maupun segi luas total
tanah kota.
(3) Perkembangan tata guna tan&h selama dua pariode tersebut, terbatas pada beberapa perubahan guna tanah, yang p&da umum-nya dosebabk&n ole~ f&ktor sosi&l, dan sab&gian kec:il dise-babkan oleh faktor kebudayaan dan faktor akonomi.
(4) .Tata guna tanah kota Yogyakarta mempunyai pol& y&ng tidak sepenuhnya sesuai dengan pola-pola yang pernah dikemukakan oleh teori-teori tardahulu. Teori yang paling mendekatipun baru dikemb&ngkan sesudah tahun-tahun yang diamati dal&m penelitian ini.
4.2. Saran-t;aran
4.2.1. Bagi penelitian lanJutan
(1) Agar diu5ahakan untuk mendapatkan pata-peta yang valid dari waktu-waktu yang· lebih banyak. Untuk dapat mengungkapkan • pro&e5 perkembangan tata guna tanah kota Vogyakarta aecara
labih jela5 dan lengkap.
(2) Melakukan penguku~an-pengukuran serta
perhitungan-perhitung-an pada peta secara -lebih akurat sehingga dapat diberikan hal-hal yang bersifat kwantitatif secara lebih Jela&.
·4.2.2. ~ perencanaan ~
yang dapat Untuk
Perlu dipertimbangkan semaksimal mungkin semua faktor-faktor mempengaruhi perkembangan tata guna tanah kata, sehingga disusun Rencana Tata Guna Tanah Kota yang lebih mantap. itu didalam perencanaan dapat memanfaatkan tata kerja multi disiplin antara berbagai ilmu pengetahuan.
4.2.3. ~ pemerintah
Pe~lu dilakukan tindakan pengant~olan terhadap penggunaan tanah kota dan pengembangan area-area sehingga tidak akan saling medatangkan kerugian satu sama lain. Beberapa tindakan yang konkrit yang perlu dilakukan antara lain pengarahan penggunaan tanah yang mendukung Rencana Tata Guna Tanah seauai deng&n Master Plan yang ditetapkan, dan mencegah penggunaan tanah yang melam-paui batas •
DAFTAR PUSTAKA
Andrews,
w.,
Fien, J., 1976,!b!l
Urban Environmtnt, PrenticeHall of Australia Pty.Ltd., Sydney.
Arikunta, S.,198S, Prqsadur PenelitiAQ. SUaty Pwndakatan praktik, Bina Akasara, Jakarta.
Bagian Arsitektur Fakultas Teknik, 1971,JqaJakarta. penelitian
~
Lal&
~,Jilid 1 dan 2, Yagyakarta.Bourne, L.S.,1971,lnt,ernal St,ryc:t,ure
a1
Ib.tl
~,OKfardUniversi-. ty Press, London.
Carter, H., 1981,
Ib.tl
St,ydya1
Urbto Seqaraphy, British LibraryCataloguing in Publicati~ Data
Catanese, A.J., J.C.Snyder , 1984, Penqaot.ar· Perencana•n ~.
Penerbit ErlangQa, Jakarta.
Chapin, F ,J., 196S, Utb4n 1..10s1.
UH.
Planning, Univar.si ty of I 11i-naia Press, Urbana. ··
DaldJaeni, N., 1982, S.lyk IJttlyk MA•varakAt
gn,··
Panerbit··Alum-ni, Bandung.
Diraktarat Land Usa Ditjan.Agraria-Depertaman Dalam Negari, 1969, Kptamadya JpaJakarta. e.aggun&IQ TAnah, Yogyakarta.
Diwirya, R., Maria, 8., 1981, Per•aAlan Tanah Dalam Ptmekaran
~ fllAD. Lingkyngao Indystri, Departeman PekerJaan Umum.
Evers, H.D., 1982,, Sqsiqlgai Perkqtaan, LP3ES, Jakarta.
Gallion, A.B., Eisner, &. , 1963,
Iba
UrbAn Patttrn. ~ eJAo.~ana Design, D.Yan Nostrand Ca.Inc:., New York.
Jayadinata, J.T., 1986,
IA1&
lunA
Tanah Delam PtrencanaanPedesa-AD£ PerkatAin
dAD
Wilavab, Penerbit ITB, Bandung.KartadirdJa,
s.,
1977,. Masvarakat &!!J.g Dan Kelompgk-k,lampakSgsia}, Bhratara karya Aksara, Jakarta.
KoentJaraningrat, 1986, Metpde-metqde Pwnalitian Masyarakat,
PT.Bramedia, Jakarta.
MasJkuri., Kutaya,
s.,
1976/1977, SeJarab D . . rab Istimewa Yggyakart,a, Departemen Pandidikan Dan ke~dayaan.
Panitia Peringatan JagJakarta 200 Tahun, 19S6, Kata Jagjakarta
~ Tabyn
z
Oktpbltr ~ :.z
Okt.ab9r l!AQ.• Patterson, T.W., 1979, ~
Yaa
Planning, Itcbniguas QfImplemen-t,atign, Van Nostrand Reinbold Ca., Canada.
!·
P•m•rintah KotapraJa JogJakarta, 1957, Dttawarta
JgqJakarta
Z
~1!!Z
~Z
~ ~KotapraJa
Po•rwoko••a•mo,
s.,
1984. Da•rah IstiiMIWA ypqyakarta, GadJah MadaUniversity Press, Va;yakar-ta.
Po•rwoka•sowmo,
s.,
1985, Kasyltanan Yoqyakart•• GadJah MadaUniv•rsity Press, Vogyakarta.
!
Rapoport, A., 1977, Hyman Aspwcts Q1 Urban Fprm. Tpwarda
&
~Enyirpnm110t ADprpac;h 1g Urban Esu::a
ADA
D•aiqn, P•rc;amonPr•••• Oxford
S•loaowmardJan, 1986, P9rubab4n Sqaial
di
JgqJakarta, Gadjah MadaUniv•raity Pr•••• Yagyakarta.
So•dJano, D., 1978, B•qi-s•qi · Hukum t•ntaoa
!&a
l!in.A.
~n
lndpn•sia, PT.Karya Nusantara, Bandung.
So•wadi, 1979, ~ ypqyakart•• B•karanq
2an
Qi M••• Datana,Fakultaa G•oc;raf~ Univ•rsitaa Gadjah Mada, Vogyakarta.
Team P•n•liti B•nteng Vr•deburg, 1979, R•ncana P•l•wtarian dan
P•nqwmbanqan
BlotiOa
Vr•d•burq, Jilid 1-5, Vogyakarta.Vunua, H.S.,tanpa tabun, P•rk . . banqtn ~ ~ Faktgr-faktprnya,
Fakultaa G•ografi Univers~taa GadJah Mada, Yogyakarta. ·
Vunua, H.s., 1983, urban~
Yaa
D•y•lqpmentin
!b£ Urban Frinq•ADQ
!!a
Manaq...at•kala
Btydy Q1 ygqyakarta Indgn•aia,~ A M P I
R
A
N
Gambar 4 : Siti ~inggil, Kraton
Gambar 6
Perumahan Baciro Yang diban~u~ sak~tar tahun 1930.
Gambar 7 a Babarapa bangunan Seko'lahan, antara lain di Kota Baru,
Jetis, Sayidan dan Baji.
..
,
.
..
' ; } . ,J.. . '..
, Gambar 8·-.,-··---Bangunan untuk pelayanan atau jasa, yaitu Bank dan
Kantor Pos yang barada di tengah-tengah kota Yogya.
Gambar 11
C3ambar 12
Gambar 10 : Pintu g~~ban~ Pura Pakualaman
1 Rumah Sakit Petronella, yang ••karano bernama
Bethesda.