• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepustakaan : 60 ( ) : Motivasi, dukungan keluarga, efikasi diri.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kepustakaan : 60 ( ) : Motivasi, dukungan keluarga, efikasi diri."

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP EFIKASI DIRI PADA PASIEN DIEBETES MELITUS TIPE 2 DI

KLINIK PENYAKIT DALAM RSUD Dr. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2016

Riza Metalica Putri 1)

Siti Novianti dan Andik Setiyono 2)

Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Peminatan Epidemiologi 1) Universitas Siliwangi ([email protected])

Dosen Pembimbing Bagian Epidemiologi Fakultas Ilmu Kesehatan 2) Universitas Siliwangi

Efikasi diri adalah keyakinan individu akan kemampuannya untuk mengatur dan melakukan perilaku yang mendukung kesehatannya berdasarkan pada tujuan dan harapan yang diinginkannya. Efikasi diri pada pasien DM tipe II berfokus pada keyakinan pasien untuk mampu melakukan perilaku yang dapat mendukung perbaikan penyakitnya dan meningkatkan manajemen perawatan dirinya seperti diet, latihan fisik, medikasi, kontrol gula, dan perawatan DM secara umum. Faktor yang berhubungan dengan efikasi diri adalah dukungan keluarga dan motivasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi dan dukungan keluarga terhadap efikasi diri pada pasien DM tipe 2. Metode penelitian menggunakan metode survey dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil dengan menggunakan accidental sampling. Intrumen yang di gunakan adalah lembar kuesioner. Analisis yang dilakukan yaitu analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisi bivariate menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 200 sampel, 46,5% responden memiliki motivasi kurang baik, 45,0% responden memiliki keluarga yang kurang mendukung dan 70,0% memiliki efikasi diri kurang baik. Analisis menggunakan chi-square menunjukan terdapat hubungan antara motivasi p= 0,048 (OR = 1,966; 95% CI = 1,966 – 3,676), dan dukungan keluarga p= 0,044 (OR = 2,000; 95% CI = 1,064 – 3,758) terhadap efikasi diri. Pasien DM diharapkan dapat meningkatkan efikasi diri yang baik dengan cara mengikuti yang pola hidup hidup sehat agar tetap bisa menjaga gula darah dalam rentang yang normal.

Kepustakaan : 60 (1994-2015)

(2)

2

THE RELATIONSHIP BETWEEN MOTIVASION AND FAMILY SUPPORT FOR SELF-EFFICACY IN PATIENTS DISEASE CLINIC IN HOSPITAL Dr.

SOEKARDJO CITIES TASIKMALAYA 2016 Abstract

Self efficacy is the individual confidence in his ability to organize and conduct that support health behavior based on the goals and expectations of interest. Self-efficacy in patients with type II diabetes mellitus focuses on the patient's beliefs to be able to perform behaviors that may support improved disease and improve the management of her care such as diet, exercise, medication, glucose control, and treatment of diabetes in general. The factors associated with self-efficacy is a family support and motivation. The purpose of this study was to determine the relationship between motivation and family support for self-efficacy in patients with type 2 diabetes research method used survey method with cross sectional approach. Sample was taken by using accidental sampling. Instrument used was questionnaire. Analysis conducted through univariate analysis using frequency distribution and bivariate analysis using chi-square test. The results showed that of the 200 samples, 46.5% of respondents have a poor motivation, 45.0% respondeng have less family support and 70.0% had poor self-efficacy. Analysis using the chi-square shows the relationship between motivation p = 0.048 (OR = 1.966; 95% CI = 1.966 to 3.676), and family support p = 0.044 (OR = 2.000; 95% CI = 1.064 to 3.758) on the efficacy of self. DM patients is expected to increase self-efficacy that either it can keep blood sugar within normal range.

Literatur : 60 (1994-2015)

(3)

3 1. PENDAHULUAN

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang berlangsung kronik progresif, dengan manifestasi gangguan metabolisme glukosa dan lipid, disertai komplikasi kronik penyempitan pembuluh darah, dengan akibat terjadinya kemunduran fungsi sampai kerusakan organ-organ tubuh (Darmono, 2007).

Pada pasien DM, kemampuan tubuh untuk bereaksi dengan insulin dapat menurun, keadaan ini dapat menimbulkan komplikasi baik akut maupun kronik. Komplikasi akut termasuk hipoglikemia, diabetes ketoasidosis, dan hiperglikemia hiperosmolar koma nonketotik (Smeltzer dan Bare, 2010). Komplikasi DM kronik bisa mengenai makrovaskular (rusaknya pembuluh darah besar) dan mikrovaskular (rusaknya pembuluh darah kecil). Komplikasi makrovaskular meliputi penyakit seperti serangan jantung, stroke dan insufisiensi aliran darah ke tungkai, sedangkan komplikasi mikrovaskular meliputi kerusakan pada mata (retinopati) yang menyebabkan kebutaan, kerusakan pada ginjal (nefropati) yang berakhir pada gagal ginjal, dan juga kerusakan pada syaraf (neuropati) yang berakibat pada gangguan kaki diabetes sampai kemungkinan terjadinya amputasi pada tungkai (WHO, 2015).

Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu menuliskan beberapa permasalahan emosional yang sering dialami penderita diabetes antara lain penyangkalan (denial) akan penyakit diabetes sehingga diabetes cenderung enggan menerapkan pola hidup sehat, obsesitas atau cenderung sangat memperhatikan pola makan, marah dan frustrasi karena begitu banyak pantangan atau merasa telah menjalani berbagai jenis terapi namun tidak terjadi perubahan kadar gula darah yang signifikan, takut akan komplikasi dan risiko kematian, jenuh meminum obat yang harus dikonsumsi seumur hidup, atau bahkan mengalami depresi (Semiardji, 2009).

Pada dasarnya penderita diabetes tidak hanya membutuhkan dukungan sosial, tetapi juga memiliki keyakinan dari dalam diri sendiri untuk sembuh dari penyakitnya. Hasil dari penelitian Rahayu, Lestari, Purwandari (2006) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan perawatan diabetes melitus diantaranya adalah efikasi diri. Keyakinan seseorang bahwa ia mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah self efficacy.

Menurut Pender (1996, dalam Tomey dan Alligood, 2006), efikasi diri adalah keyakinan individu akan kemampuannya untuk mengatur dan melakukan perilaku yang mendukung kesehatannya berdasarkan pada tujuan dan harapan yang diinginkannya. Efikasi diri mempengaruhi bagaimana seseorang berfikir, merasa, termotivasi diri sendiri dan bertindak. Efikasi diri pada pasien DM tipe II berfokus pada keyakinan pasien untuk mampu melakukan perilaku yang dapat mendukung perbaikan penyakitnya dan meningkatkan manajemen perawatan dirinya seperti diet, latihan fisik, medikasi, kontrol gula, dan perawatan DM secara umum (Wu, 2006).

Faktor-faktor yang berhubungan dengan efikasi diri adalah, jenis kelamin, status sosial ekonomi, status pernikahan, tingkat pendidikan, jenis kelamin, usia,

(4)

4

lama menderita DM, dukungan keluarga, depresi dan motivasi. Faktor tersebut diperkuat oleh hasil penelitian (Kusuma,2012) yaitu ada hubungan antara dukungan keluarga dengan efikasi diri dan ada hubungan antara motivasi dengan efikasi diri. Responden yang memiliki motivasi baik berpeluang 4,315 kali untuk memiliki efikasi diri baik di banding dengan responden yang memiliki motivasi yang kurang baik setelah dikontrol oleh pendidikan, pekerjaan, dukungan keluarga dan depresi.

Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna untuk mencapai suatu tujuan (Marquis & Huston, 2006). Motivasi yang ada pada seseorang akan mewujudkan perilaku yang diarahkan untuk mencapai kepuasan (Swansburg & Swansburg, 1999). Tanpa adanya motivasi penderita DM akan mengalami ketidakpatuhan dalam menjalankan pengobatan DM yang berangsur lama (Bandura, 1997). Tidak hanya motivasi, dukungan keluarga pada pasien DM juga sangat penting.

Dukungan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang melindungi seseorang dari efek stress yang buruk (Kaplan, Sadock, 2007). Hubungan keluarga menurut Friedmant (2010) adalah sikap, tindakan penerimaan keluarga terhadap anggota keluarganya, berupa dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan emosional. Dukungan keluarga sebagai edukator sangat berperan penting untuk membantu memberikan informasi yang tepat pada penderita penyakit DM tentang penyakit, pencegahan, komplikasi, pengobatan dan pengelolaan DM didalamnya termasuk memberikan motivasi dan meningkatkan efikasi diri.

Berdasarkan data dari RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya pada tahun 2015 penyakit diabetes melitus termasuk 10 besar penyakit rawat jalan terbanyak yang mencapai 701 kasus dengan jumlah kunjungan 3.007 dan menempati urutan ke enam. Berdasarkan 10 penyakit terbanyak rawat jalan, penyakit diabetes melitus menempati urutan ke sembilan dengan jumlah kasus 187 yang diantaranya 9 orang atau 4,8% meninggal dunia yaitu 5 laki-laki dan 4 perempuan pada usia rata-rata 52 tahun dengan usia tertua 71 tahun (Profil RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya, 2015).

Adapun berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan peneliti kepada 30 orang pasien diabetes melitus tipe II pada tanggal 01-14 Agustus 2016 menunjukan sebanyak 17 responden (56,6%) penderita DM tipe II mempunyai motivasi diri yang kurang baik. Sejumlah 19 responden (63,3%) penderita DM tipe II mendapatkan dukungan keluarga yang kurang mendukung, dan sebanyak 22 responden (73,3%) penderita DM II mempunyai efikasi diri yang kurang baik.

Berdasarkan uraian tersebut peneliti bermaksud melakukan penelitian mengenai “Hubungan Antara Motivasi dan Dukungan Keluarga Terhadap Efikasi Diri Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya”.

2. METODE PENELITIAN

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini

(5)

5

adalah pasien DM tipe II di Klinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya pada bulan Januari-Mei tahun 2016 sebesar 414 orang, sample penelitian sebanyak 200 sample. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner yang sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas.

3. HASIL PENELITIAN a. Analisis Univariat

1) Motivasi

Tabel 3.1

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kategori Motivasi Diri Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya Tahun

2016. No Motivasi Frekuensi N Persentase (%) 1 Kurang baik 93 46,5% 2 Baik 107 53,5% Jumlah 200 100

Berdasarkan tabel 3.1 diketahui responden yang memiliki motivasi baik 107 orang (53,5%) sedangkan responden yang memiliki motivasi kurang baik 93 (46,5%).

2) Dukungan Keluarga

Tabel 3.2

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kategori Dukungan Keluarga Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Dr. Soekardjo Kota

Tasikmalaya Tahun 2016. No Keluarga Frekuensi N Persentase (%) 1 Kurang mendukung 90 45,0% 2 Mendukung 110 55,0% Jumlah 200 100

Berdasarkan tabel 3.2 diketahui bahwa responden yang memiliki dukungan keluarganya mendukung 110 orang (55,0%) sedangkan yang kurang mendukung 90 orang (45,0%).

(6)

6 3) Efikasi Diri

Tabel 3.3

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kategori Dukungan Keluarga Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di RSUD Dr. Soekardjo Kota

Tasikmalaya Tahun 2016.

No Efikasi Diri Frekuensi

N Persentase (%)

1 Kurang baik 140 70,0%

2 Baik 60 30,0%

Jumlah 200 100

Berdasarkan tabel 3.3 diketahui bahwa responden yang memiliki efikasi diri kurang baik 140 orang (70,0%) sedangkan responden yang memiliki efikasi diri baik 60% orang (30,0%).

b. Analisis Bivariat

1) Hubungan Antara Motivasi Terhadap Efikasi Diri Pada Pasien DM Tipe 2.

Tabel 3.4

Hubungan Motivasi Terhadap Efikasi Diri Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di RSUD dr. Soekardjo

Kota Tasikmalaya Tahun 2016

No Kategori Motivasi Efikasi Diri Total P OR 95% CI Kurang Baik Baik

N % N % N % 1 Kurang Baik 72 51,4 21 35,0 93 46,5 0,048 1,966 (1,052-3,676) 2 Baik 68 48,6 39 65,0 107 53,5 Jumlah 140 100 60 100 200 100

Berdasarkan tabel 3.4 diketahui bahwa proposi responden yang memiliki motivasi kurang baik lebih banyak ditemukan yang termasuk kedalam efikasi diri kurang baik (51,4%) disbanding yang motivasi baik. Hasil analisis pada tabel 3.4 diperoleh p value = 0,048 (OR = 1,966; 95% CI = 1,966 – 3,676). Nilai p value <0,05 sehingga dikatakan bahwa ada hubungan antara motivasi terhadap efikasi diri pada pasien

(7)

7

DM tipe II. Nilai Odds Ratio adalah 1,966 yang artinya bahwa responden yang motivasinya kurang baik berisiko memiliki efikasi yang kurang baik 1,966 kali lebih besar daripada yang memiliki motivasi baik.

2) Hubungan Antara Dukungan Keluarga Terhadap Efikasi Diri Pada Pasien DM Tipe 2.

Tabel 3.5

Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Efikasi Diri Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di RSUD dr. Soekardjo Kota

Tasikmalaya Tahun 2016 No Kategori Dukungan Keluarga Efikasi Diri Total P OR 95% CI Kurang Baik Baik N % N % N % 1 Kurang Mendukung 70 50,0 20 33,3 90 45,0 0,044 2,000 (1,064-3,758) 2 Mendukung 70 50,0 40 66,7 110 55,0 Jumlah 140 100 60 100 200 100

Berdasarkan tabel 3.5 diketahui bahwa proposi responden yang memiliki dukungan keluarga yang kurang mendukung lebih banyak ditemukan yang termasuk kedalam efikasi diri kurang baik (50,4%) disbanding keluarga yang mendukung.

Hasil analisis pada tabel 3.5 diperoleh p value = 0,044 (OR = 2,000; 95% CI = 1,064 – 3,758). Nilai p value <0,05 sehingga dikatakan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap efikasi diri pada pasien DM tipe II. Nilai Odds Ratio adalah 2,000 yang artinya bahwa responden yang dukungan keluarganya kurang mendukung berisiko memiliki efikasi yang kurang baik 2,000 kali lebih besar dari pada yang memiliki dukungan keluarga yang baik.

4. PEMBAHASAN

a. Hubungan Antara Motivasi Terhadap Efikasi Diri Pada Pasien DM Tipe 2

Berdasarkan analisis bivariat antara motivasi terhadap efikasi diri dengan menggunakan uji chi-square didapatkan hasil diperoleh p value = 0,048 (OR = 1,966; 95% CI = 1,966 – 3,676). Nilai p value <0,05 sehingga dikatakan bahwa ada hubungan antara motivasi terhadap efikasi diri pada pasien DM tipe II. Nilai Odds Ratio adalah 1,966 yang artinya bahwa responden yang motivasinya kurang baik berisiko memiliki efikasi yang kurang baik 1,966 kali lebih besar dari pada yang memiliki motivasi baik.

(8)

8

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ariani (2011) didapatkan bahwa responden yang memiliki motivasi yang baik menunjukkan efikasi diri yang baik. Responden yang memiliki motivasi yang baik mempunyai peluang 3,736 kali menunjukan efikasi diri yang baik dibandingkan dengan responden yang memiliki motivasi yang kurang baik.

Keberhasilan pengelolaan DM tergantung pada motivasi dan kesadaran diri pasien itu sendiri untuk melakukan manajemen perawatan diri yang dirancang untuk mengontrol gejala dan menghindari komplikasi. Motivasi merupakan salah satu proses pembentukan efikasi diri selain kognitif, afektif dan seleksi. Motivasi merupakan dorongan yang berasal dari dalam diri maupun dari luar individu untuk melakukan tugas tertentu guna mencapai suatu tujuan.

Motivasi pasien DM dapat berfluktuasi disebabkan oleh perawatan yang lama dan biaya yang besar sehingga menimbulkan masalah psikologis pada pasien seperti frustasi, cemas dan depresi. Masalah psikologis ini dapat mempengaruhi motivasi pasien untuk melakukan perawatan diri. Motivasi pasien rendah maka kemungkinan akan mempengaruhi efikasi diri pasien sehingga manajemen perawatan diri DM tidak dapat berjalan dengan baik ((Butler, 2002).

b. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Terhadap Efikasi Diri Pada Pasien DM Tipe 2.

Berdasarkan analisis bivariat antara dukungan keluarga terhadap efikasi diri dengan menggunakan uji chi-square didapatkan hasil diperoleh p value = 0,044 (OR = 2,000; 95% CI = 1,064 – 3,758). Nilai p value <0,05 sehingga dikatakan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap efikasi diri pada pasien DM tipe II. Nilai Odds Ratio adalah 2,000 yang artinya bahwa responden yang dukungan keluarganya kurang mendukung berisiko memiliki efikasi yang kurang baik 2,000 kali lebih besar dari pada yang memiliki dukungan keluarga yang baik.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ariani (2011) menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan efikasi diri (OR=4,970). Berdasarkan nilai OR dapat disimpulkan responden yang mendapat dukungan keluarga memiliki peluang 4,970 kali menunjukkan efikasi diri yang baik di banding responden yang kurang mendapatkan dukungan keluarga.

Dukungan keluarga diartikan sebagai bagian dari dukungan sosial, merupakan bentuk interaksi antar individu yang memberikan kenyamanan fisik dan psikologis melalui terpenuhinya kebutuhan akan afeksi serta keamanan. Hensarling (2009). Adanya dukungan keluarga sangat membantu pasien DM tipe 2 untuk dapat meningkatkan keyakinan akan kemampuan pasien dalam melakukan tindakan perawatan diri DM (Skarbek, 2006). Pasien DM tipe 2 yang

(9)

9

berada dalam lingkungan keluarga dan diperhatikan oleh anggota keluarganya akan dapat menimbulkan perasaan nyaman dan aman sehingga akan tumbuh rasa perhatian terhadap diri sendiri dan meningkatkan motivasi untuk melaksanakan perawatan diri.

5. SIMPULAN

a. Pasien DM tipe 2 di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya menunjukan dukungan keluarga yang mendukung sebanyak 55,0%.

b. Pasien DM tipe 2 di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya menunjukan motivasi yang kurang baik sebanyak 46,5%.

c. Ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap efikasi diri pada pasien DM tpe 2.

d. Pasien DM tipe 2 di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya menunjukan efikasi dirinya

e. Ada hubungan antara motivasi terhadap efikasi diri pada pasien DM tipe 2. 6. SARAN

a. Bagi RSUD dr. Soekarjo Kota Tasikmalaya meningkatkan komunikasi dengan pasien untuk memberikan informasi dan edukasi mengenai pentingnya efikasi diri yang baik pada pasien diabetes militus tipe 2.

b. Bagi pasien DM diharapkan dapat meningkatkan efikasi diri yang baik seperti melakukan olahraga minimal satu minggu sekali atau melakukan hal-hal yang disarankan oleh dokter dan keluarga agar tetap bisa menjaga gula darah dalam rentang yang normal.

c. Bagi peneliti selanjutnya dapat dilakukannya penelitian lebih lanjut dengan design penelitian yang berbeda mengenai faktor lain yang dapat menyebabkan kurang baiknya efikasi diri pada pasien diabetes militus tipe 2.

DAFTAR PUSTAKA

Bandura, A. (1997). Self-efficacy:the exercise control: The Exercise Of Control. New York: W.H Freeman And Company.

Darmono. (2007). Pengantar Pola Hidup Klien Diabetes untuk Mencegah Komplikasi Kerusakan Organ-Organ Tubuh.

Friedman, M.M, Bowden, V.R, dan Jones, E.G. (2010). Buku ajar keperawatan keluarga: Riset, teori, dan praktik, alih bahasa. Akhir Yani S. Hamid dkk; ED 5. Jakarta:EGC.

Henni Kusuma. (2012). Hubungan Antara Motivasi Dengan Efikasi Diri Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Persada Salatiga. Jurnal Keperawatan Medikal Bedah. Vol.1 No.2. November 2013; 132-141.

(10)

10

Kaplan & Sadock. (2007). Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Psikiatri Klinis. Edisi VII. Jilid 2. Jakarta: Binarupa Aksara

Marquis, B.L, & Huston, C.J., (2006). Leadership roles and management function in nursing: Theory and application (5thed). Philadelphia: Lipipincott William & Wilkins.

Semiardji. G. (2009). Stres Emosional pada penyandang diabetes. Penatalaksanaan Diabetes Terpadu Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Smeltzer, S & Bare,B. (2010). Buku Ajar Keperawatan Bedah II, Jakarta: EGC. Swanburg, R.C & Swanburg R.J. (1999). Introductory management and

leadership for nurse (2nd ed). Boston: Jones and Bartlett Publisher.

Tomey, A. M., & Alligood, M, R. (2006). Nursing Theories And Their Work. USA: Mosby.

Wu, S.F.V., Courtney, M., Edward. H., McDowell, J., Shortridge-Bagget, L.M., & Chang, P.J. (2006) Self-Efficacy, Outcome Expectaron And Self Care Behaviour In People With Type Diabetes In Taiwan.

Referensi

Dokumen terkait

Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan motivasi melaksanakan diet pada pasien diabetes mellitus rawat jalan di RSUD Dr.. Bagi RSUD

judul “ Hubungan Pengetahuan Responden dan Dukungan Keluarga dengan Motivasi Pelaksanaan Diet Rendah Garam pada Pasien Hipertensi di

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan pasien dan dukungan keluarga dengan motivasi pelaksanaan diet rendah garam pada pasien hipertensi di

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dan dukungan orang tua dengan motivasi belajar pada siswa SMA; Hubungan antara efikasi diri dengan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dan dukungan orang tua dengan motivasi belajar pada siswa SMA; Hubungan antara efikasi

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN, ASUPAN KARBOHIDRAT DAN SERAT DENGAN PENGENDALIAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PENDERITA.. DIABETES MELITUS TIPE II RAWAT JALAN DI

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan pasien dan dukungan keluarga dengan motivasi pelaksanaan diet rendah garam pada pasien hipertensi di

Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan motivasi melaksanakan diet pada pasien diabetes mellitus rawat jalan di RSUD Dr.. Bagi RSUD