BAB II
LANDASAN TEORITIS A.Kajian Teori
1. Keterampilan Menyimak
a. Pengertian Keterampilan Menyimak
Keterampilan menyimak adalah suatu bentuk keterampilan barbahasa dan bersifar reseptif. Pada waktu proses pembelajaran, keterampilan ini jelas mendominasi aktivitas siswa di banding dengan ativitas lainnya.1
Keterampilan menyimak adalah aktivitas atau kegiatan yang paling awal dilakukan oleh anak manusia bila dilihat dari proses pemerolehan dari keterampilan berbahasa”. Sebelum anak dapat melakukan berbicara, membaca, apalagi menulis, kegiatan atau aktivitas menyimaklah yang pertama dilakukan. Secara berturut- turut pemerolehan keterampilan berbahasa itu pada umumnya di mulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan terakhir menulis.2
Menyimak dalam kehidupan sehari- hari sangatlah penting karena dapat memperoleh informasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Begitu juga di sekolah menyimak mempunyai peranan penting karena menyimak siswa dapat menambah ilmu, menerima, dan menghargai pendapat orang lain.
1 Iskandarwassid, Dadang Sunendar, 2008, Strategi Pembelajaran Bahasa, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, hal 227
2 Slamet, 2008, Dasar-Dasar Keterampilan Berbahasa Indonesia, Surakarta: LPP UNS dan UNS Press, hal 2-3
Kegiatan menyimak dapat dilakukan oleh seseorang dengan bunyi bahasa sebagai sasarannya, sedangkan mendengarkan sasarannya dapat berupa bunyi apa saja. Itulah salah satu ciri khas yang ada dalam kegiatan menyimak. Selain itu, kegiatan menyimak dilakukan dengan sengaja, atau terencana, dan ada usaha untuk memahami atau menikmati apa yang disimaknya.
Oleh sebab itu, menurut teori di atas bahwa keterampilan menyimak merupakan kegiatan awal yang dilakukan oleh anak manusia sebelum anak pandai berbicara,membaca, dan apalagi menulis. Jadi sebelum berbicara, membaca, menulis aktivitas menyimaklah yang paling utama dilakukan.
Keterampilan menyimak adalah suatu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif, pada waktu proses pembelajaran keterampilan ini jelas mendominasi aktivitas siswa atau mahasiswa dibanding dengan keterampilan lainnya termasuk keterampilan berbicara. Namun keterampilan ini baru diakui sebagai komponen utama dalam pembelajaran berbahasa pada tahun 1970-an yang ditandai oleh munculnya teori total physical response (TPS) dari james Asher, the natural Approach, dan silent period nya. Ketiga teori ini menyatakan bahwa menyimak bukanlah suatu kegiatan satu arah. Keterampilan menyimak ialah proses psikomotorik untuk menerima gelombang suara melalui telinga dan mengirimkan implus-implus tersebut ke otak. Namun, proses tadi hanyalah suatu permulaan dari suatu proses interaktif
ketika otak bereaksi terhadap impuls-impuls tadi untuk mengirimkan sejumlah mekanisme kognitif dan afektif yang berbeda.
Kurikulum yang di pakai di kelas V pada pembelajaran Bahasa Indonesia adalah kurikulum KTSP, pada tahun ajaran 2016/2017 SDN 07 Pasar Salido pernah memakai kurikulum 2013 tapi pembelajaran kurang efektif, guru tidak bisa menerapkan kurikulum 2013 ini, dan begitu juga dengan peserta didik banyak yang tidak paham dalam belajar. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SDN 07 pasar salido sekarang mereka memakai kurikulum KTSP dan pembelajaran jauh lebih maksimal, dalam penelitian yang saya lakukan saya tertarik menggunanakan model Kooperatif Skript, yang mana peserta didik disuruh berpasangan di depan kelas dalam membacakan teks yang telah di bagikan oleh guru. Dan siswa kelas V kelihatan semangat dalam belajar dan tidak satu orang pun yang keluar masuk kelas. 3
b. Jenis-Jenis Menyimak
Aktivitas menyimak tidak selalu menyimak pembicaraan orang lain. Adakalanya seseorang menyimak apa yang dikatakan oleh dirinya sendiri atas dasar yang di simaknya. Cara atau taraf aktivitas menyimak akan mempengaruhi kedalaman dan keluasan hasil simakan. Atas dasar cara penyimakan ini, ada penyimakan bertaraf rendah dan bertaraf tinggi. Menyimak bertaraf rendah, penyimak baru sampai pada taraf memberikan dorongan, perhatian yang bersifat nonverbal, misalnya
mengangguk, tersenyum, ucapan- ucapan pendek “ya”, “setuju”, dan sebagainya. Pada penyimak taraf tinggi, penyimak tidak hanya sekedar memberikan dorongan, anggukan, dan sebagainya, tetapi yang bersangkutan kembali mengulang isi bahan simakan.4
Berdasarkan taraf hasil simakan tersebut dikenal Sembilan jenis menyimak. Kesembilan jenis menyimak tersebut adalah:
1) Menyimak tanpa mereaksi, penyimak mendengar sesuatu berupa suara atau teriakan, namun yang bersangkutan tidak memberikan reaksi apa- apa. Suara masuk ke telinga kiri keluar dari telinga kanan. 2) Menyimak terputus-putus. Penyimak sebentar menyimak, sebentar tidak menyimak. Kemudian meneruskan menyimak lagi dan seterusnya. Pikiran penyimak bercabang tidak terpusat kepada bahan simakan.
3) Menyimak terpusat. Pikiran penyimak terpusat pada sesuatu, misalnya pada aba-aba, untuk mengetahui bila saatnya mengerjakan sesuatu.
4) Menyimak pasif. Menyimak hampir sama dengan menyimak tanpa mereaksi. Dalam menyimak pasif sudah ada reaksi walaupun sedikit. 5) Menyimak dangkal. Penyimak hanya menangkap sebagian isi
simakan. Bagian-bagian yang tidak penting tidak disimak, mungkin karena sudah tahu, menyetujui atau menerima.
4 Henry Guuntur Tarigan, 1986, Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Angkasa, hal 5
6) Menyimak untuk membandingkan. Penyimak, menyimak sesuatu pesan, kemudian membandingkan isi pesan itu dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak yang relevan.
7) Menyimak organisasi materi. Penyimak berusaha mengetahui organisasi materi yang di sampaikan pembicara, ide pokoknya beserta detail penunjangnya.
8) Menyimak kritis. Penyimak menganalisis secara kritis terhadap materi yang di sampaikan pembicara, bila diperlukan, penyimak mendata atau keterangan terhadap pernyataan yang disampaikan pembicara.
9) Menyimak kreatif dan aspiratif. Penyimak memberikan response mental dan fisik yang asli terhadap bahan simakan yang akan diterima.
Menyimak dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting karena dapat memperoleh informasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Begitu juga di sekolah menyimak mempunyai peranan penting karena menyimak peserta didik dapat menambah ilmu, menerima dan menghargai pendapat orang lain.
Setiap guru harus menyadari serta benar-benar memahami bahwa, menyimak dan membaca berhubungan erat karena keduanya merupakan sarana untuk menerima informasi dalam kegiatan komunikasi, perbedaannya terletak dalam jenis komunikasi, menyimak berhubungan dengan komunikasi lisan, sedangkan membaca berhubungan dengan komunikasi
tulis. Dalam hal tujuan keduanya mengandung persamaan yaitu memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, dan memahami makna komunikasi.
Kegiatan berbahasa manusia yang paling mudah dikenali adalah bahasa lisannya, komunikasi verbal, dan berbicara merupakan komunikasinya yang paling efektif dan efisien. Walaupun begitu, seseorang baru dikatakan sebagai pembicara kalau ada pendengarnya, dan sebaliknya
seseorang bisa menjadi pendengar jika ada pembicaranya.5
c. Tujuan Menyimak
Memang tujuan orang menyimak sesuatu itu beraneka ragam, antara lain:
1) Ada orang yang menyimak dengan tujuan utama agar dia dapat memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran pembicara, dengan perkataan lain, dia menyimak untuk belajar.
2) Ada orang yang menyimak dengan penekanan pada penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang diperdengarkan atau dipagelarkan (terutama sekali dalam bidang seni), pendeknya, dia menyimak untuk menikmati keindahan audial.
3) Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat menilai sesuatu yang dia simak itu (baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngawur, logis-tak logis, dan lain-lain): singkatnya, dia menyimak untuk mengevaluasi.
4) Ada orang yang menyimak agar dia dapat menikmati serta menghargai sesuatu yang disimaknya itu (misalnya, pembicaraan cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel, dan perdebatan): pendek kata, orang itu menyimak untuk mengapresiasi materi simakan.
5) Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, ataupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat. Banyak contoh dan ide yang diperoleh dari sang pembicara dan semua ini merupakan bahan penting dan sangat menunjang dalam mengkomunikasikan ide-idenya sendiri.
55 Slamet, 2008, Dasar-Dasar Keterampilan Berbahasa Indonesia, Surakarta: LPP UNS UNS Press, h. 13
6) Ada pula orang yang menyimak dengan maksud dan tujuan agar dia dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat, mana bunyi yang membedakan arti, mana bunyi yang tidak membedakan arti, biasanya ini terlihat nyata pada seseorang yang sedang belajar bahasa asing yang asyik mendengarkan ujaran pembicara asli.
7) Ada lagi orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat memecahkan masalah secara kreatif dan analisis, sebab dari pembicara, dia mungkin memperoleh banyak masukan berharga.
8) Selanjutnya ada lagi orang yang tekun menyimak pembicara untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini dia ragukan dengan perkataan lain, dia menyimak secara persuasif.6
Delapan tujuan menyimak: 1) Menyimak untuk meyakinkan 2) Menyimak untuk belajar 3) Menyimak untuk menikmati 4) Menyimak untuk mengevaluasi 5) Menyimak untuk mengapresiasi
6) Menyimak untuk mengomunikasikan ide-ide 7) Menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi 8) Menyimak untuk memecahkan masalah7
Tujuan menyimak adalah menangkap, memahami atau menghayati pesan, ide atau gagasan yang tersirat dalam bahan simakan. tujuan yang bersifat umum dapat dibagi menjadi beberapa aspek yang ditekankan perbedaan penekanan pada aktivitas menyimak menyebabkan tujuan yang berbeda pula.8
Gary T. Hunt menyatakan bahwa tujuan menyimak sebagai berikut: 1) Untuk memperoleh informasi yang bersangkut paut dengan
pekerjaan/ profesi.
2) Agar menjadi lebih efektif dalam hubungan antar pribadi dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di tempat bekerja, dan di dalam kehidupan mayarakat.
6
Op. Cit,Iskandarwassid, Dadang Sunendar, hal 283 7 Op, Cit, Henry Guntur Tarigan, hal 31-34
3) Untuk mengumpulkan data agar dapat membuat kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal, dan
4) Agar dapat memberikan respons yang tepat terhadap segala sesuatu yang di dengar.9
2. Menyimak
a. Pengertian Menyimak
Menyimak adalah keterampilan yang pertama kali dipelajari dan dikuasai manusia. Sejak manusia bayi, bahkan sejak dalam kandungan sang ibu, kita sudah mulai belajar manyimak. Dilanjutkan ketika terlahir ke muka bumi, proses-belajar menyimak atau mendengarkan itu terus-menerus kita lakukan dengan mendengarkan-merekam terus terus-menerus setiap kata-kata merdu dari ayah bunda kita.10
Empat fungsi utama menyimak, antara lain: 1) Agar dapat memberikan respon yang tepat.
2) Memperoleh informasi yang berkaitan dengan profesi.
3) Mengumpulkan data agar dapat membuat keputusan yang masuk akal.
4) Membuat hubungan antar pribadi lebih efektif.
Memang, tujuan orang menyimak sesuatu itu beraneka ragam, antara lain:
1) Ada orang yang menyimak dengan tujuan utama agar dia dapat memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran pembicara dengan perkataan lain, dia menyimak untuk belajar.
9Op, Cit, Slamet, Hal 13
2) Ada orang yang menyimak dengan penekanan pada penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang diperdengarkan atau dipagelarkan (terutama sekali dalam bidang seni), pendeknya, dia menyimak untuk menikmati keindahan audial.
3) Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat menilai sesuatu yang dia simak itu (baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngawur, logis-tak logis, dan lain-lain): singkatnya, dia menyimak untuk mengevaluasi.
4) Ada orang yang menyimak agar dia dapat menikmati serta menghargai sesuatu yang disimaknya itu (misalnya, pembicaraan cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel, dan perdebatan): pendek kata, orang itu menyimak untuk mengapresiasi materi simakan.
5) Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, ataupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat. banyak contoh dan ide yang diperoleh dari sang pembicara dan semua ini merupakan bahan penting dan sangat menunjang dalam mengkomunikasikan ide-idenya sendiri.
6) Ada pula orang yang menyimak dengan maksud dan tujuan agar dia dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat, mana bunyi yang membedakan arti, mana bunyi yang tidak membedakan arti, biasanya
ini terlihat nyata pada seseorang yang sedang belajar bahasa asing yang asyik mendengarkan ujaran pembicara asli.
7) Ada lagi orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat memecahkan masalah secara kreatif dan analisis, sebab dari pembicara, dia mungkin memperoleh banyak masukan berharga. 8) Selanjutnya ada lagi orang yang tekun menyimak pembicara untuk
meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini dia ragukan dengan perkataan lain, dia menyimak secara persuasif.
Delapan tujuan menyimak: 1) Menyimak untuk meyakinkan 2) Menyimak untuk belajar 3) Menyimak untuk menikmati 4) Menyimak untuk mengevaluasi 5) Menyimak untuk mengapresiasi
6) Menyimak untuk mengomunikasikan ide-ide 7) Menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi 8) Menyimak untuk memecahkan masalah11
Tujuan menyimak adalah menangkap, memahami atau menghayati pesan, idea tau gagasan yang tersirat dalam bahan simakan. tujuan yang bersifat umum dapat dibagi menjadi beberapa aspek yang ditekankan
perbedaan penekanan pada aktivitas menyimak menyebabkan tujuan yang berbeda pula.
Gary T. Hunt menyatakan bahwa tujuan menyimak sebagai berikut: 1) Untuk memperoleh informasi yang bersangkut paut dengan
pekerjaan/ profesi.
2) Agar menjadi lebih efektif dalam hubungan antar pribadi dalam kehidupan sehari-hari di rumah, di tempat bekerja, dan di dalam kehidupan mesyarakat.
3) Untuk mengumpulkan data agar dapat membuat kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal, dan
4) Agar dapat memberikan respons yang tepat terhadap segala sesuatu yang di dengar.12
Dari pengamatan yang dilakukan terhadap kegiatan menyimak pada para siswa sekolah dasar, Ruth G. Strickland menyimpulkan adanya sembilan tahap menyimak, mulai dari yang tidak berketentuan sampai pada yang amat bersungguh-sungguh. Kesembilan tahap itu, dapat dilukiskan sebagai berikut:
1) Menyimak berkala, yang terjadi pada saat-saat sang anak merasakan keterlibatan langsung dalam pembicaraan mengenai dirinya.
2) Menyimak dengan perhatian dangkal karena sering mendapat gangguan dengan adanya selingan- selingan perhatian kepada hal-hal diluar pembicaraan.
3) Setengah menyimak karena terganggu oleh kegiatan menunggu kesempatan untuk mengekpresikan isi hati serta mengutarakan apa yang terpendam dalam hati sang anak.
12 Op. Cit, Slamet. Hal 2-7
4) Menyimak serapan karena sang anak keasyikan menyerap atau mengabsorpsi hal-hal yang kurang penting, hal ini merupakan penjaringan pasif yang sesungguhnya.
5) Menyimak sekali- kali, menyimpan sebentar-sebentar apa yang disimak: perhatian secara seksama berganti dengan keasyikan lain: hanya memperhatikan kata-kata sang pembicara yang menarik hatinya saja.
6) Menyimak asosiatif, hanya mengingat pengalaman-pengalaman pribadi secara konstan yang mengakibatkan sang penyimak benar-benar tidak memberikan reaksi terhadap pesan yang disampaikan sang pembicara.
7) Menyimak dengan reaksi berkala terhadap pembicara dengan membuat komentar ataupun mengajukan pertanyaan.
8) Menyimak secara seksama, dengan sungguh-sungguh mengikuti jalan pikiran sang pembicara.
9) Menyimak secara aktif untu mendapatkan serta menemukan pikiran, pendapat, dan gagasan sang pembicara.
Menyimak adalah suatu kegiatan yang merupakan suatu proses. Dalam proses menyimak pun terdapat tahap-tahap, antara lain:
1) tahap mendengar: dalam tahap ini kita baru mendengarkan segala sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atas pembicaraannya. Jadi, kita masih berada dalam tahap hearing.
2) Tahap memahami: setelah kita mendengar maka ada keinginan bagi kia untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan oleh pembicara. Kemudian, sampailah kita dalam tahap understanding.
3) Tahap menginterpretasi: penyimak yang baik, yang cermat dan teliti, belum puas kalau hanya mendengar dan memahami isi ujaran sang pembicara, dia ingin menafsirkan atau ingin menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam ujaran itu: dengan demikian, sang penyimak telah tiba pada tahap interpreting.
4) Tahap mengevaluasi: setelah memahami serta dapat menafsir atau menginterpretasikan isi pembicaraan, penyimakpun mulailah menilai atau mengevaluasi pendapat serta gagasan pembicara mengenai keunggulan dan kelemahan serta kebaikan dan kekurangan pembicara, dengan demikian, sudah sampai pada tahap evaluating.
5) Tahap menanggapi: tahap ini merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak. Penyimak menyambut, mencamkan, dan menyerap serta menerima gagasan atau ide yang dikemukakan oleh pembicara dalam ujaran atau pembicaraannya. Lalu penyimakpun sampailah pada tahap menanggapi. (responding)13
Jadi, menyimak adalah kegiatan mendengarkan, memahami bunyi bahasa, menginterprestasikan, mengevaluasi, mengidentifikasi, di dalam bahan simakan.14
b. Menyimak Menurut Surat Al- A’raf 204
Artinya : “Dan apabila dibacakan Al Qur`an, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.15
Berdasarkan penjelasan ayat di atas dapat di simpulkan bahwa apabila seseorang membaca Al-Qu’ran atau ayat-ayat Allah maka kita wajib untuk mendengar dan menyimaknya, sama halnya apabila seseorang berbicara atau membaca baik itu pendidik atau teman kita juga
13 Op. Cit, Henry Guntur Tarigan, hal 31-34 14
Husni Rahim, 1998, Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra di Kelas Rendah, Jakarta:Departemen Agama RI, hal 11
harus menyimak apa yang disampaikannya agar kita paham dan mengerti, dan untuk memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran seseorang.
Dapat juga dikatakan bahwa ayat yang lalu berbicara tentang fungsi dan keistimewaan Al-Quran serta rahmad yang dikandungnya.karena itu sangat wajar jika ayat ini memerintahkan agar percaya dan mengagungkan wahyu ilahi dan karena itu apabila dibacakan Al-Quran oleh siapapun, maka bersopan santunlah terhadapnya kaena ia merupakan firman-firrman Allah serta petunjuk untuk kamu semua dan karena itu pula dengarkanlah ia dengan tekun lagi bersungguh-sungguh, dan perhatikanlah dengan tenang tuntutan-tuntutannya agar kamu mendapat rahmad.
Kata anshitu/ dipahami oleh pakar-pakar bahasa dalam arti mendengar sambil tidak berbicara. Karena itu, diterjemahkan dengan perhatikan dengan tenang perintah ini, setelah sebelumnya ada perintah mendengar dengan tekun. Ini menunjukkan betapa mendengar dan memperhatikan Al-Quran merupakan sesuatu yang sangat penting. Namun demikian, para ulama sepakat memahami perintah tersebut bukan dalam arti mengharuskan setiap yang mendengar Al-Quran harus benar-benar tekun mendengarnya.
c. Manfaat Menyimak
Menurut Setiawan manfaat menyimak sebagai berikut: 1) Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang
informatif yaitu memberikan masukan-masukan tertentu yang menjadikan kita lebih berpengalaman.
2) Meningkatkan intelektualitas serta memperdalam penghayatan keilmuan dan khazanah ilmu kita.
3) Memperkaya kosakata kita, menambah perbendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu, dan puitis. Orang yang banyak menyimak komunikasinya menjadi lebih lancar dan kata-kata yang digunakan lebih variatif.
4) Memperluas wawasan, meningkatkan penghayatan hidup, serta membina sifat terbuka dan objektif.
5) Meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial.
6) Meningkatkan citra artistik jika yang kita simak itu merupakan bahan simakan yang isinya halus dan bahasanya. Banyak menyimak dapat menumbuh suburkan sikap apresiatif, sikap menghargai karya atau pendapat orang lain dan kehidupan ini serta meningkatkan selera estetis kita. 7) Menggugah kreativitas dan semangat mencipta kita untuk
menghasilkan ujaran-ujaran dan tulisan-tulisan yang berjati diri. Jika banyak menyimak, kita akan mendapatkan ide–ide yang cemerlang dan segar, pengalaman hidup yang berharga. Semua itu akan mendorong kita untuk giat berkarya dan kreatif.
8) Semua manfaat tersebut diharapkan diperoleh dalam kegiatan menyimak. Namun manfaat utama yang diperoleh adalah menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemanusiaan serta meningkatkan dan menumbuhkan sikap apresiatif. Hal ini dikarenakan menyimak yang dilaksanakan adalah menyimak cerita. Cerita merupakan salah satu karya sastra yang perlu diapresiasi dan diambil nilai-nilainya.16
3. Pengertian Model Kooperatif Skript
Menurut Lambiotte, dkk Kooperatif skript adalah salah satu strategi pembelajaran dimana siswa bekerja secara berpasangan dan bergantian secara lisan dalam mengihtisarkan bagian-bagian materi yang dipelajari.17
Kooperatif skript merupakan model belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian
16
Op,Cit, Henry Guntur Tarigan, hal 3
17 Miftahul Huda, 2013, Model-Model Pengajaran Dan Pembelajaran Isu-Isu Metodis Dan Pradigmatis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal 213
dari materi yang dipelajari. Jadi, model pembelajaran Kooperatif skript merupakan penyampaian materi ajar yang di awali dengan pemberian wacana atau ringkasan materi ajar kepada siswa yang kemudian diberikan kesempatan kepada siswa untuk membacanya sejenak dan memberikan/ memasukkan ide-ide atau gagasan-gagasan baru ke dalam materi ajar yang diberikan guru, lalu siswa diarahkan untuk menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dalam materi yang ada secara bergantian sesama pasangannya masing-masing.18
Model pembelajaran Kooperatif skript adalah penyampaian materi ajari yang diawali dengan pemberian wacana atau ringkasan materi ajar kepada siswa yang kemudian diberikan kesempatan kepada siswa untuk membacanya sejenak dan memberikan/ masukan ide-ide atau gagasan-gagasan baru ke dalam meteri ajar yang diberikan guru, lalu siswa diarahkan untuk menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dalam materi yang ada secara bergantian sesama pasangannya masing-masing.19
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Kooperatif skriptadalah model dimana anak disuruh maju ke depan kelas secara berpasangan masing-masing 2 orang untuk mengikhtisarkan materi-materi yang telah dipelajari.
a. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Skript
Langkah-langkah model pembelajaran Kooperatif Skript adalah sebagai berikut:
18 Istarani, 2011, 58 Model Pembelajaran Inovatif, Medan: Media Persada, hal 15 19 Ibid ,hal 15
1) Pendidik membagi peserta didik ke dalam kelompok- kelompok berpasangan
2) Pendidik membagi wacana/materi untuk dibaca dan dibuat ringkasannya.
3) Pendidik dan peserta didik menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4) Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin dengan memasukkan ide-ide pokok ke dalam ringkasannya. Selama proses pembacaan, siswa-siswa lain harus menyimak/ menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat dan menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkannya dengan materi sebelumnya atau dengan meteri lainnya.
5) Peserta didik bertukar peran, yang semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. 6) pendidik dan peserta didik melakukan kembali kegiatan
seperti di atas.
7) pendidik dan peserta didik bersama-sama membuat kesimpulan materi pelajaran.
8) Penutup.20
Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas yakni interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru. Dapat mendorong siswa untuk mengungkapkan ide-idenya secara verbal.
b. Kelebihan Model Kooperatif skript
Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan-kelebihanya dalam pembelajaran. Dan keunggulan inilah yang membantu guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Kelebihan model Kooperatif skript, sebagai berikut:
1) Dengan model pembelajaran ini, dengan sendirinya peserta didik dilatih untuk lebih teliti, tekun dan rajin, karena mereka sendirilah yang akan menyimpulkan materi yang diberikan.
2) Setiap peserta didik mendapat bagian dalam pembelajaran. 3) Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan
lisan.21
c. Kelemahan Model Kooperatif skript
1) Hanya bisa dipraktekkan pada mata pelajaran dan materi tertentu saja.
2) Hanya dilakukan dua orang, tidak melibatkan seluruh kelas sehingga interaksi hanya sebatas pada dua orang tersebut.
Oleh sebab itu menyimak dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan siswa dapat mempelajari materi yang lebih banyak dari siswa yang belajar sendiri. Dan siswa memperoleh sesuatu yang lebih dari aktivitas Kooperatif lain yang diberikan penjelasan secara rinci, siswa juga mendapatkan kesempatan mempelajari bagian lain dari materi yang yang tidak dipelajarinya
B. Kerangka Konseptual
22
22 Op, Cit,Henry Guntur Tarigan, Hal 5-6
Pembelajaran Menyimak
Kooperatif Skript
Pramenyimak
1. Menjelaskan kepada siswa tentang model pembelajaran yang akan kita ajarkan. 2. Menentukan materi
yang akan diajarkan,dan membagi siswa dalamber kelompok yang terdiri dari 2 orang. 3. Menetapkan siapa yang berperan sebagai pendengar atau penyimak. 4. Memberikan materi
tentang cerita pada anggota kelompok Saat menyimak Siswa membaca cerita dan membuat ringkasan, kemudian pembicara pertama membacakan ringkasannya selengkap mungkin dan memasukkan ide-ide pokok, sementara pendengar menyimak atau mengoreksi ide-ide pokok yang belum lengkap.
Pascamenyimak
Siswa tukar peran, semula sebagai pembicara di tukar menjadi penyimak, kemudian menyimpulkan isi bacaan dan mengikhtisarkan secara lisan didepan kelas.
Menyimak cerita tentang suatu peristiwa dan cerita pendek anak
Upaya Peningkatan Hasil Belajar keterampilan Meyimak Siswa Kelas V SDN 07 Pasar Salido Pesisir Selatan
Dalam pembelajaran menyimak dengan model Kooperatif skript ada tiga tahap yaitu:
Tahap pramenyimak siswa diberi penjelasan tentang model pembelajaran yang akan dilakukan dan aturan yang terdapat dalam pembelajaran dan menentukan materi yang akan diajarkan. Setelah itu siswa mengerti, guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yaitu terdiri dari 2 orang, dan menetapkan siapa yang berperan sebagai pendengar atau penyimak.
Pada saat menyimak guru memberikan materi tentang cerita pada seorang siswa atau kepada anggota kelompok. Kemudian siswa atau kelompok tersebut membaca cerita dan membuat ringkasan, sebagai pembicara pertama membaca ringkasannya selengkap mungkin dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya, sementara pendengar menyimak atau mengoreksi ide pokok yang belum lengkap.
Pascamenyimak siswa bertukar peran semula sebagai pembicara di tukar menjadi pendengar atau penyimak dan yang terakhir salah seorang siswa di suruh kedepan untuk membacakan ringkasan dan menentukan ide pokok ringkasan tersebut selengkap mungkin, siswa menyimpulkan isi bacaan atau ringkasannya dan guru menyempurnakan hasil ringkasan atau simakan.23
C. Hasil Penelitian relevan
Ada beberapa penelitan relevan yang telah dilakukan dengan model Kooperatif skriptyaitu:
23 Ibid, Hal 10
Penelitan yang dilakukan oleh Meli Amelia dengan judul peningkatan keterampilan berbicara melalui pembelajaran Kooperatif Skript pada peserta didik kelas V Sekolah Dasar Negeri 05 Air Dingin Kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok.
Penelitian yang dilakukan oleh Vani Oktaviyani dengan judul “Keefektifan metode Kooperatif Skript dalam pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas VII SMP Negeri 1 Manisrenggo ” penelitian yang dilakukan oleh Vani Oktaviyani juga mengalami peningkatan pada hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Manisrenggo. Nilai rata-rata semester 1 nya 65,62 setelah menggunakan model Kooperatif Skript nilai meningkat menjadi 70,32.
Penelitian yang dilakukan oleh Titin Masturoh (2012) dengan judul “Efektifitas penggunaan metode pembelajaran Kooperatif Skript terhadap hasil belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas IV SDN Sidorejo Lor 01 Salatiga tahun pelajaran 2011/2012 ” penelitian yang dilakukan oleh Titin Masturoh juga mengalami peningkatan pada hasil belajar peserta didik kelas IV SDN Sidorejo Lor 01 Salatiga. Nilai rata-rata semester 1 nya 68,67 setelah menggunakan model Kooperatif Skript nilai meningkat menjadi 73,33.
Penelitian yang dilakukan oleh Sohifatul Hayati pada tahun 2015 dengan judul “Penerapan metode Kooperatif Skript untuk meningkatkan hasil belajar membaca intensif pada siswa kelas III SDN Lebakgowah 03 kabupaten tegal”. Hasil penelitian dari Sohifatul Hayati antara lain :
1. Terdapat pengaruh kemampuan siswa dengan menerapkan Model Kooperatif Skript terhadap aktivitas lisan (oral) yaitu dalam menyimak teman yang membacakan wacana siswa dari pertemuan I sebanyak 56,67% dan pertemuan II sebanyak 76,67%.
2. Terdapat Kooperatif Skript pengaruh kemampuan siswa dengan menerapkan Model terhadap menyimak materi yang dibacakan dari pertemuan I sebanyak 66,67% dan pertemuan II 83,33%.
Berdasarkan penelitian relevan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan antara penelitian yang akan peneliti lakukan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wira Novia dan Sri Wahyuni. Perbedaan dengan penelitian sebelumnya adalah terletak pada Mata pelajaran dan kelas. Peneliti menggunakan model Kooperatif Skript pada pembelajaran Bahasa Indonesia SD, dengan judul “Peningkatan keterampilan menyimak peserta didik dengan menggunakan model Kooperatif Skript di kelas V SDN 07 Pasar Salido Pesisir Selatan”.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori yang telah disampaikan di atas maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:
1. Keterampilan menyimak peserta didik kelas V dalam aspek mendengarkan dapat ditingkatkan melalui model Kooperatif Skript di SDN 07 Pasar Salido Pesisir Selatan.
2. Keterampilan menyimak peserta didik kelas V dalam aspek memahami dapat ditingkatkan melalui model Kooperatif Skript di SDN 07 Pasar Salido Pesisir Selatan.