Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Disusun oleh:
Nama: Anung Wijatmoko
NIM: 049114026
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
"
#
vi
Anung Wijatmoko
049114026
Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran efikasi diri pelajar
SMA Kelas XII. Pada jenjang pendidikan tersebut pelajar dipenuhi dengan
berbagai tuntutan dalam bidang akademisnya. Tuntutan itu berupa pemenuhan
ujian akhir nasional (UAS) dengan standar nilai tertentu yang sudah ditetapkan
oleh pemerintah. Efikasi diri pelajar adalah keyakinan pelajar terhadap
kemampuan yang dimilikinya. Pelajar yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan
menganggap suatu tuntutan sebagai tantangan sehingga tidak merasa tertekan dan
dapat menyelesaikannya dengan maksimal sesuai dengan efikasi diirinya.
Subjek dalam penelitian ini adalah pelajar kelas XII SMA Bopkri I
Yogyakarta yang berjumlah 104 orang. Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah skala efikasi diri. Skala ini dibuat berdasarkan tiga dimensi efikasi diri,
yaitu : luas bidang
,
luas bidang
,
dan tingkat kekuatan. Skala efikasi diri diuji coba
pada pelajar kelas X SMA Bopkri 1 Yogyakarta dan menghasilkan reliabilitas
sebesar 0,921.
Hasil analisa data menunjukkan bahwa sebaran data normal. Data
penelitian dianalisa dengan statistik deskriptif dan menunjukkan bahwa subjek
penelitian memiliki efikasi diri yang tinggi karena mean empiriknya lebih tinggi
dari mean teoritiknya (138,64 > 127,5). Dimensi efikasi diri yang dominan adalah
dimensi tingkat kekuatan Hal itu ditunjukkan dari perbandingan antara mean
teoritik dan mean empirik, dalam dimensi tingkat kekuatan (48,71 > 42,5), luas
bidang (45,39 > 42,5), dan tingkat besaran (44,53 > 42,5). Hasil uji-t
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan efikasi diri pada pelajar
laki-laki dan perempuan p = 0,502 (p > 0,05 ). Pada analisa varian satu jalur juga
menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelas Bahasa, IPS, dan
IPA p = 0,069 (p > 0,05).
vii
YOGYAKARTA
Anung Wijatmoko
049114026
Psychology Faculty
Sanata Dharma University
Yogyakarta
Current research is aimed to investigate the description of the self efficacy
of the 3
rdgrade students in Senior High School. In that level of level, the students
get many demands of their academics. Those demands were to pass the National
Examination with the certain standard score that has been set by government. The
self efficacy of the students is the belief of the students toward the ability that
she/he has. The students with the high self efficacy will regard a demands as a
challenge, so she/ he will never feel frustrated and finish it’s maximally based on
his/ her self efficacy.
The subject of current research were 104 students of the third grade in
Bopkri I Senior High School in Yogyakarta. The instrument that has been used in
this research was the Self Efficacy scale. This scale was made based on the three
dimensions of the self efficacy. That were level, generality, and strength. The Self
Efficacy scale was examined used scores from the students of the class X of
Bopkri I Senior High School and resulted in the reliability about 0,921.
The results of the data analysis showed that the data
distribution
was
normal. The research data was analyzed was the descriptive statistic and showed
that the subjects of the research have high self efficacy because the empirical
mean is higher than its theoretical mean (138,64 > 127,5). The dominant
dimension of the self efficacy is the strength dimension. It can be seen from the
comparison between the theoretical mean and empirical mean, in the strength
dimension (48,71 > 42,5), generality (45,39 > 42,5), and level (44,53 > 42,5). The
results of the t-test showed there was no significant difference of the self efficacy
on girls and boys students p =0,502 (p > 0,05). The analysis one line of the
variance showed there is no significant difference between the Language class,
Social class, and Science class is p = 0,069 (p > 0,069).
ix
menyelesaikan skripsi yang berjudul “
Studi Deskriptif Efikasi Diri Pelajar
Kelas XII SMA Bopkri I Yogyakarta”.
Suatu proses yang cukup panjang telah penulis lewati dalam
menyelesaikan karya sederhana ini dan melibatkan banyak pihak terkait yang
memberikan dukungan, bantuan dan juga bimbingan yang sangat berarti bagi
penulis. Oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan
rasa terima kasih dengan tulus kepada;
1.
Bp. P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si.,
selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang telah memberikan ijin bagi
peneliti
untuk
melakukan ujicoba dan penelitian di
SMA Bopkri I
Yogyakarta
.
2.
Dra. Lusia Pratidarmanastiti, M. S., selaku dosen pembimbing skripsi
dan dosen pembimbing akademik yang telah dengan sabar
membimbing dan membantu penulis dengan memberi dorongan dan
saran selama proses penyusunan skripsi ini hingga dapat selesai
dengan baik, serta membimbing penulis selama menempuh studi di
Fakultas Psikologi, USD.
3.
Ibu A. Tanti Arini, M. Si dan bapak Agung Santoso, M. A yang telah
membimbing, memberi masukan dan saran untuk kemajuan skripsi
penulis.
x
Gandung, Pak Gik (Sekretariat) , mas Muji (Laboratorium) dan mas
Doni (Ruang baca) atas segala bantuan dan kesabaran dalam
membantu kelancaran penulis selama proses administrasi, kuliah dan
skripsi.
7.
Teman-teman kelas X dan kelas XII SMA Bopkri I Yogyakarta yang
telah membantu penulis mendapatkan data uji coba dan data penelitian
8.
Kedua orangtua dan kakakku, terimakasih atas semua kasih sayang,
cinta, duklmgan, semangat, doa dan kepercayaaran penuh yang
diberikan kepada penulis
9.
Terakhir dan terpenting dalam hidupku: Yesus Kristus My God. Pnjl
dan syukur penulis ucapkan atas cinta, berkat, rahmat, bimbingan dan
lindungan-Nya sehingga terselesaikannya skripsi ini.
10. Ternan-ternan satu angkatan (2004) cepat lulus cah.. perjuangan masih
panjang.. !!!
xi
Halaman Persetujuan Pembimbing
……….……….……..
ii
Halaman Pengesahan
……….………….….……….….……
iii
Halaman Persembahan ……….….……….….…
iv
Pernyataan Keaslian Karya
……….………….….……….……… v
Abstrak
………
vi
Abstract
………
vii
Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah
……….……… viii
Kata Pengantar
……….. ix
Daftar Isi
………...…………... xi
Daftar Tabel.
……….... xiv
Daftar Lampiran
……… xv
BAB I. PENDAHULUAN
………... 1
A.
Latar Belakang Masalah ……….. 1
B.
Rumusan Masalah
……….. 5
C.
Tujuan Penelitian
……….. 5
D.
Manfaat Penelitian
……….. 5
BAB II. DASAR TEORI
………. 6
A. Efikasi Diri
……..……… 6
B. Sumber Informasi Efikasi Diri
………. 7
1.
Pengalaman Pribadi
(Enactive Attainment)
………... 7
xii
1.
Kognitif
………... 9
2.
Motivasi ………... 9
3.
Afeksi
4.
Seleksi
………...
………...
10
10
D.
Dimensi Efikasi diri ……….……… 11
1.
Tingkat besaran (
Level)
………...
11
2.
Luas bidang (
Generality)
………...
11
3.
Tingkat kekuatan (
Strength)
……….
11
E.
Perkembangan Efikasi Diri
…….……… 12
F.
Pelajar SMA Bopkri I
…….……… 12
1.
Definisi Pelajar
…….……….……… 12
2.
Latar Belakang SMA Bopkri I
Yogyakarta
……… 13
3.
Sistem Penyelenggaraan Pendidikan
SMA Bopkri I Yogyakarta
………....……… 15
a.
Kurikulum
………. 15
b.
Kepelajaran
………. 15
G.
Efikasi Diri Pelajar Kelas XII
SMA Bopkri I Yogyakarta
………. 16
H.
Pertanyaan Penelitian
………. 18
xiii
D.
Subjek Penelitian
………. 20
E.
Metode dan Alat Pengumpulan Data
……...……….. 21
1.
Metode Pengumpulan Data
………….………. 21
2.
Alat Pengumpulan Data
………..………. 21
F.
Validitas dan Reliabilitas
………..……….. 27
G.
Teknik Analisis Data
………...……... 28
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
………..………. 30
A.
Persiapan Uji Coba Alat Penelitian
…….……… 30
B.
Persiapan Penelitian
……….……… 30
C.
Pelaksanaan Penelitian
……….………... 31
D.
Hasil Penelitian
……….……….. 32
1.
Deskripsi Data Penelitian
……..……….... 32
2.
Analisa Tambahan
……….……….
33
E.
Pembahasan
………..
35
BAB V. PENUTUP
……….………....
41
A.
Kesimpulan
……….…………...
41
B.
Saran ……….…………...
42
xiv
Tabel 2. Blue Print Skala Efikasi Diri
……….……… 24
Tabel 3. Sebaran Item Skala
Efikasi Diri Sebelum Uji Coba
………... 25
Tabel 4. Sebaran Item Skala
Efikasi Diri Setelah Uji Coba
………..……… 26
Tabel 5. Data Statistik Deskriptif
……… 32
Tabel 6. Deskripsi Hasil Uji-t
Berdasarkan Jenis Kelamin
…………..……….... 33
Tabel 7. Deskripsi Hasil Analisis Varian Satu Jalur
Berdasarkan Jurusan Kelas
……… 34
Tabel 8. Deskripsi Tambahan Analisis Varian Satu Jalur
Berdasarkan Jurusan Kelas
xv
Lampiran 02. Data Uji Coba Skala Efikasi Diri
……….…
47
Lampiran 03. Reliabilitas
………
65
Lampiran 04. Skala Efikasi Diri
………
68
Lampiran 05. Data Penelitian
………
73
Lampiran 06. Uji Normalitas
………
86
Lampiran 07. Data Deskriptif Efikasi Diri
………
88
Lampiran 08. Uji- T
……….……
90
Lampiran 09. Analisis Varian Satu Jalur
……….……
92
1
A.
Latar Belakang Masalah
Pelajar merupakan generasi muda yang berada pada jenjang
pendidikan sekolah menengah atas (Kamus Besar Bahasa Indonesia,
1990). Masa pendidikan dalam jenjang tersebut adalah masa ketika
seseorang beralih dari tahap perkembangan anak-anak menuju ke arah
tahap perkembangan remaja. Pada masa remaja, seorang individu telah
mencapai tahap operasional formal dalam kemampuan kognitif (Hurlock,
1980) sehingga remaja dituntut untuk mampu menyelesaikan dan
memandang masalah dari berbagai sudut.
sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan remaja
menyelesaikan
tugas akademik atau suatu permasalahan tidak hanya
dipengaruhi oleh potensi kognitif yang dimilikinya, namun juga
dipengaruhi oleh potensi afektif misalnya dalam hal ini efikasi diri.
Menurut Bandura (1986), seseorang yang memiliki efikasi diri
yang tinggi akan membangun lebih banyak kemampuan-kemampuan
melalui usaha-usaha mereka secara terus-menerus, sedangkan efikasi diri
yang rendah akan menghambat dan memperlambat perkembangan dari
kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan seseorang. Bandura juga
mengatakan bahwa individu dengan efikasi diri
yang rendah cenderung
percaya bahwa segala sesuatu sangat sulit dibandingkan keadaan yang
sesungguhnya sedangkan orang yang memiliki perasaan efikasi diri
yang
tinggi akan mengembangkan perhatian dan usahanya terhadap tuntutan
situasi dan dipacu oleh adanya rintangan sehingga seseorang akan
berusaha lebih keras. Hal tersebut dapat mendukung pencapaian akademik
pelajar karena dirinya akan berusaha dengan maksimal dan menganggap
setiap tugas yang diberikan menjadi tantangan dan bukan menjadi
hambatan bagi dirinya.
masa dewasa awal. Subjek dari penelitian itu adalah siswa kelas VI, VIII,
dan pelajar kelas X. Penelitian yang membahas secara khusus mengenai
efikasi diri pada remaja kelas XII SMA belum pernah dilakukan, padahal
masa pendidikan dikelas XII SMA juga merupakan bagian yang penting
bagi masa perkembangan pelajar itu selanjutnya. Hal itu dikarenakan pada
masa itu di Indonesia, pelajar mengalami banyak permasalahan aturan
mengenai kelulusan dengan suatu standar nilai tertentu dalam ujian akhir
nasional (UAN). Pada tahap ini juga merupakan masa yang penting karena
merupakan masa peralihan dari SMA menuju ke jenjang pendidikan
perguruan tinggi. Hal tersebut mengakibatkan penelitian mengenai efikasi
diri pada pelajar kelas III SMA menarik untuk diteliti.
Ada beberapa kasus yang terjadi akibat dari ketidak yakinan pelajar
terhadap kemampuan yang dimilikinya. Hal itu dapat terlihat dari
ketakutan seorang pelajar perempuan tidak lulus ujian sehingga
mengambil alternatif meminta bantuan dukun, namun alternatif yang
diambilnya mengakibatkan pelajar itu kehilangan keperawanannya
(http://www.tabloidnova.com). Pelajar mengelar doa bersama karena
kecemasan standar nilai UAN dan tidak diadakannya ujian susulan
(http://www.antara.co.id).
dilakukan. Penelitian ini mengambil subjek pelajar kelas XII SMA Bopkri
I yang heterogen atau dengan kata lain terdapat 2 jenis kelamin yaitu:
laki-laki dan perempuan. Perempuan merupakan sub-ordinasi dari laki-laki-laki-laki,
maka perempuan diduga mempunyai efikasi diri yang lebih rendah dari
laki-laki (Locke, 1987). Berangkat dari hal tersebut maka penelitian ini
akan meneliti mengenai efikasi diri yang dimiliki oleh pelajar berjenis
kelamin laki-laki dan perempuan.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah bagaimanakah tingkat efikasi diri yang dimiliki
oleh pelajar kelas XII SMA Bopkri I?
C.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efikasi diri
yang
dimiliki oleh pelajar SMA kelas XII di SMA Bopkri I Yogyakarta.
D.
Manfaat Penelitian
1.
Manfaat Praktis
Bagi guru bimbingan konseling data yang diperoleh dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam membantu permasalahan
yang dihadapi pelajar. Hal itu diharapkan para murid dapat maksimal
dalam menyelesaikan suatu tugas dan permasalahan dalam kehidupan
sehari-harinya.
2.
Manfaat Teoritis
6
A.
Efikasi Diri
Banyak argumentasi menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan
manusia dan hal positif mengenai kesehatan psikologis memerlukan suatu
perasaan yang optimis tentang efikasi diri. Hal ini dikarenakan terdapat
kenyataan sosial yang diisi dengan berbagai kesulitan, kekurang-baikan,
rasa frustrasi dan kemunduran. Schwarzer (1992), menyatakan bahwa
individu harus mempunyai suatu perasaan yang positif berkaitan dengan
usaha yang diperlukan untuk berhasil. Suatu perasaan efikasi
diri berperan
untuk kesehatan psikologis seperti halnya menuju pada pencapaian suatu
performansi tertentu. Individu yang percaya akan efikasi
diri menjadi
mampu untuk menentukan arah hidupnya dan lebih aktif. Schwarzer
(1992), memandang efikasi diri sebagai jenis evaluasi diri, terutama
mengenai seberapa baik individu dapat melaksanakan suatu aktivitas
dalam berbagai situasi.
reaksi emosional yang dialami ketika situasi-situasi yang menekan, tidak
hanya perkiraan sederhana mengenai tindakan yang akan diambil pada
masa yang akan datang (Bandura, 1986).
Efikasi diri merupakan
komponen utama dari teori sosial-kognitif
Bandura. Bandura, (1986), menyatakan bahwa perilaku individu
dipengaruhi oleh pengaruh dari dalam diri individu tersebut. Pengaruh
membangun efikasi diri dirasa mencerminkan suatu kepercayaan terhadap
diri yang optimis. Hal ini menjadikan individu dapat melaksanakan tugas
sulit, atau mengatasi permasalahan tertentu dalam berbagai situasi
(Bandura, 1986).
B.
Sumber Informasi Efikasi diri
Efikasi diri berkembang dan berpotensi untuk berubah melalui
empat sumber informasi (Bandura, 1986). Keempat sumber informasi itu
yaitu:
1.
Pengalaman Pribadi (Enactive Attainment)
2.
Pengalaman Orang Lain (Vicarious experience)
Sumber informasi efikasi diri ini merupakan sumber informasi
yang diperoleh individu ketika mengamati orang lain yang mampu
mengatasi suatu permasalahan atau mampu melakukan aktivitas dalam
situasi yang menekan tanpa mengalami suatu akibat yang merugikan.
Sumber efikasi diri ini dapat meningkatkan kinerja dan efikasi diri
terutama jika pengamat merasa memiliki kemampuan yang sebanding
dengan orang yang diamati.
3.
Persuasi Verbal
(
Verbal persuasion)
Sumber efikasi diri ini diperoleh melalui sugesti atau persuasi
dari orang lain, untuk percaya bahwa individu tersebut mampu
menghadapi dan mengatasi permasalahan di masa yang akan datang.
Persuasi verbal tumbuh lemah dan tidak dapat bertahan lama karena
jika berada dalam kondisi yang menekan disertai kegagalan atau
pengalaman
yang
tidak
menyenangkan
terus-menerus
maka
pengharapan yang berasal dari sugesti ini akan hilang.
4.
Keadaan Emosional
(
Emotional arousal)
C.
Proses yang Digerakkan Efikasi Diri
Berdasarkan pada teori efikasi diri, efikasi diri menentukan
seorang individu dalam beraktivitas, seberapa besar usaha yang akan
dilakukan, dan berapa lama individu tersebut tekun dalam menghadapi
suatu permasalahan. Menurut Bandura (1994), suatu kepercayaan
mengenai kemampuan yang dimiliki oleh individu mempengaruhi fungsi
manusia dalam beberapa cara berikut:
1.
Kognitif
Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi cenderung lebih
mempunyai cita-cita yang tinggi, dan lebih memilih tugas yang penuh
tantangan.
Individu
mengarahkan
perilakunya
dengan
memvisualisasikan hasil kesuksesan sehinga dapat menghindari
kemungkinan tindakan yang salah.
2.
Motivasi
Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi cenderung
dapat menentukan tujuan yang jelas dan membuat perencanaan dalam
mencapai tujuan, serta mengantisipasi kemungkinan terjadi hasil dari
suatu tindakan
3.
Afeksi
permasalahan selalu dapat diatasi. Setiap masalah adalah tantangan
yang dapat diselesaikan. Akibatnya individu tidak merasa stress atau
penuh tekanan sehingga lingkungannya hanya member sedikit tekanan.
Individu dengan efikasi diri yang tinggi juga memiliki kontrol
pemikiran yang positif.
4.
Seleksi
Individu dapat menggunakan beberapa pengaruh atas jalan
hidup mereka oleh lingkungan dipilihnya dan lingkungan yang
diciptakannya. Seorang individu dengan efikasi diri rendah cenderung
untuk menghindari situasi dan aktivitas yang dipercaya melebihi
kemampuannya, sedangkan orang-orang dengan efikasi diri tinggi siap
menantang berbagai aktivitas dan berada dalam lingkungan sosial yang
dinilai diri mampu untuk ditangani.
memungkinkan dirinya untuk memilih tugas dan bertekun dengan hal
tersebut.
D.
Dimensi Efikasi diri
Bandura (I977) mengajukan tiga dimensi efikasi diri, yaitu:
1.
Tingkat besaran (
Level)
Dimensi ini berkaitan dengan derajat kesulitan tugas dan
membedakan antara individu satu dengan yang lain dalam
kemampuannya melakukan berbagai tugas dengan derajat tugas mulai
dari yang sederhana, yang agak sulit, hingga yang sangat sulit.
2.
Luas bidang (
Generality)
Dimensi ini mengenai keyakinan individu akan kemampuannya
dalam berbagai situasi tugas, mulai dari dalam melakukan suatu
aktivitas atau situasi tertentu hingga dalam serangkaian tugas atau
situasi yang bervariasi.
3.
Tingkat kekuatan
(
Strength)
E.
Perkembangan Efikasi Diri
Efikasi diri diperoleh dan berkembang melalui pengalaman dan
pengamatan individu terhadap akibat tindakan yang telah dilakukannya
dalam situasi tertentu. Lingkungan keluarga adalah awal dari terbentuknya
efikasi diri. Sejak lahir, manusia telah belajar banyak hal dengan melihat
orang lain melakukan suatu perilaku tertentu, kemudian mencobanya dan
hasilnya bisa berupa kegagalan atau keberhasilan. Pengalaman belajar
sosial tersebut membuat mapan pola-pola perilaku yang dibentuknya sejak
kecil, instruksi secara verbal dari orang tua yang beriringan dengan
berbagai pengalaman mencoba dan hasilnya bisa berupa kegagalan atau
keberhasilan, membuat anak belajar secara bertahap mengenai batas-batas
bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Hal tersebut yang mengarahkan
anak kepada penilaian tentang efikasi diri yang adekuat. Seiring dengan
perkembangan sosial individu, teman-teman sebaya dan sekolah mulai
berperan dalam meningkatkan pengetahuan terhadap diri individu
mengenai kemampuannya (Bandura, 1986).
F.
Pelajar SMA Bopkri I
1.
Definisi Pelajar
2.
Latar Belakang SMA Bopkri I Yogyakarta
SMA Bopkri I Yogyakarta yang di kalangan masyarakat lebih
dikenal dengan nama SMA BOSA. Bentuk awal dari SMA Bopkri I
adalah SMA Bopkri I pagi yang terdiri dari tiga jurusan, yaitu A
(Bahasa), B (Pasti Alam) dan C (Sosial Ekonomi) yang menempati
bekas gedung Hoolands Chineseche School di Gemblakan 42
(sekarang Mas Suharto 42). Siang harinya di gedung yang sama
diselenggarakan SMA Bopkri siang (cikal bakal SMA Bopkri II).
SMA Bopkri I dan SMA Bopkri II berada dalam naungan sebuah
yayasan Bopkri yang berdiri pada tanggal 18 Desember 1945.
Pada tanggal 19 Juni 1950 pengurus yayasan Bopkri menerima
hibah tanah, gedung, dan peralatan dari Vereneging Schoolen m/d
Bijbel (penyelenggara seolah Kristen zaman Belanda) dan Zending
(sekolah yang diselenggarakan oleh gereja-gereja Nederland di
Indonesia). SMA Bopkri pagi menempati salah satu gedung di Jala
Pogung (sekarang Jalan Wardani 2). Pada tahun 1952/1953 SMA
Bopkri pagi berganti nama menjadi SMA Bopkri I Yogyakarta. SMA
Bopkri I Yogyakarta menempati gedung di Jalan Wardani 2 pada pagi
hari, sedangkan sore hari gedung ini ditempati oleh SMEA Bopkri
Yogyakarta (sekarang SMK Bopkri I).
untuk mengembangkan dirinya melakukan pembaharuan di segala
bidang agar pelayanan pedidikan. Awal tahun 1980-an, SMA Bopkri I
Yogyakarta memiliki 30 ruang kelas. Pada awalnya jumlah pelajar tiap
kelas adalah 40 pelajar. Oleh karena perkembangan zaman, maka
jumlah 40 pelajar setiap kelas dirasa tidak efektif lagi dalam proses
pembelajaran Berbasis Kompetensi. Melalui kajian yang mendalam
maka ada tahun 2001/2002 SMA Bopkri I Yogyakarta mengambil
kebijakan hanya menerima maksimal 24 pelajar setiap kelasnya. Hal
itu dimaksudkan agar proses pembelajaran dapat lebih efektif dan
setiap pamong dapat melayani, mendampingi, dan memotivasi setiap
pelajar. SMA Bopkri I Yogyakarta telah memfasilitasi dirinya dengan
perkembangan
IPTEK,
serta
harus
berusaha
meningkatan
profesioanalisme
tenaga
kependidikan
untuk
meningkatkan
pelayanannya.
Prestasi yang dicapai oleh SMA Bopkri I sudah cukup banyak,
antara lain adalah berprestasi dalam bidang olahraga terutama basket,
bidang seni suara dan sudah cukup banyak pula para alumni SMA
Bopkri I yang memperoleh kedudukan yang tinggi di tingkat
pemerintahan, bidang kewiraswastaan, seni, keagamaan, dan
masyarakat.
internet yang dapat diakses secara bebas bagi para pelajar SMA Bopkri
I. Hal itu menjadikan SMA Bopkri I adalah salah satu SMA favorit di
Yogyakarta.
3.
Sistem Penyelenggaraan Pendidikan SMA Bopkri I Yogyakarta
a.
Kurikulum
Peningkatan sistem mutu pendidikan yang merupakan
implementasi dari Undang-undang SisDikNas RI No 20 tahun
2003
dengan
dimulainya
Rintisan
Sekolah
Bertaraf
Internasional untuk kelas X, yang tahun lalu SMA Bopkri I
Yogyakarta telah membuka kelas dengan jumlah pelajar 20
orang yang merupakan program unggulan, karena selain
menggnakan
KTSP
juga
mengambil
kurikulum
dari
Cambridge. Tentunya dengan adanya kelas RSBI, tak
mengurangi pelayanan dan perhatian untuk kelas regular
dengan tujuan peningkatan mutu.
b.
Kepelajaran
dengan mengenai lingkungannya serta dapat merencanakan
masa depannya.
Berdasarkan pada uraian mengenai pelajar, mengetahui latar
belakang, dan sistem penyelenggaraan pendidikan di SMA Bopkri I maka
dapat diketahui jika pendidikan di SMA Bopkri I tidak hanya
mengedepankan faktor akademis saja, namun juga faktor psikologis dari
para pelajar atau pelajarnya.
G.
Efikasi Diri Pelajar Kelas XII SMA Bopkri I Yogyakarta
Efikasi diri pelajar dapat dikatakan sebagai keyakinan diri pelajar
akan kemampuan dirinya dalam menghadapi suatu tugas-tugas akademik
maupun permasalahan-permasalahan baik di lingkungan sekolah, keluarga
dan sosialnya. Pelajar yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan
menganggap suatu tugas dan permasalahan sebagai tantangan dan bukan
menjadi ancaman. Hal tersebut menjadikan pelajar menyukai tantangan
dan tugas-tugas yang sulit.
Pada pelajar SMA yang sudah duduk di bangku kelas XII yang
menghadapi berbagai tugas akademik yang lebih banyak dibanding dengan
adik-adik kelasnya, dengan demikian maka memiliki tekanan yang lebih
pula. Hal itu dikarenakan para pelajar dituntut untuk memenuhi suatu
standar nilai tertentu yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dalam hal
syarat kelulusannya, tekanan dari orangtua untuk menyelesaikan studinya,
tekanan dari terbatasnya waktu efektif belajar-mengajar, dan berbagai hal
lainnya. Berkaitan dengan hal tersebut, dengan dimilikinya
efikasi diri
yang tinggi maka pelajar dapat menentukan alternatif pilihan perilaku,
memiliki usaha dan ketekunan, mempunyai strategi dalam memecahkan
masalah, reaksi-reaksi emosional yang adaptif, dan menyadari bahwa dirinya
tidak hanya menjadi peramal mengenai perilaku di masa depan, namun lebih
pada pelaku terhadap perilakunya tersebut. (Bandura,1986).
H.
Pertanyaan Penelitian
19
A.
Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan data kuantitatif terhadap variabel
penelitian. Data diperoleh melalui analisis skor jawaban subyek pada skala
secara apa adanya. Hal tersebut ditujukan untuk mengetahui dan
mengambarkan tingkat efikasi diri pelajar kelas XII di SMA Bopkri I
Yogyakarta.
B.
Variabel Penelitian
Variabel yang akan diteliti yaitu efikasi diri yang dimiliki oleh para
pelajar kelas XII di SMA Bopkri I Yogyakarta.
C.
Definisi Operasional
Efikasi diri adalah kepercayaan mengenai kemampuan yang dimiliki dari
individu itu sendiri. Hal tersebut lebih bersifat subjektif dan personal
masing-masing individu. Dapat dikatakan pula efikasi diri adalah suatu
evaluasi pribadi yang muncul sebagai salah satu faktor yang
mempengaruhi suatu tindakan atau suatu pekerjaan.
Pengukuran tingkat efikasi diri pada subjek penelitian menggunakan skala
yang berkaitan dengan dengan ketiga dimensi tersebut. Tingkat efikasi diri
didapat dari skor total skala efikasi diri, dimana semakin tinggi skor total
yang diperoleh subjek, semakin tinggi pula tingkat efikasi dirinya.
D.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah pelajar pada 2 kelas jurusan IPA, 2 kelas
jurusan IPS, dan 1 kelas jurusan Bahasa. Berkaitan dengan pengambilan
subjek penelitian, untuk setiap jurusan disertakan dalam penelitian ini
dikarenakan peneliti menginginkan gambaran tingkat efikasi diri pada
setiap jurusan. Sedangkan pemilihan 2 jurusan IPA dan 2 jurusan IPS
menggunakan undian (
cluster random sampling).
Peneliti memilih subjek penelitian yaitu pelajar di SMA Bopkri I
Yogyakarta, kelas XII dengan pembagian 2 kelas IPA, 2 kelas IPS, dan 1
kelas Bahasa melalui pertimbangan praktis bahwa :
1.
SMA Bopkri I adalah sekolah heterogen yang berarti bahwa
terdapat pelajar atau pelajar laki-laki maupun perempuan.
E.
Metode dan Alat Pengumpulan Data
1.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan
menggunakan skala psikologi. Berkaitan dengan hal itu, skala
pertama kali dikenakan pada kelompok uji coba dan setelah
diperoleh data dari kelompok uji coba maka akan dilakukan
analisis. Pertama melakukan analisis item dengan koefisien
korelasi. Langkah kedua memasukkan nilai skala pada setiap item
untuk semua kelompok uji coba dan item-item yang lolos hanya
yang berada pada batasan harga koefisien 0,3 serta menyingkirkan
sama sekali item yang mempunyai koefisien yang bertanda negatif
atau yang koefisiennya mendekati 0.
Langkah selanjutnya setelah memperoleh item-item yang
baik, item-item tersebut akan memuat proporsi yang sama antara
item yang favorabel dengan yang unfavorabel. Hal itu dikarenakan
biasanya pada penelitian psikologis mempunyai perbandingan yang
sama. Langkah berikutnya adalah item-item tersebut dikenakan
pada subjek penelitian.
2.
Alat Pengumpulan Data
penelitian. Kelompok uji coba adalah pelajar kelas X SMA Bopkri
I, hal itu dikarenakan kelompok tersebut memiliki karakteristik
yang mirip dengan subjek penelitian. Bentuk dari skala tersebut
adalah responden diminta untuk menyatakan taraf kesetujuan atau
ketidaksetujuannya terhadap isi pernyataan dalam empat kategori
jawaban, yaitu sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), setuju
(S), dan sangat setuju (SS). Model skala dari lima respon jawaban
dimodifikasi menjadi empat respon jawaban karena untuk
menghilangkan kelemahan yang dikandung oleh skala dengan
respon lima jawaban, yaitu: karena kategori netral (ragu-ragu)
memiliki arti yang ganda, dapat memiliki arti belum dapat
memutuskan, bisa juga diartikan netral atau ragu-ragu. Melalui
adanya respon jawaban netral (ragu-ragu) dapat menimbulkan
kecenderungan menjawab ke tengah
(Central Tendency Effect),
terutama bagi mereka yang ragu-ragu atas kecendenmgan arah
jawabarmya (Hadi,1991).
Penilaian skala berdasarkan pada skor jawaban pernyataan
Tabel 1.
Nilai Skala Efikasi Diri
Kategori Respons
Skoring
Favorable
Unfavorable
SS
4
1
S
3
2
TS
2
3
Tabel 2.
Blue Print Skala Efikasi Diri
No
Dimensi
Indikator
Jumlah Pernyataan
Jumlah
Bobot (%)
Favorable
Unfavorable
1.
Tingkat
Besaran
(
Level
)
Kognitif
3
3
6
33,33
Afektif
3
3
6
Motivasi
3
3
6
Seleksi
3
3
6
2.
Luas Bidang
(
Generality
)
Kognitif
3
3
6
33,33
Afektif
3
3
6
Motivasi
3
3
6
Seleksi
3
3
6
3.
Tingkat
Kekuatan
(
Strength)
Kognitif
3
3
6
33,33
Afektif
3
3
6
Motivasi
3
3
6
Seleksi
3
3
6
Tabel 3.
Sebaran Item Skala Efikasi Diri Sebelum Uji Coba
No
Dimensi
Indikator
Nomor Pernyataan
Jumlah
Favorable
Unfavorable
1.
Tingkat
Besaran
(
Level
)
Kognitif
1,3,37
5,39,41
6
Afektif
4,6,38
2,40,42
6
Motivasi
7,43,65
9,45,47
6
Seleksi
10,12,44
8,46,48
6
2.
Luas Bidang
(
Generality
)
Kognitif
13,15,49
17,51,53
6
Afektif
14,18,50
16,52,54
6
Motivasi
19,55,57
21,23,59
6
Seleksi
20,24,56
22,32,60
6
3.
Tingkat
Kekuatan
(
Strength)
Kognitif
11,61,63
25,27,29
6
Afektif
26,28,30
62,64,66
6
Motivasi
31,33,35
67,69,71
6
Seleksi
68,70,72
34,36,58
6
Jumlah
36
36
72
62, 63, 66, dan 72. Item-item yang lolos sebanyak 51 item dan dapat mewakili
setiap aspek maka semua item yang lolos pun digunakan dalam penelitian ini.
Distribusi item dalam skala penelitian ini kemudian diacak seperti dalam tabel
dibawah ini.
Tabel 4.
Sebaran Item Skala Efikasi Diri Setelah Uji Coba
No
Dimensi
Indikator
Nomor Pernyataan
Jumlah
Favorable
Unfavorable
1.
Tingkat
Besaran
(
Level
)
Kognitif
1
5,39,41
4
Afektif
6,38
2
3
Motivasi
7,43,65
9,45,47
6
Seleksi
10,12
46,48
4
2.
Luas Bidang
(
Generality
)
Kognitif
13,15,49
51
4
Afektif
14,18,50
16,52,54
6
Motivasi
19,55,57
59
4
Seleksi
20,24
22
3
3.
Tingkat
Kekuatan
(
Strength)
Kognitif
11,61
25,27
4
Afektif
28,30
64
3
Motivasi
31,33,35
67,69,71
6
Seleksi
68,70
34,58
4
F.
Validitas dan Reliabilitas
Validitas adalah taraf kesungguhan dari sebuah instrumen
penelitian mampu untuk mengukur secara tepat sesuatu yang ingin diukur
(
Azwar, 2000
). Sebuah intrumen memiliki validitas isi yang baik jika dapat
mewakili komponen-komponen dan mampu mencerminkan ciri dari
atribut yang diukur. Validitas isi diselidiki melalui analisis rasional
terhadap isi tes
(profesional judgement)
yang diperoleh dengan cara
mengkonsultasikan item yang telah disusun kepada ahli dengan tujuan
apakah item-item yang telah disusun mencakup kesuluruhan isi obyek
yang hendak diukur, sehingga alat tes tersebut harus relevan dan tidak
keluar dari batas tujuan ukur (Azwar,1999). Berkaitan dengan hal tersebut,
maka dalam penelitian ini validitas isi skala efikasi diri akan dianalisis
oleh ahli, dalam hal ini dosen pembimbing.
tersebut mampu mencerminkan 90% dari variasi yang terjadi pada skor
murni kelompok subyek yang bersangkutan dengan kata lain bahwa 10%
dari perbandingan skor yang tampak disebabkan oleh variasi atau
kesalahan pengukuran tersebut (Azwar, 2001). Perhitungan reliabilitas
koefisien Alpha pada 72 item skala efikasi diri dengan analisis Cronbach
Alpha menggunakan
SPSS versi 15 for Windows
adalah 0,921. Angka
hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa skala efikasi diri dapat
diandalkan untuk tujuan pengambilan data penelitian.
G.
Teknik Analisis Data
Metode statistik dalam penelitian ini menggunakan statistik
deskriptif karena data berupa angka-angka. Statistik deskriptif berusaha
menjelaskan atau menggambarkan berbagai karakteristik data seperti
mean, modus, median, variasi kelompok melalui rentang data dan standar
deviasi. Mean adalah nilai rata-rata hitung dari suatu kelompok.
Hasil penelitian ditentukan dengan membandingkan antara mean
teoritik dan mean empirik. Mean empirik dihitung dengan bantuan
program SPSS versi 15, sedangkan mean teoritik dihitung dengan cara
berikut ini:
1.
Skor minimum
:
skor paling rendah yang diperoleh subjek
pada skala yaitu 1.
3.
Range
:
luas jarak sebaran antara skor maksimum
dan skor minimum.
4.
Standar Deviasi (SD):
luas jarak sebaran yang dibagi dalam 6
satuan standar deviasi.
30
A.
Persiapan Uji Coba Alat Penelitian
Uji coba dilakukan pada tanggal 30 Oktober 2008 dengan surat ijin
penelitian dengan nomor
103a/D/KP/Psi/USD/X/2008
yang sudah
disahkan oleh Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma dan
ditujukan kepada kepala sekolah SMA Bopkri I Yogyakarta. Jumlah
subjek uji coba sebanyak 60 orang pelajar kelas I SMA Bopkri I. Skala
yang dibagikan sebanyak 60 buah dan semuanya memenuhi syarat untuk
diteliti maka dilakukan seleksi item untuk memperoleh item yang lolos
dan item yang gugur. Kriteria item yang lolos adalah item yang memiliki
rix >0,30 dan item yang memiliki rix<0,30 adalah item yang gugur.
Skala pada tahap uji coba tersebut memuat sebanyak 72 item dan
setelah dilakukan seleksi item maka item yang gugur sebanyak 21 item
dan 51 item lolos. Pada 51 item yang lolos tersebut dilakukan pengukuran
realibitas menggunakan Alpha Cronbach dari SPSS versi 15
dan melalui
pengukuran tersebut diperoleh realibitas skala efikasi diri sebesar 0,944.
B.
Persiapan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan skala penelitian pada
kelas-kelas sehingga peneliti mengajukan surat permohonan ijin terlebih
dulu kepada Dekan Fakultas Psikologi Sanata Dharma yang ditujukan
kepada kepala sekolah. Surat Keterangan yang telah ditandangani dengan
nomor
119e./D/KP/Psi/USD/XI/2008
sebagai keterangan bahwa penelitian
yang akan dilakukan telah disetujui oleh Dekan Fakultas.
C.
Pelaksanaan Penelitian
Penyebaran Skala Efikasi Diri untuk penelitian dilaksanakan pada
tanggal 13 November 2008 di SMA Bopkri I Yogyakarta dengan subjek
kelas XII Bahasa, IPA I, IPA IV, IPS I dan IPS II. Skala Efikasi Diri yang
disebarkan adalah 110 ekslempar, dan yang kembali adalah 104
ekslempar. Ke 104 ekslempar yang disebarkan tersebut, yang diisi dan
dikembalikan adalah 104 ekslempar dan semuanya layak dijadikan sebagai
sumber data penelitian yang dapat dianalisis.
Data penelitian sebelum dianalisis, terlebih dahulu melalui tahap
uji asumsi, yaitu : uji normalitas untuk melihat normal tidaknya data
penelitian. Uji normalitas dilakukan dengan teknik Kolmogorov - Smirnov
dengan bantuan program
SPSS
(versi 15). Jika p > 0,05 maka sebarannya
dinyatakan normal dan jika p < 0,05 sebarannya dinyatakan tidak normal.
Hasil uji normalitas diperoleh nilai p sebesar : 0,837 sehingga dapat
disimpulkan bahwa sebaran setiap variabel dalam penelitian ini adalah
D.
Hasil Penelitian
1.
Deskripsi Data Penelitian
Tabel 5.
Data Statistik Deskriptif
Statistik
Teoritik
Empirik
N
104
104
Skor minimum
51
114
Skor maksimum
204
163
Range
153
49
SD
25,5
13,39
Mean
127,5
138, 64
Mean
Tingkat Besaran
(
Level
)
42,5
44,53
Mean
Luas Bidang
(
Generality
)
42,5
45,39
Mean
Tingkat Kekuatan
(
Strength)
42,5
48,71
Dimensi efikasi diri dalam penelitian ini terdiri dari tiga dimensi,
maka peneliti mengembangkan penelitian untuk mengetahui deskripsi tingkat
efikasi diri pada masing-masing dimensi. Hal ini perlu dilakukan agar
diperoleh data yang lengkap mengenai dimensi-dimensi yang dominan pada
tingkat efikasi diri ubjek.
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa
teoritiknya. Melalui hasil perbandingan mean empirik dari dimensi tingkat
kekuatan (
strength)
(48,71) paling tinggi dibandingkan dimensi luas
bidang (
generality)
(45,39), maupun dimensi tingkat besaran (
level)
(44,53). Dimensi tingkat besaran (
strength)
lebih efikasi diri pada subjek
penelitian.
2.
Analisis Tambahan
a.
Deskripsi Data Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Langkah untuk mengetahui apakah ada perbedaan
efikasi diri pelajar laki-laki dan perempuan mahapelajar maka
dilakukan teknik uji-t dengan taraf signifikansi 5% Perhitungan
dilakukan dengan bantuan program SPSS
15 for Windows.
Hasil ujI-t yang diperoleh setelah dilakukan perhitungan dapat
dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6.
Deskripsi Hasil Uji-t Berdasarkan Jenis Kelamin
Subjek
Penelitian
Jenis
Kelamin
N
Mean
SD
t
p
Pelajar
Laki-laki
63 139.2540 11.60780 0,674 0,502
Perempuan
41 137.7073 11.14954
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa hasil
perhitungan perbedaan dengan uji-t yaitu t sebesar 0,674
perbedaan efikasi diri yang signifikan pelajar laki-laki dan
perempuan.
b.
Deskripsi Data Penelitian Berdasarkan Jurusan Kelas
Langkah untuk mengetahui apakah ada perbedaan
efikasi diri pelajar pada kelas Bahasa, IPA, dan IPA dilakukan
dengan cara menggunakan analisis varian satu jalur dengan
taraf signifikansi 5% Perhitungan dilakukan dengan bantuan
program
SPSS 15.
Hasil analisis varian satu jalur yang
diperoleh setelah dilakukan perhitungan dapat dilihat pada
Tabel 7.
Tabel 7.
Deskripsi Hasil Analisis Varian Satu Jalur
Berdasarkan Jurusan Kelas
Subjek
Penelitian
Jurusan Kelas
N
Mean
SD
p
Pelajar
Bahasa
21
139.0952 13.01885 0.069
IPA
45
135.8889 10.99839
Tabel 8.
Deskripsi Tambahan Analisis Varian Satu Jalur
Berdasarkan Jurusan Kelas
Kuadrat
Jumlah
df
Mean
Kuadrat
F
Sig.
Antar
Kelompok
691.030
2
345.515
2.749
0.069
Dalam
Kelompok
12694.807
101
125.691
Total
13385.837
103
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa hasil perhitungan
perbedaan dengan analisis varian satu jalur yaitu p = 0.069. Oleh
karena p > 0,05 artinya tidak ada perbedaan efikasi diri yang signifikan
pelajar pada jurusan Bahasa, IPS, dan IPA.
E.
Pembahasan
Secara umum subjek penelitian memiliki tingkat efikasi diri yang
tinggi karena mean empiriknya lebih besar dibandingkan mean teoritiknya
(138,64 > 127,5). Hasil ini menunjukkan bahwa subjek mampu untuk
melakukan berbagai tugasnya dengan baik karena memiliki efikasi diri
yang tinggi. Hal tersebut selaras dengan tugas individu dalam tahap
perkembangannya yaitu tahap operasional formal dalam kemampuan
kognitif (Hurlock, 1980) yang menyatakan bahwa remaja mampu
Hal ini menunjukkan bahwa pelajar tidak mengalami hambatan
seperti yang dicemaskan masyarakat, karena tuntutan akademiknya.
Penelitian ini membuktikan bahwa pelajar SMA khususnya kelas XII
memiliki efikasi diri yang cenderung tinggi karena hal itu maka pelajar
akan membangun lebih banyak kemampuan-kemampuan melalui
usaha-usaha mereka secara terus-menerus dan karena itu pelajar tersebut akan
merasa mampu untuk mengatasi berbagai tuntutan akademisnya, baik itu
dari sekolah maupun dari pemerintah dalam hal ini tuntutan nilai minimum
dalam ujian akhir nasional. Meskipun tergolong tinggi, namun tidak
menutup kemungkinan jika pelajar tersebut tidak yakin dengan
kemampuan yang dimilikinya walaupun dengan intensitas yang rendah.
Hal yang memungkinkan hal itu adalah pelajar masih termasuk dalam
kategori remaja dan pada masa remaja, remaja mengalami masa krisis.
Masa krisis ini menyebabkan tekanan emosi dan mengganggu
perkembangan psikologisnya. Menurut Bandura (dalam Feist dan Feist,
1998) kondisi emosional dan psikologis yang tidak stabil inilah yang dapat
menghambat perkembangan efikasi diri remaja.
Analisis data menunjukkan hasil yang berbeda pada setiap dimensi
dari ketiga dimensi efikasi diri. Dimensi yang paling dominan adalah
dimensi tingkat kekuatan (
strength).
Hal tersebut ditunjukkan dengan
dimensi tingkat kekuatan (
strength)
yang paling tinggi dibandingkan
dengan kedua dimensi lainnya. Hal itu memperlihatkan bahwa subjek
atau tidak mantap akan mudah digoyahkan oleh pengalaman-pengalaman
yang tidak mendukung, dan begitu pula sebaliknya. Hal itu juga
menggambarkan bahwa subjek cenderung cukup memiliki ketahanan dan
keuletan dalam berusaha. Metode belajar mengajar yang aktif mendorong
pembentukkan tingkat kekuatan (
strength)
karena dengan adanya interaksi
dua arah maka pelajar tidak hanya menerima kegagalan terhadap
pengalamannya, namun juga pelajar mendapatkan evaluasi terhadap
pemahamannya mengenai tugas atau materi yang diberikan oleh guru
sehingga ketika pelajar memiliki pengharapan yang kuat, memiliki
ketahanan, dan keuletan.
Dimensi kedua yang dominan adalah dimensi luas bidang
(
generality)
. Dimensi tersebut menggambarkan mengenai keyakinan
individu akan kemampuannya dalam berbagai situasi tugas, mulai dari
dalam melakukan suatu aktivitas atau situasi tertentu hingga dalam
serangkaian tugas atau situasi yang bervariasi. Hal itu menjelaskan bahwa
pelajar cenderung cenderung mampu untuk mengatasi tuntutan standar
nilai tertentu yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dalam hal syarat
kelulusannya, tekanan dari orangtua untuk menyelesaikan studinya,
tekanan dari terbatasnya waktu efektif belajar-mengajar, dan berbagai hal
lainnya. Guru dalam hal ini sebagai pengajar khususnya berperan aktif
dalam menumbuhkan keyakinan pelajar terhadap suatu tugas tertentu
dalam berbagai situasi, karena suatu tugas diberikan kepada pelajar
pada setiap tugas itu diberikan situasi yang dihadapi oleh pelajar tidak
sama, maka melalui hal tersebut dimensi luas bidang (
generality)
terbentuk
.
Tingkat besaran (
level)
adalah dimensi terakhir dari ketiga dimensi
efikasi diri. Dimensi ini menunjukkan subjek dalam menghadapi derajat
kesulitan tugas, baik itu tugas yang sederhana, yang agak sulit, hingga
yang sangat sulit. Dalam hal ini dikarenakan hasil mean empirik lebih
tinggi dibanding dengan mean teoritiknya maka dapat dikatakan pelajar
cenderung dapat menyelesaikan tugas yang sulit. Hal itu selaras dengan
metode pembelajaran pelajar dengan memberikan berbagai macam tugas
dan evaluasi mengenai proses belajar pelajar dengan rutin sehingga pelajar
pun membangun keyakinan yang dimiliki pelajar dalam penguasaan
materi atau pelajaran.
Berkaitan dengan hasil deskripsi data dan hasil penelitian, maka
tidak ada perbedaan yang signifikan antara pelajar laki-laki dan
perempuan. Hal itu terlihat dari hasil perhitungan perbedaan dengan uji-t
yaitu t sebesar 0,674 dengan p = 0,502. Hal ini menjadi dasar penolakan
asumsi bahwa perempuan merupakan sub-ordinasi dari laki-laki
(Locke,
1987). Hal itu terlihat dari dengan adanya tidak ada perbedaan efikasi diri
yang signifikan antara laki-laki dan perempuan maka dalam proses belajar,
menyelesaikan tugas, dan pencapaian dalam bidang akademis. Tidak
adanya perbedaan efikasi diri yang signifikan dapat dikarenakan oleh
berbagai fasilitas dan prasarana yang sama dalam proses pendidikan. Hal
itu juga dikarenakan pengalaman belajar sosial antara laki-laki dan
perempuan yang sama membuat mapan pola-pola perilaku yang
dibentuknya sejak kecil, instruksi secara verbal dari orang tua yang
beriringan dengan berbagai pengalaman mencoba dan hasilnya bisa berupa
kegagalan atau keberhasilan,
membuat pelajar belajar secara bertahap
mengenai batas-batas bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Hal
tersebut yang mengarahkan pelajar kepada penilaian tentang efikasi diri
yang adekuat.
Hal itu juga didukung oleh subjek cenderung tidak
mengalami hambatan melalui tahap perkembangan dalam perkembangan
sosial individu, teman-teman sebaya dan sekolah mulai berperan dalam
meningkatkan pengetahuan terhadap diri individu mengenai
kemampuannya (Bandura, 1986).
Berdasarkan analisis tingkat efikasi diri menurut jurusan pelajar
yang diambil maka diperoleh hasil bahwa p = 0.069.. Oleh karena hasil
memiliki nilai p > 0,05 artinya tidak ada perbedaan efikasi diri yang
signifikan pelajar antara jurusan Bahasa, IPS, dan IPA. Bandura (dalam
Bromosuto, 2003) mengernukakan bahwa sekolah dalarn situasi
pendidikan tertentu rnerupakan sarana utama untuk pengolahan dan
pengasahan efikasi diri. Sekolah dalam hal ini SMA Bopkri I adalah
sarana pengolahan dan pengasahan pelajarnya, baik itu kelas Bahasa, IPS,
dan IPA. Hal itu dikarenakan pelajar dalam sekolah tersebut mendapatkan
kelasnya terdapat sekitar 20 orang. Jumlah yang relatif sedikit tersebut
membuat situasi belajar mengajar menjadi lebih efektif dan berperan
dalam pengembangan efikasi diri para pelajarnya. Situasi belajar tidak
hanya terbatas dalam jumlah pelajar di setiap kelas, namun juga pada
pemberian tugas dan latihan-latihan soal. Hal yang mendukung
pembentukkan efikasi diri dalam sekolah tersebut menjadikan pelajar
mendapatkan sumber efikasi diri yang sama pada setiap jurusan kelas.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka subjek dalarn penelitian ini
secara umum memiliki tingkat efikasi diri yang cenderung tinggi atau
dengan kata lain pelajar SMA Bopkri I Yogyakarta cenderung
menganggap suatu tugas dan permasalahan sebagai tantangan dan bukan
menjadi ancaman. Hal tersebut menjadikan pelajar cenderung menyukai
tantangan dan tugas-tugas yang sulit. Hal itu menjadikan para pelajar dapat
untuk memenuhi suatu standar nilai tertentu yang sudah ditetapkan oleh
pemerintah dalam hal syarat kelulusannya, menjadikan tekanan dari
orangtua untuk menyelesaikan studinya sebagai suatu tantangan, dan
mengatasi tekanan dari terbatasnya waktu efektif belajar-mengajar, serta
41
A.
Kesimpulan
Berdasarkan data yang diperolah, analisis, dan hasil penelitian dapat
diambil kesimpulan dari penelitian terhadap efikasi diri pelajar atau pelajar
SMA Kelas XII SMA Bopkri I Yogyakarta sebagai berikut:
1.
Secara umum subjek penelitian memiliki tingkat efikasi diri yang
tinggi karena mean empiriknya lebih besar dibandingkan mean
teoritiknya (138,64 > 127,5).
Subjek memiliki tingkat efikasi diri yang
cenderung tinggi pada ketiga dimensinya. Hal itu ditunjukkan dengan
adanya hasil bahwa mean pada setiap dimensi efikasi diri lebih tinggi
dibandingkan mean teoritiknya. Perbandingan antara mean teoritik dan
mean empirik adalah dimensi
dimensi tingkat kekuatan (
strength)
(
48,71 > 42,5
),
luas bidang (
generality)
(
45,39 > 42,5
), dan
tingkat
besaran (
level)
(
44,53 > 42,5
).
2.
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara efikasi diri laki-laki dan
perempuan.
3.
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pelajar pada jurusan Bahasa,
B.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan,
maka
saran yang dapat peneliti sampaikan bagi :
1.
Institusi Pendidikan yang Bersangkutan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelajar kelas XII
memiliki efikasi diri yang cenderung tinggi. Hasil tersebut berkaitan
dengan sistem pendidikan yang dilakukan oleh SMA Bopkri
Yogyakarta, yaitu baik dari segi akademis maupun psikologis
dilakukan pendampingan yang cukup baik, serta adanya berbagai
macam sarana-prasarana bagi pelajar untuk mengembangkan bakat dan
minat sesuai dengan yang dimiliki oleh pelajarnya. Hal tersebut
sekiranya mendapatkan perhatian dari pihak sekolah sehingga pihak
sekolah tetap mempertahankan metode belajar mengajar yang ada.
2.
Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini secara khusus membahas mengenai efikasi diri
dalam bidang pendidikan. Pada penelitian selanjutnya pada subjek
kelas XII SMA, peneliti bisa meneliti variabel-variabel yang
kemungkinan berhubungan dengan efikasi diri sehingga bisa
43
Azwar, S. 1997.
Reliabilitas Dan Validitas
. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 1999.
Dasar-Dasar Psikometri
. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 2000.
Penyusunan Skala Psikologi
. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 2001,
Metode Penelitian.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Bandura, A. 1986.
A Social Cognitive Theory: Social Foundation of Thought And
Action
. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Bandura, A. 1977. Self-efficacy: Toward a Unifying Theory of Behavioral
Change.
Psychological Review
. Vol. 84, No. 2, 191-215.
Bandura, A. 1994. Self
‐
efficacy. In V. S. Ramachaudran (Ed.), Encyclopedia of
human behavior (Vol. 4, pp. 71
‐
81). New York: Academic Press. (Reprinted
in H. Friedman [Ed.], Encyclopedia of mental health. San Diego: Academic
Press, 1998).
Bromosuto, A. 2003. Perbedaan Efikasi Diri Antara Sebehun Dan Sesudah
Pelatihan Ketrampilan Kerja (PKTK) Pada Calon Tenaga Kerja.
Skripsi
(tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Sanata
Dharma.
Feist, J. and Feist, G. J. 1998.
Theories of Personality. 4
thed.
Boston:
McGraw-Hill Companies, Inc.
Hadi, S. 1991.
Analisis Butir untuk Instrument.
Yogyakarta: Andi Offset.
Hurlock. E. B. 1980.
Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan
. Jakarta: Airlangga.
Horocks, J.E. 1976. The Psychology of Adolescence. Boston Toronto: Houhton
Mifflin Company.
Ketika Ujian Nasional Makan Korban,
[online], (http://www.tabloidnova.com,
diakses tanggal 1 Mei 2008).
Khawatir Tak Lulus UAN, Ribuan Pelajar Bekasi Gelar Istighotsah
, [online],
(http://www.antara.co.id, diakses tanggal 1 Mei 2008).
Locke, J. L., 1978,
Women Liberation
; Woodwaed Publisher, New York.
Mönks, F.J., Knoers, A. M. P., dan Haditono, S. R. 1998.
Psikologi
Perkembangan
. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Retnowati, 1984. Pengaruh Suasana Rumah Terhadap Kecenderungan Neurotik
Pada Remaja di Kodya Yogyakarta.
Laporan Penelitian
. (tidak diterbitkan).
Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Schwarzer, R. (1992). Self-efficacy: Thought control of action. USA: Hemisphere
Publishing Corporation.
Sugiono,
(]999). Statistika untuk Penelilian.Bandung: CV. Alfabeta,
Vieno Alessio, dkk. (2007). Social support, sense of community in school, and
self-efficacy as resources during early adolescence: an integrative model.
American journal of community psychology.
Volume 39, Number 1-2,
177-90. Springer Netherlands.
45
LAMPIRAN 01
SKALA EFIKASI DIRI SEBELUM PENELITIAN
Isilah keterangan dibawah ini.
Nama
:
Nomor Urut :
Kelas
:
Jenis Kelamin :
Pernyataan-pernyataan berikut ini berkaitan dengan keadaan diri Anda.
Anda diminta untuk memilih salah satu alternatif jawaban yang paling sesuai atau
mendekati dengan pengalaman diri Anda sebagai siswa, dengan cara memberi
tanda silang (X) pada kolom pilihan jawaban yang tetah tersedia. Pilihan jawaban
terdiri dari:
a. (SS)
= Sangat Setuju
b. (S)
= Setuju
c. (TS)
= Tidak Setuju
d. (STS)
= Sangat Tidak Setuju
Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda, sehingga dalam hal
ini tidak ada jawaban yang benar dan jawaban yang salah maupun penilaian yang
baik dan penilaian yang buruk. Kami sangat menghargai kejujuran, keterbukaan,
dan kami menjamin kerahasiaan jawaban Anda.
No
Pernyataan
STS
TS
S
SS
1
Saya dapat dengan mudah menangkap
pelajaran yang diberikan oleh guru.
2
Saya merasa gelisah saat diadakan ujian
tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
3
Saya dapat menguasai semua hal yang
berkaitan dengan pelajaran.
No
Pernyataan
STS
TS
S
SS
5
Membayangkan mengerjakan tugas yang
sulit, membuat saya kuatir.
6
Saya merasa sanggup menyelesaikan
semua tugas yang diberikan guru.
7
Saya suka mencari informasi berkaitan
dengan pelajaran.
8
Saya hanya mampu menyelesaikan tugas
dengan baik ketika saya sehat.
9
Saya tidak suka berusaha memperoleh
informasi mengenai pelajaran.
10
Pada saat saya sakit, saya masih mampu
mengerjakan tugas dengan baik.
11
Saya berusaha sekuat tenaga untuk
mengerjakan tugas sekolah yang sulit.
12
Saat mempunyai tugas yang banyak, saya
yakin menyelesaikannya.
13
Pengalaman saat saya berhasil
menghadapi berbagai tugas dengan baik
mendorong saya lebih baik kedepan.
14
Memiliki tugas yang banyak dapat
memacu saya untuk menyelesaikan tugas
itu.
15
Saya sering belajar berbagai macam
pelajaran agar dapat menyelesaikan
berbagai macam tugas dengan baik.
16
Memiliki tugas yang banyak membuat saya
malas untuk menyelesaikan tugas itu.
17
Pengalaman saat saya gagal menghadapi
berbagai tugas, membuat saya pesimis
hasil yang baik kedepan.
18
Saya mudah berpikir saat menghadapi
berbagai macam tugas.
19
Saya merasa dapat mencari solusi yang
terbaik ketika menghadapi masalah.
20
Saya tidak terpengaruh oleh kegagalan
menghadapi ujian yang dialami oleh
teman-teman saya.
21
Saya pesimis dapat menyelesaikan
No
Pernyataan
STS
TS
S
SS
22
Saya mudah terpengaruh oleh kegagalan
menghadapi ujian yang dialami oleh
teman-teman saya.
23
Saya sulit belajar saat menghadapi
berbagai macam masalah.
24
Saya siap untuk menghadapi berbagai
macam tugas.
25
Saya juga tidak mampu mengerjakan ujian
Matematika dengan baik karena ujian
sebelumnya saya mendapat nilai jelek.
26
Saya merasa pengalaman ketidak
berhasilan saya tidak mempengaruhi saya
di hari selanjutnya.
27
Saya memperoleh nilai ujian yang jelek jika
ujian itu adalah pelajaran yang tidak saya
kuasai.
28
Saya menyukai keberhasilan dan akan
mengulangnya di kemudian hari.
29
Pengalaman gagal mengerjakan ujian
dengan baik akan terulang pada hari yang
akan datang.
30
Saya merasa dapat mengubah ketidak
berhasilan menjadi keberhasilan.
31
Saya yakin mengerjakan berbagai tugas
dengan pengetahuan yang saya miliki.
32
Saya terpengaruh dan menjadi stres ketika
ada teman dekat saya memiliki masalah.
33
Saya berani menghadapi masalah, karena
saya yakin dapat menyelesaikannya
34
Saya sukar untuk belajar hal yang baru
bagi saya.
35
Saya dapat menyelesaikan ujian dengan
baik karena saya yakin saya mampu
melakukannya.
36
Saya adalah orang yang tidak bisa
mempertahankan pendapat saya ketika
berdebat dengan teman saya.
No
Pernyataan
STS
TS
S
SS
38
Saya menyukai mengerjakan berbagai
macam tugas yang sulit.
39
Saya sukar dalam menguasai semua hal
yang berkaian dengan pelajaran.
40
Saya gelisah tidak sanggup menyelesaikan
tugas sekolah yang diberikan guru.
41
Saya sulit belajar untuk menunjang
kemampuan akademis saya.
42
Saya tidak menyukai tugas yang sulit dan
banyak.
43
Saya akan berusaha menyelesaikan tugas
dengan baik.
44
Saya dapat menyelesaikan ujian, walau
saya dalam keadaan stres.
45
Saya malas untuk mengerjakan tugas
sekolah yang sulit.
46
Saya hanya yakin mengerjakan tugas yang
sedikit.
47
Saya menyelesaikan tugas dengan
asal-asalan.
48
Saya tidak dapat menyelesaikan tugas
ketika saya stres.
49
Saya mencari alternatif penyelesaian lain
ketika solusi yang saya sadari adalah solusi
yang kurang baik.
50
Saya menyukai mendapatkan tugas yang
banyak.
51
Saya sukar dalam menguasai semua hal
yang berkaian dengan pelajaran.
52
Saya merasa sulit berpikir saat
menghadapi berbagai macam tugas.
53
Saya sulit mencari alternatif penyelesaian
masalah ketika solusi yang saya sadari
adalah solusi yang kurang baik.
54
Saya menyukai mendapatkan tugas yang
sedikit.
55
Saya yakin dapat menyelesaikan berbagai
macam tugas tepat pada waktunya.
No
Pernyataan
STS
TS
S
SS
57
Saya dapat belajar walaupun saya sedang
menghadapi berbagai macam masalah.
58
Sa