PENGARUH EFIKASI DIRI TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 KALASAN
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh Jodi Setiobudi NIM 12104244010
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
PENGARUH EFIKASI DIRI TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 KALASAN
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh Jodi Setiobudi NIM 12104244010
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri.
Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau
diterbitkan orang lain, kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata
penulisan karya ilmiah yang telah lazim.
Tanda tangan dosen penguji yang tertera dalam halaman pengesahan adalah asli,
jika tidak asli saya siap menerima sanksi ditunda yudisium pada periode
berikutnya.
Yogyakarta, 21 Oktober 2016 Yang menyatakan,
MOTTO
Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah SAW bersabda dalam doa:
“Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, karena-Mu aku melawan (musuh-musuh). Ya Allah dengan kekuatan-Mu yang tiada Tuhan selain Engkau, aku berlindung, jangan Kau sesatkan aku. Engkaulah Tuhan yang tidak mati, sedang
jin dan manusia akan mati.”
(HR. Muttafaq’alaih)
Man Jadda Wa Jadda
“Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil” (Al-hadits)
“Sesunguhnya Allah tidak akan mengubah satu kaum sebelum mereka mengubah
keadaan mereka sendiri”
(Terjemahan Qur’an, QS. Ar-Ra’d: 11)
You’ll Never Walk Alone
PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan kepada :
1. Bapak Guntur Setiobudi dan Ibu Lusida, kedua orang tuaku tercinta, yang
selalu memberikan doa, semangat dan dukungan yang tiada henti.
2. Almamater Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan,
PENGARUH EFIKASI DIRI TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 KALASAN
Oleh Jodi Setiobudi NIM 12104244010
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan 1) untuk mengetahui tingkat efikasi diri pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan, 2) untuk mengetahui tingkat pengambilan keputusan karir pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan, 3) untuk mengetahui pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitiatif dengan jenis korelasi sebab-akibat. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan yang berjumlah 222 siswa. Sampel pada penelitian ini menggunakan
teknik simple random sampling dengan jumlah 139 siswa. Alat pengumpul data
berupa skala efikasi diri dan skala pengambilan keputusan karir. Uji validitas
instrumen menggunakan validitas isi dengan uji expert judgment. Uji realibilitas
instrumen dihitung dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Hasil uji coba
reliabilitas instrumen mendapatkan nilai 0,837 untuk skala efikasi diri dan 0,877
untuk skala pengambilan keputusan karir. Analisis data dan uji hipotesis
menggunakan teknik regresi sederhana.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) efikasi diri siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan berada pada kategori tinggi, 2) pengambilan keputusan karir siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan berada pada kategori tinggi, 3) efikasi
diri mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pengambilan
keputusan karir pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan. Hal ini ditunjukkan dengan taraf signifikasi 0,000 (p <0,05) dan persamaan garis regresinya Y : 60,047 + 0,578 X. Nilai determinasi (R2) sebesar 0,351 dapat
diartikan bahwa efikasi diri memberikan sumbangan efektif sebesar 35,1%
terhadap pengambilan keputusan karir dan 64,1% dipengaruhi faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul “Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Pengambilan Keputusan
Karir Pada Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan”.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan dari penyusunan skripsi ini tidak
akan terwujud tanpa bantuan serta kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu
dengan segala kerendahan hati perkenankanlah penulis untuk mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan
untuk menjalani dan menyelesaikan studi di Universitas Negeri Yogyakarta.
2. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah
memfasilitasi kebutuhan akademik penulis selama menjalani masa studi.
3. Ketua Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta, yang telah berkenan memberikan izin dalam
penyusunan skripsi.
4. Bapak Drs. A. Ariyadi Warsito M.Si., dosen pembimbing saya yang telah
dengan sabar meluangkan waktu, perhatian, tenaga serta pikirannya untuk
membimbing penyusunan skripsi.
5. Bapak Drs. H. Tri Sugiharto, kepala SMA Negeri 1 Kalasan yang telah
memberikan kesempatan untuk mengadakan penelitian sehingga penulis dapat
melakukan penelitian di SMA Negeri 1 Kalasan.
6. Ibu Dra. Suryati, Ibu Nanik Supriyati, S.Pd dan Ibu Teti Nur’aeti, S.Pd selaku
guru BK di SMA Negeri 1 Kalasan yang telah bersedia untuk membantu
pelaksanaan penelitian.
7. Siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan atas kerjasama dan partisipasi dalam
pengumpulan data dalam penelitian ini.
8. Kedua orang tuaku Bapak Guntur Setiobudi dan Ibu Lusida yang telah
memberikan doa, perhatian, kasih sayang, dan selalu berusaha membantu baik
kesehatan, memberi perlindungan, dan memberi kebahagiaan dunia akhirat.
Aamiin.
9. Seluruh teman-teman khususnya keluarga BEKACE 2012 yang tidak dapat
saya sebutkan satu persatu. Terimakasih atas kesediaannya membagi
semangat, keceriaan, juga segala hal yang membelajarkan.
10.Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang telah
membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalan penulisan tugas akhir skripi ini masih
terdapat kekurangan. Oleh karena itu penulis menerima saran, komentar
ataupun kritik yang membangun. Semoga tugas akhir skripi ini dapat
memberikan manfaat bagi banyak pihak.
Yogyakarta, 21 Oktober 2016 Penulis,
DAFTAR ISI
B. Kajian Tentang Pengambilan Keputusan Karir ... 27
1. Definisi Karir ... 27
2. Perkembangan Karir ... 27
3. Definisi Pengambilan Keputusan Karir ... 30
4. Aspek-Aspek Pengambilan Keputusan Karir ... 32
5. Faktor-Faktor Pengambilan Keputusan Karir ... 35
6. Periode Pengambilan Keputusan Karir ... 38
7. Langkah-Langkah Pengambilan Keptusan Karir ... 40
C. Kajian Tentang Remaja ... 45
2. Kisi-Kisi Pengambilan Keputusan Karir ... 67
H. Uji Coba Instrumen ... 68
2. Deskripsi Data Pengambilan Keputusan Karir... 80
C. Pembahasan ... 88
D. Keterbatasan Penelitian ... 95
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 96
B. Saran ... 97
DAFTAR PUSTAKA ... 99
DAFTAR TABEL
hal
Tabel 1. Populasi Penelitian ... 61
Tabel 2. Penentuan Jumlah Sampel ... 62
Tabel 3. Skor Alternatif Jawaban Skala ... 64
Tabel 4. Kisi-Kisi Skala Efikasi Diri ... 66
Tabel 5. Kisi-Kisi Skala Pengambilan Keputusan Karir ... 67
Tabel 6. Interpretasi Koefisien Korelasi ... 70
Tabel 7. Kisi-Kisi Skala Efikasi Diri Setelah Uji Coba ... 72
Tabel 8. Kisi-Kisi Skala Pengambilan Keputusan Setelah Uji Coba ... 73
Tabel 9. Kategori Batas ... 74
Tabel 10. Analisis Statistik Data Hasil Penelitian ... 78
Tabel 11. Distribusi Frekuensi Efikasi Diri ... 79
Tabel 12. Distribusi Frekuensi Pengambilan Keputusan Karir ... 80
Tabel 13. Hasil Uji Normalitas ... 82
Tabel 14. Hasil Uji Linieritas ... 84
Tabel 15. Analisis Regresi ... 86
DAFTAR GAMBAR
hal
Gambar 1. Paradigma Penelitian ... 59
Gambar 2. Sebaran Data Efikasi Diri ... 80
Gambar 3. Sebaran Data Pengambilan Keputusan Karir ... 81
Gambar 4. Normal Probability Plot ... 83
DAFTAR LAMPIRAN
hal
Lampiran 1. Surat Keterangan Uji Coba Instrumen ... 103
Lampiran 2. Instrumen Penelitian Sebelum Uji Coba ... 105
Lampiran 3. Instrumen Penelitian Setelah Uji Coba ... 116
Lampiran 4. Tabulasi Data Uji Coba Efikasi Diri... 125
Lampiran 5. Tabulasi Data Uji Coba Pengambilan Keputusan Karir ... 127
Lampiran 6. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Efikasi Diri ... 129
Lampiran 7. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pengambilan Keputusan Karir ... 132
Lampiran 8. Tabulasi Data Penelitian Skala Efikasi Diri ... 135
Lampiran 9. Tabulasi Data Penelitian Skala Pengambilan Keputusan Karir.. 140
Lampiran 10. Deskriptif Statistik ... 145
Lampiran 11. Kategorisasi Data Penelitian ... 148
Lampiran 12. Uji Normalitas ... 153
Lampiran 13. Uji Linieritas ... 155
Lampiran 14. Uji Regresi ... 157
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju
masa dewasa dan salah satu tahap perkembangan dalam rentang kehidupan
manusia. Santrock (2007: 20) mendefinisikan masa remaja (adolescence) sebagai
masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa, dimana periode tersebut
melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosio-emosional.
Banyaknya perubahan yang terjadi pada masa remaja menunjukan bahwa masa
remaja merupakan periode penting dalam kehidupan manusia karena sikap dan
perilaku yang dimiliki pada masa ini akan memiliki dampak terhadap
perkembangan di masa selanjutnya.
Menurut Hurlock (dalam Rita Eka Izzaty, dkk, 2008: 124) menyatakan
awal masa remaja berlangsung kira-kira dari usia 13 tahun sampai 16 tahun, dan
akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun, yaitu usia
matang secara hukum. Ditinjau dari tingkat pendidikan, remaja yang berusia
antara 15 hingga 18 tahun umumnya telah berada pada jenjang sekolah menengah
atas (SMA/SMK). Sebagai individu yang telah memasuki masa remaja, siswa
SMA memiliki beberapa tugas perkembangan yang harus dicapai dalam rentang
kehidpuan manusia.
Salah satu tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa remaja
menurut Havighurst (dalam Syamsu Yusuf, 2006: 83) yaitu memilih dan
merupakan salah satu langkah awal dalam mempersiapkan karir di masa depan.
Rencana karir yang dibuat tersebut nantinya dapat digunakan atau dijadikan
sebagai dasar dalam menentukan pilihan dan memilih karir yang diwujudkan
melalui pengambilan keputusan karir.
Pengambilan keputusan karir siswa SMA setelah lulus dari sekolah
idealnya yaitu melanjutkan studi ke pendidikan tinggi sesuai dengan tujuan dan
fungsi SMA yang tercantum pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 17 Tahun 2010
pasal 76 ayat 1. Pada PP tersebut dijelaskan bahwa fungsi dan tujuan SMA adalah
meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang
yang lebih tinggi dan atau untuk hidup mandiri di masyarakat. Jika dilihat dari
fungsi dan tujuan SMA tersebut, pengambilan keputusan karir siswa SMA lebih
mengarah untuk melanjutkan studi ke pendidikan tinggi daripada bekerja. hal
tersebut di karenakan siswa SMA tidak dipersiapkan atau dibekali keterampilan
khusus untuk bekerja seperti siswa SMK yang dipersiapkan dan dibekal keahlian
atau ketrampilan khusus untuk bekerja setalah lulus dari sekolah.
Menurut teori perkembangan karir yang dikemukakan oleh Super (dalam
Winkel dan Hastuti, 2004: 632) kemampuan memilih dan mempersiapkan karir
siswa SMA berada pada tahap eksplorasi. Pada tahap ini siswa sudah mulai
mencari dan mengumpulkan berbagai informasi karir sesuai dengan bakat, minat
potensi atau kemampuan yang dimiliki. Pada tahap ini, siswa mulai belajar untuk
membuat rencana karir dan membuat keputusan karir dari informasi yang telah
dimiliki. Ketika akan menentukan kelanjutan studi siswa dihadapkan pada
pilihan program studi. Banyaknya pilihan tentang kelanjutan studi tersebut
membuat siswa memiliki banyak pilihan kelanjutan studi dan yang secara tidak
langsung dapat membuat bingung dalam menentukan pilihan kelanjutan studi,
sehingga pilihan kelanjutan studi yang akan dipilih masih bersifat sementara.
Selanjutnya pilihan kelanjutan studi yang masih bersifat sementara tersebut mulai
dipersempit sesuai dengan tujuan karir yang ingin dicapai di masa depan. Pilihan
kelanjutan studi tersebut yang nantinya akan dipilih oleh siswa dalam
pengambilan keputusan karir.
Pengambilan keputusan merupakan salah satu proses dari penentuan
pilihan (Sharf, 1992: 303). Pengambilan keputusan dalam konteks penelitian ini
adalah pengambilan keputusan karir yang dilakukan oleh siswa kelas XII SMA.
Ketika akan melakukan pengambilan keputusan karir, siswa mulai belajar
merencanakan karir dan menentukan pilihan kelanjutan studi sesuai dengan tujuan
karir yang ingin dicapai dan selanjutnya direalisasikan melalui pengambilan
keputusan karir. Keberhasilan karir dimasa depan salah satunya dapat ditandai
dari keputusan karir yang diambil. Kesesuaian keputusan karir yang dibuat
berdasarkan kemampuan yang dimiliki akan mempermudah siswa dalam meraih
kesuksesan di masa depan, sedangkan ketidaksesuaian pengambilan keputusan
karir dapat menghambat siswa dalam meraih keberhasilan di masa depan karena
dengan kemampuan yang dimiliki siswa dapat mengukur sejauh mana keyakinan
dalam mengambil keputusan.
Pengambilan keputusan karir bukanlah perkara yang mudah bagi siswa,
dapat mempengaruhi siswa dalam pengambilan keputusan karir. Peneliti
menemukan permasalahan pengambilan keputusan karir ketika melakukan Praktik
Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri 1 Kalasan pada bulan Agustus tahun
2015 melalui angket permasalahan dan Daftar Cek Masalah (DCM). Berdasarkan
angket permasalahan yang dikumpulkan oleh peneliti, diketahui bahwa
permasalahan tentang karir paling banyak dialami oleh siswa kelas XII, sedangkan
permasalahan yang paling banyak dialami siswa kelas X adalah masalah
penyesuaian diri dengan lingkungan baru khususnya banyaknya tugas yang
diberikan oleh guru dan padatnya kegiatan disekolah. Pada kelas XI yaitu masalah
belajar dan kesulitan memanajemen waktu. Permasalahan tentang karir tersebut
juga didukung oleh hasil analisis DCM yang disebar peneliti, berdasarkan hasil
analisis DCM diketahui bahwa masalah tentang karir dalam bidang masa depan
dan cita-cita mayoritas banyak dialami oleh siswa XII, seperti siswa bingung
menentukan pilihan kelanjutan studi setelah lulus dari sekolah sehingga membuat
siswa belum mampu menentukan pilihan kelanjutan studinya.
Lebih lanjut peneliti melakukan wawancara kepada 10 siswa kelas XII
SMA Negeri 1 Kalasan tentang pengambilan keputusan karir, 3 siswa diantaranya
merasa belum mempunyai gambaran dan masih bingung dalam menentukan
kelanjutan studi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, sehingga membuat
siswa belum dapat memutuskan kelanjutan studi yang akan dipilih. Sementara 7
siswa yang lain masih bingung dalam menentukan pilihan program studi yang
akan dipilih karena memiliki lebih dari dua pilihan yang diminati. Beberapa siswa
dengan keinginan dan mengikuti kegiatan diluar jam sekolah seperti kursus yang
dapat menunjang pilihan kelanjutan studi, tetapi pilihan tersebut tidak sesuai atau
berbeda dengan pilihan program studi yang diinginkan orang tuanya. Perbedaan
pilihan kelanjutan studi membuat siswa bingung antara memilih pilihan yang
diminati atau mengikuti pilihan dari orang tuanya. Kebingungan yang dialami
siswa dalam menentukan kelanjutan studi ini secara tidak langsung dapat
mempengaruhi kesiapan siswa dalam pengambilan keputusan karir.
Dari hasil hasil wawancara dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK),
diperoleh informasi bahwa siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan memiliki
antusiasme yang tinggi ketika guru BK memberikan layanan bimbingan klasikal
bidang karir. Antusiasme tersebut dapat dilihat dari keaktifan siswa, misalnya
ketika guru BK memberikan materi dalam bidang karir khususnya tentang
kelanjutan studi siswa banyak yang bertanya atau berdiskusi mengenai materi
yang diberikan. selain itu ada beberapa siswa yang melakukan konsultasi lebih
lanjut untuk memantapkan pilihan kelanjutan studinya. Beberapa upaya telah
dilakukan oleh guru BK untuk membantu siswa mempersipakan karirnya, seperti
pemberian layanan bidang karir baik secara klasikal, bimbingan kelompok dan
konseling individual bagi siswa yang membutuhkan, bekerjasama dengan
beberapa pihak luar seperti satuan lembaga pendidikan tinggi dan alumni dalam
pemberian layanan informasi karir, menempelkan poster di papan bimbingan yang
berisi informasi dari berbagai pendidikan tinggi dan membagikan leaflet tentang
masih menemukan beberapa siswa kelas XII yang mengaku bingung dalam
menentukan pilihan kelanjutan studi.
Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan oleh Difa Ardiyanti dan
Asmadi Alsa pada tahun 2014 terhadap 157 siswa kelas XI dari tiga SMA wilayah
Yogyakarta, terdapat 43% siswa yang belum yakin dan masih bingung dengan
pilihan program studi yang ada di perguruan tinggi. Sementara dari hasil studi
pendahuluan yang dilakukan peneliti melalui wawancara kepada beberapa siswa
kelas XII SMA Negeri 1 Ngaglik dan SMA Negeri 1 Prambanan pada 22-23
Februari 2016, diketahui bahwa beberapa siswa di sekolah tersebut mengalami
kebimbangan dan kesulitan dalam menentukan kelanjutan studi, selain itu ada
beberapa siswa merasa informasi yang dimiliki tentang kelanjutan studi masih
terbatas. Dari studi pendahulaun tersebut menunjukkan bahwa permasalahan karir
khusunya dalam menentukan pilihan kelanjutan studi juga dialami oleh siswa
SMA kelas XII di sekolah lain.
Berdasarkan fenomena tersebut dapat dilihat siswa mengalami
kebingungan dan tidak mampu mengambil keputusan kelanjutan studi yang
didahului dengan adanya rasa tidak yakin atau keraguan dalam menetapkan
pilihan kelanjutan studi. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan siswa dalam
menetapkan pilihan berperan penting dalam pengambilan keputusan karir.
Keyakinan diri individu terhadap kemampuan yang dimiliki ini sering disebut
sebagai efikasi diri. Menurut Alwisol (2011: 287) efikasi diri mengacu pada
keyakinan yang berkaitan dengan kemampuan serta kesanggupan individu untuk
yang telah ditentukan. Efikasi diri merupakan salah satu hal penting yang dapat
menentukan keberhasilan suatu tindakan yang akan dilakukan, tindakan dalam
konteks penelitian ini adalah pengambilan keputusan karir. Pada penelitian ini peneliti memandang efikasi diri memiliki peran penting dalam pengambilan
keputusan karir. Efikasi diri yang dimiliki siswa dalam pengambilan keputusan
karir akan mendorong siswa menentukan pilihan kelanjutan studinya berdasarkan
keyakinan atas kemampuan yang dimiliki. Pengambilan keputusan karir menurut
Winkel dan Sri Hastuti (2004: 645-655) didasari oleh faktor internal yang
meliputi nilai-nilai kehidupan, taraf intelegensi, bakat khusus, minat, sifat-sifat
yang dimiliki, pengetahuan, keadaaan jasmanai dan faktor eksternal yang meliputi
masyarakat, keadaan sosial ekonomi keluarga, status sosial keluarga, pengaruh
dari anggota keluarga, pengaruh dari sekolah dukungan sosial keluarga dan
pergaulan teman sebaya. Pada penelitian ini peneliti ingin mencari apakah
terdapat pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir dan jika ada
seberapa besar pengaruhnya karena karena berdasarkan fenomena yang terjadi
terdapat siswa yang mengalami keraguan dalam pengambilan keputusan karir.
peneliti mencoba mengaitkan keraguan yang dialami oleh siswa dengan efikasi
diri.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nur Hidayati (2015: 66)
dengan judul “Hubungan Antara Efikasi Akademik dengan Minat Melanjutkan
Studi di Perguruan Tinggi Pada Siswa Kelas XI di SMA Negeri 1 Kretek Bantul”.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif antara efikasi diri
Kretek. Hal ini berarti semakin tinggi efikasi diri maka akan diikuti dengan
tingginya minat melanjutkan studi di perguruan tinggi. Sebaliknya, semakin
rendah efikasi diri maka akan semakin rendah minat melanjutkan studi di
perguruan tinggi.
Sementara itu berdasarkan data sebaran alumni yang diperoleh dari guru
BK, menunjukkan bahwa pada tahun ajaran 2012/2013 sebanyak 174 siswa SMA
Negeri 1 Kalasan melanjutkan ke pendidikan tinggi dan 2 siswa bekerja. Pada
tahun ajaran 2013/2014 sebanyak 209 siswa melanjutkan ke pendidikan tinggi dan
7 siswa bekerja. Pada tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 191 siswa melanjutkan ke
pendidikan tinggi dan 5 siswa bekerja. Berdasarkan data sebaran alumni tersebut
dapat disimpulkan bahwa mayoritas alumni SMA Negeri 1 Kalasan melanjutkan
studi ke pendidikan tinggi. Mengacu pada data sebaran alumni tersebut peneliti
ingin mengetahui tingkat keyakinan yang dimiliki siswa dalam menentukan
pilihan kelanjutan studi, karena berdasarkan fenomena yang ditemukan peneliti
masih ada beberapa siswa yang bingung dan ragu dalam menentukan kelanjutan
studi.
Berdasarkan permasalahan karir siswa yang telah diuraikan diatas, hasil
wawancara, studi pendahuluan, penelitian terdahulu yang relevan dan data sebaran
alumni, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh
Efikasi Diri Terhadap Pengambilan Keputusan Karir Pada Siswa Kelas XII SMA
Negeri 1 Kalasan”. Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui tingkat efikasi
diri siswa karena fenomena yang terjadi di SMA Negeri 1 Kalasan ada beberapa
keputusan karir, tingkat kemampuan siswa dalam pengambilan keputusan karir ,
dan pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir pada siswa kelas
XII.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
dapat diambil identifikasi masalah sebagai berikut:
1. Ada beberapa siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan yang mengalami
kebingungan menentukan pilihan kelanjutan studi sehingga membuat siswa
belum mampu menentukan pilihan kelanjutan studinya.
2. Ada beberapa siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan yang merasa belum
mempunyai gambaran dan masih bingung dalam menentukan kelanjutan studi
yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sehingga membuat siswa belum
dapat memutuskan kelanjutan studi yang akan dipiih.
3. Kebingungan yang dialami siswa dalam menentukan kelanjutan studi
mempengaruhi kesiapan siswa dalam pengambilan keputusan karir
4. Kebingungan yang dialami siswa dalam menentukan kelanjutan studi
membuat siswa tidak yakin atas kemampuan yang dimiliki dalam
pengambilan keputusan karir
C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, peneliti
membatasi masalah agar masalah yang dikaji lebih fokus pada pengaruh efikasi
diri terhadap pengambilan keputusan karir siswa kelas XII SMA Negeri 1
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, perumusan masalah pada penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat efikasi diri siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan?
2. Bagaimana tingkat pengambilan keputusan karir siswa SMA Negeri 1
Kalasan?
3. Apakah terdapat pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan
karir siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan yang akan dicapai dalam
penelitian ini adalah:
1. Mengetahui tingkat efikasi diri siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan.
2. Mengetahui tingkat pengambilan keputusan karir siswa kelas XII SMA
Negeri 1 Kalasan.
3. Mengetahui pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir
siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian mengenai pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan
keputusan karir siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan, diharapakan bermanfaat
secara teoritis dan praktis.
1. Secara Teoritis
Ditinjau dari sisi teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
dalam bidang ilmu Bimbingan dan Konseling yang mengkaji tentang
pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir pada siswa
2. Secara Praktis
a. Bagi siswa
Hasil penelitian ini dapat memberikan pemahaman bagi siswa tentang
efikasi diri dan pengambilan keputusan karir yang dimiliki untuk
dikembangkan secara optimal sehingga tidak mengalami permasalahan
berkaitan dengan efikasi diri dan pengambilan keputusan karir serta
memiliki keyakinan dalam pengambilan keputusan karirnya.
b. Bagi guru BK
Dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi
permasalahan karir yang dialami oleh siswa dalam hal efikasi diri dan
pengambilan keputusan karir. Selain itu dengan adanya penelitian ini dapat
membantu guru BK dalam upaya peningkatan pelayanan Bimbingan dan
Konseling terutama di bidang karir.
c. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan bahan referensi untuk
penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan
BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Efikasi Diri
1. Definisi Efikasi Diri
Efikasi diri diperkenalkan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura
dalam bukunya yang bejudul Self Efficacy The Exercise of Control (1997:3)
mengatakan :
“Efficacy is a major basis of action. People guide their lives by their
beliefs of personal efficacy. Self-efficacy refers to beliefs in one’s capabilities to organize and execute the course of action required to product given attainments”
Efikasi diri adalah dasar utama dari suatu tindakan. Keyakinan yang dimiliki
oleh individu akan membimbing dan mendorong kearah keberhasilan dalam
melakukan suatu tindakan. Efikasi diri ini mengacu pada keyakinan atas
kemampuan individu untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang
diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Lebih lanjut Bandura (dalam Feist
& Feist, 2011: 211) mengemukakan efikasi diri merupakan bagaimana
manusia bertindak dari suatu situasi bergantung pada hubungan timbal balik
dari perilaku, lingkungan dan kondisi kognitif, terutama faktor-faktor kognitif
yang berhubungan dengan keyakinan bahwa mereka mampu atau tidak
mampu melakukan suatu perilaku yang diperlukan untuk menghasilkan
pencapaian yang di inginkan dalam suatu situasi.
Menurut Alwisol (2011: 287) efikasi diri mengacu pada keyakinan
yang berkaitan dengan kemampuan dan kesanggupan individu untuk mencapai
Lebih lanjut Alwisol (2011: 288) menjelaskan efikasi diri adalah penilaian
diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah,
bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan.
Sementara Baron dan Byrne (dalam Alwisol, 2011: 287) menjelaskan efikasi
diri sebagai evaluasi seseorang mengenai kemampuan dan kompetensi dirinya
untuk melakukan suatu tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi hambatan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa efikasi
diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimiliki dalam
menghadapi atau menyelesaikan suatu tugas sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai. Efikasi diri ini berkaitan dengan keyakinan pada diri individu
terhadap kemampuannya dalam melakukan suatu tindakan, jika individu
memiliki efikasi diri tinggi maka akan dapat menentukan dan melaksanakan
tindakan sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi serta akan berusaha
menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahannya.
2. Sumber-Sumber Efikasi Diri
Menurut Feist & Feist (2011: 213) efikasi diri yang dimiliki oleh
individu dapat diperoleh, ditingkatkan, atau dikembangkan melalui salah satu
kombinasi dari dari empat sumber, antara lain sebagai berikut:
a. Pengalaman menguasai sesuatu (mastery experience)
Menurut Bandura (dalam Feist & Feist, 2011: 214) sumber yang
paling berpengaruh dari efikasi diri adalah pengalaman menguasai
sesuatu, yaitu performa yang dimiliki oleh individu di masa lalu. Secara
kemampuan yang dimiliki, sedangkan kegagalan cenderung akan
menurunkan hal tersebut. Pernyataan tersebut memberikan enam
dampak, yaitu:
1) Keberhasilan akan mampu meningkatkan efikasi diri secara
proposional dengan kesulitan dari tugas yang di hadapi.
2) Tugas yang mampu diselesaikan oleh diri sendiri akan lebih efektif
diselesaikan daripada dengan bantuan orang lain.
3) Kegagalan dapat menurunkan efikasi diri ketika seseorang merasa
sudah memberikan usaha yang terbaik tetapi belum mendapatkan
hasil yang di inginkan.
4) Kegagalan yang terjadi ketika berada dalam tekanan emosi tinggi
tidak terlalu merugikan diri dibandingkan kegagalan dalam kondisi
emosi dan usaha yang maksimal.
5) Kegagalan sebelum memperoleh pengalaman lebih berdampak pada
efikasi diri daripada kegagalan setelah memperoleh pengalaman.
6) Kegagalan akan berdampak sedikit pada efikasi diri individu
terutama pada mereka yang memiliki ekspetasi kesuksesan yang
tinggi.
b. Modeling Sosial.
Sumber kedua dari efikasi diri adalah modeling sosial (vicarious experience). Kesuksesan atau kegagalan dari orang lain sering digunakan sebagai alat pengukur kemampuan diri seseorang. Efikasi diri dapat
kompetensi setara, namun efikasi diri dapat berkurang ketika melihat
teman atau rekan sebaya yang setara gagal. Secara umum, permodelan
sosial tidak memberikan dampak yang besar dalam peningkatan efikasi
diri seseorang, tetapi permodelan sosial dapat memberikan dampak yang
besar dalam penurunan efikasi diri.
c. Pesuasi Sosial.
Efikasi diri juga dapat diperoleh atau dilemahkan melalui persuasi
sosial. Dampak dari persuasi sosial terhadap meningkatnya atau
menurunya efikasi diri cukup terbatas dan harus pada kondisi yang tepat.
Kondisi tersebut adalah bahwa seseorang haruslah mempercayai pihak
yang melakukan persuasi karena kata-kata atau kritik dari sumber yang
terpercaya lebih efektif daripada kata-kata dari sumber yang tidak
terpercaya, sumber terpercaya dalam konteks ini adalah seseorang yang
memiliki pengalaman atau pernah melakukan tindakan yang akan
dilakukan oleh seorang individu. Meningkatkan efikasi diri melalui
persuasi sosial paling efektif ketika dikombinasikan dengan performa yang
sukses. Persuasi dapat meyakinkan seseorang untuk berusaha dalam suatu
kegiatan jika performa yang dilakukan tersebut suskes.
d. Kondisi Fisik dan Emosional.
Emosi yang kuat biasanya akan mengurangi performa diri, ketika
seseorang mengalami katakutan yang kuat, kecemasan atau tingkat stress
yang rendah sehingga emosi yang kuat cenderung akan mengurangi
performa yang dimiliki.
3. Dimensi Efikasi Diri
Menurut Bandura (1997: 42-43) perbedaan efikasi diri yang dimiliki
setiap individu terletak pada tiga komponen, yaitu:
a. Dimensi tingkat kesulitan (Level)
Dimensi tingkat kesulitan tugas ini adalah dimensi yang berkaitan
dengan tingkat kesulitan tugas yang dihadapi oleh individu. Apabila
individu menghadapai tugas-tugas yang disusun menurut tingkat
kesulitannya, maka efikasi diri individu akan cenderung memilih pada
kesulitan tugas yang mudah, sedang, bahkan tugas-tugas yang sulit sesuai
dengan batas kemampuan yang dimiliki oleh individu tersebut. Semakin
tinggi tingkat kesulitan tugas yang dihadapi maka akan semakin tinggi
pula efikasi diri yang harus dimiliki. Artinya, individu yang memiliki
efikasi diri rendah akan cenderung menghindari tugas-tugas yang
memiliki tingkat kesulitan diluar batas kemampuannya.
Sebagai contoh, seorang siswa memiliki kemampuan yang cukup
tinggi dalam bahasa inggris dan memiliki kemampuan yang rendah
dalam bahasa daerah, ketika ada tugas dua mata pelajaran yang harus
dikumpulkan secara bersamaan maka siswa tersebut akan mengerjakan
tugas bahasa inggris terlebih dahulu karena siswa tersebut memilih untuk
mengerjakan tugas sesuai dengan tingkat kesulitan yang dihadapi dan
inggris lebih cepat daripada tugas bahasa daerah yang membutuhkan
waktu lebih lama untuk menyelesaikannya.
b. Dimensi Generalisasi (Generality).
Dimensi generalisasi berkaitan dengan luas cakupan bidang
kemampuan yang dimiliki individu. Hal tersebut dapat dilihat dari
kemampuan individu dalam mengerjakan tugas. Apakah kemampuan
individu hanya terbatas pada suatu tugas tertentu atau pada tugas dan
situasi yang bervariasi tergantung pada pemahaman individu terhadap
kemampuan yang dikuasai.
Sebagai contoh, seorang siswa meyakini kemampuannya cukup
baik dalam bidang seni terutama seni rupa. Siswa tersebut tidak mau
mencoba untuk memperluas kemampuan seninya di bidang seni yang lain
seperti seni musik atau seni tari. Siswa tersebut meyakini batas
kemampuannya terbatas hanya dalam bidang seni rupa dan kurang yakin
dengan kemampuannya di bidang seni yang lain selain seni rupa,
sehingga ketika ada tugas bidang seni tetapi di luar bidang seni rupa
maka siswa tersebut akan kesulitan menyelesaikan tugas tersebut karena
kemampuan pengusaan di bidang seni hanya terbatas di bidang seni rupa.
c. Dimensi tingkat kekuatan (Strength)
Dimensi tingkat kekuatan berkaitan dengan tingkat kekuatan dari
keyakinan atau pengharapan individu terhadap kemampuannya. Individu
yang memiliki keyakinan kuat akan mendorong dan terus berusaha
yang tidak menyenangkan. Sebaliknya jika individu tersebut memiliki
keyakinan yang lemah akan membuat individu tersebut mudah goyah
oleh pengalaman-pengalaman yang tidak sesuai dengan harapan.
Sebagai contoh, seorang siswa mempunyai cita-cita ingin menjadi
musisi yang hebat, siswa tersebut lalu membeli beberapa peralatan musik
dan berlatih rutin secara mandiri. Siswa tersebut memiliki harapan dan
keyakinan bahwa suatu saat akan menjadi musisi yang hebat dengan rajin
berlatih dan belajar setiap hari. Melalui usaha yang dilakukannya,
akhirnya siswa tersebut merasakan hasil dari usahanya yaitu menjadi
musisi hebat dan dikenal banyak orang. Sebaliknya jika siswa tersbut
tidak memiliki kekuatan dari kemampuan atau pengarapannya maka akan
mudah goyah atau putus asa ketika mendapat pengalaman kurang
mengenakan dalam mencapai tujuan menjadi musisi.
4. Aspek-Aspek Efikasi Diri
Aspek-aspek efikasi diri merupakan hal yang penting dalam
melihat efikasi diri yang dimiliki oleh individu. Corsini (dalam Hartono,
2005: 20-21) membagi aspek-aspek efikasi diri menjadi empat, yaitu
sebagi berikut:
a. Aspek Kognitif
Kemampuan sesorang untuk memikirkan cara-cara yang digunakan
dan merancang tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan yang
diharapkan. Dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan setiap
dilakukan sehingga dapat melakukan tindakan sesuai dengan yang
diharapkan. Fungsi utama berpikir adalah memungkinkan seseorang untuk
memprediksi peristiwa atau kejadian sehari-hari yang akan berdampak
pada masa depannya. Asumsi timbul pada aspek kognitif yaitu ketika
semakin efektif kemampuan seseorang dalam melakukan analisis berpikir
dan kemampuan dalam berlatih mengungkapkan ide-ide atau gagasan
pribadi maka akan mendukung seseorang bertindak dengan cepat dalam
mencapai tujuan yang diharapkan.
Sebagai contoh, apabila seseorang dihadapkan pada suatu
permasalahan, orang tersebut akan menggunakan kemampuan kognitifnya
dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan memikirkan dan
merancang tindakan yang akan dilakukan untuk menghadapi permsalahan
tersebut. Seseorang tersebut juga akan memprediksi dampak dari tindakan
yang akan dilakukannya sehingga ketika sudah memiliki solusi dari
permasalahan yang dihadapi seseorang tersebut siap menerima dan
menjalani tindakan yang akan dilakukan, sebaliknya apabila seseorang
tersebut tidak mampu memikirkan atau merancang tindakan yang akan
dilakukan maka permasalahan yang dialami tidak akan terselesaikan
bahkan akan muncul permasalahan-permasalahan baru.
b. Aspek Motivasi
Kemampuan seseorang memotivasi diri melalui pemikirannya
untuk melakukan suatu tindakan dan keputusan untuk mencapai tujuan
menetapkan keyakinan pada tindakan yang akan dilakukan. Motivasi
dalam efikasi diri digunakan untuk memprediksi kesuksesan dan
kegagalan seseorang. Apabila sesorang memiliki motivasi maka akan
berusaha dalam mencapai setiap tujuan yang ingin dicapai, sebaliknya
seseorang tidak memiliki motivasi maka akan cenderung mudah menyerah
ketika mengalami kegagalan dan tidak mencoba untuk bangkit atau
berusaha usaha dalam mencapai tujuan tersebut.
Sebagai contoh, ada siswa SMA yang mempunyai keinginan
melanjutkan studi ke akademi militer. Siswa tersebut memotivasi diri agar
dapat diterima di akademi militer. Motivasi yang dimiliki lalu mendorong
untuk mempersiapkan diri, siswa tersebut lalu mencari informasi yang
berkaitan dengan akademi militer seperti persyaratan agar bisa diterima di
akademi militer. Setelah itu siswa tersebut membuat tulisan atau cara lain
yang dapat memotivasi dirinya untuk rajin belajar dan mempersiapkan diri
semaksimal mungkin agar bisa lolos seleksi masuk akademi militer.
Dengan tekad yang kuat siswa tersebut memiliki keyakinan pada
kemampuan yang dimilki dapat diterima di akademi militer melalui
motivasi yang dimiliki dan dengan usaha yang dilakukannya. Pada seleksi
pertama siswa tersebut gagal di tahap fisik, melalui pengalaman yang
diperolehnya siswa tersebut lalu memperbaiki diri dan mempersiapkan diri
agar bisa lolos seleksi pada tahun berikutnya. Akhirnya pada seleksi di
tahun kedua siswa tersbut lolos dan diterima di akademi militer seperti
putus asa atau mudah menyerah dan tidak memiliki usaha untuk mencapai
keinginnya.
c. Aspek Afeksi
Kemampuan mengatasi emosi yang timbul pada diri sendiri untuk
mencapai tujuan yang diharapkan. Afeksi terjadi secara alami dalam diri
seseorang dan berperan dalam menentukan intensitas pengalaman
emosional. Afeksi ditunjukan dengan kemampuan untuk menempatkan
diri ketika sedang merasakan emosi positif menjadi energi yang positif
bagi diri sendiri dan kemampuan untuk mengontrol emosi negatif yang
dapat menghalangi atau menghambat pola pikir dalam mencapai tujuan
seperti marah, kesal, dan cemas atau emosi negatif yang memiliki kurang
baik bagi diri sendiri.
Sebagai contoh, ada siswa yang cemas ketika menunggu
pengumuman hasil seleksi masuk ke perguruan tinggi, siswa tersebut
cemas karena teman yang lebih pintar dan memilih program studi sama
dengan pilihannya tidak lolos seleksi. Siswa tersebut lalu berdoa dan
melakukan kegiatan untuk dapat mengalihkan kecemasan yang sedang di
rasakanya. Kecemasan pada diri siswa tersebut berangsur-angsur mulai
berkurang dan menjadi lebih tenang menunggu pengumuman seleksi
masuk ke perguruan tinggi. Siswa tersebut mampu mengatasi kecemasan
yang dirasakan dan menyadari bahwa cemas yang berlebihan hanya akan
membuatnya semakin takut untuk menunggu pengumuman hasil seleksi
d. Aspek Seleksi
Kemampuan seseorang untuk menyeleksi tingkah laku sesuai
dengan situasi yang terjadi. Seseorang yang mampu menyeleksi tingkah
lakunya akan terhindar dari hal-hal negatif dari tingkah laku yang
dilakukannya. Seleksi tingkah laku dapat mempengaruhi perkembangan
pribadi individu karena ketidakmampuan individu dalam melakukan
seleksi tingkah laku, ketidakmampuan dalam menyeleksi tingkah laku
akan berdampak pada munculnya perasaan tidak percaya diri, panik,
bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan dan mudah menyerah ketika
menghadapi situasi yang sulit.
Sebagai contoh, ketika guru memberikan tugas, ada beberapa siswa
yang mencontek pekerjaan temannya, melihat temannya yang mencontek
lalu siswa lain ikut-ikutan mencotek karena siswa tersebut merasa tidak
mampu dan tidak yakin dapat mengerjakan tugas yang diberikan oleh
gurunya. Dari gambaran tersebut dapat dilihat bahwa siswa terpengaruh
teman yang mencotek dan tidak berusaha untuk memilih tindakan lain
selain mencontek walaupun masih ada cara lain dalam menyelesaikan
tugas tersebut seperti bertanya kepada teman yang lebih menguasai atau
mencari jawaban dari sumber lain, sehingga tingkah laku yang terlihat
adalah siswa ikut-ikutan mencontek. Siswa tersebut merasa tidak percaya
diri dengan kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan tugas dan
tidak menyadari dan memahami bahwa mencontek merupakan tindakan
5. Pengaruh Efikasi Diri pada Tingkah Laku
Secara tidak langsung efikasi diri akan mempengaruhi perilaku
individu dalam di kehidupan sehari-hari, seperti pendapat yang dikemukakan
oleh Luthans (2006: 340) mengenai pengaruh efikasi diri pada tingkah laku
adalah sebagai berikut :
a. Pemilihan perilaku
Salah satu pengaruh efikasi diri adalah ketika membuat keputusan.
Keputusan yang dibuat berdasarkan bagaimana efikasi diri dirasakan
seseorang terhadap pilihan. Pemilihan keputusan ini di dasarkan pada
keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menghadapi
kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi.
b. Usaha motivasi
Individu akan berusaha lebih keras dalam mencapai tujuan yang
ingin dicapai, dalam hal ini efikasi diri yang dimiliki lebih tinggi daripada
mereka yang kurang memiliki usaha dalam mencapai tujuan yang ingin
dicapai. Efikasi diri akan mempengaruhi sajauh mana individu dapat
bertahan dalam menghadapi hambatan-hambatan yang kurang
menyenangkan melalui usaha-usaha yang dilakukannya.
c. Daya tahan
Efikasi diri akan mempengaruhi daya tahan ketika indivdu
mengahadapi masalah. Individu dengan efikasi diri tinggi akan bangkit
individu yang memiliki efikasi diri rendah akan merasa putus asa dengan
kegagalan yang dialaminya.
d. Pola pemikiran fasilitatif
Penilaian efikasi diri akan mempengaruhi perkataan pada diri
sendiri seperti orang dengan efikasi diri tinggi akan mengatakan “saya
tahu saya akan dapat menemukan cara untuk menyelesaikan masalah ini”.
dan bagi yang memiliki efikasi diri rendah akan berkata sebaliknya.
e. Daya tahan terhadap stress
Individu dengan efikasi diri rendah cenderung akan mudah
mengalami stress atau mengalah pada permasalahan yang dihadapi. Hal ini
karena individu merasa gagal menyelesaikan permasalahan yang dialami
dan merasa terbebani sehingga akan mudah mengalami stress, sementara
individu dengan efikasi diri tinggi akan menghadapi masalah dengan
percaya diri sehingga dapat terhindar dari stress.
Dari penjelasan tentang efikasi diri yang telah diuraikan peneliti
dapat disimpulkan bahwa efikasi diri adalah keyakinan individu terhadap
kemampuan yang dimiliki dalam menghadapi atau menyelesaikan suatu
tugas sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Efikasi diri ini berkaitan
dengan keyakinan pada diri individu terhadap kemampuannya dalam
melakukan suatu tindakan, jika individu memiliki efikasi diri tinggi maka
akan dapat menentukan memilih tindakan sesuai dengan situasi yang sedang
dihadapi. Keberhasilan suatu tindakan yang akan dilakukan dipengaruhi
membantu individu dalam memahami kemampuan yang dimiliki,
kemampuan tersebut akan berpengaruh pada keyakinan dalam melakukan
suatu tindakan, seperti menyelesaikan tugas, mencapai tujuan dan mengatasi
hambatan.
Efikasi diri dapat diperoleh, ditingkatkan atau dikembangkan
melalui empat sumber yaitu yang pertama adalah pengalaman menguasai
sesuatu (mastery experience) yang dapat diperoleh dari pengalaman individu
secara langsung, kedua modeling sosial, yang dapat diperoleh ketika melihat
teman sebaya dengan karakter yang hampir sama mencapai keberhasilan
atau kegagalan menyelesaikan tugas, ketiga persuasi sosial, yang merupakan
dukungan dari seseorang kepada individu dalam menyelesaikan tugas yang
dihadapai dan yang kempat kondisi fisik dan emosiaonal ketika individu
berada dalam keadaan tertekan. Dari keempat sumber tersebut pengalaman
menguasi sesuatu (mastery experience) merupakan sumber yang paling
berpengaruh dalam peningkatan dan penurunan efikasi dibandingkan
sumber yang lain. Keberhasilan dimasa lalu akan meningkatkan efikasi diri
sedangkan kegagalan yang dialami akan menurunkan efikasi diri.
Peningkatan dan penurunan efikasi diri ini tergantung sejauh mana individu
dapat menguasai pengalaman dimasa lalunya.
Efikasi diri terdiri dari beberapa dimensi yang meliputi dimensi
tingkat kesulitan tugas berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas yang
dihadapi, dimensi generalisasi berkaitan dengan luas cakupan bidang
dengan tingkat kekuatan dari keyakinan atau pengharapan terhadap
kemampuannya. Aspek-aspek efikasi diri antara lain, aspek kognitif
berkaitan dengan kemampuan memikirkan dan merancang tindakan, aspek
motivasi berkaitan dengan kemampuan seseorang memotivasi diri melalui
pemikirannya dalam melakukan suatu tindakan, aspek afeksi berkaitan
dengan kemampuan mengatasi perasaan emosi yang timbul pada diri sendiri
dan aspek seleksi yang berkaitan dengan kemampuan individu untuk
menyeleksi tingkah laku sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.
Efikasi diri yang dimiliki oleh individu secara tidak langsung akan
mempengaruhi indvidu dalam pemilihan perilaku yang didasarkan pada
efikasi yang dimiliki, usaha memotivasi diri dalam bertahan dalam
menghadapi permasalahanya, daya tahan yang dimiliki dalam menghadapi
masalah, pola pemikiran fasilitatif yang akan mempengaruhi perkataan pada
diri sendiri dan yang terakhir adalah daya tahan terhadap stress dimana
individu dengan efikasi diri rendah cenderung akanmudah mengalami stress
sedangkan individu dengan efikasi diri tinggi ketika menghadapi masalah
memiliki rasa percaya diri atas kemampuannya dalam menghadapi masalah
B. Kajian Pengambilan Keputusan Karir 1. Definisi Karir
Karir menurut Bruce Shertzer (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 17)
mengungkapkan “Carrer is a sequence of occupations, jobs and positions
held during the course of a person’s life time”. Karir diartikan sebagai suatu
rangkaian pekerjaan-pekerjaan, jabatan, dan kedudukan yang dipegang oleh
seseorang seumur hidupnya. Menurut Donald Super (dalam Dewa Ketut
Sukardi, 1987:17) mengatakan karir sebagai suatu rangkaian
pekerjaan-pekerjaan, jabatan-jabatan, dan kedudukan yang mengarah pada kehidupan
dalam dunia kerja. Pendapat lain dikemukakan oleh Gibson (2011) dkk yang
mengatakan karir adalah suatu rangkaian sikap dan perilaku yang berkaitan
dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan
seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan.
Berdasarkan penjelasan karir di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
karir adalah suatu sikap atau rangkaian yang berkaitan dengan pekerjaan,
seperti jabatan, kedudukan, pengalaman dan aktivitas kerja yang merupakan
perjalanan seseorang yang berlangsung seumur hidup.
2. Perkembangan Karir
Menurut Donald Super (dalam Winkel dan Hastuti 2004: 632) proses
perkembangan karir dibagi atas 5 tahap, yaitu:
a. Tahap Pengembangan (Growth).
Tahap ini diawali dari saat lahir sampai umur lebih kurang 15 tahun,
tentang dunia kerja, sikap, minat, dan kebutuhan-kebutuhan dimasa
depan.
b. Tahap Eksplorasi (Eksploration)
Tahap ini dimulai ketika inidividu mulai memasuki usia 15 sampai 24
tahun, dimana individu sudah mulai mengumpulkan berbagai informasi
yang berhubungan dengan pekerjaan dan memikirkan berbagai alternatif
jabatan, tetapi belum sampai tahap mengambil keputusan yang mengikat.
Pada tahap ini individu menggunakan informasi yang dimiliki untuk
menentukan pilihan karirnya melalui rencana karir dan direalisasikan
ketika akan melakukan pengambilan keputusan karir.
c. Tahap Pemantapan (Establishment)
Ketika memasuki usia 25 sampai 44 tahun, melalui pengalaman karir
yang pernah dijalani individu mulai memantapkan diri dengan mengikuti
pelatihan atau kegiatan yang bertujuan meningkatkan keterampilan untuk
mencapai tujuan karir melalui peningkatan posisi atau jabatan dalam
suatu pekerjaan. Pada tahap ini individu mengikuti berbagai kursus atau
kegiatan yang dapat menunjang dan memantapkan pilihan karirnya.
d. Tahap Pembinaan (Maintenance)
Ketika berada pada usia 45 tahun sampai 64 tahun, individu mulai
melakukan proses penyesuaian diri untuk meningkatkan posisi dalam
suatu pekerjaan. Inidvidu pada tahap ini mulai beradaptasi dengan
e. Tahap Kemunduran (Decline)
Individu yang sudah memasuki fase ini mulai mempertimbangkan masa
pensiun dan mulai memikirkan pola hidup baru yang akan dilakukan
setelah melepaskan jabatannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan
yaitu dengan mengurangi aktivitas beban kerjanya. Pada tahap ini
kemampuan individu dalam bekerja sudah mengalami penurunan dan
mulai memasuki masa pensiun dari pekerjaannya.
Berdasarkan perkembangan karir yang dikemukakan oleh Donald
Super, usia remaja dalam konteks ini adalah siswa SMA berada pada
tahap eksplorasi dimana individu sudah mulai mengumpulkan berbagai
informasi yang berhubungan dengan masa depan baik kelanjutan studi
atau pekerjaan, selain itu siswa SMA mulai menentukan pilihan karirnya
berdasarkan pandangan tentang dunia kerja, sikap, minat yang diperoleh
pada tahap pengembangan dan mulai mempertimbangkan pilihan karir
dengan mempersempit pilihan karirnya.
Lebih lanjut Donald Super (dalam Santrock 2003: 484)
mengungkapkan bahwa perkembangan karir terdiri dari lima fase yang
berbeda sebagai berikut.
a. Fase kristalisasi berkembang sekitar usia 14-18 tahun, individu mulai
menggali, membangun dan merumuskan ide-ide tentang pekerjaan yang
b. Fase spesifikasi berkembang sekitar usia 18-22 tahun, individu mulai
mempersempit pilihan karir dan mulai mengarahkan sikap dan perilaku
sesuai dengan pilihan karir yang di inginkan.
c. Fase implementasi berkembang sekitar usia 21-24 tahun, pada fase ini
individu menyelesaikan sekolah atau pelatihannya dan mulai memasuki
dunia kerja..
d. Fase stabilisasi berkembang sekitar usia 25-35 tahun, pada tahap ini
individu bertahan untuk menyesuaikan keputusan karir yang telah dipilih
dengan menjalani dan menerima konsekuensi dari keputusan karirnya.
e. Fase konsolidasi berkembang setelah usia 35 tahun, individu akan
memajukan karirnya agar dapat mencapai posisi atau jabatan lebih tinggi
dari yang sebelumnya.
Berdasarkan fase perkembangan karir yang dikemukakan Super,
usia remaja dalam konteks ini adalah siswa SMA berada pada fase
kristalisasi, yaitu mulai menggali, membangun dan merumuskan karir
yang ditandai dengan penggalian kemampuan atau penggalian bakat dan
minat yang dimiliki kemudian dipadukan dengan pilihan karir yang
kemudian akan dipersempit pada fase spesifikasi.
3. Definisi Pengambilan Keputusan Karir
Proses pengambilan keputusan karir adalah ketika individu
dihadapkan pada berbagai macam pilihan program studi dan pendidikan
tinggi setelah lulus dari sekolah. Pada proses ini individu mulai memilih
berlatih untuk membuat serta mengambil keputusan dari pilihan yang telah
ditentukan (Sharf, 1992: 303). Pengambilan keputusan karir merupakan inti
dari perencanan karir, karena melalui pengambilan keputsan karir ini akan
menentukan seberapa efektif perencanaan karir yang telah dibuat untuk
meraih tujuan karir di masa depan, proses dapat disebut sebagai pengambilan
keputusan karir
Menurur Super (dalam Tuti, Tjahjono dan Kartika, 2006)
pengambilan keputusan karir adalah kemampuan dalam menggunakan
pengetahuan dan pikirannya untuk membuat perencanaan karir. Pendapat lain
dikemukakan oleh Gati dan Asher (2001: 31) yang mengatakan pengambilan
keputusan karir merupakan proses yang dilakukan oleh individu untuk
mencari alternatif-alternatif dari berbagai pilihan karir yang dibandingkan
lalu ditetapkan menjadi suatu pilihan yang akan diambil.
Sementara itu menurut teori pengambilan keputusan karir behaviorial
dari Krumboltz yang diadaptasi dari toeri behaviorisme Albert Bandura
(dalam Munandir,1996: 101) mengungkapan bahwa dalam pengambilan
keputusan karir, individu berada dalam lingkungan tertentu, dengan
membawa ciri-ciri bawaan dari keturunannya dalam menghadapi berbagai
situasi yang dijadikan sebagai pengalaman belajar. Teori Krumboltz
menjelaskan selain pengalaman belajar ada beberapa hal yang mendasari
individu dalam pengambilan keputusan karir seperti, keadaan sosial, peristiwa
yang terjadi, jenis kelamin dan keadaan jasmaniah yang dapat menentukan
karir. Lebih lanjut Munandir (1996: 101) mengatakan teori dari Krumboltz
tentang keputusan karir berguna untuk mengenali kondisi-kondisi lingkungan
dan peristiwa yang memberikan pengalamanan belajar kepada seseorang
untuk menyusun rencana karir.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
pengambilan keputusan karir adalah suatu proses penentuan karir dimana
individu menggunakan kemampuan yang dimiliki dalam menentukan pilihan
karir yang akan dipilih dari beberapa alternatif pilihan-pilihan karir yang telah
direncanakan.
4. Aspek-Aspek Pengambilan Keputusan Karir
Aspek-aspek pengambilan keputusan karir menjadi hal yang penting
untuk dikuasai dalam pengambilan keputusan karir. Sharf (1992: 157-158)
mengemukakan tentang aspek-aspek pengambilan keputusan karir yang
terdiri dari tiga hal, yaitu :
a. Pengetahuan
Pengetahuan yang mendasari kemampuan dalam pembuatan
keputusan karir adalah pengetahuan tentang pemahaman diri sendiri,
kesesuaian suatu karir dengan kemampuan bakat, minat dan potensi yang
dimiliki. Pengetahuan yang dimiliki ini akan membantu mengarahkan
individu dalam membuat keputusan karir, baik berdasarkan bakat, minat
dan potensi yang dimiliki. Sehingga keputusan karir yang dibuat sesuai
Sebagai contoh, siswa SMA memilih kelanjutan studi hanya karena
gengsi ingin dipuji oleh teman-temannya tanpa memperhatikan bakat,
minat, potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Seiring berjalannya
waktu, ketika memasuki semester ketiga siswa yang sudah menjadi
mahasiswa tadi kesulitan mengikuti dan memahami materi kuliah yang
diberikan oleh dosen. Siswa tersebut tidak dapat mengalami stress dan
tidak mampu bertahan sehingga sering absen kuliah karena merasa tidak
mampu mengikuti dan memahami materi kuliah yang tidak sesuai dengan
bakat, minat atau potensi yang dimilikinya. Dari contoh tersebut dapat
dilihat dalam memilih kelanjutan studi ada beberapa hal yang harus
dipertimbangkan agar kelanjutan studi yang dipilih sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki sehingga dapat mencapai tujuan karir yang
diharapkan.
b. Sikap terhadap karir
Sikap individu terhadap karir adalah bagaimana individu
menyikapi karirnya dimasa depan. Sikap ini dapat dianalisis berdasarkan
perencanaan karir dan eksplorasi karir. Indikator sikap tersebut meliputi
kemampuan individu dalam mempelajari informasi karir, membicarakan
perencanaan karir dengan orang dewasa dan mengikuti pendidikan atau
pelatihan yang mengarah kepada karir masa depan.
Sebagai contoh, seorang siswa akan mempersiapkan karir di masa
depannya dengan berbagai cara misalanya berusaha mencari inforamasi
karir informasi karir yang dimiliki agar dapat mempersiapkan diri untuk
mencapai karir yang dicita-citakan. Setelah itu mempelajari informasi
karir yang diperoleh untuk membuat rencana karir dan dilanjutkan
dengan menentukan pilihan karir serta mendiskusikan pilihan karir
tersebut dengan orang dewasa seperti orang tua, guru atau orang-orang
yang dipandang mengetahui pilihan karirnya. Setelah memiliki pilihan
karir siswa tersebut dapat mempersiapkan karirnya dengan mengikuti
kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang pilihan karirnya.
c. Keterampilan pengambilan keputusan karir
Keterampilan individu dalam pengambilan keputusan karir ini
mengacu pada penggunaan pengetahuan dalam membuat keputusan karir
yang direalisasikan melalui pengambilan keputusan karir. Dalam
pembuatan keputusan karir indivdu akan menggunkan pengetahuan yang
dimilikinya agar keputusan karirnya sesuai dengan tujuan karir yang
diharapkan. individu harus mengetahui bagaimana langkah-langkah
dalam pembuatan keputusan karir, apa saja yang harus dipersiapkan
dalam pengambilan keputusan karir lalu kemudian dianalisis dengan
pemikiran yang dimiliki.
Sebagai contoh, siswa akan mempersiapkan diri ketika
pengambilan keputusan karir seperti memahami kemampuan pada diri
sendiri kemudian dikombinasikan dengan informasi yang dimiliki
sebelum membuat keputusan karir sehingga siap menerima konsekuensi
5. Faktor-Faktor Pengambilan Keputusan Karir
Menurut Winkel dan Sri Hastuti (2004: 645-655) membagi
faktor-faktor pengambilan keputusan karir menjadi dua yaitu daktor yang berasal
dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar diri individu (eksternal).
a. Faktor-Faktor Internal
1) Nilai-nilai kehidupan yang dimiliki oleh seorang individu seperti
nilai kejujuran, nilai kedisiplinan dan nilai tanggung jawab.
2) Taraf intelegensi yaitu taraf kemampuan berpikir atau pencapaian
prestasi-prestasi yang dimiliki oleh individu.
3) Bakat khusus yaitu kemampuan yang menonjol di suatu bidang
seperti kognitif, bidang keterampilan, atau bidang kesenian yang
dimiliki individu.
4) Minat yaitu kecenderungan yang menetap pada seseorang untuk
merasa tertarik pada suatu bidang tertentu dan merasa senang
menekuni berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bidang
tersebut.
5) Sifat-sifat yaitu ciri-ciri kepribadian yang bersama-sama
memberikan ciri khas pada seseorang, seperti ramah, halus, teliti,
terbuka, fleksibel, ceroboh.
6) Pengetahuan yaitu pemahaman yang dimiliki tentang diri sendiri
yang berkaitan dengan bidang-bidang pekerjaan yang sesuai
7) Keadaan jasmani yaitu ciri-ciri fisik yang dimiliki seseorang seperti
tinggi badan, penampilan wajah, ketajaman penglihatan dan jenis
kelamin.
b. Faktor-Faktor Eksternal
1) Masyarakat yaitu lingkungan sosial-budaya dimana individu
dibesarkan.
2) Keadaan sosial-ekonomi negara atau daerah yaitu cepat lambat laju
pertumbuhan ekonomi.
3) Status sosial-ekonomi keluarga yaitu tingkat pendidikan orang tua,
tinggi rendahnya pendapatan orang tua, latar belakang pekerjaan
ayah atau ibu, dan daerah tempat tinggal.
4) Pengaruh dari seluruh anggota keluarga baik dari orang tua, kakak
dan saudara kandung dari orang tua menyatakan segala harapan
dengan mengkomunikasikan pandangan dan sikap tentang
kelanjutan studi atau pekerjaan. Dari pengaruh yang diberikan oleh
seluruh anggota keluarga ini, individu dapat mempertimbangkan
semua pengharapan, pendapat, dan pandangan keluarga pada suatu
karir tertentu.
5) Pengaruh dari sekolah yaitu pandangan dan sikap yang
dikomunikasikan kepada perserta didik oleh staf atau guru
mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam bekerja, tinggi
rendahnya status sosial, jabatan, dan kecocokan jabatan tertentu
6) Pergaulan dengan teman sebaya yaitu harapan tentang masa depan
yang terungkap dalam pergaulan sehari-hari. Dari pergaulan inilah,
individu mendapatkan gambaran mengenai profesi–profesi yang
akan dijalani teman sebayanya.
Pendapat lain mengenai faktor-faktor pengambilan keputusan karir
dikemukakan oleh Krumboltz (dalam Munandir, 1996: 97) yang
menyatakan bahwa keputusan karir didasari oleh empat faktor yang, yaitu :
a. Faktor genetik
Faktor ini dibawa dari lahir berupa wujud, keadaan fisik dan
kemampuan yang diturunkan dari orang tua. Teori ini mengatakan
bahwa individu terlahir memiliki kemampuan khusus, misalnya
kecerdasan, bakat, dan kemampuan dalam menyelesaikan masalah dan
kemampuan menentukan pilihan dalam pengambilan keputusan juga
dapat berasal dari genetik yang diturunkan.
b. Kondisi lingkungan
Faktor lingkungan yang berpengaruh pada pengambilan
keputusan kerja ini, berupa kesempatan kerja, kesempatan pendidikan
dan pelatihan, kebijakan dan prosedur seleksi, imbalan,
undang-undang dan peraturan yang berlaku, peristiwa alam, sumber daya
alam, kemajuan teknologi, perubahan dalam organisasi sosial,
lingkungan keluarga, sistem pendidikan, lingkungan tetangga dan
masyarakat sekitar dan pengalaman belajar.
c. Faktor belajar
Kegiatan yang paling banyak dilakukan manusia adalah
belajar. Ini dilakukan hampir setiap waktu sejak masa bayi, bahkan
ada ahli yang mengatakan sejak di dalam kandungan. Ada dua jenis
belajar, yaitu belajar instrumental dan asosiatif. Belajar instrumental
adalah belajar yang terjadi melalui pengalaman orang ketika berada di
suatu lingkungan. Belajar asosiatif adalah pengalaman dimana orang
mengamati hubungan antara kejadian-kejadian dan mampu
memprediksi konsekuensi yang akan didapatkan.
d. Keterampilan menghadapi tugas atau masalah
Keterampilan ini dicapai sebagai buah interaksi antara
pengalaman belajar, ciri genetik, kemampuan khusus, dan lingkungan.
Keterampilan ini diterapkan untuk menghadapi dan menyelesaikan
tugas-tugas baru. Keterampilan menghadapi tugas ini merupakan hasil
belajar dan keterampilan yang diperoleh sebelumnya. Salah satu
contohnya adalah keterampilan pengambilan keputusan.
6. Periode Pengambilan Keputusan Karir
Menurut Ruslan A. Gani (1996: 62) pengambilan keputusan karir
dibagi menjadi dua periode, yaitu:
a. Periode antisipasi, pada periode ini dibagi manjadi empat tahap, antara lain
sebagai beikut :
1) Tahap eksplotasi, pada tahap ini inidvidu baru dalam bentuk pencarian