• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH EFIKASI DIRI TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 KALASAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH EFIKASI DIRI TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 KALASAN."

Copied!
178
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH EFIKASI DIRI TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 KALASAN

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Jodi Setiobudi NIM 12104244010

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)

PENGARUH EFIKASI DIRI TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 KALASAN

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Jodi Setiobudi NIM 12104244010

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(3)
(4)

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri.

Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang ditulis atau

diterbitkan orang lain, kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata

penulisan karya ilmiah yang telah lazim.

Tanda tangan dosen penguji yang tertera dalam halaman pengesahan adalah asli,

jika tidak asli saya siap menerima sanksi ditunda yudisium pada periode

berikutnya.

Yogyakarta, 21 Oktober 2016 Yang menyatakan,

(5)
(6)

MOTTO

Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah SAW bersabda dalam doa:

“Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, karena-Mu aku melawan (musuh-musuh). Ya Allah dengan kekuatan-Mu yang tiada Tuhan selain Engkau, aku berlindung, jangan Kau sesatkan aku. Engkaulah Tuhan yang tidak mati, sedang

jin dan manusia akan mati.”

(HR. Muttafaq’alaih)

Man Jadda Wa Jadda

“Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil” (Al-hadits)

“Sesunguhnya Allah tidak akan mengubah satu kaum sebelum mereka mengubah

keadaan mereka sendiri”

(Terjemahan Qur’an, QS. Ar-Ra’d: 11)

You’ll Never Walk Alone

(7)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan kepada :

1. Bapak Guntur Setiobudi dan Ibu Lusida, kedua orang tuaku tercinta, yang

selalu memberikan doa, semangat dan dukungan yang tiada henti.

2. Almamater Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan,

(8)

PENGARUH EFIKASI DIRI TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA SISWA KELAS XII SMA NEGERI 1 KALASAN

Oleh Jodi Setiobudi NIM 12104244010

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan 1) untuk mengetahui tingkat efikasi diri pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan, 2) untuk mengetahui tingkat pengambilan keputusan karir pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan, 3) untuk mengetahui pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitiatif dengan jenis korelasi sebab-akibat. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan yang berjumlah 222 siswa. Sampel pada penelitian ini menggunakan

teknik simple random sampling dengan jumlah 139 siswa. Alat pengumpul data

berupa skala efikasi diri dan skala pengambilan keputusan karir. Uji validitas

instrumen menggunakan validitas isi dengan uji expert judgment. Uji realibilitas

instrumen dihitung dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Hasil uji coba

reliabilitas instrumen mendapatkan nilai 0,837 untuk skala efikasi diri dan 0,877

untuk skala pengambilan keputusan karir. Analisis data dan uji hipotesis

menggunakan teknik regresi sederhana.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) efikasi diri siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan berada pada kategori tinggi, 2) pengambilan keputusan karir siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan berada pada kategori tinggi, 3) efikasi

diri mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pengambilan

keputusan karir pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan. Hal ini ditunjukkan dengan taraf signifikasi 0,000 (p <0,05) dan persamaan garis regresinya Y : 60,047 + 0,578 X. Nilai determinasi (R2) sebesar 0,351 dapat

diartikan bahwa efikasi diri memberikan sumbangan efektif sebesar 35,1%

terhadap pengambilan keputusan karir dan 64,1% dipengaruhi faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi yang berjudul “Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Pengambilan Keputusan

Karir Pada Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan”.

Penulis menyadari bahwa keberhasilan dari penyusunan skripsi ini tidak

akan terwujud tanpa bantuan serta kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu

dengan segala kerendahan hati perkenankanlah penulis untuk mengucapkan

terimakasih kepada :

1. Rektor Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan

untuk menjalani dan menyelesaikan studi di Universitas Negeri Yogyakarta.

2. Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta yang telah

memfasilitasi kebutuhan akademik penulis selama menjalani masa studi.

3. Ketua Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Yogyakarta, yang telah berkenan memberikan izin dalam

penyusunan skripsi.

4. Bapak Drs. A. Ariyadi Warsito M.Si., dosen pembimbing saya yang telah

dengan sabar meluangkan waktu, perhatian, tenaga serta pikirannya untuk

membimbing penyusunan skripsi.

5. Bapak Drs. H. Tri Sugiharto, kepala SMA Negeri 1 Kalasan yang telah

memberikan kesempatan untuk mengadakan penelitian sehingga penulis dapat

melakukan penelitian di SMA Negeri 1 Kalasan.

6. Ibu Dra. Suryati, Ibu Nanik Supriyati, S.Pd dan Ibu Teti Nur’aeti, S.Pd selaku

guru BK di SMA Negeri 1 Kalasan yang telah bersedia untuk membantu

pelaksanaan penelitian.

7. Siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan atas kerjasama dan partisipasi dalam

pengumpulan data dalam penelitian ini.

8. Kedua orang tuaku Bapak Guntur Setiobudi dan Ibu Lusida yang telah

memberikan doa, perhatian, kasih sayang, dan selalu berusaha membantu baik

(10)

kesehatan, memberi perlindungan, dan memberi kebahagiaan dunia akhirat.

Aamiin.

9. Seluruh teman-teman khususnya keluarga BEKACE 2012 yang tidak dapat

saya sebutkan satu persatu. Terimakasih atas kesediaannya membagi

semangat, keceriaan, juga segala hal yang membelajarkan.

10.Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang telah

membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalan penulisan tugas akhir skripi ini masih

terdapat kekurangan. Oleh karena itu penulis menerima saran, komentar

ataupun kritik yang membangun. Semoga tugas akhir skripi ini dapat

memberikan manfaat bagi banyak pihak.

Yogyakarta, 21 Oktober 2016 Penulis,

(11)

DAFTAR ISI

B. Kajian Tentang Pengambilan Keputusan Karir ... 27

1. Definisi Karir ... 27

2. Perkembangan Karir ... 27

3. Definisi Pengambilan Keputusan Karir ... 30

4. Aspek-Aspek Pengambilan Keputusan Karir ... 32

5. Faktor-Faktor Pengambilan Keputusan Karir ... 35

6. Periode Pengambilan Keputusan Karir ... 38

7. Langkah-Langkah Pengambilan Keptusan Karir ... 40

(12)

C. Kajian Tentang Remaja ... 45

2. Kisi-Kisi Pengambilan Keputusan Karir ... 67

H. Uji Coba Instrumen ... 68

2. Deskripsi Data Pengambilan Keputusan Karir... 80

(13)

C. Pembahasan ... 88

D. Keterbatasan Penelitian ... 95

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 96

B. Saran ... 97

DAFTAR PUSTAKA ... 99

(14)

DAFTAR TABEL

hal

Tabel 1. Populasi Penelitian ... 61

Tabel 2. Penentuan Jumlah Sampel ... 62

Tabel 3. Skor Alternatif Jawaban Skala ... 64

Tabel 4. Kisi-Kisi Skala Efikasi Diri ... 66

Tabel 5. Kisi-Kisi Skala Pengambilan Keputusan Karir ... 67

Tabel 6. Interpretasi Koefisien Korelasi ... 70

Tabel 7. Kisi-Kisi Skala Efikasi Diri Setelah Uji Coba ... 72

Tabel 8. Kisi-Kisi Skala Pengambilan Keputusan Setelah Uji Coba ... 73

Tabel 9. Kategori Batas ... 74

Tabel 10. Analisis Statistik Data Hasil Penelitian ... 78

Tabel 11. Distribusi Frekuensi Efikasi Diri ... 79

Tabel 12. Distribusi Frekuensi Pengambilan Keputusan Karir ... 80

Tabel 13. Hasil Uji Normalitas ... 82

Tabel 14. Hasil Uji Linieritas ... 84

Tabel 15. Analisis Regresi ... 86

(15)

DAFTAR GAMBAR

hal

Gambar 1. Paradigma Penelitian ... 59

Gambar 2. Sebaran Data Efikasi Diri ... 80

Gambar 3. Sebaran Data Pengambilan Keputusan Karir ... 81

Gambar 4. Normal Probability Plot ... 83

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

hal

Lampiran 1. Surat Keterangan Uji Coba Instrumen ... 103

Lampiran 2. Instrumen Penelitian Sebelum Uji Coba ... 105

Lampiran 3. Instrumen Penelitian Setelah Uji Coba ... 116

Lampiran 4. Tabulasi Data Uji Coba Efikasi Diri... 125

Lampiran 5. Tabulasi Data Uji Coba Pengambilan Keputusan Karir ... 127

Lampiran 6. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Efikasi Diri ... 129

Lampiran 7. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pengambilan Keputusan Karir ... 132

Lampiran 8. Tabulasi Data Penelitian Skala Efikasi Diri ... 135

Lampiran 9. Tabulasi Data Penelitian Skala Pengambilan Keputusan Karir.. 140

Lampiran 10. Deskriptif Statistik ... 145

Lampiran 11. Kategorisasi Data Penelitian ... 148

Lampiran 12. Uji Normalitas ... 153

Lampiran 13. Uji Linieritas ... 155

Lampiran 14. Uji Regresi ... 157

(17)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju

masa dewasa dan salah satu tahap perkembangan dalam rentang kehidupan

manusia. Santrock (2007: 20) mendefinisikan masa remaja (adolescence) sebagai

masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa, dimana periode tersebut

melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosio-emosional.

Banyaknya perubahan yang terjadi pada masa remaja menunjukan bahwa masa

remaja merupakan periode penting dalam kehidupan manusia karena sikap dan

perilaku yang dimiliki pada masa ini akan memiliki dampak terhadap

perkembangan di masa selanjutnya.

Menurut Hurlock (dalam Rita Eka Izzaty, dkk, 2008: 124) menyatakan

awal masa remaja berlangsung kira-kira dari usia 13 tahun sampai 16 tahun, dan

akhir masa remaja bermula dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun, yaitu usia

matang secara hukum. Ditinjau dari tingkat pendidikan, remaja yang berusia

antara 15 hingga 18 tahun umumnya telah berada pada jenjang sekolah menengah

atas (SMA/SMK). Sebagai individu yang telah memasuki masa remaja, siswa

SMA memiliki beberapa tugas perkembangan yang harus dicapai dalam rentang

kehidpuan manusia.

Salah satu tugas perkembangan yang harus dicapai pada masa remaja

menurut Havighurst (dalam Syamsu Yusuf, 2006: 83) yaitu memilih dan

(18)

merupakan salah satu langkah awal dalam mempersiapkan karir di masa depan.

Rencana karir yang dibuat tersebut nantinya dapat digunakan atau dijadikan

sebagai dasar dalam menentukan pilihan dan memilih karir yang diwujudkan

melalui pengambilan keputusan karir.

Pengambilan keputusan karir siswa SMA setelah lulus dari sekolah

idealnya yaitu melanjutkan studi ke pendidikan tinggi sesuai dengan tujuan dan

fungsi SMA yang tercantum pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 17 Tahun 2010

pasal 76 ayat 1. Pada PP tersebut dijelaskan bahwa fungsi dan tujuan SMA adalah

meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang

yang lebih tinggi dan atau untuk hidup mandiri di masyarakat. Jika dilihat dari

fungsi dan tujuan SMA tersebut, pengambilan keputusan karir siswa SMA lebih

mengarah untuk melanjutkan studi ke pendidikan tinggi daripada bekerja. hal

tersebut di karenakan siswa SMA tidak dipersiapkan atau dibekali keterampilan

khusus untuk bekerja seperti siswa SMK yang dipersiapkan dan dibekal keahlian

atau ketrampilan khusus untuk bekerja setalah lulus dari sekolah.

Menurut teori perkembangan karir yang dikemukakan oleh Super (dalam

Winkel dan Hastuti, 2004: 632) kemampuan memilih dan mempersiapkan karir

siswa SMA berada pada tahap eksplorasi. Pada tahap ini siswa sudah mulai

mencari dan mengumpulkan berbagai informasi karir sesuai dengan bakat, minat

potensi atau kemampuan yang dimiliki. Pada tahap ini, siswa mulai belajar untuk

membuat rencana karir dan membuat keputusan karir dari informasi yang telah

dimiliki. Ketika akan menentukan kelanjutan studi siswa dihadapkan pada

(19)

pilihan program studi. Banyaknya pilihan tentang kelanjutan studi tersebut

membuat siswa memiliki banyak pilihan kelanjutan studi dan yang secara tidak

langsung dapat membuat bingung dalam menentukan pilihan kelanjutan studi,

sehingga pilihan kelanjutan studi yang akan dipilih masih bersifat sementara.

Selanjutnya pilihan kelanjutan studi yang masih bersifat sementara tersebut mulai

dipersempit sesuai dengan tujuan karir yang ingin dicapai di masa depan. Pilihan

kelanjutan studi tersebut yang nantinya akan dipilih oleh siswa dalam

pengambilan keputusan karir.

Pengambilan keputusan merupakan salah satu proses dari penentuan

pilihan (Sharf, 1992: 303). Pengambilan keputusan dalam konteks penelitian ini

adalah pengambilan keputusan karir yang dilakukan oleh siswa kelas XII SMA.

Ketika akan melakukan pengambilan keputusan karir, siswa mulai belajar

merencanakan karir dan menentukan pilihan kelanjutan studi sesuai dengan tujuan

karir yang ingin dicapai dan selanjutnya direalisasikan melalui pengambilan

keputusan karir. Keberhasilan karir dimasa depan salah satunya dapat ditandai

dari keputusan karir yang diambil. Kesesuaian keputusan karir yang dibuat

berdasarkan kemampuan yang dimiliki akan mempermudah siswa dalam meraih

kesuksesan di masa depan, sedangkan ketidaksesuaian pengambilan keputusan

karir dapat menghambat siswa dalam meraih keberhasilan di masa depan karena

dengan kemampuan yang dimiliki siswa dapat mengukur sejauh mana keyakinan

dalam mengambil keputusan.

Pengambilan keputusan karir bukanlah perkara yang mudah bagi siswa,

(20)

dapat mempengaruhi siswa dalam pengambilan keputusan karir. Peneliti

menemukan permasalahan pengambilan keputusan karir ketika melakukan Praktik

Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri 1 Kalasan pada bulan Agustus tahun

2015 melalui angket permasalahan dan Daftar Cek Masalah (DCM). Berdasarkan

angket permasalahan yang dikumpulkan oleh peneliti, diketahui bahwa

permasalahan tentang karir paling banyak dialami oleh siswa kelas XII, sedangkan

permasalahan yang paling banyak dialami siswa kelas X adalah masalah

penyesuaian diri dengan lingkungan baru khususnya banyaknya tugas yang

diberikan oleh guru dan padatnya kegiatan disekolah. Pada kelas XI yaitu masalah

belajar dan kesulitan memanajemen waktu. Permasalahan tentang karir tersebut

juga didukung oleh hasil analisis DCM yang disebar peneliti, berdasarkan hasil

analisis DCM diketahui bahwa masalah tentang karir dalam bidang masa depan

dan cita-cita mayoritas banyak dialami oleh siswa XII, seperti siswa bingung

menentukan pilihan kelanjutan studi setelah lulus dari sekolah sehingga membuat

siswa belum mampu menentukan pilihan kelanjutan studinya.

Lebih lanjut peneliti melakukan wawancara kepada 10 siswa kelas XII

SMA Negeri 1 Kalasan tentang pengambilan keputusan karir, 3 siswa diantaranya

merasa belum mempunyai gambaran dan masih bingung dalam menentukan

kelanjutan studi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, sehingga membuat

siswa belum dapat memutuskan kelanjutan studi yang akan dipilih. Sementara 7

siswa yang lain masih bingung dalam menentukan pilihan program studi yang

akan dipilih karena memiliki lebih dari dua pilihan yang diminati. Beberapa siswa

(21)

dengan keinginan dan mengikuti kegiatan diluar jam sekolah seperti kursus yang

dapat menunjang pilihan kelanjutan studi, tetapi pilihan tersebut tidak sesuai atau

berbeda dengan pilihan program studi yang diinginkan orang tuanya. Perbedaan

pilihan kelanjutan studi membuat siswa bingung antara memilih pilihan yang

diminati atau mengikuti pilihan dari orang tuanya. Kebingungan yang dialami

siswa dalam menentukan kelanjutan studi ini secara tidak langsung dapat

mempengaruhi kesiapan siswa dalam pengambilan keputusan karir.

Dari hasil hasil wawancara dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK),

diperoleh informasi bahwa siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan memiliki

antusiasme yang tinggi ketika guru BK memberikan layanan bimbingan klasikal

bidang karir. Antusiasme tersebut dapat dilihat dari keaktifan siswa, misalnya

ketika guru BK memberikan materi dalam bidang karir khususnya tentang

kelanjutan studi siswa banyak yang bertanya atau berdiskusi mengenai materi

yang diberikan. selain itu ada beberapa siswa yang melakukan konsultasi lebih

lanjut untuk memantapkan pilihan kelanjutan studinya. Beberapa upaya telah

dilakukan oleh guru BK untuk membantu siswa mempersipakan karirnya, seperti

pemberian layanan bidang karir baik secara klasikal, bimbingan kelompok dan

konseling individual bagi siswa yang membutuhkan, bekerjasama dengan

beberapa pihak luar seperti satuan lembaga pendidikan tinggi dan alumni dalam

pemberian layanan informasi karir, menempelkan poster di papan bimbingan yang

berisi informasi dari berbagai pendidikan tinggi dan membagikan leaflet tentang

(22)

masih menemukan beberapa siswa kelas XII yang mengaku bingung dalam

menentukan pilihan kelanjutan studi.

Berdasarkan data hasil penelitian yang dilakukan oleh Difa Ardiyanti dan

Asmadi Alsa pada tahun 2014 terhadap 157 siswa kelas XI dari tiga SMA wilayah

Yogyakarta, terdapat 43% siswa yang belum yakin dan masih bingung dengan

pilihan program studi yang ada di perguruan tinggi. Sementara dari hasil studi

pendahuluan yang dilakukan peneliti melalui wawancara kepada beberapa siswa

kelas XII SMA Negeri 1 Ngaglik dan SMA Negeri 1 Prambanan pada 22-23

Februari 2016, diketahui bahwa beberapa siswa di sekolah tersebut mengalami

kebimbangan dan kesulitan dalam menentukan kelanjutan studi, selain itu ada

beberapa siswa merasa informasi yang dimiliki tentang kelanjutan studi masih

terbatas. Dari studi pendahulaun tersebut menunjukkan bahwa permasalahan karir

khusunya dalam menentukan pilihan kelanjutan studi juga dialami oleh siswa

SMA kelas XII di sekolah lain.

Berdasarkan fenomena tersebut dapat dilihat siswa mengalami

kebingungan dan tidak mampu mengambil keputusan kelanjutan studi yang

didahului dengan adanya rasa tidak yakin atau keraguan dalam menetapkan

pilihan kelanjutan studi. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan siswa dalam

menetapkan pilihan berperan penting dalam pengambilan keputusan karir.

Keyakinan diri individu terhadap kemampuan yang dimiliki ini sering disebut

sebagai efikasi diri. Menurut Alwisol (2011: 287) efikasi diri mengacu pada

keyakinan yang berkaitan dengan kemampuan serta kesanggupan individu untuk

(23)

yang telah ditentukan. Efikasi diri merupakan salah satu hal penting yang dapat

menentukan keberhasilan suatu tindakan yang akan dilakukan, tindakan dalam

konteks penelitian ini adalah pengambilan keputusan karir. Pada penelitian ini peneliti memandang efikasi diri memiliki peran penting dalam pengambilan

keputusan karir. Efikasi diri yang dimiliki siswa dalam pengambilan keputusan

karir akan mendorong siswa menentukan pilihan kelanjutan studinya berdasarkan

keyakinan atas kemampuan yang dimiliki. Pengambilan keputusan karir menurut

Winkel dan Sri Hastuti (2004: 645-655) didasari oleh faktor internal yang

meliputi nilai-nilai kehidupan, taraf intelegensi, bakat khusus, minat, sifat-sifat

yang dimiliki, pengetahuan, keadaaan jasmanai dan faktor eksternal yang meliputi

masyarakat, keadaan sosial ekonomi keluarga, status sosial keluarga, pengaruh

dari anggota keluarga, pengaruh dari sekolah dukungan sosial keluarga dan

pergaulan teman sebaya. Pada penelitian ini peneliti ingin mencari apakah

terdapat pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir dan jika ada

seberapa besar pengaruhnya karena karena berdasarkan fenomena yang terjadi

terdapat siswa yang mengalami keraguan dalam pengambilan keputusan karir.

peneliti mencoba mengaitkan keraguan yang dialami oleh siswa dengan efikasi

diri.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nur Hidayati (2015: 66)

dengan judul “Hubungan Antara Efikasi Akademik dengan Minat Melanjutkan

Studi di Perguruan Tinggi Pada Siswa Kelas XI di SMA Negeri 1 Kretek Bantul”.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif antara efikasi diri

(24)

Kretek. Hal ini berarti semakin tinggi efikasi diri maka akan diikuti dengan

tingginya minat melanjutkan studi di perguruan tinggi. Sebaliknya, semakin

rendah efikasi diri maka akan semakin rendah minat melanjutkan studi di

perguruan tinggi.

Sementara itu berdasarkan data sebaran alumni yang diperoleh dari guru

BK, menunjukkan bahwa pada tahun ajaran 2012/2013 sebanyak 174 siswa SMA

Negeri 1 Kalasan melanjutkan ke pendidikan tinggi dan 2 siswa bekerja. Pada

tahun ajaran 2013/2014 sebanyak 209 siswa melanjutkan ke pendidikan tinggi dan

7 siswa bekerja. Pada tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 191 siswa melanjutkan ke

pendidikan tinggi dan 5 siswa bekerja. Berdasarkan data sebaran alumni tersebut

dapat disimpulkan bahwa mayoritas alumni SMA Negeri 1 Kalasan melanjutkan

studi ke pendidikan tinggi. Mengacu pada data sebaran alumni tersebut peneliti

ingin mengetahui tingkat keyakinan yang dimiliki siswa dalam menentukan

pilihan kelanjutan studi, karena berdasarkan fenomena yang ditemukan peneliti

masih ada beberapa siswa yang bingung dan ragu dalam menentukan kelanjutan

studi.

Berdasarkan permasalahan karir siswa yang telah diuraikan diatas, hasil

wawancara, studi pendahuluan, penelitian terdahulu yang relevan dan data sebaran

alumni, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh

Efikasi Diri Terhadap Pengambilan Keputusan Karir Pada Siswa Kelas XII SMA

Negeri 1 Kalasan”. Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui tingkat efikasi

diri siswa karena fenomena yang terjadi di SMA Negeri 1 Kalasan ada beberapa

(25)

keputusan karir, tingkat kemampuan siswa dalam pengambilan keputusan karir ,

dan pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir pada siswa kelas

XII.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka

dapat diambil identifikasi masalah sebagai berikut:

1. Ada beberapa siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan yang mengalami

kebingungan menentukan pilihan kelanjutan studi sehingga membuat siswa

belum mampu menentukan pilihan kelanjutan studinya.

2. Ada beberapa siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan yang merasa belum

mempunyai gambaran dan masih bingung dalam menentukan kelanjutan studi

yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sehingga membuat siswa belum

dapat memutuskan kelanjutan studi yang akan dipiih.

3. Kebingungan yang dialami siswa dalam menentukan kelanjutan studi

mempengaruhi kesiapan siswa dalam pengambilan keputusan karir

4. Kebingungan yang dialami siswa dalam menentukan kelanjutan studi

membuat siswa tidak yakin atas kemampuan yang dimiliki dalam

pengambilan keputusan karir

C. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, peneliti

membatasi masalah agar masalah yang dikaji lebih fokus pada pengaruh efikasi

diri terhadap pengambilan keputusan karir siswa kelas XII SMA Negeri 1

(26)

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, perumusan masalah pada penelitian

ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat efikasi diri siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan?

2. Bagaimana tingkat pengambilan keputusan karir siswa SMA Negeri 1

Kalasan?

3. Apakah terdapat pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan

karir siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan yang akan dicapai dalam

penelitian ini adalah:

1. Mengetahui tingkat efikasi diri siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan.

2. Mengetahui tingkat pengambilan keputusan karir siswa kelas XII SMA

Negeri 1 Kalasan.

3. Mengetahui pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir

siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian mengenai pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan

keputusan karir siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan, diharapakan bermanfaat

secara teoritis dan praktis.

1. Secara Teoritis

Ditinjau dari sisi teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan

(27)

dalam bidang ilmu Bimbingan dan Konseling yang mengkaji tentang

pengaruh efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir pada siswa

2. Secara Praktis

a. Bagi siswa

Hasil penelitian ini dapat memberikan pemahaman bagi siswa tentang

efikasi diri dan pengambilan keputusan karir yang dimiliki untuk

dikembangkan secara optimal sehingga tidak mengalami permasalahan

berkaitan dengan efikasi diri dan pengambilan keputusan karir serta

memiliki keyakinan dalam pengambilan keputusan karirnya.

b. Bagi guru BK

Dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi

permasalahan karir yang dialami oleh siswa dalam hal efikasi diri dan

pengambilan keputusan karir. Selain itu dengan adanya penelitian ini dapat

membantu guru BK dalam upaya peningkatan pelayanan Bimbingan dan

Konseling terutama di bidang karir.

c. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan bahan referensi untuk

penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan

(28)

BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Efikasi Diri

1. Definisi Efikasi Diri

Efikasi diri diperkenalkan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura

dalam bukunya yang bejudul Self Efficacy The Exercise of Control (1997:3)

mengatakan :

“Efficacy is a major basis of action. People guide their lives by their

beliefs of personal efficacy. Self-efficacy refers to beliefs in one’s capabilities to organize and execute the course of action required to product given attainments”

Efikasi diri adalah dasar utama dari suatu tindakan. Keyakinan yang dimiliki

oleh individu akan membimbing dan mendorong kearah keberhasilan dalam

melakukan suatu tindakan. Efikasi diri ini mengacu pada keyakinan atas

kemampuan individu untuk mengatur dan melaksanakan tindakan yang

diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Lebih lanjut Bandura (dalam Feist

& Feist, 2011: 211) mengemukakan efikasi diri merupakan bagaimana

manusia bertindak dari suatu situasi bergantung pada hubungan timbal balik

dari perilaku, lingkungan dan kondisi kognitif, terutama faktor-faktor kognitif

yang berhubungan dengan keyakinan bahwa mereka mampu atau tidak

mampu melakukan suatu perilaku yang diperlukan untuk menghasilkan

pencapaian yang di inginkan dalam suatu situasi.

Menurut Alwisol (2011: 287) efikasi diri mengacu pada keyakinan

yang berkaitan dengan kemampuan dan kesanggupan individu untuk mencapai

(29)

Lebih lanjut Alwisol (2011: 288) menjelaskan efikasi diri adalah penilaian

diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah,

bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan.

Sementara Baron dan Byrne (dalam Alwisol, 2011: 287) menjelaskan efikasi

diri sebagai evaluasi seseorang mengenai kemampuan dan kompetensi dirinya

untuk melakukan suatu tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi hambatan.

Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa efikasi

diri adalah keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimiliki dalam

menghadapi atau menyelesaikan suatu tugas sesuai dengan tujuan yang ingin

dicapai. Efikasi diri ini berkaitan dengan keyakinan pada diri individu

terhadap kemampuannya dalam melakukan suatu tindakan, jika individu

memiliki efikasi diri tinggi maka akan dapat menentukan dan melaksanakan

tindakan sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi serta akan berusaha

menghadapi dan menyelesaikan setiap permasalahannya.

2. Sumber-Sumber Efikasi Diri

Menurut Feist & Feist (2011: 213) efikasi diri yang dimiliki oleh

individu dapat diperoleh, ditingkatkan, atau dikembangkan melalui salah satu

kombinasi dari dari empat sumber, antara lain sebagai berikut:

a. Pengalaman menguasai sesuatu (mastery experience)

Menurut Bandura (dalam Feist & Feist, 2011: 214) sumber yang

paling berpengaruh dari efikasi diri adalah pengalaman menguasai

sesuatu, yaitu performa yang dimiliki oleh individu di masa lalu. Secara

(30)

kemampuan yang dimiliki, sedangkan kegagalan cenderung akan

menurunkan hal tersebut. Pernyataan tersebut memberikan enam

dampak, yaitu:

1) Keberhasilan akan mampu meningkatkan efikasi diri secara

proposional dengan kesulitan dari tugas yang di hadapi.

2) Tugas yang mampu diselesaikan oleh diri sendiri akan lebih efektif

diselesaikan daripada dengan bantuan orang lain.

3) Kegagalan dapat menurunkan efikasi diri ketika seseorang merasa

sudah memberikan usaha yang terbaik tetapi belum mendapatkan

hasil yang di inginkan.

4) Kegagalan yang terjadi ketika berada dalam tekanan emosi tinggi

tidak terlalu merugikan diri dibandingkan kegagalan dalam kondisi

emosi dan usaha yang maksimal.

5) Kegagalan sebelum memperoleh pengalaman lebih berdampak pada

efikasi diri daripada kegagalan setelah memperoleh pengalaman.

6) Kegagalan akan berdampak sedikit pada efikasi diri individu

terutama pada mereka yang memiliki ekspetasi kesuksesan yang

tinggi.

b. Modeling Sosial.

Sumber kedua dari efikasi diri adalah modeling sosial (vicarious experience). Kesuksesan atau kegagalan dari orang lain sering digunakan sebagai alat pengukur kemampuan diri seseorang. Efikasi diri dapat

(31)

kompetensi setara, namun efikasi diri dapat berkurang ketika melihat

teman atau rekan sebaya yang setara gagal. Secara umum, permodelan

sosial tidak memberikan dampak yang besar dalam peningkatan efikasi

diri seseorang, tetapi permodelan sosial dapat memberikan dampak yang

besar dalam penurunan efikasi diri.

c. Pesuasi Sosial.

Efikasi diri juga dapat diperoleh atau dilemahkan melalui persuasi

sosial. Dampak dari persuasi sosial terhadap meningkatnya atau

menurunya efikasi diri cukup terbatas dan harus pada kondisi yang tepat.

Kondisi tersebut adalah bahwa seseorang haruslah mempercayai pihak

yang melakukan persuasi karena kata-kata atau kritik dari sumber yang

terpercaya lebih efektif daripada kata-kata dari sumber yang tidak

terpercaya, sumber terpercaya dalam konteks ini adalah seseorang yang

memiliki pengalaman atau pernah melakukan tindakan yang akan

dilakukan oleh seorang individu. Meningkatkan efikasi diri melalui

persuasi sosial paling efektif ketika dikombinasikan dengan performa yang

sukses. Persuasi dapat meyakinkan seseorang untuk berusaha dalam suatu

kegiatan jika performa yang dilakukan tersebut suskes.

d. Kondisi Fisik dan Emosional.

Emosi yang kuat biasanya akan mengurangi performa diri, ketika

seseorang mengalami katakutan yang kuat, kecemasan atau tingkat stress

(32)

yang rendah sehingga emosi yang kuat cenderung akan mengurangi

performa yang dimiliki.

3. Dimensi Efikasi Diri

Menurut Bandura (1997: 42-43) perbedaan efikasi diri yang dimiliki

setiap individu terletak pada tiga komponen, yaitu:

a. Dimensi tingkat kesulitan (Level)

Dimensi tingkat kesulitan tugas ini adalah dimensi yang berkaitan

dengan tingkat kesulitan tugas yang dihadapi oleh individu. Apabila

individu menghadapai tugas-tugas yang disusun menurut tingkat

kesulitannya, maka efikasi diri individu akan cenderung memilih pada

kesulitan tugas yang mudah, sedang, bahkan tugas-tugas yang sulit sesuai

dengan batas kemampuan yang dimiliki oleh individu tersebut. Semakin

tinggi tingkat kesulitan tugas yang dihadapi maka akan semakin tinggi

pula efikasi diri yang harus dimiliki. Artinya, individu yang memiliki

efikasi diri rendah akan cenderung menghindari tugas-tugas yang

memiliki tingkat kesulitan diluar batas kemampuannya.

Sebagai contoh, seorang siswa memiliki kemampuan yang cukup

tinggi dalam bahasa inggris dan memiliki kemampuan yang rendah

dalam bahasa daerah, ketika ada tugas dua mata pelajaran yang harus

dikumpulkan secara bersamaan maka siswa tersebut akan mengerjakan

tugas bahasa inggris terlebih dahulu karena siswa tersebut memilih untuk

mengerjakan tugas sesuai dengan tingkat kesulitan yang dihadapi dan

(33)

inggris lebih cepat daripada tugas bahasa daerah yang membutuhkan

waktu lebih lama untuk menyelesaikannya.

b. Dimensi Generalisasi (Generality).

Dimensi generalisasi berkaitan dengan luas cakupan bidang

kemampuan yang dimiliki individu. Hal tersebut dapat dilihat dari

kemampuan individu dalam mengerjakan tugas. Apakah kemampuan

individu hanya terbatas pada suatu tugas tertentu atau pada tugas dan

situasi yang bervariasi tergantung pada pemahaman individu terhadap

kemampuan yang dikuasai.

Sebagai contoh, seorang siswa meyakini kemampuannya cukup

baik dalam bidang seni terutama seni rupa. Siswa tersebut tidak mau

mencoba untuk memperluas kemampuan seninya di bidang seni yang lain

seperti seni musik atau seni tari. Siswa tersebut meyakini batas

kemampuannya terbatas hanya dalam bidang seni rupa dan kurang yakin

dengan kemampuannya di bidang seni yang lain selain seni rupa,

sehingga ketika ada tugas bidang seni tetapi di luar bidang seni rupa

maka siswa tersebut akan kesulitan menyelesaikan tugas tersebut karena

kemampuan pengusaan di bidang seni hanya terbatas di bidang seni rupa.

c. Dimensi tingkat kekuatan (Strength)

Dimensi tingkat kekuatan berkaitan dengan tingkat kekuatan dari

keyakinan atau pengharapan individu terhadap kemampuannya. Individu

yang memiliki keyakinan kuat akan mendorong dan terus berusaha

(34)

yang tidak menyenangkan. Sebaliknya jika individu tersebut memiliki

keyakinan yang lemah akan membuat individu tersebut mudah goyah

oleh pengalaman-pengalaman yang tidak sesuai dengan harapan.

Sebagai contoh, seorang siswa mempunyai cita-cita ingin menjadi

musisi yang hebat, siswa tersebut lalu membeli beberapa peralatan musik

dan berlatih rutin secara mandiri. Siswa tersebut memiliki harapan dan

keyakinan bahwa suatu saat akan menjadi musisi yang hebat dengan rajin

berlatih dan belajar setiap hari. Melalui usaha yang dilakukannya,

akhirnya siswa tersebut merasakan hasil dari usahanya yaitu menjadi

musisi hebat dan dikenal banyak orang. Sebaliknya jika siswa tersbut

tidak memiliki kekuatan dari kemampuan atau pengarapannya maka akan

mudah goyah atau putus asa ketika mendapat pengalaman kurang

mengenakan dalam mencapai tujuan menjadi musisi.

4. Aspek-Aspek Efikasi Diri

Aspek-aspek efikasi diri merupakan hal yang penting dalam

melihat efikasi diri yang dimiliki oleh individu. Corsini (dalam Hartono,

2005: 20-21) membagi aspek-aspek efikasi diri menjadi empat, yaitu

sebagi berikut:

a. Aspek Kognitif

Kemampuan sesorang untuk memikirkan cara-cara yang digunakan

dan merancang tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan yang

diharapkan. Dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan setiap

(35)

dilakukan sehingga dapat melakukan tindakan sesuai dengan yang

diharapkan. Fungsi utama berpikir adalah memungkinkan seseorang untuk

memprediksi peristiwa atau kejadian sehari-hari yang akan berdampak

pada masa depannya. Asumsi timbul pada aspek kognitif yaitu ketika

semakin efektif kemampuan seseorang dalam melakukan analisis berpikir

dan kemampuan dalam berlatih mengungkapkan ide-ide atau gagasan

pribadi maka akan mendukung seseorang bertindak dengan cepat dalam

mencapai tujuan yang diharapkan.

Sebagai contoh, apabila seseorang dihadapkan pada suatu

permasalahan, orang tersebut akan menggunakan kemampuan kognitifnya

dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan memikirkan dan

merancang tindakan yang akan dilakukan untuk menghadapi permsalahan

tersebut. Seseorang tersebut juga akan memprediksi dampak dari tindakan

yang akan dilakukannya sehingga ketika sudah memiliki solusi dari

permasalahan yang dihadapi seseorang tersebut siap menerima dan

menjalani tindakan yang akan dilakukan, sebaliknya apabila seseorang

tersebut tidak mampu memikirkan atau merancang tindakan yang akan

dilakukan maka permasalahan yang dialami tidak akan terselesaikan

bahkan akan muncul permasalahan-permasalahan baru.

b. Aspek Motivasi

Kemampuan seseorang memotivasi diri melalui pemikirannya

untuk melakukan suatu tindakan dan keputusan untuk mencapai tujuan

(36)

menetapkan keyakinan pada tindakan yang akan dilakukan. Motivasi

dalam efikasi diri digunakan untuk memprediksi kesuksesan dan

kegagalan seseorang. Apabila sesorang memiliki motivasi maka akan

berusaha dalam mencapai setiap tujuan yang ingin dicapai, sebaliknya

seseorang tidak memiliki motivasi maka akan cenderung mudah menyerah

ketika mengalami kegagalan dan tidak mencoba untuk bangkit atau

berusaha usaha dalam mencapai tujuan tersebut.

Sebagai contoh, ada siswa SMA yang mempunyai keinginan

melanjutkan studi ke akademi militer. Siswa tersebut memotivasi diri agar

dapat diterima di akademi militer. Motivasi yang dimiliki lalu mendorong

untuk mempersiapkan diri, siswa tersebut lalu mencari informasi yang

berkaitan dengan akademi militer seperti persyaratan agar bisa diterima di

akademi militer. Setelah itu siswa tersebut membuat tulisan atau cara lain

yang dapat memotivasi dirinya untuk rajin belajar dan mempersiapkan diri

semaksimal mungkin agar bisa lolos seleksi masuk akademi militer.

Dengan tekad yang kuat siswa tersebut memiliki keyakinan pada

kemampuan yang dimilki dapat diterima di akademi militer melalui

motivasi yang dimiliki dan dengan usaha yang dilakukannya. Pada seleksi

pertama siswa tersebut gagal di tahap fisik, melalui pengalaman yang

diperolehnya siswa tersebut lalu memperbaiki diri dan mempersiapkan diri

agar bisa lolos seleksi pada tahun berikutnya. Akhirnya pada seleksi di

tahun kedua siswa tersbut lolos dan diterima di akademi militer seperti

(37)

putus asa atau mudah menyerah dan tidak memiliki usaha untuk mencapai

keinginnya.

c. Aspek Afeksi

Kemampuan mengatasi emosi yang timbul pada diri sendiri untuk

mencapai tujuan yang diharapkan. Afeksi terjadi secara alami dalam diri

seseorang dan berperan dalam menentukan intensitas pengalaman

emosional. Afeksi ditunjukan dengan kemampuan untuk menempatkan

diri ketika sedang merasakan emosi positif menjadi energi yang positif

bagi diri sendiri dan kemampuan untuk mengontrol emosi negatif yang

dapat menghalangi atau menghambat pola pikir dalam mencapai tujuan

seperti marah, kesal, dan cemas atau emosi negatif yang memiliki kurang

baik bagi diri sendiri.

Sebagai contoh, ada siswa yang cemas ketika menunggu

pengumuman hasil seleksi masuk ke perguruan tinggi, siswa tersebut

cemas karena teman yang lebih pintar dan memilih program studi sama

dengan pilihannya tidak lolos seleksi. Siswa tersebut lalu berdoa dan

melakukan kegiatan untuk dapat mengalihkan kecemasan yang sedang di

rasakanya. Kecemasan pada diri siswa tersebut berangsur-angsur mulai

berkurang dan menjadi lebih tenang menunggu pengumuman seleksi

masuk ke perguruan tinggi. Siswa tersebut mampu mengatasi kecemasan

yang dirasakan dan menyadari bahwa cemas yang berlebihan hanya akan

membuatnya semakin takut untuk menunggu pengumuman hasil seleksi

(38)

d. Aspek Seleksi

Kemampuan seseorang untuk menyeleksi tingkah laku sesuai

dengan situasi yang terjadi. Seseorang yang mampu menyeleksi tingkah

lakunya akan terhindar dari hal-hal negatif dari tingkah laku yang

dilakukannya. Seleksi tingkah laku dapat mempengaruhi perkembangan

pribadi individu karena ketidakmampuan individu dalam melakukan

seleksi tingkah laku, ketidakmampuan dalam menyeleksi tingkah laku

akan berdampak pada munculnya perasaan tidak percaya diri, panik,

bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan dan mudah menyerah ketika

menghadapi situasi yang sulit.

Sebagai contoh, ketika guru memberikan tugas, ada beberapa siswa

yang mencontek pekerjaan temannya, melihat temannya yang mencontek

lalu siswa lain ikut-ikutan mencotek karena siswa tersebut merasa tidak

mampu dan tidak yakin dapat mengerjakan tugas yang diberikan oleh

gurunya. Dari gambaran tersebut dapat dilihat bahwa siswa terpengaruh

teman yang mencotek dan tidak berusaha untuk memilih tindakan lain

selain mencontek walaupun masih ada cara lain dalam menyelesaikan

tugas tersebut seperti bertanya kepada teman yang lebih menguasai atau

mencari jawaban dari sumber lain, sehingga tingkah laku yang terlihat

adalah siswa ikut-ikutan mencontek. Siswa tersebut merasa tidak percaya

diri dengan kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan tugas dan

tidak menyadari dan memahami bahwa mencontek merupakan tindakan

(39)

5. Pengaruh Efikasi Diri pada Tingkah Laku

Secara tidak langsung efikasi diri akan mempengaruhi perilaku

individu dalam di kehidupan sehari-hari, seperti pendapat yang dikemukakan

oleh Luthans (2006: 340) mengenai pengaruh efikasi diri pada tingkah laku

adalah sebagai berikut :

a. Pemilihan perilaku

Salah satu pengaruh efikasi diri adalah ketika membuat keputusan.

Keputusan yang dibuat berdasarkan bagaimana efikasi diri dirasakan

seseorang terhadap pilihan. Pemilihan keputusan ini di dasarkan pada

keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menghadapi

kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi.

b. Usaha motivasi

Individu akan berusaha lebih keras dalam mencapai tujuan yang

ingin dicapai, dalam hal ini efikasi diri yang dimiliki lebih tinggi daripada

mereka yang kurang memiliki usaha dalam mencapai tujuan yang ingin

dicapai. Efikasi diri akan mempengaruhi sajauh mana individu dapat

bertahan dalam menghadapi hambatan-hambatan yang kurang

menyenangkan melalui usaha-usaha yang dilakukannya.

c. Daya tahan

Efikasi diri akan mempengaruhi daya tahan ketika indivdu

mengahadapi masalah. Individu dengan efikasi diri tinggi akan bangkit

(40)

individu yang memiliki efikasi diri rendah akan merasa putus asa dengan

kegagalan yang dialaminya.

d. Pola pemikiran fasilitatif

Penilaian efikasi diri akan mempengaruhi perkataan pada diri

sendiri seperti orang dengan efikasi diri tinggi akan mengatakan “saya

tahu saya akan dapat menemukan cara untuk menyelesaikan masalah ini”.

dan bagi yang memiliki efikasi diri rendah akan berkata sebaliknya.

e. Daya tahan terhadap stress

Individu dengan efikasi diri rendah cenderung akan mudah

mengalami stress atau mengalah pada permasalahan yang dihadapi. Hal ini

karena individu merasa gagal menyelesaikan permasalahan yang dialami

dan merasa terbebani sehingga akan mudah mengalami stress, sementara

individu dengan efikasi diri tinggi akan menghadapi masalah dengan

percaya diri sehingga dapat terhindar dari stress.

Dari penjelasan tentang efikasi diri yang telah diuraikan peneliti

dapat disimpulkan bahwa efikasi diri adalah keyakinan individu terhadap

kemampuan yang dimiliki dalam menghadapi atau menyelesaikan suatu

tugas sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Efikasi diri ini berkaitan

dengan keyakinan pada diri individu terhadap kemampuannya dalam

melakukan suatu tindakan, jika individu memiliki efikasi diri tinggi maka

akan dapat menentukan memilih tindakan sesuai dengan situasi yang sedang

dihadapi. Keberhasilan suatu tindakan yang akan dilakukan dipengaruhi

(41)

membantu individu dalam memahami kemampuan yang dimiliki,

kemampuan tersebut akan berpengaruh pada keyakinan dalam melakukan

suatu tindakan, seperti menyelesaikan tugas, mencapai tujuan dan mengatasi

hambatan.

Efikasi diri dapat diperoleh, ditingkatkan atau dikembangkan

melalui empat sumber yaitu yang pertama adalah pengalaman menguasai

sesuatu (mastery experience) yang dapat diperoleh dari pengalaman individu

secara langsung, kedua modeling sosial, yang dapat diperoleh ketika melihat

teman sebaya dengan karakter yang hampir sama mencapai keberhasilan

atau kegagalan menyelesaikan tugas, ketiga persuasi sosial, yang merupakan

dukungan dari seseorang kepada individu dalam menyelesaikan tugas yang

dihadapai dan yang kempat kondisi fisik dan emosiaonal ketika individu

berada dalam keadaan tertekan. Dari keempat sumber tersebut pengalaman

menguasi sesuatu (mastery experience) merupakan sumber yang paling

berpengaruh dalam peningkatan dan penurunan efikasi dibandingkan

sumber yang lain. Keberhasilan dimasa lalu akan meningkatkan efikasi diri

sedangkan kegagalan yang dialami akan menurunkan efikasi diri.

Peningkatan dan penurunan efikasi diri ini tergantung sejauh mana individu

dapat menguasai pengalaman dimasa lalunya.

Efikasi diri terdiri dari beberapa dimensi yang meliputi dimensi

tingkat kesulitan tugas berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas yang

dihadapi, dimensi generalisasi berkaitan dengan luas cakupan bidang

(42)

dengan tingkat kekuatan dari keyakinan atau pengharapan terhadap

kemampuannya. Aspek-aspek efikasi diri antara lain, aspek kognitif

berkaitan dengan kemampuan memikirkan dan merancang tindakan, aspek

motivasi berkaitan dengan kemampuan seseorang memotivasi diri melalui

pemikirannya dalam melakukan suatu tindakan, aspek afeksi berkaitan

dengan kemampuan mengatasi perasaan emosi yang timbul pada diri sendiri

dan aspek seleksi yang berkaitan dengan kemampuan individu untuk

menyeleksi tingkah laku sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

Efikasi diri yang dimiliki oleh individu secara tidak langsung akan

mempengaruhi indvidu dalam pemilihan perilaku yang didasarkan pada

efikasi yang dimiliki, usaha memotivasi diri dalam bertahan dalam

menghadapi permasalahanya, daya tahan yang dimiliki dalam menghadapi

masalah, pola pemikiran fasilitatif yang akan mempengaruhi perkataan pada

diri sendiri dan yang terakhir adalah daya tahan terhadap stress dimana

individu dengan efikasi diri rendah cenderung akanmudah mengalami stress

sedangkan individu dengan efikasi diri tinggi ketika menghadapi masalah

memiliki rasa percaya diri atas kemampuannya dalam menghadapi masalah

(43)

B. Kajian Pengambilan Keputusan Karir 1. Definisi Karir

Karir menurut Bruce Shertzer (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1987: 17)

mengungkapkan “Carrer is a sequence of occupations, jobs and positions

held during the course of a person’s life time”. Karir diartikan sebagai suatu

rangkaian pekerjaan-pekerjaan, jabatan, dan kedudukan yang dipegang oleh

seseorang seumur hidupnya. Menurut Donald Super (dalam Dewa Ketut

Sukardi, 1987:17) mengatakan karir sebagai suatu rangkaian

pekerjaan-pekerjaan, jabatan-jabatan, dan kedudukan yang mengarah pada kehidupan

dalam dunia kerja. Pendapat lain dikemukakan oleh Gibson (2011) dkk yang

mengatakan karir adalah suatu rangkaian sikap dan perilaku yang berkaitan

dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan

seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan.

Berdasarkan penjelasan karir di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

karir adalah suatu sikap atau rangkaian yang berkaitan dengan pekerjaan,

seperti jabatan, kedudukan, pengalaman dan aktivitas kerja yang merupakan

perjalanan seseorang yang berlangsung seumur hidup.

2. Perkembangan Karir

Menurut Donald Super (dalam Winkel dan Hastuti 2004: 632) proses

perkembangan karir dibagi atas 5 tahap, yaitu:

a. Tahap Pengembangan (Growth).

Tahap ini diawali dari saat lahir sampai umur lebih kurang 15 tahun,

(44)

tentang dunia kerja, sikap, minat, dan kebutuhan-kebutuhan dimasa

depan.

b. Tahap Eksplorasi (Eksploration)

Tahap ini dimulai ketika inidividu mulai memasuki usia 15 sampai 24

tahun, dimana individu sudah mulai mengumpulkan berbagai informasi

yang berhubungan dengan pekerjaan dan memikirkan berbagai alternatif

jabatan, tetapi belum sampai tahap mengambil keputusan yang mengikat.

Pada tahap ini individu menggunakan informasi yang dimiliki untuk

menentukan pilihan karirnya melalui rencana karir dan direalisasikan

ketika akan melakukan pengambilan keputusan karir.

c. Tahap Pemantapan (Establishment)

Ketika memasuki usia 25 sampai 44 tahun, melalui pengalaman karir

yang pernah dijalani individu mulai memantapkan diri dengan mengikuti

pelatihan atau kegiatan yang bertujuan meningkatkan keterampilan untuk

mencapai tujuan karir melalui peningkatan posisi atau jabatan dalam

suatu pekerjaan. Pada tahap ini individu mengikuti berbagai kursus atau

kegiatan yang dapat menunjang dan memantapkan pilihan karirnya.

d. Tahap Pembinaan (Maintenance)

Ketika berada pada usia 45 tahun sampai 64 tahun, individu mulai

melakukan proses penyesuaian diri untuk meningkatkan posisi dalam

suatu pekerjaan. Inidvidu pada tahap ini mulai beradaptasi dengan

(45)

e. Tahap Kemunduran (Decline)

Individu yang sudah memasuki fase ini mulai mempertimbangkan masa

pensiun dan mulai memikirkan pola hidup baru yang akan dilakukan

setelah melepaskan jabatannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan

yaitu dengan mengurangi aktivitas beban kerjanya. Pada tahap ini

kemampuan individu dalam bekerja sudah mengalami penurunan dan

mulai memasuki masa pensiun dari pekerjaannya.

Berdasarkan perkembangan karir yang dikemukakan oleh Donald

Super, usia remaja dalam konteks ini adalah siswa SMA berada pada

tahap eksplorasi dimana individu sudah mulai mengumpulkan berbagai

informasi yang berhubungan dengan masa depan baik kelanjutan studi

atau pekerjaan, selain itu siswa SMA mulai menentukan pilihan karirnya

berdasarkan pandangan tentang dunia kerja, sikap, minat yang diperoleh

pada tahap pengembangan dan mulai mempertimbangkan pilihan karir

dengan mempersempit pilihan karirnya.

Lebih lanjut Donald Super (dalam Santrock 2003: 484)

mengungkapkan bahwa perkembangan karir terdiri dari lima fase yang

berbeda sebagai berikut.

a. Fase kristalisasi berkembang sekitar usia 14-18 tahun, individu mulai

menggali, membangun dan merumuskan ide-ide tentang pekerjaan yang

(46)

b. Fase spesifikasi berkembang sekitar usia 18-22 tahun, individu mulai

mempersempit pilihan karir dan mulai mengarahkan sikap dan perilaku

sesuai dengan pilihan karir yang di inginkan.

c. Fase implementasi berkembang sekitar usia 21-24 tahun, pada fase ini

individu menyelesaikan sekolah atau pelatihannya dan mulai memasuki

dunia kerja..

d. Fase stabilisasi berkembang sekitar usia 25-35 tahun, pada tahap ini

individu bertahan untuk menyesuaikan keputusan karir yang telah dipilih

dengan menjalani dan menerima konsekuensi dari keputusan karirnya.

e. Fase konsolidasi berkembang setelah usia 35 tahun, individu akan

memajukan karirnya agar dapat mencapai posisi atau jabatan lebih tinggi

dari yang sebelumnya.

Berdasarkan fase perkembangan karir yang dikemukakan Super,

usia remaja dalam konteks ini adalah siswa SMA berada pada fase

kristalisasi, yaitu mulai menggali, membangun dan merumuskan karir

yang ditandai dengan penggalian kemampuan atau penggalian bakat dan

minat yang dimiliki kemudian dipadukan dengan pilihan karir yang

kemudian akan dipersempit pada fase spesifikasi.

3. Definisi Pengambilan Keputusan Karir

Proses pengambilan keputusan karir adalah ketika individu

dihadapkan pada berbagai macam pilihan program studi dan pendidikan

tinggi setelah lulus dari sekolah. Pada proses ini individu mulai memilih

(47)

berlatih untuk membuat serta mengambil keputusan dari pilihan yang telah

ditentukan (Sharf, 1992: 303). Pengambilan keputusan karir merupakan inti

dari perencanan karir, karena melalui pengambilan keputsan karir ini akan

menentukan seberapa efektif perencanaan karir yang telah dibuat untuk

meraih tujuan karir di masa depan, proses dapat disebut sebagai pengambilan

keputusan karir

Menurur Super (dalam Tuti, Tjahjono dan Kartika, 2006)

pengambilan keputusan karir adalah kemampuan dalam menggunakan

pengetahuan dan pikirannya untuk membuat perencanaan karir. Pendapat lain

dikemukakan oleh Gati dan Asher (2001: 31) yang mengatakan pengambilan

keputusan karir merupakan proses yang dilakukan oleh individu untuk

mencari alternatif-alternatif dari berbagai pilihan karir yang dibandingkan

lalu ditetapkan menjadi suatu pilihan yang akan diambil.

Sementara itu menurut teori pengambilan keputusan karir behaviorial

dari Krumboltz yang diadaptasi dari toeri behaviorisme Albert Bandura

(dalam Munandir,1996: 101) mengungkapan bahwa dalam pengambilan

keputusan karir, individu berada dalam lingkungan tertentu, dengan

membawa ciri-ciri bawaan dari keturunannya dalam menghadapi berbagai

situasi yang dijadikan sebagai pengalaman belajar. Teori Krumboltz

menjelaskan selain pengalaman belajar ada beberapa hal yang mendasari

individu dalam pengambilan keputusan karir seperti, keadaan sosial, peristiwa

yang terjadi, jenis kelamin dan keadaan jasmaniah yang dapat menentukan

(48)

karir. Lebih lanjut Munandir (1996: 101) mengatakan teori dari Krumboltz

tentang keputusan karir berguna untuk mengenali kondisi-kondisi lingkungan

dan peristiwa yang memberikan pengalamanan belajar kepada seseorang

untuk menyusun rencana karir.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

pengambilan keputusan karir adalah suatu proses penentuan karir dimana

individu menggunakan kemampuan yang dimiliki dalam menentukan pilihan

karir yang akan dipilih dari beberapa alternatif pilihan-pilihan karir yang telah

direncanakan.

4. Aspek-Aspek Pengambilan Keputusan Karir

Aspek-aspek pengambilan keputusan karir menjadi hal yang penting

untuk dikuasai dalam pengambilan keputusan karir. Sharf (1992: 157-158)

mengemukakan tentang aspek-aspek pengambilan keputusan karir yang

terdiri dari tiga hal, yaitu :

a. Pengetahuan

Pengetahuan yang mendasari kemampuan dalam pembuatan

keputusan karir adalah pengetahuan tentang pemahaman diri sendiri,

kesesuaian suatu karir dengan kemampuan bakat, minat dan potensi yang

dimiliki. Pengetahuan yang dimiliki ini akan membantu mengarahkan

individu dalam membuat keputusan karir, baik berdasarkan bakat, minat

dan potensi yang dimiliki. Sehingga keputusan karir yang dibuat sesuai

(49)

Sebagai contoh, siswa SMA memilih kelanjutan studi hanya karena

gengsi ingin dipuji oleh teman-temannya tanpa memperhatikan bakat,

minat, potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Seiring berjalannya

waktu, ketika memasuki semester ketiga siswa yang sudah menjadi

mahasiswa tadi kesulitan mengikuti dan memahami materi kuliah yang

diberikan oleh dosen. Siswa tersebut tidak dapat mengalami stress dan

tidak mampu bertahan sehingga sering absen kuliah karena merasa tidak

mampu mengikuti dan memahami materi kuliah yang tidak sesuai dengan

bakat, minat atau potensi yang dimilikinya. Dari contoh tersebut dapat

dilihat dalam memilih kelanjutan studi ada beberapa hal yang harus

dipertimbangkan agar kelanjutan studi yang dipilih sesuai dengan

kemampuan yang dimiliki sehingga dapat mencapai tujuan karir yang

diharapkan.

b. Sikap terhadap karir

Sikap individu terhadap karir adalah bagaimana individu

menyikapi karirnya dimasa depan. Sikap ini dapat dianalisis berdasarkan

perencanaan karir dan eksplorasi karir. Indikator sikap tersebut meliputi

kemampuan individu dalam mempelajari informasi karir, membicarakan

perencanaan karir dengan orang dewasa dan mengikuti pendidikan atau

pelatihan yang mengarah kepada karir masa depan.

Sebagai contoh, seorang siswa akan mempersiapkan karir di masa

depannya dengan berbagai cara misalanya berusaha mencari inforamasi

(50)

karir informasi karir yang dimiliki agar dapat mempersiapkan diri untuk

mencapai karir yang dicita-citakan. Setelah itu mempelajari informasi

karir yang diperoleh untuk membuat rencana karir dan dilanjutkan

dengan menentukan pilihan karir serta mendiskusikan pilihan karir

tersebut dengan orang dewasa seperti orang tua, guru atau orang-orang

yang dipandang mengetahui pilihan karirnya. Setelah memiliki pilihan

karir siswa tersebut dapat mempersiapkan karirnya dengan mengikuti

kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang pilihan karirnya.

c. Keterampilan pengambilan keputusan karir

Keterampilan individu dalam pengambilan keputusan karir ini

mengacu pada penggunaan pengetahuan dalam membuat keputusan karir

yang direalisasikan melalui pengambilan keputusan karir. Dalam

pembuatan keputusan karir indivdu akan menggunkan pengetahuan yang

dimilikinya agar keputusan karirnya sesuai dengan tujuan karir yang

diharapkan. individu harus mengetahui bagaimana langkah-langkah

dalam pembuatan keputusan karir, apa saja yang harus dipersiapkan

dalam pengambilan keputusan karir lalu kemudian dianalisis dengan

pemikiran yang dimiliki.

Sebagai contoh, siswa akan mempersiapkan diri ketika

pengambilan keputusan karir seperti memahami kemampuan pada diri

sendiri kemudian dikombinasikan dengan informasi yang dimiliki

sebelum membuat keputusan karir sehingga siap menerima konsekuensi

(51)

5. Faktor-Faktor Pengambilan Keputusan Karir

Menurut Winkel dan Sri Hastuti (2004: 645-655) membagi

faktor-faktor pengambilan keputusan karir menjadi dua yaitu daktor yang berasal

dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar diri individu (eksternal).

a. Faktor-Faktor Internal

1) Nilai-nilai kehidupan yang dimiliki oleh seorang individu seperti

nilai kejujuran, nilai kedisiplinan dan nilai tanggung jawab.

2) Taraf intelegensi yaitu taraf kemampuan berpikir atau pencapaian

prestasi-prestasi yang dimiliki oleh individu.

3) Bakat khusus yaitu kemampuan yang menonjol di suatu bidang

seperti kognitif, bidang keterampilan, atau bidang kesenian yang

dimiliki individu.

4) Minat yaitu kecenderungan yang menetap pada seseorang untuk

merasa tertarik pada suatu bidang tertentu dan merasa senang

menekuni berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bidang

tersebut.

5) Sifat-sifat yaitu ciri-ciri kepribadian yang bersama-sama

memberikan ciri khas pada seseorang, seperti ramah, halus, teliti,

terbuka, fleksibel, ceroboh.

6) Pengetahuan yaitu pemahaman yang dimiliki tentang diri sendiri

yang berkaitan dengan bidang-bidang pekerjaan yang sesuai

(52)

7) Keadaan jasmani yaitu ciri-ciri fisik yang dimiliki seseorang seperti

tinggi badan, penampilan wajah, ketajaman penglihatan dan jenis

kelamin.

b. Faktor-Faktor Eksternal

1) Masyarakat yaitu lingkungan sosial-budaya dimana individu

dibesarkan.

2) Keadaan sosial-ekonomi negara atau daerah yaitu cepat lambat laju

pertumbuhan ekonomi.

3) Status sosial-ekonomi keluarga yaitu tingkat pendidikan orang tua,

tinggi rendahnya pendapatan orang tua, latar belakang pekerjaan

ayah atau ibu, dan daerah tempat tinggal.

4) Pengaruh dari seluruh anggota keluarga baik dari orang tua, kakak

dan saudara kandung dari orang tua menyatakan segala harapan

dengan mengkomunikasikan pandangan dan sikap tentang

kelanjutan studi atau pekerjaan. Dari pengaruh yang diberikan oleh

seluruh anggota keluarga ini, individu dapat mempertimbangkan

semua pengharapan, pendapat, dan pandangan keluarga pada suatu

karir tertentu.

5) Pengaruh dari sekolah yaitu pandangan dan sikap yang

dikomunikasikan kepada perserta didik oleh staf atau guru

mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam bekerja, tinggi

rendahnya status sosial, jabatan, dan kecocokan jabatan tertentu

(53)

6) Pergaulan dengan teman sebaya yaitu harapan tentang masa depan

yang terungkap dalam pergaulan sehari-hari. Dari pergaulan inilah,

individu mendapatkan gambaran mengenai profesi–profesi yang

akan dijalani teman sebayanya.

Pendapat lain mengenai faktor-faktor pengambilan keputusan karir

dikemukakan oleh Krumboltz (dalam Munandir, 1996: 97) yang

menyatakan bahwa keputusan karir didasari oleh empat faktor yang, yaitu :

a. Faktor genetik

Faktor ini dibawa dari lahir berupa wujud, keadaan fisik dan

kemampuan yang diturunkan dari orang tua. Teori ini mengatakan

bahwa individu terlahir memiliki kemampuan khusus, misalnya

kecerdasan, bakat, dan kemampuan dalam menyelesaikan masalah dan

kemampuan menentukan pilihan dalam pengambilan keputusan juga

dapat berasal dari genetik yang diturunkan.

b. Kondisi lingkungan

Faktor lingkungan yang berpengaruh pada pengambilan

keputusan kerja ini, berupa kesempatan kerja, kesempatan pendidikan

dan pelatihan, kebijakan dan prosedur seleksi, imbalan,

undang-undang dan peraturan yang berlaku, peristiwa alam, sumber daya

alam, kemajuan teknologi, perubahan dalam organisasi sosial,

lingkungan keluarga, sistem pendidikan, lingkungan tetangga dan

masyarakat sekitar dan pengalaman belajar.

(54)

c. Faktor belajar

Kegiatan yang paling banyak dilakukan manusia adalah

belajar. Ini dilakukan hampir setiap waktu sejak masa bayi, bahkan

ada ahli yang mengatakan sejak di dalam kandungan. Ada dua jenis

belajar, yaitu belajar instrumental dan asosiatif. Belajar instrumental

adalah belajar yang terjadi melalui pengalaman orang ketika berada di

suatu lingkungan. Belajar asosiatif adalah pengalaman dimana orang

mengamati hubungan antara kejadian-kejadian dan mampu

memprediksi konsekuensi yang akan didapatkan.

d. Keterampilan menghadapi tugas atau masalah

Keterampilan ini dicapai sebagai buah interaksi antara

pengalaman belajar, ciri genetik, kemampuan khusus, dan lingkungan.

Keterampilan ini diterapkan untuk menghadapi dan menyelesaikan

tugas-tugas baru. Keterampilan menghadapi tugas ini merupakan hasil

belajar dan keterampilan yang diperoleh sebelumnya. Salah satu

contohnya adalah keterampilan pengambilan keputusan.

6. Periode Pengambilan Keputusan Karir

Menurut Ruslan A. Gani (1996: 62) pengambilan keputusan karir

dibagi menjadi dua periode, yaitu:

a. Periode antisipasi, pada periode ini dibagi manjadi empat tahap, antara lain

sebagai beikut :

1) Tahap eksplotasi, pada tahap ini inidvidu baru dalam bentuk pencarian

Gambar

Tabel 1. Populasi Penelitian
Tabel 2. Penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu dengan taraf kesalahan 1%, 5%, dan 10%
Tabel 3. Skor Alternatif Jawaban Skala.
Tabel 4 . Kisi-kisi Instrumen Efikasi Diri
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan keluarga dan efikasi diri terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XII IPS SMA BPI

yang memiliki efikasi diri yang rendah dalam membuat keputusan karir ditandai. dengan ketidaktahuan terhadap kelebihan dan kekurangan dirinya,

Pengaruh status identitas dan efikasi diri keputusan karir terhadap keraguan mengambil keputusan karir pada mahasiswa tahun pertama di Universitas

memilih judul : hubungan antara efikasi diri dengan kematangan karir pada

Sehingga, hipotesis dalam penelitian ini diterima, yaitu ada perbedaan efikasi diri dalam pengambilan keputusan karir, antara siswa yang mengikuti pelatihan perencanaan

Penelitian ini bermaksud mengungkap lebih mendalam tentang hubungan konsep diri dengan pengambilan keputusan karier pada siswa kelas XII SMK Negeri 1 Jenangan

Dengan nilai R sebesar 0,628 ini berarti bahwa terdapat pengaruh kontrol diri sebesar 68,2% terhadap pengambilan keputusan karir pada siswa kelas XII,

Sehingga, hipotesis dalam penelitian ini diterima, yaitu ada perbedaan efikasi diri dalam pengambilan keputusan karir, antara siswa yang mengikuti pelatihan perencanaan