• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eti Priyati BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Eti Priyati BAB II"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Media Pembelajaran

1. Pengertian Media Pembelajaran

Kata Media berasal dari bahasa latin, bentuk jamak dari medium secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media juga diartikan

segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada si pembelajar (siswa). Zainal

Aqib (2013: 50).

Media pembelajaran berfungsi untuk membangkitkan motivasi belajar, mengulang apa yang telah dipelajari, menyediakan simulasi

belajar, mengaktifkan respon siswa, dan menggalakkan latihan yang serasi (Setiawan, 2008). Sedangkan menurut McKnown dalam Setiawan

(2008), media memiliki 4 fungsi, yaitu :

1. Mengubah titik tekan pengajaran dari instruksional akademis menjadi pengajaran yang mementingkan kebutuhan siswa.

2. Membangkitkan motivasi belajar. 3. Memberikan kejelasan.

4. Memberikan rangsangan.

(2)

dan perangkat lunak (software) yang di dalamnya berisi materi pelajaran guna menunjang proses belajar mengajar pada institusi pendidikan.

a. Macam-Macam Media Pembelajaran

Menurut Zahroh (2015:208) klarifikasi media bisa dilihat dari

jenisnya, daya liputnya, dan dari bahan serta cara pembuatannya. 1) Dilihat dari Jenisnya

a) Media auditif

Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassete recorder, dan piringan hitam. Media ini tidak cocok untuk orang yang tunarungu atau mempunyai kelainan dalam pendengaran.

b) Media visual

Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam,

seperti film strip (film rangkai), slide (film bingkai), foto, gmabar atau lukisan, dan cetakan. Ada pula media visual yang

menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu dan film kartun.

c) Media audiovisual

(3)

yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua. Media kategori ini dibagi lagi sebagai berikut :

(1) Audiovisual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan

gambar diam seperti film bingkai suara (sound slide), film rangkai suara dan cetak suara.

(2) Audiovisual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video kaset.

2) Dilihat dari Daya Liputnya

a) Media dengan daya liput luas dan serentak

Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah peserta didik yang banyak dalam waktu yang sama.

Contoh : radio dan televisi.

b) Media dengan daya liput yang terbatas

Media ini dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus, seperti film, sound slide, dan film bingkai yang harus menggunakan tempat tertutup dan gelap.

c) Media untuk pengajaran inividual

Media ini penggunaannya hanya untuk seorang diri. Media

yang termasuk kategori ini, yaitu modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.

(4)

a) Media sederhana

Media ini, bahan dasarnya mudah diperoleh, harganya murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunaannya pun tidak sulit.

Contohnya : media bangun ruang yang dibuat dari karton. b) Media kompleks

Media ini adalah media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunaannya memerlukan keterampilan yang memadai.

Contohnya : media-media yang menggunakan alat bantu seperti proyektor.

b. Fungsi Media Pembelajaran

Encyclopedia of Educational Research dalam Hamalik (1994: 25) media pendidikan bermanfaat sebagai alat, metode dan teknik yang

digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di

sekolah. Media pembelajaran mempunyai fungsi yaitu :

1) Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.

2) Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar.

3) Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan waktu.

(5)

Menurut Wina Sanjaya (2012:70), kegunaan media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar secara khusus adalah sebagai berikut :

1) Menangkap suatu objek atau peristiwa tertentu. Peristiwa-peristiwa atau objek yang langka dapat diabadikan dengan foto, film atau direkam melalui video atau audio, kemudian peristiwa itu dapat disimpan dan dapat digunakan manakala diperlukan.

2) Memanipulasi keadaan, peristiwa atau objek tertentu. Melalui media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkret sehingga mudah dipahami dan dapat menghilangkan verbalisme.

3) Menambah gairah dan motivasi belajar siswa. Penggunaan media dapat menambah motivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat.

Sebagai media yang meletakkan cara berpikir konkret dalam kegiatan belajar mengajar, pengembangnya diserahkan kepada guru. Guru dapat mengembangkan media sesuai dengan kemampuannya.

Dalam hal ini akan terkait dengan kecermatan guru memahami kondisi psikologis siswa, tujuan metode dan kelengkapan alat bantu. Kesesuaian

dan keterpaduan dari semua unsur ini akan sangat mendukung pengembangan media pembelajaran (Syaiful Bahri Dja dan Aswan Zainm 2006: 135).

B. Media Film

a. Pengertian Media

Kata media berasal dari bahasa latin yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara” atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media

adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima

(6)

Association for Education Communications and Technology (AECT, 1977) mendefinisikan media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk menyalurkan informasi (Anitah, 2008 : 1).

Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar (Gagne dalam Sadiman dkk, 2009 :

6). Dan ada juga yang mengatakan bahwa media adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta

perhatian siswa sedemikian rupa sehingga dapat terjadinya proses pembelajaran (Sadiman dkk, 2009 : 7).

Dari beberapa definisi di atas, maka peneliti menyimpulkan bahwa media adalah alat ataupun komponen yang sangat penting dalam proses komunikasi yang digunakan sebagai pengantar dalam proses

pembelajaran agar peserta didik dapat lebih mudah untuk bisa memahami mata pelajaran yang sedang ditempuhnya.

Proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui

saluran atau media tertentu kepada penerima pesan. Proses komunikasi paling tidak melibatkan tiga komponen utama, yaitu pengirim atau sumber pesan (source), perantara (media), dan juga penerima (receiver)

(7)

komponen yang harus ada dalam proses komunikasi, yaitu pemberi informasi, informasi itu sendiri, penerima informasi dan media. Dari keempat komponen dalam proses penyaluran pesan.

b. Media Film

Menurut Arsyad (2007:49), film atau gambar hidup merupakan

gambar-gambar dalam frame dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup. Sama juga dengan film, video yang dapat

menggambarkan suatu objek yang dpaat bergerak bersama-sama dengan suara. Film bergerak dengan cepat secara bergantian sehingga

menghasilkan visual yang kontinu. Sama halnya dengan film, video juga dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara ilmiah atau suara yang sesuai kemampuan film dan video

melukiskan gambar hidup dan suara memberikan gaya tarik tersendiri yang mempunyai tujuan untuk hiburan, dokumentasi dan pendidikan.

Mereka dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan keterampilan, menyingkat dan

memperpanjang waktu dan mempengaruhi sikap.

Film sering disebut juga dengan gambar hidup (motion pictures), yaitu serangkaian gambar diam (still pictures) yang meluncur secara

(8)

Dari beberapa pengertian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa film ataupun gambar hidup adalah media atau alat yang digunakan pendidik sebagai perantara untuk menyampaikan pesan kepada penerima

pesan (peserta didik), untuk mempermudah pemahaman dari pesan yang disampaikannya.

Fungsi film dalam proses pembelajaran terkait dengan tiga hal yaitu, untuk tujuan kognitif, untuk tujuan psikomotor dan untuk tujuan afektif. Dalam hubungannya dengan tujuan kognitif, film dapat

digunakan sebagai berikut :

1) Mengajarkan pengenalan kembali atau pembedaan simulasi gerak

yang relevan.

2) Mengajarkan aturan atau prinsip. Film juga dapat menunjukkan deretan ungkapan verbal yang terdapat pada gambar dan media cetak.

3) Memperlihatkan contoh model penampilan, yang terutama pada situasi yang menunjukkan interaksi.

Dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media film sebagai media pendidikan yang akan membantu pendidik untuk

(9)

1) Kelebihan media film

a) Film dan video dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, berpraktik, dan lain-lain.

b) Film dan video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat yang dapat disaksikan secara berulang-ulang jika dipandang perlu. c) Disamping mendorong dan meningkatkan motivasi, film dan video

menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya.

d) Film dan video mengandung nilai-nilai positif dappat mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa.

e) Film dan video dapat menyajikan peristiwa yang berbahaya bila dilihat secara langsung seperti lahar gunung berapi atau perilaku binatang buas.

f) Film dan video dapat ditunjukkan kepada kelompok besar atau kelompok kecil, kelompok yang heterogen, maupun perorangan. g) Dengan kemampuan dan teknik pengambilan gambar frame demi

frame, film yang dalam kecepatan normal memakan waktu satu minggu dapat ditampilkan dalam satu atau dua menit.

2) Kelemahan film sebagai media dalam pendidikan, diantaranya yaitu : a) Film yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan atau

tujuan belajar yang diinginkan.

b) Pada saat film disajikan, gambar-gambar bergerak terus sehingga tidak semua peserta didik dapat mengikuti informasi yang disampaikan melalui media film tersebut.

c) Harga ataupun biaya produksinya relatif mahal.

C. Minat Belajar

a. Definisi Minat

Menurut Sumadi Suryabrata (2002:68) definisi minat adalah Suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas

tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu hal diluar dirinya. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar

(10)

Minat dapat diartikan sebagai kecenderungan yang tinggi terhadap sesuatu, tertarik, perhatian, gairah dan keinginan. Pendapat lain tentang pengertian minat yaitu yang diungkapkan oleh T. Albertus

yang diterjemahkan Sardiman A.M, minat adalah kesadaran seseorang bahwa suatu obyek, seseorang, suatu soal maupun situasi yang

mengandung sangkut paut dengan dirinya (2006:32).

Menurut Hilgard yang dikutip oleh Slameto (2003:57) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang

beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang 10 diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa minat adalah aspek psikis yang dimiliki seseorang yang menimbulkan rasa suka atau tertarik terhadap sesuatu dan mampu mempengaruhi tindakan

orang tersebut. b. Definisi belajar

Belajar menurut Gagne (dalam Sulhan, 2006:5) adalah sebuah proses perubahan tingkah lakuyang meliputi perubahan kecenderungan

manusia, seperti sikap, minat, atau nilai dan perubahan kemampuannya, yakni peningkatakn kemampuan untuk berbagai jeniskinerja.

Sedangkan menurut Gesalt (dalam Yulianah, 2008:10)

(11)

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah suatu perasaan senang melakukan suatu proses perubahan tingkah laku yang ditampilkan

seorang siswa dalam bentuk perhatian yang terus menerus sehingga tercipta kemampuan untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang

dihadapinya.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar

Despiyuanto (2010) menjelaskan beberapa faktor yang

mempengaruhi minat belajar siswa yaitu :

a) Faktor dari dalam diri siswa yang terdiri dari :

a) Aspek jasmani, mencakup kondisi fisik atau kesehatan jasmani dari individu siswa.

b) Aspek psikologis (kejiwaan), meliputi perhatian, pemahaman, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, bakat dan motif.

b) Faktor dari luar siswa meliputi :

a) Keluarga, meliputi hubungan antar keluarga, suasana lingkungan rumah dan keadaan ekonomi keluarga.

b) Sekolah, meliputi metode mengajar, kurikulum, sarana dan prasarana belajar, sumber-sumber belajar, media pembelajaran, hubungan siswa dengan temannya, guru-guru dan staf sekolah serta berbagai kegiatan kurikuler.

c) Lingkungan masyarakat, meliputi hubungan dengan teman bergaul, kegiatan dalam masyarakat dan lingkungan tempat tinggal.

d. Beberapa indikator minat belajar siswa antara lain :

a) Indikator minat belajar siswa menurut Slameto: (2010)

(12)

b) Adanya ketertarikan, yaitu ketertarikan terhadap bahan pelajaran.

c) Adanya rasa senang, yaitu senang mengetahui bahan

belajardan memahami bahan belajar.

b) Indikator minat belajar siswa menurut Rasyid (2010:31) a) Bergairah untuk belajar.

b) Tertarik pada pelajaran.

c) Mempunyai inisiatif untuk belajar. d) Kesegaran dalam belajar.

e) Konsentrasi dalam belajar. f) Teliti dalam belajar. g) Ulet dalam belajar.

(http://kamriantiramli.wordpress.com/tag/minat-minat-belajar/)

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa minat belajar siswa dapat diketahui apabila memiliki beberapa indikator seperti tingkat perhatikan siswa yang meningkat, ketertarikan

terhadap bahan pelajaran, adanya rasa senang dalam proses pembelajaran, mengikuti dengan baik dalam pembelajaran dan

memiliki kemampuan menyelesaikan soal-soal. Selain beberapa hal tersebut, seorang siswa dapat dikatakan meningkat minat

belajarnya apabila memiliki semangat untuk belajar. Yang dimaksud disini adalah gairah semangat untuk belajar maupun untuk mengerjakan soal-soal pelajaran. Mempunyai inisiatir untuk

(13)

D.Ibadah

1. Pengertian Ibadah

Ibadah secara bahasa adalah tunduk atau merendahkan diri. Sedangkan secara istilah ibadah merupakan suatu kekuatan yang dilakukan dan dilaksanakan sesuai perintah-Nya, merendahkan diri kepada Allah Swt dengan kecintaan yang sangat tinggi dan mencakup atas segala apa yang Allah ridhai baik yang berupa ucapan atau perkataan maupun perbuatan yang dhahir ataupun bathin. (Syakir Jamaludin, 2010: 23).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 415) didefinisikan bahwa ibadah adalah suatu perbuatan untuk menyatakan takwa kepada Allah SWT yang didasari ketaatan mengerjakan

perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (Kamus Besar Bahasa Indonesia,2001: 415).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ibadah adalah

manusia kepada Allah Swt karena didorong dan dibangkitkan oleh aqidah tauhid bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT yang

merupakan tujuan hidup manusia dengan mentaati segala perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya yang merupakan wujud ketakwaan manusia kepada Allah SWT.

2. Hakekat Ibadah

Setiap sistem berpikir memerlukan sarana perwujudan yang

(14)

seseorang. Dengan demikian kelompok tersebut dapat selaras dalam hal karakter psikologis, gaya intelektual, dan kemampuan fisik. Hal diatas membuktikan bahwa dunia manusia merupakan dunia yang

tidak dapat memisahkan tubuh, akal, dan spiritualnya. Konsep seperti itulah yang dewasa ini dianut oleh manusia modern.

Dengan kesempurnaan sistem berpikir itu berbagai ibadah dalam Islam lebih merupakan amal saleh dan latihan spiritual yang berakar dan diikat oleh makna yang hakiki dan besrsumber dari fitrah

manusia. Pelaksanaan ibadah merupakan pengaturan hidup seorang muslim, salah satunya yaitu ibadah pelaksanaan shalat. Pelaksanaan

ibadah telah menyatukan umat Islam dalam satu tujuan, yaitu penghambaan kepada Allah SWT semata serta penerimaan berbagai ajaran Allah SWT, baik itu untuk urusan duniawi maupun ukhrawi.

Dalam Al-Qur‟an Allah berfirman:

(15)

Setiap detik, menit, jam, dan hari yang diisi ibadah oleh seorang muslim tiada lain sebagai hubungan yang abadi antara dirinya dengan Allah SWT sekaligus sebagai penjinak nafsu agar senantiasa tunduk

dan patuh kepada Allah SWT. Oleh karena itu seorang muslim bangun pada saat fajar atau tidur setelah isya untuk berdzikir kepada Allah

SWT, hanya memakan makanan halal, menahan diri dari makanan yang dilarang makanannya oleh Allah SWT, mengeluarkan harta yang wajib dikeluarkan, menyalurkan syahwat sesuai dengan jalan Allah

SWT, menahan syahwat yang hina, membahayakan, dan manusia telah dilindungi daripadanya oleh Allah SWT. Memasuki rumah, tidur, dan

kegiatan lainnya selalu disertai doa mengingat Allah SWT atau berdzikir kepada Allah SWT ketika dianugerahi anak (An-Nahlawi,1995 :62-63).

E. Kompetensi Dasar Salat Jumat

1. Pengertian Salat Jumat

Menurut Sulaiman Rasyid (2010: 123), Salat Jumat ialah salat dua rakaat sesudah khotbah pada waktu Dzuhur pada hari Jumat. Hukumnya yaitu fardu „ain, artinya wajib atas setiap laki-laki dewasa

(16)

Perempuan, kanak-kanak, hamba sahaya, dan orang yang sedang dalam perjalanan tidak wajib shalat Jumat.

Firman Allah Swt.:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk

menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”(Al-Jumu‟ah: 9).

1) Syarat-syarat Wajib Jumat :

a) Islam, tidak wajib atas orang non Islam.

b) Balig (dewasa), tidak wajib Jumat atas kanak-kanak. c) Berakal, tidak wajib Jumat atas orang gila.

d) Laki-laki, tidak wajib Jumat atas perempuan.

e) Sehat, tidak wajib Jumat atas orang sakit atau berhalangan.

f) Tetap di dalam negeri, tidak wajib Jumat atas orang yang sedang dalam perjalanan.

(SulaimanRasyid, 2010).

F.Penelitian Terdahulu

Hasil penelitian yang berkaitan dengan penerapan metode

demonstrasi telah banyak dilakukan, antara lain :

1. Penelitian yang dilakukan oleh Andhika Yoga Permana (2012) dengan judul: “Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Narasi Melalui

(17)

Kaliwinasuh”. Hasil dari penelitian ini dapat diketahui bahwa

pembelajaran dengan media film “Lima Elang” dapat meningkatkan

kemampuan menulis narasi pada siswa kelas IV. Hal ini terlihat dari

hasil test akhir pada siklus I mencapai 65,67 dan pada siklus II meningkat menjadi 76,67 sedangkan untuk ketuntasan belajar

mengalami peningkatan dari pada siklus I meningkat menjadi 100% pada siklus II.

Hasil penelitian di atas memiliki perbedaan dengan penelitian ini.

Perbedaannya adalah skripsi di atas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi melalui pemanfaatan media film “Lima Elang”pada kelas IV SD Negeri 01 Kaliwinasuh”, sedangkan

skripsi ini bertujuan untuk mengetahui upaya meningkatkan minat belajar Mata Pelajaran Ibadah Kompetensi Dasar Salat Jumat pada

siswa kelas VII D di SMP Muhammadiyah 3 Purwokerto.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Eka Fitriani dengan judul: “Meningkatkan Keaktifan Peserta Didik Dengan Media Film dan

Model Pembelajaran Make A Match Kelas X.1 Dalam Pembelajaran

Geografi di SMA N 1 Larangan Brebes. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan keaktifan pada setiap siklusnya. Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan media

(18)

6,4%, menyampaikan pendapat 3,2%, mencatat materi 77,4% dan mengerjakan tugas 90,3%, meningkat pada siklus II dengan perolehan sebesar nilai presentase mengajukan pertanyaan 9,7%, mencatat materi

96,8% dan mengerjakan tugas 100%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menggunakan media film dan model pembelajaran

make a match dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran geografi.

Hasil dari penelitian di atas memiliki perbedaan dengan penelitian

ini. Perbedaannya adalah skripsi di atas bertujuan meningkatkan keaktifan peserta didik dengan media film dan model pembelajaran

make a match kelas x.1 dalam pembelajaran geografi di SMA N 1 Larangan Brebes, sedangkan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui upaya dalam meningkatkan minat belajar Mata Pelajaran Ibadah

Kompetensi Dasar Salat Jumat melalui media film pada siswa kelas VII D di SMP Muhammadiyah 3 Purwokerto.

G. Kerangka Berpikir

Penggunaan metode pembelajaran pada mata pelajaran Agama

islam sangat beragam terkhusus pada kelas VIID. Pada mata pelajaran ini meliputi beberapa sub pokok bahasan, salah satu di antaranya adalah ibadah sholat jumat . Proses pembelajaran ibadah sholat jumat dalam

(19)

Tujuan tersebut perlu dilakukan tindakan di kelas dengan memberikan pembelajaran kepada siswa dalam rangkaian kegiatan proses belajar mengajar. Anak sebagai subjek didik merupakan sasaran

yang dikenai dalam usaha meningkatkan ketrampilan ibadah sholat jumat . Guru dalam hal ini sebagai pelaku yang membantu siswa dalam

mengatasi kesulitan dalam ibadah sholat jumat di kelas. Peran guru sangat penting dalam memberikan bimbingan, motivasi dan materi yang dapat memacu subjek didik dalam meningkatkan kemampuan ibadah

sholat jumat dengan media yang diterapkannya yaitu media film.

Media film dipilih sebagai sarana untuk memacu para subjek didik

dalam mengembangkan kemampuannya dalam ibadah sholat jumat dari yang semula ditemukan masih memiliki banyak kelemahan, kemudian ditingkatkan melalui tindakan (action) agar menjadi lebih baik. Beberapa

aspek yang akan ditingkatkan dalam kemampuan ibadah sholat jumat antara lain meliputi: proporsi, komposisi, gelap terang dan kemampuan

tekniknya. Langkah secara sistematis untuk mencapai tujuan tersebut ditempuh dengan penelitian prosedur tindakan kelas yang meliputi

langkah perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi secara siklus terus menerus hingga sampai dihasilkan prestasi yang maksimal. Kurikulum tingkat satuan pendidikan mengisyaratkan pembelajaran bermakna yaiti

(20)

mendorong siswa mengaitkan antar pengetahuan dan penerapanya dalam kehidupan siswa Mulyasa (2009).

Dari alur penalaran diatas, maka dapat digambarkan kerangka

berpikir sebagai berikut:

Gambar Kerangka Berpikir

Siswa terampil, mahir dan cekatan dalam menerapkan ibadah salat jumat, sehingga teknis yang baik dan benar dalam mengekplorasi teknik dapat

mencapai indikator minat belajar 70 % Pembelajaran Ibadah di SMP Muhammadiyah 3 Purwokerto

Metode konvensional dan demonstrasi yang diterapkan guru dalam pembelajaran belum menunjukan peningkatan

Wawasan dan pemahaman siswa tentang ibadah Salat

Jumat

SISWA

Kemampuan ibadah Salat Jumat

(21)

H. Hipotesis Tindakan

Menurut Muhammad Nazir dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian menyatakan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara

terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris (1988: 182). Hipotesis adalah pernyataan yang diterima secara

sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya pada saat fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja serta perpaduan dari verifikasi. Hipotesis merupakan keterangan sementara dari

fenomena-fenomena yang komplek. Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang tingkah laku, gejala-gejala, atau kejadian tertentu yang telah

terjadi atau yang akan terjadi. Suatu hipotesis adalah pernyataan masalah yang spesifik. Karakteristik hipotesis yang baik adalah: dapat diteliti, menunjukkan hubungan antara variable-variabel, dapat diuji,

mengikuti temuan-temuan penelitian terdahulu.

Dengan mengacu pada pengertian di atas maka dalam penelitian

tindakan kelas ini dirumuskan hipotesisnya sebagai berikut:

“Ada peningkatan minat belajar objek peserta didik dalam

kemampuan ibadah sholat jumat melalui penerapan media film pada pokok bahasan mata pelajaran Ibadah kompetensi dasar Salat Jumat di kelas VII D SMP Muhammadiyah 3 Purwokerto tahun pelajaran

Gambar

gambar diam seperti film bingkai suara (sound slide), film
gambar itu hidup. Sama juga dengan film, video yang dapat
Gambar Kerangka Berpikir

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Gambar 2.3 Contoh Puzzle Kakuro Yang Sesuai Aturan Permainan Pengisian jawaban yang ditunjukan pada gambar 2.2 merupakan contoh yang salah karena terdapat dua angka

Dalam film dokumenter dengan issue sosial, film dokumenter yang terbebas dari belenggu narasi dan hanya memperlihatkan visual dari kejadian yang berlangsung, ia akan

1) Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Gambar yang digunakan tentunya merupakan gambar yang relevan dengan materi yang dibahas

Merupakan hubungan antar kelas dan penjelasan detail tiap-tiap kelas di dalam model desain dari suatu sistem, juga memperlihatkan aturan-aturan dan tanggng jawab entitas

Teks ini disusun dengan struktur yang terdiri atas bagian- bagian yang memperlihatkan pernyataan umum (pembukaan), deretan penjelas (isi), dan interpretasi/ penutup. Secara

(3) Gambar fotografi bagaimana pun indahnya tetap tidak memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup... Namun demikian beberapa gambar fotografi seri yang

Contoh: Di dalam film Romeo dan Juliet, ada beberapa karakter dalam film tersebut yang penonton tidak ketahui, misalnya dalam film Romeo Juliet terdapat sepupu

Berikut merupakan contoh stratifikasi pada Gambar 2.6 Gambar 2.6 Contoh stratifikasi Sumber : Besterfield, 2009 2.5.2 Metode Pengendalian Kualitas Berbagai metode mengenai