(Varanus kornodoens~ s) dan habitatnya Namun kemudian kawasan ini di ketahui

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1.1. Latar belakang

Taman Nasional Komodo (TNK) dibentuk pada tahun 1980 dan dinyatakan sebagai sebuah World Heritage Site dan Man nncl Rrosphe~e oleh UNESCO pada tahun 1986 (Pet dan Yeager, 2000a). TNK pada awalnya dibentuk untuk metindungi satwa unik komodo (Varanus kornodoens~ s) dan habitatnya Namun kemudian kawasan ini di ketahui merupakan salah satu kawasan laut yang paling kaya di dunia (Pet dan Yeager, 2000a).

Tujuan TNK adalah melindungi keanekaragaman hayati ( terutama satwa komodo) dan melindungi reproduksi populasi ikan terumbu karang dan invertebrata dalarn kawasan konservasi dari eksplojtasi, sehingga dapat berfbngsi sebagai jaminan bagi sumber perikanan perairan di dalam dan sekitar kawasan (Pet dan Yeager, 2000a) Dalam kontribusi terhadap kesejahteraan penduduk sangat penting untuk melindungi produktivitas biologi Taman Nasional Komodo Karena penduduk akan terus membutuhkan ikan dari terumbu karang dan akses sebagai tempat rekreasi, konservasi hendak memuaskan tujuan tersebut dengan tetap mempertahankan kelestarian sumberdaya dalam jangka panjang Daerah perlindungan laut tergantung pada dukungan dari komunitas lokal untuk kelangsungan sistemnya dan dukungan sernacarn ini tergantung pada pengetahuan tentang kontribusi dari suatu daerah perlindungan taut terhadap kesejahteraan masyarakat (Kelleher, 1999) Daerah perlindungan laut yang berkontribusi terhadap kegiatan ekonomi akan lebih mudah untuk dikelola dibandingkan suatu daerah perlindungan yang hanya menekankan pada pertirnbangan ekologis semata

Selanjutnya menurut Kelleher ( 1 999), daerah perlindungan laut biasanya lebih menekankan pada kebutuhan untuk melindungi habitat yang penting terutama bagi spesies komersial yang rnemiliki nilai tinggi dalam perdagangan, rekreasi atau kekhususan seperti rnempertahankan keanekaragaman spesies yang tangka.

Implementasi dari program konservasi laut sejak tahun 1996 telah memperbaiki kondisi terumbu karang. Berdasarkan survei pemantauan terumbu karang tahun 1996- 1998, penutupan karang hidup cenderung meningkat dari 16% hingga 20%, sedangkan penutupan karang lunak meningkat dari 22% menjadi 24% (Pet, 1999) Sejak tahun 1996 dengan adanya program pentaatan hukum secara efektif, insiden pengeboman ikan

(2)

berkurang hingga 75%. Walaupun implementasi dari program konsewasi laut telah terbukti mengurangi kerusakan karang tetapi eksploitasi yang berlebihan dari sumberdaya hayati masih me~pctkan masalah yang serius (Pet d m Yeager, 2000a).

Walaupun produk perikanan demersal hanya mempakan 5% dari total produksi perikanan dari kawasan Taman Nasional Komodo tetapi memiliki kontribusi ekonomi penting (Mous dan Pet, 1999). Penangkapan ikan demersal memakai peralatan yang beragam seperti kompresor hookah, pancing dasar, bubu, pukat. Pwalatan tersebut d i g m h n untuk penangkapan spesies ikan bernitai ekonomi tinggi seperti lobster dan ikan karang hidup, yang ditangkap terutama dengan perahtan kompresor hookah, sianida, pancing dasar dan bubu, clan memungkinkan penangkapan dalam jumlah besar dalam w a b singkat yaitu dengan pengeboman dan pukat.

Ancaman terhadap perikanan karang terutama pada praktek penangkapan ikan yang destruktif seperti penangkapan ikan den- peledak dan sianida. Penangkapan ini dilakukan pada saat ikan bergerombol pada fokasi tertentu untuk berpijah. Sehingga lokasi agregasi berpijah sangat rentan terhadap nelayan yang mahir mengalokasikan tempat ikan ikan ini k k u m p u t . Menghabiskan ikan di satu lokasi pemijahan sama dengan menghilangkan pemangsa utama dari terumbu h a n g seluas beberapa mil persegi. Menumt Sadovy (1993) ddam Mous et at. (2000), pennasalahan over eksploitasi ikan karang tidak &pat dipecahkan dengan melarang praktek penangkapan ikan dengan sianida saja, tetapi juga kemungkinan dengan jenis alat tangkap lain yang bersifat menguras ketersediaan ikan karang di dam. Sehingga salah satu ancaman utama dalam pengelolaan Taman Nasional Komodo adalah penangkapan ikan dasar terurnbu karang (demersal) yang berlebihan (Pet dan Yeager, 2000a).

Mat tangkap yang secara umum digunakan dan me~pt%kan jenis alat tangkap penting di wilayah ini adalah bagan (I@ net) yang beroperasi malam hari dengan sasaran adalah ikan pelagis yang bukan mempakan ancaman terhdap sumberdaya demersal di Tarnan Nasional Komodo (Abu Bakar, 1996 ; Pet dan Yeager, 2000a). Sehingga jenis alat tangkap ini masih diijinkan digunakan di kawasan ini karena relatip aman bagi terumbu karang dan ikan karang.

(3)

1.2. Pendekatan masalah

Eksploitasi ekosistem darn di perairan TamAn Nasional Komodo telah meningkat dan febih intensif selama beberapa dekade terakhiu. Perekonomian berkembang dan standar hidup di kawasan ini meningkat sejak tahun 1980 (Pet dan Yeager, 2000a). Perkembangan ini diikuti dengan kebutuhan akan uang tunai dan memicu penggunaan praktek penangkapan ikan yang merusak, seperti born dan racun, dan berdampak negatif terhadap kualitas sumberdaya kawasan sebagai pemasok sumber peritcanan daerah

sekitarnya.

Rekomendasi a w d untuk daerah tertutup bagi pemanfaatan dalam kawasan Taman Nasional Komodo berdasarkan program pemantauan yaitu tingginya biodiversitas, kualitas terumbu karang, lokasi pemijahan ikan kerapu yang bernilai ekonomi tinggi dan pola penggunaan sumberdaya (Pet, 1999).

Pengelolaan Tarnan Nasional Komodo berdasarkan pada sistem zonasi sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam no 74/ KptslDj-W1990 yang kemudian diperbarui lagi dengan Surat Keputusan Dirjen PHKA no. 6S/Kpts/Dj-V/2001 tentang zonasi Taman Nasional Komodo. Sistem zonasi hlnggal di Taman Nasional Komodo meliputi baik daratan (reresteal) maupun pesisirllaut, yang meliputi 7 jenis zona yang memiliki peruntukkan yang berbeda. Sistem zonasi ini bertujuan untuk mengurangi konflik antara pemadaatan dan konservasi sumberdaya d a m di Taman Nasional Komodo. Sistem ini memungkinkan penggunaan sumber daya secara tradisional oleh penghuni di kawasan Tarnan Nasional sekaligus melindungi lokasi yang memiliki nilai ekologis penting.

Berdasarkan informasi pendahulnan seperti dalam RRA (Rapid RuraI Appraisals), perkiraan dampak ekologis (Ecological assessment), rnenunjukkan bahwa ancaman ilegal yaitu penangkapan ikan dengan metode destruktif merupakan masalah utama dalam upaya perlindungan habitat tefilmbu karang di Taman Nasional Komodo (Pet, 1998). Dalam rangka pengaturan jenis alat penangkapan ikan di kabupaten Manggarai temasuk di kawasan Taman Nasional Komodo, maka pada tanggal 14 Juni 200 1 telah dikeluarkan Peraturan Daerah Kabupaten Manggarai no. 11 tahun 2001 tentang pemakaian alat tangkap dan alat bantu pengambilan hasii laut daiam wilayah perairan Kabupaten Manggarai .

(4)

Mengetahui pola pengpnaan perikanan karang penting bagi pengelolaan kawasan konservasi iaut karena nelayan di sekitar Taman Nasional menggunakan berbagai macam teknik penangkapan ikan. Beberapa metode dan jenis alat tangkap berpotensi merusak sumberdaya terumbu karang Dengan mengetahui pola penggunaan perikanan karang secara spasial dan temporal dan dipadukan dengan sistern zonasi di Taman Nasional akan dapat diketahui dimana pola penggunaan perikanan karang yang tidak sesuai Tnformasi ini akan membantu mengidentifikasikan kelompok nelayan yang menjadi target dalam program mata pencaharian alternatip dan program penyadaran masyarakat terhadap linghngan

1.3. Tujuan d a n manfaat penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah ;

1 Mengetahui perubahan pola penggunaan perikanan karang di kawasan Taman Nasional Komodo secara temporal menurut jenis alat tangkap yang digunakan dan menurut komunitas nelayan per tahun yaitu tahun 1996-2001

2 Mengetahui perubahan pola spasial perikanan karang menurut jenis alat tangkap dan komunitas nelayan dan interaksi antara upaya kapal non bagan dengan kondisi habitat terumbu karang

3. Melihat kesesuaian antara pola penggunaan perikanan karang dan sistem zonasi dalam Taman Nasional Komodo

4 Konsekuensi dari zonasi tehadap pengelolaan Taman Nasional Komodo

Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat kesesuaian antara pola penggunaan perikanan karang secara temporal dan spasial dengan sistem zonasi yang ada dalam Rencana Pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo seiama 25 tahun dan Surat Keputusan Dirjen PHKA no 65KptsDj-V/2001 tentang zonasi Taman Nasional Kornodo serta konsekuensinya terhadap pengelolaan Taman Nasional.

Manfaat dari penelitian ini adalah menjadi bahan masukkan bagi pengelolaan Taman Nasional Komodo dalam upaya program pengawasan laut dan mata pencaharian alternatip terhadap nelayan yang menggunakan jenis alat tangkap yang mengancam sumberdaya demersal di kawasan Taman Nasional Komodo

(5)

Gambar I . Kerangka berpikir penelitian pola penggunaan perikanan karang di Taman Nasional Komodo secara spasial dan temporal

Kawasan konservasi perairan Taman Nasiond Komodo

u

+

Sumber stok &an karang komersial

a

Oleh Nelayan dari dcm daim k i n karang, termasuk met& kawasan, desa d e b t destruktif dan mengums stok ikan kawasan dan desa di luar

kawasan

I

Analisa dari patroli rutin

r

e

9

+

+

la penggunaan secara Pola penggunaan secara

spasinl ten~ponl

+

+

K e s e s u a i , ~ dengan usulan zonasi di bwasan Taman Nasional Komodo

I

lr

Konsekuensi terhadap pengelolaan Taman Nasiozial Komodo

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :