KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN ... 1
BAB II KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA YANG TERJADI
PADA TAHUN 2007 ... 2
1. Frekuensi dan Jenis Bencana yang Terjadi pada Tahun
2007 ... 2
2. Frekuensi Bencana Berdasarkan Provinsi pada Tahun
2007 ... 2 3. Jumlah Korban Berdasarkan Jenis Bencana Tahun
2007 ... 4
a. Jumlah Korban Meninggal Berdasarkan Jenis
Bencana Tahun 2007 ... 4 b. Jumlah Korban Rawat Inap Berdasarkan Jenis
Bencana Tahun 2007 ... 5 c. Jumlah Korban Rawat Jalan Berdasarkan Jenis
Bencana Tahun 2007 ... 5 d. Jumlah Pengungsi Berdasarkan Jenis Bencana
Tahun 2007 ... 6 e. Jumlah Korban Hilang Berdasarkan Jenis Bencana
Tahun 2007 ... 7
4. Rasio Frekuensi Bencana dengan Jumlah Korban
Tahun 2007 ... 7
a. Rasio Frekuensi Bencana dengan Jumlah Korban
Meninggal pada Tahun 2007 ... 7 b. Rasio Frekuensi Bencana dengan Jumlah Korban
c. Rasio Frekuensi Bencana dengan Jumlah Korban
Rawat Jalan pada Tahun 2007 ... 9
d. Rasio Frekuensi Bencana dengan Jumlah Pengungsi pada Tahun 2007 ... 10
5. Gambaran Umum Bencana yang Terjadi pada Tahun 2007 dan Dampaknya di Bidang Kesehatan ... 11
6. Jenis Bencana yang Sering Terjadi Sepangang Tahun 2007 ... 13
a. Banjir ... 13
b. Tanah Longsor ... 16
c. Banjir dan Tanah Longsor ... 18
d. Angin Puting Beliung ... 21
e. Gempa Bumi ... 23
f. Gelombang Pasang ... 25
g. Peningkatan Status Gunung Api ... 27
h. KLB Keracunan Makanan ... 29
i. Kecelakaan Industri ... 31
7. Kerusakan Fasilitas Kesehatan ... 33
BAB III BENCANA TERBESAR TAHUN 2007 ... 34
1. Banjir di Provinsi DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat ... 34
2. Banjir dan Tanah Longsor di Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 36
3. Gempa Bumi Tektonik di Provinsi Sumatera Barat ... 37
4. Banjir dan Tanah Longsor di Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah ... 38
5. Gempa Bumi Tektonik di Provinsi Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat ... 40
6. Banjir dan Tanah Longsor di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur ... 43
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : BANTUAN YANG DIBERIKAN DEPARTEMEN KESEHATAN R.I. DALAM RANGKA PENANGGULANGAN KRISIS
KESEHATAN AKIBAT BENCANA TAHUN 2007
Lampiran 2 : BANTUAN YANG DIBERIKAN DEPARTEMEN KESEHATAN R.I. DALAM RANGKA PENANGGULANGAN KRISIS
KESEHATAN AKIBAT BENCANA DI PPK REGIONAL DAN SUB REGIONAL TAHUN 2007
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR GRAFIK BAB I PENDAHULUAN ... 1
BAB II KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA YANG TERJADI
PADA TAHUN 2007 ... 2
1. Frekuensi dan Jenis Bencana yang Terjadi pada Tahun
2007 ... 2
2. Frekuensi Bencana Berdasarkan Provinsi pada Tahun
2007 ... 2
3. Jumlah Korban Berdasarkan Jenis Bencana Tahun
2007 ... 4 a. Jumlah Korban Meninggal Berdasarkan Jenis
Bencana Tahun 2007 ... 4 b. Jumlah Korban Rawat Inap Berdasarkan Jenis
Bencana Tahun 2007 ... 5 c. Jumlah Korban Rawat Jalan Berdasarkan Jenis
Bencana Tahun 2007 ... 5 d. Jumlah Pengungsi Berdasarkan Jenis Bencana
Tahun 2007 ... 6 e. Jumlah Korban Hilang Berdasarkan Jenis Bencana
Tahun 2007 ... 7
4. Rasio Frekuensi Bencana dengan Jumlah Korban
Tahun 2007 ... 7
a. Rasio Frekuensi Bencana dengan Jumlah Korban
Meninggal pada Tahun 2007 ... 7 b. Rasio Frekuensi Bencana dengan Jumlah Korban
c. Rasio Frekuensi Bencana dengan Jumlah Korban
Rawat Jalan pada Tahun 2007 ... 9
d. Rasio Frekuensi Bencana dengan Jumlah Pengungsi pada Tahun 2007 ... 10
5. Gambaran Umum Bencana yang Terjadi pada Tahun 2007 dan Dampaknya di Bidang Kesehatan ... 11
6. Jenis Bencana yang Sering Terjadi Sepangang Tahun 2007 ... 13
a. Banjir ... 13
b. Tanah Longsor ... 16
c. Banjir dan Tanah Longsor ... 18
d. Angin Puting Beliung ... 21
e. Gempa Bumi ... 23
f. Gelombang Pasang ... 25
g. Peningkatan Status Gunung Api ... 27
h. KLB Keracunan Makanan ... 29
i. Kecelakaan Industri ... 31
7. Kerusakan Fasilitas Kesehatan ... 33
BAB III BENCANA TERBESAR TAHUN 2007 ... 34
1. Banjir di Provinsi DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat ... 34
2. Banjir dan Tanah Longsor di Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 36
3. Gempa Bumi Tektonik di Provinsi Sumatera Barat ... 37
4. Banjir dan Tanah Longsor di Kabupaten Morowali Provinsi Sulawesi Tengah ... 38
5. Gempa Bumi Tektonik di Provinsi Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat ... 40
6. Banjir dan Tanah Longsor di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur ... 42
BAB IV KESIMPULAN ... 44 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : BANTUAN YANG DIBERIKAN DEPARTEMEN
KESEHATAN R.I. DALAM RANGKA
PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN
AKIBAT BENCANA TAHUN 2007
Lampiran 2 : BANTUAN YANG DIBERIKAN DEPARTEMEN
KESEHATAN R.I. DALAM RANGKA
PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN
AKIBAT BENCANA DI PPK REGIONAL DAN SUB REGIONAL TAHUN 2007
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1 Frekuensi dan jenis bencana yang terjadi pada tahun 2007 ....
Grafik 2 Frekuensi bencana berdasarkan provinsi pada tahun 2007 ...
Grafik 3 Jumlah korban meninggal berdasarkan jenis bencana pada tahun 2007 ...
Grafik 4 Jumlah korban rawat inap berdasarkan jenis bencana pada tahun 2007 ...
Grafik 5 Jumlah korban rawat jalan berdasarkan jenis bencana pada tahun 2007 ...
Grafik 6 Jumlah pengungsi berdasarkan jenis bencana pada tahun 2007 ...
Grafik 7 Jumlah korban hilang berdasarkan jenis bencana pada tahun 2007 ...
Grafik 8 Gambaran umum kejadian bencana pada tahun 2006 dan 2007 ...
Grafik 9 Banjir yang terjadi sepanjang tahun 2007 ...
Grafik 10 Perbandingan banjir pada tahun 2006 dan 2007 ...
Grafik 11 Korban meninggal akibat banjir pada tahun 2007 ...
Grafik 12 Korban rawat inap dan rawat jalan akibat banjir pada tahun 2007 ...
Grafik 13 Pengungsi akibat banjir pada tahun 2007 ...
Grafik 14 Frekunesi banjir berdasarkan provinsi pada tahun 2007 ...
Grafik 15 Tanah longsor yang terjadi pada tahun 2007 ...
Grafik 16 Perbandingan tanah longsor pada tahun 2006 dan 2007 ...
Grafik 17 Korban meninggal akibat tanah longsor pada tahun 2007 ...
Grafik 18 Korban rawat inap dan rawat jalan akibat tanah longsor pada tahun 2007 ...
Grafik 20 Frekuensi tanah longsor berdasarkan provinsi pada tahun 2007 ...
Grafik 21 Banjir disertai tanah longsor yang terjadi pada tahun 2007 ...
Grafik 22 Perbandingan banjir disertai tanah longsor pada tahun 2006 dan 2007 ...
Grafik 23 Korban meninggal akibat banjir disertai tanah longsor pada tahun 2007 ...
Grafik 24 Korban rawat inap dan rawat jalan akibat banjir disertai tanah longsor pada tahun 2007 ...
Grafik 25 Pengungsi akibat banjir dan tanah longsor pada tahun 2007 ... Grafik 26 Frekuensi banjirn disertai tanah longsor berdasarkan provinsi pada tahun 2007 ...
BAB I PENDAHULUAN
Penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di Indonesia merupakan upaya untuk mengatasi masalah kesehatan saat dan pasca bencana yang harus selalu ditingkatkan kualitasnya. Hal ini mengingat angka kejadian bencana di Indonesia yang tinggi serta kerusakan dan jatuhnya korban jiwa yang tentu saja akan menghambat proses pembangunan negara Indonesia sebagai negara berkembang.
Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Penanggulangan Krisis, sepanjang tahun 2007 tercatat 205 kali kejadian bencana yang mengakibatkan krisis kesehatan dan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Jenisnya pun beraneka ragam seperti banjir, tanah longsor, kecelakaan transportasi, angin puting beliung, kecelakaan industri dan konflik sosial. Beberapa di antaranya merupakan bencana besar yang meyebabkan puluhan korban jiwa dan ratusan bahkan ribuan korban luka-luka serta adanya pengungsi, yaitu kejadian banjir di Prov. DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat, banjir dan tanah longsor di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tengah, gempa bumi tektonik Prov. Bengkulu dan Sumatera Barat dan yang cukup menarik perhatian di akhir tahun adalah kejadian banjir yang melanda sejumlah kabupaten/kota di Prov. Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Berbagai kejadian bencana tersebut merupakan pelajaran berharga bagi kita untuk dianalisis baik dari segi trend kejadiannya maupun dampaknya di bidang kesehatan sehingga bisa menjadi bahan untuk meningkatkan upaya kesiapsiagaan di masa mendatang. Sebagaimana kebijakan dan strategi nasional saat ini, upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana lebih dititikberatkan pada upaya sebelum terjadinya bencana. Dengan upaya pencegahan, kesiapsiagaan dan mitigasi yang tepat serta pengembangan sistem informasi yang akurat diharapkan upaya penanggulangan krisis kesehatan saat bencana dapat lebih cepat dan tepat sehingga dapat meminimalkan jumlah korban dan kerusakan.
Laporan ini disusun berdasarkan data-data kejadian bencana yang dikumpulkan oleh Pusat Penanggulangan Krisis selama tahun 2007 serta beberapa informasi hasil penelitian lembaga tertentu mengenai teori kejadian bencana, kondisi iklim dan potensi bencana di Indonesia pada tahun 2007. Tujuannya adalah untuk melihat trend kejadian bencana dan dampaknya di bidang kesehatan serta sebagai pembelajaran dari beberapa kejadian bencana besar pada tahun 2007. Selain itu dinilai pula tingkat kefatalan maupun potensi suatu jenis bencana untuk menimbulkan permasalahan kesehatan serta pola bantuan yang diberikan pada suatu daerah.
Analisis yang dilakukan merupakan analisis deskriptif yang diolah secara sederhana dan ditampilkan dalam bentuk tabel atau grafik dalam memberikan gambaran kejadian bencana di Indonesia beserta dampaknya.
BAB II
KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA YANG TERJADI PADA TAHUN 2007
1. Frekuensi dan Jenis Bencana yang Terjadi pada Tahun 2007
Sepanjang tahun 2007 telah terjadi 205 kali bencana yang mengakibatkan krisis kesehatan di Indonesia dan terdiri dari 15 jenis kejadian bencana. Banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi dengan frekuensi 48,29% dari seluruh kejadian bencana. Jenis kejadian bencana lain yang juga sering terjadi berturut-turut yaitu angin puting beliung (10,73%), banjir yang disertai tanah longsor (9,76%), dan tanah longsor (8,78%). Sebagaimana yang terlihat pada grafik 1.
Grafik 1.
Frekuensi dan jenis bencana yang terjadi pada tahun 2007
1.46% 0.49% 1.95% 6.34% 10.73% 2.93% 9.76% 8.78% 48.29% 0.49% 1.95% 0.98% 0.49% 1.95% 3.41%
Banjir Tanah longsor Banjir dan tanah longsor
Banjir bandang Banjir bandang dan tanah longsor Gempa bumi Status Awas Gn berapi Gelombang pasang Angin puting beliung Kecelakaan transportasi Kecelakaan Industri Ledakan bom
Konflik sosial KLB Angin kencang dan tanah longsor
2. Frekuensi Bencana Berdasarkan Provinsi pada Tahun 2007
Selama periode bulan Januari sampai Desember 2007, bencana terjadi di 28 provinsi dengan frekuensi yang bervariasi. Jawa Timur merupakan provinsi yang paling banyak tertimpa bencana yaitu 31 kali kejadian disusul oleh Jawa Barat 25 kali kejadian kemudian Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan sebanyak 20 kali kejadian bencana. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Grafik 2
Frekuensi Bencana Berdasarkan Provinsi pada Tahun 2007
31 25 20 20 12 12 11 11 7 6 5 5 5 4 4 4 3 3 3 3 3 3 2 2 2 1 1 1 0 0 0 0 0 0 5 10 15 20 25 30 35 Jawa Timur Jawa Barat Jawa Tengah Sulawesi Selatan NAD Sulawesi Tengah Sumatera Barat Sulawesi Utara Sumatera Utara Riau Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Utara DKI Jakarta Banten Nusa Tenggara Timur Jambi DI Yogyakarta Kalimantan Timur Bali Sulawesi Tenggara Maluku Bengkulu Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Barat Sumatera Selatan Lampung Papua Kepulauan Riau Bangka Belitung Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Irian Jaya Barat
3. Jumlah Korban Berdasarkan Jenis Bencana Tahun 2007
a. Jumlah Korban Meninggal Berdasarkan Jenis Bencana Tahun 2007 Angka kematian tertinggi diakibatkan dari kejadian banjir disertai tanah longsor dengan jumlah yang cukup jauh melampaui kejadian lainnya yaitu 265 jiwa. Peringkat kedua dan ketiga yaitu banjir 140 jiwa dan gempa bumi 99 jiwa. Untuk jelasnya dapat dilihat pada grafik 3.
Grafik 3
Jumlah korban meninggal berdasarkan jenis bencana pada tahun 2007
265 140 99 65 46 10 10 4 2 1 0 0 0 0 0 0 50 100 150 200 250 300 Banj ir da n Ta nah Long sor Banj ir Gem pa B um i Kece laka an T rans porta si Tana h Lo ngso r Angi n pu ting beliu ng KLB Leda kan bom Banj ir ba ndan g da n ta nah long sor Gel om bang pas ang Banj ir Ba ndan g Stat us A was Gn bera pi Kece laka an In dust ri Konf lik s osia l Angi n ke ncan g da n ta nah long sor
b. Jumlah Korban Rawat Inap Berdasarkan Jenis Bencana Tahun 2007 Korban rawat inap akibat bencana sepanjang tahun 2007 tertinggi diakibatkan oleh banjir yaitu sebanyak 2.303 jiwa, kedua dan ketiga tertinggi diperoleh dari gempa bumi 468 jiwa dan kecelakaan transportasi 263 jiwa. Selengkapnya dapat dilihat grafik 4.
Grafik 4
Jumlah korban rawat inap berdasarkan jenis bencana pada tahun 2007
2,303 468 263 186 12935 33 18 13 12 8 6 4 1 0 0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 Ban jir Gem pa B um i Ke cel aka an Tra nspo rtas i KL B Ba njir dan Tan ah Lon gso r Ang in p utin g b eliu ng Sta tus Aw as Gn be rapi Ta nah Lon gso r Ke cela kaa n In du stri Kon flik sosi al Ban jir b and ang dan tan ah l on gso r Gel om ba ng p asa ng Le dak an b om Ang in k en can g d an t ana h lo ngso r Ban jir B and ang
c. Jumlah Korban Rawat Jalan Berdasarkan Jenis Bencana Tahun 2007 Jumlah korban rawat jalan akibat bencana dalam tahun 2007 paling tinggi diakibatkan oleh banjir sebanyak 299.414 jiwa, diikuti gempa bumi 36.385 jiwa dan banjir disertai tanah longsor 7.660 jiwa. Selengkapnya lihat grafik 5.
Grafik 5
Jumlah korban rawat jalan berdasarkan jenis bencana pada tahun 2007
299,414 36,385 7,660 6,868 568446 228 187 30 27 22 20 1 1 0 0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 Banj ir Gem pa Bu mi Banj ir da n T anah Lon gsor Stat us A was Gn bera pi Angi n pu ting beliu ng Gel om bang pas ang Kece laka an T rans porta si Tana h Lo ngso r Konf lik s osia l Kece laka an In dust ri KLB Leda kan bom Banj ir ba ndan g da n ta nah long sor Angi n ke ncan g da n ta nah long sor Ban jir Ba ndan g
d. Jumlah pengungsi berdasarkan jenis bencana tahun 2007
Jumlah pengungsi tertinggi pada tahun 2007 diakibatkan oleh bencana banjir sebanyak 610.065 jiwa, sedangkan gempa bumi 139.494 jiwa dan banjir yang disertai tanah longsor 20.237 jiwa. Untuk jelasnya lihat grafik 6.
Grafik 6
Jumlah pengungsi berdasarkan jenis bencana pada tahun 2007
610,065 139,494 20,237 18,908 8,584 5,951 3,545 716 208 0 0 0 0 0 0 0 5 0 ,0 0 0 1 0 0 ,0 0 0 1 5 0 ,0 0 0 2 0 0 ,0 0 0 2 5 0 ,0 0 0 3 0 0 ,0 0 0 3 5 0 ,0 0 0 4 0 0 ,0 0 0 4 5 0 ,0 0 0 5 0 0 ,0 0 0 5 5 0 ,0 0 0 6 0 0 ,0 0 0 6 5 0 ,0 0 0 Banjir Gempa Bumi Banjir dan Tanah Longsor Status Awas Gn berapi Gelombang pasang Tanah Longsor Banjir Bandang Banjir bandang dan tanah longsor Angin puting beliung Kecelakaan Transportasi Kecelakaan Industri Ledakan bom Konflik sosial KLB Angin kencang dan tanah longsor
e. Jumlah korban hilang berdasarkan jenis bencana tahun 2007
Jumlah korban hilang tertinggi pada tahun 2007 diakibatkan oleh kecelakaan transportasi sebanyak 399 jiwa, jauh dibandingkan bencana lainnya yang juga mengakibatkan korban hilang. Untuk jelasnya lihat grafik 7.
Grafik 7
Jumlah korban hilang berdasarkan jenis bencana pada tahun 2007 399 50 50 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 50 100 150 200 250 300 350 400 Ke cela kaan tra nspo rtas i Ban jir Ba njir dan tana h lo ngs or Tan ah long sor Ban jir b and ang Ba njir ba nda ng da n ta nah lon gso r Gem pa b um i Sta tus Aw as G n b era pi Ge lom ban g p asa ng An gin pu ting be liun g Ke cela kaan In dust ri Led aka n b om Ko nflik so sia l KLB Ang in k enca ng da n ta nah lon gso r
4. Rasio Frekuensi Bencana dengan Jumlah Korban pada Tahun 2007
a. Rasio frekuensi bencana dengan jumlah korban meninggal pada tahun 2007
Tabel berikut menunjukkan bahwa kejadian gempa bumi merupakan bencana yang paling fatal pada tahun ini dengan rasio antara frekuensi bencana dan korban jiwa meninggal yaitu 1 : 14,14. Hal ini berarti bahwa dalam rata-rata dalam satu kejadian gempa mengakibatkan 14 korban meninggal. Bencana lain yang cukup fatal dengan mengakibatkan tingginya korban meninggal perkejadiaannya adalah banjir disertai tanah longsor dengan rasio 1 : 13,25.
Tabel 1
Rasio frekuensi bencana
dengan jumlah korban meninggal pada tahun 2007
No Jenis Bencana Frekuensi Jumlah Korban
Meninggal Perbandingan
1 Gempa bumi 7 99 1 : 14,14
2 Banjir dan tanah longsor 20 265 1 :13,25
3 KLB keracunan makanan 3 10 1 : 3,33
4 Kecelakaan transportasi 22 65 1 : 2,95
5 Tanah longsor 18 46 1 : 2,55
6 Banjir bandang dan tanah
longsor 1 2 1 : 2
7 Angin puting beliung 6 10 1 : 1,67
8 Banjir 99 140 1 : 1,41
9 Ledakan bom 4 4 1 : 1
10 Gelombang pasang 4 1 1 : 0,25
11 Konflik sosial 4 0 1 : 0
12 Angin kencang dan tanah
longsor 1 0 1 : 0
13 Banjir bandang 2 0 2 : 0
14 Peningkatan status gunung
api 4 0 4 : 0
15 Kecelakaan industri 13 0 13 : 0
b. Rasio frekuensi bencana dengan jumlah korban rawat inap pada tahun 2007
Berdasarkan perbandingan frekuensi bencana dengan jumlah korban rawat inap pada tahun 2007, terlihat bahwa bencana gempa bumi merupakan bencana paling tinggi mengakibatkan korban rawat inap yaitu 1 : 66,86. Hal ini berarti bahwa rata-rata korban rawat inap dalam satu kejadian gempa adalah 66 - 67 jiwa. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2
Rasio frekuensi bencana
dengan jumlah rawat inap pada tahun 2007
No Jenis Bencana Frekuensi Jumlah
Rawat Inap Perbandingan
1 Gempa Bumi 7 468 1 : 66,86 2 KLB keracunan makanan 3 186 1 : 62 3 Banjir 99 2,303 1 : 23,26 4 Kecelakaan Transportasi 13 263 1 : 20,23 5 Konflik sosial 1 12 1 : 12 6 Peningkatan status gunung api 4 33 1 : 8,25
7 Banjir bandang dan tanah
longsor 1 8 1 : 8
8 Banjir dan Tanah Longsor 20 129 1 : 6,45
9 Kecelakaan Industri 4 13 1 : 3,25
10 Angin puting beliung 22 35 1 : 1,59
11 Tanah Longsor 18 18 1 : 1
12 Gelombang pasang 6 6 1 : 1
13 Ledakan bom 4 4 1 : 1
14 Angin kencang dan tanah
longsor 1 1 1 : 1
15 Banjir Bandang 2 0 2 : 0
c. Rasio frekuensi bencana dengan jumlah korban rawat jalan pada tahun 2007
Pada tabel berikut terlihat bahwa gempa bumi merupakan bencana paling tinggi mengakibatkan korban rawat jalan berdasarkan rasio yaitu 1 : 5197,86. Hal ini berarti bahwa rata-rata korban rawat jalan dalam satu kejadian gempa adalah 5197 jiwa. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3
Rasio frekuensi bencana
dengan jumlah rawat jalan pada tahun 2007
No Jenis Bencana Frekuensi Jumlah
Rawat Jalan Perbandingan
1 Gempa bumi 7 36,385 1 : 5197,86
2 Banjir 99 299,414 1 : 3024,38
3 Peningkatan status
gunung api 4 6,868 1 : 1717
4 Banjir dan tanah longsor 20 7,660 1 : 383
5 Gelombang pasang 6 446 1 : 74,33
6 Konflik sosial 1 30 1 : 30
7 Angin puting beliung 22 568 1 : 25,82
8 Kecelakaan transportasi 13 228 1 : 17,54
9 Tanah longsor 18 187 1 : 10,39
10 KLB keracunan makanan 3 22 1 : 7,33
11 Kecelakaan Industri 4 27 1 : 6,75
12 Ledakan bom 4 20 1 : 5
13 Banjir bandang dan
tanah longsor 1 1 1 : 1
14 Angin kencang dan tanah
longsor 1 1 1 : 1
15 Banjir bandang 2 0 2 : 0
d. Rasio frekuensi bencana dengan jumlah pengungsi pada tahun 2007 Berdasarkan perbandingan frekuensi bencana dengan jumlah pengungsi pada tahun 2007, terlihat bahwa bencana gempa bumi merupakan bencana paling tinggi mengakibatkan pengungsi yaitu 1 : 19.927, 71. Hal ini berarti bahwa rata-rata pengungsi dalam satu kejadian gempa adalah 19.928 jiwa. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4
Rasio frekuensi bencana
dengan jumlah pengungsi pada tahun 2007
No Jenis Bencana Frekuensi Jumlah
Pengungsi Perbandingan 1 Gempa bumi 7 139,494 1 : 19927,71 2 Banjir 99 610,065 1 : 6162,27 3 Peningkatan status gunung api 4 18,908 1 : 4727 4 Banjir bandang 2 3,545 1 : 1772,5 5 Gelombang pasang 6 8,584 1 : 1430,67
6 Banjir dan tanah longsor 20 20,237 1 : 1011,85
7 Banjir bandang dan
tanah longsor 1 716 1 : 716
8 Tanah longsor 18 5,951 1 : 330,61
9 Angin puting beliung 22 208 1 : 9,45
10 Konflik sosial 1 0 1 : 0
11 Angin kencang dan tanah
longsor 1 0 1 : 0
12 KLB keracunan makanan 3 0 3 : 0
13 Kecelakaan industri 4 0 4 : 0
14 Ledakan bom 4 0 4 : 0
15 Kecelakaan transportasi 13 0 13 : 0
5. Gambaran Umum Bencana yang Terjadi pada Tahun 2006 dan Tahun 2007 dan Dampaknya di Bidang Kesehatan
Perbandingan kejadian bencana pada tahun 2006 dan 2007 dapat dilihat pada grafik 8. Kejadian bencana yang dinilai adalah jenis kejadian sama yang pernah terjadi pada tahun 2006 dan 2007.
Grafik 8
Gambaran umum kejadian bencana pada tahun 2006 dan 2007
B a n ji r T a n a h l o n g s o r B a n ji r d a n t a n a h l o n g s o r B a n ji r b a n d a n g G e m p a b u m i G e m p a b u m i d a n t s u n a m i S ta tu s A w a s G n a p i G e lo m b a n g p a s a n g A n g in p u ti n g b e li u n g K e c e la k a a n t ra n s p o rt a s i K e c e la k a a n I n d u s tr i L e d a k a n b o m K o n fl ik s o s ia l K L B 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Bencana 2007 Bencana 2006
Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa secara umum terjadi peningkatan frekuensi dari beberapa jenis kejadian bencana pada tahun 2007 jika dibandingkan dengan tahun 2006.
Hal yang cukup menarik adalah peningkatan tersebut terjadi pada jenis bencana yang disebabkan oleh alam seperti banjir, banjir disertai tanah longsor, gempa bumi, peningkatan status gunung api, angin puting beliung dan gelombang pasang. Sedangkan bencana yang disebabkan oleh ulah manusia cenderung menurun seperti kecelakaan industri, ledakan bom dan konflik sosial.
Perbandingan jumlah korban sebagai dampak dari kejadian bencana tahun 2006 dan 2007, tampak pada tabel 5 dibawah.
Tabel 5.
Jumlah korban akibat bencana pda tahun 2006 dan 2007.
Jumlah korban No Kondisi korban
Tahun 2006 (jiwa) Tahun 2007 (jiwa)
1. Meninggal 7.679 642
2. Rawat inap 30.506 3.479
3. Rawat jalan 260.604 351.857
4. Hilang 712 507
5. Pengungsi 2.485.953 807.708
Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa pada tahun 2006 jumlah korban akibat bencana secara umum lebih tinggi dibanding tahun 2007. Tingginya angka korban meninggal, rawat inap, korban hilang dan pengungsi pada tahun 2006 disebabkan oleh kejadian gempa bumi yang mengguncang DI Yogyakarta dan mengakibatkan 5.778 korban meninggal, 26.480 dirawat inap, dan 2.170.974 jiwa mengungsi.
Sedangkan pada tahun 2007, jumlah rawat jalan lebih tinggi dibanding tahun 2006. Hal ini disebabkan tingginya frekuensi banjir pada tahun 2007 dan meningkatnya aktivitas gunung api. Kedua jenis bencana tersebut mengakibatkan pengungsian dan biasanya berdampak pada tingginya angka rawat jalan yang berobat ke pos-pos kesehatan.
6. Jenis Bencana yang Sering Terjadi Sepanjang Tahun 2007
Terdapat 11 jenis bencana pada tahun 2007 yang mengakibatkan krisis kesehatan dengan jumlah korban yang signifikan, yaitu banjir, tanah longsor, banjir disertai tanah longsor, angin puting beliung, gempa bumi, gelombang pasang, peningkatan aktifitas gunung api, kecelakaan transportasi, kecelakaan industri, KLB keracunan makanan dan ledakan bom.
A. Banjir
Bencana banjir mencapai puncaknya pada penghujung tahun 2007. Bulan Januari hingga April 2007 kejadian banjir cenderung meningkat dan kembali menurun sampai bulan Agustus. Kemudian berfluktuasi, meningkat pada bulan Oktober dan menurun bulan November 2007. Frekuensi bencana banjir pada tahun 2007 lebih sering terjadi disetiap bulannya jika dibandingkan tahun 2006 kecuali pada bulan Januari dan Juni.
Korban meninggal tertinggi pada bulan Februari dan Desember 2007. Bencana ini menimbulkan dampak pasien rawat jalan lebih banyak daripada rawat inap. Provinsi yang paling sering mengalami banjir yaitu Jawa Timur, disusul Jawa Tengah, NAD, Sulawesi Selatan, Jawa Barat dan Sulawesi Tengah. Lengkapnya dapat dilihat pada grafik 9 - 14 di bawah ini.
Grafik 9
Banjir yang terjadi sepanjang tahun 2007
3 40 4 5 8 11 8 4 4 1 11 0 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 10
Perbandingan banjir pada tahun 2006 dan 2007
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Banjir 2006 Banjir 2007
Grafik 11
Korban meninggal akibat banjir pada tahun 2007
0 75 1 1 1 0 48 1 2 0 3 8 0 10 20 30 40 50 60 70 80
Grafik 12
Korban rawat inap dan rawat jalan akibat banjir pada tahun 2007
0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 90,000 100,000 110,000 120,000 130,000 140,000 150,000 160,000 170,000 180,000 190,000 200,000 210,000 220,000 230,000 240,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Rawat jalan Rawat inap
Grafik 13
Pengungsi akibat banjir pada tahun 2007
468,780 107,834 4,264 3,703 0 0 891 4,632 10,217 3,639 100 6,005 0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 140,000 160,000 180,000 200,000 220,000 240,000 260,000 280,000 300,000 320,000 340,000 360,000 380,000 400,000 420,000 440,000 460,000 480,000 500,000
Grafik 14
Frekuensi banjir berdasarkan provinsi pada tahun 2007
22 11 11 10 7 6 4 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 0 5 10 15 20 25 Jawa Timur NAD Jawa Tengah Sulawesi Selatan Jawa Barat Sulawesi Tengah Riau Sumatera Utara Sumatera Barat DKI Jakarta Gorontalo Jambi Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Barat Sumatera Selatan Bengkulu Banten DI Yogyakarta Bali Sulawesi Utara B. Tanah Longsor
Bencana tanah longsor paling tinggi pada bulan Maret setelah cenderung meningkat pada bulan sebelumnya, berfluktuasi pada bulan April hingga November dan meningkat kembali pada bulan Desember 2007. Frekuensi bencana tanah longsor pada tahun 2006 lebih sering terjadi disetiap bulannya jika dibandingkan tahun 2007.
Korban meninggal terbanyak pada bulan Februari 2007 dibanding bulan lainnya, sedangkan angka pasien rawat jalan jauh melebihi rawat inap. Wilayah rawan tanah longsor pada tahun 2007 adalah Provinsi Jawa Barat jika dilihat seringnya tertimpa bencana tersebut. Lihat grafik 15 – 20 dibawah.
Grafik 15
Tanah longsor yang terjadi pada tahun 2007
1 4 5 2 2 0 0 0 1 1 0 2 0 1 2 3 4 5 6
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 16
Perbandingan tanah longsor pada tahun 2006 dan 2007
0 1 2 3 4 5 6 7
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Longsor 2007 Longsor 2006
Grafik 17
Korban meninggal akibat tanah longsor pada tahun 2007
13 18 0 0 0 0 0 3 3 4 2 3 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
Grafik 18
Korban rawat inap dan rawat jalan akibat tanah longsor pada tahun 2007
0 20 40 60 80 100 120 140 160
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Rawat Jalan Rawat Inap
Grafik 19
Pengungsi akibat tanah longsor pada tahun 2007
0 5,623 0 0 0 0 0 0 0 0 128 200 0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 3,500 4,000 4,500 5,000 5,500 6,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 20
Frekuensi tanah longsor berdasarkan provinsi pada tahun 2007
7 3 2 1 1 1 1 1 1 0 1 2 3 4 5 6 7 Jawa Barat Jawa Tengah Sumatera Barat Sumatera Utara Banten Sulawesi Utara Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara
C. Banjir dan Tanah Longsor
Bencana banjir disertai tanah longsor hanya lebih berfluktuasi dan tertinggi frekuensinya pada bulan Juli 2007. Bencana ini lebih sering terjadi pada tahun 2007 jika dibandingkan dengan tahun 2006.
Korban meninggal akibat bencana ini cukup banyak dan paling tinggi pada bulan Juli dan Desember 2007. Sedangkan korban rawat jalan lebih banyak dibandingkan rawat inap. Bencana ini paling sering terjadi di Provinsi Sulawesi Utara diikuti Jawa Tengah. Untuk jelasnya lihat grafik 21 - 26.
Grafik 21
Banjir disertai tanah longsor yang terjadi pada tahun 2007
3 0 3 0 0 0 7 0 0 4 1 2 0 1 2 3 4 5 6 7 8
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 22
Perbandingan banjir disertai tanah longsor pada tahun 2006 dan 2007
0 1 2 3 4 5 6 7 8
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 23
Korban meninggal akibat banjir disertai tanah longsor pada tahun 2007
0 47 0 0 0 99 0 0 0 79 7 33 0 20 40 60 80 100 120
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 24
Korban rawat inap dan rawat jalan akibat banjir disertai tanah longsor pada tahun 2007 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Rawat Jalan Rawat Inap
Grafik 25
Pengungsi akibat banjir disertai tanah lonsor pada tahun 2007
4,195 0 6,087 0 0 0 7,017 0 195 0 0 2,743 0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 3,500 4,000 4,500 5,000 5,500 6,000 6,500 7,000 7,500 Janu ari Febr uari Mar et Apr il Mei Juni Jul Agst Sep t Okt Nov Des
Grafik 26
Frekuensi banjir disertai tanah longsor berdasarkan provinsi pada tahun 2007 0 1 2 3 4 5 Sulawesi Utara Jawa Tengah Sumatera Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Gorontalo Jawa Timur Kalimantan Timur Nusa Tenggara Timur Maluku Utara
D. Angin Puting Beliung
Bencana angin puting beliung adalah salah satu fenomena alam yang sering terjadi pada tahun 2007 dan tertinggi pada bulan Oktober. Bencana ini lebih sering terjadi pada tahun 2007 jika dibandingkan dengan tahun 2006.
Korban meninggal akibat bencana ini relatif kecil dan paling tinggi pada bulan Maret 2007. Korban rawat jalan lebih banyak dibandingkan rawat inap. Bencana ini paling sering terjadi di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur diikuti Bali dan Sulawesi Selatan. Lihat grafik 27 - 31.
Grafik 27
Angin puting beliung yang terjadi pada tahun 2007
0 0 0 7 5 3 1 1 1 2 1 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8
Grafik 28
Perbandingan angin puting beliung pada tahun 2006 dan 2007
0 5 10 15 20 25
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Angin puting beliung 2007 Angin puting beliung 2006
Grafik 29
Korban meninggal akibat angin puting beliung pada tahun 2007
0 0 4 0 2 0 0 0 0 2 1 1 0 1 2 3 4 5
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 30
Korban rawat inap dan rawat jalan akibat angin puting beliung pada tahun 2007 0 50 100 150 200 250 300 350 400
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 31
Frekuensi angin puting beliung berdasarkan provinsi pada tahun 2007
0 1 2 3 4 Jawa Barat Jawa Timur Bali Sulawesi Selatan Sumatera Barat Lampung Banten DI Yogyakarta Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara E. Gempa Bumi
Bencana gempa bumi pada tahun 2007 terjadi 7 kali dan paling tinggi pada bulan September 2007. Frekuensi bencana gempa bumi pada tahun 2007 lebih sering terjadi jika dibandingkan tahun 2006.
Korban meninggal terbanyak pada bulan Maret 2007, sedangkan angka pasien rawat jalan jauh melebihi rawat inap. Wilayah paling sering terkena gempa pada tahun 2007 dan mengakibatkan krisis kesehatan adalah Provinsi Sumatera Barat dan Maluku Utara. Lihat grafik 32 - 37.
Grafik 32
Gempa bumi yang terjadi pada tahun 2007
0 0 0 0 2 0 0 1 1 1 1 1 0 1 2 3
Grafik 33
Perbandingan gempa bumi pada tahun 2006 dan 2007
0 1 2 3
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Gempa bumi 2007 Gempa bumi 2006
Grafik 34
Korban meninggal akibat gempa pada tahun 2007
0 66 0 0 0 0 0 30 0 0 2 1 0 10 20 30 40 50 60 70
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 35
Korban rawat inap dan rawat jalan akibat gempa pada tahun 2007
0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 36
Pengungsi akibat gempa pada tahun 2007
0 0 137,734 0 0 0 0 0 0 0 960 800 0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 90,000 100,000 110,000 120,000 130,000 140,000 150,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 37
Frekuensi gempa berdasarkan provinsi pada tahun 2007
0 1 2 Sumatera Barat Maluku Utara Jambi Bengkulu Jawa Timur Nusa Tenggara Barat Sulawesi Utara
F. Gelombang Pasang
Gelombang pasang terjadi pada bulan Februari, Mei dan Juli 2007, namun tertinggi pada bulan Mei 2007. Tahun 2007 terjadi peningkatan kejadian gelombang pasang dibanding tahun 2006. Korban meninggal, rawat inap dan rawat jalan tertinggi terjadi pada bulan Mei. Ada 5 provinsi yang tertimpa bencana tersebut dan provinsi yang paling sering mengalaminya adalah Provinsi Jawa Barat. Lihat grafik 38 -42.
Grafik 38
Gelombang pasang yang terjadi pada tahun 2007
0 0 1 0 4 0 1 0 0 0 0 0 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 39
Perbandingan gelombang pasang pada tahun 2006 dan 2007
0 1 2 3 4 5
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Gelombang pasang 2007 Gelombang pasang 2006
Grafik 40
Korban meninggal gelombang pasang pada tahun 2007
0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2
Grafik 41
Korban rawat inap dan rawat jalan akibat gelombang pasang pada tahun 2007 0 100 200 300 400 500
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Rawat Jalan Rawat Inap
Grafik 42
Frekuensi gelombang pasang berdasarkan provinsi pada tahun 2007
0 1 2 Jawa Barat NAD Sumatera Barat DKI Jakarta Sulawesi Utara
G. Peningkatan Status Gunung Api
Peningkatan status gunung api pada tahun 2007 terjadi pada bulan Juli, Agustus dan Oktober 2007, namun tertinggi pada bulan Oktober 2007. Tahun 2007 terjadi peningkatan status gunung api dibanding tahun 2006.
Tidak ada korban meninggal akibat bencana ini, sedangkan rawat inap dan rawat jalan tertinggi terjadi pada bulan Oktober 2007. Ada 3 provinsi yang terancam kejadian tersebut, yaitu Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Jawa Timur, sedangkan provinsi yang paling sering mengalaminya adalah Provinsi Sulawesi Utara. Lihat 43 – 47.
Grafik 43
Peningkatan status gunung api yang terjadi pada tahun 2007
0 0 0 0 0 0 1 0 2 0 0 1 0 1 2 3
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 44
Perbandingan peningkatan status gunung api pada tahun 2006 dan 2007
0 1 2 3
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Status awas gunung api 2007 Status awas gunung api 2006
Grafik 45
Korban rawat inap dan rawat jalan akibat peningkatan status gunung api pada tahun 2007 0 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des Rawat Jalan Rawat Inap
Grafik 46
Pengungsi akibat peningkatan status gunung api
0 0 0 0 0 0 9,758 0 8,447 0 0 703 0 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 9,000 10,000 11,000
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 47
Frekuensi peningkatan status gunung api berdasarkan provinsi pada tahun 2007 0 1 2 Sulawesi Utara Jawa Timur Maluku Utara H. KLB Keracunan Makanan
KLB keracunan makanan paling tinggi terjadi pada bulan Juli 2007. Korban meninggal dan rawat inap tertinggi pun terjadi pada bulan tersebut. Provinsi Papua, Jawa Tengah dan Jawa Barat adalah daerah yang terjangkit KLB keracunan makanan pada tahun 2007. Lihat grafik 48 – 52.
Grafik 48
KLB keracunan makanan yang terjadi pada tahun 2007
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2 0 1 2 3
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 49
Perbandingan KLB keracunan makanan pada tahun 2006 dan 2007
0 1 2 3 4
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
KLB 2007 KLB 2006
Grafik 50
Korban meninggal akibat KLB keracunan makanan pada tahun 2007
0 0 0 0 0 0 10 0 0 0 0 0 0 2 4 6 8 10 12
Grafik 51
Korban rawat inap dan rawat jalan akibat KLB keracunan makanan pada tahun 2007 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Rawat Jalan Rawat Inap
Grafik 52
Frekuensi KLB keracunan makanan berdasarkan provinsi pada tahun 2007
0 1
Jawa Barat Jawa Tengah Papua
I. Kecelakaan Industri
Kecelakaan industri pada tahun 2007 terjadi pada bulan Mei, Juni, Juli dan Agustus dengan frekuensi yang sama. Jika dibandingkan dengan tahun 2006, terlihat penurunan frekuensi kejadian yang cukup bermakna.
Tidak korban meninggal akibat bencana ini dan angka rawat jalan lebih tinggi dibandingkan dengan rawat inap. Provinsi yang terkena dampaknya adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Lihat grafik 53 - 56
Grafik 53
Kecelakaan industri yang terjadi pada tahun 2007
0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 1 2
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 54
Perbandingan kecelakaan industri pada tahun 2006 dan 2007
0 1 2 3
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Kecelakaan industri 2007 Kecelakaan industri 2006
Grafik 55
Korban rawat inap dan rawat jalan akibat kecelakaan industri pada tahun 2007 0 2 4 6 8 10 12 14 16
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sept Okt Nov Des
Grafik 56
Frekuensi kecelakaan industri berdasarkan provinsi pada tahun 2007
0 1
DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur
7. Kerusakan Fasilitas Kesehatan
Grafik berikut memperlihatkan bahwa beberapa jenis bencana yang terjadi pada tahun 2007 mengakibatkan kerusakan berbagai fasilitas kesehatan, yaitu gempa bumi, banjir, banjir disertai tanah longsor, gelombang pasang dan angin puting beliung. Bencana gempa bumi paling banyak mengakibatkan kerusakan fasilitas kesehatan dibandingkan dengan bencana lainnya. Fasilitas kesehatan yang paling banyak mengalami kerusakan akibat bencana pada tahun 2007 adalah Pustu.
Grafik 57
Kerusakan fasilitas kesehatan akibat bencana
R S P u s k e s m a s P u s tu P o li n d e s R u m a h D in a s N a k e s G F In s ti tu s i P e n d id ik a n D in k e s B a p e lk e s d a
Angin puting beliung Banjir dan tanah longsor
Gempa bumi 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280
BAB III
BENCANA TERBESAR TAHUN 2007
Sepanjang tahun 2007 terdapat 6 jenis bencana besar yang menimbulkan dampak korban jiwa dan kerusakan yang cukup besar sehingga menarik perhatian seluruh dunia. Bencana tersebut yaitu Banjir yang menimpa Prov. DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat (2 Februari), banjir dan tanah longsor di Prov. Nusa Tenggara Timur (3 Maret), Gempa Bumi Tektonik Prov. Sumatera Barat (6 Maret), Banjir dan Tanah Longsor Prov. Sulawesi Tengah (22 Juli), Gempa Bumi Prov. Bengkulu dan Sumatera Barat (12 September), Banjir dan Tanah Longsor Prov. Jawa Tengah dan Prov. Jawa Timur (25 Desember 2007).
Berikut ini akan dibahas lebih mendalam mengenai 6 kejadian tersebut.
1. Banjir di Prov. DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat
a. Kronologis Kejadian
Hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan ketinggian 1 - 5 meter di beberapa daerah, sbb : Prov. DKI Jakarta (terjadi di Kodya Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Jakarta Selatan). Prov. Banten (Kota Tanggerang dan Kab. Tanggerang) dan Prov. Jawa Barat (Kota Bekasi, Kab. Bekasi, Kab. Bogor, Kota Bogor dan Kota Depok), banjir ini terjadi selama 16 hari (sampai dengan tanggal 17 Februari 2007).
b. Teori Penyebab Kejadian
Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang terjadi pada Jumat, 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata 235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai 235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun dengan probabilitas kejadiannya 20 persen.
Dengan kepadatan penduduk dan area terbangun, Jakarta hanya mempunyai 18,180 hektar Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk menyerap air ke dalam tanah. Akibatnya, setiap musim penghujan air hujan tidak dapat tertampung dan menggenangi sebagian besar daerah Jakarta, serta juga tidak dapat menyimpan cadangan air setiap musim kering.
c. Permasalahan kesehatan
Banjir mengakibatkan korban meninggal dunia sebanyak 124 orang (saat banjir sebanyak 69 orang, pasca banjir sebanyak 55 orang) Korban dirawat inap sebanyak 2.114 orang, rawat jalan sebanyak
209.579 orang dan pengungsi sebanyak 420.440 orang.
Permasalahan kesehatan yang di timbulkan paska banjir seperti Demam Berdarah Dengue dan Gastro Enteritis Acute, serta ditemukan juga kasus Leptospirosis dan Tetanus.
Bencana tersebut juga menyebabkan rusaknya beberapa bangunan rumah dan sarana pelayanan umum termasuk 577 sarana kesehatan dengan rincian 3 Dinkes, 1 RS, 110 Puskesmas, 223 Pustu, 51 Polindes, 29 instansi Diknakes dan 160 rumah dinas.
d. Upaya yang dilakukan
Berbagai upaya telah dilakukan oleh jajaran kesehatan untuk menanggulangi permasalahan kesehatan pasca gempa antara lain melakukan evakuasi korban, mendirikan Pos Kesehatan di tiap tempat pengungsian dan lain-lain.
Upaya yang dilakukan Depkes, antara lain :
Pada tanggal 12 Februari 2007, Depkes mendirikan 8 unit tenda rumah sakit lapangan di RSUD Koja. 7 unit tenda untuk rawat inap yang dilengkapi dengan 250 veltbed, 2 unit genset dan 6 AC standing serta 1 unit tenda untuk rawat jalan. Hingga saat ini rumah sakit lapangan tersebut masih beroperasi.
Mulai Tanggal 14 Februari 2007 sampai dengan tanggal 21 Februari 2007, Depkes memobilisasi sebanyak 877 tenaga kesehatan ke berbagai fasilitas kesehatan yang membutuhkan.
Ditjen PP-PL mengirimkan Tim Surveilans Epidemiologi ke Jakarta Utara untuk investigasi penyakit diare.
Mengirimkan bantuan sebagai berikut :
RSUD Tarakan : 3 bed site monitor, 2 EKG 3 channel, 2 suction pump, 4 syringe pump, 4 infusion pump, 1 baby ventilator dan 1
transport incubator.
RSUD Budhi Asih : 3 unit ventilator dan 5 unit bed site monitor.
RSUD Koja : 3 unit ventilator portable, 5 bedsite monitor, tiang infus 100, IV Catheter No 24 & 22 @ 250 pcs, No.20 sebanyak 200 pcs, No.24 sebanyak 300 pcs, Cairan RL 1000 botol dan infus set 200 pcs.
Menyediakan water purifier sebanyak 3 unit yang mobile setiap 2 jam dengan kapasitas 15.000 liter perjam di Ciledug, Petamburan, Cipinang dll. Mendistribusikan logistik Leptotek (Rapid Test Leptosirosis) ke RSUD Tarakan (200 kit) dan PPK regional DKI Jakarta (500 kit).
Memberikan bantuan 501 buah veltbed di rumah sakit di wilayah PPK Regional DKI Jakarta, 50 veltbed untuk RSUD Tarakan dan 250
veltbed untuk Prov. Jawa Barat.
Memberikan 71 paket dan 110 koli obat siaga banjir, 254 botol cairan RL dan 20 botol cairan NaCl, 2 box Cotrimoxazol, 14 box Vit. B Kompleks , 6 box Aminofilin dan 16 dus oralit, 36 ton MP ASI, 1000 dus mie instan, 1000 nasi kotak, Memobilisasi perahu karet sebanyak 33 unit, Emergency kit, 14 unit tenda. Untuk kelengkapan identitas petugas berupa rompi, topi dan sepatu boot.
Memberikan 800 galon desinfektan ke PPK Regional DKI Jakarta.
Memberikan bantuan alat untuk penyehatan lingkungan dan sanitasi berupa 8.300 set hygiene kit, 34.700 botol PAC, 2.664 botol air rahmat, 25.760 sachet repellent nyamuk, 27.000 buah
polybag/kantong sampah, 23.000 tablet aquatab, 1.200 liter lysol, 10.100 buah masker, 21 liter icon, 30 buah jerigen air minum, 10 buah mist blower, 550 pot kaporit, 2 box abate dan 87 drum kaporit.
2. Banjir dan Tanah Longsor di Kab. Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur
a. Kronologis Kejadian
Pada tanggal 3 Maret 2007 pukul 02.00 WITA, terjadi tanah longsor di 6 kecamatan yaitu Kec. Lambaleda (Desa Goreng Meni, Tengku Leda), Kec. Ruteng (Desa Dimpong, Golo Langkok, Bangka Ajang, Compang Ndari), Kec. Cibal (Desa Riung/Wotok, Gapong, Perak), Kec. Wae Rii (Desa Colo Watu), Kec. Rocaranaka (Desa Compang Wunis, Leong), Kec. Langke Rembong (Desa Wali), serta banjir di Kec. Reo (Desa Daerah Pesisir), Kab. Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur
b. Teori Penyebab Kejadian
Berdasarkan tinjauan fisiografis sebagai faktor statis penyebab tanah longsor di Kabupaten Manggarai merupakan daerah yang didominasi oleh morfologi perbukitan dan pengunungan dengan kondisi relief terjal yang berpotensi menjadikan wilayah tersebut menjadi rawan longsor. Dengan adanya curah hujan dengan intensitas yang relatif tinggi selama beberapa hari di daerah tersebut menyebabkan tanah menjadi jenuh dengan air karena air sudah tidak mampu ter-infiltrasi ke dalam tanah, sehingga hal inilah yang dapat memicu terjadinya longsor.
c. Permasalahan Kesehatan
Bencana tersebut mengakibatkan korban meninggal sebanyak 43 orang. Korban yang menjalani rawat inap di RSUD Ruteng sebanyak 5 orang dan 13 orang di rawat di Puskesmas setempat. Korban hilang sebanyak 26 orang. Penduduk yang mengungsi sebanyak 5.732 jiwa yang tersebar di 6 titik pengungsian, yaitu di Kec. Lambaleda sebanyak 1.663 orang, Kec. Ruteng 655 orang, Kec. Cibal 1.970 orang, Kec. Pocoranaka 1.285 orang, Kec. Sambi Rampas 73 orang dan Kec. Wae Rii 66 orang.
d. Upaya yang dilakukan
Berbagai upaya telah dilakukan oleh jajaran kesehatan untuk menanggulangi permasalahan kesehatan pasca longsor antara lain evakuasi korban, melakukan pelayanan kesehatan, perawatan korban di RSUD Ruteng dan di Puskesmas setempat serta membuat Pos Kesehatan di dekat lokasi bencana.
Dinas Kesehatan Provinsi NTT mengiriman bantuan logistik (makanan, obat-obatan, kantong jenazah, peralatan medis lain) dan memberikan bantuan berupa 1 paket obat-obatan, 2 buah kantong jenazah, 100 buah masker dan 100 pasang sarung tangan evakuasi.
Kantor Kesehatan Pelabuhan Kupang telah memberikan bantuan berupa 1 paket obat-obatan, 50 buah masker dan 10 pasang sepatu boot.
Kantor Kesehatan Pelabuhan Denpasar telah memberikan bantuan berupa 1.000 lembar kantong sampah plastik, 200 set personal hygiene kit, 200 lembar kelambu, 120 botol penjernih air cepat, 45 kg kaporit, 820 botol larutan chlorin desinfektan, 100 buah pot kaporit dan 50 buah jerigen air.
Departemen Kesehatan telah mengirimkan petugas untuk melakukan pemantauan serta membawa 2.000 buah masker, 100 buah kantong jenazah, 50 pasang sarung tangan evakuasi, 1 paket obat-obatan, 4 ton MP-ASI, 50 buah jas hujan, 50 pasang sepatu bot, 200 unit hygiene kit dan 1 unit ambulans emergency untuk Dinkes Prov. NTT.
3. Gempa Bumi Tektonik di Sumatera Barat
a. Kronologis Kejadian
Pada tanggal 6 Maret 2007 pukul 10.49 WIB telah terjadi bencana gempa bumi tektonik 5,8 SR dengan kedalaman 33 km dan pusat gempa berlokasi di 0,55 LS-100,47 BT yaitu 16 km Barat Daya Batusangkar Sumatera Barat. Gempa dirasakan di seluruh wilayah Sumatera Barat terutama di Kab/Kota Solok, Kab. Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kota Bukit Tinggi dan Kota Payakumbuh serta di beberapa provinsi lainnya di Pulau Sumatera.
Gempa susulan terjadi pada tanggal 6 Maret 2006 pukul 12.49 WIB dengan kekuatan 5,8 SR dan kedalaman 23 km. Pusat gempa berada di 0,47 LS-100,49 BT yaitu 11 km Barat Daya Batusangkar Sumatera Barat.
b. Teori Penyebab Kejadian
Gempa bumi tektonik disebabkan oleh perlepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Tenaga yang dihasilkan oleh tekanan antara batuan dikenal sebagai kecacatan tektonik. Teori dari tektonik plate (plat tektonik) menjelaskan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik. Gempa bumi tektonik memang unik. Peta penyebarannya mengikuti pola dan aturan yang khusus dan menyempit, yakni mengikuti pola-pola pertemuan lempeng-lempeng tektonik yang menyusun kerak bumi. Dalam ilmu kebumian (geologi), kerangka teoretis tektonik lempeng merupakan postulat untuk menjelaskan fenomena gempa bumi tektonik yang melanda hampir seluruh kawasan, yang berdekatan dengan batas pertemuan lempeng tektonik.
c. Permasalahan Kesehatan
Bencana ini menyebabkan korban meninggal 66 orang, pasien yang dirawat inap kumulatif sebanyak 341 orang, pasien rawat jalan kumulatif sebanyak 12.317 orang, lima kasus penyakit terbanyak hasil surveilans terhadap 5.422 pasien sebagai berikut : ISPA (43,42%), pnemonia (8,10%), kecelakaan dan ruda paksa (7,69%), penyakit kulit (6,14%) serta diare tanpa dehidrasi (3,63%), pengungsi sebanyak 137.734 jiwa, sarana kesehatan yang rusak sebanyak 174 buah tersebar di 9 kabupaten/kota. Sarana kesehatan tersebut terdiri dari 3 rumah sakit, 40 Puskesmas, 62 Pustu, 21 Polindes, 25 rumah dokter, 18 rumah paramedis, 3 GFK dan 2 Dinkes
d. Upaya yang dilakukan
Berbagai upaya telah dilakukan oleh jajaran kesehatan untuk menanggulangi permasalahan kesehatan pasca gempa antara lain :
Evakuasi korban
Mendirikan Pos Kesehatan di lokasi bencana
Membentuk Posko Bencana 24 jam di Dinkes Prov. Sumbar, membentuk Tim Penanggulangan Bencana untuk pemantauan di lokasi bencana dan mengirimkan bantuan obat-obatan ke RSUD Solok, RSU Prof. Dr. M. A. Hanafiah, RSU Padang Panjang dan RSU Dr. Achmad Mochtar.
Depkes mengirimkan petugas untuk pemantauan dan bantuan berupa 140 buah veltbed, 2 unit tenda komando, 2 unit emergency kit, 11 ton MP-ASI biskuit, 1 ton MP-ASI bubur dan 1 ton obat-obatan.
Bantuan Tim Kesehatan yang dikirim untuk menangani korban gempa berasal dari RSUD Dr. M. Jamil, RSU Pariaman, RSU Dr. Ahmad Muchtar Bukit tinggi. Padang dan Pariaman, Pemda sumatera Selatan, Provinsi Pekanbaru, RSUD Dr. M. Jamil dan Fakultas Kedokteraan Universitas Andalas, IMC, Dinkes Propinsi Sumbar.
4. Banjir dan Tanah Longsor di Sulawesi Tengah
a. Kronologis Kejadian
Pada tanggal 22 Juli 2007 sekitar pukul 19.00 WITA telah terjadi bencana banjir dan tanah longsor di Kecamatan Bungku Utara, Desa Ueruru dan Desa Boba serta bencana banjir di Kecamatan Sohojaya, Kecamatan Mamosalato dan Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali. Jumlah penduduk yang terancam + 30.000 jiwa.
Kejadian tersebut mengakibatkan terisolirnya 16 desa di Kecamatan Bungku Utara dengan jumlah penduduk diperkirakan 16.000 jiwa.
b. Teori Penyebab Kejadian
Ada 4 penyebab utama banjir dan longsor di Kab. Morowali saat ini yaitu: Peningkatan curah hujan akibat ketidakpastian iklim, kesalahan urus pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan indikasi dampak langsung dari tindakan destruktif logging yang telah berlangsung sepanjang tahun dan penyalahgunaan izin terhadap eksploitasi pada kawasan hutan
Penyebab pertama, peningkatan curah hujan diluar kondisi cuaca pada bulan Juli sebelumnya, adalah suatu fenomena dari ketidakpastian iklim sebagaimana apa yang telah menjadi kekhawatiran penduduk dunia saat ini.
Secara khusus, berdasarkan informasi masyarakat, biasanya pada bulan Juli di wilayah Sulawesi Tengah maupun Morowali bukan suatu kelaziman adanya peningkatan curah hujan diatas normal seperti ini, akan tetapi pada 3 tahun terakhir justru telah mengalami kondisi yang sebaliknya. Perubahan cuaca secara ekstrim ini, akibat adanya pergerakan angin disertai awan tebal dari wilayah tenggara Indonesia yang melewati pulau Sulawesi,Kalimantan,dan berputar menuju Sumatera. Hasil pantauan satelit BMG menunjukkan,kecepatan angin mencapai 20 knot perjam hingga berpotensi memunculkan hujan deras serta menngkatkan ketinggian gelombang laut di berbagai wilayah”.
Penyebab kedua, adalah akibat peningkatan deforestrasi hutan. Berdasarkan analisa Walhi Sulteng, Kabupaten Morowali yang dulunya memiliki tutupan hutan yang cukup luas dalam perkembangannya telah mengalami peningkatan deforestrasi yang cukup significant dengan tingkat degradasi hutan rata-rata berkisar sekitar 20.260 hektar pertahun atau sekitar 3,29% dari total luasan hutan Kabupaten Morowali. Fakta tersebut ditunjukkan dengan melihat luasan tutupan hutan Kabupaten Morowali saat ini, yang tersisa dengan total sekitar 1.013.931 hektar, dengan klasifikasi kawasan: Hutan Lindung (HL) 447.170 hektar, Hutan Produksi (HP) 193.649 hektar, Hutan Produksi Terbatas (HPT) 230.567 hektar, Hutan Produksi yang dapat di Konversi 80.294 hektar, dan Hutan Suaka Alam 62.251 hektar. Kondisi kerusakan tutupan hutan terparah
sesunguhnya secara dominan berada didalam kawasan, yang diakibatkan oleh penguasaan kawasan hutan atas nama Hak Guna Usaha perkebunan sawit dengan total luasan 19.509 hektar, pertambangan 71.590,007 hektar, HPH 105.000 hektar dan IPKTM 1.770 hektar.
Selain penguasaan hutan atas nama konsesi, deforestrasi hutan di Morowali juga dipicu oleh tindakan illegal logging yang melibatkan masyarakat setempat yang dibacking oleh para cukong-cukong lokal, belum lagi tindakan para pemiliki IPKTM yang melakukan tebangan diluar areal konsesinya. Secara khusus misalnya di lokasi Banjir saat ini tepatnya di Kec. Petasia teridentifikasi 3 (tiga) perusahaan yang memiliki IPKTM yang mengantongi izin operasi IPKTM masing-masing: CV.Karya Abadi dengan 610 hektar, Koperasi Tani Usaha Bersama dengan luasan 360 hetar, CV Karya Utama Jaya dengan luasan 800 hektar.
Penyebab ketiga, adalah akibat salah urus Daerah Aliran Sungai. Kodisi ini ditunjukkan dengan belum adanya suatu strategi perlakuan dan penanganan pada Daerah Aliran Sungai secara serius yang dilakukan oleh pemerintah daerah; baik propinsi maupun kabupaten. Padahal kondisi sungai di Morowali seperti: Sungai Laa, Sungai Salato, Sungai Bongka dan Sungai Morowali sejauh ini telah mengalami kerusakan baik di hulu maupun di hilir. Hampir rata-rata sungai-sungai tersebut mengalami kerusakan pada sisi kiri-kananya akibat tindakan penebangan kayu, belum lagi diperparah dengan tindakan yang dilakukannya oleh para pemilik-pemilik IPKTM dengan membuat sungai-sungai buatan yang merubah rona lingkungan dan bentangan alam.
Penyebab Keempat, adalah ketimpangan kebijakan pemanfaatan ruang, yang sangat liberal dalam memberikan legalisasi terhadap eksploitasi pada kawasan hutan yang ditunjukkan melalui izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK), Izin Pemanfaatan Kayu (IPK), Izin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IPHHK), Hak Guna Usaha, Izin konversi hutan untuk pertambangan dan lain-lain atas nama kepentingan pembangunan dan pendapatan ekonomi daerah, tanpa mengidahkan pola keseimbangan alam maupun fungsi ruang.
c. Permasalahan Kesehatan
Korban meninggal sebanyak 73 orang, Korban hilang sebanyak 17 orang, Korban luka sebanyak 56 orang, jumlah pasien rawat jalan di Pos Kesehatan sebanyak 2.315. Pengungsi sebanyak 3.511 jiwa
d. Upaya yang dilakukan
Berbagai upaya telah dilakukan oleh jajaran kesehatan untuk menanggulangi permasalahan kesehatan pasca gempa antara lain :
Evakuasi korban
Mendirikan 18 Pos Kesehatan (10 Pos Kesehatan di Kec. Bungku Utara, 5 Pos Kesehatan di Kec. Pettasia dan 3 Pos Kesehatan di Kec. Sohojaya), memberikan pelayanan kesehatan, pasien patah tulang dirujuk ke RSU Kolonodale
Memobilisasi Tim Bantuan Kesehatan ke RSU Kolonodale, yang berasal dari puskesmas Uekuli, Ampana (1 dokter), puskesmas Matako, Ampana (1 dokter), RSU Poso (1 dokter spesialis bedah dan 6 perawat).
Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah mengirim Tim ke lokasi kejadian untuk melakukan pemantauan dan koordinasi serta memberikan bantuan berupa obat-obatan, bahan habis pakai dan Ringer laktat infus 500 kolf, BTKL Makassar mengirimkan bantuan berupa : polybag (5 koli), kaporit (3 drum) dan aquatab (10 kotak), memobilisasi 10 dokter spesialis dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. PPK - Depkes mengirimkan satu orang staf untuk melakukan pemantauan dan koordinasi di lokasi bencana.
5. Gempa Bumi Tektonik di Provinsi Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat
a. Kronologis Kejadian
Pada tanggal 12 September 2007 pukul 18.10 WIB terjadi bencana gempa bumi tektonik 7,9 SR dengan kedalaman 10 km dan pusat gempa berlokasi di 4,6 LS-101,13 BT yang berpusat di 159 km Barat Daya Bengkulu. Gempa dirasakan di beberapa provinsi antara lain Provinsi Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat.
Hingga tanggal 24 September pukul 15.00 WIB telah terjadi + 111 kali gempa susulan dengan pusat gempa bervariasi di Bengkulu, Jambi dan Sumatera Barat dan kekuatannya berkisar antara 4,5 hingga 7,7 SR. Bencana tersebut menyebabkan 5.277 rumah rusak di Prov. Bengkulu
dengan rincian 1.741 rusak berat dan 3.536 rusak ringan.
b. Teori Penyebab Kejadian
Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itu lah gempa bumi akan terjadi. Gempa bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan lempengan tersebut. Gempa bumi yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan translasional. Gempa bumi fokus dalam kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan litosfer yang terjepit kedalam mengalami transisi fase pada kedalaman lebih dari 600 km.
Gempa bumi di Provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat di sebabkan oleh tiga patahan rawan gempa, yakni Patahan Kepahiang, Ketahun dan Siberut.Ketiga patahan masuk dalam Patahan Semangko atau Patahan
Sumatera yang memicu terjadinya gempat bumi di Sumatera Barat berkekuatan 5,8 SR. Mengenai jalur gempa mulai bergeser ke Bengkulu, ia menjelaskan secara teoritis memang seperti itu, mengingat Patahan Semangko memang melewati Bengkulu hingga ke Provinsi Lampung
c. Permasalahan Kesehatan
Korban meninggal dunia sebanyak 30 orang (15 orang berasal dari provinsi Bengkulu dan 15 orang berasal dari provinsi Sumatera barat ). Pasien rawat inap kumulatif sebanyak 78 orang (67 orang dari provinsi Bengkulu dan 11 orang dari provinsi sumatera barat). Pasien rawat jalan kumulatif sebanyak 23.833 orang (22.555 orang dari provinsi Bengkulu dan 1.278 orang dari provinsi sumatera barat).
Sarana kesehatan yang rusak sebanyak 472 buah.
Provinsi Bengkulu sarana kesehatan yang rusak antara lain 3 rumah sakit (RSU M. Yunus di Kota Bengkulu, RS Arga Makmur di Kab. Bengkulu Utara dan RSUD Kepahiyang di Kab. Kepahiyang). 46 Puskesmas, 164 Pustu dan 57 Polindes. 43 rumah dokter dan 93 rumah paramedis, 2 institusi pendidikan kesehatan, 2 Dinkes, 1 Bapelkesda dan 1 Labkesda. Provinsi Sumatera Barat antara lain 2 rumah sakit (RSU M. Jamil dan RS Bunda Medical Center di Kota Padang). 9 Puskesmas, 13 Pustu dan 10 Polindes. 3 kantor Dinkes , 9 rumah dinas dokter, 10 rumah dinas paramedis dan 2 gudang obat Puskesmas.
Provinsi Jambi antara lain 1 rumah sakit yaitu RSUD Mayjen H. A. Thalib di Kab. Kerinci.
d. Upaya yang dilakukan
Berbagai upaya telah dilakukan oleh jajaran kesehatan untuk menanggulangi permasalahan kesehatan pasca gempa antara lain evakuasi korban, melakukan pelayanan kesehatan di sejumlah Mobile Clinic, Poskes, Puskesmas dan Rumah Sakit.
Bantuan tenaga kesehatan dari beberapa instansi di kirim ke Provinsi Bengkulu sebanyak 203 orang dengan rincian 71 tenaga medis, 107 perawat, 4 tenaga RHA dan 21 tenaga lainnya. Tim tersebut bertugas di Kota Bengkulu, Kab. Bengkulu Utara, Kab. Muko-muko dan Kab. Seluma. Bantuan logistik yang dikirim ke Prov. Bengkulu, Sumatera Barat dan Jambi dikirim dari beberapa instansi antara lain : Depkes, PPK Regional Sumatera Selatan, Dinkes Prov. Bengkulu, Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118, RSCM, Timkes Dinkes Kabupaten dan beberapa LSM. BAntuan logistik terdiri dari : 1 ton obat-obatan, alat-alat kesehatan, 100 kantong jenazah, 9 unit tenda, 60 veltbed, 20 ton MP ASI, 1 ton makanan siap saji, 29 ambulans dan 11 mobil operasional lainnya serta 9,1 ton perlengkapan sanitasi dan kesehatan lingkungan dan sebagainya. Tenda bantuan dari Depkes dipergunakan untuk mendirikan tenda pelayanan kesehatan di RSU Argamakmur (Bengkulu Utara) dan RSU M. Jamil (Kota Padang).
6. Banjir dan Tanah Longsor di Jawa Tengah dan Jawa Timur
a. Kronologis Kejadian
Jawa Tengah
Pada tanggal 25 - 30 Desember 2007 terjadi beberapa bencana di 103 kecamatan di 15 Kab/Kota di Provinsi Jawa Tengah yang mengakibatkan 140 rumah rusak berat. Pada tanggal 25-26 Desember 2007 Terjadi bencana banjir di Kab. Grobogan (11 kec.), Kab. Pekalongan (4 kec.), Kab. Sukoharjo (12 kec.), Kab. Pemalang (3 kec.), Kota Surakarta (3 kec.). Kab. Sragen (13 kec.), Kab. Blora (3 kec.), Kab. Demak (3 kec.), Kab. Pati (5 kec.).
Pada tanggal 27 Desember 2007 bencana banjir terjadu di Kab. Cilacap (1 kec.). Pada tanggal 28 Desember 2007 terjadi bencana banjir di Kab.
Kudus (4 kec.).
Bencana banjir dan tanah longsor terjadi pada tanggal 26 Desember 2007 di Kab. Karanganyar (14 kec.) dan Kab. Wonogiri (22 kec.).
Bencana angin ribut dan tanah longsor terjadi pada tanggal 25 Desember 2007 di Kab. Banyumas (3 Kec.).
Bencana tanah longsor terjadi pada tanggal 30 Desember 2007 di Kab. Semarang (1 Kec.).
Jawa Timur
Bencana banjir terjadi di 71 kecamatan dalam 13 Kab/Kota dengan ketinggian air mencapai + 1 - 3 meter dan menyebabkan sebanyak 96 unit rumah rusak total.
Banjir pada tanggal 26 Desember 2007 terjadi di Kab. Ponorogo (10 kec.), Kota Madiun (2 kec.), Kab. Madiun (6 kec.), Kota Malang (1 kec.), Kab. Malang (6 kec.), Kab. Trenggalek (6 kec), Kab. Magetan (4 kec.), Kab. Bojonegoro (15 kec.), Kab. Jember (5 kec.). Kab. Pacitan (3 kec.). Banjir pada tanggal 28 Desember 2007 terjadi di Kab. Tuban (5 kec). Tanggal 29 Desember 2007 terjadi di Kab. Gresik (3 kec.) dan pada tanggal 31 Desember 2007 terjadi di Kab. Lamongan (6 kec.).
Bencana tanah longsor terjadi di Kab. Trenggalek (3 kec.) mengakibatkan sebanyak 2 unit rumah rusak total. Bencana banjir dan tanah longsor terjadi di Kab. Ngawi (10 kec.)
b. Teori Penyebab Kejadian
Kejadian tersebut diakibatkan karena sungai sepanjang 540 kilometer itu dialihfungsikan menjadi ”tempat sampah raksasa”. Ada pembuangan sampah pabrik dan rumah tangga di sungai, selain menyebabkan pendangkalan sungai, tapi juga mengakibatkan tercemarnya lingkungan.
Pepohonan di bibir sungai untuk menahan erosi, dibabat habis tanpa reboisasi yang berarti.
Sementara, kondisi pegunungan yang sangat berguna untuk serapan air, dirusak tanpa memperdulikan efek negatifnya.
Faktanya, kondisi lingkungan Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan dataran tinggi Wonogiri semakin memburuk dengan adanya kerusakan hutan akibat pembalakan liar (illegal logging), pembakaran hutan maupun aktivitas gunung api menyebabkan berkurangnya daerah tangkapan hujan (catchment area). Ekses yang mengkhawatirkan ialah berulangnya banjir bandang melalap Kota Solo dan sekitarnya seperti era 1863, 1912, 1966, dan 2007.
Kerusakan Waduk Gajah Mungkur, selain disebabkan sifat aliran air, juga oleh tingkat erosi yang berlebihan di hulu sungai sebagai akibat ulah manusia. Kemudian, air hujan tidak tertahan di daerah tangkapan hujan, menggerus dan menimbulkan sedimen (lumpur). Sedimen ini meluncur, akhirnya mengendap di waduk dan terjadilah pendangkalan.
Menurut laporan studi ekologi pada Ekspedisi Bengawan Solo, Kompas 2007, ketebalan tanah di sepanjang DAS Bengawan Solo tergolong rendah. Pasalnya, banyak penduduk menanami tanaman singkong, yang padahal itu berdampak pada rendahnya kemampuan tanah dalam memegang hara dan air.
Lebih celakanya, di bantaran sungai didirikan bangunan ilegal. Di sepanjang tanggul sungai, rumah penduduk indah memanjang mengikuti tanggul. Ini seharusnya ditindak oleh pemerintah.
c. Permasalahan Kesehatan
Jawa Tengah
Akibat kejadian tersebut terdapat korban : 87 orang meninggal, 85 orang dirawat inap, 35.225 orang dirawat jalan, 1.321 orang pengungs. Sarana Kesehatan yang rusak/terendam air, terdiri dari 1 Puskesmas, 6 Pustu dan 18 Polindes.
Jawa Timur
Kejadian tersebut mengakibatkan korban meninggal dunia sebanyak 34 orang, Dirawat inap sebanyak 15 orang, dirawat jalan sebanyak 5.099 orang, belum ditemukan sebanyak 47 orang, pengungsian sebanyak 12.062 orang.
Sarana kesehatan yang rusak terdiri dari 1 unit Kantor Dinas Kesehatan, 1 unit gedung GFK, 3 unit Puskesmas, 24 unit Pustu dan 61 unit Polindes