BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

14 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi per Siklus 1. Siklus I

Pada proses pembelajaran Matematika siklus I di SD Negeri 3 Wirosari UPTD Pendidikan Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan dapat peneliti kemukakan dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan sampai refleksi.

a. Perencanaan

Berdasarkan hasil pembelajaran sebelum perbaikan , maka peneliti menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus I yang menitikberatkan pada penggunaan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok. Dari rencana perbaikan pembelajaran siklus I ini, ternyata hasil belajar yang dicapai siswa masih belum mencapai hasil yang maksimal. Agar hasil belajar mencapai kriteria ketuntasan dan kekurangan rencana perbaikan pembelajaran siklus I dapat diatasi, selanjutnya penelitii merencanakan perbaikan pembelajaran siklus II. b. Pelaksanaan

Sebelum perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan, peneliti telah menganalisis hasil belajar yang diperoleh. Dari proses analisis dapat dikemukakan bahwa jumlah nilai 1665. Dengan jumlah siswa sebanyak 30, dapat dihitung rata-rata sebesar 52,03. Tingkat ketuntasan klasikal sebelum perbaikan ini mencapai 23,3 %.Ada 7 siswa yang tuntas. Selanjutnya peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus I pada tanggal 8 November 2011 dengan alokasi waktu 2 x 35 menit (1 x pertemuan) untuk pertemuan pertama,evaluasi tidak peneliti laksanakan pada pertemuan pertama ini karena permasalahan waktu. sedangkan untuk pertemuan ke dua dilaksanakan pada hari rabu tanggal 9 November 2011 dengan alokasi waktu juga sama seperti pertemuan I. Pelaksanaan evaluasi hanya dilaksanakan pada pertemuan ke .Dari proses perbaikan pembelajaran siklus I, jumlah nilai yang diperoleh siswa sebesar 1985, dengan rata-rata sebesar 62,03 dan tingkat ketuntasan klasikal mencapai 53,3 %. Untuk mengetahui lebih jelas hasil sebelum perbaikan dan perolehan hasil siklus I dapat dilihat pada tabel 4.1

(2)

Tabel 4.1

Nilai Rata-rata Kelas dan Ketuntasan Klasikal Pra Siklus dan Setelah Perbaikan Pembelajaran Siklus I

NO STATISTIK PRA SIKLUS HASIL PERBAIKAN

SIKLUS I

1. Jumlah nilai 1665 1985

2. Jumlah siswa 30 30

3. Nilai rata-rata kelas 52,03 62,03

4. Tingkat ketuntasan klasikal 23,3 % 53,3 %

5 Siswa yang tuntas 7 16

Selanjutnya peneliti mengolah data tersebut di atas ke dalam bentuk diagram agar mudah untuk dibaca orang lain, berikut ini peneliti sajikan diagram dari data pada tabel 4.1

Diagram 4.1

Nilai rata – rata Pra Siklus dan Setelah Perbaikan Pembelajaran Siklus I

(3)

Diagram 4.2

Tingkat Ketuntasan Klasikal Pra Siklus dan Setelah Perbaikan Pembelajaran Siklus I

Untuk memperjelas maka peneliti mencoba memaparkan ke dalam diagram tentang siswa yang tuntas sebelum dan setelah pembelajaran siklus I sebagai berikut :

Diagram 4.3

Siswa yang tuntas Pra Siklus Dan sesudah perbaikan Siklus I

(4)

Berdasarkan dari tabel 1, diagram 1 dan diagram 2, dan diagram 3 dapat dilihat bahwa sebelum perbaikan nilai rata-rata kelas hanya 52,03 dengan tingkat ketuntasan klasikal sebesar 23,3 % , dan siswa yang tuntas hanya 7 siswa . Hal tersebut menunjukkan bahwa tarap serap masih rendah. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus I, diperoleh nilai rata-rata kelas 61 dengan tingkat ketuntasan klasikal mencapai 56,3 %, ada kenaikan sekitar 62,03 hal tersebut menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran pada siklus I cukup berhasil karena penerapan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok

Disamping data nilai rata- rata kelas dan tingkat tuntas klasikal pada tabel 4.1 diagram 4.2, berikut ini disajikan daftar rekap nilai hasil belajar pra siklus dan setelah perbaikan pembelajaran siklus pada table 4.2

Tabel 4. 2

Rekapitulasi Nilai Hasil Evaluasi Belajar Pra Siklus Dan Setelah Perbaikan Pembelajaran Siklus I

Banyak Siswa No. Interval Nilai

Pra Siklus Perbaikan Siklus I

1. Nilai < 65 23 14

2. 65 ≤ 7 16

Jumlah 30 30

Tabel 4.2 di atas bila disajikan dalam bentuk diagram batang akan terlihat seperti diagram 4.4 berikut ini :

(5)

Diagram 4.4

Pencapaian Hasil Evaluasi Belajar Setelah Perbaikan Pembelajaran Siklus I

Pada tabel 4.2 dan diagram 4.4 dapat dilihat bahwa banyak siswa yang memperoleh nilai < 65 semakin menurun jumlahnya. Kalau sebelum perbaikn pembelajaran jumlahnya 23 orang, pada perbaikan pembelajaran siklus I menjadi 14 orang. Demikian pula sebaliknya siswa yang memperoleh nilai di atas 65 semakin bertambah, kalau pada sebelum perbaikan pembelajaran jumlahnya hanya 7 orang, setelah perbaikan pembelajaran siklus I menjadi 16 orang. Sebelum diadakan perbaikan pembelajaran belum ada yang memperoleh nilai > 90, demikian pila pada perbaikan pembelajaran siklus I ini, belum ada yang memperoleh nilai 90.

c. Pengamatan

Pada proses perbaikan pembelajaran siklus I guru sudah menggunakan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok baik, akan tetapi guru terlalu mendomonasi pembelajaran dan tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapatnya dalam proses pembelajaran . Sedangkan dari

pengamatan terhadap siswa didapat hasil yaitu siswa sudah terlihat dapat menguasai materi pembelajaran, siswa sudah banyak yang berani mengerjakan soal tanpa

(6)

ditunjuk, interaksi antara siswa dengan guru sudah agak berkembang tapi peran aktif siswa masih sedikit. Proses pembelajaran pada siklus I dapat dikatakn cukup berhasil.

d. Refleksi

Pada pelaksanakan proses pembelajaran siklus I, ada beberapa keberhasilan pembelajaran yang dilakukan guru antara lain, guru sudah menggunakan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok dengan baik dan guru juga menerapkan metode pendukung . Adapun keukurangn yang masih dilakukan guru yaitu, guru belum banyak melibatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Untuk itu, perlu dikembangkan metode yang lebih banyak melibatkan siswa secara aktif.

Namun demikian secara garis besar proses perbaikan pembelajaran siklus I yang memfokuskan pada penggunaan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok sudah dapat meningkatkan hasil belajar siswa, walupun kenaikan presentase ketuntasan siswa masih kecil. Dari hasil perbaikan pembelajaran siklus I dapat dikemukakan bahwa sebelum diadakan perbaikan banyak siswa yang memperoleh nilai tuntas atau nilai ≥ KKM (65) hanya 7 orang dari 30 orang atau tingkat tuntas klasikal hanya mencapai 23,3 % setelah perbaikan pembelajaran siklus I meningkat menjadi 16 orang atau tingkat tuntas klasikal meningkat menjadi 53,3 %. Untuk rata-rata kelas sudah meningkat dari 52,03 menjadi 62,03. peneliti memutuskan untuk dilaksanakan siklus ke 2 agar memperoleh hasil yang masksimal. 2. Siklus II

Dengan berbekal pengalaman pada siklus I maka pada proses perbaikan pembelajaran siklus II ini ada beberapa hasil penelitian yang dapat peneliti kemukakan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan sampai dengan refleksi.

a. Perencanaan

Langkah awal yang peneliti lakukan adalah menyusun Rencana perbaikan pembelajaran siklus I. Pada siklus II ini rencana perbaikan pembelajaran peneliti tekankan pada kemampuan siswa melaksanakan diskusi , rencana perbaikan pembelajaran dapat berhasil dengan baik dan hasil yang dicapai siswa dapat maksimal. Dengan demikian rencana perbaikan pembelajaran siklus II yang telah peneliti susun dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

(7)

b. Pelaksanaan

Kegiatan peneliti adalah menganalisis hasil belajar yang diperoleh. Dari proses analisis dapat dikemukakan bahwa jumlah nilai 1985. Dengan jumlah siswa sebanyak 30, dapat dihitung rata-rata kelas sebesar 62,03. Tingkat ketuntasan klasikal pada perbaikan pemebelajaran siklus I mencapai 53,3 %. Selanjutnya peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II pada tanggal 15 November 2011 untuk pertemuan pertama dengan alokasi waktu 2 x 35 menit (1 x pertemuan), dan pertemuan ke dua pada tanggal 16 November 2011 dengan alokasi waktu sama dengan pertemuan pertama.Untuk efisien waktu maka pelaksanaan evaluasi dilaksanakan pada pertemuan ke 2. Dari proses perbaikan pembelajaran siklus II jumlah nilai yang diperoleh siswa sebesar 2295, dengan rata-rata kelas 71,72 dan tingkat ketuntasan klasikal mencapai 93,3 %. Untuk mengetahui lebih jelas hasill perbaikan siklus I dan hasil perbaikan siklus II dapat dilihat pada tabel 4.3

Tabel 4.3

Nilai Rata-rata Kelas dan Ketuntasan Klasikal Setelah Pembelajaran Siklus I dan Siklus II

No Statistik Perbaikan Siklus I Perbaikan Siklus II 1. Jumlah nilai 1985 2295 2. Jumlah siswa 30 30

3. Nilai rata-rata kelas 62.03 71,72

4. Tingkat ketuntasan klasikal 53,3 % 93,3 %

5 Siswa Yang tuntas 16 28

Untuk lebih jelasnya, berikut ini disajikan diagram batang dari data di atas.Agar semua pihak dapat menikmati dam membaca keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas yang peneliti lakukan. Dibawah iniadalah pemaparannya :

(8)

Diagram 4.5

Nilai Rata-rata Setelah Perbaikan Pembelajaran Siklus I dan Siklus II

Diagram 4.6

Tingkat Ketuntasan Setelah Perbaikan Pembelajaran Siklus I dan Siklus

(9)

Diagram 4.7 Jumlah siswa yang tuntas pada siklus I dan siklus II

Dari tabel 4.3, diagram 4.5 diagram 4. 6 dan 4.7 di atas dapat dikemukakan bahwa, dari perbaikan pembelajaran siklus I diperoleh nilai rata-rata kelas 62,03 dengan tingkat ketuntasan klasikal mencapai 53,3 %. Selanjutnya, setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus II diperoleh nilai rata-rata kelas 71,72 dengan tingkat ketuntasan klasikal mencapai 93,3 %. Ini berarti ada kenaikan tingkat ketuntasan klasikal sebanyak 40 %.

Disamping disajikan data nilai rata-rata kelas dan tingkat ketuntasan klasikal, berikut ini disajikan daftar rekapitulasi nilai hasil evaluasi belajar setelah perbaikan pembelajaran siklus I dan siklus II pada tabel 4.4

(10)

Tabel 4.4

Rekapitulasi Nilai Hasil Belajar Setelah Perbaikan Pembelajaran Siklus I dan Siklus II

Banyak Siswa No. Interval Nilai Perbaikan

Siklus I Perbaikan Siklus II 1. Nilai < 65 14 2 2. 65 ≤ 16 28 Jumlah 30 30

Untuk lebih jelasnya, berikut ini disajikan diagram dari data di atas

Diagram 4.8

Pencapaian Hasil Evaluasi Belajar Setelah Perbaikan Pembelajaran Siklus I dan Siklus II

(11)

Pada tabel 4.4 dan diagram 4.6 di atas dapat dilihat bahwa, banyak siswa yang memperoleh nilai < 65 semakin menurun jumlahnya. Kalau pada perbaikan pembelajaran siklus I jumlahnya 14 siswa, setelah pembelajaran siklus II jumlahnya semakin menurun menjadi 2 siswa. Demikian pula sebaliknya, siswa yang memperoleh nilai 65< semakin bertambah. Kalau pada perbaikan pembelajaran siklus I sebanyak 16 siswa, setelah perbaikan pembelajaran siklus II jumlahnya semakin bertambah menjadi 28 orang. Pada perbaikan pembelajaran siklus I belum ada siswa yang memperoleh nilai ≥ 90, namun setelah perbaikan pembelajaran siklus II ada 4 siswa memperoleh nilai ≥ 90. Walaupun pada perbaikan pembelajaran II ini masih ada siswa yang memperoleh nilai < KKM, ada 2 orang siswa yang masih berada di bawah KKM, namun diputuskan untuk menyudahi penelitian ini karena 2 siswa tersebut memang memiliki kelainan rendah ingatan.

c. Pengamatan

Setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus II, yaitu dengan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok. Guru sudah memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan peran guru sudah tidak terlalu dominan, siswa menjadi lebih senang mengikuti proses pembelajaran, interaksi antara siswa dengan guru sudah berlangsung baik dan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, proses pembelajaran siklus II secara garis besar sudah berhasil.

d. Refleksi

Peneliti melaksanakan proses refleksi setelah selesai dilaksanakan proses perbaikan pembelajaran siklus II, ada beberapa keberhasilan pembelajaran yang dilakukan guru antara lain, guru sudah menggunakan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok dengan baik dan guru sudah memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan peran guru sudah tidak terlalu dominan. Kekurangan yang dilakukan guru yaitu, guru belum dapat menuntaskan belajar seluruh siswa, masih ada 2 siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM. Mereka terlihat pasif dan tidak dapat menyelesaikan soal-soal dengan baik.

Namun walaupun ada beberapa kekurangan, pada proses pembelajaran siklus II ini, hsil belajar yang dicapai siswa meningkat dengan signifikan. Kalau pada perbaikan

(12)

pembelajaran siklus I yang memperoleh nilai tuntas atau 65 baru sebanyak 16 dari 30 siswa atau tingkat tuntas klasikal hanya mencapai 53,3 %, setelah perbaikan pembelajaran siklus II meningkat menjadi 28 orang atau tingkat tuntas klasikal meningkat menjadi 93,3 %. Maka tidak perlu diadakan siklus ke tiga.

4.2 Pembahasan

Pada bagian ini peneliti akan menggambarkankeberhasilan pada perbaikan siklus I I dan siklus II berdasarkan refleksi, penemuan dan pengolahan data tersebut di atas dapat dikatakan bahwa faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan pembelajaran adalah kemampuan guru dalam menyusun dan melaksanakan strategi pembelajaran yang tepat sehingga anak aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu, dalam melaksanakan proses perbaikan pembelajaran peneliti bekerja sama dengan teman sejawat, konsultasi dengan pembimbing dan dengan mengkaji berbagai sumber yang dapat peneliti perbunakan dalam mengambil tindakna perbaikan pembelajaran untuk memecahkan permasalahan yang terjadi.

1. Siklus I

Pada siklus I ini peneliti memfokuskan pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok. hasil belajar siswa dapat meningkat walaupun persentase ketuntasannya masih kecil. Jika sebelum perbaikan pembelajaran tingkat ketuntasan sebesar 21,9 %, setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus I menjadi 56,3 %. Demikian pula dengan nilai rata kelas, kalau sebelum perbaikan pembelajaran nilai rata-rata siswa hanya 48, setelah perbaikan pembelajaran siklus I meningkat menjadi 61.

Adanya kenaikan hasil evaluasi belajar yang dicapai siswa ini karena guru sudah menggunakan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok dengan baik dan guru juga menerapkan metode yang bervariasi, tidak melulu ceramah terus. Selain beberapa tindakan tersebut, penggunaan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok dan dibaqntu peraga manik-manik benar-benar sangat sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Piaget dalam Karim, 1996 : 2 yang mengemukakan bahwa, anak SD berada pada tahap Operasional Kongkret (7-12 tahun). Pada tahap ini, anak mengembangkan konsep dengan menggunakan benda-benda konkrit untuk menyelidiki hubungan model-model abstrak. Anak mulai berpikir logis sebagai akibat adanya kegiatan memanipulasi benda-benda konkrit.

(13)

Oleh karena jumlah siswa yang tuntas baru 16 dari 30 siswa atau peningkatan hasil belajar pada perbaikan pembelajaran siklus I ini belum mencapai ≥ 60 %, karena tingkat ketuntasan baru mencapai 56,3 % maka selanjutnya peneliti mencari alternatif lain untuk lebih meningkatkan hasil belajar siswa terutama siswa yang belum tuntas belajar, yaitu senyak 14 siswa atau 43,7 %.

2. Siklus II

Pada siklus II peneliti memfokuskan pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok dan bimbibgan pada siswa secara kelompok. Dengan menerapkan metode ini, hasil evaluasi belajar siswa dapat meningkat secata maksimal. Jika sebelum pada perbaikan pembelajaran siklus I tingkat ketuntasan mencapai 23,3 %, setelah diadakan perbaikan pembelajaran siklus II menjadi 53,3 %. Demikian pula dengan rata-rata kelas, kalau pada sebelum perbaikan pembelajaran nilai rata-rata siswa hanya 52,03, setelah perbaikan pembelajaran siklus II meningkat menjadi 71,72

Kenaikan tersebut dapat terjadi karena pada proses perbaikan pembelajaran siklus II guru sudah menggunakan metode diskusi pemecahan masalah dalam kelompok dengan baik dan guru sudah memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan peran guru sudah tidak terlalu dominan. Dalam proses perbaikan pembelajaran siklus II dapat dikemukakan bahwa siswa dalam mengikuti pembelajaran juga sudah serius dan tidak banyak bicara sendiri. Selain itu penguasaan materi oleh siswa lebih baik karena mungkin juga faktor perbaikan pembelajaran yang sudah dilakukan dalam dua siklus. Dengan keberhasilan perbaikan pembelajaran siklus II dapat dikatakan bahwa metode pemecahan masalah yang diterapkan guru sangat efektif. Dengan demikian perbaikan pembelajaran dapat selesai pada siklus II.

Oleh karena jumlah siswa yang tuntas dari 30 siswa sudah sebanyak 28 siswa atau tingkat ketuntasan mencapai 93,3 %, sehingga peningkatan hasil belajar siswa pada perbaikan pembelajaran siklus I ini sudah mencapai ≥60 %, maka dari itu perbaikan pembelajaran cukup selesai pada siklus II. Untuk 2 siswa yang belum tuntas, dapat dikemukakan bahwa mereka memiliki tingkat kecerdasan dibawah rata-rata.

(14)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :