FAKTOR YANG MELATAR BELAKANGI BIDAN PRAKTEK MANDIRI TIDAK MENGIKUTI PROGRAM BPJS DI KECAMATAN KEDUNG
KABUPATEN JEPARA TAHUN 2016 Fando Ainur Rifqi *) , Eti Rimawati **)
*) Alumni Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro **) Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro
Email : [email protected] ABSRACT
Background: Obstetric and neonatal care in BPJS program involves a first-level health facilities and midwives practice independently (BPM) as a network. Based on the condition Kedung in the district of Jepara regency Kedung number of midwives in the district were 38 midwives practice independently, of this amount still are 18 midwife who does not cooperate with BPJS health. Goal for Knowing the background factors Midwife Practices Mandiri Not Following BPJS Health Program in the District Kedung Jepara regency in 2016.
Methods: This study used a qualitative approach which intends to explore in-depth information about the background factors midwives practice independently not to participate in the District Kedung BPJS Jepara regency. By using the case study method to 8 BPM that does not follow BPJS, the study subjects were selected purposively and informants crosscheck is BPJS officers, board of the Indonesian Midwives Association (IBI), and the head of the health center.
Results: Results of the study is, to the characteristics of most midwives aged> 40 years, and most educated midwifery D-IV. To the knowledge of the subject of research already understand about BPJS generally and specifically that BPJS as the organizing body JKN and midwives as the executor of obstetric and newborn care. And the cooperation procedure research subjects have a tendency independent midwife who did not follow the program BPJS due to paperwork, the process is long and convoluted claims, and the amount of the payment claim is lacking.
Conclusion: Health BPJS shall ensure ease the process of cooperation with the family doctor. Facilitate the process of cooperation between physicians and midwives through a simple administrative system and
covers all maternity care. Avoiding delays in billing claims that have been reported by the Independent Midwife Practice.
Keywords: Midwife Practice Mandiri, BPJS
ABSTRAK
Latar Belakang : Pelayanan kebidanan dan neonatal pada program BPJS melibatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama dan bidan praktek mandiri (BPM) sebagai jejaringnya. Berdasarkan kondisi di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara jumlah bidan di Kecamatan Kedung sebanyak 38 bidan praktek mandiri, dari jumlah ini masih terdapat 18 bidan yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Tujuan untuk Mengetahui Faktor yang Melatar belakangi Bidan Praktek Mandiri Tidak Mengikuti Program BPJS Kesehatan di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara tahun 2016.
Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bermaksud menggali informasi mendalam mengenai faktor yang melatar belakangi bidan praktek mandiri tidak mengikuti program BPJS di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Dengan metode menggunakan studi kasus kepada 8 Bidan Praktek Mandiri yang tidak mengikuti BPJS, subjek penelitian dipilih secara purposive dan informan crosscheck adalah petugas BPJS, pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI), dan kepala Puskesmas.
Hasil : Hasil penelitian adalah, untuk karakteristik sebagian besar bidan berumur >40 tahun, dan sebagian besar berpendidikan D-IV kebidanan. Untuk pengetahuan subjek penelitian sudah mengerti tentang BPJS secara umum dan khusus yaitu BPJS sebagai badan penyelenggara JKN dan bidan sebagai pelaksana pelayanan kebidanan dan neonatal. Dan prosedur kerjasama subjek penelitian mempunyai kecenderungan bidan praktek mandiri yang tidak mengikuti program BPJS dikarenakan proses administrasi yang berbelit, proses klaim yang lama dan berbelit, dan besaran pembayaran klaim yang kurang.
Kesimpulan : BPJS Kesehatan wajib menjamin kemudahan proses kerjasama dengan dokter keluarga. Memudahkan proses kerjasama antara dokter dengan bidan melalui sistem administrasi yang sederhana dan mencakup semua pelayanan kebidanan. Menghindari keterlambatan klaim tagihan yang telah dilaporkan oleh Bidan Praktek Mandiri.
PENDAHULUAN
Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menurunkan AKI dan AKB adalah membuat berbagai kebijakan untuk perbaikan akses dan kualitas pelayanan kesehatan khususnya pada ibu bersalin dan perawatan bayi baru lahir. Kebijakan untuk menurunkan AKI dan AKB tidak dapat dilakukan dengan intervensi biasa, diperlukan suatu upaya terobosan serta peningkatan kerjasama lintas sektoral untuk mengejar ketertinggalan penurunan AKI dan AKB dalam rangka mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2016. Faktor terpenting yang dapat menurunkan kematian ibu dan bayi baru lahir adalah meningkatkan akses ibu hamil terhadap persalinan yang sehat dengan cara memberikan kemudahan pembiayaan untuk menghilangkan hambatan finansial pada ibu hamil dan keluarga.
Dengan mempertimbangkan tingkat urgensi dari kesehatan, maka Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan kemudahan akses pada fasilitas kesehatan. Di antaranya adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011
tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS). Sejak awal tahun 2014 pemerintah Indonesia secara resmi melaksanakan program JKN. Berlakunya program JKN diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan, maka secara otomatis jaminan kesehatan yang pernah ada seperti Jamkesmas, Jamkesda dan Jampersal masuk ke dalam program JKN.1
Implementasi BPJS masih menimbulkan pertanyaan bagi para bidan, karena Bidan Praktek Mandiri (BPM) tidak dapat bekerjasama langsung dengan BPJS Kesehatan dan harus bergabung menjadi jejaring dulu pada fasilitas kesehatan tingkat I (Puskesmas) atau dokter praktek perseorangan. Sosialisasi tentang BPJS pada BPM tentang bagaimana mekanisme kerjasama, prosedur, sistem pembayaran klaim dan cakupan pelayanan kebidanan dan neonatal yang ditanggung BPJS masih kurang, sehingga Ikatan Bidan Indonesia (IBI) mengharapkan agar BPM dapat bekerjasama langsung dengan BPJS seperti saat program Jampersal dan Jamkesda diberlakukan. Apabila BPM tidak dilibatkan dalam BPJS, maka dapat menghambat upaya pemerintah menekan AKI dan upaya menggalakkan Program Keluarga Berencana.2
Ada beberapa faktor yang menyebabkan bidan yang berjejaring dengan BPJS Kesehatan rendah . Saat Jampersal, semua orang yang hamil dan ingin melahirkan bisa mendapat pembiayaan pemerintah yang dikucurkan lewat Jamkesmas sehingga bidan praktik bisa mudah bekerjasama dengan pemerintah. Saat beralih ke BPJS Kesehatan, terjadi perubahan sistem pembiayaan. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia nomor 28 tahun 2014 tentang pedoman pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pemberi Pelayanan Kesehatan adalah seluruh fasilitas layanan kesehatan primer (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) dan rujukan (Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut) Untuk bermitra dengan BPJS Kesehatan, bidan harus berjejaring terlebih dulu dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang sudah bermitra dengan BPJS Kesehatan. Bidan yang berpraktik mandiri saat ini belum bisa bekerjasama langsung dengan BPJS Kesehatan.3
Penelitian yang dilakukan oleh Mayora,dkk (2012) di Kota Binjai menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan bidan tentang Jampersal serta paket manfaat yang diberikan menyebabkan bidan enggan untuk berpartisipasi dalam program tersebut. Berdasarkan hasil penelitian Rahmah tahun 2013, diketahui bahwa motivasi BPM dalam penandatangan perjanjian kerjasama Jampersal, adalah adanya faktor kebutuhan aktualisasi diri sebagai bentuk pengabdian BPM kepada masyarakat dan kepatuhan terhadap aturan pemerintah, sementara kecenderungan BPM tidak mengikuti Jampersal karena biaya pengganti yang terlalu sedikit dan perasaan tidak nyaman harus mematuhi aturan Jampersal.
Berdasarkan kondisi di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara jumlah bidan di Kecamatan Kedung sebanyak 38 bidan praktek mandiri,
dari jumlah ini masih terdapat 18 bidan yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Berdasarkan pendahuluan di atas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Faktor yang Melatar Belakangi Bidan Praktek Mandiri Tidak Mengikuti Program BPJS Kesehatan di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara tahun 2016”.
METODE
Penelitian ini bersifat kualitatif dengan memberikan gambaran apa adanya tentang faktor yang menyebabkan bidan tidak mengikuti program BPJS Kesehatan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Data yang dihasilkan berupa kata-kata tertulis atau kesan dari orang-orang dan pelaku yang diamati, yang diarahkan pada latar individu secara holistik. Data kualitatif peneliti dapat mengikuti, memahami alur peristiwa secara kronologis dari informan dan memperoleh informasi yang jelas dari informan, sehingga data yang dihasilkan bersifat deskriptif, dan analisa data dilakukan secara induktif 4
HASIL PENELITIAN
1. Faktor Karakteristik
Tabel 1
Karakteristik Subjek Penelitian No Kode Subjek Penelitian Umur (tahun) Lama Membuka Praktek Mandiri (tahun) Pendidikan
Kebidanan
2 Bidan 2 38 tahun 13 tahun DIII
Kebidanan
3 Bidan 3 50 tahun 27 tahun DIV
Kebidanan
4 Bidan 4 42 tahun 15 tahun DIV
Kebidanan
5 Bidan 5 45 tahun 18 tahun DIII
Kebidanan
6 Bidan 6 26 tahun 2 tahun DIII
Kebidanan
7 Bidan 7 28 tahun 4 tahun DIII
Kebidanan
8 Bidan 8 45 tahun 20 tahun DIV
Kebidanan
Sumber: Hasil Wawancara Mendalam dengan subjek penelitian pada Bulan Maret sampai April 2016.
Berdasarkan hasil wawancara mendalam pada Bidan Praktek Mandiri yang tidak
mengikuti program BPJS di Kecamatan Kedung, didapatkan data karakteristik
bahwa subjek penelitian sebagai berikut : Bidan yang berumur dibawah 30 tahun
ada 2 orang, Bidan yang berumur antara 30 sampai 40 tahun ada 1, dan Bidan
yang berumur diatas 40 tahun ada 5 orang. Untuk lama membuka praktek
mandiri yang dibawah 10 tahun ada 2, yang diantara 10 sampai 20 tahun ada 4,
dan yang membuka praktek diatas 20 tahun ada 2 orang Bidan. Dan untuk
tingkat pendidikan yang berpendidikan DIII Kebidanan ada 5 bidan, sedangkan
yang berpendidikan DIV Kebidanan ada 3 Bidan, dan semua subjek penelitian
tinggal dan membuka praktek di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara.
Hasil penelitian disajikan dengan menggunakan narasi atau uraian sesuai dengan fenomena-fenomena yang ditemukan saat wawancara mendalam dengan subjek penelitian.
2. Faktor Pengetahuan
Hasil penelitian mengenai pengetahuan Bidan Praktek Mandiri tentang Program BPJS menunjukkan bahwa sebagian besar informan menyatakan sudah mengetahui pengertian BPJS secara umum. Informan menjawab bahwa BPJS adalah suatu program jaminan kesehatan sosial yang dibentuk pemerintah untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan nasional di Indonesia. BPJS kesehatan juga dibentuk untuk menggantikan Askes yang terlebih dahulu ada di Indonesia, dan juga BPJS ketenaga kerjaan menggantikan Jamsostek.
3. Faktor Prosedur Kerjasama
Hasil penelitian terkait dengan faktor prosedur kerjasama yang berperan dalam keikut sertaan Bidan Praktek Mandiri pada program BPJS terdiri dari proses administrasi, proses klaim, besaran pembayaran klaim dalam cakupan layanan BPJS dalam pelayanan kebidanan, apakah bidan praktek mandiri di wajibkan mengikuti program BPJS, dan adakah sanksi bila bidan praktek mandiri tidak mengikuti program BPJS dapat dilihat pada uraian di bawah ini:
Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar informan mengeluhkan
proses administrasi dalam program BPJS yang diharuskan bidan praktek mandiri melalui jejaring dokter keluarga, klinik pratama, atau Puskesmas. Informan
mengeluhkan proses administrasi yang berbelit. Proses klaim yang rumit dan
lama, karena harus melengkapi persyaratan administrasi sebelumnya ke jejaring
lama dalam pencairan dana klaim yang diberikan oleh pihak BPJS kepada
informan. Adapun sebagian kecil informan yang menjawab bahwa berbelit dan
harus melalui Puskesmas, Klinik Pratama, dan Dokter Keluarga terlebih dahulu. Sebagian besar informan menilai bahwa besaran pembayaran klaim dalam
cakupan layanan BPJS dalam pelayanan kebidanan terlalu rendah dari tarif
biaya normal untuk pelayanan kebidanan. Menurut informan biaya persalinan
normal yang di berikan oleh BPJS sebesar 600rb itu tidak sepadan dengan
resiko yang ditanggung oleh bidan praktek mandiri. Sedangkan untuk biaya
suntik KB dan pemasangan IUD dan implant juga masih dibawah harga biaya
normal pelayanan kebidanan.
PEMBAHASAN
Dalam pembahasan hasil penelitian, untuk dapat memudahkan memahami gambaran faktor yang melatar belakangi bidan praktek mandiri tidak mengikuti program BPJS di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Peneliti membagi pokok pembahasan yang terdiri dari : Faktor Karakteristik, Faktor Pengetahuan, dan Faktor Prosedur Kerjasama.
Dengan membahas satu persatu dari setiap variabel yang disusun menjadi satu dapat dilihat mulai Faktor Karakteristik, Faktor Pengetahuan, dan Faktor Prosedur Kerjasama.
1. Faktor Karakteristik
Faktor karakteristik adalah bidan praktek mandiri yang tidak mengikuti program BPJS di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Adapun data karakteristik subjek penelitian yang didapat dalam penelitian ini adalah data umur, lama membuka praktek mandiri, dan tingkat
pendidikan. Berikut adalah hasil wawancara mendalam yang dilakukan pada 8 subjek penelitian.
Dapat diketahui bahwa sebagian besar subjek penelitian berumur >40 tahun, sebagian kecil berumur 30 - 40 tahun, dan sebagian kecil lagi berumur <30 tahun. Dimana umur termuda adalah 26 tahun dan umur tertua yaitu 50 tahun. Untuk masa kerja ada sebagian kecil lama kerja subjek penelitian membuka praktek mandiri adalah <10 tahun, ada juga sebagian kecil 10 – 20 tahun, dan juga sebagian kecil >20 tahun membuka praktek mandiri. Untuk paling baru membuka praktek mandiri adalah 2 tahun dan untuk paling lama masa kerjanya 27 tahun. Sebagian besar subjek penelitian untuk bidan praktek mandiri berpendidikan DIII kebidanan (Diploma), sedangkan sebagian kecil subjek penelitian berpendidikan DIV kebidanan (Diploma).
2. Faktor Pengetahuan
Sebagian besar informan sudah mengerti dan mampu menjelaskan pengertian tentang BPJS secara umum dan khusus untuk pelayanan kebidanan. Informan mengatakan bahwa BPJS adalah suatu program jaminan kesehatan sosial yang dibentuk pemerintah untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan nasional di Indonesia. BPJS kesehatan juga dibentuk untuk menggantikan Askes yang terlebih dahulu ada di Indonesia, dan juga BPJS ketenaga kerjaan menggantikan Jamsostek.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS merupakan lembaga yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial di Indonesia menurut undang Nomor 40 Tahun 2004 dan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011. Sesuai Undang-Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, BPJS merupakan badan hukum nirlaba. Dan Program BPJS Kesehatan 2014 ini akan mulai berlaku pada tanggal 1 januari 2014.5
3. Faktor Prosedur Kerjasama
Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar informan mengeluhkan
proses administrasi dalam program BPJS yang diharuskan bidan praktek mandiri
melalui jejaring dokter keluarga, klinik pratama, atau Puskesmas. Informan
mengeluhkan proses administrasi yang berbelit.
Mekanisme kerjasama BPM dengan program JKN diatur dalam sistem
jejaring, dimana seorang bidan dapat bekerjasama dengan BPJS Kesehatan
selaku penyelenggara JKN melalui dokter keluarga. Dokter keluarga akan bekerjasama dengan BPM dalam hal pelayanan kebidanan dan neonatal, namun
pada kenyataannya dokter sering mengambil alih tugas tersebut.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan bidan yang berjejaring dengan BPJS Kesehatan kurang. Saat Jampersal, semua orang yang hamil dan ingin melahirkan bisa mendapat pembiayaan pemerintah yang dikucurkan lewat Jamkesmas sehingga bidan praktik bisa mudah bekerjasama dengan pemerintah. Saat beralih ke BPJS Kesehatan, terjadi perubahan sistem pembiayaan. Untuk bermitra dengan BPJS Kesehatan, bidan harus berjejaring terlebih dulu dengan fasilitas
kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang sudah bermitra dengan BPJS Kesehatan. Bidan yang berpraktik mandiri saat ini belum bisa bekerjasama langsung dengan BPJS Kesehatan.3
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua informan mengeluhkan proses
klaim yang rumit dan lama, karena harus melengkapi persyaratan administrasi
sebelumnya ke jejaring kerjasama terlebih dahulu sebelum ke BPJS. Informan
juga mengeluhkan terlalu lama dalam pencairan dana klaim yang diberikan oleh
pihak BPJS kepada informan.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa :
1.Faktor Karakteristik
Karakteristik informan, sebagian besar subjek penelitian berumur >40 tahun, sebagian kecil berumur 30 - 40 tahun, dan sebagian kecil lagi berumur <30 tahun. Dimana umur termuda adalah 26 tahun dan umur tertua yaitu 50 tahun. Untuk masa kerja ada sebagian kecil lama kerja subjek penelitian membuka praktek mandiri adalah <10 tahun, ada juga sebagian kecil 10 – 20 tahun, dan juga sebagian kecil >20 tahun membuka praktek mandiri. Untuk paling baru membuka praktek mandiri adalah 2 tahun dan untuk paling lama masa kerjanya 27 tahun. Sebagian besar subjek penelitian untuk bidan praktek mandiri berpendidikan DIII kebidanan (Diploma), sedangkan sebagian kecil subjek penelitian berpendidikan DIV kebidanan (Diploma).
Pengetahuan informan tentang pengertian, tujuan, manfaat, peran bidan,dan cakupan pelayanan kebidanan yang dicakup BPJS secara umum dan khusus sudah tergolong cukup mengetahui BPJS. BPJS adalah suatu program jaminan kesehatan sosial yang dibentuk pemerintah untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan nasional di Indonesia. BPJS kesehatan juga dibentuk untuk menggantikan Askes yang terlebih dahulu ada di Indonesia, dan juga BPJS ketenaga kerjaan menggantikan Jamsostek, dan khususnya untuk pelayanan kebidanan dan neonatal. Tujuan dari BPJS adalah menurunkan AKI dan AKB yang masih tinggi. Manfaat dari BPJS adalah mendapatkan pelayanan kebidanan dan neonatal secara gratis dan terjamin. Peran bidan adalah sebagai penyedia pelayanan kebidanan dan neonatal. Cakupan pelayanan BPJS pada pelayanan kebidanan adalah semua pelayanan kebidanan dan neonatal.
3.Faktor Prosedur Kerjasama
Menurut informan prosedur kerjasama dengan BPJS mempunyai kecenderungan bidan praktek mandiri yang tidak mengikuti program BPJS dikarenakan proses administrasi yang berbelit, proses klaim yang lama dan berbelit, dan besaran pembayaran klaim yang kurang.
Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka peneliti menyarankan :
a. Petugas BPJS Kesehatan agar melakukan sosialisasi langsung kepada semua BPM tentang proses kerjasama dengan FKTP.
b. Memudahkan proses kerjasama antara dokter dengan bidan dengan sistem administrasi yang sederhana dan mencakup semua pelayanan
kebidanan.
c. Menghindari keterlambatan dalam memberikan klaim tagihan yang telah dilaporkan oleh BPM.
d. Untuk tarif pelayanan kebidanan dan neonatal sebaiknya BPJS kesehatan melakukan perhitungan ulang besaran tarif kapitasi, sehingga BPM tertarik mengikuti program BPJS.
2. Saran untuk puskesmas
a. Puskesmas seharusnya melakukan sosialisasi tentang BPJS kepada semua bidan, supaya bidan mengikuti program BPJS.
b. Puskesmas diharap memberikan penghargaan kepada bidan yang mau ikut program BPJS, untuk memotivasi untuk mengikuti progam BPJS
Contoh : penghargaan berupa foto bidan yang mau ikut BPJS di pasang di dinding Puskesmas.
3. Saran untuk IBI
a. Bagi Organisasi IBI agar selalu memberikan dukungan kepada anggotanya untuk bekerjasama dengan JKN, sehingga dapat membantu pemerintah dalam menurunkan AKI dan AKB.
b. Mengundang petugas BPJS Kesehatan untuk memberikan sosialisasi secara langsung tentang program JKN, khususnya pelayanan kebidanan
dan neonatal.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kementerian Kesehatan RI, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 40 tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat
2. Ikatan Bidan Indonesia. 2014. Surat Edaran Nomor 117/SE/PPIBI/II/2014 tentang pelayanan Kebidanan di Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
3. Kemenkes RI. 2013. Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Sistem Jaminan Sosial Nasional.
Jakarta. Kemenkes RI. 2013. Bahan Paparan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional. Jakarta.
4. Sugiyono, 2008. Memahami penelitian kualitatif, Bandung : PT alfabeta.
5. BPJS Kesehatan, 2014. Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan. Jakarta: BPJS