RISET HARIAN RISET HARIANRISET HARIAN RISET HARIAN
RISET HARIAN Jumat, 05 Agustus 2011Jumat, 05 Agustus 2011Jumat, 05 Agustus 2011Jumat, 05 Agustus 2011Jumat, 05 Agustus 2011 HIGHLIGHT
HIGHLIGHTHIGHLIGHT HIGHLIGHT
HIGHLIGHT BEI STATISTICBEI STATISTICBEI STATISTICBEI STATISTICBEI STATISTIC
TOP GAINERS/LOSERS, VOLUME/VALUE TOP GAINERS/LOSERS, VOLUME/VALUE TOP GAINERS/LOSERS, VOLUME/VALUE TOP GAINERS/LOSERS, VOLUME/VALUE TOP GAINERS/LOSERS, VOLUME/VALUE
GLOBAL MARKET GLOBAL MARKET GLOBAL MARKET GLOBAL MARKET GLOBAL MARKET COMMODITIES COMMODITIES COMMODITIES COMMODITIES COMMODITIES
DUAL LISTED STOCK DUAL LISTED STOCK DUAL LISTED STOCK DUAL LISTED STOCK DUAL LISTED STOCK
EXCHANGE MARKET EXCHANGE MARKET EXCHANGE MARKET EXCHANGE MARKET EXCHANGE MARKET GRAFIK IHSG
GRAFIK IHSGGRAFIK IHSG GRAFIK IHSG GRAFIK IHSG
MARKET PREVIEW MARKET PREVIEWMARKET PREVIEW MARKET PREVIEW MARKET PREVIEW
Pasar saham global tadi malam kembali dilanda aksi panic selling investor menyusul kekhawatiran terjadinya krisis ekonomi di AS dan Eropa semakin kuat. Indeks Dow Jones tadi malam turun hingga 512 poin atau 4,31% di posisi 1383,68. Ini merupakan penurunan harian terburuk sejak Desember 2008. Indeks FTSE London juga turun hingga 3,43% dan DAX Jerman 3,4%. Ini mengindikasikan pelaku pasar global menghindari aset beresiko menyusul memburuknya data-data ekonomi AS dan krisis utang di Eropa yang butuh waktu penyelesaiannya. Di pasar komoditas, harga minyak mentah telah turun 7,6% di level USD86,63/barrel. Anjloknya pasar saham dan sejumlah harga komoditas energi dan tambang logam akan berpengaruh buruk bagi perdagangan saham hari ini. Kemarin IHSG ditutup turun 14 poin di level 4122,086. Pasar saham Indonesia relatif lebih defensif dalam sepekan terakhir. Namun aksi jual investor asing perlu diwaspadai karena ke depannya akan berdampak buruk bagi pergerakan indeks. Kemarin asing kembali mencatatkan nilai penjualan bersih Rp.565 miliar. Dalam dua hari perdagangan terakhir asing telah melakukan penjualan bersih Rp.1,1 triliun. Investor ritel disarankan melakukan pola trading menyikapi tren pasar yang berbalik arah ke bearish, meskipun masih bersifat minor. Memelihara posisi cash yang sehat sangat dianjurkan dengan mengurangi portofolio yang ada. Hari ini kami perkirakan pada pembukaan pagi akan terjadi aksi jual yang massif melihat indeks utama bursa Asia pagi ini juga dibuka turun di atas 4% seperti indeks Nikkei Jepang. Namun beberapa saham yang kuat dari sisi laba dengan mengandalkan penjualan pada pasar domestik bisa dilakukan pembelian pada level support
kuatnya, seperti ASII, UNVR, GGRM, INDF, dan TLKM. Untuk investor memiliki horizone investasi yang lebih panjang, kondisi panic selling bisa dimanfaatkan mengakumulasi saham-saham unggulan pada harga yang relatif murah mengingat kondisi fundamental emiten-emiten tersebut yang tetap kuat. Secara technical setelah terbentuk pola candle reversalbearish harami tiga hari yang lalu, IHSG tidak pernah membuat white candle, bahkan terbentuk pola seperti three black crows.
Meskipun indeks masih berada di atas seluruh MA, tapi pola
candle diatas mengindikasikan trend sudah berubah menjadi
bearish. IHSG hari ini diperkirakan akan bergerak pada rentang yang lebar dengan support indeks akan bergeser ke posisi 4000 dan resisten akan 4130
IHSG 4000-4130
- Utang AS tembus 100% dari PDB. - Laba SCMA naik 81,82%.
BERITA TERKINI BERITA TERKINI BERITA TERKINI BERITA TERKINI BERITA TERKINI
Utang AS Capai US$ 14,5 Triliun, Tembus 100% PDB. Amerika Serikat (AS) kembali mencatat rekor utang, kini bisa dimasukkan dalam kategori negara-negara dengan utang tinggi atau highly indebted countries senasib dengan Italia dan Belgia. Rekor utang AS dicetak setelah AS menambah utangnya US$ 238 miliar hingga total menjadi US$ 14,58 triliun atau hampir 100% PDB AS di tahun 2010 sebesar US$ 14,53 triliun. Jumlah utang AS tersebut juga berarti meningkat dibandingkan batasan utang AS tahun lalu yang sebesar US$ 14,29 triliun. Lembaga-lembaga pemeringkat telah memperingkatkan Amerika untuk mengurangi rasio utang AS terhadap PDB dengan cepat atau kehilangan peringkat AAA yang sudah disandang negara terebut dalam beberapa tahun terakhir., Moody's mengatakan, pemerintah AS perlu untuk melakukan stabilisasi rasio utangnya menjadi 73% pada tahun 2015 untuk memastikan kondisi fiskalnya masih sesuai dengan peringkat AAA. Sebagai perbandingan, untuk rasio utang terhadap PDB Indone-sia masih jauh dibandingkan AS. Berdasarkan data kementerian keuangan, utang pemerintah Indonesia hingga Juni 2011 mencapai Rp 1.723,9 triliun atau 26% dari PDB. Porsi rasio utang Indonesia terhadap PDB tertinggi pada tahun 2000 sebesar 89%, dengan besaran utang sebesar Rp 1.234,28 triliun. (Detikcom)
Konsorsium Bank Mandiri Genjot Dana US$ 1 Miliar Proyek Smelter Antam. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menetapkan konsorsium PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebagai financial arranger untuk proyek smelter nikel US$ 1,6 miliar di Halmahera, Maluku Utara. Konsorsium itu bertugas menggenjot dana US$ 1 miliar dalam proyek tersebut. Konsorsium yang dipimpin Bank Mandiri itu beranggotakan PT Mandiri Sekuritas, Goldman Sachs, Deutsche Bank, Sumitomo Mitsui Bank-ing, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dan Standard Chartered. Konsorsium itu bertugas untuk mencari dana bagi proyek yang bernilai US$ 1,6 miliar tersebut. Cara pencarian dananya, bisa melalui pinjaman perbankan maupun penerbitan obligasi. (Detikcom)
BCA Berikan Pinjaman ke HD Finance Rp200 M. PT HD Finance Tbk (HDFA) menandatangani perjanjian penambahan fasilitas pinjaman dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp200 miliar. Adapun jangka waktu pinjaman tersebut adalah maksimal selama tiga tahun. Fasilitas ini dijaminkan dengan piutang sampai dengan sebesar 100 persen dari fasilitas pinjaman yang diberikan. Sekedar informasi, fasilitas pinjaman ini merupakan fasilitas installment loan yang kelima yang diberikan oleh BBCA. (Okezone)
Laba Plaza Indonesia Tumbuh 38%. PT Plaza Indo-nesia Realty Tbk (PLIN) membukukan laba tahun berjalan (unaudit) hingga semester I-2011 mencapai Rp97,849 miliar atau naik 38,30 persen dari periode sama tahun sebelumnya yang hanya Rp70,50 miliar. Laba periode berjalan tersebut disokong oleh peningkatan pendapatan hingga semester I-2011 yang meningkat sebesar 10,45 persen yaitu sebesar Rp435,710 miliar dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp394,485 miliar. Peningkatan ini diikuti oleh naiknya laba kotor hingga 12,731 persen di semester I-2011 yang mencapai Rp277,093 miliar dari periode sebelumnya sebesar Rp246,8 miliar. (Okezone)
Sinyal Perlambatan Ekonomi AS Picu Minyak Koreksi Terbesar Dalam Tiga Pekan. Minyak mentah tumbang di New York, menuju pelemahan mingguan terbesar dalam tiga bulan terakhir. Koreksi terjadi lantaran investor berspekulasi sinyal perlambatan ekonomi di AS akan menggoyahkan permintaan bahan bakar di negara pengonsumsi minyak terbesar di dunia itu. Harga minyak sudah tertekan 5,5% dalam tahun ini. Reli harga minyak di tahun ini terhapus setelah AS merilis data klaim pengangguran dan penurunan kepercayaan konsumen ke level terendah lebih dari dua bulan. Kemarin, Departemen Tenaga Kerja menyebut klaim pengangguran hanya turun 1.000 menjadi 400.000, pada pekan yang berakhir 30 Juli. Sementara, indeks The Bloomberg Consumer Comfort minus 47,6 dalam sepekan yang berakhir 31 Juli, dari minus 46,8 pada periode sebelumnya. Itu yang terendah sejak Mei. Adapun, hari ini, Departemen Tenaga Kerja AS akan merilis data pengangguran yang diprediksi bakal menunjukkan AS gagal menciptakan lapangan kerja yang cukup selama Juli untuk mengurangi pengangguran. Survei Bloomberg memprediksi tingkat pengangguran bakal bertahan di level 9,2%, setelah naik dalam tiga bulan terakhir. (Kontan Online)
Laba SCTV Naik 81,82%. PT Surya Citra Media Tbk, operator stasiun TV SCTV, pada semester I/2011 membukukan laba bersih Rp382,63 miliar, naik signifikan 81,82% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp210,44 miliar. SCMA mencatat lonjakan laba usaha sebesar 57,93% atau dari Rp326,50 miliar menjadi Rp515,66 miliar. Adapun SCMA mencatat pendapatan bersih Rp1,11 triliun atau meningkat 26,83% dibandingkan dengan sebelumnya Rp879,29 miliar. (Bisnis.com)
SAHAM PILIHAN
SMGR 9100–9600. Pangsa pasar SMGR di pasar domestik sepanjang paruh pertama tahun ini mengalami penurunan dari 43,25% tahun 2010 lalu menjadi 40,76% akhir semester I tahun ini. Hal ini terutama disebabkan kapasitas produksi semen perseroan yang sudah mencapai puncaknya. Selain itu diakibatkan oleh kompetisi yang ketat terutama memperebutkan pasar di Jawa yang dikuasai oleh kompetitornya yakni Indocement. Hal ini bisa dilihat dari harga jual rata-rata produknya sepanjang paruh pertama tahun ini yang hanya naik 1,8% menjadi Rp.818/kg. Perseroan terlihat tidak bisa menaikkan harga lebih tinggi untuk menutupi kecenderungan naiknya biaya produksi terutama disebabkan kenaikan biaya energi, transportasi dan bahan baku. Biaya harga pokok (COGS) per ton sekitar Rp.445.189, naik 7,2% dibandingkan periode yang sama 2010. Pertumbuhan biaya pokok lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan angka penjualan. Pada 1H11 biaya pokok tumbuh 17,44% sedangkan penjualan hanya bisa tumbuh 14,18%. Akibatnya marjin kotor turun dari 47,46% menjadi 45,96%. Sementara untuk menaikkan kapasitas produksinya, saat ini perseroan tengah membangun pabrik semen Tonasa V di Sulawesi Selatan dan Tuban IV di Jawa Timur yang diperkirakan selesai awal tahun depan. Kedua pabrik semen tersebut memiliki kapasitas produksi masing-masing 2,5 juta ton per tahun. Saat ini kapasitas terpasang pabrik semen milik perseroan mencapai 19 juta ton per tahun. Hingga semester I tahun ini, laba bersih SMGR tumbuh 15,10% mencapai Rp.1,87 triliun dengan marjin naik tipis 24,63% dari 24,43% periode yang sama tahun 2010. Penjualan SMGR 1H11 naik 14,18% mencapai Rp.7,6 triliun. Secara kuartalan, penjualan perseroan pada 2Q11 mencapai Rp.4,05 triliun meningkat dibandingkan 1Q11 yang masih Rp.3,55 triliun. Pertumbuhan pendapatan tersebut ditopang oleh kenaikan volume penjualan semen di pasar domestik sebesar 9,7% mencapai 9,16 juta ton. Pertumbuhan volume penjualan tersebut di bawah pertumbuhan rata-rata nasional yang mencapai 14,8%. Tahun ini pendapatan dan laba bersih perseroan diperkirakan mencapai masing-masing Rp.16,20 triliun dan Rp.3,95 triliun. Hingga semester I 2011, laba bersih telah mencapai 47,34% dari target sedangkan pendapatan mencapai 46,91% dari target tahun ini. Kemarin harga sahamnya ditutup di Rp.9150 turun 8,5% dibandingkan 27 Juli lalu yang masih ditransaksikan pada harga Rp.10000. Pada harga Rp.9150, SMGR ditransaksikan dengan PE 13,6x dan EV sebesar USD319/ton. Sedangkan saham INTP saat ini pada harga Rp.14600 ditransaksikan dengan PE 14,53x proyeksi laba 2011 dan EV sebesar USD301,63/ton. Pada PE rata-rata 16x, harga saham SMGR berpeluang mencapai Rp.10700 hingga akhir tahun ini. Secara technical, penurunan harga sahamnya tertahan di retracement 38,2% di sekitar Rp.9150. Apabila level Rp.9200 tertembus maka peluang rebound terbuka dengan target harga jangka pendek di Rp.9600. Namun apabila support di 9100 tidak kuat maka akan mengarah pada level support berikutnya di Rp.8600. Hold.
SAHAM PILIHAN
PGAS 3550-3900. Harga saham Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) kemarin dilanda tekanan jual menyusul berita pemerintah akan meminta perusahaan tersebut untuk menegosiasi ulang harga beli gasnya karena dinilai terlalu murah. Akibat berita tersebut harga sahamnya kemarin turun hingga 6% ditutup di Rp.3600. Bila dibandingkan dengan harganya akhir Juli lalu yang masih di Rp.10000, maka harga saham PGAS telah terkoreksi 10%. Merespon kondisi tersebut, manajemen PGAS telah memberikan penjelasannya. Pada prinsipnya penentuan harga beli gas telah disetujui kedua belah pihak yang tertuang dalam Perjanjian Jual beli Gas (PJBG). Perseroan juga menegaskan bahwa seluruh PJBG antara PGAS dengan penjualan telah mendapat persetujuan dari BP Migas selaku regulator hulu migas Indonesia. Penjelasan ini diharapkan bisa membuat pelaku pasar lebih tenang menghadapi pergerakan harga sahamnya. Apabila dilihat pergerakan harga sahamnya selama tiga bulan terakhir cenderung tertinggal dibandingkan pergerakan IHSG. Ketertinggalan pergerakan harganya tersebut terutama dipicu persoalan ketidakpastian pasokan gas yang diperolehnya. Padahal permintaan kalangan industri terus meningkat. Pergerakan harga saham PGAS secara technical cenderung membentuk pola sideways di kisaran Rp.3900 hingga Rp.4100 dalam tiga bulan terakhir sebelum terkena koreksi tajam dua hari terakhir kemarin. Namun pergerakan turun harganya tertahan di retracement 78,6% dan diharapkan bisa berpeluang rebound. Sepanjang kuartal pertama 2011 (1Q11) PGAS membukukan kenaikan laba bersih 18,6% mencapai Rp.2,10 triliun dibandingkan periode yang sama 2010 sebesar Rp.1,77 triliun. Perolehan laba tersebut mencapai 29% dari target tahun ini yang diperkirakan mencapai Rp.7,26 triliun. Kenaikan laba tersebut terutama ditopang kenaikan harga jual gas menjadi rata-rata USD6,9/mmbtu (1Q11) dari USD5,9/mmbtu (1Q10), naik 16,9%. Tahun lalu volume penjualan gas perseroan mencapai 824 MMSCFD. Tahun ini PGAS menargetkan volume penjualan sebesar 780-820 MMSCFD, turun dari tahun lalu. Namun kendala pasokan ini diperkirakan hanya berlangsung tahun ini. Hal ini mengingat perseroan tengah memproses akuisisi kepemilikan minoritas atas sejumlah blok gas tahun ini. Di luar itu, perseroan juga tengah membangun terminal LNG di Teluk Jakarta, Jawa Barat, dan Belawan Sumatera Utara. Apabila terminal LNG ini selesai, maka volume distribusi gas perseroan akan meningkat tahun depan menjadi berkisar 900-920 mmscfd. Tahun ini pendapatan usaha PGAS diperkirakan mencapai Rp.21 triliun naik sekitar 4,7% dari tahun lalu dan laba bersih diperkirakan tumbuh 15,45% mencapai Rp.7,21 triliun. EPS 2011 diperkirakan sebesar Rp.302. Pada harga Rp.3600, saham PGAS ditransaksikan dengan PE 11,92x. Tahun ini harga PGAS diperkirakan akan ditransaksikan dengan PE 15-16x dengan target price di Rp.4500-Rp.4850. Maintain Buy untuk jangka menengah dan panjang.
Perhatikan : TLKM 7500-8000 Sell
BUMI 3000-3200 Stop loss di 3100 CPIN 2400-3000 Sell
AKRA 2850-3100 Buy on Weakness ICBP 5700-6000 Speculative Buy
Disclaimer : Laporan ini dibuat dari opini analis hanya sebagai informasi untuk membantu investor memahami pasar saham Indonesia dan bukan ditujukan untuk memberikan rekomendasi kepada siapa pun untuk membeli atau menjual suatu efek tertentu. Informasi yang ada pada laporan ini diambil dari sumber yang dianggap bisa dipercaya. Namun demikian PT. First Asia Capital tidak menjamin dan bertanggung jawab atas kebenaran dan keakuratan dari informasi dan pendapat yang ada pada laporan ini.