• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dengan yang lainnya. Komunikasi merupakan titik awal terjadinya proses interaksi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dengan yang lainnya. Komunikasi merupakan titik awal terjadinya proses interaksi"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum

Dalam kehidupan sehari hari, manusia melakukan komunikasi dan interaksi satu dengan yang lainnya. Komunikasi merupakan titik awal terjadinya proses interaksi sosial. Dalam berkomunikasi kita pasti akan menyampaikan suatu ide atau gagasan, isi dari sebuah pesan yang mengandung arti dalam sebuah proses komunikasi. Komunikasi merupakan proses berbicara menggunakan bahasa, baik verbal maupun non verbal dimana di dalamnya dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan.

Gambaran mengenai sebuah proses komunikasi dapat dituangkan melalui sebuah konstruksi pola komunikasi. Dalam penelitian ini, peneliti mengangkat tentang gambaran pola komunikasi antar pribadi orang tua dan keturunannya tentang bagaimana menyosialisasikan budaya lokal. Pola komunikasi merupakan sebuah sistem maupun cara kerja sesuatu yang memiliki bentuk dan struktur tetap. Pada tingkat masyarakat, komunikasi biasanya berpola dalam bentuk-bentuk fungsi, isi, dan sikap bahasa. Pola komunikasi adalah suatu kecenderungan gejala umum yang menggambarkan cara berkomunikasi yang terjadi dalam kelompok sosial tertentu.

(2)

Setiap kelompok sosial dapat menciptakan norma sosial dan norma komunikasinya sendiri, yang biasanya ditaati oleh semua anggota kelompoknya.

Dalam penelitian kali ini, anggota kelompok yang dimaksud adalah anggota keluarga.Keluarga adalah unit satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat.Keluarga merupakan kelompok primer yang terpenting dalam masyarakat.Kelompok ini, dalam hubungannya dalam perkembangan individu, sering dikenal dengan sebutan primary group.Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat.

Keluarga merupakan pilar utama dalam menyosialisasikan kebiasaan-kebiasaan baik maupun tradisi hidup masyarakat setempat.Dari keluarga seorang anak belajar banyak tentang tradisi nya.Termasuk belajar menyosialisasikan dan belajar untuk mencintai serta untuk melakukan tradisi tersebut.Penelitian ini terfokus pada tradisi ngaben yang dilakukan masyarakat Bali dalam melakukan penghormatan terhadap leluhur mereka.

Bagi orang Hindu Bali, melepas anggota keluarga yang meninggal merupakan sebuah upacara penghormatan layaknya sebuah pesta, dan bukanlah momen untuk larut dalam kesedihan atau duka cita. Sebuah ritual yang sudah menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat adat Bali tersebut adalah Ngaben. Ngaben adalah upacara pembakaran jenazah yang juga lazim disebut kremasi, dan istilah ngabentersebut biasa digunakan untuk golongan masyarakat umum seperti yang diatur dalam struktur

(3)

sosial masyarakat adat Bali. Sedangkan dari kalangan bangsawan atau keluarga kerajaan prosesi itu disebut dengan Pelebon. Ngaben berasal dari kata ngabuinatau ngabuyang berarti menjadikan abu. Dalam tradisi umat Hindu Bali, upacara ini merupakan kewajiban untuk mensucikan roh dan bentuk penghormatan kepada leluhur. Dalam melaksanakan prosesi upacara Ngaben, sejak sebelum hari pembakaran hingga selesai, membutuhkan waktu berhari-hari untuk ritual persembahyangan dan pembuatan perlengkapan upacaranya.

Ngaben adalah upacara kematian yang dilakukan dengan cara kremasi merupakan upacara yang spektakuler dan dramatis karena merupakan rangkaian akhir dari roda kehidupan di bumi. Menurut ajaran Hindu, roh bersifat immortal (abadi) dan setelah bersemayam dalam jasad manusia, akan bereinkarnasi, tapi sebelum bereinkarnasi, roh akan melewati sebuah fase di nirwana dan akan disucikan, dan sesuai dengan catatan kehidupan seseorang di bumi (karma) maka roh akan dikirim ke kasta rendah atau tinggi, dan kremasi merupakan proses penyucian roh dari dosa-dosa yang telah lalu.

Sesuai dengan Adat Bali, Upacara Ngaben yang dilakukan di setiap daerahnya berbeda sehingga banyak keragaman yang terjadi diantara pelaksanaannya.Pelaksanaan Ngaben tidaklah murah, memerlukan banyak biaya untuk melakukan ritual ini.Ngaben dapat dilaksanakan dalam tiga kategori berbeda.Kategori nista (paling kecil) diperuntukkan bagi mereka yang kurang mampu, dan warga biasa menghabiskan biaya kira kira sebesar 5 sampai 10

(4)

juta.Untuk kategori kedua adalah madya diperuntukkan bagi keluarga menengah dapat menghabiskan biaya 20 sampai 80 juta.Untuk ngaben kategori terakhir dan paling mewah dan besar, ngaben ini disebut pelebon.Pelebon diperuntukkan bagi mereka para brahmana atau orang-orang berkasta dari keturunan maupun pekerjaan seperti pemuka agama, pemuka adat dan juga biarawan.Pelebon ini dapat menghabiskan biaya dari 100 juta sampai 3 millliar rupiah.Keunikan, kemegahan, dan kemeriahan tradisi ngaben membuat tradisi ini menjadi suatu tontonan menarik dikala melaksanakannya.

Tradisi merupakan jati diri seseorang, melekat, dan pasti akan terus ada bersama mereka. Dalam setiap rangkaian jaman kehidupan, tradisi tetap terus dapat terjaga dalam diri seseorang jika mereka mengenal jati diri mereka, asal usul mereka.Sulitnya untuk terus mempertahankan tradisi menjadi momok utama banyak orang tua maupun keluarga dalam mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai baik kepada keturunan mereka.

Salah satu jalan yang paling mudah menurunkan tradisi adalah melalui pemberian pengertian dan sosialisasi.Dalam sosialisasi, komunikasi bersinergi memberikan jalan yang terbaik dalam penurunan budaya. Banyaknya keragaman terutama dalam Upacara Ngaben Bali itu tentunya berpengaruh kepada cara penurunan tradisi yang dilakukan oleh kelompok masyarakatnya terutama keluarga. Seorang Ayah suatu adat, akan memberitahukan kepada anak - anak mereka tentang

(5)

tradisi ngaben ini, tentunya berbeda dengan seorang ayah yang berasal dari kelompok adat lain.

4.2 Hasil Penelitian

Dalam bagian ini, peneliti akan memaparkan dan membahas mengenai hasil penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dan pengumpulan data dari berbagai sumber yang membantu dalam melakukan penelitian ini. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian kepada dua orang orang tua, empat orang anak anak dan juga kepada seorang akademisi dan budayawan Bali. Dari keseluruhan narasumber, peneliti membaginya menjadi :

1. Keluarga dan keturunan ber etnis Bali yang tinggal di Bali; 2. Keluarga dan keturunan ber etnis Bali yang tinggal di Tangerang.

Sebagai data pembanding, peneliti menggunakan penelitian yang dilakukan kepada seorang akademisi dan budayawan Bali dengan kategori :

1. Akademisi Filsafat Hindu dan Budaya Bali.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif, pendekatan kualitatif, yaitu mendeskripsikan dan mengintrepretasikan data yang diperoleh dari jawaban-jawaban yang diberikan oleh narasumber utama dan narasumber lainnya untuk mengetahui pola komunikasi orang tua terhadap keturunan dalam menyosialisasikan tradisi ngaben.

(6)

Sesuai dengan fokus penelitian, maka dituliskan hasil penelitian sebagaimana yang tercantum di bawah ini.

4.2.1Pola Komunikasi Orang Tua Bali di Bali dengan Keturunannya

Dalam terjadinya proses komunikasi dalam menyosialisasikan tradisi lokal ngaben kepada keturunan, orang tua Bali yang menetap di Bali melakukannya dengan komunikasi yang intens dan berulang ulang. Orang tua mendapatkan pengetahuan dari orang tua yang sebelumnya yaitu kakek. Lalu menurunkan kepada keturunannya lewat cara bicara dan juga memberikan contoh nyata kepada anak-anaknya tentang ngaben itu sendiri.

“Pola yang kami lakukan ya secara turun menurun.Kami nenekankan ngaben itu kepada kewajiban.Saya sebagai orang tua menginformasikan kepada anak-anak saya, dan lebih besar lagi dari komunikasi orang-orang di tempekan atau

banjar atau desa adat.”1

Pengetian yang diberikan kepada keturunan pun lebih menitik beratkan kepada kewajiban atau yang biasa disebut sradha bhakti2 kepada leluhur atau keluarga.Sradha Bhakti adalah keyakinan terhadap sebuah sistem ketuhanan yang diwujudkan pada sebuah perlakuan cinta kasih dan hormat dengan penuh tanggung jawab.Penyampaian ngaben kepada keturunan itu sudah turun temurun dari leluhur

      

1

Wawancara Kepada Bapak I Ketut Putra Darsana, Badung 20 Juni 2013. 19.00 WITA 2Keyakinan terhadap Tuhan dengan jalan menghormati sesama dan lingkungan.

(7)

sampai kepada anak-anaknya.Sebagai kepala keluarga dan ayah, laki-laki Bali merupakan titik sentral yang menjadi acuan bagi keturunannya dalam menjalankan adat serta budaya.

“Saya menyampaikan keterkaitan antara kewajiban dan mengimplementasikannya kedalam gerak kehidupan sehari-hari yang merupakan fondasi dasar kehidupan orang Bali yang beragama Hindu. Dalam memberikan pengertian terhadap anak saya menyampaikannyasecara tegas danjuga aktif dalam memberitahukan anak-anaknya berdasarkan ajaran

agama”3

Pengertian tentang tradisi ngaben yang diberikan oleh orang tua merupakan pemahaman yang mengacu pada ajaran agama.Orang tua disini yang berperan aktif dalam pemberian dan penekanan ngaben adalah ayah dan di dukung oleh ibu. Ayah sebagai kepala keluarga memiliki peran utama yang memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk menyosialisasikan tradisi kepada keturunannya. Hal ini didukung oleh sikap ayah yang tegas dan berwibawa.

4.2.1.1 Pola Komunikasi Keturunan di Bali

Pola komunikasi yang terjadi dilihat dari hasil penelitian kepada keturunan narasumber di Bali adalah menjelaskan tentang bagaimana anak-anak yang tinggal di Bali mendapatkan pemahaman dan sosialisasi tentang tradisi ngaben dari orang tuanya.Narasumber merupakan keturunan asli Bali yang menetap di Bali.

      

3Wawancara Kepada Bapak I Ketut Putra Darsana, Badung 20 Juni 2013. 19.00 WITA

(8)

Anak-anak Bali mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang tradisi ngaben pertama kali dari orang tuanya.Hal ini dilakukan oleh orang tuanya melalui komunikasi yang intens.Namun ayah lebih dominan dalam memberikan pengertian tentang ngaben kepada keturunannya.Ngaben difokuskan kepada pengertian agama, tidak condong ke dalam sudut pandang budaya.

“Saya tahu ngaben dari orang tua saya, namun tidak banyak.Kami dilibatkan secara langsung.Secara lisan menekankan kepada sembah bhakti yang terakhir saya.Menurut saya ngaben itu adalah kewajiban orang Hindu di Bali, kepada orang tuanya sebagai wujud bhakti yang terakhir kepada keluarganya.Ngaben itu dapat dikatakan sebagai budaya yang menarik.Saya mengetahui ngaben dari orang tua saya, keluarga saya, maupun karma adat di Bali.Saya sebagai generasi penerus dari orang tua saya jadi saya harus mengikutinya dan melakukannya sebagai perwujudan bhakti saya.Orang tua saya jelas memberitahukan tentang ngaben itu bahwa setiap orang meninggal bahwa bagi pemeluk Agama Hindu, karena ngaben itu merupakan bhakti terakhir kepada

keluarga kita.”4

Cara penyampaian orang tua menjadi sangat penting dalam penyampaian tradisi.Tidak terdapat banyak hambatan yang terjadi dalam pemberian pemahaman tentang ngaben ini kepada anak.Hal ini dibuktikan dengan pernyataan anak-anak narasumber tentang penyosialisasian tradisi ini.

“Cara penyampaian orang tua itu penting sekali karena ini merupakan kewajiban yang tidak bisa digantikan pelaksanaannya.Menurut saya ngaben itu sebagai kewajiban.Dan tidak ada banyak gangguan yang terjadi dalam

pembelajaran saya terhadap ngaben ini.”5

Menurut narasumber ke dua dalam kategori keturunan, ia memperoleh pengertian dan pemahaman ngaben dari orang tuanya, namun pendidikan, dan juga

      

4

Wawancara dengan Putu Eka Musdiana. Badung, 20 Juni 2013. 20.00 WITA 5Wawaancara dengan Putu Eka Musdiana. Badung, 20 Juni 2013. 20.00 WITA

(9)

lingkungan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pemahamannya tentang tradisi ngaben ini.

Tentu saja saya dijelaskan tentang tradisi ngaben oleh orang tua saya sebagai

kewajiban saya untuk melaksanakannya, selain itu saya belajar dari lingkungan dan dari sekolah.Saya penasaran ketika pertama kali mengetahui tradisi ini, kenapa orang Bali harus melaksanakan tradisi ini dan saya bertanya kepada orang tua saya dan guru agama saya.Saya mengetahui ngaben secara lisan dari penjelasan bapak dan belajar langsung dari apa yang kami gelar terhadap

keluarga kami.”6

Hambatan yang terjadi dalam komunikasi jarang sekali ditemui narasumber kedua.Hal ini terlihat dari pernyataan narasumber tentang hambatan yang terjadi.Hambatan hanya terjadi pada pelaksanaan ngaben, bukan pada penyosialisasiannya.

“Saya tidak mengalami banyak gangguan dalam mengerti tradisi ini, kalau kurang ngerti bisa tanya bapak lagi. Hanya saja saya sering bertanya mengapa dalam melakukan upacara ini banyak yang menghabiskan uangnya dan juga pemborosan, bagaimana melakukan ngaben yang sederhana tanpa mengurangi

nilai harus dipikirkan.”7

Dari hasil wawancara terhadap keluarga Bali di atas, maka penurunan tradisi berlangsung secara turun temurun dari generasi ke generasi dan berlangsung secara dua arah.Melibatkan kedekatan antar pribadi dalam hal ini adalah kedekatan hubungan emosional dan batin ayah dan ibu, dan orang tua kepada anak-anaknya.Dalam hubungan komunikasi dua arah ini, anak-anak mendapatkan

      

6Wawaancara dengan Made Dwi Permana. Badung, 20 Juni 2013. 21.00 WITA 7

(10)

informasi langsung dari orang tuanya, dan dapat mengajukan pertanyaan kembali atau timbal balik secara langsung.Dan kemudian diperkuat dengan kondisi lingkungan serta pendidikan yang dilaluinya.Tidak ada hambatan yang berarti dalam komunikasi yang terjadi saat menyosialisasikan tradisi.

Uraian di atas, diperkuat dengan penjelasan yang disampaikan oleh seorang akademisi yang berperan aktif dalam mengajarkan filsafat dan tradisi di sebuah perguruan tinggi swasta Jakarta.Dalam penjelasannya beliau menguraikan komunikasi orang tua dan anak melalui analogi kedekatan pribadi ibu dan anak.

“Dalam penurunan tradisi, tentunya orang tua memiliki tanggung jawab akan penyosialisasiannya. Anak pertama kali akan belajar dari orang tuanya. Tentunya hal ini berhubungan dengan komunikasi antar pribadi yang memiliki peran penting. Kedekatan anak dengan orang tua dapat dilihat dari pertama saja. Anak itu akan menyusui kepada ibunya sehingga disana terbentuklah ikatan batin seorang anak. Jika suatu saat anak itu menjadi tidak perduli terhadap keluarga, lingkungan, dirinya sendiri, maupun orang lain itu menandakan bahwa ada yang salah akan pengenalan dirinya dan sekelilingnya. Jadi orang tua harus terlebih dahulu mendekatkan diri kepada anak anak

karena dari sanalah anak anak banyak belajar.”8

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi orang tua di Bali dalam menyosialisasikan tradisi berlangsung dengan baik dan efektif tanpa adanya banyak gangguan dan hambatan dalam proses komunikasi. Keterbukaan orang tua dalam menyampaikan pemahaman dan juga penerimaan anak-anak dalam sosialisasi menjadikan proses ini berjalan dengan baik.

      

(11)

4.2.2Sosialisasi Orang Tua Bali di Bali

Dalam proses sosialisasi tradisi ngaben oleh orang tua Bali yang menetap di Bali, terdapat dua cara yang digunakan. Selain melalui pemberian pemahaman lewat proses berkomunikasi, proses sosialisasi tradisi dilakukan dengan cara melibatkan langsung keturunan mereka dalam prosesi ngaben. Diungkapkan oleh narasumber bahwa dalam memberikan pemahaman alangkah baiknya jika ditunjang dengan pemberian contoh nyata tradisi tersebut dalam kehidupan.

“Saya melibakan secara langsung anak-anak saya di desa adat untuk ikut serta secara langsung dalam proses ngaben ini, baik yang dilaksanakan secara langsung oleh keluarga maupun keluarga lain. Secara otomatis, kami secara informal belajar tentang adat istiadat yang ada di Bali.Pola yang kami lakukan ya secara turun menurun.Kami menekankan ngaben itu kepada kewajiban.Saya sebagai orang tua menginformasikan kepada anak-anak saya, dan lebih besar

lagi dari komunikasi orang-orang di tempekan atau banjar atau desa adat.”9

Dengan cara ini, narasumber percaya bahwa keturunannya akan lebih banyak mendapatkan model atau contoh serta langsung paham dan bisa langsung bertanya kepada orang tua maupun lingkungannya. Sosialisasi tentang ngaben orang tua Bali terhadap anak-anaknya sangatlah kental dengan unsur agama dan juga adat.Sebagaimana orang Bali yang sangat menjunjung tinggi adat, sehingga sangat sulit membedakan antara agama, dan juga adat, serta tradisi.

Orang tua Bali dimudahkan dalam menyosialisasikan tradisi ngaben kepada keturunannya karena di Bali masih menjunjung tinggi hukum adat dan selalu berpegang teguh terhadap hukum adatnya.Pendidikan merupakan saluran sosialisasi

      

(12)

yang tidak kalah penting dalam memberikan pegetahuan tentang tradisi ngaben ini.Di Bali orang tua dimudahkan dengan masuknya pendidikan yang memuat tradisi dalam pelajaran Agama Hindu yang didapatkan anak-anak di bangku sekolah.Banjar atau

tempekan10 yang mendukung aktivitas sosialisasi ngaben, lingkungan yang memadai

dan juga kehidupan di desa adat yang sarat akan hukum adat.

Dalam proses komunikasi dan sosialisasi orang tua tidak luput dalam menyampaikan harapan-harapan mreka sebagai orang tua untuk memperkuat argumentasi tentang penyosialisasian tradisi ini.

“Saya akan sangat berbahagia, apabila saya dapat melaksanakan dan mengikuti pengabenan itu karena saya dapat membayar hutang saya kepada orang tua saya.Sehingga saya mendukung sekali dalam pelaksanaan ngaben ini.”11

Dalam suatu sosialisasi tradisi, hambatan akan selalu terjadi. Faktor penghambat pun bisa datang dari luar maupun dari dalam.Sosialisasi tradisi mewajibkan orang tua dapat membangun hubungan baik dengan anak-anak mereka.

“Banyak sekali kesulitan yang dialami dalam menyosialisasikan ngaben ini terhadap anak-anak. Pengaruh pergaulan, globalisasi, pengaruh kebudayaan lain sudah tentu tidak dipungkiri. Memang sangat sulit dalam penyampaian apalagi dalam menyosialisasikan ngaben secara spesifik.Namun dalam hal ini, saya terus berusaha mengalirkan ajaran ini kepada keturunan, agar mereka dapat melakukan bhakti itu sendiri.Kewajiban saya adalah menyampaikan ngaben ini kepada anak-anak saya.Orang tua adalah merupakan penuntun anak-anak menuju tingkat ke yang lebih besar, belajar, menikah dan juga

      

10Tempekan : sistem organisasi masyarakat adat di Bali sama seperti RW.  11

(13)

melakukan kewajiban di dalam lingkungannya.Dengan dituntun sudah tentu

anak-anak kami ingat akan kewajiban kewajibannya.”12

4.2.2.2Sosialisasi Anak- Anak di Bali

Dalam proses sosialisasi orang tua kepada anak mengenai tradisi ngaben ini, anak-anak mendapatkan banyak perkembangan cara berfikir, berperilaku dan membuat keputusan. Proses sosialisasi terjadi pada anak-anak dengan banyak cara dan aspek.

Narasumber menyatakan bahwa proses belajar sosial mereka dilakukan dengan cara pemberian pemahaman dan pendidikan yang akhirnya membentuk suatu tatanan pemikiran tentang ngaben itu sendiri, namun dalam hal ini lingkungan juga berperan dalam memberikan kontribusi pemahaman bagi narasumber tentang tradisi ini.

“Saya mengetahui ngaben dari orang tua saya, keluarga saya, maupun krama adat di Bali.Saya sebagai generasi penerus dari orang tua saya jadi saya harus mengikutinya dan melakukannya sebagai perwujudan bhakti saya.Orang tua saya jelas memberitahukan tentang ngaben itu bahwa setiap orang meninggal bahwa bagi pemeluk Agama Hindu, karena ngaben itu merupakan bhakti terakhir kepada keluarga kita. Dari lingkunganpun juga ada, karena kita ini kan mempunyai desa pekraman. Otomatis saya juga banyak belajar dari

mereka.”13

      

12

Wawancara Kepada Bapak I Ketut Putra Darsana, Badung 20 Juni 2013. 19.00 WITA

 

(14)

Krama adat14 di Bali dan Juga Desa Pekraman15 memiliki peran yang cukup penting dalam mendukung sosialisasi. Tentunya dalam setiap pelaksanaan sosialisasi tradisi seseorang banyak mengalami masukan dan juga harus dapat melihat dari sisi sudut pandang yang benar agar tradisi ini tidak hanya menjadi dipaksakan sepihak,begitu juga dengan hambatan-hambatan yang terjadi. Namun karena menyadari hal itu adalah sebuah kewajiban, narasumber tidak merasa hal tersebut sebagai paksaan.

“Saya tidak merasa terpaksa karena itu merupakan kesadaran diri saya sendiri.Sebagai manusia saya memiliki kewajiban, ya ini salah satu kewajiban saya. Saya akan pasti memberitahukan kepada anak-anak saya nantinya kepada generasi saya selanjutnya. Cara penyampaian orang tua itu penting sekali karena ini merupakan kewajiban yang tidak bisa digantikan pelaksanaannya.Menurut saya ngaben itu sebagai kewajiban.Dan tidak ada banyak gangguan yang terjadi dalam pembelajaran saya terhadap ngaben ini.”16

Proses sosialisasi yang dialami oleh narasumber ke dua tidak jauh berbeda dengan sosialisasi yang dirasakan oleh narasumber pertama. Narasumber mendapatkan banyak pelajaran dan juga pengertian dari orang tuanya dengan cara-cara yang sederhana.

“Cara yang paling efektif untuk menyosialisasikan ngaben itu melalui penjelasan langsung serta mengajak ikut langsung upacara.Karena melalui

penjelasan saja kurang lengkap.”17

      

14Krama adat : warga suatu adat.

15Desa Pekrama ; wilayah desa tempat tinggal karma adat.  16

Wawancara dengan Putu Eka Musdiana. Badung, 20 Juni 2013. 20.00 WITA 17 Wawancara dengan Made Dwi Permana. Badung, 20 Juni 2013. 21.00 WITA

(15)

Tidak ada hambatan dan paksaan yang dirasakan oleh narasumber, komunikasi dan sosialisasi dirasakan berjalan dengan cukup baik dan efektif dengan adanya pengertian dan keterbukaan dari ke dua belah pihak baik orang tua maupun keturunannya.

“Menurut saya ngaben ini harus dilestarikan dan saya akan melangsungkan tradisi ini, saya mempelajarinya dengan kesadaran diri saya sendiri.Saya harus menyosialisasikan kepada keturunan saya nantinya. Ngaben ini penting sekali karena merupakan kewajiban dan rasa terimakasih kita kepada mereka yang

telah meninggal”18

Proses sosialisasi yang merupakan proses belajar tentang nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat membuat kelangsungan hidup suatu kelompok terjamin keberlangsungannya. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan akademisi dari latar belakang ilmu filsafat dan sosial STAH Jakarta mengenai sosialisasi dalam masyarakat Bali.

“Di Bali adat yang kuat membuat proses sosialisasi menjadi tertata dan terus berjalan setiap harinya. Jika ada yang berani melanggar suatu adat akan tidak segan segan dikeluarkan dari kelompok banjar itu. Sosialisasi masyarakat Bali sangat bergantung kepada adat.Anak-anak, termasuk saya dulu banyak belajar dari lingkungan saya, sekolah, dan adat Bali yang begitu mengikat.Maka tidak heran, pelaksanaan ngaben Bali berlangsung secara turun menurun dan dengan baik. Ketika ada orang Bali dia keluar dari wilayah Bali, maka mereka akan berusaha membawa terus adat itu ke tempat mereka yang baru seperti di

Tangerang, Jakarta, maupun Lampung.”19

      

18

Wawancara dengan Made Dwi Permana. Badung, 20 Juni 2013. 21.00 WITA  19Wawancara dengan Bapak Ketut Budiawan. Tangerang, 16 Juni 2013. 19.00 WIB

(16)

Dalam wawancara dengan keluarga yang menetap di Bali, cara orang tua menyosialisasikan tradisi ini adalah selalu mengaitkannya dengan agama, dan juga dengan adat. Lebih menitik beratkan ngaben sebagai kewajiban utama dan pembayaran hutang anak terhadap orang tua yang filosofis ini terdapat dalam ajaran Agama Hindu.Dalam melakukan sosialisasi, orang tua di Bali lebih mengaitkan kepada adanya desa adat sebagai referensi setiap individu menjalankan kehidupannya yang berlandaskan agama.

Pendidikan merupakan media utama dalam penyebaran dan sosialisasi tradisi.Orang tua di Bali dimudahkan dengan pelajaran agama yang masuk ke dalam kurikulum, dan juga dimudahkan dengan banyaknya pelaksanaan ngaben sehingga dapat dengan mudah memberikan contoh nyata pelaksanaan ngaben ini.

Komunikasi yang dilakukan pun merupakan komunikasi yang terus menerus dan berulang ulang kepada keturunan keturunan selanjutnya.Kakek menurunkan pengertian dan pengetahuan tentang ngaben kepada anaknya, dan dilanjutkan dari anak-anak tersebut dilanjutkan kepada cucu dan begitupun seterusnya. Terdapat pemaksaan terhadap pemahaman dan pelaksanaan ngaben ini, dan juga lebih banyak melakukan pendekatan komunikasi melalui contoh nyata.

Dalam penelitian, suasana yang tergambarkan di dalam lingkungan keluarga Bali yang tinggal di Bali sangatlah kental dengan adat.Suasana sekeliling rumah menggambarkan warga Bali keseluruhan. Masih melakukan kegiatan keseharian mereka seperti membuat sesaji, tempat tinggal mereka adalah bangunan rumah yang

(17)

khas Bali yang berada dalam satu pekarangan namun terdapat lima bangunan. Dalam pekarangan dihuni oleh dua keluarga. Terdapat pura keluarga yang mencolok dan ornament khas Bali. Dalam berbicara mereka lebih banyak menggunakan bahasa ibu yaitu bahasa Bali.Suasana lingkungan khas Bali dan adat masih sangat terasa.

Maka dengan itu tergambarlah proses komunikasi orang tua Bali kepada keturunannya sebagaimana yang tercantum dalam simulasi bagan pola komunikasi orang tua kepada keturunannya seperti :

4.1Gambar Pola Komunikasi Orang Tua Bali dalam Menyosialisasikan Tradisi kepada Keturunannya.

Filsafat, Ilmu Pengetahuan, hukum

Adat, Tradisi

Leluhur

Lingkungan Adat Setempat Pendidikan Orang

Tua

Informasi

Orang Tua

Lingkungan dan

(18)

4.2.3 Pola Komunikasi Orang Tua Bali diTangerang

Pola Komunikasi yang terjadi dalam keluarga Bali yang menetap di Tangerang adalah sama dengan keluarga yang menetap di Bali. Perbedaannya terletak dari sumber-sumber pembelajaran orang tua dan anak terhadap sosialisasi tradisi. Ayah menjadi kepala komunikasi di keluarga ini, bekerja sama dengan ibu dalam menyampaikan pesan dan sosialisasi tradisi. Ayah berperan lebih besar dalam sosialisasi tradisi. Sebagai sumber dari informasi tradisi kepada anak-anaknya ayah mendapatkan sumber informasi dari pengalamannya dan juga tradisi ngaben dari buku filsafat dan juga Veda20 yang dibacanya.

Sebagai orang tua, karena merasa jauh dari kampung halaman, dan mandiri

dalam membangun rumah tangga, saya merasa perlu lebih banyak membaca

dan juga menurunkan kegiatan membaca itu kepada anak-anak.Termasuk

dalam membaca buku-buku yang memuat ajaran agama, dan tradisi.”21

Hal tersebut disampaikan oleh narasumber.Dalam penyampaian mengenai tradisi, keluarga ini tidak banyak melakukan komunikasi yang intens.Pemberian penekanan terhadap penghormatan tradisi, mengenal jati diri sendiri sebagai

      

20Veda : Kitab suci Hindu 21

(19)

masyarakat Bali, dan juga mengenal tanah asal merupakan hal utama yang diajarkan narasumber kepada anak- anaknya.

“Sebagai orang tua, saya selalu menekankan kepada anak-anak saya tentang nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran agama dan juga mengenalkan tradisi tanah asal mereka, ke dua anak-anak saya lahir di Jakarta, jadi tentunya mereka kurang paham ya dengan berbagai adat dan budaya tanah asalnya, tapi saya yakin anak- anak saya mengenal betul jati diri mereka

sebagai masyarakat Bali.”22

Komunikasi yang dilakukan keluarga ini juga tidak begitu intens dikarenakan waktu yang terbatas dan juga belum tentu seluruh anggota keluarga dapat berkumpul bersama dalam suatu kesempatan secara menyeluruh.

“Kita ini karena tinggal di kota besar, karena dinamika hidup yang tinggi, apalagi saya dan istri masih aktif bekerja, tentunya tidak banyak mempunyai waktu ya untuk berkumpul bersama keluarga, kalau pun kumpul keluarga itu paling bisa hanya sabtu atau minggu tapi tidak menentu juga, karena kan

anak anak sudah gede, pasti punya banyak kegiatan lain.23

4.2.3.1Pola Komunikasi Keturunan di Tangerang

Dalam pengetahuannya tentang tradisi ngaben, narasumber mengetahuinya dari pendidikan di sekolah minggu dan juga langsung dari pelaksanaan tradisi ngaben yang dia ikuti. Orang tua hanya memberi tahu sedikit tentang tradisi itu, lebih banyak mencontohkannya dari kasus yang terjadi, dan ia mengatakan lebih banyak belajar dari lingkungan.

      

22

Wawancara dengan Bapak Ketut Astawa. Tangerang, 16 Juni 2013. 20.00 WIB 23Wawancara dengan Bapak Ketut Astawa. Tangerang, 16 Juni 2013. 20.00 WIB

(20)

“Orang tua memberi pengetahuan sebatas apa yang mereka tau dan mereka mengerti dan lebih saya banyak mempelajarinya dari lingkungan tentang

yadnya24 dan juga pengertian umum lainnya”25

Rasa keingintahuan narasumber tentang ngaben itu muncul dari dirinya sendiri karena langsung diajak oleh orang tuanya untuk menghadiri dan melaksanakan upacara ngaben tersebut. Narasumber biasanya dapat secara langsung melakukan tanya jawab kepada orang tuanya ketika melihat prosesi ngaben ini berlangsung.

Narasumber kedua dalam kategori keturunan menyampaikan bahwa ia lebih banyak mendapatkan informasi dari pendidikan dan juga lingkungan. Orang tua hanya memberitahu sedikit, selebihnya mereka belajar dari pendidikan agama yang mereka enyam di sekolah minggu.

“Saya tahu tradisi ngaben ini dari sekolah minggu di Pura, karena di sekolahan dari sd sampai dengan sma, tidak ada pelajaran khusus Agama Hindu, jadi saya mengikuti sekolah minggu dan banyak tahu tentang tradisi ngaben di sana. Orang tua saya tidak banyak dan tidak menyiapkan waktu

khusus untuk menjelaskan tentang tradisi ngaben”26

Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi orang tua kepada anak-anaknya dalam menyosialisasikan budaya dilakukan dengan banyak cara dan juga terdapat faktor penghambat. Cara yang digunakan adalah menyerap informasi dari berbagai sumber kemudian menurunkannya kepada anak-anak dan

      

24Yadnya : Tulus ikhlas  25

Wawancara dengan Nyoman Satriya. Tangerang, 16 Juni 2013. 21.00 WIB 26Wawancara dengan Gede Nugraha Riasma. Tangerang, 16 Juni 2013. 22. 00 WIB

(21)

mempersilakan anak-anaknya belajar dari lingkungannya.Faktor penghambat dari komunikasi orang tua adalah waktu yang dimiliki oleh orang tua dalam berkumpul bersama anak-anak nya sangatlah sedikit dikarenakan tempat tinggal mereka di kotabesar yang menuntut totalitas dalam melakukan kegiatan dan pekerjaan. Sedikitnya waktu yang dimiliki, membuat komunikasi keluarga menjadi tidak efektif karena dinamika hidup di kota besar yang menuntut anggota keluarga cenderung terlibat dalam aktivitas yang padat. Sehingga penjelasan dan pemahaman mendalam tentang tradisi menjadi terhambat.

Hal senada juga diutarakan oleh akademisi dari Dhaksina Pati Institude, dalam kaitannya dengan komunikasi yang dilakukan oleh orang tua Bali yang tinggal di Luar Bali atau Tangerang, proses komunikasi orang tua dan anak biasanya terhambat oleh ketersediaan waktu masing-masing anggota keluarga.

“Jika komunikasi keluarga yang terjadi di kota lain daripada Bali, biasanya akan sedikit mengalami hambatan seperti waktu. Karena di kota besar itu dinamika kehidupan berbeda dan berjalan dengan sangat cepat, jarang sekali anggota keluarga ini memiliki waktu untuk berkumpul. Proses komunikasi mungkin saja berjalan dengan tidak maksimal, maka dari itu pendidikan yang

ditanamkan memerankan peran penting dalam membentuk pola pikir anak.”27

4.2.3.2Sosialisasi Orang Tua di Tangerang

Proses sosialisasi yang dilakukan orang tua di Tangerang mengenai tradisi kepada keturunannya dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal yang ada di lingkungan. Selain karena tempat tinggal mereka jauh dari komunitas warga Bali

      

(22)

yang lain, dan pendidikan agama serta tradisi yang kurang dan tidak ada dalam pendidikan formal, sosialisasi tradisi di Tangerang dipengaruhi juga oleh jarangnya ada prosesi tradisi ngaben ini. Orang tua akhirnya menekankan kepada aspek pengenalan diri sendiri dan juga penanaman jati diri sebagai masyarakat Bali.Dalam sosialisasi, keluarga, pendidikan, dan lingkungan memiliki tanggung jawab yang setara.

Sosialisasi orang tua terhadap keturunannya di Tangerang lebih cenderung mencondongkan pemahaman anak-anak kepada pengenalan jati diri, dan membebaskan akses pendidikan, teknologi dan informasi membentuk pemahaman bagi anak-anak.

“Sebagai orang tua, saya selalu menekankan kepada anak-anak saya tentang nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran agama dan juga mengenalkan tradisi tanah asal mereka, ke dua anak-anak saya lahir di Jakarta, jadi tentunya mereka kurang paham ya dengan berbagai adat dan budaya tanah asalnya, tapi saya yakin anak- anak saya mengenal betul jati diri mereka sebagai masyarakat Bali.Dalam kegiatan belajar juga tidak secara spesifik mengajarkan anak-anak tentang budaya Ngaben, karena anak-anak diberikan kebebasan untuk mencari informasi selengkap-lengkapnya di berbagai

sumber yang ada.”28

Dalam kegiatan menanamkan tradisi ngaben kepada anak-anak Narasumber biasanya lebih banyak langsung mencontohkan dan memberikan panutan terhadap anak-anaknya.Dalam memberikan informasi ke anak-anak narasumber selalu

      

(23)

memberikan informasi secara rasionalitas dan tidak memaksakan kehendak terhadap ke dua orang putranya.

Kalau saya lebih banyak mencontohkan tentang kegiatan kegiatan itu,

seperti kalau sembahyang, nanti anak- anak ikut.Kalau ngaben, kita pernah melakukannya untuk mertua saya, jadi disitu anak-anak tau dan langsung bisa melihat.Kalau punya ide, saya suka panggil anak-anak, kita sampaikan kepada anak-anak dan disini sistemnya demokrasi, tidak ada pemaksaan.Kalau ke depannya ngaben itu sulit dilakukan anak-anak dengan adat yang ribet, kita akan kasih tau yang lebih mudah tanpa mengurangi makna, dan syukur ya, sekarang kan generasi ini sudah lebih fleksibel dan praktis, dan sekarang yang penting kan makna itu tersampaikan, mungkin nanti sarana nya bisa disederhanakan dan tanpa mengurangi makna, apalagi sekarang teknologi lebih maju ya, disini tidak bisa melakukan yang seperti di Bali, jadi kami tidak mau memaksakan anak- anak melakukan seperti yang di

Bali. Yang penting makna nya tersampaikan.”29

Mengenai dukungan terhadap anak-anak, narasumber dalam menyosialisasikan tradisi tidak ingin membebani anak-anak, namun ingin terus tradisi ini berjalan dengan sebagai mana mestinya mengingat dengan tradisi leluhur dan juga penghormatan terakhir kepada orang tua dan bhakti terhadap orang tua. Tanpa mengurangi makna dan nilai tentunya tradisi ngaben ini dapat disederhanakan lagi penyelenggaraannya mengikuti jaman dan juga teknologi yang kini mulai berkembang pesat.

4.2.3.3 Sosialisasi Keturunan Bali yang Tinggal di Tangerang

Dalam proses sosialisasi tradisi yang terjadi terhadap keturunan Bali yang tinggal di luar wilayah Bali, mereka memiliki kecenderungan belajar dari

      

(24)

lingkungannya dan juga belajar dari pendidikan formal maupun non formal yang mereka terima. Sosialisasi yang merupakan cara orang tumengajarkan anak-anaknya tentang tradisi ngaben dilakukan dengan pemberitahuan secara lisan tentang tradisi ngaben, lalu jika ada kesempatan untuk mengikuti dan melaksanakan ngaben, maka di sela-sela pelaksanaan akan dijelaskan tentang filosofis tradisi ngaben itu sendiri.

“Saya banyak mempelajarinya dari lingkungan.Rasa keingintahuan tentang ngaben itu muncul dari dirinya sendiri karena langsung diajak oleh orang tuanya untuk menghadiri dan melaksanakan upacara ngaben tersebut.Tidak ada paksaan dari orang tuanya untuk mengikuti pelaksanaan ngaben sesuai dengan apa yang beliau laksanakan karena merupakan kesadaran sendiri untuk melakukan tradisi tersebut sebagai wujud bhakti rasa hormat terhadap

leluhur.”30

Tidak banyak hambatan yang dirasakan dalam menyosialisasikan ngaben oleh narasumber pertama. Karena tertanam kesadaran akan jati diri masyarakat Bali di dirinya maka dari itu sosialisasi tradisi ini berjalan cukup baik dan tanpa banyak hambatan yang berarti. Ngaben yang merupakan kesadaran tulus ikhlas merupakan tanggung jawab dan penghormatan rasa bhakti anak kepada orang tua yang telah menjadi budaya.

Narasumber kedua keturunan warga Bali di Tangerang menuturkan tentang sosialisasi tradisi yang terjadi antara orang tua kepada keturunannya sama dengan narasumber pertama. Sosialisasi terjadi dengan didukung oleh lingkungan dan juga pendidikan yang didapatkan serta faktor masyarakat sekelilingnya.Pendidikan formal

      

(25)

merupakan hal utama yang menyebabkan sosialisasi orang tua tentang tradisi Bali kepada anak-anaknya berlangsung dengan baik.

“Saya tahu tradisi ngaben ini dari sekolah minggu di Pura, karena di sekolahan dari sd sampai dengan sma, tidak ada pelajaran khusus Agama Hindu, jadi saya mengikuti sekolah minggu dan banyak tahu tentang tradisi

ngaben di sana.”31

Keingintahuan narasumber terhadap ngaben tersebut berasal dari pengalaman nya ketika melakukan ngaben terhadap neneknya. Disana ia dapat langsung melihat dan juga mempelajari tentang ngaben itu sendiri. Hambatan yang dirasakan narasumber adalah karena faktor lingkungan tempat tinggal.

“Saya tahu tentang tradisi ngaben itu merupakan tanggung jawab masing masing individu sebagai warga Bali karena itu merupakan salah satu perwujudan bhakti kepada orang tua.Tidak ada paksaan dalam mengetahui maupun untuk melaksanakan ke depannya.Namun keluarga selalu demokratis dalam memberikan pemahaman dan kebebasan dalam memahami tradisi dan tidak menutupi pertanyaan-pertanyaan seputar ngaben yang diutarakan anak-anak.Hambatannya karena saya tinggal bukan Bali sehingga jarang melihat tradisi ini, kurang memahami arti secara agamis dan filosofis, serta

kurangnya waktu untuk berdiskusi dengan orang tua dikarenakan bekerja.”32

Orang tua di Tangerang lebih banyak mengajarkan tentang arti dan makna tradisi tersebut tanpa menekankan pada adat Bali itu sendiri.Tradisi hanya ditekankan pada pengertian, pelaksanaan tanpa mengurangi nilai, dan menekankan pada pemahaman tradisi ngaben itu sendiri. Sosialisasi ngaben dilakukan oleh orang tua di Tangerang dengan cara mengajak anak-anak langsung melihat atau mengikuti prosesi

      

31

Wawancara dengan Gede Nugraha Riasma. Tangerang, 16 Juni 2013. 22. 00 WIB 32Wawancara dengan Gede Nugraha Riasma. Tangerang, 16 Juni 2013. 22. 00 WIB 

(26)

jika ada prosesi ngaben yang digelar di tempekan mereka serta menanamkan nilai jati diri masyarakat Bali. Pendidikan tentang tradisi didapatkan anak-anak luar Bali melalui sekolah minggu khusus dan juga anak anak dibebaskan mencari informasi dari semua sumber informasi seperti memanfaatkan kitab-kitab juga teknologi yang ada.

Tentang sosialisasai warga Bali di perantauan, akademisi di STAH Jakarta memiliki pendapat yang sama tentang uraian diatas. Beliau lebih menekankan kepada aspek tanggung jawab orang tua, lingkungan, dan pendidikan.

“Pendidikan dari orang tua, lingkungan, dan pendidikan formal maupun informal mempunyai tanggung jawab masing masing untuk menyosialisasikan ini.Penanaman tentang bhakti seorang anak dapat dilihat dari sesuatu yang sangat sederhana, komunikasi antar pribadi orang tua dapat dipupuk sejak kecil.Kualitas komunikasi dan kesadaran anak dapat dibuktikan sejak kecil dari komunikasi verbal dan non verbal yang dilakukan oleh anak maupun orang tua.Dengan penyosialisasian tradisi diharapakan agar anak-anak mengerti dengan kualitas diri dan bhakti serta tanggung jawabnya sebagai penerus keturunan.Sehingga dengan begitu saya yakin, tradisi ini akan terus terjaga keberlangsungannya secara turun temurun dimanapun warga Bali itu tinggal karena adat Bali yang dibawa di tempat sekarang membentuk susunan organisasi tempekan-tempekan atau sistem banjar di Tangerang maupun

Jakarta dan sekitarnya.”33

Dengan penjelasan tersebut diatas, maka dapat ditarik kesimpulan dan juga gambaran, bagaimana pola komunikasi orang tua Bali yang tinggal di luar Bali dalam menyosialisasikan tradisi. Pola komunikasi yang terjadi sama yaitu secara turun menurun melalui keluarga dan sosialisasi yang terjadi melalui aspek pendidikan dan lingkungan.

      

(27)

Dalam penelitian ini suasana yang dapat digambarkan tentang keluarga Bali di Tangerang adalah narasumber tinggal di daerah perumahan, dengan lingkungan multi budaya, terdapat satu orang tetangga yang berasal dari Bali. Rumah mereka dilengkapi dengan tempat ibadah khas Bali dan tercium bau dupa dari dalam rumah, bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Indonesia dalam kegiatan sehari-hari.

Dengan penjelasan tersebut maka dapat digambarkanlah pola komunikasi orang tua Bali di Tangerang dengan menggunakan bagan pola komunikasi seperti ini.

Gambar 4.2 Pola Komunikasi dan Sosialisasi Orang Tua di Tangerang

Orang Tua Lingkungan

Pendidikan

Informasi

Pendidikan Anak - Anak Lingkungan

4.3 Pembahasan

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tipe deskriptif dengan pendekatan kualitatif.Penelitian deskriptif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa.Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi.

(28)

Dalam penelitian ini paparan situasi komunikasi yang dilakukan oleh orang tua dalam menyosialisasikan tradisi kepada keturunannya tergambar dalam bagan hasil penelitian. Terdapat perbedaan cara berkomunikasi orang tua di Bali dengan orang tua di Tangerang terhadap keturunannya dalam menyosialisasikan tradisi. Dapat kita simpulkan bahwa perbedaan tersebut, memengaruhi proses berkomunikasi orang tua kepada keturunannya.

Komunikasi merupakan proses sosial yang selalu melibatkan manusia dalam berinteraksi. Komunikasi sebagai proses berarti terjadi secara terus-menerus, berkesinambungan dan tidak memiliki akhir. Hal ini terlihat dalam pola komunikasi yang dilakukan oleh orang tua Bali yang tinggal maupun merantau. Dalam melakukan penurunan tradisi lokal, orang tua Bali melakukannya dengan berbagai macam cara yang sangat dipengaruhi dari sudut pandang dan lingkungan tinggal orang tua itu.

Di Bali orang tua menggunakan pola komunikasi dua arah. Pola komunikasi dua arah atau timbal balik (two way traffic communication) yaitu komunikator dan komunikan menjadi saling tukar fungsi mereka. Komunikator pada tahap pertama menjadi komunikan dan pada tahap berikutnya saling bergantian fungsi. Namun pada hakekatnya yang mememulai percakapan adalah komunikator utama, komunikator utama memiliki tujuan tertentu melalui proses komunikasi tersebut, prosesnya dianalogi, serta di umpan balik terjadi secara langsung.

(29)

Begitu juga dengan pola komunikasi yang diterapkan oleh orang tua di Tangerang.Pola komunikasi dua arah terjadi karena baik di Bali maupun di Tangerang. Orang tua dan keturunan mempunyai peran yang sama yaitu dapat bertukar tempat sebagai komunikator maupun komunikan. Salah satu dari mereka jika mempunyai informasi yang didapatkan dari berbagai sumber, individu tersebut dapat menjadi pembicara maupun berperan sebagai audien. Mereka dapat bertukar pikiran dari hal tersebut melalui proses tanya jawab, diperkuat oleh sistem demokrasi yang dianut dalam kehidupan masyarakat Bali di Tangerang serta proses turun menurun yang terjadi di dalam masyarakat Bali untuk menyosialisasikan tradisi lokal.

Komunikator utama mereka adalah orang tua. Orang tua memberikan suatu informasi dan anak-anak sebagai objeknya langsung dapat bertanya baik dalam kesempatan berlangsungnya prosesi ngaben maupun pada saat setelah membaca buku, atau mendapatkan informasi dari sumber lain. Orang tua tidak menutup kemungkinan untuk menjawab pertanyaan anak-anak serta tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat anak-anak dapat menjadi sumber informasi mereka tentang ngaben ini.

Masyarakat Bali yang tersebar di seluruh Indonesia, memiliki kesamaan dalam melakukan sosialisasi tradisinya.Ngaben yang merupakan bagian dari tradisi, bukan agama sering disalah artikan sebagai upacara agama.Sebenarnya ngaben merupakan salah satu tradisi yang bermula dari hukum positif yang terbentuk dari jaman leluhur, kemudian disempurnakan dengan aturan adat yang berdasarkan

(30)

agama.Ngaben ini hanya terdapat di Bali sebagai prosesi pembakaran jenazah atau yang popular disebut kremasi.Yang kemudian oleh orang Bali yang merantau, dibawalah kebiasaan ini juga.

Jika ini diindikasikan sebagai upacara agama, ternyata Hindu di Gunung Kidul tidak mengenal ngaben.Ngaben membawa pengaruh pada dampak lingkungan. Yang bisa di lihat bahwa di Bali tidak ada kuburan penuh, dan mungkin saja nanti akan diikuti oleh umat lain untuk mengkremasikan jenazah keluarganya yang meninggal. Ngaben ini baik, karena mengurangi polusi lahan dan dapat merawat keharmonisan manusia.Harus diperkuat secara sosialisasi dan makna dari segi filosofis.

Para praktisi, dan akademisi harus selalu bias menyosialisasikannya dalam kegiatan-kegiatan formal maupun informal guna membekali anak anak. Disamping itu, pendidikan dari orang tua, lingkungan, dan pendidikan formal maupun informal mempunyai tanggung jawab masing masing untuk menyosialisasikan ini. Karena Bali adatnya yang kuat, maka di Bali pelaksanaan ngaben dan juga penurunan tradisinya berlangsung sangat baik, tetapi tidak kalah dengan warga Bali yang tersebar di seluruh Indonesia, karena mereka masih membawa sistem organisasi di Bali yaitu banjar ke daerahnya merantau maka tradisi ini akan terus berjalan.

Komunikasi penting diberitahukan kepada anak-anak.Komunikasi antar pribadi yang memiliki peran penting. Dapat dilihat anak itu akan menyusu kepada

(31)

ibunya sehingga disana terbentuklah ikatan batin seorang anak. Jika suatu saat anak itu menjadi tidak perduli terhadap keluarga, lingkungan, dirinya sendiri, maupun orang lain itu menandakan bahwa ada yang salah akan pengenalan dirinya dan sekelilingnya. Orang tua harus terlebih dahulu mendekatkan diri kepada anak anak karena dari sanalah anak anak banyak belajar.

Edna Rogers mengemukakan bahwa pendekatan hubungan dalam menganalisis proses komunikasi antar pribadi mengasumsikan, bahwa hubungan antar pribadi dapat membentuk stuktur sosial yang diciptakan melalui proses komunikasi. Pembentukannya mencakup konteks pengembangan proses komunikasi tersebut. Komunikasi tampak sebagai proses sibernetika (umpan balik) yang dihasilkan melalui penegasan diri dalam berhubungan dengan orang lain. Bentuk hubungannya secara alamiah berlangsung terus menerus.Individu berpartisipasi aktif dalam komunikasi. Mereka berimprovisasi, menghubungkan makna, memberdayakan dan memaksakan tindakan satu sama lain.

Bentuk hubungan alamiah yang terciri dalam hubungan keturunan (ayah-anak) dan akan berlangsung terus menerus (menurun). Berimprovisasi dalam menyosialisasikan tradisi, menghubungkan kenyataan di lingkungan dengan pembelajaran, serta memaksakan tindakan yang mereka lakukan sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

(32)

Pola komunikasi orang tua dalam menyosialisasikan tradisi ngaben Bali memang memiliki kesamaan. Pola komunikasi orang tua di Bali sama dengan yang ada di tangerang karena pada kedua orang tua ini masih memberikan ruang untuk anak-anak mereka dalam bertanya dan membuat komunikasi berjalan secara dua arah. Namun terlihat perbedaan cara penyampaian dan sumber informasi yang dilakukan oleh ke dua orang tua ini. Hal ini dikarenakan oleh lingkungan dan tempat tinggal mereka yang berbeda, serta hukm adat yang tidak mengikat di kota tempat orang tua Bali lainnya tinggal.

Sudut pandang yang di bangun diantara ke dua orang tua pun memiliki perbedaan, namun tetap dalam misi yang sama dalam penurunan tradisi kepada keturunannya sebagai jati diri masyarakat Bali.

Gambar

Gambar 4.2 Pola Komunikasi dan Sosialisasi Orang Tua di Tangerang

Referensi

Dokumen terkait

Perseroan mengajukan usul kepada RUPST untuk menyetujui Laporan Tahunan Perseroan Tahun 2020 termasuk didalamnya Laporan Pengawasan Dewan Komisaris, Laporan Direksi mengenai

14/06/2016 Salinan informasi nilai hasil SBMPTN 2014, a.n Julian Hadi Prasetyo, Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas

adalah data yang berkaitan dengan penanaman nilai-nilai Pancasila berdasarkan bunyi sila ke lima dalam kehidupan sehari-hari anak sekolah dasar, dan bagaimana peran

Berdasarkan nilai estimate, dapat dikatakan bahwa motivasi memiliki pengaruh positif pada perilaku pengelolaan keuangan keluarga namun tidak signifikan, artinya semakin

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengevaluasi kesesuaian tingkat kenyamanan termal, visual, dan akustik lingkungan pabrik dengan standard yang berlaku, dan

Pada pertemuan kedua ini dilihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat, diperoleh data pada aspek koordinasi tidak ada anak yang mendapat

Berdasarkan koefisien korelasi setiap butir pernyataan terhadap skor totalnya, maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pernyataan adalah valid untuk dijadikan alat