Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II - USD Repository

215 

Teks penuh

(1)

i

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS

SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE

JIGSAW II

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun Oleh :

Irene Ika Kusuma Yunita

101134008

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS

SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE

JIGSAW II

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun Oleh :

Irene Ika Kusuma Yunita

101134008

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)

ii

SKRIPSI

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SD

ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE

JIGSAW II

Oleh:

Irene Ika Kusuma Yunita

NIM: 101134008

Telah disetujui oleh:

Pembimbing I,

(Drs. Y.B. Adimasana, M.A) Tanggal 26 Mei 2014

Tanggal 28 Mei 2014 Pembimbing II,

(4)

iii

SKRIPSI

PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SD ATAS

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II

Disusun oleh

Irene Ika Kusuma Yunita

NIM: 101134008

Telah dipertahankan di depan panitia penguji

Pada tanggal 12 Juni 2014

dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji

Nama lengkap Tanda Tangan

Ketua : Gregorius Ari Nugrahanta,S.J., S.S., BST., M.A.

Sekretaris : E. Catur Rismiati,S.Pd., M.A. Ed.D.

Anggota 1 : Drs. Y.B. Adimasana, M. A.

Anggota 2 : Rusmawan, S.Pd., M.Pd.

Anggota 3 : Elisabeth Desiana Mayasari, S.Psi., M.A.

Yogyakarta 12 Juni 2014

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma

Dekan,

(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya yang sederhana ini kupersembahkan untuk:

Tuhan Yesus Kristus yang selalu mendampingi setiap

langkahku.

Kedua orang tuaku, Bapak Yohanes Budi Nurseto dan Ibu

Helena Ni Made Hariantini.

Adikku, Angelina Lintang Venta Dewanti

Mbah Putri dan Mbah kakung

Kekasihku, I Made Denistya Bagas Sayogi

Keluarga besarku

Sahabatku, Septi Widiasari

Serta rekan-rekan seperjuangan almamaterku

Yang telah memberikan inspirasi dan motivasi, atas dukungan

(6)

v

HALAMAN MOTTO

Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan

kepadamu apa yang diinginkan hatimu

Mazmur 37: 4

Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan

doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal

itu akan diberikan kepadamu

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya yang saya tulis ini tidak

memuat hasil karya atau bagian karya orang lain, kecuali telah disebutkan dalam

kutipan dalam daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 12 Juni 2014

Yang menyatakan,

(8)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Irene Ika Kusuma Yunita

NIM : 101134008

Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan karya ilmiah saya yang

berjudul: PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SD

ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

JIGSAW II kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan

Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain,

mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan

mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa

perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap

mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta, 12 Juni 2014

Yang menyatakan,

(9)

viii

ABSTRAK

Yunita, Irene Ika Kusuma. (2014). Perbedaan Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas IV Sekolah Dasar atas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II. Skripsi: Yogyakarta: Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum diketahuinya perbedaan prestasi belajar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kelas yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II atau kelompok eksperimen dan yang tidak menggunakannya atau kelompok kontrol dalam hal prestasi belajar siswa khususnya kelas IV SD pada mata pelajaran IPS materi mengenal aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di daerahnya.

Penelitian ini merupakan quasi eksperimental dengan populasi penelitiannya adalah seluruh siswa kelas IV SD Kanisius Sorowajan pada tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 56. Sampel penelitian untuk kelompok eksperimen adalah kelas IV A dengan jumlah siswa 28 dan sampel penelitian untuk kelompok kontrol adalah kelas IV B dengan jumlah siswa 28. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes tertulis objektif (pretest dan posttest) pada setiap kelompok. Analisis data dilakukan menggunakan program SPSS 20 dan melalui 3 langkah yaitu uji normalitas, uji homogenitas, dan uji beda posttest menggunakan

independent t-test pada masing-masing kelompok.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II

dengan kelompok yang tidak menggunakannya dalam hal prestasi belajar siswa yang menunjukkan sebesar 0,003 atau < 0,05. Berdasarkan hasil analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar IPS kelas IV SD dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II.

(10)

ix

ABSTRACT

Yunita, Irene Ika Kusuma. (2014). The Difference of Learning Achievement of Social Sciences of Students of Grade IV Elementary School and the Application of Cooperative Learning Model of Jigsaw I Type. Minithesis. Yogyakarta: Department of Elementary School Teacher, University of Sanata Dharma.

The background of this study because unknown the difference of learning achievement of social sciences of students of grade IV elementary school and the application of cooperative learning model Jigsaw II type. This study was conducted to know the difference between classes using model of cooperative learning type of

Jigsaw II or experimental group and classes that did not use it or controlled groups achievement in term of students learning achievement, especially for grade of IV elementary school in the subject of social sciences concerning about economical activities related to the natural resources and other potentials in the region.

The used kind of research was quasy experimental with the population of all students of grade IV elementary school of Kanisius Sorowajan, academic year of 2013/2014 that consisted of 56 students. The sample of experimental group was grade IVA consisting of 28 studentss and sample of controlled group was grade IVB consisting of 28 students. The collecting data technic used objective written tests (pretest and posttest) performed in all groups. We performed data analysis by using program of SPPS and conducted through 3 stages: test of normality, test of homogenity, and differential test of posttest using independent sample t-test in all groups.

The study results showed that it existed a significant difference between group that used the cooperative learning model of jigsaw II type and group that did not use it in term of learning achievement that rated of 0.003 or <0.05. Based on it, it could be concluded that it existed a different learning achievement of social sciences in grade IV of elementary school students with the application of cooperative learning model of jigsaw II type.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala

penyertaan dan berkat-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “Perbedaan Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II pada Mata Pelajaran IPS SD” ini dengan baik. Skripsi ini disusun untuk

memperoleh gelar sarjana pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

khususnya Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta.Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini tidak mungkin

selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini penulis

mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Rohandi, Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas

Sanata Dharma.

2. G. Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A., Ketua Program Studi Pendidikan

Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma.

3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D., Wakil Ketua Program Studi Pendidikan

Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma.

4. Drs. Y.B. Adimassana, M.A., dosen pembimbing I, yang telah memberikan

arahan, dorongan semangat, serta sumbangan pemikiran yang peneliti butuhkan

untuk menyelesaikan skripsi ini.

5. Rusmawan,S.Pd., M.Pd. , dosen pembimbing II, yang telah memberikan bantuan

ide, saran, kritik, serta bimbingannya yang sangat berguna selama penelitian

maupun dalam penyusunan skripsi ini.

6. Suwardi, S.Pd., kepala sekolah SD Kanisius Sorowajan yang telah memberikan

izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian ini di kelas IV SD Kanisius

Sorowajan.

7. Rosalia Septi Wulansari, S.Pd., wali kelas IV A yang telah memberikan bantuan

(12)

xi

8. Alexandra Sandra Kusmainah, S.Pd., wali kelas IV B yang telah memberikan

masukan dan bantuan waktu kepada peneliti.

9. Siswa kelas IV SD Kanisius Sorowajan yang telah bersedia menjadi subjek

dalam penelitian ini.

10.Bapak dan ibu yang telah memberikan fasilitas serta support yang tidak pernah

berhenti selama melakukan penelitian ini.

11.Teman-teman peneliti, terutama teman-teman kelompok penelitian kolaboratif

yang telah memberikan masukan ide, semangat, dan dorongan untuk

menyelesaikan penelitian ini.

12.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah

memberikan dukungan dan bantuan selama penelitian ini.

Penulis menyatakan bahwa skripsi ini mash jauh dari kesempurnaan. Semoga

skripsi ini dapat berguna bagi siapa saja yang membaca. Terima Kasih.

Yogyakarta, 12 Juni 2014

Peneliti,

(13)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vii

ABSTRAK ... viii

2.1.1.1 Pengertian Belajar... 9

(14)

xiii

2.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif ... 12

2.1.2.1 Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif ... 12

2.1.2.2 Tujuan Pembelajaran kooperatif ... 14

2.1.2.3 Prinsip Pembelajaran Kooperatif ... 15

2.1.2.4 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II... 15

2.1.3 Pembelajaran IPS Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw II……… 23

2.1.3.1 Orientasi... 24

2.1.3.2 Pengelompokan ... 24

2.1.3.3 Pembentukan dan Pembinaan Kelompok Ahli ... 25

2.1.3.4 Diskusi Kelompok Ahli dalam Grup ... 25

2.1.3.5 Tes (Penilaian) ... 25

2.1.3.6 Pengakuan Kelompok ... 26

2.1.4 Hakekat Pembelajaran IPS di SD ... 26

2.1.4.1 Pengertian IPS ... 27

2.1.4.2 Tujuan Pembelajaran IPS di SD ... 28

2.1.4.3 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ... 28

2.1.4.4 Materi Ajar ... 29

2.2 Kajian Penelitian Relevan ... 31

(15)

xiv

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 42

3.4 Variabel Penelitian ... 44

3.5 Definisi Operasional ... 45

3.6 Instrumen Penelitian ... 45

3.7 Validitas dan Reliabilitas ... 47

3.7.1 Validitas Instrumen ... 47

3.7.1.1Validitas Konstruk ... 48

3.7.1.2Validitas Isi ... 48

3.7.1.3Validitas Empiris ... 49

3.7.2 Reliabilitas Instrumen ... 51

3.8 Teknik Pengumpulan Data ... 52

3.9 Teknik Analisis Data ... 52

3.9.1 Statistik Deskriptif ... 53

3.9.2 Statistik Inferensial ... 54

3.9.2.1Uji Asumsi ... 55

3.9.2.2Uji Hipotesis... 56

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 58

4.1.1 Deskripsi Data Penelitian ... 58

4.1.1.1 Data Prestasi Belajar ... 59

4.1.2 Analisis Data Penelitian ... 59

4.1.2.1 Uji Normalitas ... 60

4.1.2.2 Uji Homogenitas ... 65

4.1.2.3 Uji Beda Pretest ... 65

4.1.2.4 Uji Hipotesis ... 65

(16)

xv

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ... 73

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 73

5.3 Saran ... 74

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

HALAMAN

Tabel 1. Jadwal Penelitian... 41

Tabel 2. Waktu Pengambilan Data ... 42

Tabel 3. Kisi-kisi Instrumen Penelitian ... 46

Tabel 4. Kriteria Interpretasi Skor ... 48

Tabel 5. Hasil Uji Validitas Instrumen ... 50

Tabel 6. Reliabilitas ... 51

Tabel 7. Hasil Perhitungan Reliabilitas ... 51

Tabel 8. Pengumpulan Data Variabel Prestasi Belajar ... 52

Tabel 9. Data Prestasi Belajar ... 59

Tabel 10. Data Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen ... 61

Tabel 11. Data Uji Normalitas Pretest Kelompok Kontrol... 62

Tabel 12. Data Uji Normalitas Posttest Kelompok Eksperimen... 63

Tabel 13. Data Uji Normalitas Posttest Kelompok Kontrol ... 64

Tabel 14. Perbandingan Skor Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 65

Tabel 15. Uji Beda Pretest ... 66

Tabel 16. Perbandingan Rata-Rata Skor Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Variabel Prestasi Belajar ... 68

Tabel 17. Rangkuman Homogenitas Pretest ... 69

Tabel 18. Rangkuman Pretest dan Posttest ... 69

Tabel 19. Rangkuman Perbandingan Skor Posttest ... 69

(18)

xvii

DAFTAR GAMBAR

HALAMAN

Gambar 1. Literatur Map ... 36

Gambar 2. Desain Penelitian ... 40

Gambar 3. Variabel Penelitian ... 44

Gambar 4.Kurva Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen ... 61

Gambar 5. Kurva Uji Normalitas Pretest Kelompok Kontrol ... 62

Gambar 6. Kurva Uji Normalitas Posttest Kelompok Eksperimen ... 63

Gambar 7. Kurva Uji Normalitas Posttest Kelompok Kontrol ... 64

(19)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

HALAMAN

Lampiran 1. Surat Permohonan Izin Penelitian ... 78

Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 79

Lampiran 3. Silabus Kelompok Eksperimen ... 80

Lampiran 4. Silabus Kelompok Kontrol ... 89

Lampiran 5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen ... 96

Lampiran 6. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol ... 115

Lampiran 7. Lembar Evaluasi ... 133

Lampiran 8. Materi Ajar ... 136

Lampiran 9. Validasi Instrumen ... 158

Lampiran 10. Hasil Rekap Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen .. 168

Lampiran 11. Hasil Rekap Nilai Pretest dan Posttest Kelompok Kontrol ... 170

Lampiran 12. Analisis Data Penghitungan Prestasi Belajar... 172

Lampiran 13. Lembar Pengamatan Pelaksanaan Proses Jigsaw II ... 174

Lampiran 14. Hasil Expert Judgement ... 175

Lampiran 15. Foto Pelaksanaan Penelitian ... 186

(20)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perubahan perilaku manusia khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan memang

membuat kehidupan masyarakat menjadi semakin modern dan praktis karena sarana

komunikasi yang semakin berkembang memungkinkan masyarakat mengakses

informasi dari berbagai belahan dunia secara cepat. Akan tetapi perkembangan global

ini diiringi pula dengan berbagai permasalahan sosial. Banyaknya kriminalitas

merupakan salah satu contoh dari permasalahan yang terjadi karena ketidakmampuan

masyarakat bersaing dalam era globalisasi. Indonesia sebagai negara berkembang

turut terpengaruh dengan pesatnya perkembangan global. Permasalahan yang timbul

pun begitu kompleks baik terkait kondisi ekonomi, politik, sosial, budaya,

kemasyarakatan, termasuk permasalahan kualitas pendidikan yang masih jauh

ketinggalan dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Kualitas bangsa tentu dapat

ditengok dari seberapa berkualitas pendidikan yang dihasilkan. Untuk mendapatkan

pendidikan yang baik salah satu faktor kunci keberhasilan adalah kurikulum.

Kurikulum merupakan rencana tertulis mengenai kualitas pendidikan yang harus

dimiliki oleh peserta didik melalui suatu pengalaman belajar. Kegiatan pendidikan

yang baik harus direncanakan dengan baik.

Kurikulum merupakan hal yang esensial dalam suatu penyelenggaraan

pendidikan. Kurikulum harus mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik yang

(21)

Melalui kurikulum yang dirancang lembaga pendidikan tercantum berbagai mata

pelajaran yang diharapkan tidak hanya memberikan sekedar pengetahuan namun

bekal untuk menghadapi pengaruh globalisasi dengan berbagai tantangan dan

pengaruh negatif. Kurikulum untuk sekolah dasar menetapkan IPS sebagai salah satu

mata pelajaran yang diberikan kepada siswa secara umum dimaksudkan dengan

tujuan untuk menghadapi tantangan zaman atau pengaruh globalisasi. Sesuai dengan

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (permendiknas) nomor 22 tahun 2006 tentang

standar isi, melalui mata pelajaran IPS peserta didik diarahkan untuk menjadi warga

Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta

damai.

Peserta didik akan menghadapi tantangan yang semakin berat karena masyarakat

global yang mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS

diadakan dengan tujuan mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan

analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan

bermasyarakat yang dinamis. Penyampaian materi pembelajaran tidak lepas dari

campur tangan pendidik atau guru dalam upaya memaksimalkan perkembangan

peserta didik. Terdapat 4 kompetensi yang harus dimiliki guru sebagaimana yang

dikemukakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005

tentang guru dan dosen yaitu; (1) kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru

dalam mengelola pembelajaran, (2) kompetensi kepribadian yang menunjukkan sikap

yang baik dalam membantu siswa belajar, (3) kompetensi sosial merupakan

(22)

merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan. Oleh karena itu guru

khususnya guru mata pelajaran IPS diharapkan memiliki pemahaman yang baik

tentang ilmu-ilmu sosial yang tidak hanya menguasai wawasan yang luas terhadap

konsep IPS namun juga memiliki keterampilan tentang kiat-kiat mendidik atau

mengajar.

Telah terjadi pergeseran dalam pandangan masyarakat dimana pembelajaran

yang dulunya bersifat teacher centered atau berpusat pada guru kini berubah menjadi

pembelajaran yang berpusat pada peserta didik atau student centered. Seperti yang

diungkapkan Harsanto (2007:16) bahwa proses pembelajaran yang baik dirancang

oleh siswa, dari siswa dan untuk siswa (student centered). Jika dahulu guru lebih

banyak menuangkan apa yang ada dalam pikirannya kepada siswa lewat metode

ceramah, sekarang sudah banyak metode interaktif yang dikembangkan untuk

memberikan pembelajaran yang lebih bermakna. Maka munculah alternatif-alternatif

mengajar bagi guru yang menuntut guru berkreasi menciptakan suatu pembelajaran

yang menyenangkan bagi siswanya. Hal itu sejalan dengan teori konstruktivisme

yang dikemukakan Vygotsky dalam Suparno (1997:48) yang menyatakan bahwa

“pengetahuan adalah hasil konstruksi manusia.” Manusia mengkonstruksi

pengetahuan mereka dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka.

Suatu pengetahuan dianggap benar apabila pengetahuan itu dapat berguna untuk

menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Namun

kenyataan dilapangan menunjukkan banyak kendala yang dihadapi guru khususnya

(23)

Kebanyakan guru memilih menggunakan strategi mengajar yang berpusat pada guru

(teacher centered) dimana kegiatan pembelajaran berpusat pada guru yang aktif dan

siswa cenderung pasif. Hal ini menyebabkan pembelajaran IPS dianggap

membosankan karena sebagian besar merupakan hapalan dan rangkaian teori-teori

yang hanya diterima mentah-mentah oleh siswa. Banyak siswa yang akhirnya hanya

sekedar hafal namun tidak mendalami makna dari apa yang dihafalkan. Akhirnya

siswa kebanyakan berpandangan bahwa pembelajaran IPS merupakan pembelajaran

yang monoton dan membosankan. Semakin lama pelajaran IPS akan dianggap

pelajaran membosankan sehingga siswa menganggap tidak ada pelajaran hidup atau

kegunaan yang dapat dipetik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bertolak dari 4 kompetensi yang harus dimiliki guru, maka seorang guru

memiliki tanggung jawab baik dari segi prestasi akademik siswa maupun membangun

karakter siswa agar dapat menjadi pribadi yang tangguh di masa depan. Sesuai

dengan tujuan pembelajaran IPS yang telah dikemukakan diatas, guru haruslah

mampu mengoptimalkan 4 kompetensinya dalam proses pembelajaran. Guru yang

baik mampu menciptakan pembelajaran bermakna bagi siswanya. Tentunya banyak

faktor yang menyebabkan pembelajaran menjadi lebih berrmakna, antara lain cara

atau gaya mengajar guru yang menyenangkan, media yang menarik bagi siswa,

maupun kesesuaian dalam menerapkan model pembelajaran.

Ada berbagai macam model pembelajaran yang dapat digunakan untuk

(24)

digunakan dalam pembelajaran IPS adalah model pembelajaran kooperatif. Sugiyanto

(2010:37) berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif adalah sistem

pengajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama

dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Sesuai dengan

namanya, pembelajaran ini mengedepankan pencapaian tujuan pembelajaran melalui

mekanisme kerjasama antar siswa. Model pembelajaran ini didasari konsep bahwa

siswa akan lebih mudah memahami sesuatu apabila saling berdiskusi atau bertukar

pendapat dengan temannya. Siswa melalui kegiatan diskusi mampu mengasah

kemampuan berpikir dan memecahkan masalah khususnya dalam mata pelajaran IPS

yang terkait dengan permasalahan kehidupan sehari-hari. Model pembelajaran yang

mengarahkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu

sama lain dalam memecahkan persoalan pembelajaran ini memiliki banyak macam

atau tipe. Salah satu tipe yang bisa di gunakan adalah tipe jigsaw.

Beberapa penelitian terdahulu tentang pembelajaran kooperatif tipe tipe jigsaw

menjelaskan bahwa setiap anggota memiliki peran sehingga setiap anggota kelompok

akan bertanggung jawab pada tugas-tugas yang dibebankan kepadanya lalu siswa

berbagi pengetahuan dan informasi dengan teman-temannya yang lain. Penerapan

model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menempatkan siswa dalam

kelompok-kelompok sejumlah 4-5 orang siswa yang heterogen baik dari jenis kelamin,

kemampuan berpikir, latar belakang ekonomi dan lain sebagainya. Hal ini bertujuan

(25)

siswa tidak hanya belajar dari buku saja melainkan melalui teman-temannya. Banyak

penelitian terdahulu yang membahas mengenai penggunaan model pembelajaran

kooperatif khususnya tipe jigsaw.

Penelitian yang diadakan Mustamiin (2013:3) melihat bahwa pembelajaran IPS

masih banyak menggunakan model pembelajaran konvensional sehingga kurang

meningkatkan motivasi berprestasi siswa. kemudian penelitian ini melihat bahwa

penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ternyata terdapat perbedaan

motivasi dan hasil belajar siswa yang signifikan antara kelompok siswa yang

menggunakan model pembelajaran konvensional dan kelompok siswa yang

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Motivasi dan hasil belajar

siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ternyata lebih

tinggi daripada siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Tidak

berbeda jauh dengan penelitian yang dilakukan Gusti Bagus Wacika (2013:11) yang

meneliti tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil

belajar IPS ditinjau dari sikap sosial dalam pembelajaran IPS. Kesimpulan dari

penelitian ini kurang lebih juga sama yaitu terdapat pengaruh hasil belajar IPS yang

signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model

pembelajaran konvensional.

Berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah ada, kebanyakan peneliti memilih

(26)

sebut tipe jigsaw I. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw di bagi menjadi tiga

tipe yaitu tipe jigsaw I, tipe Jigsaw II, dan tipe Jigsaw III. Berdasarkan pengamatan,

penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II dengan berbagai macam

kekhasannya masih jarang ditemui di sekolah-sekolah dasar. Oleh karena itu peneliti

tertarik untuk melihat perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV SD antara kelas

atas penerapan model pembelajaran kooperatif khususnya tipe Jigsaw II dan kelas

yang tidak menerapkannya. Berdasarkan permasalahan pembelajaran IPS yang telah

dipaparkan diatas dan diperkuat dengan penelitian-penelitian yang terdahulu maka

peneliti tertarik mengangkat topik mengenai “ Perbedaan Prestasi Belajar IPS Siswa

Kelas IV SD atas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw II.”

1.2 Pembatasan Masalah

Peneliti membatasi penelitian ini pada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas

IV SD atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II dalam mata

pelajaran IPS kelas IV semester 2 kompetensi dasar 2.1 mengenai mengenal aktivitas

ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di daerahnya.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang diajukan dalam

penelitian ini yaitu apakah terdapat perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV SD

antara kelompok yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II dan

(27)

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar IPS

siswa kelas IV SD atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Teoritis

1.5.1.1Memberikan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai

pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II terhadap prestasi

belajar IPS.

1.5.1.2Memberikan sumbangan bagi dunia pendidikan mengenai model

pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

1.5.2 Manfaat Praktis

1.5.1.1Memberikan manfaat bagi orang tua maupun pendidik dan pihak sekolah

mengenai pembelajaran kooperatif sehingga dapat memberikan dukungan positif

pada siswa.

1.5.2.2Memotivasi guru agar mampu memanfaatkan dengan maksimal model-model

(28)

9

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Belajar

2.1.1.1Pengertian Belajar

Belajar adalah kata yang sudah ada sejak dahulu dalam masyarakat.

Pengertian para ahli tentang belajar juga beragam tergantung dari bidang dan keahlian

masing-masing. Para penulis umumnya mendefinisikan belajar sebagai suatu

perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang relatif menetap sebagai hasil dari

sebuah pengalaman. Bahri (2011:13) mengartikan belajar sebagai serangkaian

kegiatan baik jiwa maupun raga yang bertujuan memperoleh perubahan tingkah laku

sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang menyangkut tiga

ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor maka dari itu belajar adalah suatu

proses. Proses yang dimaksud adalah suatu kegiatan dan bukan merupakan suatu

hasil atau tujuan dimana belajar tidak hanya soal mengingat tapi juga pengalaman

(Hamalik, 200:27).

Belajar juga merupakan sebuah proses yang kompleks seperti yang

dikemukakan Siregar (2010:4) dimana terkandung beberapa aspek yaitu

bertambahnya jumlah pengetahuan, adanya kemampuan mengingat dan

mereproduksi, adanya penerapan pengetahuan, menyimpulkan makna, menafsirkan

dan mengaitkannya dengan realitas, serta adanya perubahan sebagai pribadi.

(29)

seperti yang diungkapkan Hamalik (200:28) yang menyatakan bahwa belajar adalah

memperoleh pengetahuan serta latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis.

Seperti yang dikemukakan diatas, pengertian belajar lebih tertuju pada proses dan

bukan pada hasil semata. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Suyono dan

Hariyanto (2011:9) tentang belajar merupakan suatu aktivitas atau suatu proses untuk

mendapatkan pengetahuan, meningkatkan keterampilan memperbaiki perilaku, sikap,

dan mengokohkan kepribadian. Berdasarkan berbagai perspektif atau pandangan para

ahli mengenai pengertian belajar maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu

aktivitas mental yang berlangsung melalui interaksi dengan lingkungan sehingga

menghasilkan perubahan. Aktivitas mental yang dialami merupakan suatu proses

untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku,

sikap, dan mengokohkan keprobadian.

Seperti yang telah dijelaskan bahwa belajar mengakibatkan perubahan terhadap

tingkah laku maka beberapa perubahan yang terjadi dalam belajar diantaranya

perubahan yang terjadi secara sadar, perubahan dalam belajar yang bersifat

fungsional, perubahan dalam belajar yang bersifat positif dan aktif, perubahan dalam

belajar bukan bersifat sementara, perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah, dan

perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku (Bahri, 2002:15). Perubahan yang

terjadi secara sadar maksudnya adalah setiap individu menyadari bahwa telah terjadi

perubahan dalam dirinya entah itu pengetahuan yang bertambah, keterampilan yang

bertambah ataupun kecakapan yang bertambah. Siregar (2011: 5) menyatakan bahwa

(30)

(psikomotor), maupun nilai dan sikap (afektif). Perubahan dalam belajar juga bersifat

fungsional maksudnya perubahan terjadi terus menerus dalam diri individu, tidak

berlangsung sesaat saja melainkan menetap dan dapat disimpan. Selanjutnya

perubahan dalam belajar juga bersifat positif dan aktif dimana perubahan tersebut

akan tertuju pada sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Maka dari itu perubahan

dalam belajar tidak terjadi begitu saja melainkan melalui usaha dan interaksi yang

baik dengan lingkungan dan tidak semata-mata dikarenakan pertumbuhan fisik atau

kedewasaan, kelelahan ataupun sakit. Perubahan dalam belajar akan bersifat menetap

atau permanen dimana tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat

menetap. Perubahan tingkah laku ini juga terjadi karena adanya tujuan yang dicapai.

Hal tersebut tumbuh dari motivasi individu yang berkelanjutan yang memiliki tujuan

dan merupakan suatu kebutuhan (Hamalik, 2003:31). Perubahan dalam belajar akan

mencakup seluruh aspek tingkah laku dimana jika seseorang belajar sesuatu maka ia

akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh baik dalam hal sikap

kebiasaan, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.

2.1.1.2Prestasi Belajar

Prestasi belajar merupakan bagian dari belajar itu sendiri dimana belajar

merupakan suatu proses dan hasil dari proses tersebut adalah prestasi belajar.

Menurut Arifin (2009:12) prestasi belajar berbeda dengan hasil belajar dimana

prestasi belajar berhubungan dengan aspek pengetahuan sedangkan hasil belajar

(31)

prestasi belajar adalah kemampuan, keterampilan serta sikap seseorang dalam

menyelesaikan masalah dalam bidang pendidikan. Hal tersebut sejalan dengan

pendapat Winkel (dalam Hartanto, 2011:9) tentang prestasi belajar yaitu suatu bukti

dari keberhasilan siswa dalam belajar sesuai dengan bobot yang dicapainya. Masidjo

(dalam Wahyu, 2010:8) mengemukakan bahwa prestasi adalah hasil dari proses

belajar yang memiliki kekhasan dan dilakukan dengan sengaja sebagai hasil dari

pengukuran proses belajar. Pengukuran proses pembelajaran tersebut dilaksanakan

dalam suatu tes evaluasi hasil belajar. Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat

disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai siswa berdasarkan

kemampuan siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang mengakibatkan

perubahan dari individu sebagai hasil dari apa yang telah dipelajari yang merupakan

pengalaman yang bermakna.

2.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II

2.1.2.1Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Adanya model pembelajaran kooperatif didasari falsafah yang menekankan

bahwa manusia adalah mahkluk sosial. Seperti yang diutarakan Lie (2002:28) dimana

kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kelangsungan makhluk

hidup. Slavin (2005) menyatakan bahwa belajar kooperatif adalah kegiatan belajar

siswa bersama, saling menyumbangkan pikiran, dan memiliki tanggung jawab dalam

pencapaian hasil belajar baik secara individu maupun kelompok. Belajar kooperatif

(32)

Trianto (2009:56) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan

kegiatan belajar dimana siswa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil yang

terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat namun heterogen baik dari segi

kemampuan, jenis kelamin, suku atau ras, dan diharapkan satu sama lain dapat saling

membantu dan melengkapi. Artzt dan Newman (dalam Trianto, 2009) menyatakan

bahawa dalam belajar kooperatif siswa melakukan kerja sama sebagai satu kelompok

atau satu tim dan menyelesaikan tugas-tugas kelompok dan memiliki tujuan yang

sama.

Pembelajaran kooperatif bergantung pada efektivitas kelompok-kolompok

siswa tersebut. Dalam pembelajaran ini guru diharapkan mampu membentuk

kelompok-kelompok kooperatif dengan berhati-hati agar semua anggota dapat

bekerjasama untuk memaksimalkan kemampuannya sendiri dan juga teman-teman

satu kelompok. Singkatnya, model pembelajaran kooperatif mengacu pada model

pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk bekerjasama dalam kelompok kecil dan

saling membantu dalam belajar. Pembelajaran kooperatif berlandaskan teori

konstruktivisme dimana pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih

mudah memahami sesuatu yang sulit apabila mereka saling berbagi dan berdiskusi

dengan temannya. Melalui pembelajaran kooperatif siswa belajar

keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerjasama dengan baik di dalam kelompoknya.

Keterampilan-keterampilan tersebut misalnya menjadi pendengar yang aktif dan

(33)

2.1.2.2Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Menurut Ibrahim (2000) model pembelajaran kooperatif memiliki tiga tujuan

pembelajaran yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan

individu,dan pengembangan keterampilan sosial. Pokok utama dari pembelajaran

kooperatif adalah siswa bekerja sama untuk belajar dan bertanggung jawab pada

kemajuan belajar temannya. Belajar kooperatif menekankan pada tujuan dan

kesuksesan kelompok bukan hanya individu sehingga hanya dapat dicapai apabila

semua anggota kelompok dapat menguasai materi dan mencapai tujuan. Johnson

(dalam Trianto, 2009: 57) menyatakan bahwa tujuan pokok dari belajar kooperatif

adalah memaksimalkan belajar siswa untuk meningkatkan prestasi terutama dalam

bidang akademik serta pemahaman pengetahuan baik secara individu maupun

kelompok. Selain itu dalam belajar kooperatif siswa dapat belajar memperbaiki

hubungan antar para siswa dengan latar belakang berbeda dan mampu lebih mengenal

dan saling menghargai satu sama lain.

2.1.2.3Prinsip Pembelajaran Kooperatif

Menurut Roger dan David Johnson (dalam Anita Lie, 2010:31) terdapat lima

unsur yang menjadi prinsip model pembelajaran kooperatif untuk mencapai hasil

yang maksimal. Lima unsur tersebut adalah saling ketergantungan positif, tanggung

jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses

kelompok. Unsur pertama yaitu mengenai saling ketergantungan positif adalah

(34)

anggota dalam kelompok. Maka dari itu setiap anggota kelompok merasa terikat dan

memiliki ketergantungan positif. Unsur selanjutnya adalah tanggung jawab

perseorangan yaitu setiap anggota memiliki tanggung jawab untuk menguasai materi

sebab keberhasilan kelompok juga ditentukan dari seberapa besar sumbangan yang

diberikan setiap individunya. Tatap muka adalah unsur model pembelajaran

kooperatif selanjutnya dimana dalam belajar kelompok setiap individu harus

memiliki kesempatan bertemu atau bertatap muka dan melakukan diskusi.

Selanjutnya adalah komunikasi antar anggota dimana setiap individu akan saling

bertatap muka maka keterampilan berkomunikasi sangatlah penting. Unsur terakhir

adalah evaluasi proses kelompok untuk melihat sejauh mana keberhasilan belajar

dalam kelompok melalui proses kerja kelompok.

2.1.2.4Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II

1. Definisi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II

Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif adalah jigsaw. Pola cara kerja

tipe jigsaw adalah zigzag (seperti gergaji) dimana siswa melakukan suatu kegiatan

belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain. Secara umum tipe jigsaw ini

mengelompokkan siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 6 orang

yamg heterogen, saling bekerjasama, ketergantungan positif, serta bertanggung

jawab. Lie (2010: 69) menjelaskan bahwa teknik jigsaw biasa digunakan dengan

mengkombinasikan keterampilan membaca, menulis, mendengarkan, ataupun

(35)

seperti Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Matematika, Agama, dan

Bahasa. Dalam teknik jigsaw guru harus memperhatikan karakteristik siswa dan

menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna. Selain itu dengan kerja kelompok

siswa mempunyai banyak kesempatan untuk memperoleh informaasi dan

meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Menurut Mel Siberman (2001: 60) teknik

jigsaw adalah teknik yang memiliki kesamaan dengan teknik pertukaran dari

kelompok ke kelompok dan yang membedakan adalah setiap siswa ditugaskan

menguasai materi dan mengajarkan materi tersebut. Kemudian setiap peserta didik

mengkombinasikan materi yang telah dikuasai dengan materi yang dipelajari dari

peserta didik lainnya. Tipe jigsaw ini dikembangkan oleh Elliot Aronson dan

diadaptasi oleh Slavin.

Gambaran umum kegiatan pembelajaran menggunakan teknik jigsaw adalah

langkah pertama siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang setiap kelompoknya

beranggotakan 5-6 orang. Materi yang diberikan kepada siswa berupa teks yang telah

dibagi-bagi menjadi beberapa subbab. Kemudian setiap anggota kelompok ditugaskan

membaca subbab dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya. Anggota kelompok

lain yang mempelajari subbab yang sama kemudian bertemu dan membentuk

kelompok yang disebut kelompok ahli dan mendiskusikannya. Selanjutnya setiap

anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan bertugas mengajar

(36)

Teknik jigsaw memiliki beberapa tipe yaitu tipe jigsaw I, Jigsaw II, dan

Jigsaw III. Pada penelitian ini tipe jigsaw yang akan dibahas adalah tipe Jigsaw II.

Jigsaw tipe II yang dikembangkan oleh Slavin memiliki sedikit perbedaan. Menurut

Slavin ( 2008:237) Jigsaw II dapat digunakan apabila materi yang akan dibahas

adalah yang berbentuk narasi tertulis. Teknik jigsaw ini dianggap paling sesuai

dengan subjek-subjek seperti pelajaran ilmu sosial, literatur, atau ilmu pengetahuan

ilmiah yang tujuan pembelajarannya lebih menekankan pada penguasaan konsep

daripada penguasaan kemampuan. Sumber belajar dalam Jigsaw II ini biasanya

berupa sebuah bab, cerita, biografi ataupun materi-materi narasi atau deskripsi serupa.

Secara umum siswa dikelompokkan secara heterogen dalam segi kemampuan.

Hal yang paling mendasari perbedaan tipe jigsawI dan II adalah jika jigsaw I

awalnya siswa hanya belajar konsep tertentu yang akan menjadi spesialisasinya

sementara konsep-konsep yang lainnya ia dapatkan melalui diskusi dengan teman

kelompoknya. Namun pada Jigsaw II setiap siswa memperoleh kesempatan belajar

secara keseluruhan sebelum ia belajar spesialisasinya untuk mejadi ahli atau expert.

Hal tersebut bertujuan untuk memperoleh gambaran umum dan menyeluruh

mengenai konsep yang akan dibicarakan. Setelah siswa melalui proses belajar maka

diakhir kegiatan, para siswa akan mengikuti kuis yang akan menjadi skor tim.

Kontribusi setiap individu sangat berpengaruh dalam keberhasilan kelompok

sehingga kelompok yang memperoleh skor tertinggi akan mendapatkan reward dalam

(37)

termotivasi untuk dapat mempelajari materi dengan baik dan mau bekerja keras

dalam kelompok ahli supaya dapat membantu kelompoknya melakukan tugas dengan

baik. Setiap siswa bergantung pada teman satu timnya untuk mendapatkan informasi

yang diperlukan supaya saat penilaian mendapatkan hasil yang baik.

2. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II

Trianto (2009:74) mengemukakan langkah-langkah dalam pembelajaran

Jigsaw II menjadi enam langkah yaitu orientasi, pengelompokan, pembentukan dan

pembinaan kelompok expert, diskusi kelompok ahli dalam grup, tes (penilaian), dan

pengakuan kelompok.

Langkah pertama adalah orientasi dimana guru menyampaikan tujuan dari

pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Guru juga memberikan penekanan

tentang manfaat dari belajar menggunakan teknik Jigsaw II. Selain itu pada langkah

orientasi ini guru juga harus memotivasi siswa agar percaya diri, mau kritis, bisa

bekerjasama dan menghargai teman dalam kelompok. Seluruh peserta didik

kemudian diminta mempelajari konsep secara keseluruhan untuk mendapat gambaran

menyeluruh tentang konsep yang akan dipelajari. Hal ini bisa dilakukan dirumah

untuk menjadi tugas siswa, bisa pula dilakukan disekolah.

Langkah kedua adalah pengelompokan siswa dengan memperhatikan

kemampuan siswa agar setiap kelompok heterogen dimana dalam satu kelompok

(38)

saja dalam satu kelas akan di bagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok A,B,C,D,dan

E dimana setiap kelompok berjumlah 4 siswa (apabila jumlah siswa dalam satu kelas

ada 20). Pembagian kelompok yang dilakukan secara heterogen dilakukan dengan

cara memberi indeks 1 pada siswa dalam kelompok yang sangat baik, indeks 2 untuk

kelompok baik, indeks 3 untuk kelompok sedang, dan indeks 4 untuk kelompok

rendah. Pemberian indeks tersebut didasarkan pada rangking atas kemampuan siswa

yang sudah guru buat sebelumnya.Berikut adalah gambaran pengelompokan siswa:

Grup A (A1, A2, A3, A4)

Grup B (B1, B2, B3, B4)

Grup C (C1, C2, C3, C4)

Grup D (D1, D2, D3, D4)

Grup E (E1, E2, E3, E4)

Selanjutnya kelompok tersebut dipecah menjadi kelompok expert yang

merupakan langkah ke tiga dalam teknik Jigsaw II. Kelompok expert atau kelompok

ahli merupakan pecahan dari kelompok asal yang akan mempelajari materi yang akan

(39)

Kelompok 1 {A1, B1, C1, D1, E1}

Kelompok 2 {A2, B2, C2, D2, E2}

Kelompok 3 {A3, B3, C3, D3, E3}

Kelompok 4 {A4, B4, C4, D4, E4}

Tentunya setiap kelompok diharapkan bisa belajar topik yang didapat dengan

sebaik mungkin sebelum kembali ke kelompok asal sebagai tim ahli dan peran

pendidik sangat penting pada tahap ini. Dalam diskusi kelompok ahli, guru menunjuk

seorang pemimpin diskusi pada masing-masing kelompok. Pemimpin diskusi tidaklah

harus berasal dari siswa yang memiliki kemampuan sangat baik tetapi semua siswa

mendapatkan kesempatan yang sama. Tugas pemimpin diskusi adalah memoderatori

diskusi, menunjuk anggota kelompok yang mengangkat tangan dan berusaha untuk

melihat bahwa setiap anggota telah berpartisipasi dengan baik. Berikan waktu

secukupnya untuk kelompok ahli mendiskusikan topik-topik mereka dan dalam

diskusi, mereka harus bisa saling bertukar informasi serta harus mencatat semua poin

penting yang telah didiskusikan. Guru harus mengamati jalannya diskusi dan

menyempatkan diri mendatangi setiap kelompok untuk membantu menjawab

(40)

Langkah selanjutnya adalah diskusi kelompok ahli dalam grup dimana para

siswa harus kembali dari diskusi kelompok ahli mereka dan bersiap mengajarkan

topik mereka kepada teman-teman satu timnya. Guru kemudian mempersilakan

anggota kelompok untuk mempresentasikan keahliannya kepada kelompoknya

masing-masing. Dalam tahap ini diharapkan terjadi proses sharing pengetahuan antar

siswa. Guru harus menekankan pada siswa bahwa mereka memiliki tanggung jawab

untuk mengajarkan teman-temannya dengan baik dan juga menjadi pendengar yang

baik . setiap anggota harus benar-benar menguasai konsep yang dipelajari sehingga

diskusi tidak akan diakhiri apabila ada siswa yang belum paham atau belum

menguasai konsep tersebut. Perlu diperhatikan juga bahwa pembicaraan dalam

diskusi harus dilakukan secara pelan sehingga tidak mengganggu grup lain. Apabila

diskusi sudah selesai makan dapat diakhiri dengan “merayakannya” agar siswa

merasa memperoleh kepuasan. Kegiatan perayaan yang dimaksud bisa

bermacam-macam tergantung situasi kelas misalnya saja dengan bernyanyi bersama.

Kemudian berlanjut ke tahap berikutnya yaitu tes atau penilaian yang

dilakukan secara individu dalam bentuk tes tertulis. Isi dari tes tersebut harus memuat

seluruh konsep yang didiskusikan. Siswa tidak diperbolehkan bekerjasama dalam tes

ini dan jika mungkin setiap tempat duduk diberi jarak. Setelah dilakukan tes atau

penilaian maka pada tahap selanjutnya setiap individu atau mendapatkan skor

(41)

melainkan pada seberapa jauh skor melampaui skor rata-rata sebelumnya. Setiap

siswa memberikan kontribusi dalam menyumbangkan skor dalam kelompoknya.

3. Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II apabila di bandingkan dengan tipe

jigsaw terdahulu atau tipe jigsaw I yang yang diadaptasi dari Elliot dan Aronson dan

dimodifikasi oleh Slavin menjadi lebih praktis dan mudah. Dalam jigsaw I para siswa

membaca bagian-bagian yang berbeda dengan yang dibaca oleh teman satu timnya.

Hal ini dimaksudkan dengan tujuan agar para ahli menguasai informasi yang unik,

sehingga membuat tim menghargai kontribusi anggotanya. Akan tetapi terkadang hal

tersebut tidak efektif dikarenakan siswa tidak memiliki gambaran umum tentang

keseluruhan materi yang dipelajarinya. Menurut Slavin (2008:245) kelebihan dari

Jigsaw II adalah seluruh siswa membaca semua materi terlebih dahulu sehingga akan

membuat konsep-konsep yang telah disatukan menjadi lebih mudah untuk dipahami.

Selain itu jigsaw I menuntut siswa untuk menuliskan kembali tiap bagian agar dapat

dapat memahami materi dan hal tersebut merupakan kebalikan dari Jigsaw II.

Kelebihan lain dari penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II adalah

selalu ada perayaan disetiap kegiatannya. Perayaan tersebut dimaksudkan sebagai

(42)

2.1.3 Pembelajaran IPS menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II

Mata pelajaran IPS memiliki cakupan materi yang luas dan pada umumnya

berupa sekumpulan teori maupun permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam

kehidupan sehari-hari. Seringkali hal ini menjadi kendala bagi guru untuk

memberikan pengajaran yang efektif dan dapat dipahami siswa karena cakupannya

yang luas. Salah satu model pembelajaran yang dapat dimanfaatkan guru adalah

model pembelajaran kooperatif karena model pembelajaran ini memberikan

kesempatan bagi siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan

ide-ide mereka.

Model pembelajaran kooperatif memungkinkan komunikasi banyak arah yang

memungkinkan terjadinya aktivitas dan kreativitas. Model pembelajaran ini peneliti

terapkan dalam pembelajaran di kelas IV SD Kanisius Sorowajan untuk melihat

apakah terdapat perbedaan perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV SD dengan

penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Peneliti menerapkan model

pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II pada matapelajaran IPS pada materi mengenal

aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di

daerahnya. Materi ini memiliki cakupan yang luas dan berupa narasi sehingga model

pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II ini sesuai untuk digunakan pada materi ini.

Adapun gambaran langkah-langkah kegiatan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II

menurut Trianto (2009:74) yang peneliti terapkan dalam kelas atau kelompok

(43)

2.1.3.1Orientasi

Langkah pertama adalah orientasi dimana guru menyampaikan tujuan dari

pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa yaitu mengenai mengenal aktivitas

ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di daerahnya.

Guru memberikan pemahaman kepada siswa tentang penggunaan model

pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II ini. Kemudian guru memberi motivasi kepada

siswa sebelum memulai kegiatan pembelajaran. Sebelum masuk kedalam kegiatan

kelompok, seluruh siswa diberi kesempatan untuk mempelajari konsep secara

keseluruhan agar memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai materi yang ia

pelajari.

2.1.3.2Pengelompokan

Siswa dikelompokkan berdasarkan taraf kemampuannya dan cakupan materi

yang dipelajari. Jumlah siswa pada kelompok atau kelas eksperimen ada 28 siswa dan

Kelas menjadi 6 kelompok berdasarkan materi yang telah di bagi. Adapun pembagian

materi pada pertemuan pertama adalah sebagai berikut : (1) Sumber daya alam yang

dapat diperbarui, (2) sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, (3) persebaran

sumber daya alam di Indonesia berupa bahan galian logam, (4) persebaran sumber

daya alam di Indonesia yang berupa bahan galian non logam, (5) persebaran sumber

(44)

2.1.3.3Pembentukan dan pembinaan kelompok ahli (expert)

Siswa membentuk kelompok ahli (expert) dengan format sebagai berikut :

Ahli 1 Ahli 2 Ahli 3

Ahli 4 Ahli 5

Siswa kemudian berdiskusi dalam kelompok ahli dengan bagian materi yang

menjadi tugas dari masing-masing anggota kelompok.

2.1.3.4Diskusi (pemaparan) kelompok ahli dalam grup

Siswa dalam kelompok ahli kemudian kembali ke kelompok asal dan

mengkomunikasikan hasil diskusi mereka dalam kelompok ahli secara bergantian.

Siswa harus mampu menjelaskan bagian materinya dengan baik sehingga anggota

kelompok yang lain dapat memahami materi tersebut.

2.1.3.5Tes (penilaian)

Pada bagian ini guru mengadakan tanya jawab dengan siswa mengenai hal-hal

yang belum dipahami siswa. Guru memberikan penguatan kepada siswa, meluruskan

kesalahpahaman, kemudian bersama-sama siswa menyimpulkan materi yang mereka

1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3

(45)

pelajari hari ini. Guru kemudian membagikan lembar evaluasi yang dikerjakan secara

individu dan memberikan penilaian atau pencapaian skor setiap kelompok.

2.1.3.6Pengakuan kelompok

Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang mendapat skor

tertinggi berupa poin yang akan ditotal dan dikumpulkan pada pertemuan terakhir

untuk ditukarkan dengan hadiah. Skor tersebut didapatkan evaluasi individu maupu

peningkatan hasil dari kelompok.

Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua dan pertemuan ketiga

memiliki langkah-langkah yang hampir sama dengan pertemuan pertama. Hal yang

membedakan adalah materi yang dibahas dan kegiatan perayaan atau pemberian

hadiah yang dilakukan pada pertemuan terakhir atau pertemuan ketiga. Penerapan

model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II memungkinkan siswa untuk mengenal

materi dan memahami kosep materi secara keseluruhan. Selain itu adanya diskusi

dalam kelompok dan sistem kompetisi antar kelompok tentunya memicu siswa untuk

dapat mencapai hasil yang lebih baik sehingga meningkatkan prestasi belajar siswa.

2.1.4 Hakekat Pembelajaran IPS di SD

2.1.4.1Pengertian IPS

IPS merupakan bidang ilmu yang mendalami tentang keadaan sosial yang

(46)

sekarang dan masa depan. Ilmu Pengetahuan Sosial berkaitan dengan manusia yang

merupakan makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain untuk bertahan hidup.

Supardi (2011:21) menyatakan ilmu sosial pada dasarnya merupakan ilmu yang

mempelajari perilaku dan aktivitas manusia dalam kehidupan bersama. Obyek dari

ilmu sosial adalah manusia dan hubungannya dengan lingkungannya. Ilmu sosial

mengkaji perilaku manusia yang bermacam-macam dan semua perilaku tersebut

merupakan gejala sosial yang menjadi wilayah kajian utama ilmu-ilmu sosial. Ralf

Dahrendorf (dalam Supardan, 2008: 30) menjelaskan bahwa ilmu sosial merupakan

suatu konsep yang ambisius tentang seperangkat disiplin akademik yang memberikan

perhatian pada aspek kemasyarakatan. IPS merupakan mata pelajaran yang

memadukan konsep-konsep dasar dari berbagai ilmu sosial diantaranya ilmu geografi,

sejarah, sosiologi, ekonomi, politik dan pemerintahan, antropologi, serta psikologi.

IPS sendiri diartikan sebagai kumpulan fakta dan peristiwa yang berkaitan dengan

perilaku manusia untuk membangun dirinya, masyarakat, bangsa, dan lingkungannya

yang didasarkan pada pengalaman masa lalu yang menjadi pelajaran untuk masa kini,

dan antisipasi untuk masa yang akan mendatang. Secara umum ilmu pengetahuan

sosial berhubungan dengan kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhannya dalam

rangka mempertahankan kesejahteraan diri dan juga sesama dalam kehidupan

(47)

2.1.4.2Tujuan Pembelajaran IPS di SD

Tujuan mata pelajaran IPS di SD sebagaimana dijabarkan dalam Standar

Kompetensi Kurikulum 2004 antara lain:

1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan

lingkungannya.

2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,

inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.

3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

4. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam

masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

2.1.4.3Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Dalam penelitian ini akan dibahas materi kelas IV semester 2 mengenai

aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dengan standar

kompetensi dan kompetensi dasar sebagai berikut:

1. Standar Kompetensi

Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di

lingkungan kabupaten/kota dan provinsi

2. Kompetensi Dasar

Mengenal aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan

(48)

2.1.4.4Materi Ajar

Materi yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah aktivitas ekonomi yang

berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain didaerahnya.

1. Pengertian Sumber Daya Alam

Sadiman (2008:29) menjelaskan bahwa sumber daya alam merupakan

kekayaan alam di suatu tempat yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan

hidup. Berbagai jenis tumbuhan, hewan dan barang tambang termasuk sumber

daya alam. Setiap daerah memiliki sumber daya alam.Sumber daya alam begitu

banyak jenisnya. Semuanya bermanfaat bagi manusia. Secara umum sumber daya

alam dibagi menjadi dua, yaitu sumber daya alam yang dapat diperbarui dan

sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui:

2. Sumber Daya Alam yang Dapat Diperbarui

Sumber daya alam yang dapat diperbarui yaitu sumber daya alam yang dapat

dihasilkan kembali (dilestarikan) setelah kita menggunakannya. Contohnya

adalah berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Sumber daya alam yang selalu

tersedia setiap saat di alam juga termasuk sumber daya alam yang dapat

(49)

3. Sumber Daya Alam yang Tidak Dapat Diperbarui

Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui yaitu sumber daya alam yang

tidak dapat kita hasilkan kembali setelah kita menggunakannya. Sumber daya

alam yang tidak dapat diperbarui ada yang dapat dihasilkan kembali namun

membutuhkan waktu yang sangat lama. Sumber daya alam yang tidak dapat

diperbarui dapat dibedakan menjadi tiga, yakni sebagai berikut:

a. Sumber daya alam mineral logam

b. Sumber daya alam mineral bukan logam (batu-batuan)

c. Sumber daya energi

4. Pemanfaatan Sumber Daya Alam untuk Kegiatan Ekonomi

Semua sumber daya alam bermanfaat bagi manusia untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya. Kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup

dinamakan kegiatan ekonomi. Manusia melakukan berbagai jenis usaha dalam

memanfaatkan sumber daya alam. Sumber daya alam ada yang dapat

dimanfaatkan atau dikonsumsi secara langsung. Namun ada pula sumber daya

alam yang harus diolah terlebih dahulu. Maka dilakukanlah usaha pengolahan

atau produksi. Seperti usaha mengolah sawah dan kebun, usaha kerajinan dan

industri. Selain itu agar sumber daya alam dan hasil pengolahannya dapat tersebar

di berbagai tempat dilakukan upaya distribusi. Usaha ini dinamakan usaha

(50)

5. Bentuk Kegiatan Ekonomi

Bentuk-bentuk kegiatan ekonomi dalam memanfaatkan sumber daya alam

antara lain Pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kerajinan, perdagangan,

perindustrian, jasa, dan pertambangan.

6. Pengaruh Kondisi Alam Terhadap Kegiatan Ekonomi

Bentuk alam beserta sumber daya alam yang terdapat di dalamnya bepengaruh

terhadap mata pencaharian masyarakat. Misalnya desa yang berupa dataran

rendah yang tanahnya subur pada umumnya penduduknya bermata pencarian

sebagai petani. Penduduk yang tinggal di pegunungan biasanya berkebun tanaman

keras ataupun sayuran. Sedangkan penduduk yang tinggal di daerah pantai maka

kebanyakan bermata pencaharian sebagai nelayan Penduduk yang tinggal di

wilayah yang memiliki sumber bahan tambang, kebanyakan juga terlibat di

proyek penambangan.

2.2 Kajian Penelitian Relevan

Pada bagian ini akan di paparkan beberapa hasil penelitian yang relevan.

2.2.2 Penelitian yang dilakukan Olyn Suyanti Darmada, Ngurah Semara Putra, dan

I Gede Meter dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Learning

Tipe Jigsaw terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV di SDN 1 dan 2 Rendang “

(51)

model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan siswa yang mengikuti

pembelajaran konvensional. Penelitian eksperimen semu ini mengambil sampel

penelitian sebanyak 88 orang dari seluruh siswa kelas IV SD Negeri 1 dan SD Negeri

2 Rendang di Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem. Hasil dari penelitian ini

menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw berbeda

dengan siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. Selain dilihat dari

rata-rata hitung, ternyata kelompok eksperimen (siswa yang mengikuti model

pembelajaran kooperatif tipe jigsaw) memiliki nilai rata-rata lebih tinggi dari pada

kelompok kontrol (siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional). Kesimpulan

dari penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar IPS siswa

yang dibuktikan dengan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 2 Rendang selaku

kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

lebih tinggi daripada hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Rendang selaku

kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional.

2.2.2 Penelitian yang dilakukan oleh I Gusti Bagus Wacika, Nyoman Dantes, dan I

Wayan Lasmawan dengan judul “ Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe

Jigsaw terhadap Hasil Belajar IPS ditinjau dari Sikap Sosial dalam Pembelajaran IPS

pada Siswa Kelas V di SDN Panjer” bertujuan menguji pengaruh model pembelajaran

kooperatif tipe jigsaw terhadap hasil belajar IPS ditinjau dari sikap sosial dalam

(52)

desain eksperimen ini memiliki tiga variabel yaitu model pembelajaran kooperatif

jigsaw sebagai variabel bebas, sikap sosial sebagai variabel moderator, dan hasil

belajar IPS sebagai variabel terikat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa

terdapat perbedaan hasil belajar IPS antara siswa yang mengikuti model pembelajaran

kooperatif jigsaw dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran kovensional.

Selain itu hasil belajar IPS antara siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif

jigsaw lebih tinggi dari siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model

konvensional setelah sikap sosial dikendalikan. Kesimpulan yang terakhir adalah

terdapat kontribusi sikap sosial terhadap hasil belajar IPS siswa baik yang mengikuti

pembelajaran kooperatif jigsaw maupun model pembelajaran konvensional.

2.2.3 Penelitian M. Zainal Mustamiin, I Wayan Lasmawan, dan I Nengah Bawa

Atmaja yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Model Cooperative Learning Tipe

Jigsaw terhadap Hasil Belajar IPS ditinjau dari Motivasi Berprestasi” bertujuan untuk

mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

terhadap hasil belajar IPS dan motivasi berprestasi. Penelitian yang melibatkan

sampel sebanyak 80 orang siswa ini mendapatkan hasil analisis sebagai berikut.

Pertama, terdapat perbedaan hasil belajar IPS antara kelompok siswa yang mengikuti

model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan kelompok yang mengikuti tipe

konvensional. Kedua, terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dengan

motivasi berprestasi terhadap hasil belajar IPS. Ketiga, terdapat perbedaan hasil

(53)

dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional pada siswa yang

memiliki motivasi berprestasi tinggi. Keempat, terdapat perbedaan hasil belajar IPS

antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dengan siswa

yang mengikuti model konvensional pada siswa yang memiliki motivasi berprestasi

rendah.

2.2.4 Penelitian Rochmad Noor Haryanta yang berjudul “Perbedaan Prestasi Belajar

IPS siswa atas Penerapan Metode Kooperatif Tipe Jigsaw II”. Penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui apakah ada perbedaan dalam hal prestasi belajar IPS antara

kelompok yang menggunakan metode kooperatif tipe Jigsaw II dan yang tidak

menggunakan Jigsaw II. Penelitian ini melibatkan 29 orang sampel kelompok

eksperimen dan 27 sampel kelompok kontrol. Hasil dari penelitian ini menunjukkan

bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam hal prestasi belajar IPS antara kelompok

yang menggunakan metode kooperatif tipe Jigsaw II dan yang tidak mengunakan

metode kooperatif tipe Jigsaw II. Hal tersebut dilihat dari harga sig. (2-tailed) adalah

0,000 atau < 0,05, maka Ho ditolak dan Hi diterima. Artinya terdapat perbedaan

antara skor posttest pada kelompok eksperimen dan pada kelompok kontrol. Dapat

dikatakan juga bahwa penggunaan metode kooperatif tipe Jigsaw II berpengaruh

positif terhadap prestasi belajar.

Hasil penelitian-penelitian diatas menunjukkan bahwa penggunaan model

Figur

Gambar 1. Literatur Map ..................................................................................
Gambar 1 Literatur Map . View in document p.18
Gambar 1. Literature map
Gambar 1 Literature map . View in document p.55
Gambar 2. Desain Penelitian (Tukiran Taniredja, 2011:56)
Gambar 2 Desain Penelitian Tukiran Taniredja 2011 56 . View in document p.59
Tabel 1. Jadwal Penelitian
Tabel 1 Jadwal Penelitian . View in document p.60
Tabel 2. Waktu Pengambilan Data
Tabel 2 Waktu Pengambilan Data . View in document p.61
Gambar 3. Pemetaan Variabel Penelitian (Sugiyono, 2009:61)
Gambar 3 Pemetaan Variabel Penelitian Sugiyono 2009 61 . View in document p.63
Tabel 3. Kisi-Kisi Instrument Tes
Tabel 3 Kisi Kisi Instrument Tes . View in document p.65
Tabel 4. Kriteria Interpretasi Skor (Riduwan, 2002: 12)
Tabel 4 Kriteria Interpretasi Skor Riduwan 2002 12 . View in document p.67
Tabel 5. Hasil uji validitas instrumen
Tabel 5 Hasil uji validitas instrumen . View in document p.69
Tabel 6. Reliabilitas (Masidjo, 2006: 209)
Tabel 6 Reliabilitas Masidjo 2006 209 . View in document p.70
Tabel 8. Pengumpulan Data Variabel Prestasi Belajar
Tabel 8 Pengumpulan Data Variabel Prestasi Belajar . View in document p.71
Tabel 9. Data Prestasi Belajar
Tabel 9 Data Prestasi Belajar . View in document p.78
Tabel 10.Data Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen
Tabel 10 Data Uji Normalitas Pretest Kelompok Eksperimen . View in document p.80
Tabel 11.Data Uji Normalitas Pretest Kelompok Kontrol
Tabel 11 Data Uji Normalitas Pretest Kelompok Kontrol . View in document p.81
Tabel 12.Data Uji Normalitas Posttest Kelompok Eksperimen
Tabel 12 Data Uji Normalitas Posttest Kelompok Eksperimen . View in document p.82
Tabel 13.Data Uji Normalitas Posttest Kelompok Kontrol
Tabel 13 Data Uji Normalitas Posttest Kelompok Kontrol . View in document p.83
Tabel 14. Perbandingan skor pretest
Tabel 14 Perbandingan skor pretest . View in document p.84
Tabel 15. Uji Beda Pretest
Tabel 15 Uji Beda Pretest . View in document p.85
Tabel 16. Perbandingan Rata-Rata Skor Posttest Kelompok Eksperimen dan
Tabel 16 Perbandingan Rata Rata Skor Posttest Kelompok Eksperimen dan . View in document p.87
Tabel 17. Rangkuman homogenitas pretest
Tabel 17 Rangkuman homogenitas pretest . View in document p.88
Gambar 8. Perbandingan skor pretest dan posttest antara
Gambar 8 Perbandingan skor pretest dan posttest antara . View in document p.89

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (215 Halaman)