• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM FILM “JOKOWI” Karya AZHAR KINOI LUBIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM FILM “JOKOWI” Karya AZHAR KINOI LUBIS"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM FILM “JOKOWI” Karya AZHAR KINOI LUBIS

SKRIPSI

OLEH

ANGGA JAELANI SUKHRON NIM: 210314151

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

(2)

ABSTRAK

Sukhron, Angga Jaelani. 2018. Nilai-nilai Pendidikan Karakter Pada Film Jokowi Karya Azhar Kinoi Lubis. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Ponorogo (IAIN) Ponorogo. Pembimbing: Kharisul Wathoni, M.Pd.I.

Kata kunci: Pendidikan Karakter, Kebribadian Islami, Film Jokowi

Film Jokowi adalah sebuah film yang disutradari oleh Azhar Kinoi Lubis, menceritakan tentang perjuangan hidup anak tukang kayu yang tinggal dipinggir bantaran sungai bengawan Solo. Film ini memiliki pendidikan yang disuguhkan kepada masa, salah satunya adalah pendidikan karakter. Degradasi moral yang terjadi pada remaja merupakan dampak dari kurangnya pemahaman dan penanaman pendidikan karakter sejak dini. Seorang pelajar yang harus mencerminkan watak dan kepribadian yang baik karena dipandang sebagai orang yang berilmu. Penelitian ini merelevansikan nilai pendidikan karakter pada film Jokowi dengan kepribadian Islami untuk membentuk individu yang baik.

Berangkat dari masalah di atas tujuan analisis ini adalah (1) untuk mendeskripsikan Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Film Jokowi. (2) untuk menjelaskan Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Film Jokowi serta Relevansinya dengan Pembentukan Kepribadian Islami Anak Didik.

Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research). Adapun teknik pengumpulan datan menggunakan literer atau dokumenter. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan teknik analisis isi (Content Analysis).

(3)
(4)
(5)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Membicarakan karakter merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Karakter adalah mustika hidup yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia tampa karakter adalah manusia yang sudah membinatang. Orang-orang yang berkarakter kuat dan baik secara indiviual maupun sosial ialah mereka yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik.1

Penguatan karakter dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang terjadi di Negara kita. Di akui atau tidak di akui saat ini terjadi krisis yang sangat nyata dan mengkhawatikan dalam masyarakat dengan melibatkan milik kita yang sangat berharga, yaitu anak-anak. Krisis itu antara lain berupa meningkatnya pergaulan seks bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, penculikan remaja, kebiasaan mencontek dan penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, pemerkosaan, perampasan, dan perusaan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial hingga saat ini belum bisa diatasi secara tuntas.2

Kondisi krisis dan degradasi moral seperti ini menandakan bahwa seluruh pengetahuan agama dan moral yang di dapatkannya di bangku sekolah ternyata tidak berdampak terhadap perubahan perilaku anak-anak dan remaja di zaman globalisasi pada saat ini.

1 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter (Jakarta: Prenada Media Grup, 2012), 1.

(6)

Padahal kita ketahui bahwa kesejahteraan suatu bangsa bermula dari karakter yang kuat warganya. Karakter itu sangatlah penting karena karakter itu lebih tinggi nilainya dari pada intelektualitas. Stabilitas kehidupan tergantung pada karakter yang dimilikinya, karena karakter itu mampu membuat orang bertahan, memiliki stamina untuk mereka berjuang dan mampu mengatasi ketidak beruntungannya secara bermakna.3 Karena itu, kita perlu membangun karakter yang kuat pada diri generasi muda bangsa ini agar dikemudian hari kesejateraan bisa dirasakan oleh bangsa ini.

Ada tiga ciri-ciri orang yang membunyai karakter yang kuat: Pertama, karakter kuat tersebut ditunjukan oleh banyaknya tenaga dan daya yang digunakan untuk menjalani pekerjaan yang positif menunjukan giatnya dalam menjalankan pekerjaan dan peran yang dilakukan. Kedua, orang yang mempunyai karakter kuat itu adalah orang yang tidak mudah putus asa, semangatnya berkobar terus, konsisten melakukan sesuatu usaha dan akan belajar untuk memperbaiki tindakan dan usahanya. Ketiga, orang yang berkarakter kuat itu menunjukan adanya sifat tidak mudah goyah atau dipengaruhi, teguh pendirian, punya kemauan yang teguh untuk mencapainya.4

Salah satu pemicu lemahnya karakter di bangsa ini adalah tentang masalah proses belajar mengajar, kalau dahulu lebih di tekankan melalui

3 Saptono, Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter (Jakarta: Erlangga, 2011), 16.

4 Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter Kontruksi Teoretik dan Praktik (Yogyakarta: Ar

(7)

bentuk kata-kata, sehingga menjerumus ke arah verbalisme, kemudian orang mulai berfikir ke arah diperlukannya alat bantu pelajaran yang bersifat audio visual, seperti gambar, slide, pita kaset, film, radio, dan televisi. Dengan media yang ada tersebut bisa dijadikan alat bantu untuk memudahkan dalam proses belajar mengajar.5 Salah satu produk yang dihasilkan oleh media elektronik adalah film. Film merupakan media komunikasi yang efektif dan kondusif serta mudah diterima oleh masyarakat. Film tidak hanya berisi hiburan semata melainkan juga memuat nilai-nilai pendidikan yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Nilai pendidikan dalam sebuah film jangan di artikan sebagaimana di bangku sekolah, namun nilai sebuah film di maksudkan bermakna sebuah pesan-pesan. Dengan demikian, penonton tidak merasa digurui. Hampir semua film itu memberitahu tentang sesuatu. Misalnya, seseorang yang dapat belajar bagaimana berteman, bertingkah laku, melalui film yang disajikan. Mengajarkan nilai-nilai pendidikan yang disampaikan melalui media film akan lebih mudah untuk dipahami oleh anak-anak dan remaja dari pada mengajarkan nilai pendidikan dengan media lain seperti ceramah, membaca buku atau menggunakan media yang lain. Karena di dalam film disajikan alur cerita yang bisa langsung dilihat oleh audien yang membuat cerita atau kisah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga itu menjadikan pelajaran bagi orang-orang yang menonton film. Selain itu film disajikan secara apik dengan

5

(8)

adanya unsur hiburan sehingga anak dan remaja tidak merasa bosan dan mereka bisa mengambil kesimpulan sendiri dari apa yang telah mereka lihat dalam film tersebut. Salah satu film yang sangat di antusiasi masyarakat pada

tahun 2013 adalah film “Jokowi”.

Film “Jokowi” berusaha memberikan warna pada perfilman di Indonesia. Film ini sangat relevan bagi bangsa Indonesia karena sebagai media yang di dalamnya banyak mengungkap pesan-pesan moral dan sosial, serta pendidikan karakter yang ditujukan kepada generasi muda agar semangat menggapai kehidupan yang lebih baik dan memiliki akhlak, moral dan budi pekerti yang baik. Film ini bercerita tentang masa kecil Joko Widodo, lahir di lingkungan keluarga yang bisa dibilang mempunyai ekonomi yang rata-rata rendah, di bantaran sungai bengawan Solo. Jokowi kecil sudah biasa hidup susah, bahkan harus rela pindah kesana-kemari ketika bapaknya tidak bisa melunasi uang kontrakan rumah. Hanya mengandalkan dari upah kerja menjadi seorang tukang kayu, bapaknya masih tetap bisa menyekolahkan anaknya dan Jokowi tak menyia-nyiakan kerja keras orang tuanya di sekolah ia anak yang berprestasi. kemudian hingga ia menjadi orang sukses dan mampun memimpin Indonesia sebagai Persiden RI ke 7.

(9)

sederhana, jujur, dan lain-lain. Ia juga oleh masyarakat dikenal merakyat dan sederhana.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti beranggapan film Jokowi memang memiliki keunikkan yaitu cerita yang syarat akan nilai pendidikan, terutama nilai pendidikan karakter dan pembentukan kepribadian Islami. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti masalah nilai-nilai pendidikan

karakter yang terdapat dalam film “Jokowi” tersebut dan merelevansikan

terhadap pembentukan kepribadian Islami. Dengan ini penulis mengambil

judul “NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM FILM

“JOKOWI” KARYA AZHAR KINOI LUBIS”.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana Nilai-nilai Pendidikan Karakter yang terdapat dalam Film

“Jokowi” karya Azhar Kinoi Lubis?

2. Bagaimana relevansi Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Film

“Jokowi” karya Azhar Kinoi Lubis terhadap pembentukan kepribadian

Islami anak didik? C. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka peneliti memiliki tujuan penelitian yang ingin dicapai, yaitu:

(10)

2. Menginformasikan bahwa film ini dapat dijadikan media pembelajaran. D. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada siapa saja yang membacanya, baik dari kalangan akademisi maupun kalangan umum. Adapun manfaat yang penulis harapkan adalah sebagai berikut: 1. Agar meningkatkan pengetahuan mengenai nilai-nilai pendidikan

karakter.

2. Nilai-nilai yang terkandung dalam Film Jokowi bisa dimiliki oleh generasi muda.

3. Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi peneliti pembaca dalam mencari nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam Film Jokowi karya Azhar Kinoi Lubis.

4. Menambah bahan pustaka bagi IAIN Ponorogo berupa hasil penelitian dari bidang pustaka.

E. TELAAH HASIL PENELITIAN TERDAHULU

1. Penelitian yang dilakukan oleh Yulika Shobarohmi Ishar, mahasiswa jurusan kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2009, yang berjudul

“Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam film Laskar Pelangi (sebuah adopsi

novel buah karya Andrea Hirata)”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa

(11)

Dengan implimentasi-implentasi nilai-nilai tersebut dapat dijadikan sebagai alat untuk membentuk karakter seseorang dan dapat dilibatkan dalam setiap lini pendidikan Islam berdasarkan landasan Islam yakni

Al-Qur’an dan As-Sunnah.6 Persamaan penelitian Yulika Shobarohmi Ishar

dengan penelitian ini adalah sama-sama mencari nilai-nilai pendidikan dalam suatu film. Dan yang membedakan kalau penelitian Yulika Shobarohmi Ishar lebih berfokus mencari nilai-nilai pendidikan Islam dalam film Laskar Pelangi sedangkan penelitian ini memfokuskan pada mencari nilai-nilai pendidikan karakter dalam film Jokowi.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Widya Yuniar Anggraini, mahasiswa jurusan pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo tahun 2017, yang berjudul Nilai-Nilai “Pendidikan Karakter Pada Serial Kartun Upin Dan Ipin Serta Relevansinya Dengan Pendidikan

Karakter”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai-nilai karakter

pada serial kartun Upin dan Ipin produksi Les‟ Copaque serta relevansinya dengan pendidikan karakter, dapat disimpulkan berikut ini. a. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam serial kartun Upin dan Ipin

produksi les‟ Copaque yaitu, memperkenalkan makanan khas Negara,

bekerja untuk menghasilkan uang, membantu dengan ikhlas, memanfaatkan waktu luang, mengembalikan uang yang bukan

6 Yulikha S Ishar, “Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam film Laskar Pelangi (Sebuah Adopsi

Novel Buah Karya Andrea Hirata)”, skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga

(12)

miliknya, menghindari suap, menghargai kepercayaan orang lain, berbagi makanan untuk orang miskin.

b. Relevansi nilai-nilai karakter pada serial kartun Upin dan Ipin produksi Les‟ Copaque dengan pendidikan karakter, terdapat pada nilai karakter cintatanah air, kerjakeras, peduli sesama, kreatif, jujur, dan toleransi.7 Persamaan penelitian Widya Yuniar Anggraini dengan penelitian ini adalah sama-sama mencari nilai-nilai pendidikan karakter dalam suatu film. Dan yang membedakan kalau penelitian Widya Yuniar Anggraini dengan penelitian ini terletak pada objek yang diteliti, kalau objek yang diteliti Widya Yuniar Anggraini pada

serial kartun Upin dan Ipin produksi Les‟ Copaque sedangkan objek

penelitian ini pada film Jokowi.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Mursidi, mahasiswa jurusan kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2011, yang berjudul Nilai-Nilai “Pendidikan Karakter Pada Film The Chorus. Penelitian ini berfokus pada pembahasan nilai-nilai pendidikan karakter, yaitu tanggung jawab, kejujuran, rasa ingintahu, kepedulian, disiplin, kerjasama, pantang menyerah, mandiri, persahabatan, dan sopan santun serta metode penerapannya dalam film The Chorus, serta relevansinya dengan pendidikan Islam.8 Persamaan

7Widya Yuniar Anggraini, “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Pada Serial Kartun Upin Dan

Ipin Serta Relevansinya Dengan Pendidikan Karakter”, skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu

Keguruan, IAIN Ponorogo, 2017.

8Mursidi, “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Film The Chorus

(13)

penelitian Mursidi dengan penelitian ini adalah sama-sama mencari nilai-nilai pendidikan karakter dalam suatu film. Dan yang membedakan kalau penelitian Mursidi lebih berfokus mencari nilai-nilai pendidikan karakter dalam film The Chorus dan di relevansikan dengan pendidikan Islam sedangkan penelitian ini memfokuskan pada mencari nilai-nilai pendidikan karakter dalam film Jokowi dan di relevansikan dengan pembentukan kebribadian Islami.

F. METODE PENELITIAN

1. PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yaitu penelitian dengan cara mengkaji dan menelaah sumber-sumber pustaka baik berupa jurnal penelitian, disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar, diskusi ilmiah, atau terbitan-terbitan resmi dari pemerintah atau lembaga lain.9 Penelitian ini dikatakan penelitian kepustakaan karena menghimpun data dari film Jokowi karya Azhar Kinoi Lubis serta berbagai literatur yang berkaitan dengan pendidikan karakter.

9 Tim Penyusun, Buku Pedoman Penulisan Skripsi (Jurusan PAI IAIN Ponorogo, 2017),

(14)

2. DATA DAN SUMBER DATA a. Data Penelitian

Data dalam penelitian kualitatif bersifat deskriptif bukan angka, hitungan kuantitas. Data yang dikumpulkan lebih mengambil bentuk kata-kata atau gambar dari pada angka-angka.10 Data dalam penelitian ini berupa kata-kata, gambar, tindakan, dan peristiwa yang ada dalam film Jokowi karya Azhar Kinoi Lubis. Dengan menggambarkan terhadap data yang telah terkumpul kemudian memilih dan memilah data yang diperlukan yang sesuai dengan pembahasan dalam penelitian ini.

b. Sumber Data

1) Sumber data primer

Sumber data primer merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan dari sumber asli oleh orang yang melakukan penelitian.11 Objek kajian pada penelitian ini adalah film Jokowi karya Azhar Kinoi Lubis.

2) Sumber data sekunder

Sumber data sekunder merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti dari berbagai sumber yang telah ada.12 Selain itu, sumber data ini digunakan untuk menunjang penelaahan data yang dihimpun dan sebagai pembanding

10 Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data (Jakarta Utara: PT. Rajagrafindo

Persada, 2010), 3.

11 Mahmud, Metodologi Penelitian Pendidikan (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 146.

(15)

data primer. Dalam hal ini data sekunder yang digunakan sebagai bahan penguat, perbandingan, serta penjelasan dari jabaran data primer. Di antara yang digunakan sebagai data sekunder berikut ini:

a) Abdul Mujib, Kepribaian Dalam Psikologi Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006)

b) Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017)

c) Azwar Anas dkk, Jokowi Sosok Satrio Piningit (Yogyakarta: Citra Media Pustaka, 2014)

d) Darwanto, Televisi sebagai Media Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007)

e) Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter Kontruksi Teoretik dan

Praktik (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2011)

f) Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014)

g) Himawan Pratista, Memahami Film (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008)

h) Kabul Budiyono, Pendidikan Pancasila (Bandung: Alfabeta, 2014)

(16)

j) Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012)

k) Mohammad Mustari, Nilai Karakter Refleksi Untuk Pendidikan (Depok: Rajawali Pres 2017)

l) Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran pendidikan Islam (Bandung: Trigenda, 1993)

m) Ngainun Naim, Character Building (Jogjakarta: AR Ruzz Media, 2012)

n) Nawiroh Vera, Semiotika dalam Riset Komunikasi (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2014)

o) Retno Listyarti, Pendidikan Karakter dalam Metode Aktif, Inovatif, dan Kreatif (Jakarta: Erlangga, 2012)

p) Saptono, Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter (Jakarta: Erlangga, 2011)

q) Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006)

r) Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013)

s) Syamsu Yusuf LM dan Achmad Junika Nurihsan, Teori Kepribadian (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008) t) Yon Thayrun, Jokowi Pemimpin Rakyat Berjiwa Roker

(17)

u) Zubaedi, desain pendidikan karakter (Jakarta: Prenada Media Grup, 2012)

3. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Cara mengumpulkan data adalah proses diperolehnya data dari sumber data. Sumber data adalah subjek dari penelitian yang dimaksud untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan. Karena penelitian ini adalah kajian pustaka (library research), maka dalam mengumpulkan data menggunakan teknik pengumpulan data literer atau dokumenter, yakni suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen yang tertulis, gambar, maupun elektronik.13

Data dalam penelitian ini diperoleh dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber pustaka diantaranya untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter, peneliti mengumpulkan data dari beberapa buku tentang pendidikan karakter. Kemudian untuk mendapatkan data mengenai pendidikan karakter dalam film Jokowi karya Azhar Kinoi Lubis, peneliti melakukan analisis terhadap isi film tersebut. Data-data yang terkumpul baik dari buku maupun film selanjutnya di relevansikan dengan pembentukan kebribadian Islami anak didik. Kemudian dikategorikan dan diklarifikasi ke dalam bab-bab dan sub-bab dengan pembahasan dalam penelitian ini.

(18)

4. TEKNIK ANALISIS DATA

Untuk menganalisis data yang telah ada, penelitian ini menggunakan teknik analisis isi (content analysis), yaitu telaah sistematis atas catatan-catatan atau dokumen-dokumen sebagai sumber data. Kajian isi adalah metodologi penelitian yang menggunakan penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang shahih dari sebuah buku atau dokumen.14

Analisis isi adalah telaah sistematis atas catatan-catatan, dokumen-dokumen sebagai sumber data. Dokumen itu tidak hanya berisi kalimat tertulis maupum cetak saja tetapi juga bisa berupa grafik, gambar, lukisan, kartun, foto, film dan sebagainya.15

Dalam penelitian ini data-data yang telah dihimpun dari film diseleksi sesuai dengan kepentingan penelitian. Data tersebut kemudian dianalisis menggunkan teori yang ada untuk membahas rumusan masalah yang ada dalam penelitian ini. Jawaban dari rumusan masalah tersebut diperoleh dengan merelevansikan nilai-nilai pendidikan karakter yang telah ditemukan pada film Jokowi karya Azhar Kinoi Lubis berdasarkan teori yang ada sehingga akan diketahui apa saja nilai karakter yang ada dalam film Jokowi karya Azhar Kinoi Lubis kemudian setelah itu di relevansikan kepada pembentukan kebribadian Islami anak didik.

14 Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Rosdakarya, 2014),

220.

15 Sanapiah Faisal, Metodologi Penelitian Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional 1982),

(19)

G. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Pembahasan skripsi ini di bagi kedalam beberapa bab, dimana diantara bab satu dengan bab yang lainnya mempunyai hubungan yang erat dan merupakan satu kebulatan, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh dan padu. Untuk mempermudah pemahaman dan memperjelas arah pembahasan, penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab dengan uraian sebagai berikut.

BAB I Pendahuluan. Bab ini merupakan pola dari keseluruhan isi penelitian yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitiaan, telaah kajian terdahulu, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

BAB II Kajian Teori. Bab ini membahas pendidikan karakter, tujuan pendidikan karakter, nilai-nilai pembangun karakter, faktor yang mempengaruhi karakter, metode pendidikan karakter, Pembentukan kebribadian Islami anak didik dan pengertian film.

BAB III Pemaparan Data. Bab ini merupakan pemaparan data tentang profil film Jokowi karya Azhar Kinoi Lubis dan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam film Jokowi karya Azhar Kinoi Lubis.

BAB IV Analisis Data. Bab ini membahas relevansi pendidikan karakter dalam film Jokowi karya Azhar Kinoi Lubis dengan pembentukan kebribadian Islami anak didik.

(20)

BAB II KAJIAN TEORI A. Nilai Pendidikan Karakter

1. Nilai

Nilai berasal dari bahasa latin vale’re yang artinya berguna, mampu akan, berdaya, berlaku, sehingga nilai diartikan sebagai sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang.16

Adapun menurut istilah terdapat beberapa pengertian tentang nilai, sebagaimana yang dikemukakan para ahli, Di antaranya sebagai berikut ini:

a. Kabul Budiyono berpendapat bahwa nilai dapat diartikan sebagai sifat atau kualitas dari sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik lahir maupun batin. Bagi manusia nilai dijadikan landasan, alasan, atau motivasi dalam bersikap dan bertingkah laku, baik disadari maupun tidak disadari.17

b. Rohmat Mulyana berpendapat bahwa nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan.18

c. Muhaimin dan Abdul mujid berpendapat bahwa Nilai merupakan konsep abstrak di dalam diri manusia atas masyarakat mengenai hal-hal yang dianggap baik, benar dan hal-hal-hal-hal yang dianggap buruk dan

16

Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai Karakter (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

2013), 56.

17 Kabul Budiyono, Pendidikan Pancasila (Bandung: Alfabeta, 2014), 140.

(21)

salah. Nilai mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari.19

Berdasarkan dari beberapa pendapat tentang nilai diatas, maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa nilai merupakan sebuah konsep keyakinan seseorang terhadap suatu hal yang sangat berharga baginya dan mengarahkan tingkah laku seseorang dalam kehidupannya sehari-hari sebagai makhluk yang bermasyarakat.

Sedangkan secara garis besar nilai dibagi dalam dua kelompok yaitu nilai-nilai nurani (values of being) dan nilai-nilai memberi (values of giving). Nilai-nilai nurani adalah nilai yang ada pada diri manusia kemudian berkembang menjadi perilaku serta cara kita melakukan orang lain. Yang termasuk dalam nilai-nilai nurani adalah kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri, potensi, disiplin, tahu batas, kemurnian, dan kesesuaian. Nilai-nilai memberi adalah nilai yang perlu dipraktikkan atau diberikan yang kemudian akan diterima sebanyak yang diberikan. Yang termasuk dalam nilai-nilai memberi adalah setia, dapat dipercaya, hormat, cinta, kasih sayang, peka, tidak egois, baik hati, ramah, adil, dan murah hati.20

2. Pendidikan karakter

Pendidikan adalah upaya sadar dan terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh dan

19 Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung: Trigenda, 1993),

110.

(22)

berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat dan berakhlak mulia (berkarakter).21 Sedangkan

menurut Retno Listyarti dalam bukunya menyebutkan bahwa pendidikan adalah sebuah proses untuk mengubah jati diri peserta didik untuk lebih maju.22

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari orang lain.23 Menurut pendapat yang lain karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan.24 Jadi ketika digabungkan pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk mengembangkan karakter yang baik berlandaskan kebajikan-kebajikan inti yang secara objektif baik bagi individu maupun masyarakat.25 Berdasarkan dari beberapa uraian tentang tentang pendidikan karakter diatas maka peneliti mengambil pengertian bahwa pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada anak-anak, remaja, seluruh warga sekolah, seluruh masyarakat, yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan

21 Suyadi, Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter (Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2013), 4.

22 Retno Listyarti, Pendidikan Karakter dalam Metode Aktif, Inovatif, dan Kreatif (Jakarta:

Erlangga, 2012), 2.

23 Saptono, Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter (Jakarta: Erlangga, 2011), 17.

24 Fatchul mu’in, Pendidikan Karakter Kontruksi Teoretik dan Praktik (Yogyakarta: Ar

Ruzz Media, 2011), 160.

(23)

Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia yang kamil.

Terkait dengan upaya untuk mengembangkan materi kurikulum tentang pendidikan karakter, pusat kurikulum, balikbang diknas, telah merumuskan delapan belas pilar nilai karakter yang harus dikembangkan untuk anak didik di Indonesia. Berikut ini dikemukakan kedelapan belas nilai karakter26, yaitu:

a. Religius

Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Penanaman sikap religius ini dilakukan dengan menciptakan suasana yang memungkinkan terinternalisasinya nilai religius dalam diri anak-anak atau remaja. Seperti orang tua harus menjadi teladan yang utama bagi anak-anaknya menjadi manusia yang religius.27

b. Jujur

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Mengajarkan sikap jujur tidak cukup hanya dengan penjelasan lisan semata. Dibutuhkan pemahaman, metode yang tepat, juga teladan. Selain metode di atas, orang tua dan guru

26

Zubaedi, Desain Pendidikan karakter, 74.

(24)

juga dapat menggunakan metode cerita tokoh-tokoh yang dapat diteladani karena sikap jujurnya.28

c. Toleransi

Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Toleransi tidak bisa tumbuh dengan sendirinya. Dibutuhkan usaha secara serius dan sistematis agar toleransi bisa menjadi kesadaran. Sikap ini bisa dipupuk mulai sejak usia dini. Salah satu cara penanaman sikap toleransi dimulai dari keluarga orang tua harus membangun pemahaman tentang bagaimana menghargai perbedaan yang ada didalam keluarganya. Dari keluarga bisa lahir sikap toleran. Toleransi tumbuh dan berkembang karena kemauan dan kesadaran menghargai perbedaan pada level kecil, yaitu keluarga.29

d. Disiplin

Disiplin adalah kepatuhan untuk menghormati dan melakasanakan suatu sistem yang mengahruskan orang untuk tunduk patuh kepada keputusan, perintah, dan peraturan yang berlaku. Dengan kata lain disiplin adalah sikap menaati peraturan dan ketentuan yang telah diterapkan tanpa pamrih. Islam mengajarkan agar benar-benar memperhatikan dan mengaplikasikan

28Ibid., 135.

(25)

nilai-nilai kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Disiplin tidak bisa terbangun secara instan, dibutuhkan proses panjang agar disiplin menjadi kebiasaan yang melekat kuat dalam diri seorang anak. Oleh karena itu, penanaman disiplin harus dilakukan sejak dini. Tujuannya adalah untuk mengarahkan anak agar mereka belajar mengenai hal-hal baik yang merupakan persiapan bagi masa dewasa. Jika sejak dini sudah ditanamkan disiplin, maka mereka akan menjadikannya sebagai kebiasaan dan bagian dari dirinya.30

e. Kerja keras

Perilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Menanamkan sikap kerja keras kepada anak-anak atau remaja dimulai dari di rumah. Orang tua harus buat anak menjadi sadar akan perlunya proses. Untuk merasakan perlunya bekerja untuk meraih sesuatu, orang tua harus mengajarkan secara langsung dalam praktik. Anak harus bisa mempersiapkan sediri apa yang diperlukannya. Anak harus berusaha dulu ambil piring, ambil nasi, ambil lauk, dan cuci tangan sebelum makan. Begitu pula anak harus membersihkan bekas makanannya

(26)

sendiri, walaupun ada pembantu dirumah. Hal-hal ang seperti ini dapat menerapkan sikap kerja keras pada anak.31

f. Kreatif

Kreatif berarti menciptakan ide-ide dan karya baru yang bermanfaat. Pemikiran yang kreatif adalah pemikiran yang dapat menemukan hal-hal atau cara-cara baru yang berbeda dari yang biasa dan pemikiran ang mampu mengemukakan ide atau gagasan yang memiliki nilai tambah atau manfaat.32

g. Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.33 Kemandirian tidak otomatis tumbuh dalam diri seorang anak, mandiri pada dasarnya merupakan hasil dari proses pembelajaran yang berlangsung lama. Mandiri tidak selalu berkaitan dengan usia, bisa saja seorang anak sudah memiliki sifat mandiri karena proses latihan atau karena faktor kehidupan yang memaksanya untuk menjadi mandiri.

Pentingnya kemandirian harus mulai ditumbuh kembangkan kedalam diri anak sejak usia dini. Sikap penting yang harusnya dikembangkan oleh orang tua adalah memberi kesempatan yang luas kepada anak untuk bekembang dan proses. Intervensi

31 Mohammad Mustari, Nilai Karakter Refleksi Untuk Pendidikan (Depok: Rajawali Pres,

2017), 48.

32Ibid., 73.

33 Muhammad Yaumi, Pendidikan Karakter Landasan, Pilar dan Implementasi, (Jakarta :

(27)

orang tua hanya dilakukan kalau memangkondisi anak membutuhkan. Dengan cara demikian, kemandirian anak-anak diharapkan dapat terwujud.34

h. Demokratis

Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Dalam konteks character building, ada beberapa prinsip yang dapat dikembangkan untuk menumbuhkembangkan spirit demokrasi. Pertama, menghormati pendapat orang lain. Artinya memberikan hak yang sama kepada orang lain untuk berpendapat sesuai dengan karakteristik dan kualifikasi pemahamannya sendiri.

Kedua, berbaik sangka terhadap pendapat orang lain. Jika sejak awal memiliki pendapat yang buruk terhadap orang lain, maka apapun yang dikatakannya akan selalu dilihat sebagai hal yang tidak benar. Ketiga, sikap fair terhadap pendapat orang lain. Sikap ini merupakan bagian dari kerangka operasional toleransi dalam perbedaan pendapat.35

i. Rasa ingin tahu

Manusia memiliki sifat serba ingin tahu sejak awal kehidupannya. Rasa ingin tahu yang membuat anak bertambah pengetahuannya. Para ahli pendidikan umumnya sepakat bahwa

34 Naim, Character Building, 164.

(28)

salah satu ciri anak cerdas adalah memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar.36 Rasa ingin tahu adalah sikap dan tindakan yang selalu

berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

Untuk mengembangkan rasa ingin tahu pada anak, kebebasan anak itu sendiri harus ada untuk melakukan dan melayani rasa ingin tahunya. Kita tidak bisa begutu saja menghardik mereka ketika kita tidak tahu atau malas saat kita bertanya. Yang lebih baik adalah kita berikan kepada mereka cara-cara untuk mencari jawaban.37

j. Semangat kebangsaan

Semangat kebangsaan adalah cara berfikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan dirinya dan kelompoknya. Semangat kebangsaan penting menjadi nilai pembentuk karakter karena meneguhkan arti dan makna penting sebagai warga negara. Hidup di tengah era globlalisasi, persaingan antarbangsa bersifat ketat. Secara praktis, ada 3 langkah untuk meningkatkan semangat kebangsaan. Pertama, mempertinggi tingkat pendidikan sehingga mampu mem-filter informasi terhadap kebudayaan asing. Kedua, mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang budaya dunia agar leebih arif

36Ibid., 171.

(29)

dalam menerima informasi. Ketiga, mempertebal iman dan pengalaman agama.38

k. Cinta tanah air

Cinta tanah air adalah cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. Sekarang ini, kebutuhan terhadap semangat mencintai tanah air seharusnya semakin ditumbuh kembangkan ditengah gempuran globalisasi yang semakin tidak terkendali. Cinta tanah air tidak hanya merefleksikan kepemilikan, tetapi juga bagaimana mengangkat harkat dan martabat bangsa ini dalam kompetisi global.39

l. Menghargai prestasi

Menghargai prestasi adalah Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberasilan orang lain. Dalam iklim kehidupan sekarang ini, arus kompetisi kian ketat. Dalam konteks pengembangan karakter, penting untuk menanamkan menghargai prestasi kepada anak-anak. Prestasi menunjukkan adanya proses dalam meraihnya. Jangan sampai anak-anak menjadi generasi yang hanya menyukai produk dan tidak

38 Naim, Character Building, 173.

(30)

menghargai proses. Menghargai prestasi merupakan bagian dari menghargai proses. Jika kejujuran dalam meraih prestasi telah ditanamkan sejak dini, mereka akan tumbuh menjadi orang yang menghargai proses, bukan orang yang menghalalkan segala cara demi mencapai sebuah prestasi.40

m. Bersahabat atau komunikatif

Bersahabat adalah Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. Dalam pembangunan karakter, bersahabat harus mendapatkan perhatian yang serius. Jangan sampai anak-anak tumbuh menjadi manusia arogan, sok dan tidak menghargai yang lainnya. Manusia membutuhkan kehadiran orang lain secara tulus. Memang, tidak mungkin semua relasi dibangun berdasarkan ketulusan, tetapi dalam kehidupan ini, relasi berbasis ketulusan menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan.41

n. Cinta damai

Permusuhan lebih cepat berkembang karena isu-isu yang melibatkan suara. Penyimpangan informasi yang disebabkan salah dengar atau salah arti menghasilkan kesimpulan dan reaksi berbeda. Kesalahan yang seperti itulah pemicu pertikaian antarsesama. Budaya damai harus terus ditumbuhkembangkan di berbagai aspek

40Ibid., 178-179.

(31)

kehidupan. Kekerasan dalam berbagai bentuknya sekarang ini semakin banyak ditemukan. Harus ada kemauan dari berbagai pihak untuk membangun secara sistemis cinta damai menjadi budaya yang mengakar dalam kehidupan.42 Cinta damai adalah Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.

o. Gemar membaca

Manusia berkarakter adalah yang selalu gigih mencari pengetahuan. Ada banyak cara mendapatkan pengetahuan, salah satunya dengan kegiatan membaca. Lewat membaca, karakter seseorang akan semakin arif karena merasa bahwa pengetahuannya selalu kurang. Selalu ada banyak hal yang belum dikuasai sehingga tidak menjadikan dirinya orang sombong.43 Gemar membaca adalah Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

Tradisi membaca memang seyogyanya dibangun sejak dini. Memang, bukan hal mustahil tradisi membaca ini tumbuh justru ketika orang menginjak usia dewasa atau bahkan tua. Semuanya itu diperbolehkan dan tetap memberikan manfaat positif. Tetapi, membaca yang telah dipupuk sejak usia dini jelas akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar terhadap kehidupan seseorang.44

42 Naim, Character Building, 190.

(32)

p. Peduli lingkungan

Peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Manusia merupakan mahluk sosial. Ia hidup dan menjadi bagian tidak terpisah dari lingkungannya. Karenanya, manusia tidak bisa sepenuhnya egois dan beranggapan kalau dirinya bisa hidup sendiri tanpa peran serta orang lain. Selain tidak logis, sikap egois semacam ini juga membawa implikasi kurang baik bagi tatanan sosial. Dalam kerangka character building, peduli lingkungan menjadi nilai yang penting untuk ditumbuhkembangkan. Manusia berkarakter adalah manusia yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik.45

q. Peduli social

Peduli sosial adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.46

r. Tanggung jawab

Tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dilakukan

45Ibid., 200.

(33)

terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.47

Kita adalah orang yang bertanggung jawab terhadap hidup kita. Maka kita pun harus belajar untuk menerima tanggung jawab total terhadap diri kita sendiri. Jika kita tidak dapat mengatur dirikita sendiri, maka berarti kita memberikan pada orang lain untuk mengontrol diri kita.

Kebiasaan itu lebih kuat dari pada kesadaran. Setelah kita sendiri bisa dan biasa bertanggung jawab atas diri sendiri, maka kita tinggal membiasakan diri untuk bertanggung jawab kepada pihak-pihak lain diluar diri kita.48

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Karakter

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi karakter. Dari sekian banyak faktor tersebut, para ahli menggolongkannya kedalam dua bagian, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

a. Faktor intern, terdapat banyak hal yang mempengaruhi faktor internal diantaranya berikut ini.

1) Insting atau naluri

Setiap perbuatan manusia lahir dari suatu kehendak yang

digerakkan oleh naluri (insting). Naluri merupakan tabi’at yang

dibawa sejak lahir yang merupakan suatu pembawaan yang asli.

47 Zubaedi, Desain Pendidikan karakter, 76.

(34)

Pengaruh naluri pada diri seseorang sangat tergantung pada penyalurannya. Naluri dapat menjerumuskan manusia pada kehinaan, tetapi dapat juga mengangkat kepada derajat yang tinggi, jika naluri disalurkan kepada hal baik dengan tuntunan kebenaran.49

Segenap naluri insting manusia itu merupakan paket yang inheren dengan kehidupan manusia yang secara fitrah sudah ada tanpa perlu dipelajari terlebih dahulu. Dengan potensi naluri itulah manusia dapatmemproduk aneka corak perilaku sesuai pula dengan corak instingnya.50

2) Adat atau kebiasaan (habit)

Salah satu faktor penting dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan, karena sikap dan perilaku yang menjadi akhlak (karakter) sangat erat sekali dengan kebiasaan. Kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga mudah untuk dikerjakan.51 Pada perkembangan selanjutnya, suatu perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dan telah menjadi kebiasaan, akan dikerjakan dalam waktu singkat, menghemat waktu dan perhatian. Contohya ketika seseorang sudah pandai menulis, dengan sedikit waktu dan perhatian akan menghasilkan tulisan yang banyak. Faktor kebiasaan ini

49 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter (Bandung: Alfhabeta, 2014), 20.

50

Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga

Pendidikan, 179.

(35)

memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk dan membina akhlak.52

3) Kehendak/kemauan (iradah)

Kemauan adalah salah satu kekuatan yang berlindung dibalik tingkah laku dan merupakan kekuatan yang mendorong manusia dengan sungguh-sunguh untuk berperilaku (berakhlak), sebab dari kehendak itulah menjelma suatu niat yang baik dan buruk. Kemauan mampu melangsungkan segala ide.53

4) Suara batin atau suara hati

Di dalam diri manusia terdapat suatu kekuatan yang sewaktu-waktu memberikan peringatan (isyarat) jika tingkah laku manusia berada diambang bahaya dan keburukan, kekuatan tersebut adalah suara batin atau suara hati. Suara batin berfungsi memperingatkan bahaya perbuatan buruk dan berusaha mencegahnya, disamping dorongan untuk melakukan perbuatan baik.54

5) Keturunan

Keturunan merupakan suatu faktor yang dapat mempengaruhi perbuatan manusia. Adapun sifat yang diturunkan orang tua terhadap anaknya itu bukan sifat yang

52

Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga

Pendidikan, 180.

53Ibid., 20.

54

Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga

(36)

tumbuh dengan matang karena pengaruh lingkungan, adat dan pendidikan melainkan sifat-sifat bawaan sejak akhir.55 Sifat

yang diturunkan itu pada garis besarnya ada dua macam yaitu: a) sifat jasmaniyah, yakni kekuatan dan kelemahan otot-otot

dan urat saraf orang tua yang dapat diwariskan kepada anaknya.

b) sifat ruhaniyah, yakni lemah dan kuatnya suatu naluri dapat diturunkan pula oleh orang tua yang kelak mempengaruhi anak cucunya.

b. Faktor ekstern

Selain faktor intern (yang bersifat dari dalam) yang dapat mempengaruhi karakter, akhlak, moral, budi pekerti, dan etika manusia, juga terdapat faktor ekstern (yang bersifat dari luar) diantaranya adalah berikut ini.

1) Pendidikan

Ahmad Tafsir sebagaimana dikutip oleh Zubaedi menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha meningkatkan diri dalam segala aspeknya. Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan karakter seseorang. Pendidikan ikut mematangkan kepribadian manusia sehingga tingkah lakunya sesuai dengan pendidikan yang telah diterima seseorang baik pendidikan formal, informal, maupun non

(37)

formal. Betapa pentingnya, faktor pendidikan itu, karena naluri yang terdapat pada seseorang dapat dibangun dengan baik dan terarah.56

2) Lingkungan

Salah satu aspek yang turut memberikan saham dalam terbentuknya corak sikap dan tingkah laku seseorang adalah faktor lingkungan dimana seseorang berada. Lingkungan artinya sesuatu yang melingkupi tubuh yang hidup, meliputi tanah,udara, sedangkan lingkungan manusia adalah apa yang melingkupi manusia dalam arti seluas-luasnya.57

B. Pembentukan Kepribadian Islami 1. Kepribadian Islam

Personality berasal dari kata person yang secara bahasa memiliki arti sosok manusia sebagai individu, individu secara umum, oarang yang hidup, pribadi, eksistensi atau identitas pribadi, dan kekhususan karakter individu.58 Kepribadian adalah kumpulan ciri-ciri prilaku, tindakan, perasaan yang yang didasari maupun tidak di dasari, pemikiran dan konsepsi akal. artinya kepribadiaan merupakan gagasan

56 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter, 21.

57 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter:Konsepsi dan Aplikasinya Dalam Lembaga

Pendidikan, 182.

58 Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

(38)

yang komprehensif yang tidak permanen atau tidak mapan, yang dibuat oleh setiap manusia yang berasal dari dirinya maupun dari orang lain.59

Kepribadian dalam studi keislaman lebih dikenal dengan istilah syakhshiyah. Syakhshiyah berasal dari kata syakhshun yang

berarti pribadi. Kata ini kemudian diberi ya’ nisbat sehingga menjadi

kata benda buatan syakhshiyat yang berarti kepribadian.60 Jadi kepribadian adalah integrasi sistem kalbu, akal, dan nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku.

2. Struktur kepribadian dalam Islam

Struktur kepribadian yang dimaksudkan disini adalah aspek-aspek atau elemen-elemen yang terdapat pada diri manusia yang karenanya kepribadian terbentuk. Pemilihan aspek ini mengikuti pola studi tentang diri manusia yang dapat dilihat melalui tiga sudut, yaitu: a. Jasad (fisik) : apa dan bagaimana organisme dan sifat-sifat uniknya. b. Jiwa (psikis) : apa dan bagaimana hakikat dan sifat-sifat uniknya. c. Jasad dan jiwa (psikofisik) : berupa akhlak, perbuatan, gerakan dan

sebagainya.

Ketiga kondisi tersebut dalam termologi Islam lebih dikenal dengan term al-jasad, al-ruh, dan al-nafs. Jasad merupakan aspek biologis atau fisik manusia, ruh merupakan aspek psikologis atau psikis

59 Lin Tri Rahayu, Psikoterapi Perspektif Islam dan Psikologi Kontemporer (Malang: UIN

Malang Pres, 2009), 74.

60 Syamsu Yusuf LM dan Achmad Junika Nurihsan, Teori Kepribadian (Bandung: PT

(39)

manusia, sedang nafs merupakan aspek psikofisik manusia yang merupakan sinergi antara jasad dan ruh.61

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian seseorang dapat dikelompokan dalam dua faktor, yaitu sebagai berikut:

a. Faktor internal

Faktor internal adalah faktor yang bersal dari dalam diri orang itu sendiri. Faktor internal ini biasanya merupakan faktor genetis atau bawaan. Faktor genetis maksudnya adalah faktor yang berupa bawaan sejak lahir dan merupakan pengaruh keturunan dari salah satu sifat yang dimiliki salah satu dari kedua orang tuanya atau bisa jadi gabungan atau kombinasi dari sifat kedua orang tuanya. b. Faktor eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar orang tersebut. Faktor eksternal ini biasanya merupakan pengaruh yang berasal dari lingkungan seseorang mulai dari lingkungan terkecilnya, yakni keluarga, teman, tetangga, sampai dengan pengaruh dari berbagai media audiovisual seperti tv an vcd atau media cetak seperti koran, majalah, dan lain sebagainya.62

Lingkungan keluarga, tempat seorang anak tumbuh dan berkembang akan sangat berpengaruh terhadap kepribaian seorang

61 Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam, 56.

(40)

anak. Terutama dari cara para orang tua mendidik dan membesarkan anaknya. Ada tiga tipe kepribadian orang tua dalam pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral, yaitu tipe pengatur, pengamat, dan pencemas. Pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral menghendaki orang tua di lingkungan rumah tangga bertindak sebagai teman yang dapat bekerja sama dengan anak-anak mereka dalam menyelesaikan segala tugas guna memperbaiki keadaan sosial atau fisik. Kepribadian orang tua sebagai pengamat yang menggunakan sudut pandang menyeluruh dan objektif akan membantu cara berfikir moral anak ke arah yang luas, objektif, dan menyeluruh. Demikian juga, kepribadian orang tua tipe pencemas yang selalu membawa anak untuk berdiskusi, bertanya jawab, dan mengajak berpikir dalam menghadapi tantangan dan konflik adalah sejalan dengan teori perkembangan moral kognitif dalam peningkatan pertimbangan moral guna pembentukan kepribadian yang baik bagi anak-anak.63

4. Bentuk-bentuk kepribadian dalam Islam

Tipe kepribadian dalam Islam itu bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Kepribadian digolongkan kedalam tiga tipe manusia, yaitu tipe yang berpribadian ammarah, kepribadian lawwamah, dan kepribadian muthmainnah. Tipe kepribadian dalam Islam yang dimaksud adalah

(41)

a. Kepribadian Ammarah (memerintah)

Kepribadian Ammarah adalah kepribadian yang cenderung melakukan perbuatan-perbuatan rendah sesuai dengan naluri primitifnya, sehingga ia merupakan tempat dan sumber kejelekan dan perbuatan tercela. Ia mengikuti tabiat jasad dan mengejar pada prinsip-prinsip kenikmatan syahwati.

Bentuk-bentuk kepribadian ammarah adalah syiri’, kufur,

bi’ah, sihir, membangga-banggakan kekayaan, mengikuti hawa

nafsu dan syahwat, sombong dan ujub, membuat kerusakan, boros, riba, mengumpat dan lain-lain.64

b. Kepribadian Lawwamah (mencela)

Kepribadian Lawwamah adalah kepribadian yang mencela perbuatan buruknya setelah memperoleh cahaya kalbu. Ia bangkit untuk memperbaiki kebimbangannya dan kadang-kadang tumbuh perbuatan yang buruk yang disebabkan oleh watak gelapnya, kemudian ia di ingatkan oleh nur Illahi, sehingga ia bertaubat dan memohon ampunan.

Bentuk-bentuk kepribadian Lawwamah sulit ditentukan, sebab ia merupakan kepribadian antara kepribadian ammarah dan kepribadian muthmainnah, yang bernilai netral. Maksud netral disini dapat berarti

(42)

1) tidak memiliki nilai buruk atau nilai baik, tetapi dengan gesekan motivasi, netralitas suatu tingkah laku itu akan menjadi baik atau akan menjadi buruk. Baik buruknya nilai tergantung pada kekuatan daya yang memengaruhi.

2) Ia bernilai baik menurut ukuran manusia, tetapi belum tentu baik menurut ukuran Tuhan, seperti rasionalitas, moralitas, dan sosialitas yang dimotivasi oleh insyaniyah.65

c. Kepribadian Muthmainnah (tenang)

Kepribadian muthmainnah adalah kepribadian yang tenang setelah diberikan nur kalbu, sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat tercela dan tumbuh sifat-sifat yang baik. Kepribadian ini selalu berorientasi ke komponen kalbu untuk mendapatkan kesucian dan menghilangkan segala kotoran.

Bentuk-bentuk kepribadian muthmainnah terbagi atas tiga kategori sebagai berikut:

1) Kepribadian mukmin, yang memiliki enam bentuk kepribadian, yaitu kepribadian rabbani atau ilahi, kepribadian malaki,

kepribadian Qur’ani, kepribadian rasuli, kepribadian yawm

akhiri, dan kepribadian takdiri.

2) Kepribadian muslim, yang memiliki lima bentuk kepribadian, yaitu kepribadian syahadatain, kepribadian mushalli, kepribadian shaim, kepribadian muzakki, dan kepribadian haji.

(43)

3) Kepribadian muhsin, yang memiliki multibentuk kepribadian, yaitu tingkatan permulaan (bidayah), tingkatan pintu-pintu masuk (abwab), tingkatan pergaulan (mu’amalah), tingkatan etika (akhlak), tingkatan pokok (ushul), tingkatan terapi (adwiyah), tingkatan keadaan (ahwal), tingkatan kewalian (walayah), tingkatan hakikat, tingkatan puncak (nihayah).66

Dan dari ketiga kepribadian diatas ini dapat kita terapkan kepada anak-anak sejak dini sehingga dapat membentuk kepribadian Islami pada diri anak didik.

C. Film

1. Pengertian film

Dalam Undang-undang Nomor 33 tahun 2009 tentang perfilman pada Bab 1 Pasal 1 menyebutkan, yang dimaksud dengan film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi masa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau suara dan dapat dipertunjukan.67 Sedangkan menurut pendapat para ahli film adalah gambar-gambar dalam frame dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar gambar terlihat hidup. Film bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinu.68 Jadi menurut peneliti film

66Ibid., 179.

67 Nawiroh Vera, Semiotika dalam Riset Komunikasi (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia,

2014), 91.

(44)

adalah karya seni budaya yang berbentuk serangkaian gambar-gambar yang diambil dari objek yang bergerak dan biasanya gambar tersebut diputar di bioskop.

2. Dampak film

Dalam banyak penelitian tentang dampak film terhadap masyarakat, hubungan antara film dan masyarakat selalu dipahami sebagai linier. Artinya, film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) di baliknya, tampa pernah berlaku sebaliknya.69 Pengaruh film yang paling besar pengaruhnya itu terhadap pada jiwa manusia. Penonton tidak hanya terpengaruh sewaktu atau selama duduk didalam gedung bioskop, tetapi terus sampai waktu yang cukup lama. Yang mudah dan dapat berpengaruh oleh film ialah anak-anak dan pemuda-pemuda. Kita sering menyaksikan mereka yang tingkah lakunya, cara berpakaiannya, cara tertawa, berjalan, duduk, gaya rambut dan lain-lain itu meniru-niru bintang film.70 Jadi begitu luarbiasanya pengaruh sebuah film terhadap jiwa manusia, sehingga ketika film tersebut ceritanya bagus sudah tentu akan berpengaruh atau memberikan dampak yang baik kepada masyarakat. Pokoknya film itu menimbulkan pengaruh yang besar kepada jiwa manusia.

69 Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017), 127.

70 Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi (Bandung: PT Cipta

(45)

Di era sekarang ini film merupakan media komunikasi yang ampuh sekali. Bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan dan pendidikan. Dalam ceramah-ceramah penerangan atau pendidikan kini banyak digunakan film seebagai alat pembantu untuk memberikan penjelasan. Bahkan filmnya sendiri banyak yang berfungsi sebagai medium penerangan dan pendidikan secara penuh, artinyaa ukan sebagai alat pembantu dan juga tidak perlu dibantu dengan penjelasan, melainkan medium penerangan dan pendidikan yang komplit.71

Film bisa dikatakan baik jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Dapat menarik minat anak

b. Benar dan autentik

c. Up to date dalam setting, pakaian, dan lingkungan d. Sesuai dengan tingkatan kematangan audien

e. Perbendaharaan bahasa ang digunakan secara benar f. Kesatuan dan squence-nya cukup teratur

g. Teknis yang dipergunakan cukup memenuhi persyaratan dan cukup memuaskan.72

3. Jenis-jenis film

Jenis-jenis film secara umum dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu: dokumenter, fiksi, dan eksperimental.

71Ibid., 209.

(46)

a. Film dokumenter

Film dokumenter adalah penajian fakta. Film dokumenter berhubungan dengan orang-orang, tokoh, peristiwa, dan lokasi yang nyata. Film dokumenter tidak menciptakan suatu peristiwa atau kejadian namun merekam peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi atau otentik. Tidak seperti film fiksi, film dokumenter tidak memiliki plot namun memiliki struktur yang umumnya didasarkan oleh tema atau argumen dari sineasnya. Film dokumenter juga tidak memiliki tokoh protagonis dan antagonis, konflik, serta penyelesaiaan seperti halnya film fiksi. Struktur bertutur film dokumenter umumnya sederhana dengan tujuan agar memudahkan penonoton untuk memahami dan mempercayai fakta-fakta yang disajikan.

Dalam menyajikan faktanya, film dokumenter dapat menggunkan beberapa metode. Film dokumenter dapat merekam langsung pada saat peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Film dokumenter beberapa karakter teknis yang khas yang tujuan utamanya untuk mendpatkan kemudahan, kecepatan, fleksibilitas, efektifitas, serta otentitas peristiwa yang akan direkam.73

Film dokumenter dilihat dari segi subjek dan pendekatannya penyajian hubungan manusia yang didramatisir dengan kehidupan kelembagaannya, baik lembaga indrustri, sosial,

73

(47)

maupun politik dan dilihat dari segi teknik teknik merupakan bentuk yang kurang penting dibandingkan dengan isinya. Kebanyakan pembuatan film dokumenter disponsori oleh berbagai badan baik pemerintah maupun swasta. Pada umumnya film dokumenter hanya dipertunjukan di kampus-kampus universitas, gedung-gedung sekolah, ruang-ruang pertemuan di pabrik-pabrik, studio siaran TV dan lainya.74

b. Film fiksi

Film fiksi adalah merupakan karya yang strukturnya selalu berupa narasi, yang dibuat dengan tiga tahap. Tahap prapoduksi merupakan periode ketika skanerio diperoleh. Skenario ini bisa berupa adaptasi dari novel atau cerita pendek atau kara cetakan lainya, bisa juga yang ditulis secara khusus untuk dibuat filmnya. Tahap produksi merupakan masa berlangsungnya pembuatan film berdasarkan skenario itu. Tahap terakhir post produksi (editing) ketika semua bagian film yang pengambilan gambarnya tidak sesuai dengan urutan cerita, disusun menjadi suatu kisah yang menyatu.75

Berbeda dengan jenis film dokumenter, film fiksi itu terikat oleh plot. Dari sisi cerita, film fiksi sering menggunakan cerita rekaan di luar kejadian nyata serta memiliki konsep pengadeganan yyang telah dirancang sejak awal. Struktur cerita film juga terikat

74 Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, 214.

75 Marcel Danesi, Pengantar Memahami Semiotika Media, terj. A. Gunawan Admiranto

(48)

oleh hukum kausalitas. Cerita biasanya juga memiliki karakter protagonis dan antagonis, masalah dan konflik, penutupan, serta pola pengembangan cerita yang jelas. produksi film fiksi memakan waktu yang relatif lama. Persiapan teknis seperti lokasi syuting serta setting dipersiapkan secara matang baik dari studio maupun non studio. Film fiksi juga biasanya menggunakan pelengkapan serta peralatan yang jumlahnya realatif lebih banyak, bervariasi, serta mahal.76

c. Film eksperimental

Film eksperimental merupakan jenis film yang sangat berbeda dengan dua jenis lainnya. Para sineas eksperimental umumnya bekerja diluar industri film utama dan bekerja pada studio independen atau perorangan. Mereka umumnya terlibat penuh dalam seluruh produksi filmnya sejak awal hingga akhir. Film eksperimental tidak memiliki plot namun tetap memiliki struktur. Strukturnya sangat dipengarui dengan oleh insting subyektif sineas seperti gagasan, ide, emosi, serta pengalaman batin mereka. Film eksperimental juga umumnya tidak bercerita tentang apapun bahkan kadang menentang kausalitas, seperti yang dilakukan para para sineas surealis dan dada. Film-film eksperimental umumnya berbentuk abstrak dan tidak mudah di pahami. Hal ini disebabkan

(49)

karena mereka menggunakan simbol-simbol personal yang mereka ciptakan sendiri.

Para sineas eksperimental kadang mengeksplorasi berbagai kemungkinan dari medium film. Salah satu film eksperimental yaitu karya seniman surealis terkemuka, salvador dali dan luis bunuel, yang berjudul Un Chien Andalou. Film ini tidak bercerita tentang apapun (anti naratif) dan semua adegannya menentang logika sebab akibat (anti rasionalitas). Kemudian film Anemic Cinema karya Marchel Duchamp yang hanya berisi gambar spiral dengan hanya tulisan yang berputar-putar.77

Dalam pembagian jenis-jenis film diatas didasarkan atas cara bertuturnya yakni, naratif (cerita) atau non naratif (tidak cerita). Film fiksi memiliki struktur naratif yang jelas, sedangkan film dokumenter dan eksperimental tidak memiliki struktur naratif. Film dokumenter yang memiliki konsep realisme (nyata) berada dalam kutub berlawanan dengan film eksperimental yang memiliki konsep formalisme (abstrak). Sedangkan film fiksi berada persis di tengah-tengah dua kutub tersebut. Dan di dalam film Jokowi ini yang peneliti tulis ini berbentuk naratif (cerita), yaitu sebuah cerita tentang perjalanan hidup seorang Joko Widodo.

(50)

BAB III

GAMBARAN UMUM FILM “JOKOWI” A. Sinopsis Film Jokowi

Film Jokowi adalah film drama Indonesia yang disutradari oleh Azhar Kinoi Lubis. Terkesan aji mumpung, KK Dheeraj produser film terkenal pun bergerak cepat, memfilmkan Jokowi dibawah bendera Production House K2K “Jokowi” tidak saja menjadi kesempatan untuk KK Dheeraj untuk lebih mengenal pak Gubenur yang suka musik rock tersebut.

Mempunyai judul awal “Cerita Kecil dari Solo”, pengambilan gambar di

Solo dan Yogakarta.78

Film “Jokowi” mengawali ceritanya dengan cerita masa kecil Joko

Widodo, lahir dilingkungan keluarga yang bisa dibilang mempunyai ekonomi yang rata-rata rendah, Jokowi kecil sudah biasa hidup susah, bahkan harus rela pindah kesana-kemari ketika bapaknya tidak bisa melunasi uang kontrakan rumah. Hanya mengandalkan dari upah kerja menjadi seorang tukang kayu, bapaknya masih tetap bisa menyekolahkan anaknya dan Jokowi tak menyia-nyiakan kerja keras orang tuanya di sekolah dia anak yang berprestasi. Dari sekolah dasar sampai SMA kemudian lanjut kuliah mengambil jurusan kehutanan, Jokowi terus memperlihatkan kalau otaknya memang cemerlang.79 Kepintaranya pun

78https://indosenima.com/2013/05/sinopsis-film-jokowi (diakses pada Senin 7 Mei 2018

pukul 09.00)

79Yon Thayrun, JOKOWI Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker (Jakarta: NouraBook, 2012),

(51)

diikuti oleh perilaku yang terpuji, hasil dari didikan petuah-petuah kebaikan dari bapak dan kakeknya yang didapat sedari kecil.

Setiap orang bangga akan kepemimpinannya, kota Solo seperti menemukan pahlawan baru. Joko Widodo kini lebih dikenal dengan Jokowi, sebuah nama yang diberikan oleh seorang pengusaha Perancis yang mengaguminya, yang mana telah menjadi tokoh yang berpengaruh bagi masyarakat Solo dan kelak akan menjadi tokoh yang berpengaruh di Indonesia.80

Film Jokowi merupakan sebuah film biopik dengan formula yang dikatakan basi. “From zero to hero” yang menyuguhkan seorang tokoh yang dipuji-puji tampa cela. Jokowi di film ini benar-benar seperti malaikat, sedikitpun noda tak dibiarkan menetes Jokowi dan kesempurnaannya yang sudah dibangun sejak awal film. Satu-satunya kesalahan yang diperlihatkan Jokowi adalah ketika ia berkelahi, akhirnya kena marah oleh bapaknya, walaupun sebenarnya Jokowi kecil dipukul karena ia menolak uang sogokan dari temannya, membalas pemukulanpun tidak.81

Walaupun sebenarnya Jokowi merasa keberatan karena merasa belum layak cerita kehidupannya difilmkan, film ini sudah dirilis dan diputar dibioskop-bioskop di Indonesia pada tanggal 20/6/13. Berbeda dengan Habibie yang ikut turun berpartisipasi dalam

80https://indosenima.com/2013/05/sinopsis-film-jokowi (diakses pada Senin 7 Mei

2018 pukul 09.10)

81https://raditherapy.com/2013/06/review-jokowi-2013 (diakses pada Senin 7 Mei

(52)

proses syuting Habibie dan Ainun, Jokowi tidak ikut serta dalam sedikitpun prosesnya. “merasa malu dan belum merasa layak difilmkan” begitulah ungkapan kesederhanaan jokowi ketika ditanya

tentang ide pembuatan filmnya.82

Dalam sebuah wawancara, Jokowi pun mengatakan, “lebih memilih tidur daripada menonton film Jokowi”. Meskipun demikian ia mengapresiasi film buatan anak bangsa tersebut. Menanggapi hal tersebut pemeran utama tokoh Jokowi, Teuku Rifnu Wikana juga ikut memberikan komentarnya. “Ya mungkin dia (Jokowi) ngantuk. Mungkin Bapak terlalu capek memikirkan Jakarta, kalau tertidur nonton itu haknya,” ungkap Teuku Rifnu Wikana saat di Jakarta Pusat

25/6/2013.83

KK Dheeraj selaku produser film mengklaim sudah bertemu Jokowi dan sudah mendapat persetujuan dari Bapak Presiden ke 7 tersebut. “Memang awalnya tidak setuju. Kalau tidak, hari ini tidak dirilis di Solo,” katanya pada wartawan saat jumpa pers di pusat

perbelajaan di Solo. “Jokowi tidak setuju karena khawatir ada unsur

politik di dalam perbuatan film tersebut”, tambahnya. Namun, setelah

ia menjelaskan kepada Jokowi bahwa film tersebut tidak bermuatan politik, akhirnya Jokowi menyetujui pembuatan film tersebut. “Saya sudah jelaskan bahwa film ini inspiratif, karena lebih fokus

82

https://m.republika.co.id/berita/senggang/film/13/07/12/mpggje-film-jokowi-cerita-kehidupan-sederhana-seorang-pengusaha (diakses pada Senin 7 Mei 2018 pukul 09.30)

83

(53)

mengangkat cerita masa kecil Jokowi,” ujar KK Dheeraj dihadapan

awak media yang hadir.84 Walaupun demikian banyak beredar berita

miring tapi sejatinya dalam film ini menyuguhkan sesosok pemimpin yang memiliki karakter yang sederhana dan pekerja keras.

Seperti dalam produksi film layar lebar yang lain, dalam pembuatan film Jokowi ini melibatkan banyak pihak (crew) yang terbagi dalam beberapa bagian, diantaranya:

Produser : KK Dheeraj

Sutradara : Azhar Kinoy Lubis

Penulis : Joko Nugroho, Azhar Kinoy Lubis Pengarah peran : Jeddy Lumelle

Manager produksi : Otong Tarmidi Penata skrip : Joko Nugroho Penata kamera : Muhammad Firdaus Penata busana : Erwin Wijaya Penata Rias : Didin Syamsudin Penata Artistik : Frans XR Paat Perekam Suara : Djoko Setiadi

Penata Musik : Yovial Tri Purnomo Virgi Penata suara : Adityawan Susanto Penata gamabar : Wawan I Wibowo

84

(54)

Fotografi : Donny Herlambang Produksi : K2K Prodution Pemeran

1. Teuku Rifnu Wikana sebagai Jokowi 2. Prisia Nasution sebagai Iriana

3. Ayu Dyah Pasha sebagai Sujiatmi (Ibu Jokowi) 4. Susilo Badar sebagai Notomiharjo (Bapak Jokowi) 5. Landung Simatupang sebagai (Wirorejo kakek Jokowi) 6. Ratna Riantiarno sebagai Bu Harjo

7. Dani Dwi Kris sebagai Jupri (kawan Jokowi kecil)

8. Ahmad Nur Rohman sebagai wandi (kawan Jokowi kecil) 9. Ilham Ridho Ilahi sebagai Jokowi (4 tahun)

10.Vincetius Aldy Pyo sebagai Jokowi (10 tahun) 11.Ilham Rohman Wijaya sebagai Jokowi (bayi) 12.Rukman Rosadi sebagai Pakde Jarwo

13.Annisa Hertami sebagai Iid

14.Nurul Hidayati sebagai Iid (8 tahun) 15.Farisah sebagai Iid (2 tahun)

16.Prit Timoty sebagai pakde Miyono B. Alur Cerita Film Jokowi

(55)

yang bernama Joko Widodo, yang tinggal dan hidup di pinggiran sungai. Masa kanak-kanaknya yang jauh dari istilah kecukupan telah dilaluinya. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat untuk meneruskan sekolahnya ke pendidikan yang lebih tinggi.85

Kecintaannya pada musik rock ia buktikan ketika ia pulang sekolah melintas di Trencem, tempat latihan salah satu grup musik aliran rock. Jokowi pun sering mengunjungi tempat latihan grub tersebut. Dari tabungannya, Joko mulai sering membeli kaset musik rock. Selain itu, poster berbagai grup rock dari mancanegara juga menghiasi dinding kamarnya. Menurutnya musik rock adalah sebuah kebebasan. Musik rock itu liriknya liar, tegas, semangat, dan mampu mendobrak, mendorong perubahan, itu alasanya mencintai musik rock.86 Kebiasaan tersebut yang telah bertah

Gambar

Di Gambar 4.1 Scene 17 terlihat dialog yang menjelaskan Joko sedang belajar
Kemudian Di Gambar 4.2 Scene 44 ini ada sebuah adegan dimana terlihat ketika
Di Gambar 4.3 Scene 18 menceritakan kejadian ketika Joko pulang dari tempat
Gambar 4.4
+7

Referensi

Dokumen terkait

kukenal baik di Kampus Matahari Terbit itu karena di dorong- dorong oleh rasa malu meraung- raung kepadaku untuk membunuh janin yang mulai menumbuh dalam rahimnya

Dapunta memiliki penetapaan atau perencanaan yang matang ketika Dapunta dipaksa untuk mengikuti jejaknya tetapi dia menolak dan adegan saat Dapunta menemui Coach Ferdy dan

Dari kedua poin yang dicanangkan oleh Kemendikbud itu dapat dipahami bahwa kedua poin itu menekankan agar peserta didik menjadi pribadi yang peduli pada

Adapun salah satu pesan yang di sampaikan adalah dengan adanya sekolah darurat anak jalanan dapat belajar dan menambah ilmu terlihat dari beberapa adegan anakj alanan

Akan tetapi sebagai tontonan yang mengedukasi dan dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang dapat memberikan ilmu pengetahuan kepada penonton terutama

v NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM FILM GURUKU KARYA DEAN GUNAWAN Arifian Adi Setyo NIM 1123301091 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan gambaran kalimat yang memiliki nilai pendidikan karakter dalam tiga novel karya Azhar Nurun Ala terbitan

Peneliti menyadari bahwa skripsi masih terdapat kekurangan.Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.Semoga skripsi ini dapat memberi manfaat untuk peneliti