OBJEK BURUNG HANTU SEBAGAI IDE GAGASAN BERKARYA TENUN TAPESTRI.

62  31 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

[Type text]

OBJEK BURUNG HANTU

SEBAGAI IDE GAGASAN BERKARYA TENUN TAPESTRI

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

dalam Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Seni Rupa

Disusun Oleh:

Nisa Apriyani 0900019

JURUSAN PENDIDIKAN SENI RUPA

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

(2)

[Type text]

Objek Burung Hantu Sebagai Ide

Gagasan Berkarya Tenun Tapestri

Oleh Nisa Apriyani

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni

© Nisa Apriyani 2014 Universitas Pendidikan Indonesia

Juni 2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

(3)

[Type text]

Nisa Apriyani (0900019)

OBJEK BURUNG HANTU

SEBAGAI IDE GAGASAN BERKARYA TENUN TAPESTRI

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING:

Pembimbing I,

Dra. Tity Soegiarty, M.Pd.

NIP. 195509131985032001 Pembimbing II,

Zakiah Pawitan, M.Ds.

NIP. 198305052005012001 Diketahui oleh,

Ketua Jurusan Pendidikan Seni Rupa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni

Universitas Pendidikan Indonesia

Bandi Sobandi, M.Pd.

NIP. 197206131999031001

(4)

[Type text]

Nisa Apriyani NIM. 0900019

OBJEK BURUNG HANTU

SEBAGAI IDE GAGASAN BERKARYA TENUN TAPESTRI

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH Penguji I,

Dr. Zakarias S Soeteja, M.Sn.

NIP. 196707241997021001

Penguji II,

Drs. Yaya Sukaya, M.Pd.

NIP. 1954030319911031001

Penguji III,

Dr. Nanang Ganda Prawira, M. Sn.

(5)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR ISI

BAB II TENUN TAPESTRI DAN BURUNG HANTU………. ... 7

A. PengertianTenun ... 7

1. Tenun ... 7

a. Alattenun ... 8

(6)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1) TenunPolos ... 10

1) TenunTapestriCorak Rata ... 18

2) TenunTapestriCorakSoumak... 18

(7)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

D. Teori Visual ... 38

2) PercampuranWarnaBahan (Pigmen) ... 42

- TeoriWarna Brewster ... 43

2. PrinsipRupa ... 45

g. Aksentuasi (Emphasis) ... 48

h. Proporsi ... 48

E. PemahamanBurungHantu ... 49

1. Habitat BurungHantu ... 50

2. JenisBurungHantu ... 51

(8)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB III METODE PENCIPTAAN ... 56

A. Ide Berkarya... 56

B. ObservasiLapangan ... 60

C. Studi Material ... 61

D. ObservasiSumber Ide ... 61

E. Pengolahan Ide ... 64

BAB IV ANALISIS VISUAL KARYA ... 98

A. Karya 1 ... 99

1. PengembanganGagasan ... 99

2. Analisis Visual Karya ... 100

a. Teknis ... 100

b. Visual ... 104

B. Karya 2 ... 109

1. PengembanganGagasan ... 109

2. Analisis Visual Karya ... 110

(9)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

b. Visual ... 116

C. Karya 3 ... 121

1. PengembanganGagasan ... 121

2. Analisis Visual Karya ... 122

a. Teknis ... 122

b. Visual ... 127

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 133

A. Kesimpulan ... 133

B. Saran ... 134

DAFTAR PUSTAKA ... xxii

LAMPIRAN

(10)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

OBJEK BURUNG HANTU

SEBAGAI IDE GAGASAN BERKARYA TENUN TAPESTRI

Nisa Apriyani, Tity Soegiarty, Zakiah Pawitan Pendidikan Seni Rupa FPBS UPI Bandung

nisanisadong@gmail.com

ABSTRAK

Gestur serta pola tingkah burung hantu yang begitu menarik dan terdapat beberapa ciri khusus yang membuat burung hantu terlihat berbeda dibandingkan dengan jenis burung lainnya. Dalam masalah penciptaan penulis ingin mengembangkan gagasan berkarya dan visualisasi objek burung hantu. Penulis juga memiliki tujuan untuk mengembangkan gagasan, hasil jadi karya serta visualisasi karya tenun tapestri. Penulis mencoba mengangkat permasalahan objek burung hantu melalui karya tenun tapestri dengan menggunakan media serat alam. Selain itu penulis mencoba memaparkan beberapa gagasan yang mungkin menjadi salah satu pemunculan kreativitas dari segi motif. Dikarenakan sebagian motif yang dimunculkan pada tenun tapestri hanya berupa landscape, flora dan segala hal yang bertemakan lingkungan. Minimnya motif hewan yang digunakan dalam pembuatan tenun, karena pada wujud karya terdahulu hanya motif hewan tertentu yang digunakan sebagai motif tenun misalkan motif ayam dan kuda memberikan kesan etnik. Selebihnya adalah motif dengan corak geometri. Pemilihan media serat agel lebih diutamakan dibanding serat buatan karena lebih ramah lingkungan serta memberi kesan natural sesuai dengan objek untuk menunjang karya tenun tapestri, meski sebagian penggunaan serat dipadupadankan dengan serat alam agel yang telah mengalami proses pewarnaan. Penulis mengaplikasikan teknik tenun corak rata secara keseluruahan serta penggunaan teknik corak soumak sebagai teknik pembuka diawal tenunan dan penutup diakhir tenunan serta macrame sebagai teknik penghias diakhir tenunan. Karya yang diciptakan terdiri dari tiga karya tenun tapestri dengan ukuran yang serupa. Setiap bagian terdiri dari cerita dan makna yang hampir serupa. Secara keseluruhan karya ini menceritakan tentang gestur burung hantu sebagai objek utama. Dari hasil penciptaan ini diharapkan dapat menemukan berbagai inovasi dan ide segar. Dapat dijadikan acuan berkarya dengan memanfaatkan serat alam untuk berkaya khususnya tenun tapestri.

(11)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ABSTRACT

Gesture and owl behavior are very interesting. There are characteristics make the owl look different than other birds. In the matter of creation, the author would like develop idea and visualization of owl. Author also has a goal to develop idea and visualization products woven tapestries. Author lift objects owl issue through products of woven tapestries using natural fiber. Author describes some idea into of the ornament creativity. Because many of ornament that appear in the tapestry woven is landscape theme, flora and environment theme. Tapestry woven rarely use animal ornament, because it only uses certain animal ornament, example chicken ornament and horse ornament gives the impression of ethnic, others use

geometric ornament. ‘Agel’ fiber selection are preferred than synthetic fiber

cause good environment and gives the impression of natural objects on the

product of weaving tapestries, although some use has been given ‘agel’ fiber

textile dye. Author use the style average weaving technique and use the style

(12)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penciptaan

Objek karya seni sangat bermacam-macam, ini sangat tergantung pada ketertarikan seniman tersebut dalam memilih objek.Bukan hal kebetulan bahwa penulis sangat menggemari karakter burung hantu sehingga dengan sengaja objek burung hantu dijadikan sebagai ide berkarya.Ketertarikan terhadap burung hantu dimulai sejak memasuki wilayah perkuliahan.Daya tarik penulis dengan objek burung hantu ialah gestur yang sangat unik meski karakter burung hantu sendiri memiliki kesan yang menyeramkan. Hal lain dikarenakan burung hantu memiliki bentuk yang menarik dari segi perubahan wujud (deformasi) apabila dijadikan sebagai karya rupa. Fokus perhatian pada bentuk bola mata dan bentuk kepala karena kesan lingkar mata yang ditimbulkan memberikan menjadikan objek lebih dinamis.

Alam merupakan tempat penghidupan bagi manusia, sudah menjadi kewajiban sebagai penghuni alam untuk saling menjaga kelestariannya. Burung hantu merupakan binatang yang sudah dikategorikan hampir punah karena polulasinya semakin berkurang. Maraknya penangkapan liar menjadi salah satu alasan kepunahannya yang menjadikan burung hantu sebagai binatang peliharaan.

(13)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

kokoh serta dengan ukuran sayap tiga kali lebih besar dari tubuhnya membuatiaterlihat semakin kokoh sebagai karakter burung hantu. Karakter inilah yang membuat tertarik untuk menampilkan objek burung hantu dalam berkarya. Menurut Widodo (2000, hlm.25):

Bahwa diantara kelompok burung pemangsa, burung hantu termasuk burung yang memiliki ciri-ciri tubuh spesifik yang berbeda dengan burung pemangsa daging yang lain. Ciri-ciri burung hantu adalah berkepala bulat melebar, muka rata, dan matanya mengarah ke depan. Pada wajahnya terdapat garis piringan wajah yang merupakan pembatas pada sekeliling mata.Tubuh burung hantu dibalut bulu-bulu yang sangat halus menyerupai kapas dan dilapisi lilin.Beberapa jenis burung hantu ada yang memiliki jumbai telinga yang dapat ditegakkan.Hampir semua jenis burung hantu pola warna bulunya merupakan perpaduan antara warna abu-abu, cokelat, putih dan hitam.

Kesan mistis yang ditimbulkan oleh karakter burung hantu menjadi salah satu kategori daya tarik penulis dalam membuat karya seni. Penulis ingin menepis kesan mistis yang seolah melekat pada karakter burung hantu. Lihatlah betapa gestur serta pola tingkah burung hantu begitu menarik perhatian sehingga membuat penulis semakin tertarik pada jenis hewan nocturnal yang satu ini.Kesan menakutkan terdapat pula pada suara burung hantu yang aneh disaat mengeluarkan suara mendesis sehingga suasana mistis semakin terasa. Sebagian orang yang masih mempercayai takhayul menganggap bahwa kehadiran burung hantu akanmembawa sial.Bagaimanapun kesan mistis yang ditimbulkan oleh burung hantu, burung hantu tetaplah burung pada umumnya. Memiliki sayap, berparuh, dapat terbang tinggi dan memiliki kaki untuk mencengkram. Hanya saja terdapat beberapa ciri khusus yang membuat burung hantu terlihat berbeda dibandingkan dengan jenis burung lainnya.

(14)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dalam pemilihan bahan tekstil terutama tenun, bagi penulis pemilihan media serat agel lebih diutamakan dibanding serat buatan karena lebih ramah lingkungan serta memberi kesan natural sesuai dengan objek untuk menunjang karya tenun tapestri, meski sebagian penggunaan serat dipadupadankan dengan serat alam agel yang telah mengalami proses pewarnaan.Pengetahuan bahan serat yang baik diperlukan agar sesuai dengan kegunaan serta dapat memelihara sesuai dengan jenis dan sifatnya.Seperti yang dikemukakan oleh Streptiadi, et al. (1998, hlm.124) bahwa serat alami berupa serat agel merupakan serat yang berasal dari daun, berwarna cokelat muda, kekuatan baik dan biasa dipergunakan untuk barang kerajinan.

Penulis mencoba untuk mengangkat permasalahan mengenai objek burung hantu melalui karya Tenun Tapestri dengan menggunakan media serat alam. Bukan hanya dampak negatif bagi ekosistem burung hantu, kondisi alam hingga dampak kepunahan burung hantu akibat kerusakan alam maupun terjadinya penangkapan liar.Namun penulis juga memaparkan pula dampak positif yang ditimbulkan.Selain itu, penulis mencoba untuk memaparkan beberapa gagasan yang mungkin menjadi salah satu pemunculan kreativitas dari segi motif. Dikarenakan sebagian besar motif yang dimunculkan pada tenun tapestri hanya berupa landscape, flora dan segala hal yang bertemakan lingkungan. Minimnya motif hewan yang digunakan dalam pembuatan tenun, karena pada wujud karya-karya terdahulu hanya motif hewan tertentu yang digunakan sebagai motif tenun, misalkan motif ayam dan kuda yang memberikan kesan etnik. Selebihnya adalah motif dengan corak geometri.

Ketertarikan penulis terhadap burung hantu serta seiring bertambahnya tingkat kepunahan burung hantu menjadi sebuah ide bagi penulis untuk membuat karya, maka dari itu penulis bermaksud untuk mebuat karya tenun tapestri.

(15)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

OBJEK BURUNG HANTU SEBAGAI IDE GAGASAN BERKARYA TENUN TAPESTRI.

B. Masalah Penciptaan

Karya tenun tapestri dirasa menjadi sebuah media penyampaian ide gagasan dari masalah yang penulis lihat dalam realita alam mengenai burung hantu.Penulis mencoba mengkritisi fenomena alam khususnya dalam ranah ekosistem alam.

Agar proses berkarya berjalan searah dengan pembahasan permasalahan, maka diperlukan rumusan masalah yang sistematis, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana mengembangkan gagasan berkarya tenun tapestri dengan tema burung hantu?

2. Bagaimana proses visualisasi pembuatan tenun tapestri untuk mengolah objek burung hantu dalam sebuah karya serat alam?

3. Bagaimana visualisasi motif burung hantu dalam teknik tenun tapestri menggunakan media serat alam sebagai media ekspresinya?

C. Tujuan Penciptaan

Adapun tujuan dari penciptaan karya tugas akhir ini, diantaranya sebagai berikut:

1. Mengembangkan gagasan berkarya tenun tapestri dengan tema burung hantu. 2. Menghasilkan proses pembuatan tenun tapestri untuk mengolah objek burung

hantu dalam sebuah karya serat alam.

3. Memvisualisasikan objek binatang burung hantu dalam karya teknik tenun tapestri menggunakan aplikasi media serat sebagai media ekspresinya.

(16)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Manfaat dari pembuatan karya tugas akhir menggunakan teknik Tenun Tapestri ini adalah sebagai salah satu upaya untuk mengembangkan jenis media baru dalam pembuatan karya kriya tekstil dan batik khususnya tekstil tenun dengan teknik tenun tapestri di Jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI dan masyarakat luas umumnya. Diharapkan karya tugas akhir ini dapat menjadi alternatif teknik lebih sederhana dalam menenun tanpa menghilangkan budaya tenun di Indonesia. Terutama untuk memperkenalkan kembali tenun tapestri melalui media serat alam.

Selain itu, berikut penulis paparkan beberapa manfaat yang dapat digali dari pembuatan kriya tenun tapestri ini, diantaranya:

1. Bagi penulis, dapat menambah wawasan berfikir pengetahuan serta kreatifitas dalam pembuatan karya tenun dengan teknik tapestri.

2. Bagi perkuliahan seni kriya, diharapkan dapat mengembangkan kualitas tekstil dan batik dengan adanya tenun menggunakan teknik tenun tapestri. 3. Bagi pemerintah, khususnya di kota bandung untuk lebih melestarikan alam

dan diharapkan dapat lebih membuka mata mengenai potensi tekstil untuk pengembangan masyarakat yang kreatif dan mencintai karya dalam negeri. 4. Bagi masyarakat umum, dapat dijadikan motivasi untuk mengembangkan

kreatfitas dalam berkreasi karya tenun dengan teknik tenun tapestri. Serta manfaat utama penulis dalam gagasan membuat tenun teknik tapestri ialah untuk tetap terus kreatif menciptakan motif dan bentuk baru dalam pembuatan tenun dengan teknik tenun tapestri tanpa menghilangkan nilai tradisi dan budaya di Indonesia.

E. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam penulisan serta pembacaan laporan penciptaan karya Tenun Tapestriyang berjudul OBJEK BURUNG HANTU

SEBAGAI IDE GAGASAN BERKARYA TENUN,maka karya tulis ini disusun

(17)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

1. BAB I PENDAHULUAN, yang berisi tentang Latar Belakang Penciptaan,

Masalah Penciptaan, Tujuan Penciptaan, Manfaat Penciptaan, serta Sistematika Penulisan.

2. BAB II LANDASAN PENCIPTAAN, berisi tentang:

a. Kajian Teoritik, yang menjelaskan tentang Tenun Tapestri, serat, serat alami, dan benang tenun.

b. Kajian Empirik, yang menjelaskan tentang burung hantu. c. Konsep Penciptaan.

3. BAB III METODE PENCIPTAAN, menjelaskan tentang metode dan

langkah-langkah yang penulis gunakan dalam membuat karya ini: a. Ide Berkarya

1) Persiapan Alat dan Bahan 2) Tahap Proses Sketsa 3) Tahap Menenun

4) Tahap Penyelesaian (finishing)

4. BAB IV HASIL DAN ANALISIS KARYA, berisi analisis dan pembahasan

karya tenun tapestri yang diciptakan diantaranya membahas: a. Teknik tenun dan ragam corak tenun tapestri

(18)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB III

METODE PENCIPTAAN

A. Ide Berkarya

Dalam proses berkarya seni, tahapan yang harus dilalui ialah metode penciptaan. Dalam metode penciptaan tercantum langkah-langkah prosedural dalam pembuatan karya seni, khususnya dalam karya tenu tapestri yang dibuat penulis.

(19)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Bagan 3.1

Kerangka Alur Kerja Proses Pembuatan Karya (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Bagan di atas merupakan penggambaran ide dari proses berkarya penulis dalam menciptakan karya tenun tapestri ini. Berawal dari praide, sebelum menemukan ide/gagasan penulis mendapatkan pencerahan dari pola dalam berkarya yang dijalani penulis sampai fenomena yang terjadi di lingkungan penulis yang nantinya menjadi sebuah kegelisahan dan menjadi gagasan terbentuknya karya seni tenun tapestri.

(20)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dari kebiasaan pola dalam berkarya sampai melihat dan merasakan fenomena yang terjadi di lingkungan penulis, kemudian muncul ide/gagasan yang di eksekusi dalam sebuah karya seni. Datangnya gagasan penulis membuat karya tenun tapestri dan karya tulis ini tentunya berasal dari dua faktor yang mempengaruhi diantaranya faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah sebuah kegelisahan dari diri sendiri terhadap ide yang diusung pada karya tenun tapestri yang penulis ciptakan, sedangkan faktor internal adalah dorongan dari luar, dalam hal ini adalah lingkungan sekitar penulis.

Setelah mendapatkan ide kemudian penulis merenungkan dan mengkaji gagasan yang sudah didapat untuk nantinya dituangkan kedalam sebuah karya seni. Bermula dari observasi lapangan, studi material hingga observasi sumber ide. Proses ini adalah proses dimana penulis melakukan studi pustaka sebagai bahan kajian menggali pengetahuan lewat sumber buku, internet, dan sumber literasi yang lain untuk menguatkan ide serta konsep karya yang akan digarap.

Tidak hanya dari sumber literasi penulis melakukan observasi langsung ke lapangan untuk mendapatkan data atau informasi yang mendukung. Fungsi dari observasi tersebut adalah turut merasakan fenomena yang sedang terjadi.

Setelah penulis mendapatkan data-data dan informasi sebagai bahan untuk berkarya kemudian penulis melakukan telaah fakta yang didalamnya mengkaji fakta realita dan fenomena yang nantinya penulis jadikan landasan untuk melakukan studi awal. Studi awal disini yaitu proses berkarya yang didalamnya adalah mengolah media, teknik dan konsep.

(21)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Salah satu satwa liar yang termasuk tinggi tingkat kepunahannya adalah burung hantu. Burung hantu pada dasarnya adalah satwa liar yang terbiasa hidup dialam bebas, bukan dijadikan sebagai satwa peliharan. Hal diatas tidak terlepas dari kehidupan masyarakat modern ini yang umumnya senang dengan karakter burung hantu dan menjadikannya sebagai satwa peliharaan.

Tema burung hantu yang dipilih penulis bukan tanpa alasan, selain menggemari binatang burung hantu, namun sosok binatang ini memiliki filosofis yang mendalam, meski sosok binatang ini sering dijadikan simbol-simbol dalam produk desain. Namun bila diaplikasikan dalam seni Tenun Tapestri tentunya akan sangat menarik dan menantang. Dengan sosok burung hantu yang kaku, bagaimana caranya membuat sosok burung hantu menjadi lekukan garis dinamis dan melintas disetiap benangnya, fokus yang terdapat pada matanya, posisi diam serta sayap yang lebarnya hingga tiga kali lebih besar dari tubuhnya.

Karakter burung hantu yang terkesan selalu diam tak banyak bergerak membuat orang banyak berfikir lebih dalam. Burung yang tidak banyak bicara (bersuara) namun lebih banyak bertindak. Ini merupakan karakter bijaksana yang patut untuk dicontoh. Sosok burung hantu juga dijadikan sebagai lambang contoh Densus 88, dimana sekelompok organisasi yang menentang dan membasmi teroris. Layaknya burung hantu yang senang akan memangsa tikus, tikus itulah yang biasa dianggap sebagai teroris dan juga sebagai koruptor. Mengenal sosok burung hantu meski menyeramkan ternyata merupakan sosok yang unik. Segala apa yang ada dalam dirinya dapat dijadikan sebagai suatu panutan.

Dalam skripsi penciptaan ini penulis mengkritisi tentang fenomena tingkat kepunahan burung hantu yang semakin tinggi. Karya tenun tapestri ini menggunakan medium serat agel sebanyak tiga buah karya dengan ukuran serupa. Objek tenun tapestri yang akan ditampilkan adalah dengan perubahan wujud deformasi.

(22)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dengan cara mengubah bentuk objek dengan cara menggambarkan objek tersebut dengan hanya sebagian mewakili, atau pengambilan unsur tertentu yang mewakili karakter hasil interpretasi yang sifatnya sangat hakiki”.

Berdasarkan permasalahan yang ada menjadi sebuah wacana menarik bagi penulis untuk diangkat sebagai ide berkarya tenun tapestri. Dalam karya ini penulis mengaplikasikan media serat agel menjadi sebuah karya tenun tapestri. Dari keseluruhan karya, dalam pembuatannya akan melibatkan objek burung hantu. Penggunaan serat alam terdapat pada bagian-bagian di setiap karya, serta dengan adanya penggunaan warna natural atau warna asli serat agel yang telah diolah menjadi bahan kerajinan memiliki fungsi benang merah pada setiap karya. Kemudian disesuaikan pula dengan kebanyakan warna burung hantu, dengan pemberian aksen warna berdasarkan karakter filosofis burung hantu itu sendiri.

Penggunaan warna natural terdapat diseluruh karya mulai dari karya satu hingga terakhir. Warna natural disini ialah warna asli dari serat agel. Warna natural juga sebagai benang merah pada setiap karya. Kemudian objek disesuaikan dengan kebanyakan warna pada bulu burung hantu. memberikan aksen warna berdasarkan karakter filosofis burung hantu itu sendiri.

B. Observasi Lapangan

Dalam observasi lapangan penulis melakukan uji coba dalam pembuatan karya tenun tapestri. Memperkirakan waktu yang cukup lama dalam pembuatan karya tenun tapestri. Hal lain yang diperhitungkan dalam pembuatan karya tenun tapestri ini ialah teknik serta ketelitian dalam proses pembuatan karya tenun tapestri. Diakui oleh penulis bahwa karya tenun tapestri ini merupakan hal yang baru bagi penulis untuk dijadikan sebuah karya.

Studi lapangan yang dilakukan oleh penulis selain melakukan uji coba ialah observasi berupa studi pustaka serta studi visual berupa karya maupun objek yang dijadikan dalam karya tenun tapestri.

(23)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Kemudian melihat secara tidak langsung melaui studi pustaka yaitu membaca buku dari berbagai sumber yang relevan untuk dijadikan landasan teoritis dalam pembuatan karya tenun tapestri. Studi pustaka yang dilakukan penulis ialah melalui media buku, media tulis, media cetak maupun media internet.

Selanjutnya penulis melakukan studi visual berupa objek yang akan diaplikasikan dalam karya tenun tapestri. Objek yang digunakan ialah burung hantu. Penulis melakukan kunjungan langsung ke kebun binatang, tempat penangkaran burung hantu serta tempat-tempat tertentu dimana banyak menjual aneka jenis burung hantu baik legal maupun ilegal. Studi visual ini dilakukan pula melalui media internet, hal ini dilakukan untuk mengetahui beragam jenis burung hantu yang terdapat di seluruh dunia sehingga karakter objek burung hantu tidak terbatas oleh karakter burung hantu yang terdapat di Indonesia.

C. Studi Material

Dalam pembuatan tenun tapestri tentunya harus mengetahui prosedur pembuatan tenun lengkap dengan penggunaan alat dan bahan yang dikenal maupun tidak dikenal pada umumnya. Hal ini dilakukan sebagai sumber referensi teori untuk dijadikan landasan teori yang relevan. Maka ada baiknya penulis juga melakukan studi material sebagai penunjang alat maupun bahan dalam proses pembuatan tenun tapestri.

Dalam studi material mulanya penulis melakukan observasi melalui media pustaka berupa sumber internet. Kemudian material berdasarkan sumber tersebut sangatlah sulit di dapat. Oleh karena itu penulis membuat beberapa media sebagai penunjang pembuatan tenun. Penulis juga menggunakan beberapa media pengganti yang sulit dibuat dan didapat khususnya diwilayah Bandung.

D. Observasi Sumber Ide

(24)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

memicu kreatifitas dalam proses penciptaan. Pada tahap ini penulis melakukan beberapa kegiatan seperti: penelitian terhadap objek dengan memotret dengan studi pengenalan teknis, studi literatur, mengamati lingkungan sekitar sebagai acuan dalam menstimulasi karya-karya yang akan dibuat.

Permasalahan akan kepunahan burung hantu dirasa penting untuk diinformasikan kepada masyarakat, dalam hal ini penulis mencoba melakukan pendekatan terhadap objek burung hantu. Hal tersebut ditujukan untuk menimbuhkan keadaran masyarakat mengenai tingkat kepunahan burung yang semakin tinggi.

Pada tahapan ini penulis melakukan observasi langsung ke Kebun Binatang Bandung. Hal ini bertujuan untuk mengamati secara langsung tingkah pola burung hantu. Dari segi gestur burung hantu maupun kandang yang disinggahi sebagai tempat tinggal burung hantu di Kebun Binatang Bandung. Dari observasi yang penulis dapatkan bahwa burung hantu memang sebagian besar selalu bertengger di bagian batang pohon. Hal ini terlihat dari tempat penangkaran burung hantu yang terdapat banyak sekali batang pohon.

Gambar 3.1

Tempat Penangkaran Burung Hantu Jenis Ketupa Ketupu Bertempat Di Kebun Binatang Bandung, Jawa Barat

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

(25)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

hantu pada umumnya. Kemudian penulis mengamati beberapa burung hantu, dari mulai gerak, gestur, serta angle yang sesuai untuk di jadikan sebagai objek karya tenun tapestri yang menarik.

Tidak hanya mengamati, penulis juga mendokumentasikan secara langsung gestur yang di anggap menarik untuk nantinya dijadikan sebagao sketsa pembuatan objek karya tenun tapestri. Pemotretan burung hantu ini salah satunya sebagai penguatan visual untuk dijadikan detail gambar dari sketsa burung hantu yang sebelumnya dibuat.

Gambar 3.2

Beberapa Angle Objek Burung Hantu yang Berhasil Diabadikan Oleh Penulis (Sumber: Dokumentasi Penulis)

(26)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.3

Salah Satu Contoh Sketsa yang Dibuat Berdasarkan Pengamatan Terhadap Lingkungan Di Sekitar Penulis.

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

E. Pengolahan Ide

Pengolahan ide yang merupakan proses pengolahan konsep yang kemudian diwujudkan dalam bentuk karya lukis yang dimulai dengan olah rasa, memperhatikan faktor internal dan eksternal, sampai pada penuangan ide dalam bentuk sketsa. Tidak hanya melalui proses pembuatan sketsa, penulis melakukan pengolahan ide dengan bantuan beberapa proses pewarnaan secara manual untuk mencapai maksud yang diinginkan.

Ide berkarya penulis dapatkan dari beberapa sumber yang ada seperti majalah, jurnal, ensiklopedia, internet, dan karya-karya tenun tapestri dari berbagai seniman baik lokal maupun mancanegara.

Proses penuangan ide penulis kembangkan melalui sketsa kasar objek burung hantu menjadi lebih sederhana. Proses penyederhanaan ini disebut deformasi atau salah satu tahapan penyederhanaan bentuk. Penyederhanaan ini berdasarkan gestur dari objek asli dan sketsa kasar yang sebelumnya telah dibuat.

Penyempurnaan objek yang dibuat penulis dilakukan dengan menggunakan media pewarna sederhana yaitu pensil warna dengan teknik

watercolor atau transparan, hingga setiap objek yang dihasilkan memiliki kualitas

(27)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Dari semua objek tersebut penulis mencoba menggali makna atas karya berupa burung hantu sebagai objek utama. Setiap objek yang divisualisasikan memiliki makna serta konsep tentang permasalahan yang penulis angkat dalam karya tulis ini.

Material yang digunakan dalam pembuatan tenun tapestri menggunakan serat agel sebagai bahan utama. Serat agel merupakan pengolahan daun yang berasal dari pohon Gebang, pohon tersebut masih sejenis dengan pohon Palm.

Dari segi bahan, penulis lebih memilih memesan produk bahan yang sudah diolah untuk dijadikan sebagai karya tenun tapestri. Bahan ini diperoleh langsung dari Yogyakarta, pemesanan bahan dilakukan secara online. Kemudian karena kebutuhan serat yang semakin bertambah, penulis lebih memilih mencari serat di wilayah Bandung khususnya di sekitaran Pasar Baru Bandung yang tepatnya di jalan Cibadak, meski yang tersedia hanya warna natural. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan, penulis melakukan pewarnaan dengan menggunakan pewarna tekstil.

F. Proses Berkarya

(28)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

PROSES PEMBUATAN KARYA TENUN TAPESTRI

PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN

TAHAP PEMBUATAN SKETSA

TAHAP PERSIAPAN BAHAN

TAHAP PEMINDAHAN SKETSA

TAHAP MENENUN

TAHAP PENYELESAIAN

1. Pemasangansket sapada tapestry

loom

2. Menenundengan corak rata 3. Menenundengan

corak soumak 4. Pemotonganben

anglusi

(29)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Bagan 3.2

Kerangka Alur Kerja Proses Pembuatan Karya Tenun Tapestri (Sumber: Dokumentasi Penulis)

1. Persiapan Alat dan Bahan

Berikut adalah alat serta bahan yang digunakan dalam proses pembuatan tenun tapestri ini, diantaranya:

a. Alat:

1. Kuas dan wadah

Gambar 3.4 Kuas dan Wadah (Sumber: Dokumentasi Penulis)

(30)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 2. Tapesri Loom

Gambar 3.5

Bagian Loom yang Sudah Ditancapkan Paku (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.6 Tapestri Loom

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

(31)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dengan jarak yang sama, paku ini berfungsi sebagai pengait benang lusi untuk membuat tenun tapestri.

3. Pengganti Bobbin

Gambar 3.7 Pengganti Bobbin (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pensil warna di atas tidak berfungsi sebagai alat untuk mewarnai, melainkan berfungi sebagai alat pengganti Bobbin. Bobbin merupakan alat untuk menggulung benang.

4. Sisir Plastik

Gambar 3.8 Sisir Plastik

(32)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar di atas merupakan sisir plastik sebagai pengganti sisir kayu. Sisir ini digunakan untuk memadatkan tenunan.

5. Gunting

Gambar 3.9 Gunting

(Sumber: Dokumentasi penulis)

Gunting pada gambar di atas berfungsi sebagai pemotong benang pada saat proses pembuatan tenun tapestri.

6. Laptob

(33)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Laptop diatas berfungsi untuk penyuntingan gambar pada tahap pembuatan sketsa. Sketsa disederhanakan kemudian dilakukan proses penyuntingan menggunakan program khusus untuk merubah sketsa gambar menjadi ukuran sebenarnya saat di cetak. Hasil cetakan tersebut dijadikan sebagai acuan untuk membuat karya tenun tapestri.

b. Bahan: 1. Kertas Hvs

Gambar 3.11 Kertas HVS

(Sumber: Dokumentai Penulis)

Kertas HVS pada gambar di atas berfungsi sebagai pembuatan sketsa awal. Sketsa masih berupa coretan kasar, dimana masih melakukan pengubahan bentuk objek asli ke bentuk objek yang lebih sederhana.

(34)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.12 Kertas Gambar/Sketch Book (Sumber: Dokumetasi Penulis)

Kertas gambar berfungsi sebagai tempat memindahkan hasil sketsa gambar yang sudah jadi. Kertas ini sangat berguna dalam proses pewarnaan sketsa agar keras tidak mudah rusak dan sobek.

3. Pensil dan Penghapus

Gambar 3.13 Pensil dan Penghapus (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pensil dan penghapus pada gambar diatas merupakan media pertama dalam pembuatan sketsa, baik sketsa kasar maupun sketsa yang sudah jadi.

(35)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.14 Spidol Hitam

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Spidol pada gambar di atas berfungsi untuk menebalkan garis outline, yang merupakan garis pembatas pada gambar.

5. Pensil Warna

Gambar 3.15 Pensil Warna

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pensil warna pada gambar di atas berfungsi untuk mewarnai objek gambar dalam pembuatan sketsa tenun tapestri.

(36)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.16 Benang Katun

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Benang katun yang terdapat pada gambar di atas berfungsi sebagai benang

lusi. Benang lusi merupakan benang yang menjulur dari atas ke bawah. Benang

lusi di ikat dan dikaitkan pada tapestri loom.

7. Tali Agel

Gambar 3.17 Tali Agel

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

(37)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 2. Tahap Pembuatan Sketsa

a. Pembuatan Sketsa Manual

Gambar 3.18

Proses Pembuatan Sketsa Secara Manual. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pada tahapan ini pembuatan desain sketsa objek burung hantu dilakukan secara manual. Hal ini dilakukan demi mendapat hasil objek yang diinginkan. Kemudian pada sketsa dipertegas dengan garis outline untuk memudahkan proses pindai karya sketsa yang sudah jadi.

b. Penyuntingan Sketsa pada Media Komputer

Gambar 3.19

Proses Pembuatan Sketsa Menggunakan Program Bantuan CorelDRAW X4. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

(38)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

dilanjutkan dengan proses penyuntingan. Proses penyuntingan ini dilakukan menggunakan perangkat komputer agar mendapatkan bentuk yang sama dan sesuai. Hal ini dimaksudkan untuk membuat beberapa alternatif pilihan warna objek burung hantu yang diinginkan. Sampai akhirnya mendapatkan bentuk dan warna objek yang sesuai untuk proses pembuatan karya tenun tapestri.

c. Pewarnaan Sketsa Objek Utama

Gambar 3.20

Proses Pewarnaan Sketsa Desain Objek Utama Secara Manual. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Setelah melalui proses penyuntingan, sketsa kembali di print kemudian lakukan beragam pewarnaan pada setiap objek. Hal ini dilakukan agar tersedia beberapa pilihan untuk menentukan objek utama dalam setiap karya tenun tapestri. Proses pewarnaan ini menggunakan media pensil warna serta kuas sebagai penunjang gradasi dengan teknik watercolor.

(39)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.21

Proses Pembuatan Sketsa Desain Backround Secara Manual. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Penulis membuat desain backround. Sebelumnya ukuran untuk desain baground sudah disesuaikan dengan ukuran yang diinginkan oleh penulis dengan memperkecil skala dari ukuran aslinya. Dalam pembuatan sktesa backround menggunakan spidol hitam dengan teknik manual.

e. Pewarnaan Sketsa Baground

Gambar 3.22

Proses Pewarnaan Sketsa Desain Backround Secara Manual. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

(40)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 3. Tahap Persiapan Bahan

Persiapan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan karya tenun tapestri ini merupakan salah satu kegiatan yang cukup menguras biaya dan ketersedian bahan yang ada. Bahan yang digunakan merupakan benang katun atau tali kasur serta serat agel.

a. Pemasangan Benang Lusi

Gambar 3.23

Proses Pemasangan Benang Lusi dengan Menggunakan Bahan Tali Kasur. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Proses pertama adalah pemasangan benang lusi dengan cara mengikat paku yang ada pada tapestri loomdengan tali kasur, kemudian tarik ke bawah lalu ke atas berulang-ulang sesuai kebutuhan. Jarak tiap kurang lebih 1 cm, agar benang lusi kuat dan rata.

(41)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.24

Proses Membuat Tali Penguat pada TapestriLoom (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Membuat tali penguat dengan cara menyiapkan benang yang diikat pada tiang tapestry loom, tarik dan dianyam satu persatu pada lusi. Pengikatan dilakukan sebanyak 2 atau 3 kali. Pastikan bahwa jarak lusi sama dan kencang.

c. Simpul Awal (Simpul Soumak)

Gambar 3.25

Proses Membuat Simpul Soumak (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Kemudian buatlah simpul soumak 2 atau 3 baris dengan jarak dari bawah atau dasar kerangka 15 cm. Simpul ini sebagai simpul awal dalam pembuatan tenun tapestri.

(42)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.26

Proses Pencetakan Sketsa Kedalam Ukuran Kertas A0 Menggunakan Printer (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Sketsa yang telah dibuat sebelumnya baik secara konvensional ataupun dengan bantuan komputer kemudian dipindahkan ke sebuah kertas ukuran A0. Pemindahan sketsa terlebih dahulu memindaidesain hitam putih yang sudah jadi, setelah itu dilakukan proses penyuntingan di komputer agar sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Kemudian hasil diprint berdasarkan ukuran yang telah ditentukan.

5. Tahap Menenun.

(43)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.27

Pemasangan Sketsa Pertama pada Tapestri Loom (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.28

(44)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.29

Pemasangan Sketsa Ketiga pada Tapestri Loom (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Proses awal adalah tahap pemasangan sketsa ukuran A0 pada tapestri

loom, sketsa ini berfungsi sebagai acuan desain dalam pembuatan tenun. Sketsa

yang terpasang di tapestri loom juga berfungsi agar tenun yang dihasilkan presisi dan sesuai dengan desain yang diinginkan. Kertas dipasang kemudian diberi perekat pada beberapa ujung kayu. Hal ini berfungsi agar sketsa terpasang merata dan tidak bergelombang.

2. Menenun dengan Corak Rata

Gambar 3.30

(45)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.31 Proses Menenun Karya Kedua (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.32

Proses Menenun Karya Ketiga (Sumber: Dokumentasi Penulis)

(46)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

menggunakan sisir plastik. Buatlah tenun dengan corak rata sesuai dengan desain atau rencana.

3. Menutup dengan Corak Soumak

Gambar 3.33

Menutup dengan Corak Soumakpada Karya Pertama (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.34

(47)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.35

Menutup dengan Corak Soumak pada Karya Ketiga (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Jika sudah selesai menenun sesuai ukuran yang diinginkan, tutuplah dengan corak soumak sebanyak 2 atau 3 kali dengan menggunakan bahan benang kasur.

Berikut adalah hasil tenunan sementara yang masih terpasang pada tapestri

loom.

Gambar 3.36

(48)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.37

Tenunan Kedua yang Masih Terpasang pada Tapestri Loom (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.38

(49)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

4. Pemotongan Benang Lusi

Gambar 3.39

Memotong Benang Lusi pada Karya Pertama (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.40

(50)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.41

Memotong Benang Lusi pada Karya Ketiga (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Tenunan yang masih terpasang di tapestri loom kemudian gunting bagian paling atas dan paling bawah benang lusi, atau benang kasur yang masih mengikat pada paku yang terdapat di tapestri loom.

5. Merapihkan Karya

Gambar 3.42

(51)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.43

Merapikan Karya Kedua dengan Gunting (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.44

Merapikan Karya Ketiga dengan Gunting (Sumber: Dokumentasi Penulis)

(52)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

6. Simpul Makrame

Kemudian buat simpul akhir anyaman sebagai penguat dan penghias dengan simpul macrame.

Gambar 3.45

Menyimpul Akhir Tenunan Karya Pertama (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.46

(53)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.47

Menyimpul Akhir Tenunan Karya Ketiga (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Berikut adalah hasil dari masing-masing karya yang sudah di hias oleh simpul makrame, simpul ini berfungsi pula sebagai simpul penguat dari karya tenun tapestri yang dibuat.

Gambar 3.48

(54)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.49

Hasil Akhir dari Simpulan Macrame Karya Kedua (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.50

(55)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.51

Hasil Akhir Sementara Tenun Tapestri Karya Pertama (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.52

(56)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.53

Hasil Akhir Sementara Tenun Tapestri Karya Ketiga (Sumber: Dokumentasi Penulis)

6. Tahap Penyelesaian (finishing)

Gambar 3.54

(57)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

(Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pada tahap penyelesaian penulis mempersiapkan kayu penampang untuk meletakkan karya tenun tapestri yang sudah selesai berdasarkan ukuran dari masing-masing karya. Berikut adalah salah satu kayu penampang yang nantinya akan dipasang karya tenun tapestri yang sudah selesai.

Setelah kayu penampang sudah selesai dengan melalui proses pernis, tahap selanjutnya ialah pemasangan karya tenun tapestri pada kayu penampang dengan cara menyelipkan karya tenun pada ruas kayu yang sudah diberi jarak kemudian merapatkannya dengan menggunakan paku payung agar lebih merekat dan terlihat tidak longgar.

Gambar 3.55

(58)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.56

Proses Pemasangan Karya Tenun Kedua pada Kayu Penampang (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.57

Proses Pemasangan Karya Tenun Ketiga pada Kayu Penampang (Sumber: Dokumentasi Penulis)

(59)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.58

Hasil Akhir Karya Pertama Tenun Tapestri (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gambar 3.59

(60)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Gambar 3.60

(61)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Meski kepunahannya yang semakin tinggi, burung hantu tetap memiliki makna filosofis tersendiri yang cukup kuat serta berkesan bagi penulis. Setelah melakukan pengamatan terhadap beberapa jenis burung hantu serta beberapa gestur dan pola tingkah burung hantu, penulis merasa ada beberapa hal yang perlu penulis kritisi guna penyadaran terhadap diri sendiri khususnya masyarakat luas pada umumnya. Langkah penyadaran tersebut penulis coba ungkapkan melalui media tenun tapestri yang penulis ciptakan. Bahwasanya pengingatan kembali mengenai tingkat kepunahan burung hantu yang cukup berperan dalam ekosistem melalui karya tenun tapestri. Mengingatkan kembali melalui gestur dan pola gerak burung hantu. Gestur ini tidak ditampilkan dengan bentuk utuh dan realis, melainkan dengan bentuk penggubahan yang lebih sederhana atau deformasi agar mudah dicerna oleh masyarakat umum.

Penulis membuat tiga buah karya tenun tapestri yang secara keseluruhan menggunakan objek utama berupa burung hantu jenis Bloketepu (Ketupa ketupu). Didalamnya berisikan tentang gestur-gestur burung hantu secara umum. Kemudian disesuaikan dari segi deformasi, garis derta pemilihan warna tali agel yang sesuai dalam pembuatan karya tersebut. Karya seni tenun tapestri yang diciptakan mewakili ekspresi dan persepsi penulis terhadap fenomena yang dirasakan di lingkungan sekitar penulis.

Dari proses yang telah dilalui, penulis melakukan eksplorasi objek pada karya tenun saat berkarya tenun tapestri. Berdasarkan pengolahan ide kreatif yang penulis lakukan, penulis mengubah bentuk sketsa asli menjadi bentuk deformasi. Kemudian penggunaan simpul macrame pada tahap akhir merupakan upaya dalam mengolah ide kreatif dalam berkarya tenun tapestri.

(62)

Nisa Apriyani, 2014

Objek Burung Hantu Sebagai Ide Gagasan Berkarya Tenun Tapestri Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

penggunaan teknik corak rata dikarenakan teknik yang paling sederhana dan tidak terlalu memakan waktu dalam pengerjaannya. Alasan menggunakan serat agel karena dikarenkan memiliki tekstur warna natural. Hambatan dalam penggunaan serat agel ialah harus bersabar dan berhati-hati dalam penggunaannnya, dikarenakan serat agel mudah rapuh dan luntur apabila diberi zat pewarna buatan.

B. Saran

Karya tenun tapestri dengan bertemakan motif burung hantu ini diharapkan bukan hanya dapat dijadikan alternatif bahan dalam pembelajaran seni rupa di sekolah-sekolah maupun diperkuliahan, melainkan pesan moral yangterkandung didalamnya. Selain itu, masyarakat diharapkan dapat mengapresiasi makna yang terkandung dalam karya tenun tapestri yang penulis ciptakan.

Kemudian dengan adanya karya tenun tapestri ini diharapkan dapat mengembangkan kualitas tekstil dan batik dengan terdapatnya tenun teknik tapestri. Dapat pula dijadikan motivasi untuk mengembangkan kreatifitas dalam berkreasi karya tenun dengan teknik tenun tapestri. Kemudian untuk tetap kreatif menciptakan motif dan bentuk baru dalam pembuatan tenun dengan teknik tenun tapestri tanpa menghilangan nilai tradisi dan budaya di Indonesia.

Figur

Gambar 3.6 Tapestri Loom
Gambar 3 6 Tapestri Loom. View in document p.30
Gambar 3.8 Sisir Plastik
Gambar 3 8 Sisir Plastik . View in document p.31
Gambar 3.10 Perangkat Laptop
Gambar 3 10 Perangkat Laptop . View in document p.32
Gambar 3.11 Kertas HVS
Gambar 3 11 Kertas HVS . View in document p.33
Gambar 3.13 Pensil dan Penghapus
Gambar 3 13 Pensil dan Penghapus . View in document p.34
Gambar 3.15 Pensil Warna
Gambar 3 15 Pensil Warna . View in document p.35
Gambar 3.14 Spidol Hitam
Gambar 3 14 Spidol Hitam . View in document p.35
Gambar 3.22 Proses Pewarnaan Sketsa Desain Backround Secara Manual.
Gambar 3 22 Proses Pewarnaan Sketsa Desain Backround Secara Manual . View in document p.39
Gambar 3.27 Pemasangan Sketsa Pertama pada Tapestri
Gambar 3 27 Pemasangan Sketsa Pertama pada Tapestri . View in document p.43
Gambar 3.28 Pemasangan Sketsa Kedua pada Tapestri
Gambar 3 28 Pemasangan Sketsa Kedua pada Tapestri . View in document p.43
Gambar 3.30 Proses Menenun Karya Pertama
Gambar 3 30 Proses Menenun Karya Pertama. View in document p.44
Gambar 3.31 Proses Menenun Karya Kedua
Gambar 3 31 Proses Menenun Karya Kedua . View in document p.45
Gambar 3.32  Proses Menenun Karya Ketiga
Gambar 3 32 Proses Menenun Karya Ketiga. View in document p.45
Gambar 3.36 Tenunan Pertama yang Masih Terpasang pada Tapestri
Gambar 3 36 Tenunan Pertama yang Masih Terpasang pada Tapestri . View in document p.47
Gambar 3.38 Tenunan Ketiga yang Masih Terpasang pada Tapestri
Gambar 3 38 Tenunan Ketiga yang Masih Terpasang pada Tapestri . View in document p.48
Gambar 3.37 Tenunan Kedua yang Masih Terpasang pada Tapestri
Gambar 3 37 Tenunan Kedua yang Masih Terpasang pada Tapestri . View in document p.48
Gambar 3.42 Merapikan Karya Pertama dengan Gunting
Gambar 3 42 Merapikan Karya Pertama dengan Gunting. View in document p.50
Gambar 3.43 Merapikan Karya Kedua dengan Gunting
Gambar 3 43 Merapikan Karya Kedua dengan Gunting. View in document p.51
Gambar 3.47 Menyimpul Akhir Tenunan Karya Ketiga
Gambar 3 47 Menyimpul Akhir Tenunan Karya Ketiga. View in document p.53
Gambar 3.49 Hasil Akhir dari Simpulan (Sumber: Dokumentasi Penulis) Macrame Karya Kedua
Gambar 3 49 Hasil Akhir dari Simpulan Sumber Dokumentasi Penulis Macrame Karya Kedua . View in document p.54
Gambar 3.50 Hasil Akhir dari Simpulan Macrame Karya Ketiga (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Gambar 3 50 Hasil Akhir dari Simpulan Macrame Karya Ketiga Sumber Dokumentasi Penulis . View in document p.54
Gambar 3.51 Hasil Akhir Sementara Tenun Tapestri Karya Pertama(Sumber: Dokumentasi Penulis)
Gambar 3 51 Hasil Akhir Sementara Tenun Tapestri Karya Pertama Sumber Dokumentasi Penulis . View in document p.55
Gambar 3.53 Hasil Akhir Sementara Tenun Tapestri Karya Ketiga
Gambar 3 53 Hasil Akhir Sementara Tenun Tapestri Karya Ketiga. View in document p.56
Gambar 3.54 Proses Pembuatan Kayu Penampang
Gambar 3 54 Proses Pembuatan Kayu Penampang. View in document p.56
Gambar 3.55 Proses Pemasangan Karya Tenun Pertama pada Kayu Penampang(Sumber: Dokumentasi Penulis)
Gambar 3 55 Proses Pemasangan Karya Tenun Pertama pada Kayu Penampang Sumber Dokumentasi Penulis . View in document p.57
Gambar 3.57 Proses Pemasangan Karya Tenun Ketiga pada Kayu Penampang
Gambar 3 57 Proses Pemasangan Karya Tenun Ketiga pada Kayu Penampang. View in document p.58
Gambar 3.56 Proses Pemasangan Karya Tenun Kedua pada Kayu Penampang
Gambar 3 56 Proses Pemasangan Karya Tenun Kedua pada Kayu Penampang. View in document p.58
Gambar 3.59 Hasil Akhir Karya Kedua Tenun Tapestri
Gambar 3 59 Hasil Akhir Karya Kedua Tenun Tapestri. View in document p.59
Gambar 3.58 Hasil Akhir Karya Pertama Tenun Tapestri(Sumber: Dokumentasi Penulis)
Gambar 3 58 Hasil Akhir Karya Pertama Tenun Tapestri Sumber Dokumentasi Penulis . View in document p.59
Gambar 3.60 Hasil Akhir Karya Ketiga Tenun Tapestri(Sumber: Dokumentasi Penulis)
Gambar 3 60 Hasil Akhir Karya Ketiga Tenun Tapestri Sumber Dokumentasi Penulis . View in document p.60

Referensi

Memperbarui...