”KINERJA APARATUR SIPIL NEGARA DALAM KETERANGAN USAHA“
(Studi Implementasi Per-MENPAN No. 15 tahun 2014 Tentang Standar Proses Pemberian Rekomendasi Pelayanan Publik Di Kantor Camat Selopuro Kabupaten Blitar)
Fatoni Chilmi
Universitas Merdeka Malang
Abstrak., Tujuan Penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganalisis Kinerja Aparatur Sipil Negara Dalam Proses Pemberian Rekomendasi Keterangan Usaha di kantor camat Selopuro berdasarkan Permenpan Nomor 15 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Publik dan untuk menjelaskan faktor- faktor penghambat dan pendukung implementasi Kebijakan Kinerja Aparatur Sipil Negara Dalam Proses Pemberian Rekomendasi Keterangan usaha di kantor camat Selopuro. Sedangkan manfaatnya adalah dapat memberikan gambaran tentang pelaksanaan pelayanan publik yang baik bagi aparatur pemerintah, khususnya bagi Kantor Selopuro agar dapat memberikan pelayanan dalam bidang rekomendasi surat ijin usaha yang baik kepada masyarakat. Serta diharapkan hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan dalam Pelaksanaan Permenpan No 15 tahun 2014 tentang standar pelayanan publik. Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dimana prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif : ucapan atau tulisan dan prilaku yang dapat diamati dari orang-orang (subjek) itu sendiri. Hasilnya Implementasi kebijakan kinerja aparatur sipil negara dalam memberikan rekomendasi keterangan ijin usaha di Kantor Camat Selopuro berdasarkan Permenpan Nomor 15 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Publik.
Kata Kunci : Kinerja Aparatur Sipil, Proses Pemberian Rekomendasi
PENDAHULUAN Latar Belakang
Rendahnya kualitas sumber daya manusia merupakan masalah mendasar yang dapat menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional. Rendahnya kulitas sumber daya manusia juga akan jadi batu sandungan dalam era globalisasi, karena era globalisasi merupakan era persimpangan mutu.
Jika bangsa Indonesia ingin berkiprah dalam percaturan global, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menata sumber daya manusia, baik dari aspek intelektual, spiritual, kreativitas, moral, maupun tanggung jawab.
Kualitas sumber daya manusia sangat erat kaitannya dengan kinerja (performance).
Sebagai unsur aparatur pemerintah, pegawai sekaligus sebagai abdi negara dan abdi masyarakat mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu sebagai pemikir, perencana, penggerak partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan penuh kesetiaan kepada pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945 serta sekaligus berperan sebagai pengendali dan pengawas pelaksanaan pembangunan itu sendiri.
Dalam hal ini sangat jelas bahwa kedudukan dan peranan pegawai negeri sangat penting, sebagai mana dikemukakan didalam Undang-Undang Kepegawaian No. 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian bahwa dalam rangka usaha mencapai tujuan nasional untuk mewujudkan masyarakat madani yang taat hukum, berperadaban modern, demokratis, makmur, adil, dan bermoral tinggi, diperlukan Pegawai Negeri yang merupakan unsur aparatur negara yang bertugas sebagai abdi masyarakat yang menyelenggarakan pelayanan secara adil dan merata. Pada dasarnya kinerja menekankan apa yang dihasilkan dari fungsi-fungsi suatu pekerjaan atau apa yang keluar (out-come). Bila diperhatikan lebih lanjut apa yang terjadi dalam sebuah pekerjaan atau jabatan adalah suatu proses yang mengolah in-put menjadi out-put (hasil kerja). Penggunaan indikator kunci untuk mengukur hasil kinerja individu, bersumber dari
fungsi-fungsi yang diterjemahkan dalam kegiatan/tindakan dengan landasan standar yang jelas dan tertulis. Mengingat kinerja mengandung komponen kompetensi dan produktifitas hasil, maka hasil kinerja sangat tergantung pada tingkat kemampuan individu dalam pencapaiannya, terutama tujuan organisasi. Empirical gap atau celah penelitian adalah hasil dari usaha dalam mengidentifikasi celah atau wilayah pengetahuan yang entah kosong atau perlu diisi dengan pemahaman atau pengetahuan baru melalui penelitian. Wilayah atau celah yang kosong bisa saja berupa topik yang kurang dipahami, atau ada pengetahuan dan informasi yang masih kurang yang menghambat kita dalam menemukan jawaban atau kesimpulan atas sebuah persoalan atau pertanyaan. Empirical gap dalam penelitian ini adalah bagaimana Pelayanan birokrasi merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dimana sebenarnya aparat pemerintah yang memiliki sebutan abdi masyarakat dan abdi negara memiliki tanggung jawab yang besar untuk memberikan pelayanan yang seadil-adilnya kepada masyarakat. Pada kenyataan justru terbalik, masyarakat yang ingin menerima pelayanan malah menjadi pelayan terhadap keinginan dari aparat pemerintah (Siagian, 2008:91).
Pelayanan publik yang dilaksanakan oleh aparatur pemerintah dalam melayani masyarakat merupakan implikasi dari fungsi aparatur negara sebagai pelayan masyarakat. Penyelengggaraan tugas pokok dan fungsi sebagai aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan publik yang baik kepada masyarakat dituntut untuk memiliki kinerja yang baik sehingga pelayanan yang diberikan akan baik pula. Tugas utama aparatur pemerintah adalah untuk melayani masyarakat. Baik buruknya pelayanan yang diberikan aparatur mencerminkan kinerja individu yang akan menentukan baik buruknya kinerja organisasi secara keseluruhan.
Penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat merupakan fungsi yang harus diemban pemerintah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat, sebagai tolok ukur terselenggaranya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Suksesnya penyelenggaraan otonomi daerah dalam
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good local governance) terlihat pada peningkatan kualitas penyelenggaraan pelayanan publik.
Sebagai salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kinerjanya dan mengoptimalkan peran birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, telah disusun dan ditetapkan berbagai kebijakan untuk memperbaiki mekanisme pelayanan publik, antara lain melalui Permenpan No.15 Tahun 2014 tentang standar pelayanan publik sebagai sarana untuk mengukur seberapa besar tingkat capaian kinerja instansi publik, Kecamatan adalah wilayah kerja Camat.
Berdasarkan Permenpan No.15 Tahun 2014 tentang standar pelayanan publik bahwa pelayanan publik oleh kecamatan meliputi pelayanan bidang perizinan, dan pelayanan bidang non perizinan dengan maksud dan tujuan yaitu kecamatan sebagai pusat pelayanan masyarakat dan menjadi simpul pelayanan bagi kantor/badan pelayanan terpadu di kabupaten dan untuk meningkatkan kualitas dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Bahkan pada penjelasannya, Peraturan Pemerintah ini menyatakan kecamatan memegang posisi strategis dalam hubungannya dengan penyelenggaraan pemerintahan kabupaten.
Mengingat posisi strategis itu, maka camat perlu lebih aktif dalam upaya mengoptimalkan pelaksanaan tugasnya. Camat diharapkan mampu melakukan inovasi untuk meningkatkan kinerjanya. Dalam konteks pelayanan kepada masyarakat, maka inovasi dapat diartikan sebagai upaya dalam meningkatkan pelayanan yang dihasilkan melalui pendekatan metode atau alat baru dalam pelayanan publik. Wilayah kekuasaan menunjukan adanya yuridiksi kewenangan didalamnya, sedangkan wilayah kerja lebih merupakan wilayah pelayanan kepada masyarakat. Camat menjalankan tugas pokok sebagai unsur lini yaitu to do, to act. Artinya adalah kecamatan dijadikan sebagai pusat pelayanan pada masyarakat yang bersifat operasional dengan batas wilayah sebagai batas pemberian pelayanan. Kecamatan yang merupakan ujung tombak terutama dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat juga tidak terlepas dari permasalahan yang berkenaan
dengan kondisi pelayanan yang relatif belum memuaskan. Baik buruknya pelayanan yang diberikan sangat ditentukan oleh tersedianya sumberdaya aparatur pemerintah yang professional. Fungsi kecamatan sebagai pusat pelayanan mayarakat ini menjadi relevan jika dilihat dari segi kedekatan jarak, kecepatan waktu dan kualitas pelayanan yang diberikan.
Bila fungsi ini dapat dijalankan secara konsisten, maka secara bertahap akan berdampak strategis dalam menekan inisiatif pemekaran daerah kabupaten. Secara empiris, alasan yang sering dikemukakan untuk pemekaran daerah adalah untuk mendekatkan dan meningkatkan kualitas pelayanan.
Upaya untuk melaksanakan pelayanan publik khususnya pemberian rekomendasi keterangan usaha di Kecamatan Selopuro diperlukan sumber daya aparatur pelayanan yang memadai dan memiliki kinerja yang baik. Dalam kenyataan di lapangan permasalahan pemberian pelayanan yang baik tidak terlepas dari peran pemberi layanan yaitu aparatur pemerintah dalam hal ini pegawai di Kecamatan Selopuro.
Penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi sebagai aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan pemberian rekomendasi keterangan usaha yang baik kepada masyarakat dituntut untuk memiliki sumber daya yang memadai, sikap aparatur pemerintah yang berdampak pada kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat pengguna jasa layanan. Kenyataan di Kecamatan Selopuro pemberian pelayanan masih sering mendapatkan keluhan dari masyarakat penguna layanan. Hal ini berdasarkan pada hasil wawancara dengan salah satu pengguna layanan yaitu masyarakat Selopuro Bapak Hadi yang mengatakan bahwa pernah mendapatkan pelayanan terhadap pengurusan rekomendasi surat keterangan usaha di Kantor Kecamatan Selopuro, disana pegawai yang ada kurang bersikap ramah. Hal ini tentu tidak membuat nyaman bagi mereka yang membutuhkan pelayanan. Berdasarkan hal ini maka peneliti ingin meneliti lebih lanjut tentang kinerja pegawai yang ada di Kecamatan Selopuro. Selain hal itu masih banyak terdapat permasalahan yang dihadapi oleh Kecamatan Selopuro dalam pelaksanaan pemberian rekomendasi keterangan
usaha. Adanya keluhan dari masyarakat mengenai pelayanan yang ada pada Kantor camat Selopuro Kabupaten Blitar yaitu biaya pengurusan yang tidak transparan, masih adanya diskriminasi terhadap masyarakat penerima layanan serta sarana dan prasarana yang tidak memadai mencerminkan bahwa pelayanan yang diberikan oleh aparatur pelayanan kepada masyarakat masih jauh dari memuaskan.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana Implementasi kebijakan Kinerja Aparatur Sipil Negara Dalam Proses Pemberian Rekomendasi Keterangan Usaha di kantor camat Selopuro berdasarkan Permenpan Nomor 15 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Publik.
2. Faktor-faktor apa yang menjadi penghambat dan pendukung dalam implementasi Kebijakan Kinerja Aparatur Sipil Negara Dalam Proses Pemberian Rekomendasi Keterangan di kantor camat Selopuro berdasarkan Permenpan Nomor 15 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Publik.
Tujuan Penelitian
1. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis Kinerja Aparatur Sipil Negara Dalam Proses Pemberian Rekomendasi Keterangan Usaha di kantor camat Selopuro berdasarkan Permenpan Nomor 15 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Publik.
2. Untuk menjelaskan faktor-faktor penghambat dan pendukung implementasi Kebijakan Kinerja Aparatur Sipil Negara Dalam Proses Pemberian Rekomendasi Keterangan usaha di kantor camat Selopuro.
Manfaat Penelitian 1. Secara Praktis
Memberikan gambaran tentang pelaksanaan pelayanan publik yang baik bagi aparatur pemerintah, khususnya bagi Kantor Selopuro agar dapat memberikan pelayanan dalam bidang rekomendasi surat ijin usaha yang baik kepada masyarakat. Serta diharapkan hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan dalam Pelaksanaan Permenpan No 15 tahun 2014 tentang standar pelayanan publik
2. Secara Akademis
Dapat memberikan kontribusi pemikiran dalam mengkaji dan memahami masalah sosial dibidang pelayanan publik, khususnya tentang peningkatan mutu pelayanan aparatur pemerintah kepada masyarakat.
LANDASAN TEORI Kebijakan Publik
Dalam kepustakaan internasional, kebijakan publik disebut sebagai public policy, yaitu suatu aturan yang mengatur kehidupan bersama yang harus ditaati dan berlaku mengikat seluruh warganya (Sore dan Sobirin, 2017: 8). Secara umum, kebijakan atau policy adalah sesuatu yang berkaitan dengan perencanaan, pengambilan dan perumusan keputusan, pelaksanaan keputusan, serta evaluasi terhadap dampak dari pelaksanaan keputusan tersebut terhadap orang banyak yang menjadi sasaran kebijakan (kelompok target).
Sedangkan secara substansial, kebijakan merupakan subjek kajian yang kompleks, dinamis, dan tidak pernah jumud (amorphous) (Marzali, 2015: 20).
Kebijakan publik merupakan keputusan- keputusan atau pilihan-pilihan tindakan yang secara langsung mengatur pengelolaan dan pendistribusian sumber daya alam, finansial, dan manusia demi kepentingan publik, yakni rakyat banyak, penduduk, masyarakat atau warga negara. Ditinjau dari proses, kebijakan publik diartikan sebagai hasil dari adanya sinergi, kompromi atau bahkan kompetisi antara berbagai gagasan, teori, ideologi, dan kepentingan- kepentingan yang mewakili sistem politik suatu negara (Ali, 2017: 37).
Menurut Jatmikowati (2016: 1), kebijakan publik adalah keputusan pemerintah untuk mengatur berbagai bidang kehidupan dalam negara. Sedangkan, Efendi dan Makhfudli (2009:
135) mengartikan kebijakan publik sebagai keputusan-keputusan yang mengikat bagi orang banyak pada tataran strategis atau bersifat garis besar yang dibuat oleh pemegang otoritas publik.
Sebagai keputusan yang mengikat publik, maka kebijakan publik haruslah dibuat oleh otoritas politik, yakni mereka yang menerima mandat dari publik atau orang banyak, umumnya melalui suatu proses pemilihan untuk bertindak atas nama rakyat banyak. Selanjutnya, kebijakan publik
akan dilaksanakan oleh administrasi negara yang dijalankan oleh birokrasi pemerintah.
Dari beberapa pengertian kebijakan publik yang telah dikemukakan di atas, maka terdapat beberapa elemen penting tentang kebijakan publik, yaitu (Rochmah, 2013: 3):
a. Kebijakan publik itu dalam bentuk perdananya berupa penetapan tindakan- tindakan pemerintah.
b. Kebijakan publik itu tidak cukup hanya dinyatakan tetapi dilaksanakan dalam bentuk yang nyata.
c. Kebijakan publik baik untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu itu mempunyai dan dilandasai dengan maksud dan tujuan tertentu.
d. Kebijakan publik itu harus senantiasa ditujukan bagi kepentingan seluruh anggota masyarakat.
Jatmikowati (2016: 8) menyebutkan bahwa ada empat jenis kebijakan publik, yaitu:
a. Distributif
Distributif merupakan kebijakan publik yang bertujuan untuk memberi fasilitas dan pelayanan bagi golongan penduduk tertentu.
b. Pengaturan (regulatory)
Pengaturan atau regulatory merupakan kebijakan publik yang bertujuan mengatur kehidupan masyarkat melalui pembatasan kebebasan bertindak dari subjek (golongan penduduk) untuk mengurain pertentangan di antara golongan yang bersaing.
c. Redistribusi
Redistribusi merupakan kebijakan publik yang bertujuan untuk merubah alokasi kemakmuran, pendapatan, dan hak di antara berbagai kelompok dan kelas dalam masyarakat.
d. Self-regulatory
Self-regulatory merupakan kebijakan yang diusahakan dan didukung oleh kelompok kepentingan untuk memajukan dan melindungan kelompok mereka.
Kebijakan Publik merupakan suatu aturan- aturan yang dibuat oleh pemerintah dan merupakan bagian dari keputusan politik untuk mengatasi berbagai persoalan dan isu-isu yang ada dan berkembang di masyarakat. Kebijakan publik juga merupakan keputusan yang dibuat oleh pemerintah untuk melakukan pilihan
tindakan tertentu untuk tidak melakukan sesuatu maupun untuk melakukan tidakan tertentu. Dalam kehidupan masyarakat yang ada di wilayah hukum suatu negara sering terjadi berbagai permasalahan. Negara yang memengang penuh tanggung jawab pada kehidupan rakyatnya harus mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Kebijakan publik yang dibuat dan dikeluarkan oleh negara diharapkan dapat menjadi solusi akan permasalahan-permasalahan tersebut. Kebijakan Publik adalah suatu keputusan yang dimaksudkan untuk tujuan mengatasi permasalahan yang muncul dalam suatu kegiatan tertentu yang dilakukan oleh instansi pemerintah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan. Untuk memahami lebih jauh bagaimana kebijakan publik sebagai solusi permasalahan yang ada pada masyarakat, kita harus memahami dulu apa dan seperti apa kebijakan publik itu sendiri.
Berikut adalah definisi-definisi kebijakan publik menurut para ahli kebijakan publik.
a. Thomas R. Dye (1981)
Kebijakan publik adalah apa yang tidak dilakukan maupun yang dilakukan oleh pemerintah. Pengertian yang diberikan Thomas R. Dye ini memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Selain itu, kajiannya yang hanya terfokus pada negara sebagai pokok kajian.
b. Easton (1969)
Mendefinisikan kebijakan publik sebagai pengalokasian nilai-nilai kekuasaan untuk seluruh masyarakat yang keberadaannya mengikat. Dalam pengertian ini hanya pemerintah yang dapat melakukan sesuatu tindakan kepada masyarakat dan tindakan tersebut merupakan bentuk dari sesuatu yang dipilih oleh pemerintah yang merupakan bentuk dari pengalokasian nilai-nilai kepada masyarakat.
c. Dye (1978)
Mendefinisikan kebijakan publik sebagai
“Whatever governments choose to do or not to do.”, yaitu segala sesuatu atau apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan. Dye juga memaknai kebijakan publik sebagai suatu upaya untuk mengetahui apa sesungguhnya yang dilakukan oleh pemerintah, mengapa mereka melakukannya, dan apa yang
menyebabkan mereka melakukannya secara berbeda-beda. Dia juga mengatakan bahwa apabila pemerintah memilih untuk melakukan suatu tindakan, maka tindakan tersebut harus memiliki tujuan.
d. David Easton
Mendefinisikan public policy sebagai : “The authoritative allocation of value for the whole society, but it turns out that only theg overnment can authoritatively act on the ‘whole’ society, and everything the government choosed do or not to do result in the allocation of values.”
Maksudnya, public policy tidak hanya berupa apa yang dilakukan oleh pemerintah, akan tetapi juga apa yang tidak dikerjakan oleh pemerintah karena keduanya sama-sama membutuhkan alasan- alasan yang harus dipertanggungjawabkan.
e. Chief J.O. Udoji (1981)
Mendefinisikan kebijaksanaan publik sebagai “An sanctioned course of action addressed to a particular problem or group of related problems that affect society at large.”
Maksudnya ialah suatu tindakan bersanksi yang mengarah pada suatu tujuan tertentu yang diarahkan pada suatu masalah atau sekelompok masalah tertentu yang saling berkaitan yang mempengaruhi sebagian besar warga masyarakat.
Pada sudut pandang lain, Hakim (2003) mengemukakan bahwa Studi Kebijakan Publik mempelajari keputusan-keputusan pemerintah dalam mengatasi suatu masalah yang menjadi perhatian publik. Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah sebagian disebabkan oleh kegagalan birokrasi dalam memberikan pelayanan dan menyelesaikan persoalan publik.
Kegagalan tersebut adalah information failures, complex side effects, motivation failures, rentseeking, second best theory, implementation failures (Hakim, 2002). Berdasarkan stratifikasinya, kebijakan publik dapat dilihat dari tiga tingkatan, yaitu kebijakan umum (strategi), kebijakan manajerial, dan kebijakan teknis operasional. Selain itu, dari sudut manajemen, proses kerja dari kebijakan publik dapat dipandang sebagai serangkaian kegiatan yang meliputi
1. pembuatan kebijakan,
2. pelaksanaan dan pengendalian, serta
3. evaluasi kebijakan.
Menurut Dunn (1994), proses analisis kebijakan adalah serangkaian aktivitas dalam proses kegiatan yang bersifat politis. Aktivitas politis tersebut diartikan sebagai proses pembuatan kebijakan dan divisualisasikan sebagai serangkaian tahap yang saling tergantung, yaitu : 1. penyusunan agenda,
2. formulasi kebijakan, 3. adopsi kebijakan,
4. implementasi kebijakan, dan 5. penilaian kebijakan.
Proses analisis kebijakan publik adalah serangkaian aktivitas intelektual yang dilakukan dalam proses kegiatan yang bersifat politis.
Aktivitas politis tersebut nampak dalam serangkaian kegiatan yang mencakup penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan, dan penilaian kebijakan. Sedangkan aktivitas perumusan masalah, forecasting, rekomendasi kebijakan, monitoring, dan evaluasi kebijakan adalah aktivitas yang lebih bersifat intelektual.Proses pembuatan kebijakan publik merupakan proses yang kompleks karena melibatkan banyak proses maupun variabel yang harus dikaji. Memang, tidaklah mudah membuat kebijakan publik yang baik dan benar, namun bukannya tidak mungkin.Model yang dikembangkan oleh para ilmuwan kebijakan publik mempunyai satu kesamaan, yaitu bahwa proses kebijakan berjalan dari formulasi menuju implementasi, untuk mencapai kinerja kebijakan. Namun demikian, ada satu pola yang sama bahwa model formal proses kebijakan adalah dari “gagasan kebijakan”, “formalisasi dan legalisasi”
kebijakan”, “implementasi”, baru kemudian menuju pada kinerja atau mencapai prestasi yang diharapkan –yang didapatkan setelah dilakukan evaluasi kinerja kebijakan.
1. Teori Implementasi
Menurut Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier (1983) mendefinisikan Implementasi kebijakan sebagai pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang- undang, namun dapat pula berbentuk perintah- perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan.
Lazimnya keputusan tersebut
mengidentifikasikan masalah yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan atau sasaran yang ingin dicapai dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau mengatur proses implementasinya.
Menurut Van Meter dan Van Horn (Agustino ,2006) mendefinisikan implementasi kebijakan, sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau pengenalan, perumusan dan Perincian masalah, penetapan kriteria, evaluasi, identifikasi alternatif, rencana / kebijakan, evaluasi alternatif, rencana / kebijakan, penjabaran dan pemilihan, alternatif kebijakan pengawasan dan evaluasi hasil rencana / kebijakan swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.
Dalam sejarah perkembangan studi implementasi kebijakan, dijelaskan tentang adanya dua pendekatan guna memahami implementasi kebijakan, yakni: pendekatan top- down dan bottom-up. Pendekatan top-down, implementasi kebijakan yang dilakukan tersentralisir dan dimulai dari aktor tingkat pusat dan keputusannya pun diambil dari tingkat pusat. Pendekatan top-down bertitik tolak dari perspektif bahwa keputusan-keputusan politik kebijakan yang telah ditetapkan oleh pembuat kebijakan harus dilaksanakan oleh administratur atau birokrat pada level bawahnya.
Tahjan (2008) menjelaskan bahwa secara estimologis implementasi dapat dimaksudkan sebagai suatu aktivitas yang bertalian dengan penyelesaian suatu pekerjaan dengan penggunaan sarana (alat) untuk memperoleh hasil. Sehingga bila dirangkaikan dengan kebijakan publik, maka kata implementasi kebijakan publik dapat diartikan sebagai aktivitas penyelesaian atau pelaksanaan suatu kebijakan publik yang telah ditetapkan/disetujui dengan penggunaan sarana (alat) untuk mencapai tujuan kebijakan. Dengan demikian maka implementasi kebijakan publik seringkali dikaitkan dengan proses administrative di mana ditemukan banyak tujuan dari proses dan aktivitas organisasional dalam proses dan pendekatan yang dilakukannya.
Edward III (1980) berpendapat bahwa proses implementasi kebijakan tidak lepas dari berbagai variabel dan faktor yang mempengaruhinya. Menurutnya ada empat variabel penting yang harus diperhatikan dan berpengaruh terhadap kegagalan dan keberhasilan implementasi kebijakan publik.
Keempat variabel tersebut adalah (1) komunikasi (communication), (2) sumber daya pelaksana (resources), (3) disposisi birokrasi (disposition) dan (4) struktur birokrasi (bureaucratic structure).
Pressman dan Wildavsky (1984) yang digelari sebagai pencetus konsep Implementasi Kebijakan Publik, menyatakan bahwa implementasi adalah untuk melaksanakan kebijakan yang harus mempunyai objek dan dapat menimbulkan dampak tercapai atau tidaknya suatu kebijakan.
Pandangan implementasi sebagai proses umum dari tindakan administratif yang dapat diteliti pada level program khusus, serta keberhasilan atau kegagalan dapat dievaluasi terkait dengan kapasitas untuk penyampaian program. Jadi, seluruh implementasi kebijakan dapat dievaluasi dengan mengukur hasil-hasil program terhadap tujuan-tujuan kebijakan.
Bahwa proses umum implementasi dapat dimulai hanya ketika tujuan-tujuan dan ide-ide umum telah dikhususkan, ketika program-program tindakan telah di disain dan ketika dana telah dialokasikan untuk pelaksanaan tujuan tujuan tersebut. Hal ini menjadi kondisi dasar yang jelas untuk implementasi kebijakan publik. Dalam hal ini secara teori, proses formulasi kebijakanpun telah dilakukan oleh proses implementasi kebijakan dan program-program dijalankan.
Unsur-unsur Implementasi
Tachjan (2006) menjelaskan tentang unsur-unsur dari implementasi kebijakan yang mutlak harus ada yaitu:
1. Unsur pelaksana
Unsur pelaksana adalah implementor kebijakan yang diterangkan Dimock & Dimock dalam Tachjan (2006) sebagai berikut: “Pelaksana kebijakan merupakan pihak-pihak yang menjalankan kebijakan yang terdiri dari penentuan tujuan dan sasaran organisasional, analisis serta perumusan kebijakan dan strategi organisasi, pengambilan keputusan,
perencanaan, penyusunan program, pengorganisasian, penggerakkan manusia, pelaksanaan operasional, pengawasan serta penilaian.
2. Adanya program yang dilaksanakan
Suatu kebijakan publik tidak mempunyai arti penting tanpa tindakan-tindakan riil yang dilakukan dengan program, kegiatan atau proyek. Menurut Terry dalam Tachjan program merupakan suatu program dapat didefinisikan sebagai rencana komprehensif yang mencakup penggunaan masa depan sumber daya yang berbeda dalam pola terintegrasi dan membentuk urutan tindakan yang diperlukan dan jadwal waktu untuk setiap dalam rangka mencapai tujuan yang dinyatakan. Make up dari sebuah program dapat mencakup tujuan, kebijakan, prosedur, metode, standar dan anggaran (Terry dalam Tachjan (2006). Program merupakan rencana yang bersifat komprehensif yang sudah menggambarkan sumber daya yang akan digunakan dan terpadu dalam satu kesatuan.
Program tersebut menggambarkan sasaran, kebijakan, prosedur, metode, standar dan budjet.
Grindle (1980) menjelaskan bahwa isi program harus menggambarkan; “kepentingan yang dipengaruhi (interest affected), jenis manfaat (type of benefit), derajat perubahan yang diinginkan (extent of change envisioned), status pembuat keputusan (site of decision making), pelaksana program (program implementers) serta sumberdaya yang tersedia (resources commited)”. Program dalam konteks implementasi kebijakan publik terdiri dari beberapa tahap yaitu:
a. Merancang bangun (design) program beserta perincian tugas dan perumusan tujuan yang jelas, penentuan ukuran prestasi yang jelas serta biaya dan waktu
b. Melaksanakan (aplication) program dengan mendayagunakan strukturstruktur dan personalia, dana serta sumber-sumber lainnya, prosedur dan metode yang tepat.
c. Membangun sistem penjadwalan, monitoring dan sarana-sarana pengawasan yang tepat guna serta evaluasi (hasil) pelaksanaan kebijakan (Tachjan, 2006).
3. Target group atau kelompok sasaran
Tachjan (2006) mendefinisikan bahwa:
”target group yaitu sekelompok orang atau organisasi dalam masyarakat yang akan menerima barang atau jasa yang akan dipengaruhi perilakunya oleh kebijakan”.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan kelompok sasaran dalam konteks implementasi kebijakan bahwa karakteristik yang dimiliki oleh kelompok sasaran seperti: besaran kelompok, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman, usia serta kondisi sosial ekonomi mempengaruhi terhadap efektivitas implementasi.
3.Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan merupakan kegiatan yang kompleks dengan begitu banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu implementasi kebijakan. Nugroho (2014) menyatakan bahwa terdapat sembilan model dalam implementasi kebijakan dengan karakteristiknya masing-masing, yaitu :
1. Model Van Meter dan Van Horn 2. Model Mazmanian dan Sabatier 3. Model Hogwood dan Gunn 4. Model Goggin
5. Model Grindle 6. Model Elmore, dkk 7. Model Edward III
8. Model Nakamura dan Smallwood 9. Model Jaringan
Dalam pendekatan yang diteoremakan oleh Edward III, terdapat empat variabel yang sangat menentukan keberhasilan implementasi suatu kebijakan, yaitu: (1) komunikasi, (2) sumberdaya, (3) disposisi, dan (4) struktur birokrasi. Variabel pertama yang mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan, menurut George C. Edward III, adalah komunikasi. Komunikasi, menurutnya lebih lanjut, sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik. Implementasi yang efektif terjadi apabila para pembuat keputusan sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan. Pengetahuan atas apa yang akan mereka kerjakan dapat berjalan bila komunikasi berjalan dengan baik, sehingga setiap keputusan kebijakan dan peraturan implementasi harus ditrasmisikan (atau dikomunikasikan) kepada bagian personalia yang
tepat. Selain itu, kebijakan yang dikomunikasikan pun harus tepat, akurat, dan konsisten. Komunikasi (atau pentransmisian informasi) diperlukan agar para pembuat keputusan dan para implementor akan semakin konsisten dalam melaksanakan setiap kebijakan yang akan diterapkan dalam masyarakat.
Variabel ketiga yang mempengaruhi tingkat keberhasilan implementasi kebijakan publik, bagi George C. Edward III, adalah disposisi.
Disposisi atau sikap dari pelaksana kebijakan adalah faktor penting ketiga dalam pendekatan mengenai pelaksanaan suatu kebijakan publik.
Jika pelaksanaan suatu kebijakan ingin efektif, maka para pelaksana kebijakan tidak hanya harus mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, sehingga dalam praktiknya tidak terjadi bias. Menurut Edward III dalam
Winarno (2005) mengemukakan
”kecenderungan-kecenderungan atau disposisi merupakan salah-satu faktor yang mempunyai konsekuensi penting bagi implementasi kebijakan yang efektif”. Jika para pelaksana mempunyai kecenderungan atau sikap positif atau adanya dukungan terhadap implementasi kebijakan maka terdapat kemungkinan yang besar implementasi kebijakan akan terlaksana sesuai dengan keputusan awal. Demikian sebaliknya, jika para pelaksana bersikap negatif atau menolak terhadap implementasi kebijakan karena konflik kepentingan maka implementasi kebijakan akan menghadapi kendala yang serius.
Bentuk penolakan dapat bermacam- macam seperti yang dikemukakan Edward III tentang ”zona ketidakacuhan” dimana para pelaksana kebijakan melalui keleluasaanya (diskresi) dengan cara yang halus menghambat implementasi kebijakan dengan cara mengacuhkan, menunda dan tindakan penghambatan lainnya.
Menurut pendapat Van Metter dan Van Horn dalam Agustino (2006): ”sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana kebijakan sangat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan implementasi kebijakan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul
permasalahan dan persoalan yang mereka rasakan. Tetapi kebijakan publik biasanya bersifat top down yang sangat mungkin para pengambil keputusan tidak mengetahui bahkan tak mampu menyentuh kebutuhan, keinginan atau permasalahan yang harus diselesaikan”.
Oleh karena itu, hal-hal penting yang perlu dicermati pada variabel disposisi menurut George C. Edward III, adalah:
a. Pengangkatan birokrat, disposisi atau sikap para pelaksana akan menimbulkan hambatan- hambatan yang nyata terhadap implementasi kebijakan bila personil yang ada tidak melaksanakan kebijakan-kebijakan yang diinginkan oleh pejabat-pejabat tinggi. Karena itu, pemilihan dan pengangkatan personil pelaksana kebijakan haruslah orang-orang yang memiliki dedikasi pada kebijakan yang telah ditetapkan; lebih khusus lagi pada kepentingan warga.
b. Insentif, Edward menyatakan bahwa salah satu teknik yang disarankan untuk mengatasi masalah kecenderungan para pelaksana adalah dengan memanipulasi insentif. Oleh karena itu, pada umumnya orang bertindak menurut kepentingan mereka sendiri, maka memanipulasi insentif oleh para pembuat kebijakan mempengaruhi tindakan para pelaksana kebijakan. Dengan cara menambah keuntungan atau biaya tertentu mungkin akan menjadi factor pendorong yang membuat para pelaksana kebijakan melaksanakan perintah dengan baik. Hal ini dilakukan sebagai upaya memenuhi kepentingan pribadi (iself interest) atau organisasi.
Variabel keempat, menurut Edward III, yang mempengaruhi tingkat keberhasilan implementasi kebijakan publik adalah struktur birokrasi. Walaupun sumber- sumber untuk melaksanakan suatu kebijakan tersedia, atau para pelaksana kebijakan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, dan mempunyai keinginan untuk melaksanakan suatu kebijakan, kemungkinan kebijakan tersebut tidak dapat terlaksana atau terealisasi karena terdapatnya kelemahan dalam struktur birokrasi. Kebijakan yang begitu kompleks menurut adanya kerjasama banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak kondusif pada kebijakan yang tersedia, maka hal
ini akan menyebagiankan sumberdaya- sumberdaya menjadi tidak efektif dan menghambat jalannya kebijakan. Birokrasi sebagai pelaksana sebuah kebijakan harus dapat mendukung kebijakan yang telah diputuskan secara politik dengan jalan melakukan koordinasi dengan baik. Dua karakteristik, menurut Edward III, yang dapat mendongkrak kinerja struktur birokrasi/organisasi kearah yang lebih baik, adalah: melakukan Standar Operasional Prosedur (SOPs) dan melaksanakan Fragmentasi.
SOPs adalah suatu kegiatan rutin yang memungkinkan para pegawai (atau pelaksana kebijakan/administrator/birokrat) untuk melaksanakan kegiatan-kegiatannya pada tiap harinya sesuai dengan standar yang ditetapkan (atau standar minimum yang dibutuhkan warga), sedangkan pelaksanaan fragmentasi adalah upaya penyebaran tanggungjawab kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas pegawai diantara beberapa unit kerja.
Jadi implementasi kebijakan akan selalu berkaitan dengan perencanaan penetapan waktu dan pengawasan, sedangkan menurut Mazmanian dan Sabatier dalam Wahab (1991) mempelajari masalah implementasi kebijakan berarti berusaha untuk memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program diberlakukan atau dirumuskan yakni peristiwa- peristiwa dan kegiatan-kegiatan yang terjadi setelah proses pengesahan kebijakan baik yang menyangkut usaha-usaha untuk mengadministrasi maupun usaha untuk memberikan dampak tertentu pada masyarakat.
Hal ini tidak saja mempengaruhi perilaku lembaga-lembaga yang bertanggung jawab atas sasaran (target grup) tetapi juga memperhatikan berbagai kekuatan politik, ekonomi, sosial yang berpengaruh pada implementasi kebijakan negara.
Faktor Penghambat Implementasi Kebijakan Menurut Sunggono (199), impelementasi kebijakan mempunyai beberapa faktor penghambat, yaitu :
a. Isi Kebijakan
Pertama, implementasi kebijakan gagal karena masih samarnya isi kebijakan, maksudnya apa yang menjadi tujuan tidak cukup terperinci,
sarana-sarana dan penerapan prioritas, atau program-program kebijakan terlalu umum atau sama sekali tidak ada. Kedua, karena kurangnya ketetapan intern maupun ekstern dari kebijakan yang akan dilaksanakan. Ketiga, kebijakan yang akan diimplementasikan dapat juga menunjukkan adanya kekurangan-kekurangan yang sangat berarti. Keempat, penyebab lain dari timbulnya kegagalan implementasi suatu kebijakan publik dapat terjadi karena kekurangankekurangan yang menyangkut sumberdaya pembantu, misalnya yang menyangkut waktu, biaya/dana dan tenaga manusia.
b. Informasi
Implementasi kebijakan publik mengasumsikan bahwa para pemegang peran yang terlibat langsung mempunyai informasi yang perlu atau sangat berkaitan untuk dapat memainkan perannya dengan baik. Informasi ini justru tidak ada, misalnya akibat adanya gangguan komunikasi.
c. Dukungan
Pelaksanaan suatu kebijakan publik akan sangat sulit apabila pada pengimplementasi tidak cukup dukungan untuk pelaksanaan kebijakan tersebut.
d. Pembagian Potensi
Sebab musabab yang berkaitan dengan gagalnya implementasi suatu kebijakan public juga ditentukan aspek pembagian potensi diantara para pelaku yang terlibat dalam implementasi.
Dalam hal ini berkaitan dengan diferensiasi tugas dan wewenang organisasi pelaksana. Struktur organisasi pelaksanaan dapat menimbulkan masalah-masalah apabila pembagian wewenang dan tanggung jawab kurang disesuaikan dengan pembagian tugas atau ditandai oleh adanya pembatasan-pembatasan yang kurang jelas (Sunggono, 1994).
Menurut james Anderson dalam Sunggono (1994), faktor-faktor yang menyebabkan anggota masyarakat tidak mematuhi dan melaksanakan suatu kebijakan publik, yaitu :
a. Adanya konsep ketidakpatuhan selektif terhadap hukum, dimana terdapat beberapa peraturan perundang-undangan atau
kebijakan publik yang bersifat kurang mengikat individu-individu.
b. Karena anggota masyarakat dalam suatu kelompok atau perkumpulan dimana mereka mempunyai gagasan atau pemikiran yang tidak sesuai atau bertentangan dengan peraturan hukum dan keinginan pemerintah.
c. Adanya keinginan untuk mencari keuntungan dengan cepat diantaranya anggota masyarakat yang mencenderungkan orang bertindak dengan menipu atau denga jalan melawan hukum.
d. Adanya ketidakpastian hukum atau ketidakjelasan “ukuran” kebijakan yang mungkin saling bertentangan satu sama lain, yang dapat menjadi sumber ketidak patuhan orang pada hukum atau kebijakan publik.
e. Apabila suatu kebijakan ditentang secara tajam (bertentangan) dengan sistem nilai yang dianut masyarakat secara luas atau kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat.
Suatu kebijakan publik akan menjadi efektif apabila dilaksanakan dan mempunyai manfaat positif bagi anggota-anggota masyarakat. Dengan kata lain, tindakan atau perbuatan manusia sabagai anggota masyarakat harus sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemerintah atau negara. Sehingga apabila perilaku atau perbuatan mereka tidak sesuai dengan keinginan pemerintah atau negara, maka suatu kebijakan publik tidaklah efektif.
2. Teori Pelayanan
Pelayanan adalah cara melayani, membantu menyiapkan, mengurus, menyelesaikan keperluan, kebutuhan seseorang atau sekelompok orang. Artinya obyek yang dilayani adalah individu, pribadi-pribadi (seseorang) dan organisasi (sekelompok anggota organisasi).
Dalam pengertian pelayanan tersebut terkandung suatu kondisi yang melayani yakni memiliki suatu keterampilan keahlian dibidang tertentu, sehingga mampu memberikan bantuan dalam menyelesaikan suatu keperluan, kebutuhan individu atau organisasi. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 tahun 2003, definisi dari pelayanan umum adalah :
Segala bentuk pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah dipusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Selanjutnya menurut JP.G.Sianipar, (1998:5) : “Pelayanan Publik adalah suatu bentuk pelayanan sektor publik yang dilaksanakan oleh aparatur pemerintah, termasuk aparat yang bergerak di bidang perekonomian dalam bentuk barang dan atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Menurut A.S Moenir, (1992 : 10) :
“Pelayanan pada hakekatnya adalah serangkaian kegiatan, karena itu merupakan suatu proses dimana sebagai proses, pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan meliputi kehidupan orang dalam masyarakat, jadi pelayanan umum adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materiel melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya”.
Pemberian batasan pelayanan publik oleh Hugo F (dalam A.S Moenir 1992: 32) dinyatakan sebagai berikut :
1. Suatu aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah atau Negara dalam memberikan jasa- jasa dan menyediakan atau melengkapi berbagai kebutuhan yang bertujuan meningkatkan taraf hidup warga negaranya.
2. Suatu upaya atau aktivitas yang dilakukan untuk memberikan jasa guna memenuhi kepuasan kepada masyarakat yang membutuhkannya.
3. Proses kebijaksanaan dan sikap yang sesuai dengan kepentingan orang-orang atau golongan.
Menurut Hanif Nurcholis (2005 : 175) menggemukakan bahwa pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan oleh negara dan perusahaan milik negara kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Widodo (2001 : 269) :
“pelayanan publik yaitu sebagai pemberian layanan kepada masyarakat mempunyai kepentingan pada organisasi sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Sedangkan menurut Lukman, pelayanan publik dapat diartikan sebagai upaya untuk membantu, menyiapkan dan mengurus apa yang dibutuhkan orang lain (Lukman, 2002 : 4)”.
Menurut Kepmen PAN
No.63/KEP/M.PAN/7/2003 Pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggaran pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah segala bentuk pelayanan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau badan tertentu yang bertujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat guna mencapai kepuasan sebagai pelaksanaan ketentuan atau kewajiban dari badan yang telah diatur dalam suatu peraturan Perundang- undangan. Dengan demikian pelayanan publik dapat dilakukan oleh instansi pemerintah, swasta, baik dipusat maupun daerah dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat.
3. Teori pelayanan Publik
Pelayanan adalah cara melayani, membantu menyiapkan, mengurus, menyelesaikan keperluan, kebutuhan seseorang atau sekelompok orang. Artinya obyek yang dilayani adalah individu, pribadi-pribadi (seseorang) dan organisasi (sekelompok anggota organisasi).
Dalam pengertian pelayanan tersebut terkandung suatu kondisi yang melayani yakni memiliki suatu keterampilan keahlian dibidang tertentu, sehingga mampu memberikan bantuan dalam menyelesaikan suatu keperluan, kebutuhan individu atau organisasi. Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 tahun 2003, definisi dari pelayanan umum adalah :
Segala bentuk pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah dipusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah dalam bentuk barang
dan atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Selanjutnya menurut JP.G.Sianipar, (1998:5) : “Pelayanan Publik adalah suatu bentuk pelayanan sektor publik yang dilaksanakan oleh aparatur pemerintah, termasuk aparat yang bergerak di bidang perekonomian dalam bentuk barang dan atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Menurut A.S Moenir, (1992 : 10) :
“Pelayanan pada hakekatnya adalah serangkaian kegiatan, karena itu merupakan suatu proses dimana sebagai proses, pelayanan berlangsung secara rutin dan berkesinambungan meliputi kehidupan orang dalam masyarakat, jadi pelayanan umum adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materiel melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya”.
Pemberian batasan pelayanan publik oleh Hugo F (dalam A.S Moenir 1992: 32) dinyatakan sebagai berikut :
1. Suatu aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah atau Negara dalam memberikan jasa- jasa dan menyediakan atau melengkapi berbagai kebutuhan yang bertujuan meningkatkan taraf hidup warga negaranya.
2. Suatu upaya atau aktivitas yang dilakukan untuk memberikan jasa guna memenuhi kepuasan kepada masyarakat yang membutuhkannya.
3. Proses kebijaksanaan dan sikap yang sesuai dengan kepentingan orang-orang atau golongan.
Menurut Hanif Nurcholis (2005 : 175) mengemukakan bahwa pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan oleh negara dan perusahaan milik negara kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Widodo (2001 : 269) :
“pelayanan publik yaitu sebagai pemberian layanan kepada masyarakat mempunyai kepentingan pada organisasi sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Sedangkan menurut Lukman, pelayanan publik dapat diartikan sebagai upaya untuk membantu, menyiapkan dan mengurus apa yang dibutuhkan orang lain (Lukman, 2002 : 4)”.
Menurut Kepmen PAN
No.63/KEP/M.PAN/7/2003 Pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggaran pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan. Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah segala bentuk pelayanan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau badan tertentu yang bertujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat guna mencapai kepuasan sebagai pelaksanaan ketentuan atau kewajiban dari badan yang telah diatur dalam suatu peraturan Perundang-undangan. Dengan demikian pelayanan publik dapat dilakukan oleh instansi pemerintah, swasta, baik dipusat maupun daerah dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ciri Pelayanan Publik
Adapun ciri khusus pelayanan publik menurut Ahmad yang di kutip Sondang P.Siagian (1994:
81) adalah :
1. Tidak dapat memilih konsumen 2. Peranannya dibatasi oleh peraturan 3. Politik menginstitusionalkan konflik 4. Pertanggungjawaban yang kompleks 5. Sangat sering diteliti
6. Semua tindakan mendapat justifikasi
7. Tujuan dan output sulit diukur atau ditentukan.
Kualitas Pelayanan Publik
Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan kualitas pelayanan menurut Tjandra W. Riawan (2005: 20) antara lain :
a. Akurasi pelayanan
Berkaitan dengan realitas pelayanan dan bebas dari kesalahankesalahan.
b. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan. Terutama bagi mereka yang berinteraksi langsung dengan pelanggan (internal maupun eksternal).
c. Tanggungjawab
Berkaitan dengan penerimaan pesanan dan penanganan keluhan dari pelanggan.
d. Kemudahan mendapatkan pelayanan Berkaitan dengan banyaknya outlet, banyaknya petugas yang melayani, banyaknya fasilitas pendukung dan berkaitan dengan penerimaan pesanan dan penanganan keluhan dari pelanggan.
e. Variasi model pelayanan.
Berkaitan dengan inovasi untuk memberikan pola-pola baru dalam pelayanan, features dari pelayanan dan lain-lain.
f. Pelayanan pribadi
Berkaitan dengan fleksibilitas, penanganan permintaan khusus dan lain-lain.
g. Kenyamanan dalam Memperoleh pelayanan.
Berkaitan dengan lokasi, ruang dan tempat pelayanan, kemudahan menjangkau, tempat parkir kendaraan, ketersedian informasi, petunjuk-petunjuk, dan bentuk-bentuk lain.
h. Atribut pendukung pelayanan lainnya
Seperti lingkungan, kebersihan, ruang tunggu, dan fasilitas lainnya.
Fokus utama kebijakan publik dalam suatu negara adalah pelayanan publik. Pelayanan publik adalah segala sesuatu yang bisa dilakukan oleh negara untuk mempertahankan meningkatkan kualitas kehidupan orang banyak (Efendi dan Makhfudli, 2009: 135).
Menurut Nurcholis (2007: 287), pelayana publik berhubung dengan pelayanan yang masuk kategori sektor publik (bukan sektor privat).
Pelayanan publik biasanya dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Badak Umum Milik Negara (BUMN) atau Badan Umum Milik Derah (BUMD). Ketiga pihak yang menangani sektor publik tersebut menyediakan pelayanan publik, seperti kesehatan, pendidikan, kependudukan, keamanan dan ketertiban, serta bantuan sosial. Dengan demikian, yang dimaksud dengan pelayanan publik adalah pelayanan yang diberikan oleh pemerintah dan organisasi/instansi milik pemerintah kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dalam dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat.
Sedangkan, dalam Keputusan Mentri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:
63/KEP/M.PAN/7/2003 tanggal 10 Juli 2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik, disebutkan bahwa “ pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan yang
dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan”.
Berbicara mengenai pelayanan publik juga mencakup asas dan prinsip-prinsip pelayanan publik. Menurut Jatmikowati (2013: 44) ada enam asas pokok dalam penyelenggaraan pelayanan publik, diantaranya:
a. Transparansi, artinya sebuah unit pelayanan publik harus bersifat terbuka, mudah, dan dapat diakses semua pihak yang membutuhkan dan di sediakan secara memadai serta mudah dipahami.
b. Akuntabilitas, artinya setiap proses dan hasil sebuah pelayanan publik harus dapat dipertanggung jawabkan kepada publik sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
c. Kondisional, artinya sebuah pelayanan publik haruslah disesuaikan dengan kondisi kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan berpegangan pda prinsip efisiensi dan efektivitas.
d. Partisipasi, artinya mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan,dan harapan masyarakat.
e. Kesamaan hak, artinya dalam pelayanan publik tidak diskriminatif dalam arti tidak membedakan suku, agama, golongan, gender, dan status ekonomi.
f. Keseimbangan hak dan kewajiban, artinya baik pemberi maupun penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing- masing.
Di samping itu, menurut Jatmikowati (2013: 45) ada sepuluh prinsip pelayanan publik yang harus diperhatikan dan dilaksanakan setiap aparatur pelayanan publik, yaitu:
a. Kesederhanaan adalah prosedur pelaayanan yang diselenggarakan tidak berbelit-belit, mudah dipahami, dan mudah dilaksanakan.
b. Kejelasan pencakup kejelasan tentang persyaratan pelayanan publik (baik teknis maupun administratif), unit kerja atau pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam pelayanan publik, serta rincian biaya pelayanan publik dan tata cara pembayarannya.
c. Kepatian waktu adalah pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah di tentukan.
d. Akurasi adalah produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat, dan sah.
e. Keamanan adalah proses dan produk pelayanan publik dapat memberikan rasa aman dan kepastian hukum.
f. Tanggung jawab adalah pimpinan penyelenggaraan pelayanan publik atau pejabat yang ditujuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan atau persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik.
g. Kelengkapan sarana dan prasarana adalah tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja, dan pendukung lainnyayang memadai termasuk penyedian sarana teknologi komunikasi dan informatika (telematika).
h. Kemudahan akses adalah tempat dan lokasi serta sarna pelayanan yang memadai, mudah dijangkau oleh masyarakat, dan dapat memanfaatkan teknologi komunikasi dan informatika (telematika).
i. Kedisiplinan, kesopanan dan keramahan adalah pemberi layanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah, serta memberikan pelayanan dengan iklas.
j. Kenyamanan adalah lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan rungang tunggu yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat, serta di lengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan seperti parker, toilet, tempat ibadah, dan lain-lain.
4. Paradigma Pelayanan Publik
Terjadinya pergeseran dari paradigma satu ke paradigma lain, bukan tanpa sebab. Setiap kali munculnya paradigma baru, tentu ada masalah dengan paradigm sebelumnya.
Thomas Khun1menjelaskan bahwa apabila sepanjang karya-karya yang dihasilkan (termasuk teori) yang berakumulasi pada dukungan terhadap paradigma, maka ilmu pengetahuan tersebut berada pada kondisi normal (normal science). Tetapi apabila di suatu masa ditemukan karya-karya yang membuahkan penyimpangan yang tidak dapat dijelaskan dengan paradigma yang ada, maka kondisi inilah disebut anomalies.
Kondisi anomalies ini kemudian membuat orang tidak lagi percaya pada paradigma yang ada dan berusaha membangun paradigma baru. Ketika orang mulai tidak percaya dengan paradigma lama, dan berusaha menemukan/membangun dan beralih ke paradigma baru, maka kondisi inilah yang oleh Thomas Khun (1993) disebut sebagai
“Revolusi Sains”. Model ini digunakan untuk mendeskripsikan kondisi New Public Administration, New Public Management, New Public Service, walaupun Frederickson sendiri menegaskan bahwa cara berpikir Khun ini hanya dapat berlaku di lingkungan ilmu-ilmu eksakta, sementara di lingkungan ilmu-ilmu sosial, khususnya ilmu administrasi negara tidak demikian dengan alasan bahwa nilai-nilai di dalam administrasi negara tetap dan terus berlanjut dan kompetitif, sehingga pada periode tertentu nilai tertentu dominan dan pada periode lain nilai-nilai yang lein lebih dominan. Bagi penulis, tahapan pergeseran paradigma yang disampaikan oleh Khun (normal science – anomalies – revolusi science – nomrmal science – anomalies, dst) berlaku untuk semua disiplin ilmu pengetahuan, baik itu eksakta maupun sosial humaniora. Sementara yang dikemukakan oleh Frederickson berkenaan dengan nilai, adalah persoalan tersendiri. Frederickson sendiri menjelaskan bahwa lahirnya administrasi negara baru sebagai akibat dari beberapa krisis (anomalies) sebelumnya, sebagaimana diuraikan dalam latar belakang lahirnya perspektif new public administration.
New Public Administration (NPA)
George Fredericksonmenjelaskan bahwa munculnya new public administration diawali dengan beberapa kejadian seperti pada tahun 1960-an terjadi beberapa krisis secara bersamaan. Pertama, krisis kekotaan bersumber dari suburbanisasi yang tidak bisa ditawar–yang didukung pemerintahan. Kedua, krisis rasial amat erat berhubungan dengan krisis sebelumnya, untuk sebagian berasal dari getoisasi (perkampungan di kota yang umumnya dihuni oleh penduduk dari kelompok minoritas). Dengan memburuknya pusat-pusat kota, maka buruk pulalah lembaga pelayanan masyarakat, tingkat pengangguran yang tak terkendali terutama di kalangan minoritas dan
sistem kesejahteraan terlalu menanggung beban yang berat.Ketiga, terjadi krisis energi diikuti dengan krisis lingkungan, perawatan kesehatan, transportasi dan seterusnya dan semua krisis ini telah mempengaruhi administrasi negara. Tiga peristiwa yang terjadi antara tahun 1960-an dan 1970-an yang berpengaruh pada masyarakat dan pemerintahan serta administrasi negara: perang Vietnam, kekacauan kota dan perselisian rasial yang terus berlangsung dan skandal Watergate. Kebanyakan karyawan negara tidak punya identitas dengan bidang administrasi negara, mereka lebih mengidentifikasikan diri dengan lapangan profesi lain, dan menjadikan administrasi negara sebagai profesi kedua. Beberapa peristiwa yang dijelaskan di ataslah yang kemudian mendorong lahirnya Administrasi Negara Baru (New Public Administration)
New Public Management (NPM)
Perspektif ini lahir pertama kali di Amerika Serikat. Kelahirannya diawali dengan sejumlah krisis sebagaimana yang dijelaskan oleh Osborne dan Geabler (1996).Pertama, ketidakmampuan pemerintah menangani sejumlah masalah masyarakat seperti penggunaan obat bius, kejahatan, kemiskinan, ketiadaan rumah, buta huruf, sampah beracun, melonjaknya biaya perawatan medis; Kedua, Birokrasi pemerintah yang besar dan tersentralisasi serta layanan yang baku, tidak bergantung pada berbagai tantangan dari masyarakat informasi yang berubah dengan cepat di era industri terkesan lamban dalam mengatasi berbagai permasalahan aktual di masyarakat; Ketiga, sistem birokrasi yang kolot menghalangi kreativitas dan melemahkan energi para pegawai. Bukan birokratnya semata sebagai penyebab tetapi sistemlah yang menjadi penyebab utama, walaupun diakui bahwa ada birokrat yang tidak kreatif. Keempat, Kebanyakan pemerintah Amerika tidak mengetahui siapa publik/pelanggan yang harus dilayani, dipenuhi kebutuhannya. Dari semua masalah ini kemudian muncul krisis kepercayaan bangsa Amerika terhadap pemerintah, dan mengalihkan tema berbagai buku dari mengenai kebijakan negara ke pertumbuhan industri, sebagian besar berkaitan dengan apa yang seharunya dilakukan pemerintah. Hope dalam
Keban (2008:245) juga mengemukakan bahwa kemunculan perspektif ini diawali dengan adanya krisis fiskal pada 1970-an dan 1980-an, adanya keluhan bahwa sektor publik terlalu besar, boros, inefisien, merosotnya kinerja pelayanan publik, kurangnya perhatian terhadap pengembangan dan kepuasan kerja pegawai pemerintah.Memasuki dasawarsa 1980-an itulah mulai tampil manajemen publik (public management) sebagai bidang studi yang makin penting dalam administrasi negara. Manajemen publik yang sebelumnya menaruh perhatian pada masalah anggaran dan personil telah berkembang bersama teknologi informasi dan kini mencakup system pengambilan keputusan, sistem perencanaan, sistem pengendalian, pengawasan, dan berbagai aspek lainnya. Bersamaan dengan kehadiran manajemen publik dalam ranah administrasi publik, di Inggris dan beberapa negara lainnya termasuk Amerika Serikat muncul pemikiran baru dengan konsep “New Public Management (NPM)”. Konsep ini oleh Kartasasmita4 digagas oleh Patrick Dunleavy berserta rekan-rekannya.
New Public Service (NPS)
Setelah menerapkan NPM di sektor publik, terasa banyak hal yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsi pelayanan publik. Oleh karena itu kemudian sejumlah kritikan diarahkan pada NPM. Sejumlah kritikan kemudian disampaikan oleh beberpa ahli administrasi publik, diantaranya Kamensky (1996) dalam artikelnya berjudul The Role of Reinventing Government Movement in Federal Management Reform yang dimuat dalam Jurnal Public Administration Review, Box (1999) menulis sebuah artikel berjudul Running Government Like a Business:Implication for Public Administration for Theory and Practice dalam jurnal The American Review of Public Administration, Harrow (2002) dengan tulisan berjudul New Public Management anf Social Justice: Just Efficiency or Equity as Well?,Denhardt and Denhardt (2003) dalam bukunya The New Public Service, Serving not Steering, Haque (2007) dengan artikelnya Revisiting New Public Management dimuat dalam jurnal Public Administration Review.
Semua kritikan disampaikan dalam tulisan
berbentuk artikel kecuali Derhardy and Denhardt (New Public Service – Serving, not Steering) dalam bentuk buku yang kemudian membuatnya lebih terkenal dibanding dengan yang lain.
Menurut Denhardt dan Denhardt, memasukkan nilai-nilai bisnis ke dalam organisasi publik telah merusak tatanan nilai administrasi publik. Oleh karena itu mereka mengusulkan penerapan nilai- nilai baru. Hal yang dinilai baru dari pespektif ini adalah mengembalikan pihak yang dilayani dari
“pelanggan” ke posisi yang sebenarnya yaitu
“warganegara/ citizen. Mengembalikan peran pemerintah yang dalam perspektif new public management hanya sebagai pengarah ke posisi yang berperan sebagai pelayan publik.
Mekanisme yang digunakan untuk mencapai tujuan adalah membangun koalisi dan kerjasama lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat madani, untuk memenuhi kebutuhan yang telah disepakati bersama. Nilai baru dari pendekatan akuntabilitas adalah pendekatan multi aspek, pelayan public harus memenuhi ketentuan hukum, nilai masyarakat, norma politik, professional dan kepentingan warga. Struktur organisasinya bersifat kolaboratif dengan kepemimpinan bersama baik secara internal maupun eksternal. Dasar motivasi pelayanan public adalah pelayanan kepada masyarakat, keinginan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
5. Pengertian Kinerja
Konsep kinerja pada dasarnya merupakan perubahan atau pergeseran paradigma dari konsep produktivitas untuk menyatakan kemampuan seseorang atau organisasi dalam mencapai tujuan atau sasaran tertentu. Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi (Armstrong dan Baron,1998:15). Dengan demikian, kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya.
Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2000:67) :
“Kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”.
Istilah kinerja merupakan terjemahan dari performance yang sering diartikan sebagai penampilan, unjuk kerja atau prestasi. Dalam kamus Illustrated Oxford Dictionary, istilah ini menunjukkan “the execution or fulfilment of a duty” (pelaksanaan atau pencapaian dari suatu tugas). Sementara itu pengertian performance sering diartikan sebagai kinerja, hasil kerja atau prestasi kerja. Kinerja mempunyai makna lebih luas, bukan hanya menyatakan sebagai hasil kerja, tetapi juga bagaimana proses kerja berlangsung. Kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya.
Menurut Malayu S.P. Hasibuan (2001:34) mengemukakan bahwa :
“Kinerja (prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu”.
Kinerja individu menggambarkan sampai seberapa jauh seseorang telah melaksanakan tugas-tugasnya sehingga dapat memberikan hasil yang ditetapkan oleh kelompok atau institusinya.
Kinerja adalah melakukan suatu kegiatan dan menyempurnakan sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan.
Dapat disimpulkan bahwa pengertian kinerja yaitu suatu hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi, tidak melanggar hukum, dan sesuai dengan moral dan etika.
Kinerja merupakan suatu gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, visi serta organisasi. Pada dasarnya pengertian kinerja berkaitan dengan tanggung jawab individu atau organisasi dalam menjalankan apa yang menjadi wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
6. Pengertian Pegawai
Suatu organisasi pemerintah maupun swasta besar maupun kecil dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan harus melalui kegiatan-kegiatan yang digerakkan oleh orang atau sekelompok orang yang aktif berperan sebagai pelaku, dengan kata lain tercapainya tujuan organisasi hanya dimungkinkan karena adanya upaya yang dilakukan oleh orang dalam organisasi tersebut.
Pengertian pegawai dikemukakan oleh para ahli, salah satu diantaranya dikemukakan oleh Soedaryono (2000 : 6) pengertian pegawai adalah seseorang yang melakukan penghidupannya dengan bekerja dalam kesatuan organisasi, baik kesatuan kerja pemerintah maupun kesatuan kerja swasta.
Sanapiah (2001:16) mengemukakan pengertian lain pegawai sebagai seseorang yang diangkat dalam jabatan tertentu, diserahi tugas sesuai dengan jabatan tersebut dan digaji dengan peraturan yang berlaku dan bekerja di lingkungan kantor pemerintahan. Menurut Robbins (2006 : 10) pengertian pegawai adalah orang pribadi yang bekerja pada pemberi kerja, baik sebagai pegawai tetap atau tidak, berdasarkan kesepakatan kerja baik tertulis maupun tidak tertulis untuk melaksanakan suatu pekerjaan dalam jabatan atau kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh pemberi kerja.
Pegawai negeri adalah sebagai unsur aparatur negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan dan pembangunan.
Seiring dengan hal tersebut di atas, dalam rangka menghadapi otonomi daerah, pegawai negeri merupakan penggerak dari pembangunan, aparatur pemerintah yang ada pada hakekatnya merupakan upaya pembinaan, penyempurnaan dan penertiban yang ditujukan untuk lebih meningkatkan kemampuan dan pengabdian tugas-tugas, memiliki disiplin yang tinggi, kemampuan yang profesional, wawasan pembangunan dan semangat pengabdian yang tinggi terhadap masyarakat, bangsa dan tanah air.
Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara bahwa yang dimaksud dengan Aparatur Sipil Negara adalah :
1. Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah
2. Pegawai Aparatur Sipil Negara (Pegawai ASN) adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan.
3. Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASN secara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan.
4. Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang selanjutnya disingkat PPPK adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan.
5. Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan Pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Aparatur Sipil Negara sebagai profesi berlandaskan pada prinsip sebagai berikut:
a. Nilai dasar
b. Kode etik dan kode perilaku
c. Komitmen, integritas moral, dan tanggung jawab pada pelayanan publik
d. Kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas
e. Kualifikasi akademik
f. Jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas
g. Profesionalitas jabatan.
Hal-hal tersebut di atas perlu ditunjang dengan mempersyaratkan kriteria pegawai negeri tersebut, antara lain :
a. Pegawai negeri sipil harus cerdas, profesional dan memiliki wawasan yang luas.