p-ISSN: 1978-3647 e-ISSN: 2354-8835
JURNAL
VEKTOR PENYAKIT
Journal of Disease Vector
Vol. 13 No. 2 Desember 2019
[email protected]
Terakreditasi Nasional SK No. 30/E/KPT/2018
Dewan Redaksi
Volume 13 No.2 Desember 2019
Jurnal ini merupakan jurnal publikasi ilmiah resmi Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala, Jurnal Vektor Penyakit merupakan media publikasi dan informasi hasil - hasil penelitian dan pengembangan, tinjauan hasil - hasil
penelitian, metodologi dan pendekatan-pendekatan baru dalam penelitian yang berkaitan dengan vektor penyakit dan usaha pengendalian penyakit bersumber binatang.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.
w Ningsi, S.Sos, M.Si ((Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) w Made Agus Nurjana, S.K.M., M.Epid (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Sitti Chadijah, S.K.M., M.Si (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) w Junus Widjaja, S.K.M., M.Sc (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Malonda Maksud, S.K.M. (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Drs. Setia Pranata, M.Si ( Perilaku Kesehatan, Puslitbang Humaniora dan Manajemen Kesehatan, Badan Litbangkes) w Samarang, S.K.M., M.Si (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Dr. Ir. Yuli Widyastuti (Tanaman Obat dan Obat Tradisional, B2P2TOOT, Badan Litbangkes) w Rosmini, S.K.M., M.Sc (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Meiske Elisabeth Koraag, S.Si (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Prof.(Riset) dr. Emiliana Tjitra,DTM&H, M.Sc, Ph.D (Biomedik, Badan Litbangkes)
w Prof. dr. Agus Suwandono,M.PH,Dr.PH (Epidemiologi dan Kebijakan Kesehatan, FKM, Universitas Diponegoro) w Mujiyanto, S.Si, M.PH (Epidemiologi dan Biostatistik, B2P2VRP Salatiga, Badan Litbangkes) w Anis Nurwidayati, S.Si, M.Sc (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Phetisya Pamela Frederika Sumolang, S.Si (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Dr. Sri Handayani (Ilmu Kefarmasian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
w Prof. (R ) Dr. Gono Semiadi (Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).
Redaksi Pelaksana:
w drh. Intan Tolistiawaty (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Arief Mulyono, S.Si, M.Sc (Biologi Lingkungan, B2P2VRP Salatiga, Badan Litbangkes)
Alamat Redaksi:
Jl. Masitudju No.58, Labuan Panimba, Labuan, Donggala, Sulawesi Tengah 94252 Website e-journal : http://ejournal.litbang.kemkes.go.id/index.php/vektorp
Mitra Bestari :
w Dr. Sri Irianti, SKM, MPhil, PhD (Kesehatan Lingkungan, Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat, Badan Litbangkes) w Hasrida Mustafa, S.Si (Biologi Lingkungan, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes)
w Prof. Dr. dr. Bambang Sutrisna, MHSc (Epidemiologi, FKM, Universitas Indonesia) w Dra. Shinta, M.S. (Biologi Lingkungan, Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat, Badan Litbangkes)
w Dr. Lif.Sc I Nengah Suwastika, M.Sc, M.Lif.Sc (Biologi Sel dan Molekuler, FMIPA, Universitas Tadulako )
Riri Arifah Patuba, S.K.M.
Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Donggala
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
https://ejournal2.litbang.kemkes.go.id/index.php/vektorp E-mail : [email protected] , [email protected]
Terbit dua kali setahun, edisi Juni dan Desember
Terakreditasi Nasional : SK No. 30/E/KPT/2018 Masa Berlaku 24 Oktober 2018 - Desember 2022 Pemimpin Redaksi :
Hayani Anastasia, S.K.M., M.PH (Epidemiologi dan Biostatistik, Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbangkes) Penanggung Jawab :
Anggota Dewan Redaksi :
Muh. Faozan, S.K.M., M.PH (Kepala Balai Litbang Kesehatan Donggala)
JURNAL
VEKTOR PENYAKIT
Journal of Disease Vector
e-ISSN: 2354-8835
Semoga tulisan pada edisi ini dapat bermanfaat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan program pengendalian penyakit bersumber binatang. Saran dan masukan demi perbaikan jurnal ini sangat kami nantikan untuk penerbitan selanjutnya.
Salam sehat Artikel keenam dalam edisi ini ditulis oleh Junus Widjaja dan Hayani Anastasia dengan judul Rencana Aksi Lintas Sektor dan Peran Serta Masyarakat dalam Pengendalian Fokus Keong Perantara Schistosomiasis di Datara Tinggi Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kembali fokus keong perantara schistosomiasis yang masih aktif dan menyusun rencana aksi lintas sektor serta peran serta masyarakat dalam penanganan fokus keong. Penelitian menemukan jumlah fokus keong O. hupensis lindoensis 242 fokus. Rencana aksi lintas sektor dengan pembuatan bak penangkap air, pencetakan sawah, pembuatan saluran air permanen dan penyemprotan moluskisida sedangkan peran serta masyarakat berupa pembersihan, pengeringan, pengaktifan sawah dan kebun.
Dewan Redaksi Efektivitas Ekstrak Daun Pandan Wangi terhadap Mortalitas Larva Aedes sp. dan Anopheles yang ditulis oleh Andi Yulia Kasma, dkk menjadi artikel keempat dalam edisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun pandan wangi (P. amaryllifolius) dalam mematikan larva Aedes sp. dan Anopheles. Hasil penelitian meunjukkan konsentrasi ekstrak daun pandan wangi (P. amaryllifolius) yang efektif dalam mematikan larva Aedes sp. dan Anopheles dalam jumlah terbanyak adalah 15%. Hasil uji probit Lethal Concentration 50% dan 90% ekstrak daun pandan wangi selama 24 jam terhadap larva Aedes sp. menunjukkan angka 9,445% dan 14,087% sedangkan terhadap larva Anopheles menunjukkan angka 14,874% dan 31,468%.
Artikel terakhir adalah Persepsi Stakeholder tentang Program Eliminasi Filariasis di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan: Suatu Tinjauan Studi Kasus, yang ditulis oleh Ahmad Erlan, dkk. Artikel ini bersumber dari studi kualitatif yang dilakukan dengan wawancara mendalam (indepth interview) kepada stakeholder yang berkaitan dalam mendukung program eliminasi filariasis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perhatian dari para stakeholder yang berkaitan baik itu dari sektor kesehatan maupun lintas sektor terhadap pelaksanaan eliminasi filariasis di Kabupaten Enrekang. Namun perlu advokasi lebih gencar dari tenaga promosi kesehatan agar mendapat dukungan dari para stakeholder untuk menyukseskan program eliminasi filariasis di Kabupaten Enrekang.
Artikel ketiga adalah Indikator Entomologi dan Status Resistensi Jentik dan Nyamuk Aedes aegypti terhadap Insektisida Rumah Tangga di Tiga Kabupaten/Kota di rovinsi Sumatera Barat ditulis oleh Dian Perwitasari, dkk.
Pertikel ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk indikator entomologi yang dipantau masih dalam kategori sedang. Insektisida yang digunakan oleh masyarakat, deltamethrin masih menunjukkan hasil rentan dan alphacypermethrin menunjukan toleran, sedangkan malathion, lamdacyhalothrin dan cypermethrin sudah resisten.
Pengantar Redaksi
Artikel tentang filariasis ditulis oleh Yanelza Supranelfy, dkk dengan judul Survei Darah Jari di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi Tahun 2017. Penelitian bertujuan untuk mendeteksi cacing filaria pada masyarakat, menilai angka filaria (Microfilaria rate/Mf rate), identifikasi karakteristik subyek penelitian, serta identifikasi riwayat pengobatan dan perilaku pada masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat risiko penularan filariasis yang tinggi, maka POPM dilanjutkan minimal dua tahun berturut- turut (POPM filariasis tahun ke-6 dan ke-7).
Jurnal Vektor Penyakit Volume 13 No 2 Desember 2019 menyajikan sebanyak tujuh artikel. Artikel pertama ditulis oleh M. Rasyid Ridha, dkk mengenai Perilaku Menghisap Darah dan Perkiraan Umur Poopulasi di Alam Nyamuk Potensial Vektor Filariasis di Desa Dadahup, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Penelitian dilakukan dengan melakukan metode umpan orang kemudian dilakukan pembedahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku menghisap darah dan istirahat Ma.annulata dan An.barbirostris bersifat eksofilik dan eksofagik, sedangkan Ma.uniformis endofilik dan endofagik.
Artikel kelima adalah Pemetaan Habitat Jentik Nyamuk di Kecamata Cibalong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat oleh Andi Ruliansyah, dkk. Kajian ini bertujuan untuk memetakan habitat jentik nyamuk di Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Cibalong reseptif sebagai daerah penular malaria, DBD, dan filaria, sehingga perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya penularan penyakit tular vektor di wilayah tersebut.
Volume 13 No. 2 Desember 2019
Journal of Disease Vector
E-ISSN: 2354-8835 ISSN: 1978-3647
Volume 13 Nomor 2 Desember 2019
DAFTAR ISI
ARTIKEL
[email protected]
Journal of Disease Vector
77–86
87–96
97–106
107–114
125–132
E-ISSN: 2354-8835
Indikator Entomologi dan Status Resistensi Jentik dan Nyamuk
(Yanelza Supranelfy, Sulfa Esi Warni, Nur Inzana, Ade Verientic Satriani, Deriansyah Eka Putra, Betriyon, Nungki Hapsari S., dan Santoso)
(Junus Widjaja dan Hayani Anastasia)
Perilaku Menghisap Darah dan Perkiraan Umur Populasi di Alam (M. Rasyid Ridha dan Wulan Sembiring)
Nyamuk Potensial Vektor Filariasis di Desa Dadahup, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah
Survei Darah Jari di Kabupaten Tanjung Jabung Timur
Aedes aegypti terhadap Insektisida Rumah Tangga di Tiga Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat
Provinsi Jambi Tahun 2017
(Dian Perwitasari, Dony Lasut, dan Roy Nusa RES)
Efektivitas Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius) terhadap Mortalitas Larva Aedes sp. dan Anopheles
(Andi Yulia Kasma, Andi Tilka Muftiah Ridjal, dan Renaldi M.)
Pemetaan Habitat Jentik Nyamuk di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
(Andri Ruliansyah, Wawan Ridwan, dan Asep Jajang Kusnandar)
Rencana Aksi Lintas Sektor dan Peran Serta Masyarakat dalam Pengendalian Fokus Keong Perantara Schistosomiasis di Dataran Tinggi Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah
Suatu Tinjauan Studi Kasus
Persepsi Stakeholder tentang Program Eliminasi Filariasis di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan :
(Ahmad Erlan, Sitti Chadijah, dan Yusran Udin)
115–124
133–140
Journal of Disease Vector
Volume 13 No. 2 Desember 2019
ABSTRACT SHEET
NLM : QX 460
Yanelza Supranelfy, Sulfa Esi Warni, Nur Inzana, Ade Verientic Satriani, Deriansyah Eka Putra, Betriyon, Nungki Hapsari S., and Santoso
(National Institute of Health Research and Development of Baturaja, NIHRD, Ministry of Health Republic of Indonesia)
(National Institute of Health Research and Development of Tanah Bumbu, NIHRD, Ministry of Health Republic of Indonesia)
NLM : WC 880
________________________________________________________________
Journal of Disease Vector Vol. 13 No. 2, December 2019; p 87–96
Transmission assessment survey for filariasis was conducted in 2013 at Kapuas and found 17 positive in children which indicates transmission still occurs. This study aimed to determine the behavior and longevity of mosquitoes in nature have potential as filariasis vectors in Dadahup Village, Kapuas District. Mosquitoes were collected by human landing collection and dissecting.
The results showed that the density of fluctuations Ma.
annulata sucking blood peak at 18.00-19.00 and resting at 19.00-20.00 at outdoor, Ma. uniformist peak at 19.00- 20.00 and resting at 22.00-23.00 at indoor, while An.
barbirostris peak at 9:00 a.m. to 10:00 p.m. and resting at 3:00 a.m. to 4:00 p.m. at outdoor. Bloodsucking behavior and rest of Ma. annulata and An. barbirostris are exophilic and exophagic whereas Ma. uniforms is endophilic and endophagic. The estimated age of the population was 22.99 days for Ma. annulata, 16.58 days for Ma. uniformis, and 9.82 days for An. barbirostris. The estimated age showed that the mosquitoes could potentially become filariasis vector. The types of habitat sites found are ponds, puddles, ditches, and rice fields.
M. Rasyid Ridha and Wulan Sembiring
Behavior Blood Meal and Age Probability of Population in Nature of Potential Mosquito as Vector Filariasis in Dadahup Village, Kapuas Regency, Central Kalimantan Journal of Disease Vector Vol. 13 No. 2, December 2019; p 77–86
Keywords : filariasis, vector, mosquito, behavior, longevity
Tanjung Jabung Timur Regency conducted Mass Drug Finger Blood Survey in Tanjung Jabung Timur District
Jambi Province 2017 Entomological Indicators and Status or Resistance of Aedes aegypti Larvae and Adult Againt Household Insecticides in Three Regencies/Cities in West Sumatra Province
Journal of Disease Vector Vol. 13 No. 2, December 2019; p 97–106
Dian Perwitasari, Dony Lasut, and Roy Nusa RES NLM : QX 600
Keywords : evaluation, filariasis, microfilaria rate, Tanjung Jabang Timur
_________________________________________________________________
Prevention (POPM) Filariasis for five consecutive years (2012 up to 2016). The results of the evaluation of the prevalence of microfilaria in the third year (2014) indicated POPM Mf rate in the Regency Tanjung Jabung T i m u r o f 0 . 8 3 % . A c t iv i t i e s c o n d u c te d a f te r implementation of the POPM filariasis fifth-year evaluation survey was the survey of filariasis transmission. The purpose of this survey was to detect filarial worms in the community, assessed filarial numbers (Microfilaria rate/Mf rate) in the study area, identified the characteristics of the research subjects (age, sex, education, occupation, history of recurrent fever) and identified treatment history and behavior in society. The survey conducted in Nibung Putih Village and Rantau Karya Village on July 2017. Site selection was conducted by the Tanjung Jabung Timur District Health Office based on the results of research conducted in 2014 and villages bordering filariasis endemic villages. The activities conducted were blood finger examination and interview to the respondent which was done from 20.00 until 00.00. Samples collected were 602 individuals. The collected blood specimen was then stained using Giemsa 5% for 30 minutes then read under a microscope to determine the species of filarial worm found. The survey results obtained two new filariasis sufferers in Nibung Putih Village, with Brugia malayi species. The Mf rate in East Tanjung Jabung Regency is 0.33 percent or less than 1%. The results of the pre-TAS previously in the same year obtained a Mf rate in Tanjung Jabung Timur District of 0.82% with a Mf rate of 1.29% in sentinel villages. Based on the two survey results, it shows that there is still a high risk of filariasis transmission, then POPM is continued for at least two years in succession (6th and 7th POPM filariasis). The administration of drugs to positive patients is following the treatment procedure and increases the coverage of treatment in the 6th and 7th years, namely to supervise taking medication by ensuring the drug is taken directly in front of the health worker or cadre.
(Centre of Research and Development of Public Health Efforts, Ministry of Health Republic of Indonesia)
E-ISSN 2354-8835 E-ISSN 2354-8835 E-ISSN 2354-8835 ISSN 1978-3647 ISSN 1978-3647 ISSN 1978-3647
NLM : QW 700
(National Institute of Health Research and Development of Pangandaran, NIHRD, Ministry of Health Republic of Indonesia)
of fragrant pandan extract (P. amaryllifolius) in killing the larvae of Aedes sp. and Anopheles was 15%. Probit test results of Lethal Concentration 50% and 90% fragrant pandan extract for 24 hours to Aedes sp. larvae showed 9.445% and 14.087%, while to Anopheles larvae depicted 14.874% and 31.468%. It is expected to be guided to community in applying fragrant pandan extract as an alternative larvacide in everyday life to control vector diseases, particularly dengue hemorrhagic fever and malaria.
Keywords : extract, pandan leaves, mortality, larva, Aedes sp., Anopheles
________________________________________________________________
Andri Ruliansyah, Wawan Ridwan, and Asep Jajang Kusnandar
Mapping of Mosquito Larvae Habitats in Cibalong Sub- District, Garut District, West Java Province
Journal of Disease Vector Vol. 13 No. 2 Desember 2019; p 115–124
The environment is an important factor in transmitting vector-borne diseases where an environment is a place of interaction between hosts, agents, and vectors. The existence of mosquitoes as a vector of various types of diseases is influenced by the existence of mosquito breeding habitats in an area. The results of mapping can be a guide to finding larva habitat when carrying out vector control. In addition, there is no map of larva habitat in Cibalong Subdistrict, Garut Regency so that mapping of breeding sites and behavior of mosquitoes becomes very important. The purpose of this study was to map the mosquito larval habitats in Cibalong District, Garut regency. Data collection was done by plotting habitats using Global Positioning System (GPS) and larva identifications using a compound microscope. Habitat larvae found in Karangparanje, Karyasari Village and Sakambangan, Mekarwangi Village, dominated by rice fields and water streams. While larvae found were Culex sp, Anopheles sp, Aedes sp, and Malaya sp. This finding confirmed that Cibalong District receptive as a transmitting area of Malaria, DHF, and Filaria, so it is necessary to be aware of the possibility of transmission of vector-borne diseases in those areas.
Keywords : mapping, habitat, vector control, mosquito _________________________________________________________________
NLM : WC 810
Junus Widjaja and Hayani Anastasia
(National Institute of Health Research and Development of Donggala, NIHRD, Ministry of Health Republic of Indonesia)
Action Plan Multi-sectors and Community Participation in Journal of Disease Vector Vol. 13 No. 2, December 2019; p
107–114
Andi Yulia Kasma, Andi Tilka Muftiah Ridjal, and Renaldi M.
(Institute of Health Science Makassar)
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) and malaria are diseases that are spread through vector (Vector Borne Disease), which can be prevented by applying larvacides.
One of plant showing function as a natural larvacide is fragrant pandan leaves (Pandanus amaryllifolius). The chemical contents in fragrant pandan leaves are polyphenols, flavonoids, saponins, tannin, and alkaloids.
This study aimed to recognize the effectiveness of fragrant pandan extract (P. amaryllifolius) in killing the larvae of Aedes sp. and Anopheles. This was experimental research, posttest only with control group design. The study population was Aedes sp. and Anopheles larvae (Instar III-IV) taken from the original habitat, then the sample was determined by purposive sampling method.
The results revealed that the most effective concentration High data on cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) every year is the reason for continuing to monitor the breeding sites of Aedes sp., to knowing entomological indicators, and identifying the level used of resistance of insecticides The aim of the study was to observed entomological indicators, the presence of larvae in mosquito breeding sites and insecticide resistance to adult mosquitoes. This study uses a multicenter descriptive method with a cross-sectional approach. Data collection was carried out in 2015 in three districts/cities (Padang, Bukit Tinggi, and Pesisir Selatan) of West Sumatra Province. The results of the entomological indicators monitored are still in the moderate category.
Mosquito breeding habitats including controllable containers with larvae positive containers so that the potential as a source of transmission is 90.27% and disposable containers which contain positive larvae of 9.94%. Insecticides used by the community, deltamethrin still showed the results of susceptible and alphacypermethrin conditions showing tolerance, whereas malathion, lamdacyhalothrin, and cypermethrin were resistant. The results of the temephos test as a larvacide used for the elimination of larvae are resistant to occur in two districts, namely Pesisir Selatan and Bukit Tinggi. Regular monitoring is needed in mosquito breeding habitats and encourages people to always care about environmental cleanliness. It is also necessary to look for alternative insecticides that are safe for the community.
_______________________________________________________________________
Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever, entomological indicator, resistance, insecticide
NLM : QX 600
Effectiveness Test of Pandan Leave Extract (Pandanus amaryllifolius) to Larva Mortality of Aedes sp. and Anopheles
Ahmad Erlan, Sitti Chadijah, and Yusran Udin
Keywords : schistosomiasis, Oncomelania hupensis lindoensis, Napu highlands, Central Sulawesi Schistosomiasis in Indonesia is endemic only in Napu and Bada highlands in Poso District and Lindu highlands in Sigi District, Central Sulawesi. Schistosomiasis control program has been done since 1982; however, it is not successful yet. The objective of this study was to re- identify the active focus area of O.h. lindoensis and the schistosomiasis control program by multi-sector and community. This study mapped the foci area and designed an action plan for schistosomiasis control by multi-sector in provincial level, Poso District, and Sigi District. The sectors involved are Agency for Regional Development, Regional Institute of Research and Development, Health Services, Agriculture Office, Plantation, and Animal Health Office, Maritime and Fisheries Office, Public Works Office, and Village Empowerment Office. The foci area of O.h.
lindoensis were distributed in 16 villages in Napu, with a total of 242 foci area. The schistosomiasis control program by multi-sectors was making water catchment, making new paddy field, irrigation, molluscicide, cleaning foci area, draining, re-use of abandoned paddy field and plantation. There is a need for a regulation about budgeting and environmental management in sub-district and village level to support community participation in cleaning foci area, mass drug treatment, and stool survey.
_________________________________________________________________
the Control of Schistosomiasis Foci Area in Napu Highland, Poso District, Central Sulawesi
NLM : WA 525-546
Journal of Disease Vector Vol. 13 No. 2, December 2019; p 125–132
(National Institute of Health Research and Development of Donggala, NIHRD, Ministry of Health Republic of Indonesia)
Enrekang District was declared passed the Transmission Assessment Survey (TAS) - 3 in 2016 and received a certificate of free elephant foot area by the Ministry of Health in 2017. The study aims to thoroughly identify various aspects related to the success of Enrekang District in implementing TAS third stage to lead to the elimination of filariasis. Qualitative studies are carried out by conducting in-depth interviews with relevant stakeholders in supporting the filariasis elimination program. The research has been carried out in two locations which are sentinel areas namely Potokullin Village, Buntu Batu District, and Parombean Village, Curio District, Enrekang Regency. The results of the study show that there are important concerns from relevant stakeholder both from the health sector and across sectors towards the implementation of filariasis elimination in Enrekang District. Most stakeholders' perceptions already know what filariasis is, what the dangers are and how to prevent them. But it needs more intensive advocacy from health promotion personnel to get support from stakeholder involved in the success of the filariasis elimination program in Enrekang District.
Keywords : Transmission Assessment Survey (TAS), perception, stakeholder, filariasis, Enrekang District
_________________________________________________________________
Journal of Disease Vector Vol. 13 No. 2, December 2019; p 133–140
Stakeholder's Perception about Filariasis Elimination Program in Enrekang District, South Sulawesi Province: a Case Study
M. Rasyid Ridha dan Wulan Sembiring NLM : QX 460
(Balai Litbang Kesehatan Tanah Bumbu, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI)
Perilaku Menghisap Darah dan Perkiraan Umur Populasi di Alam Nyamuk Potensial Vektor F i l a r i a s i s d i D e s a Dadahup, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah
Kata kunci: filariasis, vektor potensial, nyamuk, perilaku, perkiraan umur
________________________________________________________________
NLM : WC 880
(Balai Litbang Kesehatan Baturaja, Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan RI)
Jurnal Vektor Penyakit Vol. 13 No. 2, Desember 2019; Hal 77–86
Yanelza Supranelfy, Sulfa Esi Warni, Nur Inzana, Ade Verientic Satriani, Deriansyah Eka Putra, Betriyon, Nungki Hapsari S., dan Santoso
Survei evaluasi transmisi filariasis telah dilakukan tahun 2013 di Kabupaten Kapuas dan ditemukan 17 anak positif, hal ini mengindikasikan masih terjadi transmisi penularan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku dan peluang umur nyamuk di alam yang berpotensi sebagai vektor filariasis di Desa Dadahup, Kabupaten Kapuas. Nyamuk dikumpulkan dengan metode umpan orang kemudian dilakukan pembedahan. Hasil penelitian menunjukkan puncak kepadatan Ma. annulata menghisap darah pada jam 18.00–19.00 dan istirahat pada jam 19.00-20.00 di luar rumah, Ma. uniformis pada jam 19.00-20.00 dan istirahat pada jam 22.00-23.00 di dalam rumah, sedangkan An.
barbirostris pada jam 21.00-22.00 dan istirahat pada jam 03.00-04.00 di luar rumah. Perilaku menghisap darah dan istirahat Ma. annulata dan An. barbirostris bersifat eksofilik dan eksofagik, sedangkan Ma. uniformis endofilik dan endofagik. Perkiraan umur populasi nyamuk Ma. annulata 22,99 hari, Ma. uniformis 16,58 hari d a n An . b a rb i ro s t r i s 9 , 8 2 h a r i . N ya m u k C x . b i t a e n i o r h y n c h u s , C x . t r i t a e n i o r h y n c h u s C x . quinquefasciatus, Ma. annulata, Ma. uniformis bersifat eksofagik, sedangkan Ae. aegypti, Ae. albopictus, dan An.
barbirostris lebih bersifat endofagik. Perkiraan umur populasi Cx. bitaeniorhynchus adalah 26,33 hari, Cx.
tritaeniorhynchus 30,96 hari dan Cx quinquefasciatus 28,82 hari, sehingga berpotensi sebagai vektor filariasis.
Desa Dadahup terdapat jenis nyamuk dengan tipe habitat yang berpotensi sebagai vektor filariasis memungkinkan terjadinya transmisi filariasis.
Volume 13 No. 2 Desember 2019
LEMBAR ABSTRAK Journal of Disease Vector
E-ISSN 2354-8835 E-ISSN 2354-8835 E-ISSN 2354-8835
Survei Darah Jari di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi Tahun 2017
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No. 2, Desember 2019; Hal 87–96
Kabupaten Tanjung Jabung Timur telah melaksanakan kegiatan pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis selama lima tahun berturut-turut (2012-2016).
Hasil evaluasi prevalensi mikrofilaria pada tahun ketiga POPM (2014) menunjukkan mikrofilaria rate (Mf rate) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebesar 0,83%.
Kegiatan yang dilakukan setelah pelaksanaan POPM filariasis tahun kelima adalah survei evaluasi penularan filariasis. Tujuan survei ini adalah untuk mendeteksi cacing filaria pada masyarakat, menilai angka filaria (Microfilaria rate/Mf rate) di daerah penelitian, identifikasi karakteristik subyek penelitian (umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, riwayat demam berulang) serta identifikasi riwayat pengobatan dan perilaku pada masyarakat. Survei dilakukan di Desa Nibung Putih dan Desa Rantau Karya pada Juli 2017.
Pemilihan lokasi dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Timur berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 dan desa yang berbatasan dengan desa endemis filariasis.
Kegiatan yang dilakukan adalah pemeriksaan darah jari dan wawancara kepada responden yang dilakukan mulai pukul 20.00 WIB sampai dengan 00.00 WIB. Sampel yang dikumpulkan sebanyak 602 individu. Spesimen darah yang telah terkoleksi kemudian dilakukan pewarnaan dengan menggunakan Giemsa 5% selama 30 menit lalu dibaca di bawah mikroskop untuk menentukan spesies cacing filaria yang ditemukan. Hasil survei mendapatkan dua orang penderita baru filariasis di Desa Nibung Putih, dengan spesies Brugia malayi Angka Mf rate di Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebesar 0,33 persen atau kurang dari 1 %. Hasil pre-TAS sebelumnya di tahun yang sama didapatkan angka Mf rate sebesar 0,82%
dengan angka Mf rate 1,29% di desa sentinel.
Berdasarkan kedua hasil survei tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat risiko penularan filariasis yang tinggi, maka POPM dilanjutkan minimal dua tahun berturut-turut (POPM filariasis tahun ke-6 dan ke-7).
Pemberian obat kepada penderita positif sesuai dengan prosedur pengobatan serta meningkatkan cakupan pengobatan pada tahun ke-6 dan ke-7 yaitu melakukan pengawasan minum obat dengan memastikan obat diminum langsung di depan petugas kesehatan atau kader.
________________________________________________________________
Kata kunci : evaluasi, filariasis, mikrofilaria rate, Tanjung Jabung Timur
Andi Yulia Kasma, Andi Tilka Muftiah Ridjal, dan Renaldi M.
Uji Efektivitas Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius) Terhadap Mortalitas Larva Aedes sp. dan Anopheles
NLM : QX 600
Kata kunci : Demam Berdarah Dengue, indikator entomologi, resistensi, insektisida
(Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar)
Data kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang tinggi setiap tahun menjadi alasan untuk terus melakukan pemantauan tempat perindukan nyamuk Aedes sp., mengetahui indikator entomologi, dan mengidentifikasi tingkat resistensi insektisida yang digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi indikator entomologi, keberadaan jentik di tempat perindukan nyamuk, dan resistensi insektisida terhadap jentik maupun nyamuk dewasa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan potong lintang.
Pengumpulan data dilakukan pada tahun 2015 di tiga kabupaten/kota (Padang, Bukit Tinggi, dan pesisir selatan) Provinsi Sumatera Barat. Hasil penelitian untuk indikator entomologi yang dipantau masih dalam kategori sedang. Habitat perkembangbiakan nyamuk yang termasuk controllable containers dengan kontainer positif jentik sehingga berpotensi sebagai sumber penularan sebesar 90,27% dan dispossable containers yang positif jentik sebesar 9,94%. Insektisida yang digunakan oleh masyarakat, deltamethrin masih menunjukkan hasil rentan dan alphacypermethrin m e n u n j u k a n t o l e r a n , s e d a n g k a n m a l a t h i o n , lamdacyhalothrin dan cypermethrin sudah resisten. Hasil uji temephos sebagai larvasida yang digunakan untuk pengendalian jentik sudah resisten terjadi di dua kabupaten yaitu Pesisir Selatan dan Bukit Tinggi.
D i p e r l u k a n p e m a n t a u a n b e r k a l a d i h a b i t a t perkembangbiakan nyamuk dan mendorong masyarakat untuk selalu peduli terhadap kebersihan lingkungan.
Diperlukan juga mencari alternatif insektisida yang aman untuk masyarakat.
NLM : QX 600
Dian Perwitasari, Dony Lasut, dan Roy Nusa RES Pusat Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan (
Masyarakat, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI)
Indikator Entomolgi dan Status Resistensi Jentik dan Nyamuk Aedes aegypti terhadap Insektisida Rumah Tangga di Tiga Kabupaten/Kota di Provinsi S u m a t e r a Barat
_________________________________________________________________
Jurnal Vektor Penyakit Vol. 13 No. 2, Desember 2019; Hal 107–114
Jurnal Vektor Penyakit Vol. 13 No. 2, Desember 2019; Hal 97–106
Kata kunci : ekstrak, daun pandan wangi, mortalitas, larva, Aedes sp., Anopheles
Demam berdarah dengue (DBD) dan malaria merupakan penyakit yang disebarkan melalui vektor nyamuk (Vector Borne Disease), yang dapat dicegah penyebarannya dengan menggunakan larvasida. Salah satu tanaman yang berfungsi sebagai larvasida alami adalah daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius). Kandungan kimia yang ada di daun pandan wangi adalah senyawa pahit berupa polifenol, flavonoid, saponin, tanin dan alkaloid.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun pandan wangi (P. amaryllifolius) dalam mematikan larva Aedes sp. dan Anopheles. Jenis penelitian ini adalah Experimental dengan desain posttest only with control group. Populasi penelitian adalah larva nyamuk Aedes sp. dan Anopheles (instar III-IV) yang diambil dari habitat asli, kemudian sampel ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsentrasi ekstrak daun pandan wangi (P. amaryllifolius) yang efektif dalam mematikan larva Aedes sp. dan Anopheles dalam jumlah terbanyak adalah 15%. Hasil uji probit Lethal Concentration 50% dan 90% ekstrak daun pandan wangi selama 24 jam terhadap larva Aedes sp. menunjukkan angka 9,445% dan 14,087%
sedangkan terhadap larva Anopheles menunjukkan angka 14,874% dan 31,468%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat dalam mengaplikasikan ekstrak daun pandan wangi sebagai larvasida alternatif di kehidupan sehari-hari untuk mengendalikan penyakit vektor khususnya demam berdarah dengue dan malaria.
________________________________________________________________
NLM : QW 700
Andri Ruliansyah, Wawan Ridwan, dan Asep Jajang Kusnandar
(Loka Litbang Kesehatan Pangandaran, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI
Pemetaan Habitat Jentik Nyamuk di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No. 2, Desember 2019; Hal 115–124
Lingkungan merupakan faktor penting dalam penularan penyakit tular vektor di mana lingkungan merupakan tempat berinteraksi antara host, agen dan vektor.
Keberadaan nyamuk sebagai vektor berbagai macam penyakit dipengaruhi oleh keberadaan habitat perkembangbiakan nyamuk di suatu wilayah. Hasil suatu pemetaan dapat menjadi panduan untuk menemukan habitat jentik pada saat melakukan pengendalian vektor.
Selain itu belum adanya suatu peta habitat jentik di Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut sehingga pemetaan tempat perkembangbiakan dan perilaku nyamuk menjadi sangat penting. Tujuan kajian ini untuk memetakan habitat jentik nyamuk di Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut. Pengumpulan data dilakukan dengan membuat titik (plotting) habitat dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) dan identifikasi jentik
Kata kunci : pemetaan, habitat, pengendalian vektor, nyamuk
menggunakan mikroskop binokuler. Habitat jentik yang ditemukan di Dusun Karangparanje Desa Karyasari dan Dusun Sakambangan Desa Mekarwangi, didominasi oleh sawah dan aliran sungai. Sedangkan jentik yang ditemukan yaitu Culex sp, Anopheles sp, Aedes sp dan Malaya sp. Hal ini menjadikan Kecamatan Cibalong reseptif sebagai daerah penular malaria, DBD, dan filaria, sehingga perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya penularan penyakit tular vektor di wilayah tersebut.
Rencana Aksi Lintas Sektor dan Peran Serta Masyarakat d a l a m Pe n g e n d a l i a n Fo ku s Ke o n g Pe ra n t a ra Schistosomiasis di Dataran Tinggi Napu, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah
Junus Widjaja dan Hayani Anastasia NLM : WC 810
________________________________________________________________
(Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI)
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No. 2, Desember 2019; Hal 125–132
Schistosomiasis di Indonesia hanya ditemukan di Dataran Tinggi Napu dan Dataran Tinggi Bada, Kabupaten Poso serta Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Sejak tahun 1982 telah dilakukan upaya pemberantasan tetapi sampai saat ini belum berhasil.
Tujuan penulisan adalah mengidentifikasi kembali fokus keong perantara schistosomiasis yang masih aktif dan menyusun rencana aksi lintas sektor serta peran serta masyarakat dalam penanganan fokus keong. Kegiatan meliputi pemetaan kembali dan melakukan pertemuan menyusun rencana aksi pengendalian schistosomiasis dengan lintas sektor terkait di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Poso dan Kab. Sigi. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlibat antara lain Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda), Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kesehatan Hewan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD). Fokus keong Oncomelania hupensis lindoensis tersebar pada 16 desa di Dataran Tinggi Napu. Jumlah fokus keong O. hupensis lindoensis 242 fokus. Rencana aksi lintas sektor dengan pembuatan bak penangkap air, pencetakan sawah, pembuatan saluran air permanen dan penyemprotan moluskisida sedangkan peran serta masyarakat berupa pembersihan, pengeringan, pengaktifan sawah dan kebun. Perlu ada regulasi
_________________________________________________________________
NLM : WA 525-546
Ahmad Erlan, Sitti Chadijah, dan Yusran Udin
(Balai Litbang Kesehatan Donggala, Badan Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI)
Persepsi Stakeholder Tentang Program Eliminasi Filariasis di Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan : Suatu Tinjauan Studi Kasus
Jurnal Vektor Penyakit Vol 13 No. 2, Desember 2019; Hal 133–140
Kabupaten Enrekang telah dinyatakan lulus Transmission Assesment Survey (TAS)-3 pada tahun 2016, bahkan telah menerima sertifikat daerah bebas kaki gajah oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2017. Studi ini bertujuan untuk mengetahui secara menyeluruh berbagai aspek yang terkait dengan keberhasilan Kabupaten Enrekang dalam melaksanakan TAS tahap ketiga dalam rangka menuju eliminasi filariasis. Studi kualitatif dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam (indepth interview) kepada stakeholder yang berkaitan dalam mendukung program eliminasi filariasis. Penelitian telah dilaksanakan di dua lokasi yang merupakan daerah sentinel yaitu Desa Potokullin, Kecamatan buntu Batu dan Desa Parombean, Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perhatian penting dari para stakeholder yang berkaitan baik itu dari sektor kesehatan maupun lintas sektor terhadap pelaksanaan eliminasi filariasis di Kabupaten Enrekang.
Sebagian besar persepsi stakeholder sudah mengetahui apa itu filariasis, apa bahayanya dan bagaimana cara pencegahannya. Namun perlu advokasi lebih gencar dari tenaga promosi kesehatan agar mendapat dukungan dari para stakeholder yang terlibat dalam menyukseskan program eliminasi filariasis di Kabupaten Enrekang.
pembiayaan untuk pengembangan manajeman lingkungan dan regulasi di tingkat kecamatan atau desa untuk peningkatan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan pembersihan fokus keong, pengobatan massal dan survei tinja.
Kata kunci : schistosomiasis, Oncomelania hupensis lindoensis, Dataran Tinggi Napu, Sulawesi Tengah
Kata kunci : Transmissiion Assesment Survey (TAS), Persepsi, pemangku kepentingan, filariasis, Kabupaten Enrekang
_________________________________________________________________