Volume 3, No. 2, Tahun 2021
p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma
Copyright©2021 – KERUGMA | 1
Yobel: Periode, Sosial, Ekonomi, dan Teologi
Nepho Gerson Laoly
STT Injili Indonesia Medan Email:[email protected]
Abstract:
The literature on Jubilees discusses the implications of acquiring the Land of Canaan (Palestine).
Jubilee had a high degree of law in aspects of The Life of the Israelites, especially the administrating of the territory of the land of Canaan. However, there are also scholars who think of jubilees as a rule instituted by priests in the period of exile or in the period of return from exile.
Jubilee writing is in the background of the Ancient Near East, the Second Temple, and the writing of the gospels that use jubilee years such as Luke. In addition, jubilees are the basic arguments for liberating and socialist theology or related to contemporary agendas that use the word
“independence” and the like. Jubilees cover four categories: period, social, economic, and theological categories. Research is conducted to gain a comprehensive understanding of jubilees through literature surveys in biblical, socio-economic, and archaeological areas. Qualitative methods are applied to accommodate various jubilee-related information in providing Jubilee exposition material. The application of close reading is done in order to get the right information.
Archaeology is also a secondary source to sharpen this research.
Keywords: jubilee; ancient near east; biblical; social-economy; liberation
Abstrak:
Literatur mengenai Yobel membicarakan implikasi dari mengakuisisi daratan Kanaan (Palestina).
Yobel memiliki derajat hukum yang tinggi dalam aspek kehidupan bangsa Israel, terutama pengadministrasian wilayah tanah Kanaan. Kendati demikian ada juga para sarjana yang beranggapan Yobel sebagai suatu aturan yang dilembagakan oleh para imam pada periode pembuangan ataupun dalam periode kembali dari pembuangan. Penulisan Yobel ada di dalam latar belakang Timur Dekat Kuno, Bait Allah Kedua, dan penulisan injil yang menggunakan tahun Yobel seperti Lukas. Selain itu Yobel menjadi argumen dasar bagi teologi-teologi yang bersifat pembebasan dan sosialis, ataupun terkait dengan agenda kontemporer yang menggunakan kata
“kemerdekaan” dan sejenisnya. Yobel mencakup empat kategori yaitu kategori periode, sosial, ekonomi, dan teologi. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan pemahaman Yobel yang komprehensif melalui survey literatur pada area biblika, sosial-ekonomi, dan arkeologi. Metode kualitatif diterapkan untuk menampung berbagai informasi terkait Yobel dalam menyediakan materi eksposisi Yobel. Penerapan close reading dilakukan agar mendapatkan informasi yang tepat. Arkeologi juga menjadi sumber sekunder untuk mempertajam penelitian ini.
Kata Kunci: yobel; timur dekat kuno; biblika; sosial; ekonomi; pembebasan
Copyright© 2021 – KERUGMA |2
I. PENDAHULUAN
Yobel dalam literatur biblika merupakan subjek yang dibahas dengan umum. Para sarjana menempatkan Yobel dalam rekonstruksi penyusunan Pentateukh.1 Yobel dianggap sebagai suatu aturan yang dilembagakan oleh para imam pada periode pembuangan ataupun dalam periode kembali dari pembuangan. Peraturan ini dihadirkan untuk mengakuisisi daratan Kanaan (Palestina) berserta dengan mengadministrasikan wilayah tersebut.2
Literatur mengenai Yobel sebagian besar membicarakan implikasi dari peraturan ini. Banyak penulisan Yobel menjadi argumen dasar bagi teologi-teologi yang bersifat pembebasan dan sosialis, ataupun terkait dengan agenda kontemporer yang menggunakan kata “kemerdekaan” dan sejenisnya. Sisanya, kita dapat menemukan pembahasan Yobel ada di dalam latar belakang Timur Dekat Kuno, Bait Allah Kedua, dan penulisan injil yang menggunakan tahun Yobel seperti Lukas. Namun, sedikit kita jumpai tulisan yang terkait dengan Yobel pada masa Israel Kuno, baik dalam Perjanjian Baru maupun karya-karya modern, yang membicarakan teks Yobel dengan khusus.
II. METODE PENELITIAN
Untuk menghadirkan pemahaman Yobel dengan komprehensif maka survei literatur terkait Yobel dilakukan mencakup area biblika, sosial-ekonomi, dan arkeologi.
Metode kualitatif diterapkan untuk menampung berbagai informasi terkait Yobel dalam menyediakan materi eksposisi Yobel.
1Grant R. Osborne, Spiral Hermeneutik: Pengantar Komprehensif Bagi Penafsiran Alkitab, ed.
Stevy Tilaar (Surabaya: Penerbit Momentum, 2016). Hal. 207-230; Kevin J. Vanhoozer, Apakah Ada Makna Dalam Teks Ini? : Alkitab, Pembaca, Dan Moralitas Pengetahuan Sastra (Surabaya: Penerbit Momentum, 2013). Hal.393-514; William W. Klein, Craig L. Blomberg, and Robert L. Hubbard. Jr., Introduction To Biblical Interpretation 1 : Pengantar Tafsiran Alkitab (Malang: Literatur SAAT, 2016).
Hal. 107-226 ;.James Barr, Language And Meaning: Studies In Hebrew Language And Biblical Exegesis (Leiden: Brill, 1974). Hal. 1-28 ; Raymond de Hoop, Marjo C.A. Korpel, and Stanley E. Porter, The Impact Of Unit Delimination On Exegesis (Leiden: Brill, 2009). Hal. 29-62; Hasan Susanto, Hermeneutik: Prinsip & Metode Penafsiran Alkitab, Cetakan Ke. (Malang: Literatur SAAT, 2007). Hal.
215-422; Jr. E. D. Hirsch, Validity In Interpretation (London: Yale University Press, 1967). Hal. 68-111
;Ernst Wurthwein, The Text Of The Old Testament, 2nd Editio. (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1995).Hal. 113-122; Odil Hannes Steck, Old Testament Exegesis : A Guide To The Methodology, ed.
James D. Nogalski, 2nd Editio. (Atlanta, Georgia: Scholars Press, 1998). Hal. 47-62; Kevin J.
Vanhoozer, Drama Doktrin: Suatu Pendekatan Kanonik-Linguistik Pada Theologi Kristen, ed. Stevy Tilaar (Surabaya: Penerbit Momentum, 2011).Hal. 355-488.
2Wright tidak sepakat dengan pemahaman Yobel berdasarkan pendistribusian tanah kepada setiap orang Israel. Menurut Wright, pemahaman penditribusian didasarkan pada pemahaman yang salah terhadap Yobel. Christopher J. H. Wright, Old Testament Ethics For The People Of God (Downers Grove, Illinois: IVP Academic, 2004). Hal. 208. Baca juga : Gregory C. Chirichigno, Debt-Slavery In Israel And The Ancient Near East, ed. David J.A Clines and Philip R. Davies (Sheffield: JSOT Press, 1993).Moshe Weinfeld, The Place Of The Law In The Religion Of Ancient Israel (Leiden: Brill, 2004).Roland de Vaux, Ancient Israel: Its Life And Institution (Eerdmans, 1997).James B. Pritchard, Ancient Near Eastern Text (Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1969).
Volume 3, No. 2, Tahun 2021
p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma
Copyright©2021 – KERUGMA | 3
Pembahasan Yobel dilakukan dalam latar belakang Timur Dekat Kuno, Bait Allah Kedua, dan Injil-injil. Berbagai literatur biblika maupun ekstra biblika akan menerapkan close reading agar mendapatkan informasi yang tepat. Informasi arkeologi juga menjadi sumber sekunder untuk mempertajam penelitian ini.
III. PEMBAHASAN DAN HASIL
Berbagai literatur menyelidiki hubungan Yobel di masa Timur Dekat Kuno.3 Didapati kesamaan dalam aturan Yobel yaitu mengenai pembebasan, kepemilikan khusus tanah, penggunaan nomor tujuh dan lima puluh dalam kalender kuno, pengelolaan tanah, dan penebusan tanah serta orang.4 Bangsa Akadian memiliki karya Andurarum (“kebebasan”) yang penanggalannya sekitar 3000 SM. Kode Hamurabi juga memberi sumbangsih mengenai mengenai keadilan (misharum) sekitar tahun 1792-1750 SM.5 Arkeologis telah banyak menemukan hal yang serupa dari Mesopotamia di Babel, Nippur, Sippar, Mari, dan Hana.6 Dekrit Ammisaduqa sekitar tahun 1645 SM yang lengkap memberikan misharum.7 Kita juga dapat melihat kepada monograph mencakup
3Penyelidikan mengenai Pentateukh dan kehidupan yang melingkupi kisah dalamnya membantu kita memahami Yobel, baca :Jr. Richard L. Pratt, Ia Berikan Kita Kisah-Nya: Panduan Bagi Siswa Alkitab Untuk Menafsirkan Narasi Perjanjian Lama, ed. Jean Ch. Obaja (Surabaya: Penerbit Momentum, 2013). Hal.313-325; Gary Edward Schnittjer, The Torah Story: An Apprenticeship On The Pentateuch, ed. Emma Maspaitella (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2015). Hal. 29-70
4John Sietze Bergsma, The Jubilee From Leviticus To Qumran (Leiden: Brill, 2007).Hal. 20.
Bergsma juga menyediakan daftar artikel dan monograf yang mendukung, yaitu : Eli Ginzberg, “Studies in the Economics of the Bible,” JQR n.s. 22 (1931–32): 343–408, esp. 400–405; Hildegard and Julius Lewy, “The Origin of the Week and the Oldest West Asiatic Calendar,” HUCA 17 (1942/43): 1–148;
Isaac Mendelsohn, Slavery in the Ancient Near East (New York: Oxford University Press, 1949); Robert G. North, Sociology of the Biblical Jubilee (AnBib 4; Rome: Pontifical Biblical Institute, 1954); Eduard Neufeld, “Socio-economic Background of Yobel and ”emi††a,” RSO 33 (1958): 53–124; Julius Lewy,
“The Biblical Institution of Derôr in the Light of Akkadian Documents,” EI 5 (1958): 21–31; Reuven Yaron, “A Document of Redemption from Ugarit,” VT 10 (1960): 83–90; J. J. Finkelstein,
“Ammißaduqa’s Edict and the Babylonian ‘Law Codes’,” JCS 15 (1961): 127–34; idem, “Some New Misharum Material and its Implications,” AS 16 (1965): 233–46; Fritz R. Kraus, “Ein Edikt des Königs Samsu-Iluna von Babylon,” AS 16 (1965): 225–31; Shmuel Safrai et al., “Sabbatical Year and Jubilee,”
EJ 14: 574–86; I. Schiffmann, “Die Grundeigentums-verhältnisse in Palästina in der Ersten Hälfte des 1.
Jahrtausends v. u. Z.,” in Wirtschaft und Gesellschaft im Alten Vorderasien (ed. J. Harmatta and G.
Komoróczy; Budapest: Akadémiai Kiadó, 1976), 457–71; Moshe Weinfeld, Social Justice in Ancient Israel and the Ancient Near East (Jerusalem: Magnes/Minneapolis: Fortress, 1995).
5Ibid. Hal. 23
6Ibid. Hal.23-24
7Pritchard, Ancient Near Eastern Text. Hal. 526-528
Copyright© 2021 – KERUGMA |4
undang-undang yang serupa di Timur Dekat Kuno.8 Untuk memahami Yobel, maka kita bisa mengkategorikan Yobel ke dalam empat bagian yang sering disajikan ketika membicarakan Yobel.9
Periode
Para sarjana yang kritis memasukkan Yobel ke dalam periode kerajaan akhir Yehuda atau pada masa pembuangan, dikarenakan kebutuhan akan perubahan undang- undang sepanjang sejarah Israel untuk keperluan perubahan peta politik saat itu.10 Terkait dengan Pentateuch, kebanyakan pembahasan dilakukan sekitar penanggalan masa dan Sitz im Leben dari tahun Yobel.11
John S. Bergsma memberi perhatian kepada undang-undang di Imamat 25 dan mencoba menjajaki pembentukan Yobel melalui Hebrew Bible, literatur periode Bait Allah ke Dua, serta dokumen-dokumen Qumran.12 Bergsma berpendapat bahwa tujuan dari Yobel adalah untuk memelihara kesetaraan dan kemerdekaan setiap keluarga yang hidup dalam masyarakat agraris Israel kuno.13 Karena itu Bergsma berpendapat bahwa Yobel merupakan institusi sebelum pembuangan dan bangsa Israel setidaknya telah memahami Yobel walaupun sekedar wawasan. Bergsma juga berpendapat bahwa Yobel memiliki rasa eskatologi karena mengingatkan Israel akan apa yang mereka alami sebagai sebuah bangsa keluar dari perbudakan Mesir.14
Serupa dengan beberapa sarjana telah melakukan riset terhadap pembentukan
8Chirichigno, Debt-Slavery In Israel And The Ancient Near East.Donald A. Leggett, The Levirate And Goel Institutions In The Old Testament: With Special Attention To The Book Of Ruth (Chery Hill, New Jersey: Mack Publishing Company, 2006).Weinfeld, The Place Of The Law In The Religion Of Ancient Israel.
9Untuk kategori pertama penulis menempatkan periode untuk menjelaskan berbagai posisi sarjana melihat masa kepenulisan teks Yobel. Selanjutnya penulis menggunakan tiga kategori yang Wright gunakan yaitu sosial, ekonomi, dan teologi, baca: Wright, Old Testament Ethics For The People Of God.
Hal. 198-210.
10 Sekumpulan kecil sarjana berpendapat mengenai masa penanggalan Yobel, yaitu pada masa Israel menaklukkan Kanaan dan masa kerajaan memerintah di Israel. Tetapi pada umumnya beranggapan bahwa Yobel merupakan undang-undang utopia yang dihasilkan selama pembuangan Israel ke Babel.
Silakan baca : Bergsma, The Jubilee From Leviticus To Qumran. Hal.53-79. Lawrence H. Schiffman and James C. VanderKam, Encyclopedia Of The Dead Sea Scrolls (New York: Oxford University Press, 2000). Hal. 161-178.
11 Untuk mengetahui masa penanggalan Yobel dapat dijadikan sebagai dasar terkait mengetahui masa penulisan Torah dan bagaimana penyusunannya. Baca : John J. Collins, The Invention Of Judaism : Torah and Jewish Identity from Deuteronomy to Paul (Oakland, California: University Of California Press, 2017).Hal. vii-vii,dan Joshua A. Berman, Incosistency In The Torah : Ancient Literary Convention and the Limits of Source Criticism (New York: Oxford University Press, 2017). Hal. 3-10.
12 Penilaian Bergsma jika dihubungkan dengan undang-undang TDK lainnya memiliki pemahaman yang sejalan dengan Weinfeld dan Chirichigno.
13Bergsma, The Jubilee From Leviticus To Qumran. Hal. 296. Bergsma tetap pada posisi sebelum pembuangan, karena hipotesisnya menghasilkan kurangnya bukti yang mendukung teks Imamat 25 ada pada masa setelah pembuangan terkait dengan Sitz im Leben.Ibid.Hal. 75
14Bergsma, The Jubilee From Leviticus To Qumran. Hal. 296
Volume 3, No. 2, Tahun 2021
p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma
Copyright©2021 – KERUGMA | 5
Yobel dalam literatur Bait Allah ke Dua maka Bergsma menyimpulkan bahwa Kitab Jubile, 1 Henokh, dan Perjanjian Dari 12 Patriakh menggunakan Yobel sebagai kerangka skema sejarah. Dokumen Qumran juga mereferensikan Yobel pada beberapa kesempatan. Bergsma berpendapat bahwa literatur Qumran menggunakan Yobel untuk tiga tujuan utama yaitu, pertama, kesejarahan – menghadirkan kronologi dari peristiwa masa lalu, kedua, kalender ritual dan perayaan – untuk mengukur jangka waktu dari aktifitas ritual seperti pergantian pelayanan imam, ketiga, eskatologi – untuk memprediksi kehadiran masa akhir.15
Roland de Vaux, berpendapat bahwa Yobel merupakan hukum utopia yang hadir setelah masa pembuangan.Merupakan suatu upaya yang tidak efektif bagi de Vaux untuk memperluas aturan Sabat ke dalam undang-undang kepemilikan tanah. Yobel bukan sesuatu yang dapat ditarik keluar dari pemahaman dan kalender TDK.16
Jeffrey Fager berpendapat bahwa Yobel merupakan sebuah undang-undang kuno.
Namun meyakini bahwa seorang editor telah “menyesuaikan” aturan ini selama masa pembuangan sebagai hasil dari kompetisi antara sekolah keimaman “elit” dan sekolah keimaman “awam”.17 Kompetesi yang terjadi pada umumnya mengenai bagaimana melaksanakan pembagian daratan Palestina (Kanaan) ketika bangsa Israel kembali dari Babel.18
Jacob Milgrom memberikan perhatiannya kepada Yobel di Imamat 25.19 Milgrom memberikan masa penanggalan keseluruhan aturan dalam Imamat sekitar abad 8 S.M.
Aturan Yobel merupakan sebuah respon dari para imam terhadap realita yang dihadapi saat itu, yaitu pertumbuhan ekonomi berdasarkan perdagangan dan pertumbuhan feodal yang menghasilkan budak pekerja dari pemilik tanah.20 Milgrom melihat sebuah keterkaitan antara undang-undang Yobel dan pelaksanaan hukum ini dapat diterima
15Ibid. Hal. 255-257
16Vaux, Ancient Israel: Its Life And Institution. Hal. 176-177
17Jeffrey A. Fager, Land Tenure And The Biblical Jubilee: Uncovering Hebrew Ethics Through The Sociology Of Knowledge (Sheffield: JSOT Press, 1993). Hal. 16
18Ibid. Hal. 60-63
19Jacob Milgrom, Leviticus 23-27 (New York: Doubleday, 2001). Hal. 2145-2271
20Jacob Milgrom, Leviticus 17-22, 3B ed. (New York: Doubleday, 2001). Hal. 1361-1363,1407- 1439. Milgrom berpendapat bahwa Yobel sebuah jawaban atas tekanan pada abad 8 S.M yang sering sekali disampaikan oleh para nabi. Milgrom, Leviticus 23-27.Hal. 2245
Copyright© 2021 – KERUGMA |6
sebelum masa pembuangan.21
Gordon Wenham berpikir bahwa Imamat berdasarkan sumber Priestly bukan Musa, tetapi dia yakin bahwa Imamat ditulis sebelum masa pembuangan. Dia mendasarkan kesimpulan ini pada rekaman arkeologi yang mendukung masyakarat agraris dan setara menyaratkan Yobel.22
C.J.H. Wright berargumen bahwa undang-undang Yobel berada pada masa Musa, menyediakan kebebasan dari hutang, dan memastikan orang Israel yang melarat memiliki kesempatan untuk kembali memiliki tanah nenek moyang mereka.23 Kehadiran Yobel memperkuat kehidupan sosial, ekonomi, dan pemahaman teologi bangsa Israel. Kendati sulit menemukan tulisan sejarah mengenai pelaksanaan Yobel, bagi Wright udang-undang ini pernah ada dan bukan suatu pengharapan yang berlebihan (utopia).
Houston memilih posisi bahwa Yobel merupakan ideologi yang kemungkinan muncul sepanjang periode Persia.24 Dia menyatakan bahwa Yobel tidak dirancang sebagi bagian dari undang-undang yang menggambarkan keadaan yang dialami.
Malahan aturan ini dibuat untuk mengajar keadilan bukan untuk memaksakan regulasi secara detail.25
Pleins berpendapat bahwa Yobel merupakan bagian dan hadiah dari kumpulan ideologi dari ritus para imam yang mengalami pembaharuan pada masa setelah pembuangan.26
Sosial
Hukum yang ada menolong budak yang berutang dan kehilangan hak atas tanah merupakan sesuatu yang umumnya terjadi pada masa Timur Dekat Kuno sekitar tahun 2050-1955 SM.27 Bagi Chirichigno, Yobel merupakan suatu undang-undang yang unik pada masa Timur Dekat Kuno disebabkan masa tetap lima puluh tahun dan sebuah peringatan untuk memperlakukan para budak sebagai pekerja upahan.
21Milgrom, Leviticus 23-27. Hal. 2247
22Gordon Wenham, The Book Of Leviticus, NICOT (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1979).
Hal. 317
23Wright, Old Testament Ethics For The People Of God. Hal. 198-210;Christopher J. H. Wright, The Mission of God: Unlocking the Bible’s Grand Narrative (Grand Rapids, Michigan: IVP Academic, 2006). Hal. 289-323.
24Walter J. Houston, Contending For Justice : Ideologies And Theologies Of Social Justice In The Old Testament (New York: T&T Clark, 2006). Hal. 192
25Ibid. Hal. 195
26David Pleins, The Social Visions Of The Hebrew Bible, 1st Editio. (Louisville, Kentucky:
Westminster John Knox Press, 2000). Hal 69
27Chirichigno, Debt-Slavery In Israel And The Ancient Near East. Hal. 54,99
Volume 3, No. 2, Tahun 2021
p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma
Copyright©2021 – KERUGMA | 7
Tetapi praktik penebusan di Israel membuatnya unik dengan melibatkan ikatan kekerabatan dalam penebusan dan pemahaman bahwa Tuhan merupakan pemilik tanah dan bangsa Israel.28 Legget menghubungkan sistem keadilan sosial Israel dengan perjanjian antara Israel dan Yahweh. Bangsa Israel harus membebaskan sesamanya sebagaimana Yahweh telah membebaskan mereka dari perbudakan.29 Dengan kata lain, hubungan kekerabatan mendorong orang Israel menebus saudaranya beserta tanah pusakanya.
Moshe Weinfeld menyatakan bahwa pembebasan dalam kekerabatan merupakan suatu praktek kuno yang sering dibaurkan dengan elemen utopia sebagai suatu undang- undang Dengan menjalin motif-motif ini kepada keadilan social, Weinfeld menunjukkan bahwa keadilan pada Israel kuno memiliki komponen sosial yang kuat.
Peduli terhadap orang miskin dan melarat merupakan sebuah cara utama raja-raja Israel, baik sebagai suatu bangsa maupun masing-masing orang Israel, melakukannya sebagai penghayatan kepada kebaikan Yahweh yang telah mereka terima sebelumnya.30 Weinfeld juga melihat Yobel memiliki hubungan paralel yang idealmirip sebagaimana yang dihadirkan undang-undang dari Mesopotamia yang memberikan pembebasan selain perlindungan.31
Bagi Fager, revisi teks mengacu kepada pergulatan yang mendalam antara mejalankan pemusatan penguasaan tanah dibawah lembaga kerajaan Israel dan kepemilikan pribadi berdasarkan hak kekerabatan keluarga.32 Menurut Fager, pada saat itu para imam “elit” menginginkan pemusatan kepemilikan tanah sementara imam
“awam” menginginkan sistem yang mendistribusikan menyeluruh wilayah Israel kepada setiap orang.33
Jacob Milgrom melihat sebuah keterkaitan antara undang-undang Yobel dan
28Leggett, The Levirate And Goel Institutions In The Old Testament: With Special Attention To The Book Of Ruth. Hal. 67-68
29Ibid. Hal. 293-94
30Moshe Weinfeld, Normative And Sectarian Judaism In The Second Temple Period (New York:
T&T Clark International, 2005). Hal. 138
31Weinfeld, The Place Of The Law In The Religion Of Ancient Israel.Hal. 74. Misalnya seperti kode Hamurabi, andurarum, misharum, dan kidinnutu .
32Fager, Land Tenure And The Biblical Jubilee: Uncovering Hebrew Ethics Through The Sociology Of Knowledge. Hal. 119
33Ibid. Hal. 120
Copyright© 2021 – KERUGMA |8
pelaksanaan hukum ini dapat diterima sebelum pembuangan.34 Bagi Milgrom, Yobel merupakan sebuah respon dari para imam terhadap realita yang dihadapi saat itu, pertumbuhan feodal yang menghasilkan budak pekerja dari pemilik tanah.35
Gordon Wenham menganggap Yobel dirancang untuk memberikan permulaan baru kepada si miskin dengan membebaskan segala hutangnya, berikut statusnya sebagai budak, dan mengembalikan mereka ke tanah pusaka yang diberikan kepada keluarga mereka selama masa penaklukkan Yosua.36 Tujuan luas dari aturan ini bagi Wright yaitu merancang untuk menjaga ikatan kekerabatan bangsa Israel (sosial).37 Kendati sulit menemukan tulisan sejarah mengenai pelaksanaan Yobel, bagi Wright udang-undang ini pernah ada dan bukan suatu pengharapan yang berlebihan (utopia).
Wright menyatakan bahwa peraturan Yobel memastikan terjadinya pemulihan dan memperlengkapi setiap keluarga.38
Jonathan Burnside membahas sistem kesejahteraan sosial Israel, terutama hari Sabat, tahun Sabat, dan Yobel.39 Yobel bagi Burnside mempersatukan orang-orang ke tanah asal mereka beserta keluarga mereka serta memberikan orang yang miskin kemerdekaan dari ketergantungan dan hutang pribadi.40 Dia mengambil teks dengan nilai-nilai yang terkandung dan tidak beranggapan Yobel merupakan suatu utopia.41
Ellen Davis dalam tulisannya menjelaskan prinsip umum yang dibagikan oleh penulis pertanian modern dan pertanian dalam Hebrew Bible. Davis memperhatikan praktik pertanian modern beserta prinsip-prinsip dibelakangnya yang menyebabkan kerusakan atas bumi dan peradaban manusia.42
34Milgrom, Leviticus 23-27. Hal. 2247
35Milgrom, Leviticus 17-22. Hal. 1361-1363,1407-1439. Milgrom berpendapat bahwa Yobel sebuah jawaban atas tekanan pada abad 8 S.M yang sering sekali disampaikan oleh para nabi. Milgrom, Leviticus 23-27.Hal. 2245
36Wenham, The Book Of Leviticus, NICOT. Hal. 319-323. Undang-undang Yobel memberikan kepastian bahwa tidak ada orang Israel yang akan diperbudak lagi seperti di Mesir, dan juga menjadi perayaan bagaimana Allah melakukan penebusan dengan membawa Israel keluar dari Mesir, sehingga Yahweh tetap menjadi Allah mereka, dan bangsa Israel akan selalu menjadi umatNya. (lihat: Imamat 25:
23,38,42,55)
37Wright, Old Testament Ethics For The People Of God. Hal. 198-210;Christopher J. H. Wright, The Mission of God: Unlocking the Bible’s Grand Narrative. Hal. 289-323.
38Wright, Old Testament Ethics For The People Of God. Hal. 208. Wright tidak sepakat dengan pemahaman Yobel berdasarkan pendistribusian tanah kepada setiap orang Israel. Menurut Wright, pemahaman penditribusian didasarkan pada pemahaman yang salah terhadap Yobel.
39Jonathan Burnside, God, Justice, And Society : Aspects Of Law And Legality In The Bible (New York: Oxford University Press, 2011). Hal. 179-252. Burnside mengkategorikan Sabat menjadi “Sabbath- Plus” (untuk tahun Sabat) dan “Sabbath Squared” (Yobel).
40Ibid. Hal. 202
41Ibid. Hal. 205-207
42Ellen F. Davis, Scripture, Culture, And Agriculture : An Agrarian Reading Of The Bible (Cambridge: Cambridge University Press, 2009). Hal. 2-4
Volume 3, No. 2, Tahun 2021
p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma
Copyright©2021 – KERUGMA | 9
Walter Houston beranggapan bahwa Yobel dikenal sebagai simbol yang sempurna untuk mengerti sistem keadilan sosial Perjanjian Lama. Oleh karena itu, Yobel menyerukan kepada semua orang Israel yang memiliki tanah dan memberikan pinjaman untuk bertindak adil kepada sesama mereka yang membutuhkan. Hal yang serupa juga bagi individu saat ini untuk melaksanakan keadilan kepada yang miskin.43
Plein menyimpulkan bahwa seharusnya Perjanjian Lama harus terbuka dalam hal teks dan dialog berbagai tema seperti keadilan, kekuasaan, dan kemiskinan, sehingga memandang kitab suci sebagai suatu analogi yang bekerja dan partner dalam pembicaraan etika kontemporer.44
Ekonomi
Greg Chirichigno menyediakan perbandingan perbudakan dikarenakan utang antara Mesopotamia dan Israel.45 Hukum pembebasan Israel (Yobel) ditujukan untuk permasalahan perbudakan dikarenakan utang.46 Orang Israel diperbolehkan menjual diri sendiri atau bergantung kepada periode waktu yang ditetapkan sebagai sebuah jalan keluar untuk melunasi tunggakan. Selanjutnya, Yobel dan penebusan goel memiliki tujuan yang menyatukan keduanya yaitu mengatasi ketidakmampuan bangsa Israel dalam membayar hutang-hutangnya. Legget menyajikan beberapa hukum dalam timur dekat kuno yang terkait dengan penebusan (goel) orang, darah, dan properti. Orang yang tidak memenuhi kewajiban hutangnya merupakan dasar perbudakan yang umumnya terjadi baik di Israel maupun TDK.
Pembebasan ini memberikan pengampunan akan hutang, mengjinkan setiap orang untuk kembali ke pusaka turun temurun, dan mengecualikan sekelompok orang atau suatu kota-kota tertentu dari berbagai pajak dan kewajiban kepada raja.47 Tujuan dari Yobel adalah untuk merestorasi kepemilikan tanah kepada setiap individu maupun keluarga yang secara warisan berhak memilikinya tetapi kehilangan hak dikarenakan
43Houston, Contending For Justice : Ideologies And Theologies Of Social Justice In The Old Testament. Hal.170-176
44Pleins, The Social Visions Of The Hebrew Bible. Hal.528
45Chirichigno, Debt-Slavery In Israel And The Ancient Near East. Hal. 17
46Ibid. Hal. 343
47Weinfeld, The Place Of The Law In The Religion Of Ancient Israel. Hal. 73-75
Copyright© 2021 – KERUGMA |10
kemelaratan.48
Bagi Fager, revisi teks mengacu kepada pergulatan yang mendalam antara mejalankan pemusatan penguasaan tanah dibawah lembaga kerajaan Israel dan kepemilikan pribadi berdasarkan hak kekerabatan keluarga.49 Para imam “elit”
menginginkan pemusatan kepemilikan tanah sementara imam “awam” menginginkan sistem yang mendistribusikan menyeluruh wilayah Israel kepada setiap orang.50
Aturan Yobel merupakan sebuah respon dari para imam terhadap realita yang dihadapi saat itu, yaitu pertumbuhan ekonomi berdasarkan perdagangan dan pertumbuhan feodal yang menghasilkan budak pekerja dari pemilik tanah.51 Milgrom melihat sebuah keterkaitan antara undang-undang Yobel dan pelaksanaan hukum ini di masa monarki.52 Gordon Wenham berpendapat bahwa tujuan dari hukum ini untuk mencegah kebangkrutan total yang berhutang.53
Bagi Wenham, Yobel dirancang untuk memberikan permulaan baru kepada si miskin dengan membebaskan segala hutangnya, berikut statusnya sebagai budak, dan mengembalikan mereka ke tanah pusaka yang diberikan kepada keluarga mereka selama masa penaklukkan Yosua.54 Lebih lagi, Wright menunjukkan bahwa Yobel diperlukan sebagai tambahan atas hukum penebusan, agar tidak terjadi kepemilikan tanah hanya kepada sedikit pemilik tanah.55 Tujuan luas dari aturan ini bagi Wright yaitu merancang untuk menjaga dan memelihara sistem kepemilikan tanah Israel (ekonomi).56 Kehadiran Yobel memperkuat kehidupan ekonomi, bangsa Israel.
Burnside membandingkan antara ekonomi keluarga dengan ekonomi Firaun.57 Karena itu bagi bangsa Israel lebih memilih tidak seperti Firaun dan memilih mengikuti
48 Adanya gap antara yang kaya dan miskin pada masa kerajaan, menurut de Vaux, mendorong editor untuk menjawab masalah dengan mempersiapkan Yobel sebagai solusi ketika harus kembali ke tanah pusaka. Vaux, Ancient Israel: Its Life And Institution. Hal. 73, 167
49Fager, Land Tenure And The Biblical Jubilee: Uncovering Hebrew Ethics Through The Sociology Of Knowledge. Hal. 119
50Ibid. Hal. 120
51Milgrom, Leviticus 17-22. Hal. 1361-1363,1407-1439. Milgrom berpendapat bahwa Yobel sebuah jawaban atas tekanan pada abad 8 S.M yang sering sekali disampaikan oleh para nabi. Milgrom, Leviticus 23-27.Hal. 2245
52Milgrom, Leviticus 23-27. Hal. 2247
53Wenham, The Book Of Leviticus, NICOT. Hal. 317
54Ibid. Hal. 319-323. Undang-undang Yobel memberikan kepastian bahwa tidak ada orang Israel yang akan diperbudak lagi seperti di Mesir, dan juga menjadi perayaan bagaimana Allah melakukan penebusan dengan membawa Israel keluar dari Mesir, sehingga Yahweh tetap menjadi Allah mereka, dan bangsa Israel akan selalu menjadi umatNya. (lihat: Imamat 25: 23,38,42,55)
55Wright, Old Testament Ethics For The People Of God. Hal. 205. Wright menjelaskan bahwa Yobel merupakan mekanisme pencegahan dan mendukung ekonomi sosial masyarakat saat itu.
56Ibid. Hal. 198-210;Christopher J. H. Wright, The Mission of God: Unlocking the Bible’s Grand Narrative. Hal. 289-323.
57Burnside, God, Justice, And Society : Aspects Of Law And Legality In The Bible. Hal. 207
Volume 3, No. 2, Tahun 2021
p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma
Copyright©2021 – KERUGMA | 11
Allah.58 Ekonomi Firaun diasosiasikan dengan penimbunan dan pengambilan keuntungan dari orang yang membutuhkan. Ekonomi keluarga (sebagaimana Allah inginkan) berarti melepaskan kekayaan seseorang dan membagikannya kepada orang- orang yang membutuhkan.59
Hukum yang ada di Alkitab menghadirkan cara yang menyeimbangkan kapitalis dan sosialis yaitu dengan memperkenalkan bahkan memberikan akses kepada sarana produksi.60 Davis mempercayai bahwa Yobel dapat mengisi gap yang terjadi antara si kaya dan si miskin.61 Dia memandang Yobel sebagai contoh utama dari sudut pandang pertanian Alkitab untuk melihat petani, keluarga, dan ladang pertanian sebagai suatu ekosistem yang terhubung satu sama lain yang memerlukan kepedulian satu sama lain.62
Kita juga dapat melihat kepada David Pleins yang memperlakukan keadilan sosial di masa TDK, Perjanjian Lama, dan dampaknya di masa kini. Pleins berpendapat bahwa literatur nabi-nabi tidak memiliki kecukupan untuk memberikan mekanisme konkrit untuk mengurangi kemiskinan.63 Karena itu maka diperlukan sebuah mekanisme nyata yang sesuainya hadir pada masa setelah pembuangan ketika bangsa Israel dibebaskan.
Meskipun mekanisme tersebut hanya sebuah impian dalam memulihkan kehidupan orang yang melarat, tetapi utopia ini dapat melayani otoritas keimaman Harun dalam menjaga kemakmuran umat.64
Teologi
Chrichigno menolak teori umum yang beranggapan bahwa Yobel merupakan undang-undang revisi dari peraturan tahun Sabat. Malah seharusnya dipahami bahwa Yobel dan tahun Sabat merupakan dua hukum yang saling melengkapi satu sama lain.65
58Ibid. Hal. 137
59Ibid. Hal. 237. Untuk ide Ekonomi Firaun maka Burnside mengikuti Calum Carmichael,”The Sabbatical/Jubilee Cycle and The Seven –Year Famine in Egypt,”Biblica 90 (1999), Hal. 224-239
60Ibid. Hal.252
61Davis, Scripture, Culture, And Agriculture : An Agrarian Reading Of The Bible. Hal. 92
62Ibid. Hal. 90-91
63Pleins, The Social Visions Of The Hebrew Bible. Hal. 78
64Ibid. Hal. 81
65Chirichigno, Debt-Slavery In Israel And The Ancient Near East. Hal. 300,354-355. Pernyataan Chirichigno yang memberi kemungkinan bahwa hukum dalam Keluaran, Ulangan, dan Imamat dijalankan bersamaan (terkait dengan tahun Sabat dan Yobel) dapat diartikan sebagai sebuah sistem undang-undang kesejahteraan sosial. Uniknya hal ini juga hadir dalam dekrit OB mesarum . Ini
Copyright© 2021 – KERUGMA |12
Bangsa Israel beserta tanah airnya (kanaan/palestina) merupakan suatu hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Kepemilikan Tuhan ini menjadikan tanah dan rakyat Israel hanya boleh di pinjamkan untuk sementara waktu, bukan untuk dijual. Tanah dan rakyat Israel secara permanen merupakan subyek dari penebusan goel.66
Donald Legget melaksanakan survei atas latar belakang timur dekat kuno dan material biblika yang terhubung, dan menemukan rasa bakti kepada Yahweh dan perjanjianNya mendorong orang Israel untuk melaksanakan penebusan sebagaimana Yahweh telah menebus mereka.67 Tidak ketinggalan Weinfeld juga menghubungkan berbagai motif biblika dengan konsep TDK seperti aturan ilahi dan warisan, pembebasan Yahweh terhadap umat manusia dan pemahkotaan sebagai raja pada saat penciptaan (perayaan tahun baru) dan membunyikan shofar dalam kebiasaan Israel.68
Bergsma kemudian menjajaki Yobel melalui Hebrew Bible, dan melihat ke dalam Yesaya, Daniel, dan Yehezkiel. Dia melihat bagaimana ketiga nabi besar ini menggunakan Yobel sebagai bagian dari Nubuatan dan Tipologi. Bergsma membicarakan bagaimana awalnya Yobel hingga keluarnya bangsa Israel dari pembuangan.69 Pada akhir pembuangan, sebuah figur mesianik akan menyerukan Yobel yang kekal. Masa Yobel kekal ini menjadi pengantar kepada Kerajaan Allah dan harapan Eskatologi Israel. Bergsma menyatakan bahwa literatur Bait Allah ke Dua memiliki keterkaitan dengan motif pembebasan Yobel dan kedatangan figur Mesias yang akan menangani utang moral bangsa Israel (dosa), bukan utang keuangan dari bangsa Israel.70
Karya Bergsma ini dapat berguna untuk berinteraksi dengan berbagai tulisan Perjanjian Lama yang menyinggung atau menggemakan Yobel. Hampir sebagian besar tulisan Bergsma dikerjakan dengan mengidentifikasi Sitz im Leben dibelakang teks dan menilai sudut pandang para sarjana yang kritis. Hal ini akhirnya memberikan ruangan bagi analisa dan eksposisi mendalam dari Yobel terkait teks. Bergsma juga mendemonstrasikan bahwa interpretasi eskatologi dari Yobel merupakan hal yang
menghadirkan argumen bahwa hukum ini hadir sebelum periode monarki atau pada saat masa monarki berkuasa.
66Leggett, The Levirate And Goel Institutions In The Old Testament: With Special Attention To The Book Of Ruth. Hal. 106
67Ibid. Hal. 293-294
68Weinfeld, Normative And Sectarian Judaism In The Second Temple Period. Hal.139
69Bergsma, The Jubilee From Leviticus To Qumran. Hal. 187,300
70Ibid. Hal. 301-304. Dalam 11Qmelchizedek terdapat pemahaman eskatologi dari Yobel yang rumit. Penulis mengangkat tema dan menyadurnya dengan beberapa ayat yang berkaitan dengan Yobel seperti Imamat 25, Daniel 9, dan Yesaya 61, kemudian dikenakan kepada Melkisedek di Kejadian 14, sehingga menghasilkan atribut ilahi untuk menghadirkan awal dari akhir zaman.
Volume 3, No. 2, Tahun 2021
p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma
Copyright©2021 – KERUGMA | 13
menyolok di dalam tulisan para nabi besar seperti Yesaya, Daniel, dan Yehezkiel, serta dalam literatur Yahudi terkemudian. Kendati Bergsma memperlakukan teks dengan baik, masih ada ruang untuk menghasilkan teologi yang lebih utuh dan koheren.
Tujuan luas dari Yobel bagi Wright yaitu merancang untuk penekanan terhadap kepemilikan tanah oleh Yahweh (teologi)71, sehingga memperkuat pemahaman teologi bangsa Israel. Tampaknya Israel sedang membangun sebuah interpretasi eskatologi dari Yobel. Seperti Yesaya 61 mengaplikasikan pemahaman Yobel untuk melepaskan harapan pelepasan saat masa pembuangan. Lebih lagi, Yesus menyusun sebuah tipologi Yobel di Lukas 4:16-30, dikarenakan Yobel juga memiliki kategori yang serupa dengan pelayananNya dan harapan pembaharuan di masa akan datang, yaitu melepaskan, mengembalikan, dan menebus.
Wright juga beranggapan bahwa Yobel merupakan sebuah paradigma bagi adab gereja mula-mula dan prinsip-prinsipnya merupakan sesuatu yang universal dapat diaplikasikan. Kisah Para Rasul menyinggung Yobel pada 1:6, 3:21, dan 4:34. Teks KPR ini melaksanakan Yobel bukan saja dalam hal restorasi masa depan oleh Allah tetapi juga bagi orang yang mengalami kehidupan buruk dan melarat di komunitas gereja.72 Dalam masyarakat masa kini, Wright menyatakan bahwa peraturan Yobel memastikan terjadinya pemulihan dan memperlengkapi setiap keluarga untuk menyediakan masing-masing dasar dalam memperbaiki hutang yang tidak mungkin lagi dipenuhi. Selain melalui doa yang dipanjatkanagar dapat dipulihkan sesuai dengan rencanaNya yang berlaku73, Yobel juga menjadi sarana untuk menyatakan kedaulatan Allah atas waktu dan alam, mendorong iman di dalam pemeliharaan Allah, dan memupuk pengalaman pribadi dalam pembebasan dan pengampunan yang Allah telah berikan.74
Pemahaman Wright mengenai Yobel menyediakan fondasi penting bagi penulisan
71Wright, Old Testament Ethics For The People Of God. Hal. 198-210;Christopher J. H. Wright, The Mission of God: Unlocking the Bible’s Grand Narrative. Hal. 289-323.
72Wright, Old Testament Ethics For The People Of God. Hal. 206. Gereja bukan saja mengkomunikasikan pengampunan rohani dari dosa saja melainkan juga pengampunan keuangan dari hutang yang ada.
73Nepho Gerson Laoly, “Kajian Biblika, Sistematika Dan Misi Tentang Pentingnya Doa Bagi Gereja,” IMMANUEL : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. 1 (2020): 18–24, http://stt- su.ac.id/e-journal/index.php/immanuel/article/view/7.
74Ibid. Hal. 208.
Copyright© 2021 – KERUGMA |14
ini. Wright memberikan susunan kategori yang menolong untuk memahami peraturan Yobel ini. Wright memberikan nilai tambah bagi Yobel di masa sekarang dalam etika maupun pemahaman narasi penebusan Alkitab. Karya Wright berada pada lintasan yang akan penelitian ini bangun dan lalui.
Yobel juga diambil oleh para nabi dan digunakan dalam pengharapan eskatologi Israel. Begitu juga dengan para sarjana yang memberikan perhatian bagi pembentukan Yobel di seluruh kitab-kitab kanonik. Pemahaman Yobel ini digunakan pada Perjanjian Baru dan bidang Etika, yang dapat menjadi gambaran implikasi Yobel bagi tiap orang yang mencoba mendalami.
Chris Bruno menyatakan bahwa pengampunan dari dosa yang Yesus sampaikan terhubung dengan pembebasan ekonomi dan penindasan setan.75 Yesus memperkenalkan eskatologi Yobel di Lukas 4, dengan fokus kepada pengampunan rohani lalu mengaplikasikannya kepada pembebasan fisik dari penindasan ekonomi, yang seterusnya dilanjutkan sebagai pola bagi gereja awal sebagaimana di tuliskan dalam narasi di Lukas dan KPR. Bruno menyimpulkan bahwa selain aspek Yobel memiliki bagian fisik dan pembebasan ekonomi yang terjadi pada saat pelayanan Yesus, tetapi maksud yang lebih besar lagi adalah pengampunan dosa dan pemulihan hubungan antara Allah dan umatNya.76
Burnside menunjukkan bahwa Yobel tidak hanya dilihat dalam masa lalu, melainkan dapat juga untuk melihat kedepan. Dia berpendapat bahwa Perjanjian Baru mengikuti para nabi, memperjelas Yobel yang Yesus juga sampaikan untuk hidup dalam tahun Sabat selamanya. Orang-orang di himbau untuk menikmati pengampunan rohani dan hutang fisik beserta pemulihan sumber fisik, sumber rohani, dan rekonsiliasi antara manusia dengan manusia dan Allah dengan manusia.77 Burnside menyimpulkan bahwa Yobel langsung mengarah kepada keseimbangan antara kemerdekaan dan kesetaraan, sesuatu yang sering dikotomi dalam filsafat dan ekonomi sekular. Bagi Burnside, hukum-hukum di Alkitab dapat dilaksanakan hari ini sesuatu keadaan kontemporer.
Brevard Childs melihat bahwa gambaran eskatologi Sabat yaitu tahun Yobel. Dan
75Christopher R. Bruno, “‘Jesus Is Our Jubilee’...But How? The OT Background And Lukan Fulfillment Of The Ethics Of Jubilee,” Journal Of The Evangelical Theological Society 53, no. 1 (2010):
81–101. Hal. 98
76 Bruno lebih dahulu memperhatikan karya yang menggunakan Yobel seperti : the Jubilee 2000 movement, yang bertujuan memerdekakan Afrika melalui pengampunan hutang. Ada juga karya John Yoder “The Politics Of Jesus” yang melihat Yesus memberikan Nazareth Manifesto sebagai inisiatif dalam pembagian merata modal/dana melalui seruan Yobel sekali untuk selamanya.
77Burnside, God, Justice, And Society : Aspects Of Law And Legality In The Bible. Hal. 242-243
Volume 3, No. 2, Tahun 2021
p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma
Copyright©2021 – KERUGMA | 15
Yobel juga merujuk kepada Sabat Mesianis yaitu Sabat tanpa akhir.78Childs juga beranggapan bahwa Sabat pada kisah penciptaan merupakan sebuah hadiah dari Allah untuk dibagikan di dalam kebebasan. Melalui Childs kita dapat mengerti bahwa konsep pembebasan tersirat dalam narasi penciptaan dan merupakan perayaan Sabat pertama.
Davis menggunakan teks Kejadian 1, kisah pemberian manna pada Keluaran 16, Imamat 11, 19, dan 25, kebun anggur Nabot, Amos, Hosea, dan Kidung Agung dengan maksud untuk tiba pada bentuk prinsip pertanian biblika yang bisa di adopsi oleh pertanian modern.
IV. KESIMPULAN/PENUTUP
Setelah kita melihat kepada pemaparan di atas maka kita mendapati bahwa Yobel dapat dimengerti dalam empat kategori pembahasan yaitu periode, sosial, ekonomi, dan teologi. Keempat kategori ini menempatkan Yobel menjadi sebuah aturan yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan bangsa Israel saat itu. Yobel menjadi sebuah pagar agar bangsa Israel tetap memiliki tanah Kanaan turun temurun.
Yobel bukan peraturan dalam tingkat rendah. Derajat hukum yang tinggi harus disematkan kepada Yobel. Bahkan Yobel dapat dilihat sebagai mahkota dalam aturan pengadministrasian wilayah. Wawasan Yobel merupakan wacana penting untuk diterapkan bagi Israel Kuno maupun orang percaya masa kini. Penerapan Yobel tentunya dapat menjadi kelanjutan untuk mewujudkan pemeliharaan Allah bagi umat- Nya dalam kehidupan di bumi ini.
V. DAFTAR PUSTAKA
Barr, James. Language And Meaning: Studies In Hebrew Language And Biblical Exegesis. Leiden: Brill, 1974.
Bergsma, John Sietze. The Jubilee From Leviticus To Qumran. Leiden: Brill, 2007.
Berman, Joshua A. Incosistency In The Torah : Ancient Literary Convention and the Limits of Source Criticism. New York: Oxford University Press, 2017.
Bruno, Christopher R. “‘Jesus Is Our Jubilee’...But How? The OT Background And
78Brevard S. Childs, Biblical Theology Of The Old And New Testament : Theological Reflection On The Christian Bible (Minneapolis: Fortress Press, 1992). Hal. 401
Copyright© 2021 – KERUGMA |16
Lukan Fulfillment Of The Ethics Of Jubilee.” Journal Of The Evangelical Theological Society 53, no. 1 (2010): 81–101.
Burnside, Jonathan. God, Justice, And Society : Aspects Of Law And Legality In The Bible. New York: Oxford University Press, 2011.
Childs, Brevard S. Biblical Theology Of The Old And New Testament : Theological Reflection On The Christian Bible. Minneapolis: Fortress Press, 1992.
Chirichigno, Gregory C. Debt-Slavery In Israel And The Ancient Near East. Edited by David J.A Clines and Philip R. Davies. Sheffield: JSOT Press, 1993.
Christopher J. H. Wright. The Mission of God: Unlocking the Bible’s Grand Narrative.
Grand Rapids, Michigan: IVP Academic, 2006.
Collins, John J. The Invention Of Judaism : Torah and Jewish Identity from Deuteronomy to Paul. Oakland, California: University Of California Press, 2017.
Davis, Ellen F. Scripture, Culture, And Agriculture : An Agrarian Reading Of The Bible. Cambridge: Cambridge University Press, 2009.
E. D. Hirsch, Jr. Validity In Interpretation. London: Yale University Press, 1967.
Fager, Jeffrey A. Land Tenure And The Biblical Jubilee: Uncovering Hebrew Ethics Through The Sociology Of Knowledge. Sheffield: JSOT Press, 1993.
Hoop, Raymond de, Marjo C.A. Korpel, and Stanley E. Porter. The Impact Of Unit Delimination On Exegesis. Leiden: Brill, 2009.
Houston, Walter J. Contending For Justice : Ideologies And Theologies Of Social Justice In The Old Testament. New York: T&T Clark, 2006.
Klein, William W., Craig L. Blomberg, and Robert L. Hubbard. Jr. Introduction To Biblical Interpretation 1 : Pengantar Tafsiran Alkitab. Malang: Literatur SAAT, 2016.
Laoly, Nepho Gerson. “Kajian Biblika, Sistematika Dan Misi Tentang Pentingnya Doa Bagi Gereja.” IMMANUEL : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. 1 (2020): 18–24. http://stt-su.ac.id/e-journal/index.php/immanuel/article/view/7.
Leggett, Donald A. The Levirate And Goel Institutions In The Old Testament: With Special Attention To The Book Of Ruth. Chery Hill, New Jersey: Mack Publishing Company, 2006.
Milgrom, Jacob. Leviticus 17-22. 3B ed. New York: Doubleday, 2001.
———. Leviticus 23-27. New York: Doubleday, 2001.
Osborne, Grant R. Spiral Hermeneutik: Pengantar Komprehensif Bagi Penafsiran Alkitab. Edited by Stevy Tilaar. Surabaya: Penerbit Momentum, 2016.
Volume 3, No. 2, Tahun 2021
p-ISSN 2714-7592; e-ISSN 2714-9609 http://www.sttiimedan.ac.id/e-journal/index.php/kerugma
Copyright©2021 – KERUGMA | 17
Pleins, David. The Social Visions Of The Hebrew Bible. 1st Editio. Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2000.
Pritchard, James B. Ancient Near Eastern Text. Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1969.
Richard L. Pratt, Jr. Ia Berikan Kita Kisah-Nya: Panduan Bagi Siswa Alkitab Untuk Menafsirkan Narasi Perjanjian Lama. Edited by Jean Ch. Obaja. Surabaya:
Penerbit Momentum, 2013.
Schiffman, Lawrence H., and James C. VanderKam. Encyclopedia Of The Dead Sea Scrolls. New York: Oxford University Press, 2000.
Schnittjer, Gary Edward. The Torah Story: An Apprenticeship On The Pentateuch.
Edited by Emma Maspaitella. Malang: Penerbit Gandum Mas, 2015.
Steck, Odil Hannes. Old Testament Exegesis : A Guide To The Methodology. Edited by James D. Nogalski. 2nd Editio. Atlanta, Georgia: Scholars Press, 1998.
Susanto, Hasan. Hermeneutik: Prinsip & Metode Penafsiran Alkitab. Cetakan Ke.
Malang: Literatur SAAT, 2007.
Vanhoozer, Kevin J. Apakah Ada Makna Dalam Teks Ini? : Alkitab, Pembaca, Dan Moralitas Pengetahuan Sastra. Surabaya: Penerbit Momentum, 2013.
———. Drama Doktrin: Suatu Pendekatan Kanonik-Linguistik Pada Theologi Kristen.
Edited by Stevy Tilaar. Surabaya: Penerbit Momentum, 2011.
Vaux, Roland de. Ancient Israel: Its Life And Institution. Eerdmans, 1997.
Weinfeld, Moshe. Normative And Sectarian Judaism In The Second Temple Period.
New York: T&T Clark International, 2005.
———. The Place Of The Law In The Religion Of Ancient Israel. Leiden: Brill, 2004.
Wenham, Gordon. The Book Of Leviticus, NICOT. Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1979.
Wright, Christopher J. H. Old Testament Ethics For The People Of God. Downers Grove, Illinois: IVP Academic, 2004.
Wurthwein, Ernst. The Text Of The Old Testament. 2nd Editio. Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1995.