• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Dalam menjalankan tugasnya, public relations atau Humas harus berhadapan dengan berbagai macam publik yang memiliki kepentingan berbeda dan bermacam-macam. Untuk efektifnya komunikasi yang dilakukan dalam membina hubungan dengan publik, para praktisi Humas umumnya mengklasifikasikannya menjadi kelompok-kelompok tertentu, yaitu masyarakat sekitar, pelanggan, instansi pemerintah, media, dan lain sebagainya (Effendi, 1990:137).

Salah satu tujuan eksternal Humas adalah untuk mengeratkan hubungan dengan orang-orang diluar badan atau instansi, hingga terbentuklah opini publik yang sesuai dan positif terhadap badan itu. Bagi suatu perusahaan, hubungan-hubungan dengan publik di luar perusahaan itu merupakan suatu keharusan di dalam usaha-usaha untuk: memperluas langganan, memperkenalkan produksi, mencari modal dan hubungan, memperbaiki hubungan dengan serikat-serikat buruh, mencegah pemogokan-pemogokan, memecahkan persoalan-persoalan atau kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi, dan lain-lain (Abdurrachman, 1995:38).

Salah satu peran PR adalah untuk menangani konflik yang terjadi baik internal maupun eksternal, baik itu konflik manifest maupun konflik laten.

Nicholson (1991:59) menyatakan bahwa “conflict resolution is the process facilitating a situation where the actors no longer feel need to indulge in conflict activity and feel that the distribution of benefits in social system is acceptable.”

Salah satu contoh yang dapat dilihat adalah konflik yang terjadi karena pembangunan bandara baru di Yogyakarta, tepatnya di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo. Proyek besar yang diprakarsai oleh PT. Angkasa

(2)

2 Pura I ini menimbulkan konflik antara pihak penyelenggara (PT. Angkasa Pura I dan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo) dengan warga Kecamatan Temon yang terdampak pembangunan. New Yogyakarta International Airport (NYIA) merupakan sebuah proyek besar pembangunan bandara utama Yogyakarta yang nantinya akan menggantikan fungsi Bandara Internasional Adisutjipto sebagai bandara utama di Yogyakarta. Direncanakan akan dibangun diatas lahan seluas 627 hektar, pembangunan bandara ini ditetapkan di lima desa yang berada di Kecamatan Temon1. Lima desa tersebut adalah Desa Jangkaran, Sindutan, Palihan, Kebonrejo, dan Glagah, dengan jumlah warga terelokasi sebanyak kurang lebih 2.465 orang.

Proyek besar bandara baru di Kulonprogo ini tentunya tidak terlepas dari pro dan kontra. Warga terdampak proyek pembangunan yang menolak menyatakan keberatan dengan berbagai alasan. Alasan utama mengapa mereka menolak pembangunan Bandara ini adalah persoalan tanah dan lahan yang akan dipakai merupakan kampung halaman mereka, tanah pusaka warisan leluhur, serta sumber kehidupan saat ini maupun untuk anak cucu mereka nanti. Warga yang menolak proyek pembangunan ini tergabung dalam sebuah gerakan bernama WTT atau Wahana Tri Tunggal.

Persoalan mengenai lahan yang direncanakan akan digunakan sebagai lokasi bandara baru di Kulonprogo tidak berhenti sampai dipersoalan bahwa tanah tersebut merupakan tanah tempat tinggal dan sumber kehidupan warga.

Warga Kecamatan Temon yang tergabung dalam WTT menyatakan menolak tanpa syarat soal proyek pembangunan bandara baru ini. Pasalnya, pembangunan bandara ini berdasarkan pada Peraturan Daerah Kulonprogo No. 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Tahun 2001-2032 yang bertolakbelakang dengan peraturan-peraturan yang tingkatannya lebih atas seperti Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional, Peraturan Presiden Nomor 28 tahun 2012 tentang RTRW Pulau Jawa-Bali dan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No. 2

1 Dokumen pra-riset berbentuk PowerPoint dari PT. Angkasa Pura I

(3)

3 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009-2029. Dari ketiga peraturan tersebut tidak ada satupun kalimat yang menerangkan tentang pembangunan bandara baru di Kulonprogo2.

Dalam Perda DIY nomor 2 tahun 2010 tersebut dikatakan bahwa Kabupaten Kulonprogo diklasifikasikan menjadi 2 bagian kawasan, yakni kawasan budidaya seluas 184,56 km2 dan kawasan lindung seluas 397,9 km2. Perda ini menjelaskan bahwa kawasan Kabupaten Kulonprogo diperuntukkan untuk kawasan budidaya dan kawasan lindung. Hal inilah yang menjadi senjata utama WTT secara legal untuk menentang proyek pembangunan bandara baru supaya petani-petani serta warga Kecamatan Temon tetap terjaga lumbung pangannya.

Walaupun menuai protes keras dari warga yang menolak, proses pembangunan bandara baru tetap berjalan walaupun meleset dari perencanaan awal. Sesuai dengan Undang-Undang nomor 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum, PT. Angkasa Pura I sebagai pemrakarsa proyek menjalankan tiga tahap yang sudah dijelaskan dalam Undang-Undang tersebut, yakni perencanaan, persiapan, dan pelaksanaan. Yang saat ini proyek pembangunan masih dalam tahap persiapan pengadaan tanah. Pada tahap ini PT. Angkasa Pura I bersama Pemerintah Provinsi Yogyakarta lewat Pemerintah Kabupaten Kulonprogo melaksanakan pemberitahuan rencana pembangunan, pendataan awal lokasi rencana pembangunan, dan konsultasi publik rencana pembangunan.

Pemberitahuan rencana pembangunan yang dimaksud disampaikan kepada masyarakat yang berada di lokasi rencana pembangunan, baik langsung maupun tidak langsung. Pendataan awal lokasi rencana pembangunan meliputi pengumpulan data awal dari pihak yang terdampak proyek pembangunan. Dan konsultasi publik rencana pembangunan dilaksanakan

2 http://jateng.metrotvnews.com/read/2015/08/20/160467/warga-kulonprogo-ajukan-judicial- review-tata-ruang-bandara-ke-ma diakses tanggal 27 April 2016

(4)

4 untuk mendapatkan kesepakatan lokasi rencan pembangunan dari pihak atau warga yang terdampak.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pada tahap ini pihak PT.

Angkasa Pura I dan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo membutuhkan sebuah bagian atau divisi Humas untuk berhubungan dengan warga dan menjalankan tahap persiapan pengadaan tanah.

Sudah menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Kulonprogo untuk menangani konflik terkait rencana pembangunan tersebut, pihak PT. Angkasa Pura I hanya bertanggung jawab mengganti lahan warga yang terkena dampak proyek saja3. Hal tersebut senada dengan penuturan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X yang menyatakan bahwa pihak yang berwenang untuk menyelesaikan masalah ini adalah Pemkab Kulonprogo karena Pemprov DIY meyakini bahwa Pemkab Kulonprogo masih mampu untuk menyelesaikan konflik ini. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Pemerintah Kabupaten Kulonprogo membutuhkan divisi kehumasannya untuk menangani pertentangan dan perselisihan dengan warga terkait proyek pembangunan bandara baru di Kulonprogo.

Arus penolakan terhadap rencana pembangunan bandara baru ini terus mengalir semenjak awal rencana ini dicetuskan. Berbagai bentuk protes sudah dilayangkan oleh warga, mulai dari pemasangan spanduk serta tulisan-tulisan mengenai penolakan proyek bandara, demonstrasi, sampai tahapan kekerasan seperti penyegelan dan perusakan balai desa. Upaya-upaya untuk menangani protes dan konflik ini pun selalu dikerahkan oleh Pemerintah Kabupaten Kulonprogo melalui Humasnya, seperti berkoordinasi dengan awak media untuk memberikan informasi kepada warga, mengadakan sosialisasi dengan warga terdampak, melakukan “kulo nuwun” kepada warga terdampak, melakukan “open house” bagi warga yang ingin sekedar bertanya atau melayangkan ketidaksetujuannya atas pembangunan bandara baru, bahkan

3 Hasil wawancara pra riset dengan pihak PT. Angkasa Pura I yang diwakili oleh Humas PT.

Angkasa Pura I.

(5)

5 sampai tahapan membantu warga yang ingin pindah rumah atau pindah lahan terlebih dahulu.

Fenomena ini menarik untuk dijadikan sebuah objek penelitian karena ada begitu banyak kepentingan dan isu-isu besar di dalamnya, seperti kemunculan Perda Kulonprogo nomor 1 Tahun 2012 yang bertolak belakang dengan peraturan-peraturan yang tingkatannya lebih tinggi, hasil persidangan di PTUN yang mendukung gugatan warga atas Izin Penetapan Lokasi (IPL) proyek pembangunan bandara baru, dan isu-isu politik tentang pihak yang menunggani WTT. Pemerintah Kabupaten Kulonprogo harus bekerja keras melalui Humasnya untuk terus meyakinkan warga yang menolak bahwa pembangunan bandara baru ini akan menaikkan taraf hidup serta kesejahteraan warga Kecamatan Temon. Namun warga setempat tidak berpendapat sedemikian rupa, mereka berpendapat bahwa hidup mereka sudah baik-baik saja, cukup, tidak kesusahan tanpa perlu adanya pembangunan bandara, justru karena pembangunan bandara membuat resah warga karena merasa kehidupan mereka akan terancam keberlangsungannya.

Sudah menjadi tugas seorang Humas untuk menyelesaikan masalah yang terjadi antara pihak instansi dengan pihak luar tanpa mencederai salah satu pihak. Sebuah tantangan besar bagi Humas Pemerintah Kabupaten Kulonprogo untuk menemukan titik terang dari perang kepentingan seperti yang terjadi dalam proyek pembangunan bandara baru ini. Maka dari itu peneliti tertarik untuk melihat bagaimana komunikasi dan resolusi konflik yang dilakukan Humas Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dalam menangani konflik atas proyek pembangunan bandara baru ini. Karena jika konflik ini dibiarkan berlarut, maka bukan tidak mungkin proyek besar ini akan berjalan ditempat, bahkan dapat menimbulkan konflik yang lebih besar lagi kedepannya yang bisa menimbulkan keriguan besar secara materil maupun imateril.

(6)

6 II. RUMUSAN MASALAH

Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimana komunikasi dan resolusi konflik yang dilakukan oleh Humas Pemerintah Kabupaten Kulonprogo terhadap warga kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo yang menolak proyek pembangunan bandara baru atau New Yogyakarta International Airport (NYIA).

III. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah peneliti ingin melihat dan mengetahui hal-hal sebagai berikut:

1. Permasalahan serta konflik yang muncul antara warga dengan pihak penyelenggara pembangunan bandara baru di Kulonprogo (NYIA).

2. Peranan Humas Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dalam proyek pembangunan bandara baru di Kulonprogo (NYIA).

3. Komunikasi serta resolusi konflik yang dilakukan oleh Humas Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dalam menangani konflik dengan warga.

IV. MANFAAT PENELITIAN

Adapun penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kajian akademis maupun praktis, yakni:

1. Dapat memberikan bahan pembelajaran dalam hal kehumasan khususnya dalam hal resolusi konflik melalui perspektif kehumasan.

2. Dapat menjadi sebuah ilmu bagaimana praktek riil kehumasan yang terjadi di lapangan untuk mempertemukan titik tengah diantara perang kepentingan.

3. Menjadi bahan acuan dan referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

V. KERANGKA PEMIKIRAN

Untuk menjelaskan alur berpikir dalam penelitian ini, maka penulis menyusun kerangka pemikiran dalam memudahkan pengidentifikasian jawaban atas masalah yang penulis teliti. Untuk itu penulis menggunakan tiga

(7)

7 konsep atau teori dalam menganalisis bagaimana komunikasi dan resolusi konflik yang dilakukan oleh Humas Pemerintah Kabupaten Kulonprogo terhadap warga kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo yang menolak proyek pembangunan bandara baru, yakni konsep peranan humas, resolusi konflik, dan komunikasi dalam resolusi konflik.

5.1. Peranan Humas

Menurut Grunig & Hunt dalam Putra (2008) memfokuskan Humas sebagai kegiatan komunikasi. Mereka mengemukakan pengertian Humas sebagai “the management of communication between an organization and its public.” Mereka melihat humas sebagai kegiatan pengelolaan komunikasi antara sebuah organisasi dengan berbagai publiknya.

Batasan pengertian Humas menurut para ahli sampai saat ini belum ada satu kesepakatan tegas, karena disebabkan hal-hal yaitu: pertama, banyaknya definisi Humas yang telah dirumuskan oleh baik para pakar atau ahli, maupun profesional humas yang satu sama lain saling berbeda pendapat. Kedua, terjadinya perbedaan batasan pengertian tentang PR/Humas tersebut diakibatkan adanya latar belakang yang berbeda, misalnya definisi yang dilontarkan oleh kalangan akademisi/teoritis perguruan tinggi tersebut akan lain bunyinya dengan apa yang diungkapkan oleh kalangan praktisi. Dan ketiga, sesuatu yang menunjukkan baik secara teoritis maupun praktisi bahwa kegiatan PR/Humas itu bersifat dinamis dan fleksibel terhadap perkembangan dinamika masyarakat yang mengikuti kemajuan zaman, khususnya memasuki era globalisasi saat ini (Ruslan, 2002).

Perkembangan profesionalisme PR atau Humas yang berkaitan dengan pengembangan peranan PR, baik sebagai praktisi maupun profesional dalam suatu organisasi atau perusahaan, menurut Dozier dalam Ruslan (2002), bahwa peranan praktisi PR atau Humas dalam organisasi tersebut merupakan salah satu kunci untuk memahami fungsi

(8)

8 PR dan komunikasi organisasi, disamping itu juga merupakan kunci untuk pengembangan peranan praktisi PR dan pencapaian profesional dalam PR.

Dozier dalam Ruslan (2002) mengemukakan bahwa peranan PR atau Humas dibagi empat kategori dalam suatu organisasi, yaitu sebagai berikut:

a. Expert prescriber

Sebagai praktisi ahli kehumasan yang berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat membantu untuk mencari solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan publiknya. Hubungan praktisi ahli PR dengan manajemen organisasi seperti hubungan antara dokter dan pasiennya, sehingga pihak manajemen bertindak pasif untuk menerima atau mempercayai apa yang telah disarankan atau usulan dari ahli PR yang memiliki pengalaman dan keterampilan tinggi dalam memecahkan serta mengatasi persoalan Humas yang tengah dihadapi oleh organisasi bersangkutan.

b. Communication facilitator

Dalam hal ini, praktisi PR bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk mendengar apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya dari organisasi bersangkutan, sekaligus harus mampu menjelaskan kembali keinginan, kebijakan dan harapan organisasi kepada pihak publiknya.

Sehingga dengan komunikasi timbal balik tersebut yang dilaksanakan oleh PR bersangkutan dapat tercipta saling pengertian, mempercayai, menghargai dan toleransi yang baik dari kedua belah pihak.

c. Problem solving process facilitator

Peranan praktisi PR dalam hal proses pemecahan persoalan PR ini, merupakan bagian tim manajemen untuk membantu pimpinan

(9)

9 organisasi baik sebagai penasihat hingga mengambil tindakan eksekusi dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan profesional. Biasanya dalam menghadapi suatu krisis yang terjadi, maka dibentuk suatu tim posko yang dikoordinir praktisi ahli PR dengan melibatkan berbagai departemen dan keahlian dalam suatu tim khusus untuk membantu organisasi, perusahaan dan produk yang tengah menghadapi atau mengatasi persoalan krisis tertentu.

d. Communication technician

Berbeda dengan tiga peranan praktisi PR profesional sebelumnya yang terkait erat dengan fungsi dan peranan manajemen organisasi.

Sedangkan dalam peranan communication technician ini sebagai journalist in resident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi atau dikenal dengan method of communication in organization dan sistem komunikasi dalam organisasi tergantung dari masing-masing bagian atau tingkatan (level), yaitu secara teknis komunikasi, baik arus maupun media komunikasi dipergunakan dari tingkat pimpinan dengan bawahan akan berbeda dari bawahan ke tingkat atasan. Begitu juga arus dan media komunikasi antara satu level, misalnya komunikasi antar karyawan satu departemen dengan lainnya.

Menurut Putra dalam Ruslan (2002:23) mengatakan apakah praktisi PR tersebut berkembang menjadi atau memiliki kemampuan sebagai “kemampuan manajerial” atau public relations manager, dan memiliki kemampuan teknis dalam komunikasi. Dapat terjadi kedua model peranan praktisi PR profesional tersebut harus dikuasai sekaligus oleh praktisi PR bersangkutan dalam melaksanakan fungsinya pada aktivitas dan operasional manajemen organisasi.

Menurut Ruslan (2002), peranan PR atau Humas tersebut diharapkan menjadi “mata” dan “telinga” serta “tangan kanan” bagi

(10)

10 top manajemen dari organisasi, yang ruang lingkup tugasnya antara lain meliputi aktivitas:

a. Membina hubungan ke dalam (publik internal)

Yang dimaksud dengan publik internal adalah publik yang menjadi bagian dari organisasi itu sendiri. Dan mampu mengidentifikasi atau mengenali hal-hal yang menimbulkan gambaran negatif di dalam masyarakat, sebelum kebijakan itu dijalankan oleh organisasi.

b. Membina hubungan ke luar (publik eksternal)

Yang dimaksud publik eksternal adalah publik umum atau masyarakat, mengusahakan tumbuhnya sikap dan gambaran yang positif dari publik terhadap lembaga yang diwakilinya.

5.1.1. Fungsi Humas Pemerintah

Fungsi pokok humas pemerintah dalam Ruslan (2001:110) pada dasarnya sebagai berikut

a. Mengamankan kebijaksanaan dan program kerja pemerintah yang diwakilinya.

b. Memberikan pelayanan, menyebarluaskan pesan-pesan dan informasi mengenai kebijaksanaan, hingga mampu mensosialisasikan program-program pembangunan, baik secara nasional maupun daerah kepada masyarakat.

c. Menjadi komunikator sekaligus mediator yang proaktif dalam upaya menjembatani kepentingan instansi pemerintah di satu pihak dan menampung aspirasi atau opini publik, serta memperhatikan keinginan-keinginan masyarakat di lain pihak.

d. Berperan serta secara aktif dalam menciptakan iklim yang kondusif dan dinamis demi mengamankan stabilitas dan

(11)

11 program pembangunan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

5.1.2. Peran Humas Pemerintah

Peran praktis dan strategis kehumasan pemerintah dalam Ruslan (2001:110) menyangkut beberapa hal sebagai berikut:

a. Secara taktis dalam jangka pendek, Humas/PR instansi pemerintah berupaya memberikan pesan-pesan atau informasi yang efektif kepada masyarakat sebagai khalayak sasarannya. Kemampuan untuk melaksanakan komunikasi yang efektif, memotivasi dan memiliki pengaruh terhadap opini publik sebagai upaya “menyamakan persepsi” dengan tujuan dan maksud dari instansi/lembaga yang bersangkutan.

b. Secara strategis (jangka panjang) Humas/PR instansi pemerintah berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan, dalam meberikan sumbangan saran, gagasan, ide yang kreatif serta cemerlang untuk menyukseskan program kerja lembaga bersangkutan, hingga mampu menunjang keberhasilan pembangunan nasional jangka panjang serta mendorong melalui kerjasama dan mendapat dukungan masyarakat.

5.2. Resolusi Konflik

Nicholson menyatakan bahwa “conflict resolution is the process facilitating a solution where the actors no longer feel the need to indulge in conflict activity and feel that the distribution of benefits in social system is acceptable”, (Nicholson, 1991:59). Ketika pihak yang berkonflik merasa sudah tidak perlu untuk melanjutkan konflik yang ada, resolusi konflik menjadi fasilitas bagi terciptanya suatu proses solusi.

Resolusi konflik merupakan suatu proses upaya untuk meredam atau

(12)

12 bahkan menyelesaikan suatu konflik. Sebagaimana Kriesberg (2006:107) mendefinisikan resolusi konflik sebagai “conducting conflicts, constructively, even creatively”. Hal itu berarti meminimalkan kekerasan yang timbul akibat konflik, mengatasi permusuhan yang terjadi antara pihak yang berkonflik, membuat suatu hasil yang saling dapat diterima oleh para pihak berkonflik dan suatu penyelesaian yang dapat dipertahankan.

Dalam proses penyelesaian konflik yang terjadi, para peneliti menetapkan pendekatan konflik manajemen yang sangat beragam.

Menurut Littlejohn dan Domenici (2007:15) terdapat dua genre dalam manajemen konflik yaitu adversial methods dan alternative dispute resolution (ADR):

a. Adversial Method

Pendekatan ini memiliki kecenderungan lebih konfronsional, oleh karena itu dipahami dalam tiga bentuk pendekatan:

1) Pengajuan perkara secara hukum (litigasi)

Ketika konflik tidak juga terselesaikan dalam- apa yang disebut Littlejohn dan Domenici (2007:16) sebagai normal course event- maka pihak yang berkonflik biasanya menyelesaikannya dengan proses formal yakni mengajukan perkara konflik tersebut ke pengadilan. Pihak yang berkonflik akan diwakili oleh pengacara dan menghadapi konsekuensi bahwa mereka tidak dapat mengontrol apa yang akan terjadi di pengadilan. Proses litigasi ini merupakan win/lose process dimana masing-masing pihak berkonflik saling berlawanan dan mencoba menjatuhkan satu sama lain. Selain itu, proses ini sangat menguras waktu, tenaga juga biaya.

(13)

13 2) Kecaman (diatribe)

Dalam proses resolusi konflik, terkadang salah satu pihak merasa sangat frustasi akibat ketidakmampuan pihak lawan dalam memahami posisi dan cara pandangnya yang berakibat munculnya kecaman-kecaman yang keluar dari pihak tersebut. Kecaman ini dapat berbentuk penyebutan nama secara kasar, mengejek, berteriak, dan pelepasan kemarahan yang tidak pantas. Jenis komunikasi ini biasanya tidak menyelesaikan masalah dan justru berlanjut pada pemaksaan (force)

3) Pemaksaan (force)

Pemaksaan bsia menjadi suatu ancaman atau bahkan kekerasan dalam situasi konflik. Meskipun telah menjadi suatu yang biasa, kekerasan dalam pemaksaan justru menaikkan tensi dari konflik itu sendiri. Karena sifatnya tersebut maka pemaksaan bisa menjadi bentuk yang terburuk dari upaya resolusi konflik.

b. Alternative Dispute Resolution (ADR)

ADR merupakan suatu bentuk alternatif pilihan dalam melakukan resolusi konflik yang biasanya disertai dengan metode partisipasi pihak ketiga. ADR secara luas merujuk pada semua metode nonadversial/yang digunakan dalam meresolusi konflik. Bentuk- bentuk pendekatan ini adalah:

1) Negosiasi

Negosiasi dapat ditempuh dengan jalan formal atau nonformal, secara privat atau terbuka, secara langsung atau melalui perwakilan tertentu. Negosiasi yang berhasil mensyaratkan pihak yang berkonflik untuk dapat mendefinisikan isu dan kepentingan yang ada, berkomunikasi secara jelas,

(14)

14 mendengar dan memahami posisi pihak lain, dan bekerjasama dalam membuat suatu jalan kesepakatan.

2) Mediasi

Mediasi memfasilitasi negosiasi untuk dapat bekerja bersama mencari solusi terbaik dari perbedaan yang ada dengan pihak ketiga yang netral. Mediasi biasanya dimengerti sebagai perpanjangan dari negosiasi. Dalam proses mediasi, peran mediator menjadi sangat krusial, maka mediator sebaiknya memiliki karakteristik dapat membuka saluran komunikasi antar dua pihak, menekankan pada hasil atau tujuan dari proses juga bersifat menghargai masing-masing pihak.

3) Arbitrase

Bentuk partisipasi pihak ketiga lainnya adalah arbitrase yang biasanya digunakan dalam resolusi konflik bisnis. Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 tahun 1999 tentang arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa menyebutkan bahwa: “arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh pihak yang bersengketa.”

5.3. Komunikasi dalam Resolusi Konflik

Moore dan Wood dalam Fazzi (2011:88) menyatakan bahwa

“communication is the life blood of negotiation” dimana dalam mencapai suatu kesepakatan, maka para pihak tidak hanya harus berkomunikasi dan bertukar informasi, tapi juga harus mengitrepretasi secara akurat.

Komunikasi sangat berperan dalam tercapainya suatu penyelesaian dalam konflik juga dalam proses negosiasi untuk tercapainya penyelesaian itu.

Negosiasi sebagai suatu proses timbul melalui komunikasi yang terjadi

(15)

15 antara para pihak yang berkonflik atau para aktor yang menjadi pihak ketiga atau negosiatior. Pengertian negosiasi sangat beragam dan luas, namun dalam penelitian ini, negosiasi dimaknai sebagai suatu proses.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Lax dan Sebenius negosiasi diartikan sebagai “a process of potentially opportunistic interaction by which two or more parties, with some apparent conflict, seek to do better through jointly decided action than they could otherwise”, (Lax dan Sebenius dalam Weingart dan Olenkalns, 2004:143).

Komunikasi pada umumnya memiliki model-model yang khas dalam penjelasannya. Begitu pula dalam proses konflik, terdapat beberapa model komunikasi yang dikenal, diantaranya (Abigail dan Cahn, 2011:10):

a. Model komunikasi linear

Model ini lebih berfokus pada hasil akhir dari konflik yakni mendapatkan perubahan sikap atau perilaku dari pihak yang berlawanan sehingga sesuai dengan apa yang diinginkan. Oleh karena model ini lebih menitikberatkan pada hasil akhir saja, maka terkadang proses komunikasi yang terjadi didalamnya tidak berlangsung dengan baik. Para pihak yang berkonflik atau pihak yang terlibat dalam proses resolusi konflik lebih sering menyalahkan pihak lawan atau pihak yang tidak disenangi tanpa berpikir bahwa masing-masing pihak sebenarnya berkontribusi terhadap keberlangsungan konflik.

Komunikasi yang terjadi dapat berwujud convincing, persuading, controlling, atau dominating. Hal ini sebaiknya tidak terjadi karena tentu akan berdampak buruk apda hubungan antara para pihak dan justru menimbulkan konflik yang berlarut-larut.

b. Model komunikasi transaksional

Model komunikasi ini menekankan bahwa konflik bukan tentang apa yang akan kita lakukan supaya pihak lain sesuai dengan posisi

(16)

16 kita, namun lebih kepada apa yang akan dilakukan bersama-sama supaya konflik cepat selesai. Konflik dipahami sebagai proses memberi dan menerima, saling merespon dari apa yang pihak lain utarakan, bekerja bersama-sama dalam mencari solusi dan berdiskusi hingga mendapatkan kesepakatan dan resolusi. Masing-masing pihak yang berkonflik dan pihak yang berupaya menyelesaikan konflik bertanggungjawab dalam menimbulkan sikap empati, menghindari prasangka, menjaga pikiran tetap terbuka dan mewujudkan resolusi yang terbaik.

Komunikasi yang terjadi dalam negosiasi pada umumnya berdasarkan kerelaan masing-masing pihak untuk bersikap akomodatif. Komunikasi yang akomodatif ini memberikan jalan bagi para aktor dalam resolusi konflik dan para pihak yang berkonflik untuk dapat berkomunikasi sesuai dengan situasi yang dihadapi sekaligus akan menentukan bagaimana pola komunikasi didalam konflik akan terbentuk. Pola-pola komunikasi yang dipilih oleh aktor dalam penyelesaian konflik dipengaruhi oleh pilihan-pilihan para aktor dalam merespon konflik yang ada. Secara umum aktor akan merespon konflik dengan lebih menitik beratkan salah satu dari tiga orientasi. Orientasi-orientasi tersebut, sebagaimana yang dinyatakan oleh Abigail dan Cahn (2011:45) dapat mempengaruhi sikap atau komunikasi yang dipilih dalam menghadapi konflik. Orientasi dan pilihan komunikasi dalam konflik tersebut adalah sebagai berikut:

a. Orientasi pada pihak lain (other-centered orientation)

Orientasi ini lebih mementingkan apa yang pihak lain inginkan disbanding apa yang dirinya inginkan. Other-centered orientation dapat menghasilkan pilihan sikap dalam menghadapi konflik atau komunikasi yang dipilih dalam konflik yaitu non- assertive communication.

(17)

17 1) Non-assertive communication

Pilihan komunikasi dalam konflik yang pertama ini membantuk dua pendekatan perilaku: pertama; avoiding, yaitu menghindar dari konflik atau bahkan tidak peduli dengan konflik yang terjadi. Kedua; accommodating, yaitu ketika salah satu pihak yang sebenarnya ingin menyampaikan apa yang ia inginkan tetapi mudah menyerah dan memilih untuk sepakat dengan pendapat lain tanpa memberikan pendapatnya atau menyatakan complain.

b. Orientasi pada diri sendiri (self-centered orientation)

Sesuai dengan penyebutannya, orientasi ini lebih menitikkan pada kepentingan diri daripada kepentingan orang lain.

Orientasi ini dapat melahirkan dua pilihan komunikasi konflik yaitu:

1) Passive-aggressive communication

Ketika satu pihak memilih bentuk komunikasi ini, ia cenderung tidak secara langsung atau terbuka mengemukakan keinginan dan pendapatnya, namun ia justru menempuh jalan- jalan yang licik seperti memfitnah atau sabotase.

2) Aggressive communication

Bentuk komunikasi ini didefinisikan sebagai kemampuan memaksakan kehendak satu pihak kepada pihak lain dengan tekanan atau bahkan kekerasan baik secara verbal ataupun non-verbal.

c. Orientasi pada hubungan (relationship-centered orientation) Orientasi yang terakhir ini, dapat dipahami bahwa baik kepentingan diri dan kepentingan pihak lain adalah penting dan keduanya dapat terwujud dengan seimbang. Pilihan yang

(18)

18 berorientasi pada hubungan antara dua pihak ini dapat menghasilkan apa yang disebut sebagai assertive communication.

1) Assertive communication

Merupakan kemampuan dalam menyampaikan keinginan dari satu pihak dengan tidak mengganggu kepentingan atau hak pihak lain. Komunikasi ini dapat diwujudkan baik dengan compromising maupun collaborating strategies.

Compromising merupakan strategi yang ada diantar forcing dan accommodating serta biasanya sering dikatikan dengan negosiasi. Compromise terjadi jika masing-masing pihak merasa bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk memaksa pihak lain dan pertentangan yang memberikan kemenangan sepihak tidak akan memberikan keuntungan.

Setelah mengetahui orientasi atau perspektif penyelesaian yang digunakan oleh aktor-aktor, maka upaya komunikasi yang digunakan dalam implementasi perspektif tersebut dapat dengan lebih jelas terlihat sehingga pola komunikasi yang diinginkan dapat lebih mudah terlaksana.

Menurut Pruitt dan Rubin (2004:57) bentuk-bentuk komunikasi yang bisa dilakukan dalam penyelesaian konflik yang dapat dipilih oleh aktor-aktor dapat berupa contending, probem solving, yielding, inaction dan withdrawing yang dijabarkan sebagai berikut:

1) Contending merupakan upaya menyelesaikan konflik dengan tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Pihak yang menggunakan strategi ini berupaya untuk membujuk pihak lain untuk menuruti keinginannya dan bersikukuh dalam mempertahankan pendapatnya.

Taktik yang dapat digunakan dalam strategi ini dapat berupa ancaman, menjatuhkan pinalti atau melakukan tindakan yang mendahului pihak lain untuk menyelesaikan konflik tanpa sepengetahuan pihak lawan.

(19)

19 2) Problem solving merupakan strategi yang berusaha mempertahankan pendapatnya sendiri tapi sekaligus berusaha untuk mendapatkan cara melakukan rekonsilitasi dengan pihak lain. Berbagai taktik dapat digunakan dalam strategi ini misalkan mengirimkan penengah yang dapat dipercaya oleh kedua belah pihak, berkomunikasi melalui penghubung-penghubung tidak resmi, atau duduk bersama dalam suatu negosiasi.

3) Yielding adalah strategi dimana salah satu pihak harus menurunkan aspirasinya sendiri tapi juga bukan berarti penyerahan total pada pihak lain. Biasanya strategi ini dimaksudkan untuk menurunkan tensi konflik juga untuk mempermudah tercapainya kesepakatan.

Strategi ini bisa diikuti oleh penggunaan strategi lain secara bersamaan, misalnya setelah melakukan yielding pihak tersebut melakukan problem solving.

4) Inaction atau withdrawing adalah strategi yang mirip dimana keduanya melibatkan penghentian usaha untuk mengatasi kontroversi. Perbedaannya adalah withdrawing merupakan penghentian yang bersifat permanen, sedangkan inaction merupakan tindakan yang temporer yang tetap membuka kesempatan bagi upaya penyelesaian.

5.3.1. Strategi Komunikasi dalam Resolusi Konflik

Kekuatan komunikasi sangatlah besar, dengan komunikasi seseorang mampu membawa banyak teman untuk suara yang sama atau mencereaiberaikan musuh, meyakinkan orang asing akan hal yang baru atau bahkan menciptakan suatu mufakat dari perselisihan yang tak kunjung selesai. Komunikasi mengizinkan komunikator untuk mengirim pesan verbal dan non-verbal yang dapat membentuk tingkah laku orang lain. Adler dan Proctor dalam Samovar (2010) bahkan menyebutkan bahwa selain untuk memenuhi kebutuhan sosial dan membentuk identitas, komunikasi merupakan pendekatan yang

(20)

20 paling banyak digunakan untuk membuat orang bertingkah laku sesuai dengan keinginan kita.

Tujuan komunikasi agar dapat mempengaruhi tingkah laku orang lain agar dapat sesuai dengan yang kita harapkan itulah yang tentu ingin dicapai oleh para aktor dalam penyelesaian konflik. Masing- masing aktor berupaya agar para pihak berkonflik bisa tunduk dalam kesepakatan yang dibuat bersama hingga konflik terselesaikan. Maka perlu kiranya suatu strategi komunikasi yang digunakan oleh para aktor agar tujuan tersebut tercapai.

Strategi komunikasi merupakan paduan dari perencanaan dan manajemen komunikasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Strategi komunikasi mempunyai tujuan utama yaitu to secure understanding, to establish acceptance, to motivate actions.

Yang menjadi tujuan adalah memastikan bahwa komunikan mengerti pesan yang diterima, apabila telah dimengerti dan diterima, penerimaannya harus dibina dan pada akhirnya kegiatan tersebut dimotivasikan (Effendy, 2003:32). Sama halnya dengan merumuskan suatu strategi komunikasi umum, strategi komunikasi konflik juga sangat ditentukan oleh analisis target, pemilihan dan penyampaian pesan, bagaimana penggunaan media yang dipilih serta penentuan komunikan atau sumber sebagai faktor penting dalam keberhasilan strategi komunikasi.

a. Analisis sasaran komunikasi

Sebelum melakukan aktivitas komunikasi, sangat penting kiranya dalam menentukan atau memutuskan siapa-siapa saja yang menjadi target atau komunikan dari komunikasi yang akan dilakukan. Sasaran komunikasi perlu dipelajari secara menyeluruh karena akan sangat menentukan pemilihan pesan, media hingga komunikator juga penting dicocokkan dengan tujuan dari komunikasi yang dilakukan, apakah sekadar

(21)

21 menginginkan khalayak untuk tahu (metode informatif) atau agar khalayak melakukan tindakan tertentu sesuai keinginan komunikator (metode persuasif atau instruktif).

Pengenalan terhadap komunikan juga diperlukan agar komunikasi yang dilakukan tidak melupakan kepentingan komunikan itu sendiri. Bauer dalam Depari (1988:57) menyatakan bahwa, agar komunikasi dapat berjalan efektif maka komunikator harus berorientasi pada apa yang menjadi kepentingan khalayak, bukan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan model komunikasi transaksional, dimana proses transaksi akan terjadi apabila komunikan menganggap barang yang ditawarkan oleh komunikator sesuai dengan minat, kehendap dan dapat dijangkaunya.

b. Pemilihan pesan dalam komunikasi

Aspek isi pesan memiliki kontribusi besar dalam membangun kualitas konten. Beberapa hal yang terkait dengan isi pesan harus diperhatikan, mulai dari materi pendukung, visualisasi pesan, isi negatif pesan, pendekatan emosional, pendekatan rasa takut, kreativitas dan humor, serta pendekatan kelompok rujukan.

Para aktor dalam konflik perlu memikirkan cara terbaik untuk membentuk pesan yang akan dikomunikasikan. Ada dua bentuk pesan yang paling efektif adalah pesan langsung dan pesan tidak langsung. Bentuk langsung artinya mengungkapkan secara langsung poin utama terlebih dahulu, kemudian menjelaskan mengapa hal itu penting. Sedangkan bentuk tidak langsung yaitu menjelaskan mengapa pesan tersebut perlu, kemudian mengungkapkan poin utamanya. Dengan pesan yang menarik, akan dapat membangkitkan perhatian khalayak untuk mengetahui isi pesan tersebut. Hal ini sesuai dengan AA.Procedure atau

(22)

22 Attention to Action Procedure, artinya membangkitkan perhatian untuk selanjutnya menggerakkan seseorang atau orang banyak melakukan kegiatan sesuai dengan tujuan yang dirumuskan (Argenti, 2009:39).

Wilbur Schramm dalam Effendi (2002:57) menjelaskan bahwa ada beberapa kondisi sukses dalam berkomunikasi yang berhubungan dengan pesan komunikasi, yaitu:

1) Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian sasaran yang dimaksud.

2) Pesan harus menggunakan tanda-tanda yang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan sehingga sama-sama dapat dimengerti.

3) Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi pihak komunikan, dan menyarankan beberapa cara untuk mendapatkan kebutuhan itu.

4) Pesan harus menyarankan suatu cara untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kelompok tempat komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.

c. Penggunaan media dalam komunikasi.

Pemilihan media atau saluran komunikasi memainkan peranan penting dalam menyebarkan pesan ke target audiens.

Media sebagai alat penyampai informasi dan pesan adalah satu faktor penting dalam keberhasilan program komunikasi.

Teknologi komunikasi baru banyak bermunculan sebagai hasil dari usaha dari penyempurnaan secara terus-meneurs teknologi yang sudah ada. Untuk itu, ada baiknya untuk menyusun strategi media berupa bauran media lainnya agar pesan-pesan yang disampaikan tepat sasaran.

(23)

23 Penggunaan media komunikasi yang beragam, serta menggunakan komunikasi interpersonal menjadi hal yang dapat menyukseskan pesan kampanye dapat sampai ke audiens, sehingga mampu menumbuhkan rasa kesadaran adanya perubahan perilaku sesorang. Komunikasi interpersonal dapat dilakukan secara langsung (face to face) atau dengan menggunakan media seperti e-mail, chatting atau menggunakan media sosial lainnya sehingga lebih cepat mendapatkan umpan balik.

VI. KERANGKA KONSEP

Melalui kerangka konsep, peneliti akan mengaplikasikan landasan teori yang terkait sebagai sebuah instrument bagi penelitian ini. Hal tersebut dilakukan untuk membatasi sekaligus menentukan indikator yang akan menuntun peneliti ketika memaparkan analisis tentang bagaimana komunikasi dan resolusi konflik yang dilakukan oleh Humas Pemerintah Kabupaten Kulonprogo terhadap warga kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo yang menolak proyek pembangunan bandara baru

Dari teori-teori yang sudah peneliti jabarkan sebelumnya, peneliti akan mencari tahu terlebih dahulu strategi komunikasi yang dipakai dalam penyelesaian konflik ini, seperti apa analisis sasaran yang dilakukan oleh Humas Pemkab Kulonprogo, lalu pemilihan pesan yang akan disampaikan seperti apa, dan proses pemilihan serta penentuan media yang akan digunakan dalam penyampaian pesan tersebut.

Setelah mengetahui ketiganya, peneliti akan menentukan bagaimana pendekatan komunikasi yang dipakai, apakah Adversial Method, atau Alternative Dispute Resolution. Lalu peneliti juga bisa menentukan model komunikasi yang digunakan, apakah model linear atau transaksional.

Orientasi Humas Pemkab Kulonprogo dalam menyelesaikan konflik juga dapat peneliti ketahui setelah itu, apakah berorientasi pada diri sendiri, orang lain, atau berorientasi pada hubungan. Lalu peneliti juga dapat menentukan

(24)

24 bentuk penyelesaian konflik yang dipilih oleh Humas Pemkab Kulonprogo, apakah contending, problem solving, yielding, atau inaction.

VII. METODOLOGI PENELITIAN 7.1. Metode Penelitian

Penelitian ini akan menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Hal ini disebabkan karena penelitian ini bertujuan untuk memaparkan proses dan negosiasi komunikasi Humas pemerintah Kabupaten Kulonprogo dalam resolusi konflik proyek pembangunan bandara baru di Kulonprogo, bukan ditujukan untuk mencari atau menjelaskan hubungan serta tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi (Rahmat, 2001:24). Studi kasus juga dipandang tepat sebagai metode penelitian karena menurut Yin (2002:8) studi kasus lebih cocok bila pokok pertanyaan dalam penelitian ini adalah

Resolusi Konflik

Analisis Sasaran Pemilihan Pesan Pemilihan Media

Pendekatan

Model Komunikasi

Orientasi

Bentuk-bentuk penyelesaian konflik

(25)

25 berkenaan dengan pertanyaan bagaimana atau mengapa, peneliti tidak memiliki banyak peluang untuk mengontrol peristiwa yang akan diteliti dan fenomena yang diteliti merupakan fenomena kontemporer bukan historis.

Penelitian ini lebih menanyakan tentang bagaimana negosiasi komunikasi dan resolusi konflik yang dilakukan oleh Humas Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dalam konflik yang terjadi, peneliti tidak dapat berbuat banyak untuk mengontrol peristiwa yang terjadi dan meskipun proyek ini sudah berlangsung sejak lama, namun penolakan serta konflik karena proyek ini terus berlanjut hingga saat ini. Melihat hal tersebut maka studi kasus dianggap menjadi strategi yang tepat dalam penelitian ini.

7.2. Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah Pemerintah Kabupaten Kulonprogo dengan fokusnya adalah bidang atau divisi Kehumasan Pemerintah yang menangani konflik atas pembangunan New Yogyakarta International Airport.

7.3. Sumber Data a. Data Primer

Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumber data pertama di lokasi penelitian atau objek penelitian (Bungin, 2011).

Dalam penelitian ini, sumber data primer adalah jawaban dari hasil wawancara mendalam dengan perwakilan bidang kehumasan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua dari data yang dibutuhkan (Bungin, 2011). Data sekunder penelitian ini adalah data-data yang didapat dari data kehumasan Pemerintah

(26)

26 Kabupaten Kulonprogo, seperti timeline, dokumentasi ataupun arsip- arsip kegiatan yang sudah dilakukan untuk menangani konflik, data- data statistik seperti angka fakta yang bersangkutan dengan konflik.

7.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menjadi langkah paling penting dalam penelitian karena pada dasarnya tujuan utama dari penelitian adalah untuk memperoleh data. Penelitian ini menempatkan peneliti sebagai pengamat yang akan terjun ke lapangan untuk melakukan observasi, mengumpulkan data, mengidentifikasi masalah, dan menentukan apa yang perlu dilakukan untuk memperoleh data yang akurat. Observasi dilakukan untuk lebih mendekatkan diri peneliti dengan objek penelitian yang sedang dikaji. Peneliti akan menggunakan empat sumber data yang dirasa paling relevan untuk penelitian, yaitu: wawancara, catatan arsip serta dokumentasi.

a. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan mekanisme. Ciri utama dari wawancara adalah kontak langsung dengan tatap muka (face to face) antara si pencari informasi dengan informan (Sutopo, 2006:74). Wawancara akan dilakukan secara langsung terhadap perwakilan dari bagian kehumasan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo yang bertugas untuk menangani konflik atas pembangunan New Yogyakarta International Airport.

b. Dokumen arsip

Arsip dibuat oleh perusahaan dengan tujuan tertentu dan untuk menjangkau target yang lebih spesifik. Arsip dapat digunakan untuk mendukung penelitian studi kasus bersamaan dengan sumber informasi lainnya jika memang relevan (Yin, 2009). Hal yang perlu

(27)

27 diperhatikan adalah tingkat kegunaan dokumen ini akan sangat bervariasi dan belum tentu dapat digunakan untuk semua studi kasus.

Arsip pada umumnya tidak bisa dengan mudah diakses oleh pihak eksternal perusahaan akrena menyangkut informasi-informasi penting perusahaan.

c. Dokumentasi

Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2008:83). Dokumentasi memiliki koverasi yang luas dan dapat mencakup banyak kejadian dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu, dokumentasi relatif bersifat stabil dan dapat ditinjau berulang kali.

Studi dokumen akan dilakukan peneliti pada dokumen-dokumen berkaitan dengan resolusi konflik pembangunan bandara ini.

7.5. Teknik Analisis Data

Analisis data yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan Miles dan Huberman dalam Pawito (2007:104) dengan istilah inactive model, teknik terdiri dari tiga komponen yaitu:

a. Reduksi data, mempunyai tiga tahap, yakni tahap pertama: editing, pengelompokkan dan meringkas data. Seluruh data mengenai konflik proyek pembangunan Bandara Baru dan upaya komunikasi dalam penyelesaian konflik dikumpulkan seluruhnya. Tahap kedua: peneliti menyusun catatan atau memo yang berkenaan dengan proses penelitian sehingga peneliti dapat menemukan tema, kelompok, dan pola-pola data dari resolusi konflik yang dilakukan Humas Pemkab Kulonprogo dalam resolusi konflik ini. Tahap ketiga: peneliti menyusun rancangan konsep-konsep serta penjelasan berkenaan dengan tema, pola atau kelompok-kelompok yang bersangkutan.

Peneliti berusaha terus mengerucutkan data-data yang ada sehingga proses resolusi konflik juga dapat tergambarkan.

(28)

28 b. Penyajian data, melibatkan langkah-langkah mengorganisasikan data, yakni menjalin (kelompok) data yang satu dengan kelompok data yang lain, sehingga seluruh data benar-benar dilibatkan. Dalam tahap ini, peneliti mulai menyajikan dan mengintrepetasikan temuan yang didapat dari lapangan dan hasil wawancara dengan Humas Pemerintah Kabupaten Kulonprogo ke dalam sebuah teks.

c. Pengujian kesimpulan, peneliti mengimplementasikan prinsip indukif dengan mempertimbangkan pola-pola data yang ada dan atau kecenderungan dari penyajian data yang dibuat. Analisis akan temuan yang didapat kemudian dibuat kesimpulan-kesimpulan. Sehingga peneliti dapat memaparkan kesimpulan dari sudut pandang peneliti berdasarkan dari data yang telah direduksi dan disajikan.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

aureus resisten terhadap antibiotik ciprofloxacin (15%), cefotaxime (31%), dan cefadroxil (8%), sedangkan bakteri Gram negatif yang mengalami resistensi tertinggi

Kedua, kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja, Ketiga, masih adanya anak putus sekolah dan lulus tidak

Kesimpulan yang diperoleh dari teori perkembangan remaja di atas adalah untuk merencanakan dan membangun suatu bangunan yang diperuntukan bagi para remaja kita harus terlebih

Dalam teks, muncul kata-kata tertentu yang dominan dan dinaturalisasikan kepada pembaca. Kata tersebut selalu diulang-ulang dalam berbagai peristiwa tutur. Kata-kata

Seringkali apabila tunggakan sewa berlaku ianya dikaitkan dengan masalah kemampuan yang dihadapi penyewa dan juga disebabkan faktor pengurusan yang lemah. Ada pula

20 Tahun 2001 Tentang Pemilikan Saham Dalam Perusahaan yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Asing yakni dalam rangka lebih mempercepat peningkatan dan perluasan kegiatan

Fraksi terpenoid daun katuk memiliki pengaruh baik terhadap profil lipid yang dapat menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, dan meningkatkan kadar HDL dengan dosis