Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana (S1) Jurusan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer
Oleh:
GUSTINA SOLVIA NIM: 2514.082
Dosen Pembimbing I
Dr. Deswalantri, SS, M. Pd NIP. 19681229 200003 2 001
Dosen Pembimbing II
Sarwo Derta, S. Kom, S.S, M.Kom NIP. 19750104 200604 1 003
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA KOMPUTER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI 2018 M/1439 H
1
Pendidikan merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia, karena dengan memperoleh pendidikan yang layak seseorang dapat meningkatkan harkat dan martabat hidup manusia itu sendiri. Dengan menempuh pendidikan yang tinggi maka semakin tinggi pula kesempatan pekerjaan yang akan diperoleh, sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi dalam kehidupannya. Selain itu dengan pendidikan yang lebih tinggi seseorang akan lebih dihormati oleh orang lain.
Pendidikan berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 1 ayat (1), yaitu:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1
Sebuah pendidikan mengenal adanya pembelajaran. Pembelajaran merupakan sebuah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sedangkan “peserta didik adalah salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar”.2
1 Departemen Pendidikan Nasional, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Depdiknas, 2003), hal. 11
2 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012), hal. 111
Proses pendidikan tidak lepas dari kegiatan belajar. Belajar adalah memecahkan masalah tidak hanya dalam pelajaran eksakta, tetapi juga dalam mempelajari keterampilan motoris, atau menghargai sanjak atau simfoni.3 Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.4
Belajar dan mengajar terdapat hubungan saling mempengaruhi secara timbal balik. Artinya cara guru mengajar sangat mempengaruhi murid dalam belajar. Dengan kata lain hubungan antara belajar dan mengajar tidak dapat dipisahkan, keduanya merupakan satu satuan yang saling pengaruh mempengaruhi.5
Belajar dan mengajar merupakan suatu proses yang sangat kompleks, karena dalam proses tersebut siswa tidak hanya menyerap informasi yang disampaikan oleh guru, tetapi siswa dapat melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran dan tindkan pedagogis yang harus dilakukan. Dari proses belajar mengajar ini akan diperoleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut hasil pngajaran, atau dengan istilah tujuan pembelajaran atau hasil belajar.
Tetapi agar memperoleh hasil yang optimal, proses belajar mengajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja serta terorganisasi secara baik.6
3 Dewa Ketut Sukardi, Bimbingan dan Peyuluhan Belajar di Sekolah, (Surabaya: Usaha Nasional, 1984) hal. 29
4 Slameto, Proses Belajar Mengajar daam Sistem Kredit Semester (SKS), (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal. 78
5 Subari, Supervisi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994) hal. 9
6 Sardiman, Op. Cit., hal. 19
Menurut Thorndike belajar yang baik harus adanya kesiapan dari organisme yang bersangkutan. Apabila tidak adanya kesiapan, maka hasil belajarnya tidak akan baik. Secara praktis hal tersebut dapat dikemukakan bahwa:7
1. Apabila pada organisme adanya kesiapan untuk melakukan sesuatu aktivitas, dan organisme itu dapat melaksanakan kesiapannya itu, maka organisme tersebut akan mengalami kepuasan.
2. Apabila organisme mempunyai kesiapan untuk melakukan sesuatu aktivitas, tetapi organisme itu tidak dapat melakukannya, maka organisme itu akan mengalami kekecewaan atau frustasi.
3. Apabila organisme itu tidak mempunyai kesiapan untuk melakukan suatu aktivitas, tetapi disuruh melakukannya, maka hal tersebut akan menimbulkan keadaan yang tidak memuaskan.
Thorndike, dengan eksperimennya sampai pada kesimpulan bahwa dalam belajar itu dapat dikemukakan adanya beberapa hukum, yaitu: (a) hukum kesiapan, (b) hukum latihan, dan (c) hukum efek. Menurut hukum ini belajar agar mencapai hasil yang baik harus ada kesiapan untuk belajar.8
Hasil belajar yang optimal dapat tercapai apabila adanya interaksi dari berbagai faktor yang mempengaruhinya baik faktor internal maupun faktor ekternal. Dimana pada faktor internal yakni faktor jasmaniah yang meliputi kesehatan dan cacat tubuh, faktor psikologis yang meliputi intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan dan kesiapan, dan pada faktor kelelahan. Sedangkan pada faktor eksternal yakni faktor lingkungan keluarga
7 Bimo Waltigo, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: ANDI, 2010), hal. 78 8 Ibid., hal. 189
yakni cara orang tua mendidik, hubungan antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan, faktor lingkungan sekolah meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, keadaan gedung dan tugas rumah, faktor lingkungan masyarakat yang meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.9 Kondisi siswa yang siap menerima pelajaran dari guru, akan berusaha merespon atas pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru. Untuk dapat memberikan jawaban yang benar tentunya siswa harus mempunyai pengetahuan dengan cara membaca dan mempelajari materi yang akan diajarkan oleh guru.
Dalam mempelajari materi tentunya siswa harus mempunyai buku pelajaran, baik berupa buku paket dari sekolah maupun buku-buku penunjang lainnya yang masih relevan digunakan sebagai acuan untuk belajar. Dengan adanya kesiapan belajar siswa akan termotivasi untuk mengoptimalkan hasil belajarnya. Kesiapan belajar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan seorang siswa. Jika siswa sudah merasa siap baik seacra fisik, mental, dan peralatan dalam proses pembelajaran maka akan berdampak positif pada hasil yang akan dicapai. Sementara itu jika siswa tidak siap dalam mengikuti proses pembelajaran maka hal ini akan mengganggu dalam
9 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hal. 54-72
kegiatan pembelajaran dan berdampak pada hasil belajar yang kurang memuaskan. Sebagaiman firman Allah SWT dalam QS. AL-Anfaal ayat 60:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang- orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”.
(QS. Al-Anfaal:8:60).
Kesiapan individu akan membawa individu untuk siap memberikan respon terhadap situasi yang dihadapi melalui cara sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Slameto bahwa “kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi response/jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi.10 Kondisi seseorang yang dimaksud oleh Slameto yaitu kondisi fisik, mental dan emosional”. Sehingga kesiapan belajar dapat diartikan sebagai kondisi awal suatu kegiatan belajar yang membuatnya siap untuk memberi respon/jawaban yang ada pada diri siswa dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Kesiapan untuk belajar tidak hanya diterjemahkan siap dalam arti fisik, tetapi juga diartikan dalam arti psikis dan materiil. Kesiapan fisik dapat berupa kondisi badan yang sehat dan bugar. Kesiapan psikis dapat berupa adanya keinginan untuk belajar, dapat
10 Slameto, Op. cit., hal. 113
berkonsentrasi dengan baik, dan adanya motivasi intrinsik. Kesiapan materiil dapat berupa buku panduan belajar siswa atau modul.
Banyak sekali faktor yang menjadi alasan terkait dengan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran dan masih banyaknya hasil pembelajaran peserta didik jauh dari harapan, diantaranya kurangnya kesiapan belajar peserta didik, kurangnya minat dan mental untuk mengikuti pembelajaran. Pada saat ini banyak siswa yang kurang siap pada saat akan melaksanakan pembelajaran, terutama pembelajaran disekolah. Fenomena yang sering terjadi yang berkaitan dengan kesiapan belajar contohnya seperti adanya siswa yang tidak membawa buku catatan dengan alasan lupa dan ketinggalan di rumah. Kemudian hanya ada beberapa siswa yang memiliki buku paket mata pelajaran. Sehingga pada saat guru menugaskan atau bertanya mengenai materi yang sedang dibahas siswa sering merasa keteteran. Jika hal ini dibiarkan begitu saja maka akan berdampak pada kurang efektifnya pembelajaran dan berimbas pada hasil belajar siswa yang kurang baik.
Selain hal di atas, terdapat peserta didik yang memiliki kesiapan belajar yang baik dan pada akhirnya memiliki hasil belajar yang baik, akan tetapi terdapat pula peserta didik yang memiliki kesiapan belajar yang baik namun hasil belajarnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Hasil belajar yang rendah tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena akan berkaitan dengan kualitas pendidikan dan pembelajaran. Selain berkaitan dengan kualitas pendidikan dan pembelajaran, juga berpengaruh terhadap kualitas
SDM yang pada akhirnya akan menentukan arah pembangunan serta kesejahteraan suatu bangsa. Berdasarkan pemaparan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai permasalahan yang sedang terjadi.
Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan di SMK Muhammadiyah Bukittinggi menunjukkan bahwa hasil belajar siswa Pemrograman Dasar Kelas X dapat dikatakan dibawah KKM seperti terdapat dalam tabel 1.1.
Tabel 1.1 Nilai Rata-rata Ulangan Tengah Semester Pemrograman Dasar Kelas X SMK Muhammadiyah Bukittinggi
Kelas Jumlah siswa Nilai rata-rata Pemrograman Dasar
TKJ 1 14 70
TKJ 2 16 65
KKM 70
Sumber: Tata usaha SMK Muhammadiyah Bukittinggi
Berdasarkan tabel 1.1 diatas menunjukkan bahwa hasil belajar pada kelas X Pemrograman Dasar dikatakan belum optimal. Hal ini terlihat pada jumlah siswa yang dinyatakan tidak tuntas KKM sebanyak 21 Siswa atau 84%. Selama ini kesiapan belajar pemrograman dasar siswa kelas X TKJ SMK Muhammadiyah Bukittinggi kurang, hal ini dapat dilihat dari siswa yang mengantuk, tidak berkonsentrasi dan tidak langsung menyiapkan buku- buku pelajaran saat menerima pelajaran di kelas. Selain itu masih ada siswa
yang terlambat mengerjakan tugas bahkan ada yang tidak mengerjakan tugas, masih banyak siswa yang tidak memiliki kelengkapan belajar pemrograman dasar, seperti yang diperintahkan guru misal: buku dan pena.
Adanya kesiapan belajar yang kurang maka hasil yang dicapai siswa kurang optimal. Selain itu berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan peneliti menemukan beberapa keadaan dimana siswa yang kurang memperhatikan materi pelajaran yang diajarkan, siswa juga terlihat kurang antusias dalam merespon pembelajaran baik dalam segi bertanya maupun menjawab serta mencatat materi yang diajarkan oleh guru.
Di SMK Muhammadiyah Bukittinggi mata pelajaran Pemrograman Dasar merupakan salah satu mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa jurusan TKJ. Penguasaan siswa terhadap mata pelajaran TKJ dapat dilihat dari kemampuan dalam melakukan pembukuan. Dalam menguasai mata pelajaran pemrograman dasar banyak siswa yang menganggap sulit. Kesulitan tersebut dikarenakan siswa tidak memperhatikan dan memahami materi yang diajarkan guru dari awal, sehingga untuk mengerjakan materi selanjutnya siswa mengalami kesulitan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap hasil yang diperolehnya.
Karakteristik pembelajaran pemrograman dasar memang cenderung memerlukan pemahaman yang mendalam, sehingga setiap siswa hendaknya bisa belajar mandiri dengan cara mengetahui tipe belajar dan karakteristik tipe belajar yang dimiliki, sehingga mampu menyesuaikan dengan materi yang diterima dalam mata pelajaran pemrograman dasar. Materi mata
pelajaran pemrograman dasar selalu berhubungan antara materi sebelumnya dengan materi selanjutnya. Jika materi sebelumnya tidak dapat menguasai, maka untuk mengerjakan materi selanjutnya siswa akan mengalami kesulitan.
Kesiapan belajar sangat diharapkan dalam proses pembelajaran di SMK Muhammadiyah Bukittinggi. Adanya kesiapan belajar terhadap mata pelajaran pemrograman dasar yang baik dapat menimbulkan perhatian siswa dalam menerima pelajaran di kelas, sehingga siswa cepat paham terhadap materi yang disampaikan oleh guru dan mengetahui letak kesulitan yang dialaminya. Untuk mengatasi kesulitan belajar yang dialaminya diperlukan usaha-usaha. Usaha-usaha tersebut hendaknya dilakukan sejak mengalami kesulitan belajar. Adanya hal tersebut akan mendukung proses pembelajaran dengan lancar dan teratur sehingga akan memperoleh hasil yang baik.
Peneliti melihat kecenderungan bahwa dalam proses kegiatan belajar mengajar siswa tidak memiliki buku diktat sebagai acuan untuk belajar baik di kelas maupun di rumah. Sementara, pada mata pelajaran tersebut guru banyak mengambil materi dari buku diktat. Menurut penjelasan guru masih terdapat beberapa siswa yang tidak mengerjakan PR dan terlambat saat mengumpulkan tugas yang diberikan. Bersumber dari observasi atau pengamatan langsung di dalam kelas yang dilakukan peneliti, dalam mengikuti pelajaran ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, kurang bersemangat dan terlihat bosan serta ada beberapa siswa yang mengantuk. Masih ada beberapa siswa yang tidak mencatat materi yang disampaikan guru, ada pula siswa yang mengobrol dan bercanda dengan
temannya. Ketika guru memberikan pertanyaan, hanya siswa tertentu saja yang memberikan respon atau memberikan jawaban. Proses interaksi belajar cenderung guru kurang memperhatikan keaktifan siswa sehingga siswa kurang antusias untuk mengikuti pelajaran.
Berangkat dari fenomena yang penulis lihat itulah, maka penulis tertarik untuk meneliti tingkat kesiapan belajar siswa di SMK Muhammadiyah Bukittinggi dan sejauh mana pengaruh antara kesiapan belajar terhadap hasil belajar siswa. Dalam hal ini penulis akan menuangkan permasalahan tersebut dalam skripsi yang berjudul “Pengaruh Kesiapan Belajar Terhadap Hasil Belajar Pemrograman Dasar di SMK Muhammadiyah Bukittinggi”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasi masalah penelitian ini:
1. Sebagian siswa kurang kesiapan belajarnya dalam pembelajaran Pemrograman Dasar
2. Hasil belajar siswa dibawah KKM
3. Kurangnya minat serta motivasi siswa dalam memahami serta mengikuti pembelajaran Pemrograman Dasar
4. Pada pembelajaran Pemrograman Dasar Siswa kurang optimal dalam mempersipakan diri
C. Batasan Masalah
Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan yang timbul adalah: Pengaruh kesiapan belajar siswa terhadap hasil belajar dalam mengikuti proses pembelajaran Pemrograman Dasar D. Rumusan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan yang berkaitan dengan kesiapan belajar maka rumusan masalahnya adalah: Seberapa besar pengaruh kesiapan belajar siswa terhadap hasil belajar Pemrograman Dasar di SMK Muhammadiyah Bukittinggi.
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah: Untuk mengetahui pengaruh kesiapan belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran Pemograman Dasar di SMK Muhammadiyah Bukittinggi.
F. Manfaat Penelitian a. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini dapat menjadikan masukan bagi peneliti- peneliti lain untuk mengadakan penelitian serupa dimasa yang akan datang.
b. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi sekolah dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa melalui pemberian
kesiapan belajar kepada siswa serta menjalin kerja sama yang baik dengan pihak orang tua dalam membina anak didik agar dapat mencapai hasil belajar yang lebih baik.
c. Bagi Siswa
Sebagai masukan bagi siswa akan pentingnya kesiapan dalam diri siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
G. Penjelasan Judul
Untuk menghindari kekeliruan dalam memahami judul skripsi ini dan mendekatkan pada pemahaman awal, maka penulis akan menjelaskan istilah- istilah yang terdapat dalam judul skripsi ini, sebagai berikut :
Pengaruh : Daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang berkuasa atau yasng berkekuatan.11
Kesiapan Belajar : Kemampuan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan.12
Hasil Belajar : Terdiri dari dua kata yaitu hasil dan belajar. Belajar adalah suatu proses, dan bukan suatu hasil.13 Jadi hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh individu setelah mengalami suatu proses belajar.
H. Sistematika Penulisan
Agar penulisan ini tidak menyimpang dari jalur pembahasan dan untuk mempermudah pemahaman pembaca, maka penulis membagi menjadi
11 Poemwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1976), hal. 731
12 Made Pidarta, Landasan Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal. 218
13 Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikolagi Belajar, (Yogyakarta: Hak cipta, 1991), hal. 120
beberapa komponen (5 bab) dan masing-masing bab mempunyai sub-sub bagian, sebagai berikut :
Bab I pendahuluan yang meliputi latar belakang yang menguraikan alasan-alasan yang jelas mengapa penelitian ini perlu dilakukan. Lalu identifikasi masalah untuk mengidentifikasi sejauh mana peneliti akan melakukan penelitian. Kemudian batasan masalah yang membatasi penelitian ini agar peneliti fokus pada permasalahan yang akan diteliti. Selanjutnya dijelaskan rumusan maslah, tujuan dan manfaat penelitian yang saling berkaitan satu sama lain agar penelitian terarah, penjelasan judul yang menguraikan pengertian/ konsep judul terkait dan sistematika penulisan yang mengurai urutan penulisan dan penelitian.
Bab II landasan teori meliputi penjelasan mengenai apa itu kesiapan belajar, dan bagaimana faktor yang mempengaruhi kesiapan belajar.
Selanjutnya akan membahas tentang pengertian hasil belajar dan bagaimana faktor yang mempengaruhi hasil belajar.
Bab III Metodologi penelitian meliputi metode penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam melakukan penelitian. Kemudian populasi dan sampel yang menjelaskan tentang objek yang akan diteliti. Selanjutnya teknik pengumpulan data yang menjelaskan bagaimana cara peneliti melakukan pengumpulan data. Pada bagian akhir dijelaskan tentang analisis data yang berguna dalam memecahkan masalah-masalah penelitian.
Bab IV Analisis dan hasil meliputi deskripsi data yang menjelaskan / menggambarkan data hasil penelitian. Lalu pengujian persyaratan analisis
yang bertujuan untuk membuktikan semua aspek dari analisis data.
Selanjutnya penelitian hipotesis yang bertujuan untuk membuktikan dan menyempurnakan hipotesis sebelumnya. Terakhir yaitu pembahasan, pada sub bab ini akan dijeaskan sedetail mungkin tentang kondisi dan keadaan hasil penelitian.
Bab V merupakan bab penutup yang berisikan kesimpulan dan saran- saran. Pada bagian ini, penulis akan memaparkan beberapa kesimpulan terkait penemuan terhadap penelitian yang telah penulis lakukan. Kemudian , penulis juga menyampaikan beberapa saran bagi pembaca, agar hasil penelitian ini bermanfaat bagi peneliti selanjutnya dimasa yang akan datang.
15 BAB II
LANDASAN TEORI A. Kesiapan Belajar Siswa
1. Pengertian Kesiapan
Kesiapan berasal dari kata “siap” yang diawali huruf ke- dan diakhiri dengan -an yang artinya secara bahasa adalah sedia.1 Jadi kesiapan adalah kesediaan yang artinya secara bahasa adalah sedia. Kesiapan merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu proses pembelajaran.
Kesiapan sering kali diseut dengan “readliness”. Seseorang baru dapat belajar tentang sesuatu apabila didalam dirinya sudah terdapat “readliness”
untuk mempelajari sesuatu itu. Dengan memiliki kesiapan yang baik maka sesuatu yang dihasilkan akan menjadi lebih baik dibandingkan hasil yang dicapai tanpa adanya sebuah kesiapan yang baik.
Sedangkan menurut para ahli kesiapan adalah:
a. Menurut Jamies Drever, yang diikuti oleh buku Slameto , kesiapan/readiness is preparedness to respond or react (kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi).
Kesedian itu timbul dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melakasanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena
1 Yulius, Dkk, KKBI, (Surabaya:Usaha Nasional, 1984), hal. 236
jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.2
b. Menurut Slameto, kesiapan merupakan keseluruhan kondsi seseorang yang membuatnyaa siap untuk memberi respons/jawaban didalam cara tertentu terhadap suatu situasi.3 Penyesuaian kondisi pada suatu saat akan berpengaruh atau kecenderungan untuk memberi respon.
c. Menurut Thorndike, kesiapan adalah prasyarat untuk belajar berikutnya.4
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, dapat diambil kesimpulan bahawa kesiapan merupakan suatu kondisi seseorang yang siap atau sedia untuk memberi respon atau rangsangan berupa dorongan yang didukung oleh kesiapan yang bertindak terhadap suatu situasi dan kondisi yang akan menimbulkan hasil yang memuaskan.
2. Prinsip-prinsin Kesiapan
Menurut Slameto prinsip-prinsip kesiapan meliputi:
a. Semua aspek perkembangan berinteraksi (saling pengaruh mempengaruhi)
b. Kematangan jasmani dan rohani adalah perlu untuk memperoleh manfaat dari pengalaman.
c. Pengalaman pengalaman mempunyai pengaruh yang positif terhadap kesiapan.
2 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hal. 59
3 Ibid., hal. 113
4 Ibid., hal. 114
d. Kesiapan dasar untuk kegiatan tertentu terbentuk dalam peride tertentu selama masa pembentukan dalam masa perkembangan.5
3. Aspek aspek Kesiapan
Menurut Slameto ada dua aspek kesiapan yaitu:
a. Kematangan
Kematangan adalah proses yang menimbulkan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan.
b. Kecerdasan
Di sini hanya dibahas perkembangan kecerdasan menurut J. Piaget.
Menurut J. Piaget perkembangan kecerdasan adalah sebagai berikut:
1. Sensori Motor Period (0-2 tahun)
Anak banyak bereaksi reflek, reflek tersebut belum terkoordinasikan.
Terjadi perkembangan perbuatan sensori motor dari yang sederhana ke yang relatif lebih kompleks.
2. Preoperational period (2-7 tahun)
Anak mulai mempelajari namanama dari objek yang sama dengan apa yang dipelajari orang dewasa dan ditandai dengan:
a. Memperoleh pengetahuan/konsep konsep
b. Kecakapan yang didapat belum tetap (konsisten)
c. Kurang cakap memikirkan tentang apa yang sedang dipikirkannya kurang cakap merencanakan sesuatu yang dilakukan, masih
5 Ibid., hal. 115
berdasarkan pengalaman pengalaman yang diamati dengan menggunakan tanda tanda atau perangsang sensori.
d. Bersifat egosentris dalam arti memandang dunia berdasarkan pengalamannya sendiri dan berdasarkan pengamatannya pada masa itu saja.
3. Concrete Operation (7-11 tahun)
Anak mulai berfikir lebih dulu akibat akibat yang mungkin terjadi dari perbuatan yang akan dilakukannya, ia tidak lagi bertindak coba coba salah (trial and error).
4. Formal operation (lebih dari 11 tahun)
Kecakapan anak tidak lagi terbatas pada objek objek yang konkret serta:
a. Ia dapat memandang kemungkinan kemungkinan yang ada melalui peikirannya (dapat memikirkan kemungkinan kemungkinan)
b. Dapat memgorganisasikan situasi/masalah
c. Dapat berfikir dengan betul (dapat berfikir yang logis, mengerti hubungan sebab akibat, memecahkan masalah/berfikir secara ilmiah).6
6 Slameto, Op. cit., hal. 115-116
4. Faktor Kesiapan
Menurut Slameto kondisi kesiapan belajar mencakup 3 aspek:7 a. Kondisi fisik, mental dan emosional.
Kondisi fisik yang dimaksud adalah kesiapan kondisi tubuh jasmani seseorang untuk mengikuti kegiatan belajar. Kondisi mental adalah keadaan siswa yang berhubungan dengan kecerdasan siswa. Seseorang yang berbakat memungkinkan melaksanakan tugas-tugas yang lebih tinggi. Sedangkan kondisi emosional adalah kemampuan siswa mengatur emosinya dalam menghadapi masalah. Kondisi emosional juga mempengaruhi kesiapan untuk berbuat sesuatu, karena adanya hubungan dengan motif (insentif positif, insentif negatif, hadiah, dan hukuman), dan itu akan berpengaruh terhadap kesiapan belajar.
b. Kebutuhan, motif dan tujuan.
Kebutuhan adalah rasa membutuhkan terhadap materi yang diajarkan.
Kebutuhan mendorong usaha, dengan kata lain menimbulkan motif.
Motif tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan.
c. Keterampilan dan pengetahuan.
Keterampilan dan pengetahuan adalah kemahiran, kemampuan dan pemahaman yang dimiliki siswa terhadap materi yang hendak diajarkan, termasuk materi-materi lain yang berhubungan dengan materi yang hendak diajarkan.
7 Slameto, Op. cit., 113
Dalam penelitian ini yang akan digunakan sebagai indikator dalam kesiapan belajar yaitu kondisi fisik peserta didik (sakit, sehat, penglihatan, pendengaran, kecapean, mengantuk), mental (kepercayaan diri: berani bertanya, berani berpendapat), emosi (tertekan, tegang), kebutuhan (motivasi untuk belajar: datang tepat waktu, mengikuti pelajaran dari awal hingga akhir, selalu belajar di luar kelas, berusaha mendapatkan hasil belajar yang maksimal) dan pengetahuan (cara mempelajari suatu materi:
kemapuan menyimpulkan materi, kemampuan mengingat kembali materi yang telah dipelajari, membaca buku referensi yang relevan).
5. Pengertian Belajar
Sebuah pendidikan kita mengenal adanya pembelajaran atau biasa di sebut dengan belajar. Belajar merupakan suatu kegiatan yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Baik secara langsung atau tidak langsung maupun secara sadar atau tidak sadar manusia akan terus melakukan kegiatan belajar seumur hidupnya. Dengan belajar manusia akan mengetahui dan mampu mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
Aktualisasi ini berguna untuk memberikan kemampuan pada manusia agar dapat menyesuaikan diri demi pemenuhan kebutuhannya selama hidup di muka bumi.
1. Menurut Wittig belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.8
8 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hal. 61
2. Menurut Slameto belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.9
3. Menurut James O. Whittaker, belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.10
4. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan.11 Perubahan yang terjadi dalam diri individu banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri individu merupakan perubahan dalam arti belajar.12 Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap kebiasaan, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya.13
Pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku setiap orang dan belajar itu mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh seseorang.
Beberapa elemen yang penting yang mencirikan tentang belajar, yaitu bahwa:
a. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik,
9 Slameto, Op. cit., hal. 2
10Abu Ahmadi dkk., Op. cit., hal. 119
11 Slameto, Op. cit., hal. 2
12 Abu Ahmadi dkk., Op. cit., hal. 121
13 Abu Ahmadi dkk., Op. cit., hal. 123
tetapi ada juga kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar;
seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
c. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap, harus merupakan akhir dari pada suatu periode waktu yang cukup panjang.
d. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti:
perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah atau berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan atau pun sikap.14
6. Ciri-ciri Belajar
Menurut slameto ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar, meliputi:15
a. Perubahan terjadi secara sadar
Berarti seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya.
b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional
14 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hal.
84
15 Slameto, Op. cit., hal. 3
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya.
c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan yang bersifat aktif artinya perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha individu sendiri.
d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk beberapa saat saja, seperti berkeringat, keluar air mata, bersin, menangis dan sebagainya, tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam arti belajar.
e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah Perubahan tingkah laku terjadi karena ada tujuan yang akan tercapai. Perubahan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.
f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
7. Pengertian Kesiapan Belajar
Secara umum kesiapan belajar merupakan kemampuan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan.
Jadi dapat disimpulkan pengertian kesiapan belajar adalah suatu perubahan keadaan dalam diri seseorang yang membuatnya siap memberi jawaban atau respon untuk mencapai tujuan pelajaran tertentu.
8. Faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Belajar
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesiapan belajar antara lain seperti yang diungkapkan oleh beberapa ahli.
Menurut Slameto kondisi kesiapan belajar mencakup 3 aspek:16 a. Kondisi fisik, mental dan emosional.
Kondisi fisik yang dimaksud adalah kesiapan kondisi tubuh jasmani seseorang untuk mengikuti kegiatan belajar. Kondisi mental adalah keadaan siswa yang berhubungan dengan kecerdasan siswa. Seseorang yang berbakat memungkinkan melaksanakan tugas-tugas yang lebih tinggi. Sedangkan kondisi emosional adalah kemampuan siswa mengatur emosinya dalam menghadapi masalah. Kondisi emosional juga mempengaruhi kesiapan untuk berbuat sesuatu, karena adanya hubungan dengan motif (insentif positif, insentif negatif, hadiah, dan hukuman), dan itu akan berpengaruh terhadap kesiapan belajar.
b. Kebutuhan, motif dan tujuan.
Kebutuhan adalah rasa membutuhkan terhadap materi yang diajarkan.
Kebutuhan mendorong usaha, dengan kata lain menimbulkan motif.
Menurut Bimo Walgito, dorongan yang datang dari dalam untuk berbuat disebut motif. Karena itu motif diartikan sebagai kekuatan yang
16 Slameto, Op. cit., hal. 113
terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat atau driving force.17 Motif tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan.
c. Keterampilan dan pengetahuan.
Keterampilan dan pengetahuan adalah kemahiran, kemampuan dan pemahaman yang dimiliki siswa terhadap materi yang hendak diajarkan, termasuk materi-materi lain yang berhubungan dengan materi yang hendak diajarkan.
Dalam penelitian ini yang akan digunakan sebagai indikator dalam kesiapan belajar yaitu kondisi fisik peserta didik (sakit, sehat, penglihatan, pendengaran, kecapean, mengantuk), mental (kepercayaan diri: berani bertanya, berani berpendapat), emosi (tertekan, tegang), kebutuhan (motivasi untuk belajar: datang tepat waktu, mengikuti pelajaran dari awal hingga akhir, selalu belajar di luar kelas, berusaha mendapatkan hasil belajar yang maksimal) dan pengetahuan (cara mempelajari suatu materi:
kemapuan menyimpulkan materi, kemampuan mengingat kembali materi yang telah dipelajari, membaca buku referensi yang relevan).
B. Hasil Belajar Siswa
1. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai oleh individu setelah mengalami suatu proses belajar. Hasil belajar diperoleh pada akhir proses pembelajaran dan berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menyerap atau memahami suatu materi yang telah diajarkan.
17 Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: ANDI, 2010), hal. 240
Belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan yakni tujuan pengajaran (instruksional), pengalaman proses belajar mengajar dan hasil belajar. Hubungan ketiga unsur tersebut digambarkan dalam diagram 2.1.
Tujuan Instruksional
(a) (c) Pengalaman belajar (b) Hasil belajar
(proses belajar mengajar)
Diagram 2.1
Proses Belajar Mengajar18
Dari diagram 2.1 diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan penilaian dinyatakan oleh garis (c), yaitu suatu tindakan atau kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan instruksional telah dapat dicapai atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil-hasil belajar yang diperlihatkannya setelah mereka menempuh pengalaman belajarnya (proses belajar mengajar). Sedangkan garis (b) merupakan kegiatan penilaian untuk mengetahui keefektifan pengalaman belajar dalam mencapai hasil belajar yang optimal.
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yaitu: (a) keterampilan dan kebiasaan, (b)
18Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Remaja Rosdakarya. 1999), cet.IV, hal. 2
pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah diterapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne membagi atas lima kategori, yaitu: (a) informasi verbal, (b) keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, (e) keterampilan motoris.
Menurut Dimyati dan Mudjiono, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran. Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tngkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasiifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar akan dipengaruhi oleh beerapa faktor, seperti yang disampaikan oleh Slameto,19 faktor faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. Faktor Internal a. Faktor Jasmaniah
a) Faktor Kesehatan
Proses belajar akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya lemah kurang darah ataupun ada kelainan-kelainan fungsi alat inderanya serta tubuhnya.
Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan badannya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan tentang bekerja, belajar, istirahat, tidur, makan, olahraga, rekreasi dan ibadah.
b) Cacat Tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan.
Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Siswa yang cacat belajarnya juga terganggu. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat
19 Slameto, Op. cit., hal. 54
bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya itu. Kecacatannya itu meliputi: bidang fisik, mental emosi maupun sosial, sehingga menimbulkan akibat hambatan tingkah laku sikap dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.20
b. Faktor Psikologis a) Intelegensi
Secara kasar intelegensi adalah kemampuan untuk memudahkan penyesuaian secara tepat terhadap berbagai segi dari keseluruh lingkungan seseorang.21
Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunnyai tingkat intelegensi yang rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai inteligensi tinggi belum pasti berhasil dalam pembelajarannya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suat proses yang kompleks dengan banyak faktor yang mempengaruhinya, sedangkan inteligensi adalah salah satu faktor di antara faktor lain. Jika faktor lain itu bersifat penghambat/berpengaruh negatif terhadap belajar, akhirnya siswa akan gagal dalam belajarnya.
b) Perhatian
20 Abu Ahmadi dkk., Op. cit., hal. 50
21 Oemar Hamalik, Psikologi Belajar & Megajar (Bandung: Sinar Baru Algensido, 2012) hal. 89
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakanlah pelajaran itu sesuai dengan hobi atau bakatnya.
c) Minat
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar.
d) Bakat
Bakat itu mempengaruhi belajar, jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajar.
e) Motif
Dalam proses pembelajaran haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya mempunyai motif untuk berfikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang
berhubungan/menunjang belajar. Untuk itu motif yang kuat sangat diperlukan dalam belajar, di dalam membentuk motif yang kuat dapat dilaksanakan dengan adanya latihan-latihan /kebiasaan-kebiasaan dan pengaruh lingkungan yang memperkuat, jadi latihan/kebiasaan itu sangat diperlukan dalam belajar.
f) Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Belajarnya akan lebih berhasil jika anak sudah siap (matang).
g) Kesiapan
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi response atau bereaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan, karena kematangan berarti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan.
c. Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis).
2. Faktor Eksternal a. Faktor Keluarga
a) Cara Orang Tua Mendidik
Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anaknya. Hal ini jelas dan dipertegas oleh Sutjipto Wirowidjojo dengan pernyataannya yang menyatakan bahwa:
Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia. Melihat pernyataan diatas, dapatlah dipahami betapa pentingnya peranan keluarga didalam pendidikan anaknya. Cara orang tua mendidik anak-anaknya akan berpengaruh terhadap belajarnya.
b) Relasi Antar Anggota Keluarga
Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak, perlu diusahakan relasi yang baik didalam keluarga anak tersebut.
Hubungan yang baik adalah hubungan yang penuh pengertian dan kasih sayang, disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman- hukuman untuk mensukseskan belajar anak sendiri.
c) Suasana Rumah
Agar anak dapat belajar dengan baik perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tenteram. Di dalam suasana rumah yang tenang dan tenteram selain anak betah tinggal di rumah, anak juga dapat belajar dengan baik.
d) Keadaan Ekonomi Keluarga
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Anak yang sedang belajarselain harus terpeni kebutuhan pokoknya, misal makan, pakaian, perlindungan kesehatan dan lain-lain, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, alat tulis dan buku. Fasilitas belajar itu hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai cukup uang.
e) Pengertian Orang Tua
Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bla anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas di rumah.
Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendorongnya, membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami anak di sekolah.
f) Latar Belakang Kebudayaan
Tingkat penidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar mendorong semangat anak untuk belajar.
b. Faktor Sekolah a) Metode Mengajar
Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa yang tidak baik pula, metode mengajar yang kurang baik itu dapat terjadi misalnya karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut
menyajikannya tidak jelas atau sikap guru terhadap siswa dan atau terhadap mata pelajaran itu sendiri tidak baik, sehingga siswa kurang senang terhadap pelajaran atau gurunya. Akibatnya siswa malas untuk belajar.
b) Kurikulum
Kuriksulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan ini sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan mengembangkan bahan bahan pelajaran itu. Jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa.
c) Relasi Guru dengan Siswa
Di dalam relasi (guru dengan siswa) yang baik, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikannnya sehingga siswa berusahan mempelajari sebaik- baiknya. Hal tersebut juga terjadi sebaliknya, jika siswa membenci gurunya. Ia segan mempelajari mata pelajaran yang diberikannya.
d) Relasi Siwa Dengan Siswa
Siswa yang mempunyai sifat-sifat atau tingkah laku yang kurang menyenangkan teman lain, mempunyai rasa rendah diri atau sedang mengalami tekanan-tekanan batin, akan diasingkan dari kelompok. Jika hal ini terjadi segeralah siswa diberi pelayanan
bimbingan dan penyuluhan agar ia dapat diterima kembali ke dalam kelompoknya.
e) Disiplin Sekolah
Banyak sekolah yang dalam pelaksanaan disiplin kurang, sehingga mempengaruhi sikap siswa dalam belajar, kurang bertanggungjawab, karena apabila tidak melaksanakan tugas, tidak ada sangsi. Hal mana dalam proses belajar, siswa perlu disiplin, untuk mengembangkan motivasi yang kuat.
f) Alat Pelajaran
Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya, maka belajarnya lebih giat dan lebih maju.
g) Waktu Sekolah
Waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, waktu itu dapat pagi hari, siang, sore/malam hari. Waktu sekolah juga mempengaruhi belajar siswa.
h) Standar Pelajaran di Atas Ukuran
Guru berpendirian untuk mempertahankan wibawanya, perlu memberi pelajaran di atas ukuran standar. Akibatnya siswa kurang mampu dan takut kepada guru. Guru dalam menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan kemampuan siswa
masing-masing. Yang penting tujuan yang telah dirumuskan dapat tercapai.
i) Keadaan Gedung
Dengan jumlah siswa yang banyak serta variasi karakteristik mereka masing-masing menuntut keadaan gedung dewasa ini harus memadai di dalam setiap kelas. Bagaimana mungkin mereka dapat belajar dengan enak, kalau kelas itu tidak memadai bagi setiap siswa?
j) Metode Belajar
Banyak siswa melaksanakan cara belajar yang salah. Dalam hal ini perlu pembinaan dari guru. Dengan cara belajar yang tepat, akan efektif pula hasil belajar siswa tersebut. Juga dalam pembagian waktu untuk belajar.
k) Tugas Rumah
Waktu belajar adalah di sekolah, waktu di rumah biarlah digunakan untuk kegiatan-kegiatan lain. Maka diharapkan guru jangan terlalu banyak memberi tugas yang harus dikerjakan di rumah, sehingga anak tidak mempunyai waktu lagi untuk kegiatan yang lain.
c. Faktor Masyarakat
a) Kegiatan Siswa dalam Masyarakat
Perlu kiranya membatasi kegiatan siswa dalammasyarakat supaya jangan sampai mengganggu belajarnya. Jika mungkin memilih
kegiatan yang mendukung belajarnya. Kegiatan tersebut misalnya kursus bahasa inggris dan kelompok diskusi.
b) Mass Media
Yang terasuk dalam mass media adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, majalah, buku-buku, komik-komik dan lain-lain. Mass media yang baik memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya mass media yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap siswa.
c) Teman Bergaul
Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka perlu diusahakan agar siswa memiliki tempat bergaul yang baik-baik dan pembinaan pergaulan yang baik serta pengawasan dari orang tua dan pendidikan harus cukup bijaksana (jangan terlalu ketat tetapi juga jangan terlalu lengah).
d) Bentuk Kehidupan Masyarakat
Kehidupan masyarakat di sekitar siswa juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Anak/siswa tertarik untuk ikut berbuat seperti yang dilakukan orang-orang di sekitarnya.
Menurut Drs. Soemadi Soerjabrata di dalam bukunya ”Pychologi Pendidikan,” Jilid II, mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar:22
a. Faktor Internal
22 Dewa Ketut Sukardi, Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah, (Surabaya: Usaha Nasional,1984), hal. 30
1. Faktor-faktor Non Sosial
Yang dapat di kelompokkan ke dalam faktor-faktor Non Sosial dalam belajar misalnya: keadaan udara, cuaca, waktu (pagi hari atau siang hari, ataupun malam), tempat atau letak gedungnya, alat-alat yang dipakai untuk belajar seperti alat tulis menulis, buku-buku, dan alat-alat peraga.
2. Faktor-faktor Sosial
Yang dimaksud dengan faktor sosial adalah faktor manusia atau sesama manusia, baik manusia itu ada atau hadir maupun kehadirannya itu dapat disimpulkan.
Kehadirannya orang atau orang-orang lain pada waktu seseorang sedang belajar, seringkali mengganggu aktivitas belajar, misalnya:
kalau satu kelas murid sedan mengerjakan ujian lalu terdengar banyak anak-anak lain berbincang-bincang di samping kelas.
b. Faktor Eksternal
1. Faktor-faktor Fisiologis 1) Kondisi Jasmani
a) Cukupnya Nutrisi
Disebabkan karena kekurangan kadar makanan atau tidak memenuhi gizi makanan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh fisik, dapat mengakibatkan seperti cepat mengantuk, lesu, cepat lelah dan secara keseluruhan tidak adanya kegairahan untuk belajar.
b) Beberapa penyakit yang chronis
Seperti pilek, sakit gigi, dan lain sebagainya sangat mempengaruhi kegiatan belajar seseorang.
2) Keadaan Fungsi-fungsi jasmani tertentu
Panca indera dapat diumpamakan sebagai pintu gerbang masuknya pengaru luar ke dalam diri seseorang yang belajar.
Baik tidak berfungsinya panca indera merupakan syarat mutla untuk bisa tidaknya seserang dengan baik dalam kegiatan belajar.
2. Faktor-faktor Psikologis
Menurut Arden N. Frasden Suatu hal yang mendorong kegiatan belajar:
a) Adanya sifat ingin tahsu dan ingin menyelidiki dunia yang leih luas
b) Adanya sifat kreatif yang ada pada manusia c) Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan d) Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman
e) Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akibat dari pada pelajar.
C. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah untuk menjelaskan, mengungkapkan dan menunjukkan keterlibatan antara variabel yang akan diteliti berdasarkan batasan-batasan dan rumusan masalah.
Indikator pencapaian kualitas pendidikan di SMK terlihat dari kompetensi yang dikuasai oleh peserta didik. Tingkat pencapaian kompetensi yang dikuasai peserta didik tersebut dapat dilihat dan diukur melalui uji kompetensi keahlian (UKK). UKK yang dilaksanakan di SMK di Tuangkan dalm bentk soal eori kejuruan dan praktek kejuruan yang sesuai dengan kriteria kinerja.
Standar yang ditetapkan BSNP untuk nilai kompetensi keahlian kejuruan adalah gabungan antara nilai ujian praktek keahlian kejuruan dan nilai ujian teori kejuruan dengan pembbotan 70% untuk nilai praktek 30%
untuk nilai uian teori. Jelas disini bahwa pembelajaran praktek seharusnya lebih di utamakan bagi siswa yang menempuh pendidikan sekolah menengah kejuruan. Ujian praktek kejuruan dinyatakan kompeten atau lulus jika minimaln 7,00. Usaha yang dilakukan untuk mencapai angka ketuntasan tersebut adalah melalui proses pembelajaran praktek yang efektif disekolah.
Dalam mempelajari materi tentunya siswa harus mempunyai buku pelajaran, baik berupa buku paket dari sekolah maupun buku-buku penunjang lainnya yang masih relevan digunakan sebagai acuan untuk belajar. Dengan adanya kesiapan belajar siswa akan termotivasi untuk mengoptimalkan hasil belajarnya. Kesiapan belajar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan seorang siswa. Jika siswa sudah merasa siap baik seacra fisik, mental, dan peralatan dalam proses pembelajaran maka akan berdampak positif pada hasil yang akan dicapai. Sementara itu jika siswa tidak siap dalam mengikuti proses pembelajaran maka hal ini akan mengganggu dalam
kegiatan pembelajaran dan berdampak pada hasil belajar yang kurang memuaskan.Konsep yang di peroleh siswa melalui pembelajaran di dalam kelas yang nantinya akan menjadi bekal kuat bagi siswa dalam mencapai prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Disinilah terjadinya hubungan timbal balik antara mahasiswa dan kesiapan. Siswa mempunyai kebutuhan untuk memperoleh keterampilan dan kebutuhan tersebut, sedangkan kesiapan membutuhkan siswa untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik agar diperoleh manfaat dalam kontribusinya untuk meningkatkan hasil belajar siswa di sekolah. Hal ini dapat dinilai dari sejauh mana kesiapan untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran agar dicapai keselarasann dan keseimbangan dalam proses belajar mengajar.
Guru memiliki tanggung jawab untuk bisa mengelola, membagi dan mengatur proses pembelajaran sedemikian rupa agar siswa memperoleh keselarasan antara teori dan praktek sesuai dengan kapasitas dan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian memaksimalkan kesiapan belajar secara efektif dan efisien dalam proses pembelajaran dapat diduga mampu membantu siswa dalam memahami konsep teori yang diberikan guru di dalam kelas sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Gambar 2.1. Bagan Kerangka Berfikir
D. Penelitian Relevan
Pengaruh motivasi belajar, kesiapan belajar dan lingkungan keluarga terhadap hasil belajar akuntansi siswa kelas XI akuntansi SMK Teuku Umar Semarang, Ika Nur Atmawati, 2013. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh motivasi belajar, kesiapan dan lingkungan keluarga terhadap hasil belajar akuntansi siswa kelas XI Akuntansi SMK Teuku Umar Semarang Tahun Ajaran 2012/2013.
Pengaruh kesiapan belajar terhadap hasil belajar peserta didik program paket C, (studi di pusat kegiatan belajar masyarakat sunan drajat kecamatan paciran kabupaten lamongan), Khalif Ashhabul Umam, 2015. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diperoleh hasil yaitu skor Fhitung= 45,247 lebih besar dari Ftabel= 3,99 pada taraf signifikansi 0,05. Sehingga hipotesis nol (H0) ditolak dengan kata lain ada pengaruh kesiapan belajar terhadap hasil belajar.
Kesiapan Belajar Meningkatkan keterampilan dalam
pemrograman
dasar pada
pembelajaran pemrograman dasar
Hasil Belajar (Tes/
Ulanga n Harian Praktek )
Aspek Kesiapan Belajar:
a. Kondisi fisik, mental dan emosional
b. Kebutuhan, motif dan tujuan
c. Keterampilan dan pengetahuan
E. Hipotesis Penelitian
Menurut Sekaran (2005), mendefinisikan hipotesis sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis diantara dua atau leih variabel yang diungkap dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji. Hipotesis merupakan jawaban sementara atas pertanyaan penelitian.23
Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian, yaitu:
Ha : Terdapat pengaruh kesiapan belajar terhadap hasil belajar siswa kelas X SMK Muhammadiyah Bukittinggi.
Ho : Tidak terdapat pengaruh kesiapan belajar terhadap hasil belajar siswa kelas X SMK Muhammadiyah Bukittinggi.
23 Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2011), cet ke-1, hal. 79
44 A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli, dimana penulis mengumpulkan data siswa dan hasil belajar siswa. Kemudian diolah dan melakukan penelitian agar dapat mengetahui sejauh mana pengaruh kesiapan belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran pemrograman dasar SMK Muhammadiyah Bukittinggi. Pengumpulan data yang dibutuhkan tersebut dilakukan pada bulan Mei yang telah ditentukan, kemudian dilakukan sebuah pelaksanaan penelitian dalam bentuk tes sehingga dapat dilaksanakan pengaruh dari hasil belajar siswa.
Adapun lokasi yang penulis tentukan dalam penelitian ini adalah di SMK Muhammadiyah Bukittinggi. Alasan penulis mengambil lokasi ini karena penulis menemukan gejala atau fenomena yang menjadi permasalahan perlu untuk diteliti dan perlu penyelesaian secara ilmiah.
B. Jenis Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional. Penelitian korelasional yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara dua atau beberapa variabel.1 Sifat penelitian ini adalah Ex Post Facto.
Penelitian Ex Post Facto adalah penyelidikan empiris yang sistematis dimana ilmuan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksitensi
1AnasSujiono.PengantarStatistikPendidikan. (Jakarta: Raja GrafindoPersada, 1998).h.162
dan variabel tersebut telah terjadi, atau karena variabel tersebut pada dasarnya tidak dapat dimanipulasi.2
C. Variabel, Data dan Sumber Data Penelitian 1. Variabel
Menurut Nanang Martono variabel penelitian yaitu konsep yang memiliki variasi atau memiliki lebih dari satu nilai. Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka macam-macam variabel dalam penelitian dibedakan menjadi:3
a. Variabel Independen
Variabel ini sering disebut variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi variabel lain atau menghasilkan akibat pada variabel yang lain, yang pada umumnya berada dalam urutan tata waktu yang terjadi lebih dulu. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah ”Kesiapan Belajar” disimbolkan dengan variabel
“X”.
b. Variabel Dependen
Variabel ini disebut variabel terikat atau variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Menjadi variabel dependen adalah ”Hasil Belajar” yang biasanya disimbolkan dengan variabel “Y”.
2 Emzir.MetodologiPenelitianKuantitatifdanKualitatif.(Jakarta: PT Raja GrafindoPersada, 2012). h.119
3 Nanang Martono, Metode Penelitian Kuantitatif, (Jakarta: Raja Grafindo, 2014), cet ke-4, hal. 61
Berikut adalah skema atau gambaran hubungan kedua variabel.
KESIAPAN BELAJAR HASIL BELAJAR Variabel Independent Variabel Dependent
Gambar 3.1: Skema Hubungan Kedua Variabel 2. Data
Jenis data penelitian ini adalah :
a. Data primer yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti. Data primer dalam penelitian ini merupakan data skor angket pengaruh kesiapan belajar dan nilai ujian semester genap siswa yang berada pada kelas X SMK Muhammadiyah Bukittinggi.
b. Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung melalui dokumen-dokumen atau data yang diarsipkan.
3. Sumber Data
a. Data primer bersumber dari kelas X SMK Muhammadiyah Bukittinggi, yang menjadi sampel pada penelitian, setelah pelaksanaan penelitian.
b. Data sekunder bersumber dari tata usaha dari guru bidang studi Pemrograman Dasar kelas X SMK Muhammadiyah Bukittinggi
D. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan keseluruhan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian.4 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMK Muhammadiyah yang terdiri dari 2 kelas.
4 Nanang Martono, Op. cit., hal. 76
Sampel merupakan anggota populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasi.5 Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan census sampling adalah teknik penentuan sampel dengan menggunakan semua anggota populasi sebagai sampel.6 Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto, jika subjeknya kurang dari 100 orang sebaiknya diambil semuanya, jika subjeknya besar atau lebih dari 100 orang dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih. Pada penelitian ini jumlah populasi adalah sebanyak 30 peserta didik atau kurang dari 100 orang maka seluruh populasi juga merupakan sampel dengan demikian jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 30 peserta didik yang terdiri dari 14 orang kelas TKJ 1 dan 16 orang kelas TKJ 2.
Tabel 3.1 Jumlah Populasi dan Sampel No Kelas Popolasi Sampel
1 TKJ 1 14 14
2 TKJ 2 16 16
Jumlah 30 30
E. Prosedur Penelitian
Secara umum prosedur penelitian dibagi tiga tahap, yaitu : 1. Tahap persiapan
a. Melakukan observasi awal untuk mengumpulkan data.
5 Nanang Martono, Op. cit., hal. 76
6 Nanang Martono, Op. cit., hal. 81
b. Menentukan jadwal penelitian.
c. Mempersiapkan instrument angket yang akan bias digunakan untuk penelitian, berupa angket pengaruh kesiapan belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pemrograman Dasar kelas X SMK Muhammadiyah Bukittinggi.
d. Memvalidasi instrument yaitu pengaruh kesiapan belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pemrograman Dasar kelas X SMK Muhammadiyah Bukittinggi kepada Bapak Zelri Naldi, S. S. T, Bapak Afdhal Yunaedi SapIbuutra, S. Pd, dan Ibu Azizah Rahmawati, S. Pd.
e. Mengurus surat-surat untuk proses perizinan penelitian.
f. Mempersiapkan hal-hal lainnya yang dirasa perlu dan dapat menunjang penelitian, seperti waktu, kesempatan dan data.
2. Tahap pelaksanaan
a. Memberikan uji coba angket.
b. Menganalisis hasil angket uji coba.
3. Memberikan angket pada siswa yang menjadi sampel penelitian.
4. Tahap penyelesaian
a. Mengolah data yang didapatkan selama penelitian.
b. Meminta surat keterangan bahwa sudah siap melaksanakan penelitian kepada pihak sekolah.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan