• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIDAKTIKA PGRI, 8 (1), MEI 2022, ISSN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DIDAKTIKA PGRI, 8 (1), MEI 2022, ISSN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN STRATEGI SINGLE INPUT MULTIPLE OUTPUT SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI DALAM MEMBUAT RPP

TEMATIK TERPADU BAGI GURU SD NEGERI 3 PASEDAN KECAMATAN BULU KABUPATEN REMBANG SEMESTER 1

TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Kusaeni

*)

Kepala SD Negeri 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang

*)E-mail: [email protected]

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana penerapan strategi Single Input Multiple Output dengan Pendekatan Saintifik dapat meningkatkan kompetensi guru dalam membuat RPP Tematik Terpadu bagi guru SD Negeri 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui strategi Single Input Multiple Output dapat meningkatkan kompetensi guru dalam membuat RPP Tematik Terpadu dengan pendekatan Saintifik. Hal ini ditandai dengan tertingkatnya kompetensi guru dalam membuat RPP Tematik Terpadu secara signifikan dalam setiap siklusnya. Dari kondisi prasiklus penilaian terhadap hasil RPP Tematik Terpadu sebesar rata- rata 66,00% pada siklus I menjadi sebesar 74,57% dan pada siklus II menjadi 85,14%.

Dalam proses pembuatan RPP Tematik Terpadu aktivitas guru juga mengalami peningkatan dari skor 65,80% pada kondisi prasiklus, menjadi 74,20% pada siklus I dan menjadi 80,40% pada siklus II. Kesimpulan penerapan startegi Single Input Multiple Output dapat meningkatkan kompetensi guru dan aktivitas guru dalam membuat RPP Tematik Terpadu. Saran yang diberikan adalah strategi Single Input Multiple Output perlu terus ditingkatkan karena sangat efektif dalam meningkatkan kompetensi guru membuat RPP Tematik Terpadu dengan pendekatan saintifik. Selain itu diharapkan guru juga perlu meningkatkan kompetensinya agar dapat mengikuti perkembangan zaman dan menjalankan tugasnya secara profesional.

Kata kunci: Single Input Multiple Output, kompetensi, RPP Tematik Terpadu

Abstract

The purpose of this study was to determine the extent to which the implementation of the Single Input Multiple Output strategy with a scientific approach can improve the competence of the teacher in making an Integrated Tematic RPP for Teacher SD Negeri 3 Pasedan, Feather Subdistrict, Rembang Regency, the 1st Semester of the Year 2019/2020. The results showed that through a multiple output single input strategy can improve the competence of teachers in making an integrated thematic RPP with a scientific approach. This was marked by the competence of the teacher's competence to make an integrated retired RPP significantly in each cycle. From the condition of the prayer assessment of the results of the Integrated Thematic RPP at an average of 66.00% in the first cycle to 74.57% and in the second cycle to 85.14%. In the process of making the Integrated Thematic RPP teacher activity also increased from a score of 65.80%

in the condition of the prucyclic, to 74.20% in the first cycle and to 80.40% in the second cycle. Conclusions The application of Single Startegi input multiple output can improve teacher's competence and teacher activity in making an integrated thematic RPP. The advice given is a multiple output single input strategy needs to be continuously improved because it is very effective in increasing the competence of the teacher to make an integrated English RPP with a scientific approach. In addition, it is expected that teachers also need to increase their competence in order to keep up with the times and carry out their duties professionally.

Keywords: single input multiple output, competence, integrated thematic RPP

1. Pendahuluan

Pada tahun pelajaran 2019/2020 SD Negeri 3 Pasedan di Kecamatan Bulu diberi kesempatan melaksanakan Kurikilum 2013 semua kelas secara penuh. Kepala

sekolah sudah diberi pembekalan lebih dahulu sekaligus sebagai tim pendamping Kurikulum 2013, maka dipilih strategi Single Input Multiple Output. Dalam pelaksanaan strategi tersebut, Kepala Sekolah bertindak sebagai trainers dan para guru menerima pelatihan membuat RPP

(2)

tematik terpadu. Kepala Sekolah juga menerima konsultasi dari salah seorang guru kemudian guru yang telah membuat RPP memberikan penularan kepada guru yang lain. Sehingga semua guru di sekolah dapat dibantu dalam membuat RPP Tematik Terpadu.

Bila dianalisis dengan cermat, RPP yang disusun oleh guru di SD Negeri 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang ada beberapa masalah. Penjabaran kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran banyak yang tidak sinkron. Pemetaan langkah kegiatan pembelajaran belum sepenuhnya menggambarkan metode yang diterapkan. Penilaian belum mencakup semua Kompetensi Inti, masih didominasi oleh KI 3 dan KI 4 serta belum mencantumkan refleksi, remedial dan pengayaan. Hal itu terjadi karena guru di SD Negeri 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang belum sepenuhnya memahami tentang cara membuat RPP tematik terpadu sesuai kurikulum 2013.

Berdasarkan hasil penilaian RPP yang telah dibuat oleh guru memperoleh skor rata-rata sebesar 66,00% dan aktivitas guru memperoleh skor sebesar 65,80%. Kondisi tersebut menunjukkan guru membutuhkan bimbingan untuk membuat RPP dengan aktivitas yang tinggi sehingga menghasilkan RPP yang baik. Dengan membuat RPP, guru mempunyai persiapan yang mantap sehingga pembelajaran akan berjalan baik. RPP yang baik harus mencerminkan prinsip dan pedoman penyusunan perencanaan sesuai dengan standar proses pendidikan.

Karena RPP merupakan komponen yang sangat krusial bagi proses pembelajaran maka harus ada tindakan dari Kepala Sekolah untuk membantu guru membuat RPP Tematik Terpadu sesuai dengan standar proses pendidikan.

Untuk mengatasi keterbatasan guru SDN 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang dalam membuat RPP tematik terpadu yang terhitung masih baru, maka dilaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS).

Tindakan yang akan dilakukan adalah menerapkan strategi Single Input Multiple Output dalam membuat RPP Tematik Terpadu. Dengan strategi Single Input Multiple Output diharapkan semua guru SD Negeri 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang dapat membuat RPP tematik terpadu dengan baik dan benar sehingga proses pembelajaran yang diharapkan dapat berjalan dengan baik.

Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk meningkatkan kompetensi guru dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Terpadu melalui penerapan strategi Single Input Multiple Output di SD Negeri 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020. 2) Untuk meningkatkan aktivitas guru dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Terpadu melalui penerapan strategi Single Input Multiple Output di SD Negeri 3

Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020.

2. Materi dan Metode 2.1. Materi

2.1.1. Tinjauan Tentang Single Input Multiple Output Menurut Wahidmurni (2016: 136) ”Single Input Multiple Output, merupakan salah satu strategi belajar yang menggunakan satu masukan atau satu informasi menghasilkan banyak keluaran atau hasil karya”. Masih menurut Wahidmurni (2016: 140) Single input yang dimaksud adalah melalui satu informasi utuh tentang pembuatan RPP Tematik Tepadu yang diberikan oleh kepala sekolah kepada semua guru. Multiple output adalah kegiatan yang dilaksanakan guna menghasilkan banyak keluaran atau banyak produk karya, yang merupakan inti dari semua kegiatan.” Pada kegiatan ini semua guru akan bekerja sesuai tugas masing-masing hingga menghasilkan karya RPP tematik terpadu yang berbeda. Strategi ini dapat digunakan dalam suatu kelas rangkap atau multigrade, apabila jumlah siswa pada satu sekolah kurang dari 60 siswa sementara tenaga guru sangat kurang.

Strategi Single Input Multiple Output menurut Trianto (2012: 12) bertujuan:

a. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Peserta berlatih berfikir kritis dan kreatif karena hanya dengan mendapat satu informasi harus dapat mengolah menjadi banyak produk.

b. Menciptakan interaksi antar peserta. Peserta dapat bertukar informasi untuk menciptakan karya terbaik.

c. Mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan.

Bekerja dalam satu naungan yang sama akan terjadi sharing pendapat, suasana tidak kaku lebih bersahabat dan kompak.

d. Meningkatkan motivasi dan budaya belajar berkesinambungan. Hal ini bisa mengeksplorasi permasalahan yang dihadapi di lapangan sehingga dapat mencari solusi secara bersama-sama.

Adapun langkah startegi Single Input Multiple Output menurut Rusman (2014: 132) sebagai berikut:

a. Penyaji menyampaikan Single Input (satu masukan) mengenai cara penyusunan RPP tematik terpadu yang meliputi komponen: kompetensi inti, kompetensi dasar dan indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media dan sumber pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, serta penilaian.

b. Guru membuat RPP tematik terpadu, sesuai kelas masing-masing sehingga menghasilkan Multiple Output (banyak keluaran).

c. Guru mempresentasikan hasil RPP tematik terpadu sesuai bidang tugas atau kelas masing-masing.

Keunggulan menggunakan strategi Single Input Multiple Output menurut Trianto (2012: 42) adalah (1) Satu

(3)

kegiatan pemaparan mendapatkan banyak produk atau hasil karya, (2) Lebih efektif karena guru bekerja sesuai bidang tugasnya, (3) Guru menjadi terbiasa berfikir kritis dan kreatif. Sedang kelemahan strategi Single Input Multiple Output masih menurut Trianto (2012: 43) kegiatan pemaparan akan terasa percuma bila guru tidak menghasilkan karya yang banyak karena kurang terbiasa kreatif.

2.1.2. Kompetensi Guru

Kompetensi merupakan perilaku rasional guna mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Hal ini sesuai pendapat dari Johnson (dalam Surya, 2013: 227) yaitu competency as rational performance which satisfactorily meets the objective for a desired condition. Menurut Finch dan Crunhilton (dalam Mulyasa, 2010: 38) bahwa yang dimaksud kompetensi adalah penguasaan terhadap tugas ketrampilan sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan.

Kompetensi dimaknai pula sebagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi dapat pula dimaksudkan sebagai kompetensi melaksanakan tugas yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau latihan (Herry, 2012: 45). Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi adalah pengetahuan, ketrampilan, dan nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak guna mencapai tujuan yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan.

Menurut Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 disebutkan standar kompetensi guru ada empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Secara rinci kompetensi guru mencakup:

a. Kompetensi paedagogik merupakan kompetensi guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik meliputi: pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum/silabus, perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

b. Kompetensi kepribadian adalah tingkah laku guru dianggap mempunyai pribadi yang ideal sehingga menjadi panutan atau model, antara lain: bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan, mengembangkan sifat terpuji sebagai guru, bersifat demokratis dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik dan berwibawa, arif bijaksana, mantap dan stabil.

c. Kompetensi profesional adalah kompetensi yang berhubungan dengan penyelesaian tugas keguruan,

antara lain: menguasai landasan kependidikan, misalnya paham akan tujuan pendidikan baik tujuan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan pembelajaran, pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, penguasaan materi, mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran, merancang dan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar, melaksanakan evaluasi pembelajaran, menyusun program pembelajaran, melaksanakan unsur penunjang, misalnya:

administrasi sekolah, bimbingan, dan melaksanakan penelitian dan berpikir ilmiah untuk meningkatkan kinerjanya.

d. Kompetensi sosial berhubungan dengan guru sebagai makhluk sosial dan anggota masyarakat dalam rangka pelaksanaan proses pembelajaran yang efektif, meliputi: berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kompetensi profesionalnya, mengenal dan memahami fungsi-fungsi setiap lembaga kemasyarakatan dan menjalin kerjasama baik secara individual maupun kelompok dengan sesama guru, wali murid, masyarakat secara umum dan stakehoder pendidikan.

2.1.3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Sebelum melaksanakan pembelajaran guru perlu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau yang basa disebut RPP, sehingga pelaksanaan pembelajaran lebih terarah untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. RPP adalah program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kegiatan proses pembelajaran (Wahidmurni, 2016: 263).

Menurut Permendikbud Nomor 22 tahun 2016 bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran siswa dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.

Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran terdiri atas:

a. Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;

Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;

Kelas/semester; Materi pokok; Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai.

(4)

b. Kompetensi Inti (KI), merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari siswa untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran dan kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi.

c. Kompetensi Dasar; merupakan kemampuan spesifik yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan yang terkait muatan atau mata pelajaran.

d. Indikator pencapaian merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa, satuan pendidikan, dan potensi daerah. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. Dalam merumuskan indikator perlu memperhatikan beberapa hal: (a) keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata kerja yang digunakan dalam KI- KD; (b) indikator dimulai dari tingkatan berpikir mudah ke sukar, sederhana ke kompleks, dekat ke jauh, dan dari konkrit ke abstrak (bukan sebaliknya), (c) indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan siswa dan indikator harus dapat menggunakan kata kerja operasional.

e. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

f. Materi pembelajaran adalah rincian dari materi pokok yang memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi.

g. Metode pembelajaran merupakan rincian dari kegiatan pembelajaran, digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai.

h. Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran.

Alat pembelajaran adalah alat bantu pembelajaran;

yaitu alat bantu pembelajaran yang memudahkan memberikan pengertian kepada siswa dan sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan.

i. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran, mencakup:

pertemuan pertama, berisi pendahuluan; kegiatan Inti, dan penutup, pertemuan kedua, berisi pendahuluan, kegiatan inti dan penutup.

j. Penilaian mencakup: berisi jenis/teknik penilaian, bentuk instrumen dan pedoman perskoran.

Prinsip dalam menyusun RPP menurut Permendikbud nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses adalah:

a. RPP disusun guru sebagai terjemahan dari ide kurikulum dan berdasarkan silabus yang telah dikembangkan di tingkat nasional ke dalam bentuk rancangan proses pembelajaran untuk direalisasikan dalam pembelajaran.

b. RPP dikembangkan guru dengan menyesuaikan apa yang dinyatakan dalam silabus dengan kondisi di satuan pendidikan baik kemampuan awal siswa, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan siswa, mendorong partisipasi aktif siswa. sesuai dengan tujuan Kurikulum 2013 untuk menghasilkan siswa sebagai manusia yang mandiri dan tak berhenti belajar.

c. RPP dirancang dengan berpusat pada siswa untuk mengembangkan motivasi, minat, rasa ingin tahu, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, semangat belajar, keterampilan belajar dan kebiasaan belajar, mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung.

d. RPP dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan, memberikan umpan balik dan tindak lanjut.

e. RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.

Pemberian pembelajaran remidi dilakukan setiap saat setelah suatu ulangan atau ujian dilakukan, hasilnya dianalisis, dan kelemahan setiap siswa dapat teridentifikasi. Pemberian pembelajaran diberikan sesuai dengan kelemahan siswa, keterkaitan dan keterpaduan.

f. RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara KI dan KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar dalam kesatuan pengalaman belajar.

g. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas matapelajaran untuk sikap dan keterampilan, dan keragaman budaya, menerapkan teknologi informasi dan komunikasi dan RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

2.1.4. Tinjauan RPP Tematik Terpadu

RPP tematik terpadu adalah RPP terpadu antarmata pelajaran yang menggunakan tema. Pembelajaran dalam RPP tersebut memberikan pengalaman bermakna kepada siswa secara utuh. Dalam pelaksanaannya pelajaran yang diajarkan oleh guru di Sekolah Dasar diintegrasikan melalui tema yang telah ditetapkan.

(5)

Pengembangan RPP dapat dilakukan pada setiap awal semester atau awal tahun pelajaran dengan maksud agar RPP telah tersedia terlebih dahulu dalam setiap awal pelaksanaan pembelajaran. Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh guru secara individu maupun berkelompok dalam kelompok kerja guru (KKG) di gugus sekolah, di bawah koordinasi dan supervisi oleh pengawas atau dinas pendidikan. Kurikulum 2013 untuk SD menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif dari kelas I sampai kelas VI.

Pengembangan RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik atau disebut dengan RPP Tematik.

Penyusunan RPP Tematik idealnya dilakukan dengan tahapan: menentukan tema yang akan dikaji bersama siswa; memetakan KD dan indikator yang akan dicapai dalam tema- tema yang telah disepakati; menetapkan jaringan tema; menyusun Silabus Tematik; dan menyusun RPP pembelajaran tematik.

Dalam implementasi Kurikulum 2013, tema tidak dinegosiasikan dengan siswa, tetapi sudah ditetapkan oleh pemerintah, bahkan silabus tematik, buku guru, dan buku siswa telah disediakan oleh pemerintah. Untuk keperluan penerapan Pembelajaran Tematik Terpadu di kelas, guru dapat mengembangkan RPP Tematik dengan memperhatikan silabus tematik, buku guru, dan buku siswa yang telah tersedia serta mengacu pada format dan sistematika RPP yang berlaku.

RPP tematik adalah rencana pembelajaran tematik terpadu yang dikembangkan secara rinci dari suatu tema dengan tahapan berikut:

a. Mengkaji Silabus Tematik. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran atau tema tertentu dalam pelaksanaan kurikulum sekolah dasar.

Komponen silabus mencakup: kompetensi inti, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus berfungsi sebagai rujukan bagi guru dalam Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Pada Kurikulum 2013, silabus tematik telah disiapkan dan guru menggunakan sebagai dasar penyusunan RPP. Guru memilih kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tema yang akan dilaksanakan pada satu pertemuan atau lebih.

b. Mengkaji Buku Guru. Buku guru berisi tentang:

standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Kompetensi Inti (KI), Pemetaan Kompetensi Dasar 1, 2, 3 dan 4, ruang lingkup pembelajaran untuk satu sub tema yang terdiri dari 6 pembelajaran dalam 1 minggu (untuk kelas I), pemetaan indikator pembelajaran untuk setiap pembelajaran, setiap pembelajaran berisi tentang uraian kegiatan pembelajaran yang mencakup: nama kegiatan, tujuan pembelajaran, media dan alat pembelajaran, langkah-langkah kegiatan dan penilaian setiap akhir pembelajaran.

c. Mengkaji Buku Siswa. Buku Seri Pembelajaran Tematik terpadu untuk siswa disusun mengacu pada kurikulum berbasis kompetensi dan berbasis aktivitas.

Di dalamnya memuat urutan pembelajaran yang dinyatakan dalam kegiatan yang harus dilakukan siswa. Buku siswa mengarahkan kepada siswa bersama guru untuk mencapai kompetensi, bukan buku yang materinya dibaca, diisi, atau dihafal. Buku siswa merupakan buku panduan sekaligus buku aktivitas yang akan memudahkan para siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Buku siswa dilengkapi dengan penjelasan lebih rinci tentang isi dan penggunaan seperti dalam Buku Guru. Kegiatan pembelajaran yang ada di buku siswa lebih merupakan contoh kegiatan yang dapat dipilih guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk mencapai kompetensi. Guru diharapkan mampu mengembangkan ide kreatif lebih lanjut dengan memanfaatkan alternatif kegiatan atau mengembangkan ide pembelajaran. Beberapa catatan yang berkaitan dengan buku guru, buku siswa, dan sistematika RPP adalah sistematika RPP berbeda dengan sistematika urutan pada buku guru dan buku siswa, metode pembelajaran belum disajikan secara eksplisit dalam buku guru dan bku siswa, cakupan materi sangat luas berbasis aktivitas, kegiatan pembelajaran belum terinci, pendahuluan, inti, dan penutup.

d. Menentukan Alokasi Waktu. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai KD yang dibutuhkan.

Oleh karena itu, alokasi tersebut dirinci dan disesuaikan lagi di RPP.

e. Menentukan Sumber Belajar. Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak atau elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial dan budaya.

2.2. Metode

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan pada Guru SD Negeri 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang dengan jumlah PTK 8 orang terdiri dari 6 orang guru kelas, 1 orang guru PJOK , 1 orang guru PAI. Dalam penelitian ini difokuskan pada 2 orang guru kelas yaitu guru kelas I dan guru kelas IV, serta 1 orang guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang telah mengikuti Pelatihan Kurikulum 2013. Sasaran penelitian ini adalah penyusunan RPP Tematik Terpadu sesuai dengan kurikulum 2013.

Penelitian dilaksanakan pada Semester 1 tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2019 s.d Oktober 2019. Data penelitian ini adalah: hasil penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik terpadu yang dikerjakan oleh guru kelas 1, guru kelas IV dan guru PJOK; dan hasil pengamatan terhadap aktivitas

(6)

guru dalam mengikuti Single Input Multiple Output untuk penyusunan RPP tematik terpadu.

Sumber data penelitian adalah penerapan strategi Single Input Multiple Output dalam membimbing guru untuk menyusun RPP dan aktivitas guru dalam penyusunan RPP.

Teknik Pengumpulan Data, melalui:

a. Observasi. Observasi adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk mengamati, merekam, dan mendokumentasikan setiap indikator dari proses dan hasil yang dicapai. Kegiatan penelitian ini menggunakan observasi terstruktur. Menurut Triyanto (2012: 98) bahwa observasi terstruktur adalah pengamatan menggunakan instrumen observasi yang terstruktur dan siap pakai pengamat hanya membubuhkan tanda (√) chek list. Tujuan utama dari observasi ini adalah untuk memantau persiapan, proses, hasil, dan dampak perbaikan dari tindakan setiap siklus.

b. Wawancara, meliputi diskusi formal dan dialog informal selama berlangsungnya Single Input Multiple Output dalam Penelitian Tindakan Sekolah antara peneliti dengan Guru SDN 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang. Hal ini untuk mengetahui pikiran atau pendapat guru secara individual yang tidak dapat digali melalui observasi.

c. Studi Dokumenter. Studi dokumenter diartikan sebagai usaha untuk memperoleh data dengan jalan menelaah catatan yang disimpan sebagai dokumen atau files. Teknik ini ditempuh untuk memperoleh data mengenai RPP Tematik Terpadu yang disusun oleh guru.

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah:

a. Lembar Pengamatan Aktivitas Guru selama kegiatan Single Input Multiple Output untuk penyusunan RPP Tematik Terpadu.

b. 2.Lembar Penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik Terpadu.

Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan:

a. Analisis data kualitatif digunakan untuk menjelaskan aktivitas guru dalam menyusun RPP tematik terpadu.

b. Analisis data kuantitatif digunakan untuk mengetahui keberhasilan guru dalam menyusun RPP Tematik Terpadu.

Hasil analisis disajikan secara deskriptif komparatif, perbandingan antara hasil penelitian setiap siklus.

3. Hasil dan Pembahasan 3.1. Deskripsi Kondisi Awal

Tahap Perencanaan. Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat tindakan penelitian yang terdiri dari rencana, dan instrument penelitian Prasiklus yang

mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi aktivitas pembelajaran guru. Adapun data hasil penelitian pada prasiklus adalah seperti pada tabel berikut:

Tabel 1. Distribusi Nilai Aktivitas Guru Kondisi Prasiklus

No Aspek yang diamati Jumlah

Guru Rata

Skor Keberha Silan (%) 1 Antusiasme guru dalam membuat RPP 3 3,30 66,00 2 Tingkat perhatian guru dalam kegiatan 3 3,60 72,00 3 Keberanian mengajukan pertanyaan 3 3,00 60,00

4 Keberanian menjawab pertanyaan 3 3,40 68,00

5 Keberanian mengemukakan pendapat 3 3,00 60,00

6 Kemampuan bekerjasama 3 3,60 72,00

7 Keberanian tampil di depan 3 3,70 74,00

8 Ketuntasan menyelesaiakan tugas 3 3,00 60,00

9 Kemauan mencatat hal yang dianggap

penting 3 3,30 66,00

1

0 Ketekunan dalam mengikuti kegiatan 3 3,00 60,00

Jumlah 32,9 658

Prosentase = 658% : 10 = 65,80 %

Berdasarkan data di atas, menujukkan bahwa aktivitas guru rata-rata skor sebesar 65,80%. Ini berarti aktivitas guru masih rendah atau di bawah indikator. Hal ini, disebabkan karena ada guru yang belum memperoleh pelatihan kurikulum 2013.

Adapun penilaian terhadap proses pembuatan RPP Tematik Terpadu menggunakan lembar penilaian, meliputi 7 aspek, yaitu:

Kelengkapan komponen, Tujuan pembelajaran dirumuskan dengan jelas sehingga tidak menimbulkan tafsiran ganda, menggunakan katakerja operasioanal, Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relafan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi, Metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, Kegiatan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan penutup, Penilaian otentik meliputi sikap spiritual,sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan,

Penentuan sumber belajar didasarkan pada KI, KD, materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator. Data hasil penelitian adalah seperti pada tabel 2.

Data di atas menunjukkan bahwa RPP yang dibuat oleh guru memperoleh skor rata-rata sebesar 66,00%. Hasil tersebut juga masih di bawah indikator. Sebagai catatan ada sebagian RPP yang asal membuat tidak menunjukkan prinsip penyusunan RPP. Sehingga masih membutuhkan bimbingan yang lebih serius.

Bila dianalisis secara umum, RPP yang dibuat oleh guru di SD Negeri 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang ada beberapa masalah diantaranya:

a. Belum semua kompetensi dasar dijabarkan dalam indikator.

(7)

b. Komponen tujuan pembelajaran belum semua c. dirumuskan berdasarkan Kompetensi Dasar, belum

menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

d. Metode Pembelajaran masih didominasi metode ceramah, tanya jawab, diskusi.

e. Langkah Kegiatan Pembelajaran belum sepenuhnya dengan pendekatan saintifik.

Penilaian belum mencakup semua Kompetensi Inti, masih didominasi oleh KI 4 (Pengetahuan) dan belum mencantumkan Refleksi, Remedial dan Pengayaan.

Tabel 2. Distribusi Nilai Pembuatan RPP Tematik Terpadu Prasiklus

NO ASPEK YANG DINILAI Jumlah

Guru

Rata-rata Skor

Keberha Silan (%)

1 Kelengkapan komponen 3 3,0 60

2

Tujuan pembelajaran dirumuskan dengan jelas sehingga tidak menimbulkan tafsiran ganda, menggunakan katakerja operasioanal

3 3,40 68

3

Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relafan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.

3 3,00 60

4 Metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta

didik 3 3,20 64

5 Kegiatan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti

dan penutup 3 3,60 72

6 Penilaian otentik meliputi sikap spiritual,sikap sosial,pengetahuan

dan keterampilan. 3 3,00 60

7 Penentuan sumber belajar didasarkan pada KI, KD, materi ajar, kegiatan

pembelajaran, dan indikator 3 3,30 66

Jumlah 23,10 462

Prosentase keberhasilan 462 : 7 = 66,00 %

3.2. Deskripsi Tiap Siklus

3.2.1. Deskripsi Siklus I

Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan Siklus I adalah pembuatan perangkat penelitian yang meliputi lembar pengamatan aktivitas dan lembar penilaian RPP.

Lembar pengamatan aktivitas dan lembar penilaian RPP sesuai format lembar penilaian kinerja guru. Adapun indikator keberhasilan adalah lebih dari atau sama dengan 75,00% .

Tahap selanjutnya adalah menerapkan tindakan/threatment sesuai dengan perencanaan, adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

a. Peneliti sebagai Kepala Sekolah menyampaikan informasi dan konsep cara menyusun RPP Tematik tepadu.

b. Peneliti mengadakan bimbingan tentang cara menyusun RPP Tematik Terpadu yang diikuti seluruh guru SD Negeri 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang.

c. Guru berlatih menyusun RPP Tematik Terpadu dan diikuti oleh semua guru, namun lebih difokuskan 3 orang guru yaitu guru kelas III, guru kelas VI dan

guru PJOK yang telah mengikuti pelatihan Kurikulum 2013.

d. Kepala sekolah mengoreksi sekaligus menerima konsultasi guru dalam menyusun RPP tematik terpadu.

e. Guru mempresentasikan hasil RPP Tematik Terpadu yang telah disusun dalam forum diskusi.

Selanjutnya peneliti melakukan pengamatan aktivitas guru dalam melaksanakan strategi Single Input Multiple Output yaitu membuat RPP Tematik Terpadu menggunakan lembar observasi. Adapun hasil pengamatan aktivitas guru seperti dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 3. Hasil Penelitian Aktivitas Guru Siklus I

No Aspek yang diamati Jumlah

Guru Rata

Skor Keberha Silan (%) 1 Antusiasme guru dalam membuat

RPP 3 4,20 84

2 Tingkat perhatian guru dalam

kegiatan 3 4,00 80

3 Keberanian mengajukan pertanyaan 3 3,30 66

4 Keberanian menjawab pertanyaan 3 3,30 66

5 Keberanian mengemukakan

pendapat 3 3,00 60

6 Kemampuan bekerjasama 3 3,80 76

7 Keberanian tampil di depan 3 3,80 76

8 Ketuntasan menyelesaiakan tugas 3 3,30 66

9 Kemauan mencatat hal yang

dianggap penting 3 4,20 84

1

0 Ketekunan dalam mengikuti kegiatan 3 4,20 84

Jumlah 37,10 742

Prosentase = 742% : 10 = 74,20 %

Berdasarkan tabel di atas, hasil pengamatan terhadap aktivitas guru dalam membuat RPP Tematik Terpadu menunjukkan bahwa aktivitas guru dalam kegiatan siklus I sebesar 74,20%, berarti belum mencapai indikator keberhasilan yang diharapkan yaitu sebesar 75,00%.

Maka perlu dilanjutkan penelitian pada siklus II.

Adapun penilaian terhadap proses pembuatan RPP Tematik Terpadu menggunakan lembar penilaian, meliputi 7 aspek, yaitu:

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa kompetensi guru dalam menyusun RPP Tematik Terpadu skor rata sebesar 74,57%, masih belum mencapai indikator yang diharapkan, yaitu sebesar 75,00%. Peneliti mengambil langkah mengadakan diskusi antara peneliti dengan guru yang diamati tentang kelebihan dan kekurangan RPP Tematik Terpadu yang telah disusun guru. Hasil siklus I belum mencapai indikator yang diharapkan, yaitu:

aktivitas guru dalam menyusun RPP Tematik Terpadu melalui strategi Single Input Multiple Output baru mencapai 74,20%, Sedangkan kompetensi guru dalam membuat RPP Tematik Terpadu mencapai 74,57%.

Interpretasi peneliti terhadap hasil pada penelitian sikus I berarti dalam kegiatan penyusunan RPP Tematik Terpadu melalui strategi Single Input Multiple Output belum mencapai target indikator yang telah ditentukan pada awal

(8)

penelitian, yaitu sebesar 75,00%. Kesepakatan antara peneliti sebagai Kepala Sekolah dan guru yang diamati perlu penelitian pada siklus II.

Tabel 4. Hasil Penilaian Pembuatan RPP Tematik Terpadu Siklus I

NO ASPEK YANG DINILAI Jumlah

Guru Rata-rata

Skor Keberha Silan (%)

1 Kelengkapan komponen 3 3,80 76

2

Tujuan pembelajaran dirumuskan dengan jelas sehingga tidak menimbulkan tafsiran ganda, menggunakan katakerja operasioanal

3 3,80 76

3

Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relafan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.

3 3,20 64

4 Metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta

didik 3 3,80 76

5 Kegiatan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan

inti dan penutup 3 4,20 84

6 Penilaian otentik meliputi sikap spiritual,sikap sosial,pengetahuan

dan keterampilan. 3 3,70 74

7

Penentuan sumber belajar didasarkan pada KI, KD, materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator

3 3,60 72

Jumlah 26,10 522

Prosentase keberhasilan 522 : 7 = 74,57 %

3.2.2. Deskripsi Siklus II

Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan adalah mereview RPP Tematik Terpadu serta pembuatan perangkat penelitian yang meliputi lembar pengamatan aktivitas dan lembar penilaian RPP. Kedua perangkat penelitian yang meliputi lembar pengamatan aktivitas dan lembar penilaian RPP diambil dari format lembar penilaian kinerja guru.

Melaksanakan strategi Single Input Multiple Output metode kolaboratif dan konsultatif dalam menyusun RPP Tematik Terpadu bagi guru. Sebelum pelaksanaan kegiatan, dilakukan tanya jawab tentang hal yang masih belum dipahami oleh guru sehingga RPP yang dibuat menjadi lebih baik dari siklus I. Pada siklus II peneliti sebagai Kepala Sekolah menerima konsultasi secara pribadi bagi guru dan mengoreksi hasil RPP Tematik Terpadu yang disusun oleh guru. Guru mengadakan diskusi formal melalui presentasi, maupun informal melalui tanya jawab.

Adapun hasil pengamatan aktivitas guru dalam membuat RPP pada siklus I seperti dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 5. Aktivitas Guru Menyusun RPP Tematik Terpadu Siklus II

No Aspek yang diamati Jumlah

Guru Rata

Skor Keberha Silan (%) 1 Antusiasme guru dalam membuat

RPP 3 4,80 96

2 Tingkat perhatian guru dalam

kegiatan 3 4,50 90

3 Keberanian mengajukan pertanyaan 3 3,40 68

4 Keberanian menjawab pertanyaan 3 3,30 66

5 Keberanian mengemukakan

pendapat 3 3,80 76

6 Kemampuan bekerjasama 3 4,20 84

7 Keberanian tampil di depan 3 4,20 84

8 Ketuntasan menyelesaiakan tugas 3 4,00 80

9 Kemauan mencatat hal yang

dianggap penting 3 4,20 84

10 Ketekunan dalam mengikuti kegiatan 3 3,80 76

Jumlah 40,20 804

Prosentase = 804% : 10 = 80,40%

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa penerapan strategi Single Input Multiple Output dalam menyusun RPP Tematik Terpadu pada Siklus II mendapat respon yang lebih positif dari para guru SD Negeri 3 Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang. Terbukti dengan semakin tingginya aktivitas guru dalam membuat RPP Tematik Terpadu, yaitu mencapai prosentase sebesar 80,40%, sudah mencapai atau melebihi target indikator yang telah ditetapkan yaitu sebesar 75,00%.

Selanjutnya peneliti menilai hasil tindakan menggunakan lembar penilaian seperti pada siklus I, yaitu menilai RPP Tematik Terpadu buatan guru yang dinilai dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 6. Hasil Penilaian Pembuatan RPP Tematik Terpadu Siklus II

NO ASPEK YANG DINILAI Jumlah

Guru Rata-rata

Skor Keberha Silan (%)

1 Kelengkapan komponen 3 4,60 92

2

Tujuan pembelajaran dirumuskan dengan jelas sehingga tidak menimbulkan tafsiran ganda, menggunakan katakerja operasioanal

3 4,20 84

3

Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relafan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.

3 4,30 86

4 Metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta

didik 3 4,20 84

5 Kegiatan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan

inti dan penutup 3 4,70 94

6 Penilaian otentik meliputi sikap spiritual,sikap sosial,pengetahuan

dan keterampilan. 3 4,00 80

7

Penentuan sumber belajar didasarkan pada KI, KD, materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator

3 3,80 76

Jumlah 29,80 596

Prosentase keberhasilan 596% : 7 = 85,14 %

(9)

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa kemampuan guru dalam menyusun RPP Tematik Terpadu sudah meningkat melebihi target indikator yang telah ditetapkan yaitu menjadi sebesar 85,14%. Dengan demikian, terbukti strategi Single Input Multiple Output dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP Tematik Terpadu.

Hasil pada siklus II sudah mencapai indikator harapan, meliputi: aktivitas guru sebesar 80,40% dan kompetensi guru sebesar 85,14%. Interpretasi terhadap hasil siklus II menjadi lebih baik dari pada siklus I, baik aktivitas guru maupun kompetensi guru dalam membuat RPP Tematik Terpadu. Karena sudah memenuhi harapan maka peneliti tidak melanjutkan penelitian pada siklus berikutnya atau cukup pada penelitian siklus II.

3.3. Pembahasan

Peneliti mengadakan penilaian terhadap RPP Tematik Terpadu yang dibuat oleh guru dengan menggunakan lembar penilaian RPP dengan hasil memperoleh rata-rata skor sebesar 66,00% pada kondisi awal. Setelah dilakukan kegiatan Single Input Multiple Output dalam membuat RPP Tematik Terpadu pada siklus I ternyata hasil RPP yang disusun oleh guru sudah mulai meningkat yaitu menjadi sebesar 74,57%. Skor rata-rata belum mencapai indikator yang diharapkan, yaitu sebesar 75,00% tetapi RPP yang dibuat sudah semakin baik. Pada siklus II kompetensi guru dalam menyusun RPP Tematik Terpadu meningkat menjadi 85,14%. RPP yang disusun oleh guru semakin baik. Dengan demikian, kompetensi guru dalam menyusun RPP Tematik Terpadu melalui strategi Single Input Multiple Output terjadi peningkatan cukup signifikan.

Dalam kegiatan penyusunan guru sebelum tindakan Single Input Multiple Output rata-rata aktivitas guru sebesar 65,80%. Berdasarkan pengamatan awal, guru terlihat kurang antusias dan tidak memiliki semangat dalam menyusun RPP. Hal ini disebabkan oleh pemahaman guru terhadap penyusunan RPP sangat kurang. Peneliti perlu mengadakan tindakan untuk memberikan pemahaman yang cukup bagi guru. Setelah tindakan dengan strategi Single Input Multiple Output mempunyai semangat sehingga nilai aktivitas rata-rata sebesar 74,20%. Pada siklus II terjadi peningkatan yang baik dengan rata-rata skor sebesar 80,40%. Dengan demikian, melalui strategi Single Input Multiple Output dapat meningkatkan aktivitas guru dalam membuat RPP.

Strategi Single Input Multiple Output cukup relevan diterapkan dalam rangka meningkatkan kompetensi guru dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Tematik terpadu. dengan bukti data dan fakta ada peningkatan. Hal ini, ditunjukkan oleh adanya hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam Penelitian Tindakan Sekolah. Hasil tersebut juga didukung oleh pendapat Surya (2014: 128) bahwa “Untuk membantu guru dalam meningkatkan kompetensi perlu adanya tindakan inovatif dari pimpinan (Kepala Sekolah).”

4. Simpulan

Berdasarkan uraian tentang Penelitian Tindakan Sekolah yang dilakukan dalam 2 siklus, dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan strategi Single Input Multiple Output dapat:

1. Meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP Tematik Terpadu. Hal ini ditandai dengan peningkatan kompetensi guru dalam setiap siklus.

Dari kondisi awal sebesar 66,00%, pada siklus I menjadi sebesar 74,57%, dan pada siklus II sebesar 85,14%. Secara keseluruhan rata-rata ada peningkatan sebesar 9,57%.

2. Aktivitas guru juga meningkat dari kondisi awal sebesar 65,80% menjadi 74,20% pada siklus I dan menjadi 80,40% pada siklus II . Secara keseluruhan rata-rata ada peningkatan sebesar 7,30%.

Referensi

Herry. 2012. Kompetensi Guru dalam Pembelajaran. Jakarta:

Gramedia.

Mulyasa. 2010. Konsep Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:

Bumi Aksara.

Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses.

(ad) Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Kemendikbud.

Permendiknas Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta: Depdiknas.

Rusman. 2014. Manajemen Sekolah Bermutu Seri Mengembangkan Profesionalisme Guru melalui Pengembangan Model-model Pembelajaran Bermutu.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Surya, Muhammad. 2013. Psikologi Guru, Konsep dan Aplikasi dari Guru untuk Guru. Bandung: CV Alfabeta

Trianto. 2012. Pendekatan Single Input Manny Outpu (SIMO) Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Undang-Undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Jakarta: Depdiknas.

Wahidmurni. 2016. Pengembangan Standar Proses Pembelajaran di Sekolah/Madrasah Disesuaikan dengan Kurikulum 2013. Yogyakarta: CV Ar Ruzz Media

Referensi

Dokumen terkait

Early Warning System (EWS) yang dibangun memiliki kemampuan memprediksi banjir dengan menggunakan data mining, data mining merupakan historis kejadian yang pernah

Biasanya pada sapi dan kuda yang terdapat luka atau lecet di daerah kulit yang kemudian tercemar oleh kuman anthraks, maka hewan tersebut akan terinfeksi

Fasilitas kesehatan diupayakan untuk tidak memiliki beban kerja yang berlebihan (overload) yang akan mempengaruhi kualitas.. pelayanan yang diberikan, untuk itu harus dipertimbangkan

Kebakaran yang terjadi tidak berpengaruh besar terhadap kinerja INKP, dikarenakan kawasan lahan tersebut belum ditanami dengan kayu untuk bahan baku kertas. Lahan masih

Hal ini dipastikan selama audit percontohan dilakukan pada bulan oktober 2011 (COC dilokasi budidaya (ini merupakan ujian atas nama ASC / MSC) dan MSC audit COC penuh

Pengontrol android dan arduino dikoneksikan melalui Wifi, dengan demikian smart phone berbasis android dapat terhubung dengan Smart House System dari jarak

Kedua langkah di atas bisa diulang-ulang di luar mahasiswaial, dan setelah informasi dianggap cukup maka pelaporan dilakukan dalam diskusi akhir, yang biasanya

Hasil penelitian menunjukkan, induksi kolkisin pada konsentrasi 4500 dapat menghasilkan individu poliploid berdasarkan pengamatan kromosom serta didukung hasil pengamatan