• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Informasi

2.1.1 Pengertian Sistem

Menurut McLeod yang diterjemahkan oleh Hendra Teguh (1995), “Sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai tujuan.”(h.13).

Bodnar dan Hopwood yang diterjemahkan oleh Amir Abadi dan Rudi Tambunan (2000) menyatakan , “Sistem adalah kumpulan sumber daya yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu.”(h.1).

Sedangkan pengertian sistem menurut Mulyadi (1997), “Sistem adalah sekelompok unsur yang erat berhubungan satu dan lainnya untuk tujuan tertentu.”(h.2).

Dari beberapa definisi mengenai sistem, maka dapat disimpulkan bahwa sistem adalah sekelompok elemen yang terintegrasi dan berfungsi bersama-sama untuk tujuan tertentu.

2.1.2 Definisi Informasi

Mengacu pada pengertian informasi menurut McLeod (1995) adalah data yang telah diproses atau data yang memiliki arti. Kemudian menurut Bodnar dan Hopwood yang diterjemahkan oleh Amir Abadi dan Rudi Tambunan (2000),

“Informasi adalah data yang berguna dan diolah sehingga dapat dijadikan dasar keputusan yang tepat.”(h.1).

(2)

Berdasarkan dari definisi yang disebutkan diatas, maka pengertian informasi adalah data yang diolah dan diproses sehingga mempunyai arti dan berguna untuk pengambilan keputusan.

2.1.3 Definisi Sistem Informasi

Sistem informasi menurut Whitten, Bentley, dan Dittman (2004) adalah, “An arrangement of people, data, processes, and information technology that interact to colect, process, store, and provide as output the information needed to support an organization.”(p.12).

Berdasarkan pendapat Bodnar and Hopwood yang diterjemahkan oleh Amir Abadi dan Rudi Tambunan (2000) sistem informasi berbasis komputer merupakan sekelompok perangkat keras dan perangkat lunak yang dirancang untuk mengubah data menjadi informasi yang bermanfaat.

McLeod yang diterjemahkan oleh Hendra teguh (1995) berpendapat, “Sistem informasi adalah kombinasi yang terorganisir yang terdiri dari manusia, software, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang mengumpulkan, mentransformasikan, serta menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi.”(h.4).

Dengan demikian sistem informasi adalah sistem dalam organisasi yang mengatur kegiatan organsisasi dalam mencapai sasaran dan tujuan.

2.1.4 Komponen Utama Sistem Informasi

Komponen utama sistem informasi menurut Mulyadi (1997) terdiri dari 6 blok (disebut sebagai Information System, Building Block), yaitu: masukan, model, keluaran, teknologi, basis data, dan pengendalian.

(3)

1. Blok Masukan

Masukan adalah data yang dimasukkan ke dalam sistem informasi serta metode dan media yang digunakan untuk menangkap dan memasukkan data ke dalam sistem. Masukkan terdiri dari transaksi, permintaan, pertanyaan, perintah, dan pesan.

2. Blok Model

Blok model terdiri dari logico-mathematical models yang mengolah masukan dan data yang disimpan dengan berbagai macam cara, untuk memproduksi hasil yang dikehendaki atau keluaran. Logico-mathematical model dapat mengkombinasi unsur-unsur data untuk menyediakan jawaban atas suatu pertanyaan, meringkas, dan menggabungkan data menjadi suatu laporan ringkas.

3. Blok Keluaran

Keluaran suatu sistem merupakan faktor utama yang menentukan blok-blok lain suatu sistem informasi. Keluaran sistem dapat berupa laporan pelaksanaan anggaran, jawaban atas suatu pertanyaan, pesan, perintah, hasil suatu pengambilkan keputusan yang diprogram, skenario dan simulasi, serta aturan pengambilan keputusan.

4. Blok Teknologi

Teknologi ibarat mesin untuk menjalankan sistem informasi. Teknologi menangkap masukan, menjalankan model, menyimpan, mengakses data, menghasilkan dan menyampaikan keluaran serta mengendalikan seluruh sistem. Dalam sistem informasi berbasis komputer teknologi terdiri dari 3 komponen, yaitu: komputer dan penyimpanan data luar, telekomunikasi, dan perangkat lunak.

(4)

5. Blok Basis Data

Basis data merupakan tempat untuk menyimpan data yang digunakan untuk melayani kebutuhan pemakai informasi.

6. Blok Pengendalian

Semua sistem informasi harus dilindungi dari bencana dan ancaman.

2.1.5 Pengertian Sistem Informasi Akuntansi

Definisi dari SIA menurut Bodnar dan Hopwood (2000) adalah sistem berbasis komputer yang dirancang untuk mengubah data akuntansi menjadi informasi. Pengertian dari SIA sangat luas karena didalamnya mencakup aktivitas yang berkaitan dengan siklus pemrosesan transaksi perusahaan. Kejadian-kejadian yang menghasilkan transaksi ini dapat dikelompokkan menjadi 4 siklus aktivitas bisnis umum, yaitu :

1. Siklus Pendapatan

Kejadian-kejadian yang berkaitan dengan distribusi barang dan jasa ke entitas lain dan pengumpulan pembayaran yang terkait.

2. Siklus Pengeluaran

Kejadian yang berkaitan dengan perolehan barang dan jasa dari entitas lain dan pelunasan kewajiban terkait.

3. Siklus Produksi

Kejadian yang berkaitan dengan pengubahan sumberdaya menjadi barang dan jasa.

4. Siklus Keuangan

Kejadian yang berkaitan dengan perolehan dan manajemen dana-dana modal, termasuk kas.

(5)

2.2 Analisis Sistem

2.2.1 Pengertian Analisis Sistem

Mengacu kepada pendapat menurut McLeod (1995) analisis sistem adalah penelitian atas sistem yang sudah ada yang bertujuan untuk merancang sistem baru atau memperbarui.

Berdasarkan pengertian Bodnar dan Hopwood (2000) analisis sistem adalah proses memahami sistem berjalan dan masalah-masalahnya, menguraikan kebutuhan-kebutuhan informasi, dan menetapkan prioritas untuk pekerjaan sistem selanjutnya.

Dapat disimpulkan bahwa analisis sistem adalah suatu proses penelitian dan penelaahan untuk memperoleh informasi tentang sistem yang berjalan sehingga dapat ditemukan kemungkinan pengembangan untuk memperbaiki sistem tersebut.

2.2.2 Langkah Analisis Sistem

Menurut Mulyadi (1997) analisis sistem ada 4 tahap, yaitu : 1. Analisis pendahuluan

2. Penyusunan usulan pelaksanaan analisis sistem 3. Pelaksanaan analisis sistem

4. Penyusunan laporan analisis sistem

Menurut McLeod (1995) terdapat 6 tahapan, yaitu : 1. Umumkan penelitian sistem

2. Mengorganisasikan tim proyek 3. Mendefinisikan kebutuhan informasi

(6)

4. Mendefinisikan kriteria kinerja sistem 5. Menyiapkan usulan rancangan

6. Menyetujui / menolak rancangan proyek.

2.3 Perancangan Sistem

2.3.1 Pengertian Perancangan Sistem

Menurut McLeod (1995) perancangan sistem adalah penentuan proses dan data yang diperlukan oleh sistem baru.

Pendapat Mulyadi (1997) perancangan atau desain adalah proses penerjemahan kebutuhan pemakai informasi ke dalam alternatif rancangan sistem informasi yang diajukan kepada pemakai informasi untuk dipertimbangkan.

Jadi perancangan sistem adalah proses menerjemahkan kebutuhan pemakai informasi yang telah dianalisis menjadi spesifikasi-spesifikasi baru yang lebih rinci untuk pengembangan sistem baru.

2.3.2 Tahap Perancangan Sistem

Langkah-langkah perancangan sistem menurut McLeod (1995) terdiri dari : 1. Menyiapkan rancangan sistem secara terperinci

2. Mengidentifikasikan berbagai alternatif konfigurasi sistem 3. Mengevaluasi berbagai alternatif konfigurasi sistem 4. Memilih konfigurasi terbaik

5. Menyiapkan usulan penerapan

6. Menyetujui atau menolak persiapan sistem

(7)

Menurut Mulyadi (1997) tahapan perancangan sistem adalah : 1. Desain sistem secara garis besar

2. Penyusunan usulan desain sistem secara garis besar 3. Evaluasi sistem

4. Penyusunan laporan final desain sistem secara garis besar 5. Desain sistem secara rinci

6. Penyusunan laporan final desain sistem secara rinci

2.3.3 Alat Bantu Perancangan Sistem

2.3.3.1 Bagan Alir Dokumen

Menurut Mulyadi (1997) untuk menggambarkan aliran dokumen dalam sebuah sistem digunakan simbol-simbol. Simbol Bagan Alir Dokumen dapat dilihat pada lampiran.

2.3.3.2 Diagram Aliran Data

DAD, dikembangkan oleh Tom DeMarco dan Gane & Sarson merupakan diagram yang memakai notasi-notasi untuk menggambarkan arus data dari sistem.

DAD merupakan modelling tool yang menggambarkan aliran data dari sebuah sistem, meliputi masukan dan keluaran.

DAD dibagi menjadi beberapa tingkat:

1. Diagram Konteks

Diagram konteks merupakan tingkatan paling awal dan memberikan gambaran keseluruhan sistem. Diagram konteks menggambarkan seluruh

(8)

input ke atau output dari sistem, terdiri dari 1 proses serta external entity dan

tidak ada data store.

2. Diagram Nol

Diagram nol menggambarkan subsistem dari diagram konteks yang diperoleh dengan cara memecah/membagi tingkatan utama pada diagram konteks serta menggambarkan arus data yang diperlukan.

3. Diagram Rinci

Diagram rinci merupakan perincian tiap proses dari diagram nol.

2.3.3.3 Kamus Data

Kamus data adalah sebuah katalog fakta tentang data dan kebutuhan- kebutuhan informasi dari suatu SI. Beberapa simbol yang dipakai dalam kamus data adalah:

1. Assign ‘=’

Menyatakan terdiri dari 2. Concatenation ‘+’

Menggabungkan elemen data dengan elemen lainnya 3. Iteration ‘{ }’

Pengulangan elemen data 4. Option ‘( )’

Data tambahan, boleh ada boleh tidak 5. Comment ‘ *…………..* ’

Penjelasan/keterangan tentang suatu data

(9)

6. Key ‘@’

Sebagai kunci yang sifatnya unik untuk setiap entri pada file

2.3.3.4 Normalisasi

Normalisasi menurut C.J. Date (1995) adalah suatu teknik menganalisa relation berdasarkan pada primary key dan ketergantungan fungsional. Teknik ini

meliputi urutan aturan untuk menguji setiap relation sehingga suatu baris data dapat dinormalisasi ke suatu bentuk. Bila persyaratan tidak dipenuhi maka relation yang melanggar persyaratan harus dipecah menjadi relation baru yang memenuhi persyaratan normalisasi.

Proses normalisasi menurut Ian Gilfillan (2000) memiliki beberapa tahap sebagai berikut:

1. Data yang belum ternormalisasi

Record masih mengandung repeating group.

2. Normalisasi I

Normalisasi I dimulai dengan menghilangkan semua repeating group lalu men-define primary key-nya. Semua atribut non key akan bergantung pada primary key tersebut.

3. Normalisasi II

Normalisasi II bertujuan untuk menghilangkan partial dependency, yaitu adanya atribut yang hanya tergantung pada salah satu primary key. Dengan demikian, record hasil Normalisasi I harus dipecah berdasarkan primary key- nya sehingga membentuk beberapa record yang berbeda. Dengan demikian

(10)

semua atribut yang ada didalam setiap record yang terbentuk akan tergantung sepenuhnya pada primary key-nya masing-masing.

4. Normalisasi III

Normalisasi III akan menghilangkan ketergantungan transitif, yaitu adanya atribut non key yang bergantung pada atribut non key lain dalam satu record yang sama. Normalisasi III dilakukan dengan memisahkan lagi record jika perlu untuk mencapainya. Hasilnya semua data item nonkey memiliki ketergantungan fungsional pada primary key dan tidak tergantung satu atribut non key.

2.3.3.5 ERD

Menurut Kendall (2002), “ERD is a graphical representation of an Entity- Relation model. Entity is a person, group, department or that either receives or originates information or data. Relation is an association between entities. They can take the form of one-to-one, one-to-many, many-to-one, or many-to-many.”(pp.896- 900).

2.3.3.6 Spesifikasi Proses

Meilir Page-Jones (1989) menulis, “Pseudocode is an informal and very flexible programming language that is not intended to be executed on a machine but is used to organize a programmer’s thoughts prior to coding”.(p.10).

(11)

2.3.3.7 Bagan Terstruktur

Meilir Page-Jones (1989) mendefinisikan Structured Chart sebagai berikut,

”Structured Chart illustrates the partitioning of a system into modules – showing hierarchy, organization, and communication in terms of which modules call which and what information moduls pass to one another with their respective calls.”(p.45).

2.4 Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya

2.4.1 Pengertian Akuntansi Biaya

Akuntansi Biaya menurut Maher dan Deakin (1997) adalah bidang akuntansi yang mencatat, mengukur, dan melaporkan informasi mengenai besarnya biaya.

Mulyadi (1999) mendefinisikan “Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa.”(h.6).

Dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa akuntansi biaya adalah kegiatan akuntansi terdiri dari pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan penyajian keuangan, dimana harus dibuktikan dengan adanya dokumen yang dipakai sebagai dasar pencatatan dan penggolongan.

2.4.2 Tujuan Akuntansi Biaya

Mulyadi (1999) menyatakan akuntansi biaya mempunyai 3 tujuan pokok:

1. Menyatakan harga pokok produk

Untuk memenuhi tujuan harga pokok produk, akuntansi biaya mencatat, menggolongkan, meringkas biaya-biaya pembuatan produk/penyerahan jasa.

(12)

Biaya yang dikumpulkan dan disajikan adalah biaya yang telah terjadi di masa lalu (historical cost).

2. Pengendalian biaya

Pengendalian biaya harus didahului dengan penentuan biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi suatu satuan produk. Jika biaya yang seharusnya ini telah ditetapkan, akuntansi biaya bertugas memantau apakah pengeluaran biaya yang sesungguhnya sesuai dengan yang seharusnya.

Akuntansi biaya kemudian melakukan analisis terhadap penyimpangan biaya yang sesungguhnya dan yang seharusnya dan menyajikan informasi penyebab terjadinya selisih dan merencanakan tindakan koreksi selanjutnya.

3. Pengambilan keputusan khusus

Pengambilan keputusan khusus menyangkut masa yang akan datang. Oleh karena itu informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan khusus selalu berhubungan dengan informasi masa yang akan datang (future cost).

2.5 Pengertian dan Klasifikasi Biaya

2.5.1 Pengertian Biaya

Mulyadi (1999) mendefinisikan biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomi diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi/kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.

Menurut Hansen dan Mowen yang diterjemahkan oleh Hermawan (1999),

“Biaya adalah kas atau ekuivalen kas yang dikorbankan untuk memperoleh barang dan jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau di masa yang akan datang bagi organisasi.”(h.36)

(13)

Berdasarkan pengertian biaya di atas maka dapat disimpulkan bahwa biaya merupakan pengorbanan sumber daya ekonomi dalam bentuk kas atau aktiva nonkas lainnya yang dikeluarkan untuk menghasilkan dan memperoleh barang dan jasa yang diharapkan memberi manfaat bagi perusahaan baik masa kini atau masa mendatang.

2.5.2 Klasifikasi Biaya

Menurut hubungannya dengan objek biaya tertentu, biaya dapat dibagi 2, yaitu:

1. Biaya langsung

Biaya yang dikaitkan dengan objek biaya dan dapat ditelusuri ke objek tersebut dengan cara seekonomis mungkin. Contoh : biaya bahan baku.

2. Biaya tidak langsung

Biaya yang dikaitkan kepada objek biaya tetapi tidak dapat ditelusuri dengan cara ekonomis. Contoh : biaya departemen pemasaran.

Penggolongan biaya menurut perilaku dalam hubungan dengan perubahan volume kegiatan, biaya digolongkan menjadi:

1. Biaya variabel

Biaya variabel adalah biaya yang jumlahnya akan berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Usry dan Hammer yang diterjemahkan oleh Sirait dan Wibowo (1996) menyatakan, “Biaya variabel memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

- Perubahan jumlah total dalam proporsi yang sama dengan perubahan volume.

(14)

- Biaya unit relatif konstan meskipun volume berubah dalam rentang yang relevan.

- Dapat dibebankan kepada departemen operasi dengan cukup mudah dan tepat.

- Dapat dikendalikan oleh seorang kepala departemen tertentu.”(h.40).

2. Biaya semivariabel

Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semivariabel mengandung unsur biaya tetap dan biaya variabel. Contoh biaya semivariabel adalah biaya listrik untuk penerangan dan pengoperasian peralatan.

3. Biaya tetap

Biaya tetap adalah biaya yang totalnya tetap dalam kisaran volume kegiatan tertentu. Contoh biaya tetap adalah gaji direktur produksi, biaya sewa, biaya asuransi. Ciri dari biaya tetap adalah:

- Jumlah total tetap dalam rentang output yang relevan.

- Penurunan biaya per unit bila volume bertambah dalam rentang yang relevan

- Dapat dibebankan kepada departemen berdasarkan kepentingan manajemen menurut metode alokasi biaya.

- Tanggung jawab pengendalian lebih banyak dipikul oleh manajemen eksekutif daripada oleh penyelia operasi.

(15)

Menurut agregat atau rata-rata, biaya dibagi menjadi : 1. Biaya total

2. Biaya unit atau disebut juga biaya rata-rata terhitung dengan membagi biaya total dengan sejumlah unit.

Biaya menurut jangka waktu pemanfaatannya dibagi menjadi 2 bagian:

1. Pengeluaran modal (capital expenditure) adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari 1 periode akuntansi. Pengeluaran modal ini pada saat terjadinya dibebankan sebagai harga pokok aktiva dan dibebankan dalam tahun-tahun yang menerima manfaatnya dengan cara depresiasi, amortisasi, dan deplesi. Contoh pengeluaran modal adalah pengeluaran untuk pembelian aktiva tetap, biaya reparasi mesin pabrik untuk menambah umur aktiva.

2. Pengeluaran pendapatan (revenue expenditure) adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode terjadinya pengeluaran tersebut. Pada saat terjadi pengeluaran, pengeluaran tersebut langsung dibebankan sebagai biaya dan tidak dikapitalisasi sebagai aktiva. Contohnya : biaya iklan, telpon, listrik, dan air.

2.6 Sistem Biaya Berdasarkan Pesanan

2.6.1 Harga Pokok Produksi (HPP)

Latar belakang adanya HPP adalah jika perusahaan akan menjual produk atau jasanya, maka harus dihitung terlebih dahulu berapa cost untuk membuatnya sehingga dapat mencegah kerugian.

Mulyadi (1999), “HPP merupakan pengorbanan sumber ekonomi dalam pengolahan bahan baku menjadi produk.”(h.10).

(16)

Mengacu kepada pendapat Mulyadi (1999), unsur HPP terdiri dari : 1. Biaya Bahan Baku

Biaya bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian-bagian dari produk jadi dan secara langsung dapat dikalkulasi kepada harga pokok dari produk tersebut. Bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari pembelian lokal, impor, atau dari pengolahan sendiri. Dalam memperoleh bahan baku, perusahan tidak hanya mengeluarkan biaya sejumlah harga beli bahan baku saja, tetapi juga mengeluarkan biaya pembelian, pergudangan, dan biaya perolehan lain. Semua yang terjadi untuk memperoleh bahan baku dan untuk menempatkannya dalam keadaan siap diolah merupakan unsur harga pokok bahan baku. Ada 2 metode pencatatan biaya bahan baku dalam produksi:

- Metode mutasi persediaan (perpetual inventory method)

Dalam metode mutasi persediaan, setiap mutasi bahan baku dicatat dalam kartu persediaan.

- Metode fisik persediaan (physical inventory method)

Metode fisik hanya menambahkan tambahan persediaan bahan baku yang berasal dari pembelian saja, sedangkan mutasi berkurangnya bahan baku karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan.

2. Biaya Tenaga Kerja Langsung

Biaya tenaga kerja langsung dikenakan untuk tenaga kerja yang berpartisipasi langsung dalam kegiatan proses produksi yang aktual mengolah bahan baku sampai menghasilkan barang jadi.

3. Biaya Overhead Pabrik

Biaya overhead pabrik merupakan biaya produk tidak langsung meliputi bahan tidak langsung, biaya tenaga kerja tidak langsung, dan semua biaya pabrikasi lain

(17)

yang tidak secara langsung dibebankan kepada unit kerja produk tertentu. Biaya- biaya produksi yang termasuk dalam biaya overhead pabrik dikelompokan sebagai berikut :

- Biaya bahan penolong, seperti pelumas mesin, suku cadang perbaikan, dan bahan lainnya yang bukan bagian dari barang tetapi penting untuk menghasilkan produk.

- Biaya tenaga kerja tidak langsung, seperti penyelia, pengawas pabrik, penjaga gudang, dan pekerja lain yang secara nyata tidak mengerjakan produk.

- Biaya yang timbul sebagai akibat penilaian aktiva tetap, seperti beban penyusutan gedung pabrik, beban penyusutan peralatan pabrik.

- Biaya overhead pabrik lain, seperti biaya reparasi dan pemeliharaan, sewa, pajak, asuransi.

2.6.2 Tarif Biaya Overhead Pabrik Departemental

Menurut Blocher, Chen, dan Lin (2000) tarif overhead departmental merupakan tarif overhead yang dihitung untuk departemen. Tarif tersebut dihitung dengan cara membagi overhead pabrik per departemen yang dianggarkan dengan tingkat cost driver yang dianggarkan untuk semua pesanan yang dikerjakan atau diproses oleh departemen tersebut. Perusahaan yang menggunakan tarif overhead departmental mempunyai rekening overhead pabrik dan overhead pabrik dibebankan yang terpisah untuk setiap departemen.

(18)

2.6.3 Tarif Overhead yang Ditetapkan di Muka

Menurut Maher dan Deakin (1997) tingkat overhead yang ditetapkan terlebih dulu diperoleh dengan membagi total overhead yang diestimasi untuk periode mendatang dengan total dasar alokasi overhead yang diestimasi untuk periode mendatang.

Menurut Blocher, Chen, dan Lin (2000) tarif overhead pabrik yang ditentukan di muka adalah tarif overhead pabrik yang akan digunakan untuk membebankan biaya overhead pabrik ke pesanan tertentu. Jumlah overhead yang dibebankan ke pesanan tertentu dengan menggunakan tarif overhead pabrik yang ditentukan di muka disebut overhead pabrik yang dibebankan.

Untuk mendapatkan tarif per unit overhead pabrik yang ditentukan dimuka per departemen, langkah-langkahnya adalah:

1. Memperoleh total biaya overhead pabrik anggaran untuk periode operasi yang sesuai, biasanya 1 tahun.

2. Membagi total biaya overhead pabrik anggaran ke semua departemen produksi untuk memperoleh biaya overhead per departemen anggaran.

Untuk melakukan point kedua ini, beberapa hal yang harus dilakukan adalah:

- Memilih dasar alokasi yang paling sesuai untuk menghitung biaya overhead pabrik per departemen. Dasar alokasi adalah ukuran untuk mengalokasikan biaya tidak langsung atau biaya bersama terhadap objek biaya. Yang dimaksud dengan objek biaya adalah objek dari pembebanan biaya. Dalam hal ini objek biaya adalah departemen karena biaya overhead akan dibebankan terhadap departemen.

(19)

- Membagi total biaya overhead pabrik anggaran berdasarkan dasar alokasi yang dipilih untuk mendapatkan biaya overhead pabrik anggaran per departemen.

3. Membagi total biaya overhead parbik anggaran per departemen dengan dasar alokasi diharapkan selama 1 tahun.

Tarif overhead yang ditentukan di muka =

Total overhead pabrik yang dianggarkan selama 1 tahun Total dasar alokasi diharapkan selama 1 tahun Gambar 2.1 Rumus Tarif Ditetapkan Dimuka

Dasar alokasi yang dapat digunakan menurut Maher dan Deakin (1997) antara lain:

1. Berkaitan dengan tenaga kerja. Biaya biasanya dialokasikan atas dasar jumlah karyawan, jam kerja, upah, atau kriteria lain berkaitan dengan tenaga kerja.

2. Berkaitan dengan mesin. Biaya dapat dialokasikan berdasarkan jam mesin, jumlah mesin, nilai sekarang mesin, atau kriteria lain berkaitan dengan mesin.

3. Berkaitan dengan ruangan. Pengalokasian biaya dapat berdasarkan luas ruangan, volume ruangan, atau kriteria lain berkaitan dengan ruangan.

4. Berkaitan dengan jasa. Alokasi biaya berdasarkan jasa dapat dilakukan atas dasar jumlah, nilai, waktu, atau kriteria lain berkaitan dengan jasa.

Untuk menentukan dasar alokasi yang sebaiknya dipilih maka dapat digunakan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

1. Hubungan sebab-akibat 2. Manfaat yang diterima 3. Kewajaran

(20)

2.6.4 Metode Kalkulasi Biaya

Metode kalkulasi biaya dapat dibagi menjadi :

1. Kalkulasi biaya aktual (actual costing) menggunakan biaya yang sesungguhnya terjadi untuk membebankan biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik ke produk.

2. Kalkulasi biaya normal (normal costing) menggunakan biaya yang sesungguhnya terjadi untuk membebankan biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung, sedangkan biaya overhead pabrik dibebankan ke produk dengan menggunakan dasar yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

3. Kalkulasi biaya standar (standard costing) menggunakan biaya yang dianggarkan untuk membebankan biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biya overhead pabrik ke produk.

2.6.5 Selisih Biaya Overhead Pabrik

Selisih biaya overhead pabrik dapat dihilangkan dengan 2 cara menurut Blocher, Chen, dan Lin (2000), yaitu:

1. Jika selisihnya tidak material, menyesuaikan rekening harga pokok penjualan.

2. Jika selisihnya signifikan, menyesuaikan biaya produksi pada periode tersebit, yaitu membagi rata ketidaksesuaian (selisih) ke dalam saldo akhir rekening produk dalam proses, produk selesai, dan harga pokok penjualan.

Selisih overhead dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Overapplied Overhead (Overhead Pabrik Ditetapkan Terlalu Tinggi)

Overapplied overhead adalah jumlah pembebanan biaya overhead yang melebihi biaya overhead sesungguhnya.

(21)

2. Underapplied Overhead

Underapplied overhead adalah jumlah dimana overhead pabrik yang sesungguhnya melebihi overhead pabrik yang dibebankan.

2.6.6 Biaya Pesanan (Job Order Costing)

Kalkulasi biaya produksi yang akan dipakai dalam skripsi ini adalah berdasarkan Job Order Costing. Pengertian Job Order Costing menurut Mahear (1997) adalah unit dari suatu produk yang dapat secara mudah dibedakan dari unit lainnya. Sedangkan pengertian kalkulasi biaya pekerjaan adalah suatu sistem akuntansi yang menelusuri biaya pada unit individual atau pekerjaan, kontrak, atau tumpukan barang yang spesifik.

Mulyadi (1999) menyatakan, “Dalam metode harga pokok pesanan biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan harga pokok produksi per satuan produk dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan.”(h.37).

Karakteristik usaha perusahaan metode harga pokok pesanan adalah : 1. Proses pengolahan produk terjadi secara terputus-putus.

2. Produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan.

3. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan, bukan untuk memenuhi persediaan di gudang.

(22)

Karakteristik metode harga pokok pesanan adalah sebagai berikut :

1. Perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai dengan spesifikasi pemesan dan setiap jenis produk perlu dihitung harga pokok produksinya secara individual.

2. Biaya produksi harus digolongkan berdasarkan hubungan dengan produk menjadi 2 kelompok, yaitu : biaya produksi langsung dan tidak langsung.

3. Biaya produksi langsung terdirid dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, sedangkan biaya produksi tidak langsung disebut dengan istilah overhead.

4. Biaya produksi langsung diperhitungkan sebagai HPP pesanan tertentu berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya overhead pabrik diperhitungkan kedalam harga pokok berdasarkan tarif yang ditentukan dahulu.

5. HPP per unit dihitung pada saat pesanan selesai diproduksi dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan oleh pesanan tersebut dengan jumlah unit produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan.

2.6.7 Pendekatan Umum Terhadap Job Order Costing

Lima langkah yang diambil dalam membagi biaya ke pekerjaan pada perusahaan manufaktur menurut Horngren (1994):

1. Identifikasikan pekerjaan yang dipilih sebagai objek biaya 2. Identifikasikan kategori biaya langsung untuk pekerjaan

3. Identifikasikan pusat biaya tidak langsung dikaitkan dengan pekerjaan

4. Pilih dasar alokasi biaya untuk digunakan dalam membagi masing-masing pusat biaya tidak langsung kepada pekerjaan

(23)

5. Kembangkan tarif per unit dari masing-masing dasar alokasi biaya yang digunakan untuk mengalokasikan biaya tidak langsung ke pekerjaan.

2.6.8 Metode Penentuan HPP

Mulyadi (1999) menyatakan ada 2 metode penentuan HPP, yaitu : 1. Metode penentuan harga pokok penuh (Full Costing)

Full costing atau absorption costing merupakan metode penentuan harga

pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead baik yang tetap maupun variabel. Dengan demikian, HPP menurut

metode ini terdiri dari unsur biaya produksi berikut :

BBB xxx

BTKL xxx

BOP tetap xxx

BOP var xxx +

HPP xxx

2. Metode penentuan harga pokok variabel (Variable Costing)

Variable costing merupakan metode penentuan HPP yang hanya

memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel.

BBB xxx

BTKL xxx

BOP var xxx +

HPP xxx

(24)

2.7 Pengendalian Produksi

Pengertian produksi menurut Sukanto dan Indriyo (1992) adalah,

“Penggunaan faktor-faktor produksi alam, tenaga kerja, modal, dan teknologi untuk menciptakan atau menambah faedah bentuk, waktu dan tempat atas faktor-faktor produksi tersebut. Proses produksi akan memakai sumber daya yang ada sebagai upaya untuk mendapatkan manfaat yang lebih dari apa yang sudah diberikan oleh sumber daya yang terpakai sebelumnya.”(h.1).

Sedangkan pengertian pengendalian masih menurut Sukanto dan Indriyo (1992) adalah, ”Melakukan supervisi yang menjamin agar kegiatan-kegiatan dilaksanakan dengan baik serta melakukan pembandingan/pengecekan apakah hasil kerja sesuai dengan rencana.”(h.10).

Masuk ke dalam pengertian pengendalian produksi Sukanto dan Indriyo memberikan pendekatan yang komprehensif dan terlihat pada gambar berikut:

(25)

Manajemen Produksi

Fungsi Manajemen

Fungsi Operasi

Pengkoordinasian Pengarahan Pengorganisasian

Perencanaan

Pengendalian Khusus Proses Desain Pengedalian

Penelitian dan Pengembangan

Produk

Pemeliharaan dan Penggantian

Pengaturan Persediaan Persoalan Standar

Lingkungan Kerja Pengendalian Bahan

Penentuan Letak Fasilitas Fisik dalam

Pabrik Penentuan Lokasi

Pabrik Luas dan Pola

Produksi

Pengendalian Biaya Produksi Pengendalian

Kualitas Pengendalian

Kuantitas

Gambar 2.2 Gambar Pendekatan Pengendalian Produksi

Pada gambar diatas maka unsur-unsur yang harus dikendalikan dalam produksi adalah adalah kuantitas, kualitas, dan biaya. Dalam skripsi ini hanya akan diulas mengenai pengendalian dari sisi biaya dan kuantitas seperti yang sudah ditulis pada ruang lingkup skripsi di Bab I.

Pengendalian biaya mengacu pendapat Sukanto dan Indriyo (1992) dapat dilakukan dengan membuat anggaran biaya dengan menggunakan biaya standar, yaitu biaya yang ditetapkan dulu dengan cermat atau yang disebut juga biaya yang harus dicapai (target cost). Berdasarkan biaya standar tersebut kemudian dapat dilakukan analisa varians. Sedangkan pengendalian kuantitas dilakukan dengan cara menghitung besarnya Economic Production Quantity, pengendalian pemakaian bahan baku, serta memastikan kuantitas order terpenuhi.

Referensi

Dokumen terkait

٭ Meminta peserta didik melaksanakan diskusi kelas dalam menjawab masalah/pertanyaan yang dibuat oleh kelompok lain dengan bantuan peta konsep yang telah dibuat.. ٭

dengan mutu profesionalisme yang memadai, berdayaguna dan berhasilguna dalam melaksanakan tugas kedinasan dan pelayanan publik di Lingkungan Pemerintah Kota Banda

The scope of this Letter of Intent includes all activities related to the preparation and execution of learning, research and development in the area of innovation and

Namun kami menyadari bahwa rumusan Pasal 45 telah mencerminkan langkah-langkah yang perlu diambil oleh Pemerintah untuk menjelaskan apa~yang dimaksud dengan

Merupakan pelestarian budaya yang dilakukan dengan cara membuat suatu pusat informasi mengenai kebudayaan yang dapat difungsionalisasi kedalam banyak

Negro, 2010, Pretreatment Technologies For An Efficient Bioethanol Production Process Based On Enzymatic Hydrolysis: A Review’, Bioresource Technology, hh.. Park YC, Kim

a. Membawa sebarang alat yang terdapat catatan bertulis, alat yang boleh diprogramkan atau alat komunikasi termasuk telefon bimbit, ipad, tablet tetapi tidak terhad

….:”caranya diantaranya adalah termasuk dengan mengkaryakan anak – anak santri pondok, dalam upaya mengurangi beban operasional pondok, namun hal ini bukan semata