BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Strategi Komunikasi
Menurut Roger, Strategi Komunikasi adalah suatu rancangan yang dibuat untuk merubah tingkah laku individu dalam skala yang lebih besar melalui transfer ide-ide yang baru (Cangara, 2014). Strategi Komunikasi bisa dipahami sebagai segala aktifitas yang akan dilakukan oleh seorang komunikator dalam mengirimkan pesan kepada audience dengan tujuan tertentu yang telah digariskan sebelumnya, menggunakan media apa, perumusan pesan yang bagaimana serta efek yang akan dicapai, pada akhirnya tercapai apa yang diinginkan sesuai dengan rumusan tujuan itu (Mudjiono, 2007:126). Dalam pengertian lain Strategi Komunikasi yang dinyatakan oleh Middleton (dalam Cangara, 2014), Strategi Komunikasi adalah kombinasi yang terbaik dari semua komponen komunikasi yang terdiri dari komunikator, pesan, saluran, penerima sampai pada efek yang dirancang demi mencapai tujuan komunikasi yang maksimal. Dalam hal ini, untuk menciptakan suatu Strategi Komunikasi yang optimal diperlukan juga komunikasi kelompok yang dilakukan antar anggota dengan baik.
Dalam Strategi Komunikasi terdapat faktor yang perlu untuk diperhatikan oleh komunikator untuk mencapai tujuannya, yaitu pemilihan metode. Pada pemilihan metode, terdapat dua aspek yang dapat diperhatikan. Yang pertama adalah pada aspek pelaksanaan dan kedua adalah aspek bentuk isinya.
Dalam aspek pelaksanaan, terdapat dua metode yaitu :
Metode Repetition
Adalah metode dengan cara mengulang pesan berulang kali kepada komunikan.
Metode Canalizing
Adalah metode dengan cara mempengaruhi komunikan untuk menerima pesan, lalu secara perlahan mengubah pola pikir mereka ke arah yang dikehendaki.
Sedangkan dalam aspek bentuk isinya terdapat empat metode, yaitu :
Metode Informatif
Metode ini disampaikan berupa berita, keterangan, penerangan, pernyataan, dan lain sebagainya.
Metode Persuasif
Metode ini disampaikan berupa pesan yang membujuk, atau mempengaruhi para khalayak.
Metode Edukatif
Metode ini disampaikan berupa pesan yang mendidik berdasarkan fakta, pendapat, serta pengalaman yang telah terjadi dan dapat dipertanggung jawabkan.
Metode Kursif
Metode ini disampaikan berupa pesan yang memaksa, tanpa memberikan kesempatan para komunikan untuk berpikir. Pesan ini berupa peraturan, perintah, dan intimidasi.
1.2 Strategi Komunikasi Model AIDDA
Model Strategi Komunikasi AIDDA merupakan sebuah model strategi yang bersifat linear, dan sederhana dan mudah diaplikasikan. AIDDA sendiri merupakan kepanjangan dari Awareness, Interest, Desire, Decision, Action (Cangara, 2014). Model AIDDA ini merupakan konsep Strategi Komunikasi yang dikemukakan oleh Wilbur Schramm, atau biasa juga disebut dengan A-A Procedure. AIDDA sendiri disini memiliki akronim dari kata Kesadaran, Perhatian, Keinginan, Keputusan, Aksi (Effendy, 2003).
Awareness, yang berarti kesadaran merupakan tahap atau langkah awal yang harus dilakukan oleh komunikator kepada komunikan, yaitu membangun kesadaran sang komunikan terhadap pesan yang akan di sampaikan oleh sang komunikator. Awareness
adalah langkah perkenalan mengenai apa yang ingin disampaikan. Sang komunikator harus mampu memperkenalkan dan menunjukan pesan kepada sang komunikan agar komunikan dapat mendapat kesadaran terhadap pesan yang akan disampaikan.
Interest, yang berarti perhatian adalah tahap lanjutan dari Awareness. Setelah komunikan mendapatkan kesadaran dan sudah mengenali pesan yang disampaikan oleh komunikator, maka komunikan akan mulai untuk menaruh perhatian kepada pesan yang disampaikan oleh komunikator. Hal ini biasanya disebabkan karena komunikator dapat mengenalkan pesan kepada komunikan dengan sangat baik, sehingga membuat komunikan meluangkan perhatiannya kepada pesan yang disampaikan, dapat dilihat sebagaimana menariknya pesan dikemas, atau bahkan pesan tersebut merupakan sesuatu hal yang baru, dan menarik bagi komunikan.
Desire, berarti keinginan. Merupakan tahap yang timbul setelah komunikan telah meluangkan perhatian kepada pesan yang disampaikan. Dalam tahap ini, komunikan memiliki keinginan akan mengikuti pesan sesuai dengan apa yang disampaikan atau tidak.
Pada tahap inilah penentu apakah komunikasi akan terus berlanjut atau tidak.
Decision, berarti keputusan. Pada tahap ini, keputusan telah diambil oleh sang komunikan dalam bentuk eksekusi, apakah mengikuti pesan yang disampaikan, atau menolak pesan tersebut. Tahap ini tentu sudah sadar dilakukan oleh komunikan setelah melewati tahap sebelumnya.
Action, berarti tindakan adalah tahap terakhir yang merupakan perlakuan yang dilakukan oleh komunikan setelah melakukan keputusan yang diambil. Dalam hal ini, merupakan hasil dari tahap tahap sebelumnya, yaitu mengikuti pesan dari sang komunikator
Konsep AIDDA atau A-A Procedure milik Wilbur merupakan sebuah gambaran atau proses dari suatu Strategi Komunikasi berjalan, dimana setiap proses dibutuhkan strategi atau rencana yang perlu untuk dilakukan agar pesan dari sang komunikator dapat tersampaikan kepada sang penerima pesan.
2.3 Penelitian Terdahulu
Penelitian ini, dapat memberikan nilai tambah kepada penelitian sebelumnya yang juga mengulas mengenai Strategi Komunikasi, diantaranya adalah penelitian milik Eka (2017) yang berjudul “Strategi Komunikasi Komunitas Pitung (Honda C70) Salatiga dalam
Membangun dan Menjaga Eksistensi Komunitas”. Dalam penelitiannya, Rio Eka menggali informasi dan data yang terdapat dalam komunitas Pitung (Honda C70) di Salatiga untuk menjaga eksistensi komunitas tersebut tetap bertahan. Dalam komunitas tersebut tidak semata-mata eksistensi dapat terjaga begitu saja, namun banyak upaya oleh komunitas tersebut untuk menjaga eksistensi mereka. Untuk menggali data mengenai upaya apa yang dilakukan oleh komunitas tersebut, Rio Eka menggunakan teori Strategi Komunikasi serta komunikasi kelompok.
Penelitian Strategi Komunikasi lainnya juga terdapat pada penelitian Eka (2019) yang berjudul “Strategi Komunikasi Kelompok Reog Kridho Budhoyo dalam mempertahankan Eksistensi”. Penelitian dari Yayan Eka ini meneliti sebuah kelompok Reog yang berada di Salatiga. Reog Kridho Budhoyo ini merupakan kelompok reog yang sudah bisa dibilang kelompok reog yang mempelopori kebudayaan reog di kota Salatiga. Dalam kelompok reog ini, Yayan Eka meneliti bagaimanakah strategi yang digunakan agar kelompok reog ini dapat terus bertahan dan berkembang ditengah surutnya minat masyarakat terhadap kesenian reog.
Upaya yang dilakukan oleh kelompok Reog Kridho Budhoyo yaitu memadukan gerakan- gerakan yang baru dengan gerakan asli dari kesenian Kridho Budhoyo. Sasaran minat kelompok ini pun menyasar kepada generasi muda, untuk mencintai kesenian reog sejak usia dini. Sehingga rasa minat pada reog juga akan bertumbuh seiring dengan pertumbuhan anak tersebut.
Penelitian milik Fahlefi (2017) juga meneliti mengenai Strategi Komunikasi Komunitas yaitu Kelompok futsal Youthkrew Premier League. Penelitian ini berjudul “Strategi Komunikasi Komunitas Futsal Youthkrew Premier League Dalam Mempertahankan Eksistensi di Kota Salatiga”. Komunitas ini mengalami penurunan dalam jumlah anggota seiring berjalannya dengan waktu, pada akhirnya pengurus memutuskan untuk mengadakan rapat dan melakukan strategi yang dapat membuat komunitas dapat tetap bertahan eksistensinya. Komunitas melakukan komunikasi yang lebih intens dengan sesama anggota, serta melakukan kegiatan liga futsal untuk mempererat silaturahmi sesama anggota.
Sedangkan untuk menarik minat anggota baru, komunitas mengikuti event futsal yang diselenggarakan oleh komunitas lain, ataupun liga yang memang diadakan oleh beberapa instansi. Dengan begitu, komunitas akan dikenal oleh para pecinta futsal yang ingin memiliki rekan sehobi dalam suatu komunitas.
Dalam penelitian ini, penulis mendapatkan rujukan dan referensi dari beberapa penelitian dari Rio Eka, Yayan Eka, dan juga Riza Fahlefi untuk mencari tau bagaimanakah
Strategi Komunikasi yang dilakukan oleh suatu komunitas. Kali ini, penulis akan melakukan penelitian terkait Strategi Komunikasi yang dilakukan oleh sebuah komunitas yang sudah resmi terdaftar pada Persatuan Nasional yang berlandaskan hukum yaitu Komunitas Sabre Squad Salatiga. Sehingga komunitas yang diteliti oleh penulis memang sudah mendapat aturan-aturan yang perlu untuk ditaati oleh komunitas tersebut agar komunitas tetap dapat berjalan dan terbentuk. Disamping dengan aturan yang perlu ditaati oleh komunitas ini, perlu dilakukan Strategi Komunikasi oleh komunitas yang dimana strategi tersebut juga harus tetap menaati aturan dan membuat komunitas dapat berkembang. Penelitian ini akan dapat memberikan nilai tambah untuk penelitian sebelumnya, karena penelitian ini dilakukan di dalam komunitas lain sehingga dapat memberikan pandangan baru mengenai Strategi Komunikasi suatu komunitas.
2.4 Kerangka Berpikir
Airsoft gun
Komunitas Sabre Squad
Upaya Komunitas Sabre Squad untuk
menarik minat
Minat bergabung dengan Komunitas Sabre Squad Teori Strategi
Komunikasi Model Wilbur
Schramm
Awareness
Interest
Desire
Decision
Action
Komunitas Airsoft gun
Sabre Squad, adalah satu-satunya komunitas airsoft gun yang terdapat di kota Salatiga yang telah memiliki izin resmi dari PERBAKIN, dan telah memiliki keanggotaan yang terus bertambah. Penulis akan melakukan penelitian kedalam internal komunitas Sabre Squad dengan cara observasi serta wawancara kepada pengurus serta anggota komunitas untuk mendapatkan hasil data yang nyata dan maksimal. Melalui dasar kerangka berpikir ini, diharapkan penelitian ini dapat memberikan penjelasan bagaimanakah Strategi Komunikasi yang dilakukan oleh Komunitas Sabre Squad untuk menarik minat masyarakat untuk bergabung kedalam komunitas Sabre Squad.