• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Pustaka

Pada bagian ini mencakup analisis mengenai penelitian sebelumnya yang telah diteliti peneliti lain pada studi kasus yang berbeda-beda. Tinjauan pustaka dapat dijadikan referensi pengetahuan bagi calon peneliti sehingga dapat menginspirasi penelitiannya tersebut. Biasanya peneliti akan mencari penelitian terdahulu yang mempunyai kasus sama dengan penelitiannya.

2.1.1. Penelitian Terdahulu

Pada penyusunan Tugas Akhir ini, penulis mengambil beberapa jurnal atau Tugas Akhir (TA) sebagai referensi untuk melengkapi serta menyempurnakan penulisan Tugas Akhir penulis. Berikut merupakan penelitian terdahulu milik Adi Satya (2018) yang berjudul “Analisis Karakteristik dan Kebutuhan Parkir di Supermarket Chandra Antasari Bandar Lampung”. Pedoman yang digunakan pada penelitiannya yaitu Pedoman Teknis dan Penyelenggara Fasilitas Parkir tahun 1998. Berdasarkan hasil analisis maka didapatkan, akumulasi tertinggi kendaraan mobil sebanyak 42 kendaraan dan petak parkir yang tersedia 59 SRP selanjutnya pada akumulasi kendaraan motor sebanyak 53 kendaraan dengan petak parkir yang tersedia 100 SRP. Akumulasi maksimum yang didapat menunjukkan kondisi jam puncak suatu kendaraan. Volume kendaraan mobil tertinggi selama 12 jam pengamatan adalah 632 kendaraan pada hari Minggu. Sedangkan volume kendaraan motor tertinggi yaitu 810 kendaraan pada hari Minggu. Penelitian dilakukan dihari Senin dan Minggu, rata-rata durasi waktu tertinggi ada pada hari Minggu dengan kendaraan mobil selama 1,61/jam dan kendaraan motor selama 1,41/jam. Indeks parkir mobil akumulasi terbesar yaitu 0,75 dan pada kendaraan motor yaitu 0,53, hal ini menunjukkan bahwa saat kondisi jam puncak, kapasitas ruang yang tersedia masih mencukupi karena nilai indeks parkirnya tidak lebih dari 1. Jumlah kebutuhan petak parkir kendaraan mobil dibutuhkan selama 12 jam yaitu 44 SRP, sedangkan untuk kendaraan motor yaitu 62 SRP, dan dapat disimpulkan bahwa penyedia ruang parkir di Supermarket Chandra Antasari tersebut mampu menampung kendaraan dengan

(2)

6 baik dan tidak membutuhkan SRP lagi.

Pada Jurnal Spektran milik Nyoman Gery A, Putu Alit Suthanaya, D.M. Priyantha Wedagama (2017) yang berjudul “Analisis Karakteristik dan Kebutuhan Parkir Terminal Kargo di Kota Denpasar” dengan tujuan untuk menganalisis dari karakteristik serta kebutuhan parkir kedepannya demi adanya pengembangan terminal tersebut. Pedoman yang digunakan yakni Pedoman Teknis dan Penyelenggara Fasilitas Parkir (Direktorat Bina Lalu Lintas, 1998) dan Perencanaan Teknis Lalu Lintas (F.D. Hobbs, 1974). Jenis metode penelitiannya yaitu kuantitatif. Berdasarkan hasil diketahui bahwa volume kendaraan parkir yaitu 44,5 kend/jam, kapasitas parkir yaitu 35 kend/jam serta mempunyai penyediaan parkir sebesar 372 kendaraan serta indeks parkir 4 dengan menunjukan terjadinya masalah parkir pada Terminal Kargo Kota Denpasar dan kebutuhan parkir yang diperlukan berdasarkan karakteristik untuk pengembangan Terminal Kargo sebanyak 101 petak parkir.

Pada Jurnal Spektran milik Dewa Ayu Putu Adhiya Garini Putri, Putu Alit Suthanaya dan I Made Agus Ariawan (2017) yang berjudul “Analisis Karakteristik dan Kebutuhan Parkir di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali” dengan tujuan untuk menganalisis kebutuhan parkir di masa depan. Metode yang digunakan yaitu survei dan mencatat data-data primer sistem parkir. Karakteristik parkir dilaksanakan dengan menganalisis dan membandingkan waktu di hari kerja, hari pekan serta hari libur untuk kendaraan roda dua, roda empat serta roda enam.

Metode penelitiannya yaitu metode kuantitatif. Durasi parkir kendaraan roda dua bervariasi yaitu 5,07-5,91 jam/kend, pada kendaraan roda empat bervariasi yaitu 1,77-2,04 jam/kend serta pada kendaraan roda enam memiliki durasi parkir yaitu 1,66-2,32 jam/kend. Pada kapasitas parkir untuk kendaraan roda dua sebanyak 567- 660 SRP.kend/jam, untuk kendaraan roda empat sebanyak 634-731 SRP.kend/jam serta jenis kendaraan roda enam sebanyak 8-12 SRP.kend/jam. Kebutuhan petak parkir kendaraan roda dua sebanyak 6.442 SRP, sehingga kekurangan 3.092 SRP.

Pada kendaraan roda empat kebutuhan ruang parkir yakni 1.897 SRP lalu pada kendaraan yang memiliki roda enam sebanyak 42 SRP atau dengan kekurangannya yakni 90,17%. Rencana ini direkomendasikan dengan menerapkan ukuran petak standar yaitu untuk kendaraan roda dua dengan perencanaan ukuran petak 0,75 m

(3)

7

× 2 m sebanyak 3.598 SRP. Pada kendaraan roda empat dengan perencanaan ukuran petak 3 m × 5 m sebanyak 1.388 SRP serta pada kendaraan roda enam sebanyak 25 SRP dengan ukuran petak 3,4 m × 12,5 m.

Pada penelitian Ryan Reginald Jacob (2018) yang berjudul “Studi Karakteristik dan Kebutuhan Parkir Pada Pusat Perbelanjaan di Jalan Agus Salim Kota Malang”

dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik serta kebutuhan parkir, dan variabel- variabel penentu pembentukan model luas parkir yang optimal. Terdapat 3 pusat perbelanjaan yang akan ditinjau. Metode yang digunakan yaitu Metode Analisa (Korelasi dan Regresi) serta menggunakan Pedoman Teknis dan Penyelenggara Fasilitas Parkir (1998). Pada metode analisa (korelasi dan regresi) akan didapatkan variabel-variabel dalam membentuk sebuah model lahan parkir yang akan digunakan. Pada perhitungan yang di dapat maka akan diterapkan langsung di lapangan dengan membuat lahan parkir yang sesuai standar. Berdasarkan hasil analisis di dapatkan volume parkir sebanyak 833 kendaraan pada daerah Malang Plaza, dengan yang tertinggi yakni 53 kendaraan, durasi parkirnya l,6 jam/kend, Parking Turn Overnya sebesar 0,89 kend/SRP/jam, semakin tinggi tingkat pergantian parkir maka akan semakin menguntungkan atau dalam waktu sehari dapat menampung banyak kendaraan dari ruang parkir yang tersedia. Kapasitas parkir yang didapat sebesar 89 petak.kend/jam serta indeks parkir sebesar 4,36.

Kebutuhan parkir kendaraan mobil 38 ruang dan untuk kendaraan motor on-street 80 ruang sedangkan off-street 66 ruang. Kebutuhan parkir ini hanya dihitung dalam waktu sehari.

Pada penelitian A.R Indra Tjahjani (2020) yang berjudul “Kebutuhan Parkir Alternatif Chandra Super store Tanjungkarang”. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis karakteristik parkir serta menganalisis kapasitas dan kebutuhan ruang paskir Chandra Super store Tanjungkarang. Metode penelitian ini menggunakan data sekunder yang terdiri dari data keluar masuk kendaraan parkir. Penelitian ini menggunakan Pedoman Teknis dan Penyelenggara Fasilitas Parkir (1996).

Berdasarkan hasil penelitiannya didapatkan hasil karakteristik parkir diantaranya akumulasi maksimum di area parkir Chandra Super store untuk kendaraan mobil yakni 592 kendaraan yang terjadi pada hari Sabtu (7 Maret 2020) dan kendaraan sepeda motor sebanyak 676 kendaraan. Pada volume parkir maksimum memiliki

(4)

8 rincian 1.803 kendaraan mobil dan 1.764 kendaraan sepeda motor. Rata-rata durasi parkir yaitu selama 3,6 jam pada kendaraan mobil sedangkan kendaraan sepeda motor selama 3,7 jam. Semakin lama durasi parkir maka jumlah ruang parkir yang tersedia semakin berkurang. Kapasitas parkir kendaraan mobil sebanyak 435 tempat parkir dan 500 tempat parkir sepeda kendaraan motor. Tingkat pergantian parkir maksimum untuk kendaraan mobil yaitu 4,145 dengan rata-rata 3,284, sedangkan untuk kendaraan sepeda motor yaitu 3,285. Rata-rata indeks parkir untuk kendaraan mobil yaitu 1,215 sedangkan untuk kendaraan sepeda motor yaitu 1,131 artinya kebutuhan parkir kendaraan sepeda motor dan juga kendaraan mobil melebihi kapasitas/jumlah tempat parkir yang tersedia. Kebutuhan parkir saat ini yang diperoleh dari analisis adalah 504 kendaraan roda empat sedangkan pada kendaraan roda dua sebanyak 528 kendaraan. Perbandingan antara kapasitas parkir yang ada dengan kebutuhan parkirnya belum dapat memenuhi kebutuhan parkir sehingga dibutuhkan penambahan lahan parkir dengan teknologi parkir otomatis hidrolik.

Pada penelitian Dimas Rizky Amalullah (2020) yang berjudul “Analisis Kapasitas Ruang Parkir Off Street di Pusat Perbelanjaan Pada Masa Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Toserba Yogya Kota Tegal)”dengan tujuan untuk menentukan karakteristik kendaraan serta kebutuhan dari ruang parkir pada kawasan parkir off street Toserba Yogya dan berpaku pada Pedoman Teknis dan Penyelenggara Fasilitas Parkir (Ditjen Perhubungan Darat, 1996). Penelitian ini dilakukan selama dua hari di hari Sabtu. Toserba Yogya memiliki bentuk pola parkir sudut 90° serta sudut 45° untuk kendaraan mobil sedangkan pola parkir sudut 90° untuk kendaraan sepeda motor.

Volume parkir maksimum pada kendaraan sepeda motor terjadi pada Sabtu tanggal 01 Agustus atau pada saat kondisi new normal sebanyak 1616 kendaraan serta pada kendaraan mobil sebanyak 544 kendaraan. Kapasitas parkir kendaraan sepeda motor yakni sebesar 343 kendaraan dan kendaraan mobil sebesar 48 kendaraan.

Akumulasi maksimum di areal parkir terjadi pada kondisi new normal dengan kendaraan sepeda motor sebanyak 602 kendaraan serta kendaraan mobil sebanyak 106 kendaraan dibandingkan dengan masa sebelum ataupun dalam masa pandemi Covid-19. Tingkat turnover untuk hari Sabtu tanggal 18 April atau pada masa pandemi dengan kendaraan sepeda motor yakni 3,23 kendaraan/hari/ruang serta

(5)

9 pada kendaraan mobil yaitu 9,15 kendaraan/hari/ruang, sedangkan tingkat turnover hari Sabtu tanggal 15 Februari pada masa sebelum pandemi dengan kendaraan sepeda motor sebesar 3,80 kendaraan/hari/ruang serta pada kendaraan mobil sebesar 9,06 kendaraan/hari/ruang. Semakin tinggi nilai tingkat pergantian parkir maka akan semakin menguntungkan atau dalam waktu sehari dapat menampung banyak kendaraan dari ruang parkir yang tersedia. Untuk di hari Sabtu saat kondisi new normal pada kendaraan sepeda motor sebesar 4,71 kendaraan/hari/ruang sedangkan pada kendaraan mobil sebesar 11,33 kendaraan/hari/ruang dengan nilai indeks parkir tertinggi yaitu pada hari Sabtu saat kondisi new normal pada kendaraan sepeda motor 175,5% sedangkan pada kendaraan mobil sebesar 220,8%

dan yang paling rendah pada hari Sabtu saat masa pandemi untuk kendaraan sepeda motor sebesar 94,8%, dan pada kendaraan mobil sebesar 145,8%.

Pada penelitian Eny Krisnawati (2011) yang berjudul “Analisis Kebutuhan dan Kapasitas Area Parkir di Areal Perbelanjaan Kota Surakarta”. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui gambaran karakteristik parkir bagian dalam Mall Solo Square Surakarta dengan mengacu Pedoman Teknis dan Penyelenggara Fasilitas Parkir (Direktorat Jendral Perhubungan Darat, 1998). Jenis metode penelitiannya yaitu kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis yang didapat, akumulasi maksimum pada kendaraan mobil yakni 595 kendaraan sedangkan kendaraan motor sebanyak 758 kendaraan. Rata-rata volume parkir kendaraan mobil sebesar 1583 kendaraan dan pada kendaraan motor 2381 kendaraan. Selanjutnya untuk nilai indeks parkir maksimum kendaraan mobil sebesar 109,58% dan kendaraan motor sebasar 112,40%. Tingkat pergantian parkir rata-rata pada kendaraan mobil yaitu 2,89 kend/hari/ruang dan pada kendaraan motor sebesar 2,14 kend/hari/ruang. Semakin tinggi tingkat pergantian parkir maka akan semakin menguntungkan atau dalam waktu sehari dapat menampung banyak kendaraan dari ruang parkir yang tersedia.

Rata-rata durasi maksimum kendaraan mobil yaitu selama 77,108 menit dan pada kendaraan motor selama 70,644 menit. Nilai durasi parkir mempengaruhi jumlah penggunaan ruang parkir, semakin besar nilai durasi parkir maka semakin sedikit ruang parkir yang tersedia. Pengamatan yang telah dilakukan maka didapatkan nilai dari akumulasi maksimum kendaraan mobil sebesar 595 kendaraan dengan luas parkir 7437,5 m², sedangkan luas parkir kendaraan mobil yang ada sebesar 17432

(6)

10 m², hal ini menyatakan bahwa kebutuhan parkir masih memenuhi standar.

Akumulasi maksimum kendaraan motor sebesar 852 kendaraan dengan luas parkir 1278 m², sedangkan luas parkir kendaraan motor yang ada yakni 2365 m² dengan demikian kebutuhan parkir masih memenuhi standar.

2.2. Landasan Teori

Parkir merupakan suatu fasilitas yang ada pada suatu tempat baik tempat umum maupun khusus. Dengan adanya parkir, kendaraan dapat dititipkan pada suatu ruang parkir dengan melakukan transaksi pembayaran. Parkir memiliki standar SRP dengan mengikuti Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir diterbitkan oleh Ditjen Perhubungan Darat. Penelitian ini meninjau parkir yang berada di mall.

2.2.1. Mall atau Pusat Perbelanjaan

Mall ataupun puast perbelanjaan merupakan bangunan yang terdiri dari beberapa toko dimana terdapat aktivitas jual beli, pertukaran barang serta jasa, dan merupakan tempat berkumpul dan juga hiburan. Barang-barang yang dibeli biasanya untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder ataupun tersier. Biasanya barang yang dijual di mall memiliki kualitas baik sehingga harganya juga relatif lebih mahal. Tetapi hal tersebut bukanlah penghalang bagi pengunjung untuk tetap mendatangi mall atau pusat perbelanjaan tersebut.

Menurut Maitland (1985) dalam Utama (2011), Pusat Perbelanjaan Modern ataupun Mall yaitu terdiri dari satu maupun beberapa department store yang menjadi daya tarik terhadap retail-retail kecil serta restoran dengan topologi bangunan yang berhadapan dengan koridor utama mall dan merupakan unsur utama sebuah mall dengan fungsinya sebagai sirkulasi serta ruang komunal yang tercapainya interaksi antara penjual dan juga pengunjung.Berbagai jenis toko-toko yang ada dalam pusat perbelanjaan atau mall membuat pengunjung dapat memilih untuk mendatangi tempat yang mereka suka atau mereka butuhkan. Semakin banyak toko maka semakin banyak pengunjung yang berdatangan akibat lengkapnya suatu tempat sehingga pengunjung dapat memilih sesuai keingingan ataupun budget. Tempat hiburan ataupun tempat makan juga menjadi destinasi menarik sebagai tempat berkumpul ataupun tempat bermain pengunjung. Sehingga

(7)

11 pusat perbelanjaan atau mall yang memiliki banyak tempat di dalamnya akan semakin ramai juga pengunjungnya.

2.2.2. Definisi Parkir

Pada suatu tempat yang biasa dikunjungi biasanya mereka membawa kendaraan yang nantinya akan mengalami pemberhentian. Tempat pemberhentian tersebut merupakan sebuah tujuan dari sebuah perjalanan. Kendaraan yang dibawa oleh pemiliknya akan ditinggal di suatu ruang parkir. Menurut UU No. 22 Tahun 2009, parkir merupakan keadaan dimana kendaraan berhenti ataupun tidak bergerak dalam beberapa waktu yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Kendaraan tersebut dapat di tempatkan pada ruang parkir on street ataupun off street yang sesuai keadaan.

Menurut Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir Ditjen Perhubungan Darat (1998), parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang memiliki sifat sementara. Arti dari kata sementara yaitu hanya beberapa saat dan tidak menetap. Parkir dapat dikatakan sebagai tempat akhir yang telah dicapai.

Parkir juga merupakan fasilitas dari suatu tempat untuk menampung kendaraan.

Agar ruang parkir dapat memenuhi kebutuhan maka diperlukan pedoman standar dari fasilitas tersebut yang biasanya menggunakan SRP (Satuan Ruang Parkir).

Dengan adanya pedoman tersebut maka dapat diketahui karakteristik parkir serta kebutuhan parkir yang dapat mengatasi permasalahan perparkiran.

2.2.3. Kebijakan Parkir

Kebijakan parkir mempertimbangkan hal yang berkaitan dengan tata guna lahan serta kebijakan perangkutan pengendalian parkir di perkotaan yang merupakan kunci regulasi lalu lintas secara tepat. Pengendalian tersebut digunakan untuk mencegah adanya hambatan lalu lintas. Terdapat empat unsur pokok yang menyangkut kebijakan parkir, diantaranya:

a. Pemilihan serta menetapkan tujuan.

b. Membuat sebuah ketentuan.

c. Cara mencapai tujuan.

d. Instansi yang menerapkan dan memiliki kekuasaan dalam memutuskan

(8)

12 kebijakan parkir.

Berikut merupakan instrumen kebijakan parkir:

a. Kebijakan Tarif Parkir

1) Parkir di Bagian Tepi Jalan a) Kenaikan tarif.

b) Penggunaan meteran parkir.

c) Izin penggunaan lahan.

2) Parkir di Bagian Luar Jalan

a) Pajak dalam penyediaan tempat parkir.

b) Struktur tarif yang memengaruhi permintaan pemarkir.

b. Kebijakan Pembatasan

1) Parkir di Bagian Tepi Jalan a) Larangan parkir.

b) Tidak ada parkir kecuali untuk penghuni.

c) Relokasi ruang parkir.

2) Parkir di Bagian Luar Jalan

a) Melakukan pembekuan pembangunan parkir baru.

b) Mengurangi ruang parkir yang tersedia.

c) Mengontrol parkir diwaktu yang akan datang.

d) Memiliki variasi waktu pada ruang parkir.

e) Relokasi ruang parkir.

2.2.4. Jenis-Jenis Parkir

2.2.4.1. Parkir Berdasarkan Penempatan Kendaraan

Parkir berdasarkan penempatan kendaraannya dibagi menjadi dua yaitu:

a. Parkir di bagian tepi jalan (On Street Parking).

Parkir ini terjadi di sepanjang jalan dengan atau tidak adanya pelebaran jalan atau dengan pembatas parkir. Parkir tersebut umum di lingkungan masyarakat karena pengendara ingin dekat dengan tujuannya dan mengambil jalan kemudahan dan kepraktisan. Parkir ini dapat kita jumpai pada daerah perumahan, pusat kegiatan, dan daerah lama umumnya tidak menampung pertumbuhan kendaraan. Pada parkir yang menggambil bagian sisi jalan dapat

(9)

13 mengurangi fungsi jalan tersebut karena mempengaruhi keefektifan lebar jalan yang seharusnya untuk kendaraan yang melintasi jalan tersebut.

b. Parkir di luar badan jalan (Off Street Parking)

Parkir ini berada pada suatu ruang yang terbuka untuk umum ataupun khusus terbatas dan biasanya untuk keperluan tertentu serta berada di pelataran parkir umum. Lokasi parkir biasanya ditempatkan di lahan kosong ataupun pada gedung parkir bertingkat yang disesuaikan dengan kebutuhan parkir dan sesuai kriteria seperti rencana penggunaan lahan, kemudahan pengguna, kelancaran pada arus lalu lintas serta faktor lingkungan.

2.2.4.2. Parkir Berdasarkan Status

Berdasarkan status parkirnya dapat dibagi menjadi beberapa status yaitu:

a. Parkir Umum

Parkir umum yaitu tempat yang menggunakan tanah ataupun lahan dengan pemilik serta pengelolanya yaitu pemerintah daerah. Parkir ini biasanya berada di sebagian badan jalan umum yang termasuk bagian dari tempat parkir.

b. Parkir Khusus

Parkir khusus yaitu tempat yang menggunakan tanah ataupun lahan dengan pemilik serta pengelolanya pihak non pemerintah seperti swasta / badan usaha ataupun perorangan.

c. Parkir Darurat

Parkir darurat yaitu tempat yang menggunakan lahan milik pemerintah daerah ataupun swasta akibat suatu kejadian darurat / insiden.

d. Gedung Parkir

Gedung parkir yaitu bangunan yang digunakan sebagai tempat parkir yang dikelola pemerintah daerah ataupun pihak ketiga dengan mendapat izin dari pemerintah daerah.

e. Areal Parkir

Areal parkir yaitu bangunan ataupun lahan parkir yang sarananya lengkap dengan pengelolaan serta penguasaan dari pihak pemerintah.

(10)

14 2.2.4.3. Parkir Berdasarkan Jenis Kendaraan

Berdasarkan jenis kendaraannya, parkir dibedakan menjadi beberapa jenis menurut Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir (1998) yaitu:

a. Tempat parkir kendaraan roda dua tidak bermesin.

b. Tempat parkir kendaraan roda dua bermesin.

c. Tempat parkir kendaraan roda empat.

d. Tempat parkir kendaraan roda empat ataupun lebih.

2.2.4.4. Parkir Berdasarkan Kepemilikan dan Operasi

Parkir berdasarkan kepemilikan serta operasinya dibedakan menjadi tiga yaitu:

a. Pemerintah Daerah sebagai pemilik dan pengoperasian parkir.

b. Pemerintah Daerah sebagai pemilik dan Swasta yang mengoperasikan parkir.

c. Swasta sebagai pemilik dan pengoperasian parkir.

2.2.5. Kebutuhan Parkir

Suatu tempat akan selalu ramai pengunjung jika tempat tersebut tersedia semua fasilitas yang dibutuhkan terlebih tempat tersebut merupakan salah satu tempat terbesar dan terlengkap di suatu daerah. Semakin lengkap dan menariknya suatu tempat maka peningkatan jumlah pengunjung akan semakin banyak. Dengan demikian pihak pengelola harus menyediakan fasilitas parkir semaksimal mungkin.

Jumlah kendaraan yang mengalami peningkatan dari waktu ke waktu khususnya pada kendaraan pribadi dapat menyebabkan daya tampung suatu tempat akan semakin menurun. Sehingga dibutuhkan lahan yang cukup serta informasi dari pihak mall tersebut untuk memberitahu jika terjadinya penuhan kendaraan di lahan parkir yang tersedia. Untuk dapat menentukan kebutuhan parkir pada suatu area dibutuhkan beberapa metode. Metode tersebut dapat diseuaikan dengan kondisi yang ada pada lokasi tersebut. Berikut merupakan metode-metode yang dapat digunakan:

a. Metode Berdasarkan Jumlah Penduduk

Metode ini berdasarkan jumlah penduduk, semakin bertambahnya jumlah penduduk maka persentase dari kebutuhan parkir juga semakin meningkat. Hal tersebut telah dibuktikan pada sebuah studi di Amerika Serikat (O’Flaherty,1974).

(11)

15 b. Metode Berdasarkan Banyaknya Unit / Luas Lantai

Metode ini biasa digunakan dalam menentukan seberapa banyak kapasitas parkir yang harus tersedia. Perencanaan kapasitas parkir dapat disesuaikan dengan banyak unit atau luas lantainya.

c. Metode Berdasarkan Hubungan Kebutuhan Parkir dengan Jenis Tata Guna Lahan

Menurut Edaran Keputusan Direktur Jendral Perhubungan Darat No.272/HK.105/DRJD/96 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Parkir yang membahas mengenai kebutuhan parkir yang dapat ditentukan sesuai ketersediaan ruang parkir, tarif parkir, tingkat pelayanan, tingkat kepemilikan kendaraan serta pendapatan penduduk.

d. Metode Akumulasi Maksimum Kendaraan Parkir

Metode ini dapat dilihat dari interval pengamatan sehingga dapat diketahuinya jumlah kendaraan parkir suatu tempat dengan periode tertentu. Akumulasi tersebut menentukan puncak dari kebutuhan parkir yang memiliki variasi dari waktu ke waktu. Dalam melakukan survei, hal yang perlu diperhatikan yaitu waktu pelaksanaannya sesuai kondisi lapangan.

2.2.6. Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan Parkir

Besarnya kebutuhan parkir merupakan masalah utama dari merencanakan penyediaan ruang yang bergantung dengan jumlah kendaraan yang parkir. Seiring bertambahnya waktu dari suatu tempat ke tempat lainnya memiliki perbedaan jumlah kendaraan. Jumlah kendaraan yang parkir dapat disebabkan karena beberapa hal antara lain lokasi parkir, aktivitas kegiatan, kapasitas dan fasilitas lokasi, dll. Sehingga kebutuhan parkir berbeda-beda berdasarkan jenis fasilitas kegiatannya. Kebutuhan parkir dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Area Pusat Perbelanjaan

Area pusat perbelanjaan menjadi faktor utama dalam penentu kebutuhan parkir.

Area pusat perbelanjaan dapat diartikan sebagai tempat yang dimiliki ataupun disewakan untuk suatu keperluan. Area pusat perbelanjaan berbeda dengan luas total bangunan yang ada didalamnya, termasuk bagian untuk keperluan umum dan juga bukan untuk disewakan.

(12)

16 b. Tempat Berjualan

Pedagang eceran dapat diartikan sebagai orang yang bergerak dalam kegiatan menjual barang ke konsumen. Dengan demikian pedagang tersebut memiliki peran penting dalam penyediaan ruang parkir.

c. Bukan Tempat Untuk Berjualan

Pada kantor, rumah sakit atau tempat yang digunakan sebagai tujuan pelayanan jasa termasuk tempat hiburan seperti bioskop, taman bermain dan lainnya yang menjadi daya tarik pengunjung sehingga dapat meningkatkan volume kendaraan yang parkir di tempat tersebut.

d. Moda Angkutan Pengunjung

Moda angkutan yang digunakan untuk ke suatu tempat seperti angkutan umum, sepeda motor, atau mobil pribadi yang memiliki dampak terhadap kebutuhan dalam penyediaan ruang parkir. Ruang parkir akan lebih banyak dibutuhkan saat pengunjung menggunakan kendaraan pribadi dengan perentase yang cukup tinggi.

2.2.7. Standar Kebutuhan Parkir

Menurut Teguh Hirtanto (2005), Standar kebutuhan parkir merupakan jumlah ruang parkir yang dibutuhkan dalam menampung jumlah kendaraan yang ingin parkir sesuai dengan fasilitas serta fungsi dari penggunaan lahan. Di berbagai negara memiliki kebutuhan parkir yang berbeda-beda karena memiliki standarnya masing- masing dengan tata guna lahan yang berbeda pula.

Kebutuhan parkir dapat dibedakan menurut fungsi, fasilitas tata guna, lokasi dari tata guna lahan. Misalnya pada kebutuhan parkir di pertokoan, rumah sakit, pasar tradisional akan berbeda-beda. Faktor yang menjadi pertimbangan pada pusat perbelanjaan diantaranya jenis barang yang dijual, kelengkapan kebutuhan, luas bangunan dll. Berikut merupakan rumus dalam menghitung kebutuhan parkir:

S

=

Nt × DT × f (2.1) Keterangan:

S : Petak parkir yang dibutuhkan (petak)

Nt : Jumlah kendaraan selama waktu survei (kendaraan) D : Rata-rata waktu parkir (jam/kend)

(13)

17 T : Lama waktu survei (jam)

f : Faktor pengurangan pergantian parkir menurut Oppelander (1976) (antara 0,85 s/d 0,95).

Nilai 0,85 – 0,89 = Rata-rata waktu singkat (< 1 jam) Nilai 0,90 – 0,94 = Rata-rata waktu sedang (1 – 4 jam) Nilai 0,95 = Rata-rata waktu lama (> 4 jam)

Kebutuhan Ruang Parkir minimum berdasarkan Pedoman Perencanaa dan Pengoperasian Fasilitas Parkir Ditjen Perhubungan Darat 1998 dapat diperhitungkan berdasarkan rumus dan tabel yang ada dibawah ini:

Tabel 2.1. Kebutuhan Ruang Parkir Pasar Swalayan Luas Area Total

(100 m²) 50 75 100 150 200 300 400 500 1000

Kebutuhan (SRP)

225 250 270 310 350 440 520 600 1050 Sumber: Pedoman Perencanaa dan Pengoperasian Fasilitas Parkir Ditjen Perhubungan Darat 1998

KRP = Luas Petak × Kebutuhan SRP (2.2) Keterangan:

KRP : Kebutuhan Ruang Parkir Minimum (m2) SRP : Satuan Ruang Parkir (SRP atau Petak) 2.2.8. Karakteristik Parkir

Karakteristik parkir dapat ditinjau dari beberapa aspek yang terkait dengan kebutuhan parkir yang harus disediakan. Berikut merupakan beberapa hal yang biasa digunakan dalam karakteristik parkir:

2.2.8.1. Durasi Parkir

Menurut Oppelander (1976), durasi parkir merupakan seberapa lama waktu yang dibutuhkan pemarkir dalam memarkir kendaraannya di ruang parkir. Suatu ruang parkir pada waktu singkat dapat memberikan layanan lebih banyak kendaraan dibandingkan dengan waktu yang lama. Biasanya untuk durasi parkir dapat dinyatakan dalam jam. Berdasarkan waktu yang digunakan, parkir dibagi menjadi beberapa kategori diantaranya:

a. Parkir Waktu Singkat

Parkir singkat merupakan parkir yang dilakukan oleh pengendara dalam

(14)

18 memarkirkan kendaraannya di suatu ruang parkir selama kurang dari satu jam karena ada kegiatan tertentu (misal: berbelanja).

b. Parkir Waktu Sedang

Parkir sedang merupakan parkir yang dilakukan oleh pengendara dalam memarkirkan kendaraannya di suatu ruang parkir selama antara satu hingga empat jam karena ada kegiatan tertentu.

c. Parkir Waktu Lama

Parkir lama merupakan parkir yang dilakukan oleh pengendara dalam memarkirkan kendaraannya di suatu ruang parkir selama lebih dari empat jam karena ada kegiatan tertentu (misal: keperluan bekerja). Hal ini terlihat dari lamanya waktu parkir yang dihabiskan oleh pengendara dalam memarkirkan kendaraannya pada suatu petak parkir.

Berikut merupakan rumus dalam menghitung durasi atau rata-rata lamanya parkir:

D =

(Durasi ke-I × Nx)

𝑁𝑠 (2.3)

Keterangan:

D : Durasi parkir / rata-rata lamanya parkir (jam)

Nx : Jumlah kendaraan parkir dalam x interval (kendaraan) I : Interval parkir

Ns : Jumlah kendaraan selama survei (kendaraan) 2.2.8.2. Kapasitas Parkir

Kapasitas parkir menurut Suthanaya (2010) yaitu kemampuan maksimum untuk menampung kendaraan di suatu ruang parkir. Proses ditinjau saat kendaraan datang, saat parkir, serta saat meninggalkan fasilitas parkir. Hal ini dapat menghasilkan nilai kapasitas dari fasilitas parkir yang tersedia. Berikut merupakan rumus dalam menghitung kapasitas parkir:

KP

=

DS

(2.4) Keterangan:

KP : Kapasitas parkir (petak/jam) S : Jumlah petak resmi (petak)

D : Durasi parkir / rata-rata lamanya parkir (jam/kendaraan)

(15)

19 2.2.8.3. Akumulasi Parkir

Menurut Hobbs (1979), Akumulasi parkir adalah total kendaraan parkir di suatu lokasi selanjutnya akan dibagi menurut kategori perjalanan dengan integrasi akumulasi parkir dilakukan selama periode tertentu yang merepresentasikan beban parkir (jumlah kendaraan parkir). Berikut merupakan rumus menghitung akumulasi parkir yaitu:

Akumulasi = Qin - Qout + Qs (2.5)

Keterangan:

Qin : Kendaraan memasuki tempat parkir (kendaraan) Qout : Kendaraan meninggalkan tempat parkir (kendaraan)

Qs : Kendaraan yang telah ada sebelum dilakukannya survei (kendaraan) 2.2.8.4. Volume Parkir

Volume parkir merupakan jumlah kendaran pada waktu tertentu (biasanya sehari) yang menggunakan fasilitas parkir dan sudah termasuk beban parkir (Hobbs, 1979).

Volume parkir dapat dihitung menggunakan rumus berikut:

Volume = Nin + X' (kendaraan) (2.6) Keterangan:

Nin : Jumlah kendaraan masuk (kendaraan)

X’ : Kendaraan yang telah ada sebelum dilakukannya survei (kendaraan) 2.2.8.5. Indeks Parkir

Indeks parkir menentukan seberapa banyak kapasitas parkir yang dapat terisi oleh kendaraan sehingga dapat dipenuhinya prasarana parkir. Melalui indeks parkir terlihat bahwa permintaan akan berbanding lurus ataupun tidaknya dengan kapasitas yang ada. Permintaan ruang parkir masih dapat dipenuhi jika nilai indeks parkir < 100%. Untuk menghitung nilai indeks parkir, rumus yang digunakan yaitu:

IP =

Akumulasi Parkir

Kapasitas Parkir

× 100%

(2.7)

Keterangan:

IP : Indeks Parkir (%)

(16)

20 2.2.8.6. Tingkat Pergantian Parkir (Parking Turn Over)

Tingkat pergantian parkir akan menunjukkan besarnya penggunaan ruang parkir yaitu dengan membagi jumlah kendaraan parkir dan jumlah petak parkir yang tersedia selama survei (Oppelander, 1976). Dalam menghitung tingkat pergantian parkir, dapat menggunakan rumus pada persamaan (2.8):

TR

=

S × TsNt (2.8) Keterangan:

TR : Tingkat pergantian parkir (kendaraan petak/jam) S : Jumlah petak resmi (petak)

Ts : Lama periode survei (jam)

Nt : Jumlah kendaraan saat survei (kendaraan) 2.2.8.7. Penyediaan Parkir (Parking Supply)

Penyediaan parkir merupakan kemampuan ataupun batasan ukuran banyaknya dari suatu kendaraan yang dapat ditampung selama survei (Oppelander, 1976).

Penyediaan parkir dapat diketahui dengan mengolah data sebelumnya menggunakan rumus sebagai berikut:

PS = S × Ts

D × f (2.9) Keterangan:

Ps : Daya tampung kendaraan parkir (kendaraan) S : Petak parkir yang tersedia (petak)

Ts : Lama periode analisis (jam)

D : Durasi parkir / rata-rata lama parkir (jam/kendaraan)

f : Faktor pengurangan pergantian parkir menurut Oppelander (1976) (antara 0,85 s/d 0,95)

Nilai 0,85 – 0,89 = Rata-rata waktu singkat (< 1 jam) Nilai 0,90 – 0,94 = Rata-rata waktu sedang (1 – 4 jam) Nilai 0,95 = Rata-rata waktu lama (> 4 jam)

(17)

21 2.2.9. Satuan Ruang Parkir

Menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (1996), Satuan Ruang Parkir (SRP) adalah luas efektif dalam memarkirkan kendaraan yang sudah termasuk ruang bebas serta lebar bukaan pintu. SRP diperlukan untuk menghindari permasalahan antar kendaraan dan membuat pengendara merasa aman dan nyaman saat ruang parkir sesuai standar. Berikut merupakan hal dasar dalam menentukan SRP yaitu:

a. Dimensi Standar Kendaraan

Dimensi standar kendaraan adalah ukuran suatu tempat dengan batasan tertentu dan mengikuti standar yang berlaku. Berikut merupakan ukuran dimensi standar mobil yaitu 2,5 m × 5 m, untuk bus / truk yaitu 3,4 m × 12,5 m serta pada ukuran dimensi standar motor yaitu 0,75 m × 2,00 m.

b. Ruang Bebas Kendaraan Parkir

Ruang ini dibuat dalam arah lateral serta longitudinal. Saat posisi pintu kendaraan dibuka, maka diterapkan ruang lateral yaitu dari ujung paling luar ke bagian badan kendaraan parkir yang berada di sampingnya. Ruang tersebut juga dibuat untuk menghindari terjadinya benturan antar pintu kendaraan dengan kendaraan lain yang berada di sampingnya. Pada arah lateral mengambil jarak 5 cm. Sedangkan pada ruang bebas longitudinal berada di depan kendaraan untuk menghindari benturan dengan dinding maupun kendaraan yang melewati gang tersebut dengan mengambil jarak 30 cm (bagian depan 10 cm dan bagian belakang 20 cm).

c. Lebar Bukaan Pintu Kendaraan

Lebar bukaan pintu memiliki ukuran tertentu berdasarkan golongannya. Berikut merupakan tabel terkait karakteristik pengguna kendaraan dengan jenis bukaan pintu yaitu:

(18)

22 Tabel 2.2. Jenis Bukaan Pintu Kendaraan

Jenis Bukaan Pintu

Penggunaa dan / ataupun Peruntukan

Fasilitas Parkir

Golongan

Pintu depan / belakang terbuka tahap awal 55 cm

Karyawan ataupun

pekerja kantoran I

Tamu ataupun pengunjung pusat kegiatan perkantoran, perdagangan,

pemerintahan, universitas

II

Pintu depan / belakang terbuka penuh 75 cm

Tempat olahraga, tempat hiburan ataupun rekreasi, hotel, pusat perdagangan eceran/ swalayan, rumah sakit, serta bioskop.

Pintu depan terbuka penuh serta

ditambah untuk pergerakan kursi roda Orang cacat III Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

Penentuan Satuan Ruang Parkir dibagi menjadi tiga jenis kendaraan yaitu:

Tabel 2.3. SRP Kendaraan

Jenis Kendaraan Satuan Ruang Parkir (m²) 1. a. Mobil Penumpang untuk Golongan I 2,30 × 5,00

b. Mobil Penumpang untuk Golongan II 2,50 × 5,00 c. Mobil Penumpang untuk Golongan III 3,00 × 5,00

2. Bus/Truk 3,40 × 12,50

3. Sepeda Motor 0,75 × 2,00

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

Berikut merupakan dimensi SRP pada kendaraan parkir yaitu:

Gambar 2.1. SRP Kendaraan Mobil Penumpang

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

(19)

23 Keterangan:

B : Lebar kendaraan (m) L : Panjang kendaraan (m) O : Lebar bukaan pintu (m) a1, a2 : Jarak bebas longitudinal (m) R : Jarak bebas lateral (m) Bp : Lebar minimal SRP (m) Lp : Panjang minimal SRP (m)

Tabel 2.4. Ukuran SRP Kendaraan Mobil Penumpang (m) Ukuran Satuan Ruang Parkir Kendaraan Mobil Penumpang (meter)

Gol. I

B = 1,70 a1 = 0,10 Bp = B + O + R O = 0,55 L = 4,70 Lp = L + a1 + a2 R = 0,05 a2 = 0,20 Bp = 2,30 Lp = 5,00

Gol. II

B = 1,70 a1 = 0,10

O = 0,75 L = 4,70

R = 0,05 a2 = 0,20 Bp = 2,50 Lp = 5,00

Gol. III

B = 1,70 a1 = 0,10

O = 0,80 L = 4,79

R = 0,05 a2 = 0,20 Bp = 3,00 Lp = 5,00 Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

Gambar 2.2. SRP Kendaraan Bus/Truk

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

(20)

24 Tabel 2.5. Ukuran SRP Kendaraan Bus / Truk (m)

Ukuran Satuan Ruang Parkir Kendaraan Bus/ Truk (meter)

Gol. I

B = 1,70 a1 = 0,10 Bp = B + O + R O = 0,80 L = 4,70 Lp = L + a1 + a2 R = 0,30 a2 = 0,20 Bp = 2,80 Lp = 5,00

Gol. II

B = 2,00 a1 = 0,20

O = 0,80 L = 8,00

R = 0,40 a2 = 0,20 Bp = 3,20 Lp = 8,40

Gol. III

B = 2,50 a1 = 0,30

O = 0,80 L = 12,00

R = 0,50 a2 = 0,20 Bp = 3,80 Lp = 12,5 Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

Gambar 2.3. SRP Kendaraan Sepeda Motor

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

Tabel 2.6. Ukuran SRP Kendaraan Sepeda Motor (m) Ukuran Satuan Ruang Kendaraan Sepeda Motor

(meter)

L B

2,00 0,75

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

2.2.10. Pola Parkir

Pola parkir yang ingin diimplementasikan harus adanya pertimbangan dalam melaksanakan kebijakan terkait perparkiran. Pola parkir yang sudah ada perlu dikaji ulang apakah pola parkir tersebut telah memenuhi standar ataupun kriteria parkir. Pola parkir dapat digunakan untuk golongan tertentu yang akan memaksimalkan kapasitas dan ruangnya sesuai dengan kebutuhan. Parkir terdiri

(21)

25 dari berbagai macam pola diantaranya:

a. Pola Parkir Paralel

Pola ini diatur oleh baris dengan bumper depan mobil yang menghadap salah satu bumper belakang yang berdekatan. Parkir ini sejajar di tepi jalan baik dari sisi kiri jalan maupun sisi kanan jalan, ataupun kedua sisinya jika memungkinkan. Parkir pararel merupakan metode umum yang diterapkan pada kendaraan yang parkir di tepi jalan ataupun di pelataran parkir ataupun gedung.

Berikut ini keuntungan dan kerugian dengan menggunakan pola parkir pararel yaitu:

Keuntungan dari pola parkir pararel adalah:

1. Tidak mengganggu pergerakan lalu lintas karena reduksi jalan yang tidak terlalu besar

2. Mudah digunakan pada lahan parkir yang sempit Kerugian dari pola parkir pararel adalah:

1. Panjang jalan yang terpakai terlalu besar akibatnya hanya menampung sedikit kendaraan

2. Tidak leluasa dalam membuka pintu kendaraan.

1) Parkir Daerah Datar

Gambar 2.4. Parkir Paralel Daerah Datar

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir,1998

(22)

26 2) Parkir Daerah Tanjakan

Gambar 2.5. Parkir Paralel Daerah Tanjakan

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

3) Parkir Daerah Turunan

Gambar 2.6. Parkir Paralel Daerah Turunan

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

b. Pola Parkir Menyudut

Pola parkir sudut 30°, 45°, 60° memiliki kapasitas yang lebih besar dibandingkan pola parkir pararel serta lebih mudah dan nyaman untuk pengendara melakukan maneuver keluar atau masuk ruang parkir dibandingkan pola parkir sudut 90°. Adapun keuntungan dan kerugian yang didapat dalam menggunakan pola parkir sudut 30°, 45°, 60° adalah sebagai berikut:

Keuntungannya:

1. Memudahkan kendaraan keluar masuk dalam ruang parkir.

2. Lebih leluasa dalam membuka pintu kendaraan dibandingkan dengan pola pararel.

Kerugiannya:

1. Pada saat kendaraan keluar parkir atau mundur posisi ini sulit karena

(23)

27 terhalang pandangan sehingga peluang terjadinya kecelakaan lebih besar.

2. Tidak bisa digunakan pada lahan parkir yang sempit karena menyulitkan pengemudi dalam melakukan manuver.

1) Parkir Membentuk Sudut 30o

Gambar 2. 7. Parkir Sudut 30o

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

Tabel 2.7. Parkir Sudut 30o (m)

A B C D E

Golongan I 2,3 4,6 3,45 4,70 7,60

Golongan II 2,5 5,0 4,30 4,85 7,75 Golongan III 3,0 6,0 5,35 5,00 7,90 Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

Keterangan:

A : Lebar ruang parkir (m) B : Lebar kaki ruang parkir (m) C : Selisih panjang ruang parkir (m) D : Ruang efektif (m)

M : Ruang manuver (m)

E : Ruang efektif + ruang manuver (m)

(24)

28 Gambar 2.8. Parkir Sudut 45o

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

2) Parkir Membentuk Sudut 45 o

Tabel 2.8. Parkir Sudut 45o (m)

A B C D E

Golongan I 2,3 3,5 2,5 5,6 9,30

Golongan II 2,5 3,7 2,6 5,65 9,35

Golongan III 3,0 4,5 3,2 5,75 9,45

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

3) Parkir Membentuk Sudut 60o

Gambar 2.9. Parkir Sudut 60o

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

Tabel 2.9. Parkir Sudut 60o (m)

A B C D E

Golongan I 2,3 2,9 1,45 5,95 10,55

Golongan II 2,5 3,0 1,50 5,95 10,55

Golongan III 3,0 3,7 1,85 6,00 10,60

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

(25)

29 4) Parkir Membentuk Sudut 90o

Dibandingkan pola parkir paralel, pola inimemiliki daya tampung posisi lebih banyak tetapi saat pengendara melakukan maneuver ruangan parkir akan lebih sulit dan menjadikannya kurang nyaman. Adapun keuntungan dan kerugian yang didapat jika menggunakan pola parkir sudut 90° adalah sebagai berikut:

Keuntungannya:

1. Dapat menampung kendaraan lebih banyak dibandingkan posisi lainnya.

2. Lebih leluasa dalam membuka pintu kendaraan dibandingkan dengan pola pararel.

Kerugiannya:

1. Fungsi dari lebar jalan berkurang lebih banyak.

2. Keluar masuk kendaraan dalam ruang parkir lebih sulit.

Gambar 2.10. Parkir Sudut 90o

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

Tabel 2.10. Parkir Sudut 90o (m)

A B C D E

Golongan I 2,3 2,3 - 5,4 11,2

Golongan II 2,5 2,5 - 5,4 11,2

Golongan III 3,0 3,0 - 5,4 11,2

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

(26)

30 5) Parkir Menyudut Daerah Tanjakan

Gambar 2.11. Parkir Menyudut Daerah Tanjakan

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

6) Parkir Menyudut Daerah Turunan

Gambar 2.12. Parkir Menyudut Daerah Turunan

Sumber: Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir, 1998

Gambar

Tabel 2.1. Kebutuhan Ruang Parkir Pasar Swalayan  Luas Area Total
Gambar 2.1. SRP Kendaraan Mobil Penumpang
Gambar 2.2. SRP Kendaraan Bus/Truk
Tabel 2.6. Ukuran SRP Kendaraan Sepeda Motor (m)  Ukuran Satuan Ruang Kendaraan Sepeda Motor
+6

Referensi

Dokumen terkait

Bagi tujuan pengecualian ini “rawatan awalan” bermaksud rawatan pertama diterima dalam merawat kecederaan akibat kemalangan; Mana-mana rawatan pergigian atau pembedahan kecuali

Tafsir Muqarin adalah upaya yang dilakukan oleh mufasir dalam memahami satu ayat atau lebih kemudian membandingkan dengan ayat lain yang memiliki kedekatan atau

1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan

Hadirnya Globalisasi ini dalam fenomena Indonesia sebagai tren center hijab dunia membawa ke khawatiran cukup besar terhadap pergeseran aturan-aturan hijab

Project : Embankment Rehabilitation and Dredging Work of West Banjir Canal and Upper Sunter Floodway of Jakarta Urgent Flood Mitigation Project (JUFMP/JEDI) – ICB Package

Daerah/kabupaten tertinggal yaitu Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, Kabupaten Lumajang, Kabupaten

Berdasarkan hasil evaluasi prakualifikasi pada pekerjaan Perencanaan Landscape Masjid Raya Kecamatan, telah didapatkan hasil 5 (Lima) daftar pendek calon penyedia

Lambang yang banyak digunakan dalam komunikasi dakwah ialah bahasa karena hanya bahasalah yang dapat mengungkap pikiran dan perasaan, fakta dan opini, hal yang kongkret