• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hambatan Peningkatan Layanan Kesehatan Dasar dan Rujukan di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Hambatan Peningkatan Layanan Kesehatan Dasar dan Rujukan di Indonesia"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Hambatan Peningkatan

Layanan Kesehatan Dasar dan Rujukan di Indonesia

Vol. VII, Edisi 19, Oktober 2022

p.3

Meninjau Kinerja Komoditas Tanaman Pangan Strategis (Pertanian) Dalam

Mewujudkan Kemandirian Pangan

p.12

Subsidi Solar Dalam APBN 2023 Membengkak, Distribusi Tertutup Harus Jadi Pilihan

p.8

(2)

Meninjau Kinerja Komoditas Tanaman Pangan Strategis (Pertanian) Dalam Mewujudkan

Kemandirian Pangan

Terbitan ini dapat diunduh di halaman website www.puskajianggaran.dpr.go.id

Bidang pangan kembali menjadi sektor pembangunan prioritas ditahun 2023, dengan beberapa program strategis yang diupayakan dalam mewujudkan kemandirian pangan. Dalam NK RAPBN 2023, Pemerintah menyatakan bahwa sepanjang tahun 2018-2022 sudah terdapat peningkatan pada capaian output strategis yang secara langsung diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas tanaman pangan strategis. Capaian tersebut antara lain adalah peningkatan kawasan/

fasilitas penerapan budi daya pada tanaman padi, jagung dan kedelai. Namun, berbagai capaian tersebut nyatanya belum mampu mendorong produktivitas tanaman pangan strategis nasional, disebabkan oleh berbagai faktor permasalahan yang dihadapi. Untuk itu, terdapat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian Pemerintah dalam pelaksanaan berbagai program strategis dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.

Kebijakan subsidi BBM solar pada 2023 diarahkan untuk melanjutkan pemberian subsidi tetap sebagaimana ditempuh sejak 2015. Namun besaran subsidi tetap per liternya mengalami perubahan dari sebesar Rp500 per liter menjadi Rp1.000 per liter untuk 17 juta kiloliter. Untuk pendistribusian, pemerintah masih tetap menggunakan mekanisme distribusi terbuka. Di sisi lain, masih ditemukan persoalan penyelewengan solar bersubsidi akibat disparitas harga dengan BBM solar non subsidi di tengah pola distribusinya yang masih terbuka. Hal ini menunjukkan indikasi kuat penyaluran solar bersubsidi masih jauh dari tepat sasaran. Oleh karena itu, opsi penyaluran solar bersubsidi dengan mekanisme subsidi tertutup harus dipertimbangkan oleh pemerintah agar belanja subsidi solar lebih tepat sasaran pada 2023.

Kritik/Saran

http://puskajianggaran.dpr.go.id/kontak

Dewan Redaksi

Pemimpin Redaksi Robby Alexander Sirait

Redaktur

Adhi Prasetyo Satriyo Wibowo Dahiri

Martha Carolina

Rastri Paramita

Rosalina Tineke Kusumawardhani Tio Riyono

Editor Riza Aditya Syafri

Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta adalah melalui penguatan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan seperti yang tercantum di dalam RPJMN 2020-2024. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah mulai dari mengeluarkan berbagai aturan di bidang kesehatan sampai dengan menambah jumlah sarana prasarana kesehatan. Namun begitu, masih terdapat permasalahan yang perlu diselesaikan oleh pemerintah khususnya terkait Puskesmas dan rumah sakit.

Pengarah

Dr. Inosentius Samsul, S.H., M.Hum.

Penanggung Jawab Drs. Helmizar, M.E.

Hambatan Peningkatan Layanan Kesehatan Dasar

dan Rujukan di Indonesia p.3

Subsidi Solar Dalam APBN 2023 Membengkak, Distribusi Tertutup Harus Jadi Pilihan

p.12

p.8

(3)

*) Analis APBN Non-ASN, Pusat Kajian Anggaran, Badan Keahlian, Setjen DPR RI.

Abstrak

Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta adalah melalui penguatan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan seperti yang tercantum di dalam RPJMN 2020-2024. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah mulai dari mengeluarkan berbagai aturan di bidang kesehatan sampai dengan menambah jumlah sarana prasarana kesehatan. Namun begitu, masih terdapat permasalahan yang perlu diselesaikan oleh pemerintah khususnya terkait Puskesmas dan rumah sakit.

P

emerintah telah berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar 5 persen dari APBN dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini tercermin dari alokasi anggaran kesehatan yang meningkat tiap tahunnya.

Untuk diketahui, anggaran kesehatan dalam APBN tahun 2023 sebesar Rp169,8 triliun atau meningkat sebesar 49,47 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang sebesar Rp113,6 triliun. Berdasarkan dokumen RPJMN 2020-2024 dapat diperoleh informasi bahwa salah satu arah kebijakan anggaran kesehatan pemerintah adalah meningkatkan pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta terutama penguatan pelayanan kesehatan dasar dengan mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif melalui penguatan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan.

Jika mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No 43 Tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat (Permenkes Puskesmas), maka Puskesmas mempunyai tugas untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komperhensif, berkesinambungan dan bermutu dengan mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif. Puskesmas juga merupakan salah satu jenis fasilitas kesehatan

tingkat pertama (FKTP) yang memiliki peranan penting dalam pembangunan sistem kesehatan nasional serta menjadi garda terdepan dalam menghadapi ancaman kesehatan masyarakat. Di sisi lain, apabila Puskesmas tidak mampu memberikan layanan kesehatan karena keterbatasan sarana dan prasarana atau karena indikasi medis yang serius, maka Puskesmas dapat melimpahkan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan milik pemerintah, dalam hal ini rumah sakit milik pemerintah pusat dan daerah. Melihat begitu besarnya peran Puskesmas dan rumah sakit dalam mendukung tercapainya pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta, artikel ini akan mencoba untuk memberikan sedikit gambaran permasalahan-permasalahan yang terjadi di Puskesmas dan rumah sakit yang ada di Indonesia.

Jumlah Puskesmas dan Tenaga Kesehatan Belum Memadai

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah kecamatan yang ada di Indonesia per 30 Desember 2021 sebanyak 7.274. Jika mengacu pada Permenkes Puskesmas khususnya pada pasal 10 ayat (1), maka pemerintah mempunyai kewajiban untuk memastikan

Hambatan Peningkatan Layanan Kesehatan Dasar dan Rujukan di Indonesia

Taufiq Hidayatullah*)

Rosalina Tineke Kusumawardhani**)

(4)

Gambar 1. Perkembangan Jumlah Puskesmas di Indonesia Tahun 2016-2021

Sumber: Kementerian Kesehatan (2022), diolah.

seluruh kecamatan yang ada harus memiliki minimal 1 Puskesmas. Oleh sebab itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Rencana Strategis (Renstra) tahun 2020-2024 memiliki target pembangunan 171 Puskesmas baru sampai tahun 2024.

Berkenaan dengan hal tersebut, Kemenkes dalam buku Profil Kesehatan Indonesia 2021 menyampaikan bahwa jumlah Puskesmas yang ada di Indonesia dalam enam tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Mulai dari 9.767 Puskesmas di tahun 2016 menjadi 10.292 Puskesmas di akhir tahun 2021 atau meningkat sebesar 5,38 persen jika dibandingkan dengan tahun 2016 (grafik 1). Peningkatan jumlah Puskesmas selama 6 tahun terakhir merupakan salah satu bukti keseriusan pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar yang optimal kepada masyarakat. Namun demikian, masih terdapat beberapa permasalahan yang perlu menjadi perhatian pemerintah.

Pertama, belum tersedianya Puskesmas di 195 kecamatan. Walaupun secara agregat nasional jumlah Puskesmas sudah melampaui jumlah kecamatan yang ada, namun nyatanya masih terdapat 195 kecamatan yang belum memiliki Puskesmas. Kecamatan tersebut yaitu 56 kecamatan di Provinsi Papua Barat dan 139 Kecamatan di Provinsi Papua. Berdasarkan data yang sama juga diketahui bahwa masih terdapat Puskesmas yang belum melakukan kerjasama dengan BPJS Kesehatan yaitu

sebanyak 224 Puskesmas yang tersebar di 20 provinsi di seluruh Indonesia dan yang terbanyak berada di Provinsi Riau 148 Puskesmas, Provinsi Kalimantan Tengah 18 Puskesmas dan Provinsi Papua 14 Puskesmas. Dengan tidak melakukan kerjasama dengan BPJS Kesehatan, maka Puskesmas berpotensi mengalami hambatan operasional dalam menjalankan pelayanan kesehatan dasar di wilayahnya. Atas permasalahan tersebut, pemerintah perlu mempercepat pembangunan Puskesmas di setiap kecamatan yang belum memiliki Puskesmas, khususnya di Provinsi Papua dan Papua Barat. Pembangunan Puskesmas dapat dilakukan melalui kerjasama dengan swasta ataupun dengan BUMN/BUMD yang ada di wilayah tersebut. Selain itu, pemerintah juga harus memastikan seluruh Puskesmas yang tedaftar telah melakukan kerjasama dengan BPJS Kesehatan dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dasar.

Kedua, persentase pemenuhan Puskesmas dengan 9 jenis tenaga kesehatan belum tercapai. Dalam Permenkes Puskesmas disebutkan bahwa Puskesmas harus memiliki minimal 9 jenis tenaga kesehatan yaitu dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga promosi kesehatan dan ilmu perilaku, tenaga sanitasi lingkungan, nutrisionis, apoteker dan ahli teknologi labolatorium medik. Hal ini masih menjadi hambatan bagi hampir seluruh Puskesmas yang ada di Indonesia. Berdasarkan data Kemenkes per 21 Juni 2021, dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, hanya Puskesmas di DKI Jakarta yang telah memenuhi 9 jenis tenaga kesehatan.

Sedangkan, Provinsi Papua, Papua Barat dan Maluku menempati urutan tiga terendah terkait pemenuhan 9 jenis tenaga kesehatan (Grafik 2). Atas permasalahan tersebut, pemerintah perlu mempercepat peningkatan jumlah tenaga kesehatan secara masif dan merata, hal ini perlu dilakukan pemerintah karena terbatasnya tenaga kesehatan yang ada saat ini. Hal ini didasarkan atas belum terpenuhinya

(5)

9 jenis tenaga kesehatan di Puskesmas di seluruh provinsi secara nasional selain DKI Jakarta. Peningkatan jumlah tenaga kesehatan dapat dilakukan salah satunya dengan mengajak masyarakat khususnya pada pelajar tingkat menengah untuk mengambil pendidikan tingkat perguruan tinggi di bidang kesehatan melalui program beasiswa. Adanya program beasiswa perguruan tinggi diharapkan mampu meningkatkan jumlah tenaga kesehatan dimasa yang akan datang sekaligus memenuhi 9 jenis tenaga kesehatan di Puskesmas.

Belum Tercapainya Target Akreditasi, Jumlah Tenaga Kerja dan Rasio Tempat Tidur Rumah Sakit di Indonesia

Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan

perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Sejalan dengan peningkatan jumlah Puskesmas, jumlah rumah sakit di Indonesia juga terus mengalami peningkatan, dari 2.406 di

Gambar 2. Persentase Pemenuhan Puskesmas dengan 9 Jenis Tenaga Kesehatan Per Provinsi 2021

Sumber: Kementerian Kesehatan (2022), diolah.

tahun 2014 menjadi 3.042 per 2 Januari 2022 (Kemenkes, 2022). Walaupun secara keseluruhan jumlah rumah sakit terus meningkat, masih ada beberapa permasalahan yang perlu menjadi perhatian bagi pemerintah.

Pertama, persentase rumah sakit terakreditasi di Indonesia masih belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Akreditasi rumah sakit merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh rumah sakit jika merujuk pada Permenkes Nomor 12 Tahun 2020 tentang Akreditasi Rumah Sakit. Adanya akreditasi rumah sakit dimaksudkan agar dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan melindungi keselamatan pasien selama masa perawatan.

Berdasarkan Renstra Kemenkes 2020-2024, Kemenkes menargetkan persentase rumah sakit terakreditasi di Indonesia di tahun 2021 sebesar 90 persen. Namun, nyatanya sampai dengan akhir 2021 persentase rumah sakit yang terakreditasi secara agregat nasional hanya sebesar 79,6 persen.

Jika di breakdown lebih lanjut, hanya

(6)

Provinsi Aceh yang capaian rumah sakit terakreditasinya melebihi target nasional yaitu sebesar 90,3 persen. Hal ini akan menjadi tantangan besar bagi pemerintah yang menargetkan 100 persen rumah sakit terakreditasi di tahun 2024. Atas permasalahan tersebut, pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi dan koordinasi terkait kendala atau hambatan rumah sakit dalam mendapatkan akreditasi dengan harapan persentase rumah sakit yang terakreditasi dapat mencapai target di tahun 2024.

Kedua, rendahnya jumlah tenaga kesehatan di daerah tertinggal terhadap jumlah nasional. Sebelumnya, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 78 tahun 2014 tentang percepatan pembangunan daerah yang salah satu tujuannya adalah mempercepat terpenuhinya kebutuhan dasar serta sarana dan prasarana dasar.

Menindaklanjuti PP tersebut, Pemerintah kembali mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024. Melalui Perpres tersebut pemerintah menetapkan daerah tertinggal sebagai sasaran utama pembangunan.

Dalam Perpres yang sama juga diketahui bahwa terdapat 62 Kabupeten/Kota yang tersebar ke 11 Provinsi di Indonesia yang masuk kedalam kategori daerah tertinggal. Namun upaya yang dilakukan pemerintah sepertinya masih belum maksimal, khususnya terkait distribusi

tenaga kesehatan di daerah tertinggal.

Berdasarkan data Kemenkes Tahun 2021, jumlah tenaga kesehatan di daerah tertinggal hanya sebesar 44.179 orang atau 4 persen dari total tenaga kesehatan secara nasional yang sebesar 1.100.992 orang. Jika dilihat lebih jauh, Sumatera Barat, Maluku Utara dan Lampung menjadi Provinsi yang jumlah tenaga kesehatannya paling sedikit (grafik 3).

Atas permasalahan tersebut, pemerintah perlu melakukan pendataan distribusi tenaga kesehatan secara nasional dengan maksud mengetahui provinsi mana yang jumlah tenaga kesehatannya sudah mencukupi dan selanjutnya menugaskan tenaga kesehatan tersebut untuk bertugas di daerah tertinggal dengan memberikan insentif yang besar.

Ketiga, rasio tempat tidur terhadap penduduk di Indonesia masih perlu di tingkatkan. Rasio tempat tidur merupakan perbandingan jumlah tempat tidur perawatan terhadap 1.000 penduduk dalam satu wilayah geografis dan waktu tertentu. Berdasarkan data Kemenkes tahun 2022, rasio tempat tidur rumah sakit di Indonesia terhadap jumlah penduduk sebesar 1,4. Artinya, Indonesia memiliki 1,4 tempat tidur di rumah sakit untuk 1.000 penduduk. Rasio tersebut juga dapat dikatakan lebih rendah jika dibandingkan dengan negara Asean lainnya. Misalnya saja Malaysia yang memiliki rasio sebesar 1,9, Brunei 2,9, Vietnam 2,6 dan singapura 2,5. Atas Kondisi tersebut, pemerintah

Gambar 3. Jumlah Tenaga Kesehatan di Daerah Tertinggal

(7)

perlu meningkatkan rasio jumlah tempat tidur terhadap jumlah penduduk sebagai bagian dari pencegahan apabila suatu saat nanti terjadi benncana alam atau non alam yang dapat mengakibatkan kesakitan massal dimasyarakat.

Daftar Pustaka

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 2020. “Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024”.

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 2014. “Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2014 tentang Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal”.

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 2020. “Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024”.

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 2009. “Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit”.

Badan Pusat Statistik. 2022. “Jumlah Kecamatan Menurut Provinsi”.

Kementerian Kesehatan. 2020. “Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 tentang Akreditasi Rumah Sakit”.

Kementerian Kesehatan. 2020. “Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024”.

Kementerian Kesehatan. 2019.

“Peraturan Menteri Kesehatan tentang Pusat Kesehatan Masyarakat”.

Kementerian Kesehatan. 2022. “Profil Kesehatan Indonesia 2021”.

Worldbank. 2017-2019. “Hospital beds (Per 1,000 people)-East Asia

& Pacific. Diakses dari https://data.

worldbank.org/indicator/SH.MED.BEDS.

ZS?end=2017&locations=Z4&most_

r e c e n t _ y e a r _ desc=true&start=2017&view=bar pada tanggal 1 Oktober 2022.

(8)

D

alam dokumen APBN, subsidi merupakan salah satu alokasi belanja barang yang setiap tahun dialokasikan pemerintah. Belanja subsidi terdiri dari belanja subsidi energi dan non energi. Subsidi solar merupakan salah satu belanja subsidi energi selain belanja subsidi Liquified Petroleum Gas (LPG), subsidi listrik dan subsidi bahan bakar nabati (BBN). Pemberian subsidi solar bertujuan agar masyarakat mampu memperoleh harga solar yang terjangkau mengingat solar merupakan kebutuhan utama dalam proses produksi barang dan jasa serta transportasi masyarakat dan dunia usaha.

Pada 2022, pemerintah menetapkan untuk melanjutkan pemberian subsidi tetap (fixed subsidy) untuk solar yakni sebesar Rp500 per liter. Untuk 2023, besaran subsidi solar per liter mengalami perubahan dari Rp500 per liter menjadi Rp1.000 per liter. Dari sisi volume, pemerintah mematok jumlah subsidi solar yang akan diberikan pada 2023 sebesar 17 juta kiloliter. Dengan demikian, alokasi belanja subsidi solar pada APBN 2023 sebesar Rp17 triliun. Guna memastikan ketepatan alokasi dan sasaran, penetapan subsidi tetap solar akan disertai dengan kebijakan pengendalian volume dan pengawasan atas golongan atau sektor-

Abstrak

Kebijakan subsidi BBM solar pada 2023 diarahkan untuk melanjutkan pemberian subsidi tetap sebagaimana ditempuh sejak 2015. Namun besaran subsidi tetap per liternya mengalami perubahan dari sebesar Rp500 per liter menjadi Rp1.000 per liter untuk 17 juta kiloliter. Untuk pendistribusian, pemerintah masih tetap menggunakan mekanisme distribusi terbuka. Di sisi lain, masih ditemukan persoalan penyelewengan solar bersubsidi akibat disparitas harga dengan BBM solar non subsidi di tengah pola distribusinya yang masih terbuka. Hal ini menunjukkan indikasi kuat penyaluran solar bersubsidi masih jauh dari tepat sasaran. Oleh karena itu, opsi penyaluran solar bersubsidi dengan mekanisme subsidi tertutup harus dipertimbangkan oleh pemerintah agar belanja subsidi solar lebih tepat sasaran pada 2023.

*) Analis APBN Non-ASN, Pusat Kajian Anggaran, Badan Keahlian, Setjen DPR RI.

**) Analis APBN ASN, Pusat Kajian Anggaran, Badan Keahlian, Setjen DPR RI.

sektor yang berhak memanfaatkannya.

Artinya, pemerintah menyadari bahwa pengendalian volume dan pengawasan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi efektivitas belanja subsidi solar.

Anggaran Belanja Subsidi BBM Solar 2015-2023 Fluktuatif

Sejak 2015 hingga saat ini, pemerintah menerapkan kebijakan subsidi tetap (fixed subsidy) untuk solar. Berbeda dengan periode sebelumnya yang menggunakan subsidi selisih harga.

Dalam perkembangannya, nilai subsidi tetap per liternya tidak sama di setiap tahunnya. Misalnya di 2017 sebesar Rp500 per liter dan di 2018 hingga 2019 sebesar Rp2.000 per liter. Kemudian berubah menjadi Rp1.000 di 2020 dan kembali menjadi Rp500 di 2021 hingga 2022. Perubahan nilai subsidi tetap per liter tersebut berimplikasi pada anggaran belanja subsidi solar yang fluktuatif sejak 2015 (Gambar 1). Selain besaran nilai subsidi per liter, alokasi anggaran belanja subsidi solar juga bergantung pada volume kuota setiap tahunnya.

Selama periode 2015-2023, terlihat bahwa hanya pada 2018-2019 alokasi anggaran belanja subsidi mencapai level tertinggi, yakni di atas Rp30 triliun.

Subsidi Solar Dalam APBN 2023 Membengkak, Distribusi Tertutup Harus Jadi Pilihan

Mujiburrahman*) Robby Alexander Sirait**)

(9)

Tingginya belanja tersebut dikarenakan adanya penyesuaian nilai subsidi tetap yang meningkat relatif cukup signifikan.

Pada 2017 sebesar Rp500 per liter dan kemudian berubah menjadi Rp2.000 per liter pada 2018-2019. Pada 2020 hingga 2021 mengalami penurunan yang diakibatkan adanya penurunan besaran subisidi tetap solar per liter menjadi Rp1.000 pada 2020 dan Rp500 pada 2021.

Dari sisi kuota, total kuota subsidi solar mengalami penurunan setiap tahun hingga 2021 atau tumbuh minus 1,26 persen per tahun. Secara rata-rata, kuota subsidi solar mencapai 15,6 juta kiloliter hingga 2021. Sedangkan rata- rata realisasi konsumsinya mencapai 14,8 juta kiloliter per tahun hingga 2021.

Artinya, rata-rata realisasi konsumsi solar bersubsidi sepanjang 2015-2021 jauh lebih rendah dibandingkan alokasi di periode yang sama.

Pada 2023, pemerintah menetapkan alokasi subsidi solar sebesar 17 juta kiloliter atau lebih tinggi dibanding kuota awal tahun 2022 yang sebesar 15,1 juta kiloliter. Angka ini juga jauh lebih tinggi dibanding rata-rata alokasi pada periode 2015-2021 dan bahkan lebih tinggi dibanding realisasi konsumsi pada periode 2015-2021. Pertanyaannya, apakah kuota pada 2023 akan mampu terserap seratus persen apabila berkaca pada realiasi rata- rata konsumsi yang hanya sebesar 14,8

juta kiloliter selama 2015-2021. Berkaca pada hal tersebut, pemerintah sebaiknya harus realistis dalam memutuskan jumlah kuota subsidi solar pada 2023 karena fakta empiris menunjukkan bahwa rata- rata konsumsi solar bersubsidi masih di bawah 15 juta kiloliter selama 2015-2021.

Pengawasan Lemah, Kasus Penyelewengan BBM Solar Bersubsidi Terus Terjadi

Disparitas harga yang relatif tinggi antara solar bersubsidi dan non subsidi berpotensi disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan. Sebelum kenaikan harga BBM solar per 3 September 2022, selisih harga solar subsidi dan non subsidi mencapai Rp7.800 per liter. Harga solar non subsidi mengalami kenaikan harga hingga mencapai Rp700 per liter. Harga Dexlite (CN51) naik dari Rp17.100 per liter menjadi Rp17.800 per liter.

Harga Pertamina Dex (CN 53) naik dari sebelumnya Rp17.400 per liter menjadi Rp18.100 per liter.

Disparitas yang relatif sangat lebar tersebut sangat berpotensi menimbulkan peyelewangan penyaluran solar bersubsidi. Hingga pertengahan tahun 2022, kasus-kasus penyelewengan solar bersubsidi terjadi di berbagai daerah.

Pada Juni 2022, aparat penegak hukum mengungkap sebanyak 19 kasus dan 24 pelaku ditangkap terkait dugaan jual- beli solar bersubsidi di Kalimantan Barat

Gambar 1. Perkembangan Belanja Subsidi BBM Solar Periode 2015-2023

*)APBN **)RAPBN

Sumber: LKPP dan Nota Keuangan APBN

Sumber: BPH Migas, 2022.

Gambar 2. Mekanisme Pendistribusian dan Pengawasan BBM Solar Bersubsidi BPH Migas

(10)

(Kompas, Juni 2022). Per 20 Mei 2022, kepolisian menangkap oknum yang diduga menimbun dan menyelewengkan solar bersubsidi di Jawa Tengah. Secara nasional, sudah terjadi 230 kasus penyelundupan solar bersubsidi. Kasus tersebut, umumnya terjadi di Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Sumatera Bagian Selatan (Sumbangsel, Jawa Bagian Barat (JBB), Jawa Bagian Tengah (JBT), Jatimbalinus, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku-Papua (Bisnis Indonesia dan Tempo, Mei 2022).

Masih marak terjadinya kasus penyelewenangan solar bersubsidi membuktikan bahwa pengawasan penyaluran solar bersubsidi masih relatif jauh dari efektif. Menteri ESDM (2022) menyebutkan bahwa pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah berupa himbauan dengan menempel stiker yang melarang kendaraan yang tidak berhak menerima solar bersubsidi di SPBU.

Direktur Utama Pertamina (Mei, 2022) mengakui bahwa pengawasan solar bersubsidi selama ini belum sepenuhnya dibarengi dengan regulasi yang lebih jelas dan proses penindakan hukum yang lebih kuat agar kasus tidak berulang. Pertamina hanya melakukan model pengawasan dengan membagikan dan mewajibkan pembelian solar bersubsidi dengan kartu kendali yang mencantumkan nomor polisi kendaraan dan jenis kendaraan. Petugas akan mencatat jenis kendaraan, nomor polisi dan jumlah pembelian.

Bentuk pengawasan lainnya berupa pengaturan jam pelayanan solar bersubsidi serta pelarangan antrian sebelum jam pelayanan tersebut di SPBU.

Selain itu, juga dilakukan monitoring stok BBM melalui command center yang kemudian dilakukan koordinasi dengan penegak hukum dan pemerintah daerah.

Namun demikian, jika distribusi solar masih bersifat terbuka, maka akan sangat sulit dilakukan pengawasan termasuk oleh BPH Migas (Pasal 21 ayat 2 dan 3 Perpres No 191 Tahun 2014) sebagaimana pada Gambar 2 di atas. Selain itu, dapat dipastikan akan membutuhkan biaya yang relatif tidak murah.

Berkaca pada hal tersebut, pemerintah sebaiknya harus segera mempertimbangkan dan mengimplimentasikan transformasi pola distribusi solar bersubsidi di 2023, dari distribusi terbuka menjadi distribusi tertutup. Kemudian, pemerintah juga harus memperkuat pengawasan dengan regulasi dan teknis penerapan yang lebih kuat, serta kolaborasi yang terintegrasi dengan unit-unit institusi penegak hukum dan pemerintahan di daerah. Hal ini merupakan salah satu faktor penentu kunci keberhasilan pengendalian distribusi solar bersubsidi.

Distribusi BBM Solar Bersubsidi Secara Tertutup Lebih Tepat Sasaran?

Pemerintah mulai mempertimbangkan skema baru terhadap subsidi LPG dan listrik dari subsidi terbuka ke subsidi tertutup pada 2023. Staf Khusus Kementerian Keuangan, Yustinus Prastowo, dan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (2022) menyatakan bahwa pemerintah akan menerapkan transformasi subsidi secara bertahap untuk LPG dan listrik dari subsidi terhadap barang (subsidi terbuka) menjadi subsidi tertutup (subsidi terhadap orang). Transformasi ini diupayakan agar impelementasi kebijakan subsidi LPG dan listrik lebih tepat sasaran. Namun anehnya solar tidak mendapat perlakukan yang sama, yakni bertransformasi dari distribusi terbuka menjadi distribusi tertutup.

Padahal solar juga merupakan komoditas energi yang masih disubsidi oleh negara.

Jika pemerintah yakin bahwa skema subsidi tertutup lebih tepat sasaran, lantas mengapa transformasi kebijakan pada subsidi LPG dan listrik tidak diberlakukan juga terhadap solar bersubsidi. Padahal, mekanisme subsidi terbuka atas solar bersubsidi menciptakan ketidaktepatan sasaran dan ketidaktepatan sasaran ini merupakan masalah yang serius.

Secara empiris, penerapan mekanisme distribusi terbuka atas solar bersubsidi sangat besar berpotensi menyebabkan ketidaktepatan sasaran objek penerima subsidi. Siapapun dapat mengakses

(11)

dan menikmati solar bersubsidi dengan berbagai cara, termasuk kelas ekonomi menengah atas, serta kalangan industri yang memang bukan pihak yang berhak menerima subsidi. Kasus penyelewangan dan penyelundupan merupakan salah saru bukti sahih ketidaktepatan sasaran solar bersubsidi.

Oleh karena itu pilihan distribusi tertutup sudah seharusnya menjadi pilihan utama yang diambil pemerintah agar penyaluran subsidi solar dapat lebih tepat sasaran.

Pasal 1 Angka 5 Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 menyebutkan bahwa sistem pendistribusian tertutup jenis BBM tertentu adalah metode pendistribusian jenis BBM tertentu untuk pengguna tertentu dan/atau volume tertentu dengan mekanisme penggunaan alat kendali. Pasal 3 ayat (1) dalam beleid tersebut dinyatakan bahwa salah satu jenis BBM tertentu adalah minyak solar.

Kemudian Pasal 13 ayat (1) menyebutkan bahwa pendistribusian solar sebagai salah satu BBM tertentu dapat dilakukan melalui mekanisme distribusi tertutup.

Dengan demikian, pilihan melakukan transformasi distribusi solar bersubsidi dari distribusi terbuka menjadi distribusi tertutup telah memiliki pijakan hukum yang kuat sebagaimana diatur di dalam Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014. Untuk itu, sebaiknya pemerintah tidak perlu ragu untuk menerapkan kebijakan tersebut pada 2023. Terlebih lagi pilihan kebijakan tersebut ditujukan untuk memastikan pendistribusian solar bersubsidi tidak dinikmati oleh yang tidak berhak.

Daftar Pustaka

BPH Migas. 2022. Bagan Pengawasan Solar Bersubsidi. Diakses dari: https://

www.bphmigas.go.id/pengawasan-bbm/

pada tanggal 28 September 2022.

BPH Migas. 2021. Laporan Tahunan 2021.

Diakses dari: https://www.bphmigas.

go.id/laporan-kinerja/ pada tanggal 30 September 2022.

Bisnis.com. 2022. Penyelewenagan BBM Bersubsidi Marak , Pertamina Ikut

Buntung. Diakses dari: https://ekonomi.

bisnis.com/read/20220526/44/1537044/

penyelewengan-bbm-bersubsidi-marak- pertamina-ikut-buntung pada tanggal 26 September 2022.

Kementerian ESDM. 2022. Pemerintah Tindak Tegas Pelaku Penyelewengan BBM Subsidi. Diakses dari: https://migas.

esdm.go.id/post/read/pemerintah-tindak- tegas-pelaku-penyelewengan-bbm- subsidi pada tanggal 4 Oktober 2022.

Kementerian Keuangan. (2021). Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Audited Tahun 2015 - 2021.

Kementerian Keuangan. (2021). Nota Keuangan APBN 2022.

Kementerian Keuangan. (2022). Nota Keuangan RAPBN 2023.

Kompas.com. 2022. Penyelewengan BBM Bersubsidi, Polda Kalbar Tangkap 24 Orang dan Sita 54 Ton.

Diakses dari: https://regional.kompas.

com/read/2022/06/01/143737178/

penyelewengan-bbm-bersubsidi-polda- kalbar-tangkap-24-orang-dan-sita-54-ton pada tanggal 30 September 2022.

Perpres Nomor 191 Tahun 2014.

Tempo.co.2022. Kasus Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Diungkap Polisi, Apa Saja Modusnya. Diakses dari: https://

bisnis.tempo.co/read/1595315/230- kasus-penyalahgunaan-bbm-bersubsidi- diungkap-polisi-apa-saja-modusnya pada tanggal 22 September 2022.

(12)

B

idang pangan kembali menjadi salah satu sektor pembangunan yang menjadi prioritas dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2023.

Komitmen tersebut terlihat melalui anggaran ketahanan pangan yang secara umum cenderung meningkat selama periode 2018-2022, dan juga untuk tahun 2023 yang direncanakan meningkat 0,9 persen dari tahun 2022 yaitu sebesar Rp95 triliun. Anggaran tersebut diimplementasikan melalui beberapa program strategis yang diupayakan untuk mewujudkan kemandirian pangan di tengah meningkatnya ancaman atas ketersediaan pangan nasional.

Secara umum terdapat tiga belas komoditas pangan strategis yang menjadi fokus dalam mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan, yaitu padi/beras, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, daging ayam, telur ayam, daging sapi/kerbau, tebu/gula pasir, dan minyak goreng.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah berfokus pada peningkatan produksi pada tiga komoditas dengan tingkat konsumsi yang paling banyak di Indonesia, yaitu padi/beras, jagung, dan kedelai. Hal ini juga sejalan dengan

Abstrak

Bidang pangan kembali menjadi sektor pembangunan prioritas ditahun 2023, dengan beberapa program strategis yang diupayakan dalam mewujudkan kemandirian pangan. Dalam NK RAPBN 2023, Pemerintah menyatakan bahwa sepanjang tahun 2018-2022 sudah terdapat peningkatan pada capaian output strategis yang secara langsung diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas tanaman pangan strategis. Capaian tersebut antara lain adalah peningkatan kawasan/

fasilitas penerapan budi daya pada tanaman padi, jagung dan kedelai. Namun, berbagai capaian tersebut nyatanya belum mampu mendorong produktivitas tanaman pangan strategis nasional, disebabkan oleh berbagai faktor permasalahan yang dihadapi. Untuk itu, terdapat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian Pemerintah dalam pelaksanaan berbagai program strategis dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.

Meninjau Kinerja Komoditas Tanaman Pangan Strategis (Pertanian) Dalam Mewujudkan Kemandirian Pangan

Andriani Elizabeth*) Rastri Paramita**)

*) Analis APBN Non-ASN, Pusat Kajian Anggaran, Badan Keahlian, Setjen DPR RI.

**) Analis APBN ASN, Pusat Kajian Anggaran, Badan Keahlian, Setjen DPR RI.

peranan yang signifikan dari ketiga komoditas tersebut dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan inflasi bahan makanan (Ruslan, 2021).

Sepanjang tahun 2018-2022, berdasarkan Nota Keuangan RAPBN 2023, sudah terdapat beberapa capaian output yang terlihat cukup signifikan dalam mendorong kemandirian pangan, antara lain:

1) Kawasan padi/fasilitas penerapan budi daya padi seluas 1.215.853 Ha pada tahun 2018 menjadi seluas 3.443.625 Ha (kumulatif) pada tahun 2022;

2) Kawasan jagung/fasilitas penerapan budi daya jagung seluas 2.830.650 Ha pada tahun 2018 menjadi seluas 3.556.672 Ha (kumulatif) pada tahun 2022;

3) Kawasan kedelai/fasilitas penerapan budi daya kedelai seluas 546.586 Ha pada tahun 2018 menjadi seluas 898.971 Ha (kumulatif) pada tahun 2022; dan lain sebagainya

Namun, berbagai capaian tersebut tampaknya belum mampu mendorong produktivitas pangan nasional dibidang pertanian yang cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Misal seperti

(13)

pada komoditas padi, di mana luas panen padi dan produksi padi turun masing- masing sebesar 2,3 persen dan 0,43 persen di tahun 2021 (BPS, 2022).

Lebih lanjut, tulisan ini kemudian akan mengulas capaian kinerja dan kendala pembangunan bidang pangan dalam upaya mewujudkan kemandirian pangan nasional. Secara khusus tulisan ini akan berfokus pada kinerja beberapa komoditas pangan strategis dibidang pertanian yang menjadi output strategis pemerintah dalam NK RAPBN 2023, yaitu padi/beras, jagung, dan kedelai.

Kinerja Komoditas Pangan Strategis

Secara umum perkembangan produktivitas tanaman pangan strategis yaitu padi, jagung, dan kedelai cenderung stagnan dan menurun dalam kurun waktu 2018-2021 (Gambar 1). Dari ketiga komoditas, kedelai mengalami peningkatan produktivitas yang paling baik. Selama periode ini, produktivitas kedelai nasional mampu meningkat dari 13,17 kuintal per hektar menjadi 15,96 kuintal per hektar di tahun 2021. Sehingga diperkirakan terdapat peningkatan produksi kedelai sebesar 2,79 kuintal per hektar dalam kurun waktu empat tahun.

Namun demikian, bukan berarti kinerja tersebut sudah optimal, produktivitas kedelai pun mengalami penurunan pada tahun 2021 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal serupa pun terjadi pada komoditas padi dan jagung, dengan produktivitas yang tidak begitu signifikan.

Di mana realisasi produktivitas terendah terjadi pada komoditas padi, yaitu hanya meningkat sebesar 0,23 kuintal per hektar dalam kurun waktu empat tahun.

Sedangkan untuk tanaman jagung, dalam kurun waktu empat tahun produktivitas berhasil naik hingga 2,28 kuintal/hektar.

Lantas dari capaian output strategis (kawasan/fasilitas) yang telah disebutkan sebelumnya, tampaknya belum mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan produksi komoditas-komoditas tersebut.

Apabila membandingkan target jumlah produksi tanaman pangan strategis dengan

angka realisasinya sebagaimana terdapat pada Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2020-2024, maka dapat terlihat bahwa kinerja produksi pangan strategis pun belumlah optimal. (Tabel 1). Sepanjang tahun 2020 – 2021, tidak ada satupun realisasi dari ketiga tanaman pangan strategis dapat memenuhi target yang ditetapkan dalam dokumen tersebut. Dengan kondisi demikian, cita- cita negara dalam mencapai kemandirian pangan tampaknya semakin sulit untuk diwujudkan.

Permasalahan Peningkatan Produktivitas Pangan Strategis dan

Upaya Perbaikannya

Sejatinya capaian output strategis pada budidaya padi, jagung, dan kedelai dalam beberapa tahun terakhir masih memberikan ruang yang besar untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan. Namun, terdapat beberapa kendala yang perlu menjadi perhatian pemerintah dalam mendorong produktivitas pangan nasional. Pertama, kondisi jaringan irigasi nasional yang tidak

Gambar 1. Produktivitas Tanaman Pangan Strategis 2018 – 2021 (Padi, Jagung, Kedelai)

Sumber: Laporan Tahunan Ditjen Tanaman Pangan Tahun 2021, diolah.

Tabel 1. Target dan Realisasi Produksi Komoditas Pangan Strategis (Padi, Jagung, Kedelai) dalam Renstra Kementan

2020-2024

Sumber: Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2020- 2024 & Laporan Kinerja Ditjen Tanaman Pangan 2021.

(14)

optimal. Secara umum tanaman padi, jagung, dan kedelai yang ditanam pada lahan dengan jaringan irigasi, memiliki rata-rata produktivitas jauh lebih tinggi dibanding produktivitas tanaman yang dibudidayakan di lahan non irigasi (Ruslan, 2021). Permasalahannya adalah sebesar 46,11 persen dari total jaringan irigasi nasional yang seluas 7,14 juta hektar berada dalam kondisi rusak (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 2017). Sehingga untuk mengatasi permasalahan tersebut, perluasan serta revitalisasi jaringan irigasi secara mendesak perlu dilakukan pemerintah untuk mendorong produktivitas tanaman pangan nasional.

Kedua, selain jaringan irigasi, sarana produksi lain yang turut berkontribusi terhadap peningkatan produksi pangan adalah benih dan pupuk. Dalam penelitiannya, Ruslan (2021) menyatakan bahwa baik petani padi, jagung, maupun kedelai yang menerima bantuan benih dan pupuk, menghasilkan rata-rata produktivitas yang lebih tinggi daripada kelompok yang tidak menerima bantuan.

Permasalahannya adalah pada sebagian besar petani tersebut tidak tergabung ke dalam keanggotaan kelompok tani.

Pasalnya, penyaluran bantuan baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN/swasta, secara umum disalurkan melalui kelompok tani, sehingga petani yang tidak tergabung dalam kelompok tani, memiliki akses yang terbatas terhadap bantuan tersebut. Sedangkan diketahui bahwa hingga tahun 2020 proporsi rumah tangga petani yang tidak menjadi anggota kelompok tani cukup tinggi, yaitu sebesar 31,18 persen untuk petani padi sawah; 44,04 persen untuk petani padi ladang; 34,62 persen untuk petani jagung; 21,41 persen untuk petani kedelai (BPS, 2021). Dengan demikian, di tahun 2023 Pemerintah harus berkomitmen dalam melaksanakan program penguatan kelembagaan petani (korporasi tani), khususnya melalui keanggotaan kelompok tani dalam upaya memberikan akses yang sama kepada setiap petani.

Ketiga, peran Kementerian Pertanian dalam mendorong produktivitas tanaman pangan strategis belum optimal. Hal ini setidaknya ditunjukkan pada beberapa faktor yang secara langsung dapat memengaruhi produktivitas tanaman pangan. Pertama, penyusunan anggaran bantuan benih dan pupuk yang diberikan tidak didasari pada target produksi yang telah ditetapkan. Laporan BPK (2021) atas peran Kementan terhadap peningkatan produksi padi dan jagung menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara proporsi alokasi bantuan benih padi dengan target produksi yang telah ditetapkan. Di mana pada wilayah pemeriksaan dengan target produksi yang tinggi, proporsi alokasi bantuan yang didapatkan justru lebih rendah daripada wilayah dengan target produksi yang rendah. Beberapa provinsi yang mendapat alokasi bantuan benih padi lebih rendah antara lain Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Gorontalo, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Kalimantan Barat.

Kedua, bantuan benih yang diberikan juga belum memperhatikan kondisi eksisting, kebutuhan, dan usulan dari masing- masing kelompok tani (Poktan) (BPK, 2021). Terakhir, bantuan benih yang dilaksanakan Ditjen TP pada tahun 2019 dan 2020, belum memberikan dampak terhadap peningkatan produksi komoditas padi pada tahun tersebut (BPK, 2021).

Hal tersebut didukung dengan penelitian oleh Ruslan (2021) yang menyatakan bahwa perbedaan produktivitas yang tidak signifikan antara yang menggunakan benih bantuan dan non bantuan dapat mengindikasikan bahwa efektivitas bantuan benih belum optimal baik terkait preferensi petani maupun kesesuaian bantuan benih yang diterima dengan kebutuhan petani. Oleh karena itu, untuk dapat meningkatkan produktivitas pangan strategis Kementan perlu memperkuat peran dan komitmennya, khususnya dalam hal perencanaan dan pencapaian target produksi; penyusunan anggaran (alokasi benih dan pupuk) yang lebih memperhatikan kebutuhan petani; serta melakukan monitoring dan evaluasi

(15)

atas bantuan benih dan pupuk yang dilaksanakan secara rutin untuk dapat mengidentifikasi sejauh mana bantuan yang diberikan dapat efektif dalam meningkatkan produktivitas tanaman pangan.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. 2022. Luas Panen dan Produksi Padi di Indonesia 2021, Hasil Kegiatan Pendataan Statistik Pertanian Tanaman Pangan Terintegrasi dengan Metode Kerangka Sampel Area.

Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Badan Pemeriksa Keuangan. 2021.

Laporan Hasil Pemeriksaan Kinerja Atas Peran Kementerian Untuk Meningkatkan Produksi Padi dan Jagung dalam Memenuhi Kebutuhan Sampai Tingkat Provinsi/Kabupaten Guna Mewujudkan Kemandirian Pangan Tahun 2018 s.d. 2020. Jakarta: Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia.

Badan Pusat Statistik. 2021. Analisis Produktivitas Padi di Indonesia 2020 (Hasil Survei Ubinan). Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik. 2021. Analisis Produktivitas Jagung dan Kedelai di Indonesia 2020 (Hasil Survei Ubinan).

Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

2022. Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tahun 2021. Jakarta:

Kementerian Pertanian.

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

2021. Laporan Tahunan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Tahun 2020.

Jakarta: Kementerian Pertanian.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia. 2017. Modul Pemeliharaan Jaringan Irigasi, Pelatihan Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Tingkat Juru.

Jakarta: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2020

Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020 – 2024: Matriks Pembangunan dan Matriks Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/

Lembaga.

Nota Keuangan beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2023.

Ruslan, K. 2021. Makalah Kebijakan No. 37: Produktivitas Tanaman Pangan dan Hortikultura. Jakarta: Center for Indonesian Policy Studies.

(16)

Referensi

Dokumen terkait

Sembi Ian komoditas tanaman pangan yang diteliti meliputi : padi sawah, padi gogo, jagung, kedelai, kacang hijau, ubi jalar, ketela pohon , kentang dan tal as. Adapun

tercapainya produksi pertanian tanaman pangan, khususnya padi, jagung dan kedelai (Pajale). Outputnya adalah: a) pelatihan penerapan teknologi pertanian (P4S), b) monev

Berdasarkan dari perhitungan analisis trend produksi pada komoditas subsektor tanaman pangan (padi, jagung, dan kedelai) menunjukkan bahwa Kecamatan yang

Beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia di bidang pangan antara lain adalah: peningkatan konsumsi padi jagung kedelai, peningkatan kebutuhan industri pangan baik produk

2 Produksi Benih Tanaman Pangan (Padi, Jagung dan Kedelai) serta Teknologi Pendukung dan Penguatan Sistem Perbenihan Mendukung Kemandirian Benih. 16.000

Tanaman bahan pangan dan hortikultura sangat sesuai dibudidayakan adalah padi sawah, jagung, kedelai, sirsak dan jambu biji, sedangkan tanaman yang lain berharkat cukup

Tanaman bahan pangan dan hortikultura sangat sesuai dibudidayakan adalah padi sawah, jagung, kedelai, sirsak dan jambu biji, sedangkan tanaman yang lain berharkat

Usaha alih teknologi budidaya pembenihan tanaman pangan berupa tanaman padi, jagung dan kedelai di Desa Krejengan diharapkan mampu memberikan dan menambah wawasan pengetahuan dan