KAJIAN PUSTAKA
Materialitas
Materialitas itu sendiri adalah suatu nilai yang jika dihilangkan akan mempengaruhi pertimbangan seorang auditor dalam melakukan pengambilan keputusan (Mulyadi 2002). Penelitian yang dilakukan oleh Putri (2009) materialitas merupakan suatu pertimbangan yang dipengaruhi oleh persepsi seorang auditor mengenai pengetahuan orang yang memadai dan yang akan digunakan untuk menghubungkan keadaan sekitar sehingga mencakup pedoman kuantitatif maupun pertimbangan kualitatif. Menurut ( SPAP, 2016; SA seksi 240) ada dua jenis salah saji material yaitu salah saji yang timbul karena kecurangan dan salah saji yang timbul karena perlakuan aktiva yang salah.
Faktor yang paling membedakan antara kecurangan dengan kekeliruan adalah tindakan tersebut dilakukan secara sengaja atau tidak disengaja. Materialitas juga dapat diartikan suatu nilai dalam laporan keuangan yang jika dihilangkan nantinya dapat mempengaruhi pengguna laporan dalam proses pengambilan keputusan. Tingkat materialitas dari satu laporan keuangan dengan laporan keuangan yang lain tidak akan sama tergantung pada ukuran laporan keuangan tersebut. Menurut Sedati (2016) tujuan penetapan materialitas adalah untuk membantu auditor dalam merencanakan pengumpulan bahan bukti yang cukup dan untuk menghilangkan salah saji informasi akuntansi dalam laporan keuangan diperlukan pertimbangan kuantitatif dan kualitatif yang melingkupinya.
The American Accounting Association (AAA) mengklasifikasi beberapa faktor yang
dipertimbangkan dalam pertimbangan materialitas sebagai berikut : (1) Karakteristik-karakteristik yang mempunyai signifikasi kuantitatif.
a. Besarnya suatu item (lebih besar/kecil) relatif terhadap pengharapan normal.
b. Besarnya suatu item relatif terhadap item-item serupa (relatif terhadap total dari terjadinya laba periode tersebut dan lain-lain).
(2) Karakteristik-karakteristik yang mempunyai signifikasi kualitatif.
a. Tindakan bawaan penting, aktifitas maupun kondisi yang tercerminkan (tidak bias, tidak diharapkan, pelanggaran terhadap kontrak).
b. Sifat bawaan penting dalam suatu item digunakan sebagai indikator dari bagian kejadian dimasa mendatang yang mungkin terjadi (pikiran mengenai perubahan dalam praktek usaha dan lain-lain).
(Sumber: www.aaahq.org diakses pada tanggal 7 Oktober 2016)
Pengalaman
Pengalaman kerja merupakan suatu indikator dari seorang auditor untuk menyelesaikan tugas auditnya sesuai dengan kemampuan yang sudah diperolehnya.
Abdolmohammadi dan Wright (1987) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa auditor yang memiliki pengalaman lebih akan memiliki tingkat kesalahan yang minim dibandingkan auditor yang tidak berpengalaman. Pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan perkembangan potensi bertingkah laku yang baik dari pendidikan formal maupun non formal atau juga bisa diartikan sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi dalam pekerjaannya (Kovinna dan Betri 2014). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2012) menyatakan bahwa pengalaman auditor menunjukan pengaruh yang sangat besar terhadap pertimbangan tingkat materialitas. Faktor yang mempengaruhi tingkat materialitas berdasarkan pengalaman bekerja yaitu keahlian seorang auditor. Auditor akan memiliki keahlian yang baik apabila sudah bekerja cukup lama dalam KAP.
Penelitian ini juga menyatakan keahlian auditor dipengaruhi oleh banyaknya tugas pemeriksaan yang dilakukan dan banyaknya jenis perusahaan yang diaudit mempengaruhi tingkat keahlian auditor. Pengalaman kerja auditor yang semakin lama akan memberikan pengaruh yang positif terhadap auditor karena semakin baik dalam mencegah terjadinya fraud di dalam suatu perusahaan maupun organisasi. Auditor dengan tingkat pengalaman yang tinggi akan semakin mampu menghasilkan kinerja
yang lebih baik dalam tugas-tugas yang kompleks, termasuk dalam mengungkap tindakan kecurangan fraud yang sering terjadi di suatu perusahaan (Hilmi 2011).
Etos Kerja
Etos kerja diambil dari bahasa Yunani ethos yang bermakna watak atau karakter.
Menurut Irham (2012) etos kerja adalah doktrin mengenai kerja yang dilakukan oleh seorang individu atau sekelompok orang sebagai hal yang baik, benar, dan berwujud nyata secara khas dalam perilaku kerja mereka. Octarina (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa etos kerja dapat digunakan dalam meningkatkan kinerja pegawai agar lebih baik lagi kedepannya supaya suatu organisasi dapat mewujudkan tujuannya.
Kantor Akuntan Publik akan sulit berkembang jika setiap auditor tidak memiliki Etos kerja serta komitmen yang tinggi (Tampubolon 2007). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tasmara (2002) etos kerja merupakan cara seseorang menghayati, memahami dan merasakan betapa berharganya waktu. Hendrinaldi (2010) dalam penelitiannya menemukan bahwa bila etos kerja meningkat maka efektifitas kerja auditor juga akan mengalami peningkatan. Penelitian yang dilakukan oleh Harlie (2012) menyatakan bahwa etos kerja berpengaruh dalam meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab bagi para pekerja yang nantinya dapat mempengaruhi aktivitas dari organisasi tersebut. Etos kerja merupakan totalitas kepribadian dari individu serta bentuk ekspresi individu, pandangan, keyakinan terhadap suatu pekerjaan sehingga menjadi kebiasaan yang menjadi ciri khas untuk bertindak dan meraih hasil kerja yang optimal (Rukmana 2010). Etos kerja juga dapat diartikan sebagai suatu pedoman, pandangan individu dalam melakukan tugas yang sedang dijalani, yang nantinya akan memberikan efek berupa keunikan individu tersebut dalam bekerja.
Kerangka Pemikiran dan Pengembangan Hipotesis
Pengaruh Pengalaman Auditor dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas
Pengalaman seorang auditor pasti akan berbeda dengan pengalaman auditor yang lain, hal ini juga akan membedakan cara pandang seorang auditor dalam menanggapi dan memandang suatu permasalahan dan informasi yang diperoleh dari pemeriksaan audit dan juga dalam memberikan kesimpulan atas objek yang diperiksa berupa pemberian pendapat. Penelitian yang dilakukan oleh Arum (2006) menyatakan bahwa auditor dengan tingkat pengalaman yang hampir sama (memiliki masa kerja dan penugasan yang hampir sama) ternyata memiliki pandangan dan pertimbangan yang berbeda-beda dalam memberikan opini. Pengaruh pengalaman auditor terhadap pertimbangan tingkat materialitas didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtyas (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa semakin tinggi pengalaman auditor, maka semakin mahir auditor dalam mendeteksi salah saji yang material. Pengalaman juga dapat membentuk auditor mampu menghadapi dan menyelesaikan hambatan maupun persoalan dalam pelaksanaan tugasnya, serta mampu mengendalikan rasa emosionalnya terhadap pihak yang diperiksa.
Dalam menentukan tingkat materialitas laporan keuangan, seorang auditor banyak melakukan pertimbangan. Haynes et al. (1998) menyatakan bahwa pengalaman yang dimiliki oleh seorang auditor akan berpengaruh dalam pengelolaan informasi yang nantinya akan memberikan pandangan mengenai pertimbangan tingkat materialitas dan tanpa disadari akan ikut berperan dalam menentukan pertimbangan yang diambil.
Pengalaman auditor memiliki pengaruh yang positif terhadap pertimbangan tingkat materialitas karena auditor dengan pengalaman yang tinggi akan mudah dalam mendeteksi salah saji yang material di dalam laporan keuangan perusahaan, hal ini disebabkan karena auditor sudah banyak melakukan tugas-tugas audit maupun memeriksa laporan keuangan dari berbagai jenis perusahaan. Auditor yang memiliki pengalaman yang tinggi, maka akan dapat mendeteksi salah saji yang material dalam laporan keuangan suatu perusahaan dan semakin tepat dalam memberikan pendapat
mengenai kewajaran laporan keuangan dibandingkan auditor yang tidak berpengalaman.
Konsensus yang ada pada penelitian terdahulu, membewa pada hipotesis berikut:
H1: Pengalaman auditor memiliki pengaruh positif terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
Pengaruh Etos Kerja dengan Pertimbangan Tingkat Materialitas
Etos kerja adalah bagaimana seseorang dapat memiliki pedoman serta keyakinan, tidak hanya didalam pikiran namun harus dapat direalisasikan dalam kehidupan yang nyata ke dalam bentuk tindakan yang konkret dalam melaksanakan pekerjaan.
Penelitian Mathis dan Jackson (2006) menyatakan bahwa pekerja yang bekerja secara optimal dan memiliki keyakinan dalam melaksanakan pekerjaannya cenderung memiliki etos kerja yang tinggi. Hendrinaldi (2010) dalam penelitiannya menemukan bahwa bila etos kerja meningkat maka efektifitas kerja auditor juga akan mengalami peningkatan, dimana efektifitas kerja auditor yang mengalami peningkatan akan berpengaruh terhadap pertimbangan seorang auditor dalam mendeteksi kecurangan yang material.
Penelitian yang dilakukan oleh Timbuleng dan Sumarau (2015) menyatakan bahwa etos kerja yang dimiliki auditor merupakan sikap dan perilaku dari dalam diri auditor, dimana auditor akan melakukan pekerjaan yang telah mereka lakukan dengan penuh tanggung jawab untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan secara optimal, sehingga dalam melakukan audit terhadap suatu laporan keuangan, auditor dapat mendeteksi salah saji yang material. Etos kerja berpengaruh positif terhadap pertimbangan tingkat materialitas karena dengan adanya etos kerja, auditor diharap dapat memberikan totalitas kepada pekerjaannya, sehingga dapat fokus dan memberikan keyakinan bahwa dirinya mampu untuk mendeteksi salah saji yang material. Auditor yang tidak memiliki etos kerja yang tinggi akan cenderung susah dalam menyelesaikan tugas-tugas audit sehingga sulit untuk dapat mendeteksi salah saji yang material. Konsensus yang ada pada penelitian terdahulu, membewa pada hipotesis berikut:
H2: Etos kerja auditor berpengaruh positif terhadap pertimbangan tingkat materialitas.
Kerangka Pemikiran
𝐻1
𝐻2 Pengalaman Auditor (𝑋1)
Etos Kerja (𝑋2)
Pertimbangan Tingkat Materialitas (Y)