• Tidak ada hasil yang ditemukan

dialami. 2 Dalam upaya mempermudah memahami istilah Rambu Solo dan Rambu Tuka, maka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "dialami. 2 Dalam upaya mempermudah memahami istilah Rambu Solo dan Rambu Tuka, maka"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

1 Bagian I : Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Manusia dalam upayanya untuk menjalani kehidupan, setidaknya akan diperhadapkan dengan dua peristiwa penting, yakni kedukaan dan pengucapan syukur. Kedukaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah peristiwa di mana seseorang mengalami kesusahan atau kesedihan yang mendalam di dalam hatinya, sementara pengucapan syukur adalah ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta karena suatu hal yang dialami dalam kehidupan.1

Apabila kedua hal di atas ditarik masuk ke dalam konteks kehidupan masyarakat Toraja, terlebih khususnya warga Gereja Toraja, maka masyarakat Toraja mengenal peristiwa tersebut sebagai Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’. Rambu Solo’ adalah upacara keagamaan yang dilakukan pada saat masyarakat Toraja sedang mengalami kedukaan, sementara Rambu Tuka’ merupakan pengucapan syukur atas perisitiwa-peristiwa menggembirakan yang dialami.2

Dalam upaya mempermudah memahami istilah Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’, maka penulis akan menjelaskan terjemahan istilah tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Rambu Tuka’ terdiri atas dua suku kata yaitu rambu yang dapat diartikan sebagai “asap”, sementara tuka’ bisa diartikan sebagai “naik”.3 Melalui hal tersebut, rambu tuka’ dapat dipahami sebagai persembahan syukur yang dilakukan oleh masyarakat Toraja, yang ditujukan kepada Puang Matua atau Tuhan Allah, dewa-dewa dan arwah (jiwa) para leluhur yang telah menjadi dewa (tomembali puang).4 Penting juga untuk dipahami bahwa persembahan tersebut biasanya dilakukan oleh masyarakat Toraja mulai dari pagi sampai tengah hari.5

Selanjutnya, rambu solo’ yang juga terdiri atas dua suku kata yaitu rambu yang dalam bahasa Indonesia berarti asap, kemudian solo’ yang dalam bahasa Indonesia berarti turun.

Dengan adanya penjelasan yang demikian, maka rambu solo’ dapat dipahami sebagai ungkapan dukacita yang dilakukan dengan cara memberikan persembahan yang ditandai dengan pemotongan kerbau atau babi yang ditujukan kepada jiwa orang atau keluarga yang

1 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Tiga, (Jakarta : Balai Pustaka 2015), 1115.

2 A. T. Marampa’, Mengenal Toraja, (Penerbit tidak dicantumkan) 59-66.

3 Th. Kobong dkk., Aluk, Adat, dan Kebudayaan Toraja Dalam Perjumpaan Dengan Injil, (Tana Toraja : Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja), 6.

4 Th. Kobong dkk., Aluk, Adat, dan Kebudayaan, 6.

5 Th. Kobong dkk., Aluk, Adat, dan Kebudayaan, 6.

(2)

2 meninggal.6 Lebih jauh lagi dapat dipahami bahwa kerbau dan babi yang dipersembahkan untuk keluarga yang meninggal akan menjadi bekal untuk memperoleh keselamatan.7

Penulis tidak akan membahas kedua ritus ini, melainkan hanya akan fokus untuk membahas bagian yang kedua yaitu pengucapan syukur atau rambu tuka’. Perlu dipahami bahwa bentuk-bentuk pengucapan syukur yang dilakukan oleh masyarakat Toraja berbeda- beda, oleh karenanya penulis akan berupaya untuk menjelaskan pemahaman tentang rambu tuka’ secara umum terlebih dahulu, lalu kemudian menjelaskan pengucapan syukur atau rambu tuka’ yang dilaksanakan oleh Gereja Toraja di Simbuang.8

Rambu tuka’ yang dilaksanakan oleh masyarakat Toraja secara umum memiliki pemahaman yang sama yaitu tanda ungkapan syukur kepada Tuhan yang ditandai dengan pemotongan ayam atau babi.9 Bentuk-bentuk rambu tuka’ yang biasa dilakukan oleh masyarakat Toraja adalah mangrara banua (ungkapan syukur atas rumah yang baru selesai dibangun), ma’bugi’ (ungkapan syukur yang dilakukan setelah panen), dan beberapa hal lainnya.10

Hal penting yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan kegiatan-kegiatan rambu tuka’ di atas adalah walaupun bentuk pengucapan syukurnya sama, namun cara-cara untuk melakukan pengucapan syukur tersebut berbeda-beda. Nampaknya hal tersebut terjadi karena Toraja awalnya terbagi atas tiga bagian, yaitu timur, tengah, barat. Ketiga bagian ini memiliki pemimpin yang berbeda-beda. Adanya pemimpin yang berbeda-beda, mengakibatkan masyarakat Toraja melakukan acara rambu tuka’ dengan cara yang berbeda pula. Pemimpin yang di bagian timur diberi gelar Pong, misalnya Pong Tiku, Pong Simpin, sementara di bagian tengah diberi gelar Puang, misalnya Puang Ri Buntu’, Puang Ri Papa Sura’, dan terakhir di bagian barat diberi gelar Ma’dika, misalnya Ma’dika Simbuang, Ma’dika Mamasa.11

Dengan melihat penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa rambu tuka’ yang dilaksanakan masyarakat Simbuang termasuk warga Gereja Toraja saat ini adalah rambu tuka’ yang peraturannya pada waktu itu ditentukan oleh Ma’dika Simbuang.

Pengucapan Syukur atau Rambu Tuka’ yang dilakukan oleh warga gereja Toraja di Simbuang biasanya dilakukan pada saat acara pernikahan, selesai membangun rumah baru,

6 Th. Kobong dkk., Aluk, Adat, dan Kebudayaan, 6.

7 A.T. Marampa’, Mengenal Toraja, 65.

8 Simbuang adalah salah satu kecamatan di Tana Toraja, bagian Barat.

9 A.T. Marampa’, Mengenal Toraja, 59.

10 A.T. Marampa’, Mengenal Toraja, 60.

11Frans Bararuallo, kebudayaan Toraja,(Jakarta : Universitas Atma Jaya 2010), 33.

(3)

3 ulang tahun anak (biasanya yang berusia satu tahun), acara kelulusan wisuda, natal keluarga, dan beberapa bentuk pengucapan syukur lainnya. Hal menarik dari pengucapan syukur atau rambu tuka’ yang dilakukan oleh warga Gereja Toraja jemaat lebo-lebo di simbuang adalah di akhir dari acara pengucapan syukur, yakni pada saat pembagian makanan. Dikatakan menarik sebab pada saat acara makan, masing-masing orang akan diberikan lauk berupa daging babi oleh keluarga atau panitia yang dibentuk dengan potongan yang berbeda-beda.

Potongan-potongan lauk tersebut ditentukan oleh jabatan atau kedudukan seseorang dalam masyarakat atau gereja. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang dalam gereja atau pun masyarakat, maka semakin besar potongan daging babi yang didapatkan.

Realita di atas, tentu saja memunculkan pemahaman yang perlu untuk dipahami lebih dalam. Dikatakan demikian karena orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam gereja atau pun masyarakat seperti pendeta, majelis jemaat, camat, lurah, mendapatkan penghargaan dari keluarga dengan memperoleh potongan daging yang besar, sementara undangan lainnya yang berasal dari strata sosial yang rendah memperoleh jumlah yang sedikit dari mereka yang memperoleh strata sosial yang tinggi.

Dari perspektif kristen kita akan menjumpai bahwa pembagian daging babi dalam acara pengucapan syukur yang dilakukan oleh waraga Gereja Toraja tidak sesuai dengan apa yang diajarkan dalam kekristenan. Dikatakan demikian karena kekristenan mengajarkan berita baik tentang Yesus Kristus, yang inti ajarannya adalah mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22:37-40).12 Dalam kasih tersebut, manusia dituntut untuk menerapkan kesetaraan dengan semua orang, sesama, dan hukum.

Lebih jauh lagi dalam Yohanes 15:14 dikatakan bahwa “kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”. Hal ini berarti bahwa ketika umat kristiani melakukan pembagian daging babi dengan potongan yang berbeda-beda, maka potongan tersebut diberikan layaknya seorang sahabat memberikan sesuatu kepada sahabatnya. Dengan kata lain, potongan daging babi yang diberikan dibagi secara merata.

Permasalahan yang telah penulis kemukakan di atas, menarik untuk diteliti, sebab hal tersebut mengandaikan bahwa ada stratifikasi sosial yang secara umum tetap dipertahankan oleh gereja, padahal injil mengajarkan kesetaraan untuk mengasihi manusia tanpa membeda- bedakan. Hal ini tentu saja menimbulkan keresahan bagi beberapa anggota jemaat atau

12 G. C. Van NIFTRIK dan B. J. BOLAND, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1981), 405- 406.

(4)

4 masyarakat, terlebih khususnya bagi mereka yang memiliki stratifikasi sosial yang rendah.

Namun, hal yang perlu dipertimbangkan adalah ketika pembagian daging dengan potongan yang berbeda-beda tersebut dihilangkan karena dianggap bertentangan dengan injil, maka orang Toraja akan kehilangan identitasnya. Pertanyaan yang muncul adalah apakah penerimaan akan injil mengakibatkan kita harus kehilangan budaya kita?

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan di atas, maka melalui penelitian ini penulis akan menggunakan dua pertanyaan penelitian, yaitu :

 Apa makna pembagian makanan sesuai dengan strata sosial dalam acara pengucapan syukur yang dilakukan oleh warga Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo, di Simbuang, Toraja?

 Apa manfaat pembagian makanan dalam acara pengucapan syukur bagi Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo, di Simbuang?

1.3 Tujuan Penelitian

Alasan penulis untuk mengajukan dua pertanyaan penelitian di atas adalah

 Mendeskripsikan tentang apa sebenarnya yang menjadi makna dari pembagian daging yang berbeda-beda dalam acara pengucapan syukur yang dilakukan oleh warga Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo di Simbuang.

 Mendeskripsikan tentang apa sebenarnya yang menjadi manfaat pembagian daging babi dengan potongan berbeda-beda yang dilakukan oleh Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo Simbuang.

1.4 Metode Penelitian

a) Jenis Penelitian Lapangan

Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan metode penelitian kualitatif, yang bertujuan untuk mengumpulkan data deskriptif yang mendeskripsikan objek penelitian secara rinci dan mendalam dengan maksud mengembangkan konsep atau pemahaman dari suatu gejala.13 Dengan menggunakan metode kualitatif, penulis dapat mendeskripsikan secara mendalam

13 B. Sandjaja dan Albertus Heriyanto, Panduan Penelitian, (Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher, 2006), 49-50.

(5)

5 makna pembagian makanan dengan potongan daging yang berbeda dalam acara pengucapan syukur di Gereja Toraja jemaat lebo-lebo, Simbuang.

b) Informan

Ada pun yang menjadi Informan dalam penelitian ini adalah Pendeta, Majelis Gereja Toraja jemaat Lebo-Lebo di Simbuang, 20 anggota jemaat (10 Laki-laki dan 10 Perempuan) dengan usia minimal 30 tahun, dan tokoh masyarakat yang memahami makna pembagian daging babi dengan potongan yang berbeda.

c) Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara :

Pertama, melakukan wawancara secara mendalam terhadap Pendeta, Majelis Jemaat, dan warga Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo (10 Laki-Laki dan 10 Perempuan.

Kedua, melakukan wawancara mendalam terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang memahami pembagian daging babi dengan potongan yang berbeda-beda.

Ketiga, melakukan pengamatan pada pelaksanaan pembagian daging babi dalam acara pengucapan syukur yang dilaksanakan oleh Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo.

Teknik pengumpulan data di atas mengacu pada teori-teori yang telah disusun.

d) Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Gereja Toraja jemaat Lebo-Lebo, Simbuang, kecamatan Simbuang, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Alasan penulis memilih lokasi tersebut dikarenakan sepengetahuan penulis warga Gereja Toraja jemaat Lebo-Lebo mayoritas pekerjaannya adalah petani, namun mereka masih melakukan pembagian makanan dengan potongan daging yang berbeda-beda pada waktu melakukan acara pengucapan syukur.

e) Teori-teori

Ada pun teori-teori yang akan digunakan dalam penelitan ini adalah teori-teori yang berkaitan dengan stratifikasi sosial, simbol, ritus, serta teori yang berkaitan dengan identitas sosial.

(6)

6 1.5 Manfaat Penelitian

1) Untuk melestarikan nilai-nilai positif yang ada dalam budaya dan tradisi lokal masyarakat, serta mengajak warga jemaat untuk memahami budaya tersebut sebagai instrumen penting dalam kehidupan.

2) Penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran mengenai bagaimana melakukan penghayatan iman yang bernuansa budaya.

1.6 Sistematika Penulisan

Berikut ini adalah sistematika penulisan yang akan penulis lakukan :

I. Bagian pertama berisi tentang pendahuluan, rumusan masalah, metode penelitian, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Di dalam bagian ini penulis akan menjelaskan apa yang melatarbelakangi penulis mengangkat judul “Studi Sosio Teologis Terhadap Makna Pembagian Daging Babi Menurut Warga Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo, Simbuang. Selanjutnya, penulis akan menyebutkan apa yang menjadi rumusan masalah, metode penelitian, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

II. Pada bagian kedua akan dipaparkan teori-teori yang berkaitan dengan judul di atas.

III. Bagian ketiga berisi hasil penelitian yang telah penulis laksanakan di Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo, Simbuang, Tana Toraja.

IV. Bagian keempat berisi tentang analisa. Di dalam bagian ini penulis akan membandingkan argumen dari para ahli dan realita pembagian makanan berupa daging babi yang terjadi di Jemaat Lebo-Lebo.

V. Bagian kelima berisi tentang kesimpulan dan saran yang dapat penulis sampaikan dalam penelitian ini.

Bagian II : Teori

Kajian studi yang akan menjadi fokus dalam penelitian ini adalah makna dan manfaat pembagian makanan daging babi sesuai dengan strata sosial yang dilakukan oleh warga Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo, Simbuang. Oleh karena itu, teori yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah teori yang berkaitan dengan stratifikasi sosial, simbol,ritus, serta teori yang berkaitan dengan identitas sosial.

(7)

7 2.1 Stratifikasi Sosial

Stratifikasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah adanya pembedaan yang terjadi pada penduduk atau pun masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atas dasar kekuasaan, hak-hak istimewa, dan prestise.14

Sanderson berpendapat bahwa stratifikasi sosial merupakan sebuah fenomena yang di dalamnya terdapat dua atau lebih kelompok-kelompok bertingkat.15 Sejalan dengan pernyataan tersebut, Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa stratifikasi sosial dapat dipahami sebagai sebuah paham yang menggolongkan masyarakat ke dalam tingkat yang berbeda-beda.16 Ada masyarakat yang berada dalam kategori masyarakat dengan kedudukan tinggi dan ada masyarakat yang tergolong dalam kedudukan rendah.17 Melalui hal tersebut, stratifikasi sosial dapat dipahami sebagai tingkatan atau kedudukan sosial seseorang dalam masyarakat, berdasarkan kedudukan atau kekuasaan yang dimilikinya.

Munculnya pemahaman stratifikasi sosial tentu saja tidak terlepas dari pemikiran Max Weber. Menurut analisisnya, ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya stratifikasi sosial, yaitu kelas, status, dan partai.18 Pertama, kelas. Max weber mengemukakan bahwa kelas lebih mengacu kepada kebutuhan manusia dalam hal ekonomi.19 Argumen tersebut menimbulkan pertanyaan tentang kelas ekonomi seperti apa yang dimaksudkan, sebab ada begitu banyak macam kelas ekonomi. John Golthrope misalnya, menggolongkan sebelas kelas ekonomi, yaitu pemilik properti besar, pengusaha kecil, petani, wiraswastawan, kerja pelayanan, pekerja rutin nonmanual, pekerja manual, pekerja terampil, pekerja tanpa keterampilan, dan buruh tani.20

Nampaknya kelas ekonomi yang dimaksudkan oleh Weber adalah kelas sosial.

Pemikiran tersebut berangkat dari pemahaman bahwa semua individu memiliki peluang yang sama dalam hal ekonomis, misalnya membeli rumah. Hanya saja ada individu yang dengan sendirinya akan tersingkir sebab individu tersebut tidak memiliki modal untuk bersaing.21

Kedua, status. Weber mengemukakan bahwa status mengacu kepada sebuah komunitas, dan individu yang menjadi anggota dari komunitas tersebut memiliki derajat yang

14 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar, 1092.

15 Stephen K. Sanderson, Makro Sosiologi : Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial, (Jakarta : RajaGrafindo Persada 2010), 146.

16 Soerjono Soekanto, Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur Masyarakat, (Jakarta : CV. Rajawali 1984), 247.

17 Soerjono Soekanto, Beberapa Teori Sosiologi, 247.

18 George Ritzer dan Doughlas J. Goodman, Teori Sosiologi, (Bantul : Kreasi Wacana 2011), 138.

19 George Ritzer dan Doughlas J. Goodman, Teori Sosiologi, 138.

20 Jhon Scott, Sosiologi : The Key Concepts, (Jakarta : RajaGrafindo Persada), 47.

21Soerjono Soekanto, Beberapa Teori Sosiologi, 252.

(8)

8 berbeda.22 Sejalan dengan pemikiran Weber, Soekanto menjelaskan status dengan bahasa yang lebih sederhana yaitu tempat atau posisi individu dalam kelompok sosial.23 Ketiga, partai. Weber menjelaskan poin yang ketiga ini sebagai sarana bagi individu untuk meraih kekuasaan yang tidak hanya diupayakan untuk dicapai dalam negara, melainkan juga dalam klub-klub sosial.24 Dengan kata lain, dalam upaya untuk memperoleh kekuasaan, partai akan berupaya untuk merekrut pengikut-pengikutnya dari klub-klub sosial dan dari negara.25

Hal menarik dari stratifikasi sosial yang disampaikan oleh Weber di atas adalah kelas, status, dan partai, memiliki sifat multidimensional.26 Artinya bahwa individu dapat memperoleh peringkat yang tinggi di satu dimensi, dan di saat yang bersamaan individu bisa memperoleh peringkat terendah di dimensi lainnya.27 Dengan adanya pemahaman yang demikian maka dapat dipahami bahwa stratifikasi sosial yang ada dalam masyarakat menurut pemahaman Weber tidak akan mutlak didominasi oleh satu individu saja, dikarenakan individu tidak dapat atau pun sulit untuk memperoleh peringkat tertinggi dari ketiga basis stratifikasi sekaligus.

Adanya penjelasan mengenai kelas, status, dan partai di atas menimbulkan pemahaman bahwa stratifikasi muncul karena adanya upaya individu untuk memperoleh kekuasaan.28 Apabila dipahami demikian, maka agaknya jelas bahwa individu dalam menjalani kehidupannya tidak selamanya berjuang untuk memperoleh kekayaan, melainkan individu juga berjuang untuk memperoleh kekuasaan dan penghormatan baik dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan politik.29 Singkatnya kelas, status, dan partai adalah fenomena dari distribusi kekuasaan dalam sebuah komunitas.30

Pertanyaan menarik yang perlu dimunculkan adalah apakah status dan strata sosial itu dapat berubah? Menjawab hal tersebut, perlu dipahami bahwa status dan strata sosial seseorang dalam masyarakat ada dua macam, yaitu status yang diperoleh berdasarkan keturunan (Ascriebed Status), dan status yang yang diperoleh atas usaha yang disengaja (Achieved Status).31 Apabila melihat keduanya, Ascribed Status secara jelas tidak dapat

22 George Ritzer dan Doughlas J. Goodman, Teori Sosiologi, 138-139.

23 Soerjono Soekanto, Sosiologi : Suatu Pengantar, (Jakarta : RajaGrafindo Persada), 208.

24 George Ritzer dan Doughlas J. Goodman, Teori Sosiologi, 139.

25 Max Weber, Sosiologi, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), 233-234.

26 George Ritzer dan Doughlas J. Goodman, Teori Sosiologi, 138.

27 George Ritzer dan Doughlas J. Goodman, Teori Sosiologi, 138.

28Max Weber, Sosiologi, 217.

29 Max Weber, Sosiologi,217.

30 Max Weber, Sosiologi,217.

31 Abdulsyani, Sosiologi, Skematika, Teori, dan Terapan, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2002), 93.

(9)

9 berubah, sebab status diperoleh berdasarkan kelahiran atau keturunan dalam masyarakat.32 Sebaliknya, Achieved Status justru memungkinkan perubahan status tersebut terjadi. Hal ini dapat dicapai melalui perjuangan dari individu-individu. Seseorang bisa saja menjadi presiden, hakim, dokter, menteri, asalakan orang tersebut mau berjuang dengan keras untuk memperolehnya.33

Upaya seseorang untuk memperoleh status yang lebih tinggi dalam masyarakat, nampaknya tidak terlepas dari motivasi untuk memperoleh penghargaan dalam masyarakat.

Dikatakan demikian karena semakin besar kedudukan seseorang dalam masyarakat (ekonomi, politik, sosial) maka semakin besar penghargaan yang akan diberikan oleh masyarakat terhadap dirinya.34 Jika demikian, maka dapat juga dipahami bahwa semakin rendah kedudukan seseorang dalam masyarakat, maka penghargaan terhadap dirinya pun akan menjadi semakin rendah.

Ada berbagai bentuk penghargaan yang dapat diterima dalam masyakat jika memiliki status yang tinggi. Salah satu contohnya adalah ia dapat berinteraksi secara mudah dengan masyarakat.35 Interaksi itu dicapai bukan karena individu dari orang tersebut, melainkan karena status tinggi yang dimilikinya dalam masyarakat.36

2.2 Simbol

Manusia dalam menghadapi realita kehidupan di masa kini, tentu tidak dapat melepaskan dirinya dari pertanyaan tentang mengapa hal tersebut terjadi. Upaya untuk berefleksi tersebut, kemudian akan membawa manusia kembali menelusuri hal-hal yang terjadi di masa lalu.

Refleksi manusia yang demikian bila dikaitkan dengan pemahaman akan simbol bisa dikatakan memiliki kesamaan. Namun sebelumnya, penting juga untuk memahami mitos, sebab mitos erat kaitannya dengan simbol. Kata mitos berasal dari bahasa Yunani, yang awalnya memiliki hubungan yang erat dengan agama.37 Mitos pada zaman purba diyakini

32Abdulsyani, Sosiologi, Skematika, Teori, dan Terapan, 88.

33 Abdulsyani, Sosiologi, Skematika, Teori, dan Terapan, 93.

34 Abdulsyani, Sosiologi, Skematika, Teori, dan Terapan, 83-84.

35 Abdulsyani, Sosiologi, Skematika, Teori, dan Terapan, 93.

36 Abdulsyani, Sosiologi, Skematika, Teori, dan Terapan, 93.

37 Peter L. Berger, Pyramid of Sacrifice, diterjemahkan oleh A. Rahman Tolleng, Piramida Kebudayaan Manusia, (Nama Tempat Terbit Tidak Dicantumkan : Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, 1982), 15.

(10)

10 sebagai istilah merujuk kepada adanya campur tangan mahkluk-mahkluk atau kekuatan gaib dalam kehidupan manusia.38

Mitos dipahami sebagai upaya manusia untuk merenungkan bahwa keberadaan dirinya tidak terjadi begitu saja. Kesadaran akan hal tersebut, lalu kemudian membuat manusia meyakini bahwa ada begitu banyak fenomena-fenomena dalam kehidupan ini yang sulit untuk dipahami oleh manusia.39 Manusia meyakini bahwa keberadaan itu terjadi karena adanya campur tangan dari Yang Ilahi.40 Pemahaman akan sumber keberadaan itulah yang kemudian membuat manusia membentuk simbol, dalam hal ini bahasa simbolik untuk berefleksi terhadap Yang Ilahi.41 Selain itu, mitos juga dijadikan oleh sekelompok individu sebagai penuntun atau arah dalam menjalani kehidupannya untuk menjadi orang yang bijaksana di dunia.42 Oleh karenanya, simbol kemudian hadir untuk membantu memahami cara menjalani kehidupan sesuai dengan yang dikehendaki oleh Yang Ilahi.43

Penjelasan di atas dapat dipahami sebagai simbol yang bernuansa religi. Ternyata selain simbol religi, ada juga simbol yang lain yaitu simbol dalam tradisi atau adat istiadat, yang berupaya untuk mewariskan upacara-upacara adat secara turun temurun.44 Meskipun demikian, simbol tradisi ini pada akhirnya akan kembali kepada hal yang bersifat religi, sebab tujuan dari upacara tersebut adalah kepada Yang Ilahi.

Defenisi tentang simbol itu sendiri bila melihat akar katanya dalam bahasa Yunani adalah symbolos yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan sesuatu hal kepada seseorang.45 Simbol dapat dijadikan sebagai sesuatu hal yang dapat menuntun individu untuk memahami sebuah objek.46 Namun perlu diingat bahwa objek yang dipilih adalah objek yang pemaknaannya telah disepakati secara bersama. Dengan kata lain, simbol yang dibentuk oleh masyarakat memiliki isi dan bentuk ungkapannya.47 Salah satu contohnya ketika seseorang

38 Peter L. Berger, Pyramid, 15.

39 Claude Levi Strauss, Anthropologie Structurale, diterjemahkan oleh Ninik Rochani Sjams, Antropologi Struktural, (Yogyakarta :Kreasi Wacana, 2005), 277.

40 Hans J. Daeng, Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan : Tinjauan Antropologis, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar 2008), 81.

41Hans J. Daeng, Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan, 81.

42 Hans J. Daeng, Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan, 81-82.

43Hans J. Daeng, Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan, 82-83.

44 Budiono Herusatoto, Simbolisme Jawa, (Yogyakarta :Penerbit Ombak 2008), 48.

45Budiono Herusatoto, Simbolisme Jawa, 17.

46Budiono Herusatoto, Simbolisme Jawa, 18.

47 Emanuel Martasudjita, Liturgi : Pengantar Untuk Studi dan Praksis Liturgi (Yogyakarta : Penerbit Kanisius 2011), 131.

(11)

11 membawa rangkaian bunga kepada kerabat yang berduka, maka yang menjadi fokus bukan bunganya, melainkan tanda turut berdukacita atas kerabat tersebut.48

Selain penjelasan di atas, simbol juga dapat dipahami sebagai lambang atau tanda yang dibentuk oleh masyarakat untuk menggambarkan atau mengingatkan mereka akan apa yang disimbolkan.49 Dengan kata lain, pemaknaan terhadap simbol yang dibentuk oleh masyarakat akan menjadi warisan bagi generasi berikutnya, dan simbol itu akan tetap dimaknai sebagaimana yang dimaknai oleh masyarakat yang membentuk simbol tersebut.

Hal penting yang perlu dipahami adalah tidak semua tanda dapat dipahami sebagai simbol, namun semua simbol dapat dipahami sebagai tanda.50 Untuk lebih memperjelas perbedaan diantara keduanya, maka penulis akan menjelaskan perbedaan antara simbol dan tanda.

Dalam simbol setidaknya terdapat empat macam ciri pokok. Pertama, simbol merupakan tanda yang bukan sekedar suatu ungkapan kosong belaka, melainkan simbol menunjuk suatu realitas atau tindakan nyata dan real.51 Kedua, simbol dipahami sebagai realitas yang mengatasi hal indrawi, seperti halnya Allah yang transenden.52 Ketiga, simbol yang muncul dalam masyarakat karena kebersamaan.53 Contohnya bendera merah putih yang diakui oleh masyarakat Indonesia sebagai simbol identias dirinya.54 Keempat, simbol bukan hanya ada dalam tataran rasional belaka, melainkan menyapa dan menyentuh seluruh diri manusia dan benar-benar menyentuh pengalaman hidup manusia.55

Berbeda dengan simbol, tanda dapat digolongkan dalam dua bagian, yakni tanda alamiah dan tanda konvensional. Tanda alamiah merupakan tanda yang terjadi secara alami, seperti tangisan bayi karena ia lapar, anjing menggonggong karena ada tamu, asap mengepul karena ada sesuatu yang terbakar, dan lain sebagainya.56 Sementara tanda konvensional merupakan tanda yang dibentuk dalam masyarakat atau komunitas.57 Salah satu contohnya

48 Budiono Herusatoto, Simbolisme Jawa, 19.

49F.W. Dillistone, The Power of Simbols, Diterjemahkan oleh A. Widyamartaya, Daya Kekuatan Simbol(Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2002), 21.

50 E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen Gereja : Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2013), 31.

51 E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen Gereja : Tinjauan Teologis, 31.

52 E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen, 32.

53 E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen, 32.

54 E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen, 32.

55E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen, 32.

56 E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen Gereja : Tinjauan Teologis, 33.

57 E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen Gereja : Tinjauan Teologis, 33.

(12)

12 adalah tanda rambu lalu lintas, ketika berwarna hijau maka pengendara boleh berjalan terus dan warna merah berarti pengendara wajib untuk berhenti.58

2.3 Ritus

Apabila berbicara tentang ritus, maka tentu saja yang muncul pertama dalam pemikiran kita adalah tata upacara atau perayaan keagamaan yang dilakukan di dalam masyarakat.59 Upacara keagamaan atau ritus muncul dengan tujuan untuk memberi makna terhadap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.60 Namun perlu diasadari bahwa upacara keagamaan yang dilaksanakan, tidak dilakukan oleh semua masyarakat secara unviersal. Artinya bahwa ritus berlandaskan pada kepercayaan dan pengalaman-pengalaman yang sama dalam masyarakat, sehingga menjadikan masyarakat tersebut sebagai masyarakat moral atau moral comunity.61

Ritus sebenarnya memiliki hubungan yang erat dengan mitos dan simbol. Dikatakan demikian karena ritus hadir melalui penggunaan simbol-simbol yang berupaya menjelaskan mitos-mitos yang ada.62 Ritus berfungsi untuk menjadi sarana pengungkapan emosi dalam masyarakat. Artinya bahwa setiap realita yang terjadi dalam masyarakat disadari sebagai kehendak dari Yang Ilahi. Dengan kata lain, masyarakat yang melaksanakan ritus menyadari bahwa mereka tidak berdaya untuk melakukan apa pun di dunia ini, jika Sang Ilahi tersebut tidak ikut campur tangan di dalamnya.63 Oleh karenanya, ritus mengarahkan masyarakat untuk melakukan hal-hal yang sakral, kudus, dan ilahi.64

Dalam memahami tentang ritus, setidaknya ada tiga fase yang akan terjadi dalam masyarakat. Pertama, fase pemisahan. Fase ini merupakan sikap simbolik yang menandakan pertahanan diri seseorang atau kelompok dari sebuah nilai yang terbentuk dalam struktur sosial, dari situasi budaya yang ada.65 Kedua, liminalitas. Fase ini merupakan karakteristik subjek ritual yang ambigu. Individu yang berada pada fase ini diperhadapkan dengan

58 E. Martasudjita, Sakramen-Sakramen Gereja : Tinjauan Teologis, 33.

59Christologus Dhogo, Su’i Uwi : ritus budaya ngadha dalam perbandingan dengan ekaristi, (Yogyakarta : Ledalero 2009), 48.

60 Iwayan Sudharma, Imade Sumarja, I Putu Putra Kusuma Yudha, Penti Weki Peso Bea Reca Rangga Walin Tahun di Kabupaten Manggarai Nusa Tenggara Timur, ( Yogyakarta : Penerbit Ombak 2013), 54.

61 Iwayan Sudharma, Imade Sumarja, I Putu Putra Kusuma Yudha, Penti Weki, 54.

62 Christologus Dhogo, Su’i Uwi : ritus budaya, 48.

63 Christologus Dhogo, Su’i Uwi : ritus budaya, 48.

64 Christologus Dhogo, Su’i Uwi : ritus budaya, 49.

65 Victor W. Turner, The Ritual Process, (Harmondsworth : Penguin Books 1969), 80.

(13)

13 kebudayaan yang sama sekali tidak memiliki atribut masa lalu dan masa depan.66 Ketiga, pengumpulan kembali. Pada fase ini subjek ritual yang dilaksanakan berada dalam kondisi stabil, dan individu-individu yang melakukan ritual memiliki hak serta kewajiban satu sama lain, yaitu bersikap sesuai dengan norma dan standar etis yang ada dalam masyarakat.67

Dari ketiga penjelasan di atas, fase yang penting untuk diperhatikan adalah fase kedua yakni fase liminalitas. Dikatakan demikian karena liminalitas adalah sikap seseorang yang patuh secara pasif. Mereka harus menerima perintah, menerima hukuman, menerima aturan- aturan tanpa bisa protes.68 Adanya tuntutan untuk patuh dan taat pada segala peraturan yang ditetapkan dalam masyarakat, maka masyarakat dituntut untuk wajib hadir secara bersama- sama untuk melaksanakan ritus kepada yang ilahi. Apabila masyarakat tidak taat untuk melaksanakan ritus, maka hal itu akan membawa malapetaka bagi dirinya sendiri. Salah satu contohnya adalah ketika seseorang sedang hamil, maka orang tersebut wajib untuk melaksanakan ritus-ritus yang telah ditetapkan, sehingga bayi yang dalam kandungan dapat terhindar dari malapetaka yang disebabkan oleh murka mahkluk halus dan arwah para leluhur.69

2.4 Identitas Sosial

Identitas dapat dipahami sebagai sebuah upaya bagi beberapa atau pun sekelompok individu untuk menunjukkan keberadaanya di tengah masyarakat.70 Di zaman sekarang ini, tentu jelas bahwa ada banyak kelompok-kelompok yang berupaya untuk menunjukkan identitas mereka. Contohnya para pembela perempuan, masyarakat adat, pembela kaum gay, dan lain sebagainya.71 Oleh karenanya, menurut pemahaman penulis, identitas sosial dapat dipahami sebagai sebuah upaya beberapa atau sekelompok individu yang hadir dalam masyarakat, untuk menunjukkan atau memperjuangkan hal-hal tertentu.

Munculnya identitas terhadap individu selalu dipengaruhi oleh komunitas sosial di mana individu tersebut berada. Dikatakan demikian karena lokasi sosial individu meliputi

66 Victor W. Turner, The Ritual, 80.

67 Victor W. Turner, The Ritual, 80.

68 Victor W. Turner, The Ritual ,81.

69 Purwadi, Upacara Tradisional Jawa : Menggali Untaian Kearifan Lokal, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005), 133.

70 Martin Lukito Sinaga, Identitas Poskolonial gereja suku dalam masyarakat sipil (Yogyakarta : LkiS, 2004), 5.

71 Martin Lukito Sinaga, Identitas Poskolonial, 5.

(14)

14 keberadaan dari indvidu (being) maupun perbuatan dari individu (conduct).72 Melalui hal tersebut, identitas sosial tidak muncul begitu saja atau terjadi secara alami, melainkan identitas terbentuk berdasarkan pengakuan masyarakat terhadap individu.73

Pembentukan identitas sosial individu nampaknya penting untuk diperhatikan secara khusus. Dikatakan demikian karena setiap tindakan yang dilakukan terhadap individu sejak individu tersebut lahir, akan berpengaruh pada tindakannya dalam komunitas sosial. Misalnya seorang anak yang tidak diberikan belas kasihan, akan membentuk identitas anak itu menjadi individu yang tidak memiliki sifat-sifat manusiawi.74 Sebaliknya, seorang anak yang diberikan rasa hormat, akan berupaya dan berjuang untuk menghormati dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya.75

Selain pembentukan identitas individu, hal penting yang juga perlu untuk dipahami adalah pemberian identitas sosial terhadap individu.76 Pemberian identitas yang melekat pada diri individu akan diupayakan untuk tetap dipertahankan untuk memperoleh pengakuan dari masyarakat. Dikatakan demikian karena selagi masyarakat mengakui akan identitas sosial yang ada pada individu, maka identitas individu itu akan tetap ada.77 Sebaliknya, jika identitas sosial itu tidak lagi mendapat pengakuan dari masyarakat, maka identitas itu secara otomatis juga akan hilang.78 Salah satu contohnya individu yang awalnya dalam masyarakat dianggap sebagai orang yang baik, namun pada kenyataannya individu tersebut menjadi narapidana. Identitas yang melekat pada individu tersebut bukan lagi identitasnya sebagai individu yang baik, melainkan identitas yang melekat adalah individu tersebut merupakan mantan narapidana.79 Oleh karenanya, individu tersebut harus berjuang untuk mendapatkan kembali identitasnya sebagai orang yang baik, walaupun harus diakui bahwa hal itu bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan.

Individu dalam upayanya untuk menjalin hubungan dengan masyarakat, tentu saja harus berjuang untuk membangun solidaritas dalam masyarakat. Menurut pemahaman durkheim, ada dua asas solidaritas yang muncul dalam masyarakat yaitu tipe mekanis dan

72 Peter L. Berger, Invitation to Sociology, A Humanistic Perspective, diterjemahkan oleh Daniel Dhakidae, Humanisme Sosiologi, (Jakarta : Inti Sarana Aksara, 1985), 132.

73 Peter L. Berger, Invitation to Sociology, 140.

74 Peter L. Berger, Invitation to Sociology, 140-141.

75Peter L. Berger, Invitation to Sociology, 141.

76Peter L. Berger, Invitation to Sociology, 141.

77 Peter L. Berger, Invitation to Sociology, 141.

78Peter L. Berger, Invitation to Sociology, 141.

79 Peter L. Berger, Invitation to Sociology, 141-142.

(15)

15 organis.80 Durkheim memunculkan pemikiran ini, sebab ia mengkritik pandangan Hobbes yang memahami bahwa masyarakat muncul secara tidak alami, melainkan masyarakat muncul dengan adanya keinginan untuk memenuhi kepentingan-kepentingannya sendiri.81 Menurut Hobbes, karena keinginan untuk mencapai kepentingan pribadi itu tidak dapat dicapai dengan menggunakan kekerasan karena adanya berbagai peraturan, maka individu terpaksa untuk mengikuti konstruksi sosial yang dibangun dalam masyarakat.82

Ada pun maksud dari tipe mekanis menurut Durkheim adalah tipe masyarakat yang didominasi oleh keserupaan. Artinya bahwa individu-individu yang ada dalam masyarakat menjalani pengalaman-pengalaman hidup yang serupa, memiliki keterampilan-keterampilan dan kemampuan-kemampuan yang serupa, serta mengembangkan pemikiran-pemikiran dan sikap-sikap yang sama.83 Masyarakat yang tergolong dalam tipe ini menurut Durkheim adalah masyarakat tradisional.84 Berbanding terbalik dengan tipe mekanis, tipe organis justru menekankan tentang perbedaan-perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anggota masyarakat.85 Melalaui hal tersebut, dapat dipahami bahwa tipe mekanik merupakan identitas apa adanya dalam masyarakat tradisional, sementara identitas organik berkaitan dengan pembagian kerja dalam masyarakat moderen.

Selain adanya sikap saling membutuhkan dalam masyarakat, identitas kelompok juga muncul karena adanya kesadaran bersama untuk tetap mempertahankan nilai-nilai kebudayaan dalam masyarakat.86 Upaya untuk membangun kesadaran bersama tersebut lalu kemudian dilaksanakan melalui ritus.87 Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa ritus menjadikan nilai-nilai kebudayaan yang menjadi identitas sosial dalam suatu masyarakat tetap dipertahankan.88

Bagian III : Penelitian

3.1 Gambaran Singkat Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo

Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo berada di wilayah paling barat kabupaten Tana Toraja. Lebih tepatnya berada di Kecamatan Simbuang, Kelurahan Sima. Jarak kota

80 Peter Worsley, Introducing Sosiology, diterjemahkan oleh Hartono Hadikusumo, Pengantar Sosiologi : Sebuah Pembanding Jilid 2, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1992), 229.

81Peter Worsley, Introducing, 226.

82Peter Worsley, Introducing, 226-228.

83Peter Worsley, Introducing, 229.

84Peter Worsley, Introducing, 229.

85 Peter Worsley, Introducing,230.

86Christologus Dhogo, Su’i Uwi : ritus budaya, 57.

87 Christologus Dhogo, Su’i Uwi : ritus budaya,48.

88Christologus Dhogo, Su’i Uwi : ritus budaya, 49.

(16)

16 kabupaten (Makale) ke Simbuang kurang lebih 90 KM. Perjalanan ke sana dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor selama 4-6 jam.

Jumlah Kepala Keluarga Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo adalah 40 KK.89 Di jemaat lebo-lebo jumlah Pegawai Negeri Sipil dua orang serta tenaga honorer dua orang. Sisanya berprofesi sebagai petani

Gambaran singkat tentang Jemaat Lebo-Lebo di atas, kiranya mampu memberikan gambaran bahwa jemaat tersebut berada di desa. Oleh karenanya tradisi-tradisi dari nenek moyang mereka tentunya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan, walaupun mereka sudah menganut kepercayaan kristen.

3.2 Pembagian Makanan Berupa Daging Babi

Orang Toraja terlebih khusus masyarakat Simbuang merupakan bangsa yang hidup dalam ikatan kekeluargaan yang tinggi dan merasakan bahwa dirinya berada di tengah kuasa- kuasa yang lain. Oleh karenanya, dalam upaya untuk membangun relasi dengan sesama dan juga kuasa-kuasa lain maka leluhur orang Toraja telah mengembangkan tradisi-tradisi ritual dalam dua siklus, yakni siklus kehidupan dan siklus pertanian. Dalam pembahasan ini penulis tidak akan membahas kedua siklus tersebut, melainkan penulis akan fokus kepada siklus kehidupan.

Masyarakat Simbuang terlebih khusus agama Aluk Todolo mengenal tiga macam siklus kehidupan yaitu Aluk Bati’ (kelahiran anak), Aluk Banua (pembangunan rumah baru), dan Bammayang/ Tananan Dapo’ (Rumah tangga baru/ pernikahan).90 Dalam ketiga siklus inilah pembagian makanan berupa daging babi itu dilakukan.

Pelaksanaan ketiga siklus ini dikenal dalam kekristenan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan. Padahal dalam masyarakat Tana Toraja, terlebih khususnya Simbuang, ritus- ritus tersebut maknanya bukanlah pengucapan syukur. Ada pun makna dari ritus-ritus tersebut adalah pertama, melestrarikan strata sosial yang ada dalam masyarakat. Dengan kata lain untuk mengetahui di mana letak posisi atau kedudukan seseorang dalam masyarakat.

Kedua, dalam masyarakat Simbuang ritus dibuat untuk memperkuat solidaritas. Ketiga, sebagai ungkapan terimakasih kepada Dewa atau Dewata sebab atas perkenaanNyalah sehingga seorang anak bisa lahir, rumah baru boleh selesai dibangun, dan rumah tangga baru dapat terebentuk.

89 Wawancara yang dilakukan kepada Pendeta Jemaat.

90 Wawancara yang dilakukan kepada Tokoh Masyarakat Di Simbuang.

(17)

17 Keempat, sebagai bentuk permohonan kepada Dewa atau Dewata agar Ia mampu memberkati anak yang baru lahir dalam pertumbuhannya, memberkati rumah baru sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan (kebakaran, kemalingan dan hal buruk lainnya), memberkati keluarga baru sehingga mereka tetap hidup sebagai keluarga yang harmonis.

Adanya keinginan masyarakat Simbuang untuk tetap melaksanakan ritus-ritus tersebut, maka orang kristen memikirkan jalan keluar. Tujuan untuk mencari jalan keluar ini adalah agar pelaksanaan ritus-ritus tersebut tidak bertentangan dengan iman kristen. Jalan keluar tersebut diupayakan untuk melakukan transformasi dari makna yang ada dalam adat menjadi sebuah pengucapan syukur.91

Pertanyaan yang muncul adalah apakah upaya untuk melakukan transformasi tersebut berhasil. Untuk menjawab hal tersebut maka mari kita melihat hasil penelitian yang penulis lakukan di Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo, Simbuang.

 Cara Menentukan Pembagian Makanan

Sebelum penulis menjelaskan tentang pembagian makanan berupa daging babi, tentu akan muncul pertanyaan mengapa hewan yang digunakan dalam pengucapan syukur adalah babi? Apakah tidak bisa menggunakan hewan yang lain? Menjawab pertanyaan ini, perlu diketahui bahwa pada masa yang lalu sebenarnya orang masih bisa menggunakan ayam.

Orang yang menggunakan ayam adalah orang yang tidak berada, atau memiliki strata sosial yang rendah dalam masyarakat. Bahkan dalam pernikahan pun ada yang hanya menggunakan ayam.92 Namun seiring dengan perkembangan yang ada di Simbuang, tidak ada lagi yang menggunakan ayam dalam melaksanakan pengucapan syukur. Alasannya tentu saja jelas, yakni merasa malu terhadap orang yang diundang untuk hadir dalam pengucapan syukur.

Selain penjelasan di atas, orang Simbuang juga mengenal istilah “kamu tunui kami kandei, aku tunui kamu kandei”.93 Secara harafiah kalimat ini berarti “anda yang membakar kami yang makan, saya membakar anda yang makan” Istilah ini ingin memberikan gambaran bahwa pembagian makanan berupa daging babi menjadi wadah bagi mereka untuk saling mendukung satu dengan yang lain. Ketika ada orang yang melaksanakan pengucapan syukur, maka orang lain akan datang bersama-sama dalam pengucapan syukur untuk bersukacita

91 Wawancara yang dilakukan kepada Tokoh Kristen yang mengubah ritual dari Aluk Todolo, menjadi pengucapan syukur.

92 Wawancara dengan Tokoh adat dan Tokoh Kristen di Simbuang

93 Wawancara dengan Tokoh adat Simbuang dan Tokoh Kristen

(18)

18 bersama-sama, sebaliknya ketika orang yang diundang pun nantinya melaksanakan pengucapan syukur maka orang yang melaksanakan pengucapan syukur pun wajib hadir.

Setelah menjelaskan tentang alasan mengapa yang harus digunakan adalah daging babi, maka penulis akan menjelaskan cara menentukan pembagian makanan berupa daging babi yang dilakukan oleh masyarakat Simbuang, terlebih khususnya Jemaat Lebo-Lebo.

Ucapan syukur yang dilakukan oleh anggota jemaat terlebih khususnya dalam pembagian daging babi, ditentukan berdasarkan posisi atau kedudukan seseorang dalam gereja, dan juga dalam masyarakat. Panitia yang ditunjuk untuk melakukan pembagian daging babi, sebelumnya akan memantau siapa-siapa saja yang hadir dalam ibadah pengucapan syukur.94

Selanjutnya panitia akan memotong daging babi berdasarkan posisi seseorang dalam gereja atau pun dalam masyarakat. Setelah daging babi itu selesai dipotong, maka pada waktu acara makan sudah tiba, panitia yang ditunjuk akan menunjuk beberapa orang untuk membagi potongan daging babi tersebut.95

 Jenis-Jenis Potongan Daging Babi

Ada pun jenis potongan dalam pembagian makanan berupa daging babi terdiri atas 9 macam yaitu Buku Siruk, Buku Lappa, Longa-Longa, Buku Piak, Pattunu, Buku Lengo, Urang-Urang, Patta’takan (potongan untuk masyarakat umum), dan tawa pea (potongan daging babi untuk anak-anak).96 Potongan daging babi yang paling tertinggi adalah buku siruk, lalu kemudian diikuti dengan buku lappa, lalu potongan yang ketiga adalah Longa- Longa. Selanjutnya Buku Piak, Pattunu, Buku Lengo, Urang-Urang, memiliki posisi yang sejajar. Potongan berikutnya adalah Patta’takan (potongan untuk masyarakat umum), dan terakhir tawa pea (potongan daging babi untuk anak-anak).

Kesembilan macam potongan daging babi di atas hanya dapat diperoleh dalam acara perkawinan. Potongan daging babi yang pertama sampai ketiga (Buku Siruk, Buku Lappa, Longa-Longa), diberikan kepada orang yang dihargai di dalam masyarakat, termasuk di dalamnya Pendeta dan Majelis Jemaat. Sementara keempat potongan lainnya (Buku Piak, Pattunu, Buku Lengo, Urang-Urang) diberikan kepada orang yang memimpin proses lamaran (dari kaum laki-laki dan perempuan) dan kepada orang tua dari kedua mempelai.

94 Wawancara yang dilakukan dengan panitia yang ditunjuk dalam pengucapan syukur yang dilakukan oleh salah seorang anggota jemaat

95 Pengamatan penulis pada waktu pelaksanaan pengucapan syukur dilakukan.

96 Wawancara dengan salah seorang tokoh masyarakat di Simbuang

(19)

19 Melalui hal tersebut, potongan daging babi dalam acara pengucapan syukur lainnya seperti kelahiran bayi, pembangunan rumah baru, dan beberapa jenis pengucapan syukur lainnya hanya mengenal 5 macam jenis potongan yakni Buku Siruk (jenis potongan untuk kelas sosial tertinggi atau orang baru yang disambut dalam masyarakat), Buku Lappa, Longa- Longa, Patta’takan (potongan untuk masyarakat umum), dan tawa pea (potongan untuk anak-anak).97

Masyarakat simbuang, terlebih khususnya warga gereja jemaat lebo-lebo masih tetap mempertahankan pembagian daging babi berdasarkan posisi atau kedudukan seseorang dalam gereja atau pun dalam masyarakat karena adanya penghargaan yang diberikan kepada mereka.98

Ada pun status sosial yang berhak untuk memperoleh potongan daging babi yang besar adalah Pendeta, Majelis Jemaat, Tokoh-Tokoh Masyarakat. Selain itu, seseorang yang dianggap tamu akan memperoleh potongan yang tertinggi dari semua golongan masyarakat.

Salah satu contohnya adalah istri dari pendeta jemaat lebo-lebo yang baru pertama kali hadir di Simbuang. Pada waktu jemaat lebo-lebo melaksanakan pengucapan syukur, maka potongan tertinggi dari daging babi yakni buku siruk diberikan kepada istri pendeta tersebut.

Lain halnya dengan seseorang yang tidak mempunyai kedudukan dalam gereja maupun masyarakat, mereka tidak berhak untuk mendapatkan potongan-potongan yang besar seperti buku siruk, buku lappa, dan longa-longa. Ada pun potongan daging babi bagi masyarakat atau warga jemaat tersebut adalah pa’tattakan.

 Keuntungan Mempertahankan Pembagian Makanan

Masyarakat Simbuang tetap berupaya untuk mempertahankan ritual pembagian makanan tentu disebabkan karena ada keuntungan yang diperoleh dari pembagian makanan tersebut. Ada pun keuntungan yang diperoleh adalah masyarakat akan memperoleh penghargaan dari masyarakat karena tetap mempertahankan tradisi.99 Masyarakat Simbuang perlu memahami bahwa ada kebiasaan dalam masyarakat yang perlu untuk dilakukan secara bersama-sama, atau yang masyarakat Simbuang kenal sebagai Ada’.100 Salah satu kebiasaan tersebut adalah Ada’ Rambu Tuka’ atau pengucapan syukur.101

97 Wawancara dengan tokoh masyarakat di Simbuang.

98 Wawancara dengan tokoh masyarakat di Simbuang, pendapat mayoritas anggota jemaat yang menjadi narasumber

99 Wawancara dengan tokoh masyarakat dan sejalas dengan pendapat majelis jemaat.

100 Wawancara dengan tokoh masyarakat Simbuang, sekaligus tokoh kristen

101 Wawancara dengan tokoh masyarakat Simbuang.

(20)

20 Apabila masyarakat, terlebih khususnya anggota gereja tidak melakukan potongan daging babi secara berbeda-beda pada waktu pengucapan syukur maka orang tersebut akan dikucilkan dalam masyarakat. Salah satu contoh yang pernah terjadi adalah pendeta keminjil yang menolak untuk melayani jemaatnya jika melakukan pembagian makanan berupa daging babi dengan potongan yang berbeda-beda. Pada akhirnya pendeta tersebut mendapatkan teguran dari masyarakat setempat dan gereja tersebut dikucilkan dalam masyarakat.102

3.3 Tanggapan Majelis Jemaat dan Warga Jemaat

Pertama, tanggapan Majelis Jemaat Lebo-Lebo. Menurut Majelis Jemaat, pembagian makanan berupa potongan daging babi yang berbeda-beda adalah hal yang tidak bisa diubah.

Dikatakan demikian karena Jemaat Lebo-Lebo adalah bagian dari adat Simbuang yang tentunya terikat dengan adat Simbuang. Apabila mereka menentang adat maka mereka akan berhadapan dengan masyarakat yang ada di Simbuang.103

Dengan adanya penjelesan dari Majelis Jemaat di atas, maka hal menarik yang muncul adalah ketika penulis bertanya kepada para Majelis Jemaat mengenai pendapat mereka tentang kasih. Penjelasan yang panjang lebar dari Majelis Jemaat tersebut pada intinya ingin menyampaikan bahwa kita harus saling mengasihi seperti yang diajarkan Yesus kepada kita.

Namun, ketika saya mengembalikan pertanyaan ke topik awal yakni bagaimana tanggapan mereka tentang pembagian daging babi dengan potongan yang berbeda-beda jika dibandingkan dengan kasih? Majelis secara umum tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut dan hanya mengatakan bahwa itulah yang menjadi tantangan kita gereja Toraja.

Kedua, tanggapan warga jemaat. Dalam wawancara dengan warga jemaat (10 laki- laki dan 10 perempuan dengan usia 30 tahun ke atas), penulis dapat menggambarkan bahwa jemaat dalam keadaan dilema dalam menanggapi pembagian makanan tersebut. Di satu sisi pembagian makanan dengan potongan yang berbeda-beda merupakan penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dihargai dalam masyarakat (termasuk di dalamnya Pendeta dan Majelis Jemaat). Namun di sisi lain, jemaat beranggapan bahwa pembagian makanan dengan potongan yang berbeda adalah tindakan yang tidak adil. Terlebih lagi hal itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Yesus yaitu saing mengasihi satu dengan yang lain.

102 Cerita dari tokoh masyarakat di Simbuang.

103 Wawancara Dengan Majelis Jemaat

(21)

21 Pertanyaan yang penulis lontarkan rupanya menjadi dilematis bagi jemaat sehingga mereka kebingungan. Di satu sisi jemaat tidak mungkin meninggalkan adat, dan di sisi lain rupanya mereka memiliki pemahaman bahwa pembagian makanan yang selama ini diterapkan dalam ibadah pengucapan syukur, rupanya bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus.

Bagian IV : Makna dan Manfaat Pembagian Daging Babi

4.1 Makna Pembagian Daging Babi

Pembagian daging babi dengan potongan berbeda-beda yang dilakukan oleh Gereja Toraja Jemaat Lebo-Lebo menurut pemahaman penulis memiliki dua makna yang penting, yakni penghargaan dan pengucapan syukur.

 Penghargaan.

Stratifikasi sosial yang dipahami sebagai penggolongan masyarakat ke dalam tingkat yang berbeda-beda,104 dapat terlihat secara jelas di dalam pembagian makanan berupa daging babi yang dilakukan oleh Jemaat Lebo-Lebo.105 Namun sebelumnya, penulis akan menyebutkan lapisan atau struktur sosial yang dikenal oleh masyarakat Toraja. Ada pun lapisan tersebut adalah pertama, Tanak Bulaan. Lapisan ini merupakan lapisan sosial golongan bangsawan tertinggi.106 Kedua, Tanak Bassi. Bagian kedua ini merupakan lapisan sosial bagi masyarakat yang tergolong ke dalam bangsawan menengah.107 Ketiga, Tanak Karurung. Orang-orang yang ada di lapisan ini adalah orang-orang yang tergolong ke dalam masyarakat biasa.108 Keempat, Tanak Kua-Kua. Orang-orang yang terdapat dalam lapisan ini adalah para hamba atau suruhan.109

Pembagian potongan daging babi yang dilakukan oleh Jemaat Lebo-Lebo, tidak lagi berdasarkan keempat lapisan sosial yang dijelaskan di atas. Pembagian daging babi dibagi berdasarkan posisi atau kedudukan seseorang di dalam masyararakat dan di dalam gereja, seperti Camat, Lurah, Kepala Lembang, tokoh masyarakat, Pendeta dan Majelis Jemaat.

104 Lihat Bagian dua halaman 8.

105 Lihat bagian 3, halaman 19-20

106 L.T. Tangdilintin, Tongkonan (Rumah Adat Toraja) : Arsitektur dan ragam hias Toraja, (Toraja : Yayasan Lepongan Bulan 1985), 17-18.

107 L.T. Tangdilintin, Tongkonan (Rumah Adat Toraja), 17-18.

108 L.T. Tangdilintin, Tongkonan (Rumah Adat Toraja), 17-18.

109 L.T. Tangdilintin, Tongkonan (Rumah Adat Toraja), 17-18.

(22)

22 Dengan adanya peristiwa tersebut, maka penulis menemukan beberapa hal menarik.

Pertama, perubahan status sosial dari tradisional ke moderen. Pembagian daging babi yang tidak lagi dibagi berdasarkan lapisan sosial yang dikenal oleh masyarakat Toraja, menunjukkan bahwa perubahan itu dimungkinkan untuk terjadi. Namun yang menjadi pertanyaan adalah jika lapisan sosial itu dapat berubah, lalu mengapa potongan daging babi yang berbeda-beda itu tidak dapat berubah. Penyebab yang paling mungkin dari realita tersebut adalah karena perubahan lapisan sosial dari tradisional ke moderen tidak merusak atau mengganggu kenyamanan masyarakat. Sebaliknya menghilangkan atau mengubah potongan daging yang berbeda-beda dianggap mengganggu kenyamanan dalam masyarakat atau bertentangan dengat ada’ (kebiasaan dalam masyarakat).

Kedua,di dalam kehidupan sosial, seseorang bisa mendapat penghargaan yang tinggi di satu dimensi, namun di dimensi lainnya seseorang bisa mendapat penghargaan yang rendah.110 Hal ini dapat terlihat di Jemaat Lebo-Lebo. Perlu diketahui bahwa mayoritas Majelis Jemaat Lebo-Lebo berprofesi sebagai petani. Apabila Majelis Jemaat tersebut mengikuti ibadah pengucapan syukur yang dilaksanakan oleh Jemaat Lebo-Lebo, maka mereka akan mendapatkan potongan yang besar dibandingkan dengan anggota jemaat lainnya.111 Sebaliknya, jika Majelis Jemaat yang berprofesi sebagai petani tersebut mengikuti ibadah pengucapan syukur yang dilaksanakan oleh jemaat lain, maka ia akan mendapatkan potongan yang sama dengan masyarakat biasa.

Ketiga, Dalam bagian dua dijelaskan bahwa simbol dapat dipahami sebagai ciri atau tanda yang memberitahukan sesuatu kepada seseorang.112 Potongan daging babi yang diberikan kepada individu yang memiliki posisi atau kedudukan di dalam masyarakat dan di dalam gereja adalah sebuah simbol. Ada pun makna dari simbol tersebut adalah sebagai bentuk penghargaan kepada mereka. Dengan kata lain dapat dipahami bahwa pemberian daging babi dengan potongan yang berbeda sama sekali tidak berniat untuk menerapkan adanya ketidakadilan di dalam masyarkat. Potongan daging babi yang berbeda justru merupakan simbol bahwa ada orang-orang yang perlu untuk dihargai di dalam masyarakat. Oleh karenanya mereka harus mendapatkan sesuatu yang berbeda dari masyarakat biasa.

110 Lihat bagian dua halaman 9.

111 Lihat bagian 3, halaman 19-20.

112 Lihat bagian dua , halaman 11.

(23)

23

 Pengucapan Syukur

Pada penjelasan awal di bagian tiga secara jelas dipaparkan bahwa pembagian makanan berupa daging babi dengan potongan yang berbeda-beda merupakan tradisi Aluk Todolo.113 Adanya keinginan untuk tetap mempertahankan tradisi pembagian potongan daging babi yang berbeda-beda, maka tokoh kristen di Simbuang melakukan transformasi. Namun yang menjadi perhatian adalah pelaksanaan yang dilakukan oleh orang kristen di Simbuang, terlebih khusus jemaat Lebo-Lebo, rupanya tidak jauh berbeda. Potongan daging babi yang berbeda-beda rupanya bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh kekristenan. Hal ini dapat terlihat ketika penulis melakukan wawancara dengan 20 anggota jemaat beserta Pendeta dan Majelis Jemaat. Dalam wawancara tersebut, ketika penulis bertanya tentang kasih maka pada intinya mereka mengatakan bahwa kasih adalah mengasihi sesama seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Namun, ketika saya mengembalikan pertanyaan ke topik awal bagaimana tanggapan mereka tentang pembagian daging babi dengan potongan yang berbeda-beda, maka mereka tidak bisa menjawab.114

Keadaan dilematis yang dialami oleh jemaat yakni di satu sisi mempertahankan tradisi dari nenek moyang, sementara di sisi lain potongan daging babi yang berbeda-beda rupanya tidak menerapkan kasih secara merata menjadi pergumulan yang serius bagi jemaat Lebo-Lebo.

Melalui realita di atas, penulis dapat memahami bahwa mengubah atau menghilangkan tradisi pembagian makanan berupa daging babi dengan potongan yang berbeda-beda adalah hal yang tidak dapat dilakukan. Dikatakan demikian karena ketika jemaat Lebo-Lebo menghilangkan hal tersebut, maka ia akan dikucilkan di dalam masyarakat.

Hal yang dapat dilakukan oleh jemaat menurut pemahaman penulis adalah mengubah pemahaman terhadap orang-orang yang menerima potongan babi yang tinggi. Artinya bahwa di dalam pembagian potongan daging babi tersebut tidak ada istilah kelas rendah atau pun kelas tinggi. Orang-orang yang mendapat potongan daging babi yang besar dipahami sebagai orang-orang yang ditunjuk oleh Tuhan. Apabila orang tersebut adalah Pendeta dan Majelis Jemaat, maka mereka adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menyebarluaskan FirmanNya. Oleh karenanya mereka harus dikasihi, dengan cara memberikan penghargaan kepadanya. Selanjutnya, apabila orang tersebut adalah

113 Lihat bagian 3, halaman 17-18.

114 Lihat bagian 3, halaman 21-22

(24)

24 pemerintah dan tokoh-tokoh masayarakat, maka mereka adalah orang yang ditunjuk oleh Tuhan untuk mensejahterakan rakyat, menjaga keamanan, serta memperjuangkan berbagai hal-hal positif dalam masyarakat. Melalui hal tersebut, mereka pun wajib memperoleh penghargaan dari masyarakat.

4.2 Manfaat Pembagian Daging Babi

Pembagian daging babi yang dilakukan oleh masyarakat Simbuang, terlebih khusus Jemaat Lebo-Lebo merupakan upaya untuk mempertahankan tradisi dari para pendahulu.

Dalam upaya untuk menjelaskan manfaat pembagian daging babi, maka penulis akan menjelaskan dalam tiga bagian yakni Simbol, Ritus, dan Identitas Sosial.

 Simbol

Upaya untuk mempertahankan tradisi pembagian makanan berupa daging babi dengan potongan yang berbeda-beda, merupakan simbol yang menunjukkan identitas masyarakat Simbuang.115 Oleh karenanya, ketika ada masyarkat Simbuang yang berupaya untuk menghilangkan tradisi tersebut, maka ia akan dikucilkan di dalam masyarakat, sebab individu tersebut telah menghina apa yang menjadi identitas mereka.

Dengan adanya penjelasan di atas, maka jelas bahwa pembagian makanan berupa potongan daging babi yang berbeda-beda tidak hanya sekedar menjadi ciri atau tanda, melainkan benar-benar menjadi simbol bagi masyarakat Simbuang.116 Simbol tersebut merupakan simbol yang diwariskan oleh para pendahulu masyarakat Simbuang.

Walaupun harus disadari bahwa hal tersebut telah ditransformasi menjadi pengucapan syukur oleh orang-orang Kristen.117

 Ritus

Pelaksanaan pengucapan syukur yang di dalamnya terdapat pembagian makanan berupa daging babi dengan potongan yang berbeda-beda dapat dipahami sebagai ritus. Dikatakan demikian karena ritus merupakan tata upacara atau perayaan keagamaan yang dilakukan di dalam masyarakat.118

Ritus muncul dengan tujuan untuk memberi makna terhadap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.119 Namun perlu diingat bahwa ritus tersebut tidak dilaksanakan oleh masyarakat secara universal. Apabila membandingkan

115 Bandingkan bagian 2, halaman 12.

116 Bandingkan bagian 2, halaman 11-12.

117 Lihat bagian 3 halaman 18.

118 Lihat bagian dua halaman 13.

119 Lihat bagian dua halaman 13.

(25)

25 penjelasan tersebut dengan ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat Simbuang, terlebih khusus jemaat Lebo-Lebo, maka hal tersebut dapat dibenarkan. Dikatakan demikian karena ritual pembagian makanan berupa daging babi dengan potongan yang berbeda- beda, sepengetahuan penulis hanya dilaksanakan oleh masyarakat Simbuang.

Apabila telah dipahami bahwa ritual pembagian makanan berupa potongan daging babi yang berbeda-beda hanya dilaksanakan oleh masyarakat Simbuang, maka upaya untuk mempertahankan tradisi ini perlu untuk dilakukan. Apabila hal tersebut tidak dilakukan maka ciri kahs orang Simbuang akan hilang dan bahkan salah satu ciri khas di Tana Toraja pun akan hilang.

Upaya untuk mempertahankan ritual pembagian makanan berupa daging babi dengan potongan yang berbeda-beda, telah dilakukan oleh masyarakat kristen di Simbuang. Hal itu dilakukan dengan cara melakukan transformasi terhadap ritual-ritual yang dilakukan oleh para pendahulu ke dalam kekristenan, dengan mengubah menjadi pengucapan syukur kepada Tuhan.

 Identitas Sosial

Pada bagian dua dijelaskan bahwa Identitas dapat dipahami sebagai sebuah upaya bagi beberapa atau pun sekelompok individu untuk menunjukkan keberadaanya di tengah masyarakat.120 Oleh karenanya, pembagian makanan berupa daging babi dengan potongan yang berbeda-beda yang dilakukan oleh masyarakat Simbuang merupakan sebuah identitas.

Dalam upaya untuk menjelaskan identitas masyarakat Simbuang, terlebih khusus Jemaat Lebo-Lebo, maka penulis akan membagi ke dalam dua bagian. Pertama, identitas individu. Adanya pengakuan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap individu menyebabkan identitas dari individu tersebut terbentuk.121 Jika demikian, maka individu yang mendapat potongan daging babi dari yang besar sampai kecil di dalam masyarakat merupakan identitas yang diberikan oleh masyarakat kepada mereka. Individu yang mendapat potongan daging babi yang besar identitasnya terbentuk menjadi individu yang dihargai dalam masyarakat. Sebaliknya, individu yang mendapatkan potongan kecil atau patta’takan122 identitasnya terbentuk menjadi individu biasa di dalam masyarakat.

120 Lihat bagian dua halaman 14.

121 Lihat bagian dua halaman 15.

122 Lihat bagian tiga halaman 19.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian masalah pokok dalam penelitian ini adalah Nilai-nilai kearifan apakah yang terkandung pada tradisi ‘memitu’ di masyarakat Kota Cirebon..

Berdasarkan hasil penelitain dan pembahasan terhadap modul yang dikembangkan, maka dapat diambil beberapa simpulan bahwa pengembangan modul pada materi bangun ruang

Kegiatan variatif tersebut adalah kegiatan mengurutkan flashcard dengan menghubungkan pita pada setiap lubang kartu, menghafal sambil bermain asmaul husna, tebak gambar

Konsentrasi adsorbat akan sangat mempengaruhi proses adsorpsi yang terjadi, karena semakin besar atau tinggi konsentrasi adsorbat dalam larutan maka akan semakin rendah

Dalam hasil pengujian statistik nilai t atau secara parsial dan hasil uji f atau secara simultan, variabel harapan pelanggan, kualitas produk dan kepuasan pelanggan

Proses ini menerima input berupa Format SMS (Short Message Service) nilai mid teori sebagai berikut : nis (spasi) mdteo, kemudian aplikasi akan mengirimkan data dalam bentuk

impedansi input, impedansi output, penguatan arus, penguatan tegangan dari rangkaian penguat transistor yang menggunakan konfigurasi umpan balik. 11 Mahasiswa memahami

Skripsi berjudul “Perkembangan Tingkat Keparahan Penyakit dan Insiden Penyakit Tobacco Mosaic Virus pada Tembakau Na Oogst dan Voor Oogst pada Lahan Tanam