1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Karier menjadi hal yang penting dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang individu. Kesuksesan karier dari seorang individu ditentukan dengan bagaimana individu tersebut merencanakan kariernya, sehingga perencanaan karier menjadi suatu hal yang penting bagi individu dalam berkarier. Perencanaan karier yang matang harus dilakukan karena akan membantu seorang individu untuk memahami gambaran dan arah tujuan karier yang ingin dicapainya.
Pendapat ini sejalan dengan Novitasari (2015) dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa setiap orang yang akan menjalani sebuah karier harus memiliki perencanaan karier yang matang dan jelas, karena karier merupakan sebuah pilihan dalam kehidupan setiap orang dan dengan adanya perencanaan karier akan membantu seorang individu dalam melihat gambaran pekerjaan yang sesuai dengan dirinya.
Merencanakan karier secara baik akan memberikan kontribusi dalam kesuksesan karier seorang individu karena dapat membantu dalam meraih tujuan karier yang sesuai dengan harapan yang dinginkan (Rimper dan Kawet, 2014).
Namun, kesadaran individu akan pentingnya perencanaan karier masih kurang.
Hal ini sesuai dengan penelitan Raditya (2011) yang menyatakan bahwa masyarakat Bali tidak begitu mementingkan persiapan karier. Seorang individu yang tidak memiliki perencanaan karier akan mengalami kebingungan tentang informasi karier, sedangkan dalam berkarier informaasi merupakan bagian terpenting dalam individu untuk membantu menggambarkan karier yang diinginkan atau dilakukannya. Hal ini dapat memberikan dampak negatif pada individu itu sendiri karena tidak akan mengetahui arah tujuan karier yang ingin dicapainya. Namun, dengan adanya perencanaan karier maka ketegangan dan kebingungan dalam informasi karier yang kemudian akan berlanjut kepada pengambilan keputusan karier akan berkurang. Selain itu, seorang individu yang tidak memiliki perencanaan karier akan berdampak pada terhambatnya perkembangan karier individu itu sendiri. Salah satu aspek perkembangan sikap karier adalah perencanaan karier (Adiputra, 2015).
2
Perencanaan karier melibatkan peyusunan rencana-rencana untuk mencapai tujuan dan pengidentifikasian tujuan-tujuan yang berkaitan dengan karier tersebut (Adiputra, 2015), sehingga individu yang memiliki perencanaan karier akan mengetahui langkah apa saja yang harus diambil dan memiliki sebuah rencana untuk meraih tujuannya. Namun, dalam melakukan perencanaan karier individu dianjurkan untuk paham tentang dirinya sendiri seperti kelebihan dan kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan pengelolaan potensi diri dan informasi yang diperoleh diperlukan dalam perencanaan karier (Winkel dan Hastuti, 2007). Perencanaan karier diawali dengan pemahaman tentang diri, yang membantu seseorang untuk melihat jangkar karier mana yang lebih menonjol (Marwansyah, 2012). Disimpulkan bahwa kesuksesan perencanaan karier yang dimiliki individu dapat dihasilkan dengan adanya pemahaman tetang diri atau gambaran diri yang baik. Individu dapat mengetahui tentang gambaran dirinya melalui konsep diri yang dimilikinya. Suryanti (2011) menyatakan konsep diri adalah suatu gambaran individu yang menyeluruh mengenai dirinya, termanifestasi dalam sebuah kepercayaan, perasaan pikiran, maupun sikap yang melekat dan menjadi karakteristik bagi individu.
Chaplin (2001) mendefinisikan konsep diri (self-concept) merupakan kemampuan individu melakukan evaluasi mengenai dirinya melalui penaksiran mengenai diri sendiri oleh individu tersebut. Dapat disimpulkan bahwa seorang yang memiliki konsep diri yang baik akan memahami tentang dirinya meliputi perasaan, sikap, dan kepercayaan yang ada dalam dirinya, sehingga akan membantu individu menuntun menuju ke arah karier yang sesuai dengan gambaran dirinya. Kepercayaan diri individu yang optimal dalam berkarier dapat muncul dengan adanya konsep diri yang baik. Kepercayaan diri yang optimal dari seorang individu menunjukkan bahwa individu tersebut memiliki konsep diri yang positif (Ardiyanti, 2017). Konsep diri yang positif dalam individu akan membuat individu tersebut memiliki motivasi yang tinggi dalam menentukan karier yang akan dipilihnya secara tepat, sehingga usaha dalam meraih kesuksesan dalam diri individu yang memiliki konsep diri positif akan lebih baik. Kepercayaan diri yang baik akan memberikan keyakinan seorang individu untuk mengembangkan
3
potensi yang dimilikinya dan akan memberikan dampak positif bagi perencanaan kariernya.
Conger (1991) mengatakan bahwa seseorang akan mengembangkan konsep diri dan identitas dirinya dengan cara menentukan pilihan kariernya, sehingga ia menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab atas karier atau pekerjaan yang dipilihnya. Selanjutnya Santrock (2002) berpendapat hal pokok yang berperan dalam pemilihan karier indvidu adalah konsep diri. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa individu harus melihat kemampuan dirinya dalam memilih karier dan dapat bertanggung jawab atas kariernya. Selain itu, seorang individu yang merencanakan karier sesuai dengan keadaan dirinya akan dapat mengoptimalkan perkembangan diri dan yakin akan pilihan kariernya.
Selain konsep diri, keluarga memiliki peran dalam perancanaan karier yang dilakukan oleh seorang individu. Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi individu untuk berinteraksi, sehingga pengaruh keluarga dalam proses pembentukan pribadi individu sangat besar. Dukungan keluarga berperan dalam mempengaruhi individu untuk menjalani kehidupannya. Begitupun dengan perencanaan karier seorang individu, keluarga memiliki peran cukup besar di dalamnya dengan cara memberikan informasi dan menjadi tempat untuk bertukar pikiran tentang karier. Mengakses informasi termudah adalah melalui keluarga, sehingga informasi yang ada tersebut dapat mempengaruhi individu untuk menentukan masa depan tentang kariernya. Pendapat tersebut diperkuat dengan Husain dan Rafique (2013) yang mengatakan bahwa pada umumnya siswa mengambil keputusan karier mereka berdasarkan informasi yang tersedia dari orangtua dan lingkungan sosial yang dapat diakses. Selain itu, dukungan keluarga berupa emosi dan penghargaan diri sangat dibutuhkan oleh seorang individu dalam berkarier. Individu yang mendapatkan penghargaan diri dari keluarga maka akan semakin merasa berharga, mampu dan dihargai (Novitasari, 2015), sehingga hal ini dapat membuat individu semakin yakin akan pilihan yang dibuatnya.
Demikian halnya yang terjadi pada para guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga yang membutuhkan dukungan keluarga dalam kariernya. Hasil dari wawancara pendahuluan pada 17 November 2017 para Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga bahwa dalam berkarier keluarga menjadi salah satu
4
faktornya. Dukungan keluarga dianggap penting bagi mereka dalam melakukan perencanaan karier karena memberikan dorongan motivasi untuk memiliki kemajuan dalam berkarier. Selain keluarga, gambaran diri berupa sikap seperti kemauan diri dan kerajinan dari masing-masing guru menjadi salah satu faktor lainnya dalam perencancaan karier guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga. Hal di atas penting bagi guru Pegawai Negeri Sipil karena mereka memiliki jenjang karier yang digolongkan dari golongan II/A hingga IV/E yang disetiap golongan memiliki syarat - syarat yang harus dipenuhi untuk proses kenaikan golongannya, sehingga guru yang rajin akan memiliki proses kenaikan golongan yang lebih cepat.
Mendapatkan kenaikan golongan saat ini prosesnya tidak mudah karena guru harus mencapai target angka kredit sebelum mendapatkan kenaikan golongan. Hal ini ditulis dalam parmen PANRB Nomor 16 Tahun 2009 Pasal 1 Ayat 7 yang menyatakan angka kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh seorang Guru dalam rangka pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya. Angka kredit pada setiap tingkat jabatan berbeda-beda dan untuk mendapatkannya salah satu syarat guru harus menulis sebuah karya ilmiah atau jurnal. Namun faktanya, guru mengalami kendala dalam kenaikan tingkat golongan dan yang menjadi salah satu kendalanya adalah karya tulis ilmiah.
Kutipan dalam Kompasiana yang diterbitkan 21 Maret 2012 menyatakan bahwa banyak guru – guru pegawai negeri sipil yang memiliki kemampuan membuat karya tulis yang tergolong lemah, sehingga masih membutuhkan pelatihan dalam kemampuan menulis. Selain karya tulis ilmiah dikutip dalam Kompasiana edisi berbeda pada tanggal 13 Mei 2017, guru harus melakukan pengembangan diri melalui seminar, lokarya dan diklat untuk menjadi syarat dalam kenaikan tingkat golongan. Hal ini menunjukkan guru Pegawai Negeri Sipil harus memiliki perencanaan agar semua proses dalam memenuhi angka kredit berjalan dengan baik. Melihat hal ini membuat peneliti tertarik untuk meneliti “Pengaruh Konsep Diri dan Keluarga Terhadap Perencanaan Karier Guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga” dimana setiap guru memiliki perencanaan karier yang berbeda-beda.
5
Keterbaruan penelitian ini adalah melihat perencanaan karier dari dua sisi yaitu faktor individu dengan variabel konsep diri dan faktor lingkungan dengan variabel dukungan keluarga. Pada penelitian terdahulu yang dilakukan Novitasari (2015) berfokus pada dukungan orang tua yang berarti empati, kepedulian dan perhatian kepada anak yang menunjukkan dukungan orang tua berpengaruh signifikan terhadap perencanaan karier. Pembeda lainnya adalah objek dari penelitian ini adalah guru Pegawai Negeri Sipil yang sudah memiliki kejelasan karier.
Persoalan Penelitian
Berdasarkan situasi problematik dalam penelitian ini, maka persoalan penelitian ini adalah:
1. Apakah ada pengaruh konsep diri terhadap perencanaan karier Guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga?
2. Apakah ada pengaruh dukungan keluarga terhadap perencanaan karier Guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga?
3. Apakah tingkat perencanaan karier Guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga baik atau tidak baik?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab persoalan peneltian di atas yaitu:
1. Untuk menguji adanya pengaruh konsep diri terhadap perencanaan karier Guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga.
2. Untuk menguji adanya pengaruh dukungan keluarga terhadap perencanaan karier Guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga.
3. Untuk menganalisis tingkat perencanaan karier Guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga.
6 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu :
1. Bagi SMK Negeri di Salatiga sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan cara yang tepat dalam membimbing perencanaan karier guru Pegawai Negeri Sipil.
2. Bagi guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga sebagai acuan dalam merencanakan karier dan memberikan wawasan tentang faktor- faktor yang dapat mempengaruhi perencanaan karier.
3. Bagi peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian sejenis, dapat menjadikannya sebagai refrensi untuk mengembangkan peneltian.
KAJIAN PUSTAKA
Konsep Diri
Konsep diri merupakan pandangan atau penilaian seorang individu atas pribadinya, baik yang bersifat psikologis, sosial dan fisik yang didapatkan dari interaksinya dengan lingkungan yang ada disekitarnya (Pratama dan Suharman, 2014). Konsep diri menurut Perry dan Potter (2005) adalah citra mental seseorang terhadap dirinya sendiri, mencakup bagaimana mereka melihat kekuatan dan kelemahan pada seluruh aspek kepribadiannya. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai aspek pribadi yang dimilikinya meliputi pandangan, presepsi, keyakinan,pikiran dan perasaan (Silitonga dkk, 2017). Konsep diri adalah cara seorang memandang dirinya sendiri, dengan cara menggolongkan karakteristik sifat sosial, sifat pribadi, dan peran sosial (Laksana, 2015).
Melihat uraian di atas maka disimpulkan bahwa konsep diri adalah kemampuan individu untuk menilai dirinya sendiri dalam memahami kelebihan dan kekurangan dimilikinya yang mencangkup seluruh aspek kepribadiannya.
Setiap individu memiliki konsep diri yang berbeda-beda karena setiap orang memiliki presepsi sendiri mengenai dirinya. Calhoun dan Acocella (1990) membagi konsep diri menjadi dua jenis yaitu konsep diri positif dan negatif sebagai berikut:
7 a. Konsep Diri Positif
Individu yang mempunyai konsep diri positif biasanya tahu betul tentang dirinya, kemudian dapat menerima dan memahami fakta - fakta yang bervariasi megenai dirinya sendiri. Hal ini menjadikan individu positif sehingga dapat menerima keberadaan orang lain.
Konsep diri yang positif akan membuat individu melihat realitas yang sedang terjadi sebelum merancanakan tujuan – tujuan yang ingin diraihnya.
b. Konsep Diri Negatif
Konsep diri negatif terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Pandangan individu tentang dirinya yang tidak stabil. Individu pada tipe pertama ini tidak mengetahui siapa dirinya, kelamahan dan kekuatannya atau yang dihargai dalam kehidupannya.
2. Pandangan tentang dirinya yang stabil. Individu pada tipe kedua ini terjadi karena individu tersebut dididik dengan cara yang sangat keras, sehingga perilakunya kurang baik.
Berdasarkan pendapat di atas maka diketahui bahwa konsep diri ada dua yaitu konsep diri positif yang didefinisikan bahwa individu dapat memahami dan menerima berbagai fakta tentang dirinya dan konsep diri negatif menyatakan bahwa individu tidak tahu tentang kelemahannya atau pun kelebihannya dan yang dihargai dalam kehidupannya. Seorang individu yang memiliki konsep diri positif maka kepercayaan dirinya akan tinggi karena individu tersebut yakin terhadap pandangan dirinya dan hal itu membantu individu untuk meraih tujuan yang sudah ditentukannya.
Aspek - aspek yang mempengaruhi konsep diri menurut Calhoun dan Acocella (1990) meliputi:
1. Aspek pemahaman. Meliputi kemampuan individu untuk memahami kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya.
Pemahaman tersebut berkaitan dengan usia, jenis kelamin, pekerjaan dan sebagainya.
8
2. Aspek pengharapan. Meliputi pandangan diri tentang kemungkinan menjadi apa di masa depan, sehingga dengan harapan dapat memberikan suatu dorongan untuk meraihnya.
3. Aspek penilaian. Meliputi bagaimana individu mengevaluasi dirinya sendiri. Orang yang memiliki harga diri yang tinggi maka menyukai siapa dirinya dan apa yang dikerjakannya.
Dapat disimpulkan bahwa konsep diri menjadi suatu alat bagi seorang individu untuk membantu memahami tentang potensi yang dimilikinya. Bagi individu hal ini menjadi hal yang penting karena dengan mengerti tentang gambaran dirinya dapat semakin yakin dalam setiap mengambil suatu keputusan.
Keluarga
Effendy (1998) mengartikan keluarga sebagai bagian masyarakat yang terkecil terdiri dari lebih dari satu orang dan memiliki kepala keluarga yang tinggal di satu tempat dalam keadaan saling ketergantungan. Keluarga merupakan sekumpulan orang yang memiliki tujuan untuk meningkatkan perkembangan mental, fisik, sosial dan emosional dari tiap anggotanya dan mempertahankan budaya yang umum (Sudhiarto, 2007). Sehingga, keluarga dapat diartikan sebagai beberapa orang yang terkumpul dalam satu tempat yang memiliki tujuan untuk meningkatkan perkembengan mental, fisik, sosial dan emosional dari tiap anggotanya.
Dukungan Keluarga
Tindakan memberikan bantuan kepada anggota keluarga yang lain diartikan sebagai dukungan keluargav(Robert dan Greene, 2009). Dukungan keluarga diartikan sebagai salah satu bentuk dukungan sosial informal yang diberikan keluarga kepada setiap anggotanya yang memberikan dampak pada pengembangan seseorang mencangkup penilaian, pola perilaku, dan kognitif sosial (Dolan dan Canavan, 2006). Friedman (2010) menyatakan bahwa dukungan keluarga merupakan suatu proses hubungan antara keluarga yang diperlihatkan melalui sikap, tindakan, dan penerimaan keluarga yang terjadi selama masa hidup.
9
Dukungan yang berasal dari anggota keluarga ketika anggota lainnya mengalami suatu masalah dapat diartikan juga sebagai dukungan keluarga (Videbeck, 2008).
Menurut Friedman (1998) keluarga menjadi sumber dukungan berupa dukungan informasional, dukungan penghargaan, dukungan instrumental dan dukungan emosional.
1. Dukungan Informasional
Keluarga memberikan informasi, saran, sugesti yang dapat digunakan dalam meyelesaikan suatu masalah.
2. Dukungan Penghargaan
Keluarga memberikan support, perhatian, dan penghargaan serta membimbing anggotanya dalam memecahkan masalah.
3. Dukungan Instrumental
Keluarga memberikan dukungan berupa pertolongan praktis dan konkrit seperti makanan, minuman, istirahat, dan keuangan.
4. Dukungan Emosional
Dukungan berupa adanya kepercayaan dan perhatian yang diberikan kepada anggota keluarga. Keluarga menjadi tempat yang nyaman untuk pemulihan dan membantu penguasaan emosi.
Dari uraian dukungan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya dukungan keluarga dapat membantu seorang individu untuk mendapatkan berbagai macam informasi dan lebih termotivasi dalam mewujudkan tujuan yang ingin dicapainya disemasa hidupnya.
Karier
Karier adalah sesuatu yang memperlihatkan perkembangan karyawan secara individual dalam jenjang kepangkatan atau jabatan yang dapat dicapai selama masa kerja dalam suatu organisasi (Martoyo, 2000). Mathis dan Jackson (2009) karier merupakan rangkaian posisi yang saling berhubungan dengan pekerjaan yang dilakukan individu semasa hidupnya. Mondy (2008) mendifinisikan karier sebagai jalur umum yang dipilih seseorang untuk diikuti sepanjang hidupnya.
10
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, karier dapat didefinisikan suatu pilihan yang berkaitan mengenai pekerjaan yang dipilih oleh seorang individu di sepanjang hidupnya dan di dalamnya ada jenjang jabatan atau kepangkatan yang dapat dicapai. Karena karier akan berkaitan dengan individu di sepanjang hidupnya, maka dianjurkan seorang individu harus memiliki rencana untuk menentukan tujuan dan target yang ingin dicapai selama kariernya.
Perencanaan Karier
Sirait (2006) perencanaan karier adalah proses temuan yang kontinu, dimana seseorang secara perlahan mengembangkan konsep pekerjaan yang lebih jelas dalam kaitannya dengan kemampuan, talenta, kebutuhan, motif, nilai dan sikap dalam dirinya. Perencanaan karier merupakan suatu proses di mana seseorang memilih tujuan karier dan jalur karier yang ditempuhnya (Widodo, 2015). Simamora (2011) perencanaan karier didefinisikan sebagai proses untuk menyadari diri sendiri terhadap peluang-peluang, kesempatan-kesempatan, mengidentifikasi tujuan-tujuan yang berkaitan tentang karier. Perencanaan karier didefinisikan sebagai suatu perencanaan megenai peluang - peluang seorang anggota atau karyawan organisasi sebagai individu dalam meniti proses kenaikan jabatan sesuai dengan kemampuan dan persyaratannya (Martoyo, 2000).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka disimpulkan bahwa perencanaan karier didefinisikan sebagai suatu proses individu memilih tujuan karier yang sesuai dengan kemampuan yang ada dalam dirinya dan melihat peluang yang berkaitan dengan kariernya seperti kenaikan jabatan atau pangkat.
Perencanaan karier dilakukan karena memiliki beberapa tujuan, menurut Simamora (2011) perencanaan karier memiliki tiga tujuan yaitu:
1. Memberikan bantuan kepada individu untuk menyadari diri sendiri tentang konsekuensi, kendala, dan peluang dalam berkarier.
2. Untuk indvidu mengidentifikasi tujuan-tujuan yang berkaitan tentang karier.
3. Menyusun hal-hal yang berkaitan tentang karier seperti program kerja, pendidikan dan urutan langkah-langkah untuk meraih tujuan karier.
11
Adapun menurut Mathis dan Jackson (2009), seorang yang ingin merencanakan karir harus memperhatikan beberapa aktivitas berikut:
1. Penilaian Diri Sendiri
Setiap individu harus memahami apa yang mereka sukai, apa yang tidak mereka sukai, kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki.
Hal ini perlu dilakukan agar pada saat menjalani kariernya mereka tidak merasa salah atas pilihan karier yang mereka pilih.
2. Umpan Balik Atas Realitas
Individu membutuhkan umpan balik tentang seberapa baik mereka bekerja, bagaimana seorang atasan melihat kapabilitas mereka dan tersedianya informasi yang mencukupi mengenai karier.
3. Menentukan Tujuan Karier
Memutuskan jalur yang diinginkan, menentukan daftar waktu, dan mendapatkan pelatihan atau pengalaman yang diperlukan untuk bergerak maju dalam mengejar tujuan-tujuan karier.
PENGEMBANGAN PENELITIAN
Pengaruh Konsep Diri Terhadap Perencanaan Karier
Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan pikiran, kepercayaan, ide serta keyakinan yang dipahami oleh individu mengenai dirinya. Perencanaan karier yang baik adalah yang mempertimbangkan pemahaman individu tentang dirinya sendiri. Hilgard, dkk (1975) mengungkapkan bahwa gambaran seseorang tentang dirinya mempunyai pengaruh terhadap pilihan yang dibuat, baik pilihan pendidikan maupun pilihan terhadap pekerjaan. Seorang individu yang terlibat dalam eksplorasi karier, mencari informasi mengenai karier dan mengembangkan tingkah laku untuk menghadapi karier merupakan individu yang memelihara dan meningkatkan konsep diri dalam dirinya (Hasan, 2006). Pendapat ini didukung dengan penelitian yang dilakukan Afriwinanda (2012) yang menyatakan adanya hubungan positif yang sangat signifikan antara konsep diri dengan perencanaan karier pada siswa siswi kelas XII SMK Negeri 4 Surakarta. Penelitan lainnya yang dilakukan oleh Jenab (2013) menyatakan bahwa konsep diri memiliki kontribusi
12
yang memantapkan perencanaan karier siswa kelas XII SMA Negeri 1 Palimanan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka diajukan hipoteisis:
H1: Konsep diri berpengaruh terhadap perencanaan karier.
Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Perencanaan Karier
Keluarga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari seseorang, sehingga keluarga sangat berpengaruh dalam seseorang menjalani kehidupan dan kariernya. Pendapat ini sesuai dengan Sharma (2004) yang mengatakan keputusan karier dari seorang anak dapat dipengaruhi oleh seorang Ibu, sehingga ini menunjukkan dukungan orang tua sangat dibutuhkan bagi seseorang dalam berkarier. Penelitan Fatmasari dan Partini (2016) menyatakan ada pengaruh yang signifikan antara dukungan orang tua terhadap kematangan karier. Penelitian lainnya menyatakan semakin tinggi dukungan orang tua, maka perencanaan karier pun semakin tinggi (Novitasari, 2015). Berdasarkan uruaian tersebut dapat diajukan hipotesis sebagai berikut :
H2 : Dukungan keluarga berpengaruh terhadap perencanaan karier.
Gambar 1. Model Penelitian Konsep diri
Dukungan Keluarga
Perencanaan Karier H1
H2 X1
X2
Y
13 METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Sugiyono (2012) menyatakan penelitian kuantitatif, adalah penelitian dengan memperoleh data yang berbentuk angka. Kemudian penelitian ini menggunakan statistik deskriptif untuk menganalisis data yang diperoleh agar dapat menggolongkan apakah dikretiakan skor tertinggi atau skor terendah.
Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini sebanyak 240 orang yang memiliki keriteria merupakan guru pegawai negeri sipil SMK Negeri di Salatiga dan memiliki tingkat golongan di bawah IV/E. Populasi terdiri dari tiga sekolah yaitu SMK Negeri 1 Salatiga berjumlah 80 guru, SMK Negeri 2 Salatiga 100 guru, dan SMK Negeri 3 Salatiga 60 guru Sampel dalam penelitian ini sebanyak 150 orang yang diperoleh dari hasil perhitungan menggunakan rumus Slovin sebagai berikut.
Keterangan:
n : Jumlah sampel N : Jumlah populasi e : Error level
Dari hasil perhitungan menggunkan rumus Slovin maka didapatkan jumlah sampel yang akan diteliti sebagai berikut.
n= 240/(1 + 240 x 0,052) = 150
Jadi, jumlah sampel yang akan digunakan pada penelitian ini adalah 150 orang.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik stratifed random sampling. Teknik stratified random sampling adalah teknik sampel yang membagi populasi ke dalam kelompok-kelompok yang homogen yang disebut strata (Arikunto, 2006). Dalam penelitian ini populasi dibagi menjadi tiga strata yaitu SMK Negeri 1 Salatiga, SMK Negeri 2 Salatiga, SMK Negeri 3
14
Salatiga. Cara mengambil jumlah sampel dalam teknik ini secara acak dari tiap strata.
Tabel 1 Jumlah Sampel
Strata Jumlah Anggota Banyaknya Sampel
SMK Negeri 1 Salatiga 80 150/240x80 = 50
SMK Negeri 2 Salatiga 100 150/240x100 = 63
SMK Negeri 3 Salatiga 60 150/240x60 = 37
Jumlah 150
Teknik Mengumpulkan Data
Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah memberikan kuesioner kepada responden yang telah ditentukan sehingga menghasilkan data primer. Kuesioner dalam penelitian ini akan memuat pernyataan yang diukur dengan menggunakan skala Likert lima poin, yaitu Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Netral (N), Setuju (S), Sangat Setuju (SS).
Variabel konsep diri didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk menilai dirinya sendiri dalam memahami kelebihan dan kekurangan dimilikinya yang mencangkup seluruh aspek kepribadiannya. Pada penelitian ini variabel konsep diri akan diukur meggunakan aspek pemahaman, aspek peniliain, dan aspek pengharapan (Calhoun dan Acocella, 1990). Sedangkan variabel dukungan keluarga merupakan suatu proses keluarga memberikan dukungan kepada setiap anggotanya dalam bentuk tindakan, sikap, dan penerimaan . Variabel dukungan keluarga akan diukur menggunakan dukungan informasional, penghargaan, instrumental dan emosional (Friedman, 1998). Pada penelitian ini alat ukur berdasarkan Mathis dan Jackson (2009) yaitu penilaian diri sendiri, umpan balik atas realitas dan menentukan tujuan karier akan digunakan untuk mengukur variabel perencanaan karier.
Data yang telah diperoleh dari pengisian kuisioner tersebut kemudian digunakan untuk menguji hipotesis variabel-variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas (konsep diri dan dukungan keluarga) dan variabel terikat (perencanaan karier). (Tabel Variabel Operasional pada Lampiran 1)
15 Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini digunakan uji validitas dan realibilitas. Validitas adalah tingkat pengukuran terkait dengan sebuah alat test dalam mengukur secara benar apa yang ingin diukur oleh peneliti (Cooper dan Schindler 2006). Uji validitas dilakukan dengan cara mengkorelasikan antara skor masing-masing butir pernyataan dengan skor total yang diperoleh dari penjumlahan semua skor pernyataan. Jika korelasi tersebut signifikan, maka alat ukur yang digunakan mempunyai validitas. Kemudian uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui jawaban yang diberikan responden dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Ghozali 2013).
Setelah itu, untuk memperoleh hasil analisis data yang memenuhi syarat pengujian, maka penilitian ini menggunakan pengujian asumsi klasik. Untuk mendapatkan hasil terbaik maka uji asumsi klasik harus dilakukan (Ghozali, 2013). Tujuan dari uji asumsi klasik dimaksudkan agar variabel bebas sebagai estimator atas variabel terikat tidak bias. Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, uji linearitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi. Untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal maka digunakan uji normalitas. Uji linearitas digunakan untuk mengetahui adanya hubungan yang linear antara variabel bebas dan variabel terikat. Uji Multikolinearitas dipakai untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Nilai korelasi antar variabel bebas sama dengan nol menunjukkan bahwa model regersi baik (Ghozali, 2009). Uji Heteroskedastisitas untuk mengetahui apakah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainya. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas (Ghozali, 2009).
Setelah melakukan uji asumsi klasik selanjutnya dilakukan uji hipotesis menggunakan uji regresi linear sederhana. Menurut Hasan (2006), regresi adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur ada tidaknya korelasi antar variabel.
Analisis regresi dapat meramal atau memperkirakan nilai variabel bebas lebih akurat. Regresi linear adalah regresi yang variabel bebasnya (variabel x) berpangkat paling tinggi satu. Regresi linear sederhana, yaitu regresi linear yang
16
hanya melibatkan dua variabel (variabel x dan y). Persamaan regresi linear dari X terhadap Y dirumuskan sebagai berikut :
Y = a + Bx dimana:
Y = Variabel terikat X = Variabel bebas a = Intersep
b = Koefisien regresi/slop
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Dalam penelitian ini terdapat 150 responden yang bekerja sebagai Guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga. Karaketeristik responden dalam penelitian ini dijabarkan menjadi tiga yaitu jenis kelamin, usia, dan lama bekerja.
Tabel 2
Karakteristik Responden
Karateristik Responden Keterangan
Jumlah Persentase
Jenis Kelamin
Pria 74 49,3%
Wanita 76 50,7%
Jumlah 150 100%
Usia
20 - 30 Tahun 13 8,7%
31 - 40 Tahun 48 32%
> 40 Tahun 89 59,3%
Jumlah 150 100%
Lama Bekerja
1 – 10 Tahun 60 40%
11 – 20 Tahun 66 44%
> 20 Tahun 24 16%
Jumlah 150 100%
Sumber : Data Olahan Kuesioner, 2018
17
Berdasarkan tabel 2 di atas dapat disimpulkan bahwa dari 150 responden Guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga, responden terbanyak berdasarkan jenis kelamin adalah wanita dengan persentase 50,7% disbanding dengan . Untuk usia responden didominasi dengan usia lebih dari 40 tahun dengan persentase sebesar 59,3% dan di bawahnya ada usia antara 31 – 40 tahun dengan persentase sebesar 32%. Sedangkan berdasarkan lama bekerja didominasi dengan guru yang telah bekerja antara 11 – 20 tahun dengan persentase sebesar 44% di SMK Negeri di Salatiga.
Statistik Deskriptif Konsep Diri, Dukungan Keluarga dan Perencanaan Karier
Dari hasil skala Likert dapat dilihat skor variabel rata – rata untuk menggolongkan jawaban responden apakah dikriteriakan skor tertinggi atau skor terendah dengan rumus :
Interval : Nilai Max – Nilai Min = 5 -1 = 0,8 Jumlah kelas 5
Dari rumus diatas dapat diperoleh tingkat kategori variabel sebagai berikut : Tabel 3
Tingkat Kategori Variabel
Range Keterangan
4,20 - 5,00 Sangat Tinggi 3,40 - 4,19 Tinggi
2,60 - 3,39 Sedang 1,80 - 2,59 Rendah
1,00 - 1.79 Sangat Rendah Sumber: Olahan Excel, 2018
Konsep diri merupakan kemampuan individu untuk menilai dirinya sendiri dalam memahami kelebihan dan kekurangan dimilikinya yang mencangkup seluruh aspek kepribadiannya. Konsep diri yang dimiliki setiap individu berbeda- beda karena setiap orang memiliki presepsi sendiri mengenai dirinya. Dari hasil
18
kuesioner, rata – rata jawaban dari 11 indikator pernyataan variabel konsep diri sebagai berikut:
Tabel 4
Nilai Rata – rata Konsep Diri Konsep Diri
No Pertanyaan Mean Kategori
1 Saya mengetahui keahlian yang saya miliki 4,43 Sangat Tinggi 2 Saya tahu bahwa saya memiliki kelebihan dalam
diri saya 4,25 Sangat Tinggi
3 Saya tahu bahwa saya memiliki kelemahan dalam
diri saya 4,39 Sangat Tinggi
4
Saya sadar bahwa saya punya kewajiban untuk
mengembangkan yang saya kerjakan 4,39 Sangat Tinggi 5 Saya memiliki tujuan yang ingin saya capai 4,41 Sangat Tinggi 6 Saya akan berusaha dengan keras untuk mencapai
tujuan yang saya miliki 4,36 Sangat Tinggi
7 Saya memiliki cita-cita yang belum tercapai 4,20 Sangat Tinggi 8 Saya terus berusaha untuk menggapai cita-cita yang
saya impikan 4,26 Sangat Tinggi
9 Saya adalah pribadi yang istimewa 4,00 Tinggi
10 Saya percaya diri dengan apa yang ada pada diri
saya 4,16 Tinggi
11 Saya menyukai apa yang saya kerjakan 4,27 Sangat Tinggi
Rata-Rata Konsep Diri 4,28 Sangat Tinggi
Sumber: Data Olahan Excel, 2018
Dilihat dari tabel 4 pernyataan yang memiliki nilai rata – rata tertinggi dalah “ Saya mengetahui keahlian yang saya miliki ” dengan nilai rata – rata sebesar 4,43 dari 150 responden. Hal ini menunjukkan bahwa guru Pegawai Negeri Sipil sadar tentang keahlian yang mereka miliki, sehingga dalam melakukan perencanaan karier akan lebih maksimal karena mereka akan menyesuaikannya dengan keahlian yang mereka miliki. Nilai rata – rata dari variabel konsep diri sendiri termasuk kategori sangat tinggi dengan nilai sebesar 4,28 dan terdapat 9 pernyataan yang masuk dalam kategori sangat tinggi. Jadi dapat disimpulkan bahwa konsep diri menjadi bagian terpenting bagi guru Pegawai Negeri Sipil.
19
Dukungan keluarga diartikan sebagai salah satu bentuk dukungan sosial informal yang diberikan keluarga kepada setiap anggotanya yang memberikan dampak pada pengembangan seseorang mencangkup penilaian, pola perilaku, dan kognitif sosial (Dolan dan Canavan, 2006). Dari hasil kuesioner, rata – rata jawaban dari 12 indikator pernyataan variabel dukungan keluarga sebagai berikut:
Tabel 5
Nilai Rata – rata Dukungan Keluarga Dukungan Keluarga
No Pertanyaan Mean Kategori
1 Keluarga memberikan penilaian terhadap kelebihan
dan kekurangan saya 4,03 Tinggi
2
Keluarga memberikan informasi mengenai
pekerjaan yang saya tekuni (membelikan buku yang terkait dengan pekerjaan saya)
3,88 Tinggi
3 Keluarga memberikan saran jika ada peluang-
peluang yang dapat menunjang pekerjaan saya 4,05 Tinggi 4 Saya selalu meluangkan waktu bagi keluarga saya 4,39 Sangat Tinggi 5
Saya sering bertukar pikiran dengan keluarga mengenai pekerjaan dan pengembangan pekerjaan saya
4,24 Sangat Tinggi
6 Keluarga percaya dengan apa yang saya lakukan 4,31 Sangat Tinggi 7 Keluarga menghargai setiap keputusan yang saya
ambil 4,27 Sangat Tinggi
8 Keluarga memberikan dukungan moril kepada saya 4,37 Sangat Tinggi 9 Keluarga saya memiliki tabungan 4,20 Sangat Tinggi 10 Keluarga selalu memberikan perhatian kepada saya 4,35 Sangat Tinggi 11 Keluarga menjadi tempat yang nyaman bagi
pemulihan emosi saya 4,32 Sangat Tinggi
12 Saya adalah orang yang dipercaya oleh keluarga
saya 4,34 Sangat Tinggi
Rata-Rata Dukungan Keluarga 4,23 Sangat Tinggi Sumber: Data olahan Excel, 2018
Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa nilai rata – rata dari variabel dukungan keluarga masuk dalam kategori sangat tinggi sebesar 4,23 dari 150 responden. Dari 12 pernyataan terdapat 9 pernyataan yang masuk kategori sangat tinggi dan pernyataan yang memiliki nilai rata – rata tertinggi adalah “Saya meluangkan waktu bagi keluarga saya” dengan nilai sebersar 4,39. Ini menunjukkan bahwa guru Pegawai Negeri Sipil tahu bahwa dalam kariernya
20
keluarga memiliki peran, sehingga mereka ingin menjalin hubungan yang lebih baik dengan keluarga mereka.
Perencanaan karier merupakan suatu proses individu memilih tujuan karier yang sesuai dengan gambaran dirinya dan melihat peluang yang berkaitan dengan karier yang dituju. Dari hasil kuesioner, rata – rata jawaban dari 12 indikator pernyataan variabel perencanaan karier sebagai berikut:
Tabel 6
Nilai Rata – rata Perencanaan Karier Perencanaan Karier
No Pertanyaan Mean Kategori
1 Saya tahu bahwa saya memiliki potensi yang besar
dalam diri saya 4,18 Tinggi
2 Saya dapat mewujudkan potensi dalam diri saya 4,15 Tinggi 3
Potensi yang saya miliki sangat mendukung dalam
pekerjaan saya 4,15 Tinggi
4
Pekerjaan yang sedang saya lakukan adalah hal
yang menarik bagi saya 4,27 Sangat Tinggi
5
Orang lain mendapatkan insipirasi dari apa yang
saya lakukan 4,11 Tinggi
6
Saya merasa nyaman dengan apa yang saya sedang
kerjakan 4,24 Sangat Tinggi
7
Saya mendapat penghargaan dari teman-teman
kerja saya 4,07 Tinggi
8
Saya dapat mengkases informasi mengenai
pekerjaan dengan mudah 4,13 Tinggi
9
Saya tahu bagian-bagian secara detail mengenai
pekerjaan yang saya lakukan 4,20 Sangat Tinggi
10
Saya menguasai dengan baik bagian-bagian secara
detail pekerjaan yang saya lakukan 4,15 Tinggi
11
Saya tahu apa yang sedang saya kerjakan merupakan proses untuk meraih tujuan dan target dalam pekerjaan saya
4,19 Tinggi
12 Saya paham langkah-langkah yang harus saya lalui 4,14 Tinggi
21
Perencanaan Karier
No Pertanyaan Mean Kategori
untuk meraih tujuan dan target dalam pekerjaan saya
Rata-Rata Perencanaan Karier 4,16 Tinggi
Sumber: Data olahan Excel, 2018 ` Dari tabel 6 dapat dilihat nilai rata – rata variabel perencanaan karier sebesar 4,16 dan termasuk kategori tinggi. Dilihat dari 12 pernyataan yang ada terdapat 3 pernytaan yang masuk dalam kategori sangat tinggi yaitu “Pekerjaan yang sedang saya lakukan adalah hal yang menarik bagi saya”, “Saya meresa nyaman dengan apa yang sedang saya kerjakan” dan “Saya tahu bagian – bagian secara detail mengenai pekerjaan yang saya lakukan”.
Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan metode korelasi pearson, yaitu dengan cara mengorelasikan skor item dengan skor total. Kemudian pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel dengan tingkat signifikansi 5% dan N sebesar 150. Untuk menentukan batas bawah pada r tabel didapatkan rumus df= N-2. Item dinyatakan valid jika nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel dengan nilai r tabel sebesar 0,1603. Untuk uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan Cronbach’s Alpha dimana suatu variabel dikatakan reliabel jika memiliki nilai Cronbach’s Alpha lebih dari 0,6 (Priyatno, 2014). Dapat disimpulkan dari hasil pengolahan data peneliti lolos dalam uji validitas dan uji reliabilitas.
Tabel 7
Hasil Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
No Variabel Indikator Validitas Reliabilitas Keterangan
1. Konsep Diri
KD1 0,487
0,620
Valid
KD2 0,566 Valid
KD3 0,514 Valid
KD4 0,527 Valid
KD5 0,459 Valid
22
KD6 0,402 Valid
KD7 0,328 Valid
KD8 0,395 Valid
KD9 0,450 Valid
KD10 0,376 Valid
KD11 0,563 Valid
No Variabel Indikator Validitas Reliabilitas Keterangan
2. Dukungan Keluarga
DK1 0,509
0,818
Valid
DK2 0,392 Valid
DK3 0,526 Valid
DK4 0,609 Valid
DK5 0,530 Valid
DK6 0,627 Valid
DK7 0,675 Valid
DK8 0,656 Valid
DK9 0,642 Valid
DK10 0,714 Valid
DK11 0,593 Valid
DK12 0,621 Valid
No Variabel Indikator Validitas Reliabilitas Keterangan
3. Perencanaan Karier
PrK1 0,453
0,796
Valid
PrK2 0,328 Valid
PrK3 0,596 Valid
PrK4 0,667 Valid
PrK5 0,607 Valid
PrK6 0,582 Valid
PrK7 0,514 Valid
PrK8 0,472 Valid
PrK9 0,581 Valid
PrK10 0,576 Valid
PrK11 0,648 Valid
23
PrK12 0,662 Valid
Sumber: Data olahan SPSS, 2018 Uji Asumsi Klasik
Pada penelitian ini uji asumsi klasik yang pertama dilakukan adalah uji normalitas. Uji normalitas berfungsi untuk menguji variabel residual dalam regresi berdistribusi normal. Uji normalitas penelitian ini menggunakan metode One Sample Kolmogorof-Smirnov. Variabel residual diakatakan berdistribusi normal jikan nilai signifikansi > 0,05. Hasil dari data olahan penelitian ini memiliki nilai signifikansi sebesar 0,255 > 0,05, jadi dapat disimpulkan bahwa data peneliti berdistribusi normal. (Lampiran 4)
Uji asumsi klasik kedua adalah uji linearitas. Uji linearitas berfungsi untuk mengetahui adanya atau tidak hubungan linear antar variabel. Pada penelitian ini uji linearitas menggunakan Test for Linearity dengan tingkat signifikansi 0,05.
Antar variabel dikatakan memiliki hubungan linear jika memiliki nilai signifikansi
< 0,05 (Priyatno, 2014). Pada hasil olahan data penelitian ini diperoleh nilai signifikansi variabel konsep diri (X1) dan perencanaan karier (Y) sebesar 0,000 <
0,05 dan nilai signifikansi variabel dukungan keluarga (X2) dan perencanaan karier (Y) sebesar 0,000 < 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel konsep diri, dukungan keluarga, dan perencanaan karier memiliki hubungan linear.
(Lampiran 4)
Uji asumsi klasik ketiga adalah uji heteroskedastisitas yang berfungsi untuk mengetahui apakah terjadi variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Untuk uji heteroskedastisitas menggunakan metode korelasi Spearman’s rho. Dinyatakan tidak terjadi masalah heteroskedastisitas jika nilai signifikansi antara variabel independen dengan residual lebih dari 0,05. Hasil dari metode korelasi Spearman’s rho diperoleh nilai signifikansi dari variabel konsep diri sebesar 0,387 > 0,05 dan nilai signifikansi dari variabel dukungan keluarga sebesar 0,864 > 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas dalam model regresi peneliti. (Lampiran 4)
Uji asumsi klasik keempat adalah uji multikolinearitas yang berfungsi untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas. Model regresi yang baik jika nilai korelasi antar variabel bebas sama
24
dengan nol (Ghozali, 2009). Uji multikolineritas pada penelitian ini dengan melihat nilai Torelance dan Inflation factor (VIF), jika nilai Torelance > 0,1 dan nilai VIF < 10 maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolineritas. Setelah memalakukan uji multikolineritas didapatkan hasil nilai Torelance dari variabel konsep diri dan dukungan keluarga sebesar 0,651 > 0,1 dan nilai VIF sebesar 1,536 < 10. Disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolineritas pada kedua variabel bebas tersebut. (Lampiran 4)
Uji Hipotesis
Pengaruh Konsep Diri Terhadap Perencanaan Karier
Uji analisis regresi linear sederhana digunakan dalam penelitian ini.
Fungsi dilakukannya uji analisis regresi linear sederhana adalah untuk melihat pengaruh konsep diri terhadap perencanaan karier yang merupakan hipotesis pertama dalam penelitian. Analisis regresi linear sederhana ini menggunakan alat bantu yaitu progam SPSS V.20.
Tabel 8
Koefisien Regresi Linear Sederhana Konsep Diri.
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) 1.434 .322 4.456 .000
KonsepDiri .637 .075 .573 8.495 .000
a. Dependent Variable: PerencanaanKarier
Sumber: Data olahan SPSS, 2018
Berdasarkan dari tabel 8 diperoleh regresi linear sederhana antara konsep diri (X1) dan perencanaan karier (Y) sebagai berikut.
Y = 1,434 + 0,637 X
Dari persamaan linear sederhana di atas dapat diperoleh bahwa variabel konsep diri memiliki koefisien positif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsep
25
diri memiliki pengaruh positif terhadap perencanaan karier. Jadi jika guru Pegawai Negeri Sipil memiliki konsep diri yang tinggi maka semakin tinggi juga perencanaan kariernya. Variabel tersebut memiliki pengaruh jika nilai signifikansi dari variabel tersebut lebih kecil dari 0,05. Dapat dilihat dari nilai signifikansi variabel konsep diri yang menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti variabel konsep diri memiliki pengaruh terhadap perencanaan karier.
Tabel 9
Koefisien Regresi Konsep Diri
Model Summary
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 .573a .328 .323 .23076
a. Predictors: (Constant), KonsepDiri
Sumber: Data olahan SPSS, 2018
Jika dilihat dari tabel 9, nilai koefisien determinasi yang diperoleh sebesar 0,328. Hal ini menunjukan bahwa persentase dari kontribusi variabel konsep diri terhadap perencanaan karier sebesar 32,8%, untuk sisanya dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.
Pengaruh Dukungan Keluarga Terhadap Perencanaan Karier
Uji analisis regresi linear sederhana digunakan dalam penelitian ini.
Fungsi dilakukannya uji analisis regresi linear sederhana adalah untuk melihat pengaruh konsep diri terhadap perencanaan karier yang merupakan hipotesis pertama dalam penelitian. Analisis regresi linear sederhana ini menggunakan alat bantu yaitu progam SPSS V.20.
26 Tabel 10
Koefisien Regresi Linear Sederhana Dukungan Keluarga
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients
T Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) 1.967 .233 8.447 .000
DukunganKeluarga .520 .055 .614 9.468 .000
a. Dependent Variable: PerencanaanKarier
Sumber: Data olahan SPSS, 2018
Berdasarkan dari tabel 10 diperoleh regresi linear sederhana antara konsep diri (X2) dan perencanaan karier (Y) sebagai berikut.
Y = 1,967 + 0,520 X
Dari persamaan linear sederhana di atas dapat diperoleh bahwa variabel dukungan keluarga memiliki koefisien positif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dukungan keluarga memiliki pengaruh positif terhadap perencanaan karier. Jadi jika guru Pegawai Negeri Sipil memiliki dukungan keluarga yang tinggi maka semakin tinggi juga perencanaan kariernya. Variabel tersebut memiliki pengaruh jika nilai signifikansi dari variabel tersebut lebih kecil dari 0,05. Dapat dilihat dari nilai signifikansi variabel dukungan keluarga yang menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti variabel dukungan keluarga memiliki pengaruh terhadap perencanaan karier.
Tabel 11
Koefisien Regresi Dukungan Keluarga
Model Summary
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 .614a .377 .373 .22211
a. Predictors: (Constant), DukunganKeluarga
Sumber: Data olahan, 2018
27
Jika dilihat dari tabel 11, nilai koefisien determinasi yang diperoleh sebesar 0,377. Hal ini menunjukan bahwa persentase dari kontribusi variabel dukungan keluarga terhadap perencanaan karier sebesar 37,7%, untuk sisanya dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.
Pembahasan
Berdasarkan hasil olahan data yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa konsep diri yang dimiliki oleh guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga masuk dalam kategori sangat tinggi. Konsep diri menjadi bagian penting bagi seorang individu tidak terlepas juga bagi seorang guru dalam berkarier. Individu yang mengetahui mengenai konsep dirinya berarti juga dapat mengetahui tentang keahlian yang individu tersebut miliki, sehingga ketika mereka menentukan suatu pilihan khususnya mengenai kariernya maka individu tersebut akan memilih karier yang sesuai dengan keahlihannya. Didukung dengan hasil kuesiononer yang menunjukkan bahwa pernyataan “Saya mengetahui keahlian yang saya miliki”
memiliki nilai rata – rata tertinggi dari 11 pernyataan yang terdapat pada variabel konsep diri yang menunjukkan bahwa guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga sadar akan keahlian yang mereka miliki. Hal ini berdampak baik bagi perencanaan karier mereka karena karier yang mereka pilih adalah karier yang memang mereka inginkan, sehingga mereka akan bertanggung jawab dalam menjalaninya demi kesuksesan dalam kariernya. Perencanaan karier yang baik dapat diperoleh ketika individu memiliki kemampuan pengelolaan potensi (Winkel dan Hastuti, 2007).
Hasil dari analisis penelitian ini juga melalui uji regresi linear sederhana menunjukkan bahwa variabel konsep diri memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000
< 0,05 yang berarti konsep diri memiliki pengaruh terdahap perencanaan karier.
Kemudian jika dilihat dari nilai koefisiennya, variabel konsep diri memiliki koefisien positif yang berarti ketika individu memiliki konsep diri yang baik maka perencnaan kariernya pun baik. Variabel konsep diri memiliki pengaruh sebesar 32,8% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel – variabel lain. Penelitian ini mendukung penelitian terdahulu oleh Afriwinanda (2012) dan Jenab (2013) yang
28
menyatakan adanya hubungan positif antara konsep diri dengan perencanaan karier dan konsep diri memiliki konstribusi dalam perencanaan karier, sehingga ini menujukkan hipotesa pertama yang diajukan dapat diterima.
Kontribusi konsep diri terhadap perencanaan karier dapat dilihat melalui kemampuan individu dalam memahami kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, harapan individu untuk mencapai suatu tujuan dan impian yang ingin dicapainya dan kepercayan diri individu dalam membuat suatu keputusan. Hal ini sejalan dengan Calhoun dan Acocella (1990) yang menyatakan individu yang memiliki konsep diri positif adalah individu yang paham betul dengan dirinya dan menerima berbagai macam fakta tentang dirinya, serta akan merancang tujuan yang sesuai dengan realitias berdasarkan kemungkinan – kemungkinan yang dapat dicapai. Sedangkan individu yang memiliki konsep diri negatif adalah individu yang tidak paham tentang dirinya, sehingga akan muncul keraguan dan kurangnya percaya diri.
Berdasarkan hasil penelitian ini untuk membuktikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan keluarga dengan perencanaan karier pada guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga, analisis menujukkan bahwa adanya hipotesa kedua yang diajukan diterima. Melalui uji regresi linear sederhana didapatkan bahwa dukungan keluarga memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti adanya pengaruh antara dukungan keluarga terhadap perencanaan karier pada guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga. Hal ini mendukung penelitian Novitasari (2015) yang menyatakan semakin tinggi dukungan orang tua, maka perencanaan karier pun semakin tinggi.
Variabel dukungan keluarga memiliki pengaruh sebesar 37,7% terhadap perencanaan karier, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel – variabel lain.
Berdasarkan hasil olahan data kuesioner variabel dukungan keluarga pada guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga dapat dikategorikan sangat tinggi dengan nilai rata – rata sebesar 4,23. Dapat dilihat bahwa peran keluarga pada guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga dalam kariernya sangat tinggi. Pendapat ini didukung dengan hasil nilai rata – rata dari setiap pernyataan yang mewakili dari item – item dukungan keluarga yang dikategorikan 9 pernyataan sangat tinggi dan 3 pernyataan dikategorikan tinggi. Pernyataan –
29
pernyataan tersebut membuktikan bahwa dukungan keluarga seperti berbagi informasi mengenai pekerjaan, saling bertukar pikiran, memberikan sebuah kepercayaan, memberikan perhatian dan dukungan financial sangat penting bagi guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga dalam melakukan perencanaan karier. Adanya hubungan yang positif dengan keluarga akan membuat individu lebih berusaha untuk mencapai tujuan yang ingin diwujudkannya, sehingga akan berdampak baik pada perencanaan kariernya. Hal ini sejalan dengan Winkel dan Hastuti (2004) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perencanaan karier seorang individu adalah pengaruh dari keluarga besar atau inti.
Pada variabel perencanaan karier jika dilihat dari nilai rata - rata, maka dapat dikatakan bahwa guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga memiliki perencanaan karier yang baik. Hal ini dapat ditunjukkan dengan nilai rata – rata sebesar 4,16. Dari 12 pernyataan yang tersedia, 3 pernyataan dikategorikan memiliki nilai rata – rata sangat tinggi dan 9 pernyataan dikategorikan tinggi. Pernyataan yang masuk dalam kategori sangat tinggi adalah
“ Pekerjaan yang sedang saya lakukan adalah hal yang menarik bagi saya”,
“Saya merasa nyaman dengan apa yang saya sedang kerjakan” dan “Saya tahu bagian – bagian secara detail mengenai pekerjaan yang saya lakukan”. Hal ini menunjukkan bahwa ketika individu merasa nyaman dan beranggapan suatu hal menarik baginya khususnya dalam berkarier maka individu tersebut akan melakukan segala upaya secara maksimal dalam kariernya termasuk perencanaan karier. Untuk melakukan upaya tersebut individu akan mencari informasi mengenai bagian – bagian dalam kariernya secara detail dalam menunjang kemajuan kariernya. Hal ini sejalan dengan pendapat Rimper dan Kawet (2014) bahwa merencanakan karier secara baik akan menentukan individu dalam meraih tujuan karier yang sesuai dengan harapan dan memberikan kontribusi dalam kesuksesan kariernya.
30 PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan konsep diri berpengaruh terhadap perencanaan karier pada guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga. Hal ini dibuktikan dari nilai signifikansi yang dimiliki sebesar 0,000 kurang dari 0,05 ( 0,000 < 0,05). Variabel konsep diri memiliki kontribusi sebesar 32,8% terhadap perencanaan karier. Kemudian dukungan keluarga berpengaruh terhadap perencanaan karier pada guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari 0,05 (0,000 < 0,05). Variabel dukungan orang tua memiliki kontribusi sebesar 37,7% terhadap perencanaan karier. Perencanaan karier yang dimiliki guru Pegawai Negeri Sipil SMK Negeri di Salatiga dapat dikategorikan baik. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata – rata yang diperoleh dari hasil kuesioner sebesar 4,16 yang dikategorikan tinggi.
Implikasi
Dari hasil penelitian ini, didapatkan beberapa hal yang dapat menjadi implikasi terapan dan implikasi teoritis.
Implikasi Terapan
Melihat hasil pada penelitian ini, maka implikasi terapan yang diperoleh adalah dalam berkarier seorang individu harus paham mengenai dirinya berupa kelebihan dan kelemahan yang dimilikinya agar individu itu akan maksimal dalam pencapaian kariernya. Mengingat pemahaman mengenai diri sendiri sangat penting maka kemampuan tersebut harus dilatih sejak dini agar nantinya individu dalam memilih karier tidak mengalami kebingungan dan tidak mengalami kesalahan dalam pilihannya, sehingga akan berdampak baik bagi perencaan kariernya. Kemudian dalam individu berkarier peran keluarga juga sangat penting, sehingga keluarga dapat memberikan dukungan yang positif seperti contohnya motivasi, perhatian, dan informasi kepada individu.
31 Implikasi Teoritis
Pada penelitian ini konsep diri memiliki pengaruh signifikan terhadap perencanaan karier yang menunjukkan hipotesis pertama diterima. Hal ini mendukung peneliti sebelumnya Afriwinanda (2012) yang menyatakan adanya hubungan positif yang signifikan antara konsep diri dengan perencanaan karier dan peneliti lainnya Jenab (2013) yang menyatakan konsep diri memiliki kontribusi dalam perencanaan karier. Jika seorang individu memiliki konsep diri yang baik maka perencanaan karier yang dimilikinya pun baik. Pada hipotesis kedua dalam penelitian ini juga diterima, hal ini dibuktikan berdasarkan hasil uji linear sederhana bahwa adanya pengaruh dukungan keluarga terhadap perencanaan karier. Hasil ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Novitasari (2015) yang menyatakan semakin tinggi dukungan orang tua, maka perencanaan karier pun semakin tinggi.
Keterbatasan Penelitian dan Saran Penelitian Yang Akan Datang
Keterbatasan penelitian ini adalah masih banyak variabel – variabel lain yang menjadi faktor dari perencanaan karier seorang individu. Faktor – faktor tersebut dibagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi nilai – nilai kehidupan, taraf intelegensi, sifat – sifat, pengetahuan dan keadaan jasmani. Sedangkan faktor eksternal meliputi masyarakat, keadaan sosial ekonomi, teman sebaya dan tuntutan yang melekat pada setiap jabatan (Winkel dan Hastuti, 2004). Penelitian ini juga belum bisa secara spesifik menjelaskan variabel – variabel apa saja yang mempengaruhi perencanaan karier seorang individu di dalam suatu organisasi. Maka disarankan untuk peneliti selanjutnya untuk menambahkan variabel – variabel yang belum peneliti gunakan agar dapat menjadi pendukung dari penelitian sebelumnya dan menjadi bahan refrensi bagi peneliti selanjutnya. Kemudian untuk mendapatkan hasil yang lebih spesifik mengenai variabel – variabel yang dapat mempengaruhi perencanaan karier individu di dalam suatu organisasi maka disarankan untuk peneliti selanjutnya menggunakan jenis penelitian kualitatif.
32 DAFTAR PUSTAKA
Adiputra, S. (2015). Penggunaan Teknik Modeling Terhadap Perencanaan Karir
Siswa. Jurnal Fokus Konseling, 1(1).
Afriwinanda, E. (2012). Hubungan Antara Konsep Diri dengan Perencanaan Karir Pada Siswa Siswi Kelas XII SMK Negeri 4 Surakarta (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta). Diambil dari:
eprints.ums.ac.id (Diakses pada tanggal 21 November 2017).
Ardiyanti, N. (2017). Peran Penting Konsep Diri dalam Membentuk Track Record. Jakarta: Salemba Humanika.
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Ed Revisi VI.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Calhoun, J. F., & Acocella, J. R. (1990). Psychology of Adjustment and Human Relationship. New York : McGraw-Hill Publishing Company.
Chaplin J. P. (2001). Kamus Lengkap Psikologi (Penerjemah Kartini Kartono).
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Conger, J.J. (1991). Adolesence and Youth: Psychologycal Development in a Changing World. 4th edition. New York: Harper Collins.
Cooper, D. R dan Schindler, P. S. (2006). Bussines Research Methods I. 9th edition. McGraw-Hill International Edition.
Dolan, P. & Canavan, J. (2006). Family support as reflective practice. London:
Jessica Kingsley Publishers.
Effendy, N. (1998). Dasar-dasar kesehatan masyarakat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Fatmasari, D dan Partini. (2016). Hubungan Antara Konsep Diri Dan Dukungan Orang Tua Dengan Kematangan Karier Pada Siswa SMA. Surakarta.
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diambil dari: eprints.ums.ac.id (Diakses pada tanggal 20 November 2017).
Friedman, M. (1998). Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik. Jakarta : EGC.
33
Friedman, M. (2010). Buku Ajar Keperawatan keluarga : Riset, Teori,dan Praktek.Edisi ke-5. Jakarta: EGC.
Ghozali, Imam. (2009). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS.Semarang : UNDIP.
Ghozali, Imam. (2013). Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program IBM SPSS 21. Edisi 7. Penerbit: Universitas Diponegoro. Semarang.
Hasan, B. (2006). Career Maturity of Indians Adolescents as A Function of Self Concept, Vocational Aspiration and Gender. Journal of the Indian Academy of Applied Psychology (No. 2 Vol. 32 February 2006). p. 127- 134.
Hasan, Iqbal. (2006). Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hilgard, E. R., Atkinson, R. C., & Atkinson, R. L.(1975). Introduction to Psychology. Sixth Edition. USA: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
Hussain, S., & R. Rafique. (2013). Role of Parental Expecctation and Career Salience I Career Decision Making. Journal of Behavioural Sciences.
(Vol. 23, No. 2).
Jenab. (2013). Konsep Diri Dalam Percanaan Karier Siswa Kelas XII SMANegeri 1 Palimanan Kabupaten Cirebon. TESIS. Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati. Cirebon. Diambil dari: opac.syekhnurjati.ac.id (Diakses pada tanggal 20 Mei 2018).
Laksana, M.W. (2015). Psikologi Komunikasi. Bandung: CV Pustaka Setia.
Martoyo, S. (2000). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: BPFE- Yogyakarta.
Marwansyah. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Alfabeta.
Mathis, R.L., & J.H. Jackson. (2009). Manajemen Sumber Daya Manusia.
Jakarta:Salemba Empat.
Mondy, R. W. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Erlangga.
34
Novitasari, A. D. (2015). Hubungan Antara Persepsi Dukungan Orang Tua
Dengan Perencanaan Karier Pada Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Kalasan. Jurnal Riset Mahasiswa Bimbingan Dan Konseling.
Perry & Potter. (2005). Fundamental of nursing : concepts, process and practice.
St. Lois Missiouri : Mosby Company.
Pratama, B. D. & Suharnan. (2014). Hubungan antara Konsep Diri dan Internal Locus of Control dengan Kematangan Karier Siswa SMA. Persona, Jurnal
Psikologi Indonesia. 3 (3): 214.
Priyatno, D. (2014). SPSS22 : Pengolahan Data Terpraktis. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Raditya, Utama. (2011). Bali Aneka Prespektif: Remaja Bali Budaya dan Masa Depan. Denpasar.
Rimper, R. R., & Kawet, L. (2014). Pengaruh Perencanaan Karir Dan Self Efficacy Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. PLN (Persero) Area Manado. Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi, 2(4).
Robert, A., & Greene, G. (2009). Buku Pintar Pekerja Sosial. Vol 2. Jakarta:
Gunung Mulia.
Santrock. (2002). Life-Span Development. Jilid kedua. Jakarta: Erlangga.
Sharma, V. (2004). Family Environment and Peer Group Influence as Predictoresof academic stress among adolescents Vol.3,Issue:3, Department of Education, Panjab University, Chandigarh. Jurnal Online.
Silitonga, B.A.T., S. Dahlan., & D. Utaminingsih. (2017). Hubungan Konsep Diri Dengan Rencana Pilihan Karier Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 3 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2016/2017. Lampung. Universitas Lampung. Diambil dari: jurnal.fkip.unila.ac.id (Diakses pada tanggal 21 November 2017).
Simamora, H. (2011). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: YKPN.
35
Sirait, J. T. (2006). Memahami Aspek-Aspek Pengelolaan Sumber Daya Manusia dalam Organisasi. PT Grasindo, Jakarta.
Sudiharto. (2007). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV.Alfabeta.
Suryanti, R. (2011). Hubungan antara locus of control internal dan konsep diri dengan kematangan karir pada siswa kelas XI SMK Negeri 2 Surakarta (Doctoral dissertation, universitas sebelas maret). Diambil dari:
eprint.uns.ac.id (Diakses pada tanggal 14 Februari 2018).
Videbeck, S. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta:EGC.
Widodo, S.E. (2015). Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Winkel & S. Hastuti. (2004). Bimbingan Dan Konseling Di Industri Pendidikan.
Yogyakarta: Media abadi.
Winkel & S. Hastuti. (2007). Bimbingan Dan Konseling Di Industri Pendidikan.
Yogyakarta: Media abadi.
36 LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 Variabel Operasional
Variabel Definisi Dimensi Indikator Item
Konsep Diri Konsep diri adalah citra mental seseorang terhadap dirinya sendiri, mencakup
bagaimana mereka melihat kekuatan dan kelemahan pada seluruh aspek kepribadiannya (Perry dan Potter, 2005).
Apek-aspek yang mempengaruhi konsep diri menurut Calhoun dan Acocella (1990) meliputi : 1.Aspek
Pemahaman 2.Aspek Pengharapan 3.Aspek Penilaian
1.1. Individu paham tentang dirinya sendiri.
1.2. Mengerti apa yang dilakukan.
2.1. Individu memiliki tujuan dan perencanaan.
2.2. Individu memiliki impian
yang ingin
diwujudkan.
3.1. Pandangan individu terhadap dirinya.
3.2. Puas dengan diri sendiri.
(1,2,3)
(4)
(5,6)
(7,8)
(9)
(10,11)
Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga merupakan suatu proses hubungan antara keluarga yang diperlihatkan melalui sikap, tindakan, dan penerimaan keluarga yang terjadi selama
Menurut Friedman (1998), dukungan keluarga dibagi menjadi empat, yaitu:
1.Dukungan Informasional 2.Dukungan
1.1. Keluarga memberikan
informasi kepada individu.
1.2. Peran keluarga dalam memberi saran kepada individu.
(1,2)
(3)