• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Perusahaan

Restoran IBC merupakan salah satu restoran ternama di Indonesia. Restoran IBC pertama kali didirikan pada tahun 1989 dan terletak di Cianjur, Jawa Tengah.

Restoran IBC menyediakan makanan khas sunda khususnya ikan bakar. Selain ikan bakar, IBC juga menyediakan berbagai makanan khas Indonesia lainya sebagai contohnya nasi goreng, sup buntut, dan lain sebagainya. Untuk mengembangkan bisnis makanan Restoran IBC juga menyediakan roti untuk para pengunjung Restoran IBC, hal ini dapat ditemui di beberapa Restoran IBC di Indonesia.

Restoran IBC Manyar didirikan pada tahun 1997, restoran IBC Manyar yang bertempatkan di Jalan Manyar Kertoarjo V no 44-48, Surabaya, merupakan pusat dari seluruh restoran IBC di Surabaya, seluruh pelaporan keuangan berada pada IBC Manyar. Restoran IBC Manyar memiliki kapasitas 70 hingga 100 pengunjung.

Restoran IBC Manyar beroperasi setiap hari senin sampai dengan minggu, mulai pukul 10:00 WIB sampai dengan pukul 22:00 WIB. Untuk melakukan pemesanan terakhir dilakukan pada pukul 21:45 WIB setiap harinya. Restoran IBC Manyar memiliki 47 karyawan termasuk dengan 2 teknisi IBC Manyar. Seluruh karyawan Restoran IBC Manyar yang telah bekerja lebih dari 1 tahun mendapatkan tunjangan yang diberikan oleh Restoran IBC Manyar seperti contohnya asuransi jamsostek untuk kecelakaan kerja, kematian, dan hari tua karyawan. Tunjangan untuk karyawan yang telah berkeluarga dalam bentuk tunjangan bagi anak yang masih bersekolah pada tingkat sekolah dasar sampai dengan mahasiswa. Tunjangan kesehatan untuk seluruh keluarga karyawan. Upah tambahan bagi karyawan yang diperoleh dari pajak Restoran dan juga kotak tip yang di sediakan oleh pihak Restoran IBC Manyar. Seluruh bentuk tunjangan ini diberikan sepenuhnya untuk karyawan dari restoran IBC Manyar.

(2)

Gambar 4.1 Struktur Organisasi

Sumber : Hasil wawancara singkat dengan narasumber

4.2 Analisa Data Responden

4.2.1 Karakteristik Karyawan Berdasarkan Jenis Kelamin

Sumber : Hasil pengumpulan data kuisioner

Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa sebagian besar responden yang menjadi sampel penelitian adalah berjenis kelamin wanita dengan jumlah 31 orang (66%) dan yang berjenis kelamin pria dengan jumlah 16 orang (34%)

Jenis Kelamin Frekuensi Presentase

Pria 16 34%

Wanita 31 66%

Total 47 100

Tabel 4.1 Jenis Kelamin Karyawan

(3)

4.2.2 Karakteristik Karyawan Berdasarkan Usia

Sumber : Hasil pengumpulan data kuisioner

Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui bahwa sebagian besar responden yang menjadi sampel penelitian adalah yang berusia 20-30 tahun sebanyak 23 orang (48,9%). Kemudian responden yang berusia 30-40 tahun sebanyak 15 orang (31,9%), berusia diatas 40 tahun sebanyak 5 orang (10,6%) dan yang paling sedikit yaitu responden berusia kurang dari 20 tahun sebanyak 4 orang (8,5%).

4.2.3. Karakteristik Karyawan Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Sumber : Hasil pengumpulan data kuisioner

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa responden dengan pendidikan terakhir SMA/SMK mendominasi yaitu dengan jumlah responden sebanyak 32 orang (68,1%). Sedangkan SMP sebanyak 13 orang (27,7%) dan SD sebanyak 2 orang

Usia Frekuensi Presentase

<20 tahun 4 8,5%

20-30 tahun 23 48,9%

30-40 tahun 15 31,9%

>40thn 5 10,6%

Total 47 100%

Pendidikan Terakhir

Frekuensi Presentase

SD 2 4,3%

SMP 13 27,7%

SMA 32 68,1%

Total 47 100%

Tabel 4.2 Usia Karyawan

Tabel 4.3 Pendidikan Terakhir Karyawan

(4)

4.2.4 Karakteristik Karyawan Berdasarkan Lama Bekerja

Sumber : Hasil pengumpulan data kuisioner

Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui bahwa sebagian besar responden telah bekerja di Restoran Ikan Bakar Cianjur, Manyar selama 4 hingga 7 tahun sebanyak 17 orang (36,2%). Kemudian responden yang bekerja selama 7 hingga 10 tahun sebanyak 11 orang (23,4%). Responden yang bekerja kurang dari 2 tahun sebanyak 8 orang (17,0%), selama 2 hingga 4 tahun sebanyak 7 orang (14,9%). Dan jumlah responden terkecil bekerja diatas 10 tahun, sebanyak 4 orang (8,5%).

4.3 Analisa Deskriptif

Analisa deskriptif digunakan untuk menggambarkan data dari jawaban responden mengenai Organizational Commitment to Employee, Affective Commitment, dan Employee Perceived Service Quality di Restoran Ikan Bakar Cianjur (IBC), Manyar. Deskripsi jawaban responden dilakukan dengan menghitung nilai rata- rata (mean) jawaban responden terhadap masing-masing pertanyaan dan secara keseluruhan. Untuk mengkategorikan rata-rata jawaban responden digunakan interval kelas yang dicari dengan rumus sebagai berikut :

.

Lama Bekerja Frekuensi Presentase

<2tahun 8 17.0%

2-4tahun 7 14.9%

4-7tahun 17 36.2%

7-10tahun 11 23.4%

>10tahun 4 8.5%

Total 47 100.0%

Interval Kelas = Nilai Tertinggi - Nilai Terendah Jumlah Kelas

Interval Kelas = 5 - 1 5

= 0,8 Tabel 4.4 Lama Bekerja Karyawan

( 4.1 )

(5)

4.3.1 Organizational Commitment to Employee (OCE)

Penilaian karyawan Restoran Ikan Bakar Cianjur (IBC) Manyar terhadap Organizational Commitment to Employee (OCE), dilihat dari tabel 4.6 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata indikator tertinggi adalah pada indikator Restoran IBC akan mempertimbangkan untuk menaikan upah sayajika memiliki pendapatan lebih dengan nilai rata-rata 3.62 dan tergolong dalam katagori baik. Sedangkan rata-rata indikator terendah terdapat pada indikator Restoran IBC peduli terhadap kepuasan saya dalam bekerja dengan nilai rata-rata 3,47 dan tergolong dalam kategori baik.

Interval Kategori

1-1,8 Sangat Buruk

1,81-2,6 Buruk

2,61-3,4 Cukup Baik

3,41-4,2 Baik

4,21-5 Sangat Baik

Indikator Mean Keterangan

Restoran IBC peduli terhadap kesejahteraan saya 3.81 Baik Restoran IBC memberikan upah sesuai dengan hak saya. 3.49 Baik Restoran IBC peduli terhadap kepuasan saya dalam

bekerja. 3.47 Baik

Restoran IBC akan mempertimbangkan untuk menaikan

upah saya jika memiliki pendapatan lebih. 3.62 Baik

Mean Total 3.60 Baik

Tabel 4.5 Interval Kelas

Tabel 4.6 Penilaian Karyawan terhadap variabel Organizational Commitment to Employee (OCE)

(6)

4.3.2 Affective Commitment (AC)

Penilaian karyawan Restoran Ikan Bakar Cianjur (IBC) Manyar terhadap Affective Commitment (AC) adalah sebagai berikut:

Tabel 4.7 Penilaian Karyawan terhadap variabel Affective Commitment (AC)

Indikator Mean Keterangan

Saya dengan senang hati ingin bekerja dalam waktu yang lama di Restoran IBC Manyar

3.57 Baik

Saya bangga memberitahukan kepada orang lain bahwa saya bekerja di Restoran IBC Manyar

3.81 Baik

Restoran IBC Manyar menginspirasi saya untuk bekerja lebih baik

3.74 Baik

Saya terikat secara emosional dengan Restoran IBC Manyar

3.34 Cukup Baik

Saya merasa Restoran IBC manyar adalah tempat terbaik untuk bekerja

3.43 Baik

Mean Total 3.58 Baik

Dilihat dari tabel 4.7 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata indikator tertinggi adalah pada indikator Saya bangga memberitahukan kepada orang lain bahwa saya bekerja di Restoran IBC Manyar dengan nilai rata-rata 3.81 dan tergolong dalam katagori baik. Sedangkan rata-rata indikator terendah terdapat pada indikator Saya terikat secara emosional dengan Restoran IBC Manyar dengan nilai rata-rata 3,34 dan tergolong dalam kategori agak baik.

4.3.3 Employee Perceived Service Quality (EPSQ)

Penilaian karyawan Restoran Ikan Bakar Cianjur (IBC) Manyar terhadap Employee Perceived Service Quality (EPSQ) adalah sebagai berikut:

(7)

Tabel 4.8 Penilaian Karyawan terhadap variabel Employee Perceived Service Quality (EPSQ)

Indikator Mean Keteran

gan Saya merasa fasilitas-fasilitas Restoran IBC yang kami

gunakan sudah bagus (toilet, tempat parkir, dll)

2.6 Buruk

Saya merasa penampilan fisik karyawan di Restoran IBC menarik

3.23 Cukup Baik Saya merasa penampilan desain ruangan Restoran IBC

menarik

3.72 Baik

Saya merasa mampu untuk merealisasikan apa yang sudah saya janjikan

3.68 Baik

Saya merasa mampu untuk memberikan solusi terbaik pada setiap masalah yang ada)

3.47 Baik

Saya bersedia untuk membantu konsumen 3.89 Baik Saya merasa sanggup untuk menangani permintaan

konsumen dengan cepat

3.55 Baik

Saya merasa dapat dipercaya ketika menjalankan permintaan konsumen

3.81 Baik

Saya merasa selalu bersikap sopan terhadap para konsumen

3.94 Baik

Saya merasa memiliki wawasan yang luas sehingga dapat menjawab pertanyaan konsumen

3.53 Baik

Saya merasa memberikan perhatian yang tulus dan bersifat personal kepada konsumen

3.72 Baik

Saya merasa memahami kebutuhan spesifik para konsumen

3.55 Baik

Mean Total 3.56 Baik

(8)

Dilihat dari tabel 4.8 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata indikator tertinggi adalah pada indikator saya merasa selalu bersikap sopan terhadap para konsumen dengan nilai rata-rata 3.94 dan tergolong dalam katagori baik. Sedangkan rata-rata indikator terendah terdapat pada indikator saya merasa fasilitas-fasilitas Restoran IBC yang kami gunakan sudah bagus (toilet, tempat parkir, dll) dengan nilai rata-rata 2.6 dan tergolong dalam kategori buruk.

4.4 Outer Model

Gambar 4.2 Model Struktural Partial Least Square

Setelah melakukan perhitungan menggunakan PLS didapatkan hasil terdapat 4 indikator yang tidak sesuai, indikator yang tidak sesuai tersebut akan di hilangkan karena nilai dari indikator tersebut <0.5.

(9)

Gambar 4.3 Model Struktural Partial Least Square setelah pembetulan

Indikator yang telah dihilangkan adalah 1 indikator dari Affective Commitment yaitu saya terikat secara emosional dengan Restoran IBC Manyar, dan 3 indikator dari Employee Perceived Service Quality yaitu saya merasa fasilitas-fasilitas Restoran IBC yang kami gunakan sudah bagus (toilet, tempat parkir, dll), saya merasa penampilan fisik karyawan di restoran IBC menarik, Saya merasa penampilan desain ruangan restoran IBC menarik. Dengan demikian indikator yang tidak sesuai tidak digunakan dalam penelitian ini.

1. Convergent Validity

Convergent Validity dalam Partial Least Square ini dapat dinilai dengan menggunakan loading factor. Sedangkan dalam penelitian ini, loading factor yang digunakan untuk menyatakan validitas adalah >0,5. Berikut ini adalah nilai loading factor untuk setiap indikator pada variabel Organizational Commitment to Employee, Affective Commitment, dan Employee Perceived Service Quality :

(10)

Tabel 4.9 Nilai Loading Factor AC EPSQ OCE

X11 0 0 0.8228

x12 0 0 0.7638

x13 0 0 0.8478

x14 0 0 0.6212

y11 0.8426 0 0

y12 0.7842 0 0

y13 0.7548 0 0

y15 0.9176 0 0

y210 0 0.6073 0

y211 0 0.7661 0

y212 0 0.7732 0

y24 0 0.6631 0

y25 0 0.7364 0

y26 0 0.7259 0

y27 0 0.835 0

y28 0 0.8734 0

y29 0 0.7759 0

(11)

Tabel 4.10 Nilai Cross Loading AC EPSQ OCE X11 0.4192 0.3139 0.8228

x12 0.4928 0.3943 0.7638 x13 0.4862 0.3099 0.8478 x14 0.4548 0.3118 0.6212 y11 0.8426 0.4404 0.4405 y12 0.7842 0.4406 0.4486 y13 0.7548 0.6095 0.5583 y15 0.9176 0.5304 0.5339 y210 0.2049 0.6073 0.2177 y211 0.4902 0.7661 0.2776 y212 0.3016 0.7732 0.3218 y24 0.3944 0.6631 0.3068 y25 0.5495 0.7364 0.445 y26 0.5524 0.7259 0.3977 y27 0.3933 0.835 0.1359 y28 0.6375 0.8734 0.4366 y29 0.4351 0.7759 0.2836

Berdasarkan nilai loading factor di atas, semua indikator pada variabel Organizational Commitment to Employee, Affective Commitment, dan Employee Perceived Service Quality memiliki nilai loading factor yang lebih besar dari 0.50.

Hasil ini menunjukkan bahwa indikator telah memiliki convergent validity yang baik.

Semakin besar nilai loading factor menunjukkan bahwa kontribusi yang diberikan oleh indikator tersebut juga semakin tinggi.

2. Discriminant Validity

Setelah melihat Convergent Validity dapat diketahui bahwa tiap indikator

(12)

memang cocok untuk mengukur variabel yang bersangkutan. Pengujian discriminant validity dilakukan menggunakan dengan cara melihat hasil dari AVE hasil tersebut harus lebih besar dari 0.5 baru bisa dinyatakan bahwa indikator yang digunakan cocok untuk mengukur variabel yang bersangkutan. Berikut adalah hasil pengujian discriminant validity

Table 4. 11 Average Variance Extracted (AVE) AVE

AC 0.6842 EPSQ 0.5694 OCE 0.5912

Berdasarkan tabel 4.11 dapat diketahui bahwa nilai AVE diatas 0,5 sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel memiliki discriminant validity yang baik.

3. Composite Reliability

Composite Reliability adalah pengujian terakhir yang dilakukan untuk outer model. Composite reliability menguji nilai reliabilitas antara blok indikator dari konstruk yang membentuknya. Berikut adalah tabel hasil output composite reliability adalah sebagai berikut :

Tabel 4.12 Composite Reliability Composite Reliability

AC 0.896

EPSQ 0.9218

OCE 0.851

Composite reliability adalah baik jika nilainya diatas 0.70. Berdasarkan tabel di atas terlihat nilai composite reliability untuk variabel Organizational Commitment to Employeee, Affective Commitment, dan Employee Perceived Service Quality sudah memiliki nilai yang lebih besar dari 0.70. Dengan demikian di dalam model struktural variabel tersebut telah memenuhi composite reliability

(13)

4.5 Inner Model 1. Q-Square

Tabel 4.13 R-Square R-Square

AC 0.3705

EPSQ 0.3941

OCE 0

Perhitungan Q-Square dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Q2 = 1- (1 - R12)x(1 – R22)

= 1- (1 – 0.3705) x (1 – 0.3941)

= 1 – 0.3814

= 0.6186

Nilai Q-Square mendekati nilai 1 sehingga dapat dinyatakan model sturktural juga fit dengan data. Hasil analisis menunjukan bahwa semua variabel indikator valid dan reliabel. Nilai Q-Square pada penelitian ini adalah sebesar 0.6186 yang menunjukkan bahwa model struktural yang disusun untuk menjelaskan Affective Commitment dan Employee Perceived Service Quality pada Restoran Ikan Bakar Cianjur Manyar terbukti baik.

Variabel dalam penelitian ini dapat diaplikasikan pada penelitian lain dengan obyek yang berbeda karena variabel yang digunakan dapat ditemukan di setiap industri jasa.

2. Uji Hipotesis

Setelah melakukan penghitungan Q-Square, peneliti melakukan Bootstrapping dan didapat hasilnya sebagai berikut :

( 4.2 )

(14)

Gambar 4.4 Bootstrapping

T Statistics (|O/STERR|) AC -> EPSQ 5.116

OCE -> AC 5.7861 OCE -> EPSQ 5.8934

Tabel 4.14 Uji T Dilihat dari tabel 4.14, dapat diketahui bahwa :

1. Pengaruh Organizational Commitment to Employee terhadap Affective Commitment

Hasil perhitungan inner weight pada pengaruh Organizational Commitment to Employee terhadap Affective Commitment menunjukkan nilai T hitung sebesar 5.7861 yang berarti lebih besar daripada 1,96. Hal ini menunjukkan bahwa Organizational Commitment to Employee mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Affective Commitment dengan begitu berarti Hipotesis 1 diterima. Dengan adanya pengaruh positif ini, menunjukkan bahwa restoran IBC memberikan Organizational Commitment to Employee yang baik bagi

(15)

karyawan maka akan menciptakan Affective Commitment karyawan yang semakin tinggi juga.

2. Pengaruh Affective Commitment terhadap Employee Perceived Service Quality Hasil perhitungan inner weigt pada pengaruh Affective Commitment terhadap Employee Perceived Service Quality menunjukkan nilai T hitung sebesar 5.116 yang lebih besar daripada 1,96. Hal tersebut menunjukkan bahwa Affective Commitment mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Employee Perceived Service Quality, dengan begitu berarti Hipotesis 2 diterima. Dengan adanya pengaruh positif ini, menunjukkan bahwa bila karyawan restoran IBC memiliki Affective Commitment yang tinggi maka semakin baik pula Employee Perceived Service Quality.

3. Pengaruh Organizational Commitment to Employee terhadap Employee Perceived Service Quality

Hasil perhitungan inner weight pada pengaruh Organizational Commitment to Employee terhadap Employee Perceived Service Quality menunjukkan nilai T hitung sebesar 5.8934 yang lebih besar daripada 1,96. Hal tersebut menunjukkan bahwa Organizational Commitment to Employee mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Employee Perceived Service Quality dengan begitu berarti Hipotesis 3 diterima.. Dengan adanya pengaruh positif ini, menunjukkan bahwa restoran IBC memberikan Organizational Commitment to Employee yang baik bagi karyawan maka akan menciptakan Employee Perceived Service Quality karyawan yang semakin tinggi juga.

4. Affective Commitment sebagai variabel mediasi antara Organizational Commitment to Employee dan Employee Perceived Service Quality

Dari hasil penelitan dan pembagian kuesioner dapat ditemukan hasil bahwa Affective Commitment dapat berfungsi sebagai variabel mediasi antara Organizational Commitment to Employee dengan Employee Perceived Service Quality. Affective Commitment merupakan variabel mediator, yang berarti akan memperkuat hubungan Organizational Commitment to Employee dengan

(16)

4.6 Pembahasan

Berdasarkan hasil dari pengolahan data dapat diketahui bahwa perusahaan peduli terhadap kesejahteraan dan kepuasan karyawan restoran IBC. Hal ini membuktikan bahwa perusahaan memiliki Organizational Commitment to Employee yang baik.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa karyawan restoran IBC merasa senang dengan pekerjaan yang dilakukan. Selain itu para karyawan juga merasa bangga untuk mendiskusikan restoran IBC dengan orang-orang luar. Hal ini membuktikan bahwa karyawan restoran IBC Manyar memiliki Affective Commitment yang baik.

Karyawan restoran IBC Manyar juga memiliki Employee Perceived Service Quality yang baik, hal ini dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang menyatakan bahwa karyawan merasa selalu bersikap sopan terhadap para konsumen dan karyawan merasa sanggup untuk menangani permintaan konsumen dengan cepat. Hal ini membuktikan bahwa restoran IBC Manyar memiliki Employee Perceived Service Quality yang baik.

Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa Organizational Commitment to Employee berpengaruh positif dan signifikan terhadap Affective Commitment. Hasil ini sesuai dengan teori pertukaran sosial (Blau, 1964), saling ketergantungan memacu adanya kualitas yang tinggi terhadap beberapa kondisi tertentu, dimana melibatkan waktu yang cukup panjang untuk menjadi kepercayaan, kesetiaan, dan komitmen yang menguntungkan kedua belah pihak (He, 2008, p.49). Selain itu apabila salah satu pihak memberikan keuntungan maka pihak yang lainya akan menanggapi dengan baik.

Maka dari itu apabila organisasi berharap untuk mempertahankan karyawan yang berkomitmen terhadap perusahaan, organisasi tersebut harus berkomitmen terhadap karyawanya juga (He, 2008, p.49).

Affective Commitment yang baik akan berpengaruh terhadap Employee Perceived Service Quality. Penelitian ini juga menemukan bahwa Affective Commitment berhubungan positif dan signifikan terhadap Employee Perceived Service Quality. Dimana hasil penelitian ini turut mendukung penelitian He (2008) Affective Commitment dapat dikatakan sebagai penentu yang penting atas dedikasi dan loyalitas seorang karyawan. Kecenderungan seorang karyawan yang memiliki Affective

(17)

Commitment yang tinggi, menunjukkan rasa memiliki atas organisasi, meningkatnya keterlibatan dalam aktivitas organisasi, keinginan untuk mencapai tujuan organisasi, dan keinginan untuk dapat tetap bertahan dalam organisasi (Han et al., 2012, p.109).

Karyawan yang memiliki Affective Commitment terhadap organisasi akan bersedia untuk mengerahkan upaya yang lebih besar atas nama organisasi daripada karyawan yang tidak (He, 2008, p.42).

Selain melihat pengaruh terhadap Affective Commitment, peneliti juga melihat pengaruh Organizational Commitment to Employee terhadap Employee Perceived Service Quality. Pengaruhnya adalah positif dan signifikan. Hal ini memperkuat hasil penelitian bahwa Organizational commitment to employees (OCE) mempunyai efek positif yang sangat besar terhadap kinerja karyawan di dalam perusahaan.(He, 2008, p.42). OCE dapat digunakan sebagai sumber strategi yang mempengaruhi hasil dari perusahaan tersebut. Penelitian He (2008) mengusulkan bahwa persepsi karyawan terhadap kualitas pelayanan yang diberikan sebagai indikator langsung dari kinerja suatu perusahaan. Ketika organisasi menunjukan komitmenya terhadap karyawan, karyawan akan menanggapinya dengan kepercayaan dan komitmen terhadap organisasi. OCE memiliki efek positif terhadap kinerja perusahaan, dan dapat dipertimbangkan sebagai sumber strategi yang mempengaruhi hasil dari organisasi (He, 2008, p.51).

Kunci dari penelitian ini adalah social exchange theory (Blau, 1964) yang menyebutkan bahwa apabila seseorang melakukan tindakan positif, dengan harapan suatu saat akan dibalas dengan tindakan positif pula. Dalam konteks penelitian ini dengan adanya komitmen yang diberikan oleh organisasi akan memberikan dampak timbal balik terhadap karyawan restoran IBC Manyar. Karena transaksi yang saling bergantung dapat menghasilkan hubungan yang berkualitas baik dalam kondisi tertentu, yang mana berkembang seiring dengan berjalannya waktu, menjadi kepercayaan, kesetiaan, dan komitmen yang saling menguntungkan. Hal ini akan lebih maksimal ketika didukung dengan adanya komitmen afektif. Dengan adanya komitmen afektif, karyawan restoran IBC dapat bekerja lebih maksimal, karena

(18)

komitmen afektif merupakan komitmen yang mengikat emosional dari dalam diri individu yang tidak dipengaruhi faktor eksternal.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Organizational Commitment terhadap Employee Performance Employee performance atau kinerja karyawan merupakan hasil dari pencapaian kerja yang dilakukan oleh

Terdapat interaksi pada Customer Satisfaction (X) dan Switching Barrier (Z) terhadap Customer Retention (Y), karena nilai T statistik sebesar 2.345 yang berarti lebih

Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah polong bernas per tanaman berbeda antara varietas, dimana jumlah polong bernas yang dihasilkan oleh varietas Kaba dan Wilis dua kali

adalah benar sebagai lembaga yang memiliki kredibilitas dan kemampuan untuk melaksanakan kegiatan pendidikan masyarakat, dan dianggap layak mengajukan dana bantuan

Komentar atau ungkapan sinis biasanya terlontar jika pemilik watak sinis melihat keberhasilan orang lain, atau kemunculan fenomena yang mengundang kagum banyak

Pemda - Bojong Depok Baru III Karadenan - Cibinong SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI DEWANTARA.. Terakreditasi B -BAN PT Depdiknas RI

No. Penelusuran lebih lanjut atas 93 Kekayaan Intelektual tersebut pada SIMAK BMN dan website https://ki.bppt.go.id menunjukkan bahwa hanya 4 Kekayaan Intelektual yang

Sinarmas Multifinance Cabang Bima dan umumnya pada organisasi atau perusahan agar dapat membantu karyawan dalam mengatasi stres kerja, karena kalao karyawan mengalami